Anda di halaman 1dari 57

BAB II

PERATURAN PARATE EKSEKUSI DALAM PERJANJIAN


GADAI DI PERUM PEGADAIAN KOTA MEDAN


A. Tinjauan Umum Tentang Perjanjian Gadai
1. Pengertian Perjanjian Gadai
Gadai berasal dari terjemahan dari kata pand atau vuistpand (bahasa Belanda),
atau pledge atau pawn (bahasa Inggris), pfand atau faustpfand (bahasa J erman).
Sedangkan dalam hukum adat istilah gadai ini disebut dengan cekelan.
44
Sedangkan
Ter Haar menerangkan : Di kalangan masyarakat Batak gadai itu disebut tahan,
dikalangan masyarakat J awa dipergunakan istilah tanggungan dan jonggolan, dan
dikalangan masyarakat Bali dikenal istilah makantah.
45
Istilah gadai diatur juga di
dalam KUHPerdata Pasal 1150 gadai adalah:
suatu hak yang diperoleh seorang berpiutang atas suatu barang bergerak, yang
diserahkan kepadanya oleh seorang berutang atau oleh seorang lain atas
namanya, dan yang memberikan kekuasaan kepada si berpiutang itu untuk
mengambil pelunasan dari barang tersebut secara didahulukan daripada orang-
orang berpiutang lainnya; dengan kekecualian biaya untuk melelang barang
tersebut dan biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkan setelah
barang itu digadaikan, biaya-biaya mana harus didahulukan.

Dari rumusan yang diberikan tersebut dapat diketahui bahwa untuk dapat disebut
gadai, maka unsur-unsur berikut dibawah ini harus dipenuhi:
1. Gadai diberikan hanya atas barang bergerak;

44
Rachmadi Usman, Op.cit., hal. 103.
45
B. Ter Haar Bzn, Terjemahan K. Ng. Soebakti Poesponoto, Asas-Asas Dan Susunan Hukum
Adat, Pradnya Paramita, J akarta, 1980, hal. 131.
25
Universitas Sumatera Utara

26
2. Gadai harus dikeluarkan dari penguasaan Pemberi gadai;
3. Gadai memberikan hak kepada kreditur untuk memperoleh pelunasan terlebih
dahulu atas piutang kreditur (droit de preference);
4. gadai memberikan kewenangan kepada kreditur untuk mengambil sendiri
pelunasan secara mendahulu tersebut.
Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia gadai berarti:
1. Suatu pinjam-meminjam uang dalam batas waktu tertentu dengan
menyerahkan barang sebagai tanggungan, jika telah sampai batas waktunya
tidak ditebus, barang menjadi hak yang memberi pinjaman.
2. Barang yang diserahkan sebagai tanggungan hutang.
3. Kredit jangka pendek dengan jaminan sekuritas yang berlaku tiga bulan dan
setiap kali dapat diperpanjang apabila tidak dihentikan oleh salah satu pihak
yang bersangkutan.
46


Beberapa ahli juga memiliki pendapat yang berbeda-beda mengenai gadai,
menurut Wiryono Projodikoro gadai adalah sebagai sesuatu hak yang didapatkan si
berpiutang atau orang lain atas namanya untuk menjamin pembayaran hutang dan
memberi hak kepada si berpiutang untuk dibayar lebih dahulu dari siberpiutang lain
dari uang pendapatan penjualan barang itu.
47
Sedangkan Subekti mengatakan
pandrecht adalah : suatu hak kebendaan atas suatu benda yang bergerak kepunyaan
orang lain, yang semata-mata diperjanjikan dengan menyerahkan bezit atas benda
tersebut, dengan tujuan untuk mengambil pelunasan suatu utang dari pendapatan
penjualan benda itu, lebih dahulu dari penagih-penagih lainnya.
48

46
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, J akarta, 1989, hal.126.
47
Wiryono Projowikoro, Hukum Perdata Tentang Hak-Hak Atas Benda, Cetakan ke- V, PT.
Intermasa, J akarta, 1986, hal. 153.
48
Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Cetakan ke- XVI, Intermasa, J akarta, 1982, hal. 79.
Universitas Sumatera Utara

27
Dengan demikian gadai merupakan pemberian berupa benda bergerak untuk
dijadikan sebagai jaminan utang. Dalam hal ini berupa jaminan yang mudah dijadikan
uang untuk dapat menutup pinjaman apabila tidak dapat dilunasi oleh si peminjam
atau debitur.
49
J aminan dengan menguasai bendanya pada gadai tertuju pada benda
bergerak yang memberikan hak preferensi (droit de preference) dan hak yang
senantiasa mengikuti bendanya (droit de suit). Pemegang gadai juga mendapat
perlindungan terhadap pihak ketiga seolah-olah ia sebagai pemiliknya sendiri dari
benda tersebut. Ia mendapat perlindungan jika menerima benda tersebut dengan itikad
baik, yaitu mengira bahwa si debitur tersebut adalah pemilik yang sesungguhnya dari
benda itu.
50
Diluar negeri yaitu di Negara-negara Eropa, Inggris, Amerika dan Asia juga
mengenal lembaga-lembaga jaminan dengan menguasai bendanya dan lembaga-
lembaga jaminan dengan tanpa menguasai bendanya.
51
J aminan dengan menguasai
bendanya adalah seperti yang dikelola oleh Pawnbrokers World (Australia), Pawn
Shop (USA), Hashimoto Pawnshop (J apan), dan Darkys Pawnboker (Canada).
52

Sedangkan yang tergolong lembaga jaminan tanpa menguasai bendanya adalah
seperti Mortagage, Chattel Mortagage dan Hire Purchase. Penggolongan dan jenis

49
Muhammad Syukron Yamin Lubis, Op. cit., hal. 14.
50
Ibid.
51
Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Hukum Jaminan di Indonesia: Pokok-Pokok Hukum
Jaminan dan Jaminan Perorangan,Cetakan ke- I, Liberty, Yogyakarta, 1980, hal. 25.
52
Muhammad Yamin, Gadai Tanah Sebagai Lembaga Pembiayaan Rakyat Kecil, Pustaka
Bangsa Press, Medan, 2004, hal. 27.
Universitas Sumatera Utara

28
lembaga jaminan seperti tersebut diatas dikenal hampir disemua Negara hanya saja
dengan sedikit variasi di sana-sini.
53
Dalam hukum adat, gadai juga dikenal dengan istilah J ual Gadai yaitu
menyerahkan tanah untuk menerima pembayaran sejumlah uang secara tunai dengan
ketentuan si penjual tetap berhak atas pengembalian tanahnya dengan jalan
menebusnya kembali.
54
Dalam jual gadai penerima gadai (kreditur) berhak untuk
mengerjakan dan menikmati manfaat yang melekat pada tanah itu. Transaksi jual
gadai ini biasanya disertai dengan perjanjian tambahan seperti :
1. Kalau tidak ditebus dalam masa yang dijanjikan maka tanah menjadi milik yang
membeli gadai.
2. Tanah tidak boleh ditebus selama satu, dua atau beberapa tahun dalam tangan
pembeli gadai.
55

Sedangkan perkataan gadai di dalam persepsi Perusahaan Umum (Perum)
Pegadaian di kenal dengan istilah Kredit gadai. Menurut Pedoman Operasional
Kantor Cabang Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian, Bab III Mengenai
Pengelolaan Kredit Gadai, yang dimaksud dengan Kredit Gadai adalah:
Pemberian pinjaman (kredit) dalam jangka waktu tertentu kepada nasabah atas
dasar hukum gadai dan persyaratan tertentu yang telah ditetapkan perusahaan.
Nasabah menyelesaikan pinjamannya kepada perusahaan (Pegadaian) sebagai
pemberi pinjaman (kreditur), dengan cara mengembalikan uang pinjaman dan
membayar sewa modalnya berdasarkan ketentuan yang berlaku.

53
Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Op. cit, hal. 15.
54
Muhammad Syukron Yamin Lubis, Op. cit., hal. 26.
55
Setelah keluar UU. No 5 Tahun 1960 atau yang dikenal dengan UUPA maka peraturan ini
tidak berlaku lagi, dan gadai tanah tidak diperbolehkan lagi, akan tetapi pada prakteknya dalam
masyarakat adat gadai tanah masih tetap berlangsung, walaupun telah diberlakukan Hukum Nasional,
akan tetapi Hukum Nasional ini disingkirkan oleh Hukum Adat yang masih hidup.
Universitas Sumatera Utara

29

Pengertian gadai yang diberikan Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian tersebut
diatas, mempunyai perbedaan dengan defenisi gadai pada Pasal 1150 KUHPerdata.
Pengertian gadai pada Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian disebutkan mengenai
adanya jangka waktu, sewa modal atau lazim dikenal dengan bunga, dan syarat-syarat
lain yang telah ditetapkan oleh perusahaan sehingga pengertiannya lebih jelas dan
sifatnya lebih khusus, sedangkan didalam Pasal 1150 KUHPerdata tidak ada
mengatur hal yang sedemikian.
56
Gadai yang berlaku dalam Perum Pegadaian
berbeda dengan gadai yang terdapat dalam KUHPerdata.
Dari beberapa pengertian diatas, maka ada beberapa unsur yang terkait dalam
gadai yaitu:
1. Adanya subjek gadai, yaitu kreditur (penerima gadai) dan debitur (pemberi gadai).
2. Adanya objek gadai, yaitu barang bergerak, baik yang berwujud maupun tidak
berwujud.
3. Adanya kewenangan debitur.
57

J adi secara umum gadai dapat diartikan sebagai suatu hak yang diperoleh seseorang
berpiutang atas suatu barang bergerak. Gadai diperjanjikan dengan maksud untuk
memberikan jaminan atas suatu kewajiban prestasi tertentu, yang pada umumnya
tidak selalu merupakan perjanjian utang piutang dan karenanya dikatakan, bahwa
perjanjian gadai mengabdi kepada perjanjian pokoknya atau ia merupakan perjanjian
yang bersifat accessoir. Pada prinsipnya (barang) gadai dapat dipakai untuk

56
Muhammad Syukron Yamin Lubis, Op. cit., hal.29.
57
Salim HS, Op.cit., hal. 35.
Universitas Sumatera Utara

30
menjamin setiap prestasi tertentu.
58
Dalam hal perjanjian pokok yang menjadi dasar
pemberian gadai adalah suatu perjanjian yang tidak memerlukan suatu bentuk
formalitas bagi sahnya perjanjian pokok tersebut, maka berarti gadai juga dapat
diberikan dengan cara yang sama, yaitu menurut ketentuan yang berlaku bagi sahnya
perjanjian pokok tersebut. Dengan demikian berarti sahnya suatu pemberian gadai
atau perjanjian gadai harus memenuhi syarat sahnya suatu perjanjian secara umum
sebagaimana diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata.
Pasal 1320 KUHPerdata mengatur mengenai syarat sahnya perjanjian. Dengan
rumusan yang menyatakan bahwa:
Untuk sahnya perjanjian-perjanjian, diperlukan empat syarat:
1. Kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya;
2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan;
3. Suatu hal tertentu;
4. Suatu sebab yang halal;
Perjanjian gadai dapat dilakukan dalam bentuk perjanjian tertulis,
sebagaimana halnya dengan perjanjian pokoknya, yaitu perjanjian pemberian kredit.
Perjanjian tertulis ini dapat dilakukan dalam bentuk akta di bawah tangan dan akta
otentik. Dalam praktek, perjanjian gadai ini dilakukan dalam bentuk akta di bawah
tangan yang ditandatangani oleh pemberi gadai dan penerima gadai. Bentuk, isi, dan
syarat-syaratnya telah ditentukan oleh Perum Pegadaian secara sepihak. Semua

58
J . Satrio, Hukum Jaminan Hak Jaminan Kebendaan Fidusia, Citra Aditya Bakti, Bandung,
2002, hal. 100.
Universitas Sumatera Utara

31
tertuang dalam surat bukti kredit (SBK), hal-hal yang kosong tersebut meliputi nama,
alamat, jenis barang jaminan, jumlah taksiran, jumlah pinjaman, tanggal kredit, dan
tanggal jatuh tempo. SBK ini diterbitkan oleh Perum Pegadaian dan sengaja dibuat
sebagai media atau piranti perikatan serta sebagai alat bukti untuk kedua belah pihak.
SBK ini nantinya digunakan untuk saling memantau diantara kedua belah pihak,
apakah prestasi telah dijalankan atau bahkan telah terjadi wanprestasi, dan bila ada
pihak yang dirugikan telah memiliki alat bukti untuk mengajukan suatu tuntutan
kepada pihak lain.
59
SBK dalam bentuknya dibuat secara timbal balik, dimana pada halaman
depannya memuat catatan penting, yaitu :
1. Perusahaan Umum Pegadaian Cabang.
2. Nomor bunga jaminan/Nomor Kredit
3. Tanggal kredit
4. Tanggal batas/jatuh tempo
5. Taksiran
6. Uang pinjaman
7. Golongan uang pinjaman
8. Keterangan barang jaminan
9. Nama nasabah/yang dikuasakan serta alamat
10. Tarif bunga
11. Tanda lain yang dinyatakan seperti paraf Kuasa Pemutus Kredit
(KPK)/Kepala Cabang, dan lain-lain.
60


Sedangkan pada halaman belakang SBK terdapat isi perjanjian kredit gadai
antara Perum Pegadaian dengan nasabah. Perjanjian ini diberi nama dengan
Perjanjian Kredit Dengan J aminan Benda Bergerak.

59
Muhammad Syukron Yamin Lubis, Op. cit., hal. 64.
60
Ibid.
Universitas Sumatera Utara

32
Adapun isi yang terdapat di dalam SBK memuat antara lain sebagai berikut:
1. Pengakuan nasabah telah menerima penetapan besarnya taksiran jaminan, Uang
Pinjaman dan Tarif Sewa Modal dan SBK ini merupakan tanda bukti yang sah
penerimaan uang pinjaman.
2. Menyatakan bahwa barang yang diserahkan sebagai jaminan adalah milik nasabah
sendiri atau milik orang lain yang dikuasakan kepadanya untuk digadaikan, dan
bukan berasal dari hasil kejahatan, tidak dalam objek sengketa atau sita jaminan.
3. Nasabah menyatakan telah berhutang kepada Perum Pegadaian dan berkewajiban
untuk membayar pelunasannya.
4. Perum Pegadaian akan memberikan ganti kerugian apabila barang jaminan yang
berada dalam penguasaan Perum Pegadaian mengalami kerusakan atau hilang
yang disebabkan oleh suatu bencana alam (force majeure) yang ditetapkan
pemerintah, dan ganti rugi diberikan sebesar harga taksiran awal.
5. Nasabah dapat melakukan perpanjangan kredit, mengangsur uang pinjaman atau
menambah uang pinjaman selama nilai taksiran masih memenuhi syarat.
6. Bila sampai pada tanggal jatuh tempo tidak dilakukan pelunasan atau
perpanjangan kredit, maka Perum Pegadaian berhak melakukan penjualan barang
jaminan melalui lelang.
7. J ika hasil penjualan lelang berlebih maka kelebihannya tersebut akan
dikembalikan kepada nasabah. Dan bila hasilnya tidak mencukupi maka nasabah
wajib membayar kekurangan tersebut.
Universitas Sumatera Utara

33
8. Nasabah harus datang sendiri untuk melakukan pelunasan atau perpanjangan
kredit ataupun dengan mengalihkannya kepada orang lain dengan menggunakan
surat kuasa.
9. Nasabah menyatakan tunduk dan mengikuti segala peraturan yang berlaku di
Perum Pegadaian sepanjang ketentuan yang menyangkut kredit gadai ini.
10. Apabila terjadi perselisihan di kemudian hari akan diselesaikan secara
musyawarah untuk mufakat dan jika tidak tercapai kesepakatan akan diselesaiakan
melalui Pengadilan Negeri setempat.
Perjanjian gadai pada dasarnya sama dengan perjanjian pada umumnya yaitu
suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu
orang lain atau lebih, hanya saja perbedaannya disini terdapat pada adanya barang
jaminan dalam perjanjian gadai, yang digunakan sebagai jaminan bahwa debitur akan
melunasi hutangnya kepada kreditur. Secara umum perjanjian gadai dapat diartikan
sebagai perjanjian yang menimbulkan hubungan hukum utang piutang yang dijamin
pelunasannya dengan kebendaan bergerak, baik kebendaan bergerak yang berwujud
maupun kebendaan bergerak yang tidak berwujud.
61
Dalam rangka mengamankan
piutang kreditor, maka secara khusus oleh debitur kepada kreditur diserahkan suatu
kebendaan bergerak sebagai jaminan pelunasan utang debitur, yang menimbulkan hak
bagi kreditur untuk menahan kebendaan bergerak yang digadaikan tersebut sampai
dengan pelunasan utang debitur.
62
J adi pada dasarnya perjanjian gadai akan terjadi

61
Rachmadi Usman, Loc.cit., hal. 106.
62
Ibid.
Universitas Sumatera Utara

34
bila barang-barang yang digadaikan berada di bawah penguasaan kreditur (pemegang
gadai) atau atas kesepakatan bersama ditunjuk seorang pihak ketiga untuk
mewakilinya. Penguasaan benda gadai oleh kreditur merupakan syarat esensial bagi
lahirnya gadai. Selain itu ketentuan tentang bentuk perjanjian gadai dapat dilihat
dalam Pasal 1151 KUHPerdata yang berbunyi Perjanjian gadai harus dibuktikan
dengan alat yang diperkenankan untuk membuktikan perjanjian pokoknya.
Dengan demikian terdapat perbandingan antara gadai yang diatur dalam
KUHPerdata, Hukum Adat, dan Perum Pegadaian yaitu:
1. Persamaan
a. Sama-sama merupakan perutangan yang timbul dari perjanjian timbal balik
dilapangan hukum harta kekayaan.
b. Benda perjanjian harus diserahkan kedalam kekuasaan si pemegang gadai.
2. Perbedaan
a. Gadai dalam KUHPerdata dan Perum Pegadaian merupakan perjanjian
accessoir (tambahan) pada perjanjian utang uang selaku perjanjian principle
(pokok) dengan benda bergerak berwujud, hak-hak untuk memperoleh
pembayaran uang (surat-surat piutang kepada si pembawa, atas nama, atas
tunjuk) selaku tanggungan/jaminan.
63

Sedangkan dalam hukum adat transaksi gadai merupakan transaksi jual yang
mandiri dengan tanah selaku objeknya.
64

63
Bushar Muhammad, Hukum Adat, Pradnya Paramita, J akarta, 1981, hal. 116-117
64
Muhammad Yamin, Op. cit., hal. 7.
Universitas Sumatera Utara

35
b. Gadai dalam KUHPerdata dan Perum Pegadaian, kekuasaan
pemegang/penerima gadai tidak meliputi hak memakai, memungut hasil,
menyewakannya dan sebagainya.
65

Sedangkan dalam hukum adat pemegang/penerima gadai dapat menguasai,
mempergunakan, serta mengambil manfaat dari benda gadainya.
66
c. Gadai dalam KUHPerdata dan Perum Pegadaian, pemberi gadai harus melunasi
hutangnya dalam waktu yang telah ditetapkan bersama. J ika ia lalai dalam hal
itu, si pemegang gadai tidak berwenang memiliki benda jaminan namun selaku
kreditur, pihak terakhir ini dapat melelang benda gadai atas kekuasaan sendiri,
untuk memperoleh pelunasan dari piutangnya.
67

Sedangkan dalam hukum adat pembeli gadai tidak dapat memaksa penjual
gadai untuk menebus objek transaksinya. Sebaliknya setiap waktu benda itu
ditebus, ia harus mengembalikannya.
68
Dengan demikian gadai yang akan dibahas dalam penulisan ini merupakan
gadai pada Perum Pegadaian bukan gadai yang berlaku menurut KUHPerdata
maupun Hukum Adat. Akan tetapi peraturan gadai yang terdapat dalam Perum
Pegadaian tetap berlandaskan pada KUHPerdata.

65
Bushar Muhammad, Loc.cit.
66
Muhammad Yamin, Op. cit, hal. 11.
67
Bushar Muhammad, Loc. cit.
68
Muhammad Yamin, Loc. cit, hal. 7.
Universitas Sumatera Utara

36

2. Sifat Umum Gadai
Dari rumusan Pasal 1150 KUHPerdata tentang gadai, dapat disimpulkan
beberapa sifat umum dari gadai yaitu:
A. Gadai adalah untuk benda bergerak.
Dalam KUHPerdata benda digolongkan sebagai berikut:
1. Menurut pasal 503 KUHPerdata :
a. Benda berwujud ialah: benda yang dapat berpindah atau dipindahkan, seperti:
rumah, mobil, emas, arloji, sepeda motor, dan lain-lain.
b. Benda tidak berwujud ialah: setiap hak, pada umumnya hak atas harta
kekayaan dipandang sebagai suatu benda walaupun hak tersebut tidak
berwujud jika ia merupakan bagian dari harta kekayaan, seperti: hak cipta,
piutang atas bawah, piutang atas tunjuk, hak memungut hasil atas benda dan
atas piutang.
69

2. Menurut Pasal 504 KUHPerdata:
a. Benda bergerak, dapat dibagi menjadi:
1. Benda bergerak menurut sifatnya ialah benda yang dapat berpindah atau
dipindahkan ( Pasal 509 KUHPerdata), seperti : kursi, meja, buku.
2. Benda bergerak menurut ketentuan undang-undang ialah hak-hak yang
melekat atas benda bergerak (Pasal 511 KUHPerdata), seperti: hak

69
Salim HS, Op.cit., hal.37.
Universitas Sumatera Utara

37
memungut hasil atas benda bergerak, saham-saham perusahaan,
piutang-piutang.
b. Benda tidak bergerak, dapat dibagi menjadi:
1. Benda tidak bergerak menurut sifatnya ialah benda yang tidak dapat
dipindah-pindahkan (Pasal 506 KUHPerdata), seperti: tanah dan segala yang
melekat diatasnya, rumah, gedung, pepohonan.
2. Benda tidak bergerak karena tujuannya ialah benda yang dilekatkan pada
benda tidak bergerak sebagai benda pokok untuk tujuan tertentu (Pasal 507
KUHPerdata), seperti: mesin-mesin yang dipasang disuatu pabrik.
3. Benda tidak bergerak karena ketentuan undang-undang ialah hak-hak yang
melekat atas benda tidak bergerak (Pasal 508 KUHPerdata), seperti: hipotik,
hak guna bangunan, hak memungut hasil atas benda tidak bergerak.
Benda yang menjadi objek gadai adalah benda bergerak, baik berwujud
maupun tidak berwujud. Lahirnya gadai di dalam hukum jaminan menurut
KUHPerdata adalah sebagai akibat adanya pembedaan benda atas benda tetap dan
bergerak. Benda bergerak baik itu berwujud maupun tidak berwujud menjadi objek
gadai sedangkan benda tetap menjadi objek dari hipotik.
70
B. Sifat kebendaan
Sifat ini ditemukan dalam pada Pasal 528 KUHPerdata yang mengatakan atas
sesuatu kebendaan, seorang dapat mempunyai baik kedudukan berkuasa, baik
hak milik, hak waris, hak pakai hasil, hak pengabdian tanah, hak gadai atau

70
Esther Million, Op. cit., hal. 22.
Universitas Sumatera Utara

38
hypotheek.
71
Yang dimaksud dengan hak kebendaan (zakelijkrecht) adalah: hak
mutlak atas suatu benda dimana hak itu memberikan kekuasaan langsung atas
suatu benda yang dapat dipertahankan terhadap siapapun juga. Hak kebendaan
yang diatur dalam KUHPerdata dapat dibedakan sebagai berikut:
1. Hak-hak kebendaan yang bersifat memberi kenikmatan ini dapat atas
bendanya sendiri, dapat juga atas benda milik orang lain. Hak-hak ini
terdiri dari:
a. Yang bersifat memberi kenikmatan atas benda milik sendiri, misalnya
hak milik benda bergerak, bezit atas benda bergerak bukan tanah.
b. Yang bersifat memberi kenikmatan, tetapi atas benda milik orang lain,
misalnya bezit atas benda bergerak bukan tanah, hak memungut hasil
atas benda bergerak, hak pakai dan mendiami benda bergerak.
2. Hak kebendaan yang bersifat memberi jaminan hak ini terdiri dari:
a. Gadai sebagai jaminan ialah benda bergerak.
b. Hipotik sebagai jaminan ialah benda-benda tetap (tidak bergerak).
Sifat-sifat dari kebendaan ialah:
1. Hak kebendaan merupakan hak yang mutlak, yaitu dapat dipertahankan
terhadap siapapun juga.
2. Hak kebendaan itu mempunyai zaaksgevolg atau droit de suite (hak yang
mengikuti), artinya hak itu selalu mengikuti bendanya dimanapun juga

71
Mariam Darus Badrulzaman, Loc. cit., 1991, hal. 57.
Universitas Sumatera Utara

39
(ditangan siapapun juga) barang itu berada. Hak itu terus saja mengikuti
orang yang mempunyainya.
3. Hak kebendaan itu mempunyai droit de preference (hak yang terlebih
dahulu atau memberikan kedudukan diutamakan).
72

Sebagai hak kebendaan, hak gadai selalu mengikuti objek atau barang-
barang yang digadaikan dalam tangan siapapun berada. Pemegang gadai
(pandnemer) mempunyai hak untuk menuntut kembali barang-barang
yang digadaikan yang telah hilang atau dicuri orang dari tangannya dari
tangan siapapun barang-barang yang digadaikan itu ditemukannya dalam
jangka waktu selama 3 (tiga) tahun. Hal ini dapat disimpulkan dari
ketentuan dalam Pasal 1152 (3) KUHPerdata :
Apabila, namun itu barang tersebut hilang dari tangan penerima gadai
ini atau dicuri daripadanya, maka berhaklah ia menuntutnya kembali
sebagaimana disebutkan dalam Pasal 1977 ayat (2), sedangkan apabila
barang gadai didapatnya kembali, hak gadai dianggap tidak pernah
hilang.

Pasal 1152 (3) KUHPerdata ini mencerminkan adanya sifat droit de suit,
karena hak gadai terus mengikuti bendanya di tangan siapapun. Demikian
juga di dalamnya terkandung suatu hak menggungat karena penerima
gadai berhak menuntut kembali barang yang hilang tersebut.
C. Benda gadai dikuasai pemegang gadai (inbezitstelling)
Dalam rangka mengamankan piutang kreditur, maka secara khusus oleh debitur
kepada kreditur diserahkan suatu kebendaan bergerak sebagai jaminan pelunasan

72
Esther Million, Op. cit., hal. 24.
Universitas Sumatera Utara

40
hutang debitur, yang menimbulkan hak bagi kreditur untuk menahan kebendaan
bergerak yang digadaikan tersebut sampai dengan pelunasan utang debitur.
Dengan demikian pada dasarnya perjanjian gadai akan terjadi bila barang-barang
yang digadaikan berada dibawah penguasaan kreditur atau atas kesepakatan
bersama ditunjuk seorang pihak ketiga untuk mewakilinya. Penguasaan
kebendaan gadai oleh pemegang gadai tersebut merupakan syarat esensial bagi
lahirnya gadai. Persyaratan ini selain ditentukan dalam Pasal 1150 KUHPerdata,
juga tercantum dalam Pasal 1152 (1) dan (2) yaitu:
(1) Hak gadai atas benda-benda bergerak dan atas piutang-piutang bawa
diletakkan dengan membawa barang gadainya di bawah kekuasaan si
berpiutang atau seorang pihak ketiga, tentang siapa telah disetujui oleh
kedua belah pihak.
(2) Tak sah adalah hak gadai atas segala benda yang dibiarkan tetap dalam
kekuasaan si berutang atau si pemberi gadai, ataupun yang kembali atas
kemauan si berpiutang.

D. Penyerahan barang-barang yang digadaikan kepada kreditur dimaksudkan bukan
merupakan penyerahan yuridis, bukan penyerahan yang mengakibatkan penerima
gadai menjadi pemilik dan karenanya pemegang gadai dengan penyerahan
tersebut tetap hanya berkedudukan sebagai pemegang saja, tidak akan pernah
berdasarkan penyerahan seperti itu saja menjadi bezitter dalam arti bezit
keperdataan (burgelijk bezit). Itulah sebabnya bezit disebut pandbezit.
73
Hak
menjual sendiri benda gadai. Pemegang gadai berhak menjual sendiri benda
gadai dan memiliki kewenangan untuk melakukan pelelangan terhadap barang
gadai. Penyebab timbulnya pelelangan ini adalah karena debitur tidak melakukan

73
J . Satrio,2002, Op. cit., hal. 107.
Universitas Sumatera Utara

41
atau melaksanakan prestasinya sesuai dengan isi kesepakatan yang dibuat antara
kreditur dan debitur, walaupun debitur telah diberikan somasi oleh kreditur. Dari
hasil penjualan atau pelelangan tersebut maka kreditur berhak mengambil
pelunasan piutangnya beserta bunga dan biaya dari pendapatan penjualan atau
pelelangan itu.
E. Hak yang didahulukan.
Hak yang didahulukan maksudnya apabila benda gadai itu dilelang maka
pemegang gadai harus didahulukan daripada kreditur-kreditur lainnya tentang
pembayaran atau pelunasan piutangnya (Pasal 1133, Pasal 1150 KUHPerdata).
F. Mempunyai sifat accessoir
Gadai diperjanjiakan dengan maksud untuk memberikan jaminan atas suatu
kewajiban prestasi tertentu, yang pada umumnya merupakan perjanjian hutang-
piutang dan karenanya dikatakan, bahwa perjanjian gadai mengabdi kepada
perjanjian pokoknya atau dikatakan bahwa gadai merupakan perjanjian bersifat
accessoir. Perjanjian accessoir mempunyai ciri-ciri antara lain:
a. Tidak dapat berdiri sendiri.
b. Adanya/timbulnya maupun hapusnya bergantung pada perikatan pokoknya.
c. Apabila perikatan pokoknya dialihkan, accessoir turut beralih.
74

Konsekuensi perjanjian gadai sebagai perjanjian accessoir adalah:
a. Bahwa sekalipun perjanjian gadainya sendiri mungkin batal karena
melanggar ketentuan gadai yang bersifat memaksa, tetapi perjanjian

74
Esther Million, Op. cit., hal. 25.
Universitas Sumatera Utara

42
pokoknya sendiri biasanya berupa perjanjian hutang-piutang tetap berlaku,
jika ia dibuat secara sah. Hanya saja tagihan tersebut jika tidak ada dasar
preferensi yang lain, berkedudukan sebagai tagihan konkuren belaka.
b. Hak gadainya sendiri tidak dapat dipindahkan tanpa turut sertanya (turut
berpindahnya) perikatan pokoknya, tetapi sebaliknya pengoperan perikatan
pokok meliputi pula semua accessoir nya, dalam mana termasuk jika ada
hak gadainya.
75


3. Objek dan Subjek Gadai
Objek gadai adalah benda bergerak. Benda bergerak ini dibagi atas dua jenis,
yaitu benda bergerak berwujud dan tidak berwujud. Benda bergerak berwujud adalah
benda yang dapat berpindah atau dipindahkan. Yang termasuk dalam benda
berwujud, seperti emas, arloji, sepeda motor, dan lain-lain. Sedangkan benda
bergerak yang tidak berwujud seperti, piutang atas bawah, piutang atas tunjuk, hak
memungut hasil atas benda dan atas piutang.
76
Pada dasarnya semua benda bergerak yang berwujud dapat dijadikan sebagai
jaminan pinjaman atau kredit gadai pada lembaga pergadaian, hal ini tercantum
dalam Keputusan Direksi Perum Pegadaian Opp.2/67/5 tentang Pedoman Operasional
Kantor Cabang Perum Pegadaian. Adapun barang-barang yang dapat diterima sebagai
jaminan kredit gadai pada Perum Pegadaian adalah:

75
Ibid, hal. 26.
76
Salim HS, Op. cit., hal. 37.
Universitas Sumatera Utara

43
a. Barang-barang perhiasan, seperti emas, perak, intan, berlian, mutiara,
platina, jam, arloji;
b. Barang-barang kendaraan, seperti sepeda, sepeda motor, mobil, bajaj,
bemo, becak;
c. Barang-barang elektronika, seperti televisi, radio, radio tape, video,
Komputer, kulkas, tustel, mesin tik;
d. Barang-barang mesin, seperti mesin jahit, mesin kapal motor;
e. Barang-barang perkakas rumah tangga, seperti barang tekstil, barang pecah
belah.
77


J adi, pada dasarnya barang-barang bergerak yang memiliki nilai jual dapat
dijadikan jaminan di Perum Pegadaian. Selain itu terdapat pula barang-barang yang
tidak dapat diterima sebagai jaminan gadai pada Perum Pegadaian, diantaranya
adalah sebagai berikut :
a. Barang milik negara atau pemerintah seperti senjata api dan senjata tajam,
pakaian dinas, perlengkapan TNI/Polri dan Pemerintah;
b. Barang-barang yang mudah busuk, seperti makanan dan minuman, obat-
obatan, tembakau;
c. Barang yang berbahaya dan mudah terbakar, seperti korek api, mercon
(petasan/mesiu), bensin/minyak tanah, tabung gas;
d. Barang yang sukar ditaksir nilainya, seperti barang purbakala, barang
historis;
e. Barang yang dilarang peredarannya, seperti ganja, opium, madat, heroin,
senjata api dan sebagainya;
78

f. Barang yang tidak tetap harganya dan sukar ditetapkan taksirannya, seperti
lukisan, buku dan sebagainya;
g. Barang-barang lainnya, seperti barang yang disewa belikan,barang yang
diperoleh melalui hutang dan belum lunas, barang titipan sementara
(konsinyasi), barang yang tidak diketahui asal usulnya, barang-barang
bermasalah (barang curian, penggelapan, penipuan), pakaian jadi, bahan
yang pemakaiannya sangat terbatas dan tidak umum, ternak/binatang.
79

77
Rachmadi Usman, Op. cit., hal. 110-111.
78
Beradasarkan Pedoman Operasional Kantor Cabang Perum Pegadaian, segala jenis senjata
tidak dibolehkan untuk digadai, walaupun penggunaannya tidak dilarang, misalnya senapan angin
yang sering digunakan untuk berburu.
79
Muhammad Syukron Yamin Lubis, Op, cit. hal. 31-32.
Universitas Sumatera Utara

44
Menurut Mariam Darus Badrulzaman, terdapat juga pengecualian-
pengecualian mengenai barang-barang yang dapat digadaikan, yaitu :
a. Benda milik negara.
b. Surat utang, surat actie, surat effek, dan surat berharga lainnya.
c. Hewan yang hidup dan tanaman.
d. Segala makanan dan barang-barang lain yang gampang busuk.
e. Benda-benda yang kotor.
f. Benda-benda yang untuk menguasai dan memindahkannya dari satu tempat
ketempat yang lain memerlukan izin.
g. Barang yang karena ukurannya besar tidak dapat disimpan dalam
pegadaian.
h. Barang yang berbau busuk dan mudah merusak barang lain, jika disimpan
bersama-sama.
i. Benda yang hanya berharga sementara atau harganya naik turun dengan
cepat, sehingga sulit ditaksir oleh pejabat gadai.
j. Benda yang digadaikan oleh seorang yang mabuk atau seorang yang
kurang ingatan atau seorang yang tidak dapat member keterangan-
keterangan yang cukup tentang barang yang akan digadaikan itu.
80


Dengan adanya pengecualian diatas, maka barang-barang tersebut tidak dapat
diterima dan harus ditolak sebagai objek jaminan gadai. Dan yang berhak melakukan
penolakan tersebut adalah pejabat pegadaian. Pejabat tersebut juga berhak menolak
barang-barang walaupun tidak tersebut dalam ketentuan diatas, dan penolakan itu
harus diberitahukan kepada orang banyak melalui surat pengumuman.
Subjek gadai terdiri atas dua pihak, yaitu pemberi gadai (pandgever) dan
penerima gadai (pandnemer). Pemberi gadai (pandgever) yaitu orang atau badan
hukum yang memberikan jaminan dalam bentuk benda bergerak selaku gadai kepada
penerima gadai untuk pinjaman uang yang diberikan kepadanya atau pihak ketiga.
Unsur-unsur pemberi gadai yaitu:

80
Mariam Darus Badrulzaman, Aneka Hukum Bisnis, Alumni, Bandung, 1994, hal. 161
Universitas Sumatera Utara

45
1. Orang atau badan hukum;
2. Memberikan jaminan berupa benda bergerak;
3. Kepada penerima gadai;
4. Adanya pinjaman uang;
Penerima gadai (pandnemer) adalah orang atau badan hukum yang menerima
gadai sebagai jaminan untuk pinjaman uang yang diberikannya kepada pemberi gadai
(pandgever). Di Indonesia, badan hukum yang ditunjuk untuk mengelola lembaga
gadai adalah perusahaan pegadaian. Perusahaan ini didirikan berdasarkan:
1. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1969 tentang Perusahaan J awatan
Pegadaian;
2. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1970 tentang Perubahan Peraturan
Pemerintah Nomor 7 Tahun 1969 tentang Perusahaan J awatan Pegadaian; dan
3. Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2000 tentang Perusahaan Umum
(Perum) Pegadaian.
Untuk terjadinya hak gadai harus memenuhi 2 (dua) unsur mutlak:
1. Harus ada perjanjian pemberian gadai (perjanjian gadai) antara pemberi gadai
(debitur sendiri atau pihak ketiga) dan pemegang gadai (kreditur).
2. Adanya penyerahan kebendaan yang digadaikan tersebut dari tangan debitur
kepada kreditur.
Di dalam pasal 1155 KUHPerdata telah diatur tentang hak dan kewajiban
kedua belah pihak. Hak penerima gadai adalah:
Universitas Sumatera Utara

46
1. Menerima angsuran pokok pinjaman dan bunga sesuai dengan waktu yang
ditentukan;
2. Menjual barang gadai, jika pemberi gadai tidak memenuhi kewajibannya setelah
lampau waktu atau setelah dilakukan peringatan untuk pemenuhan janjinya.
Kewajiban penerima gadai diatur di dalam Pasal 1154 , Pasal 1156 dan Pasal
1157 KUHPerdata. Kewajiban penerima gadai adalah:
1. Menjaga barang yang digadaikan sebaik-baiknya;
2. Tidak diperkenankan mengalihkan barang yang digadaikan menjadi miliknya,
walaupun pemberi gadai wanprestasi (Pasal 1154 KUHPerdata);
3. Memberitahukan kepada pemberi gadai (debitur) tentang pemindahan barang-
barang gadai ( Pasal 1156 KUHPerdata);
4. Bertanggung jawab atas kerugian atau susutnya barang gadai, sejauh hal itu
terjadi akibat kelalaiannya (Pasal 1157 KUHPerdata).
Hak-hak pemberi gadai adalah :
1. Menerima uang gadai dari penerima gadai;
2. Berhak atas barang gadai, apabila hutang pokok, bunga, dan biaya lainnya telah
dilunasinya;
3. Berhak menuntut ke pengadilan supaya barang gadai dijual untuk melunasi
hutang-hutangnya ( Pasal 1156 KUHPerdata)
Kewajiban pemberi gadai adalah :
1. Menyerahkan barang gadai kepada penerima gadai;
2. Membayar pokok dan sewa modal kepada penerima gadai;
Universitas Sumatera Utara

47
3. Membayar biaya yang dikeluarkan oleh penerima gadai untuk menyelamatkan
barang-barang gadai (Pasal 1157 KUHPerdata).

4. Terjadinya Hak Gadai
Hak gadai terjadi dalam dua fase yaitu :
1. FASE PERTAMA : Perjanjian Pinjam Uang
Perjanjian pinjam uang ini dituangkan dalam Surat bukti Kredit (SBK).
Sifatnya adalah konsensuil obligator. Di dalam perjanjian itu disebutkan nama
penerima pinjaman (debitur). Perjanjian ini termasuk jenis perjanjian standart
karena dicetak dalam bentuk formulir, yang telah disediakan terlebih dahulu
oleh Perum Pegadaian.
81
2. FASE KEDUA : Penyerahan benda gadai dalam kekuasaan penerima gadai
Sesuai dengan benda gadai adalah benda bergerak, maka benda itu harus lepas
dari kekuasaan debitur atau pemberi gadai.
82
Penyerahan benda terjadi pada
saat yang bersamaan dengan penandatanganan SBK. Dalam hal ini dapat
disimpulkan bahwa terjadinya hak gadai adalah pada tanggal dan hari SBK
ditanda tangani.
83


81
Mariam Darus Badrulzaman, Op. cit., 1991, hal. 76.
82
Esther Million, Op. cit., hal. 30.
83
Mariam Darus Badrulzaman, Op. cit., 1991, hal. 77.
Universitas Sumatera Utara

48
B. Tinjauan Umum Pegadaian
1. Sejarah Pegadaian
Pada awalnya cikal bakal timbulnya badan-badan yang memberikan pinjaman
uang dengan tanggungan atau jaminan barang dimulai sekitar abad IX di Italia Utara
daerah Lombardia.
84
Kemudian dipraktikkan di wilayah Eropa lainnya, misalnya
Inggris dan Belanda. Sistem gadai tersebut memasuki Indonesia dibawa dan
dikembangkan oleh orang Belanda (VOC).
85
Timbulnya gadai itu oleh karena orang Romawi mengenal 2 (dua) cara
langkah-langkah preventif terhadap wanprestasi debiturnya, yaitu:
Cara pertama : Seorang atau lebih mengikatkan dirinya bersama-sama debitur
kepada kreditur untuk kepentingan kreditur (jaminan bentuk
orang).
Cara kedua : Dengan cara memberikan kekuasaan atas satu atau sejumlah
barang kepada kreditur, yang dapat dijadikan pemenuhan
tagihannya jika debitur yang bersangkutan wanprestasi
(jaminan bentuk barang).
J aminan bentuk orang maupun bentuk barang itu, tergantung kepada
perjanjian yang melahirkan perikatan pokok yaitu kredit.
86

Tentang gadai di masa Hukum Romawi tentunya berbeda dengan pegadaian
yang diatur oleh KUHPerdata. Perbedaan ini adalah pengaruh perkembangan yang
terjadi dalam masyarakat dari abad ke abad.
87

84
Seksi Perencanaan/Pembinaan, Sejarah Organisasi Tugas Pokok dan Fungsi Perum
Pegadaian dalam Pembangunan, Kantor Pusat Perum Pegadaian, J akarta, 1982, hal. 3.
85
Dahlan Siamat, Manajemen Lembaga Keuangan, Intermedia, J akarta, 1995, hal. 357.
86
Basrah Amarsah, Perusahaan Umum Pegadaian sebagai Lembaga Pembiayaan Penyedia
Kredit dalam Menentukan Objek yang Sah di Kotamadia Medan, Tesis, PPS USU, Medan, 1998, hal.
29.
87
Esther Milion, Op. cit., hal. 45.
Universitas Sumatera Utara

49
Menurut Mariam Darus Badrulzaman, mengatakan : Sampai dewasa ini
pegadaian telah mengalami 5 (lima) periode pemerintahan, yaitu:
1. Periode VOC (1746 - 1811)
2. Periode Penjajahan Inggris (1811 - 1816)
3. Periode Penjajahan Belanda (1816 - 1942)
4. Periode Penjajahan J epang (1942 - 1945)
5. Periode Kemerdekaan.
88


ad 1. Periode VOC (1764 - 1811)
Lahirnya Lembaga Pegadaian di Indonesia ditandai dengan berdirinya Bank
Van Leening yaitu lembaga keuangan yang memberikan kredit dengan sistem
gadai pada masa VOC ( Verenigde Oost Indische Compagnie). Lembaga ini
pertama kali didirikan di Batavia pada tanggal 20 Agustus 1976, berdasarkan
Surat Keputusan Gubernur J enderal Van Imhoff.
89
Bank Van Leening, selain memberikan pinjaman gadai, juga bertindak
sebagai wessel bank. Pada mulanya lembaga ini merupakan perusahaan
campuran antara pemerintah (VOC) dan swasta dengan perbandingan modal
2/3 modal VOC dan 1/3 modal swasta. Namun sejak tahun 1794 usaha
patungan itu dihapuskan, Bank van leening menjadi monopoli pemerintah dan
diusahakan sepenuhnya oleh pemerintah.
90

88
Mariam Darus Badrulzaman, Op. cit., 1994, hal. 153.
89
Acien Harahap, hukum-gadai, www. blogspot.com, diakses 1 juni 2010.
90
Ketut Sethyon, Pegadaian 100 Seabad Bersahabat Menapak ke Masa Depan dengan
Kegigihan Masa Lalu, Perum Pegadaian, Kantor Pusat, J akarta, 2002, hal. 137.
Universitas Sumatera Utara

50
ad 2. Periode Penjajahan Inggris (1811 1816)
Pada tahun 1811 terjadi peralihan kekuasaan dari pemerintah Belanda
kepada pemerintahan Inggris yang dipimpin oleh Raffles. Pada masa
penjajahan Inggris, Bank Van Leening dihapuskan karena Raffles tidak
menyetujui adanya Bank Van Leening yang dikelola oleh pemerintah.
91
Dan
hak untuk memberikan pinjaman uang dengan gadai sebagai jaminan
diserahkan secara bebas kepada swasta, asal sudah mendapat izin untuk itu,
peraturan ini dikenal dengan sebutan Licentie Stelsel.
92
Akan tetapi dalam perkembangannya ternyata Licentie Stelsel tidak
menguntungkan pemerintah, melainkan menimbulkan kerugian terhadap
masyarakat karena timbulnya penarikan bunga yang tidak wajar. Pada tahun
1814 Licentie Stelsel dihapuskan dan diganti dengan Pacht Stelsel, dimana
anggota masyarakat umum dapat menjalankan usaha gadai dengan syarat
sanggup membayar sewa kepada pemerintah.
93
ad 3. Periode Penjajahan Belanda (1816 1942)
Pada tahun 1816 Belanda kembali menguasai Indonesia. Pacht Stelsel
semakin berkembang, baik dalam arti perluasan wilayah maupun jumlahnya.
Akan tetapi ternyata para pachters (penerima gadai) banyak yang sewenang-

91
Ibid.
92
Rachmadi Usman, Op. cit., hal. 120.
93
Ketut Sethyon, Loc. cit., hal. 137.
Universitas Sumatera Utara

51
wenang dalam menetapkan bunga, tidak melelangkan barang-barang jaminan
yang sudah kadaluarsa, tidak membayar uang kelebihan kepada yang berhak.
94
Akibatnya pemerintah Belanda menerapkan apa yang disebut dengan
Cultuur Stelsel dimana dalam kajian tentang pegadaian saran yang
dikemukakan adalah sebaiknya kegiatan pegadaian ditangani sendiri oleh
pemerintah agar dapat memberikan perlindungan dan manfaat yang lebih besar
bagi masyarakat.
95
Maka dikeluarkanlah Stb. No. 794 Tahun 1915 dan Stb. No.
28 Tahun 1921. Maksud dikeluarkannya peraturan ini adalah untuk melarang
masyarakat umum memberi uang pinjaman dan melakukan usaha dengan cara
menerima gadai. Pegadaian Negara pertama kali didirikan pada tanggal 1 April
1901 di Sukabumi, J awa Barat dengan Stb. No. 131 Tahun 1901.
96
Tanggal
tersebut selanjutnya dijadikan tanggal kelahiran Pegadaian di Indonesia.
97
Pada
tanggal 12 Maret 1901 melalui Stb. No. 131 Tahun 1901 diadakan ketentuan
tentang J awatan Pegadaian di Sukabumi, J awa Barat. Selanjutnya diikuti
dengan didirikannya Pegadaian di Cianjur, Purworejo, Bogor, Tasikmalaya, dan
Bandung pada tahun 1902. Sampai dengan tahun 1917 semua Pegadaian di
J awa dan Madura sudah ditangani seluruhnya oleh Pemerintah dan Pegadaian
Negara yang dikuasai oleh pemerintah ini berkembang dengan baik.

94
Ibid.
95
Acien Harahap, hukum-gadai, www. blogspot.com, diakses 1 J uni 2010.
96
Rachmadi Usman, Loc. cit., hal. 120.
97
Subagyo, et al, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi
Ilmu Ekonomi YKPN, Yogyakarta, 2002, hal. 153.
Universitas Sumatera Utara

52
Menjelang akhir periode penjajahan, usaha gadai merupakan monopoli
pemerintah dengan status J awatan dalam lingkungan kantor besar keuangan.
Baru pada tahun 1903 berdasarkan Stb No. 266 Tahun 1930, Pegadaian Negara
tersebut diubah statusnya menjadi Perusahaan Negara, dimana harta kekayaan
Pegadaian Negara dipisahkan dari harta kekayaan Negara (Pemerintah).
98
ad 4. Periode Penjajahan J epang (1942 1965)
Pada periode penjajahan J epang, Pegadaian masih merupakan instansi
pemerintah dengan status J awatan Pimpinan dan Pengawasan Kantor Besar
Keuangan. Akan tetapi, pada periode ini lelang dihapuskan dan barang berharga
seperti emas, intan dan berlian di Pegadaian diambil oleh Pemerintah J epang.
99
ad 5. Periode Kemerdekaan
Perjuangan melawan penjajah sudah selesai. Penataan menyeluruh baik
ideologi, sistem kenegaraan maupun ekonomi terus diupayakan. Dalam
penataan ekonomi dimasa pembangunan sampai saat ini Pegadaian mengalami
beberapa perubahan status bentuk perusahaan yaitu:
a. Status Perusahaan Negara
Setelah Indonesia merdeka pada tanggal 3 Mei tahun 1961, status hukum
Pegadaian dari J awatan berubah menjadi Perusahaan Negara yang berada
dalam Lingkungan Kementerian Keuangan berdasarkan PP No. 178/1961
tentang Pendirian Perusahaan Pegadaian (Perusahaan Negara Pegadaian)

98
Ketut Sethyon, Loc. cit., hal. 137.
99
Rachmadi Usman, Loc. cit., hal. 120.
Universitas Sumatera Utara

53
sebagai pelaksana dari Undang-Undang Nomor 19/Prp/Tahun 1960 tentang
Perusahaan Negara. Dalam rangka melaksanakan Ekonomi Terpimpin, oleh
Presiden Soekarno pada tahun 1965, Perusahaan Negara Pegadaian ini
disatukan menjadi salah satu urusan dari Bank Sentral.
100

b. Status Perusahaan J awatan
Inpres No. 17/1976 diwujudkan dengan dikeluarkannya Perpu No. 1/1969
yang diundangkan dengan Undang-Undang No. 9/1969. Undang-Undang ini
mengatur bentuk usaha Negara menjadi 3 (tiga) bentuk yaitu Perjan, Perum,
dan Persero.
101
Sejalan dengan ketentuan dalam Undang-Undang tersebut
maka dikeluarkan PP No. 7/1969 yang mencabut PP Nomor 178/1961 dan
menyatakan mulai 1 Mei 1969 status Perusahaan Negara Pegadaian
ditetapkan menjadi Perusahaan J awatan Pegadaian.
c. Status Perusahaan Umum
Untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitasnya, sejak 10 April 1990
Perusahaan J awatan Pegadaian diubah bentuknya menjadi Perusahaan
Umum Pegadaian melalui PP No. 10/1990 tentang Pengalihan Bentuk
Perusahaan J awatan Pegadaian Menjadi Perusahaan Umum Pegadaian, yang
kemudian disempurnakan lagi dalam PP No. 103/2000 tentang Perusahaan
Umum Pegadaian. Dengan perubahan status tersebut dimulai babak baru
dalam meningkatkan pemerataan pembangunan, meningkatkan pendapatan

100
Ibid.
101
Ketut Sethyon, Loc. cit., hal. 137.
Universitas Sumatera Utara

54
dan kesejahteraan masyarakat dan mengentaskan kemiskinan. Dengan status
Perusahaan Umum, Pegadaian diharapkan akan lebih mampu mengelola
usahanya lebih profesional, bisnis oriented tanpa meninggalkan ciri khusus
dan misinya, yaitu penyaluran uang pinjaman atas dasar hukum gadai
dengan sangat sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia, karena
prosedurnya sederhana, mudah, serta pelayanan cepat.
102


2. Struktur Organisasi Kantor Cabang Medan Utama
Perum Pegadaian adalah salah satu BUMN dalam lingkungan Departemen
Keuangan yang dipimpin oleh Direksi yang bertanggung jawab kepada Menteri
Keuangan. Pegadaian mempunyai karakter-karakter khas yang digambarkan dalam
logo Pegadaian. Adapun makna yang terkandung dalam logo tersebut adalah:
1. Logo Gram atau lambang terdiri dari:
a. Pohon rindang warna hijau, melambangkan :
- Melindungi dan membantu.
- Senantiasa tumbuh dan berkembang.
- Warna hijau melambangkan keteduhan.
b. Timbangan warna hitam, melambangkan:
- Keseimbangan dan keterbatasan dalam memberi pelayanan.
- Kejujuran.

102
Rachmadi Usman, Op. cit., hal. 121.
Universitas Sumatera Utara

55
2. Tulisan Pegadaian berstruktur (dengan posisi) miring, bermakna:
- Sederhana : kepraktisan dan kemudahan.
- Dinamis : terus bergerak maju.
- Huruf balok : melambangkan keteguhan dan kekokohan.
Sebagai base line (garis dasar) logo Perum Pegadaian adalah Mengatasi
Masalah Tanpa Masalah, merupakan motto dan ciri utama pelayanan Lembaga
Pembiayaan Perum Pegadaian karena lembaga Pembiayaan Pegadaian merupakan
salah satu dari perusahaan pembiayaan/jasa yang ada dan mampu mengatasi masalah
keuangan dalam waktu yang relatif singkat.
Perum Pegadaian menetapkan etos kerja kepada setiap karyawan dalam
melakukan pekerjaan yang disebut INTAN yaitu:
Inovatif : Penuh gagasan, kreatif, aktif dan mempunyai
tantangan.
Nilai moral yang tinggi : Taqwa, jujur, berbudi luhur dan royal.
Terampil : Menguasai bidang pekerjaan, tanggap, cepat dan
akurat.
Adi Layanan : Sopan, ramah dan berkepribadian simpatik.
Nuansa Citra : Otoritas bisnis mengutamakan kepuasan pelanggan
dan berusaha mengembangkan diri.
Agar pelaksanaan si INTAN mampu membangkitkan semangat dan menjiwai
seluruh gerak langkah insan pegadaian, maka diimplementasikan dalam semboyan
141 yang diambil dari sejarah berdirinya pegadaian pada tanggal 1 April 1901. Arti
Universitas Sumatera Utara

56
dari semboyan 141 adalah dari nomor satu di J asa Gadai, dalam empat tahun
mendatang akan menjadi nomor satu di industri pembiayaan Mikro dan Kecil.
Dalam menjalankan tugas-tugasnya, Perum Pegadaian memiliki struktur
organisasi yang tertata menurut fungsi dan golongannya. Disetiap perubahan
mempunyai struktur organisasi untuk menggambarkan secara jelas unsur-unsur yang
membantu pimpinan dalam menjalankan kegiatan perusahaan.
103
Direksi sebagai
pemimpin perusahaan di pusat merupakan suatu kesatuan yang terdiri dari:
a. Direktur Utama sebagai ketua ;
b. Direktur Utama sebagai anggota ;
c. Direktur Operasi dan Pengembangan sebagai anggota ;
d. Direktur Keuangan sebagai anggota.
Kantor Pusat tempat kedudukan Pusat kegiatan administratif sedang Kantor
Daerah (KANDA) sebagai perpanjangan tangan Kantor Pusat dalam membawahi dan
mengawasi beberapa cabang di daerah dalam hal tugas Manajerial dan Administrasi
Perusahaan di daerah berdasarkan kebijaksanaan Direksi.
Dengan adanya struktur organisasi yang jelas dapat diketahui posisi, tugas
dan wewenang setiap departemen dan bagaimana hubungan antara satu dan lainnya.
Struktur organisasi pada Perum Pegadaian dapat dilihat sebagai berikut:

103
Wawancara dengan Lintong Panjaitan, Humas & Hukum Kanwil Perum Pegadaian
Medan, tanggal 23 J uni 2010.
Universitas Sumatera Utara

57
Gambar 1: Struktur Organisasi
Sumber: Pedoman Operasional Kantor Cabang Perum Pegadaian.

Fungsi dan tugas masing-masing bagian adalah :
1. Pimpinan wilayah
Fungsi :
Menjalankan kegiatan perusahaan diwilayah terutama dalam bidang operasional
serta membantu fungsi-fungsi kantor pusat sesuai dengan kewenangan yang
dilimpahkan direksi. Sedangkan fungsi lainnya adalah membantu dalam
menetapkan sewa modal, promosi produk yang ditawarkan dan juga mewakili
pusat dalam hal masalah hukum apabila jasa yang ditawarkan mendapat masalah.


Universitas Sumatera Utara

58
Tugas :
a. Rencana jangka panjang yaitu pembukuan kantor cabang dan juga
promosi jasa baru seperti kreasi dan krasida serta rencana anggaran
kantor wilayah.
b. Berusaha untuk mengembangkan usaha inti (jasa gadai), jasa lain
(kreasi,krasida, dan jasa titipan).
c. Mengamankan kekayaan perusahaan yang ada dikantor wilayah dan
kantor cabang dan laporan inspektur wilayah yang mengawasi ke kantor
cabang daerah.
d. Mengatur strategi bisnis dikantor cabang yang menjadi acuan bagi para
manager cabang dengan cara promosi yang luas kepada masyarakat baik
dengan papan reklame, mengurangi suku bunga/sewa modal.
e. Mengembangkan serta mengendalikan kegiatan evaluasi berkala terhadap
kinerja para manager cabang dan staf yaitu married system yang
maksudnya disini bahwa setiap bulan juni dan desember pimpinan
wilayah mendapatkan laporan dari kantor cabang.
104


2. Inspektur wilayah
Fungsi :
Memberikan penilaian atas sistem pengendalian dan pelaksanaan seluruh kegiatan
perusahaan, memberikan saran-saran dan mengatasi kantor wilayah dan kantor
cabang dalam menjalankan usahanya.
Tugas :
a. Mengawasi cabang-cabang serta memiliki jadwal rahasia dalam melakukan
pemeriksaan ke kantor cabang.
b. Menyusun laporan dan memberikan saran/rekomendasi hasil pemeriksaan
kepada atasan.
105

104
Wawancara dengan Lintong Panjaitan, Humas & Hukum Kanwil Perum Pegadaian
Medan, tanggal 23 J uni 2010.
105
Pedoman Operasional Kantor Cabang, Struktur Organisasi, Perum Pegadaian.
Universitas Sumatera Utara

59
3. Bagian Operasional/Pemasaran (OPP)
Fungsi :
Merencankan, mengkoordinasikan, menyelenggarakan dan mengendalikan
pelaksanaan kegiatan operasional dan pengembangan usaha inti, usaha lain dan
syariah serta melakukan pemasarannya. Setiap cabang memberikan laporan setiap
bulannya baik dari omzet setiap produk yang ada di Pegadaian sehingga bagian
pengembangan dapat membandingkan perkembangan, disetiap kantor cabang di
daerah baik itu dari usaha jasa gadai, jasa titipan, jasa taksiran.
106
Tugas :
a. Mengawasi kegiatan pembinaan operasional usaha inti dan usaha lain
serta usaha syariah dengan cara mengawasi setiap produk yang
ditawarkan baik itu promosi, omzet dan lain-lain.
b. Menyelesaikan masalah yang terjadi bila ada kesalahan laporan dari
cabang, misalnya adanya omzet yang kurang.
107


4. Asisten Manager Usaha Inti
Fungsi :
Merencanakan, mengkoordinasi, melaksanakan dan mengawasi pelaksanaan
kegiatan operasional usaha inti serta melakukan pemasarannya serta mengatur
semua kegiatan operasional dan pengembangan.
Tugas :
Dalam menjalankan tugasnya manager bekerjasama dengan staf pegawai dan juga
yang bekerja di cabang untuk pengembangan setiap produk yang ditawarkan agar

106
Ibid.
107
Wawancara dengan Lintong Panjaitan, Humas & Hukum Kanwil Perum Pegadaian
Medan, tanggal 23 J uni 2010.
Universitas Sumatera Utara

60
lebih lancar, contoh: setiap satu bulan sekali manager memberi laporan kepada
pimpinan wilayah lalu kebagian Operasional Pemasaran (OPP).
108
5. Asisten Manager Usaha Lain

Fungsi :
Merencanakan, mengkoordinasikan, melaksanakan dan mengatasi pelaksanaan
kegiatan operasional usaha lain serta melakukan pemasaran dan bekerjasama
dengan staf opersional pengembangan dan menjalankan usaha lain dan berusaha
untuk melakukan promosi kepada masyarakat.
Tugas :
Kegiatan promosi usaha lain, melakukan promosi dalam bentuk papan reklame,
surat kabar dan brosur.
6. Manager Keuangan
Fungsi :
Pembendaharaan serta akuntansi kantor wilayah. Manager keuangan menentukan
biaya yang keluar dengan persetujuan pimpinan wilayah.
Tugas :
a. Menyusun rencana kerja dan anggaran bagian keuangan yang meneliti
laporan dari cabang mengenai keuangan dan menentukan anggaran untuk
setiap satu bulan atau tiga bulan sekali.
b. Menyusun rencana jangka panjang dan kerja serta anggaran kantor
wilayah, mengalokasikan anggaran serta mengevaluasi realisasi anggaran
dan pelaporan agar penggunaan keuangan dapat terkendali secara efektif
dan efisien. Setiap kantor wilayah dan cabang harus memberikan laporan

108
Pedoman Operasional Kantor Cabang, Loc. Cit.
Universitas Sumatera Utara

61
sehingga penggunaan uang atas biaya-biaya yang dikeluarkan dapat
terkendali dengan baik.
109


7. Asisten Manager Pembendaharaan
Fungsi :
Merencanakan, mengkoordinasikan, melaksanakan dan mengawasi pengurus
pembendaharaan, penagihan dan perpajakan, dan menyusun rencana kerja, dan
anggaran kantor wilayah dan kantor cabang. Bekerjasama dengan para staf
keuangan dalam menjalankan fungsinya baik masalah pajak, listrik, telepon, dan
lainnya dan menyusun biaya-biaya yang harus dikeluarkan setiap bulannya selama
setahun kedepan.
110
Tugas :
a. Mengurus dan menyelesaikan piutang/hutang kantor wilayah dan kantor
cabang, dan menyelesaikan sehingga tidak ada masalah dikemudian hari.
b. Mengurus perpajakan, asuransi, dan iuran-iuran lainnya yang menjadi beban
kantor wilayah dan kantor cabang.
8. Asisten manager akuntansi
Fungsi :
Mengawasi verifikasi dokumen keuangan dan pembukuan serta penyajian laporan
keuangan kantor wilayah dan kantor cabang.

109
Ibid.
110
Ibid.
Universitas Sumatera Utara

62
Tugas :
a. Merencanakan dan melaksanakan rencana kerja dan anggaran sebagai
akuntansi seperti membuat laporan keuangan satu bukan sekali dan juga
laporan realisasi anggaran pendapatan dan biaya (cast basis bulan J uni
1998 triwulan).
b. Merencanakan dan melaksanakan pembukuan dan penyusunan laporan
keuangan dan verifikasi dokumen serta ketetapan kode perkiraan
pembukuan dan mengelompokannya.
112


9. Manager Sumber Daya Manusia
Fungsi :
Merencanakan, mengkoordinasi, menyelenggarakan dan mengendalikan
administrasi dan pengembangan serta kesejahteraan Sumber Daya Manusia (SDM)
dan bekerjasama dengan staf pegawai dalam melakukan beberapa hal diantaranya
pelatihan, diklat rekrutmen, promosi, mutasi, pensiun pegawai, pengangkatan dan
kenaikan gaji berkala, pemberian penghargaan dan hukuman.
Tugas :
a. Merencanakan, mengkoordinasikan, menyelenggarakan dan mengawasi urusan
diklat, promosi dan mutasi pada bulan J uni sebanyak 22 pegawai serta
mengawasi proses rekrutmen dan pemensiunan pegawai.
b. Merencanakan, mengkoordinasikan, melaksanakan, dan mengawasi urusan izin
perkawinan dan pencarian serta penindakan/sanksi disiplin dan sebelum itu
asisten manager SDM harus mengetahui pegawainya sudah menikah atau
belum.

112
Ibid.
Universitas Sumatera Utara

63
10. Asisten Manager Perusahaan
Fungsi :
Merencanakan, mengkoordinasikan, melaksanakan dan mengawasi proses
pembuatan daftar gaji dan tunjangan, asuransi pegawai, cuti, bantuan pembinaan
jasmani dan rohani, rekreasi, suatu perintah perjalanan dinas serta bantuan lainnya
untuk pegawai kantor wilyah dan kantor cabang.
Tugas :
a. Merencanakan, mengkoordinasikan, melaksanakan dan mengawasi
urusan asuransi pegawai, bantuan sosial, dan perjalanan dinas, uang
pesangon persiapan pensiun pegawai, pembinaan jasmani rohani dan
rekreasi serta bantuan lainnya dan bekerjasama dengan staf dalam
membuat akses.
b. Merencanakan, mengkoordinasikan, melaksanakan dan mengawasi
urusan cuti, dispensasi, jam kerja, lembur.
113


11. Manager Logistik
Fungsi dan Tugas :
Merencanakan, mengkoordinasikan, menyelenggarakan dan mengendalikan
kegiatan dan perlengkapan rumah tangga dan pengelolaan bangunan pada kantor
pusat dan kantor cabang dengan menjaga fasilitas yang dimiliki maupun perawatan
bangunannya agar perlengkapan rumah tangga tetap terawat.



113
Ibid.
Universitas Sumatera Utara

64
12. Asisten Manager Pelengkapan dan Rumah Tangga
Fungsi :
Merencanakan, mengkoordinasikan, melaksanakan dan mengawasi pelaksanaan
pengurusan tata usaha, kantor, kebutuhan rumah tangga, perlengkapan dan
keamanan serta kendaraan dinas.
Tugas :
Merencanakan, mengkoordinasikan, melaksanakan dan mengawasi kegiatan
investasi kantor serta mengusulkan penghapusannya dan membuat laporan dari
data dalam inventarisasi sarana kerja sehingga terjaga dan terkoordinasi.
13. Asisten Manager Bangunan
Fungsi :
Merencanakan, mengkoordinasikan, melaksanakan dan mengawasi pelaksanaan
pengurusan administrasi tanah, bangunan dan prasarananya, rencana bangunan,
membuat kalkulasi biaya dan pemeliharaan bangunan serta pengawasan
pelaksanaan pembangunan, perbaikan bangunan di kantor pusat dan kantor
cabang.
Tugas :
a. Merencanakan dan melaksanakan usulan rencana perbaikan bangunan dan
prasarana maka dibuat rencana biaya dan kepemimpinan wilayah.
b. Merencanakan, melaksanakan pengurus dan pemeliharaan bangunan, prasarana
dan rumah dinas untuk pejabat perusahaan.

Universitas Sumatera Utara

65
14. Humas dan Hukum
Fungsi :
Merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan kehumasan, prokol dan
hukum di kantor pusat dan kantor cabang.
Tugas :
a. Melakukan publikasi dan pelayanan informasi perkembangan perusahaan
serta kegiatan penyuluhan hukum melalui koran (press realease) serta
memberikan pelayanan kepada setiap masyarakat dan pihak-pihak yang
membutuhkan informasi.
b. Melaksanakan kegiatan kepustakaan serta evaluasi dan dokumentasi
hukum dengan mengumpulkan dan menyimpan buku-buku yang sesuai
dengan perusahaan dengan arsip.
c. Mendampingi/mewakili pimpinan dalam menangani masalah hukum.
114

15. Ahli Taksir
Fungsi :
Membantu pimpinan wilayah dalam merencanakan, melaksanakan dan
mengevaluasi pelaksanaan tugas sesuai dengan keahliannya dalam rangka
penilaian dan penyesuaian taksiran barang jasmani sesuai prosedur.
Tugas :
a. Melakukan evaluasi atas rata-rata taksiran/rata-rata uang pinjaman kantor
cabang dalam rangka taksiran dan uang pinjaman agar sesuai dengan
prosedur serta melakukan pengujian barang bukti sesuai dengan
permohonan instansi terkait dalam rangka penetapan nilai taksiran
barang.
b. Melakukan survei dan pengkajian Harga Pasar Setempat (HPS) atas
barang jaminan sesuai dengan ketentuan yang berlaku sebagai bahan
pedoman dalam penempatan taksiran.
115

114
Wawancara dengan Lintong Panjaitan, Humas & Hukum Kanwil Perum Pegadaian
Medan, tanggal 23 J uni 2010.
115
Pedoman Operasional Kantor Cabang, Struktur Organisasi, Perum Pegadaian.
Universitas Sumatera Utara

66

16. Fungsional Teknologi Informasi
Fungsi :
Melakukan pemeliharaan dan pengamanan database, perangkat lunak, jaringan dan
teknis perangkat lunak dan melakukan pemeliharaan dan perawatan database (data
pegawai yang ada komputer).
Tugas :
Merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi rencana kerja dan anggaran
fungsional dan teknologi informasi dengan memberikan masukan dan usulan
kepada pusat teknologi informasi yang terkait dengan pengembangan dan
perbaikan penggunaan data perusahaan dan kehandalan aplikasi beserta
infrastruktur sistem manager cabang atas pelaksanaan pengoperasian data dan
sistem aplikasi kantor cabang dalam pembukuan kantor wilayah.
116
Selain yang tersebut diatas, terdapat juga bagian-bagian lain yang juga
mempunyai peranan khusunya dalam pelayanan secara langsung kepada masyarakat
(debitur) yaitu:
1. Kasir
Tugas :
Melakukan tugas penerimaan dan pembayaran sesuai dengan ketentuan yang
berlaku untuk kelancaran pelaksanaan operasional Kantor Cabang.
Rincian tugas/pelaksanaan tugas :

116
Wawancara dengan Lintong Panjaitan, Humas & Hukum Kanwil Perum Pegadaian
Medan, tanggal 23 J uni 2010.
Universitas Sumatera Utara

67
a. Menyiapkan peralatan dan perlengkapan kerja.
b. Menyiapkan bahan dan perlengkapan kerja.
c. Menandatangani buku penyerahan alat-alat kerja.
d. Menerima modal kerja harian dari atasan sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
e. Menerima dan menghitung modal kerja.
f. Mencocokkan dan menandatangani Buku Serah Terima Uang.
g. Menyiapkan uang kecil untuk kelancaran tugas.
h. Melaksanakan penerimaan pelunasan uang pinjaman dari nasabah.
i. Penerimaan dari transfer.
j. Penerimaan dari hasil penjualan lelang.
k. Penerimaan lain-lain, meliputi:
- Menerima bukti pendukung dari penyetor atau pihak luar untuk setiap
penerimaan lain-lain.
- Mencatat penerimaan tersebut kedalam laporan harian kas.
- Semua penerimaan harus berupa uang tunai dan disimpan dalam brangkas
kasir.
l. Menyerahkan bukti pendukung kepada bagian administrasi.
m. Melaksanakan pembayaran untuk pinjaman kredit.
n. Pembayaran pengeluaran lain-lain dengan langkah-langkah pembayaran
sebagai berikut :
- Menerima bukti-bukti pembayaran berupa kuitansi bon dan bukti-bukti
lainnya yang sah yang telah disetujui Kepala Kantor Cabang.
- Mencatat kedalam laporan harian kas.
- Pembayaran uang kelebihan.
o. Pembayaran pinjaman pegawai dengan langkah-langkah sebagai berikut :
- Menerima Formulir Pinjaman Pegawai (FP) yang telah ditandatangani
oleh Kepala Cabang atau pejabat yang berwenang.
- Menyiapkan pembayaran dan memberi cap lunas pada Formulir Pinjaman
Pegawai.
117


2. Pemegang Gudang
Tugas :
Melakukan pemeriksaan, penyimpanan dan pengeluaran barang jaminan selain
barang kantong sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam rangka ketertiban dan
keamanan serta keutuhan barang jaminan.

117
Esther Milion, Op. Cit., hal. 59.
Universitas Sumatera Utara

68
Rincian Tugas/Pelaksanaan Tugas :

a. Secara berkala memeriksa keadaan gudang penyimpanan barang jaminan
selain barang kantong sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk
menjamin keamanan dan keutuhan barang jaminan.
b. Menerima barang jaminan selain barang kantong dari Kepala Subseksi
Operasi atau Wakil Kepala Cabang atau Kepala Cabang sesuai ketentuan
yang berlaku untuk disimpan dalam gudang penyimpanan barang
jaminan.
c. Mengelompokkan barang jaminan sesuai dengan rubrik dan bulan
kreditnya, menyusunnya sesuai dengan urutan nomor SBK, mengatur
penyimpanannya agar terlihat rapi dan memudahkan dalam menghitung
atau memindahkannya.
d. Merawat, memelihara, membersihkan barang jaminan dari debu, air dan
kotoran lainnya agar barang jaminan tetap dalam keadaan baik dan aman.
e. Mengeluarkan barang jaminan dari gudang penyimpanan untuk keperluan
penebusan, pemeriksaan oleh atasan atau keperluan lain.
f. Melapokan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas pekerjaan dalam
rangka serah terima jabatan.
g. Mencatat dan mengadministrasikan mutasi (penambahan/pengurangan)
barang jaminan yang menjadi tanggungjawabnya.
118


3. Penyimpanan Barang J aminan
Tugas Pokok adalah :
Mengelola gudang barang jaminan emas dengan menerima, menyimpan, merawat,
mengeluarkan dan mengadministrasikan barang jaminan sesuai dengan ketentuan
yang berlaku dalam rangka mengamankan serta menjaga keutuhan barang
nasabah.
Rincian Tugas/Pelaksanaan Tugas :
a. Secara berkala memeriksa keadaan gudang penyimpanan barang jaminan
emas sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka keamanan dan
keutuhan barang jaminan untuk serah terima jabatan.
b. Menerima barang jaminan emas dan perhiasan dari Kepala Subseksi
Operasi atau Wakil Kepala Cabang atau Kepala Cabang sesuai dengan

118
Ibid.
Universitas Sumatera Utara

69
ketentuan yang berlaku untuk disimpan dalam gudang penyimpanan
barang jaminan emas.
c. Mengeluarkan barang jaminan emas dan perhiasan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku untuk keperluan pelunasan, pemeriksaan atasan
dan pihak lain.
d. Merawat barang jaminan dan gudang penyimpanan agar barang jaminan
dalam keadaan baik dan aman.
e. Mencatat mutasi penerimaan/pengeluaran barang jaminan yang menjadi
tanggungjawabnya.
119


4. Penulis Surat Bukti Kredit
Tugas :
Memasukkan data nasabah, taksiran, dan uang pinjaman ke dalam SBK dari kartu
taksasi/formulir permintaan kredit secara akurat.
Rincian Tugas/Pelaksanaan Tugas :
a. Menerima barang jaminan dan kartu taksasi dari KPK.
b. Memasukkan data nasabah, barang jaminan, taksiran dan uang pinjaman
ke dalam komputer.
c. Memberi nomor pada kartu taksasi sesuai dengan nomor yang diterbitkan
komputer.
d. Memasukkan data bukti ke kas debet/kredit yang telah dikeluarkan atau
diterima oleh kasir.
e. Menerbitkan hasil cetak transaksi barang jaminan dan saldo kas.
f. Membuat file dwilipat SBK dan SBK tebusan yang telah diperiksa oleh
Subseksi Operasi dan menyimpannya.
120



3. Kegiatan Usaha Perum Pegadaian
Perum Pegadaian mempunyai tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat sekaligus memupuk keuntungan melalui pemberian pinjaman skala
mikro, kecil, dan menengah serta melaksanakan usaha lainnya berdasarkan ketentuan

119
Wawancara dengan Lintong Panjaitan, Humas & Hukum Kanwil Perum Pegadaian
Medan, tanggal 23 J uni 2010.
120
Esther Milion, Op. cit., hal. 59.
Universitas Sumatera Utara

70
dan perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan tujuan tersebut, Pegadaian
menyelenggarakan kegiatan usaha sebagai berikut:
1. Pemberian pinjaman atas dasar hukum gadai.
2. Pemberian pinjaman atas dasar hukum yang menerapkan prinsip-prinsip fidusia
3. Menjalankan usaha lainnya yang menunjang terwujudnya misi dan visi
perusahaan.
121

Perum pegadaian memiliki beraneka ragam kegiatan usaha dan produk untuk
memenuhi beraneka ragam permintaan pelayanan usaha gadai untuk masyarakat,
diantaranya adalah:
a. Kredit Cepat Aman (KCA)
KCA merupakan produk unggulan pegadaian, dan paling banyak diminati
oleh masyarakat. Kredit KCA adalah pinjaman berdasarkan hukum gadai dengan
prosedur pelayanan yang mudah, aman dan cepat. Melalui KCA ini Pemerintah
berupaya untuk melindungi rakyat kecil yang tidak memiliki akses ke dalam
perbankan. Dengan demikian, masyarakat dapat terhindar dari praktek pemberian
uang pinjaman dengan pengembalian atau bunga yang tidak wajar.
KCA merupakan pemberian kredit jangka pendek dengan pemberian
pinjaman mulai dari Rp. 20.000,- sampai dengan Rp. 200.000,-. J aminan yang
diberikan berupa benda bergerak, baik barang perhiasan emas dan berlian,
elektronik, maupun alat rumah tangga lainnya. J angka waktu kredit maksimum 4

121
Wawancara dengan Lintong Panjaitan, Humas & Hukum Kanwil Perum Pegadaian
Medan, tanggal 23 J uni 2010.
Universitas Sumatera Utara

71
bulan atau 120 hari dan dapat diperpanjang dengan cara hanya membayar sewa
modal dan biaya administrasinya saja.
122
b. KRISTA (Kredit Usaha Rumah Tangga)
Kredit Usaha Rumah Tangga ini bertujuan untuk membantu mengembangkan
Usaha Rumah Tangga, serta mensejahterakan masyarakat, ini merupakan suatu
misi yang diemban Pegadaian sebagai sebuah BUMN. Pegadaian selalu berusaha
membantu perkembangan usaha produktif, Usaha Rumah Tangga melalui
pemberian berbagai fasilitas kredit yang cepat, mudah dan murah.
Adapun keunggulan dari produk ini adalah sebagai berikut :
- Prosedur pengajuannya sangat mudah.
- Pelayanan mudah, cepat dan aman.
- Proses kurang lebih hanya 3 (tiga) hari.
- Pinjaman sampai dengan Rp. 3.000.000,-
- Pinjaman dapat diangsur sampai 36 bulan dengan jumlah angsuran tetap.
123


c. KREASI (Kredit Angsuran Sistem Fidusia)
KREASI bertujuan untuk membantu mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan
Menengah (UMKM) serta mensejahterakan masyarakat, yang merupakan salah
satu misi yang diemban Pegadaian sebagai BUMN.
Adapun keunggulan dari produk ini adalah sebagai berikut :
- Prosedur pengajuannya sederhana, mudah dan cepat.
- Dalam tempo 3 hari kredit sudah bisa cair.
- KREASI dapat diperoleh di kantor cabang diseluruh Indonesia.
- J angka waktu pinjaman fleksibel, mulai dari 12 bulan, 18 bulan, 24 bulan,
ataupun 36 bulan.
- Sewa Modal (bunga pinjaman) relatif murah, hanya 0,9 % per bulan, flat.

122
Portal Perum Pegadaian, Bersama Kerabat Menggapai Cita, www.pegadaian.co.id,
diakses 8 Juni 2010.
123
Ibid.
Universitas Sumatera Utara

72
- Agunan BPKB kendaraan bermotor (mobil plat kuning/hitam, serta sepeda
motor) sehingga kendaraan dapat tetap dipergunakan untuk mendukung
operasional usaha.
- Pelunasan kredit dilakukan dengan angsuran setiap bulan.
Pelunasan sekaligus dapat dilakukan sewaktu-waktu dengan pemberian
diskon untuk sewa modal.
124

d. KRASIDA (Kredit Angsuran Sistem Gadai)
KRASIDA merupakan pemberian pinjaman kepada para pengusaha Mikro
dan Kecil (dalam rangka pegembangan usaha) atas dasar gadai dengan
pengembalian pinjaman dilakukan melalui mekanisme angsuran.
Adapun keunggulan dari produk ini adalah sebagai berikut :
- Proses mudah dan pengajuan kredit sudah bisa cair dalam waktu yang relatif
cepat, biasanya dalam jangka waktu 2-7 hari.
- Fleksibel dalam menentukan jangka waktu pinjaman, mulai dari 12 bulan, 24
bulan, ataupun 36 bulan.
- Sewa modal yang relatif murah hanya 0,9% per bulan flat, atau 11,8% per
tahun.
- Agunan berupa perhiasan hanya emas.
- Pinjaman bisa mencapai 95%dari nilai taksiran agunan.
- Pelunasan kredit dilakukan dengan cara mengangsur setiap bulannya dengan
jumlah angsuran tetap.
- Didukung oleh staf yang berpengalaman serta ramah tamah dan santun
dalam memberikan pelayanan.
- Pelunasan sekaligus dapat dilakukan sewaktu-waktu dengan pemberian
diskon sewa modal.
125


e. ARRUM (Ar-Rahn Untuk Usaha Mikro Kecil)
ARRUM ditujukan bagi pengusaha mikro kecil, ARRUM merupakan
pembiayaan untuk pengembangan usaha dengan berprinsip syariah.

124
Ibid.
125
Ibid.
Universitas Sumatera Utara

73
Adapun keunggulan produk ini adalah sebagai berikut :
- Persyaratan yang mudah, proses yang cepat kurang lebih 3 hari, dan biaya-
biaya yang kompetitif dan relatif murah.
- J angka waktu pembiayaan yang fleksibel, mulai dari 12 bulan, 18 bulan, 24
bulan, hingga 36 bulan.
- J aminan berupa BPKB kendaraan bermotor (mobil maupun motor) sehingga
fisik kendaraan masih tetap berada di tangan nasabah untuk kebutuhan
operasional usaha.
- Nilai pembiayaan dapat mencapai hingga 70% dari nilai taksiran agunan.
- Pelunasan dilakukan secara angsuran setiap bulannya dengan jumlah tetap.
- Pelunasan sekaligus dapat dilakukan sewaktu-waktu dengan pemberian
diskon ijaroh.
- Didukung oleh staf yang berpengalaman serta ramah dan santun dalam
memberikan pelayanan.
126


f. Ar-rahn (Gadai Syariah)
RAHN merupakan produk jasa gadai yang berlandaskan pada prinsip-prinsip
Syariah, dimana nasabah hanya akan dipungut biaya administrasi dan Ijaroh (biaya
jasa simpan dan pemeliharaan barang jaminan).
Pegadaian Syariah menjawab kebutuhan transaksi gadai sesuai Syariah, untuk
solusi pendanaan yang Cepat, Praktis, dan Menentramkan.
Adapun keunggulan produk ini adalah sebagai berikut :
- Cepat : Hanya 15 menit kebutuhan dana Anda akan terpenuhi
- Praktis : Tidak perlu membuka rekening ataupun prosedur lain yang
memberatkan. Nasabah cukup membawa barang-barang
berharga miliknya, saat itu juga akan mendapatkan dana yang
dibutuhkan dengan jangka waktu hingga 120 hari dan dapat
melunasi sewaktu-waktu. J ika masa jatuh tempo tiba dan

126
Ibid.
Universitas Sumatera Utara

74
nasabah masih memerlukan dana pinjaman tersebut, maka
pinjaman dapat diperpanjang hanya dengan membayar sewa
simpan dan pemeliharaan serta biaya administrasi.
- Menentramkan : Sumber dana pegadaian berasal dari sumber yang sesuai
dengan syariah, proses gadai berlandaskan prinsip syariah,
serta didukumg oleh petugas-petugas dan outlet dengan
nuansa Islami sehingga lebih syari dan menentramkan.
127

g. Mulia
Logam mulia atau emas mempunyai berbagai aspek yang menyentuh kebutuhan
manusia disamping memiliki nilai estetis yang tinggi juga merupakan jenis investasi
yang nilainya stabil, likuid, dan aman secara riil.
Mulia (Murabahah Logam Mulia untuk Investasi Abadi) adalah penjualan
logam Mulia oleh Pegadaian kepada masyarakat secara tunai, dan agunan dengan
jangka waktu Fleksibel. Akad Murabahah Logam Mulia untuk Investasi Abadi. Abadi
adalah persetujuan atau kesepakatan yang dibuat bersama antara Pegadaian dan
nasabah atas sejumlah pembelian logam mulia disertai keuntungan dan biaya-biaya
yang disepakati.
128
Adapun keunggulan produk ini adalah sebagai jembatan mewujudkan niat
mulia nasabah untuk :

127
Ibid.
128
Ibid.
Universitas Sumatera Utara

75
- Menabung logam mulia untuk menunaikan Ibadah Haji.
- Mempersiapkan biaya pendidikan anak di masa mendatang
- Memiliki tempat tinggal dan kendaraan.
129

h. J asa Taksiran
J asa Taksiran adalah suatu pelayanan kepada masyarakat yang peduli akan
harga atau nilai harta benda miliknya. Dengan biaya yang relatif ringan, masyarakat
dapat mengetahui dengan pasti tentang nilai atau kualitas suatu barang miliknya
setelah lebih dulu diperiksa dan ditaksir oleh juru taksir berpengalaman.
130
Kepastian nilai atau kualitas suatu barang. Misalnya kualitas emas atau batu
permata, dapat memberikan rasa aman dan rasa lebih pasti bahwa barang tersebut
benar-benar mempunyai nilai investasi yang tinggi.
i. J asa Titipan
Dalam dunia perbankan, layanan ini dikenal sebagai safe deposit box. Harta dan
surat berharga perlu dijaga keamanannya agar tidak sampai hilang, rusak atau
disalahgunakan orang lain. Tetapi ternyata tidak selamanya barang dan surat berharga
itu aman di tangan sendiri. J angka waktu penitipan dua minggu sampai dengan satu
tahun dan dapat diperpanjang. Pegadaian akan menjaga dan melindungi dengan
penuh perhatian.
131

129
Wawancara dengan Lintong Panjaitan, Humas & Hukum Kanwil Perum Pegadaian
Medan, tanggal 9 J uni 2010.
130
Portal Perum Pegadaian, Loc., Cit.
131
Ibid.
Universitas Sumatera Utara

76
C. Peraturan Parate Eksekusi dalam Perjanjian Gadai di Perum Pegadaian
Kota Medan
Istilah parate eksekusi pada prakteknya di kenal dengan istilah lelang,
132
menurut Pedoman Operasional Kantor Cabang Perum Pegadaian, Lelang adalah
upaya pengembalian uang pinjaman beserta sewa modal, yang tidak dilunasi sampai
batas waktu yang ditentukan. Usaha ini dilakukan dengan penjualan barang jaminan
tersebut kepada umum pada waktu yang telah ditentukan.
Pelelangan ataupun eksekusi barang gadai dalam Perum Pegadaian secara
umum berdasarkan pada Pasal 1155 KUHPerdata dan secara khusus diatur tersendiri
dalam peraturan Perum Pegadaian. Di dalam Pasal 1155 (1) KUHPerdata disebutkan:
Apabila oleh para pihak tidak telah diperjanjikan lain, maka si berpiutang
adalah berhak jika si berutang atau si pemberi gadai bercedera janji, setelah
tenggang waktu yang ditentukan lampau, atau jika tidak telah ditentukan
suatu tenggang waktu, setelah dilakukannya suatu peringatan untuk
membayar, menyuruh menjual barang gadainya di muka umum menurut
kebiasaan-kebiasaan setempat serta atas syarat-syarat yang lazim berlaku,
dengan maksud untuk mengambil pelunasan jumlah piutangnya beserta
bunga dan biaya dari pendapatan penjualan tersebut.

Berdasarkan Pasal 1155 KUHPerdata tersebut diatas dapat dilihat beberapa
ketentuan bahwa : Pasal 1155 KUHPerdata merupakan ketentuan yang bersifat
menambah (annvullend-recht), karena para pihak bebas menetapkan lain. Dalam hal
para pihak tidak menyimpangi ketentuan tersebut, maka barulah Pasal 1155
KUHPerdata berlaku ; jika si berhutang atau pemberi gadai wanprestasi, maka

132
Wawancara dengan Lintong Panjaitan, Humas & Hukum Kanwil Perum Pegadaian Medan,
tanggal 23 J uni 2010, Anhar, Kacab Perum Pegadaian Simpang Limun, tanggal 24 Juni 2010.
Universitas Sumatera Utara

77
penerima gadai berhak untuk menjual barang gadai didepan umum menurut
kebiasaan dan syarat-syarat setempat.
133
Hak ini diperoleh kreditur, kalau debitur
atau pemberi gadai sudah wanprestasi. Sejak saat debitur atau pemberi gadai
wanprestasi, lahirlah hak tersebut ; hak ini diberikan oleh undang-undang, tidak perlu
diperjanjikan; untuk penjualan tersebut tidak diisyaratkan adanya title eksekutorial.
134

Pemegang gadai melaksanakan penjualan tanpa perantara pengadilan, tanpa perlu
minta bantuan juru sita, tanpa perlu mendahuluinya dengan sitaan. Pemegang gadai
disini menjual atas kekuasaan sendiri. Hak pemegang gadai untuk menjual barang
gadai tanpa title eksekutorial disebut Parate Eksekusi. Karena ia tidak perlu suatu title
eksekutorial, tanpa perlu perantaraan pengadilan, tanpa butuh bantuan juru sita, maka
seakan-akan hak eksekusi selalu siap di tangan pemegang gadai dan karenanya di
sebut Parate Eksekusi.
135
Adapun hukum gadai yang berlaku di lingkungan Perum Pegadaian adalah
Pandhuis Reglement (Aturan Dasar Pegadaian /ADP), Stb No. 81/1982 dan Hukum
Indonesia.

133
Dalam hal ini pemegang gadai (orang perorangan) juga memiliki hak untuk melakukan
parate eksekusi, hal ini sesuai dengan ketentuan pasal 1155 yang menjadi dasar hukum parate eksekusi
dalam perjanjian gadai. Seperti yang diketahui Eksekusi (pelaksanaan dari putusan) dapat dilakukan
dengan cara : melalui proses beracara (melalui pengadilan), tidak perlu melalui proses beracara (parate
eksekusi), melalui penyitaan ,cukup dengan akta yang sudah mewakili sebuah putusan dari pengadilan.
134
Hak mengeksekusi yang mempunyai kekuatan hukum tetap atau sama seperti keputusan
hakim.
135
J . Satrio., 2002, Op. cit., hal. 121-122.
Universitas Sumatera Utara

78
KUHPerdata Buku II Bab XIX tentang gadai dapat juga dipergunakan
sepanjang terdapat kekosongan di dalam ADP. Di samping itu juga
KUHPerdata Buku III tentang perjanjian pinjam mengganti (perjanjian pinjam
uang) Bab XIII berlaku untuk perjanjian pinjam uang/kredit yang dilakukan
oleh Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian.
136

Selanjutnya pedoman dalam pelaksanaan tugas-tugas operasional bagi kantor
cabang Perum Pegadaian, berlaku Keputusan Direksi Perum Pegadaian Nomor:
Opp.2/67/5 tentang Pedoman Operasional Kantor Cabang Perum Pegadaian.
137
Dan
diatur pula didalam Surat Edaran Direksi Perum Pegadaian No.48/Op1.00211/2003.
J adi, selain berkiblat pada KUHPerdata Perum Pegadaian juga mempunyai peraturan
tersendiri dalam menjalankan tugasnya tidak terkecuali masalah parate eksekusi atau
lelang.
Parate eksekusi selain diatur di dalam peraturan-peraturan yang tersebut diatas
juga telah disebutkan dengan jelas di dalam Surat Bukti Kredit tentang Perjanjian
Kredit pada poin 5 antara Perum Pegadaian dengan nasabah (debitur), adapun isinya
antara lain:
1. Tarif Sewa Modal % per 15 hari dan maksimum % 1 hari s/d 15 hari
dihitung 15 hari.
2. Sewa Modal dihitung sejak tanggal kredit sampai dengan tanggal
pelunasan, hasilnya dibulatkan ke atas dengan kelipatan Rp.100,-
3. J angka Waktu Kredit maksimum 120 hari (4 bulan) dan dapat diperbaharui.
Pelunasan/perbaharui kredit setelah tanggal jatuh tempo sampai dengan
tanggal lelang dikenakan denda sesuai ketentuan yang berlaku.
4. Permintaan atau perbaharui kredit dikenakan Biaya Administrasi sebesar
Rp..

136
Mariam Darus Badrulzaman, Op. cit., hal. 166
137
Muhammad Syukron Yamin Lubis, Op. cit., hal. 30.
Universitas Sumatera Utara

79
5. J ika sampai dengan tanggal jatuh tempo pinjaman tidak
dilunasi/diperbaharui, maka Barang J aminan akan dilelang tanggal
:
6. Mintalah bukti setiap melakukan pembayaran.
7. SBK ini tidak untuk diperjualbelikan, dan jika SBK hilang segera laporkan
kepada kami, jika tidak dilaporkan risiko ditanggung nasabah.
138


Pada prinsipnya jangka waktu gadai adalah, minimal 15 hari dan maksimum
120 hari, sesuai dengan Surat Edaran Direksi Perum Pegadaian Nomor:
SE.16/Op.1.00211/2001 tentang petunjuk Pelaksanaan SK Direksi Nomor:
020/Op.1.00211/01.
139
J ika lewat dari batas waktu yang telah ditentukan, dan telah
diberitahukan sebelumnya tentang batas waktu jatuh tempo kepada nasabah, namun
tetap tidak dihiraukan maka Perum Pegadaian berhak untuk melakukan pelelangan
terhadap barang gadai.
Sistem lelang dalam perjanjian gadai di Perum Pegadaian berbeda dengan
sistem lelang dalam fidusia, hipotik,dan hak tanggungan. Dalam gadai dikenal istilah
Parate Eksekusi, yaitu wewenang yang diberikan kepada kreditur untuk mengambil
pelunasan piutang dari kekayaan debitur tanpa harus melalui putusan pengadilan.
Dapat dilihat dengan adanya 2 (dua) cara di dalam KUHPerdata pada Pasal 1155-
1156 tentang penyelesaian masalah jika debitur wanprestasi, yaitu melalui parate
eksekusi (eksekusi langsung) atau melalui putusan pengadilan. Pada prakteknya
parate eksekusi yang lebih sering digunakan. Karena dianggap lebih mudah, murah,
dan tidak melalui proses yang berbelit-belit. Namun apabila tidak bisa diselesaikan

138
Surat Bukti Kredit (SBK), Perum Pegadaian.
139
Salim HS., Loc. cit., hal. 49.
Universitas Sumatera Utara

80
melalui parate eksekusi maka dapat dilakukan melalui putusan pengadilan seperti
yang tercantum dalam Pasal 1156 :
Bagaimanapun, apabila si berutang atau si pemberi gadai bercedera janji, si
berpiutang dapat menuntut di muka Hakim supaya barang gadainya dijual
menurut cara yang ditentukan oleh Hakim untuk melunasi utang beserta bunga
dan biaya, ataupun Hakim, atas tuntutan si berpiutang, dapat mengabulkan
bahwa barang gadainya akan tetap pada si berpiutang untuk suatu jumlah yang
akan ditetapkan dalam putusan hingga sebesar utangnya beserta bunga dan
biaya.

J adi dapat dikatakan bahwa di dalam KUHPerdata penyelesaian yang
dianjurkan dalam perjanjian gadai adalah melalui parate eksekusi, sedangkan melalui
pengadilan merupakan pilihan kedua bila tidak tercapai kesepakatan diantara kedua
belah pihak, dan tidak bisa diselesaikan secara musyawarah.
Perum Pegadaian merupakan satu-satunya badan hukum di Indonesia yang
ditunjuk untuk mengelola lembaga gadai. Sejak terjadinya perjanjian gadai antara
pemberi gadai dengan penerima gadai, maka sejak saat itulah timbul hak dan
kewajiban para pihak. Adapun kewajiban pemberi gadai adalah membayar pokok
pinjaman dan bunga sesuai dengan yang ditentukan oleh penerima gadai yang dalam
hal ini adalah Perum Pegadaian. Didalam Surat Bukti Kredit (SBK) telah ditentukan
tanggal mulainya kredit dan tanggal jatuh temponya atau tanggal pengembalian
kredit.
Istilah dan pengaturan parate eksekusi dalam gadai terdapat di dalam
KUHPerdata pada Pasal 1155. Mengenai parate eksekusi pada lingkungan Perum
Pegadaian, sebenarnya terdapat dan tercantum di dalam perjanjian gadai, yaitu pada
Surat Bukti Kredit tentang Perjanjian Kredit. Yang menjelaskan secara jelas
Universitas Sumatera Utara

81
mengenai tarif sewa modal, jangka waktu kredit, tanggal jatuh tempo,dan tanggal
pelelangan, hanya saja penjelasannya tidak terlalu terperinci, karena hanya
menyebutkan tanggalnya saja. Sedangkan pengaturan lebih lanjut terdapat pada
Opp.2/67/5 tentang Pedoman Operasional Kantor Cabang Perum Pegadaian dan Surat
Edaran Direksi Perum Pegadaian No.48/Op1.00211/2003 tentang Lelang Barang
jaminan.
Universitas Sumatera Utara