Anda di halaman 1dari 10

MITOKONDRIA PADA HEWAN

Desfaur Natalia
Universitas Negeri Padang, Jl. Air Tawar Barat Padang
Email desfaurnatalia@ymail.com

Pendahuluan
Pada awalnya sel-sel eukariotik adalah keturunan dari organisme anaerobik primitif
yang berhasil dan bertahan hidup di dalam lingkungan yang menjadi kaya akan oksigen
dengan cara menelan bakteri aerobik (yang sekarang kita sebut mitokondria). Bakteri tersebut
tidak pecah, tetapi sebaliknya dipelihara dan dipertahankan dalam sel secara simbiositis untuk
dapat dimanfaatkan kemampuannya dalam mengikat oksigen atmosfer dan memproduksi
energi.
Mitokondria adalah organel intraseluler yang bertanggung jawab untuk oksidasi
biologis dalam sel mamalia. Setiap sel mamalia berisi beberapa ribu mitokondria. Ukuran,
bentuk dan kelimpahan mitokondria bervariasidalam tie sel yang berbeda dan dapat berubah
sesuai permintaan energi yang berbeda dan berbeda fisiologis dan kondisi lingkungannya.
Kelimpahan mitokondria dalam sel ditentukan oleh biogenesis dan pembagian organel.
Kelimpahan mitokondria per sel sacara ketat dikontrol oleh aktivasi faktor transkripsi spesifik
dan jalur sinyal (Chen, 2004).
Selain berfungsi sebagai respirasi sel dan menghasilkan energi yangb berguna untuk
metabolisme tubuh, mitokondria juga berperan dalam apoptosis dan juga untuk identifikasi
forensik.

A. Struktur Mitokondria
Mitokondria adalah organel
intraseluler yang bertanggung jawab untuk
oksidasi biologis dalam sel mamalia.
Mitokondria berisi membran ganda dan
beberapa ratus protein dan 2-10 salinan DNA
mitokondria (mtDNA) dalam matrik tertutup
pada membran dalam mitokondria. Meskipun
mitokondria memiliki genom mereka sendiri,
sebagian besar protein dan enzim yang
berada di membran mitokondria produk gen
nukleus (Hsin et al, 2004).
Mitokondria berbentuk seperti kapsul.
Mitokondria memiliki membran rangkap
yaitu membran luar dan membran dalam.
Mitokondria mengalami pelipatan kedalam
yang disebut dengan krista. Sebagian reaksi
pernafasan terjadi dalam matriks mitokndria
yang dilingkupi oleh membran dalam, dan
yang lain dikatalis oleh enzim yang ada di
dalam membran dalam (Campbell, 2001).
Ukuran dan bentuk mitokondria
bervariasi menurut jaringannya dan menurut
keadaannya didalam sel. Kebanyakan
mitokondria berbentuk elips/jorong dengan
diameter 0,5-1,0 m dan panjang sampai 7
m. Struktur mitokondria terdiri dari empat
bagian utama yaitu membran luar, membran
dalam, ruang antar membran, dan matriks
yang terletak di bagian dalam membran
(Issoegianti, 1993).
Membran dalam mitokondria
mengalami pelipatan ke dalam membentuk
krista yang terdapat didalam matriks.
Pelipatan ini membuat luas total membran
bisa mencapai lima kali luas permukaan
membran luar pada sel hati. Jumlah krista sel
otot jantung tiga kali lebih banyak dari sel
hati. Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan
ATP yang lebih besar pada sel jantung
dibandingkan pada sel hati (Herbert, 2011).
Cristae mengandung hampir semua enzim
yang berperan dalam memacu sistem
pengangkutan elektron yang dihasilkan dari
reaksi-reaksi pada siklus krebs (resprasi).
Reaksi ini berlangsung pada matriks yang
kaya protein yang terletak diantara cristae
(Benyamin, 1993).
Selaput dalam membagi ruang
organel dalam dua bagian yaitu matriks yang
berisis cairan seperti gel yang diliputi selaput
dalam dan ruang antar selaput yang berisi
cairan encer. Matriks ruang antar selaput,
selaput luar dan selaput dalam, mengandung
bermacam-macam enzim. Selapaut dalam
kelihatan lebih tebal (6,0-8,0 nm) daripada
selaput luar kira-kira 5,0 nm.
Selaput dalam membagi ruang
organel menjadi dua yaitu matriks dan ruang
antar selaput matriks berisi cairan seperti gel
diliputi oleh selaput dalam. Matriks, ruang
antar selaput, selaput luar dan selaput dalam
mengandung bermacam-macam enzim siklus
kreb, garam dan air, DNA sirkuler dan
ribosom. Selaput dalam mempunyai area
permukaan yang lebih luas karena lipatan-
lipatan dan masuk ke dalam matriks. Lipatan-
lipatan ini disebut krista yang bervariasi
dalam jumlah dan bentuknya. Mitokondria
dapat mengkode bagian-bagian proteinnya
dengan alat-alat yang dimiliki (Issoegianti,
1993).

B. DNA Mitokondria
Mitokondria memiliki DNA
tersendiri, yang dikenal sebagai mtDNA.
mtDNA berpilin ganda, sirkular, dan
tidak terlindungi membran (prokaryotik).
MtDNA mengandung 37 gen pengode
untuk 2 rRNA, 22 tRNA dan 13
polipeptida yang merupakan sub unit
kompleks enzim yang terlibat dalam
fosforilasi oksidatif, yaitu subunit 1, 2, 3,
4, 4L, 5 dan 6 dari kompleks I, subunit b
(sitokrom b) dari kompleks III, subunit I,
II dan III dari kompleks IV (sitokrom
oksidase) serta subunit 6 dan 8 dari
kompleks V (Montenecourt et al, 1970).
DNA mitokondria banyak
ditemukan pada sel-sel otot atau jaringan
yang memiliki aktivitas metabolit atau
pada daerah-daerah yang memerlukan
ATP dalam jumlah banyak, seperti pada
bagian ekor sel sperma. Sel epitel yang
aktif membelah pada jaringan epidermis
kulit dan sel otot jantung (Wagner, 1972)
DNA mitokondria banyak
dimanfaatkan dalam keperluan analisis
baik analisis filogeni maupun analisis
forensik. Menurut Pereita (2010)
menyatakan ada tiga karakteristik
mtDNA yang dapat dijadikan alat yang
signifikan untuk keperluan analisis.
Pertama, mtDNA mempunyai copy
number yang tinggi, meskipun di dalam
sel yang tidak mengandung inti. Jumlah
copy per sel yaitu sekitar 1000-10.000
sehingga mtDNA dapat digunakan untuk
analisis sampel dengan jumlah DNA
yang sangat terbatas, atau DNA yang
mudah terdegradasi, apabila analisis
DNA inti tidak dapat dilakukan. Kedua,
mtDNA diturunkan secara maternal
sehingga setiap individu pada garis
keturunan ibu yang sama akan
mempunyai tipe mtDNA yang identik.
Ketiga, mtDNA mempunyai laju
poliformis yang tinggi dengan laju
evolusinya sekitar 5-10 kali lebih cepat
dari DNA inti.
Chen et al (2005) dalam
penelitiannya menyatakan mtDNA
dapat mewakili unsur genomik yang
paling informatif untuk menguraikan
asal ternal. Garis keturunan A adalah
yang paling berbeda dan secara luas
penyebarannya ke semua benua. Garis
keturunan B adalah dari timur dan Asia
selatan, mencakup Mongolia, Laos,
Malaysia, Pakistan, dan India. Garis
keturunan C dengan frekwensi rendah di
Mongolia, Switzerland, Slovenia,
Pakistan, dan India. Garis keturunan D
adalah jarang dan hanya diamati di
Pakistan dan kambing lokal India.
Dijelaskan Wagner (1972) dalam
penelitiannya DNA mitokondria
(mtDNA) memiliki sejumlah sifat
genetik khas yang membedakannya dari
genom inti. Pada manusia DNA
mitokondria hanya diturunkan lewat
jalur ibu tanpa rekombinasi. DNA
mitokondria pada sel anak seluruhnya
disumbangkan oleh ibu dan sperma sama
sekali tidak berkontribusi. Keunikan
sistem penurunan ini telah dimanfaatkan
dalam berbagai bidang yaitu penentuan
hubungan kekerabatan, studi evolusi dan
migrasi global manusia modern, bidang
forensik dan identifikasi penyakit
genetik. Keunikan lain dari mitokondri
yaitu memiliki laju mutasi yang lebih
tinggi dibandingkan dengan DNA inti
yaitu laju mutasi menetap gen-gen
mtDNA 10-7 kali lebih cepat daripada
yang terlibat dalam fosgolilasi oksidatif
yang dikode oleh DNA inti.
DNA mitokondria berbeda
dengan DNA inti pada lokasi, urutan,
kuantitas dalam sel, dan cara
pewarisannya (dari orang tua ke anak).
Sel hanya memiliki satu inti sel yang
mengandung 2 set kromosom, yaitu satu
set paternal dan satu set maternal. Akan
tetapi sel dapat mengandung ratusan
hingga ribuan mitokondria dan masing-
masing mitokondria dapat mengandung
beberapa copy mtDNA. DNA inti
memiliki jumlah basa yang lebih banyak
dibandingkan DNA mitokondria, tetapi
molekul mtDNA terdapat dalam jumlah
copy yang jauh lebih banyak daripada
molekul DNA inti. Karakteristik mtDNA
ini sangat berguna pada situasi di mana
jumlah DNA sampel sangat terbatas,
seperti sampel-sampel yang diambil dari
kasus kriminal yaitu rambut, tulang, gigi,
cairan tubuh (air liur, air mani, darah)
(Pereira, 2010).
Keunggulan mtDNA, selain
DNA inti, DNA mitokondria (mtDNA)
telah digunakan dalam bidang forensik
dan menjadi barang bukti di pengadilan
Amerika dan Eropa. Kelebihan utama
penggunaan mtDNA adalah jumlah
molekulnya yang mencapai ribuan dalam
satu sel sehingga memungkinka
dilakukan analisis dari sampel yang
sangat sedikit, misalnya cairan tubuh,
akar atau batang rambut bahkan tulang
dan fosil tulang.
Kelemahan penggunaan mtDNA
adalah kemungkinkan menemukan
kesamaan antar individu yang relatif
tinggi, terutama individu yang terkait
hubungan keluarga segaris ibu.
Kelemahan ini jadi menguntungkan bila
yang dilakukan adalah perunutan
hubungan keluarga.

C. Fungsi Mitokondria pada Sel Hewan
Mitokondria berfungsi sebagai
tempat respirasi seluler yang
menghasilkan ATP dan bahan bakar
organik seperti gula (Campbell, 2002).
Mitokondria juga memiliki banyak fungsi
metobolisme didalam sel, termasuk fase-
fase yang menghasilkan tenaga pada
metabolisme karbohidrat dan lemak
(respirasi), sintesis ATP, dan sintesis
porfirin (Issoegianti, 1993).
ATP (adenin tripospat) adalah
sebuah molekul dari struktur fosfat yang
bisa merombak energi untuk reaksi
kimia. Banyak enzim yang mengkatalis
reaksi pengubahan antara molekul ke
ATP. Karena itu, mitokondria tepat
disebut sebagai Power House of The
Cell (Grove, 1968).
Mitokondria melakukan oksidasi
seluler dan menghasilkan sebagian besar
ATP pada sel hewan. Matrik mitokondria
berisi berbagai macam enzim, termasuk
yang mengkonversi asam piruvat dan
lemak untuk asetil KoA dan yang
mengoksidasi asetil Koa ke CO
2
melalui
siklus asam sitrat. Sejumlah besar NADH
(dan FADH
2
) yang dihasilkan oleh reaksi
oksidasi.
Energi yang tersedia dari
penggabungan molekul oksigen dengan
elektron reaktif yang dibawa oleh NADH
dan FADH2 dimanfaatkan oleh rantai
transpor elektron dalam rantai membran
mitokondria bagian dalam yang disebut
rantai pernafasan. Rantai pernafasan
pompa H+ keluar dari matrik untuk
membuat transmembran elektrokimia
proton (H+) gradien, yang mencakup
kontribusi dari kedua potensi membran
dan perbedaan pH. Jumlah besarnya
energi bebas yang dilepaskan ketika H+
mengalir kembali ke dalam matriks
(melintasi membran dalam) memberikan
dasar untuk produksi ATP dalam matriks
oleh mesin sintase protein yang luar biasa
menghasilkan ATP. Transmembran
elektrokimia gradien juga digunakan
untuk menggerakkan transpor aktif dari
metabolit dipilih melintasi membran
dalam mitokondria, termasuk ATP-ADP
efisien pertukaran antara mitokondria dan
sitosol. Rasio yang tinggi dihasilkan dari
ATP untuk produk hidrolisis yang
membuat perubahan energi bebas untuk
hidrolisis ATP yang sangat
menguntungkan, sehingga reaksi
hidrolisis untuk mendoromg sejumlah
besar energi membutuhkan proses.
Mitokondria sebagai penghasil
energi dalam bentuk ATP yang
diperlukan untuk menjaga aktivitas dan
integritas sel. Dalam mitokondria sintesis
ATP dapat berlangsung dengan adanya
ATP sintase. ATP sintese merupakan
enzim yang mensintesis ATP melalui
fosforilasi oksidatif. Dalam enzim
tersebut terdapat bagian yang dikode oleh
mtDNA, yaitu ATPase 6 dan ATPase 8.
Enzim ini bekerja dengan cara
menggunakan energi dari gradien proton
yang dihasilkan selama proses transfer
elektron (Albert, 1991).
Dalam transfer elektron, masing-
masing kompleks menerima dan
melepaskan elektron. Elektron tersebut
pada akhirnya akan ditangkap oleh
oksigen molekuler yang kemudian
bereaksi dengan sepasang ion hidrogen
untuk membentuk molekul air. Selama
proses transfer elektron tersebut, masing-
masing kompleks memompa ion
hidrrogen (proton) dari matriks
mitokondria ke dalam ruang antar
membran. Dengan demikian terjadi
perbedaan konsentrasi proton pada
matriks dan ruang antar membran.
Gradien proton tersebut dapat
menggerakkan proton kembeli melintasi
membran menuruni gradiennya. Ketika
ion hidrogen mengalir menuruni
gradiennya, kompleks ATP sintase
bekerja untuk memfosforilasi ADP
menjadi ATP.
Adanya gangguan atau mutasi pada
mtDNA khususnya pada daerah ATPase
6 akan berpengaruh terhadap sintase
ATP. Aktivitas ATP sintase dalam otot
rangka berkaitan erat dengan konsumsi
oksigen secara maksimum dan
aktivitasnya meningkat ketika melakukan
aktivitas fisik (olahraga).
Berdasarkan fakta tersebut, maka
seseorang yang tinggal pada daerah
dataran tinggi dan seseorang didataran
rendah akan memiliki perbedaan laju
metabolisme tubuh. Di dalam tubuh
manusia terdapat suatu sistem
keseimbangan yang berperan dalam
menjaga fungsi fisiologi tubuh untuk
beradaptasi dengan lingkungannya.
Proses adaptasi yang dilakukan oleh
tubuh manusia salah satunya adalah
beradaptasi terhadap perbedaan
ketinggian. Daerah dataran rendah
diketahui memiliki jumlah oksigen yang
relatif lebih banyak dibandingkan dengan
dataran tinggi. Hasil dari adaptasi
tersebut memungkinkan terjadinya
perubahan fisiologi dalam hal respirasi ,
sirkulasi dan jumlah sel darah erah dalam
tubuh. Pada orang yang tinggal didataran
tinggi, suplai oksigen ke seluruh jaringan
menjadi berkurang. Untuk mengatasi hal
tersebut tubuh beradaptasi dengan
meningkatkan jumlah sel darah merah.
Semakin tinggi jumlah sel darah merah
dan konsentrasi hemoglobin, maka
kapasitas oksigen respirasi akan
meningkat.
Namun jika suplai oksigen yang
dibutuhkan oleh mitokondria untuk
menjalankan sistem metabolisme
berkurang , maka akan berdampak pada
proses fosforilasi oksidatif. Dalam proses
fosforilasi di mitokondria, oksigen dari
hasil respirasi berperan sebagai akseptor
elektron. Rendahnya konsumsi oksigen
mengakibatkan meningkanya level
reduksi dari sitokrom B sehingga akan
terbentuk ubisemikuinon. Ubisemikuinon
tersebut kemudian berinteraksi dengan
O2 dan menghasilkan radikal oksigen
(ROS). Tingginya produksi ROS dapat
menyebabkan kekacauan sistem
metabolik pada mitokondria. Radikal
oksigen tersebut dapat menyebabkan
mitokondria mengalami defisiensi
produksi energi ATP.
Meningkatnya level ROS dapat
mengakibatkan terjadinya mutasi pada
mtDNA, sehingga besar kemungkinan
terdapat heterogenitas varian nukleotida
daerah ATP ase 6 manusia pada populasi
dataran tinggi dan dataran rendah.
Meskipun mitokondria berperan
dalam respirasi dan pembentukan energi,
aliran elektron dalam mitokondria yang
melalui rantai transpor elektron
menciptakan perbedaan potensial di
membran dalam, yang digunakan untuk
produksi ATP. Namun, intrinsik tidak
efisien pada transpor elektron, dan
merusak fungsi mitokondria. Menurut
Zhang & Ney, 2010) Penurunan fungsi
mitokondria menyebabkan peningkatan
relatif generasi spesies oksigen,
penurunan fungsi sel dan berpotensi
terhadap kematian sel. Oleh karena itu,
untuk menjaga homeotasis seluler,
mekanisme berevolusi untuk selektif
menghilangkan cacat mitokondria.
Ketika sel-sel merasakan
kekurangan dalam fungsi respirasi
mitokondria selama penuaan atau setelah
terpapar stres lingkungan, mitokondria
termotivasi untuk menyediakan energi
untuk memenuhi kebutuhan sel. Dalam
rangka meningkatkan pasokan energi
untuk memperbaiki dan menghilangkan
kerusakan sel komponen, beberapa sinyal
(misalnya H
2
O
2
) ditransmisikan ke inti,
di mana sel dapat menghentikan
pertumbuhan dan sekaligus menginduksi
proliferasi mitokondria dan amplifikasi
mtDNA untuk menghasilkan lebih
fungsional mitokondria. Setelah
kerusakan diperbaiki efektif atau
dihilangkan, sel dapat kembali memasuki
siklus sel dan melanjutkan pertumbuhan
normal. Namun, sekali kerusakan
berlanjut terlalu lama atau terlalu serius
untuk diperbaiki, mitokondria bisa
merasakan dan mengintegrasikan
ekstraseluler atau tekanan ekstra-
mitokondria dan sinyal untuk mendorong
sel dalam proses kematian sel ireversibel
(Chen et al. 2005).

D. Hubungan Mitokondria dengan
Apoptosis
Apoptosis, suatu bentuk kematian
sel terprogram (PCD), adalah sel program
bunuh diri penting untuk pembangunan
dan untuk dewasa homeostasis jaringan
di semua hewan metazoan.

Gambar 1. Model mekanisme untuk
induksi fragmentasi mitokondria dan
hubunganya dengan MOMP, krita
renovasi dan sitokrom c rilis (Arnoult,
2006)
apoptosis. (a) sinyal apoptosis memicu
translokasi Bax dan Drp1 mitokondria.
Selanjutnya, aktif Bax berpartisipasi
dalam aktivasi Drp1-dimediasi fisi
mitokondria dan mungkin juga
menghambat fusi mitokondria dengan
berinteraksi dengan Mfn2. Krista renovasi
terjadi dengan mekanisme yang tidak
diketahui mungkin berhubungan dengan
aktivasi fisi dan / atau penghambatan fusi.
Aktif Bax membentuk saluran melintasi
membran luar mitokondria, sehingga
MOMP dan sitokrom c rilis.
(b) apoptosis sinyal menginduksi
pelepasan kalsium ER, mengakibatkan
translokasi Drp1 mitokondria dan induksi
fragmentasi. Melalui mekanisme yang
tidak diketahui, Drp1 memicu krista
renovasi. Selanjutnya, Bax translokasi dan
pembentukan Bax mengandung saluran
memicu MOMP dan sitokrom c rilis.
(c) sinyal apoptosis memicu translokasi
Bax untuk mitokondria. Aktif Bax
membentuk saluran yang menginduksi
MOMP dan pelepasan beberapa protein
larut terlokalisasi dalam ruang
antarmembran seperti beberapa sitokrom c
dan OPA1, dan DDP/TIMM8a. Rilis
OPA1 memicu krista renovasi untuk
memungkinkan pembebasan sisa sitokrom
c, dan ini adalah terkait dengan
penghambatan fusi mitokondria. Secara
paralel, sekali dalam sitosol,
DDP/TIMM8a mengikat Drp1,
mempromosikan translokasi untuk
mitokondria dan induksi Drp1-dimediasi
fisi. Akhirnya, fusi mitokondria
menghambat dan mengaktifkan fisi
mitokondria sinergis menginduksi
mitokondria menonjol fragmentasi.
DAFTAR PUSTAKA
Arnoult, Damient. 2006. Mitochondria
Fragmentation Apoptosis. Unite de
Physiophatologie des Infection
Lentivirale, Institut Pastuer. Trend in
Cell Biology Vol.17 No.1

Arnoult, D. 2007. Mitochondria Release of
Apoptosis-Inducing Factor Occurs
Downstream af Cytochrome C Release
To Several Proapoptotic Stimuly.
Jurnal Of Cell Biology, 159 (6): 923-
929

Campbell. 2002. Bilogi Jilid I edisi Kelima,
Erlangga, Jakarta

Chen Lee & Yau-Huei Wei. 2005.
Mitochondria Biogenesis and
Mitochondria DNA Maintenance of
Mammalian Cells Under Oxidative
stress. The Internasional Journal of
Biochemistry & Cell Biology 37
(2005) 822-834.

Chen, S. Y., Y. H. Su, S. F. Wu, T. Sha and
Y. P. Zhang. 2005. Mitochondrial
diversity and phylogeographic
structure of Chinese domestic goats.
Molecular phylogenetics and
Evolution. 37: 804814

Cummins, Jim. 1998. Mitochondria DNA in
Mammalian Reproduction. Division of
Veterenary and Biomedical Sciences,
Murdoch University ; Australia

Grove, S.J. 1968. Animal Biology 7 Edition.
University Tutorial Press LTD, Foxton
Near Cambridge.

Issoegianti, S.M. 1993. Biologi Sel.
Depdikbud, Jakarta

Montenecourt, Margaret E.Langsam &
Donald T.Dubin. 1970. Mitochondria
RNA From Cultured Animal Cells. A
Comparison of the High Moleculer
Weight RNA from Mouse and Hamster
Cells. The journal of Cell Biology
Volume 46, 245-251
Wagner, Robert P. 1972. The Role of
Maternal Effects in Animal Breeding :
II Mitochondria and Animal
Inheritance. Journal of Animal Science
http://www.journalofanimalscience.org
/content/35/6/1280.

Zhang, Ji & Ney, Paul A. 2010. Reticulocyte
mitophagy Monitoring Mitochondria
Clearance in a Mammalian Model.
Department of Biochemistry; St.Jude
Childrens Research Hospital;
Memphis, TN USA.
www.landesbioscience.com