Anda di halaman 1dari 30

OLEH :

DRS. H, PURWADI, APT,MM,ME


DIREKTUR BINA OBAT PUBLIK & PERBEKALAN KESEHATAN

DISAMPAIKAN PADA :
LOKAKARYA FASILITATOR NASIONAL
JAKARTA, 11 – 15 PEBRUARI 2008
1. Seluruh desa menjadi desa siaga
GRAND STRATEGI - SASARAN 2. Slrh Masy. Berperilaku Hidup Bersih dan
DEPARTEMEN KESEHATAN Sehat
3. Seluruh keluarga sadar gizi
4. Setiap Org miskin mendapat pelayanan
No Grand Strategi kesehatan yang bermutu
5. Setiap Bayi, anak, bumil dan kelompok
1 Menggerakan dan Memberdayakan masyarakat resiko tinggi terlindung dari
penyakit
Masyarakat Untuk Hidup Sehat
6. Di setiap desa tersedia SDM Kesehatan yang
kompeten
2 Meningkatkan Akses Masyarakat 7. Di setiap desa tersedia cukup obat esensial &
alkes dasar
terhadap Pelayanan Kesehatan yang
8. Puskesmas & jejaring dapat mengjangkau dan
berkualitas 17 dijangkau masy. di wilayah kerjanya
sasaran 9. Pelayanan kesehatan di setiap RS, Puskesmas
& jaringannya memenuhi standar mutu
3 Meningkatkan Sistem Surveilance 10. Setiap kejadian penyakit dilaporkan secara
Monitoring dan Informasi Kesehatan cepat dan tepat pd kades/lurah untuk
kemudian diteruskan ke instansi kes
terdekat
11. Setiap KLB dan wabah penyakit
4 Meningkatkan Pembiayaan Kesehatan tertanggulangi secara cepat & tepat
sehingga tidak menimbulkjan dampak
kesehatan masyarakat
12. Semua sediaan farmasi, makanan &
perbekalan kesehatan memenuhi syarat
13. Terkendalinya pencemaran lingkungan sesuai
dengan standar kesehatan
14. Berfungsinya Sistem Informasi Kes yang
evidence based diseluruh Indonesia
15. Pembangunan Kesehatan memperoleh
Prioritas Penganggaran Pemerintah Pusat dan
Daerah
16. Anggaran Kesehatan pemerintah diutamakan
untuk upaya Pencegahan dan Promosi
PROGRAM
OBAT DAN PERBEKALAN KESEHATAN
( RENSTRA DEPKES 2005-2009)

TUJUAN PROGRAM :

MENJAMIN KETERSEDIAAN, PEMERATAAN, MUTU,


KETERJANGKAUAN OBAT DAN PERBEKALAN KESEHATAN
TERMASUK OBAT TRADISIONAL, PERBEKALAN KESEHATAN
RUMAH TANGGA DAN KOSMETIKA

SASARAN PROGRAM :

1. KETERSEDIAAN OBAT ESENSIAL - GENERIK DI SARANA


PELAYANAN KESEHATAN = 95%
2. ANGGARAN OBAT ESENSIAL-GENERIK DI SEKTOR PUBLIK
SETARA DENGAN 2 USD /KAPITA/TAHUN
(KONAS)
KEBIJAKAN OBAT NASIONAL
(KONAS)

TUJUAN
MENJAMIN :
1. KETERSEDIAAN, PEMERATAAN DAN KETERJANGKAUAN OBAT
TERUTAMA OBAT ESSENTIAL
2. KEAMANAN, KHASIAT DAN MUTU SEMUA OBAT YANG BEREDAR
SERTA MELINDUNGI MASYARAKAT DARI PENGGUNAAN YANG
SALAH DAN PENYALAHGUNAAN OBAT
3. PENGGUNAAN OBAT YANG RASIONAL
KEBIJAKAN OBAT NASIONAL
(KONAS)

LANDASAN KEBIJAKAN :

1. OBAT HARUS DIPERLAKUKAN SEBAGAI SARANA YANKES

2. ASPEK EKONOMI DAN TEKNOLOGI OBAT HARUS SELARAS DENGAN ASPEK


SOSIAL DAN KESEHATAN

3. PEMERINTAH BERTANGGUNGJAWAB ATAS KETERSEDIAAN,


KETERJANGKAUAN DAN PEMERATAAN OBAT ESENSIAL

4. PEMERINTAH MELAKSANAKAN PEMBINAAN, PENGAWASAN DAN


PENGENDALIAN OBAT

5. PELAKU USAHA DI BIDANG OBAT BERTANGGUNG JAWAB ATAS MUTU


OBAT

6. MASYARAKAT BERHAK MENDAPATKAN INFORMASI OBAT YANG BENAR


KEBIJAKAN OBAT NASIONAL
(KONAS)

POKOK-POKOK & LANGKAH-LANGKAH


KEBIJAKAN :
A. PEMBIAYAAN OBAT
B. KETERSEDIAAN DAN PEMERATAAN OBAT
C. KETERJANGKAUAN OBAT
D. SELEKSI OBAT ESENSIAL SASARAN &
E. PENGGUNAAN OBAT YANG RASIONAL LANGKAH
KEBIJAKAN
F. PENGAWASAN OBAT
G. PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
H. PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
I. PEMANTAUAN DAN EVALUASI
A. PEMBIAYAAN OBAT
SASARAN :
MASYARAKAT, TERUTAMA YG TIDAK MAMPU DAPAT
MEMPEROLEH OBAT ESENSIAL SETIAP SAAT DIPERLUKAN

LANGKAH KEBIJAKAN :
1. PENETAPAN TARGET PEMBIAYAAN OBAT SEKTOR PUBLIK
SECARA NASIONAL

2. MENGEMBANGKAN MEKANISME PEMANTAUAN PEMBIAYAAN


OBAT SEKTOR PUBLIK DI DAERAH

3. PEMERINTAH MENYEDIAKAN ANGGARAN OBAT UTK PROGRAM


KESEHATAN NASIONAL
A. PEMBIAYAAN OBAT
Lanjutan-1

LANGKAH KEBIJAKAN :
4. PEMERINTAH MENYEDIAKAN DANA BUFFER STOCK
NASIONAL UTK KEPENTINGAN PENANGGULANGAN BENCANA
& MEMENUHI KEKURANGAN OBAT DI KABUPATEN/KOTA

5. PEMERINTAH DAERAH MENYEDIAKAN ANGGARAN OBAT


CUKUP YG DIALOKASIKAN DARI DAU

6. SKEMA JPKM & SISTEM JAMINAN PEMELIHARAAN KES


LAINNYA HARUS MENYELENGGARAKAN PELAYANAN
KESEHATAN PARIPURNA
A. PEMBIAYAAN OBAT

Lanjutan-2

LANGKAH KEBIJAKAN :
7. RETRIBUSI YG MUNGKIN DIKENAKAN KPD PASIEN DI
PUSKESMAS, MERUPAKAN ALAT “SERTA BAYAR” & TDK
DITUJUKAN SBG SUMBER PENDAPATAN

8. UTK MENGHADAPI KEADAAN DARURAT, PEMERINTAH DAPAT


MENERIMA BANTUAN DARI DONOR YANG SIFATNYA HANYA
SEBAGAI PELENGKAP. MEKANISME PENERIMAAN OBAT
BANTUAN HARUS MENGIKUTI KAIDAH INTERNASIONAL
MAUPUN KETENTUAN DALAM NEGERI
B. KETERSEDIAAN & PEMERATAAN OBAT

SASARAN :
OBAT YG DIBUTUHKAN UNTUK PELAYANAN KESEHATAN,
TERUTAMA OBAT ESENSIAL SENANTIASA TERSEDIA DI SELURUH
WILAYAH INDONESIA

LANGKAH KEBIJAKAN :
1. MEMBERIKAN INSENTIF UTK PRODUKSI OBAT JADI & BAHAN
BAKU DLM NEGERI TANPA MENYIMPANG DARI & DGN
MEMANFAATKAN PELUANG YANG ADA DLM PERJANJIAN WTO

2. MENUNJANG EKSPOR OBAT MENCAPAI SKALA PRODUKSI YG


LEBIH EKONOMIS - MENUNJANG PERKEMBANGAN EKONOMI
NASIONAL
B. KETERSEDIAAN & PEMERATAAN OBAT
Lanjutan-1

LANGKAH KEBIJAKAN :

3. MENDORONG KERJASAMA REGIONAL DLM RANGKA


PERDAGANGAN OBAT INTERNASIONAL UTK PENGEMBANGAN
PRODUKSI DALAM NEGERI

4. MENUNJANG PENGEMBANGAN & PRODUKSI FITOFARMAKA DARI


SUMBER DAYA ALAM SESUAI DGN KRITERIA KHASIAT &
KEAMANAN OBAT

5. PENINGKATAN EFEKTIVITAS & EFISIENSI DISTRIBUSI OBAT


MELALUI REGULASI YG TEPAT

6. MENDORONG PELAYANAN KEFARMASIAN MELALUI


PENINGKATAN PROFESIONALISME TENAGA FARMASI
B. KETERSEDIAAN & PEMERATAAN OBAT
Lanjutan-2

LANGKAH KEBIJAKAN :
7. PEMBERIAN INSENTIF UTK PELAYANAN OBAT DI DAERAH
TERPENCIL

8. PENINGKATAN PERAN SERTA PELAYANAN OBAT TERUTAMA DI


DAERAH TERPENCIL UTK PENYEBARAN OBAT BEBAS SECARA
BAIK

9. PEMERINTAH MENGEMBANGKAN MEKANISME PEMANTAUAN


KETERSEDIAAN OBAT ESENSIAL & MENGAMBIL LANGKAH-
LANGKAH PENYEDIAANNYA

10. KETERSEDIAAN OBAT SEKTOR PUBLIK

11. KETERSEDIAAN OBAT DALAM KEADAAN DARURAT


C. KETERJANGKAUAN OBAT

SASARAN :
HARGA OBAT TERUTAMA OBAT ESENSIAL TERJANGKAU
OLEH MASYARAKAT

LANGKAH KEBIJAKAN :
1. PENINGKATAN PENERAPAN KONSEP OBAT ESENSIAL &
PROGRAM OBAT GENERIK

2. PEMERINTAH MELAKSANAKAN EVALUASI HARGA SECARA


PERIODIK DENGAN MEMBANDINGKAN HARGA ACUAN
INT’L DGN MENGIKUTI METODA STANDAR INT’L TERKINI
C. KETERJANGKAUAN OBAT
Lanjutan-1

LANGKAH KEBIJAKAN :

3. MEMANFAATKAN PENDEKATAN FARMAKOEKONOMIK DI UPK


UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI

4. PENGENDALIAN HARGA JUAL PABRIK

5. MENGEMBANGKAN SISTEM INFORMASI HARGA OBAT BAGI


MASYARAKAT

6. MENGEMBANGKAN SISTEM PENGADAAN OBAT SEKTOR


PUBLIK DENGAN MENERAPKAN PRINSIP PENGADAAN DLM
JUMLAH BESAR / PENGADAAN BERSAMA
C. KETERJANGKAUAN OBAT
Lanjutan-2

LANGKAH KEBIJAKAN :

7. PENGHAPUSAN PAJAK DAN BEA MASUK UNTUK OBAT


ESENSIAL

8. MELAKUKAN KEBIJAKAN PENGATURAN HARGA OBAT UNTUK


MENJAMIN KETERJANGKAUAN HARGA OBAT
PERKEMBANGAN ALOKASI DANA OBAT - APBN DEPKES
TAHUN 2005, 2006, 2007 DAN (rencana) 2008

2005 2006 2007 2008


ALOKASI (dalam 285 503 632 1,006
Milyar Rupiah)
PER KAPITA 1,358 2,397 2,872 4,574
(dalam Rupiah)
PENGADAAN OBAT SEKTOR PEMERINTAH

 DEPKES (OBAT BUFFER PUSAT/PROPINSI/KAB/KOTA,


OBAT PROGRAM, OBAT BENCANA.KLB)
 DINAS KESEHATAN PROVINSI

 DINAS KESEHATAN KABUPATEN/KOTA

 PENGADAAN DI RUMAH SAKIT UNTUK PELAYANAN


ASKESKIN
MANFAAT
PERENCANAAN OBAT TERPADU :
1. Menghindari tumpang tindih
2. Keterpaduan evaluasi
3. Kesamaan persepsi
4. Estimasi
5. Koordinasi
6. Pemanfaatan dana
TIM PERENCANAAN OBAT TERPADU
(TPOT)

Ketua : Kadinkes Kab/Kota


Sekretaris : Unsur Farmasi Dinkes
Anggota
 Unsur Sekretariat Daerah Kab/Kota
 Unsur Bappeda Kab/Kota
 Unsur Dinkes Kab/Kota
 Unsur RSUD Kab/Kota
 Organisasi Profesi
 PT. Askes
 Ka Puskesmas (terpilih)
KEGIATAN TPOT :
 MENGEVALUASI SEMUA ASPEK
 RENCANA KEBUTUHAN OBAT DIDASARKAN
HASIL ESTIMASI
 RENCANA KEBUTUHAN DIBAHAS PADA RAPAT
TIM
 DISEPAKATINYA JENIS DAN JUMLAH
BEBERAPA HAL YANG HARUS MENDAPAT PERHATIAN :

 PERENCANAAN : Aktifkan kembali Tim POT


 PENGADAAN :
- Harus ada Komitmen Pemda untuk
mengalokasikan dana obat perkapita sesuai
dengan rekomendasi WHO
- Obat diberlakukan sebagai komoditi khusus
dalam proses pengadaan
- Gunakan Daftar Obat PKD dan harga Generik
yang diterbitkan oleh Depkes
 PENGELOLAAN OBAT DI KAB/KOTA :
- Fungsikan Instalasi Farmasi Kab/Kota
- Lengkapi dengan tenaga professional (Apoteker) &
tenaga teknis farmasi (AA/Ahli Madya Farmasi) untuk
mengelola obat (termasuk di Puskesmas)
- sarana dan prasarana penyimpanan dilengkapi untuk
menjaga/menjamin mutu/kualitas obat
- sarana distribusi dipeuhi untuk menjamin ketersediaan obat
di sarana pelayanan secara tepat jenis, tepat jumlah dan tepat
waktu
- tersedia dana operasional IFK
Kegiatan
 Perencanaan dilakukan secara bottom up sesuai
dengan kemampuan untuk merencanakan di
masing-masing Kabupaten/Kota
 Dilaksanakan oleh Tim Perencanaan Obat
Terpadu
 Pengadaan Obat Buffer Stok Nasional
 Pengadaan Buffer Stok Propinsi
 Pengadaan Obat PKD oleh Kabupaten/Kota
 Pengelolaan Obat dilaksanakan dengan system
satu pintu
 Pendistribusian:
Pengambilan/Pengiriman
• Sasaran : Puskesmas, Pustu dan
Poskesdes
• Periode disesuaikan dengan kondisi.

 Pencatatan Pelaporan :
• LPLPO : UPK, Sub UPK
• Periode pelaporan : sebulan sekali
 Penggunaan :
• Sasaran : Umum, Askes, Gakin
• Prinsip : Rasional

Pemberdayaan Sumber Daya Manusia


A. Di Pusat :
 TOT bagi Petugas Propinsi

 Pelatihan bagi petugas pengelola obat Kab-Kota

bentukan baru
 Supervisi-Monitoring, Rakon dsb.
B. Di Propinsi :
 Pertemuan – Konsultasi, Refreshing

pengelolaan obat bagi petugas Kab-kota


 Supervisi-Monitoring Pengelolaan obat

C. Di Kab-Kota
 Pertemuan – Konsultasi, Bimtek/Refreshing

pengelolaan obat bagi petugas Puskesmas


 Supervisi- Monitoring Penggunaan
 Penyimpanan dilakukan di Instalasi
Farmasi Kabupaten/Kota

 Pembiayaan :
• Di Pusat : Buffer Stok Nasional,
Program, Buffer Stok Kab/Kota
• Di Propinsi/Kab-Kota : APBD(DAU),
Askes, Buffer Stok Propinsi,
Transmigrasi dll.