Anda di halaman 1dari 26

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Industri
1. Pengertian Industri
Industri adalah suatu usaha atau kegiatan pengolahan bahan mentah
atau barang setengah jadi menjadi barang jadi barang jadi yang memiliki nilai
tambah untuk mendapatkan keuntungan. Usaha perakitan atau assembling dan
juga reparasi adalah bagian dari industri. Hasil industri tidak hanya berupa
barang, tetapi juga dalam bentuk jasa (http://organisasi.org/2006).
Menurut I Made Sandi (1985:148) industri adalah usaha untuk
memproduksi barang jadi dengan bahan baku atau bahan mentah melalui
proses produksi penggarapan dalam jumlah besar sehingga barang tersebut
dapat diperoleh dengan harga serendah mungkin tetapi dengan mutu setinggi-
tingginya. Perindustrian industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah
bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi, dan/atau barang jadi menjadi
barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya, termasuk kegiatan
rancang bangun dan perekayasaan industri (Wahana geogrrafi SMA di
http://geografi-geografi.blogspot.com/2010).






2. Macam-macam Industri di Indonesia
Adapun macam-macam industri berdasarkan kriteria masing-masing,
adalah sebagai berikut.
a. Klasifikasi Industri Berdasarkan Bahan Baku
1) Industri ekstraktif, yaitu industri yang bahan bakunya diperoleh langsung
dari alam. Misalnya: industri hasil pertanian, industri hasil perikanan, dan
industri hasil kehutanan.
2) Industri nonekstraktif, yaitu industri yang mengolah lebih lanjut hasilhasil
industri lain. Misalnya: industri kayu lapis, industri pemintalan, dan
industri kain.
3) Industri fasilitatif atau disebut juga industri tertier. Kegiatan industrinya
adalah dengan menjual jasa layanan untuk keperluan orang lain. Misalnya:
perbankan, perdagangan, angkutan, dan pariwisata.
b. Klasifikasi Industri Berdasarkan Produksi Yang Dihasilkan
1) Industri primer, yaitu industri yang menghasilkan barang atau benda yang
tidak perlu pengolahan lebih lanjut.. Misalnya: industri anyaman, industri
konveksi, industri makanan dan minuman.
2) Industri sekunder, yaitu industri yang menghasilkan barang atau benda
yang membutuhkan pengolahan lebih lanjut sebelum dinikmati atau
digunakan. Misalnya: industri pemintalan benang, industri ban, industri
baja, dan industri tekstil.




3) Industri tersier, yaitu industri yang hasilnya tidak berupa barang atau
benda yang dapat dinikmati atau digunakan baik secara langsung maupun
tidak langsung, melainkan berupa jasa layanan yang dapat mempermudah
atau membantu kebutuhan masyarakat. Misalnya: industri angkutan,
industri perbankan, industri perdagangan, dan industri pariwisata.
c. Klasifikasi Industri Berdasarkan Bahan Mentah
1) Industri pertanian, yaitu industri yang mengolah bahan mentah yang
diperoleh dari hasil kegiatan pertanian. Misalnya: industri minyak goreng,
Industri gula, industri kopi, industri teh, dan industri makanan.
2) Industri pertambangan, yaitu industri yang mengolah bahan mentah yang
berasal dari hasil pertambangan. Misalnya: industri semen, industri baja,
industri BBM (bahan bakar minyak bumi), dan industri serat sintetis.
3) Industri jasa, yaitu industri yang mengolah jasa layanan yang dapat
mempermudah dan meringankan beban masyarakat tetapi menguntungkan.
Misalnya: industri perbankan, industri perdagangan, industri pariwisata,
industri transportasi, industri seni dan hiburan.
d. Klasifikasi Industri Berdasarkan Lokasi Unit Usaha
1) Industri berorientasi pada pasar (market oriented industry), yaitu industri
yang didirikan mendekati daerah persebaran konsumen.
2) Industri berorientasi pada tenaga kerja (employment oriented industry),
yaitu industri yang didirikan mendekati daerah pemusatan penduduk,




terutama daerah yang memiliki banyak angkatan kerja tetapi kurang
pendidikannya.
3) Industri berorientasi pada pengolahan (supply oriented industry), yaitu
industri yang didirikan dekat atau ditempat pengolahan. Misalnya: industri
semen di Palimanan Cirebon (dekat dengan batu gamping), industri pupuk
di Palembang (dekat dengan sumber pospat dan amoniak), dan industri
BBM di Balongan Indramayu (dekat dengan kilang minyak).
4) Industri berorientasi pada bahan baku, yaitu industri yang didirikan di
tempat tersedianya bahan baku. Misalnya: industri konveksi berdekatan
dengan industri tekstil, industri pengalengan ikan berdekatan dengan
pelabuhan laut, dan industri gula berdekatan lahan tebu.
5) Industri yang tidak terikat oleh persyaratan yang lain (footloose industry),
yaitu industri yang didirikan tidak terikat oleh syarat-syarat di atas.
Industri ini dapat didirikan di mana saja, karena bahan baku, tenaga kerja,
dan pasarnya sangat luas serta dapat ditemukan di mana saja. Misalnya:
industri elektronik, industri otomotif, dan industri transportasi.
e. Klasifikasi Industri Berdasarkan Proses Produksi
1) Industri hulu, yaitu industri yang hanya mengolah bahan mentah menjadi
barang setengah jadi. Industri ini sifatnya hanya menyediakan bahan baku
untuk kegiatan industri yang lain. Misalnya: industri kayu lapis, industri
alumunium, industri pemintalan, dan industri baja.
2) Industri hilir, yaitu industri yang mengolah barang setengah jadi menjadi
barang jadi sehingga barang yang dihasilkan dapat langsung dipakai atau




dinikmati oleh konsumen. Misalnya: industri pesawat terbang, industri
konveksi, industri otomotif, dan industri meubeler.
f. Klasifikasi Industri Berdasarkan Barang Yang Dihasilkan
1) Industri berat, yaitu industri yang menghasilkan mesin-mesin atau alat
produksi lainnya. Misalnya: industri alat-alat berat, industri mesin, dan
industri percetakan.
2) Industri ringan, yaitu industri yang menghasilkan barang siap pakai untuk
dikonsumsi. Misalnya: industri obat-obatan, industri makanan, dan industri
minuman.
g. Klasifikasi Industri Berdasarkan Modal Yang Digunakan
1) Industri dengan penanaman modal dalam negeri (PMDN), yaitu industri
yang memperoleh dukungan modal dari pemerintah atau pengusaha
nasional (dalam negeri). Misalnya: industri kerajinan, industri pariwisata,
dan industri makanan dan minuman.
2) Industri dengan penanaman modal asing (PMA), yaitu industri yang
modalnya berasal dari penanaman modal asing. Misalnya: industri
komunikasi, industri perminyakan, dan industri pertambangan.
3) Industri dengan modal patungan (join venture), yaitu industri yang
modalnya berasal dari hasil kerja sama antara PMDN dan PMA. Misalnya:
industri otomotif, industri transportasi, dan industri kertas.






h. Klasifikasi Industri Berdasarkan Subjek Pengelola
1) Industri rakyat, yaitu industri yang dikelola dan merupakan milik rakyat,
misalnya: industri meubeler, industri makanan ringan, dan industri
kerajinan.
2) Industri negara, yaitu industri yang dikelola dan merupakan milik Negara
yang dikenal dengan istilah BUMN, misalnya: industri kertas, industri
pupuk, industri baja, industri pertambangan, industri perminyakan, dan
industri transportasi.
i. Klasifikasi Industri Berdasarkan Cara Pengorganisasian
1) Industri kecil, yaitu industri yang memiliki ciri-ciri: modal relatif kecil,
teknologi sederhana, pekerjanya kurang dari 10 orang biasanya dari
kalangan keluarga, produknya masih sederhana, dan lokasi pemasarannya
masih terbatas (berskala lokal). Misalnya: industri kerajinan dan industri
makanan ringan.
2) Industri menengah, yaitu industri yang memiliki ciri-ciri: modal relative
besar, teknologi cukup maju tetapi masih terbatas, pekerja antara 10-200
orang, tenaga kerja tidak tetap, dan lokasi pemasarannya relative lebih luas
(berskala regional). Misalnya: industri bordir, industri sepatu, dan industri
mainan anak-anak.
3) Industri besar, yaitu industri yang memiliki ciri-ciri: modal sangat besar,
teknologi canggih dan modern, organisasi teratur, tenaga kerja dalam
jumlah banyak dan terampil, pemasarannya berskala nasional atau




internasional. Misalnya: industri barang-barang elektronik, industri
otomotif, industri transportasi, dan industri persenjataan.
j. Klasifikasi Industri Berdasarkan Tenaga Kerja
1) Industri rumah tangga, yaitu industri yang menggunakan tenaga kerja
kurang dari empat orang. Ciri industri ini memiliki modal yang sangat
terbatas, tenaga kerja berasal dari anggota keluarga, dan pemilik atau
pengelola industri biasanya kepala rumah tangga itu sendiri atau anggota
keluarganya. Misalnya: industri anyaman, industri kerajinan, industri
tempe/ tahu, dan industri makanan ringan.
2) Industri kecil, yaitu industri yang tenaga kerjanya berjumlah sekitar 5
sampai 19 orang, Ciri industri kecil adalah memiliki modal yang relative
kecil, tenaga kerjanya berasal dari lingkungan sekitar atau masih ada
hubungan saudara. Misalnya: industri genteng, industri batubata, dan
industri pengolahan rotan.
3) Industri sedang, yaitu industri yang menggunakan tenaga kerja sekitar 20
sampai 99 orang. Ciri industri sedang adalah memiliki modal yang cukup
besar, tenaga kerja memiliki keterampilan tertentu, dan pimpinan
perusahaan memiliki kemapuan manajerial tertentu. Misalnya: industri
konveksi, industri bordir, dan industri keramik.
4) Industri besar, yaitu industri dengan jumlah tenaga kerja lebih dari 100
orang. Ciri industri besar adalah memiliki modal besar yang dihimpun
secara kolektif dalam bentuk pemilikan saham, tenaga kerja harus
memiliki keterampilan khusus, dan pimpinan perusahaan dipilih melalui




uji kemapuan dan kelayakan (fit and profer test). Misalnya: industri tekstil,
industri mobil, industri besi baja, dan industri pesawat terbang
(http://organisasi.org/2006)..
Berdasarkan pengelompokan-pengelompokan di atas, maka dalam hal
ini industri konveksi di tempat penelitian merupakan kelompok industri kecil
yang jumlah pekerjanya antara 5 sampai 19 orang dan industri konveksi
tersebut melakukan kegiatan produksinya menggunakan teknologi mesin jahit
dan mesin obras, disamping tempat produksinya yang tidak terpisah dengan
tempat tinggal, serta para pengusahanya menjadikan usahanya sebagai mata
pencahariaan utama.
3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Industri
a. Proses Produksi
Produksi dalam arti ekonomi mempunyai pengertian semua kegiatan
yang meningkatkan nilai kegunaan atau faedah (utility) suatu benda. Ini dapat
berupa kegiatan yang meningkatkan kegunaan dengan mengubah bentuk atau
menghasilkan barang baru (utility of form). Dapat pula meningkatnya
kegunaan suatu benda itu karena adanya kegiatan yang mengakibatkan dapat
berpindahnya pemilikan suatu benda dari tangan seseorang ketangan orang
lain.(Sriyadi, 1991:6)
Proses produksi dipengaruhi oleh beberapa faktor adalah sebagai
berikut:




1) Faktor produksi alam, faktor ini merupakan faktor produksi pokok yang
paling penting dalam rangka persiapan, pengadaan dan pengembangan
industri kecil.
2) Faktor produksi tenaga kerja, faktor ini yang paling penting adalah
sumber daya manusia.
3) Faktor produksi modal, faktor ini berupa modal tetap seperti gedung,
mesin, alat-alat dan modal kerja yang paling penting.
4) Faktor produksi kemampuan berusaha, faktor ini sangat tergantung pada
kualitas SDM.
Industri kecil konveksi di Desa Tembok Kidul sangat dipengaruhi oleh
faktor produksi modal terutama modal kerja. Modal kerja sangat penting
untuk kelangsungan produksi, karena tanpa adanya modal kerja usaha dalam
bidang tidak dapat berjalan seperti yang diharapkan.
b. Bahan Baku
Menurut Ahyani bahan baku atau bahan mentah merupakan bahan yang
digunakan untuk keperluan proses produksi. Hal-hal yang berkaitan dengan
bahan baku selama satu periode:
1) Jumlah kebutuhan bahan baku selama satu periode
2) Kelayakan harga barang
3) Kontinuitas persediaan barang




4) Kualitas bahan baku
5) Sifat bahan baku
6) Biaya pengangkutan bahan baku (Syamriloade, 2010 di
http://id.shvoong.com)
Bahan baku pokok untuk pembuatan pakaian jadi adalah kain atau
bahan yang berukuran panjang yang belum di pola menjadi pakaian jadi,
Untuk memperoleh bahan baku tersebut membeli kepada pedagang grosir di
daerah pasar Tegal Gubug, Cirebon.
c. Modal
Modal adalah sesutu yang sangat dibutuhkan di dalam sebuah perusaan,
salah satu yang utama di dalam perusahaan adalah ini. modal itu banyak
macam macamnya .modal adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk
menjalankan suatu usaha perusahaan. modal juga dapat dari dalam perusahan
atau yang penambahan dari pihak pemilik perusaan dan juga dari pihak lain .
modal sangat besar mempengaruhi dalam jalanya suatu hidupnya perusahaan.
penentuan modal yang baik di dalam perusahaan dapat mempengaruhi
jalanya kesuksesan perusahaan (Purba di http://akunt.blogspot.com/2012).
Macam-macam modal:
1) Modal Menurut Pemiliknya
a) Modal perseorangan, artinya modal tersebut dimiliki oleh perseorangan.
Misalnya, gedung dan kendaraan.




b) Modal masyarakat, artinya modal tersebut dimiliki oleh banyak orang
dan untuk kepentingan orang banyak. Misalnya, jalan dan jembatan
2) Modal Menurut Wujudnya
a) Konkret, artinya modal yang jelas wujudnya, tetapi dapat dilihat.
Misalnya, gedung, mesin, dan peralatan.
b) Abstrak, artinya modal yang tidak terlihat, tetapi kegunaannya dapat
dirasakan. Misalnya, nama baik perusahaan, keahlian karyawan, dan
hak cipta.
3) Modal Menurut Bentuknya
a) Uang, artinya modal berupa dana.
b) Barang, artinya modal berupa alat yang digunakan dalam proses
produksi. Misalnya, mesin, gedung, dan kendaraan.
4) Modal Menurut Sifatnya
a) Modal tetap, artinya modal yang dapat digunakan lebih dari satu kali
masa produksi. Misalnya, mesin, kendaraan, dan gedung.
b) Modal lancar, artinya modal yang habis dalam satu kali proses
produksi. Misalnya, bahan baku, kertas, dan bahan bakar mesin.
5) Modal Menurut Sumbernya
a) Modal sendiri, artinya modal yang berasal dari pemilik perusahaan.
Misalnya, saham dan tabungan.




b) Modal pinjaman, artinya modal pinjaman dari pihak lain (Putra, 2010 di
http://ekonomikelasx.blogspot.com).
d. Pemasaran
Pemasaran (Marketing) adalah proses penyusunan komunikasi terpadu
yang bertujuan untuk memberikan informasi mengenai barang atau jasa
dalam kaitanya dengan memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia.
Pemasaran dimulai dengan pemenuhan kebutuhan manusia yang kemudian
bertumbuh menjadi keinginan manusia.
Proses dalam pemenuhan kebutuhan dan keinginan manusia inilah yang
menjadi konsep pemasaran. Mulai dari pemenuhan produk (product),
penetapan harga (price), pengiriman barang (place), dan mempromosikan
barang (promotion). Seseorang yang bekerja dibidang pemasaran
disebut pemasar. Pemasar ini sebaiknya memiliki pengetahuan dalam konsep
dan prinsip pemasaran agar kegiatan pemasaran dapat tercapai sesuai dengan
kebutuhan dan keinginan manusia terutama pihak konsumen yang dituju
(wikipedia.org/2011).
Dalam memasarkan produk para pengusaha konveksi di tempat
penelitian ada yang memasarkan di luar kota, ada juga yang didalam kota,
ada juga yang tidak perlu ke luar rumah untuk memasrkan hasil produksinya.
Para pedagang dari berbagai kota besarlah yang datang ke rumahnya untuk
kulakan. Hal ini tergantung bulan, apabila hamper mendekati bulan puasa




atau lebaran, biasanya bakul yang dating sendiri, tapi apabila bukan bulan
puasa maka sebaliknya.
e. Teknologi
Teknologi adalah satu ciri yang mendefinisikan hakikat manusia yaitu
bagian dari sejarahnya meliputi keseluruhan sejarah. Teknologi, menurut
Djoyohadikusumo (1994, 222) berkaitan erat dengan sains (science) dan
perekayasaan (engineering). Dengan kata lain, teknologi mengandung dua
dimensi, yaitu science dan engineering yang saling berkaitan satu sama
lainnya. Sains mengacu pada pemahaman kita tentang dunia nyata sekitar
kita, artinya mengenai ciri-ciri dasar pada dimensi ruang, tentang materi dan
energi dalam interaksinya satu terhadap lainnya (Djoyohadikusumo di
ajidedim.wordpress.com/2008).
Teknologi berkaitan erat dengan peralatan dan cara-cara yang
digunakan dalam proses produksi suatu industri. Proses produksi pada
pembuatan pakaian jadi di Desa Tembok Kidul yaitu dengan setrika, mesin
jahit, mesin obras.
f. Tenaga Kerja
1) Pengertian
Tenaga kerja adalah kekuatan dan atau suatu kemampuan yang
dimiliki oleh suatu manusia untuk melakukan kerja. Kerja merupakan suatu




kegiatan yang secara sadar dilakukan untuk memenuhi suatu kebutuhan
hidup. Dalam pengertian kerja ini adalah kerja fisik dan non fisik, yang
hasilnya dapat berupa benda material maupun non material.
(Daljoeni,1992:52).
2) Macam-macam tenaga kerja
Tenaga kerja meliputi dua faktor yaitu :
a) Kuantitatif, artinya banyaknya tenaga kerja yang dapat direkrut untuk
menunjang kegiatan industri tersebut.
b) Kualitatif, artinya banyaknya tenaga kerja yang dapat direkrut
berdasarkan kesesuaiannya terhadap kegiatan industri yang sedang
berlangsung. (Daljoeni,1992:59).
Ketrampilan merupakan kemampuan seseorang di dalam melakukan
suatu pekerjaan. Kemampuan itu biasanya diperoleh melalui latihan, baik
secara formal maupun secara informal. Secara formal apabila latihan
dilakukan di suatu lembaga pendidikan khusus, sedangkan secara informal
apabila latihan dilakukan di lingkungan masyarakat atau keluarga.
Pendidikan dan latihan tidak saja menambah pengetahuan, akan tetapi juga
meningkatkan ketrampilan seseorang, dengan demikian akan meningkatkan
produktivitas kerja
Pada umumnya tenaga kerja pada industri kecil mempunyai
kelemahan pada pengetahuan dan ketrampilan yang rendah, sehingga




mengalami kesulitan dalam menciptakan motif dan hiasan baru dalam
menghasilkan produk, dan hanya mengandalkan pengalaman kerja sehingga
dapat menghambat perkembangan industri kecil. (Depdikbud, 1992:100)
Di samping itu pada industri kecil tenaga kerja yang direkrut relatif
sedikit dan bersifat sementara serta mudah didapat karena tidak memerlukan
pendidikan yang khusus, sehingga tidak memerlukan biaya yang tinggi
untuk upah tenaga kerja (Kabul, 1990:28).
Pengupahan tenaga kerja pada industri kecil konveksi di tempat
penelitian biasanya dilakukan secara harian, tetapi ada juga yang
menggunakan perhitungan per-baju, hal ini tergantung jenis keahliannya.
3) Penyerapan Tenaga Kerja
Penyerapan tenaga kerja adalah seberapa banyak jumlah tenaga kerja
yang dapat ditampung dan diserap sebagai pekerja (Sukarwati, di
www.crayonpedia.org/2009). Dalam hal ini penyerapan tenaga kerja yang
dimaksud dalam penelitian ini adalah masuknya sejumlah tenaga kerja yang
tertampung pada industri kecil konveksi Tembok Kidul di mana tenaga
kerja tersebut berasal dari dalam desa maupun dari luar desa. Penyerapan
tenaga kerja dapat diklasifikasikan berdasarkan:
a) Sex Ratio
Dalam penyerapan tenaga kerja, pengusaha mempertimbangkan
tentang kualitas tenaga kerja yang akan bekerja pada perusahaanya.




Kualitas tenaga kerja juga dapat dipengaruhi oleh jenis kelamin dari tenaga
kerja tersebut. Selain itu pengusaha juga melihat tentang apa yang
diproduksi oleh perusahaanya, karena sesuai atau tidaknya tenaga kerja
yang dibutuhkan akan berpengaruh pada produk yang dihasilkan.
b) Komposisi Umum
Komposisi umum yang dimaksud yaitu tentang perbandingan tenaga
kerja yang bekerja pada perusahaan yang berdasarkan pada umur dan jenis
kelamin.
c) Pendidikan
Pendidikan yang dimaksud yaitu pendidikan formal yang pernah
ditempuh oleh seseorang yang diukur dari pemilikan ijazah. Pendidikan
juga ikut mempengaruhi kualitas yang dimiliki oleh tenaga kerja. Dengan
telah menempuh pendidikan yang tinggi maka dapat dikatakan tenaga
kerja tersebut mempunyai kualitas tentang keahlian yang handal pula.
d) Usia
Usia adalah jumlah ulang tahun terakhir yang pernah dilalui oleh
seseorang. Dalam menyerap tenaga kerja, perusahaan juga
mempertimbangkan dari segi usia tenaga kerja tersebut. Karena usia juga
akan mempengaruhi produktivitas dari tenaga kerja dalam bekerja, selain
itu untuk mematuhi peraturan pemerintah tentang batasan angkatan kerja
yang diperbolehkaan bekerja.




e) Daerah Asal
Daerah asal adalah daerah di mana tenaga kerja bertempat tinggal.
Perusahaan dalam menyerap tenaga kerja juga mempertimbangkan tentang
dari mana asal tenaaga kerja tersebut. Karena jauh atau dekatnya tempat
tinggal juga akan mempengaruhi produktivitas tenaga kerja khususnya
tentang kedisiplinan dalam hal ketepatan waktu bekerja. Suatu proses
produksi dalam suatu kegiatan industri memerlukan sejumlah tenaga kerja
yang mempunyai kemampuan dan ketrampilan tertentu sesuai dengan
kebutuhan industri. Jenis pekerjaan yang diperoleh seseorang tergantung
pada berbagai faktor individu, faktor lingkungan, dan faktor lainnya.
Faktor dari pekerjaan meliputi tingkat pendidikan, ketrampilan dan
ketekunan dalam bekerja serta kemampuan memilih alternatif pekerjaan.
Sedangkan faktor lingkungan menyangkut adanya kegiatan yang dapat
diisi oleh anggota masyarakat. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam penyerapan tenaga kerja :
(1). Tersedianya Tenaga Kerja.
Setiap proses produksi diperlukan tenaga kerja yang memadai.
Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan disesuaikan dengan kebutuhan
sampai tingkat tertentu.
Jumlah tenaga kerja juga masih dipengaruhi dan dikaitkan dengan
kualitas tenaga kerja, jenis kelamin dan upah tenaga kerja.
(2). Kualitas Tenaga Kerja




Dalam proses produksi diperlukan spesialisasi paada jenis
pekerjaan dan ini jumlahnya terbatas. Bila masalah tidak diperhatikan,
maka akan terjadi kemacetan dalam produksi.
(3). Jenis Kelamin.
Kualitas tenaga kerja dipengaruhi oleh jenis kelamin dan
pengalaman. Untuk memilih tenaga kerja yang baik diperlukan
persyaratan tertentu, meliputi:
(4). Keahlian
(5). Umur
(6). Jenis kelamin
(7). Kondisi fisik dan kesehatan
(8). Kejujuran dan kondisi mental (Wibowo Singgih, 1980:39).
Industri konveksi di Desa Tembok Kidul memberikan kontribusi yaitu
sebagai penyedia lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi sebagian
masyarakat desa tersebut dan masyarakat lain.
g. Fasilitas Transportasi
Transportasi meliputi darat, air, dan udara yang kesemuanya sangat
diperlukan bagi berlangsungnya sebuah industri. Ini bertalian dengan dua hal
yaitu usaha mendatangkan bahan mentah dan usaha memasarkan hasil
produksi.




Ketersediaan sarana prasarana transportasi akan memperlancar
perpindahan arus barang, benda, makhluk hidup dari satu tempat ke tempat
yang lain. Di tinjau dari sisi industri kelancaran transportasi akan
mempertinggi efisiensi. Disamping faktor geografis yang meliputi modal,
manajemen, kebijakan pemerintah dan faktor pribadi. (Daldjoeni,1992:59-60)
Dari segi geografis, di Desa Tembok Kidul Kecamatan Adiwerna
merupakan desa yang berada di tengah-tengah wilayah kecamatan yaitu
dilalui jalan raya yang menghubungkan jalur Kabupaten Tegal dengan Kota
Madya Tegal. Di Kota Tegal sendiri terdapat pelabuhan yang berskala cukup
besar yaitu nomor tiga di Jawa Tengah setelah pelabuhan Tanjung Emas dan
pelabuhan Cilacap. Dilihat dari segi geografisnya, hal ini sangat potensial
untuk mempermudah pemasaran produk-produk sehingga dapat menekan
biaya produksi.
h. Pendapatan
Pendapatan adalah hasil yang diperoleh manusia setelah mereka
melaksanakan aktivitas kerja. Bentuk pendapatan dapat bermacam-macam
sesuai dengan aktivitas yang dilakukan oleh penduduk. Di mana orang yang
bekerja mengharapkan adanya upah atau imbalan dari orang yang
memberikan pekerjaan.
Menurut Eldon S. Hendriksen (dalam Marianus Sinaga, 1993 : 164)
mendefinisikan Pendapatan adalah ekspresi moneter dari keseluruhan




produk atau jasa yang ditransfer oleh suatu perusahaan kepada pelanggannya
selama satu periode. Menurut definisi ini, maka pendapatan diukur
berdasarkan jumlah barang dan jasa yang diserahkan kepada pembeli atau
langganan (dengan menggunakan satuan mata uang tertentu). Jadi merupakan
aliran keluarnya (out flow) nilai atas barang atau jasa yang ditransfer kepada
langganannya. Selanjutnya Zaki Baridwan (1992 : 30) mengutarakan :
Pendapatan (revenue) adalah aliran masuk atau kenaikan lain aktiva suatu
badan usaha atau pelunasan utangnya (atau kombinasi keduanya) selama satu
periode yang berasal dari penyerahan atau pembuatan barang, penyerahan
jasa, atau dari kegiatan lain yang merupakan kegiatan utama badan usaha
(Syamriloade, 2010. id.shvoong.com).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa upah adalah sejumlah
pembayaran yang diterima buruh atau karyawan karena ia melakukan
tugasnya yaitu menghasilkan produk. Sedangkan komponen-komponen upah
meliputi :
1) Nilai uang yang diterima
Uang dianggap sebagai alat motivasi, karena uang yang diterima
tersebut dapat digunakan untuk mengubah perilaku pegawai dengan cepat
dan kuat sekali, dikarenakan bahwa uang merupakan bentuk penghargaan
atas prestasi kerja yang memuaskan.
2) Sistem Pengupahan.
Ada beberapa cara dalam membayar upah yaitu:




a) Sistem Upah Menurut Waktu
Sistem ini dihitung berdasar jumlah tetap untuk setiap jam kerja.
b) Sistem Upah Perpotong
Sistem upah perpotong dihitung berdasarkan prestasi kerja yang
dihasilkan pekerja.
c) Sistem Upah Borongan
Sistem ini diberikan pada kelompok pekerja dan tidak kepada masing-
masing pekerja. Upah ini diselenggarakan terutama pada suatu jenis
pekerjaan yang hasilnya sulit diukur.
d) Sistem skala upah berubah
Sistem ini menggunaakan dua cara :
(1). Sistem upah sliding scale
Sistem ini menghubungkan antara tingkat upah dengan tingkat
harga penjualan barang-barang hasil produksi perusahaan.
(2). Sistem upah indeks
Sistem ini menghubungkan antara tingkat angka indeks dengan
biaya kehidupan.
e) Sistem upah dengan pembagian laba
Sistem ini dibagi dua yaitu:
(1). Sistem pertisipasi, maksudnya pekerja menerima disamping upah
biasa, juga sebagian laba badan usaha tempat ia bekerja.
(2). Sistem rekaan, yaitu suatu bentuk yang khas dari sistem upah
pembagian laba.





f) Sistem upah premi
Dalam sistem ini tingkat upah akan dihubungkan dengan premi yang
ditentukan. (Komaruddin, www.scribd.com/doc/2010).
Sedangkan sistem pengupahan yang digunakan di tempat penelitian
adalah sistem upah menurut waktu dan sistem upah perpotong.
B. Industri Kecil
Industri kecil adalah kegiatan industri yang dikerjakan di rumah-rumah
penduduk, yang pekerjanya merupakan anggota keluarga sendiri yang tidak
terikat jam kerja dan tempat. Bahwa industri kecil adalah usaha produktif di luar
usaha pertanian, baik itu merupakan mata pencaharian utama maupun
sampingan (Tambunan, 1993:83). Sedang menurut I Made Sandi (1990:154)
industri kecil adalah industri yang bergerak dengan sejumlah tenaga kerja dan
modal kecil, menggunakan teknologi sederhana tetapi jumlah keseluruhan
tenaga kerja mungkin besar karena merupakan industri rumah tangga.
Selanjutnya Singgih Wibowo (1988:3) menambahkan industri kecil
merupakan perusahaan perorangan dengan bentuk usaha paling murah,
sederhana dalam pengolahannya, serta usaha tersebut dimiliki secara pribadi
yang untung ruginya ditanggung pribadi.
Dari beberapa definisi diatas, secara umum terdapat kesamaan sifat dan
karakter tentang industri kecil, antara lain memiliki modal kecil, usaha dimiliki




pribadi, menggunakan teknologi sederhana, serta tenaga kerja relatif sedikit,
karena itu industri kecil sangat cocok dikembangkan di pedesaan. Sifat industri
di pedesaan biasanya mendekati informal, yaitu menunjukan indikasi yang
kurang stabil, modal relatif kecil, pemasaran terbatas, menyerap tenaga kerja
relatif sedikit dan bersifat sementara (Kabul, 1990:28).
C. Perkembangan Industri
Perkembangan industri merupakan unsur pokok untuk mempercepat
terciptanya suasana pembangunan jangka panjang dalam rangka menciptakan
kerangka landasan bagi bangsa Indonesia untuk tumbuh dan berkembang terus.
Salah satu tujuan pembangunan industri adalah meningkatkan kemakmuran dan
kesejahteraan rakyat secara adil dan merata dengan manfaat dana, sumber daya
alam dan hasil budi daya serta memperlihatkan keseimbangan dan kelestariaan
lingkungan hidup (Mailto, Parji di http://geografi-geografi.blogspot.com/2010).
Menurut Tambunan (1999:64) perkembangan industri kecil suatu daerah
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
1. Lokasi Industri
Pertimbangan utama dalam menentukan alternatif lokasi industri yaitu
ditekankan pada biaya transportasi yang rendah. Pada prinsipnya beberapa
teori lokasi tersebut untuk memberikan masukan bagi penentuan lokasi
optimum, yaitu lokasi yang terbaik dan menguntungkan secara ekonomi.
Berikut ini merupakan penjelasan mengenai beberapa teori lokasi.




Pemilihan lokasi usaha konveksi di desa Tembok Kidul lebih
berorientasi pada pasar yaitu dengan pemilihan lokasi dekat kota dimana
peluang pasar cukup cerah. Faktor lainnya seperti tenaga kerja, prasarana
listrik, fasilitas transportasi dll, bukan faktor utama akan tetapi faktor yang
mempengaruhi pemilihan lokasi.
2. Struktur Permodalan dan Manajemen Keuangan
Modal adalah baik berupa barang kongkret yg ada dlm rumah tangga
perush. (Neraca sebelah debit) maupun berupa daya beli atau nilai tukar dr
barang itu (Neraca sebelah kredit) (Bakker di rhassan.staff.html/2009).
Industri kecil seperti industri di Desa tembok Kidul merupakan bentuk
usaha yang paling sederhana dalam hal kepemilikannya dan dalam hal
pengorganisasiannya. Kepemilikannya hanya satu orang, pengelolaannya
dipegang oleh pemilik itu sendiri dan keumtungan atau kerugiannya ditanggung
sendiri. Tidak ada batasan antara harta milik pribadi dengan harta milik
perusahaan.
D. Kerangka Fikir
Industri kecil tidak bisa melakukan kegiatan produksinya tanpa adanya
sarana penunjang. Misalnya seperti bahan baku, transportasi, tenaga kerja
terampil, dll. Masalah yang dihadapi industri kecil pada umumnya dihadapkan
pada keterbatasan dana atau modal yang ada dan kurangnya kemampuan
manajerial pengusaha industri kecil khususnya dalam bidang keuangan, harga




bahan baku yang selalu naik dan peralatan produksi yang masih sederhana,
sehingga hal-hal tersebut menjadi kendala dan dapat menjadi ancaman bagi
perkembangan ndustri kecil. Kendala-kendala tersebut perlu pemecahan atau
jalan keluar. Salah satu jalan keluarnya adalah adanya bantuan dari pemerintah
terutama industri kecil atau industri ditempat penelitian.
Industri kecil sangat penting terutama dalam hal penciptaan kesempatan
kerja. Argumentasi ini berdasarkan pada kenyataan bahwa disatu pihak jumlah
angkatan kerja sangat berlimpah mengikuti jumlah penduduk yang besar, dan di
pihak lain industri besar tidak sanggup menyerap semua pencari pekerjaan.
Ketidaksanggupan industri besar dalam menciptakan kesempatan kerja yang
besar disebabkan karena memang pada umumnya kelompok usaha tersebut
relatif padat modal, sedangkan industri kecil relatif padat karya. Kedua, pada
umumnya industri besar membutuhkan pekerja dengan pendidikan formal yang
tinggi dan pengalaman kerja yang cukup, sedangkan industri kecil sebagian
pekerjanya berpendidikan rendah.
Industri kecil merupakan industri yang potensial untuk dikembangkan di
pedesaan. Industri kecil mempunyai peranan sebagai penyedia lapangan kerja di
daerah pedesaan. Dengan semakin berkembangnya industri kecil diharapkan
akan mampu menyerap tenaga kerja khususnya untuk daerah pedesaan. Untuk
mempermudah skripsi ini maka penulis menggambarkan kerangka berfikir
sebagai berikut:

















Gambar 2.1. Diagram alir kerangka fikir










Faktor Intern :
- Bahan Baku
- Modal
- Tekhnologi
- Tenaga kerja
- Manejemen
Faktor Ekstern :

- Pemasaran

Perkembangan Industri
Penyerapan Tenaga
Kerja