Anda di halaman 1dari 84

LAPORAN KERJA PRAKTEK

Studi Proses Pengolahan Limbah


PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara yang sangat kaya akan hasil laut. Umumnya hasil laut

tersebut dikonsumsi dalam bentuk segar ataupun olahan. Berbagai macam jenis olahan hasil laut
dapat dijumpai di berbagai wilayah di Indonesia. Industri olahan yang ada di Indonesia
umumnya masih konvensional atau miniplan dimana lokasi industri masih berdekatan dengan
tempat penangkapan ikan sebagai tempat penyediaan sumber bahan baku olahan.
Banyaknya jumlah air yang digunakan menyebabkan besarnya jumlah limbah cair yang
dihasilkan. Limbah cair tersebut dapat berasal dari proses pencucian ikan dan peralatan produksi.
Limbah industri perikanan jika tidak dikelola akan menimbulkan bau yang menyengat karena
proses pembusukan protein dan juga dapat menjadi sumber penyakit. Pengolahan limbah tersebut
haruslah tepat sehingga limbah tersebut aman saat dibuang ke lingkungan.
Dampak yang ditimbulkan limbah cair maupun padat bagi lingkungan dan juga sektor
industri adalah sangat penting sehingga perlu dipahami dasar dasar tekhnologi pengolahan
limbahnya. Tekhnologi pengolahan limbah adalah kunci dalam memelihara kelestarian
lingkungan. Adapun macam teknologi pengolahan air limbah domestik maupun agroindustri
yang dibangun harus dapat dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat sekitar.
1.2

Manfaat dan Tujuan


Maksud dan tujuan kerja praktek di PT. Kelola Mina Laut, Gresik adalah bertujuan untuk

mempelajari proses pengolahan limbah di PT. Kelola Mina Laut, Gresik dan mempelajari
efektifitas, kuantitas, dan kualitas limbah di PT. Kelola Mina Laut, Gresik.
1.3

Materi yang Dipelajari


Dalam kesempatan kerja praktek kami mengetahui proses-proses industri dan manajerial

yang terdapat di PT. Kelola Mina Laut, Gresik. Adapun materi yang kami dapat dan kami
pelajari antara lain:

Profil perusahaan, yang berkaitan dengan sejarah dan manajerial.


1

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur

Proses produksi unit ikan PT. Kelola Mina Laut

Proses pengolahan limbah industri makanan hasil laut PT. Kelola Mina Laut, Gresik,
seperti diantaranya:
o Karakteristik limbah yang dihasilkan selama proses pengolahan .
o Upaya minimisasi dari pengeluaran limbahyang dihasilkan oleh unit proses dan
operasi pengolahan makanan hasil laut.
o Pengaruh pembubuhan bahan kimia dan bahan pendukung lain serta proses yang
terjadi selama pengolahan limbah.
o Kualitas dan kuantitas limbah yang dihasilkan dari unit operasi dan proses
pengolahan makanan hasil laut.
o Aplikasi produksi bersih dan sistem manajemen lingkungan ISO:14001 yang
diterapkan pada pengolahan limbah PT. Kelola Mina Laut, Gresik.
o Diagram alir proses pengolahan limbah.
o Unit operasi dan proses yang diterapkan dalam pengolahan limbah.

Pemeliharaan unit operasi dan proses pengolahan limbah.

Uji laboratorium yang dilakukan sebagai pengontrol pengolahan limbahPT. Kelola Mina
Laut, Gresik

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pengolahan limbah dengan memanfaatkan teknologi pengolahan dapat dilakukan
dengan cara fisika, kimia, dan biologis atau gabungan ketiga sistem pengolahan tersebut.
Pengolahan limbah cara biologis digolongkan menjadi pengolahan cara aerob dan anaerob.
Berdasarkan sistem unit operasinya teknologi pengolahan limbah diklasifikasikan menjadi
unit operasi fisik, unit operasi kimia dan unit operasi biologi. Sedangkan bila dilihat dari
tingkatan perlakuan pengolahan maka system pengolahan limbah diklasifikasikan menjadi :
pretreatment, primary treatment system, secondary treatment system, tertiary treatment system
(Ginting, 2007).
Menurut Wardhana (2001), semua kegitan industri dan teknologi selalu akan
menghasilkan limbah yang menimbulkan masalah bagi lingkungan. Pengolahan limbah dari
bahan buangan industri dan teknologi dimaksudkan untuk mengurangi pencemaran lingkungan.
Cara pengolahan limbah ini sering disebut Waste Treatment atau Waste Management. Cara
mengelola limbah industri dan teknologi tergantung pada sifat dan kandungan limbah serta
tergantung pula pada rencana pembuangan olahan limbah secara permanen.
Pengolahan Awal (Primary Waste Treatment)
Semua bahan buangan industri ditampung pada suatu tempat. Pada proses penampungan
ini sekaligus dipisahkan antara bahan buangan organik dan bahan anorganik. Pada tahap ini juga
dilakukan pemisahan bahan buangan yang masih bias didaur ulang dan bahan buangan yang
sudah tidak bias didaur ulang lagi. Jika bahan buangan berupa limbah cair, maka limbah tersebut
ditampung dulu pada suatu bak besar dan di biarkan untuk beberapa waktu lama sehingga
sebagian kotoran akan mengendap atau mengapung sehingga dapat dipisahkan (Wardhana,
2001).
Pengolahan Lanjutan (Secondary Waste Treatment)

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
Metode pengolahan dengan secondary treatment menggunakan bahan-bahan kimia agar
senyawa-senyawa pencemar dalam limbah diikat melalui reaksi kimia. Karena itu system
operasinya juga dengan cara kimia yaitu metode pengolahan dengan menghilangkan atau
mengubah senyawa pencemar dalam air limbah dengan menambahkan bahan kimia. Namun
perlu diperhatikan bahwa penambahan zat kimia tiak boleh mengakibatkan masalah pada akhir
pembuangan (Ginting, 2007).
Pengolahan Akhir (Advanced Waste Treatment)
Pada proses ketiga ini bahwa setelah melalui tahap terakhir, limbah sudah menjadi bersih
sehingga dapat dibuang ke lingkungan. Akan tetapi pada proses akhir ini seringkali masih
dijumpai adanya bahan-bahan kimia yang terlarut dan jika dibuang ke lingkungan dapat
membahayakan. Walaupun dalam jumlah kecil dapat membahayakan lingkungan maka bahanbahan terlarut harus dikurangi. (Wardhana, 2001).
Dalam limbah bahan organik terlarut dan tersuspensi dapat menjadi sangat tinggi pada
limbah cair proses pengolahan perikanan karena meningkatkan BOD dan COD. Selain itu,
peningkatan kadar lemak dan minyak pada limbah pada limbah juga meningkat. Timbulnya bau
busuk disebabkan oleh dekomposisi lanjut protein, yang kaya akan asam amino bersulful,
(sistein), menghasilkan asam sulfide, gugus thiol, dan amoniak. Asam lemak rantai pendek hasil
dekomposisi bahan organik juga menyebabkan bau busuk. Minyak dan lemak di permukaan air
akan menghambat proses biologis dalam air dan menghasilkan gas yang berbau (Suyasa 2011).
Limbah cair dari proses pengolahan perikanan mempunyai kandungan BOD, lemak, dan
nitrogen. Menurut Tay et al. (2006) operasi pengolahan pengolahan menunjukkan produksi BOD
per ton produk sebesar 1 72,5 kg, sedangkan pemfiletan ikan memproduksi 12,5 37,5 kg
BOD per ton produk . Keberadaan BOD dikarenakan hasil proses pembersihan dan adanya
nitrogen berasal dari darah yang terdapat pada limbah cair.
Penanganan limbah cair perikanan seperti penambahan nutrisi (umumnya adalah nitrogen
dan fosfor) sangat jarang terjadi, akan tetapi adanya oksigen merupakan hal penting untuk
suksesnya penanganan limbah cair ini. Proses aerob yang sering terjadi adalah system lumpur
aktif, laguna, trickling filter, dan rotating disc contractor (Tay et al, 2006). Kolam aerasi saat ini
4

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
paling banyak di terapkan oleh industri perikanan, karena paling sederhana dan dianggap murah.
Akan tetapi kualitas limbah yang dihasilkan tidak menjamin sesuai dengan baku mutu yang
ditentukan dan sulit untuk dikendalikan.
Limbah cair hasil buangan industry pengolahan hasil laut mengandung berbagai macam
bahan organik seperti sisa daging, isi perut, protein, lemak dan karbohidrat yang akan
berpengaruh terhadap karakteristik limbah cair tersebut. Selain komposisi bahan baku, teknologi
proses yang digunakan juga turut menentukan karakteristiknya (Gonzales, 1996). Oleh karena
itu, karakterisasi awal dilakukan untuk mengetahui sifat fisik dan kimia limbah penting
dilakukan untuk mengetahui cara penanganan limbah terbaik yang harus dilakukan.
Untuk pengolahan limbah perikanan yang perlu kita perhatikan adalah dengan
membandingkan beberapa parameter baku mutu limbah apakah sudah dibatas normal atau
melebihi standar baku mutu yang sudah ditetapkan seperti TDS, sulfida, kadar lemak, BOD,
COD, dan lain lain.
Kadar lemak yang tinggi pada limbah sebagian besar berasal dari proses pemotongan dan
pembersihan ikan. Selain itu lemak juga berasal dari minyak yang digunakan dalam pengalengan
ataupun dari pelumas pada mesin atau peralatan produksi (Nova Tec 1994). Lemak yang ada
pada limbah harus dihilangkan karena akan menutupi permukaan badan air sehingga
mengganggu proses transfer oksigen ke air.
Akibatnya akan berpengaruh pada keberlangsungan hidup organisme yang hidup di air
tersebut karena kekurangan oksigen. Oleh karena itu perlu dilakukan pengolahan sehingga
limbah yang akan dibuang pada perairan diharapkan sesuai dengan baku mutu yang telah
ditetapkan. Pengolahan limbah ini dapat dilakukan secara kimia, fisika, dan biologis. Secara
biologis, pengolahan limbah dilakukan dengan memanfaatkan mikroba potensial pada limbah
tersebut.

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur

BAB III
METODOLOGI KERJA PRAKTEK
3.1

Metode Pengumpulan Data


Metode yang digunakan dalam pengumpulan data pada kerja praktek ini adalah studi

pendahuluan, studi literatur, observasi secara langsung dan wawancara.


Data yang dikumpulan berupa data sekunder. Adapun metode perolehan data sekunder
dalam laporan kerja praktek ini dilakukan dengan cara:
1. Studi literatur, yaitu metode yang digunakan untuk mendapatkan data dengan cara
mengumpulkan, mengidentifikasi dan mengolah data.
2. Wawancara, yaitu metode yang digunakan untuk mendapatkan data dengan cara melakukan
wawancara serta diskusi kepada pihak terkait.
3. Survei di lapangan, yaitu metode yang digunakan untuk mendapatkan data dengancara
melakukan pengamatan langsung ke lapangan terkait data yang diinginkan.
3.2

Metode Penyusunan Laporan


Dalam metode penyusunan laporan kerja praktek ini akan dibahas mengenai pelaksanaan

kerja praktek di PT. Kelola Mina Laut, Gresik dimulai dari studi dan pengkajian literatur hingga
tahap pembahasan dan penarikan kesimpulan. Pelaksanaan kerja praktek di PT. Kelola Mina
Laut, Gresik dapat dilihat pada gambar 3.1 berikut ini:

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur

Studi Literatur

Observasi dan Orientasi Lapangan

Pengumpulan Data Lapangan

Analisa Data dan Pembahasan Pengolahan Limbah

Penarikan Kesimpulan
Gambar 3.1 Skema Pelaksanaan Kerja Praktek di PT Kelola Mina Laut
Berikut ini merupakan penjelasan skema pelaksanaan kerja praktek:
1. Studi Literatur
Studi literatur merupakan pengumpulan materi dan data-data awal sebagai acuan seperti
buku, jurnal dan data sekunder lain yang relevan dengan bidang kerja praktek termasuk
dengan pengkajian materi mengenai industri pengolahan susu dan laporan kerja praktek.
2. Observasi dan Orientasi Lapangan
Berupa pengenalan secara umum lokasi tempat kerja praktek dan pengenalan langsung
dari proses pengolahan limbah dari industri makanan hasil laut. Dimulai dari sejarah
berdirinya, lokasi yang meliputi luas lahan dan bangunan, fasilitas-fasilitas yang
disediakan bagi seluruh elemen pegawai, struktur organisasi, ketenagakerjaan, serta
pihak-pihak yang bertindak sebagai pembimbing selama kerja praktek. Selanjutnya dapat
dijadikan sarana adaptasi terhadap sistem kerja organisasi pengolahan limbah.
3. Pengumpulan Data Lapangan

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
Data yang dibutuhkan untuk mengetahui proses pengolahan limbah PT. Kelola Mina
Laut, Gresik antara lain:

Proses produksi di unit ikan PT. Kelola Mina Laut

Lokasi unit pengolahan limbahPT. Kelola Mina Laut, Gresik.

Sumber dan karakteristik limbah yang ada.

Kualitas dan kuantitas limbah yang dihasilkan dari unit operasi dan proses
pengolahan makanan hasil laut.

Teknologi pengelolaan limbah industri.

Kualitas limbah industri sebelum dan sesudah pengelolaan.

Selain itu juga diperlukan analisa data sekunder berupa yaitu data yang diperoleh melalui
laporan tahunan PT. Kelola Mina Laut, Gresik data lapangan tentang proses produksi
yang menghasilkan limbahdan data data pendukung lainnya.
4. Analisa Data dan Pembahasan Pengolahan Limbah
Pada kegiatan ini yang akan dilakukan adalah analisa terhadap pengelolaan limbah dan
upaya yang dilakukan untuk minimisasi limbah terutama limbah

yang dilakukan,

sehingga dapat diukur limbah yang dihasilkan tidak akan merusak kondisi lingkungan di
sekitar industri tersebut.
5. Penarikan Kesimpulan dan Saran
Penarikan kesimpulan dilakukan berdasarkan hasil proses analisa dan pengolahan data
yang sudah diperoleh sedangkan hasil saran yang diberikan merupakan alternative solusi
dari permasalahan yang ada.
3.3

Waktu dan Tempat Pelaksanaan Kerja Praktek

3.3.1

Waktu Pelaksanaan Kerja Praktek


Pelaksanaan

kerja

praktek

meliputi

kegiatan

pengenalan

perusahaan,

pembelajaran proses produksi di unit ikan, pembelajaran pengelolaan limbah padat


dan cair, analisa data dan pembahasan serta penyusunan laporan. Kegiatan tersebut
dilaksanakan selama 1 bulan yaitu pada tanggal 30 Juni 2014 25 Juli 2014.
3.3.2

Tempat Pelaksanaan Kerja Praktek


8

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
Lokasi pelaksaan kerja praktek adalah di Unit Proses Produksi Ikan PT. Kelola
Mina Laut Gresik, Jawa Timur.
BAB IV
GAMBARAN UMUM
4.1 Sejarah
PT. Kelola Mina Laut merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan hasil
laut dan perikanan (seafood) secara terpadu meliputi unit pengolahan ikan (fish), udang (shrimp),
rajungan (crab), teri nasi (chirimen), seafood olahan (value added), surimi dan baso seafood
(fish ball). PT. Kelola Mina Laut didirikan pada tanggal 18 Agustus 1994 oleh Mohammad
Nadjikh yang berlokasi di Kabupaten Tuban, Jawa Timur dengan unit pengolahan teri nasi. PT.
Kelola Mina Laut telah berkembang menjadi salah satu perusahaan pengolahan seafood terbesar
di Indonesia yang berkantor pusat di Jl. KIG Raya Selatan C-5, Kawasan Industri Gresik, Gresik,
Jawa Timur.
PT. Kelola Mina Laut bergerak di bidang produk pascapanen perikanan yang memiliki
tiga komoditas utama yaitu produk ikan, kepiting dan udang. Produk-produk yang dihasilkan
oleh PT. Kelola Mina Laut antara lain adalah fish product (ikan tuna, lele, makarel, layur, kakap
merah, kerapu dan sejenisnya), crab meat product (Imperial, Jumbo Lump, Super Lump, dan
sejenisnya), shrimp product (Raw PD Tail Off Skewered Black Tiger, Raw PD Tail Off Skewered
Vannamei, dan sejenisnya), Cephalopods (gurita, cumi-cumi), dried product (dried small fish,
dried baby anchovy (teri nasi)). Sejalan dengan kesuksesan dalam bidang perikanan saat ini PT.
Kelola Mina Laut Gresik juga melakukan pengolahan value added product (Cocktail Breaded
Shrimp, Fish Nugget, dll).
Sejak memasuki era globalisasi, permintaan dan tekanan dari konsumen dan pemerintah
terhadap makanan yang berkualitas tinggi dan aman, semakin meningkat. Guna melindungi
masyarakat di suatu negara dari makanan yang tidak aman dan untuk memastikan mereka
mendapatkan makanan yang berkualitas, maka banyak pemerintahan yang mengharuskan adanya
standar terhadap makanan yang berkualitas, aman dan halal. Ketetapan itu termasuk juga berlaku

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
bagi organisasi produen sepanjang rantai makanan dari lapangan hingga konsumen. Mereka
harus memenuhi kualitas pangan yang sesuai dengan standar yang diputuskan.
HACCP adalah suatu sistem kontrol dalam upaya pencegahan terjadinya masalah
berdasarkan atas identifikasi titik-titik kritis di dalam tahap penanganan dan proses pengolahan
pangan. HACCP merupakan salah satu bentuk manajemen resiko untuk menjamin keamanan
pangan dengan pendekatan pencegahan yang dapat memberikan jaminan dalam menghasilkan
makanan yang aman untuk konsumsi.
HACCP berfungsi sebagai pengendalian keamanan pangan sehingga dapat diperbaiki,
mengubah pendekatan pengujian akhir yang bersifat retrospektif kepada pendekatan jaminan
mutu yang bersifat pencegahan dan mengurangi limbah serta kerusakan produk. Penerapan
HACCP ini akan sukses, bila organisasi memenuhi persyaratan dasar industri pangan dengan
menerapkan Good Manufacturing Practices (GMP) dan Standard Operational Procedure (SSOP).
PT. Kelola Mina laut menghasilkan produk yang diolah oleh tenaga professional serta
didukung dengan teknologi pengolahan dan pembekuan seafood yang bersertifikat Internasional
untuk menjamin mutu, keamanan pangan dan memenuhi kebutuhan pelanggannya, antara lain :
a. Sertifikat GMP (Good Manufacturing Product) dan HACCP (Hazard Analysis and
Critical Control Point), yakni sistem yang menjamin keamanan pangan dan saat produksi
b. Sertifikat ISO 22000:2005, sistem manajemen keamanan pangan terpadu.
c. BRC (British Retail Concorcium) Global Standard, yaitu sertifikat yang menjamin
standar produk retailglobal.
d. Sertifikat ACC (Aquaculture Certification Council), yaitu sertifikat yang menjamin
kualitas dan keamanan produk budidaya perairan.
e. C-TPAT (Cutoms-Trade Partnership Against Terrorism), sistem yang menjamin
keamanan rantai perdagangan internasional dari tindakan kejahatan.
f. Sertifikat halal dan nomor MD dari BPOM RI.
Pasar yang dituju dari PT. KML ini sekitar 95 % adalah untuk ekspor sedangkan
sisanya adalah pasar lokal. Brand yang digunakan PT. KML untuk pasar lokal adalah
Minaku, sedangkan untuk pasar ekspor menggunakan merk Prima Star, Panorama dan KML.

10

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
Komposisi buyer atau pembeli untuk pasar ekspor terbesar untuk produk ikan tuna 85 %
adalah USA, produk chirimen atau teri nasi 90 % adalah Jepang, produk ikan 60% adalah
USA; 20% adalah Inggris dan kepiting 80% adalah USA. KML memiliki kemampuan
kapasitas produksi yang cukup besar. Hal ini dapat dilihat dari pabrik pengolahan yang
dimiliki. KML memiliki lokasi usaha yang berpusat di Kawasan Industri Gresik yang
berfungsi untuk koordinasi dengan pabrik-pabrik lainnya. Untuk produk dried small fish
KML memiliki puluhan pabrik yang tersebar dari daerah pantura di Jawa Tengah hingga
pantura di Madura dengan kapasitas produksi sekitar kurang lebih 120 ton bahan baku per
hari. Untuk produk ikan kakap merah, KML memiliki pabrik di daerah Gresik.
4.2 Visi dan Misi Perusahaan
Visi :

Misi :

Menjadi perusahaan Seafood Indonesia yang paling kompetitif


Tim manajemen usaha yang professional
Berorientasi pada efisiensi, efektivitas dan produktivitas usaha
Berorientasi pada Value Added Product
Menjalin kemitraan (partnership) dengan stakeholder
Menjunjung tinggi kualitas diatas segalanya
Memberikan pelayanan terbaik dalam upaya memuaskan pelanggan
Pencapaian kinerja perusahaan diatas rata-rata pelaku bisnis Seafood yang didasari
fundamental bisnis yang kuat

4.3 Lokasi
PT. Kelola Mina Laut Gresik terletak di Kawasan Industri Gresik (KIG) Jl. KIG Raya
Selatan Kav. C-5, Gresik, Jawa Timur. Merupakan kawasan industri-industri besar di Gresik,
beberapa pabrik besar berdiri di kawasan ini.
Pabrik ini berdiri diatas lahan seluas 6 Ha. Lokasi perusahaan ini dekat dengan
beberapa kota besar di Jawa Timur seperti Surabaya, Lamongan dan Tuban. Berikut adalah
batas-batas PT. Kelola Mina Laut
o Utara

: Telaga Ngipik
11

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
o Selatan

: Perumahan KIG

o Barat

: PT. Madtsumaya

o Timur

: PT. Bumi Mulia (Pabrik Kaleng)

Pemilihan lokasi perusahaan di Kota Gresik sangat didukung dengan lokasi Pelabuhan
Peti Kemas Tanjung Perak, Surabaya yang cukup berdekatan sehingga memudahkan dalam
kegiatan ekspor. Jalan Tol Gresik-Tanjung Perak juga memberikan kelancaran transportasi dan
distribusi produk. Surabaya sebagai sentra industri dan perdagangan di wilayah Indonesia bagian
Timur juga menjadi bahan pertimbangan pemilihan lokasi perusahaan
4.4 Struktur Organisasi
Struktur organisasi PT. Kelola Mina Laut terbagi menjadi 2, yaitu struktur organisasi
kantor pusat (coorporate) dan struktur organisasi di tiap tiap divisi produksi. Kantor pusat PT.
Kelola Mina Laut dikendalikan oleh dewan manajemen. Presiden direktur merupakan suatu
lembaga tertinggi dalam susunan dewan manajemen yang memiliki kewenangan untuk
mengambil kebijakan kebijakan yang bersifat startegis, mengatur, mengarahkan, dan
bertanggung jawab terhadap semua kegiatan yang dilaksanakan oleh PT. Kelola Mina Laut.
Direktur merupakan posisi dibawah presiden direktur yang memiliki tugas dan wewenang untuk
membantu presiden direktur ditambah dengan tugas khusus untuk mengatur aspek pemasaran.
Direktur juga menjadi fungsi kontrol dan kebijakan di tiap divisi produksi yang ada di PT. Kelola
Mina Laut.
Presiden direktur dalam struktur organisasi kantor pusat dibantu oleh manager
pengembangan usaha, manager usaha domestik, manager keuangan, manager usaha pengolahan
teri nasi, manager pabrik pengolahan ikan, manager usaha pengolahan ikan dan manager pabrik
pengolahan crab. Manager pengembangan usaha bertanggung jawab dan membawahi urusan
secara umum, bagian penelitian dan pengembangan (R & D), serta bagian sumber daya manusia
(HRD). Manager usaha domestik bertanggung jawab terhadap pengolahan pasar domestik untuk
produk-produk yang dihasilkan PT. Kelola Mina Laut baik teri nasi, ikan, crab, maupun udang.
Manager keuangan bertanggung jawab dalam pengelolaan, pengembangan, dan arus kas
12

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
yang terjadi di perusahaan. Manager usaha teri nasi bertanggung jawab dalam pengelolaan dan
kelangsungan bisnis teri nasi secara umum. Manager pabrik pengolahan ikan merupakan
pelaksana operasional untuk pengelolaan dan menjaga kelangsungan bisnis ikan untuk masing
masing pabrik. Manager usaha pengolahan ikan bertanggung jawab dalam pengelolaan,
kelangsungan, dan pemasaran bisnis ikan secara umum. Manager pabrik pengolahan crab
bertanggung jawab dalam pengelolaan, kelangsungan, dan pemasaran. Divisi di PT. Kelola Mina
Laut dipimpin oleh seorang general manager. General manager bertanggung jawab ke direktur
dalam oraganisasi pusat PT. Kelola Mina Laut unit Gresik. General Manager merupakan
pemegang kendali dan bertanggung jawab dalam mengatur semua kegiatan produksi agar dapat
mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan. General manager dibantu oleh tiga
manager, yaitu manager bagian pengadaan, manager produksi, dan manager finance dan
administration (FA).
Manager pengadaan bertanggung jawab dalam menjaga kelancaran pengadaan bahan
baku dan bertanggung jawab untuk membina hubungan dengan supplier bahan baku. Manager
produksi bertanggung jawab untuk memimpin dan mengatur seluruh kegiatan operasional
produksi. Manager FA bertanggung jawab atas kegiatan produksi, urusan keuangan dan
akuntansi biaya pabrik. Manager produksi dibantu oleh seorang asisten manager produksi untuk
membantu tugas di lapangan. Asisten manager produksi dibantu dibantu oleh beberapa pengawas
Presiden Direktur
(supervisor) dan beberapa orang penanggung jawab (PJ). Struktur organisasi divisi ikan PT.
Kelola Mina
Laut dapat dilihat pada gambar 4.1:
Direktur
Direktur
Marketing
Operasional
Manager
Marketing

Manager
Finance

Direktur QA
Manager QC / QA

Bisnis Manager
PJ QC

Manager
Produksi
Asisten Manager
CPU Produksi
PJ Produksi
Operator

Manager
Pengadaan
Asisten
Pengadaan

HRD
Manager

Teknisi

Operator
Asisten
HRD

13

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur

Gambar 4.1 : Bagan Struktur Organisasi PT. Kelola Mina Laut Gresik Divisi Ikan
Sumber : Data Sekunder PT. Kelola Mina Laut 2013
4.5 Fasilitas
PT. Kelola Mina Laut memiliki tata letak dan lay out pabrik yang sesuai dengan
kebutuhan proses produksi. Di antara bagian ruang produksi dan ruang penerimaan dipisahkan
oleh tembok. Hal tersebut bertujuan untuk mengurangi kontaminasi silang antara bahan baku
yang baru datang dengan bahan baku yang telah diproses. Ruang produksi juga dipisahkan
dengan tembok dari ruang packing, ruang penghancur es, ruang proses added value, ruang
teknisi, gudang tuna klorin, kantor produksi, ruang Cold storage. Sedangkan ruang laboratorium
dan limbah berada terpisah dari ruang produksi agar tidak terjadi kontaminasi.
Adapun fasilitas-fasilitas secara umum PT. Kelola Mina Laut adalah sebagai berikut :

14

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
a. Pos Satpam
Jumlah pos satpam ada dua buah. Pos 1 berada di pintu masuk sebalah barat yang
berguna untuk mengawasi setiap barang, tamu dan karyawan yang masuk, sedangkan pos
2 hanya untuk urusan keuangan. Pos satpam berukuran 3 x 2,5 m dimana memiliki
fasilitas berupa telepon yang menghubungkan ke semua ruangan untuk memudahkan
komunikasi, tempat duduk, meja, buku tamu, Cocard, dan kunci ruangan.
b. Ruang Bea cukai
Ruang beacukai berguna untuk tempat petugas beacukai dalam mengurusi ijin
ekspor hasil produksi PT. Kelola Mina Laut. Ruangan ini berukuran 3 x 2 m yang
difasilitasi meja dan kursi untuk mempermudah dalam menulis.
c. Toilet
Toilet terdapat di bagian depan, kantor, dan di bagian belakang pabrik. Toilet
depan berda di dekat pos satpam. Toilet yang terdapat di dalam kantor ada dua, satu untuk
staf dan satu untuk tamu. Sedangkan toilet bagian belakang terdapat di gedung musholla
sebanyak dua buah. Setiap toilet memiliki sarana WC dan bak air. Di bagian produksi
terdapat 10 toilet, 5 terdapat di ruang ganti perempuan dan 5 terdapat di ruang ganti lakilaki yang masing-masing terletak di dekat pintu masuk karyawan ruang produksi.
d. Tempat Parkir
PT. Kelola Mina Laut juga menyediakan tempat parkir yang sangat luas sebagai
tempat parkir kendaraan karyawan, supplier dan staff. Areal parkir tersebut terdapat di
depan pabrik (khusus parkir truk, Container ketika barang hendak dimuat dan di ekspor),
samping (parkir kendaraan roda dua dan truk supplier), di bagian belakang (bus
karyawan, dan mobil staff) dan beberapa bagian belakang ada yang digunakan untuk
tempat parkir roda dua dan bus.
e. Gedung pengolahan kepiting
Selain pengolahan ikan tuna, PT. Kelola Mina Laut juga memiliki gedung khusus
yang besarnya hampir sama dengan gedung pengolahan ikan tuna. Masing-masing
komoditi di olah sendiri-sendiri dengan manajemen yang berbeda dan kantor yang
berbeda. Dimana kantor pegawai terletak di gedung pengolahan masing-masing.
f. Gedung Pengolahan Udang

15

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
Selain pengolahan ikan tuna, PT. Kelola Mina Laut juga memiliki gedung khusus
yang besarnya hampir sama dengan gedung pengolahan ikan tuna. Masing-masing
komoditi di olah sendiri-sendiri dengan manajemen yang berbeda dan kantor yang
berbeda. Dimana kantor pegawai terletak di gedung pengolahan masing-masing.
Fasilitasnya juga hampir sama dengan gedung pengolahan ikan tuna.
g. Mini Market
Mini market bernama minaku berisi produk-produk perikanan hasil produksi
perikanan untuk lokal. Adapun produknya antara lain ikan beku, kerupuk, loin, ikan tuna,
dll. Mini market terletak di sayap barat bangunan pabrik PT. Kelola Mina Laut.
h. Instalasi Pengolahan Air Bersih
Perusahaan juga memiliki instalasi pengolahan air bersih sendiri untuk menunjang
kegiatan produksi. Air bersih yang diperoleh dimanfaatkan untuk kegiatan produksi
mengingat banyaknya debit air bersih yang harus dipenuhi. Jika memanfaatkan sumber
air dari PDAM saja tidak akan mencukupi. Oleh karena itu air tanah dan sumur diproses
menjadi air bersih yang setiap harinya dapat dimaksimalkan bukan hanya untuk produksi
tapi suppli ke toilet, mushola, dll.
i. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)
PT. Kelola Mina Laut juga menetapkan IPAL untuk mengelola limbah industrinya
terutama limbah cair sesuai yang mengacu pada peraturan daerah setempat. Pengelolaan
limbah terletak di belakang proses produksi pabrik. Pengelolaan limbah dari semua sisa
buangan bergabung menjadi satu di bak penampungan limbang
j. Mushola
Fasilitas yang disediakan PT. Kelola Mina Laut juga berupa tempat ibadah demi
menghormati kewajiban pemmeluk agama islam. Mushola terletak pada bagian belakang
pabrik dan didalam kantor. Mushola bagian belakang pabrik digunakan karyawan untuk
ibadah, sedangkan bagian didalam kantor setiap bagian pabrik terdapat mushola
digunakan oleh para staf.
k. Ruang Istirahat
Ruang istirahat terletak didekat ruang penerimaan dan diatas ruang produksi. Pos
istirahat di ruang penerimaan biasanya digunakan sebagai tempat istirahat supplier
sedangkan ruang istirahat dibagian atas produksi digunakan oleh karyawan. Pos istirahat
16

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
disediakan bertujuan untuk memberikan kenyamanan bagi karyawan, teknisi, dan
supplier disaat beristirahat.
l. Ruang Teknisi
Ruang teknisi terletak disebelah timur proses produksi. Lokasi ruang teknisi
sengaja dibangun dekat dengat mudah melakukan perbaikan atau mengoperasi peralatan
dalam ruang pengolahan serta ruangan yang lain.
m. Laundry
Laundry merupakan salah satu fasilitas yang diberikan pabrik untuk memberikan
kenyamanan bagi karyawan agar setiap hari dapat menggunakan pakaian atau seragam
kerja yang bersih sebelum masuk ruang pengolahan.
n. Laboratorium
Ruang laboratorium berada terpisah dengan proses produksi. Letaknya berada di
kantor (dilantai 1, diatas ruangan proses produksi). Ruang laboratorium diposisikan
terpisah dengan proses produksi agar tidak terjadi kontaminasi pada pengujian-pengujian
yang dilakukan.
o. Ruang Penerimaan Ikan
Ruang penerimaan bahan baku merupakan ruang awal dari keseluruhan ruang
produksi. Ruang penerimaan bahan dan ruang pengolahan disekat oleh tembok. Posisinya
dekat dengan ruang proses, karna proses udang tidak boleh berjauhan setiap prosesnya.
Hal tersebut bertujuan untuk mencegah kontaminasi silang. Sebelum masuk ruang
pengolahan, raw material dicek terlebih dahulu yaitu dilakukan pengujian. Pengujian
yang dilakukan pada proses ini yaitu uji fisik, mikrobiologi dan kimia. Sampel ikan akan
dilakukan uji antibiotik di laboratorium, uji mikrobiologi bertujuan untuk memastikan
bahwa ikan dalam kondisi bersih dan tidak mengandung bakteri patogen yang dapat
merugikan konsumen.
Ruang penerimaan bahan baku berukuran 4m x 3m. Ruang penerimaan memiliki
beberapa alat yang mampu menunjang jalannya proses. Sirkulasi udara pada ruang
tersebut cukup nyaman, karena selain terdapat AC diruang penerimaan juga terdapat
pintu masuk yang dilengkapi dengan tirai plastik tebal serta insect lamp yang berfungsi
untuk meminimalisir masuknya serangga. Ruang ini berhubungan langsung dengan jalan
pabrik yang dihubungkan dengan lubang berukuran 1x1 meter yang berguna untuk

17

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
memudahkan proses pembongkaran dan penerimaan ikan di ruang penerimaan. Dalam
menunjang kegiatan pada penerimaan bahan baku ikan ada beberapa jenis alat untuk
membantu proses penerimaan ikan pada tabel 4.1

Tabel 4.1 Sarana dan prasana penunjang ruang penerimaan bahan baku
No
1

Alat
Meja operator

Fungsi
Penopang kegiatan check

Keterangan
Terbuat dari bahan stainless

weight, grade, dan

steel

administrasi (mencatat berat


ikan kakap yang telah
Meja Ikan

ditimbang)
Menerima ikan kakap untuk

kakap

dibersihkan, menimbang ikan

3
4

Timbangan
Bak Cuci

kakap (check size)


Menimbang berat daging ikan
Tempat pencucian tangan

Timbangan digital
Berisi klorin 100 ppm

5
6

Tangan
Bak air
Sarung tangan

Tempat menyimpan klorin


Mencegah kontaminasi dari

Diganti satu bulan sekali,

pekerja

setelah digunakan direndam

Bak berisi air klorin 100 ppm

Bak fiberglass

Sebagai penyimpan air bilas

klorin
Air diisi sesuai dengan

Termometer

Mengukur suhu

kebutuhan
18

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
Sumber : Data Sekunder PT. Kelola Mina Laut (2013)
p. Ruang Produksi Ikan
Ruang produksi merupakan ruangan yang digunakan untuk proses produksi ikan
kakap beku mulai dari penerimaan bahan baku. Setiap ruang produksi memiliki fasilitasfasilitas yang dapat menunjang kelancaran proses. Adapun bagian-bagian ruang produksi
tertera pada tabel 4.2

Tabel 4.2 Sarana dan prasarana penunjang ruang pengolahan


No
Alat
1. Meja

Fungsi
Keterangan
Alat penopang kegiatan Terbuat dari bahan stainless steel yang
mulai

dari

proses sengaja didesain miring

penyisikan, pengambilan
2.
3.

isi perut, filleting, dll


Timbangan Untuk mengetahui berat Digunakan untuk mengecek berat dan
Bak

ikan
Untuk mencuci tangan

Pencuci

jumlah ikan
- Terdapat bak berisi air + klorin 100
ppm
- Sabun

4.

Tangan
Keranjang

5.

plastic
proses trimming, dll
value added
Long pan Untuk menyusun fillet Memindahkan fillet kakap merah ke

6.

pembeku
Vacuum

ikan kakap
tahap selanjutnta, menggunakan rak
Untuk mengemas produk 3 unit

packing

dengan

sistem

kemas

tanpa

udara

sesuai

7.

8.

Alat sisik

Pinset

Tempat sisa daging pada Dikumpulkan untuk menjadi produk

permintaan
Untuk
menghilangkan Alat untuk menghilangkan sisik ikan
sisik ikan

yang didesain sendiri oleh PT. Kelola

Untuk mencabut duri

Mina Laut
Terbuat dari stainless steel
19

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
No
9.

Alat
anatomi
Pisau

Fungsi

Keterangan

Untuk merapikan daging Pisau terbuat dari stainless steel

fillet
Sumber : Data Sekunder PT. Kelola Mina Laut (2013)
q. Ruang Pembekuan Ikan dan Penyimpanan Ikan
Di dalam ruang pembekuan terdapat mesin air-blast freezer (ABF) dengan suhu
-40oC yang digunakan untuk proses pembekuan. Di dalam ruangan pendingin dijaga oleh
petugas khusus untuk masuk dalam ruangan ini agar terjaga keamanannya dan
mengurangi terjadinya kontaminan akibat banyaknya lalu lalang. Dalam memudahkan
proses pada ruangan ini terdapat rak untuk menyusul long pan berbahan stainless steel
untuk membantu dalam mangangkat ke ruang proses selanjutnya.
r. Ruang Pengepakan
Setelah ikan kakap melalui serangkaian proses produksi, selanjutnya produk
dikemas diruang pengemasan. Ruang pengemasan ini terletak di sebelah ruang proses
yang dibatasi oleh tembok dan pintu. Fasilitas produksi yang dapat digunakan pada ruang
pengemasan antara lain seperti tertera pada tabel 4.3
Tabel 4.3 Sarana dan prasarana penunjang ruang pengemasan
No.
1.

Alat
Metal

Fungsi
Untuk mendeteksi adanya

Keterangan
1 unit

detector

kandungan logam yang

2.

Strapping

terdapat pada produk


Untuk mengepak beberapa

3.

Band
Meja

produk dalam karton


Sebagai alas pada proses

4.

Rak MC

pengemasan
Untuk menyusun MC yang

(Master

belum digunakan dan sudah

Carton)
diberi label size
Sumber : Data Sekunder PT. Kelola Mina Laut (2013)
20

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur

s. Gudang Kering
Gudang kering terletak dekat dengan ruang pengepakan, ini mempermudah pada
proses pengepakan berlangsung, selain MC beberapa barang terdapat didalamnya seperti
klorin, sabun, plastic, dll.
4.6 Aspek Proses Produksi
4.6.1 Bahan Baku
Bahan baku merupakan bahan pokok atau bahan utama yang diolah dalam proses untuk
memperoleh suatu produk. Bahan baku yang diterima tidak menentu per harinya, namun
produksi harus tetap berjalan untuk memenuhi pemintaan buyer. Unit pengolahan yang terdapat
di PT. Kelola Mina Laut Gresik ada 3 sesuai dengan bahan baku yang diolah yaitu, unit ikan
(Fish), udang (Shrimp), dan rajungan (Crab). Unit ikan mengolah bahan baku ikan seperti ikan
kakap merah, tuna, mackerel, Malabar, lele, patin, nila, serta cephalopoda seperti octopus dan
cumi cumi. Bahan baku ikan tersebut berasal dari perairan Indonesia seperti Laut Jawa, Laut
Bali, dan Samudra Hindia dari hasil tangkapan nelayan ikan kecuali ikan mackarel yang
langsung diimpor dari air laut dingin Norwegia.
Bahan baku pada unit udang yang digunakan adalah udang jenis Vannamei, Black Tiger,
dan Sea White. Bahan baku udang tersebut disulap oleh petani tambak yang tersebar diseluruh
Indonesia. Terdapat 75 titik supplier yang menyuplai bahan baku udang ke perusahaan. Pada unit
rajungan (Crab), bahan baku yang digunakan adalah rajungan dengan spesies Portunus
pelagicus. Rajungan ini diperoleh dari miniplant PT. Kelola Mina Laut yang berada di seluruh
Indonesia terutama Mandura. Setiap bahan baku yang masuk akan dilakukan pemeriksaan dan
sortasi sesuai dengan standar pada unit penerimaan.
4.6.2 Bahan Penolong

21

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
Bahan penolong (indirect material) merupakan bahan pelengkap yang digunakan pada
suatu produk. Bahan ini digunakan sebagai bahan tambahan dalam proses produksi. Secara
umum, bahan penolong yang digunakan pada proses produksi antara lain.

Desinfektan dan Alkohol


Desinfektan didefinisikan sebagai bahan kimia atau pengaruh fisika yang digunakan

untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemarah jasad renik seperti bakteri dan virus, juga
untuk membunuh atau menurunkan jumlah mikroorganisme atau kuman penyakit lainnya.
Desinfektan yang dipakai dalam proses produksi adalah larutan klorin (ClO2). Larutan klorin
yang digunakan memiliki konsentrasi berbeda beda sesuai dengan tujuan penggunaan.
Tabel 4.4 Penggunaan larutan klorin dan konsentrasinya
No.
1
2

Penggunaan Klorin
Pencucian Tangan Karyawan
Pencucian kaki pada bak

masuk
3
Pencucian Peralatan
4
Penyiraman Lantai
5
Pencucian I dan II udang
6
Pencucian ikan yang jatuh
Sumber : PT. Kelola Mina Laut

Konsentrasi Klorin (ppm)


100 ppm
200 ppm
50 ppm
200 ppm
50 ppm
50 ppm

Alkohol merupakan bahan sanitasi yang sangat baik untuk mencegah adanya kontaminasi
mikroba. Alkohol digunakan sebagai prosedur sanitasi pekerja sebelum masuk ruang proses.
Kadar alkohol yang digunakan sekitar 70-90 %

Air
Air yang digunakan berasal dari dua sumber yaitu air PDAM. Air tersebut digunakan

untuk sanitasi seperti pembersihan lantai produksi, sanitasi peralatan, karyawan, dan proses serta
bahan tambahan produksi seperti bahan pembuat es, bahan pencampur larutan soaking, dan
sebagainya. Semua jenis air yang digunakan dikondisikan suhunya agar tetap dingin untuk
menekan pertumbuhan mikroba dan menjaga rantai dingin produk. Air berklorin digunakan
untuk cuci tangan, cuci boot, dan cuci bahan disetiap proses produksi.

Es (Ice Block dan Ice Flake)


22

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
Selain air, untuk menjaga rantai dingin produk digunakan es balok dan serpihan es. Es
balok diperoleh dari produsen es di sekitar kawasan Gresik. Es balok yang diterima dari supplier
dicuci terlebih dahulu dengan air klorin 100 ppm. Es balok digunakan untuk mendinginkan air
pencucian dan menjaga suhu ikan yang belum diproses. Serpihan es ini berasal dari potongan es
yang yang dihasilkan dari pembekuan air oleh mesin ice flaker. Serpihan es akan ditampung
dalam ruang pendingin. Ice flake yang digunakan telah terbebas dari mikroba patogen, zat kimia
berbahaya, dan zat pengotor yang berpotensi menjadi sumber kontaminan.

Sabun Pencuci Tangan (Hand Washer) dan Sabun Pencuci


Sabun pencuci tangan (Hand Washer) digunakan untuk cuci tangan semua pekerja

sebelum masuk area produksi. Hand Washer yang digunakan merupakan jenis pembersih tangan
yang tidak berbau. Salah satu brand yang dipakai memiliki komposisi broad bacteriostat dan
irigasan DP300 untuk mengendalikan pertumbuhan bakteri. Sabun pencuci digunakan dalam
proses sanitasi peralatan dan bangunan. Sabun pencuci yang digunakan adalah sabun protik yang
aman untuk makanan (food grade).

Food Additive
Jenid food additive yang digunakan sebagai bahan tambahan antara lain yaitu garam atau

Natrium Clorida (penyedap), sodium tripolyphospate (pengenyal), sodium bicarbonate


(perenyah), sodium citrate (pengawet dan penyedap), serta carnal (mempertahankan berat serta
memperbaiki tekstur dan rasa udang). Bahan tambahan ini digunakan untuk produk udang
cooked saja. Sedangkan produk raw tidak melalui proses soaking tersebut.
4.6.3

Mesin dan Alat


Mesin dan peralatan produksi yang dipergunakan berpengaruh terhadap produk , efisiensi

produksi didalam perusahaan yang bersangkutan. Mesin dan peralatan yang digunakan dalam
proses produksi di perusahaan ada yang bersifat manual merupakan peralatan produksi yang
digunakan untuk melaksanakan proses produksi dengan menggunakan tangan atau kerja
manusia. Mesin dan peralatan produksi semi otomatis merupakan mesin dan peralatan untuk
keperluan tertentu (baik bersifat umum ataupun khusus) yang bersifat otomatis, tetapi masih ada
beberapa fungsional mesin yang dilakukan secara manual. Sedangkan mesin dan peralatan
23

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
otomatis adalah mesin dan peralatan yang digunakan dalam perusahaan seluruhnya adalah
otomatis (tidak perlu bantuan tenaga manusia).
Umumnya setiap unit produksi memiliki mesin dan alat proses yang sama. Hanya
beberapa mesin dan alat khusus yang digunakan, seperti mesin sorting pada udang. Mesin dan
peralatan manual seperti keranjang, pisau, troli, lori, telenan plastik, ganco, long pan, meja
dorong, meja tiris, meja susun, meja kupas, meja potong kepala, baskom baik yang berbahan
plastik ataupun stainless, meja sortasi, blong biru, meja kerja berbahan alumunium, box fiber,
hand truck, sealer, strapping band, dan hot print. Kemudian mesin dan peralatan yang bersifat
semi otomatis seperti belt corveyor, mesin grader, mesin contact plate freezer, mesin soaking,
mesin metal detector, dan mesin pencampur, vacuum packing, chilling machine, pasteurized
machine, dan seamer machine.
4.6.4

Utiliti
Utiliti adalah fasilitas yang menunjang proses pengolahan. Utiliti yang digunakan di PT.

Kelola Mina Laut ini antara lain, listrik dan gas. Utiliti tersebut digunakan untuk kegiatan
operasional semua unit di PT. Kelola Mina Laut. Sumber air yang digunakan di PT. Kelola Mina
Laut diperoleh dari air PDAM. Penggunaan air PDAM untuk proses pemasakan dan sebagian
disuplai dari bagian ikan. Di PT. Kelola Mina Laut terdapat mesin semi otomatis dan otomatis
yang membutuhkan listrik dalam pengoprasiannya. Listrik juga digunakan untuk menghidupkan
evaporator, lampu, dan pendingin pada mesin produksi. Suplai listrik di PT. Kelola Mina Laut
diperoleh dari PLN dengan tiga gardu yang ada. Daya listrik yang disuplai oleh masing masing
gardu antara lain C-13 (2180 kVA), C-5 (197 kVA), dan C-7 (197 kVA).
Selain itu, PT. Kelola Mina Laut juga memiliki generator listrik sebagai suplai listrik
cadangan apabila pasokan listrik dari PLN terputus, namun suplai listrik dari generator (600-750
kVa) hanya dapat digunakan oleh beberapa bagian proses produksi. PT. Kelola Mina Laut
menggunakan bahan bakar gas dalam mengoperasikan boiler. Boiler ini digunakan untuk
memanaskan air yang akan digunakan pada proses pemasakan dan pasteurisasi. Gas tersebut
disuplai oleh PT. Pertamina yang letaknya tidak jauh dari pabrik. Suplai gas ke PT. Kelola Mina
Laut sebesar 10253/minggu atau 1465/hari.

24

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur

4.6.5

Proses Pengolahan
Proses produk yang dihasilkan dari PT. Kelola Mina Laut adalah olahan seafood beku.

Bahan baku yang telah diterima dari supplier kemudian diteruskan ke bagian produksi untuk
diproses sampai menjadi produk yang siap ekspor. Masing masing unit memiliki tahapan proses
pengolahan yang berbeda - beda tergantung pada produk apa yang diolah dan sesuai keinginan
buyer. Bahan baku ikan yang sering diolah pada periode Juni Juli adalah tuna, kakap, malabar,
octopus, mackarel, lele, dan nila hitam. Beberapa produk yang dihasilkan di unit ikan dan
cephalopoda antara lain steak tuna, loin, saku, fillet (Skin on dan Skin Less), WGSS (Whole
Gutted Gilled Scalled), WGS (Whole Gutted Scalled), octopus ball, WR (Whole Round), dan
WG (Whole Gutted).
Loin adalah produk olahan tuna yang telah di fillet, dibentuk loin, diskin less, dan
ditrimming, Loin yang telah dibekukan akan menjadi RM Loin yang dapat menjadi bahan baku
steak dan saku. WR (Whole Round) adalah produk ikan utuh yang tidak mengalami pengolahan
apapun. WGSS (Whole Gutted Gilled Scalled) adalah produk olahan ikan yang telah dihilangkan
bagian sisik, insang, dan jeroannya. Octopus ball adalah salah satu produk olahan proses yang
hanya melewati proses soaking dan pencucian kemudian dikemas dengan bentuk bola.
Selama tahapan terdapat proses pengecekan oleh bagian QC untuk memastikan rantai
produksi produk telah sesuai dengan standar. Selain itu, dilakukan pula pengecekan terhadap
produk siap kirim untuk memastikan produk telah sesuai dengan standar yang berlaku. Beberapa
tahapan produksi menggunakan jumlah air yang cukup banyak. Tahapan proses tersebut seperti
proses pencucian, proses pembilasan, pemasakan dan soaking. Umumnya, proses pencucian
berlangsung lebih dari sekali selama proses produksi. Hal tersebut bertujuan meminimalisir
terjadinya kontaminasi mikroba dan menjaga bahan agar selalu bersih.
4.6.6

Pemasaran
Produk produk utama berkualitas internasional yang dihasilkan umumnya di ekspor

untuk pasar Eropa, Asia, dan Amerika sedangkan produk produk domestik hanya dipasarkan

25

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
pada outlet outlet Minamart dan Frozenmart. Produk produk tersebut belum didistribusikan
ke seluruh Indonesia karena terkendala kapasitas produksi yang belum memadai. Salah satu
startegi pemasaran domestik di PT. Kelola Mina Laut adalah menggelar pasar ikan murah setiap
minggu terakhir bulan puasa. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang diadakan oleh
PT. Kelola Mina Laut menjelang Hari Raya Idul Fitri.
4.7

Aspek Pengolahan Air

4.7.1

Sumber Air
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang berlimpah di muka bumi dimana air

menutupi 71 % permukaan bumi. Terdapat 4 sumber air di bumi, antara lain air laut, air
atmosfer / air meteriologik, air tanah, dan air permukaan. Kebutuhan air untuk industrikhususnya
industri pangan cukup besar. Umumnya air digunakan untuk kegiatan operasional industri baik
untuk proses produksi maupun untuk keperluan pendukung lainnya. Umumnya suplai air industri
berasal dari PDAM, namun banyak industri yang melakukan pengeboran sumur untuk
memperoleh pasokan airnya.
Sumber air yang digunakan di PT. Kelola Mina Laut ini berasal dari PDAM. Penggunaan
air PDAM per hari sekitar 400 600 m 3. Penggunaan air tersebut dapat berubah, bergantung
pada kapasitas produksi masing masing unit. Air tersebut digunakan untuk kegiatan operasional
perusahaan dan paling banyak digunakan pada proses produksi.
4.7.2 Karakteristik Air
Air merupakan suatu kebutuhan yang tidak dapat ditinggalkan bagi kehidupan manusia
karena digunakan untuk bermacam macam kegiatan. Kualitas air merupakan karakteristik mutu
yang dibutuhkan dalam pemanfaatan air sesuai dengan yang diperuntukannya. Selain itu, kualitas
air yang digunakan akan mempengaruhi kualitas produk yang dihasilkan. Kualitas air
menyatakan tingkat kesesuaian air terhadap penggunaan tertentu.
Secara geografis, tanah di daerah Gresik merupakan tanah berkapur. Hal tersebut
berdampak terhadap kualitas air yang diperoleh, yaitu tingkat kesadahan airnya yang tinggi. Air
sadah adalah air yang umumnya mengandung ion kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dalam

26

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
bentuk garam karbonat. Air sadah juga merupakan air yang memiliki kadar mineral yang tinggi.
Ciri ciri air kapur adalah airnya yang keruh dan sedikit bau. Hal tersebut karena air
mengandung kadar Ca2+ yang tinggi. Syarat air bersih yang baik, diantaranya tidak bau, jernih
(tidak berwarna), dan tidak berasa. Oleh karena itu, diperlukan pengolahan air, agar kesadahan
air tersebut dapat diminimalisasi dan air yang digunakan layak serta aman.
4.7.3 Teknik Pengolahan Air
Air yang digunakan untuk proses produksi perlu memenuhi syarat baku mutu air dengan
menghilangkan zat zat pencemar sehingga air tersebut dinyatakan layak dan aman digunakan
untuk proses produksi. Setelah mengetahui karakteristik air yang digunakan, maka dapat
ditentukan teknik pengolahan air yang tepat sehingga menghasilkan air yang sesuai dengan
standart. Terdapat dua cara dalam pengolahan air menurut Sutrisno (2006), yaitu pengolahan
lengkap dan pengolahan sebagian. Pengolahan lengkap adalah pengolahan air secara lengkap
baik secara fisik, kimia, maupun bakteriologi. Biasanya pengolahan ini untuk mengolah air
sungai yang kotor dan keruh. Pengolahan sebagian adalah proses pengolahan air yang hanya
menggunakan satu atau dua tahapan pengolahan saja. Umumnya digunakan untuk mengolah
mata air, air sumur dangkal atau air tanah dalam.
Pengolahan fisik merupakan pengolahan air yang bertujuan mengurangi atau
menghilangkan kotoran kotoran kasar, penyisihan lumpur dan pasir, serta mengurangi kadar zat
zat organik dalam air. Contoh pengolahan air secara fisik adalah flokulasi, sedimentasi, dan
filtrasi. Pengolahan secara kimiawi merupakan pengolahan yang menggunakan zat zat kimia
untuk membantu proses pengolahan selanjutnya, seperti dengan cara menambahkan kaporit yang
berfungsi sebagai desinfektan.
Air yang digunakan di PT. Kelola Mina Laut diolah secara kimiawi dan bakteriologi. Air
yang mengalami treatment adalah air PDAM. Zat zat kimia yang digunakan dalam pengolahan
air ini, antara lain hipoklorin, PAC, karbon aktif, silika, resin, dan klorin dioksida (HCl dan
Sodium Klorin). Setelah diolah, hasil air yang telah bersih dialirkan ke masing masing unit
pengolahan. Air PDAM sebagian digunakan untuk proses pemasakan dan pasteurisasi dimana air
tersebut dimasak terlebih dahulu didalam boiler.

27

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur

4.8

Aspek Pengolahan Limbah

4.8.1

Sumber Limbah
Limbah adalah buangan yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak

dikehendaki lingkungannya karena tidak memiliki nilai ekonomi . Limbah industry perikanan
dapat didefinisikan sebagai apa yang saja yang tersisa dan terbuang dari suatu kegiatan
penangkapan, penanganan, dan pengolahan hasil perikanan. Terdapat tiga bentuk limbah yang
dihasilkan oleh industri perikanan, yaitu limbah padat, cair dan gas. Limbah cair industri
perikanan ini banyak mengandung bahan organik.
Tingkat pencemaran dari limbah cair industri ini sangat bergantung pada tipe proses
pengolahan dan spesies ikan yang diolah. Dalam pengolahan hasil perikanan, limbah cair
dilepaskan pada tahap tahap, seperti penanganan bahan mentah (pencairan dan persiapan),
pembersihan (pencucian dan preparasi), dehidrasi, pengepresan, penyaringan, pemanasan,
pendinginan, dan pembersihan alat. Dalam limbah cair ini juga mengandung darah, potongan
potongan kecil Raw Material (RM), kulit RM, isi perut, kondensat, serta air dari operasi
pemasakan dan pendinginan kondensor.
Terdapat tiga jenis limbah yang dihasilkan dari proses pengolahan produk di PT. Kelola
Mina Laut, yaitu limbah padat, cair, dan gas. Sumber limbah padat berasal dari proses
pengolahan yang dimulai dari penerimaan bahan baku hingga menjadi produk, seperti kepala,
sirip, tulang, sisik, ekor, organ dalam ikan (insang), dan plastik. Limbah cair yang dihasilkan
berasal dari kegiatan non opersional perusahaan serta dari proses.
4.8.2

Karakteristik Limbah Industri Hasil Perikanan


Limbah cair industri pangan memiliki karakteristik yang berbeda tergantung pada jenis

komoditi yang digunakan dan jenis produk yang dihasilkan serta jenis proses produksi yang
dilakukan. Menurut Priambodo (2011), terdapat tiga aktivitas utama pengolahan ikan, yaitu
industri pengalengan dan pembekuan ikan, industri minyak dan tepung ikan, serta industri

28

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
pengasinan ikan. Ketiga aktivitas pengolahan tersebut akan menghasilkan karakteristik limbah
cair yang berbeda beda.
Tabel 4.5 Karakteristik Limbah Cair Perikanan
Parameter

Amonia
BOD
COD
Lemak dan

Satuan

Industri Pengalengan

Industri

Industri

dan Pembekuan Ikan

Minyak dan

Pengasinan

37
35
34
1,401

Tepung Ikan
1,659
204
196
12,750

Ikan
101
127
360
1,305

mg/L
mg/L
mg/L
mg/L

Minyak
Sumber : Priambodo (2011)
Volume limbah cair yang keluar per hari pun berbeda beda tergantung pada kesibukan
produksi hari tersebut. Secara umum, tipe limbah cair industri pengolahan ikan dapat dibagi
dalam 2 golongan yaitu volum sedikit presentase limbah tinggi. Golongan volume banyakpresentase limbah rendah terdiri dari air yang digunakan untuk pembongkaran, transportasi,
penanganan ikan, dan air pencucian. Dalam limbah cair industri pengolahan ikan, umumnya
terkandung bahan organik berupa protein dan lemak. Kandungan bahan organik ini dapat
memberi dapat memberi efek negatif bagi lingkungan karena dapat menghabiskan oksigen serta
menimbulkan rasa dan bau yang tidak sedap pada penyedia air.
4.8.3 Teknik Penanganan Limbah
Limbah yang dihasilkan oleh industri harus ditangani agar tidak mencemari lingkungan
secara umum, teknik penanganan limbah dibagi menjadi tiga cara, yaitu secara fisik, kimia, dan
biologis. Penanganan limbah secara fisik dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu flotasi,
filtrasi, dan presipitasi. Flotasi merupakan proses yang digunakan untuk memisahkan padatan
dalam sebuah larutan, menghilangkan material tersuspensi seperti minyak dan lemak, serta
memekatkan lumpur endapan.
Penanganan limbah secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan partikel
partikel yang tidak mudah mengendap, logam berat, senyawa fosfor, dan zat organik beracun
29

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
dengan menambahkan bahan kimia tertentu. Proses pemisahan bahan bahan tersebut pada
prinsipnya berlangsung melalui perubahan sifat bahan yang semula tak dapat diendapkan
menjadi mudah diendapkan baik dengan maupun tanpa reaksi oksidasi-reduksi. Penanganan
limbah secara biologis umumnya digunakan secara bersamaan dengan penanganan limbah cara
fisik. Penanganan limbah menggunakan cara ini dipandang sebagai langkah penanganan yang
paling murah dan efisien dalam menangani limbah cair. Penangan ini biasanya menggunakan
lumpur aktif dan mikroorganisme sebagai pengurai bahan bahan organik yang terkandung pada
limbah.
Penanganan limbah di PT. Kelola Mina Laut baik untuk limbah padat, cair, maupun gas
menggunakan penanganan secara fisik dan biologis. Limbah padat yang telah dikumpulkan
kemudian disortasi dan dibersihkan dari daging daging sisa yang masih ada pada kepala atau
tulang ikan. Umumnya limbah padat yang dihasilkan langsung dijual kepada supplier untuk
kemudian diolah menjadi produk lain, seperti kitin/kitosan, petis, dan terasi. Limbah buangan gas
yang berasal dari proses cooking tidak mengalami treatment terlebih dahulu melainkan dibuang
ke lingkungan secara langsung. Limbah gas NH3 yang berasal dari pengolahan limbah cair
mengalami treatment secara biologis terlebih dahulu bersamaan dengan penanganan limbah cair
sehingga kandungan gas ammonia (NH3) dapat berkurang. Limbah cair yang dihasilkan
mengalami treatment terlebih dahulu di unit WWTP sebelum dibuang ke lingkungan.
4.9

Proses Produksi di Unit Ikan PT Kelola Mina Laut


Di PT Kelola Mina Laut ini dibagi dalam 3 unit dalam proses produksinya, yaitu unit

ikan, unit udang dan unit kepiting. Dalam laporan kerja praktek ini, kami membahas tentang
proses produksi maupun limbah yang dihasilkan pada unit ikan. Pada unit ikan ini terdapat
beberapa tahapan atau prosedur cara berproduksi yang baik (Good Manufacturing Practice) PT
Kelola Mina Laut. Kondisi standar internal pabrik, termasuk kondisi setiap ruangan didalam
pabrik dan program pemeliharaan bangunan di divisi ikan meliputi :
1. Ruang Pengadaan (Procurement Room) : Ruang untuk penerimaan bahan baku.
2. Ruang Proses (Processing Room) : Ruang yang berfungsi sebagai tempat pengolahan
bahan baku menjadi barang jadi (Finished Goods).
30

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
3. Cold Storage : Ruang pendingin untuk menyimpan produk barang jadi (Finished Goods),
dengan suhu ruangan -180C s/d -200C.
4. Anteroom : Ruang untuk menyimpan sementara produk sebelum dimasukkan atau
dikeluarkan dari cold storage.
5. Ruang Packing : Ruang untuk proses pengepakan (packing) produk jadi (Finished
Goods).
6. Unloading Dock : Ruang yang berupa teras berfungsi untuk membongkar (unloading)
atau memuat (loading) barang dan ke dalam kontainer.
7. Ruang Istirahat : Ruang tempat istirahat karyawan.
8. Gudang Non Bahan Baku (NBB) : Untuk menyimpan barang non bahan baku.
9. Gudang Cair : Ruang untuk menyimpan bahan bahan yang berbentuk cair.
10. Ruang es dan Es Crusher : Ruang untuk menyimpan dan menggiling es balok.
11. Ruang Mesin : Ruang yang berfungsi untuk mengoperasikan mesin mesin pendingin
secara terpusat (centralized )
Sementara itu untuk menunjang kondisi standar internal pabrik yang memenuhi SOP
maka dilakukan sesuai dengan referensi berikut ini :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

SD/FG/II-01
SD/FG/II-02
SD/FG/III-01
SD/Q/IV-01
SD/FG/IV-03
SD/Q/IV-12
CODEX

: Pre Requisite Programs (PRP)


: HACCP Plan Manual
: Food Safety and Quality Manual System
: External Standart
: Layout, Product Flow and segregation
: Pest & Rodent Control
: CAC / RCP1 Rev 4 2003 Section IV Esthablistment : Design &
Facilities

8. CODEX
9. CODEX

: CAC / RCP1 Rev 4 2003 Section VI. 1 Maintenance & Cleaning


: CAC / RCP9 1976 Section 5.1. Handling Fresh Fish On Shore
Plant.
10. EUROPAN UNION : EC 852/2004, Hygene of Foodstuffs. Annex II. Chapters I & II.
11. FDA USA
: CFR. Tittle 21 ; Part 110.20 ; Plant & Ground
Kondisi ruang yang ada di SBU Ikan memiliki spesifikasi bangunan antara lain :

Sub structure / pondasi : Strauss, plat beton bertulang


Main structure / kolom balok : baja
Upperstructure / rangka atap : baja
Dinding : Panel stryofoam, lapisan alumunium di cat sistem colorbond. Tebal 2 4 dan
7
31

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur

Lantai : Beton
Atap : Panel Styrofoam
Penangkal Petir : Terdiri dari terminal UFO dengan radius 100 meter, tiang pipa 20 meter,
kabel tembaga dan ground dengan kabel BC 50 meter dan ground rod 5/8 (copper clad)

4.10

Deskripsi Produk Ikan Air Laut


Dalam unit produksi ikan, terdapat beberapa produk ikan air laut. Salah satu produk ikan

air laut adalah Ikan Beku. Deskripsi tentang produk Ikan Beku antara lain :
Nama Produk
: Ikan Beku ( Ikan Demersal Fish )
Nama Spesies
:
Red Snapper
( Lutjanus spp. )
Grouper
( Ephinepellus spp. )
Sea Bream
( Nemiptherus spp. )
Parrot Fish
( Scarus spp. )
Emperor
( Lethrinus lentjam )
Barracuda
( Sphyraena barracuda )
Sea perches
( Pristipomoides spp. )
Hair Tall Fish
( Thriciurus savala )
Gar Fish
( Lepisosteus spp. )
Sea Mullet
( Mugil spp. )
Baramundi
( Lates calcalifer )
White Snapper
( Gymnocranius grandoculis )
Sweet Lips
( Plectorhinchus spp. )
King Snapper
( Pristipomoides spp. )
Nike
( Valenciannea muralis )
Asal Bahan Baku
: Laut Jawa, Laut Bali, Laut Hindia
Teknis Raw Material Diterima :
Ikan diterima dalam kondisi segar, utuh, dikemas dalam sterefoam ataubox berinsulasi
dilengkapi dengan air dan es. Suhu dijaga berkisar antara 0 50 C.
Ingredient
: CO untuk produk dengan perlakuan CO
Ingredient Origin : Indonesia
Produk Akhir:
Frozen Sea Water Fish Whole Around
Frozen Sea Water Fish Whole Gutted
Frozen Sea Water Fish Whole Gutted Scalled
Frozen Sea Water Fish Whole Gilled Gutted Scalled
Frozen Sea Water Fish Whole Fillet Skin On
Frozen Sea Water Fish Fillet Skinless
32

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
Frozen Sea Water Fish Fillet Co Treated
Frozen Sea Water Fish Steak
Tahapan Proses :
Frozen Sea Water Fish Whole Around
Receiving, Washing 1, Weighing 1, Washing 2, Sizing and grading, Weighing,Vacuuming /
Arranging / Layering, Freezing, Glazing / not glazing,Metal detecting ,Packing,Cold storage,
Stuffing.

Frozen Sea Water Fish Whole Gutted


Receiving, Washing 1, Weighing 1, Washing 2, Sizing and grading 1, Gutting, Washing 3, Sizing
and grading 2, Weighing 3, Washing 5, Arranging, Freezing, Freezing, Glazing,Metal
detecting,Packing,Cold storage, Stuffing.
Frozen Sea Water Fish Whole Gutted
Receiving, Washing 1, Weighing 1, Washing 2, Sizing and grading 1, Scaling, Gutting, Washing
3, Sizing and grading 2, Weighing 3, Washing 5, Arranging, Freezing, Glazing, Metal
detecting ,Packing,Cold storage, Stuffing.
Frozen Sea Water Fish Whole Gilled Gutted Scaled
Receiving, Washing 1, Weighing 1, Washing 2, Sizing and grading 1, Scaling, Gutting, Gilling,
Washing 3, Sizing and grading 2, Weighing 3, Washing 5, Arranging, Freezing, Glazing, Metal
detecting ,Packing, Cold storage, Stuffing.
Frozen Sea Water Fish Fillet Skin On
Receiving, Washing 1, Weighing 1, Washing 2, Sizing and grading 1, Scaling, Gutting, Gilling,
Filleting, Trimming, Washing 3, Sizing and grading 2, Weighing 3, Washing 5, Arranging,
Freezing, Glazing, Metal detecting ,Packing, Cold storage, Stuffing.
Frozen Sea Water Fish Filled Skinless
Receiving, Washing 1, Weighing 1, Washing 2, Sizing and grading 1, Scaling, Gutting, Gilling,
Filleting, Skinning, Trimming, Washing 3, Sizing and grading 2, Weighing 3, Washing 5,
Arranging, Freezing, Glazing, Metal detecting ,Packing, Cold storage, Stuffing.
Frozen Sea Water Fish Filled Co Treated
Receiving, Washing 1, Weighing 1, Washing 2, Sizing and grading 1, Weighing 2, Iced Fish
Storage, Scaling, Gutting, Gilling, Washing 3, Filleting, Trimming, Washing 3, Injection Co,
Chilling, Quality Checking, Sorting and Sizing, Weighing 3, Vacuuming, Layering / Arranging,

33

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
Freezing, Weighing 3, Vacuuming, Layering / Arranging, Freezing, Weighing 3, Metal
detecting,packing, Cold storage, Stuffing.
Frozen Sea Water Fish Steak
Receiving, Washing 1, Weighing 1, Washing 2, Sorting and Sizing, Weighing 2, Layering /
Arranging, Freezing, Cutting, Trimming, Washing 3, Sorting and Sizing Weighing, Washing 5,
Layering / Arranging . Freezing, Glazing, Weighing 3, Vacuuming / Wrapping, Metal
detecting,Packing, Cold storage, Stuffing.
Tipe Kemasan :
Ikan dikemas dalam kantong plastik food grade dengan atau tanpa innercarton dan
dimasukkan dalam mastercarton.
Penyimpanan
:Produk disimpan dalam ruang pendingin dengan temperature -20 20C
Lama Penyimpanan : 24 Bulan dalam keadaan beku suhu 20 20C tergantung jenis produk
Label / Spesifikasi : Nama Perusahaan, Jenis Produk, Spesies, Size Produk, Berat Bersih,
Nomor Approval, Tanggal Produksi, Tanggal Kadaluarsa, Asal Negara, Kode Telusur,
Komposisi, Petunjuk Penyimpanan
Komposisi
: Ikan
Cara Penyajian
: Dimasak sebelum di konsumsi
Petunjuk Penggunaan :Untuk umum kecuali yang memiliki allergen terhadap ikan
Negara Tujuan
: Eropa, USA, Jepang, Australia, Korea, Cina
Referensi
:
1. SNI 01.2729.1-2.2006
SNI.01.2969.1-3.2006
SNI.01.4110.1-3.2006
SNI.01.6928.1-3.2002
2. Kepmen 10/Men/2010
3. Permerin RI No. 75/M-IND/PER/7/2010
4. Permenkes No. 492/Menkes/Per/IV/2010
5. Fish and fishery product hazard and control guidance Fourth edition
6. EU regulation No. 852/2004, annex II Ch. IX
7. CAC/RCP/52-2003, rev. 2-2005
Secara keseluruhan alur proses di divisi ikan meliputi :

Nama Produk
Nomor Produk
Buyer
Tahapan Proses

: Whole Products
: AP/FG/IV-C3.01
: USA, EURO, ASIA
:
34

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur

* WGS dan WGGS


** WGGS
*** WG, WGS dan
WGGS

Standart Raw Material


1. Tidak bau

2. Mata Cerah
3. Tidak berdarah pada bagian kulit dan kepala ikan
4. Sisik masih utuh ( WR dan WG )
5. Tidak Cacat Fisik
6. Warna normal dan segar
7. Suhu ikan < 50 C
Standar Kimia :
1. Tidak mengandung logam berat
2. Kandungan antibiotik sesuai standart negara tujuan ( Produk Fresh Water )
Standar Mikrobiologi :
1. TPC < 5 x 105
2. Salmonella Negatif
3. E. Coli Negatif
4. Staphylococus Negatif
35

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur

4.11

5. Vibrio Chlorerae Negatif


Standar Organoleptik :
1. Bau normal
2. Rasa normal
3. Warna kulit normal / tidak memar
4. Tidak dehidrasi
5. Penampilan menarik
6. Tidak berdarah pada bagian perut ( WG, WGS, WGGS )
7. Tidak ada darah sisa pencucian ( WGS dan WGGS )
8. Tidak ada sisa sisik yang menempel ( WGS dan WGGS )
Mesin Proses :
1. Air blast freezer
2. Timbangan digital ketelitian maksimal 10 gr
3. Strapping band machine
Proses Pengolahan Air Bersih PT Kelola Mina Laut
Sebelum menjadi air limbah, tentu harus diketahui terlebih dahulu sumber air yang

dipakai untuk proses produksi. Sumber air yang digunakan di PT Kelola Mina Laut ini adalah
berasal dari air PDAM. Berikut adalah diagram proses pengolahan air PT Kelola Mina Laut.
GMP 1. Pemompaan Air PDAM
GMP 2. Penyimpanan Sementara
GMP 3. Pengendapan
GMP 4. Penjernihan I
GMP 5. Penjernihan II
GMP 6. Penjernihan III
GMP 7. Penyimpanan

GMP 8. Desinfeksi ClO2

GMP 10. Distribusi Air non


Pencucian

GMP 9. Distribusi Air Pencucian

36

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
Gambar 4.2 Diagram Alir Proses Pengolahan Air Bersih
4.11.1 Cara Berproduksi yang Baik (Good Manufacturing Practice) Pengolahan Air
GMP 1. Air PDAM
Proses : Air PDAM dilewatkan dalam pipa PVC dan langsung dimasukkan dalam tangki clarifier
Tujuan: Mendapatkan air bersih yang berkualitas untuk air minum dan volume air dapat
memenuhi kebutuhan untuk produksi
Referensi :
1. PER.19/MEN/2010
2. EU Regulation No 852/2004, annex II Ch. IX
3. CAC/RCP/52-2003, rev.2-2005
Prosedur :
1. Air bersumber dari PDAM dengan kedalaman tertentu yang terjamin kebersihannya
2. Air dipompa menggunakan pompa yang baik dan bebas dari kontaminan seperti karat dan
kotoran lainnya
3. Air dilewatkan pada pipa PVC bersih dan layak dipakai kemudian dimasukkan pada
tangki clarifier
4. Pemompaan dilakukan di area yang bersih dan dalam kondisi tertutup
5. Proses pemompaan dilakukan dengan memperhatikan pedoman cara produksi yang baik
untuk makanan dalam Permenrin RI No 75/M-IND/PER/7/2010
Monitoring :
Staff teknik melakukan pengecekan warna keluaran air dan debit air per 1 jam di lubang outlet
pipa. Jika warna air keruh (tidak bening) maka pemompaan dihentikan dan jika debit air tidak
sesuai maka konfirmasi ke manager teknik.
GMP 2. Penyimpanan Sementara
Proses : Menyimpan air bersih yang telah diolah dalam wadah besar/kolam bersih dan tertutup
Tujuan :
1. Menyimpan air bersih
2. Mencegah kekurangan air karena kecukupan air dapat diketahui lebih awal.
Referensi :
1. PER.19/MEN/2010
2. EU Regulation No. 852/2004, annex II Ch. IX
3. CAC/RCP/52-2003, rev. 2-2005
Prosedur :
1. Kolam penyimpanan air terjaga kebersihan dan tertutup dengan akses terbatas (hanya
petugas yang ditunjuk yang dapat mengakses area tersebut)
37

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
2. Air dari hasil pengolahan (penjernihan) dipompa ke kolam penyimpanan yang berlokasi
tidak jauh dari area pengolahan air
3. Selama penyimpanan air tidak mengalami perlakuan
4. Penyimpanan sementara ini tergantung dari volume jumlah airjika air melebihi melebihi
kapasitas
5. Penyimpanan dilakukan dengan memperhatikan pedoman cara produksi yang baik untuk
makanan dalam Permenrin RI No 75/M-IND/PER/7/2010
Monitoring :
Operator teknik melakukan pengecekan kecukupan air simpanan di area kolam penyimpanan.
GMP 3. Pengendapan
Proses : Air diendapkan dengan menggunakan bahan kimia yaitu Poly Amonium Chloride (PAC)
dan Hidrogen Peroksida (H2O2)
Tujuan : Mengendapkan partikel kotoran yang terlarut dalam air sehingga didapatkan air bersih
Referensi :
1. PER.19/MEN/2010
2. EU Regulation No. 852/2004, annex II Ch. IX
3. CAC/RCP/52-2003, rev. 2-2005
Monitoring :
Staff teknik memonitor kualitas air clarifier setiap 1 jam sekali secara visual. Jika air masih
keruh maka air tersebut disirkulasikan ke tangki clarifier dan evaluasi konsentrasi bahan kimia
yang digunakan.
GMP 4. Penjernihan I
Proses : Air dilewatkan pada tangki silica untuk mengurangi kandungan besi dengan cara
dipompa bergerak ke dari atas ke bawah
Tujuan : untuk mendapatkan air bersih dengan kandungan besi < 0,3 ppm
Referensi :
1. PER.19/MEN/2010
2. EU Regulation No. 852/2004, annex II Ch. IX
3. CAC/RCP/52-2003, rev. 2-2005
Prosedur :
1. Tangki dan pipa yang digunakan untuk penjernihan bersih dan tidak mengalami kerusakan
2. Air dari tangki clarifier dilewatkan pada tangki silica dengan menggunakan pompa air dan
diarahkan dari atas ke bawah
3. Selama perjalanan dari atas ke bawah besi kandungan besi akan menempel di partikel
silica
4. Petugas yang ditunjuk melakukan pengecekan per 1 jam untuk memastikan bahwa air
yang dihasilkan bersih dengan indicator bahwa air keluaran tidak kotor
38

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
5. Air yang sudah melewati tangki silica kemudian dipompa ke tangki karbon
6. Proses penjernihan 1 dilakukan dengan memperhatikan pedoman cara produksi yang baik
untuk makanan dalam Permenrin RI No 75/M-IND/PER/7/2010
Monitoring :
Staff teknik melakukan monitoring secara visual tingkat kebersihan air keluaran dari tangki silica
per 1 jam dan analisis laboratorium melakukan monitoring kandungan besi 2 kali sebulan. Jika
kualitas air keluaran kotor dan kandungan besi > 0,3ppm maka suplai air ke tangki silica
dihentikan dan dilakukan pembersihan.
GMP 4. Penjernihan II
Proses : Air dilewatkan pada tangki karbon untuk mengurangi kandungan besi dengan cara
dipompa bergerak ke dari atas ke bawah
Tujuan : untuk mendapatkan air bersih yang jernih dan bebas dari bau
Referensi :
1. PER.19/MEN/2010
2. EU Regulation No. 852/2004, annex II Ch. IX
3. CAC/RCP/52-2003, rev. 2-2005
Prosedur :
1. Tangki dan pipa yang digunakan untuk penjernihan bersih dan tidak mengalami kerusakan
2. Air dari tangki silika dilewatkan pada tangki karbon dengan menggunakan pompa air dan
diarahkan dari atas ke bawah
3. Selama perjalanan dari atas ke bawah besi kotoran dan bau akan diserap/ menempel di
partikel karbon
4. Petugas yang ditunjuk melakukan pengecekan per 1 jam untuk memastikan bahwa air
yang dihasilkan bersih dengan indicator bahwa air keluaran tidak kotor
5. Air yang sudah melewati tangki karbon kemudian dipompa ke tangki resin
6. Proses penjernihan 2 dilakukan dengan memperhatikan pedoman cara produksi yang baik
untuk makanan dalam Permenrin RI No 75/M-IND/PER/7/2010
Monitoring :
Staff teknik melakukan monitoring secara visual tingkat kebersihan air keluaran dari tangki silica
per 1 jam dan analisis laboratorium melakukan monitoring kandungan besi 2 kali sebulan. Jika
kualitas air keluaran kotor dan berbau maka suplai air ke tangki karbon dihentikan dan dilakukan
pembersihan.
GMP 4. Penjernihan III
Proses : Air dilewatkan pada tangki resin untuk mengurangi kandungan kesadahan dengan cara
dipompa bergerak ke dari atas ke bawah
Tujuan : untuk mendapatkan air bersih dengan kandungan kesadahan <500 ppm
39

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
Referensi :
1. PER.19/MEN/2010
2. EU Regulation No. 852/2004, annex II Ch. IX
3. CAC/RCP/52-2003, rev. 2-2005
Prosedur :
1. Tangki dan pipa yang digunakan untuk penjernihan bersih dan tidak mengalami kerusakan
2. Air dari tangki karbon dilewatkan pada tangki resin dengan menggunakan pompa air dan
diarahkan dari atas ke bawah
3. Selama perjalanan dari atas ke bawah kandungan unsure kesadahan (Mg dan Ca)
menempel di partikel karbon
4. Petugas yang ditunjuk melakukan pengecekan per 1 jam untuk memastikan bahwa air
yang dihasilkan bersih dengan indicator bahwa air keluaran tidak kotor
5. Air yang sudah melewati tangki resin kemudian dipompa ke tangki tendon
6. Proses penjernihan 3 dilakukan dengan memperhatikan pedoman cara produksi yang baik
untuk makanan dalam Permenrin RI No 75/M-IND/PER/7/2010
Monitoring :
Staff teknik melakukan monitoring secara visual tingkat kebersihan air keluaran dari tangki resin
per 1 jam dan analisis laboratorium melakukan monitoring kandungan besi 2 kali sebulan. Jika
kualitas air keluaran kotor dan berbau maka suplai air ke tangki resin dihentikan dan dilakukan
pembersihan.
GMP 7. Penyimpanan
Proses : Menyimpan air bersih yang telah diolah dalam wadah besar/kolam bersih dan tertutup
Tujuan :
1. Menyimpan air bersih
2. Mencegah kekurangan air karena kecukupan air dapat diketahui lebih awal.
Referensi :
1. PER.19/MEN/2010
2. EU Regulation No. 852/2004, annex II Ch. IX
3. CAC/RCP/52-2003, rev. 2-2005
Prosedur :
1. Kolam penyimpanan air terjaga kebersihan dan tertutup dengan akses terbatas (hanya petugas
yang ditunjuk yang dapat mengakses area tersebut)
2. Air dari hasil pengolahan (penjernihan) dipompa ke kolam penyimpanan yang berlokasi tidak
jauh dari area pengolahan air
3. Selama penyimpanan air tidak mengalami perlakuan
4. Penyimpanan sementara ini tergantung dari volume jumlah airjika air melebihi melebihi
kapasitas
40

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
5. Penyimpanan dilakukan dengan memperhatikan pedoman cara produksi yang baik untuk
makanan dalam Permenrin RI No 75/M-IND/PER/7/2010
Monitoring :
Operator teknik melakukan pengecekan kecukupan air simpanan di area kolam penyimpanan.
GMP 8. Desinfeksi ClO2
Proses : Mendesinfeksi bakteri menggunakan desinfektan ClO2 dengan sistem injeksi pada dosis
tertentu
Tujuan : Untuk membunuh bakteri pathogen dan non pathogen
Referensi :
1. PER.19/MEN/2010
2. EU Regulation No. 852/2004, annex II Ch. IX
3. CAC/RCP/52-2003, rev. 2-2005
Prosedur :
1. Pipa dan tangki untuk proses desinfeksi bersih dan dalam kondisi baik
2. Prosedur pembuatan air ClO2 sesuai dengan SD/Q/II-14
3. Air ClO2 diinjeksikan ke tabung mixer untuk mendapatkan homogenitas konsentrasi
4. Air ClO2 yang telah homogen diinjeksikan ke pipa aliran air distribusi ke unit ikan, udang
dan rajungan
5. Desinfeksi air ClO2 dilakukan dengan memperhatikan pedoman cara produksi yang baik
untuk makanan dalam Permenrin RI No 75/M-IND/PER/7/2010
Monitoring :
Operator atau petugas yang ditunjuk melakukan pengecekan konsentrasi yang dikeluarkan dari
unit emsin ClO2 dan stok bahan kimia setiap hari. QC proses melakukan pengecekan konsentrasi
yang keluar di kran proses secara sampling setiap hari menggunakan alat ClO 2 meter. Jika
konsentrasi tidak sesuai dengan standar maka segera dilakukan pengaturan konsentrasi.
GMP 9. Distribusi Air Pencucian
Proses : Air dari tandon didistribusikan ke ruang proses produksi untuk digunakan sebagai air
selain air cuci baik untuk cuci produk maupun untuk cuci peralatan menggunakan pompa.
Tujuan : Mendistribusikan air ke ruang proses produksi melewati pipa PVC
Referensi :
1.PER.19/MEN/2010
2. EU Regulation No. 852/2004, annex II Ch. IX
3. CAC/RCP/52-2003, rev. 2-2005
Prosedur :
1. Tangki, pipa dan pompa yang digunakan bersih dan dalam kondisi baik.
2. Air dipompa dari tandon kemudian ke ruang proses produksi

41

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
3. Proses distribusi air pencucian dilakukan dengan memperhatikan pedoman cara produksi
yang baik untuk makanan dalam Kep. Men no 23/Men.Kes/SK/I/1978
Monitoring :
Petugas memonitor pompa setiap 1 jam sekali. Jika tekanan kurang dan konsentrasi tidak sesuai
standar maka segera dilakukan pengaturan tekanan dan konsentrasi.
GMP 10. Distribusi Air non Pencucian
Proses : Air dari tandon didistribusikan ke ruang proses produksi untuk digunakan sebagai air
selain air cuci baik untuk cuci produk maupun untuk cuci peralatan menggunakan pompa.
Tujuan : Mendistribusikan air ke ruang proses produksi melewati pipa PVC
Referensi :
1. PER.19/MEN/2010
2. EU Regulation No. 852/2004, annex II Ch. IX
3. CAC/RCP/52-2003, rev. 2-2005
Prosedur :
1. Tangki, pipa dan pompa yang digunakan bersih dan dalam kondisi baik.
2. Air dipompa dari tandon kemudian ke ruang proses produksi
3. Proses distribusi air pencucian dilakukan dengan memperhatikan pedoman cara produksi
yang baik untuk makanan dalam Permenrin RI No 75/M-IND/PER/7/2010
Monitoring :
Petugas memonitor pompa setiap 1 jam sekali. Jika tekanan kurang dan konsentrasi tidak sesuai
standar maka segera dilakukan pengaturan tekanan dan konsentrasi.
4.11.2 Parameter Proses Pengolahan Air Bersih
Parameter fisik air biasanya dilihat dari unsure yang berhubungan dengan indera manusia
seperti penglihatan, sentuhan, rasa dan penciuman yaitu meliputi turbidity (kekeruhan), warna,
bau dan suhu. Sistem pengolahan yang dilakukan adalah proses sedimentasi, filtrasi dan
penambahan desinfektan. Jika dilihat dari jenis senyawanya, dibagi menjadi dua yaitu :
1) Parameter Kimia
Senyawa kimia yang sering ditemukan pada air adalah Fe, Mn, Ca, Mg, Na, SO 4, CO3.
Jika air memiliki kandungan senyawa kimia yang berlebihan (melebihi baku mutu),
pengolahan dapat dilakukan dengan sistem filtrasi dengan menggunakan media tertentu
misalnya Reverse Osmosis atau Demineralier dan Softener
2) Parameter Biologi
Parameternya dilihat berdasarkan adanya mikroorganisme yang ada dalam air. Bila
jumlah mikroorganisme di dalam air berlebihan biasanya akan mengganggu kesehatan

42

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
bila dikonsumsi. Pengolahan dapat dilakukan dengan menggunakan desinfektan atau alat
yang biasa digunakan, misalnya injeksi Khlor, sistem UV dan sistem Ozone
4.11.3 Water Treatment Plant (WTP) PT. Kelola Mina Laut
Water Treatment Plant (WTP) PT Kelola Mina Laut mengolah air yang belum memenuhi
baku mutu. Awal proses air sumur ditampung dalam tangki clarifier. Pada clarifier tersebut
terdapat penambahan bahan kimia yaitu Hipochlorine dan PAC sebagai desinfektan. Air dari
tangki clarifier tersebut kemudian dipompa dengan tekanan 2-4 bar menuju filter 1-3. Filter 1
berisi penyaring silika, filter 2 berisi penyaring karbon dan filter 3 berisi penyaring resin.
Perawatan untuk masing-masing media filter adalah sebagai berikut :
A. Silica
Filter ini menggunakan media pasir silika yang ditumpuk diatas gravel. Sistem ini
berfungsi sebagai penyaring atau menghilangkan kotoran kasat mata yang mempunyai daya
saring 20-30 .
Perawatan :
1. Backwash
Backwash adalah pencucian yang dilakukan untuk menghilangkan kotoran terakumulasi diatas
media dengan metode aliran terbalik. Air hasil backwash langsung dibuang melalui drain.
Backwash biasanya dilakukan setiap 1-2 hari sekali selama 30-60 menit (tergantung influent dan
tingkat kekotoran media)
2. Sanitasi
Sanitasi dilakukan setiap bulan atau saat hasil analisa mikro tidak sesuai baku mutu. Sanitasi
dilakukan dengan cara memasukkan bahan sanitasi ke dalam tangki dan direndam bersama
media dengan jumlah dan waktu yang telah ditentukan. Selain itu sanitasi bisa juga dilakukan
dengan cara merendam media dengan air bersuhu diatas 80oC selama 1-2 jam.
3. Rinse/pembilasan
Dilakukan setelah proses backwash atau sanitasi selesai yang bertujuan untuk membilas kotoran
yang tersisa pada proses backwash dan sanitasi. Air proses rinse langsung dibuang melalui
drainase.
43

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
B. Karbon Aktif
Filter menggunakan karbon /arang berfungsi mengurangi bau, warna, bahan organik
termasuk sisa khlor. Biasanya karbon aktif bisa bertahan 1-2 tahun.
Perawatan :
1. Backwash
Dilakukan 1-2 hari tergantung tingkat kekotoran media atau media jenuh.
2. Sanitasi
Dilakukan setiap bulan atau saat hasil analisa mikro tidak sesuai baku mutu. Biasanya direndam
air dengan suhu 80oC (autoclave) selama 2 jam. Dalam keadaan tertentu dapat direndam dengan
bahan sanitasi selama 30 menit untuk sanitasi namun tidak boleh terlalu lama dan terlalu sering.
3. Rinse/pembilasan
Dilakukan setelah proses backwash dan sanitasi selesai
C. Softener / Resin Filter
Menggunakan media resin kation yang diaktifkan menggunakan garam (NaCl). Sistem ini
berfungsi menghilangkan kesadahan (Ca dan Mg). Umur media mencapai 10-12 bulan.
Perawatan :
1. Backwash
Dilakukan sebelum melakukan regenerasi
2. Regenerasi
Dilakukan pada saat media telah jenuh (tidak mampu menurunkan kesadahan) dengan cara
merendam / mengaliri media dengan larutan NaCl.
3. Sanitasi
Dilakukan dengan cara mengaliri media dengan larutan khlor konsentrasi rendah (0,1-0,2 ppm)
selama 1-2 menit.
Setelah melalui 3 tahapan filtrasi, air disuplai menuju tandon central. Di tandon central
tersebut air mengalami proses pengendapan. Air setelah proses pengendapan ditampung ke
bejana tekan dengan tekanan 2 bar kemudian air disuplai ke unit proses ikan, udang dan
rajungan.
44

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur

Proses pengolahan air bersih WTP PT. Kelola Mina Laut dapat dilihat pada gambar
berikut :

Air
PDAM
Tangki Clarifier

Tangki Filter
Resin

Tangki Filter
Karbon

Tangki Filter
Silika

Unit
Ikan,
Tangki
Filter
SilikaUdang
Tangki Filter
dan
Gambar 4.3 Diagram Alir Proses Water Treatment Plant PT. Kelola Mina Laut
Resin
Rajungan
4.11.4 Proses Pembersihan dan Regenerasi Air Bersih
Tangki Filter
Karbon

Reservoir

Bejana Tekan
Reservoir

Bejana Tekan

45

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
Proses pembersihan dan regenerasi dilakukan untuk mendapatkan kualitas air yang baik.
Pembersihan dilakukan untuk silica, karbon dan resin dan dijadwalkan dilaksanakan setiap hari.
1. Proses Pembersihan (Backwash)
Proses pembersihan dilakukan dengan menggunakan air yaitu dengan mengalirkan air
tersebut dari bawah sehingga akan bergerak ke atas. Selama pergerakan ke atas, aliran air
tersebut akan membawa kotoran dan kotoran dikeluarkan lewat lubang pembuangan.
Proses ini dihentikan apabila air keluaran telah bersih kemudian arah aliran air diubah
dari atas ke bawah jika air yang keluar dari tangki sudah bersih maka proses pembersihan
dihentikan.
2. Proses Regenerasi
a) Proses regenerasi dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja resin dan
mendapatkan kualitas air proses yang bagus. Regenerasi dilakukan setiap hari.
Bahan yang digunakan yaitu larutan garam dengan konsentrasi 2 %. Proses
regenerasi dilakukan selama 2-3 jam.
b) Mekanisme regenerasi ada 2 cara yaitu dengan sistem air mengalir dan sistem
perendaman (didiamkan dalam kurun waktu tertentu). Sistem air mengalir yaitu
larutan garam dimasukkan ke dalam resin dari atas kemudian secara perlahanlahan larutan garam akan mengalir ke bawah dengan membawa senyawa Ca, Mg
dan Fe yang telah terikat pada resin. Tekanan disuplaikan ke tangki untuk
mengalirkan larutan garam sebesar 2 bar
c) Sedangkan sistem perendaman yaitu larutan garam dimasukkan ke dalam tangki
resin dan dibiarkan 2-3 jam.
d) Untuk mengetahui akhir dari regenerasi dilakukan pengecekan kadar hardness dan
Fe serta uji secara visual dengan melihat tekanan pada tangki
e) Jika telah selesai regenerasi maka dilakukan pembilasan dengan air bersih selama
1 jam
Monitoring
Harian :
Dilakukan oleh operator teknik bagian WTP. Pengamatan yang dilakukan antara lain
mutu fisik dan peralatan serta mesin pengolahan air. Mutu fisik yang diamati antara lain : warna

46

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
bau, kekeruhan. Pengamatan dilakukan secara visual, jenis air yang diamati antara lain air yang
keluar clarifier, silica, karbon, resin, tandon dan desinfeksi.
Mingguan :
Dilakukan oleh analisis laboratorium. Uji yang dilakukan antara lain : uji fisik, kimia, dan
mikrobiologi. Titik pengambilan sampel antara lain dari kran-kran produksi yang diambil secara
random. Parameter uji mikrobiologi yang dilakukan antara lain uji Total Plate Count (TPC) dan
coliform, untuk kasus tertentu maka dapat dilakukan uji E.Coli.
4.12 Standar Operasional Prosedur Sanitasi
Dalam melakukan pengolahan air bersih maupun air limbah, tentu harus memperhatikan
Standar Operasional Prosedur (SOP) Sanitasi agar terjamin mutu dan keamanannya bagi orangorang di sekitar perusahaan.
4.12.1 Mutu dan Keamanan Air
4.12.1.1 Referensi

Permenkes No. 492/Menkes/Per/IV/2010


EU Reg.852/2004 Article 2 Annex II Ch. VII
EU Reg.853/2004 Article 3 Annex III, Section VIII, Ch. IIIA
EU Decision 98/83
21 CFR 110 Current Good Manufacturing Practice in Manufacturing, Packing, or

Holding Human Food


4.12.1.2 Tujuan Sanitasi

Tersedianya air dengan kualitas potable water untuk pengolahan

Tidak tercampurnya sumber air minum dengan sumber bukan air minum
4.12.1.3 Persyaratan Perusahaan dalam Sanitasi

Sumber Air : air PDAM

Perlakuan Internal : Clarifier ( Pengendapan ), Penjernih Silika, carbon, dan resin

Penyimpanan air internal : Satu bangunan berfungsi sebagai tandon penyimpanan air

Sistem pemasangan pipa : Semua sistem pipa air hanya untuk air minum
4.12.1.4 Prosedur Operasional Harian
Perusahaan mempunyai instalasi untuk pengolahan air, prosedur pengolahan sebagai berikut :
1.
Sumber air dari PDAM, air dipompa ke tangki clarifier ( tangki pengendapan )
2.
Air ditambah PAC dan hypoclorite untuk pengendapan bahan padatan yang terlarut
3.
Setelah pengendapan, air dipompa ke tangki penyimpanan
4.
Pengolahan terakhir air dipompa ke pelunakan, dalam tahapan ini air meliwati tangki
Silika,tangki carbon aktif, dan resin
5.
Air minum dipompa ke tangki penyimpanan utama
6.
Kontaminasi persediaan air dicegah dengan menggunakan check valve disetiap selang
47

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
didalam pabrik
Pengujian Organoleptik untuk kualitas air setiap 1 jam sekali seperti bau dan warna
Pemetaan dan pelabelan pipa air
Pengujian kualitas air
Pengujian kualitas air secara rutin oleh laboraturium internal sesuai dengan
PER.MEN.KES RI No. 492/MENKES/PER/IV/2010
11.
Pengujian kualitas air secara rutin oleh laboratorium eksternal sesuai dengan
PER.MEN.KES RI No. 492/MENKES/PER/IV/2010Jika terjadi kekurangan dengan
sumber air atau ketidaksesuaian dari kualitas air, maka penanggung jawab harus
mengganti sumber air dengan air yang sesuai dengan standar
4.12.1.5 Monitoring dan Verifikasi
Pengawasan kualitas air setiap minggu pada tangki penyimpanan utama dan pipa oleh
7.
8.
9.
10.

analis laboratorium internal meliputi pengujian fisik, kima, dan mikrobiologi.


Pengawasan kualitas air pada pipa outlet setiap jam oleh QC secara visual
Pengawasan kualitas air setiap 6 bulan oleh analisis laboratorium eksternal meliputi

pengujian fisik, kimia, dan mikrobiologi


Membersihkan dan memperbaiki tendon air
Tutup kran yang tersambung dengan pipa yang mati atau rusak sampai pipa dipasang

kembali
Evaluasi karyawan untuk menjaga sistem secara berkala
4.12.1.6 Tindakan koreksi yang dilakukan apabila terjadi penyimpangan
Jika kualitas air tidak sesuai dengan standar, proses produksi harus dihentikan sampai ada
perbaikan dari pengolahan air dan dinyatakan lolos oleh laboratorium ( mendapatkan
sumber air yang sesuai dengan standar ) , tahan produk jadi dan periksa kembali dengan
pengujian analisa mikrobiologi, tahan ekspor produk jadi.
4.12.1.7 Dokumen dan Laporan
Pemetaan sistem pipa dan penomoran kran
Pengecekan kualitas mikrobiologi air (Form Microbiological Test Raport of Water and

Ice FF/Q/V-05.13)
Pengecekan kualitas fisik air (Form Physical and Chemical Test Raport of WTP FF/Q/V-

05.13)
Hasil analisa laboratorium eksternal
4.12.1.8 Penanggung Jawab
Manager Teknik
Manager QC
Kepala Laboratorium
48

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
4.12.2 Penanganan Limbah Padat dan Cair
4.12.2.1 Referensi
PER.19/MEN/2010
EU Reg.852/2004 Article 2 Annex II Ch. VII
21 CFR 110 Current Good Manufacturing Practice in Manufacturing, Packing, or
Holding Human Food
4.12.2.2 Tujuan
Memastikan limbah dibuang dari area proses
Limbah cair ditangani dan dikontrol
Mencegah terjadinya kontaminasi produk dengan limbah
4.12.2.3 Persyaratan Perusahaan
Tipe limbah padat dan cair
Limbah padat harus harus dildikeluarkan dari ruang proses
Area limbah terpisah dari area pengolahan
Tempat sampah disediakan untuk pembuangan limbah padat dengan spesifikasi harus

memenuhi standar yakni harus berpenutup dan mudah dibersihkan


Limbah cair dialirkan ke saluran air limbah dan ditangani terlebih dahulu sebelum

dibuang ke sungai
4.12.2.4 Prosedur Operasional Harian
Limbah padat ditempatkan terpisah di wadah yang baik dan berbeda dengan produk

utama
Limbah padat ditampung dalam wadah yang bersih, berlabel, dan tertutup
Limbah padat organik dipisah dengan limbah padat anorganik. Limbah padat organik
ditempatkan di tempat area sampah khusus dan di wadah sementara sebelum dipindah ke

tempat pembuangan akhir


Limbah cair langsung dialirkan ke aliran yang yang berbeda dari air hujan dan aliran

yang tertutup. Selokan meliputi saringan didalam dan diluar


Limbah padat dibuang setiap hari
Wadah limbah proses harus dibersihkan setiap selesai proses dan akhir bekerja
Limbah cair harus dialirkan melewati selokan yang baik, tahan air dan melewati tahap

pengolahan sehingga aman dibuang keluar ke selokan limbah atau ke sungai


4.12.2.5 Monitoring dan Verifikasi
Pengawasan bahwapembuangan limbah padat pembuangan limbah padat dan aliran air
limbah telah dilaksanakan sesuai dengan prosedur di ruangan proses dan lingkungan
pabrik setiap hari oleh petugas sanitasi
49

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur

Staff sanitasi memonitor pembuangan limbah padat diluar area proses harus berjalan

dengan baik
Pengawasan wadah limbah di ruang proses dan penyimpanan sementara setiap hari dalam

kondisi bersih oleh personel sanitasi dengan check visual


Kualitas hasil pengolahan limbah cair diuji setiap 2x sebulan oleh laboratorium internal
dan untuk memastikan bahwa limbah sebelum dialirkan ke sungai telah memenuhi

standar lingkungan.
4.12.2.6 Tindakan koreksi yang dilakukan apabila terjadi penyimpangan
Segera bersihkan limbah padat yang tertinggal di limbah cair dan pisahkan padatan dari

air secepatnya
Jika ada limbah padat tidak dikeluarkan dari ruang proses harus di dikeluarkan ke tempat

pembuangan akhir dan dibersihkan


Tidak menyiramkan padatan ke drainase
Jika ada masalah di selokan segera perbaiki
Training ulang karyawan
Jika ada limbah yang tidak dibuang segera dibuang dan dibersihkan
Treatment limbah cair harus setiap hari dilakukan
4.12.2.7 Dokumen dan Laporan
Sanitation of Processing Room
Form Kesehatan Karyawan
4.12.2.8 Penanggung Jawab
Manager HRD
Kepala Laboratorium

BAB V
PEMBAHASAN
5.1

Pengolahan Limbah PT. Kelola Mina Laut

50

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
Dalam proses produksi tentunya menghasilkan limbah. Limbah yang dihasilkan adalah
limbah cair dan limbah padat. Dalam proses pengolahannya diperlukan identifikasi jenis-jenis
limbah yang dihasilkan.
5.1.1

Jenis dan Sumber Limbah


Limbah yang dihasilkan dari proses produksi di PT Kelola Mina Laut dikelompokkan

dalam 2 jenis yaitu limbah cair dan limbah padat. Limbah padat secara umum antara lain master
carton yang sudah rusak, kaleng dan sisa plastic yang berasal dari ruang penerimaan bahan baku,
cold storage, loading dock, dan gudang non baku. Sedangkan limbah cair yang dihasilkan yaitu
air bekas pencucian peralatan dan mesin serta air sisa pembersihan bangunan (lantai, dinding,
selokan) di setiap ruangan unit proses produksi ikan.
5.1.2

Urgensi Pengolahan Limbah

5.1.2.1 Pencemaran Terhadap Air


Limbah yang dikeluarkan dari PT. Kelola Mina Laut termasuk pengolahan hasil laut,
banyak mengandung bahan-bahan organik yang mudah mengalami pembusukan baik limbah cair
maupun limbah padat. Pencemaran yang dihasilkan oleh limbah cair dapat ditunjukkan dengan
COD (Chemical Oxygen Demand) atau BOD (Biologycal Oxygen Demand). Nilai COD dan
BOD yang keluar setelah pengolahan di PT. Kelola Mina Laut harus sesuai baku mutu yang
berlaku saat dibuang ke lingkungan sehingga tidak mencemari lingkungan dan masyarakat
sekitar.
5.1.2.2 Pencemaran Terhadap Ekosistem Lingkungan
Selain dapat mencemari air, limbah yang dikeluarkan oleh PT. Kelola Mina Laut dapat
mencemari ekosistem lingkungan lainnya khususnya di darat. Sebagai contoh, limbah padat yang
berasal dari proses produksi tidak ditangani secara baik sehingga

sampah-sampah

tersebut

menumpuk dan menimbulkan beberapa permasalahan. Permasalahan-permasalahan itu antara


lain pencemaran bibit penyakit, menimbulkan bau, tidak

memenuhi

aspek

estetika

yang

berdampak terhadap kerusakan tata lingkungan atau ekosistem lingkungan dan kesehatan
manusia, binatang maupun tumbuhan di sekitar perusahaan.
5.1.3

Penanganan Limbah Padat

51

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
Limbah padat di PT. Kelola Mina Laut ini dikelompokkan dalam limbah padat organic
dan anorganik. Penanganan limbah padat menggunakan pihak ketiga sebagai penadah sehingga
ada catatan yang mencatat keluarnya limbah padat yang diberikan kepada pihak ketiga.
5.1.3.1 Limbah Padat Anorganik
Limbah padat anorganik dapat berasal dari dalam proses produksi/luar proses produksi.
Limbah padat anorganik yang berasal dari dalam proses produksi dapat berupa : sisa kemasan
plastic, master carton, kaleng dan sisa kemasan lain, peralatan proses yang rusak yang harus
dibuang seperti keranjang, box fiber atau peralatan lain yang berbahan logam, stainless steel atau
lainnya. Peralatan seperti keranjang, box fiber, drigen, kemasan plastic dan bahan lain yang
masih bisa dijual kemudian dijual ke penadah barang-barang bekas. Khusus untuk segala bentuk
limbah padat yang ada trademark mili buyer tidak boleh dijual, namun dicatat, dipisahkan dan
dihancurkan. Jumlah MC yang berlogo buyer tercatat dalam form yang disiapkan. Pengeluaran
limbah padat anorganik dari ruang proses produksi dilakukan sesegera mungkin disaat wadah
tempat sampah terlihat penuh dan diikat agar tidak terbuka untuk selanjutnya dikumpulkan di
Tempat Penampungan Sementara di area pabrik. Tugas ini dilakukan oleh karyawan sanitasi atau
petugas lain yang ditunjuk.
5.1.3.2 Limbah Padat Organik
Yang tergolong kedalam limbah padat organic di PT. Kelola Mina Laut ini adalah limbah
yang keluar dari bagian tubuh udang, ikan dan rajungan. Penanganan limbah padat organic
dilakukan mulai dari penanganan di ruang proses, distribusi ke penampungan sementara di area
lingkungan pabrik sampai pengangkutan keluar area pabrik. Setelah mengirimkan limbah padat
ke ruang limbah padat, petugas wajib mencuci tangan dan mencuci sepatu pada bak cuci kaki
untuk mencegah kontaminasi ruang proses dari ruang limbah. Limbah padat organic yang sudah
tidak mempunyai nilai ekonomis ditangani dengan cara, diusahakan agar tidak terikut ke dalam
aliran limbah cair, hal ini dilakukan dengan memberikan saringan di gutter pembuangan air
proses, dengan diameter lubang saringan yang sesuai sehingga limbah padat dapat ditangani
dengan benar. Limbah padat organic dari ruang produksi dimasukkan ke dalam plastic sampah
dan diikat agar tidak terbuka, yang dilakukan oleh petugas sanitasi proses atau petugas produksi
yang ditunjuk. Limbah padat organic lainnya selain dari ruang proses, seperti sisa makanan atau

52

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
dedaunan dikumpulkan atau dibuang ke dalam tempat sampah yang disediakan pada beberapa
area. Tempat sampah harus bersih dan tertutup. Plastik yang berisi limbah padat organic tersebut
kemudian dikumpulkan di Tempat Penampungan Sementara di lingkungan pabrik. Plastik-plastik
limbah padat organic bersama limbah padat anorganik lainnya diangkut ke luar area pabrik dan
ditampung di tempat penampungan sampah akhir oleh petugas khusus. Limbah padat organic
lainnya yang memiliki nilai ekonomis, misal kepala kakap, tulang tuna, dikelola secara khusus

Gambar 5.1 TPS PT. Kelola Mina Laut


5.1.3.2 Kapasitas Limbah Proses Pengolahan Mackerel, Tuna dan ProduksiSurimi
Pada kerja praktek ini telah diketahui rendemen limbah dan produk yang dihasilkan dari
proses pengolahan mackerel dan tuna. Limbah tulang mackerel serta kepala dan tulang tuna
kemudian dikerok dagingnya untuk diambil sisa-sisa daging yang menempel. Rendemen limbah
tulang mackerel serta kepala dan tulang tuna sebelum dan setelah pengerokan dapat dilihat pada
tabel 5.1 berikut :

Tabel 5.1 Rendemen Limbah Sebelum dan Setelah Pengerokan Daging


Jenis
Tulang Mackerel
Kepala Tuna
Tulang Tuna

Rendemen (%)
Sebelum Pengerokan
Setelah Pengerokan
7,01
4,88
11,85
10,59
10,14
9,31

53

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
PT Kelola Mina Laut Gresik mengolah ikan mackerel dengan kapasitas 4 ton per hari
atau 4000 kg per hari bahan baku. Berdasarkan hasil perhitungan neraca massa pengolahan
mackerel, rendemen kepala mackerel 15,5 %, rendemen tulang mackerel setelah dikerok 4,88 %
dan rendemen isi perut mackerel 6,49 % sehingga dengan kapasitas 4000 kg per hari bahan baku
akan dihasilkan limbah kepala mackerel 620 kg per hari, tulang mackerel setelah dikerok 195 kg
per hari dan isi perut mackerel 259 kg per hari. Untuk pengolahan tuna, PT. Kelola Mina Laut
mengolah 7 ton/hari bahan baku. Dari kapasitas tersebut, maka dihasilkan limbah kepala tuna
setelah dikerok 741 kg/hari, tulang tuna setelah dikerok 652 kg/hari dan daging hitam tuna 574
kg/hari. PT. Starfood International memproduksi surimi dengan kapsitas alat terpasang untuk
produksi sebesar 80 ton/hari bahan baku. Rendemen limbah kepala dan isi perut dari proses
surimi diketahui sebesar 30 % sedangkan rendemen limbah duri, kulit dan sisik sebesar 20 %
sehingga dengan kapasitas 80 ton/hari dapat dihasilkan limbah kepala dan isi perut sebesar 24
ton/hari dan limbah duri, kulit dan sisik sebesar 16 ton/hari. Kapasitas limbah pengolahan
mackerel dapat dilihat pada tabel 5.2. Kapasitas limbah pengolahan tuna dapat dilihat pada tabel
5.3. Kapasitas limbah pengolahan surimi dapat dilihat pada tabel 5.4.
Tabel 5.2 Kapasitas Limbah Proses Pengolahan Mackerel
Kapasitas Produksi
Mackerel (kg/hari)
4000

Rendemen (%)
Kepala
15,50

Tulang
4,88

Isi Perut
6,49

Kapasitas Limbah Dihasilkan


Kepala
620

(kg/hari)
Tulang
195

Isi Perut
259

Tabel 5.3 Kapasitas Limbah Proses Pengolahan Tuna


Kapasitas

Rendemen (%)

Produksi Tuna
(kg/hari)
7000

Kepala
10,59

Tulang
9,31

Daging Hitam
8,20

Kapasitas Limbah Dihasilkan


Kepala
620

(kg/hari)
Tulang
Daging Hitam
195
259

Tabel 5.4 Kapasitas Limbah Proses Pengolahan Surimi


Kapasitas Produksi
Surimi (kg/hari)

Rendemen (%)

Kapasitas Limbah Dihasilkan


(kg/hari)
54

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur

80000

Kepala, Isi

Duri, kulit

Kepala, Isi

Duri, kulit dan

Perut
30

dan sisik
20

Perut
24000

sisik
16000

5.1.3.3 Potensi Limbah Pengolahan Mackerel, Tuna dan Produksi Surimi


Limbah pengolahan mackerel dan tuna serta produksi surimi yang berupa kepaladan
tulang memiliki kandungan Kalsium yang tinggi. Analisis proksimattulang ikan tuna
menunjukkan kadar abu 52,36 %, protein 26,02 %, air 12,57 %, dan lemak 8,01 %
(Wiratmaja,2006). Tingginya kadar Kalsium pada tulang dan sisik ikan menjadikan limbah
tulang berupa kepala dan tulang mackerel dan tuna serta sisik limbah produksi surimi dapat
dimanfaatkan sebagai sumber Kalsium. Limbah tulang dan kepala mackerel dan tuna serta sisik
dari limbah produksi surimi sebagai sumber Kalsium dapat diolah menjadi bentuk tepung
tulangikan dan nano kalsium. Keunggulan nano kalsium dibandingkan tepung tulang ikan adalah
memiliki nilai penyerapan kalsium (bioavailabilitas) yang lebih tinggi.
Komposisi kimia tertinggi pada tulang ikan setelah kadar abu adalah kadar protein.
Protein pada tulang ikan sebagian besar terdiri atas kolagen yang sulit dicerna enzim pepsin dan
pankreatin menjadi asam-asam amino. Kolagen banyak dimanfaatkan dalam bidang medis dan
kecantikan. Dalam bidang medis, kolagen dapat dimanfaatkan untuk mengobati luka bakar pada
kulit. Kolagen dapat dikombinasikan dengan silicon, fibroblast dan substansi lainnya yang
berguna sebagai kulit tiruan untuk mengatasi masalah kulit terbakar. Sedangkan dalam bidang
kecantikan, kolagen yang telah dihidrolisa dapat digunakan pada shampoo,conditioner, dll.
Kandungan kolagen pada tulang ikan, kulit dan sisik menjadikan limbah pengolahan mackerel
dan tuna yang berupa kepala dan tulang mackerel dan tuna, serta kepala, duri, kulit dan sisik dari
limbah produksi surimi dapat dimanfaatkan sebagai sumber kolagen dan gelatin. Isi perut
mackerel berpotensi sebagai sumber enzim, terutama enzim protease. Pyrolic caeca merupakan
bagian dari isi mackerel yang mengandung enzim-enzim yang berperan dalam proses pencernaan
dan penyerapan makanan.
Tepung ikan (fish meal) merupakan salah satu alternative pengolahan limbah ikan
berikutnya. Semua bagian limbah ikan dapat dijadikan sebagai bahan baku fish meal sehingga
55

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
seluruh limbah dari proses pengolahan mackerel, tuna dan produksi surimi dapat diolah menjadi
fish meal. Pada dasarnya pembuatan fish meal dari limbah ikan dilakukan dengan cara
menghilangkan minyak dari bahan baku dengan cara pemasakan dan pengepresan kemudian
mengurangi kandungan airnya dengan cara pengeringan untuk menghambat pertumbuhan
mikroorganisme. Fish meal biasanya dijadikan sebagai bahan campuran dalam pakan ternak atau
pupuk organic. Fish meal dengan bahan baku kepala, tulang dan sisik ikan memiliki kandungan
kalsium yang tinggi dan berpotensi untuk diproses lebih lanjut menjadi nano kalsium.
5.1.4 Waste Water Treatment Plant (WWTP) PT. Kelola Mina Laut
Waste Water Treatment Plant (WWTP) adalah suatu unit proses atau sistem untuk
pengolahan limbah cair suatu perusahaan sebagai salah satu syarat dalam pengolahan limbah
yang dihasilkan sehingga air setelah pengolahan tidak mencemari lingkungan. Limbah cair
berasal dari proses produksi unit ikan, udang dan rajungan. Debit air limbah dari proses produksi
yang masuk ke pengolahan di PT. Kelola Mina Laut ini besarnya 83 % dari debit air bersih dari
PDAM. Debit air bersih dan air limbah PT. Kelola Mina Laut periode 18 Juni hingga 18 Juli
2014 dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 5.5 Debit Air Limbah PT. Kelola Mina Laut


Tanggal

Debit Air

Debit Air masuk Proses

Debit Air Limbah

PDAM (m3)

Produksi (m3)
Unit

Total (m3)

Juni

Unit

18
19
20
21
22
23
24
25

Ikan
504
448
463
534
179
486
517
543

857
1247
1170
1130
534
858
1073
1024

Udang
318
320
318
319
319
319
319
319

Unit
Rajungan
47
59
77
74
70
85
73
81

711.31
1035.01
971.1
937.9
443.22
712.14
890.59
849.92
56

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
Tanggal

Debit Air

Debit Air masuk Proses

Debit Air Limbah

PDAM (m3)
1118
974
1036
475
905

Produksi (m3)
318
318
319
319
318

91
78
78
73
75

Total (m3)
927.94
808.42
859.88
394.25
751.15

75
97
77
79
93
75
80
77
69
77
79
80
88
80
70
85
81
85

898.89
789.33
877.31
926.28
852.41
436.58
756.13
907.19
414.17
761.94
866.52
879.8
466.46
817.55
854.9
891.42
840.79
905.53

26
27
28
29
30
Juli
1
1083
2
951
3
1057
4
1116
5
1027
6
526
7
911
8
1093
9
499
10
918
11
1044
12
1060
13
562
14
985
15
1030
16
1074
17
1013
18
1091
Sumber : PT Kelola Mina Laut

498
538
536
93
526
534
518
503
536
518
156
468
545
545
414
567
530
217
576
532
517
525
540

325
322
323
324
325
325
324
324
324
327
327
326
326
325
326
326
324
318

57

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur

Gambar 5.2 Grafik Debit Air Bersih dan Air Limbah


PT. Kelola Mina Laut Bulan Juni dan Juli 2014
PT Kelola Mina Laut membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dari tahun
2001. Pada tahun 2001, IPAL hanya berfungsi untuk menampung limbah cair dari proses

58

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
produksi ikan dengan kapasitas 300 - 400 m3. Bangunan pengolahan air limbah meliputi bak
ekualisasi yang terdiri dari tiga unit, bak aerasi berjumlah 4 unit, bak kontrol, dan drying bed.
Pada tahun 2007, unit pengolahan ditambah dengan clarifier dan filter. Efluent dari
pengolahan ini dimanfaatkan kembali untuk keperluan operasional perusahaan, seperti pendingin
mesin dan sanitasi. Namun, penggunaan clarifier dan filter tidak berlangsung lama dan hanya
beroperasi hingga tahun 2008. Hal ini dikarenakan influen dari produksi yang semakin
bertambah, sementara kapasitas debit bangunan pengolahan yang terbatas sehingga tidak mampu
mengolah semua limbahnya serta sulitnya maintenance. Gambar 5.2 merupakan diagram alir
proses pengolahan dengan menggunakan clarifier dan filter yang hanya berjalan kurang lebih
selama 2 tahun.
Konsumsi air pada masing-masing proses pengolahan ikan pada umumnya digunakan
untuk proses penyimpanan dan pemindahan ikan, pembersihan, pembekuan dan pencairan,
persiapan untuk proses penggaraman, penyemprotan, pembersihan jeroan (organ ikan), air untuk
pendinginan, pengukusan, dan pembersihan peralatan dan lantai. Persentase konsumsi air untuk
proses produksi ikan menurut Duangpaseuth et. al. (1996) adalah :
-

Pembersihan kaleng sebesar 9%


Sterilisasi dan pendinginan kaleng sebesar 6%
Proses pencairan 16%
Pengeluaran isi perut (jeroan) dan pembersihan sebesar 1 %
Precooking sebesar 9%
Pendinginan sebesar 59%
Penggunaan air untuk proses produksi di PT Kelola Mina Laut diperkirakan sesuai

persentase di atas dan ditampilkan pada gambar skema berikut.

13,65 m3/hari
Receiving

45,5m3/hari
Washing 1

4,55m3/hari
Scaling

9,1m3/hari
Gilled

59

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur

13,65m3/hari

45,5 m3/hari

4,55 m3/hari

9,1m3/hari
13,65m3/hari

22,75m3/hari

13,65m3/hari

Washing 2

Washing 2

36,4m3/hari
Gutted

22,75m3/hari

13,65m3/hari

36,4m3/hari

13,65m3/hari

91m3/hari

45,5m3/hari

136,5m3/hari

Freezing

Sanitasi

22,75m3/hari
Sizing

Final Washing

Gilled

13,65 m3/hari
13,65 m3/hari
31,85m3/hari
136,5 m3/hari
Gambar 5.3 Diagram Alir Penggunaan Air pada Produksi Ikan
Keterangan :
Angka biru : Air bersih Angka merah : Air limbah

Total pemakaian air bersih : 455 m3/hari


Total limbah yang dikeluarkan : 354,9 m3/hari

Gambar 5.4 Unit-unit pengolahan limbah cair pada tahun 2007-2008


Untuk menghasilkan kualitas efluen yang lebih baik diperlukan waktu yang lama dan
maintenance yang cukup sulit, sementara proses produksi terus berjalan dan limbah yang
dihasilkan semakin besar. Oleh karena itu, limbah yang terolah di IPAL tidak mencapai 100%
sehingga sisanya masuk ke pengolahan di KIG. Persentase limbah yang masuk ke pengolahan di
IPAL tidak dapat ditentukan. Hal ini dikondisikan sesuai dengan kondisi lapangan. Jika kapasitas
60

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
IPAL sudah penuh maka limbah dari proses produksi langsung dialirkan menuju ke pengolahan
di KIG. Berikut adalah diagram alir penggunaan air hingga menuju KIG.

Gambar 5.5 Diagram Alir Penggunaan Air menuju Pengolahan di KIG


Pada saat ini bangunan pengolahan yang digunakan adalah bak ekualisasi yang terdiri dari
tiga buah, bak aerasi sebanyak empat buah, dan bak kontrol. Sedangkan drying bed sudah tidak
difungsikan kembali sejak tahun 2008 karena drying bed digunakan untuk pembuangan lumpur
yang dihasilkan dari clarifier.
Berikut ini adalah gambar diagram alir pengolahan limbah cair PT Kelola Mina Laut.

Gambar 5.6 Diagram Alir Instalasi Pengolahan Air Limbah


PT Kelola Mina Laut memiliki area pengolahan air limbah 2 unit. Unit pertama yaitu bak
ekualiser yang memiliki 3 bak. Fungsi dari bak ekualiser yaitu sebagai bak penampungan air
limbah dari ketiga unit proses. Ekualiser terbagi dengan 3 sekat yang berhubungan satu sama
lain. Hal ini bertujuan memudahkan proses pemisahan padatan dan lemak, homogenisasi kondisi
limbah, serta memisahkan limbah padatan yang ikut, seperti plastic dan lumpur, yang lolos dari
saringan pembuangan.
Fungsi ekualisasi menurut Eckenfelder (2000) adalah sebagai berikut :

61

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
1. Menyediakan tempat untuk terjadinya proses fluktuasi organik agar tidak terjadi shock
loading dan saat keluar didapatkan konsentrasi biologis yang proporsional.
2. Mengkontrol pH dan meminimalisasi kebutuhan bahan kimia di netralisasi.
3. Menyediakan nutrisi pada sistem biologis secara kontinu dalam beberapa periode khususnya
saat sistem tidak beroperasi.
4. Mengkontrol sistem limbah yang keluar.
5. Mencegah konsentrasi yang tinggi dari materi atau bahan toksik (beracun) yang masuk ke
pengolah biologis.
Dimensi bak ekualiser adalah sebagai berikut :

Panjang = 7-8 m

Lebar = 2-3 m

Kedalaman = 6-7 m

Freeboard = 0,3 m

Bak ekualiser ini berfungsi membagi dan meratakan volume pasokan (influent) untuk
masuk ke proses treatment, meratakan variable dan fluktuasi dari beban bahan organic untuk
menghindari shock loading pada saat treatment, meratakan pH untuk meminimalkan kebutuhan
bahan kimia pada proses netralisasi, meratakan kandungan padatan (SS, koloid, dll),
memisahkan padatan kasar baik yang terlarut maupun yang tersuspensi serta menstabilkan debit
limbah yang akan diolah dan menghomogenkan limbah.
Limbah padatan yang terapung akan dipisahkan dengan cara disaring sedangkan limbah
padat seperti lumpur akan mengendap di dasar bak ekualiser. Limbah akan dipompa ke bak
ekualiser 2. Pada bak ekualiser 2 ini akan terjadi proses pengendapan padatan lumpur. Bila
padatan lumpur tersebut telah menumpuk akan dilakukan pembuangan secara manual dan
dibuang di lahan bagian belakang WWTP sehingga limbah cair yang masuk ke bak ekualiser 3
sudah tidak mengandung padatan sama sekali. Limbah cair dari bak ekualiser ini kemudian
dialirkan menggunakan pompa submersible ke bak aerasi WWTP untuk ditreatment.
Bak ekualisasi di IPAL PT Kelola Mina Laut terdiri dari tiga unit. Selain untuk mengatur
fluktuasi debit agar konstan, masing-masing bak mempunyai fungsi yang berbeda.

Bak
62

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
ekualisasi I berfungsi untuk menampung limbah cair dari proses produksi ikan, udang, dan crab
dengan menggunakan pompa. Pompa ini juga mengalirkan air limbah dari bak ekualisasi I
menuju pengolahan limbah di KIG apabila bak ekualisasi I sudah penuh.

Gambar 5.7 Bak Ekualisasi

Gambar 5.8 Bak Ekualisasi I

63

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur

(A)

(B)

Gambar 5.9 (A) Bak Ekualisasi II, (B) Bak Ekualisasi III

Gambar 5.10 Pompa dari bak ekualisasi 1 menuju KIG


Limbah yang masuk di bak ekualisasi ini bewarna abu-abu kecoklatan. Selain itu,
terdapat limbah padat seperti sarung tangan, sisik ikan, plastik, dan padatan lainnya yang ikut
masuk ke dalam bak ekualisasi I. Hal ini dikarenakan pada saat penggelontoran limbah cair dari

64

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
proses produksi, screen di bak pengumpul setiap proses dibuka oleh petugas untuk mempercepat
penggelontoran.
Limbah dari bak ekualisasi I dialirkan menuju bak ekualisasi II secara gravitasi, bak ini
berfungsi untuk memisahkan minyak dan air. Pada bak ekualisasi II akan terbentuk gumpalangumpalan minyak yang berada di permukaan. Efluen dari bak ekualisasi II mengalir menuju bak
ekualisai III secara gravitasi. Bak ekualisasi III berfungsi untuk menghomogenkan limbah serta
menampung limbah dari bak ekualisasi II secara gravitasi melalui pipa. Pada bak ekualisasi III
dilakukan penginjeksian udara dari samping bak agar padatan untuk mempermudah proses
penyaringan.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dan wawancara dengan operator IPAL,
perawatan pada bak ekualisasi dilakukan dengan penyaringan padatan menggunakan saringan
secara manual setiap 2 hari sekali. Padatan maupun suspensi yang tersaring dibuang di belakang
bak ekualisasi. Padatan tersuspensi dari bak ekualisasi III disaring dengan menginjeksikan udara
ke dalam bak sehingga padatan-padatan akan terkumpul dan memudahkan penyaringan. Selain
itu, setiap 1 2 tahun sekali dilakukan pengurasan lumpur yang terendapkan pada bak ekualisasi.

Gambar 5.11 Limbah Padat Hasil Penyaringan dari Bak Ekualisasi


Setelah bak ekualiser, air limbah diolah di bak aerasi 1-4. Pada bak tersebut terdapat
bibit-bibit bakteri yang berfungsi sebagai pengurai bahan kimia seperti ammoniak,dll. Mikroba
yang digunakan dalam bentuk bubuk yang kemudian dicairkan ke dalam air. Umumnya,
pembuatan bibit menggunakan 0,5 kg bubuk mikroba yang dilarutkan dalam 1 m 3air. Bibit
tersebut diinkubasi selama 2 hari dan diberikan aerasi. Bakteri tersebut memerlukan suplai
65

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
makanan dan Oksigen.

Gambar 5.12 Bubuk Bakteri untuk Proses Aerasi


Untuk menyuplai makanan, maka air dari bak ekualiser diolah di bak aerasi karena air
mengandung kadar Nitrogen yang tinggi serta Nitrogen termasuk makanan bakteri. Sedangkan
untuk kebutuhan Oksigen, di bak pengolahan terjadi proses aerasi yang dibantu mesin Shofu.
Prinsip kerja mesin Shofu yaitu mengambil udara dari sekitar dan ditampung kemudian disuplai
ke bak aerasi.

Gambar 5.13 Pompa Shofu


Aerasi dilakukan agar BOD (Biochemical Oxygen Demand) dan COD (Chemical
Oxygen Demand) tetap terkontrol. Hal ini dikarenakan pada awal proses pengolahan air limbah
BOD sangat tinggi sehingga nilai DO (Dissolved Oxygen) menurun. Dampak dari DO menurun
adalah bakteri akan sulit hidup. Oleh karena itu adanya proses aerasi ini dapat menurunkan nilai
BOD dan COD sehingga sesuai baku mutu.
Bak aerasi 1 merupakan proses awal pengolahan dengan menggunakan media cair, sludge
aktif dan aerasi dari pompa Shofu. Pada bak aerasi 1, 2, 3 terjadi proses penguraian bahan-bahan
66

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
organik oleh mikroba dan penyetaraan proporsi mikroba. Pada setiap tahapan bak aerasi, bahan
organik yang terkandung dalam limbah cair diurai oleh mikroba dengan bantuan Oksigen yang
disedot melalui pompa dari udara dan disemburkan di bagian bawah bak aerasi.
Tidak hanya proses aerasi, proses pengolahan air limbah juga terjadi proses pengendapan
dan sirkulasi. Namun kedua proses itu terjadi pada bak 4. Dapat dikatakan air di bak 4 sudah
layak disuplai ke bak 5 dan dibuang ke air permukaan. Proses sirkulasi adalah mengembalikan
air di bak 4 menuju bak 1. Penyemburan udara selain sebagai suplai Oksigen, juga sebagai
memberikan efek sirkulasi sehingga komposisi sludge maupun Oksigen dalam sistem menjadi
homogen. Tujuannya agar didapat hasil pengolahan air yang benar-benar aman dibuang ke
lingkungan. Sedangkan untuk proses pengendapan yaitu mengendapkan padatan yang ada di bak
4 sehingga air dan endapannya terpisah dan didapat air yang bersih. Pada setiap bak aerasi,
dihasilkan konversi dari massa-padatan limbah menjadi biomassa lumpur aktif (activated
sludge). Pada bak aerasi terakhir (bak 4) terkadang diperlukan proses pengendapan terhadap
sludge agar sludge tersebut tidak ikut pada proses selanjutnya. Jika diperlukan pengendapan,
proses pengendapan tersebut akan berlangsung selama 2 hari. Hasil olahan dari bak aerasi 4
sebagian akan dipompakan ke bak 1 untuk proses regenerasi dan penyetaraan proporsi lumpur.
Pengendapan dilakukan 2 jam. Setelah air limbah sudah terlihat jernih dan semua
endapan mengendap di dasar bak 4, maka air di bak 4 siap dialirkan ke bak kontol (bak 5).
Dalam bak 5 terdapat indikator ikan. Jika pada saat air dari bak 4 dialirkan ke bak 5 dan banyak
ikan yang mati, maka kualitas air masih buruk. Sebaliknya, jika ikan tetap hidup maka air limbah
hasil pengolahan dinyatakan aman dan dapat dibuang ke air permukaan. Setelah bak 5, air
tersebut akan ditreatment kembali di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Kawasan Industri
Gresik (KIG) melalui saluran.

67

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur

Gambar 5.14 Effluent Bak Kontrol Menuju IPAL KIG


Proses pengolahan air limbah di WWTP PT. Kelola Mina Laut dapat dilihat pada diagram alir
berikut :

Air Limbah Unit Ikan,


Udang dan Rajungan

Bak Equalisasi 2

Bak Equalisasi 1
Dipompa

68
Bak Aerasi 2

Bak Aerasi 1

Bak Equalisasi 3

Tangki Filter
Silika
LAPORAN KERJA PRAKTEK
Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur

Tangki Filter Silika

Tangki Filter Silika

Tangki Filter
Silika

Gambar 5.15 Diagram Alir Proses Waste Water Treatment Plant PT. Kelola Mina Laut
Bak Aerasi 3
Bak Aerasi 4
Bak Kontrol
Sistem IPAL yang ada di KIG sama seperti halnya sistem yang ada di Surabaya Industrial
Estate Rungkut (SIER), yaitu sistem IPAL terpusat / komunal. Air limbah indutri yang masuk ke
IPAL KIG (influent) harus memenuhi baku mutu yang ditetapkan oleh KIG yaitu Peraturan
Menteri Perindustrian Republik Indonesia No. 35 Tahun 2010 tentang Pedoman Teknis Kawasan
Industri. Sebelum menuju IPAL KIG, di beberapa tempat terdapat bak pengumpul atau bak
control yang berfungsi untuk mengatur debit air limbah beberapa industri di KIG. Setelah
pengolahan di IPAL, air akan dibuang ke Kali Roomo. Tentunya air yang dibuang (effluent)
harus sesuai baku mutu Peraturan Gubernur Jatim Nomor 72 Tahun 2013 tentang Baku Mutu Air
Limbah Bagi Industri dan/atau Kegiatan Usaha Lainnya.
5.2 Uji Laboratorium Limbah Cair PT. Kelola Mina Laut
Hari / tanggal : Selasa, 15 Juli 2014
Pukul

: 09.30 WIB

Tempat: Laboratorium Quality Control PT. Kelola Mina Laut Gresik


Pada instalasi pengolahan air limbah di PT. Kelola Mina Laut terbagi menjadi beberapa
tahapan proses sebelum akhirnya dikeluarkan dan dialirkan ke sungai. Pengolahan ini melewati
beberapa bak yakni Bak EQ, Bak I, Bak II, Bak III, Bak IV, dan yang terakhir Bak V. Kami
melakukan pengujian laboratorium terhadap masing-masing sampel. Diantaranya adalah Uji

69

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
Amonium, Uji Phospat, Uji Salinitas, Uji COD, Uji Suhu, Uji Konduktifitas, Uji TSS, dan Uji
Bakteri.
BAK EQ

BAK I

BAK II

BAK III

BAK IV

BAK V

70

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur

Gambar 5.16 Sampel Air Tiap Bak


Deskripsi hasil pengamatan air tiap bak dapat dilihat pada tabel 5.6 berikut :
Tabel 5.6 Hasil Pengamatan Air Tiap Bak
BAK EQ

Air berwarna kecoklatan, terdapat padatan berupa sisa sisa sampah yang ikut

BAK I
BAK II
BAK III
BAK IV
BAK V
UJI KIMIA

terbawa ke saluran dan berbau


Air berwarna kecoklatan dan berbau ( tidak setajam bau di bak EQ )
Air berwarna kecoklatan keruh, terdapat endapan dan tidak berbau
Air berwarna kecoklatan keruh, terdapat endapan dan tidak berbau
Air tidak terlalu keruh, serta endapan semakin sedikit dan tidak berbau
Air tampak jernih dan tidak terdapat endapan

Meliputi :
1. Uji pH tiap sampel
2. Konduktifitas
3. Suhu
UJI AMONIUM
Fungsi :
Alat dan Bahan :

Air limbah di Bak I, Bak II, Bak III, Bak IV, Bak V, Bak EQ
Beaker Glass ( Terdapat di Ammonium Test Kit )
Larutan NH4-1
NH4-2
Larutan NH4-3
Alat Mix Fortex
Tabel Ammonium Test ( Terdapat di Ammonium Test Kit )

Prosedur :
1. Masukkan 5 ml sampel di masing-masing gelas beaker
2. Tambahkan NH4-1masingmasing 10 tetes di tiap beaker glass. Larutan NH4 1 bening dan
tidak berbau
3. Kemudian larutan dikocok agar homogen

71

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
4. Tambahkan 1 x NH4-2ke dalam masing-masing beaker glass. NH42 berupa serbuk
berwarna putih dengan tekstur berupa kristal kecil. Tambahkan sebanyak 1 sendok
(takaran sesuai dengan Ammonium Test Kit ). Lalu kocok hingga larut.
5. Tunggu hingga 5 menit
6. Tambahkan 6 x NH4-3 , setelah ditambahkan NH4-3 maka larutan berubah warna menjadi
kuning cerah
7. Tunggu 5 menit, warna larutan menjadi kekuningan.
8. Masing-masing tabung diletakkan di alat Mix Fortex agar tidak terdapat padatan
tersuspensi
( Serbuk NH4-2 larut sempurna )
9. Kemudian tiap sampel dicocokkan dengan table Amonium Test , dan didapatkan
kandungan ammonium pada sampel adalah sebesar 0 mg / l NH4+
UJI PHOSPAT
Fungsi :
Alat dan Bahan :

Air limbah di Bak I, Bak II, Bak III, Bak IV, Bak V, Bak EQ
Beaker Glass( Terdapat di Phospat Test Kit )
Larutan PO4-1
PO4-2
Alat Mix Fortex
TabelPhospat Test ( Terdapat di Phospat Test Kit )

Prosedur :
1. Masukkan 5 ml sampel di masing-masing gelas beaker
2. Tambahkan 5 x PO4-1masingmasing 5 tetes di tiap beaker glass. Larutan PO4 -1 bening dan
tidak berbau
3. Kemudian larutan dikocok agar homogen
4. Tambahkan 1 x PO4-2ke dalam masing-masing beaker glass. PO42 berupa serbuk berwarna
putih dengan tekstur berupa Kristal kecil. Tambahkan sebanyak 1 sendok( takaran sesuai
dengan Phospat Test Kit ). Lalu aduk hingga larut.
5. Tunggu 2 menit, warna larutan berubah menjadi kebiruan.
6. Masing-masing tabung diletakkan di alat Mix Fortex agar tidak terdapat padatan
tersuspensi( Serbuk PO4-2 larut sempurna )
7. Kemudian tiap sampel dicocokkan dengan tabel Phospat Test , dan didapatkan kandungan
Phospat pada sampel adalah sebesar . mg / l PO4372

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur

UJI SALINITAS
Fungsi :
Alat dan Bahan :

Air limbah di Bak I, Bak II, Bak III, Bak IV, Bak V, Bak EQ
Beaker Glass
Alat Hand Held Refractometer

Prosedur :
1. Siapkan masing-masing sampel air limbah ( Bak I, Bak II, Bak III, Bak IV, Bak V,
danbak EQ ) sebanyak 100 ml.
2. Masukkan alat Hand Held Refractometerke dalam sampel.
3. Amati hasilnya dengan melihat skala yang bias kita lihat di dalamalat.
4. Catat hasilnya.
UJI COD
Fungsi :
Alat dan Bahan :

Merkuri
NeracaAnalitik
Spatula
Beaker Glass
Tabung COD ( 6 Buah )
PipetVolumetrik
K2Cr2O7
Alat Mix Fortex
LarutanAg2SO4 H2SO4
Reactor AL 31 CSB / COD
titrasi

Prosedur :
1. Siapkan Merkuri ( bubuk merkuri berwarna putih tekstur halus )
2. Timbang dengan neraca analitik dan didapatkan berat 0,04 gr , masukkan ke tiap tiap
tabung COD
3. Siapkan sampel limbah dari tiap bak sebanyak 1 ml di gelas beaker
73

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
4.
5.
6.
7.

Encerkan sampel sebanyak 100x , sehingga didapatkan larutan 100 ml


Masukkan 2 ml sampel yang sudah diencerkan ke masing-masing tabung COD
Kocok perlahan, warna sampel menjadi kuning lemon bening
Tambahkan K2Cr2O7 di tiap tabung COD sebanyak masingmasing 1 ml .K2Cr2O7 berwarna

orange bening. Kocok perlahan, larutan sampel berubah warna menjadi orange cerah.
8. Masing-masing sampel kemudian ditambahkan Ag2SO4 H2SO4sebanyak 1 ml
.LarutanAg2SO4 H2SO4 bening dan berbau asam. Kocok perlahan dan sampel tetap
berwarna orange
9. Selanjutnya tutup masing-masing tabung COD
10. Tiap tabung COD di letakkan di alat Mix Fortex Agar tidak terdapat suspensi yang
mengendap ( Serbuk merkuri larut sempurna )
11. Masing-masing sampel kemudian ditambahkan Ag2SO4 H2SO4 lagi sebanyak 2ml
.Larutan Ag2SO4 H2SO4 bening dan berbau asam. Kocok perlahan dan sampel berwarna
orange cerah.
12. Kemudian tiap tabung COD di letakkan di alat Mix Fortex kembali agar larutan menjadi
homogen.
13. Tiap tabung COD kemudian diletakkan di Reactor AL 31 CSB / COD dengansuhu 148 0C
selama 2 jam.
14. Selanjutnya dilakukan titrasi
UJI BAKTERI
Fungsi :
Alat dan Bahan :

Air limbah di Bak I, Bak II, Bak III


Beaker Glass
Pipet Volumetrik
Mikroskop
KacaPreparat
Cover Glass

Prosedur :
1. Siapkan sampel limbah dari Bak I, Bak II, danBak III secukupnya ,masukkan ke dalam
gelas beaker.
2. Tunggu 10 menit ,hingga endapan tertinggal di permukaan gelas.
3. Ambil endapan sampel dengan pipet volumetrik.
74

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
4. Siapkan kaca preparat dan cover glass. Sebelum digunakan, bersihkan dengan larutan
alcohol
5. Setelah itu teteskan masing-masing sampel pada kaca preparat dan tutup dengan cover
glass
6. Amati dengan mikroskop
7. Dari pengamatan yang kami lakukan didapatkan penampakan bakteri sebagai berikut :

BAK I

BAK II

BAK III

UJI PH
Fungsi :
Alat dan Bahan :

Air limbah di Bak I, Bak II, Bak III, Bak IV, Bak V, Bak EQ
Beaker Glass
Alat pH meter

Prosedur :
1. Siapkan masing-masing sampel air limbah ( Bak I, Bak II, Bak III, Bak IV, Bak V, dan
bak EQ ) sebanyak 100 ml.
2. Masukkan alat pH meter ke dalam sampel.
3. Amati hasilnya dengan melihat skala yang bias kita lihat di layar alat.
4. Catat hasilnya.
UJI TSS
75

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
Fungsi :
Alat dan Bahan :

Air limbah di Bak I, Bak II, Bak III, Bak IV, Bak V, Bak EQ
Beaker Glass
KertasSaring 125 mm
CawanPorselen
Desikator
NeracaAnalitik
Furnace

Prosedur :
1. Siapkan masing-masing sampel air limbah ( Bak I, Bak II, Bak III, Bak IV, Bak V, dan
bak EQ ) sebanyak 100 ml.
2. Saring masing-masing sampel dengan filter papers .Dengan melewatkan sampel pada
kertas saring perlahan-lahan hingga hanya tertinggal endapan di kertas tersebut
3. Kemudian filter papers tersebut di furnace dan hasilnya kemudian ditimbang dan dicatat
hasilnya
UJI SUHU
Fungsi :
Alat dan Bahan :

Air limbah di Bak I, Bak II, Bak III, Bak IV, Bak V, Bak EQ
Beaker Glass
Alat Termometer

Prosedur :
1. Siapkan masing-masing sampel air limbah ( Bak I, Bak II, Bak III, Bak IV, Bak V, dan
bak EQ ) sebanyak 100 ml.
2. Masukkan thermometer ke dalam sampel.
3. Amati hasilnya dengan melihat skala yang bisa kita lihat di dalam alat.
4. Catat hasilnya.
UJI KONDUKTIVITAS
Fungsi :

76

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
Alat dan Bahan :

Air limbah dariBak I, Bak II, Bak III, Bak IV, Bak V, Bak EQ
Beaker Glass
Alat Konduktifitimeter

Prosedur :
1. Siapkan masing-masing sampel air limbah ( Bak I, Bak II, Bak III, Bak IV, Bak V, dan
bak EQ ) sebanyak 100 ml.
2. Masukkan alat conductivity meter ke dalam sampel.
3. Amati hasilnya dengan melihat skala yang bias kita lihat di dalamalat.
4. Catat hasilnya.
Contoh perhitungan volume dan beban pencemaran maksimum suatu industri perikanan
dengan produksi 4 ton bahan baku ikan/hari.
Diketahui baku mutu industri perikanan menurut Peraturan Gubernur Jatim No 72 Tahun 2013
pada tabel berikut :
Tabel 5.7 Baku Mutu Industri Pengolahan Hasil Perikanan
Parameter
pH
TSS
BOD5
COD
Volume

Satuan
mg/L
mg/L
mg/L
air
limbah

Baku Mutu
6-9
30
100
150
5

maksimum (m3/ton bahan


baku ikan)

a. Perhitungan parameter BOD5

Beban BOD5 =

= 2 kg/hari

77

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
Debit maks = 5 m3/ton x 4 ton/hari = 20 m3/hari
b. Perhitungan parameter COD

Beban COD =

= 3 kg/hari

Debit maks = 5 m3/ton x 4 ton/hari = 20 m3/hari


c. Perhitungan parameter TSS

Beban TSS =

= 3 kg/hari

Debit maks = 5 m3/ton x 4 ton/hari = 20 m3/hari


5.3 Baku Mutu Limbah Cair
Air limbah industri yang masuk ke IPAL KIG harus memenuhi baku mutu yang
ditetapkan oleh KIG. Baku mutu air limbah yang ditetapkan KIG mengacu pada Peraturan
Menteri Perindustrian Republik Indonesia No. 35 Tahun 2010 tentang Pedoman Teknis Kawasan
Industri, yaitu :
Tabel 5.8 Baku Mutu Influent Air Limbah IPAL Kawasan Industri Gresik
Parameter
pH
TSS
BOD
COD

Satuan
mg/L
mg/L
mg/L

Baku Mutu
4-10
400-600
400-600
600-800

Namun, untuk industri pengalengan / pengolahan ikan terdapat baku mutu yang ditetapkan oleh
Peraturan Gubernur Jatim Nomor 72 Tahun 2013 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Industri
dan/atau Kegiatan Usaha Lainnya, yaitu :
78

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur

Tabel 5.9 Baku Mutu Air Limbah untuk Industri Pengolahan Hasil Perikanan

Setelah dilakukan treatment pada IPAL KIG, air limbah setelah pengolahan akan dibuang
ke Kali Roomo. Air yang dibuang ke badan air tentu juga mempunyai baku mutu agar aman saat
dibuang ke lingkungan. Baku mutu yang digunakan adalah Peraturan Gubernur Jatim Nomor 72
Tahun 2013 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Industri dan/atau Kegiatan Usaha Lainnya.

79

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur

Tabel 5.10 Baku Mutu Effluent Air Limbah Kawasan Industri Gresik

Berdasarkan tabel-tabel diatas, effluent air limbah PT. Kelola Mina Laut telah sesuai
dengan standar baku mutu peraturan yang ditetapkan. Pada IPAL PT. Kelola Mina Laut terdapat
beberapa permasalahan yang harus segera ditangani agar proses pengolahan limbah cair dapat
berjalan dengan baik dan tepat. Permasalahan-permasalahan yang ada di IPAL PT. Kelola Mina
Laut adalah :

80

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur

Tabel 5.11 Evaluasi di IPAL PT Kelola Mina Laut


No.
1.

Permasalahan
Adanya sampah-sampah kasar berupa Perlu

Solusi
adanya tambahan

plastic, udang yang ikut terbuang selama

screener

proses, sisik ikan, dan lain sebagainya

ekualisasi

yang

meminimalisir

sering

dijumpai

dalam

bak

ekualisasi akibat tidak adanya bar screen

yang

di

inlet

bak
untuk

sampah

masuk

ke

pada saluran inlet instalasi pengolahan.

pengolahan.
Selain itu juga karena screener di bak Memperketat pengawasan
agar tidak ada pekerja
pengumpul pada unit proses produksi ada
yang sengaja di buka oleh pekerja pabrik
2.

yang melanggar peraturan.

untuk mempercepat aliran air.


PT Kelola Mina Laut memiliki dua Perlu adanya peningkatan
Showfou untuk proses aerasi. Akan tetapi,

maintenance.

satu showfou masih rusak dan belum


diperbaiki hingga saat ini. Akibatnya,
hanya satu showfou yang bekerja dengan
waktu aerasi setiap 1 jam nyala, dan 30
menit mati untuk menghindari kerusakan
3.

pada showfou.
Kebocoran pipa dan tangki di beberapa Perlu adanya peningkatan
titik

4.

lokasi,

akibatnya

mengganggu

maintenance.

estetika.
Tidak ada meter air di inlet maupun outlet Perlu adanya penambahan
sehingga tidak bisa mengukur debit yang

meter air di inlet maupun

masuk

outlet untuk mengetahui

maupun

keluar

dari

unit

pengolahan sehingga pernah terjadi air

debit in dan out nya.

yang luber akibat dari meningkatnya


81

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
penggunaan air di proses produksi .

82

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Limbah yang terdapat pada PT. Kelola Mina Laut ada 2 jenis, yaitu limbah padat dan
limbah cair. Limbah padat terdiri dari limbah padat organic dan anorganik. Limbah organic
berupa bagian tubuh dari ikan, udang dan rajungan, misalnya : duri, kulit, sisik, isi perut ikan
sedangkan limbah padat anorganik contohnya master carton, sisa kemasasn plastic dan kaleng.
Untuk limbah cair, sumbernya berasal dari kegiatan proses produksi unit ikan, udang dan
rajungan. Pengolahan limbah cair dilakukan di Waste Water Treatment Plant (WWTP) milik PT.
Kelola Mina Laut sendiri. Unit pengolahan limbah cair terdiri dari bak ekualiser, bak aerasi dan
bak control. Air limbah setelah pengolahan akan masuk ke Instalasi Pengolahan Air Limbah
(IPAL) milik Kawasan Industri Gresik dan nantinya akan dibuang ke badan air Kali Roomo. Air
yang dibuang ke badan air tentu telah sesuai dengan standar baku mutu air limbah untuk
kawasan industri.
6.2 Saran
1. Pengawas di setiap ruang proses produksi memperketat pengawasan terhadap karyawan
agar tidak membuang limbah padat ke saluran pembuangan limbah cair sehingga tidak
ada lagi limbah padat yang masuk ke pengolahan limbah cair.
2. Dilakukan pembersihan pada screen bak ekualisasi secara rutin agar sampah yang
menyangkut pada screen tidak menumpuk karena dapat menghambat aliran limbah cair
yang masuk ke pengolahan dan mengganggu aspek estetika.
3. Perlu adanya peningkatan kinerja karyawan pada bagian IPAL dalam hal pengoperasian
pompa Showfu untuk proses aerasi. Selain itu, peningkatan pemeriksaan terhadap pipa
dan tangki di beberapa titik lokasi untuk menghindari kerusakan atau kebocoran.

BAB VII
83

LAPORAN KERJA PRAKTEK


Studi Proses Pengolahan Limbah
PT. Kelola Mina Laut, Gresik, Jawa Timur
DAFTAR PUSTAKA

Arya Wardhana, Wisnu. 2001. Dampak pencemaran lingkungan.Yogyakarta. Penerbit Andi.


Duangpaseuth, S., Das, Q., Chotchamlong, N., Ariunbaatar, J., Khunchornyakong, A.,
Prashanthini, V., Jutidamrongphan, W., 1996. Seafood Processing. Industrial Waste
Abatement and Management.
Ehlers, V.M dan Steel, E.W. 1979. Municipal and Rural Sanitation. New York: John Willy. &
Sons Inc.
Ginting, P, 2007, Sistem Pengolahan Lingkungan dan Limbah Industri, Cetakan Pertama,
Penerbit CV. Yrama Widya, Bandung
Metcalf and Eddy, Engineer, 1981. Waste Water Engineering, Collection and Pumping of Waste
Water. New York: Mc Graw Hill Book Company.
Priambodo G. 2011. Technical and Social Impacts of Wastewater from Fish Processing Industry
in Kota Muncar of Indonesia. JATES 1(1): 1-17.
Qasim, Syed R. 1985. Waste water Treatment Plants Planning, Design, and Operations. USA:
CB.S College Publishing
Reynold and Richards. 1995. Unit Operations and Unit Processes in EnvironmentalEngineering.
Texas: International Thomson Publishing Co.
Saanin, H. 1968. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Jilid I dan II. Bandung : Bina Cipta
Sawyer, Clair N & Mc. Carty, Perry L. 2003. Chemistry for Environmental Engineering and
Science, (5th edition). Singapore : Mc Graw Hill
Sugiharto. 1987. Dasar-Dasar Pengelolaan Air Limbah. Jakarta: UI Press

84