Anda di halaman 1dari 14

i

MAKALAH

Pasar Modal Dan Manajemen Keuangan
PENERBITAN SEKURITAS EKUITAS (SAHAM,
RIGHTS, WARRANTS) DAN KEWAJIBAN JANGKA
PANJANG



KELOMPOK 3:

ANGGUN AGREANY S A32113038
YANA WULANDARI A32113039
ANDI RIVAN MUSYAFIR A32113046



PPAK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014

ii

KATA PENGANTAR


Puji syukur kelompok kami panjatkan kehadirat ALLAH Subhana Wa Taala, Pencipta
Alam Semesta, Penguasa seluruh yang ada di langit dan di bumi, Tempat memohon para
mahluk, Sumber segala Ilmu, yang telah memberikan Karunia, Rahmat dan Hidayahnya
kepada kami, sehingga makalah tentang Penerbitan Sekuritas Ekuitas (Saham, Rights,
Warrants) dan Kewajiban Jangka Panjang ini dapat selesai.
Sebagaimana halnya manusia biasa yang masih dalam tahapan proses belajar, maka
tidak menutup kemungkinan setiap aktifitas kita akan selalu ada kekurangan dan kelalaian,
begitu pula dengan makalah yang kami tulis ini. Oleh karena itu kami selalu mengharapkan
tegur sapa dari semua pihak demi penyempurnaan penulisan makalah berikutnya. Namun
semoga karya yang sederhana dan terdapat banyak kekurangan ini tetap bermanfaat bagi kita
semua, Amin. Karena kekurangan kemampuan, penulis menyadari bahwa masukan dari
pembaca seekalian sangat bermanfaat bagi kami.




Makassar, 10 Juni 2014

Penulis, Kelompok III


iii

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ........................................................................................... i
Daftar Isi ....................................................................................................... ii
Bab I Pendahuluan ....................................................................................... 1
Bab II Pembahasan
A. Penerbitan Sekuritas Ekuitas ................................................. 2
1. IPO (Initial Public Offering) ........................................................ 2
2. SPO (Secondary Public Offering) .............................................. 4
3. Right issue ................................................................................ 4
4. Warrant ..................................................................................... 5
B. Kewajiban Jangka Panjang .................................................... 5
1. Protective Covenants ........................................................... 6
2. Sinking Fund ....................................................................... 7
3. Call Provision ..................................................................... 7
4. Bond Refunding ................................................................... 8
Bab III Kesimpulan ...................................................................................... 9
Daftar Pustaka .............................................................................................. 10
Lampiran ...................................................................................................... xi

1


BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sejalan dengan perkembangan perekonomian, banyak perusahaan dalam rangka
mengembangkan usahanya melakukan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan modal,
diantaranya adalah dengan cara utang atau menambah jumlah kepemilikan saham dengan
menerbitkan saham baru. Untuk menambah jumlah kepemilikan saham perusahaan dapat
dilakukan dengan menjual kepada pemegang saham yang sudah ada, menambah saham
yang tidak dapat di bagi, menjual langsung kepada pemilik tunggal atau dengan melakukan
penawaran saham kepada masyarakat umum.
Proses penawaran sebagian saham kepada masyarakat melalui bursa efek disebut
dengan istilah go public. Istilah go public yaitu proses sebuah perusahaan menjadi
perusahaan terbuka (sahamnya bisa dimiliki oleh publik)- beserta produk derivatifnya. Selain
itu, akan dibahas juga mengenai kewajiban (utang) jangka panjang.Sebuah perusahaan yang
akan go public dimana perusahaan tersebut melakukan initial public offering (IPO) sahamnya
melalui perusahaan sekuritas yang menjadi penjamin emisi dan melalui agen-agen penjual
yang ditunjuk. Investor bisa melakukan pembelian dengan memesan melalui penjamin emisi
ataupun agen penjual. Perusahaan tersebut akan menerbitkan hanya saham-saham
pertama, namun bisa juga menawarkan saham kedua.
Biasanya perusahaan tersebut akan merekrut seorang bankir investasi untuk
menjamin penawaran tersebut dan seorang pengacara korporat untuk membantu menulis
prospektus. Pada umumnya, jumlah saham yang didapatkan biasanya cenderung lebih
sedikit dari pesanan. Hal ini karena minat investor untuk membeli saham saat IPO biasanya
sangat besar sehingga dilakukan penjatahan. Pada saat IPO, perusahaan bisa juga
memberikan pemanis untuk lebih menarik minat investor dengan menambahkan produk
derivatif yaitu warrant. Serta pilihan-pilihan lain para investor untuk melakukan invetasi
melalui penerbitan Kewajiban jangka panjang biasanya terkait dengan positive covenants,
sinking fund, call provision, dan bond refunding untuk lebih jelas akan dibahas dalam bab
ba berikut ini.
B. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui penerbitan sekuritas
ekuitas (saham, rights, warrants) khususnya terkait dengan Initial Public Offering (IPO),
Secondary Public Offering (SPO), rights, dan warrants serta kewajiban jangka panjang yang
terkait dengan positive covenants, sinking fund, call provision, dan bond refunding. Selain itu,
dalam makalah ini juga disertai dengan kasus mengenai bond rating atau analisis dan
tahapan proses go public perusahaan terbuka di Indonesia yang menjadi lampiran dalam
makalah ini.






2



BAB II
PEMBAHASAN
A. PENERBITAN SEKURITAS EKUITAS (SAHAM, RIGHTS, WARRANTS)
Pendanaan melalui mekanisme penyertaan umumnya dilakukan dengan menjual saham
perusahaan kepada masyarakat atau sering dikenal dengan go publik. Penawaran Umum atau
sering pula disebut Go Public adalah kegiatan penawaran saham atau Efek lainnya yang
dilakukan oleh Emiten (perusahaan yang akan go public) untuk menjual saham atau Efek
kepada masyarakat berdasarkan tata cara yang diatur oleh UU Pasar Modal dan Peraturan
Pelaksanaannya. Berikut ini ada beberapa alasan untuk melakukan Go Public yaitu:
Kebutuhan tambahan modal, Membayar hutang, Meningkatkan nilai perusahaan,
Meningkatkan profesionalisme & daya saing, Ekspansi usaha dan sebagainya.
Mekanisme yang terjadi saat Penawaran Perdana / Initial Public Offering (IPO)
Pasar saham bisa dibedakan menjadi Pasar Perdana dan Pasar Sekunder. Pada
saat IPO yang terjadi adalah Pasar Perdana seperti terlihat pada skema di bawah ini.


Sebuah perusahaan yang akan go public dimana perusahaan tersebut melakukan
initial public offering (IPO) sahamnya melalui perusahaan sekuritas yang menjadi penjamin
emisi dan melalui agen-agen penjual yang ditunjuk. Investor bisa melakukan pembelian
dengan memesan melalui penjamin emisi ataupun agen penjual. Pada umumnya, jumlah
saham yang didapatkan biasanya cenderung lebih sedikit dari pesanan. Hal ini karena minat
investor untuk membeli saham saat IPO biasanya sangat besar sehingga dilakukan
penjatahan.

Pada saat IPO, perusahaan bisa juga memberikan pemanis untuk lebih menarik
minat investor dengan menambahkan produk derivatif yaitu warrant. Setelah perusahaan
menjadi perusahaan terbuka, tidak jarang pula perusahaan melakukan penjualan saham lagi
melalui mekanisme Second Public Offering atau dengan Right Issue.
1. IPO (Initial Public Offering)
Di Indonesia, bagaimana prosedur sebuah perusahaan untuk go public mengikuti tiga
tahapan utama yang ditetapkan oleh BAPEPAM-LK. Tahap pertama adalah persiapan diri,
kemudian tahap kedua adalah memperoleh ijin registrasi dari BAPEPAM-LK, dan ketiga
adalah melakukan penawaran perdana ke publik dan memasuki pasar sekunder dengan
mencatatkan efeknya di bursa.
I. Persiapan Untuk Going Public
3

Secara garis besar, persiapan yang harus dilakukan adalah:
1. Rencana go public harus dibawa dan disetujui dalam RUPS.
2. Perusahaan menyediakan pakar-pakar pasar modal dan institusi-institusi pendukung
untuk membantu penyediaan dokumen-dokumen yang dibutuhkan, yaitu:
- Underwriter (penjamin emisi)
- Profesi-profesi: kantor akuntan publik, notaris publik, konsultan hukum, dan
perusahaan penilai
- Institusi-institusi pendukung: trustee, penjamin (guarantor), Biro Administrasi
Sekuritas, dan kustodian.
3. Mempersiapkan semua dokumen yang diperlukan untuk penawaran ke publik.
4. Mempersiapkan kontrak awal dengan bursa.
5. Mengumumkan ke publik.
6. Menandatangani perjanjian-perjanjian yang berhubungan dengan going public.
7. Untuk yang akan menjual obligasi, perusahaan harus mendaftarkannya ke agen
peringkat untuk mendapatkan peringkat untuk obligasi yang ditawarkan. Agen
peringkat yang ditunjuk adalah PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) yang
didirikan pada tanggal 21 Desember 1993.
8. Mengirimkan pernyataan registrasi dan dokumen-dokumen pendukung lainnya ke
BAPEPAM-LK.

II. Registrasi di BAPEPAM
Setelah semua dokumen masuk ke BAPEPAM, maka BAPEPAM melakukan sebagai
berikut:
1. Menerima pernyataan registrasi dan dokumen-dokumen pendukung dari perusahaan
yang akan going public dan dari underwriter.
2. Pengumuman terbatas di BAPEPAM-LK
3. Mempelajari dokumen-dokumen yang diperlukan.
4. Deklarasi pernyataan registrasi efektif berlaku yang didasarkan pada tiga hal utama,
yaitu kelengkapan dokumen, kebenaran dan kejelasan informasi dan pengungkapan
(disclosure) tentang aspek-aspek legalitas, akuntansi, keuangan dan manajemen.
Jika selama 30 hari BAPEPAM tidak memberi jawaban, maka pernyataan registrasi
otomatis efektif.
III. Pencatatan di Bursa
Setelah BAPEPAM-LK mendeklarasikan keefektifan dari pernyataan registrasi,
selanjutnya underwriter dapat menjual saham perdana tersebut di pasar primer. Setelah
penawaran perdana selesai, emiten (perusahaan yang going public) dapat melakukan
proses-proses berikut ini untuk mencantumkan sahamnya di pasar sekunder (bursa).
1. Emiten mengisi dan menyerahkan aplikasi yang formulirnya disediakan oleh BEI
untuk permintaan mencantumkan sahamnya di bursa efek.
2. BEI akan mengevaluasi aplikasi ini berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan.
3. Jika aplikasi ini memenuhi kriteria yang disyaratkan, BEI akan menyetujuinya.
4. Emiten kemudian harus membayar biaya jasa pencantuman (listing fee). Biaya jasa
pencantuman terdiri dari dua macam, yaitu biaya jasa pencantuman awal (initial listing
fee) dan biaya jasa pencantuman tahunan (annual listing fee). Untuk initial listing fee
ditentukan sebesar minimum Rp 10 juta dan maksimum Rp 150 juta (jika ada
tambahan listing berikutnya dibebankan biaya tambahan sebesar minimum sebesar
Rp 1 juta untuk setiap kelipatan Rp 1 milyar dari kapitalisasi pasarnya dengan
minimum Rp 10 juta dan maksimum sebesar Rp 150 Juta). Untuk annual listing fee
ditentukan sebesar Rp 500.000,- untuk setiap Rp 1 milyar dari nominal sahamnya,
minimum Rp 5 juta dan maksimum Rp 100 juta.
4

5. BEI kemudian akan mengumumkan pencantuman dari saham ini.
6. Saham yang sudah tercantum ini sudah siap untuk diperdagangkan.
Informasi tentang hal-hal terkait dengan proses pencatatan (listing) bisa dilihat
selengkapnya di website BEI (www.idx.co.id) dan BAPEPAM (www.bapepam.go.id)
2. SPO (Secondary Public Offering)
Tahap secondary market adalah masa pencatatan saham di bursa Efek dan sekaligus
saham tersebut di perdagangkan. Pada masa ini para pemilik saham yang telah membeli
saham di pasar perdana dapat memperjual belikan sahamnya dengan mekanisme
perdagangan yang berlaku di Bursa Efek. Pemilik saham atau pemodal dapat melakukan jual
ataupun beli atas saham yang dimilikinya melalui perusahaan efek yang bergerak sebagai
perantara pedagang efek atau pialang saham. Digambarkan sebagai berikut :


Pada secondary market ini menjadi menarik karena saham perusahaan yang dijual oleh
emiten tersebut akan diuji apakah saham ini memiliki prospek atau kinerja bagus atau tidak.
Suatu saham yang memiliki kinerja baik, maka harga sahamnya akan memiliki
kecenderungan naik karena diminati oleh pemodal. Sebaliknya, saham kurang baik, akan
memiliki kecenderungan harga menurun.

3. Right issue
Right dapat didefinisikan sebagai efek yang memberikan hak kepada pemegang saham
lama untuk membeli saham baru yang akan dikeluarkan oleh emiten pada proporsi dan harga
tertentu. Hak dalam right sering disebut sebagai preemptive right, yaitu suatu hak untuk
menjaga proporsi kepemilikan saham bagi pemegang saham lama di suatu perusahaan
sehubungan dengan pengeluaran saham baru. Biasanya right muncul ketika emiten
melakukan penawaran saham kedua (second issue). Dampak jika pemegang saham tidak
menggunakan preemptive right adalah :
a) Dilusi (berkurangnya proporsi kepemilikan pemegang saham yang tidak
menggunakan haknya).
b) Mengurangi ROI (Return on Investment) dengan bertambahnya saha beredar.
c) Mengecilnya DPS (Dividend Per Share) karena harus dibagikan kepada
pemegang saham.
Periode perdagangan right tidak selamanya, melainkan hanya sementara saja.
Biasanya antara 5 hingga 10 hari bursa. Dengan sifatnya yang berupa hak ada beberapa
keistimewaan dan keuntungan yang bisa diperoleh investor dengan right. Investor yang
menjadi pemegang saham lama memiliki hak istimewa untuk membeli saham baru pada
harga yang telah ditetapkan dengan menukarkan right yang dimilikinya. Hak istimewa
tersebut memungkinkan investor untuk memperoleh keuntungan dengan membeli saham
baru dengan harga yang lebih murah. .
Dalam kaitannya dengan right, ada istilah right issue, yang didefinisikan sebagai
kegiatan penawaran umum terbatas kepada pemegang saham lama dalam rangka
penerbitan hak memesan efek terlebih dahulu. Untuk penerbitan hak memesan efek terlebih
5

dahulu dibutuhkan persetujuan dari pemegang saham mayoritas. Right issue ini pun harus
mendapatkan persetujuan efektif dari Bapepam.
Rumus untuk menghitung harga teoritis rights :

Pr = Ps Pe
Pr = harga teoritis right
Ps = harga teoritis saham ex right
Pe = harga saham baru (harga tebus right)

Dengan adanya right issue akan terjadi penambahan saham baru yang akan
menyebabkan adanya dilusi kepemilikan saham. Untuk menghitung harga teoritis saham
sesudah right issue digunakan rumus berikut :

Ps = RR.Pc + PE
RR + 1
Ps = harga teoritis saham ex right
Pc = harga penutupan saham pada cum-right
RR = rasio rights issue
PE = exercise price (harga penebusan rights)

4. Warrant
Warrant adalah hak untuk membeli sebuah saham pada harga yang telah ditetapkan
pada waktu yang telah ditetapkan pula atau salah satu produk derivatif saham. Warrant bisa
dipedagangkan dalam waktu tertentu 3 5 tahun. Pemilik waran dapat menukarkan waran
yang dimilikinya 6 bulan setelah waran tersebut diterbitkan oleh emiten dan bisa dikonversi
menjadi saham sesuai dengan nilai konversi yang ditetapkan sebelumnya. Warrant
seringkali dijadikan pemanis yang bisa menambah daya tarik saham yang akan ditawarkan
perdana (IPO) ataupun pada Right Issue. Harga warrant akan bergerak naik-turun cenderung
mengikuti pergerakan harga sahamnya. Untuk menghitung harga suatu waran digunakan
rumus berikut :
Pw = Ps Pe
Pw = harga/nilai fundamental suatu waran
Ps = harga pasar yang berlaku pada saham biasa yang terkait dengan waran.
Pe = exersice price waran untuk penebusan saham.
Proses penebusan waran akan mengakibatkan peningkatan jumlah saham yang
diterbitkan, sehingga akan terjadi dilusi persentase kepemilikan saham. Harga teoritis saham
setelah redemption waran dapat dihitung sebagai berikut :
Ps = Ss.Pc + W
R
. P
E

S + W
R
Ps = harga teoritis saham yang baru sesudah redemption waran
Ss = jumlah saham sebelum terjadinya redemption waran
Pc = harga penutupan yang tersedia pada saat terjadinya redemption waran
PE = exercise price waran
WR = banyaknya saham biasa yang ditebus dengan waran
B. KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
Kewajiban jangka panjang biasanya berbentuk obligasi atau bond. Obligasi atau
bond menjadi salah satu alternatif pembiayaan jangka panjang selain menjual saham ke
6

publik (IPO, SPO atau Right Issue). Terdapat banyak dimensi lain dari kewajiban (utang)
jangka panjang, termasuk hal-hal seperti jaminan, karakteristik penebusan kembali (call),
dana pelunasan (sinking fund), peringkat, dan perjanjian perlindungan (protective covenant).
Karakterisik-karakterisitik tersebut dirinci di dalam perjanjian obligasi (indenture).
Indenture adalah suatu perjanjian tertulis antara perusahaan (peminjam) dengan
krediturnya. Kadang-kadang disebut juga sebagai perjanjian dengan wali amanat (deed of
trust). Biasanya, suatu pengawas keuangan (trustee) misalnya sebuah bank, ditunjuk oleh
perusahaan untuk mewakili para pemegang obligasi. Perusahaan pengawas harus :
1. Memastikan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian telah dipatuhi.
2. Mengelola dana pelunasan
3. Mewakili pemegang obligasi dalam kegagalan pembayaran yakni jika perusahaan
gagal bayar.
Indenture obligasi adalah dokumen legal yang biasanya memuat persyaratan-
persyaratan berikut :
1. persyaratan dasar obligasi
2. jumlah total emisi obligasi
3. uraian tentang harta yang digunakan sebagai jaminan
4. kesepakatan pelunasan
5. rincian perjanjian perlindungan

1. Protective Covenants
Protective covenant adalah bagian dari indenture atau perjanjian pinjaman yang
membatasi tindakan-tindakan tertentu yang mungkin akan diambil oleh perusahaan
selama jangka waktu pinjaman. Protective covenant dibagi menjadi 2 jenis yaitu :
1) Positif covenant
Positif covenant adalah jenis janji Anda dilarang. Janji ini membatasi atau melarang
tindakan-tindakan yang mungkin diambil oleh perusahaan. Berikut adalah contoh
umum di antaranya :
a) Perusahaan harus membatasi jumlah dividen yang dibayarkan menurut suatu
rumus tertentu.
b) Perusahaan tidak dapat menjaminkan asetnya kepada pemberi pinjaman lain.
c) Perusahaan tidak dapat bergabung dengan perusahaan lain.
d) Perusahaan tidak dapat menjual atau menyewakan semua asset utama tanpa
persetujuan dari pemberi pinjaman.
e) Perusahaan tidak dapat menerbitkan utang jangka panjang tambahan.

2) Negatif covenant
Negatif covenant adalah jenis perjanjian Anda harus. Janji ini menyebutkan satu
tindakan yang oleh perusahaan disetujui untuk diambil atau suatu persyaratan yang
harus dipatuhi oleh perusahaan. Berikut beberapa contohnya :
a) Perusahaan harus menjaga modal kerjanya pada atau di atas suatu tingkat
minimum yang telah ditentukan.
b) Perusahaan harus memberikan laporan keuangan yang telah diaudit kepada
pemberi pinjaman secara berkala.
c) Perusahaan harus menjaga semua agunan atau jaminan dalam kondisi yang
baik.
Beberapa contoh di atas hanya sebagian daftar covenant. Suatu indenture tertentu
mungkin memiliki banyak janji yang berbeda.


7

2. Sinking Fund
Obligasi dapat dilunasi saat jatuh tempo, di mana saat itu pemegang obligasi akan
menerima nilai nominal, atau yang dinyatakan dari obligasi. Obligasi juga bisa dilunasi
sebagian atau secara keseluruhan sebelum jatuh tempo. Pelunasan sebelum jatuh tempo
lebih umum terjadi dan sering kali ditangani melalui dana pelunasan.
Dana pelunasan (sinking fund) adalah suatu rekening yang dikelola oleh pengawas
obligasi dengan tujuan untuk melunasi obligasi. Perusahaan melakukan pembayaran
tahunan kepada pengawas, yang selanjutnya akan menggunakan dana tersebut untuk
melunasi sebagian utang. Pengawas melakukan ini dengan membeli sebagian obligasi di
pasar atau menebus sebagian obligasi yang beredar.
Sinking fund juga didefinisikan sebagai penyisihan sejumlah dana oleh emiten secara
teratur untuk melunasi obligasi atau utang jangka panjangnya. Sinking fund didesain
untuk melindungi investor dengan memastikan bahwa emiten memperhatikan
kepentingan para pemodal.
Boardman dan McEnally (1981) dalam Foster (1986) membuat model penelitian untuk
menguji faktor penentu harga dan return obligasi pada tiap kategori rating secara time
series. Ia menggunakan salah satu variabel independen yaitu ada tidaknya sinking fund
pada penerbitan obligasi. Hasilnya menyatakan bahwa obligasi berkualitas rendah (tidak
menyediakan sinking fund) harga dan return-nya kurang homogen dibanding yang
berkualitas tinggi. Dalam hal ini bila terdapat sinking fund maka peringkat obligasi akan
semakin tinggi. Obligasi yang memberikan penyisihan dana atau memberi ketetapan
sinking fund pada saat mengemisi dipandang relatif lebih aman dibanding obligasi tanpa
adanya sinking fund.
Terdapat berbagai jenis kesepakatan dana pelunasan di mana rinciannya akan
diuraikan di dalam indenture. Contohnya :
1) Beberapa dana pelunasan dimulai sekitar 10 tahun setelah penerbitan awal.
2) Beberapa dana pelunasan akan meminta pembayaran dengan jumlah yang sama
sepanjang umur obligasi.
3) Beberapa emisi obligasi berkualitas tinggi memiliki pembayaran kepada dana
pelunasan yang tidak mencukupi untuk menebus keseluruhan emisi. Sebagai
konsekuensinya, ada kemungkinan terdapat pembayaran yang besar saat jatuh
tempo.
3. Call Provision
Ketentuan penarikan (call provision/call feature), merupakan hak perusahaan sebagai
penerbit untuk menebus obligasinya sebelum waktu jatuh temponya. Ketentuan
penarikan tersebut biasanya menetapkan bahwa penerbit harus membayar kepada
investor/pemegang obligasi suatu jumlah yang lebih besar dari pada nilai pari (nominal)
obligasi jika obligasi tersebut ditarik. Jumlah tambahan tersebut disebut sebagai premi
penarikan/call premium.
Ketentuan penarikan sering kali tidak dioperasikan selama paruh pertama umur suatu
obligasi. Hal ini membuat para pemegang obligasi tidak perlu mengkhawatirkan ketentuan
penebusan dalam tahun-tahun pertama obligasi. Contohnya, sebuah perusahaan
mungkin melarang obligasinya ditebus selama 10 tahun pertama. Ini disebut ketentuan
penebusan yang ditangguhkan (deffered call provision). Selama periode pelarangan ini,
obligasi tersebut dikatakan diproteksi dari penebusan (call protected).

Dalam beberapa tahun terakhir, ada satu jenis ketentuan penebusan baru yang
disebut penebusan make-whole, dengan karakteristik penebusan ini pemegang obligasi
8

akan menerima kurang lebih nilai obligasi jika obligasi tersebut ditebus. Karena
pemegang obligasi tidak mengalami kerugian jika terjadi penebusan maka dikatakan
sebagai made whole atau impas.
4. Bond Refunding
Bond refunding berarti menggantikan seluruh atau sebagian bonds (obligasi) yang
diterbitkan. Jika manajemen memprediksi bahwa tingkat suku bunga di pasar modal
(market rate) obligasi sejenis di masa mendatang akan turun, maka perusahaan akan
mempertimbangkan untuk membeli kembali obligasi (buy back) yang tingkat bunganya
tinggi, dan menerbitkan obligasi dengan tingkat suku bunga yang lebih rendah. Dalam hal
ini disebut bahwa obligasi didanai ulang (refunded). Jadi, kapan perusahaan perlu
melakukan pendanaan ulang obligasinya tergantung dari ekspektasi tingkat suku bunga
di masa mendatang.
Adanya penarikan kembali inilah biasanya yang menyebabkan obligasi yang
mengandung ketentuan call provision diterbitkan dengan tingkat bunga yang lebih tinggi
dibandingkan dengan obligasi tanpa call provision. Investor lebih memilih obligasi dengan
situasi dimana perusahaan tidak membeli kembali obligasinya sebelum jatuh tempo,
sebab investor cenderung ingin memiliki obligasi dengan bunga tinggi dibanding obligasi
dengan bunga rendah. Keputusan pendanaan ulang (refunding) menyangkut dua
pertanyaan yang berbeda, yaitu :
1. Apakah menguntungkan untuk menarik obligasi yang sedang beredar pada periode
berjalan dan menggantinya dengan obligasi baru? dan
2. Jika bond refunding saat ini menguntungkan, apakah tidak lebih
baik/menguntungkan lagi jika pendanaan ulang ditangguhkan dulu untuk
sementara?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pada prinsipnya perusahaan menganalisis
sama halnya pada saat mengkaji tentang penganggaran barang modal (capital
budgeting). Dengan melakukan bond refunding artinya terdapat arus kas keluar. Biaya
atas pendanaan ulang (sama halnya dengan pengeluaran investasi, karena perusahaan
mengeluarkan dana untuk membeli kembali obligasi) yang terdiri atas:
a. Premi penarikan (call premium) yang dibayarkan pada pemegang obligasi yang
ditarik.
b. Biaya penjualan obligasi baru.
c. Bunga (coupon rate) yang harus dibayar ketika kedua obligasi sedang sama-sama
beredar (disebut sebagai overlap interest). Ada kalanya obligasi baru dijual lebih
dahulu sebelum dilakukan penarikan obligasi lama, ini untuk memastikan
ada/tersedia dana untuk membayar pokok pinjaman dari obligasi lama.

Seluruh pengeluaran kas tersebut dibandingkan dengan arus kas masuk, yang dalam
hal ini berupa penghematan biaya atas ditariknya obligasi lama. Penghematan dapat
terjadi karena ada selisih beban bunga antara obligasi lama dan obligasi baru, serta
amortisasi atas biaya-biaya terkait dengan kedua obligasi tersebut. Penghematan biaya
diperhitungkan setelah pajak. Penghematan biaya yang terjadi setiap tahun (karena biaya
bunga dibayarkan tiap tahun) kemudian dipresent value-kan dengan menggunakan
tingkat bunga obligasi baru sebagai discount factor. Perusahaan lebih baik melakukan
pendanaan ulang obligasi jika nilai sekarang (present value) dari penghematan melebihi
biaya pendanaan ulang.

9

BAB III
KESIMPULAN
Perusahaan memiliki berbagai alternatif sumber pendanaan, baik yang berasal dari
dalam maupun dari luar perusahaan. Alternatif pendanaan dari dalam perusahaan, umumnya
dengan menggunakan laba yang ditahan perusahaan. Sedangkan alternatif pendanaan dari
luar perusahaan dapat berasal dari kreditur berupa hutang, pembiayaan bentuk lain atau
dengan penerbitan surat-surat utang, maupun pendanaan yang bersifat penyertaan dalam
bentuk saham (equity).
Pendanaan melalui mekanisme penyertaan umumnya dilakukan dengan menjual
saham perusahaan kepada masyarakat atau sering dikenal dengan go publik.Sebuah
perusahaan yang akan go public dimana perusahaan tersebut melakukan initial public
offering (IPO) sahamnya melalui perusahaan sekuritas yang menjadi penjamin emisi dan
melalui agen-agen penjual yang ditunjuk.
Pada saat IPO, perusahaan bisa juga memberikan pemanis untuk lebih menarik
minat investor dengan menambahkan produk derivatif yaitu warrant. Setelah perusahaan
menjadi perusahaan terbuka, tidak jarang pula perusahaan melakukan penjualan saham lagi
melalui mekanisme Second Public Offering atau dengan Right Issue.Investor bisa melakukan
pembelian dengan memesan melalui penjamin emisi ataupun agen penjual. Perusahaan
tersebut akan menerbitkan hanya saham-saham pertama, namun bisa juga menawarkan
saham kedua.
Serta pilihan-pilihan lain para investor untuk melakukan opsi investasi invetasi
melalui penerbitan Kewajiban jangka panjang biasanya berbentuk obligasi atau bond.
Obligasi atau bond menjadi salah satu alternatif pembiayaan jangka panjang selain menjual
saham ke publik (IPO, SPO atau Right Issue). Terdapat banyak dimensi lain dari kewajiban
(utang) jangka panjang, termasuk hal-hal seperti jaminan, karakteristik penebusan kembali
(call), dana pelunasan (sinking fund), peringkat, dan perjanjian perlindungan (protective
covenant). Karakterisik-karakterisitik tersebut dirinci di dalam perjanjian obligasi (indenture).



















10

DAFTAR PUSTAKA

www.google.com
http://id.scribd.com/doc/183006461/Penerbitan-Sekuritas-Ekuitas-dan-Kewajiban-Jangka-
Panjang-doc
http://kelas-be2012.blogspot.com/2013/04/materi-pasar-modal-dan-manajemen.html
http://darkzone7.blogspot.com/2013/01/go-public-organisasi-yang-berkembang.html
http://nadyarahmini.blogspot.com/2012/12/tugas-soal-pasar-modal.html


xi

L
A
M
P
I
R
A
N