Anda di halaman 1dari 12

ILMU BUDAYA DASAR

NAMA

: YUNI ASTUTI

NPM

: 3C414575

TEKNIK INDUSTRI 2014


UNIVERSITAS GUNADARMA

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Alhamdulillahirabbilalamiin, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah
SWT karena rahmat dan karunia-Nya serta kerja keras, sehingga saya dapat menyusun
makalah

ini mengenai beberapa metode yang kami lakukan untuk mendapatkan

informasi yang kami butuhkan, sebagai hasilnya dapat terselesaikan dengan lancar dan
tepat waktu.
Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas kuliah semester I, yang berjudul
Manusia dan Keadilan. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak
yang telah membantu penyusun, semoga Allah SWT senantiasa membalas dengan
pahala dan mohon maaf atas segala kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan selama
menyusun laporan ini baik disengaja atau tidak disengaja.
Penulis menyadari bahwa dalam menyusun laporan ini belum sempurna, untuk
itu penulis mohon maaf sebesar-besarnya serta penulis membutuhkan kritikan dan saran
yang sifatnya membangun adalah harapan pribadi penyusun guna kesempurnaan
laporan ini. Harapan terakhir, semoga laporan ini dapat berguna bagi penulis khususnya
dan bagi pembaca pada umumnya. Amin Yaa Robbalaalamin.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

MANUSIA DAN KEADILAN

a) Pengertian Keadilan

b) Keadilan Sosial

c) Berbagai Macam Keadilan

d) Kejujuran

e) Kecurangan

f) Pemulihan Nama Baik

g) Pembalasan

PENGALAMAN

10

DAFTAR PUSTAKA

12

MANUSIA DAN KEADILAN


A.

Pengertian Keadilan
Keadilan menurut Aristoteles adalah kelayakan dalam tindakan manusia.

Kelayakan diartikan sebagai titik tengah antara kedua ujung ekstrem yang terlalu
banyak dan terlalu sedikit. Kedua ujung ekstrem ini menyangkut dua orang atau benda.
Bila kedua orang tersebut mempunyai kesamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan,
maka masing-masing orang harus memperoleh benda atau hasil yang sama, kalau tidak
sama, maka masing masing orang akan menerima bagian yang tidak sama, sedangkan
pelangggaran terjadap proporsi tersebut disebut tidak adil.
Keaadilan oleh Plato diproyeksikan pada diri manusia sehingga yang dikatakan
adil adalah orang yang mengendalikan diri dan perasaannya dikendalikan oleh akal.
Socrates memproyeksikan keadilan pada pemerintahan. Menurut Socrates, keadilan
akan tercipta bilamana warga Negara sudah merasakan bahwa pemerintah sudah
melakukan tugasnya dengan baik. Mengapa diproyeksikan kepada pemerintah ? sebab
pemerintah adalah pimpinan pokok yang menentukan dinamika masyarakat. Kong Hu
Cu berpendapat bahwa keadilan terjadi apabila anak sebagai anak, bila ayah sebagai
ayah, bila raja sebagai raja, masing-masing telah melaksanakan kewajibannya. Pendapat
ini terbatas pada nilai-nilai tertentu yang sudah diyakini atau disepakati.
Menurut pendapat yang lebih umum dikatakan bahwa keadilan itu adalah
pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak-hak dan kewajiban. Keadilan
terletak pada keharmonisan menuntuk hak dan menjalankan kewajiban. Atau dengan
kata lain, keadilan adalah keadaan bila setiap orang memperoleh apa yang menjadi hak
nya dan setiap orang memperoleh bagian yang sama dari kekayaan bersama

B.

Keadilan Sosial
Seperti pancasila yang bermaksud keadilan sosial adalah langkah yang

menetukan untuk melaksanakan Indonesia yang adil dan makmur. Setiap manusia
berhak untuk mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya sesuai dengan kebijakannya
masing-masing.
5 Wujud keadilan sosial yang diperinci dalam perbuatan dan sikap:
4

Dengan sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia manusia Indonesia menyadari
hak dan kewajiban yang sama untuk untuk menciptakan keadilan sosial dalam
kehidupan masyarakat Indonesia.
Selanjutnya untuk mewujudkan keadilan sosial itu, diperinci perbuatan dan sikap yang
perlu dipupuk, yakni :
Perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan
kegotongroyongan.
Sikap adil terhadap sesama, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban
serta menghormati hak-hak orang lain.
Sikap suka memberi pertolongan kepada orang yang memerlukan.
Sikap suka bekerja keras.
Sikap menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat untuk mencapai
kemajuan dan kesejahteraan bersama.
Asas yang menuju dan terciptanya keadilan sosial itu akan dituangkan dalam berbagai
langkah dan kegiatan, antara lain melalui delapan jalur pemerataan yaitu :
1. Pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat banyak khususnya pangan, sandang
dan perumahan.
2. Pemerataan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan.
3. Pemerataan pembagian pendapatan.
4. Pemerataan kesempatan kerja.
5. Pemerataan kesempatan berusaha.
6. Pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan khususnya bagi generasi
muda dan kaum wanita.
7. Pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh wilayah tanah air.
8. Pemerataan kesempatan memperoleh keadilan.

C.

Berbagai Macam Keadilan


Keadilan Legal atau Keadilan Moral
Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani

umum dari masyarakat yang membuat dan menjaga kesatuannya. Dalam suatu
masyarakat yang adil setiap orang menjalankan pekerjaan yang menurut sifat dasarnya

paling cocok baginya (Than man behind the gun). Pendapat Plato itu disebut keadilan
moral, sedangkan Sunoto menyebutnya keadilan legal.
Keadilan Distributif
Aristoles berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang
sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama secara tidak sama (justice
is done when equals are treated equally) Sebagai contoh: Ali bekerja 10 tahun dan budi
bekerja 5 tahun. Pada waktu diberikan hadiah harus dibedakan antara Ali dan Budi,
yaitu perbedaan sesuai dengan lamanya bekerja. Andaikata Ali menerima Rp.100.000,maka Budi harus menerima Rp. 50.000,-. Akan tetapi bila besar hadiah Ali dan Budi
sama, justru hal tersebut tidak adil.
Keadilan Komutatif
Keadilan ini bertujuan memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan
umum. Bagi Aristoteles pengertian keadilan itu merupakan asas pertalian dan ketertiban
dalam masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrim menjadikan ketidak
adilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat.
Contoh :
Dr.Sukartono dipanggil seorang pasien, Yanti namanya, sebagai seorang dokter ia
menjalankan tugasnya dengan baik. Sebaliknya Yanti menanggapi lebih baik lagi.
Akibatnya, hubungan mereka berubah dari dokter dan pasien menjadi dua insan lain
jenis saling mencintai. Bila Dr. Sukartono belum berkeluarga mungkin keadaan akan
baik saja, ada keadilan komutatif. Akan tetapi karena Dr. Sukartono sudah berkeluarga,
hubungan itu merusak situasi rumah tangga, bahkan akan menghancurkan rumah
tangga. Karena Dr.Sukartono melalaikan kewajibannya sebagai suami, sedangkan Yanti
merusak rumah tangga Dr.Sukartono.

D.

Kejujuran
Kejujuran atau jujur artinya apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati

nuraninya, apa yang dikatakannya sesuai dengan kenyataan yang ada. Sedang kenyataan
yang ada itu adalah kenyataan yang benar-benar ada. Jujur juga berarti seseorang bersih
hatinya dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dan hukum. Untuk itu
dituntut satu kata dan perbuatan-perbuatan yang berarti bahwa apa yang dikatakan harus
sama dengan perbuatannya. Karena itu jujur juga menepati janji atau kesanggupan yang
6

terlampir melalui kata-kata ataupun yang masih terkandung dalam nuraninya yang
berupa kehendak, harapan dan niat.
Hakikat kejujuran dalam hal ini adalah hak yang telah tertetapkan, dan terhubung
kepada Tuhan. Ia akan sampai kepada-Nya, sehingga balasannya akan didapatkan di
dunia dan akhirat. Tuhan telah menjelaskan tentang orang-orang yang berbuat
kebajikan, dan memuji mereka atas apa yang telah diperbuat, baik berupa keimanan,
sedekah ataupun kesabaran. Bahwa mereka itu adalah orang-orang jujur dan benar. Dan
pada hakekatnya jujur atau kejujuran dilandasi oleh kesadaran moral yang tinggi,
kesadaran pengakuan akan adanya sama hak dan kewajiban, serta rasa takut terhadap
kesalahan atau dosa.

E.

Kecurangan
Kecurangan atau curang identik dengan ketidak jujuran atau tidak jujur, dan

sama pula dengan licik, meskipun tidak serupa benar. Sudah tentu kecurangan sebagai
lawan jujur.
Curang atau kecurangan artinya apa yang diinginkan tidak sesuai dengan hati nuraninya.
Atau orang itu memang dari hatinya sudah berniat curang dengan maksud memperoleh
keuntungan tanpa bertenaga dan usaha. Kecurangan menyebabkan manusia menjadi
serakah, tamak, ingin menimbun kekayaan yang berlebihan dengan tujuan agar
dianggap sebagai orang yang paling hebat, paling kaya dan senang bila masyarakat
sekelilingnya hidup menderita.
Sebab-Sebab Seseorang Melakukan Kecurangan
Bermacam-macam sebab orang melakukan kecurangan, ditinjau dari hubungan manusia
dengan alam sekitarnya ada empat aspek yaitu:
1.

Aspek ekonomi

2.

Aspek kebudayaan

3.

Aspek peradaban

4.

Aspek tenik
Apabila ke empat aspek tersebut dilaksanakan secara wajar, maka segalanya

akan berjalan sesuai dengan norma-norma moral atau norma hukum, akan tetapi apabila
manusia dalam hatinya telah digerogoti jiwa tamak, iri, dengki, maka manusia akan
melakukan perbuatan yang melanggar norma tersebut dan jadilah kecurangan. Tentang
7

baik dan buruk Pujowiyatno dalam bukunya "filsafat sana-sini" menjelaskan bahwa
perbuatan yang sejenis dengan perbuatan curang, misalnya berbohong, menipu,
merampas, memalsu dan lain-lain adalah sifat buruk. Lawan buruk sudah tentu baik.
Baik buruk itu berhubungan dengan kelakuan manusia. Pada diri manusia seakan
akan ada perlawanan antara baik dan buruk. Baik merupakan tingkah laku, karena itu
diperlukan ukuran untuk menilainya, namun sukarlah untuk mengajukan ukuran
penilaian mengenai halyang penting ini. Dalam hidup kita mempunyai semacam
kesadaran dan tahulah kita bahwa ada baik dan lawannya pada tingkah laku tertentu
juga agak mudah menunjuk mana yang baik, kalau tidak baik tentu buruk.

F.

Pemulihan Nama Baik


Nama baik merupakan tujuan utama orang hidup. Nama baik adalah nama yang

tidak tercela. Setiap orang menajaga dengan hati-hati agar namanya baik. Lebih-lebih
jika ia menjadi teladan bagi orang/tetangga disekitarnya adalah suatu kebanggaan batin
yang tak ternilai harganya. Penjagaan nama baik erat hubungannya dengan tingkah laku
atau perbuatan. Atau boleh dikatakan bama baik atau tidak baik ini adalah tingkah laku
atau perbuatannya. Yang dimaksud dengan tingkah laku dan perbuatan itu, antara lain
cara berbahasa, cara bergaul, sopan santun, disiplin pribadi, cara menghadapi orang,
perbuatan-perbuatan yang dihalalkan agama dan sebagainya. Pada hakekatnya
pemulihan nama baik adalah kesadaran manusia akan segala kesalahannya; bahwa apa
yang diperbuatnya tidak sesuai dengan ukuran moral atau tidak sesuai dengan ahlak
yang baik.
Untuk memulihkan nama baik manusia harus tobat atau minta maaf. Tobat dan
minta maaf tidak hanya dibibir, melainkan harus bertingkah laku yang sopan, ramah,
berbuat darma dengan memberikan kebajikan dan pertolongan kepaa sesama hidup yang
perlu ditolong dengan penuh kasih sayang , tanpa pamrin, takwa terhadap Tuhan dan
mempunyai sikap rela, tawakal, jujur, adil dan budi luhur selalu dipupuk.

G.

Pembalasan
Pembalasan adalah suatu reaksi atas perbuatan orang lain. Reaksi itu dapat

berupa perbuatan serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa, tingkah
laku yang seimbang.
Dalam Al-Quran terdapat ayat-ayat yang menyatakan bahwa Tuhan
mengadakan pembalasan. Bagi yang bertakwa kepada Tuhan diberikan pembalasan, dan
bagi yang mengingkari perintah Tuhan pun diberikan pembalasan yang seimbang, yaitu
siksaan di neraka. Pembalasan disebabkan oleh adanya pergaulan. Pergaulan yang
bersahabat mendapatkan pembalasan yang bersahabat. Sebaliknya, pergaulan yang
penuh kecurigaan, menimbulkan pembalasan yang tidak bersahabat pula.
Pada dasarnya, manusia adalah makhluk moral dan makhluk sosial. Dalam
bergaul, manusia harus mematuhi norma-norma untuk mewujudkan moral itu. Bila
manusia bermuat amoral, lingkunganlah yang menyebabkannya. Perbuatan amoral pada
hakekatnya adalah perbuatan yang melanggar hak dan kewajiban manusia lain. Oleh
karena itu manusia tidak menghendaki hak dan kewajibannya dilanggar, maka manusia
berusaha mempertahankan hak dan kewajibannya itu. Mempertahankan hak dan
kewajiban itu adalah pembalasan.

PENGALAMAN
Pengalaman saya tentang keadilan terjadi pada keluarga saya sendiri. Saya anak
kedua dari empat bersaudara. Kakak laki-laki saya bernama Rizky Suratno Wijaya, adik
saya yang pertama bernama Andri Saputro, sekarang dia duduk dikelas satu SMK dan
adik saya yang kedua bernama Deni Derajat Setiwan, sekarang duduk dikelas dua SD.
Saya anak perempuan satu-satunya dikeluarga. Walau kami keluarga yang
sederhana, kami hidup bahagia. Berhubung saya anak perempuan satu-satunya,
kebutuhan saya yang paling banyak diantara saudara saya yang lain. Saya yang paling
banyak meminta sesuatu. Dan orang tua saya hampir selalu menuruti apa yang saya
mau.
Kata mama dan papa saya, kehadiran saya adalah yang mereka harap-harapkan.
Saya dan kakak saya beda sembilan tahun. Dulu ketika saya belum lahir, mama papa
saya memang sangat menginginkan anak perempuan. Dan saat di USG hasilnya positif
perempuan. Kemudian lahirlah saya.
Sejak saya mulai mengerti hidup, saya semakin merasa dimanjakan dengan
orang tua saya. Tapi beda dengan saudara-saudara saya, terutama adik saya yang
pertama sering merasa kalau mama saya yang tidak adil.
Tapi saya juga pernah merasakan ketidakadilan antara kakak saya dan diri saya
sendiri seperti pada saat kakak saya kuliah dan saya masih duduk di kelas dua SMA.
Kebutuhan kuliah kakak saya selalu dipenuhi mulai dari yang murah sampai yang
mahal, misalnya pada saat saya butuh tas baru, mama susah sekali memenuhi
permintaan saya sedangkan pada saat kakak saya butuh printer mama saya langsung
membelikannya menurut saya itu tidak adil.
Adik saya yang pertama juga pernah merasakan mama saya tidak adil seperti,
apapun kebutuhan yang saya perlu selalu dipenuhi sedangkan kebutuhan adik saya
susah untuk dipenuhi perbedaan sikap yang diberikan oleh orang tua kadang juga
menjadi masalah didalam keluarga kami dalam jalinan persaudaraan kami, pasti akan
selalu ada rasa iri yang menyelimuti hati, selalu ada ketidakpuasan yang hadir saat salah
satu dari kami dipenuhi keinginannya.

10

Tapi dengan seiring berjalannya waktu lambat laun akupun mulai sadar dengan
semua yang telah aku lewati, aku mengerti dengan apa yang orang tuaku pikirkan
untukku, kakakku,adik-adikku. Sekarang aku bisa melihat betapa peduli, tulus dan
sayangnya orang tuaku kepada kami anak-anakknya.
Segala pertanyaan egois masa kecil, terjawab saat aku beranjak dewasa kini,
mataku terbuka aku sungguh dapat melihat semuanya memang berbeda, perbedaan
diantara kebutuhan kami dan juga kemampuan orang tua kami, aku menyesal akan
rengekan masa kecil, aku menyesal akan kata-kata iri yang aku lontarkan dahulu kepada
orangtuaku.
Mama aku sudah dewasa sekarang kecintaanmu kepada kami, ketulusanmu
kepada kami, kepedulianmu kepada kami, perlindunganmu kepada kami, sungguh tiada
daya kami untuk membalas semua yang telah kau berikan pada kami ma.
Sepanjang apapun kalimat yang aku luapkan secara lisan maupun tulisan tidak
akan pernah sanggup untuk mendefinisikan kecintaanmu kepada kami. Seberapapun
kami mencoba untuk membuatmu senang tidak akan pernah menggantikan kesenangan
yang kau berikan kepada kami.
Maafkan kami dengan segala kesalahan yang kami perbuat, kesalahan yang
membuatmu jengkel pada kami, kesalahan yang membuatmu marah pada kami,
kesalahan yang membuatmu patah hati karena kami.
Sungguh kesabaranmu tiada yang bisa menandingi engkau yang telah mengurus,
mendidik, mengajarkan kami dengan senyuman dan santunan yang membawa kami
sampai sekarang,sampai aku bisa mengerti perbedaan antara baik dan buruk, sampai aku
bisa mengerti apa arti hidup karenamu, sampai aku mengerti apa arti CINTA yang
engkau berikan kepada kami.

11

DAFTAR PUSTAKA
http://www.elearning.gunadarma.ac.id
Prasetya, Joko Tri. 2013. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Rineka Cipta

12