Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN


1.1 LATAR BELAKANG
Pengukuran infiltrasi, baik kapasitasnya maupun kecepatannya dari suatu tanah
penting untuk mengetahui bentuk-bentuk keadaan keberadaan air dan pengelolaan air yang
baik dalam tanah.
Infiltrasi adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan proses masuknya air
kedalam tanah, biasanya merupakan aliran ke bawah yang melalui seluruh permukaan
tanah. Kecepatan proses ini merupakan kecepatan proses ini umumnya menentukan
banyaknya air yang masuk ke perakaran dan banyaknya air yang mengalir dipermukaan
tanah (surface run off).
Infiltrasi tanah meliputi infiltrasi kumulatif, laju infiltrasi dan kapasitas infiltrasi.
Laju infiltrasi adalah jumlah ( volume ) air yang melewati suatu luasan penampang
permukaan tanah per waktu dengan satuan m3/m2/det, atau sama dengan satuan
kecepatan = meter/detik. Bila suatu saat air mulai menggenang dipermukaan tanah, berarti
laju penambah air dipermukaan tanah telah melampaui laju infiltrasi tertinggi. Laju
infiltrasi maksimum dinamakan kapasitas infiltrasi (Horton,1971) dan oleh Hilell
(1971) disebut sebagai infiltrability.
Laju infiltrasi pada penyediaan air dengan intensitas pemberian air yang konstan
dan kontinyu ( baik dari hujan maupun sprinkler) umum nya konstan diawal proses
kemudian menurun dan akhirnya mencapai laju yang relative konstan.
Bila permukaan tanah tergenang air dengan tebal genangan beberapa cm saja, maka
lajun infiltrasi atau infiltrability langsung menurun sehingga mencapai lebih kurang
konstan.
Hubungan infiltrasi dengan waktu pada keadaan tanah tergenang air. Apabila
dihitung infiltrasi komulatif dari suatu peristiwa infiltrasi, maka hasinya merupakan
integrasi dari kurva hubungan antara laju infiltrasi dengan waktu.
Kurva kapasitas merupakan hubungan antara kapasitas infiltrasi dengan waktu
yang terjadi selama dan beberapa saat setelah terjadinya hujan.Kapasitas infiltrasi secara
umum akan tinggi pada awal terjadi nya hujan ,akan tetapi semakin lama kapasitas nya
maka akan mencapai penurunan hingga mencapai titik konstan.

Besarnya penurunan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu:
Kelembapan tanah
Kompaksi
Penumpukan bahan liatan
Tekstur tanah
Struktur tanah
Menurut knaap(1978) untuk mengumpulkan data infiltrasi dapat dilakukan dengan tiga
cara yakni:
Inflow-outflow
Analisis data hujan dan hidrograf
Double ring inflometer
Dari ketiga cara tersebut yang paling sering digunakan pengukuran infiltrasi
dilapangan yaitu dengan menggunakan doble ring inflometer. Double ring infiltometer
merupakan cara yang termudah dilakukan dimana selain pengukuran yang mudah
dilakukan juga bahan untuk membuat alatnya mudah dicari, inilah yang menjadi alasan
mengapa cara ini paling sering dilakukan. Laju infiltrasi dapat diukur dengan mengunakan
infiltrometer, yang berupa silinder tunggal atau ganda yang dimasukan kedalam tanah
kemudian di isi air. Permukaan air ini dapat juga tetap atau dapat pula dibiarkan menurun,
dan keduanya dapat menunjukan laju infiltrasi tanah yang keduanya dapat menunjukan
laju infiltrasi tanah yang bersangkutan.
Air hujan yang mengalir masuk ke dalam tanah, dalam batas tertentu, bersifat
mengendalikan ketersediaan air untuk berlangsungnya proses evapotranspirasi. Pasokan air
hujan ke dalam tanah ini sangat berarti bagi kebanyakan tanaman di tempat
berlangsungnya infiltrasi dan daerah sekelilingnya. Air infiltrasi yang tidak kembali lagi ke
atmosfer melalui proses evapotranspirasi akan menjadi air tanah untuk seterusnya mengalir
ke sungai di sekitarnya. Meningkatkan kecepatan dan luas wilayah infiltrasi dapat
memperbesar debit aliran selama musim kemarau (baseflow) yang sangat penting untuk
memasok kebutuhan air pada musim kemarau, untuk pengenceran kadar pencemaran air
sungai, dsb. Ketika air hujan jatuh di atas permukaa tanah, tergantung pada kondisi
biofisik permukaan tanah, sebagian atau seluruh air hujan tersebut akan mengalir masuk ke
dalam tanah melalui pori-pori permukaan tanah. Laju air infiltrasi yang dipengaruhi oleh
gaya gravitasi dibatasi oleh besarnya diameter pori-pori tanah. Air juga menglami
penyebaran ke arah lateral akibat tarikan gaya kapiler tanah, terutama ke arah tanah
dengan pori-pori yang lebih semlit dan tanah lebih kering.


Ada tiga proses mekanisme infiltrasi yang tidak saling mempengaruhi, yaitu:

1. Proses masuknya air hujan melalui pori-pori permukaan tanah.
2. Tertampungnya air hujan tersebut di dalam tanah.
3. Proses mengalirnya air tersebut ke tempat lain (bawah, samping, dan atas).
Meskipun tidak salaing mempengaruhi secara langsung ketiga proses tersebut di atas
saling terkait. Proses infiltrasi dipengaruhi beberapa faktor, antara lain tekstur dan struktur
tanah, persediaan air awal (kelembaban awal), kegiatan biologi dan unsur organik, jenis
dan kedalaman seresah, dan tumbuhan bawah atau tajuk penutup tanah lainnya. Secara
teoritis, bila kapasitas infiltrasi tanah diketahui, volume air larian dari suatu curah hujan
dapat dihitung dengan cara mengurangi besarnya curah hujan dengan air infiltrasi
ditambah genangan air oleh cekungan permukaan tanah (surface detention) dan air
intersepsi.
Laju infiltrasi ditentukan oleh:
Jumlah air yang tersedia di permukaan tanah.
Sifat permukaan tanah.
Kemampuan tanah untuk mengosongkan air di atas permukaan tanah.
Dari ketiga unsur tersebut ketersediaan air (kelembaban tanah) adalah tang terpenting
karena ia akan menentukan besarnya tekanan potensial pada permukaan tanah. Pada acara
ini, model infiltrasi yang akan dipergunakan adalah metode Horton, yang mempunyai
formula sebagai berikut:
Dimana:
F = laju infiltrasi (cm/menit)
f0 = laju infiltrasi awal (cm/menit)
fc = laju infiltrasi konstan (cm/menit)
k = konstanta
t = waktu (menit)
e = bilangan natural = 2,78
Menurut Arsyad (2006), laju masuknya air ke dalam tanah terutama dipengaruhi
oleh ukuran dan kemantapan agregat. Pori tanah merupakan bagian tanah yang tidak terisi
bahan padat tanah. Pori-pori tanah dapat terbentuk akibat susunan agregat tanah, aktivitas
akar, cacing, dan aktivitas organisme tanah lainnya. Aktivitas perakaran tumbuhan

tahunan, sangat berperan dalam pembentukan saluran untuk pergerakan air dan udara.
Saluran yang terbentuk umumnya berbentuk pipa yang kontinu dengan panjang yang dapat
mencapai satu meter (Brady dan Weil, 2008).
Total ruang pori tanah yang merupakan volume relatif dari pori-pori tanah
dipengaruhi oleh susunan butiran padat tanah. Selain itu, total ruang pori tanah juga
dipengaruhi oleh kedalaman tanah. Umumnya, tanah pada lapisan bawah lebih padat
sehingga memiliki total ruang pori tanah yang lebih kecil dibandingkan total ruang pori
tanah lapisan atas (Soepardi, 1974).
Peran total ruang pori tanah berkaitan dengan pergerakan air dan udara serta
penyimpanannya berkaitan dengan akar tanaman, mikroorganisme dan fauna tanah
(Marshall dan Holmes, 1988).Berdasarkan Isyari (2005), laju infiltrasi pada penggunaan
lahan hutan, tegalan, dan semak lebih tinggi daripada laju infiltrasi penggunaan lahan
pemukiman. Pemadatan yang terjadi akibat aktivitas manusia menurunkan laju infiltrasi.
Pengolahan tanah yang dilakukan pada suatu lahan berpotensi untuk meningkatkan dan
menurunkan laju infiltrasi tanah. Aktivitas perakaran meningkatkan pori drainase dan
berdampak pada peningkatan laju infiltrasi.
Menurut Arianti (1999), laju infiltrasi tanah hutan lebih tinggi daripada laju
infiltrasi tanah pertanian (tegalan). Jenis tanaman semusim yang ditanam pada tanah
pertanian memiliki akar yang dangkal dengan penyerapan air yang sedikit sehingga
kandungan air tanah tinggi dan laju infiltrasi menjadi rendah.

1.2 Tujuan Praktikum
1. Mahasiswa mampu menentukan nilai parameter infiltrasi : fo, fc dan K.
2. Mahasiswa mampu menetapkan persamaan penduga dan membuat kurva infiltrasi
model horton.
3. Mahasiswa dapat menghitung volume infiltrasi total selama waktu (t) tertentu.








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Pengertian Infiltrasi
Infiltrasi didefinisikan sebagai proses masuknya air ke dalam tanah melalui
permukaan tanah. Umumnya, infiltrasi yang dimaksud adalah infiltrasi vertikal, yaitu
gerakan ke bawah dari permukaan tanah (Jury dan Horton, 2004). Infiltrasi tanah meliputi
infiltrasi kumulatif, laju infiltrasi dan kapasitas infiltrasi. Infiltrasi kumulatif adalah jumlah
air yang meresap ke dalam tanah pada suatu periode infiltrasi. Laju infiltrasi adalah jumlah
air yang meresap ke dalam tanah dalam waktu tertentu. Sedangkan kapasitas infiltrasi
adalah laju infiltrasi maksimum air meresap ke dalam tanah (Haridjaja, Murtilaksono dan
Rachman, 1991).
Laju infiltrasi tertinggi dicapai saat air pertama kali masuk ke dalam tanah dan
menurun dengan bertambahnya waktu (Philip, 1969 dalam Jury dan Horton, 2004). Pada
awal infiltrasi, air yang meresap ke dalam tanah mengisi kekurangan kadar air tanah.
Setelah kadar air tanah mencapai kadar air kapasitas lapang, maka kelebihan air akan
mengalir ke bawah menjadi cadangan air tanah (ground water) (Jury dan Horton, 2004).

2.2 Kapasitas Infiltrasi

Kapasitas Infiltrasi adalah kurva batas yang menggambarkan laju peresapan air
maksimum dengan waktu untuk jenis tanah tertentu (termasuk jenis penutup tanahnya).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kapasitas infiltrasi :
f = fC + e- kt
Rumus Horton :
F = laju infiltrasi pada waktu t (mm/jam)
fc = kapasitas infiltrasi pada waktu t (mm/jam)
= f0 - fc
f0 = kapasitas infiltrasi awal pada t=0 mm/jam)
t = waktu terhitung mulainya hujan (menit)
K = konstanta untuk jenis tanah dan penutup tertentu (1/menit)




2.3 Perhitungan Infiltrasi dan Laju Infiltrasi

Penentukan besarnya infiltrasi dapat dilakukna dengan melalui tiga cara yaitu:
1. Menentukan perbedaan volume air hujan buatan dengan volume air larian pada
percobaan laboratorium menggunakan simulasi hujan buatan (metode simulasi
laboratorium).
2. Menggunakan alat ring infiltrometer (metode pengukuran lapangan).
3. Teknik pemisahan hidrograf aliran dari data aliran air hujan (metode separasi hidrograf).

2.4 Pengukuran Infiltrasi
Infiltrasi dapat diukur dengan cara berikut :
a. Dengan infiltrometer
Infiltrometer dalam bentuk yang paling sederhana terdiri atas tabung baja yang
ditekankan kedalam tanah.Permukaan tanah di dalam tabung diisi air.Tinggi air dalam
tabung akan menurun, karena proses infiltrasi. Kemudian banyaknya air yang ditambahkan
untuk mempertahankan tinggi air dalam tabung tersebut harus diukur. Makin kecil
diameter tabung makin besar gangguan akibat aliran ke samping di bawah tabung. Dengan
cara ini infiltrasinya dapat dihitung dari banyaknya air yang ditambahkan kedalam tabung
sebelah dalam per satuan waktu.
b. Dengan testplot
Pengukuran infiltrasi dengan infiltrometer hanya dapat dilakukan terhadap luasan
yang kecil saja, sehingga sukar untuk mengambil kesimpulan terhadap besarnya infiltrasi
bagi daerah yang lebih luas.
Untuk mengatasi hal ini dipilih tanah datar yang dikelilingi tanggul dan digenangi air.
Daya infiltrasinya didapat dari banyaknya air yang ditambahkan agar permukaannya
konstan. Jadi testplot sebenarnya adalah infiltrometer yang berskala besar.
c. Lysimeter
Lysimeter merupakan alat pengukur berupa tangki beton yang ditanam dalam tanah
diisi tanah dan tanaman yang sama dengan sekelilingnya, dilengkapi dengan fasilitas
drainage dan pemberian air. Untuk mencapai tujuan ini lebih baik digunakan lysimeter
timbang, dengan lysimeter timbang besarnya infiltrasi dengan kondisi curah hujan yang

sebenarnya dapat dipelajari. Curah hujan harus diukur dengan alat pencatat hujan
(recording rain gauge) yang harus ditemptkan di dekat lysimeter tersebut.

2.5 Model Horton
Model Horton adalah salah satu model infiltrasi yang terkenal dalam hidrologi.
Horton mengakui bahwa kapasitas infiltrasi berkurang seiring dengan bertambahnya waktu
hingga mendekati nilai yang konstant. Ia menyatakan pandangannya bahwa penurunan
kapasitas infiltrasi lebih dikontrol oleh faktor yang beroperasi di permukaan tanah
dibanding dengan proses aliran di dalam tanah. Faktor yang berperan untuk pengurangan
laju infiltrasi seperti penutupan retakan tanah oleh koloid tanah dan pembentukan kerak
tanah, penghancuran struktur permukaan lahan dan pengangkutan partikel halus
dipermukaan tanah oleh tetesan air hujan. Model Horton dapat dinyatakan secara
matematis mengikuti persamaan 6.3:
f = fc + (fo fc)e-kt ; i fc dan k = konstan .. (6.3)
Keterangan;
f : laju infiltrasi nyata (cm/h)
fc : laju infiltrasi tetap (cm/h)
fo : laju infiltrasi awal (cm/h)
k : konstanta geofisik
Model ini sangat simpel dan lebih cocok untuk data percobaan. Kelemahan utama dari
model ini terletak pada penentuan parameternya f0, fc, dan k dan ditentukan dengan data-
fitting. Meskipun demikian dengan kemajuan sistem komputer proses ini dapat dilakukan
dengan program spreadsheet sederhana.
2.6 Model Philip Tanah Dua-Lapis
Pada satu seri dari papernya, Philip memperkenalkan analisis dari infiltrasi
berdasarkan persamaan Fokker-Planck, atau persamaan aliran untuk tanah homogen
dengan kadar lengas tanah awal dan suplai air yang berlebihan dipermukaan.



Kurva Kapasitas Infiltrasi
Kurva kapasitas merupakan hubungan antara kapasitas infiltrasi dengan waktu yang
terjadi selama dan beberapa saat setelah terjadinya hujan.Kapasitas infiltrasi secara umum

akan tinggi pada awal terjadi nya hujan ,akan tetapi semakin lama kapasitas nya maka akan
mencapai penurunan hingga mencapai titik konstan.
Besarnya penurunan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu:
Kelembapan tanah
Kompaksi
Penumpukan bahan liatan
Tekstur tanah
Struktur tanah
Menurut knaap(1978) untuk mengumpulkan data infiltrasi dapat dilakukan dengan
tiga cara yakni:
Inflow-outflow
Analisis data hujan dan hidrograf
Double ring inflometer
Dari ketiga cara tersebut yang paling sering digunakan pengukuran infiltrasi
dilapangan yaitu dengan menggunakan doble ring inflometer.Double ring infiltometer
merupakan cara yang termudah dilakukan dimana selain pengukuran yang mudah
dilakukan juga bahan untuk membuat alatnya mudah dicari,inilah yang menjadi alasan
mengapa cara ini paling sering dilakukan.

















BAB III
METODOLOGI
3.1.Waktu Dan Tempat
Praktikum Agrohidrologi dan manajemen DAS INFILTRASI dengan
MENGGUNAKAN METODA HORTONdilaksanakan pada hari rabu, 14 Mei 2014
Bertempat dilaboratorum Fisika Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jambi.
3.2. Alat Dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum inia dalah :
1.Leptop dengan program Sofware MS Excel.
2.Data

3.3.CaraKerja

1. Buat Tabel dengan pedoman sebagai berikut :
Kolom keterangan
1 Nomor pengamatan
2 Selisih bacaan mistar Pengukur pada Infiltrometer
3 Infiltrasi kumulatif
4 Selisih dari infiltrasi kumulatif dari setiap bacaan
5 Waktu pembacaan (selang waktu 5 menit)
6 Laju infiltrasi (kolom 2 / selang waktu)
7 kolom 6 fc
8 Logaritma Natural dari kolom 7
9 Laju infiltrasi terduga dengan Model Horton
10 Simpangan laju Infiltrasi
11 Kumulatif infiltrasi terduga dengan Model Horton
12 Simpangan Infiltrasi Kumulatif

2. Untuk memperoleh kolom 9 (laju infiltrasi terduga dengan model horton)
digunakan rumus sebagai berikut :
f = fc + (fo - fc) exp (-kt)
3. Sedangkan untuk memperoleh hasil pada kolom 11 (kumulatif infiltrasi terduga
dengan model Horton) digunakan rumus sebagai berikut :

F = fct - (((fo - fc)/k) exp (-kt)) + C
4. Buat grafik koordinat semilogaritmik dari Ln(f-fc) dan waktu (t).
5. Buat grafik persamaan regresi linear, y = aX + b,dimana a =k dan b = ln(fo-fc)
dengan memplot hubungan ln (fo-fc) dengan waktu (t).
6. Buat parameter model infiltrasi Horton sebagai berikut :
Parameter Model Infiltrasi Horton
Parameter Nilai Satuan Keterangan
fc 0,38 cm/menit
k 0,0490 dari grafik
ln(fo-fc) 0,6463 1,908466424
fo 2,6685 cm/menit fo= EXP(0.6463)+fc
Exp 2,7183 Nilai mutlak dari tabel
C 46,7034 C=(fo-fc)/k
tc 1,5833 jam
Ftc 118,4591 cm
Kapasitas 74,8163 cm/jam
Ftc 65 menit

7. Hitung volume infiltrasi seluas 1 ha selama 1 jam.
















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 tabel pengamatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
No h F dF t f f-fc Ln(f-fc) f Horton SF F SF
1 0 0 0 0 0
2 7,3 7,3 7,3 5 1,46 0,700000 -0,3567 0,885862 0,3296 13,9484361 44,2017
3 7 14,3 7 10 1,4 0,640000 -0,4463 0,775940 0,3895 25,6916631 129,77
4 6,3 20,6 6,3 15 1,26 0,500000 -0,6931 0,689904 0,3250 35,7088629 228,2777
5 5,2 25,8 5,2 20 1,04 0,280000 -1,2730 0,622564 0,1743 44,3750934 345,0341
6 4,6 30,4 4,6 25 0,92 0,160000 -1,8326 0,569856 0,1226 51,9839141 465,8653
7 4,3 34,7 4,3 30 0,86 0,100000 -2,3026 0,528601 0,1098 58,7650953 579,1288
8 3,9 38,6 3,9 35 0,78 0,020000 -3,9120 0,496311 0,0805 64,8984794 691,61
9 3,6 42,2 3,6 40 0,72 -0,040000 #NUM! 0,471037 0,0620 70,5248297 802,296
10 3,4 45,6 3,4 45 0,68 -0,080000 #NUM! 0,451255 0,0523 75,7543224 909,2832
11 3,3 48,9 3,3 50 0,66 -0,100000 #NUM! 0,435772 0,0503 80,6731928 1009,536
12 2,8 51,7 2,8 55 0,56 -0,200000 #NUM! 0,423653 0,0186 85,3489378 1132,251
13 2,5 54,2 2,5 60 0,5 -0,260000 #NUM! 0,414167 0,0074 89,8343873 1269,81
14 2,2 56,4 2,2 65 0,44 -0,320000 #NUM! 0,406743 0,0011 94,1708918 1426,64
15 2,1 58,5 2,1 70 0,42 -0,340000 #NUM! 0,400932 0,0004 98,3908163 1591,277
16 2 60,5 2 75 0,4 -0,360000 #NUM! 0,396383 0,0000 102,519493 1765,638
17 1,9 62,4 1,9 80 0,38 -0,380000 #NUM! 0,392823 0,0002 106,57675 1951,585
18 1,9 64,3 1,9 85 0,38 -0,380000 #NUM! 0,390037 0,0001 110,578106 2141,663
19 1,9 66,2 1,9 90 0,38 -0,380000 #NUM! 0,387856 0,0001 114,535708 2336,341
20 1,9 68,1 1,9 95 0,38 -0,380000 #NUM! 0,386149 0,0000 118,459064 2536,035










4.1.2 Parameter Model Infiltrasi Horton
Parameter Nilai Satuan Keterangan
fc 0,38 cm/menit
k 0,0490 dari grafik
ln(fo-fc) 0,6463 1,908466424
fo 2,6685 cm/menit
fo=
EXP(0.6463)+fc
Exp 2,7183
Nilai mutlak dari
tabel
C 46,7034 C=(fo-fc)/k
tc 1,5833 jam
Ftc 118,4591 cm
Kapasitas 74,8163 cm/jam
ftc 65 menit

4.1.3 Koordinat Semilogaritmik










y = -0,110x + 0,671
R = 0,888
-4,5000
-4,0000
-3,5000
-3,0000
-2,5000
-2,0000
-1,5000
-1,0000
-0,5000
0,0000
0,5000
0 10 20 30 40
L
n
(
f
-
f
c
)
Waktu (t)
Series1
Linear (Series1)

4.1.4 Koordinat Linear

Volume air infiltrasi seluas 1 ha selama 1 jam adalah :
Ftc saat 60 menit * luas 1 ha (10000 m
2
)
= 11845,91 m
3


















0
0,2
0,4
0,6
0,8
1
1,2
1,4
1,6
5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95
L
a
j
u

I
n
f
i
l
t
r
a
s
i

(
c
m
/
j
a
m
)
Waktu (menit)
Chart Title

4.2 Pembahasan
Persamaan Horton umum dipakai secara luas dan mempunyai harga awal dan akhir
(konstan). Memberikan hasil yang baik untuk waktu (t) yang lain tetapi kekurangannya
tidak mampu untuk laju infiltrasi tinggi (f) dengan waktu pendek (t).
Laju infiltrasi pada setiap kondisi tanah memiliki perbedaan masing-masing, pada tanah
kondisi non vegetasi penurunan air yang terjadi sangat cepat karena dilakukan pada tanah
pasir yang memiliki porositas yang tinggi. Hal ini berbeda dengan tanah dalam kondisi
berumput yang laju infiltrasinya cenderung lambat karena terdapat akar-akar rumput yang
mengikat tanah sehingga Membuat air masuk ke dalam tanah menjadi agak lambat. Pada
praktikum kali ini didapatkan hasil perhitungan bahwa laju infiltrasi awal dengan model
Horton pada waktu (t=5) adalah 0.885862, t=10 menit laju infiltrasinya adalah 0.775940 ,
t=15 menit laju infiltrasinya menjadi 0.689904 cm/menit, dan seterusnya. Hal ini
menunjukkan bahwa semakin lama laju infintrasi terduga model Horton semakin kecil.
Laju infiltrasi pada awalnya bergerak cepat dan semakin lama waktu dalam infitrasi maka
laju infiltasi akan semakin kecil pada kondisi di atas dipengaruhi oleh factor factor
sebagai berikut :
1. Dalamnya genangan di atas permukaan tanah dan tebalnya lapisan yang jenuh
2. Kelembaban tanah
3. Pemampatan oleh curah hujan
4. Penyumbatan oleh bahan-bahan yang halus
5. Pemampatan oleh hewan dan manusia
6. Struktur tanah
7. Tumbuh-tumbuhan
8. Udara yang terdapat dalam tanah
9. Lain-lain
Infiltrasi merupakan proses penyerapan air oleh tanah yang berlangsung saat air berada
diatas permukaan tanah.Ada tiga cara pengukuran infiltrasi yang dilakukan dilapangan.
Menurut knaap(1978) untuk mengumpulkan data infiltrasi dapat dilakukan dengan tiga
cara yakni:
Inflow-outflow
Analisis data hujan dan hidrograf
Double ring inflometer

Dari ketiga cara tersebut yang paling sering digunakan pengukuran infiltrasi dilapangan
yaitu dengan menggunakan double ring inflometer. Double ring infiltometer merupakan
cara yang termudah dilakukan dimana selain pengukuran yang mudah dilakukan juga
bahan untuk membuat alatnya mudah dicari, inilah yang menjadi alasan mengapa cara ini
paling sering dilakukan. Pada hakekatnya pengukuran infiltrasi di lapangan bertujuan
untuk mengetahui kebutuhan air pada tanah tersebut dan seberapa besar nilai evavorasi.
Selain itu juga kita dapat menentukan volume infiltrasi dengan cara menghitung jumlah
volume infiltrasi total (Vt) selama waktu (t) melalui persamaan Horton.
Dalam praktikum kali ini Volume air infiltrasi seluas 1 ha selama
1 jam yang diperoleh adalah 11845.91 m
3
.























KESIMPULAN


Infiltrasi merupakan proses masuknya air permukaan dan atau air hujan ke dalam
tanah. Gerakan secara vertikal air dari permukaan ke bawah permukaan. Dalam proses
infiltrasi ini selalu dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti gaya gravitasi, porositas
tanah/batuan, permeabilitas tanah/batuan dan vegetasi.
Laju infiltrasi tertinggi terdapat pada tanah non vegetasi karena tanah pada pada
kondisi ini memiliki porositas yang tinggi sehingga penyerapan terjadi secara cepat. Dan
yang paling lambat adalah pada tanah berumpu, karena terdapat banyak akar serabut yang
mempengaruhi proses infiltrasi.
1) Kebutuhan air oleh tanah dapat kita ketahui setelah mengadakan pengukuran
infiltrasi.
2) Pengukuran infiltrasi bertujuan untuk mengetahui laju penyerapan air.
3) Infiltrasi merupakan penyerapan air oleh tanah yang berlangsung pada waktu
tertentu.
4) Kerapatan tanah mempengaruhi laju infiltrasi pada suatu areal.
5) Kecepatan laju infiltrasi berpengaruh terhadap volume air yang masuk kedalam
tanah.
6) Perhitungan kapasitas infiltrasi dapat ditentukan dengan menggunakan model
Horton
f = fc + (fo-fc) e
kt

7) Kurva kapasitas infiltrasi merupakan kurva hubungan antara kapasitas infiltrasi
dan waktu yang terjadi selama dan beberapa saat setelah hujan.
8) Infiltrasi adalah proses aliran air (umumnya berasal dari curah hujan) masuk ke
dalam tanah.
9) Infiltrasi merupakan penyerapan air oleh tanah yang berlangsung pada waktu
tertentu
10) Kita dapat menghitung volume infiltrasi dengan cara persamaan Horton





DAFTAR PUSTAKA


Arif, Arifin. 2001. Hutan dan Kehutanan. Yogyakarta: Kanisius Media.Effendi.
Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air. Yogyakarta: Kanisius
Media.Hardjowigeno, H. Sarwono. 2000. ILMU TANAH. Jakarta: AkademikaPressindo.
Hardjowigeno, H. Sarwono. 2003. ILMU TANAH. Jakarta: AkademikaPressindo.
Suhardi. 1983. Dasar-Dasar Bercocok Tanam. Yogyakarta: Kanisius MediaSutanto.
Rachman. 2002. Pertanian Organik. Yogyakarta: Kanisius.Media.
Sutanto, Rachman. 2005. DasarDasar Ilmu Tanah Konsep dan Kenyataan.Yogyakar:Kanisi
us
MediaYani, Ahmad dan Mamat Ruhimat. 2007. Geografi Menyingkap Fenomena Geosfer.
Bandung: Grafindo Media Pratama.