Anda di halaman 1dari 38

Penataan Ruang

Prinsip Tata Ruang


Penataan ruang diklasifikasikan berdasarkan
sistem, fungsi utama kawasan, wilayah
administratif, kegiatan kawasan, dan nilai
strategis kawasan
Mengedepankan Pemerintah sebagai fasilitator
dan masyarakat sebagai pelaku atau stakeholder
utama pembangunan.
Pengembangan potensi yang ada di suatu daerah
harusnya berawal dari bawah (bottom up)
melalui fasilitasi pemerintah kota/kabupaten
untuk kemudian dipadukan dengan sistem
jaringan yang ada
Istilah Tata Ruang
Rencana Tata Ruang Wilayah ( RTRW ) Kota adalah hasil
perencanaan tata ruang wilayah
yang telah ditetapkan dengan peraturan
daerah
Tata ruang atau Land use adalah wujud struktur ruang dan pola
ruang disusun secara nasional, regional, dan lokal. Secara nasional
disebut Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, yang dijabarkan ke
dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi, dan Rencana Tata
Ruang Wilayah (RTRW) tersebut perlu dijabarkan ke dalam Rencana
Tata Ruang Wilayah Kota (RTRWK).
Ruang didefinisikan sebagai wadah yang meliputi ruang darat, ruang
laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu
kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup,
melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya.
Tata Ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang
Keterkaitan Rencana
RPJP
NASIONAL
RPJP
PROPINSI
RPJP
KOTA/KAB
RTRW
NASIONAL
RTRW
PROPINSI
RTRW
KOTA/KAB
RPJM
NASIONAL
RPJM/RKP
PROPINSI
RPJM/RKP
KOTA/KAB
NON SPATIAL
SPATIAL
VISI
Terwujudnya Ruang Nusantara yang nyaman dan berkelanjutan untuk
kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia
MISI
1. Mewujudkan kepastian pola pemanfaatan dan struktur ruang wilayah nasional
yang responsive terhadap dinamika pembangunan utk. meningkatkan kualitas
lingkungan kehidupan masyarakat
2. Mewujudkan standar kualitas penyelenggaraan penataan ruang dengan
mendayagunakan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan metoda pendukung
yang tepat guna dalam penyelenggaraan penataan ruang.
3. Menyelenggarakan penataan ruang yang responsive terhadap keunggulan
geografis yang bermuatan kearifan lokal.
4. Mewujudkan penataan ruang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari
kehidupan masyarakat sehari-hari.
5. Mewujudkan transparansi yang didukung oleh koordinasi di tingkat pusat dan
daerah dalam penyelenggaraan penataan ruang.
6. Mewujudkan penegakan hukum dalam pemanfaatan ruang.
7. Memantapkan kelembagaan penataan ruang di tingkat nasional, daerah dan
masyarakat dalam operasionalisasi penataan ruang wilayah pulau, provinsi,
kabupaten, kota dan kawasan.
Tujuan Penyelenggaraan Penataan
Ruang 1/2
mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman,
nyaman, produktif dan berkelanjutan
berlandaskan Wawasan Nusantara dan
Ketahanan Nasional dengan:
(i) Terwujudnya keharmonisan antara
lingkungan alam dan lingkungan buatan,
(ii) Terwujudnya keterpaduan dalam
penggunaan sumber daya alam dan sumber
daya buatan dengan memperhatikan sumber
daya manusia
Tujuan Penyelenggaraan Penataan
Ruang 2/2
(iii) Terwujudnya perlindungan fungsi ruang
dan pencegahan dampak negatif terhadap
lingkungan akibat pemanfaatan ruang.
Selain itu, penataan ruang juga harus berbasis
mitigasi bencana sebagai upaya dalam
meningkatkan keselamatan dan kenyamanan
hidup dengan pengaturan zonasi yang baik
Siklus Penataan Ruang
PERENCANAAN
TATA RUANG
PEMANFAATAN
RUANG
PENGENDALIAN
PEMANFAATAN
RUANG
Sistem Perencanaan Tata Ruang
Strategic Development
Framework
RTRWN RTRWP RTRWK
Sistem Perencanaan
Tata Ruang Nasional
Sistem Perencanaan
Tata Ruang Provinsi
Sistem Perencanaan
Tata Ruang Kab/Kota
RTR Pulau,
Kawasan Tertentu,
Kawasan
Perbatasan,
Kawasan Terpencil
Renc. Detail
TRWP
RDTR Kab/Kota
RTR Kawasan
Renc. Teknik
RWP
RTR
Hirarki
Rencana
Umum TR
Rencana
Detail TR
Rencana
Teknik
Ruang
Sistem Penataan Ruang Nasional
Rencana Induk
Jalan
Rencana Induk
SDA
Rencana Induk
Air Bersih
I P Strategis (5 Tahun)
P e r w u j u d a n
Pemantauan
RTR Pulau
SISTEM NASIONAL
1. Pengemb. Kaw. Prioritas (Kaw.
Tertentu, Perbatasan, Terpencil, dll)
2. Pengemb. Sistem Perkotaan
3. Pengemb. Sistem Prasarana Strategis
4. Pengembangan Sistem Perlindungan
thd. Bencana Alam

Peninjauan RTR
RTRW Nasional
Ditjen Penataan Ruang
Sektor
Pembangunan
Perkotaan
Pembangunan
Perkotaan
Rencana Induk
Sektor Lain
P
e
r
e
e
n
c
a
n
a
a
n


P
e
m
a
n
f
a
a
t
a
n

P
e
n
g
e
n
d
a
l
i
a
n


Kegiatan dalam
Penyelenggaraan Penataan
Ruang
Pengaturan
Pembinaan
pelaksanaan, dan
pengawasan penataan ruang
Peraturan Perundang-Undangan
sampai dengan 2009
UU No.26 Tahun 2007
PP No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana
Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN)
Perpres No. 54 Tahun 2008 tentang
Rencana Tata Ruang Kawasan Jakarta,
Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak
dan Cianjur (Jabodetabekpunjur)
Rancangan Peraturan
Perundang-Undangan yang
masih diselesaikan
RPP tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang
RPP tentang Sumber Daya Alam
RPP tentang Tata Cara dan Bentuk Peran Serta
Masyarakat dalam Penataan Ruang
RPP tentang Tingkat Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang
RPP tentang Penataan Ruang Kawasan Pertahanan
Perpres Rencana Tata Ruang Pulau yaitu RTR Pulau
Sumatera, RTR Pulau Jawa-Bali, RTR Pulau Kalimantan,
RTR Pulau Sulawesi, RTR Pulau Papua, RTR Kepulauan
Maluku, dan RTR Kepulauan Nusa Tenggara
Struktur UU Penataan Ruang
1/3
Terdiri dari 13 Bab dan 80 Pasal

Bab I : Ketentuan Umum
Definisi (pasal 1)
Bab II : Asas dan Tujuan
Asas dan Tujuan (pasal 2 -3)
Bab III : Klasifikasi Penataan Ruang
Klasifikasi Penataan Ruang (pasal 4 -6)
Bab IV : Tugas dan Wewenang
Tugas(Pasal 7)
Wewenang Pemerintah (Pasal 8-9)
Wewenang Pemerintah Propinsi (Pasal 10)
Wewenang Pemerintah Kota/Kabupaten (Pasal 11)
Bab V : Pengaturan dan Pembinaan Penataan Ruang
Pengaturan Penataan Ruang -> NSPM (Pasal 12)
Pembinaan Penataan Ruang (Pasal 13)
Struktur UU Penataan Ruang
2/3
Bab VI : Pelaksanaan Penataan Ruang
Perencanaan Tata Ruang
Umum (ps.14 18)
Perencanaan Tata Ruang Wilayah Nasional (ps.19-21)
Perencanaan Tata Ruang Wilayah Propinsi (ps.22-24)
Perencanaan Tata Ruang Wilayah Kabupaten (ps.25-27)
Perencanaan Tata Ruang Wilayah Kota (ps.28-31)
Pemanfaatan Ruang
Umum (ps.32-33)
Pemanfaatan Ruang Wilayah (ps.34)
Pengendalian Pemanfaatan Ruang
Ps.35-40
Penataan Ruang Kawasan Perkotaan
Umum (ps. 41)
Perencanaan Tata Ruang kawasan Perkotaan ((ps. 42-44)
Pemanfaatan Ruang Kawasan Perkotaan (ps. 45)
Pengendalian Pemanfaatn Ruang Kawasan Perkotaan (ps. 46)
Kerjasama Penataan Ruang Kawasan Perkotaan (ps. 47)
Penataan Ruang Kawasan Perdesaan
Umum (ps. 48)
Perencanaan Tata Ruang kawasan Perdesaan ((ps. 49-51)
Pemanfaatan Ruang Kawasan Perdesaan (ps. 52)
Pengendalian Pemanfaatn Ruang Kawasan Perdesaan (ps. 53)
Kerjasama Penataan Ruang Kawasan Perdesaan (ps. 54)

Struktur UU Penataan Ruang
3/3

Bab VII : Pengawasan Penataan Ruang
Ps. 55-59)
Bab VIII : Hak, Kewajiban, dan Peran Masyarakat
Hak Masyarakat (ps. 60)
Kewajiban Masyarakat (ps. 61)-64
Peran Masyarakat (ps.65)
Gugatan (ps. 66)
Bab IX : Penyelesaian Sengketa
Musyawarah, pengadilan arbitrase (ps. 67)
Bab X : Penyidikan
Ps. 68
Bab XI : Ketentuan Pidana
ps. 69-75
Bab XII : Ketentuan Peralihan
ps. 76-77
Bab XIII : Ketentuan Penutup
Penyesuaian Per UU yang ada (ps. 78)
UU 24/92 dicabut (ps.79)
UU berlaku sejak tgl diundangkan (ps.80)

PERMASALAHAN YANG
DIHADAPI
Revisi Tata Ruang Provinsi,
Kabupaten/Kota
UU No. 26 Tahun 2007 mengamanatkan kepada
Pemerintah Daerah untuk segera melakukan
revisi Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang
Wilayah Provinsi, Kota dan Kabupaten dengan
batas waktu 2 tahun (untuk Provinsi) dan 3
tahun (untuk Kabupaten dan Kota) sejak UU
tersebut diterbitkan.
Namun, hingga pertengahan tahun 2009, belum
ada satupun RTRW Provinsi/Kabupaten/Kota
yang telah direvisi menjadi Peraturan Daerah
sesuai dengan UU tersebut
Keberadaan Norma, Standar,
Pedoman dan Manual
Norma, Standar, Pedoman dan Manual (NSPM) yang meliputi
antara lain:
Pedoman Penyusunan RTRW Provinsi/Kabupaten/Kota,
Pedoman Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Penataan Ruang,
Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di
Wilayah Kota/Perkotaan, dan sebagainya
NSPM tersebut masih terbatas dalam jumlah maupun
cakupannya, sedangkan NSPM lainnya masih dalam proses
penyusunan
Ketersediaan Peta 1/2
Dalam mendukung pelaksanaan penataan
ruang yang baik, maka diperlukan peta
sebagai alat untuk memudahkan
interpretasi spasial
Kondisi saat ini (tahun 2009),
menggambarkan masih adanya
keterbatasan jumlah dan standar peta
yang menjadi permasalahan dalam
pelaksanaan dan pengendalian penataan
ruang
Ketersediaan Peta 2/2
Hingga saat ini, peta rupa bumi yang sudah tersedia untuk
seluruh Indonesia pada skala 1: 250.000, sedangkan untuk
skala 1:50.000 hingga 25.000 baru tersedia untuk Pulau Jawa
Secara bertahap ketersediaan data spatial yang akurat terus
dilakukan dan untuk mendukung pengembangan sistem
informasi penataan ruang, saat ini telah disahkan Perpres No.
85 Tahun 2007 tentang Jaringan Data Spasial Nasional yang
merupakan pedoman dalam pembuatan peta dan penyediaan
sistem informasi di bidang data spasial
Kelembagaan 1/2
Kelembagaan saat ini masih terfokus pada koordinasi yang
dilaksanakan melalui forum koordinasi penataan ruang di
tingkat nasional yaitu Badan Koordinasi Penataan Ruang
Nasional (BKPRN) sesuai Keppres No.4 Tahun 2009 tentang
Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN), dan di
tingkat daerah yaitu Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah
(BKPRD) sesuai Keputusan Menteri Dalam Negeri No.147
Tahun 2004 tentang Pedoman Koordinasi Penataan Ruang
Daerah
Kelembagaan 2/2
kelembagaan seharusnya tidak hanya dilihat dari isu
koordinasi, namun juga mempertimbangkan aspek kapasitas
sumber daya yang dimiliki lembaga, komitmen dalam
pelaksanaan, dan transparansi kerja lembaga
Selain itu, dalam aspek kelembagaan yang terkait dengan
pengawasan dan penegakkan hukum sesuai dengan amanat
UU No.26 Tahun 2007, maka akan segera dibentuk pejabat
Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS)
Pengendalian Pemanfaatan Ruang
1/2
Aspek pengendalian pemanfaatan ruang untuk menjamin
kesesuaian rencana dengan pelaksanaan, penerapan prinsip
pembangunan berkelanjutan dan peningkatan keseimbangan
pembangunan antar fungsi/kegiatan saat ini masih lemah
Pengendalian pemanfaatan ruang dilaksanakan dengan
penyusunan zoning regulation, mekanisme perijinan, insentif
dan disinsentif, serta penerapan sanksi bagi pelanggaran
RTRW
Berdasarkan data yang ada, pada tahun 2007 sekitar 31
persen penggunaan lahan tidak sesuai dengan RTRWP dan
yang terbesar adalah berada di Pulau Jawa-Bali (48,35 persen)
Pengendalian Pemanfaatan Ruang
2/2
Pulau
Tingkat Kesesuaian (Hektar)
Sesuai % Tidak Sesuai %
Sumatera 29.201.031 61.81 17.876.270 38.19
Jawa dan Bali 6.837.426 51.65 6.400.871 48.35
Kalimantan 36.644.902 68.68 16.710.461 31.32
Sulawesi 13.566.957 70.07 5.793.818 29.93
Nusa Tenggara dan Maluku 8.317.046 52.74 6.753.194 47.26
Papua 36.093.311 86.77 5.386.689 13.23
Total 130.660.673 68.31 58.921.301 30.80
Sumber : Direktorat Penatagunaan Tanah, BPN, 2007
Tingkat Kesesuaian Penggunaan Lahan
Terhadap RTRWP
Pengaturan penataan ruang
Belum lengkapnya peraturan perundangan pelaksanaan sesuai
amanat UU No. 26 Tahun 2007; yaitu mencakup Peraturan
Pemerintah tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang; Peraturan
Presiden tentang Rencana Tata Ruang (RTR) Pulau dan KSN,
Peraturan Daerah tentang RTRW Provinsi, Kabupaten dan Kota di
Indonesia, dan NSPM terkait.
Kurangnya aturan turunan yang mengaitkan antara UU No. 26 Tahun
2007 dengan UU sektor; dengan diberlakukannya UU Penataan
Ruang, maka diperlukan sinkronisasi dengan UU sektor seperti
transportasi, pengairan, penanaman modal, pertanahan, kehutanan
dan lain-lain. Hal ini dapat diterjemahkan dalam aturan
pelaksanaannya dalam bentuk Peraturan Pemerintah hingga
Peraturan Menteri.
Masih terbatasnya alokasi anggaran daerah untuk penyusunan
RTRW Provinsi, Kabupaten/Kota
Pembinaan penataan ruang
Masih lemahnya kapasitas kelembagaan yang mencakup terbatasnya
kuantitas dan kualitas sumber daya manusia bidang tata ruang di
pusat dan daerah dan terbatasnya penyediaan sistem informasi dan
data bidang tata ruang.
Terbatasnya pemahaman mengenai UU No. 26 Tahun 2007 oleh
stakeholders terkait di pusat dan daerah, disebabkan karena masih
terbatasnya kegiatan sosialisasi dan advokasi khususnya mengenai
NSPM dan aturan pelaksanaannya.
Lemahnya koordinasi penyelenggaraan penataan ruang antar sektor
dan antar wilayah yang disebabkan oleh lemahnya kelembagaan
yang berfungsi untuk koordinasi, serta belum optimalnya peran
Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional dan Badan Koordinasi
Penataan Ruang Daerah dalam penyelenggaraan Penataan Ruang.
Lemahnya dukungan regulasi dalam membangun kerjasama antar
wilayah
Perencanaan tata ruang
Masih banyaknya Daerah yang belum memiliki Perda RTRW
sesuai amanat UU No. 26 Tahun 2007.
Rendahnya kualitas Rencana Tata Ruang (RTR) yang
disebabkan oleh terbatasnya kualitas dan kuantitas data,
keterbatasan peta dasar dan peta tematik, belum lengkapnya
NSPM dan terbatasnya SDM baik secara kualitas maupun
kuantitas
Pemanfaatan ruang
Konflik antar sektor dan antar wilayah yang disebabkan karena
belum adanya sinkronisasi program pembangunan antar
sektor dan antar wilayah.
Banyaknya penyimpangan penggunaan lahan terhadap RTRW.
Tingkat kesesuaian penggunaan tanah terhadap RTRW
Provinsi baru mencapai 68,31 persen dari luas wilayah
Indonesia atau 130,66 juta hektar.
Belum diacunya RTRW sebagai landasan penyusunan program
pembangunan
Pengendalian pemanfaatan
ruang
Belum adanya instrumen pengendalian yang
optimal.
Belum adanya mekanisme perizinan yang
mengacu kepada RTRW.
Belum adanya petunjuk pelaksanaan pemberian
sanksi terhadap pelanggaran RTRW
Pengawasan penataan ruang
Belum adanya pedoman dan petunjuk pelaksanaan dalam
pelaksanaan pengawasan penataan ruang.
Keterbatasan sumberdaya dalam pelaksanaan pengawasan
penataan ruang.
Belum tersedianya Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS)
Penataan Ruang yang mencukupi
Permasalahan Tata Ruang Kawasan Daerah 1/2
Tipisnya wibawa dan kekuatan hukum produk rencana tata ruang
Adanya kehendak sesaat yang tidak konseptual.
perencanaan tata ruang dan pengelolaan lingkungan hidup perlu dilihat
sebagai management of conflicts, tidak sekadar management of growth
atau management of changes. Orientasi tujuan jangka panjang yang ideal
perlu disenyawakan dengan pemecahan masalah jangka pendek yang
bersifat inkremental.
Mekanisme development control yang ketat juga perlu ditegakkan, lengkap
dengan sanksi bagi si pelanggar dan penghargaan bagi mereka yang taat
pada peraturan. Hal lainnya, penataan ruang perlu dilakaukan secara total,
menyeluruh dan terpadu. Model-model participatory planning dan over-
the-board planning atau perencanaan lintas sektoral selayaknya dilakukan
secara konsekuen dan berkesinambungan.
Demikian halnya dengan kepekaan sosiokultural para penentu kebijakkan
dan para perencana seyogyanya lebih ditingkatkan. Sedangkan, kekayaan
khasanah lingkungan alam mesti jadi perhatian dalam setiap setiap
perencanaan tata ruang dan pengelolaan lingkungan hidup
Permasalahan Tata Ruang Kawasan Daerah 2/2
Perencanaan tata ruang selama ini masih cenderung berorientasi pada pencapaian tujuan
ideal jangka panjang yang sering meleset akibat banyaknya ketidakpastian. Di sisi lain, masih
banyak pula rencana yang disusun dengan pendekatan pemikiran sekadar untuk
memecahkan masalah secara ad hoc yang berjangka pendek dan kurang berwawasan luas.
Sering dilupakan bahwa short term gain akan berakibat pada long term pain.
Rencana tata ruang tanpa didukung para pengelola perkotaan dan daerah yang handal, serta
mekanisme pengawasan dan pengendalian pembangunannya pun kurang jelas.
Perencanaan tata ruang terlalu ditekankan pada aspek penataan ruang dalam arti fisik dan
visual
Keterpaduan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan yang masih terkesan
sebagai slogan atau hiasan bibir belaka, belum mengejawantah dalam kenyataan.
Kota dan daerah masih hampir selalu dilihat dalam bentuk hirarki pohon yang tampaknya saja
sederhana, padahal dalam kehidupan sesungguhnya berbentuk hirarki-jaring yang sangat
kompleks.
Masih adanya arogansi sektoral dan egosentrisme wilayah yang cenderung menggunakan
kacamata kuda.
Peran serta masyarakat dalam proses perencanaan tata ruang dan pengelolaan lingkungan
hidup masih sangat terbatas.
Tantangan yang Dihadapi 1/2
Masih rendahnya pertumbuhan ekonomi,
Kualitas sumber daya manusia Indonesia masih rendah,
Masih kurang menyatunya kegiatan perlindungan lingkungan hidup
dengan kegiatan pemanfaatan sumber daya alam sehingga sering
melahirkan konflik kepentingan antara ekonomi sumber daya alam
(pertambangan, kehutanan) dengan lingkungan,
Kesenjangan pembangunan antar daerah masih lebar, seperti antara
Jawa luar Jawa, antara Kawasan Barat Indonesia (KBI) Kawasan
Timur Indonesia (KTI), serta antara kota desa,
Kualitas dan pelayanan infrastruktur yang belum sepenuhnya pulih
dan masih tertundanya pembangunan infrastruktur baru,
Masih adanya potensi aksi separatisme dan konflik horizontal.

Tantangan yang Dihadapi 2/2
Kebijakan Pemerintah yang tidak sepenuhnya berorientasi kepada
masyarakat, sehingga masyarakat tidak terlibat langsung dalam
pembangunan.
Tidak terbukanya para pelaku pembangunan dalam
menyelenggarakan proses penataan ruang ( gap feeling ) yang
menganggap masyarakat sekedar obyek pembangunan.
Rendahnya upaya-upaya pemerintah dalam memberikan informasi
tentang akuntabilitas dari program penataan ruang yang
diselenggarakan, sehingga masyarakat merasa pembangunan yang
dilaksanakan tidak memperhatikan aspirasinya.
Masih terdapat pemahaman yang tidak sama ttg Partipasi
Masyarakat. Hal ini ditunjukkan dimana Pemerintah sudah
melakukan sosialisasi dan konsultasi dengan masyarakat, akan tetapi
masyarakat merasa tidak cukup hanya dengan proses tersebut. Tidak
optimalnya kemitraan atau sinergi antara swasta dan masyarakat
dalam penyelenggaraan Penataan ruang.

Prinsip Penataan Ruang
Kebijakan penataan ruang memerlukan prinsip-prinsip
dalam rangka keberhasilan pembangunan wilayah, yaitu:
Menempatkan daerah sebagai pelaku yang sangat
menentukan dalam proses penataan ruang.
Memposisikan pemerintah sebagai fasilitator dalam
proses penataan ruang.
Menghormati hak yang dimiliki masyarakat serta
menghargai kearifan lokal dan keberagaman sosial
budayanya.
Menjunjung tinggi keterbukaan dengan semangat tetap
menegakkan etika dan moral, serta memperhatikan
perkembangan teknologi dan profesional.
Partisipasi 1/2
Upaya keras untuk mewujudkan partisipasi daerah dan
masyarakat yang sesungguhnya harus diupayakan. Maka
kerjasama dengan pihak-pihak terkait seperti perguruan
tinggi, lembaga swadaya masyarakat (ornop), tokoh
masyarakat, dewan perwakilan rakyat, dan pihak-pihak terkait
lainnya perlu disinergikan.
Perencanaan tata ruang dan pengelolaan lingkungan hidup
perlu dilihat sebagai management of conflicts, tidak sekadar
management of growth atau management of changes.
Orientasi tujuan jangka panjang yang ideal perlu
disenyawakan dengan pemecahan masalah jangka pendek
yang bersifat inkremental.

Partisipasi 2/2
Salah satu hal yang sangat mendasar untuk dibenahi adalah
minimnya pengetahuan masyarakat atas rencana kegiatan
pembangunan di wilayahnya sendiri. Sebagai dokumen publik
harusnya masyarakat memiliki akses penuh yang mudah atas
dokumen Tata Ruang.