Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Uretritis gonore adalah suatu penyakit menular seksual yang disebabkanoleh
kuman neisseria gonorrhoeae. Penaganannya yang sulit menyebabkan penyakit ini
tidak terbatas hanya pada suatu negara, tetapi sudah menjadi masalah dunia terutama
pada negara berkembang atau sedang berkembang seperti Asia Selatan dan Tenggara,
Sub Sahara Afrika dan Amerika Latin.
WHO memperkirakan bahwa tidak kurang dari 25 juta kasus baru ditemukan
setiap tahun di seluruh dunia. Di Amerika Serikat diperkirakan dijumpai 600.000
kasus baru setiap tahunnya.Hal ini disebabkan banyak faktor penunjang yang dapat
mempermudah dalam hal penyebarannya menyangkut : kemajuan sarana transportasi,
pengaruh geografi, pengaruh lingkungan, kurangnya fasilitas pengobatan, kesalahan
diagnosis, perubahan pola hidup, dan tak kalah penting ialah penyalahgunaan
obat.Kesemuanya

ini

dapat

terjadi

terutama

karena

latar

belakang

kurangnya pengetahuan mengenai seluk beluk dari infeksi menular seksual.Infeksi


gonore dapat juga didapat dari setiap kontak seksual, pharyngeal dananal gonorrheae
tidak biasa. Gejala pharyngeal gonorrheae biasanya berupa nyeri tenggorokan, anal
gonorrheae dapat dirasakan lebih nyeri disertai sekret yang bernanah.Angka tertinggi
pada wanita dari semua ras adalah kelompok usia 15 sampai19 tahun.
Prevalensi gonore selama kehamilan bervariasi, tetapi dapat mencapai 7%dan
mencerminkan status resiko populasi. Faktor resiko antara lain adalah lajang,remaja,
kemiskinan, terbukti menyalahgunakan obat, prostitusi, penyakit menular seksual lain
dan tidak adanya perawatan prenatal.Dengan bertambah banyaknya ragam antibiotik
yang berhasil disintesis akhir-akhir ini memperkuat dugaan sebelumnya bahwa
uretritis gonore akan dapat terberantas secara tuntas. Kenyataannya hal seperti ini
tidak seluruhnya benar.Tidak jarang penderita uretritis gonore tidak kunjung sembuh
meskipun telah minum sendiri antibiotik yang mahal sekalipun. Penderita lain dengan
sakit yang sama berobat ke dokter, kemudian sembuh.Berdasarkan pengalaman

tersebut, setiap kali sakit setelah hubungan seksual, pasien selalu minum obat yang
sama tanpa memeriksakan diri ke dokter lebih dahulu. Kasus seperti ini sering terjadi
dalam praktek sehari-hari
1.1 Tujuan
1.1.1 Tujuan Umum
Mahasiswa dapat memahami gambaran tentang asuhan keperawatan
1.1.2

dengan pasien uretritis


Tujuan Khusus

1.1.2.1 Untuk mengetahui definisi dari uretritis


1.1.2.2 Untuk mengetahui etiologi dari uretritis
1.1.2.3 Untuk mengetahui patofisiologi dari uretritis
1.1.2.4 Untuk mengetahui manifestasi klinis dari uretritis
1.1.2.5 Untuk mengetahui komplikasi dari uretritis
1.1.2.6 Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostik dari uretritis
1.1.2.7 Untuk mengetahui penatalaksanaan dari uretritis
1.1.2.8 Untuk mengetahui patoflow dari uretritis
1.2 Manfaat
1.2.1 Bagi Mahasiswa
Dari makalah ini akan menyediakan informasi yang berguna untuk
1.2.2

meningkatkan pengetahuan mahasiswa mengenai uretritis


Bagi Masyarakat
Masyarakat dapat mengetahui tanda-tanda yang dialami bagi penderita
uretritis dan menjadikan wawasan masyarakat bertambah tentang uretritis
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Penyakit


2.1.1 Pengertian
Uretritis adalah suatu inflamasi uretra atau suatu infeksi yang menyebar naik
yang digolongkan sebagai infeksi gonoreal dan nongonoreal. Namun demikian kedua
kondisi tersebut dapat terjadi pada satu pasien. (Nursalam, 2008).
Uretritis yaitu inflamasi pada uretra, keadaan ini kerap kali merupakan gejala
penyakit gonore, dapat pula disebabkan oleh mikroorganisme. (Barbara. 2005)
Uretritis adalah peradangan yang terjadi pada uretra (Anonym 1997).
Urethritis juga merupakan salah satu sindroma dari penyakit menular seks
(PMS),urethritis secara spesifik dapat terbagi 2 yaitu gonococal urethritis dan
nongonococal urethritis
Urethritis merupakan peradangan pada saluran kencing atau urethra, yang
terjadi pada lapisan kulit urethra, disebabkan oleh bakteri-bakteri yang menyerang
saluran kemih seperti Chlamydia trachomatis, neisseria gonorrhoae, tricomonal
vaginalis dan lain-lain. peradangan ini biasanya terjadi pada ujung urethra atau
urethra bagian posterior, urethritis juga merupakan salah satu dari infeksi dari saluran
kemih yaitu urethra, prostate, vas deferens, testis atau ovarium, buli-buli, ureter
sampai ginjal. Dan dapat dikatakan sebagai bagian dari infeksi saluran kemih
superficial atau mukosa yang tidak menandakan invasi pada jaringan.
2.1.2

Klasifikasi

a. Uretritis Akut
b. Penyebab
Asending infeksi atau sebaliknya oleh karena prostate mengalami infeksi.
Keadaan ini lebih sering diderita kaum pria.
c. Tanda dan Gejala

Mukosa merah udematus

Terdapat cairan eksudat yang purulent

Ada ulserasi pada uretra

Mikroskopis : terlihat infiltrasi leukosit sel sel plasma dan sel sel
limfosit

Ada rasa gatal yang menggelitik, gejala khas pada uretritis G.O yaitu
morning sickness

Pada oria : pembuluh darah kapiler, kelenjar uretra tersumbat oleh


kelompok pus

Pada wanita : jarang diketemukan uretritis akut, kecuali bila pasien


menderita.

d.

Diagnosa Diferential
Uretritis GO
Amicrobic pyuhria
Uretritis karena trichomonas
Prostatitis non spesifik

e.

Pemeriksaan Diagnostik
Dilakukan pemeriksaan terhadap secret uretra untuk mengetahui kuman

penyebab.
f.

Tindakan Pengobatan
Pemberian antibiotika
Bila terjadi striktuka, lakukan dilatasi uretra dengan menggunakan
bougil

g.

Komplikasi
Mungkin prostatitis
Periuretral abses yang dapat sembuh, kemudian meninbulkan striktura
atau urine fistula
h.

Uretritis Kronis

i. Penyebab

Pengobatan yang tidak sempurna pada masa akut

Prostatitis kronis

Striktura uretra

j. Tanda dan Gejala

Mukosa terlihat granuler dan merah

Mikroskopis : infiltrasi dari leukosit, sel plasma, sedikit sel leukosit,


fibroblast bertambah

k.

Getah uretra (+), dapat dilihat pada pagi hari sebelum bak pertama

Uretra iritasi, vesikal iritasi, prostatitis, cystitis.

Prognosa
Bila tidak diobati dengan baik, infeksi dapat menjalar ke kandung kemih,
ureter, ginjal.

l. Tindakan Pengobatan

Chemoterapi dan antibiotika

Cari penyebabnya

Berikanlah banyak minum

m. Komplikasi
Radang dapat menjalar ke prostate.
n.

Uretritis Gonokokus

o. Penyebab
Neisseria Gonorhoeoe (gonokokus)
p. Tanda dan Gejala
Sama dengan tanda dan gejala pada uretritis akut, karena uretritis ini
adalah bagian dari uretritis akut
q. Prognosa
Infeksi dapat menyebar ke proksimal uretra.
r. Komplikasi

Infeksi yang menyebar ke proksimal uretra menyebabkan peningkatan


frekuensi kencing

Gonokokus dapat menebus mukosa uretra yang utuh, mengakibatkan


terjadi infeksi submukosa yang meluas ke korpus spongiosum
5

Infeksi yang menyebabkan kerusakan kelenjar peri uretra akan


menyebabkan terjadinya fibrosis yang dalam beberapa tahun kemudian
mengakibatkan striktura uretra. (underwood,1999)

s. Uretritis Non Gonokokus (Non Spesifik)


Uretritis non gonokokus (sinonim dengan uretritis non spesifik) merupakan
penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual yang paling sering
diketemukan. Pada pria, lender uretra yang mukopurulen dan disuria terjadi
dalam beberapa hari sampai beberapa minggu setelah melakukan hubungan
kelamin dengan wanita yang terinfeksi. Lendir mengandung sel nanah tetapi
gonokokus tidak dapat di deteksi secara mikroskopis atau kultur.
(Underwood,1999)
t. Insiden
Masih merupakan penyakit yang sering terjadi pada banyak bagian dunia,
insiden berhubungan langsung dengan promiskuitas dari populasi
u. Etiologi
Infeksi hamper selalu didapat selama hubungan seksual. Gonokokus
membelah diri pada mukosa yang utuh dari uretra anterior dan setelah itu
menginvasi kelenjar peri uretral, dengan akibat terjadinya bakteremia dan
keterlibatan limfatik.
v. Makroskopik
Peradangan akut dari mukosa uretra, dengan eksudat yang purulenta pada
permukaan; dapat terjadi ulserasi dari mukosa.
w. Rabas
Timbul 3-8 hari setelah infeksi dan kental, kuning serta banyak. Apusan
memperlihatkan sejumlah besar sel sel pus (100%), banyak mengandung
diplokokus gram negative intraseluler yang difagositosis.
x. Perjalanan Penyakit
1. Dapat mengalami resolusi dalam 2-4 minggu, sebagai akibat
pengobatan atau kadang kadang spontan.
2. Menjadi kronik.

y. Penyulit
1. Uretritis posterior, prostatitis, vesikulitis, epididimitis dan sistitis.
2. Abses peri uretral.
3. Penyebaran sistemik arthritis supuratif atau teno sinovitis tidak
jarang ditemukan pada kasus yang terabaikan sementara endokarditis
jarang sekali terjadi. (A.D Thomson,1997)
z. Uretritis Abakterial Penyakit Reiter
aa. Klinik
Uretritis yang berkaitan dengan konjunktivitis dan artritis
bb. Etiologi
Kemungkinan terdapat organisme dari kelompok chlamydia
cc. Hasil
Kemungkinan terdapat pemulihan spontan, tetapi sering kali terdapat
riwayat yang lama, dengan banyak eksaserbasi klinik. Pada kasus yang
berat terdapat ulserasi dari mukosa bukal, kulit kaki, glans penis,
uretra dan kandung kemih. Iritis dan keraitis dapat menjadi penyulit
konjunktivitis.
2.1.3 Anatomi Fisiologi

Sistem perkemihan atau sistem urinaria terdiri atas, dua ginjal yang fungsinya
membuang limbah dan substansi berlebihan dari darah, dan membentuk kemih dan
dua ureter, yang mengangkut kemih dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria)

yang berfungsi sebagai reservoir bagi kemih dan urethra. Saluran yang menghantar
kemih

dari

kandung

kemih

keluar

tubuh

sewaktu

berkemih.

Setiap hari ginjal menyaring 1700 L darah, setiap ginjal mengandung lebih dari 1 juta
nefron, yaitu suatu fungsional ginjal. Ini lebih dari cukup untuk tubuh, bahkan satu
ginjal pun sudah mencukupi. Darah yang mengalir ke kedua ginjal normalnya 21 %
dari curah jantung atau sekitar 1200 ml/menit.
Masing-masing ginjal mempunyai panjang kira-kira 12 cm dan lebar 2,5 cm
pada bagian paling tebal. Berat satu ginjal pada orang dewasa kira-kira 150 gram dan
kira-kira sebesar kepalang tangan. Ginjal terletak retroperitoneal dibagian belakang
abdomen. Ginjal kanan terletak lebih rendah dari ginjal kiri karena ada hepar disisi
kanan. Ginjal berbentuk kacang, dan permukaan medialnya yang cekung disebut hilus
renalis, yaitu tempat masuk dan keluarnya sejumlah saluran, seperti pembuluh darah,
pembuluh getah bening, saraf dan ureter.
Panjang ureter sekitar 25 cm yang menghantar kemih. Ia turun ke bawah pada
dinding posterior abdomen di belakang peritoneum. Di pelvis menurun ke arah luar
dan dalam dan menembus dinding posterior kandung kemih secara serong (oblik).
Cara masuk ke dalam kandung kemih ini penting karena bila kandung kemih sedang
terisi kemih akan menekan dan menutup ujung distal ureter itu dan mencegah
kembalinya kemih ke dalam ureter.
Kandung kemih bila sedang kosong atau terisi sebagian, kandung kemih ini
terletak di dalam pelvis, bila terisi lebih dari setengahnya maka kandung kemih ini
mungkin teraba di atas pubis. Peritenium menutupi permukaan atas kandung kemih.
Periteneum ini membentuk beberapa kantong antara kandung kemih dengan organorgan di dekatnya, seperti kantong rektovesikal pada pria, atau kantong vesikouterina pada wanita. Diantara uterus dan rektum terdapat kavum douglasi.
Uretra pria panjang 18-20 cm dan bertindak sebagai saluran untuk sistem reproduksi
maupun perkemihan. Pada wanita panjang uretra kira-kira 4 cm dan bertindak hanya
sebagai system Perkemihan. Uretra mulai pada orifisium uretra internal dari kandung
kemih dan berjalan turun dibelakang simpisis pubis melekat ke dinding anterior
vagina. Terdapat sfinter internal dan external pada uretra, sfingter internal adalah

involunter dan external dibawah kontrol volunter kecuali pada bayi dan pada cedera
atau penyakit saraf.
2.1.4 Etiologi
Pada orang dewasa khususnya wanita muda dan aktif dapat ditularkan
organisme penyebab urethritis melalui hubungan seksual seperti Chlamydia
trachomatis, neisseria gonorrhoaeae, dan virus herpes simpleks merupakan kumankuman penyebab utama urethritis. Pada wanita dapat juga terjadi karena perubahan
pH dan flora vulva dalam siklus menstruasi. Ada juga organisme lain seperti
ureaplasma urealyticum, mycoplasma hominis, tricomonal vaginalis, neisseria
meningitides, dan androvirus yang juga merupakan organisme penyebab peradangan
urethra. Tidak hanya pada perempuan tapi pada laki-laki dan anak bayi dan remaja
bias terjangkit oleh kuman-kuman ini.
Kuman gonore atau kuman lain, kadang kadang uretritis terjadi tanpa
adanya bakteri. Penyebab klasik dari uretritis adalah infeksi yang dikarenakan oleh
Neisseria Gonorhoed. Akan tetapi saat ini uretritis disebabkan oleh infeksi dari
spesies Chlamydia, E.Coli atau Mycoplasma.
Penyebab uretritis:

Kuman Gonorrhoe (N.Gonorhoe)


Kuman Non-Gonorrhoe (Klamidia Trakomatik / Urea Plasma Urelytikum)
Tindakan invasif
Iritasi batu ginjal
Trihomonas vaginalis
Organisme gram negatif :
Escherichia coli
Entero bakteri
Pseudomonas
Klebsiella dan Proteus

2.1.5 Manifestasi Klinik


Terdapat cairan eksudat yang purulent
Mukosa memerah dan edema
Ada ulserasi pada uretra, iritasi, vesikal iritasi, prostatitis

Adanya rasa gatal yang menggelitik, gejala khas pada uretritis G.O yaitu

morning sickness
Adanya pus awal miksi
Nyeri pada saat miksi
Kesulitan untuk memulai miksi
Nyeri pada abdomen bagian bawah
Pada pria pembuluhdarah kapiler, kelenjar uretra tersumbat oleh pus

2.1.6 Patofisiologi
Invasi kuman (gonorrhoe, trihomonas vaginalis gram negatif) uretritis. Iritasi
(iritasi batu ginjal, iritasi karena tindakan invasif menyebabkan retak dan permukaan
mukosa pintu masuknya kuman proses peradangan uretritis).
Pada kebanyakan kasus organisme penyebab dapat mencapai kandung kemih
melalui uretra. Infeksi ini sebagai sistitis, dapat terbatas di kandung kemih saja / dapat
merambat ke atas melalui uretra ke ginjal. Organisme juga dapat sampai ke ginjal
atau melalui darah / getah bening, tetapi ini jarang terjadi. Tekanan dari kandung
kemih menyebabkan saluran kemih normal dapat mengeluarkan bakteri yang ada
sebelum bakteri tersebut sampai menyerang mukosa.
Obstruksi aliran kemih proksimal terhadap kandung kemih mengakibakan
penimbunan cairan, bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter. Hal ini dapat
menyebabkan atrofi hebat pada parenkim ginjal / hidronefrosis. Disamping itu
obstruksi yan6g terjadi di bawah kandung kemih sering disertai refluk vesiko ureter
dan infeksi pada ginjal. Penyebab umum obstruksi adalah jaringa parut ginjal dan
uretra, batu saluran kemih, neoplasma, hipertrofi prostat, kelainan kongenital pada
leher kandung kemih dan uretra serta penyempitan uretra.
2.1.7 Patoflow

10

2.1.8 Komplikasi
Penyulit yang terjadi dapat bersifat lokal, ekstra genital dan disseminated.

Penyulit lokal :
#

Pada

laki-laki

tysonitis,

cystitis,

vesiculitis,

cowperitis,deferenitis, littritis, prostatitis, epidydimitis, infertile.

11

parauretritis,

Pada wanita : skenitis, bartholinitis, cystitis, salpingitis, proctitis,

PID,infertilitas.

Penyulit ekstra genital : orofaringitis, konjungtivitis

Penyulit

disseminated

arthritis,

myocarditis,

endocarditis,

pericarditis,meningitis.
2.1.9 Pemeiksaan Diagnostik
Kultur urine : Mengidentifikasi organisme penyebab
Urine analisis/urinalisa : Memperlihatkan bakteriuria, sel darah putih, dan
endapan sel darah merah dengan keterlibatan ginjal
Darah lengkap
Sinar-X ginjal, ureter dan kandung kemih mengidentifikasi anomali struktur
nyata.
Pielogram intravena (IVP) : Mengidentifikasi perubahan atau abnormalitas
struktur
2.1.10 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan terapi berdasarkan panduan The Center for Disease
Control and Prevention.
Antibiotika yang direkomendasikan untuk N. gonnorrheae
Cefixime 400 mg oral
Ceftriaxone 250 mg IM
Ciprofloxacine 500 mg oral
Ofloxacin 400 mg oral
Keempat antibiotika diatas diberikan dalam dosis tunggal.Infeksi gonorrheae
sering diikuti dengan infeksi chlamydia. Oleh karena itu perluditambahkan
antibiotika anti-chlamydial :

12

Azithromycin, 1 gr oral (dosis tunggal)


Doxycycline 100 mg oral 2 kali sehari selama 7 hari
Erythromycine 500 mg oral 4 kali sehari selama 7 hari
Ofloxacin 200 mg oral 2 kali sehati slama 7 hari
2.2 Asuhan Keperawatan Teoritis
2.2.1 Pengkajian

Biodata klien
Pada biodata perlu adanya pencatatan secara akurat. Pada kasus
uretritis 90% dialami oleh pria. Sebaliknya Pada wanita hanya sedikit yang
mengalami dan kebanyakan asimptomatik.

Pemeriksaan fisik
b. Pola sehat sakit

Riwayat penyakit sekarang : kali dengan PQRST

Riwayat penyakit terdahulu : Apakah klien pernah atau sedang


mengalami penyakit kelamin. Apakah klien pernah mengalami lesi
local yang berlokasi dekat uretra.

c. Pola aktivitas sehari hari

Nutrisi
Kaji pola nutrisi klien apakah klien mengalami mual, muntah atau
anoreksia berhubungan dengan adanya rasa nyeri dan adanya
inflamasi uretra.

Eliminasi
Perubahan pola eliminasi berkemih biasanya ; terjadi penurunan
frekuensi / oliguri

Istirahat / tidur
Apakah klien mengalami gangguan tidur, keletihan, kelemasan,
malaise dikarenakan adanya inflamasi uretra dan adanya rasa nyeri.

13

Apakah klien mengalami gangguan tidur karena ansietas / ketakutan


terhadap penyakitnya
d. Riwayat psokologis
Kaji bagaimana status emosi, gaya komunikasi, konsep diri, dan
gambaran diri klien berhubungan dengan penyakityang dideritanya.
e. Riwayat social ekonomi
Pengkajian riwayat social ekonomi dapat memberikan sedikit gambaran
penyakit klien. Misalnya yang suka berganti ganti pasangan dapat
mudah terkena uretritis karena ia mudah terkena penyakit kelamin.
f. Pemeriksaan wajah
Amati apakah klein mengalami konjunktivitis karena dengan adanya
konjunktivitis dapat menunjukkan terjadinya uretritisabakterial penyakit
reiter
g. Pemeriksaan abdomen

Inpeksi : Bagaimanakah bentuk abdomen

Palpasi : Adakah nyeri tekan

Auskultasi : Adakah peningkatan bising usus / gangguan kontraksi


otot polos ureter yang menyebabkan gangguan miksi

h. Pemeriksaan Genetalia

Inpeksi :
Pada penderita uretritis adanya mukosa merah udematus.
Terdapat cairan eksudat purulen.
Ada ulserasi diuretra
Adanya pus.
Peradangan akut uretra

Palpasi
Ada nyeri tekan pada genetalia karena adanya inflamasi

Auskultasi

14

Adanya gangguan kontraksi otot polos uretra sehingga terjadi


kesulitan miksi
i. Pemeriksaan persistem
Pemeriksaan S.Pernafasan
Pernafasan pendek, karena menahan nyeri (nyeri daerah simpisis

pubis)
Pemeriksaan S.Kardiovaskuler
Tidak ada gangguan pada sistem kardiovaskuler
Pemeriksaan S.Persepsi-sensori
Tidak ada gangguan pada sistem persersi-sensori
Pemeriksaan S.Muskulus
Tidak ada gangguan pada sisitem muskulus
Pemeriksaan S.Pencernaan
Abdomen tegang dan nyeri tekan pada daerah simpisis pubis/perut

bagian bawah.
Pemeriksaan S.Perkemihan
Nyeri dan panas saat berkemih, terjadi disuria, hematuria, & piuria.

Analisa data
Data Subyektif :

Klien mengeluhkan rasa nyeri di daerah uretra dan sekitarnya

Klien mengeluhkan adanya pus dan kemerahan di penis

Klien mengeluhkan nyeri saat BAK

Klien mengatakan kecemasan terhadap penyakitnya

Data Obyektif :

Mukosa merah

Tredapat cairan eksudat

Terdapat cairan ulserasi uretra

Mikroskopis : infiltrasi dari leukosit, sel plasma, sedikit sel leukosit,


fibroblas bertambah

2.2.2 Diagnosa
1. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada uretra

15

2. Gangguan perubahan eliminasi urine berhubungan dengan


obstruksi/edema/proses peradangan pada saluran kemih.
3. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan pada saluran kemih
4. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan terhadap penyakit
5. Resiko infeksi berhubungan dengan penyebaran patogen secara sistemik
2.2.3 Intervensi
Dx 1: Nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada uretra
Tujuan: Rasa nyeri bisa berkurang / hilang
Kriteria Hasil:

Klien mengungkapkan nyeri berkurang/hilang


Tidak ada nyeri abdomen bawah / daerah simpisis pubis
Mukosa uretra tidak memerah / edema
Tidak ada nyeri saat berkemih
Ekspresi wajah tenang
Intervensi
Rasional
Kaji tingkat nyeri, lokasi & Untuk membantu mengevaluasi
intensitas
Berikan tindakan nyaman, seperti

tempat obstruksi & penyebab nyeri


Meningkatkan
relaksasi
&

pijatan
Alihkan perhatian pada hal yang

menurunkan tegangan otot


Relaksasi,
menghindari

terlalu

menyenangkan
Pantau pola berkemih

merasakan nyeri
Untuk mengidentifikasi

indikasi

secara

kemajuan / pengunduran gejala /

berkala
Berikan analgetik sesuai kebutuhan
& evaluasi keberhasilannya

Dx

2:

Gangguan

perubahan

penyakit.
Analgetik memblok lintasan nyeri,
sehingga mengurangi nyeri

eliminasi

urine

berhubungan

dengan

obstruksi/edema/proses peradangan pada saluran kemih.


Tujuan: Pasien dapat mempertahankan pola eliminasi urine / BAK secara adekuat
Kriteria Hasil:
Klien dapat berkemih / BAK secara lancar
Klien tidak kesulitan saat berkemih
Pola eliminasi membaik, tidak terjadi tanda-tanda gangguan berkemih
16

(seperti: disuria, piuria, & hematuria)


Intervensi
Awasi pemasukan dan pengeluaran

Rasional
Memberikan
dan

karakteristik urine

informasi tentang fungsi ginjal dan

Dorong peningkatan pemasukan

cairan
Awasi pemeriksaan laboratorium
(elektrolit, BUN, keratinin)

mengetahui

adanya komplikasi
Meningkatkan
hidrasi
membilas bakteri
Pengawasan terhadap

untuk
disfungsi

ginjal

Dx 3: Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan pada saluran kemih


Tujuan: Suhu tubuh normal (36,5-37,2 C)
Kriteria Hasil:

Pasien bebas dari demam


Pasien mengatakan tubuh tidak terasa panas
Mukosa uretra tidak memerah / edema
Suhu tubuh dan nadi normal
Ekspresi wajah tenang/tidak menyeringai
Intervensi
Rasional
Kaji timbulnya demam
Untuk mengidentifikasi pola demam
Observasi tanda-tanda vital (suhu,
nadi, tekanan darah, & pernafasan
Anjurkan pasien untuk banyak

pasien
Tanda vital merupakan acuan untuk
mengetahui kaeadaan umum pasien
Peningkatan
suhu
tubuh

minum

mengakibatkan

penguapan

tubuh

meningkat sehingga perlu diimbangi


Berikan kompres hangat

dengan asupan cairan yang banyak


Dengan
vasodilatasi
dapat
meningkatkan penguapan yang dapat
mempercepat penurunan suhu tubuh

Dx 4: Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan terhadap penyakit


Tujuan: pasien dapat merasa nyaman dan tidak takut
17

Kriteria Hasil:
Klien merasa nyaman
Klien megetahui tentang penyakitnya
Intervensi
Rasional
Kaji ulang proses penyakit dan Memberikan pengetahuan
harapan masa datang

dimana

Mendengar dengan aktif tentang


program

terapi/perubahan

pasien

dapat

dasar

membuat

pilihan berdasarkan informasi


Membantu pasian bekerja melalui

pola

perasaan dan meningkatkan rasa

hidup

kontrol terhadap apa yang terjadi

Dx 5 : Resiko infeksi berhubungan dengan penyebaran patogen secara sistemik


Tujuan : Tidak ada tanda tanda infeksi
Kriteria Hasil:
Urine berwarna orange jernih / normal
Urine tidak mengandung / bercampur darah dan nanah
Intervensi
Rasional
Tingkatkan kebersihan yang baik Menurunkan resiko
pada pasien, keluarga dan tenaga

kesehatan.
Awasi / pantau tanda-tanda vital

kontaminasi

silang
Demam dengan peningkatan nadi
dan

pernafasan

&

tanda

vital

merupakan acuan untuk mengetahui

Dorong peningkatan

cairan
Berikan perawatan parineal
Lakukan
tindakan

pemasukan

untuk

kaeadaan umum pasien


Meningkatkan
hidrasi

membilas bakteri
Dapat mencegah kontaminasi uretra
Asam
urine
menghalangi,
membunuh / mengurangi tumbuhnya

memelihara asam urine (Tingkatkan


masukan
berikan

sari

buah

obat-obat

berri

kuman, peningkatan masukan sari

dan
untuk

meningkatkan asam urine)


Berikan antibiotik sesuai kebutuhan

untuk

buah

dapat

berpegaruh

dalam

pengobatan infeksi.
Dapat
mencegah/mengurangi

18

kolonisasi

periuretra

agar

tidak

& evaluasi keberhasilannya

terjadi kekambuhan infeksi

.
BAB III
PENUTUPAN
3.1 Kesimpulan
Uretritis gonore ( gonorrheae ) merupakan penyakit hubungan seksual
yangdisebabkan oleh kuman Neiserria gonorrheae yang menyerang uretra pada lakilakidan endocervix pada wanita, paling sering ditemukan dan mempunyai insiden
yangcukup tinggi.
WHO memperkirakan bahwa tidak kurang dari 25 juta kasus baruditemukan
setiap tahun di seluruh dunia. Di Amerika Serikat diperkirakan dijumpai600.000
kasus baru setiap tahunnya. Neiserria gonorrheae merupakan kuman kokus gram
negatif, berukuran 0,6-1,5 m, berbentuk diplokokus seperti biji kopi dengan sisi
yang datar berhadaphadapan. Kuman ini tidak motil dan tidak membentuk spora
Masa tunas gonore sangat singkat, pada waktu masa tunas sulit
untuk ditentukan karena pada umumnya bersifat asimtomatis. Umumnya penyulit
akantimbul jika uretritis tidak cepat diobati atau mendapat pengobatan yang
kurangadekuat. Di samping penyulit, uretritis gonore pada umumnya bersifat
lokalsehingga penjalarannya sangat erat dengan susunan anatomi dan faal alat
kelamin.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaanlaboratorium.
Diagnosis pada laki-laki jauh lebih mudah daripada wanita, baik secara klinis maupun
laboratorium, karena pada wanita seringkali asimtomatis.Pada dasarnya pengobatan
uretritis baru diberikan setelah diagnosisditegakkan.

19

Antibiotik canggih dan mahal tanpa didasari diagnosis, dosis dan


cara pemakaian yang tepat tidak akan menjamin kesembuhan dan bahkan dapat
memberidampak berbahaya dalam penggunaannya, misalnya resistensi kuman
penyebab.
Pengobatan yang benar meliputi : pemilihan obat yang tepat serta dosis yang
adekuat untuk menghindari resistensikuman. Melakukan tindak lanjut secara teratur
sampai penyakitnya dinyatakansembuh. Sebelum penyakitnya benar-benar sembuh
dianjurkan untuk tidak melakukan hubungan seksual. Pasangan seksual harus
diperiksa dan diobati agar tidak terjadi fenomena ping pong.
3.2 Saran
Sebaiknya kita semua dapat mengenali tanda dan gejala penyakit uretritis ini
sehingga bila kita mengidap penyakit tersebut maka kita dapat langsung
mengkonsultasikannya dengan dokter agar dapat diberikan tindakan dengan segera
selain itu juga kita harus menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh agar terbebas dari
kuman serta kita harus waspada dalam melakukan hubungan seksual karena bila
salah satu pasangan kita terinfeksi kuman penyebab penyakit uretritis ini maka kita
juga bisa tertular hanya dengan melakukan hubungan seksual tersebut dan diharapkan
kepada perawat apabila merawat pasien dengan gangguan uretritis ini agar dapat
memberikan asuhan keperawatan yang benar dan tepat sesuai standar keperawatan
dan juga diharapkan agar dapat memberikan pendidikan kesehatan yang baik kepada
pasien agar kedepannya penyakit ini dapat dihindari atau dicegah.

20