Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH UJIAN KASUS

PATOLOGI FORENSIK

Disusun oleh:
M Shazni Afandi Rusli
11-2012-270

Penguji:
dr. Zulhasmar Syamsu, Sp. F

DEPARTMEN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL


RUMAH SAKIT UMUM PUSAT NASIONAL CIPTO MANGUNKUSUMO
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
PERIODE 18 November 2013 30 November 2013

BAB I
LAPORAN KASUS
I.

Identitas Pasien / Korban


Nama

: Tn. S

Umur

: 29 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Warga negara

: Indonesia

Alamat

: Jl. Cempaka Sari IV No. 55 RT 003/001 Kramat Selatan, Matraman,


Jakarta Timur

II. Anamnesa
Dua hari sebelum datang ke rumah sakit, korban mengaku telah ditonjok pada bagian wajah
dengan tangan kosong sebanyak 2 kali, tangan disayat dengan golok, dan digigit oleh 2
orang maling yang masing-masing membawa golok.

III. Pemeriksaan Fisik


Korban datang dalam keadaan sadar dengan keadaan umum tampak sakit ringan.
Pemeriksaan tanda-tanda vital:
Tekanan darah : 140/80 mmHg
Frekuensi Nadi : 80 kali / menit
Frekuensi Pernapasan : Suhu : Afebris

IV. Status Lokalis Luka / Cedera


1. Gigi seri kedua rahang bawah kiri teraba goyang.
2. Pada lengan bawah kanan sisi dalam 14 cm di bawah siku terdapat 2 luka terbuka tepi
tidak rata, dasar jaringan bawah kulit, berbentuk garis, masing-masing sepanjang 2 cm
dan 0,5 cm.

3. Pada lengan bawah kiri sisi dalam 8 cm di atas pergelangan tangan terdapat beberapa
luka lecet yang telah mongering membentuk garis lengkung seperti huruf U meliputi
area seluas 6 cm x 1 cm, dikelilingi memar berwarna keunguan berukuran 3 cm x 3 cm.
4. Pada telapak tangan kanan 7 cm dibawah pergelangan tangan terdapat luka terbuka
dangkal, tepi rata, kedua ujung lancip, bila dirapatkan membentuk garis sepanjang 0,5
cm.
5. Pada jari satu tangan kanan sisi dalam, 1,5 cm dari pangkal jari terdapat luka terbuka
dangkal, tepi rata, kedua ujung lancip, bila dirapatkan membentuk garis sepanjang 1,2
cm.
6. Pada sela antara jari satu dan dua tangan kanan 5 cm diatas pergelangan tangan terdapat
luka terbuka dangkal, tepi rata, kedua ujung lancip, bila dirapatkan membentuk garis
sepanjang 0,5 cm.

V. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan.

VI. Tindakan / Pengobatan


Pembersihan luka.

VII.Kesimpulan
Pada pemeriksaan korban laki-laki berusia dua puluh sembilan tahun ini didapatkan gigi goyang,
luka terbuka tepi rata pada tangan kanan akibat kekerasan tajam, luka terbuka tepi tidak rata pada
lengan bawah kanan, luka lecet serta memar pada lengan bawah kiri akibat kekerasan tumpul yang
tidak menimbulkan penyakit atau gangguan melakukan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian
untuk sementara waktu.

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK & MEDIKOLEGAL


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA
RUMAH SAKIT Dr. CIPTO MANGUNKUSUMO
Jl. Salemba Raya No.6, Jakarta 10430, Telp (021) 3106976

Nomor

: 334/SK.II/V/2010

Jakarta, 27 November 2013

Perihal

: Hasi Pemeriksaan Luar

Lampiran

:-

PRO JUSTITIA
VISUM ET REPERTUM
Saya yang bertanda tangan di bawah ini, dr. M Shazni Afandi Rusli, dokter pada Departemen
Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Universitas Indonesia Rumah Sakit Umum Pusat Nasional
Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, atas permintaan tertulis dari Polsek Matraman dengan surat
No. 27/VR/IV/2010/Sek. MTR tertanggal enam Mei tahun dua ribu sepuluh dengan ini
menerangkan bahwa pada tanggal enam Mei tahun dua ribu sepuluh pukul empat belas lewat
empat puluh menit Waktu Indonesia bagian Barat, bertempat di RSUPN Dr.Cipto Mangukusumo
telah melakukan pemeriksaan atas korban yang menurut surat permintaan tersebut adalah :-------Nama

: Tn. S ---------------------------------------------------------------------------------

Umur

: 29 Tahun-----------------------------------------------------------------------------

Jenis Kelamin : Laki-laki----------------------------------------------------------------------------Warga Negara : Indonesia---------------------------------------------------------------------------Pekerjaan

: Tidak diketahui. -------------------------------------------------------------------Bersambung ke halaman 2


Alamat --Lanjutan Visum Et Repertum Nomor: 334/SK.II/V/2010
Halaman ke 2 dari 3 halaman

Alamat

: Jln. Cempaka Sari IV No. 55 RT 003/001 Kramat Selatan,


Matraman, Jakarta Timur ---------------------------------------------------------

HASIL PEMERIKSAAN-----------------------------------------------------------------------------------1. Korban datang dalam keadaan sadar dengan keadaan umum tampak sakit ringan.---------------2. Korban mengaku bahwa dua hari sebelum pemeriksaan ditonjok dengan tangan kosong di
bagian wajah sebanyak dua kali, tangan kanan disayat dengan menggunakan golok, dan
lengan bawah kiri digigit oleh dua orang maling yang masing-masing memegang golok.
Korban mengaku gigi bawah depan goyang setelah ditonjok. Korban belum berobat setelah
kejadian.-----------------------------------------------------------------------------------------------------3. Pada korban ditemukan:-----------------------------------------------------------------------------------Tekanan darah seratus empat puluh per delapan puluh mili meter air raksa, nadi delapan puluh
kali per menit, dan suhu normal. ------------------------------------------------------------------------Luka-luka: --------------------------------------------------------------------------------------------------a. Gigi seri kedua rahang bawah kiri goyang.---------------------------------------------------------b. Pada lengan bawah kanan sisi dalam empat belas senti meter di bawah siku terdapat dua
buah luka terbuka tepi tidak rata dengan dasar jaringan bawah kulit berbentuk garis
masing-masing sepanjang dua senti meter dan lima milimeter.----------------------------------c. Pada lengan bawah kiri sisi dalam delapan senti meter di atas pergelangan tangan terdapat
beberapa luka lecet yang telah mengering membentuk garis lengkung seperti huruf U
meliputi area seluas enam senti meter kali satu senti meter, dikelilingi memar berwarna
keunguan berukuran tiga senti meter kali tiga sentimeter.----------------------------------------d. Pada telapak tangan kanan tujuh senti meter di bawah pergelangan tangan terdapat luka
terbuka dangkal tepi rata, kedua ujung lancip, bila dirapatkan membentuk garis sepanjang
lima milimeter.------------------------------------------------------------------------------------------e. Pada jari satu tangan kanan sisi dalam, satu koma lima sentimeter dari pangkal jari terdapat
luka terbuka dangkal tepi rata, kedua ujung lancip, bila dirapatkan membentuk garis
sepanjang satu koma dua sentimeter.----------------------------------------------------------------Bersambung ke halaman 3
f. Pada sela antara --Lanjutan Visum Et Repertum Nomor: 334/SK.II/V/2011
Halaman ke 2 dari 3 halaman

f. Pada sela antara jari satu dan dua tangan kanan lima senti meter di atas pergelangan tangan
terdapat luka terbuka dangkal tepi rata, kedua ujung lancip, bila dirapatkan membentuk
garis sepanjang lima milimeter.-----------------------------------------------------------------------4. Terhadap korban dilakukan pembersihan luka. --------------------------------------------------------5. Korban dipulangkan. --------------------------------------------------------------------------------------KESIMPULAN :----------------------------------------------------------------------------------------------Pada pemeriksaan korban laki-laki berusia dua puluh sembilan tahun ini didapatkan gigi
goyang, luka terbuka tepi rata pada tangan kanan akibat kekerasan tajam, luka terbuka tepi tidak
rata pada lengan bawah kanan, luka lecet serta memar pada lengan bawah kiri akibat kekerasan
tumpul yang tidak menimbulkan penyakit atau gangguan melakukan pekerjaan jabatan atau mata
pencaharian untuk sementara waktu.------------------------------------------------------------------------Demikianlah Visum et Repertum ini dibuat dengan sebenarnya dengan menggunakan
keilmuan yang sebaik-baiknya, mengingat sumpah sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum
Acara Pidana. ---------------------------------------------------------------------------------------------------

Dokter Pemeriksa

dr. M Shazni Afandi Rusli


NIP. 112012270

BAB II
PEMBAHASAN UMUM
A. Prosedur Medikolegal
Penyidik berwenang unutuk meminta keterangan ahli berupa Visum et Repertum melalui surat
permintaan visum (SPV) dalam proses pengakan hokum pada suatu kasus yang diduga
merupakan suatu tindak pidana Hal tersebut tercantum pada:
Pasal 133 KUHAP menyebutkan:
(1)

Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilanmenangani seorang korban baik


luka, keracunanataupun mati yang diduga karena peristiwa yangmerupakan
tindak pidana, ia berwenang mengajukanpermintaan keterangan ahli kepada ahli
kedokterankehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.

(2)

Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksuddalam ayat (1) dilakukan


secara

tertulis,

yang

dalamsurat

itu

disebutkan

dengan

tegas

untuk

pemeriksaanluka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaanbedah mayat.


Yang berwenang meminta keterangan ahli adalahpenyidik dan penyidik pembantu
sebagaimana bunyi pasal7(1) butir h dan pasal 11 Kitab Undang-Undang Hukum
AcaraPidana (KUHAP).Penyidik yang dimaksud adalah penyidiksesuai dengan pasal
6(1) butir a, yaitu penyidik yang pejabatPolisi Negara RI.Penyidik tersebut adalah
penyidik tunggalbagi pidana umum, termasuk pidana yang berkaitan dengankesehatan
dan jiwa manusia.Oleh karena VeR adalahketerangan ahli mengenai pidana yang
berkaitan dengankesehatan jiwa manusia, maka penyidik pegawai negeri sipiltidak
berwenang meminta VeR, karena mereka hanyamempunyai wewenang sesuai dengan
undang-undang yangmenjadi dasar hukumnya masing-masing (Pasal 7(2)KUHAP.
Sanksi hukum bila dokter menolak permintaanpenyidik adalah sanksi pidana :
Pasal 216 KUHP:
Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah ataupermintaan yang dilakukan
menurut undang-undang olehpejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau

olehpejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberikuasa untuk mengusut atau
memeriksa tindak pidana;demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah,
menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan gunamenjalankan ketentuan, diancam
dengan pidana penjarapaling lama empat bulan dua minggu atau denda palingbanyak
sembilan ribu rupiah.
B. Pemeriksaan Medis
Otopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat, yang meliputi pemerikaan terhadap
bagian luar maupun dalam, dengan tujuan menemukan proses penyakit dan atau adanya
cedera melakukan interpretasi atau penemuan-penemuan tersebut, menerangkan
penyebab kematian serta mencari hubungan sebab akibat antara kelainan-kelainan yang
ditemukan dengan penyebab kematian.
Berdasarkan tujuannya, otopsi terbagi atas:
1) Otopsi Anatomi, dilakukan untuk keperluan pendidikan mahasiswa fakultas
kedokteran.
2) Otopsi Klinik, dilakukan terhadap mayat seorang yang diduga terjadi akibat suatu
penyakit. Tujuannya untuk menentukan penyebab kematian yang pasti, menganalisa
kesesuaian antar diagnosis klinis dan diagnosis post-mortem, pathogenesis penyakit,
dan sebagainya. Otopsi klinis dilakukan dengan persetujuan tertulis ahli waris, ada
kalanya ahli waris sendiri yang memintanya.
3) Otopsi Forensik/ Medikolegal, dilakukan terhadapat mayat seseorang yang diduga
meninggal akibat suatu sebab yang tidak wajar seperti pada kasus kecelakaan,
pembunuhan maupun bunuh diri. Otopsi ini dilakukan atas permintaan penyidik
sehubungan dengan adanya penyidikan suatu perkara.
Tujuan dari otopsi medikolegal adalah:

Untuk memastikan identitas eseorang yang tidak diketahu atau belum jelas

Untuk menentukan sebab pasti kematian, mekanisme kematian dan saat kematian

Untuk mengumpulakn dan memeriksa tanda bukti untuk penentuan identitas benda dan
pelaku kejahatan

Membuat laporan tertulis yang objektif berdasarkan fakta dalam bentuk visum et
repertum

Otopsi medikolegal dilakukan atas permintaan penyidik sehubungan dengan adanya penyidikan
suatu perkara. Hasil pemeriksaan adalah temuan obyektif pada korban, yang diperoleh dari
pemeriksaan medis.
C.Traumatologi
Traumatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang luka dan cedera serta hubungannya
dengan berbagai kekerasan (rudapaksa), sedangkan yang dimaksud dengan luka adalah suatu
keadaan ketidaksinambungan jaringan tubuh akibat kekerasan.
Berdasarkan sifat serta penyebabnya, kekersan mekanik dapat dibedakan atas kekerasan yang
bersifat:
Kekerasan tajam
Gambaran umum luka yang diakubatkan luka dengan sifat luka seperti ini adalah tepi
dan dinding luka yang rata, berbentuk garis, tidak terdapat jembatan aringan dan dasar luka
berbentuk garis atau titik. Luka akibat kekerasan benda tajam dapat berupa luka iris atau
sayat, luka tusuk dan luka bacok.
Selain gambaran umum luka tersebut di atas, luka iris atau sayat dan luka bacok
mempunyai kedua sudut luka lancip dan dalam luka tidak melebihi panjang luka. Sudut luka
yang lancip dapat terjadi dua kali pada tempat yang berdekatan akibat pergeseran senjata
sewaktu ditarik atau akibat bergeraknya korban. Bilaa dibarengi gerak memutar dapat
menghasilkan luka yang tidak selalu berupa garis.
Pada luka tusuk, sudut luka dapat menunjukkan perkiraan benda penyebabnya,
apakah berupa pisau bermatasatu atau bermata dua. Bila satu sudut luka lancip dan yang lain
tumpul, berarti benda penyebabnya adalah benda tajam bermata satuBila kedua sudut luka
lancip maka benda penyebabnya adalah benda tajam bermata dua. Benda tajam bermata satu
dapat menimbulkan luka tusuk dengan kedua sudut luka lancip apabila hanya bagian ujung
benda saja yang menyentuh kulit, sehingga sudut luka dibentuk oleh ujung dan sisi tajamnya.

Kulit disekitar luka akibat kekerasan benda tajam biasanya tidak menunjukkan
adanya luka lecet atau luka memar, kecuali bila bagian gagang turut membentur kulit.
Pada luka tusuk, panjang luka biasanya tidak mencerminkan lebar benda tajam
peneybabnya, demikian pula panjang saluran luka biasanya tidak menunjukkan panjang
benda tajam tersebut. Hal ini disebabkan oleh factor elasitas jaringan dan gerakan korban.
Umumnya luka akibat kekerasan benda tajam pada kasus pembunuhan, bunuh diri atau
kecelakaan memiliki cirri-ciri berikut:
PEMBUNUHAN

BUNUH DIRI

KECELAKAAN

LOKASI LUKA

sembarang

terpilih

Terpapar

JUMLAH LUKA

Banyak

Banyak

Tunggal/banyak

PAKAIAN

Terkena

Tidak terkena

Terkena

LUKA TANGKIS

Ada

Tidak ada

Tidak ada

LUKA
PERCOBAAN

Tidak ada

Ada

Tidak ada

CEDERA
SEKUNDER

Mungkin ada

Tidak ada

Mungkin ada

Ciri-ciri pembunuhan dapat dijumpai pada kasus pembunuhan yang disertai perkelahian.
Tetapi bila tanpa perkelahian maka lokasi luka biasanya pada daerah fatal dan dapat tunggal
Luka tangkis merupakan luka yang terjadi akibat perlawanan korban dan umumnya
ditemukan pada telapak dan punggung tangan, jari-jari tangan, pungung lengan bawah dan
tungkai.
Pemeriksaan pada kain atau baju yang terkena pisau bertujuan untuk melihat interaksi
antara pisau, kain, tubuh, yaitu melihat letak kelainan, bentuk robekan, partikel besi (reaksi biru
berlin dilanjutkan dengan pemeriksaan spektroskopi), serat kain dan pemeriksaan terhadap
bercak darahnya.
Kekerasan tumpul

Memar (kontusio, hematom)

Luka lecet (eskoriasi, abrasi) yang dibagi menjadi luka lecet gores, luka lecet serut, luka
lecet tekan dan luka lecet geser

Luka terbuka/robek(vulnus laseratum)

Luka robek merupakan terbuka akibat trauma benda tumpul yang menyebabkan kulit
teregang ke satu arah dan bila batas elasitas kulit terlampaui maka akan terjadi robekan pada
kulit Luka ini mempunyai cirri bentuk luka yang umumnya tidak beraturan, tepi atau dinding
tidak rata, tampak jembatan jaringan antara kedua tepi luka, bentuk dasar luka tidak beraturan
sering tampakluka lecet atau memar sisi luka. Kekerasan tumpul yang cukup kuat menyebabkan
patah tulang.
Bila terdapat lebih dari satu garis patah tulang yang saling bersingungan maka garis patah
yang terjadi belakangan akan berhenti pada garis patah yang telah terjadi sebelumnya. Patah
tulang jenis impresi terjadi akibat kekerasan tumpul pada tulang dengan luas persingungan yang
kecil dan dapat memberikan gambaran bentuk benda penyebabnya.
D. Tanatologi
Tanatologi merupakan ilmu yang mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan kematian
yaitu: definisi atau batasan mati, perubahan yang terjadi pada tubuh setelah terjadi kematian dan
faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut.
Livor mortis
Livor mortis atau lebam mayat terjadi akibat pengendapan eritrosit sesudah kematian
akibat berentinya sirkulasi dan adanya gravitasi bumi . Eritrosit akan menempati bagian
terbawah badan dan terjadi pada bagian yang bebas dari tekanan. Muncul pada menit ke-30
sampai dengan 2 jam. Intensitas lebam jenazah meningkat dan menetap 8-12 jam.
Lebam jenazah normal berwarna merah keunguan. Tetapi pada keracunan sianaida (CN) dan
karbon monoksida (CO) akan berwarna merah cerah (cherry red).
Rigor Mortis

Rigor mortis atau kaku jenazah terjadi akibat hilangnya ATP. ATP digunakan untuk
memisahkan ikatan aktin dan myosin sehingga terjadi relaksasi otot. Namun karena pada saat
kematian terjadi penurunan cadangan ATP maka ikatan antara aktin dan myosin akan menetap
(menggumpal) dan terjadilah kekakuan jenazah. Rigor mortis akan mulai muncul 2 jam
postmortem semakin bertambah hingga mencapai maksimal pada 12 jam postmortem. Kemudian
setelah itu akan berangsur-angsur menghilang sesuai dengan kemunculannya. Pada 12 jam
setelah kekakuan maksimal (24 jam postmortem) kaku jenazah sudah tidak ada lagi. Faktorfaktor yang mempengaruhi terjadinya kaku jenazah adalah suhu tubuh, volume otot dan suhu
lingkungan. Makin tinggi suhu tubuh makin cepat terjadi kaku jenazah. Rigor mortis diperiksa
dengan cara menggerakkan sendi fleksi dan antefleksi pada seluruh persendian tubuh.
Hal-hal yang perlu dibedakan dengan rigor mortis atau kaku jenazah adalah:
1. Cadaveric Spasmus, yaitu kekakuan otot yang terjadi pada saat kematian dan menetap
sesudah kematian akibat hilangnya ATP lokal saat mati karena kelelahan atau emosi yang
hebat sesaat sebelum mati.
2. Heat stiffening, yaitu kekakuan otot akibat koagulasi protein karena panas sehingga serabut
otot memendek dan terjadi flexi sendi. Misalnya pada mayat yang tersimpan dalam ruangan
dengan pemanas ruangan dalam waktu yang lama.
3. Cold stiffening, yaitu kekakuan tubuh akibat lingkungan yang dingin sehingga terjadi
pembekuan cairan tubuh dan pemadatan jaringan lemak subkutan sampai otot.

Body Temperature
Pada saat sesudah mati, terjadi karena adanya proses pemindahan panas dari badan ke bendabenda di sekitar yang lebih dingin secara radiasi, konduksi, evaporasi dan konveksi. Penurunan
suhu badan dipengaruhi oleh suhu lingkungan, konstitusi tubuh dan pakaian. Bila suhu lingkugan
rendah, badannya kurus dan pakaiannya tipis maka suhu badan akan menurun lebih cepat. Lama
kelamaan suhu tubuh akan sama dengan suhu lingkungan.

Perkiraan saat kematian dapat dihitung dari pengukuran suhu jenazah perrektal (Rectal
Temperature/RT). Saat kematian (dalam jam) dapat dihitung rumus PMI (Post Mortem Interval)
berikut.
Formula untuk suhu dalam o Celcius
PMI = 37 o C-RT o C +3
Formula untuk suhu dalam o Fahrenheit
PMI = 98,6 o F-RT o F
1,5
Decomposition
Pembusukan jenazah terjadi akibat proses degradasi jaringan karena autolisis dan kerja bakteri.
Mulai muncul 24 jam postmortem, berupa warna kehijauan dimulai dari daerah sekum menyebar
ke seluruh dinding perut dan berbau busuk karena terbentuk gas seperti HCN, H2S dan lainlain.
Gas yang terjadi menyebabkan pembengkakan. Akibat proses pembusukan rambut mudah
dicabut, wajah membengkak, bola mata melotot, kelopak mata membengkak dan lidah terjulur.
Pembusukan lebih mudah terjadi pada udara terbuka suhu lingkungan yang hangat/panas dan
kelembaban tinggi. Bila penyebab kematiannya adalah penyakit infeksi maka pembusukan
berlangsung lebih cepat.

Proses-Proses Spesifik pada Jenazah Karena Kondisi Khusus


Mummifikasi
Mummifikasi terjadi pada suhu panas dan kering sehingga tubuh akan terdehidrasi dengan cepat.
Mummifikasi terjadi pada 12-14 minggu. Jaringan akan berubah menjadi keras, kering, warna
coklat gelap, berkeriput dan tidak membusuk.
Adipocere

Adipocere adalah proses terbentuknya bahan yang berwarna keputihan, lunak dan berminyak
yang terjadi di dalam jaringan lunak tubuh postmortem. Lemak akan terhidrolisis menjadi asam
lemak bebas karena kerja lipase endogen dan enzim bakteri.
Faktor yang mempermudah terbentuknya adipocere adalah kelembaban dan suhu panas.
Pembentukan adipocere membutuhkan waktu beberapa minggu sampai beberap bulan.
Adipocere relatif resisten terhadap pembusukan.
Gastric Emptying
Pengosongan lambung dapat dijadikan salah satu petunjuk mengenai saat kematian. Karena
makanan tertentu akan membutuhkan waktu spesifik untuk dicerna dan dikosongkan dari
lambung. Misalnya sandwich akan dicerna dalam waktu 1 jam sedangkan makan besar
membtuhkan waktu 3 sampai 5 jam untuk dicerna.
Aktivitas Serangga
Aktivitas serangga juga dapat digunakan untuk memperkirakan saat kematian yaitu
dengan menentukan umur serangga yang biasa ditemukan pada jenazah. Necrophagus
species akan memakan jaringan tubuh jenazah. Sedangkan predator dan parasit akan
memakan serangga Necrophagus. Omnivorus species akan memakan keduanya baik
jaringan tubuh maupun serangga. Telur lalat biasanya akan mulai ditemukan pada
jenazah sesudah 1-2 hari postmortem. Larva ditemukan pada 6-10 hari postmortem.
Sedangkan larva dewasa yang akan berubah menjadi pupa ditemukan pada 12-18 hari.

BAB III
PEMBAHASAN
I.

Prosedur Medikolegal

Menurut KUHAP pasal 133 ayat (1), yang berwenang melakukan pemeriksaan forensik
yang menyangkut tubuh manusia dan membuat keterangan ahli adalah dokter ahli kehakiman
(forensik), dokter, dan ahli lainnya. jadi, dalam tugas sehari-hari, dokter juga memliki tugas
melakukan pemeriksaan medik untuk tujuan membantu penegakan hukum. Pemeriksaan medik
untuk tujuan membantu penegakan hukum antara lain adalah pembuatan visum et repertum
terhadap seseorang yang dikirim oleh polisi karena diduga sebagai korban suatu tindakan pidana.
Visum et repertum adalah keterangan yang dibuat oleh dokter atas permintaan penyidik
yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medik terhadap manusia, baik hidup atau mati
ataupun bagian yang diduga bagian tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya dan di bawah
sumpah, untuk kepentingan peradilan. Sedangakan tujuan pemeriksaan kedokteran forensik pada
korban hidup adalah untuk mengetahui penyebab sakit/luka dan derajat parahnya luka atau
sakitnya tersebut.
Pada kasus ini korban mengaku mengalami tindak penganiayaan yang merupakan tindak
pidana. Maka pihak penyidik mengajukan permintaan pembuatan VeR. Adapun permintaan
tertulis dari penyidik ini disebut Surat Permintaan Visum (SPV). Dokter sebagai pihak yang
dimintai keterangan oleh penyidik terkena kewajiban untuk memberikan bantuaan sesuai dengan
kemampuannya untuk kepentingan peradilan. Hal ini sesuai dengan pasal 179 KUHAP yaitu
Setiap orang yg diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli
lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan. Jika dokter menolak, maka dokter
akan dikenai sanksi sesuai pasal 216 ayat 1 KUHP yaitu Barang siapa dengan sengaja tidak
menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang
tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang
diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barang siapa dengan
sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan

ketentuaan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda
paling banyak sembilan ribu rupiah.
Kepentingan pembuatan VeR tersebut adalah karena keterangan ahli dalam KUHAP pasal
184 ayat (1) tersebut sepadan dengan yang dimaksud dengan Visum et Repertum dalam
Statsblad 350 tahun 1937 dan merupakan salah satu alat bukti yang sah.

II. Penganiayaan dan Derajat Luka


Kasus yang terjadi pada korban ini diduga akibat penganiayaan. Menganiaya adalah
dengan sengaja menimbulkan sakit atau luka. Kesengajaan ini harus dituduhkan dalam surat
aduan (HR 25 Juni 1984). Berdasarkan pasal KUHP pasal 90, 351, dan 352, dapat dibedakan 4
jenis tindakan pidana, yaitu:
1. Penganiayaan ringan, yaitu penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau
halangan untuk menjalankan perkerjaan, jabatan, atau pencaharian.
2. Penganiayaan, yaitu penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan
untuk menjalankan perkerjaan, jabatan, atau pencaharian untuk sementara waktu.
3. Penganiayaan yang mengakibatkan luka berat.
4. Penganiayaan yang mengakibatkan kematian.
Oleh karena istilah penganiayaan merupakan istilah hukum, maka dalam VeR yang dibuat
dokter tidak boleh mencantumkan istilah tersebut. Dokter hanya menentukan secara objektif ada
tidaknya luka, dan jika ada dokter harus menentukan derajatnya.
Luka adalah suatu keadaan ketidaksinambungan jaringan tubuh akibat kekerasan. Derajat
luka dibagi menjadi 3, yaitu derajat 1 (luka ringan), derajat 2 (luka sedang), dan derajat 3 (luka
berat). Luka derajat 1 atau luka ringan dalah luka yang terjadi akibat penganiayaan ringan yaitu
penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan jabatan atau
pekerjaan sesuai KUHP pasal 352 ayat (1). Luka derajat 2 atau luka sedang merupakan luka yang
mengakibatkan halangan atau kehilangan fungsi melakukan aktivitas sehari-hari untuk sementara
waktu yang merupakan hasil dari tindak penganiayaan sesuai dalam pasal 351 dan 353 KUHP.
Luka derajat 3 atau luka berat sesuai pasal 90 KUHP adalah jatuh sakit atau mendapat luka yang
tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali, atau yang menimbulkan bahaya maut; yang

menyebabkan seseorang terus menerus tidak mampu untuk menjalankan tugas jabatan atau
pekerjaan pencaharian; yang menyebabkan kehilangan salah satu panca indera; yang
menimbulkan cacat berat; yang mengakibatkan terjadinya keadaan lumpuh; terganggunya daya
pikir selama empat minggu lebih serta terjadinya gugur atau matinya kandungan seorang
perempuan.
Pada korban ini ditemukan gigi yang goyang, luka terbuka tepi tidak rata, luka lecet dan
memar akibat kekerasan tumpul dan beberapa luka terbuka dangkal akibat kekerasan tajam. Pada
saat diperiksa korban dalam keadaan sadar penuh dan tampak sakit ringan. Pingsan, mual dan
muntah disangkal sehingga hal ini menyebabkan tidak dilakukannya pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan fisik umum menunjukkan bahwa semua nilai dalam batas normal dan tidak ada
tanda-tanda kegawatdaruratan. Pada pasien dilakukan perawatan luka. Perawatan luka yang bisa
diberikan berupa pembersihan luka namun tidak dijahit karena luka terbuka yang ditemukan
adalah luka terbuka dangkal, diberikan obat penghilang nyeri dan salep antibiotik.
Berdasarkan kondisi korban tersebut diatas, luka tersebut dikategorikan sebagai luka
derajat 1 (luka ringan) yaitu luka yang tidak membahayakan jiwa korban dan tidak menimbulkan
komplikasi. Oleh karena itu di bagian kesimpulan dituliskan bahwa luka tersebut tidak
menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian.

III.

Hukum
Tindak pidana pada kasus ini dapat diancam dengan KUHP pasal 352 yaitu:

(1) Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang tidak
menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau
pencaharian, diancam sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama
tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Pidana dapat
ditambah sepertiga bagi orang yang melakukan kejahatan ini terhadap orang yang bekerja
padanya atau bawahannya.
(2) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ilmu Kedokteran


Forensik. Jakarta: Percetakan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1997.

2.

Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Peraturan


Perundang-undangan Bidang Kedokteran Cetakan Kedua. Jakarta: Percetakan Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 1994.

3.

AM Idries. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bina Rupa Aksara; 1997.