Anda di halaman 1dari 52

Perawatan Luka

Nama Kelompok:
1. Ellya Chandra.H. (1130013060)
2. Gendy Yogo Prasetyo (1130013066)
3. Rochmatul Ummah (1130013087)

Definisi Luka dan Penyembuhannya

Luka adalah keadaan terputusnya


kontinuitas jaringan tubuh yang dapat
menyebabkan fungsi tubuh terganggu
sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Penyembuhan luka adalah respon tubuh
terhadap berbagai cedera dengan proses
pemulihan yang kompleks dan dinamis yang
menghasilkan pemulihan anatomi dan fungsi
secara terus menerus.
(Joyce M. Black, 2001).

Integumen Normal
Kulit normal memiliki tiga lapisan;
Epedermis
Dermis
Sub kutis

Jenis-jenis luka
Berdasarkan sifat kejadian
1. Luka disengaja, contohnya luka
bedah dan luka radiasi
2. Luka tidak disengaja, contohnya luka
karena kecelakaan.

Berdasarkan integritas kulit


a. Luka terbuka: terjadi robekan dan
robekan tersebut dapat terlihat.
Contohnya: luka abrasio (luka
akibat
gesekan), luka puncture
(luka akibat
tusukan), luka
hautration (luka akibat
alat
perawatan luka).
b. Luka tertutup: tidak terjadi robekan.

Berdasarkan penyebab
1. Luka mekanik
2. Luka luka non mekanik

Penatalaksanaan
penyembuhan luka
Fisiologi penyembuhan luka
Penyembuhan luka terdiri atas tiga
fase yaitu :
1. fase inflamasi,
2. fase proliferasi,
3. dan fase maturasi atau remodeling.

Tipe penyembuhan luka:


1. penyembuhan luka secara primer
(primary intention),
2. secara sekunder (secondary
intention),
3. dan secara tersier (tertiary intention
atau delayed primary intention)

Persiapan Dasar Luka (Wound Bed


Preparation)
persiapan dasar luka adalah
penatalaksanaan luka sehingga dapat
meningkatakan penyembuhan dari
dalam tubuh sendiri atau memfasilitasi
efektivitas terapi lain.

TIME - Prof. Vincent Falanga


pada tahun 2003

TIME: Tissue Management


(Manajemen jaringan)

Metode debridemang
Chemical debridement
yaitu pengangkatan jaringan mati dengan
mengunakan enzim (pepaya), sodium
hypochlorite (Dakins solution), atau maggot
(larva/belatung) yang biasa disebut biolysis.
Mechanical debridement
yaitu pengangkatan jaringan mati menggunakan
kasa (digosok/usap), piset, dengan konsep wetdry dressing, atau dengan irigasi tekanan tinggi
dan hidroterapi/whirlpool.

Autolysis debridement
yaitu pengangkatan jaringan mati sendiri oleh tubuh
dengan menciptakan kondisi lemaba pada luka. Luka
hitam dan kuning akan melunak dan mudah diangkat,
bahkan hilang diserap oleh absorebent dressin. Tubuh
mengeluarkan enzim proteolitik endogen yang
berperan penting selama proses autolisis
berlangsung. Balutan yang melunakkan seperti gel,
koloid, cream, salf dapat membantu proses ini.
Surgical debridement yaitu tindakan pembedahan
dengan menggunakan benda tajam dan tidak hanya
pada jaringan yang mati, tetapi juga pada jaringan
yang sehat (fasiotomi) yang memerlukan anestesi
untuk mengurangi nyeri sehingga tindakan ini hanya
boleh dilakukan oleh dokter (umum dan bedah) yang
bergantung pada situasi dan bentuk luka.

Conservative Sharp Wound Debridement


(CSWD)
yaitu pengangkatan jaringan mati dengan
menggunakan gunting, pnset dan bisturi
hanya pada jaringan mati sehingga tidak
banyak berdarah dan tidak menimbulkan
nyeri pada pasien. CSWD dapat dilakukan
oleh tenaga kesehatan yang berlisensi,
seperti Enterostomal

Waktu yang efektif dalam


pengangkatan jaringan mati yaitu
sekitar dua minggu (14 hari) dan
tentunya tanpa faktor penyulit yang
berarti, misalnya penyumbatan atau
gangguan pembuluh darah teratasi,
mobilisasi baik, dll. Jika kondisi
sistemik pasien tidak mendukung,
perisapan dasar luka akan
memanjang hingga 4-6 minggu.

TIME : Infection
Inflammasion Control
(Manajemen infeksi dan
inflamasi)

Ada beberapa teknik pencucian luka, yaitu


swabbing atau menggosok, water preassure,
dan irigasi.
Saat ini ada berbagai macam cairan pencuci
luka di Indonesia, yaitu normal salin,
povioden-iodine, hydrogen peroxide, cairan
pencuci komersial, chlorine/sodium
hypochlorite, Revanol, herbal dengan
astringen, alkohol 70%, khlorheksidin,
feracrylum 1%, asam asetat 10%, air dan
sabun, air hangat, dll.

Selain memilih cairan pencuci luka, untuk


mengotrol pertumbuhan kuman pada luka,
tenaga kesehatan juga harus menentukan
apakah perlu menggunakan balutan
antimikroba pada luka.beberapa jenis
antimikroba yang dapat digunakan untuk
mengatasi perkembangan kuman pada luka
adalah topical metronidazole dan nystatin,
salep herbal Tea Tree Oil (TTO), silver
ionized, cadexomer iodine, dan DACC.

TIME: Moisture Balance


Management (management
pengaturan kelembapan luka)

TIME: Epithelization
Advancement Management
(Management Tepi Luka)

Management 3M
Akronim 3M terdiri atas mencuci luka,
memuaang jaringan matindan benda
asing, dan memilih balutan yang tepat.
- Memcuci luka
- Membuang jaringan mati
- Memilih balutan yang tepat

Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi
FAKTOR LOKAL
FAKTOR UMUM

Dampak Psikososial Luka

Walaupun psikologis klien tidak terlihat langsung dalam proses


fisiologis penyembuhan luka, respon tersebut merupakan bagian
dari pengkajian luka yang dilakukan perawat.
Perubahan citra tubuh dapat menyebabkan stres yang tinggi pada
mekanisme adaptasi klien. Selain itu, perubahan citra tubuh dapat
mempengaruhi konsep diri dan seksualitas. Sumber-sumber
personal dan sosial klien untuk beradaptasi harus menjadi bagian
dari pengkajian.
Beberapa faktor yang mungkin dapat mempengaruhi persepsi klien
terhadap luka antara lain adanya jaringan parut, drain (drain
mungkin diperlukan selama beberapa minggu atau bahkan
beberapa bulan setelah prosedur tertentu), bau yang berasal dari
drainase dan penggunaan alat prostetik yang bersifat sementara
atau permanen.

Proses Pengkajian Luka


Parameter yang dibutuhkan selama pengkajian
adalah sebagai berikut :
Pengkajian pasien secara umum atau
general health assessment yang dimulai dari
identitas pasien, usia, berat badan dan
perubahannya, riwayat penyakit dan penyakit
yang menyertai, keluhan saat ini,
vaskularisasi (menggunakan alat vascular
Doppler), status nutrisi, gangguan sensasi
atau pergerakan, status psikologis, terapi
kanker (radiasi), dan obat-obatan.
Pengkajian lokal pada luka dan data
diagnostic.

Riwayat luka (penyebab luka, waktu kejadian)


dan karakteristik luka (tipe luka, tipe
penyembuhan, lokasi, stadium luka, ukuran
luka, eksudat/cairan luka, warna dasar luka, tepi
luka, kulit sekitar luka, tanda infeksi, dan nyeri).
Penatalaksanaan luka adalah mengatasi
penyebab kejadian luka sehingga penting dikaji
penyebab luka dan kapan kejadiannya. Waktu
kejadian menentukan tipe luka dan
penyembuhan.
Good assessment yaitu melakukan pengkajian
luka dengan tapat dan lengkap.
Cara mempersiapkan dasar luka (wound bed
preparation) sehingga mendukung
penyembuhan luka.

Pengkajian luka terbagi dalam dua kegiatan


utama :
1.
2.

Kegiatan pengkajian umum atau


sistemik
Kegiatan pengkajian local

Pengkajian tipe luka

Pengkajian tepi dan kulit sekitar


luka

Pemeriksaan penunjang
Setelah data pasien, pengkajian
umum, dan pengkajian lokal luka
terkumpul, perawat dapat melihat
apakah membutuhkan instrument
pengkajian lain

Diagnosa Keperawatan Pada


Perlukaan
1. Risiko terjadi infeksi berhubungan
dengan kurangnya perawatan pada
daerah luka
2. Nyeri akibat terputusnya kontinuitas
jaringan

Perencanaan Keperawatan
Pada Perlukaan
Tujuan utama adalah mempertahankan
integritas kulit dan mencegah
kemungkinan resiko terkait.
Klien yng mengalami kerusakan integritas
kulit harus memperlihatkan proses
penyembuhan luka yang cepat dan
mendapatkan kembali kulit yang utuh.

Perencanaan untuk perawatan dirumah


Saat ini semakin banyak perawatan luka yang
dilakukan dirumah dari pada difasilitas
layanan kesehatan. Klien dan keluarga
mengemban sebagian besar tanggung jawab
untuk mengkaji dan menangani serta
membantu mencegah terjadinya ulkus
dekubitus. Saat melakukan perencanaan
pulang bagi klien, perawat bertanggung
jawab memberikan pendidikan kesehatan
bagi klien dan keluarga mengenai cara
mencegah dan merawat ulkus dekubitus.