Anda di halaman 1dari 60

ANALISA

CRUDE PALM OIL


Maria Ulfah, STP. MP
PENDAHULUAN
Minyak sawit kasar yang lebih dikenal
dengan sebutan CPO adalah
kepanjangan dari Crude Palm Oil. CPO
berasal dari esktraksi daging buah
(mesocarp) sawit sedangkan minyak
inti sawit berasal dari inti buah sawit,
yang lebih dikenal dengan sebutan
PKO kepanjangan dari Palm Kernel Oil.
Kedua jenis minyak tersebut, secara
umum memiliki karakteristik kimia dan
fisika yang sama, seperti golongan
lipida lainnya yaitu, terdiri dari 1
molekul gliserol dan 3 molekul asam
lemak yang disebut trigliserida.
Minyak sawit kasar (CPO) memiliki komponen
mayor trigliserida 99 % serta komponen minor
1 % yang terdiri dari carotenoid, tocopherol,
tocotrienol, sterol, triterpene, phospholipid dan
alifatik hydrokarbon.
CPO memiliki dua fraksi pada suhu kamar, yaitu
fraksi cair yang disebut Olein dan fraksi padat yang
disebut Stearin. Keunikan ini karena ratio komposisi
asam lemak jenuh (saturated) dan tidak jenuh
(unsaturated) yang berimbang.
Salah satu karakteristik ini menempatkan CPO
memiliki keunggulan komparatif tersendiri didalam
proses refinery dan kegunaannya dibandingkan
jenis minyak nabati lainnya.

Minyak inti sawit (PKO) memiliki
karateristik fisika dan kimia
menyerupai minyak kelapa (coconut
oil/CNO). Karenanya minyak inti telah
dipergunakan sebagai subtituen
pemakaian minyak kelapa seperti
misalnya untuk pembuatan margarine.
Sebagai tenaga laboratorium, engineering
atau tenaga lainnya yang akan
berhubungan langsung dengan lalu lintas
kedua jenis minyak di atas, pemahaman
dan pengertian terhadap karakteristik fisika
dan kimia minyak akan sangat membantu di
dalam memahami segala aspek analitis dan
mekanisme reaksi kimia yang terjadi, baik
pada proses pengolahan, penyimpanan dan
transportasi.
Mata rantai tersebut tidak terlepas dari
aspek pengawasan mutu di
laboratorium, yang pada gilirannya
akan dipahami dan dimengerti mutu
CPO dan PKO sebagaimana yang
diinginkan pemakai (konsumen),
sesuai kepentingan dan kegunaannya.
Sumber Minyak dan Lemak

1. Hewani
- Cair : Minyak ikan paus, ikan herring, ikan cod.
- Padat : Lemak susu, lemak babi, lemak sapi.
2. Nabati
- Drying Oil : Minyak untuk cat, pernis, atsiri dan tinta.
- Semi Drying Oil : Minyak jagung, kapas, bunga matahari.
- Non Drying Oil : Minyak kelapa, minyak sawit, minyak inti.
- Padat : Stearin sawit dan coklat.
Jenis Minyak dan Lemak
1. Visible fat
- Diperoleh melalui pemisahan /
ekstraksi terlebih dahulu.
2. Invisible fat
- Termakan langsung melalui
makanan (lemak tersembunyai).
Peranan Minyak dan Lemak
makan (Edible Uses)
1. Sumber Energi, 1 gr 9-kkal setara
2. Sumber Vitamin dan Pelarut Vit. A, D,
E dan K
3. Memperbaiki cita rasa Margarine,
shortening
4. Meningkatkan volume / tekstur
Margarine
5. Penghantar Panas Minyak goreng.
Komposisi Lemak/Minyak

1. Komponen Mayor : Trigeliserida 99%.
2. Komponen Minor 1%.
- Carotenoids, Tocopherols, Phospholipida,
- Sterols, Triterpene, Hidrokarbon.
Komponen minor minyak
sawit :
Karotenoid : merupakan pigmen yang menyebabkan warna minyak
kuning kemerahan yang merupakan provitamin A
Tokoferol : merupakan sumber vitamin E yang sangat aktif terhadap
oksidasi, sehingga dapat digunakan sebagai antioksidan, namun jika
teroksidasi akan berwarna coklat
Phospholipida : merupakan ester asam lemak dan gliserol yang
mengandung ion fosfat
Sterols : merupakan komponen tetrasiklik yang secara umum
mengandung atom karbon 27, 28 atau 29, merupakan komponen
yang agak besar dari minyak yang tidak tersabunkan. Mempunyai
aktivitas antioksidan dalam minyak makan.
Hidrokarbon : merupakan bahan tidak tersabunkan yang termasuk
lemak sederhana, biasanya berupa terpene yang berpengaruh pada
rasa dan aroma minyak.
Komponen penyusun
minyak kasar
Tersabunkan : lemak, fosfolipida
Tersabunkan jika lemak ditambah NaOH
maka akan terbentuk garam Na-asam
lemak + gliserol
Tidak tersabunkan : sterol,
hidrokarbon, pigmen, vitamin
Tidak tersabunkan jika komponen di atas
ditambah NaOH maka tidak akan
terbentuk sabun
Sifat Kimia Lemak/Minyak
1. Merupakan esterifikasi Gliserol
dengan Asam lemak.
2. Dapat mengalami Reaksi hidrolisis
dan oksidasi.
3. Larut dalam pelarut organic.
4. Memiliki Indeks refraksi (Refractive
Index).
Pembentukan Lemak/Minyak
(Trigliserida) melalui proses
Esterifikasi Gliserol dengan Asam
lemak :
H C O H
H C O H
H C O H
HO C R
1

HO C R
2

HO C R
3

O
O
O
H
H
H C O C R
1

O
H
H C
H C
O C R
2

O C R
3

H
O
O
Gliserol + 3 Asam lemak Trigliserida + 3 Air
+ 3 H
2
0
Hidrolisis minyak
Lemak atau minyak dapat terhidrolisis
menjadi gliserol dan asam lemak dengan
adanya air.
Reaksi hidrolisis dipercepat oleh asam, basa
dan enzim-enzim.
Hidrolisis sangat menurunkan mutu minyak
goreng.
Minyak goreng yang telah terhidrolisis akan
menurunkan smoke point, produk yang
digoreng lebih banyak menyerap minyak,
warna coklat.
Reaksi oksidasi
Reaksi oksidasi lemak dapat menyebabkan
ketengikan
Reaksi ini disebabkan oleh otooksidasi
radikal asam lemak tidak jenuh dalam
lemak.
Otooksidasi dimulai dengan pembentukan
radikal-radikal bebas yang disebabkan oleh
faktor-faktor yang dapat mempercepat
reaksi, misalnya cahaya, panas, peroksida
lemak atau hidroperoksida, logam berat
seperti : Cu, Fe, Co, Mn, enzim lipoksidase.
Reaksi
Oksidasi
asam lemak
tidak jenuh
R
1
C C = C C R
2
H H H H
H H
R
1
C C = C C R
2
H H H H
H
+ H

Energi
(panas + sinar)
R
1
C C = C C R
2
H H H H
O O H
R
1
C C = C C R
2
+

H H H H
H H
R
1
C C = C C R
2
R
1
C C = C C R
2
H H H H H H H H
O OH H
Asam lemak tdk jenuh
Radikal bebas
Hidrogen
yg labil +
O
2
Peroksida aktif
+
Hidroperoksida Radikal bebas
Radikal : gugus atom yang dapat masuk ke
dalam berbagai reaksi sebagai satu satuan
yang bereaksi seakan-akan satu unsur saja
Radikal bebas adalah molekul yang
kehilangan elektron, sehingga molekul
tersebut menjadi tidak stabil dan selalu
berusaha mengambil elektron dari molekul
atau sel lain
Lemak/minyak larut
dalam pelarut organik
Lemak dan minyak (lipida) merupakan
senyawa hidrokarbon yang umumnya
tidak larut dalam air tetapi larut dalam
pelarut organik.
Penentuan jenis pelarut untuk
ekstraksi lipida disesuaikan dengan
tingkat polaritasnya.

Lemak / minyak memiliki
Indeks bias (Refractive Index).

Indeks bias minyak/lemak merupakan
perbandingan sinus sudut sinar jatuh dan
sinus sudut sinar pantul cahaya yang
melalui minyak
Pembiasan ini disebabkan karena adanya
interaksi antara gaya elektrostatik dan
elektromagnetik atam-atom dalam molekul
minyak
Indeks bias dapat digunakan untuk
mengetahui kemurnian minyak
Sifat Fisika Lemak/Minyak
1. Kristal Lemak (Crystal Point).
2. Titik Lebur (Melting Point).
3. Titik Asap (Smoke Point).
4. Titik Nyala (Flash Point).
5. Titik Bakar (Fire Point).
Kristal lemak :
Kemampuan lemak untuk membeku
pada suhu tertentu, sebagai dasar
untuk fraksinasi minyak sawit, misal
fraksi cair adalah olein dan padat
adalah stearin.
Titik lebur / titik cair
Kemampuan lemak untuk mencair
pada kisaran tertentu, kemampuan ini
dipengaruhi sifat asam lemak
penyusun trigliserida
Titik asap / smoke point : bila suatu
lemak dipanaskan pada suhu tertentu
maka akan timbul asap tipis kebiruan,
suhu pada titik ini disebut titik asap.
Titik nyala / flash point : bila
pemanasan dilanjutkan maka minyak
mulai terbakar, pada suhu ini
dinamakan titik nyala.
Titik bakar / fire point : suhu dimana
minyak terbakar secara tetap
Kriteria Parameter Mutu
Sesuai Peruntukannya
Edible Uses Non Edible Uses
1. FFA (Free fatty acid)
Sangat kitis
FFA, tinggi artinya
- Minyak tidak segar
- Losses tinggi distilate
- Meningkatkan kelarutan logam
berat.
Tidak kritis
Tidak begitu kritis selama untuk produk
fatty acid kualitas sedang, terkecuali
untuk fatty acid kualitas tinggi.
2. Peroxide Value (PV)
Sangat kritis
- Menurunkan stabilitas produk
akhir.
- Minyak tidak segar.
- Menyulitkan di Refinery.
Tidak begitu kritis
Terkecuali untuk produk kualitas tinggi,
yang perlu kestabilan warna.
3. DOBI (Deterioration of bleachability
index)
Sangat kritis
- Indikator Refinability.
- Mempengaruhi produk.
- Mempengaruhi losses.
Tidak begitu kritis.
Jika peningkatan stabilitas warna bisa
dilalukan melalui proses distilasi.
4. Phosphatida / Gums
Sangat kritis
- Mengganggu warna.
- Masalah di Refinery.
Kritis
Menimbulkan catalyst.
poisoning pada proses hidrogenasi.
5. Unsapoinable Matter
Tidak kritis
- Berada pada batas tertentu.
- Indikator kerusakan.
Kritis
Menurunkan stabilitas warna produk akhir.
Proses Refinery CPO
(sekilas)
Edible Oils & fats have two main type of
impurities (Refinery Basic)
Oils Soluble Impurities
e.g.
1. Free fatty acid (FFA)
2. Gummy matters (Phosphatiedes)
3. Oil sol-of flavours (rancid odor)
4. Colour pigment
How to Removal???

1. By Neutralization or Physical refining
2. By Degumming
3. By Deodorization
4. By Bleaching & High temp Deod
Oils Insoluble Impurities
e.g.
1. Dirts
2. Moisture
How to Removal???

1. By Filtration
2. By Adsorption onto Dry Bleaching Clay
& Vacuum suction with steam stripping
REFINERY PLANT
HEATING - UP - 1
CRUDE PALM OIL
( CPO max 50
o
C )
FILTERING
HEATING - UP - 2 CPO
( 50
o
C to ( 80 - 95
o
C ) )
BLEACHING
( 100
o
C - 120
o
C )
DEGUMMING
( 80
o
C - 120
o
C )
FILTRATION
HEATING DBPO
( 100
o
C - 270
o
C )
DEACIDIFICATION &
DEODORIZING
( 250
o
C to max 270
o
C )
COOLING
( 260
o
C - 50
o
C )
FINISH PRODUCT
( RBDPO )
FRACTIONATION PLANT
FRACTIONATION PLANT
RAW MATERIAL RBDPO
( RBDPO 50
o
C - 85
o
C )
HEATING UP & AGITATING
( OIL TEMPERATURE MAX 75
o
C )
COOLING
FILTRATION
RBD OLEIN FRACTION
BUFFER TANK
RBD OLEIN STORAGE TANK
RBD STEARIN FRACTION
BUFFER TANK
RBD STEARIN STORAGE TANK
Karakteristik Umum CPO dan PKO

Pada umumnya pengertian sehari-hari minyak dan lemak seringkali
dibedakan. Padahal secara struktur kimia keduanya adalah sama. Terdiri
dari 1 molekul gliserol dan 3 molekul asam lemak, golongan senyawa
karboksilat. Gabungan keduanya disebut trigliserida. Perbedaannya, minyak
berwujud cair dan lemak berwujud padat.
Susunan dan komposisi asam lemak yang berbeda sebagai penyusun utama
trigliserida telah membentuk karakteristik yang berbeda, baik secara fisik
maupun kimia.
Asam lemak dapat digolongkan berdasarkan panjang rantai ikatan karbon,
berat molekul dan derajat kejenuhannya. Semakin tinggi derajat ketiganya,
secara berturut - turut akan memiliki sifat, mudah menguap, tidak mudah
menguap, larut dalam air, tidak larut dalam air, tetapi dapat larut dalam
pelarut organik tertentu dan seterusnya akan mengarah ke wujud padat.
Karena itu dapat dimengerti, minyak CPO memiliki fraksi cair (olein) dan
fraksi padat (strearin) pada suhu kamar karena komposisi derajat asam
lemak yang berimbang. Demikian juga minyak PKO memiliki karakteristik
menyerupai minyak kelapa, juga karena faktor yang sama.
Karakteristik Fisik dan Kimia Minyak Sawit
Paramater Range
1. Relatif Density 50C at Water 25C 0.8919 - 0.8932
2. Rafractive Index at 50C 1.4546 - 1.4560
3. Saponification Value, mg KOH/gr 190.1 - 201.7
4. Unsaponiable Mater % 0.15 - 0.99
5. Iodine Value, Wijs 50.6 - 55.1
6. Slip Point (titik leleh), C 30.8 - 37.6
7. Total Carotenoids 500 - 1000
8. DOBI (Deterioration of Bleachability Index) 1 - 4
9. Fatty Acid Composition
C14:0 0.6 - 1.7
C16:0 41.1 - 47.0
C16:1 0.0 - 0.6
C18:0 3.7 - 5.6
C18:1 38.2 - 43.5
C18:2 6.6 - 11.9
Baku mutu minyak kelapa sawit
Indonesia
Mutu minyak sawit yang dikenal pasar dunia saat ini,
terbagi menjadi 4 klasifikasi yaitu, Regular Oil,
Specialized Quality Oil, Special Prime Bleachability, dan
Lotox
Klasifikasi ini tidak berkembang di Indonesia, karena
produsen CPO mengalami kesulitan di dalam
meningkatkan mutu selain mutu regular oil.
Keadaan ini menyebabkan mutu minyak sawit Indonesia
sangat lemah di pasar dunia, hal ini jelas terlihat pada
saat harga turun.
Untuk meningkatkan mutu dan mempertahankan harga
produk minyak sawit Indonesia di pasar dunia, maka
perlu ditetapkan baku mutu dan nama mutu produk
Indonesia.
Klasifikasi mutu jenis minyak sawit
kasar / CPO
Karakteristik Regular Oil Special Quality S. Prime
Bleachability
Lotox (low
toxicity)
Kadar air % 0.10 ( 0.03) 0.10 ( 0.03) 0.10 0.18
Kotoran % 0.01 0.01 0.002 0.02
ALB % 3 ( 1) 1.8 ( 0.2) 1- 2.5 2.5
PV (me/kg) % 4.5 ( 2) 3 ( 1) - 3
UV 269 - - - 0.3
Iodine Value 45 - 46 - 53 ( 1.5) -
Fe (ppm) 3.5 ( 1) 3.5 ( 1) 5 3
Cu (ppm) 0.2 0.2 0.2 0.2
Carotene (ppm) - - 500 650
Tocopherol (ppm) - - 800 800
AV (me/kg) - - - 4
Totox (me/kg) - - - 15
Baku mutu minyak sawit Indonesia
dibandingkan Malaysia
Karakteristik Indonesia
Standard Rencana
Dep.Dag SIPO-I SIPO-II
Malaysia
Standard Spesial
Quality
FFA % Max. 5,00 3,00 5,00 4,00 2,00
Moisture % Max. 0,45 0,1 0,1 0.13 0.13
Impurities % Max 0,05 0.01 0.01 0.01 0.01
H.peroksida Max. - 5 10 5,2 4.0
Ansn value Max. - 5 5 - -
Totox (2PV+AV) Max - 15 25 - -
Iodine value Min. - 51 50 - -
Fe, ppm Max. - 5 5 4.5 4.5
Cu, ppm Max - 0.2 0.2 0.2 0.2
Mutu minyak sawit sangat ditentukan
dengan parameter :
asam lemak bebas (FFA)
kadar air (moisture)
logam berat (Cu, Fe)
produk oksidasi (PV, AV, Totox)
Phosphatida, natural anti oksidant (carotene,
tocopherol, tocotrienol)
karakteristik lain adalah komposisi asam
lemak, Iodine value dan yang lainnya
Asam lemak bebas (Free Fatty Acid)
Asam lemak bebas terbentuk sebagai akibat dekomposisi trigliserida
membentuk mono atau digliserida karena reaksi hidrolisis, baik secara
kiamiawi maupun enzimatik.
Kandungan tinggi rendahnya asam lemak bebas dalam minyak sawit,
saat ini masih menjadi indikator ukuran mutu konsumen komersial
(refiners).
Asam lemak bebas yang rendah menunjukkan bahwa minyak sawit
tersebut diolah dari mutu buah yang baik, segar, proses produksi
optimal, serta penanganan penyimpanan dan pengelolaan tranportasi
yang baik.
Kandungan asam lemak bebas yang tinggi akan menyebabkan :
tingginya losses (Penelitian menunjukkan bahwa setiap
pertambahan 1 persen asam lemak bebas menurunkan density 0,2
kg/m
2
, implikasinya sudah tentu akan mempengaruhi tonase
penjualan dan produksi CPO)
akan menimbulkan masalah pada tahapan bleaching di dalam
refinery, juga menurunkan stabilitas produk akhir
mempengaruhi density minyak sawit
Kadar air (Moisture)
Minyak sawit sebaiknya disimpan dengan kandungan air
dibawah 0,15% untuk mencegah terjadinya kenaikan
asam lemak bebas dan kerusakan mutu akibat oksidasi
karena proses hidrolisis.
Kandungan kadar air di bawah 0,15 % akan berfungsi
sebagai hydrolytic protection yang melindungi kerusakan
minyak selama penyimpanan dan tranportasi, tetapi bila
kandungan air diatas 0.15 %, selain hilangnya hidrolytic
protection juga akan merusak oksidative stability yang
akan menurunkan mutu minyak.
Logam Berat (Heavy Metal)

Logam besi (Fe) dan tembaga (Cu) berasal dari korosi
alat-alat yang dipergunakan di pengolahan,
penyimpanan dan tranportasi.
Kedua jenis logam tersebut bersifat pro-Oksidant, artinya
dapat mengkatalisir atau mempercepat reaksi oksidasi,
yang bersifat merugikan.
Formasi senyawa hasil oksidasi sangat sulit dihilangkan
pada proses refinery (bleaching) yang akan menurunkan
stabilitas produk dan memperpendek umur
penyimpanan.
Oleh karena itu kandungan logam berat harus
diupayakan seminimal mungkin.
Senyawa hasil oksidasi (Oxidized products)

Angka peroksida (Peroxide Value), angka anisidine
(Anisidine Value) dan angka total oksidasi (Total
Oxidation = Totox) merupakan angka-angka yang
seringkali dipergunakan dalam menilai jumlah senyawa
hasil oksidasi akibat reaksi oksidasi dan reaksi hidrolisis,
baik enzimatik ataupun kimiawi.
Tinggi rendahnya kandungan senyawa-senyawa
tersebut menjadi indikator tingkat kesegaran dan
kerusakan minyak.
Oksidasi sekunder berupa senyawa karbon berantai
pendek (aldehide dan keton) yang dapat dideteksi
secara organoleptik, berupa bau tengik (rancid).
Tingginya kandungan senyawa hasil oksidasi tersebut
sangat mengganggu mutu dan stabilitas produk yang
diolah.
Totox (2PV+AV
Impurities dan Dirt
Impurities adalah bahan ikutan yang terdapat dalam
minyak yang keberadaanya relatif tidak dikehendaki,
terkecuali carotene dan tocopherol. Berdasarkan
efeknya impurities terbagi tiga, yaitu :
1. Penyebab hidrolytic, misalnya: Moisture, FFA,
gliceryde, dirt, enzim.
2. Penyebab oxidative, misalnya: Logam besi, tembaga,
produk oksidasi.
3. Catalyst Poison, misalnya: Senyawa yang
mengandung nitrogen sulfur, halogen dan
Phospholipida.
Kotoran (Dirt)
Merupakan komponen impurities yang tidak larut
dalam pelarut organik tertentu seperti hexana,
petroleum ether, diethyl ether atau pelarut
organik lainnya.
Komponen kotoran berasal dari fiber, tanah,
pasir, dan senyawa organik komplek yang tidak
larut dalam pelarut diatas.
Kandungan kotoran sebaiknya tidak melebihi
0.02 %.
Sifat kotoran ini juga mengganggu mutu dan
kestabilan minyak.
DOBI (Deterioration of Bleachability Index)
Analisa tambahan yang diminta konsumen komersial
(refiners) saat ini adalah DOBI, dengan kepanjangan
Deterioration of Bleachability Index.
Tingkat kerusakan minyak sawit dapat ditentukan melaui
metode sederhana yang disebut DOBI (Swoboda 1982
dan 1985), yang merupakan ratio pengukuran
absorbansi spectrophotometric pada panjang
gelombang () 446 nm dan 269 nm.
Analisa tambahan ini membuktikan berkorelasi langsung
dengan mudah tidaknya minyak sawit di- refine,
menentukan satuan cost proses, waktu dan dosis
konsumsi bleaching agent juga kestabilan produk akhir.
Meskipun analisa asam lemak bebas masih menjadi
salah satu indikator mutu.
Jenis mutu CPO berdasarkan index DOBI :
1.7 artinya setara mutu minyak sludge
(minyak parit)
1.8 - 2.3 artinya mutu minyak sawit buruk
2.4 - 2.9 artinya mutu minyak sawit cukup
3.0 - 3.2 artinya mutu minyak sawit baik
3.3 artinya mutu minyak sawit sangat baik
Minor Constituents (Carotenoids dan
Tocopherols)
Walaupun keberadaan minor constituent, jumlahnya
sangat kecil ( 1%), tetapi dapat mempengaruhi
bleachability, stabilitas dan nilai nutrisi minyak sawit.
Pada umumnya minor constituents ini relatif bersifat
merugikan terkecuali caroteoids dan tocopherols.
Crude palm oil mengandung sekitar 500 - 700 ppm
carotenoids, berperan sebagai provitamin A, pewarna
kuning alami dalam pembuatan margarine, dan secara
nutrisi berperan sebagai anti atherosclerotic (Wong et
al., 1988 and Jacobsberg, 1974).
Kandungan Tocopherols pada crude palm oil sekitar 700
- 900 ppm, berperan sebagai anti oksidant alami,
sumber vitamin E dan secara nutrisi dapat mencegah
penyakit jantung, kanker serta dapat menurunkan LDL -
Cholesterol (Witting et al., 1975 and Money et al., 1976).
Karakteristik inti sawit
Inti kering yang berasal dari buah sawit (Elaeis
guineensis) yang lebih dikenal dengan sebutan
inti sawit, mengandung 7,1 % air, 49,4 %
minyak, 13,7 % protein, dan 4,4 % abu.
Parameter penting yang mempengaruhi mutu
inti sawit adalah kadar air, cangkang dan
kotoran, asam lemak bebas dan kadar minyak,
disamping analisa fisik lainnya yaitu inti utuh,
kernel pecah, warna dan jamur.
Parameter Range
Moisture % 5,0 - 9.1
Cangkang dan Kotoran % 2.2 - 8.6
FFA (as Lauric) % 2.6 - 4.1
Kandungan Minyak % 46.5 - 52.2
Karakteristik dan mutu inti sawit
Komposisi asam lemak PKO (Tang et al., 1955)
Jenis asam lemak Rata-rata
C6 : 0 (Kaproat) % 0,3
C8 : 0 (Kaprilat) % 4,2
C10:0 (Kaprat) % 3,7
C12 : 0 (Laurat) % 48,7
C14 : 0 (Miristat) % 15,6
C16 : 0 (Palmitat) % 7,5
C18 : 0 (Stearat) % 1,8
C18 : 1 (Oleat) % 14,8
C18 : 2 (Linoleat) % 2,6
C20 : 0 (Arakhidat) % ND
Yang lain % 0,1
Iodin Value (Wijs) 17,9
Karakteristik Minyak Inti Sawit
Karakteristik dan komposisi minyak inti sawit sangat berbeda
dengan minyak sawit, secara umum memiliki karakteristik dan
komposisi menyerupai minyak kelapa.
Menurut Jacobsberg (1974) minyak inti sawit adalah tipe minyak
Lauric dan tidak mengandung Carotene, sedangkan minyak sawit
adalah tipe Palmitic dan mengandung Carotene.
Komposisi dan susunan rantai karbon asam lemak minyak inti sawit
dan minyak kelapa hampir sama yaitu rantai C6 (kaproat) sampai
C18 jenuh (stearat) dan C18 tidak jenuh (oleat dan linoleat). Kedua
jenis minyak tersebut mengandung hampir 48% C12 (laurat).
Perbedaannya hanya pada distribusi susunan rantai karbon. Fraksi
asam lemak C8 dan C10 pada minyak inti sawit hanya 8% dan
minyak kelapa 14,6%, sedangkan fraksi asam C18:1 (oleat) 14.5%
dalam minyak inti sawit dan 6.6% dalam minyak kelapa.
Karakteristik lain adalah lapisan padat besar pada suhu kamar
untuk daerah tropis, dengan titik lebur yang sangat tajam.
Prinsip Analysis Beberapa Parameter Minyak
No Jenis Penetapan Prinsip dan Teori Penetapan
1 Kadar Air dan
Zat Mudah Menguap
Air dan zat mudah menguap akan mengalami
penguapan pada temp.105C, dan secara
gravimetri ditentukan selisih bobot.
2 Kadar Kotoran Fraksi tidak larut dalam pelarut organik tertentu
dipisahkan lalu dipanaskan dan secara gravimetri
ditentukan selisih bobot.
3 Kadar Asam Lemak Bebas Jumlah asam lemak yang terlepas dari ikatan
triglyserda ditentukan secara Acidimetri.
4 Penetapan Bilangan
Peroksida
Gugusan metilen aktif pada ikatan asam lemak akan
mengoksidasi larutan KI menjadi I
2
, jumlah I
2

setara Hidrogen Peroksida yang ditentukan
jumlahnya secara Iodometri.
5 Bilangan Iodida Ikatan rangkap pada asam lemak tak jenuh memiliki
kemampuan untuk mengadisi ion halogen dan
hidrogen dan jumlah ikatan rangkap ditentukan
secara Iodimetri (Metode Wijs dan Hanus).
6 Kadar Fe dan Cu Oksida Besi dan Tembaga dapat diperoleh dengan
pengabuan kering, jumlah oksida yang terbentuk
ditentukan secara AAS.
7 Kadar Phosphor Oksida Phosphor dapat diperoleh dengan pengabuan
kering, jumlah oksida Phosphor ditentukan jumlahnya
dengan metoda Molyb. Biru.
8 Bilangan Anisidine Produk oksidasi sekunder ditentukan jumlahnya
secara optical density pada 350 nm dengan
bantuan pereaksi Anisidine.
9 Pengukuran Warna Intensitas warna ditentukan dengan alat Lovibond
dengan panjang Cuvet 1 dan 5.25 Inch.
10 DOBI Index Pengukuran ratio absorbansi pada 446 nm dan 269
nm, dengan konsentrasi sample 1 % dalam Iso
Oktana
11 Penetapan Carotene Absorbasi pada 446 nm dapat langsung ditentukan
dengan rumus formula tertentu.
PENETAPAN KADAR AIR
Prinsip
Air alamiah bawaan (NWC) atau akibat proses.
Penetapan air dan komponen yang mudah menguap.
Sample dipanaskan 105 ( 2 C) selama 3.0 - 3.5 jam.
Metoda Gravimetrimetry menentukan selisih bobot.
Standard
Kadar Air 0.15 %
Peran
Kadar Air 0.15 % sebagai hydrolitic protection.
Kadar Air 0.15 % oxidative stability.
Alat, bahan dan prosedur lihat manual analisa minyak.
Ketepatan dan ketelitian
Kadar Air 0.04 - 0.30 %, pengulangan hasil analisa 0.003%.
Pendinginan dalam desiccator harus benar-benar sempurna.
Kalibrasi berkala oven pengering.
Pintu oven selalu tertutup pada saat penetapan berlangsung
Pemindahan wadah agar menggunakan alat bantu.
Metode Microwave oven merupakan alternatif.

PENETAPAN KADAR KOTORAN
Definisi
Komponen yang tidak larut dalam pelarut n-Hexana atau petroleum
spirit Pasir, tanah, logam, HC poly alkohol
Prinsip
Pelarutan sample.
Penyaringan, pencucian residu, pengeringan.
Metode Gravimetry menentukan selisih bobot.
Standard
Kadar Kotoran (Dirt) 0.015 %
Peran
Menurunkan mutu produk
Merusak oxidative stability
Alat, bahan dan prosedur lihat manual analisa minyak
Ketepatan dan ketelitian
Kadar Kotoran 0.002 - 0.15 %, pengulangan analisis 0.003%.
Eliminasi pemakaian pelarut menyulitkan homogenisasi.
PENETAPAN ASAM LEMAK BEBAS
Definisi
Dinyatakan dalam % ( b/b ) asam lemak bebas.
Netralisasi ALB dalam 1 gram sample.
PKO dan CO Sebagai asam laurik dengan BM 200.
CPO Sebagai palmitik dengan BM 256.
Prinsip
Sample dilarutkan dalam isopropanol netral.
ALB dinetralisasi dengan KOH standard.
Titrimetry Asam basa.
Standard
Asam lemak bebas CPO 3.50 %.
Peran
Indikator tingkat kesegaran produk.
Menententukan tingkat losses di refinery.
Stabilitas produk akhir.
Setiap kenaikan 1% FFA menurunkan density 0.2 kg/m2.
Alat, bahan dan prosedur lihat manual analisa minyak
Ketepatan dan ketelitian
ALB 1.5 - 5.0%, pengulangan 0.02%.
Periksa larutan standar alkali, paling sedikit 1 minggu sekali.
Temperatur titrasi 40 - 50C, dgn pengocokan sedang.
Titrasi dilakukan secepat mungkin.
PENETAPAN BILANGAN PEROKSIDA
Definisi
Menentukan oksigen aktif dalam sample.
Dinyatakan dalam meq/kg.
Prinsip
Pelarutan dalam Asam asetat : Chlorform (3:2) dan pereaksi KI.
Oksidasi ion Iodida menjadi Iodine.
Jumlah Iodine yang terbentuk ditentukan secara Iodometri.
Standard
Bilangan Peroksida 5 meq/kg
Peran
Menentukan tingkat kesegaran.
Radikal aktif yang mengkatalisir kerusakan mutu minyak.
Menurunkan stabilitas produk.
Alat, bahan dan prosedur lihat manual analisa minyak
Ketepatan dan ketelitian
Keterulangan PV 1 6 meq/kg adalah 0.2 meq/kg,
Larutan KI sebaiknya dibuat segar.
Agar tahan lama Indikator kanji bisa ditambahkan NaCl 20%.
PENETAPAN DOBI
Definisi
Deterioration of Bleachability Index (DOBI ) ialah ratio numerik serapan pada panjang
gelombang 446 nm terhadap 269 nm.
Absorbansi 446 1%(b/v) nm
DOBI = --------------------------------------
Absorbansi 269 1%(b/v) nm
Prinsip
Pelarutan 0.5 1.0% sample dalam iso-oktana atau n-hexana.
Pengukuran larutan pada 446 nm dan 269 nm.
Standard
1.7 Sludge Palm Oil
1.8 2.3 Buruk
2.4 2.9 Cukup
3.0 3.2 Baik
3.3 Istimewa
Peran
Tingkat Kemudahan di refine dan cost di refinery.
Stabilitas produk.
Alat, bahan dan prosedur lihat manual analisa minyak
Ketepatan dan ketelitian
Sebaiknya digunakan pelarut p.a spectrophotometric grade.
Anisidine value (AV)
The secondary stage of oxidation occurs when the
hydroperoxides decompose to form carbonyls and other
compounds, in particular aldehydes.
These are what gives the oil a rancid smell, and they are
measured by the AV.
The lower the AV, the better the quality of the oil.
Most customers will require an AV of less than 30 in
marine oils but AV may need to be as low as 10,
depending on the market.
The AV test is a good way to measure secondary
oxidation products and should be used together with a
primary test like PV.