Anda di halaman 1dari 124

Apresiasi Inovasi

E.1.

PENDAHULUAN

ntuk memperoleh data dan informasi komprehensif yang mempunyai keterkaitan


dengan institusi lain dalam menangani permasalahan, perlu dilakukan kegiatan

studi literatur berdasarkan buku-buku yang sudah dirilis secara resmi oleh pihak
berwenang.

Dalam pekerjaan ini studi literatur dilakukan dengan membaca dan

mempelajari melalui; buku laporan, text-book, gambar desain, jurnal, proceeding


hasil seminar dan lain sebagainya. Dengan kegiatan studi literatur ini telah banyak
diperoleh informasi yang sangat berharga dalam melaksanakan pekerjaan ini.
Informasi mengenai pantai, permasalahannya dan berbagai jenis bangunan
pengaman pantai yang diperoleh, telah banyak memberikan improvisasi didalam
menentukan pengamanan pantai yang lebih efektif, tepat, ekonomis, dan sesuai
dengan kondisi setempat dengan mengajukan beberapa alternatif pengamanan.
Banyaknya informasi yang didapat akan membawa kita untuk berfikir yang realistis
dalam melaksanakan pekerjaan sehingga langkah-langkah dan skenario yang
diterapkan benar-benar berbasis kepada alur fikir yang rasional, jelas dan terarah.

E.2.

BANJIR

Permasalahan banjir kelihatan sepele tetapi menjengkelkan, banyak pihak tidak bisa
memungkiri hal ini. Mulai dari masyarakat pengguna perumahan, jalan, industri &
real estate, pertanian bahkan pemerintah merasakan hal tersebut.
Saat ini, setelah terjadi bencana banjir di hampir seluruh wilayah negeri, mulailah
manusianya sadar akan pentingnya mencegah banjir secara lebih dini. Kesadaran
tersebut terlihat dari mulai dilakukannya sosialisasi dan penyuluhan tentang
menjaga kelestarian DAS (Daerah Aliran Sungai) serta pelaksanaan program
penghijauan di gunung-gunung yang gundul. Walaupun dalam prakteknya hal ini
tidak semudah mengucapkannya, kawasan hutan kita masih dijarah disana-sini.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E-1

Apresiasi Inovasi
Untuk perhatian bahwa Saat kita menyadari bahwa DAS kitas sudah rusak,
maka hampir tidak mungkin untuk menata kembali seperti semula,
meskipun disediakan dana yang besar, itupun memerlukan waktu yang
tidak sebentar.

Gambar E. 1 Penanganan Terpadu Banjir Kawasan Daerah.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E-2

Apresiasi Inovasi
Gambar E. 2 Klasifikasi usaha struktural dan non struktural dalam
manajemen dataran banjir.

E.2.1 Permasalahan Drainase Perkotaan


Banjir merupakan kata yang sangat populer di Indonesia, khususnya pada
musim hujan, mengingat hampir semua kota di Indonesia menglamai
bencana banjir. Peristiwa ini hampir setiap tahun berulang, namun
permasalahan ini sampai saat ini belum terselesaikan, bahkan cenderung
makin meningkat, baik frekuensinya, luasannya, kedalamnnya, maupun
durasinya.
Permasalahan banjir perkotaan diakibatkan :
-

Pertambahan penduduk yang sangat cepat.


Urbanisasi.
Pemanfaatan lahan yang tidak tertib.
Belum konsistennya pelaksanaan hukum.
Pembangunan yang tidak melibatkan masyarakat secara aktif.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E-3

Apresiasi Inovasi
Gambar E. 3 Pengaruh urbanisasi pada daerah tangkapan air terhadap laju
limpasan.

Gambar E. 4 Proses pembangunan infrastruktur yang kurang melibatkan


masyarakat.

Gambar E. 5 Proses pembangunan yang melibatkan masyarakat sejak


awal, sehingga hasilnya diterima oleh masyarakat.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E-4

Apresiasi Inovasi

Gambar E. 6 Siklus dan tahapan pembangunan yang lengkap.

E.2.2 Penyebab Banjir dan Konsep Penanggulangannya


E.2.2.1

Lokasi Hilir dan Muara

Sungai bermuara ke laut, yang umumnya terletak pada kawasan pantai


yang datar, dan rawan banjir. Banyaknya hambatan yang dialami oleh
aliran sungai, merupakan pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah dalam
era otonomi yang baru dibentuk.
-

Gelombang pasut (pasang/surut) air laut : membentuk semacam


tembok penghalang di muara sungai, sehingga terjadilah back water.
Selama ini, aliran sungai dimuara harus dilindungi dengan tanggul,
supaya air tidak tumpah ruah, dan menimbulkan banjir.
Kota besar biasanya berkembang pada muara sungai, dan bangunan
yang tumbuh disepanjang sungai mengganggu aliran sungai. Sampah
dari warga kota, dibuang kedalam sungai sehingga mengurangi
kapasitas sungai tersebut.
Endapan banyak terjadi pada muara sungai, sehingga kapasitas aliran
berkurang drastis. Belum lagi, bentuk sungai dikawasan pantai yang
berkelok-kelok, ikut menyulitkan aliran, sehingga banyak menimbulkan
banjir.
Kawasan hilir sungai banyak bendung, karena lokasi ini sangat strategis
untuk mencetak sawah yang luas, mengingat topographi daerah yang
relatif datar. Aliran sungai harus berkompromi dengan bendung
tersebut, khususnya pada saat sungai tersebut banjir.

Masih ada setumpuk hambatan aliran lagi, yang harus disikapi dengan arif
dan diperlukan biaya yang tidak sedikit untuk mengatasinya.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E-5

Apresiasi Inovasi

E.2.2.2

Sistem Konstruksi Penahan Pasang Surut Air Laut

Cara konvesional ini masih banyak dipakai, dimana-mana :


-

Dengan memasang pintu air dimuara sungai, yang dibantu oleh Kolam
Tandon.
Yang lebih murah adalah membangun tanggul tanah sepanjang kiri dan
kanan muara sungai, agar back-water pada waktu laut pasang tidak
tumpah ruah ke daratan dan menyebabkan banjir.

E.2.2.2.1 Pintu air pasang dan kolam tandon


Air laut yang sedang pasang, sangat mengurangi kapasitas muara sungai.
Pintu air dimaksudkan untuk menyekat air laut yang sedang pasang.
Sementara itu, air banjir disimpan didalam Kolam Tandon. Sebaliknya,
setelah air laut surut, maka pintu air dibuka, sehingga aliran sungai
berlangsung ke laut dengan lancar (lihat Gambar E.7).
Oleh karena mahal harganya, maka pintu air dibuat sempit, asal cukup
memadai. Sedangkan dasar pintu diberi konstruksi penahan endapan
lumpur, pasir, dan lain-lain dari muara, agar tidak memasuki sungai (lihat
Gambar E.8.).

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E-6

Apresiasi Inovasi

Gambar E. 7 Denah Kolam Tandon di Muara Sungai.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E-7

Apresiasi Inovasi
Gambar E. 8 Pintu Pasang Air Laut Beraliran Sub-kritikal.
Aliran Sub-Kritikal, berarti garis tinggi kritis dibawah muka air normal,
sehingga tidak terjadi perpotongan antara muka air dengan garis tinggi
kritis. Berarti disini tidak terjadi Loncat air.

Gambar E. 9 Pintu Pasang Air Laut Beraliran Super-Kritikal.

Desain

yang

ekonomis

adalah

dengan

mematok

MSL

(Mean

Sea

Level/Ketinggian Muka Air Laut Rata-rata) sebagai tail water pintu air
pasang. Jadi, pintu akan ditutup pada saat elevasi muka air laut diasat
MSL, dan sebaliknya pintu dibuka pada saat elevasi muka air laut dibawah
MSL (lihat Gambar E.10).

Gambar E. 10 Elevasi Desain Pintu Air Pasang.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E-8

Apresiasi Inovasi
E.2.2.2.2 Tanggul Sepanjang Muara Sungai
Cara lain untuk menangkal tingginya pasang air laut adalah dengan
membuat tanggul tanah sepanjang muara sungai. Pemasangan tanggul
tanah harus ada batasnya, karena tanggul yang terlalu tinggi bisa
menyulitkan prasarana lain disekitar muara sungai tersebut.

E.2.2.2.3 Sistem Drainase Sekitar Tanggul Jadi Terganggu


Aliran dari kota atau desa disekitar muara sungai hanya bisa membuang air
hujan kedalam sungai yang sudah di tanggul, apabila muka air sungai
tersebut cukup rendah elevasinya. Tetapi, apabila muka air back water
terlalu tinggi, drainase terganggu total, seperti Gambar E.11.
Supaya aliran sungai besar jangan berbalik merambah kedalam drainase
kota dan desa, maka dibadan tanggul harus dipasang pintu katup, yang
bentuknya terlihat pada Gambar E.12.

Gambar E. 11 Pada Saat Banjir, Aliran Drainase Kedalam Tanggul Terhenti.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E-9

Apresiasi Inovasi

Gambar E. 12 Pintu Katup Sederhana dan Pintu Katup Apung.

E.2.2.3

Back Water di Hulu Bendungan

Pada kawasan hilir sungai banyak dijumpai bendungan yang berfungsi


menaikkan permukaan air dimusim kemarau, agar dapat ditumpahkan
kedalam sawah petani. Karena topographi, kawasan hilir relatif datar, maka
luasan sawah yang dapat dicetak sangatlah luas. Tetapi sebaliknya, pada
musim

banjir,

keberadaan

bendung

ini

tidak

dikehendaki,

karena

menimbilkan back water dan banjir disebelah hulu bendungan.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 10

Apresiasi Inovasi
Gambar E. 13 Back Water di Hulu Bendungan.
Perencanaan Irigasi kawasan hilir, sebaiknya dilaksanakan secara terpadu
dengan Perencanaan Drainase Kawasan Daerah. Belakangan ini sudah
banyak dipakai bendung gerak, seperti pintu air radial atau Bendung
karet.

E.2.2.4

Aliran Berkelok-kelok di Kawasan Muara

Sungai yang berkelok-kelok dibagian muara perlu diperhatikan dalam


perencanaannya. Pada aliran berkelok ini terjadi super elevasi, yaitu
kenaikan muka air disisi luar belokan dan penurunan muka air disisi
dalamnya. Hal ini perlu diperhatikan terutama bila disekitar sungai sudah
dibangun pemukiman.

E.2.2.5

Penyempitan Alur Sungai

Penyempitan alur sungai dikenal dengan istilah Bottle Neck yang


berupa penyempitan lebar sungai sebagai akibat dari formasi tebing sungai
yang tersusun dari batuan yang keras sehingga aliran yang ada tidak
mampu menciptakan lebar yang semestinya. Penyempitan ini juga bisa
disebabkan oleh ulah manusia.

E.2.2.6

Penyempitan Sungai dibawah Jembatan serta Pier

Penyempitan sungai dibawah jembatan ini bersifat sementara yaitu hanya


dibawah jembatan saja. Meskipun demikian akibat yang ditimbulkan dapat
menyebabkan banjir dibagian hulu sungi karena terjadi efek Back
Water.

E.2.2.7

Hambatan Aliran Sungai Karena Dorongan Arus Masuk


dari Samping

Didalam perjalannya ke laut, aliran sungai menerima arus masuk dari


samping kiri dan kanan. Arus tersebut bisa berupa anak sungai, atau
buangan kelebihan air dari sawah. Kalau sungai tersebut melewati kota
besar, arus masuk tersebut berupa air buangan domestik berasal dari
rumah penduduk kota tersebut, sebelum dibuang kedalam sungai.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 11

Apresiasi Inovasi
Tergantung pada konstruksi in-let dari arus masuk kedalam sungai
tersebut, maka sungai akan mengalami hambatan yang menyebabkan
kehilangan tinggi tekan sungai, dan dapat memicu terjadinya banjir pada
bagian hulu dari sungai tersebut. (lihat Gambar E.14.).

Gambar E. 14 Bangunan Inlet Arus Masuk Kedalam Sungai yang Kurang


Tepat.
Pada prinsipnya, aliran sungai jangan ditubruk secara frontal. Tertera pada
Gambar E.14, empat kasus yang salah dari konstruksi inlet kedalam
sungai :
(A) Pada tikungan sungai, kecepatan besar berada pada belokan luar. Oleh
karena itu, pada bagian ini jangan dimasuki arus, yang dapat menyebabkan
pusaran air karena belokan dalam, karena pada bagian ini, kecepatan arus
kecil. Dengan demikian kita dapat membantu, agar endapan yang
cenderung terjadi pada belokan dalam ini, bisa dikurangi semaksimal
mungkin.
(B) Sudut yang dibuat antara arus masuk dan sungai jangan terlalu tumpul dan
besar, sehingga memicu terjadinya pusaran air karena tumbukan secara
frontal.
(C) Setelah menerobos Abutment Jembatan, aliran sungai mengalami ekspansi.
Pada bagian hilir abutment ini jangan dimasuki arus, karena dapat
menganggu proses ekspansi aliran sungai, dan menimbulkan pusaran
karena tumbukan frontal.
(D) Pada saat aliran sungai mengalami kontraksi, serat aliran cenderung
berdasak-desakan untuk menuju bagian sungai yang menyempit. Pada
bagian ini jangan dimasuki oleh arus dari luar, karena tumbukan yang
terjadi dapat menyebabkan pusaran air yang serius.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 12

Apresiasi Inovasi

E.2.2.8

Hambatan Aliran Sungai Pada Gorong-Gorong

Oleh karena pertimbangan konstruktip dan ekonomis, perlintasan sungai


dengan jalan raya atau jalan kereta api berupa gorong-gorong. Tentu saja
perlintasan semacam inimemberikan hambatan tersendiri yang dapat
memicu banjir dibagian hulu sungai, apabila tidak diperhitungkan secara
cermat.
Mengingat posisi muka air disebelah hulu gorong-gorong tersebut, maka
dapat dibedakan dua macam jenis pengaliran sungai, seperti terlihat pada
Gambar E.15.

Gambar E. 15 Jenis Pengaliran Sungai Menerobos Gorong-Gorong.

E.2.2.9

Perubahan Fungsi Saluran dari Irigasi menjadi Drainase

Pertambahan penduduk perkotaan yang sangat pesat, membutuhkan lahan


yang

lebih

luas.

Akibatnya,

banyak

sawah

diurug

untuk

kawasan

pertumbuhan baru. Saluran irigasi yang ada dipaksa menjadi saluran


drainase untuk kawasan perumahan baru tersebut. Terjadilah salah fungsi
yang fatal, dan menyebabkan banjir. Tabel E.1 menjelaskan perbedaan
fungsi yang sangat bertolak belakang antara saluran irigasi dengan saluran
drainase. Sedang Gambar E.16 dan E.17 melukiskan kronologis sebelum
dan sesudah sawah diurug.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 13

Apresiasi Inovasi
Tabel E. 1 Perbedaan fungsi saluran irigasi dengan drainase.

Gambar E. 16 Ilustrasi saluran irigasi dan drainase.

Gambar E. 17 Sawah diurug untuk perumahan.


Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 14

Apresiasi Inovasi
Pilihan muara drainase yang salah, bisa menyebabkan banjir !
Mengurug sawah untuk lahan perumahan baru, harus diikuti dengan
pemilihan muara drainase yang benar Bermuara kedalam Saluran Irigasi,
jelas pilihan yang salah, dan menyebabkan banjir, seperti terlihat pada
Gambar E.17.
Kesalahan pemilihan muara drainase bisa terjadi pada banyak kasus
lainnya. Dibawah ini diuraikan beberapa kiat untuk memilih muara
drainase yang benar:
-

Pilih muara drainase sejauh mungkin ke hilir sungai (Gambar E.18).


Sesuai dengan muka air banjir. Bermuara pada hilir sungai dengan peil banjir
yang rendah banyak memberikan manfaat terhadap sistem drainase perumahan
yang kita rencanakan :
1)
Muka air saluran primer lebih curam, dimensi saluran lebih kecil, effek
back water tidak begitu berpengaruh.
2)
Urugan tanah untuk lahan perumahan yang dibangun bisa lebih hemat,
yaitu dengan peil banjir yang lebih rendah, tentunya.
Pilih Muara Drainase disebelah hilir bendung irigasi (lihat Gambar E.19).
Tentunya saja disebelah hilir Bendung Irigasi Peil Banjir jauh lebih rendah,
dibanding sebelah hulunya, karena terpengaruh effek pembendungan (back
water).

Gambar E. 18 Pilih muara sejauh mungkin ke hilir sungai.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 15

Apresiasi Inovasi

Gambar E. 19 Pilih muara dihilir bendung bendung irigasi.


-

Kalau ada Tandon Banjir didekat anda, mintalah izin untuk bermuara
kedalam tandon tersebut, jangan bermuara langsung ke laut, atau sungai
besar.
Pada Gambar E.20 diperlihatkan muara drainase yang benar kedalam
Tandon Banjir.
Kebutuhan anda akan Peil Banjir yang rendah didalam Tandon akan
terpenuhi, karena Tandon memiliki Pintu Air dan Pompa yang dioperasikan
untuk mendapatkan Peil Banjir yang rendah elevasinya.
Boleh saja, anda bermuara langsung ke laut atau sungai besar, tetapi
mungkin, anda harus menyediakan pintu air dan pompa sendiri, agar muara
drainase memperoleh Peil Banjir yang rendah elevasinya. Jelas, lebih mahal
bukan !

Kalau ada pilihan kedalam dua buah sungai, maka pilihan yang paling
rendah elevasi peil banjirnya. Hal ini diperlihatkan pada Gambar E.21.
Masih banyak kasus kesalahan pemilihan muara drainase yang mungkin
belum tercakup pada uraian diatas. Pada prinsipnya pilihan diarahkan pada
Peil

Banjir

Rendah.

Tentu

anda

ingin

menanyakan,

bagaimana

mengetahui besarnya elevasi Peil Banjir sebuah sungai, tandon, dan lainlain. Cara paling mudah adalah menghubungi Departemen Pekerjaan
Umum di Jakarta, atau Dinas Pekerjaan Umum di daerah. Karena mereka
telah banyak melakukan studi yang antara lain untuk menghitung Peil
Banjir dari wilayah drainase mereka. Sekaligus, anda dapat memperoleh

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 16

Apresiasi Inovasi
Masterplan Drainase, sehingga perencanaan anda tinggal mengacu pada
studi ini.
Khusus untuk Kota Jakarta , ada Dinas Pekerjaan Umum DKI, Subdin Tata
Air di Jatibaru Jakarta. Dinas ini memiliki Kopro Banjir Jakarta, sehingga
banyak studi, Masterplan Drainase Kota Jakarta yang telah dihasilkan.
Mungkin anda dapat memperoleh mengenai Peil Banjir, dari instansi ini.

Gambar E. 20 Pilih muara dihilir bendung bendung irigasi.

Gambar E. 21 Bermuara kesungai yang rendah peil banjirnya.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 17

Khusus

untuk

anda

yang

bergerak

dalam

Apresiasi Inovasi
pengadaan perumahan

(Developer Real Estate) di Jakarta, ada kewajiban untuk mengurus IMP


(Izin Membangun Prasarana) yang dikeluarkan oleh DPU-DKI. Persyaratan
teknis yang harus anda lengkapi :
-

Gambar Rencana Site Plan yang sudah disahkan oleh Dinas Tata Kota.
Hasil Survey Topografi yang sudah disahkan oleh Subdin Survei DPU-DKI,
yang memuat peil ekisting, berupa elevasi yang terkait pada sistem Kopro
Banjir DKI.
Gambar rencana sistem drainase dan prasarana lain, lengkap dengan pilihan
lokasi pembuangan akhir (muara drainase).

Selanjutnya anda akan mendapatkan informasi dan pengarahan mengenai


Peil Banjir dan ke sungai mana anda harus bermuara. Dengan demikian
bangunan perumahan yang akan anda bangun tidak mengalami banjir, dan
ikut mencegah permasalahan banjir di Jakarta. Pada akhirnya, bangunan
ini, toh akan diserah terimakan kepada Pemda DKI, sehingga sedari awal
Pemda hendak mengarahkan dan mengurangi kemungkinan kesalahan peil
banjir dan kesalahan sistem drainase yang dibuat.

E.2.3 Prasarana dan Sarana(Infrastruktur)


Prasarana dan sarana atau infrastruktur diartikan sebagai fasilitas fisik
suatu kota atau negara yang seringg disebut pekerjaan umum (Grigg,
1988). Pekerjaan umum (public works) telah didefinisikan oleh American
Public Works Assocation (APWA) sebagai berikut (Stone, 1974).
Public works area the physical structures and facilities that area developed
or acquired by the public agenices to house governmental functions and
provide water, power, water disposal, transportation, and similar sevices to
facilitate the achievemnet of common social and economic objective.
Definisi yang lain diberikan oleh AGCA (Associated General Contractors of
American), untuk semua aset yang berumur panjang yang dimiliki oleh
pemerintah daerah, maupun pusat dan utilias yang dimiliki oleh pengusaha
(Kwiatkowski, 1986).

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 18

Apresiasi Inovasi
The nations infrastrukture is its system of public facilities, both publicly
or privately funded, which provide for the delivery of essential services and
a sustained standard of living. This interdependent, yet self-contained, set
of structures provides for mobility, shelter, services, and utilities. It is the
nationss highaways, bridges, railroads, and mass transit systems. It is our
sewers, sewage, sewage teratment plants, water supply systems, and
reservoirs. It is our dams, locks, waterways, and ports. It is our electric,
gas, and power producing plants. It is our court houses, jails, fire houses,
police stations, schools, post offices, and government buildings. Americas
infrastructures is the base upon which society rests. It is condition affects
our life styles and security and each is threatened by its un answered
decay (AGCA, 1982).
Departemen

Permukiman

dan

Prasarana

Wilayah

(Depkimpraswil)

mendefinisikan prasarana dan sarana sebagai berikut (CBUIM, 2002) :


Prasarana dan sarana merupakan bangunan dasar yang sangat diperlukan
untuk mendukung kehidupan manusia yang hidup bersama-sama dalam
suatu ruang yang terbatas agar manusia dapat bermukim dengan nyaman
dan dapt bergerak dengan mudah dalam segala waktu dan cuaca, sehingga
dapat hidup dengan sehat dan dapat berinteraksi satu dengan lainnya
dalam mempertahankan kehidupannya.
Secara lebih lugas dapat dikatakan bahwa infrastruktur (perkotaan) adalah
bangunan atau fasilitas-fasilitas dasar, peralatan-peralatan, dan instalasiinstalasi yang dibangun dan dibutuhkan untuk mendukung berfungsinya
suatu sistem tatanan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. Infrastruktur
merupakan aset fisik yang dirancang dalam sistem, sehingga mampu
memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Sebagai suatu sistem,
komponen infrastruktur pada dasarnya sangat luas dan banyak, namun
secara

umum

terdiri

dari

12

komponen

sesuai

dengan

sifat

dan

karakternya, yaitu :
1) Sistem air bersih, termasuk bendungan, waduk, transmisi, instalasi
pengolah air, dan fasilitas distribusinya.
2) Sistem manajemen air limbah, termasuk pengumpulan, pengolah,
pembuangan (disposal), dan sistem pakai ulang (reuse).
3) Fasilitas manajemen limbah padat atau persampahan.
4) Fasilitas transportasi, termasuk jalan raya, rel kereta api, dan lapangan
terbang.
Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 19

Apresiasi Inovasi
5) Sistem transt publik.
6) Sistem kelistrikan, termasuk produksi dan distribusinya.
7) Bangunan umu, seperti pasar, sekolahan, rumah sakit, kantor polisi dan
fasilitas pemadam kebakaran.
8) Fasilitas perumahan.
9) Taman, tempat bermain, fasilitas rekreasi, dan stadion.
10)Fasilitas perumahan.
11)Taman, tempat bermain, fasilitas rekreasi, dan stadion.
12)Fasilitas telekomunikasi.

Dari keduabelas komponen tersebut, dapat dikelompokkan ke dalam 7


(tujuh) grup infrastruktur, yaitu :
1) Kelompok air; meliputi air bersih, sanitasi, drainase, dan pengendalian
banjir.
2) Kelompok jalan; meliputi jalan raya, jalan kota, dan jembatan.
3) Kelompok sarana transportasi; meliputi terminal, jaringan rel dan
stasiun kereta api, pelabuhan, dan pelabuhan udara.
4) Kelompok pengelolaan limbah; meliputi sistem manajemen limbah
padat (persampahan).
5) Kelompok bangunan kota, pasar dan sarana olah raga terbuka (outdoor
sports).
6) Kelompok energi; meliputi produksi dan distribusi listrik dan gas .
7) Kelompok telekomunikasi.

Sebagai

suatu

perencanaan

sistem

yang

infrastruktur

keterpengaruhan

antar

terdiri

harus

dari

banyak

komponen,

mempertimbangkan

komponen,

beserta

keterkaitan

maka
dan

dampak-dampaknya.

Perencanaan infrastruktur merupakan proses dengan kompleksitas tinggi,


multi disiplin, multi sektor, dan multi user. Oleh karena itu, perencanaan
infrastruktur tidak bisa sektoral, namun juga tidak bisa terlalu global. Jika
perencanaan

terlalu

spesifik

(besifat

sektoral)

tanpa

mempedulikan

komponen lain, maka akan banyak bertabrakan dengan komponen lainnya.


Sebaliknya jika terlalu global, hasilnya tidak akan efektif (Grigg, 1988).
Perencanaan yang (mungkin) paling baik adalah yang berada diantaranya,
yaitu perencanaan yang didasarkan pada pendekatan permasalahan secara
global pada tingkatan yang tepat dengan mempertimbangkan secara
matang segala dampak eksternalnya, namun masih berkonsentrasi secara
spesifik pada persoalan utama yang ingin dipecahkan.

E.2.4 Infrastruktur Air Perkotaan

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 20

Apresiasi Inovasi
Infrastruktur air perkotaan meliputi tiga sistem, yaitu sistem air bersih
(urban water supply), sistem sanitasi (waste water), dan sistem drainase
air hujan (storm water system). Ketiga sistem tersebut saling terkait,
sehingga idealnya dikelola secara integral seperti diilustrasikan pada
Gambar 1.16. Hal ini sangat penting untuk mengoptimalkan pemanfaatan
sumberdaya dan fasilitas, menghindari ketumpang-tindihan tugas dan
tanggung jawab, serta untuk keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya air.
Sebagai contoh, penanganan air hujan dapat dimanfaatkan (sistem
drainase) untuk pengisian air tanah sebagai sumber air bersih.

Gambar E. 22 Sistem infrasturktur perkotaan (Grigg, 1996).

Sistem Air bersih (urban water supply system)

Gambar E. 23 Sistem air bersih (Grigg, 1996).


Sistem Sanitasi (Urban watewater system)

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 21

Apresiasi Inovasi

Gambar E. 24 Sistem manajemen air limbah (Grigg, 1996).

E.3.

KONSEP DRAINASE

Banjir yang kerap kali terjadi memerlukan penanganan secara komprehensif, tidak
hanya

menggunakan

metode

konvensional

melainkan

juga

dengan

metode

penyelesaian banjir lainnya, seperti ekohidrolik. Adapun yang dimaksud metode


konvensional adalah membuat sudetan, normalisasi sungai, pembuatan talud, dan
berbagai macam konstruksi sipil lainnya. Sedangkan metode ekohidrolik bertitik
berat pada renaturalisasi, restorasi sungai,

serta peningkatan daya retensi lahan

terhadap air hujan. Penyelesaian banjir dan permasalahan drainase dengan konsep
penanganan

banjir

secara

konvensional

yang

hanya

mengutamakan

faktor

hidraulik, bertitik tolak pada penanganan dampak banjir secara lokal. Hal ini perlu
diimbangi dengan konsep ekohidrolik yang bertitik tolak pada penanganan
penyebab banjir dari segi ekologi dan lingkungan. Dengan dilakukannya retensi air
di bagian hulu, tengah, dan hilir, juga di sepanjang wilayah sungai, sempadan
sungai, badan sungai, dan saluran, selain berfungsi sebagai penanggulangan banjir
juga sekaligus menanggulangi kekeringan di kawasan yang bersangkutan.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 22

Apresiasi Inovasi

Pembuatan sudetan

Konvensional
Konsep
Drainase

Normalisasi sungai

Pembuatan konstruksi sipil

Eco-Drainage

Retensi air

Gambar E. 25 Konsep konvensional dan Eco-drainage.

Gambar E. 26 Ilustrasi ideal penanggulangan banjir dengan konsep


Ekohidrolik.

E.3.1 Drainase Ramah Lingkungan


Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 23

Apresiasi Inovasi
Eco-drainage atau drainase ramah lingkungan adalah sistim drainase yang
memperhatikan kelestarian lingkungan. Hal ini sebenarnya bukan sesuatu
yang baru bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan man made
world, segala sesuatu buatan manusia, perlu dibuat dengan ramah
terhadap lingkungan, yang pada gilirannya, artinya juga perlu ramah
terhadap manusia.
Di bidang drainase, pertimbangan desain sistim drainase sampai saat ini
masih menggunakan paradigma lama yaitu bahwa air drainase harus
secepatnya dibuang ke hilir dan atau ke laut. Baru kemudian disadari
bahwa paradigma ini tidak sesuai lagi dengan keadaan masa kini ketika
didapati fenomena defisit air dalam neraca keseimbangan air antara
ketersediaan dan kebutuhan yang diperlukan oleh manusia yang semakin
banyak.
Defisit neraca air ini ditandai dengan menurunnya permukaan air tanah,
karena disedot untuk berbagai keperluan, bahkan tidak hanya untuk
keperluan primer manusia seperti air minum, tetapi juga untuk keperluan
sekunder yaitu industri. Tanda yang lain dari defisit air ini adalah semakin
menurunnya kuantitas dan kualitas ketersediaan air baku akibat semakin
membesarnya fluktuasi jumlah aliran permukaan persatuan waktu yang
terjadi di musim penghujan dibandingkan yang terjadi di musim kemarau.
Besarnya fluktuasi ini terjadi antara lain oleh kurangnya daerah resapan air
di bagian hulu dikarenakan gundulnya hutan dan kurangnya usaha
membangun sistim tampungan (tandon) air pada sistim drainase. Hal ini
berakibat menurunnya recharging air tanah dan pada gilirannya kemudian
berefek pada turunnya base flow pada aliran sungai atau menghilangnya
mata air-mata air dari hulu sungai.
Filosofi pembuatan sistim drainase dengan tampungan-tampungan ramah
lingkungan dalam usaha menanggulangi banjir mirip tetapi tidak sama
dengan filosofi pembuatan waduk penahan banjir. Waduk dibangun dalam
skala besar, tidak hanya dalam pengertian fisik, tapi juga besar dalam efek
negatif yang terjadi. Sedangkan sistim drainase dengan tampungantampungan air ramah lingkungan dibuat dan dikelola oleh orang perorang
dan oleh unit masyarakat kecil. Sedemikian sehingga perbedaan filosofi
diantara keduanya ialah bahwa waduk dimotori oleh sebuah otoritas,
Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 24

sedangkan

sistim

drainase

dengan

Apresiasi Inovasi
tampungan-tampungan ramah

lingkungan digerakkan oleh public community.


Penerapan konsep drainase ramah lingkungan di lapangan yang diiringi
oleh program pengembangan masyarakat dilakukan pada berbagai
bidang, sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Sistem pembuangan air hujan di rumah


Saluran drainase sebagai long storage
Penyediaan taman dan kolam di kompleks perumahan
Peningkatan luas badan air
Penataan kawasan sekitar waduk
Pemeliharaan kebersihan
Penataan saluran drainase di kawasan industri

Penjelasan singkat mengenai bagian-bagian di atas akan diuraikan di


bawah ini.

E.3.2 Sistem Pembuangan Air Hujan di Rumah


Dengan konsep bahwa air hujan harus ditahan selama mungkin dan
sebanyak mungkin diserap oleh tanah maka urutan aliran air hujan di
setiap unit rumah dapat mengikuti alur sebagai berikut :
Air hujan bungker air sumur resapan saluran
Ilustrasi alur air hujan di setiap unit rumah disajikan pada Gambar E.27
berikut:

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 25

Apresiasi Inovasi

air hujan

air dapat
digunakan
untuk
berbagai
keperluan

air hujan
ditampung
dalam bunker

bunker air

kele bihan air


dari bunker
mengalir ke
sumur resapan
kelebihan air dari sumur resapan
mengalir ke selokan
selokan
sumur
resapan

pengisian
air tanah

Gambar E. 27 Ilustrasi alur air hujan di rumah.


1. Pada tahap pertama, air hujan dari atap rumah disalurkan ke bunker
air. Air yang ditampung pada bungker ini di kemudian hari dapat
digunakan untuk berbagai keperluan, seperti untuk menyiram
tanaman, mencuci kendaraan, dll. Jika air untuk keperluan-keperluan
diatas dapat diambil dari bungker air yang ada maka hal ini dapat
secara langsung mengurangi beban air yang harus disuplai dari PAM.
2. Pada tahap kedua, air hujan yang tidak tertampung di bungker air
dialirkan menuju sumur resapan. Air dari sumur resapan ini berfungsi
sebagai pengisian kembali air tanah.
3. Pada tahap ketiga, air hujan yang tidak tertampung di sumur resapan
kemudian dialirkan ke selokan / saluran pembuangan air hujan. Hal
ini merupakan tahapan terakhir jika semua usaha untuk menahan air
agar dapat meresap ke dalam tanah telah dilakukan
Jika dihitung, proporsi volume air yang dapat ditampung dalam bungker
untuk tiap rumah mungkin tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan
keseluruhan volume air hujan yang turun. Namun jika setiap rumah dalam
suatu kompleks perumahan menggunakan cara seperti ini, maka jumlah
volume air yang dapat ditampung akan semakin besar. Hal ini juga berlaku
dalam penggunaan sumur resapan pada setiap unit rumah. Walaupun
volume air yang dapat menyerap ke tanah untuk satu unit rumah tidaklah
besar, namun jika setiap rumah menerapkan hal ini maka jumlah volume
air yang dapat dikonvservasi akan semakin besar.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 26

Apresiasi Inovasi

E.3.3 Saluran Drainase Sebagai Long Storage


Saluran drainase selain berfungsi untuk mengalirkan air hujan ke daerah
yang lebih rendah, juga dapat difungsikan sebagai long storage. Untuk
beberapa kawasan, long storage ini diperlukan karena air tidak dapat
dibuang langsung ke laut akibat adanya pengaruh pasang surut. Namun
untuk beberapa kawasan lain, long storage ini dapat berfungsi sebagai
bagian dari proses retensi air hujan, agar volume air yang menyerap ke
dalam tanah semakin besar.
Selain itu, pada musim kemarau, keberadaan air di saluran drainase cukup
penting untuk menghindari pengendapan dan tertumpuknya berbagai
kotoran yang dapat menimbulkan bau tidak sedap. Dengan adanya long
storage

tersebut,

penggelontoran

air

yang

saluran.

ada

dapat

Pengaturan

air

digunakan
pada

saat

untuk
akan

melakukan
dilakukan

penggelontoran dapat dilakukan menggunakan bantuan pintu air maupun


bangunan air sejenis, yang dioperasikan oleh masyarakat setempat.
Dengan

demikian,

untuk

lokasi-lokasi

yang

dianggap

memenuhi

persyaratan, perencanaan saluran drainase perlu mengikutsertakan faktor


retensi air, dengan konsekuensi dimensi saluran drainase akan semakin
besar.

E.3.4 Kolam Tamandi Kompleks Perumahan


Kolam taman yang ada pada komplek perumahan selain berfungsi sebagai
bagian dari upaya penghijauan, juga dapat difungsikan sebagai bagian dari
proses retensi air. Ilustrasi kolam taman disajikan pada Gambar E.28.
Dalam perencanaan kompleks perumahan, ada baiknya didesain sistim
drainase sedemikian sehingga dapat berfungsi sebagai kolam taman untuk
lingkungan, penyediaan air untuk taman dan untuk kondisi darurat, misal
kebakaran, serta recharging air tanah. Kolam taman dalam komplek
dikelola oleh unit masyarakat dalam komplek tersebut, misalnya dikelola
oleh masyarakat satu RW, dengan jadwal piket setiap RT.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 27

Apresiasi Inovasi

rumah

rumah

kolam

taman

rumah

rumah

rumah

Gambar E. 28 Ilustrasi kolam taman di kompleks perumahan.


Untuk perencanaan kawasan perumahan baru, kolam tanam ini dapat
dibangun satu unit untuk setiap sekian unit rumah yang dibangun di
kompleks yang bersangkutan.

Gambar E. 29 Pengurangan debit puncak dengan kolam tandon


(tampungan sementara).

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 28

Apresiasi Inovasi
KAPAN DIPAKAI TANDON BANJIR ?
Kata Tandon berasal dari Bahasa Jawa, yang artinya reservoir atau
waduk. Di-Jakarta, anda tentu pernah mendengar Waduk Pluit, Setiabudi
dan lain-lain. Kalau dinegeri Belanda, sebutannya adalah polder, sehingga
negeri bawah laut Belanda, sering disebut Negeri Kincir Angin. Dulu, kincir
angin ini dipakai untuk menggerakkan pompa polder.
Dinegeri kita, pemakaian tandon banjir bukan suatu keharusan. Kalau
bisa, malahan harus dihindari, karena tandon banjir biasanya harus
dilengkapi

dengan

pompa

yang

sulit

dan

mahal,

Operasi

&

Pemeliharaannya.
Secara skematis Gambar E.30 memberikan urutan menu dan kendala
penanganan banjir, dimana tandon banjir dan pompa, jatuh pada pilihan
terakhir. Meskipun pada dekade ini, normalisasi saluran induk sempat
mencuat sebagai prioritas yang rendah, karena benturan yang tidak
terelakkan dengan pembebasan lahan.

Gambar E. 30 Urutan Menu dan Kendala Penangan Banjir.


Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 29

Apresiasi Inovasi
Pilihan untuk membangun kolam tandon mencuat, ketika saluran induk
drainase harus bermuara pada lokasi yang sulit, seperti :
o
o

Langsung ke laut, dengan pasang naik yang tinggi.


Melewati tanggul sungai besar yang muka banjirnya tinggi.

Lokasi ini menyebabkan saluran induk drainase mengalami efek backwater. Khususnya, pada saat debit puncak drainase terjadi pada saat yang
bersamaan dengan pasang naik air laut atau banjir sungai besar, sehingga
menimbulkan luapan dan banjir.
Keadaan ini dilukiskan pada Gambar E.31 dimana ada dua pilihan untuk
menurunkan muka air back water, yaitu :
o
o

Saluran induk di normalisasi (dilebarkan dan diperdalam).


Di buat tandon banjir dimuaranya. Kalau perlu dipasang pintu air, dan
pompa untuk memompa air tandon langsun ke laut atau sungai
besar.

Pada kawasan perkotaan, saluran induk melewati permukiman padat,


kumuh, sehingga normalisasi tidak bisa lepas dari dampak negatif, seperti :
o

o
o

Memerlukan pembebasan lahan, pembongkaran rumah, pemindahan


penduduk, relokasi fasilitas kota, memperpanjang jembatan kota,
dan lain-lain.
Pada banyak kasus, back-water tidak berhasil diturunkan tuntas,
sehingga
masih
memerlukan
tanggul,
akibatnya
saluran
sekunder/tersier sulit membuang alirannya ke saluran induk.
Mempermudah air laut memasuki daratan, dan menyebabkan intrusi
air laut.
Dengan normalisasi, endapan makin mudah terbentuk. Semakin lebar
sungai, maka kecepatan aliran berkurang drastis.

Semakin lebar saluran, semakin sulit proses pengedukan lumpurnya. Paling


tidak harus dipakai alat berat, padahal dulu cukup dikeduk dengan tenaga
manusia.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 30

Apresiasi Inovasi

Gambar E. 31

Ilustrasi penggunaan tandon.

E.3.5 Peningkatan Luas Badan Air


Peningkatan luas badan air sungai dimaksudkan untuk meningkatkan daya
retensi sungai terhadap air. Komponen retensi alamiah di wilayah sungai,
sempadan sungai, dan badan sungai dapat ditingkatkan dengan cara
menanami

kembali

sempadan

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

dan

sungai

yang

telah

rusak

serta

E - 31

memfungsikan

daerah

genangan

atau

polder

Apresiasi Inovasi
alamiah di sepanjang

sempadan sungai dari hulu sampai hilir untuk menampung banjir.

E.3.6 Penataan Kawasan Sekitar Waduk


Untuk mendukung terciptanya kawasan waduk yang asri dan terpelihara,
perlu diciptakan kondisi yang memungkinkan masyarakat memiliki peran
dalam pemeliharaan kondisi kawasan sekitar waduk. Hal ini dapat
dilakukan diantaranya dengan membuat daerah hijau dan taman di
sekeliling waduk, yang dilengkapi dengan jalan sebagai bagian dari sarana
rekreasi.

E.3.7 Pemeliharaan Kebersihan


Sebagai bagian dari penataan sistem drainase yang diiringi oleh program
pengembangan masyarakat, pemeliharaan kebersihan merupakan salah
satu kegiatan yang dapat dilakukan secara langsung oleh masyarakat.
Sedimen dan sampah yang menyumbat di saluran merupakan salah satu
faktor penyebab terjadinya banjir dan genangan. Dengan peran aktif
masyarakat untuk membersihkan saluran dalam ruang lingkup kecil di
sekitar tempat tinggalnya secara rutin maka pemeliharaan sistem drainase
dalam ruang lingkup kawasan yang lebih besar pun akan terbentuk. Peran
serta masyarakat dalam pemeliharaan saluran saluran dari sedimen dan
sampah dapat berupa tindakan langsung pembersihan di lapangan, dan
dapat pula berupa penyediaan dana operasional bagi petugas kebersihan
yang ditunjuk.

E.3.8 Penataan Saluran Drainase di Kawasan Industri


Untuk kawasan industri, perencanaan saluran drainase dapat dilakukan
secara terpadu dengan perencanaan jalur kabel listrik, telepon, gas,
maupun kabel lainnya. Penempatan saluran air dan kabel dalam trase
utama di dalam tanah memungkinkan pemeliharaan dilakukan dengan
lebih mudah. Walaupun dalam jangka pendek investasi yang dikeluarkan
untuk konstruksi relatif tinggi, namun untuk jangka panjang biaya
pemeliharaan akan rendah.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 32

Apresiasi Inovasi

E.4.

KONSEP

PEMBANGUNAN

BERWAWASAN

SUNGAI

EKOLOGI-HIDRAULIK

(EKO-

HIDRAULIK) SEBAGAI SOLUSI


Konsep yang dapat digunakan dalam pengembangan wilayah sungai di Indonesia.
Konsep tersebut adalah konsep pendekatan integralistik Eko-Hidraulik, konsep
Harmonis

dan

keseimbangan,

konsep

kesatuan

antara

development

dan

konservation, konsep drainasi kawasan ramah lingkungan, konsep distribusi banjir


dan konsep Eko-Hidraulik untuk penanggulangan banjir.
Konsep pembangunan sungai tersebut di atas berbeda dengan konsep
konvensional penanganan masalah sungai yang selama ini banyak dianut seperti
misal pembuatan talud, ndinding parapet, pembanguan tanggul, pelurusan,
sudetan, relokasi sungai, pembangunan bendung tanpa fishway dll. Konsep yang
akan dibahas ini merupakan landasan utama yang perlu dipakai untuk mengelola
wilayah sungai di Indonesia selanjutnya.

E.4.1

Pendekatan

Integralistik

Ekologi

dan

Hidraulik,

Harmonis Antara Perilaku Alamiah dan Pembangunan


dan Kesatuan Antara Konservasi dan Pembangunan
E.4.1.1

Integralistik Ekologi dan Hidraulik (Eko-Hidraulik)

Holistic concept: River is a complex system, therefore, it's development and


restoration

needs

holistic

approach

by

giving

considerations

due

to

all

corresponding fields (Konsep holistik; Sungai adalah suatu sistem yang komplek,
oleh karena itu pengembangannya dan restorasinya memerlukan pendekatan
holistik dengan mempertimbangkan seluruh faktor yang berhubungan dengan
sungai).
Definisi lama mengenai sungai, bahwa sungai adalah suatu alur di
permukaan bumi yang berfungsi sebagai saluran drainasi dan terdiri dari aliran air
dan sedimen terangkut, perlu diadakan koreksi secara subtansial. Sungai dalam
konsep integralistik didefinisikan sebagai suatu sistem keairan terbuka yang
padanya terjadi interaksi antara faktor biotis dan abiotis yaitu flora fauna disatu sisi
dan hidraulika air dan sedimen disisi yang lain, serta seluruh aktivitas manusia
yang berhubungan langsung atau tidak langsung dengan sungai.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 33

Apresiasi Inovasi
Jadi pada pembangunan wilayah sungai dengan konsep integralistik, semua faktor
yang terkait perlu mendapatkan perhatian dengan porsi yang sesuai, sehingga tidak
ada komponen dalam ekosistem sungai yang hancur. Kehancuran salah satu rantai
ekosistem sungai (misal flora) maka akan menyebabkan kehancuran komponen
yang lain misal fauna, retensi hidraulis dan erosi tebing sungai. Gambar dibawah ini
menunjukkan komponen-komponen penyusun suatu sungai.

Gambar E. 32 Integralistik komponen ekologi-hidraulik (profit sungai)


Konsekuensi dari konsep integralistik ini adalah bahwa perencanaan dan
pelaksanaan pembangunan maupun pengembangan sungai harus melibatkan
seluruh tenaga ahli yang kompeten pada masing-masing komponen ekosistem
sungai tersebut. Sungai yang selama ini hanya dikelola oleh salah satu instansi
(KIMPRASWIL)
memasukkan

perlu

sesegera

pengelola

yang

mungkin

terkait

diadakan

lainnya

seperti

perombakan
kehutanan,

dengan
pertanian,

lingkungan hidup (ekologi), perindustrian dan Sosial. KIMPRASWIL atau Dinas PU


yang ada nampaknya tidak pernah akan mampu melaksanakan tugas pengelolaan
sungai secara multisektor.

E.4.1.2

Harmonis Antara Karakteristik Alamiah dan Pembangunan

Harmony concept: Technical river developments must be harmoniously


conducted with consideration of natural riverbehaviors (Konsep keseimbangan:
Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 34

Apresiasi Inovasi
Teknik rekayasa pada sungai harus diharmoniskan dengan kondisi dan perilaku
alam). Dalam pembangunan di wilayah sungai, perilaku sistem alamiah sungai
perlu didefinisikan terlebih dulu secara mendetail (lihat Bab I Sungai Sebagai
Sistem Komplek dan Teratur).
Sungai dengan segala karakteristik alamiahnya telah membentuk komposisi
yang paling stabil dibandingkan dengan komposisi buatan. Sehingga perubahan
terhadap karakteristik alamiah akan menurunkan kemampuan sungai untuk
menjaga keseimbangannya. Perubahan karakteristik sungai oleh bangunan teknis
pertama akan direspon oleh sungai dengan berbagai perubahan karakteristik yang
tidak hanya terjadi di daerah yang diubah namun juga terjadi di bagian lainnya
dialur sungai yang bersangkutan.
Konsep

keseimbangan

adalah

upaya

yang

perlu

dilakukan

dalam

penanganan sungai sehingga tidak mengganggu keseimbangan yang sudah ada.


Justru

keseimbangan

sungai

tersebut

perlu

dimanfaatkan

dalam

rangka

pengembangan sekaligus konservasi.


Sebagai contoh dalam upaya mengatasi longsoran tebing dapat digunakan
dua pilihan penyelesaian yaitu dengan membangun talud memanjang alur sungai
dan dengan menanam vegetasi yang cocok di sepanjang alur sungai yang tererosi
tersebut. Pilihan pertama dipandang dari keseimbangan sungai sangat kontradiktif.
Karena dengan pembuatan talud, sungai akan mengalami destabilisasi. Di bagian
yang ditalud mengalami kenaikan kecepatan arus sehingga mengakibatkan erosi
dasar dan di bagian hilir setelah talud akan menerima energi yang tinggi yang
dapat menyebabkan erosi maupun banjir. Destabilisasi ini berlangsung bersamaan
dengan

proses

menuju

stabilitas

baru.

Stabilitas

barn

akan

memerlukan

kompensasi berupa erosi dan endapan di tempat-tempat tertentu yang sebelumnya


tidak ada. Stabilitas baru juga memerlukan waktu yang sulit diprediksi. Dengan
mengaktifkan kembali komponen ekologi vegetasi alamiahnya maka baik longsor,
banjir di hilir, mekanisme outflow inflow, kekeringan musim kemarau dll. dapat
dihindarkan. Gambar E.33 menyajikan perbandingan antara konstruksi yang
harmonis antara karakteristik sungai dan yang tidak harmonis.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 35

Apresiasi Inovasi

Gambar E. 33 Perkuatan Tebing; bagian kanan harmoni antara


pembangunan dan karaktistik sungai (talud ramah lingkungan) sedang
bagian kiri tidak harmoni antara pembangunan dan karakteristik sungai
(talud tidak ramah lingkungan).

E.4.1.3

Kesatuan Antara Konservasi din Pembangunan (conservation and


development)

Integrated view of river development and conservation: Let rivers be natural


rivers, if their potentials must be exploited, measures must be taken to eliminate
all negative impacts from such developments (Eksplorasi dan konservasi sungai;
Sungai

harus

dipelihara

seperti

sungai

alamiah,

jika

akin

dibangun

atau

dimanfaatkan potensinya, harus diusahakan sejauh mungkin untuk menanggulangi


dampak negatif yang muncul secara integral dari pembangunan ini).
Konsep exploitation-conservation ini merupakan konsep tunggal yang dalam
setiap penyelesaian permasalahan di wilayah keairan perlu digunakan secara
integral.

Philosofi

din

metode

yang

dikembangkan

harus

secara

otomatis

mengandung unsur development din conservation. Dalam hal ini konservasi tidak
hanya dipandang sebagai kegiatan pasif jika dampak negatif telah muncul, namun
sebagai

kegiatan

aktif

yang

dikembangkan

secara

bersama-sama

dengan

development.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 36

Apresiasi Inovasi
Sebagai misal sekali lagi ketika terjadi longsoran tebing sungai, penyelesaian
masalah bisa dilakukan dengan membuat talud beton atau pasangan batu atau
dengan membuat talud ramah lingkungan yang terbuat dari tumpukan batu kosong
din vegetasi. Dalam konsep river development and conservation maka dipilih talud
ramah lingkungan bukan talud beton atau pasangan batu karena talud ramah
lingkungan merupakan kombinasi dari pembangunan din konservasi sungai.

E.4.2

Drainasi Bebas Banjir dan Ramah Lingkungan


Drainage and resistance concept: Release of access waterto the rivers at an

optimal time which doesn't cause hygienic problems and flood problems such as
increase of river 'peak discharge' and accelerate of river 'peak time' (Konsep
drainasi din retensi; Drainasi air kelebihan ke sungai harus diusahakan sedemikian
sehingga

tidak

menyebabkan

masalah

kesehatan

din

tidak

meningkatkan

kemungkinan banjir di hilir seperti meningkatkan banjir puncak din memendeknya


waktu mencapai puncak).
Konsep drainasi konvensional (lama) menekankan pada upaya membuang
atau mengatuskan air kelebihan, dalam hal ini air hujan secepatcepatnya ke
sungai. Konsep ini jika ditinjau lebih jauh akan menimbulkan dampak negatif yang
sangat besar. Dengan diatuskannya air kelebihan ke sungai kemudian ke laut akan
menyebabkan berbagai dampak negatif diantaranya
a. Konservasi air di kawasan yang didrain rendah, dengan kata lain terjadi
penurunan resapan air permukaan ke dalam tanah
b. Banjir di bagian hilir di musim hujan, karena akumulasi air drainasi yang
dibuang secepat-cepatnya ke sungai. Sedang pada musim kemarau terjadi
kekeringan, karena tidak ada suplai air dari air tanah ke dan dari sungai.
c. Fluktuasi debit sungai dan termasuk air tanah yang terkait akan sangat
tinggi pada musim hujan dan kemarau. Hal ini dapat meningkatkan
kelongsoran tanah.
d. Flukstuasi alamiah debit dan muka air sungai berubah, sehingga dapat
mengganggu ekosistem atau ekologi sepanjang sungai
e. Muka air tanah akan cenderung turun karena infiltrasi rendah. Penurunan ini
membawa akibat pada gangguan ekologi dan juga dimungkinkan terjadi
penurunan muka tanah (land subsidence). Pada musim penghujan seluruh
air permukaan didrain dan juga pada musim kemarau. Akibat proses ini
muka air tanah turun terbentuk ruang-ruang kosong dalam struktur tanah.
Ruang kosong dalam tanah ini memungkinkan terjadinya penurunan tanah

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 37

Apresiasi Inovasi
diatasnya. Cara penanggulangan penurunan tanah ini adalah dengan cara
membuat kanal-kanal yang membagi-bagi daerah menjadi kawasankawasan yang dikelilingi kanal. Kanal tersebut tidak berfungsi sebagai
pengatus air dari kawasan yang dibuang ke laut, namun berfungsi sebagai
kolam drainasi kawasan, yang padanya terkumpul air hujan kelebihan.
Tekanan air di kanal-kanal tersebut selanjutnya dapat mempertahankan
daya dukung tanah sekaligus mencegah terjadinya pori-pori kosong.
Solusi masalah konsep drainasi ini adalah dengan menetapkan konsep
drainasi ramah lingkungan. Dalam hal ini drainasi harus didefinisikan sebagai
usaha untuk mengalirkan air kelebihan (air hujan) dengan cara meresapkan air
kedalam tanah, menyimpan dipermukaan tanah untuk menjaga kelembaban udara
dan mengalirkan ke sungai secara proposional sehingga tidak menyebabkan
tambahan beban banjir di sungai.
Dalam segala aspek konsep drainasi konvensional perlu segara direvisi
dengan konsep drainasi ramah lingkungan, missal drainasi perkebunan, pertanian
(irigasi), drainasi kawasan, perkotaan dan perumahan. Drainasi yang sampai
sekarang digunakan untuk masalah tersebut adalah drainasi konsvensional.
Untuk

perumahan

misalnya,

seluruh

saluran

drainasi

perumahan

mengatuskan air dari wilayah perumahan tersebut dan dialirkan secepatnya ke


sungai. Dalam irigasi teknis, selalu dibangun saluran drainasi yang berfungsi
mengatuskan kawasan ketika musim hujan. Pada areal perkebunan dibuat drainasi
memotong kontur tanah untuk secepatnya mengatuskan air yang mungkin
tergenang. Pada wilayah perkotaan, semua mater plan kota mengguanakan konsep
drainasi

konvensional

dengan

menarik

garis

terpendek

dari

wilayah

yang

bersangkutan menuju sungai terdekat. Pola drainasi konvensional tersebut secara


simultan akan menjadi penyebab banjir dan kekeringan yang serius.
Gambar

E.34

dan

E.35

di

bawah

ini

menyajikan

revisi

drainasi

konsvensional menjadi drainasi ramah lingkungan.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 38

Apresiasi Inovasi

Gambar E. 34 Drainasi konvensional (atas) dan drainasi ramah lingkungan


(bawah)

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 39

Apresiasi Inovasi

Gambar E. 35 Drainasi perumahan ramah lingkungan dengan kolam


drainasi (kolam konservasi air hujan)
Hal

lain

yang

memperparah

dampak

drainasi

konvensional

serta

memperparah dan mempercepat kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah


konsep

penyebaran

pemukiman

yang

sangat

distruktif

bagi

DAS

yang

bersangkutan.
Penyebaran pemukiman yang terjadi di hampir seluruh wilayah di Indonesia
adalah "penyebaran merata"., dimana perumahan dan pemukiman menyebar
secara hortizontal ke seluruh DAS. Sehingga dalam waktu relatif pendek hampir
seluruh DAS terpenuhi pemukiman. Contoh penyebaran merata ini dapat kits
jumpai di wilayah Medan, Jakarta, Bandung, Bogor, Semarang, Yogyakarta,
Surabaya, Malang, Makasar dll. Penyebaran horizontal ini mempunyai dampak
terhadap lingkungan yang sangat distruktif, karena DAS akan rusak total setelah
hanya sepertiga dari lugs DAS tersebut didirikan pemukiman. Hal ini disebabkan
karena setiap luasan perumahan membutuhkan areal 3 kali lipat dari luasan fisik
perumahan tersebut. Misalnya rumah tipe 36 biasanya membutuhkan lugs tanah
100 m2, rumah tipe 25 membutuhkan luas tanah 90 m2, dst.
Jika DAS telah dikuasai pemukiman, sedang drainasi pemukiman dan
sekitarnya

menggunakan

konsep

drainasi

konvensional

seperti

diuraikan

sebelumnya, maka banjir di hilir akan terjadi dengan intensitas tinggi dan
konservasi

air

di

huiu

menurun.

Cara

penyelesaian

masalah

ini

adalah

mengembangkan konsep pemukiman ramah lingkungan, dengan cara membangun


daerah-daerah satelit dengan mengkonsentrasikan perumahan hanya di sekitar
daerah satelit tersebut. Perumahan harus didesain vertikal (rumah tingkat)
sehingga areal yang dibutuhkan mengecil. Berikut ini disajikan ilustrasi penyebaran

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 40

Apresiasi Inovasi
pemukiman tidak ramah lingkungan (penyebaran jamur) dan yang ramah
lingkungan (penyebaran satelit).

Gambar E. 36 Penyebaran pemukiman tidak ramah lingkungan (A) dan


ramah lingkungan, penyebaran satelit terkonsentrasi dan vertikal (B)

Disamping

secara

drainasi

sangat

tidak

direkomendasi,

penyebaran

pemukiman merata dan horizontal ini akan menyebabkan pencemaran lingkungan


wilayah keairan yang lebih lugs dan sulit untuk dilokalisir. Demikian juga polo
merata ini akan memakan dana yang sangat tinggi untuk pembangunan saranaprasarana dan seluruh infrastruktur pemukiman tersebut. Polo tersebut merupakan
polo yang sangat tidak efisien baik ditinjau dari sisi ekologi dan ekonomi.

E.4.3

Konsep Distribusi Banjir Eko-Hidraulik


Flood distribution concept: Disperse the local large floods into many small

floods along the river systems (Konsep distribusi banjir; Banjir lokal yang besar
Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 41

Apresiasi Inovasi
sebaiknya bisa dibagi-bagi menjadi banjir kecil-kecil di sepanjang alur sungai).
Sebenarnya banjir diperlukan oleh ekosistem sepanjang sungai sebagai faktor
penting kelangsungan hidup flora dan fauna sungai. Sedang flora dan fauna sungai
merupakan komponen sungai yang sangat vital kaitannya dengan peredaman
banjir dan erosi disepanjang alur sungai.
Kegiatan penanggulangan banjir dengan mengadakan normalisasi, sudetan
dan pelurusan sungai pada dasarnya hanya memindahkan banjir tersebut ke
bagian hilir. Jika dibagian hulu dan tengah dilakukan usaha penanggulangan banjir
dengan metode tersebut maka dapat dipastikan bahwa secara simultan akan
terjadi banjir besar di hilir. Banjir alamiah adalah banjir yang terjadi di sepanjang
alur sungai, yang sudah barang tentu debitnya relatif kecil karena didistribusi
merata sepanjang sungai.

Gambar E. 37 Ilustrasi banjir terdistribusi sepanjang aliran sungai

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 42

Apresiasi Inovasi
Distribusi banjir sepanjang sungai ini berfungsi sekaligus sebagai metode
konservasi air, karena distribusi berarti juga memperpanjang waktu meresap air ke
tanah. Dengan distribusi banjir di sepanjang sungai dapat memperkecil fluktuasi
debit sepanjang sungai. Fluktuasi debit yang stabil berarti menghindarkan banjir
musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Tentu saja perlu perbaikan di
daerah aliran sungainya.
_

Gambar E. 38 Banjir besar terkonsentrasi di satu tempat (bagian hulu


ditanggul, disudet ataun diluruskan)

E.4.4

Konsep Penanganan Sungai Kecil


Development, conservation and restoration of rivers muss be started from

the small rivers ("In the small thing hide the big thing') (pembangunan, konservasi
dan restorasi sungai; pembangunan dan restorasi sungai harus dimulai dari sungai
yang paling kecil, di dalam yang kecil itu tersimpan rahasia hal yang besar).
Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 43

Apresiasi Inovasi

E.4.4.1

Kekeringan di Daerah dan di Perkotaan

Kekeringan sebenarnya tidak hanya melanda daerah-daerah lahan pertanian,


namun di perkotaanpun sebenarnya dilanda kekeringan. Keringan perkotaan
umunya ditandai dengan rendahnya debit sungai-sungai kecil yang melintasi kota
yang bersangkutan atau bahkan tidak ada aliran air sama sekali. Sungai kecil dan
menengah di perkotaan biasanya menjadi keranjang sampah dan saluran comberan
kota yang "mambek", baunya menyengat tanpa ada penggelontoran.
Lebih dari 50 tahun pembangunan fisik Indonesia, khususnya pada
pembangunan wilayah keairan, melupakan pengelolaan dan pelestarian sungai
kecil. Ribuan bahkan jutaan sungai kecil yang sebenarnya dapat berfungsi untuk
menanggulangi kekeringan, mengendalikan banjir, mengkonservasi air dan ekologi
dari suatu kawasan, telah hancur total. Sungai kecil di hampir diseluruh daerah
perkotaan dan pinggiran telah dirubah menjadi saluran pembuangan limbah cair
dan padat serta dirubah bentuknya dari sungai alamiah dengan komponen ekologis
dan hidrologisnya menjadi kanal comberan yang busuk baunya dengan kualitas
yang sangat rendah.

E.4.4.2

Kesalahan Pemahaman Tentang Sungai Kecil

Kesalahan fatal ini terjadi jelas karena keawaman masyarakat terhadap filosofi dan
kegunaan sungai kecil. Pemahaman bahwa sebenarnya sungai kecil merupakan
bagian terpenting dari sistem sungai dan padanya tersimpan rahasia kejadian
kekeringan, banjir dan kerusakan wilayah keairan secara menyeluruh dari suatu
kawasan, sama sekali belum berkembang. Maka perlu dibuka fenomena barn
tentang pentingnya sungai kecil, berikut usaha yang diperlukan untuk melestarikan
dan merepitalisasikan fungsinya, sebelum kekeringan, banjir dan kehancuran
lingkungan yang lebih fatal terjadi.
Sungai dapat dibedakan secara sederhana menjadi kelompok sungai kecil,
sungai sedang dan sungai besar. Contoh sungai besar di Jawa misalnya; Bengawan
Solo, Ciliwung, Citandui, Brantas, dll, di Sumatra misalnya; Musi, Siak, Indragiri dll.,
di Kalimantan misalnya; Mahakam, Kapuas, dll. Sungai sedang adalah anak sungai
langsung dari sungai-sungai besar tersebut. Sedangkan sungai kecil adalah seluruh
sungai

setelah sungai

sedang.

Untuk

lebih

mudahnya,

sungai

kecil

dapat

didefinisikan sebagai sungai yang umumnya melintas di sekitar kits yang lebarnya
hanya sekitar 0,5 m sampai 20 m saja baca Buku Eko-Hidraulika Pembangunan
Sungai, Maryono,A. 2002).

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 44

Apresiasi Inovasi

E.4.4.3

Akibat Keterlantaran dan Pembangunan Sungai Kecil

Aktivitas manusia (antropogenik activities) dalam menangani sungai kecil


(juga pada sungai sedang dan besar) merupakan faktor yang sangat penting pada
perubahan ekologi maupun hidraulik sungai yang bersangkutan. Pembangunan
pada sungai kecil,

misalnya;

pembuatan talud

pasangan

batu dan beton,

pengurugan tebing sungai, penyempitan tampang sungai, menggunakan daerah


bantaran sungai kecil untuk fasilitas umum dll. Tanpa disadari bahwa kegiatan
tersebut sangat kontra produktif dan bahkan berpengaruh dapat menyebabkan
terjadinya kekeringan, banjir dan kerusakan ekologi lingkungan.
Dengan pembetonan tebing sungai misalnya, berarti menutup seluruh suplai
air tanah dari tebing sungai yang bersangkutan. Perlu disadari bahwa di sepanjang
tebing sungai terdapatjutaan mata air baik yang berskala mikro (kecil) maupun
makro (besar). Mata air ini lah sebagai pensuplai air utama di sungai kecil. Dengan
matinya jutaan mata air ini, maka debit sungai di musim kemarau akan mengecil
secara drastis. Kekeringan akan terjadi karena pasokan air dari dan ke sungai tidak
ado lagi. Lahan di sekitar sungai menjadi kering karena tidak dapat lagi terjangkau
air sungai kecil ini. Demikian juga, debit yang kecil ini jelas tidak mampu lagi
menjadi faktor pengencer air kotor sungai tersebut. Sehingga sungai-sungai kecil di
daerah perkotaan dan pinggiran pada musim kemarau dipenuhi oleh air limbah
perkotaan yang hampir tidak mengalir dan bahkan mengendap di badan sungai
yang bersangkutan. Pada musim penghujan, karena tampang alirannya yang
mengecil dan banyak endapan sampahnya, maka sungai kecil perkotaan ini tidak
mampu lagi meresapkan dan mengalirkan air yang ado di ingkungannya. Akibatnya
adalah terjadinya banjir dan genangan sampah di lingkungan tersebut.
Akibat lain dari pembuatan talud dinding sungai kecil ini adalah matinya
ekosistem sungai secara total. Berbagai jenis plankton, mikroorganisme air, biota
air, amphibi dan seluruh vegetasi tebing sungai mengalami kepunahan masal.
Seluruh amphibi sungai misalnya punch karena mereka tidak bisa naik dan turun ke
sungai lagi, sebagian besar ikon, kepiting, udang dan kerang punch karena
habitatnya berubah total. Dalam ilmu ekologi, kepunahan satu mata rantai utama
suatu ekosistem pasti berakibat kematian seluruh pendukung ekosistem lainnya.
Dengan hancurnya ekologi sungai kecil ini, maka sungai tidak mampu lagi untuk
menguraikan limbah yang ada. Sisasisa bahan organik sama sekali tidak dapat
diuraikan dan akan tetap membusuk dan tertahan di sungai tersebut. Inilah
penyebab utama kenapa sungai kecil di kota dan terutama yang telah dibeton atau

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 45

Apresiasi Inovasi
ditalud justru mengalami kehancuran total menjadi saluran comberan hitam dan
berbau.
Akibat yang sama, yaitu kekeringan di musim kemarau, banjir di musim
hujan dan rusaknya lingkungan, juga akan terjadi jika aktivitas pengurugan sungai
kecil, penyimpitan tampang sungai kecil, penjarahan bantaran sungai kecil dan
aktivtas lain yang tidak didasari dengan konsep kelestarian ekologishidraulis
dilakukan terus-menerus.

E.4.4.4

Solusi Revitalisasi Sungai Kecil

Dengan kondisi sungai kecil di kota dan daerah pinggiran diseluruh Indonesia yang
sudah hancur ini, tidak ada upaya lain yang lebih penting untuk dilakukan kecuali
memperbaiki kembali kondisi ekologi dan hidrologi sungai kecil tersebut. Perlu
dikembangkan talud ramah lingkungan yang mampu menahan erosi dan longsoran
tebing namun sekaligus tidak merusak ekosistem pinggir sungai. Mengadakan
pelarangan terhadap pengurugan, penyempitan dan penutupan total alur sungai
kecil. Sesegera mungkin menetapkan daerah bantaran sungai kecil yang tidak boleh
dieksploatasi. Memperbaiki kondisi ekologi-hidraulik sungai kecil berarti juga
memperbaiki kondisi DAS secara keseluruhan. Perhatian pemerintah yang selama
ini hanya ditujukkan ke sungai-sungai besar saja perlu dikoreksi secara substansial.
Harus disediakan dana cukup untuk mengelola sungai kecil perkotaan dan
pinggiran, mengembalikannya lagi ke fungsi vitalnya sebagai komponen tata air
utama dari suatu kawasan. Memberdayakan masyarakat dan meningkatkan
perannya dalam pengelolaan sungai kecil dengan berwawasan lingkungan.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 46

Apresiasi Inovasi

E.4.5

Implementasi Penentuan Batas Wilayah Sungai

Gambar E. 39 Wilayah Sungai (Daerah memanjang jari-jari sungai dari hilir


hingga hulu selebar lebar sempadan sungai)
Wilayah sungai pada dasarnya adalah wilayah yang berbatasan langsung
dengan sungai beserta komponen-komponen yang terkait langsung dengan sungai.
Secara lateral (memanjang) wilayah sungai adalah seluruh wilayah yang dilewati
alur sungai selabar daerah sempadan sungai. Secara melintang wilayah sungai
adalah daerah sempadan sungai yang terdiri dari seluruh daerah yang pada waktu
banjir maksimal di tergenang air (bantaran banjir), ditambah daerah tebing sungai
dan longsoran serta daerah ekologi penyangga ekosistem sungai. Wilayah sungai
dapat digambarkan seperti pada Gambar E.39 di atas.
Dalam penentuan wilayah sungai, yang paling penting adalah bagaimana
menentukan lebar bantaran sungai. Penentuan lebar bantaran ini sangat penting

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 47

Apresiasi Inovasi
kaitannya dengan penetapan batas dimana bangunan fisik tidak boleh dibangun di
dalam batas tersebut.
Hal ini mengakibatkan tidak tegasnya aparat dan pemerintah daerah tidak
bisa secara tegas menentukan lebar bantaran sungai. Kerancuan ini berakibat
kebingungan

para

penduduk

sejauh

mans

mereka

masih

bisa

mendirikan

bangunannya di tepi sungai. Sehingga sekarang ini banyak masyarakat yang


membangun rumahnya di pinggir sungai dengan alasan tidak ado ketentuan yang
jelas lebar bantaran sungai yang harus dibebaskan dari bangunan permanen atau
semi permanen. Di bawah ini ilustrasi pembangunan perumahan di tepi sungai
dewasa ini marak dkerjakan di Indonesia.

Gambar E. 40 Kecenderungan Pembangunan Perumahan di bantaran


Sungai

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 48

Apresiasi Inovasi

Gambar E. 41 Tipe umum sungai dan penentuan lebar daerah bantaran


sungai
Gambar E.41 menunjukkan 3 buah tipe sungai, yaitu tipe A adalah sungai
dengan bantaran banjir (flood plain) sempit terutama ditemukan pada sungai di
daerah tengah (midstream) sampai memasuki daerah hilir (downstream), Tipe B
adalah sungai dengan bantaran banjir lebar terutama ditemukan di daerah tengah
bagian akhir sampai hilir; sedang Tipe C merupakan sungai tanpa bantaran banjir

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 49

Apresiasi Inovasi
atau tebing sungai cukup terjal pada umumnya ditemukan di daerah hulu
(upstream) sampai masuk ke daerah tengah.
Pada dasarnya penentuan lebar bantaran sungai harus didasarkan pada peta
kontur

geografis

morphologis

(geo-morpho) sungai,

tinggi

muka air

banjir

maksimum dan garis sliding (longsoran). Sehingga lebar bantaran untuk sepanjang
sungai sebenarnya tidak bisa diambil secara seragam. Demikian juga lebar
bantaran

sungai

satu

dengan

yang

lain.

Lebar

bantaran

secara

ekologis,

geomorphologis dan hidraulis ditentukan sebagai berikut:


a. Untuk sungai tipe A dan B (dengan bantaran banjir, pada umumnya sungai
di bagian hilir dan tengah); lebar bantarannya adalah selebar muka air
pada waktu banjir maksimal yang melimpah ke kedua sisi sungai. Jika
secara geomorphologis masih ada tebing setelah batas muka air banjir
maksimal

ini,

maka

lebar

bantaran

harus

ditambahkan

lebar

kemungkinan sliding (longsoran tebing).


b. Untuk sungai tipe C (tanpa bantaran banjir, pada umumnya sungai di bagian
hulu/pegunungan). Lebar bantaran adalah diukur dari batas akhir tebing
bagian atas ditambah dengan lebar kemungkinan sliding (longsoran).
Lebar bantaran tersebut merupakan lebar minimal secara teknis. Untuk
menentukan lebar sempadan sungai perlu dipertimbangkan/ditambahkan lebar
ekologi penyangga dan lebar keamanan sungai. Lebar ekologi penyangga adalah
lebar daerah sempadan sungai di luar daerah bantaran banjir dan bantaran longsor
yang secara ekologi masih punya keterkaitan dengan ekologi sungai yang
bersangkutan.

Untuk

menentukan

lebar

ekologi

penyangga

perlu

dilakukan

penelitian flora dan fauna pinggir sungai. Lebar ekologi tidak dapat dibuat seragam
untuk setiap sungai atau untuk satu sungai dari hulu sampai hilir, perlu diadakan
pembagian zone hulu tengah dan hilir.
Secara teknis lebar keamanan sungai ini diambil sesuai dengan tingkat
resiko banjir. Di daerah dengan padat penduduk lebar keamanan lebih besardari
pada di daerah jarang penduduknya. Namun secara sosial justru berkebalikan.
Karena desakan pemukiman di daerah padat justru para umumnya sulit diterapkan
lebar keamanan sungai yang lebih besar dari pada di daerah tanpa penghuni. Untuk
menentukan lebar keamanan perlu kebijakan yang memasukkan pertimbangan
soisal, ekonomi dan geografi setempat.
Berdasarkan uraian tersebut di atas maka dapat dirangkum bahwa lebar
sempadan sungai terdiri dari lebar bantaran banjir (flood plain), lebar bantaran
longsor (sliding zone), lebar bantaran ekologi penyangga (ecological buffer zone)
Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 50

Apresiasi Inovasi
dan lebar kemanan (safety zone). Berikut ini disajikan lebar sempadan sungai yang
dikembangkan dari konsep eko-hidraulik.

Gambar E. 42 Lebar sempadan sungai dengan pendekatan konsep ekohidraulik

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 51

Apresiasi Inovasi

E.4.6

Implementasi Konsep ORPIM (One River One Plan


One Integrated Management)

E.4.6.1

Konsep Integralistik Dalam ORPIM

Gambar E. 43 Kesatuan sungai dalam menejemen (ORPIM) termasuk


kesatuan dalam pengelolaan DAS.
Resep penanganan sungai tidak bisa dilakukan secara partial, sepotongsepotong. Penyelesaian harus secara integral, jika tidak maka hanya gali lubang
tutup lobang, artinya penanganan sungai malahan dapat menimbulkan masalah
sungai baru. Dalam penanganan banjir misalnya, balk penanganan banjir jangka
pendek, menengah dan panjang diperlukan implementasi konsep One river one
plan and one integrated management, ORPIM (satu sungai satu perencanaan dan
satu menejemen dari hulu sampai hilir). Artinya bahwa dalam menangani segala
masalah yang berkaitan dengan sungai atau wilayah keairan baik masalah banjir,
masalah pencemaran lingkungan dan kualitas air, masalah pemanfaatan sumber
daya air untuk irigasi, listrik, air minum dan pengembangan sungai untuk wisata,
harus direncanakan dan ditangani secara integral dari daerah di hulu sampai di
hilirsungai secara bersama-sama.
Cara

integral

juga

dimaksudkan

dengan

mengikut

sertakan

seluruh

komponen yang terkait dengan sungai atau wilayah keairan tersebut dari hulu
sampai ke hilir dengan mengelola segala aspek yang berpengaruh, baik aspek

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 52

Apresiasi Inovasi
sosial budaya, kelembagaan, ekologi, hidrologi, hidraulika, kualitas air, geologi,
geografi, maupun rencana tats ruang dll. Dalam konsep ini berlaku sistem sharing
dana dan tanggung jawab antara hulu tengah dan hilir.

E.4.6.2

Penanganan Wilayah Sungai

Untuk penanganan wilayah sungai jangka panjang, di samping solusi teknis


dan ekologis juga perlu solusi sosial budaya. Konsep solusi teknis adalah dengan
mengembangkan sistem peringatan dini dengan mengkonversikan data hujan ke
debit banjir di sungai di bagian tengah dan hilir. Konsep solusi ekologis dengan
meningkatkan fungsi retensi ekologis (Eko-hidraulis) disepanjang alur sungai dari
hulu hingga hilir untuk redaman banjir. Menahan air di bagian hulu dan hilir.
Membagi air kelebihan (banjir) di sepanjang alur sungai dari hulu sampai hilir
menjadi banjir kecil-kecil (flood distributions concept) dari pada terkumpul banjir
besar di suatu tempat tertentu. Secara berkala membebaskan daerah bantaran
sungai dari hunian atau konstruksi lain (re-naturalisation). Menerapkan konsep
drainasi baru (free flood drainage concept) untuk bagian tengah dan hulu yaitu
upaya membuang air kelebihan selambat-lambatnya ke sungai dengan syarat tidak
menimbulkan masalah kesehatan lingkungan. Membuat sistem monitoring dan
perencanaan integral dari hulu sampai hilir terhadap segala kegiatan yang dapat
menyebabkan banjir (holistic concept). Sehingga setiap kegiatan yang akan
dilakukan misal pendirian lapangan Golf, pusat industri dll. Harus dianalisis
banjir yang akan ditimbulkannya. Dari aspek sosial perlu diadakan kampanye
pembelajaran sosial penanggulangan banjir masal dengan sasaran masyarakat lugs
dengan melibatkan ahli-ahli sosial dan antropologi sehingga tercipta kesadaran
masal masyarakat.

E.4.7

Konsep Eko-Hidraulik dalam Penanggulangan Banjir


Penanganan banjir, nampaknya tidak bisa diselesaikan dengan mertode-

metode konvensional lagi. Metode konvensional penyelesaian banjir yang sering


dipakai di Indonesia adalah dengan membuat sudetan sungai, normalisasi sungai,
pembuatan tanggul, pembuatan talud dan segala macam konstruksi sipil keras
konvensional lainnya. Kiranya para ahli banjir dan dings terkait harus berfikir keras
untuk lebih konverhensif dalam penyelesaian banjir ini dan tidak terfokus dengan
metode konvensional di atas, sehingga secara berkelanjutan banjirdapatdikurangi
atau dihindarkan.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 53

Apresiasi Inovasi

E.4.7.1

Konsep Eko-Hidraulik (Eco-hydraulics) dan Konsep Hidraulik


Murni (Convensiona/ Hidraulic)

Metode penyelesaian banjir yang ingin diketengahkan disini adalah metode


ecological hydraulics (Eko-hidraulik). Konsep Eko-hidraulik dalam penyelesaian
banjir sangat berbeda dengan konsep konvensional atau cara hidraulik murni yang
disebutkan di atas. Konsep Eko-hidraulik dalam penyelesaian banjir bertitik tolak
pada penanganan penyebab banjir secara integral, sedang konsep konvensional
hidraulik murni bertitik tolak pada penanganan secara lokal akibat dari banjir.

Gambar E. 44 Ilustrasi ideal penanggulangan banjir dengan konsep ekohidraulik (FAO & Prinz, 1999)
Konsep Eko-Hidraulik memasukkan dan mengembangkan unsur ekologi
atau lingkungan dalam penyelesaian banjir, sementara konsep hidraulik murni
justru merusak dan menghancurkan lingkungan dalam menyelesaikan banjir.
Konsep hidraulik murni melihat banjir sebagai bukti munculnya daya rusak air
yang hebat, sementara Eko-Hidraulik melihat fenomena banjir bukan sebagai
munculnya daya rusak air, namun banjir diartikan sebagai akibat kerusakan
lingkungan sehingga daya retensi lingkungan terhadap banjir hilang. Dalam
konsep Eko-hidraulik tidak dikenal istilah daya rusak air untuk memberi julukan
banjir. Namun dikenal dengan rusaknya retensi lingkungan atau daya dukung
Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 54

Apresiasi Inovasi
lingkungan yang berakibat sering munculnya debit sungai yang ekstrim atau
banjir. Gambar E.44 menunjukkan konsep Eko-hidraulik komprehensif dalam
menanggulangi banjiratau mengelola DAS.

E.4.7.2

Dampak

Penanganan

Banjir

dengan

Konsep

Hidraulik

Murni
Penyelesaian dengan konsep konvensional yaitu dengan sudetan, pelurusan,
pembuatan tanggul, perkerasan tebing (taludisasi), normalisasi, pembabatan
vegetasi bantaran dll. telah diakui oleh sebagian besar ahli hidro di dunia baik di
Amerika, Jepang, Australia, dan Eropa dan juga di Indonesia justru akan
menciptakan bahaya banjiryang lebih besardan frekuensi banjiryang lebih sering.
Disamping itu cara ini menyebabkan kerusakan yang sangat serius dan dasyat bagi
ekologi sungai secara keseluruhan, sehingga fungsi hidraulik dan ekologi sungaiya
hancur. Pelurusan, sudetan dan tanggul misalnya akan menyebebakan terjadinya
tendensi banjir di hilir lebih tinggi dan menurunkan tingkat retensi di sepanjang
sungai sehingga konservasi air akan menurun drastis. Kekeringan akan lebih
intensif karena membangun pelurusan, tanggul dan sudetan berarti pengatusan air
secepatnya ke hilir, sehingga air tidak berkesempatan meresap ke tanah. Tata air
disepanjang sungai yang dilurusakan, disudet atau ditanggul akan rusak total.
Bekas-bekas sungai atau sungai lama yang terpotong (oxbow) akan menimbulkan
masalah baru, misalnya sebagai sarang nyamuk dan lambat laun menjadi dangkal.
Biasanya masayarakat akan menyerang daerah oxbow ini untuk dijadikan daerah
hunian atau pertanian, karena derah ini biasanya merupakan daerah tak bertuan.
Banjir dapat mengancam lagi di daerah oxbow ini, karena di daerah oxbow praktis
tidak ada air yang mengalir keluar. Sementara sudetan di daerah hilir (wilayah
pantai) telah menyebabkan terjadinya instabilitas garis pantai. Daerah muara
sungai lama akan terjadi abrasi besar-besaran dan daerah muara sudetan baru
akan terbentuk reklamasi yang cepat (contoh konkret adalah masalah abrasi di
pantai utara Jawa missal di daerah Cirebon). Dampak negatif metode konvensional
hidraulik murni ini kiranya sudah sangat jelas dan mudah dicerna oleh masyarakat
awam sekalipun (baca buku Eko-Hidraulik Pengembangaan Sungai, Maryono, 2002
dan Buku Konsep Penanggulangan Banjir dan Kekeringan Untuk Masyarakat Luas,
Maryono 2003).

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 55

Apresiasi Inovasi

E.4.7.3

Pendekatan Program Penyelesaian Banjir dengan Konsep EkoHidraulik

Di Jerman dan beberapa negara Eropa lainnya serta Jepang, sudah


meninggalkan konsep kuno hidraulik murni ini, dan memulai era baru yaitu
ecological hydraulic. Konsep ecological hydraulic (Eko-Hidraulik) yang dimulai tahun
80-an, dewasa ini di Eropa, Amerika dan Jepang dan sudah sampai tahap
implementasi yaitu dengan banyaknya proyek-proyek renaturalisasi atau restorasi
sungai. Program renaturalisasi diantaranya adalah dengan membelokbelokkan lagi
sungai yang dulunya telah diluruskan; mengganti usulan pelurusan, sudetan,
tanggul dan pembuatan talud sungai dengan proyek reboisasi dan renaturalisasi
sempadan sungai; menghidupkan oxbow sungai lama dengan membuka tanggul
pelurusan yang membatasinya, memelihara kealamiahan sungai-sungai menengah
dan kecil dan mengkonservasi sungaisungai besar yang masih alami, mengganti
talutisasi sungai dengan membebaskan areal sempadan sungai untuk konservasi;
dan masih banyak lagi metode lainnya. Sementara itu, sangat ironis sekali kita di
Indonesia justru sedang ramai-ramainya menyudet, meluruskan, menanggul dan
membeton dinding sungai secara besar-besaran (contoh konkrit Bengawan Solo,
Citandui, Cimeneng, Citarum, Brantas, Code dan masih banyak lagi.).

E.4.7.4

Program Penanggulangan Banjir Dengan Konsep EkoHidraulik

Dalam penanggulangan banjir dengan konsep eko-hidraulik dikenal kunci


pokok penyelesaian banjir, yaitu bahwa Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Wilayah
Sungai (WS), Sempadan Sungai (SS) dan Badan Sungai (BS) harus dipandang
sebagai

kesatuan

sistem

dan

ekosistem

ekologi-hidraulik

yang

integral.

Penyelesaian banjir harus dilakukan secara konverhensif dengan metode menahan


atau meretensi air di DAS bagian hulu, tengah dan hilir; serta menahan air di
sepanjang wilayah sungai, sempadan sungai dan badan sungai di bagian hulu
tengah dan hilir. Jadi dalam konsep dasar penaggulangan banjir eko-hidraulik
adalah dengan meretensi air dari hulu hingga hilir secara merata. Cara ini sekaligus
merupakan cara menanggulangi kekeringan suatu kawasan atau DAS, karena
sebenarnya banjir dan kekeringan ini merupakan kejadian yang saling-susul dan
saling memperparah. Dalam menahan air ini diberlakukan konsep keseimbangan
alamiah, dalam arti mengacu pada kondisi kharakteristik alamiah sebelumnya.
Penanganan banjir dengan konsep ekologi-hidraulik secara konkrit dimulai
dari:
1. DAS

bagian

hulu

dengan

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

reboisasi

atau

konservasi

hutan

untuk
E - 56

Apresiasi Inovasi
meningkatkan retensi dan tangkapan di hulu. Selanjutnya reboisasi juga
mengarah ke DAS bagian tengah dan hilir. Secara selektif membangun atau
mengaktifkan

situ

atau

embung-embung

alamiah

di

DAS

yang

bersangkutan.
2. Penataan tataguna lahan yang meminimalisir limpasan langsung dan
mempertinggi retensi dan konservasi air di DAS.
3. Di sepanjang wilayah sungai serta sempadan sungai, tidak perlu diadakan
pelurusan dan sudetan atau pembuatan tanggul, karena caracara ini
bertentangan dengan kunci utama retensi banjir.
4. Sungai

yang

bermeander

justru

di

dipertahankan

sehingga

dapat

menyumbangkan retensi, mengurangi erosi dan meningkatkan konservasi.


5. Komponen retensi alamiah di wilayah sungai, di sepanjang sempadan
sungai dan badan sungai justru ditingkatkan, dengan cara menanami atau
merenaturalisasi kebali sempadan sungai yang telah rusak.
6. Erosi tebing-tebing sungai harus ditangani dengan teknologi EcoEngineeringdengan menggunakan vegetasi setempat.
7. Memfungsikan daerah genangan atau polder alamiah disepanjang sempadan
sungai dari hulu sampai hilir untuk menampung air.
8. Mencari

berbagai

alternatif

untuk

mengembangkan

kolam

konservasi

alamiah disepanjang sungai atau di lokasi-lokasi yang memungkinkan baik di


perkotaan-hunian atau di luar perkotaan. Genangan-genangan alamiah ini
berfungsi meretensi banjir tanpa menyebabkan banjir lokal karena banjir
dibagi-bagi di DAS dan disepanjang wilayah, sempadan dan badan sungai.
9. Konsep drainasi konvensional yang mengalirkan air buangan secepatcepatnya ke hilir perlu direvisi dengan mengalirkan secara alamiah (lambat)
ke hilir, sehingga waktu untuk konservasi air cukup memadahi dan tidak
menimbulkan banjirdi hilir.
10.

Disamping
pendekatan

solusi

eko-hidro-teknis

sosio-hidraulik

sebagai

tersebut,
bagian

sangat

dari

diperlukan

eko-hidraulik

juga

dengan

meningkatkan kesadaran masyarakat secara terus menerus akan peran


mereka dalam ikut mengatasi banjir.

E.4.7.5

Implementasi Konsep Ekohidraulik

Melihat kejadian baniir, kekeringan dan longsor yang bertubi-tubi akhirakhir


ini, maka perlu sesegara mungkin mengimplementasikan konsep ekohidraulik

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 57

Apresiasi Inovasi
dalam penanggulangan banjir di Indanesai ini. Pemerintah dan pemerintah daerah
perlu sesegara mengadopsi metode Eko-Hidraulik ini guna membuat masterplan
penanggulangan

banjir

sekaligus

untuk

mengkonservasi

lingkungan.

Penanggulangan banjir dengan cara Eko-Hidraulik secara ekonomi sangat jauh Iebih
murah dibandingkan dengan metode penggulangan banjir konvensional. Apalagi
jika dihitung dampak positif konsep Eko-hidraulik dalam meningkatkan kualitas
lingkungan dan suatainabilitas hasil pembangunannya.

E.4.8

Restorasi Sungai di Indonesia

Masalah restorasi sungai (disebut juga renaturalisasi atau revitalisasi sungai)


di Indonesia sampai penghujung tahun 2002 belum banyak ditertariki. Karena ide
ini masih dianggap mengada-ada, sementara usaha pembangunan sungai dengan
konsep hidraulik murni yang distruktif sedang gencar berjalan. Ide renaturalisasi
sungai dimaksudkan untuk memberi gambaran ke depan tentang pengulangan
sejarah pembangunan sungai di Eropa oleh para insinyur sungai di Indonesia.
Sehingga kesadaran

kehati-hatian akan tumbuh

dalam pengelolaan sungai,

sehingga restorasinya dikemudian hari tidak diperlukan lagi.


Renaturalisasi di beberapa negara seperti Jerman dan Jepang dilakukan
secara selektif, dalam anti lokas sungai yang akan direnaturalisasi atau restorasi
dipilih dengan pertimbangan hidraulis dan ekologis. Renturaisasi tidak dilkaukan
secara serentak disepanjang sungai misalnya.
Sungai Bengawan Solo dan sungai Citarum misalnya, bisa direnaturalisasi
dengan membuka kembali beberapa tangul Oxbow hasil sudetan. Ekosistem
kawasan Oxbow akan hidup kembali dan konservasi air meningkat. Demikian juga
sungai-sungai kecil di berbagai kota dan pinggiran kota yang sudah ditalud tanpa
alasan kuat, dapat direnaturalisasi secara selektif dengan membongkat talud yang
ada dan menanami bantaran bekas talud tersebut dengan vegetasi setempat yang
cocok. Pulau-pulau buatan dapat diinisiasi pada sungai-sungai kecil dan menengah
di daerah pinggiran kota. Pembangunan pulau-pulau ini akan meningkatkan
deversivikasi
konservasi.

ekologi

sekaligus

Meandering

sungai

meningkatkan
dapat

retensi

hidraulis

dikembalikan

dengan

sungai

dan

menginisiasi

terbentuknya meander. Struktur untuk menginisiasi dapat dipilih vegetatif atau


gabungan bronjong batu dan vegetasi. Sehingga secara dinamis sungai akan
berubah berkelok-kelok lagis sesuai dengan kondisi awalnya.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 58

Apresiasi Inovasi

Gambar E. 45 Ilustrasi renaturalisasi sungai yang telah dibangun.


Renaturalisasi dilaksanakan secara selektif dengan pertimbangan hidraulik
dan ekologis dan sosial.Untuk sungai-sungai yang bermuara di dataran rendah
seperti

Jakarta

dan

Semarang,

dapat

direnaturalisasi

dengan

memperlebar

bantaran sungai di bagian hulu. Pelebaran sungai ini akan berfungsi sebagai kolam
retensi hulu ketika terjadi banjir, sehingga banjir ditahan di hulu dan dilepaskan
secara perlahan ke hilir.
Cara analisis Eko-hidraulis diatas kedepan menjadi salah satu analisis yang
paling komprehensif, yang akan dipakai pada setiap penyelesaian masalah keairan.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 59

Apresiasi Inovasi

E.5.

PEMANFAATAN FOTO UDARA, FOTOGRAMTERI


DAN

INTERPRETASI

FOTO

UDARA

DALAMSALURAN DRAINASE
Perencanaan pengaman terhadap banjir disebut juga perencanaan pengendalian
banjir yang akan digunakan sebagai landasan yang penting dalam menetapkan
berbagai

pekerjaan

sipil

yang

harus

dilaksanakan

dalam

rangka

usaha

pengamanan banjir secara umum dapat dibagi menjadi :


1.

Pembangunan sistem pengamanan dan pengembalian banjir

2.

Pekerjaan non-sipil

Pekerjaan sipil adalah usaha pencegahan bahaya banjir dengan suatu sistem
pengamanan banjir yang terdiri dari tanggul, normalisasi alur sungai termasuk
sudetan dan lain-lain dan dengan suatu sistem pengendalian banjir yang terdiri
dari retarding basin, waduk pengendalian banjir dan lain-lain. Kadang-kadang
kedua sistem tersebut digabung menjadi satu kesatuan. Sebaliknya pekerjaan nonsipil adalah usaha pencegahan banjir dengan pengaturan-pengaturan yang
dilandasi undang-undang, guna mengurangi tingkat kerugian yang mungkin
terjadi, apabila terjadi banjir, antara lain pengaturan penggunaan tanah di daerah
bantaran sungai, mendirikan bangunan yang tahan terhadap genangan air,
asuransi banjir dan kegiatan pengamanan terhadap kemungkinan adanya bencana
banjir.
Proses verifikasi sebagai tindak lanjut suatu pengaduan dugaan kondisi lingkungan
adalah serangkaian kegiatan yang meliputi pemeriksaan kebenaran pengaduan dan
sejumlah penelitian yang bersifat teknis.
Jenis informasi yang dapat diperoleh dari foto udara yakni :

Informasi kualitatif, antara lain yang berkaitan dengan obyek apa yang ada
di bawah, bagaimana bentuknya, apa warnanya dan apa kegunaannya.

Informasi kuantitatif, antara lain ukuran obyek, beberapa jumlahnya,


dimana (lokasi spasial)

Dari butir verifikasi aspek lingkungan di atas beberapa diantaranya dapat dikaitkan
dengan pemanfaatan foto udara, fotogrametri dan inderaja, baik secara langsung
maupun sebagai alat bantu dari kegiatan forensik lingkungan lainnya. Penelitian
sumber banjir, tingkat pencemaran/ perusakan lingkungan, jenis dan besar

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 60

Apresiasi Inovasi
kerugian, antara lain dapat dikaitkan dengan lokasi geografi (X,Y), jarak, batas
(Xi,Yi), volume, luas, volume, pola drainase. dlsb.

E.5.1 Foto Udara


Foto udara merupakan sumber data/ informasi yang digunakan dalam
teknik Fotogrametri dan Interpretasi Foto. Suatu dugaan pencemaran dan
atau perusakan lingkungan bersumber dari adanya pengaduan. Indikasi
awal dari pencemaran dan atau perusakan lingkungan dapat secara jelas
diperoleh dari foto udara dan atau citra satelit.
Ini merupakan salah satu proses awal suatu kegiatan forensik lingkungan.
Namun demikian penggunaan foto perlu memperhatikan beberapa hal
seperti di bawah ini :
1. dokumentasi yang berkaitan dengan sumber perolehan, tanggal
pengambilan dan skala terkadang tidak pasti.
2. adanya kemungkinan efek dari pengaturan kecerahan (brightness
contrast, hue saturasi)
3. adanya kemungkinan upaya penghilangan informasi yang penting
(critical) dengan cara cropping
4. adanya jenis efek-efek/ distorsi pada foto udara sehingga untuk
kebutuhan informasi yang teliti diperlukan proses (fotogrametri)
5. hal non teknis adalah kemungkinan belum adanya izin pemotretan.
Foto udara merupakan rekaman dari permukaan bumi berdasarkan
proyeksi sentral sedang peta adalah proyeksi orthogonal. Pada saat
pemotretan pesawat terbang tidak mendatar (meskipun kemiringannya
kecil) sehingga foto yang dihasilkan akan mempunyai efek-efek distorsi
baik bentuk geometri maupun skala. Pengaruh relief topografi, proyeksi
sentral akan memperbesar efek distorsi. Demikian pula dengan ketinggian
terbang yang tidak diketahui secara teliti mengakibatkan skala yang tidak
pasti.
Selain efek geometri foto udara di hinggapi pula dengan efek radiometri
seperti gambar yang tidak kontras, terlalu gelap, terlalu terang, kabur dlsb.
Efek-efek geometri maupun radiometri pada foto udara dapat menyulitkan
upaya pengenalan obyek/ feomena melalui teknik interpretasi. Bahkan
dapat menimbulkan kesalahan interpretasi.
Bila untuk kegiatan analisis dalam forensik lingkungan tetap diperlukan
foto udara/ citra satelit maka efek-efek tersebut harus dikoreksi terlebih
Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 61

Apresiasi Inovasi
dahulu antara lain melalui proses fotogrametri harus dilakukan. Hal-hal di
atas sebenarnya dapat diatasi sejauh peneliti dibekali dengan pengetahuan
yang cukup tentang karakteristik dan proses untuk mendapatkan informasi
yang handal serta relevan dari suatu foto udara.
Skala dan Resolusi.
Skala adalah perbandingan antara ukuran obyek di foto atau peta dengan
ukurannya di tanah. Skala 1 : 1000 artinya satu sentimeter di peta atau
foto sama dengan 1000 cm di tanah atau 10 meter. Untuk interpretasi foto
biasanya digunakan foto perbesaran atau enlarged photo. Pada skala foto
perbesaran inilah interpreter foto mencoba mengenali obyek/ fenomena.
Pada citra fotografis, kemampuan perbesaran foto tergantung dari ukuran
butiran perak bromida film negatif yang digunakan. Sedang pada citra
digital tergantung dari jumlah dan ukuran cell CCD (coupled charged
device) atau pixel (picture element) dari kamera digital yang digunakan.
Ukuran pixel pada CCD hanya beberapa micron saja.

E.5.2 Interpretasi Citra Foto/Satelit


Informasi kualitatif dari suatu obyek atau fenomena dapat diperoleh
melalui teknik interpretasi foto. Melalui teknik interpretasi foto udara
tahapan kajian yang dapat dilakukan adalah :
(1) deteksi : mengenali obyek apa, misalnya sungai, bangunan, jalan, alur
air, dsb.;
(2) identifikasi : jenis obyek, contoh bila bangunan, maka bangunan apa ;
(3) kuantifikasi : berapa banyak,
(4) pengukuran awal : berapa perkiraan panjang/ luas.
Informasi tentang ukuran awal disini adalah bahwa ukuran yang diperoleh
langsung dari foto udara relatif kasar, sedang untuk ukuran yang teliti
selanjutnya dapat diperoleh melalui proses fotogrametri.
Untuk

pengenalan

obyek/

fenomena

interpretasi

foto

menggunakan

beberapa kunci antara lain :


Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 62

Apresiasi Inovasi
1. Derajat kehitaman (tone) dan warna (color), merupakan elemen
dasar yang paling utama dan yang secara langsung digunakan.
2. Ukuran (size), merupakan elemen dasar yang banyak digunakan dalam
membedakan dua jenis obyek dengan kenampakan yang sama, namun
jenis yang berbeda.
3. Bentuk (shape), bentuk juga merupakan elemen dasar utama dalam
pengenalan obyek.
4. Tinggi (height), tinggi merupakan informasi yang tidak kalah pentingnya
setelah tone. Untuk membedakan dua obyek kadang kala dibutuhkan
informasi tinggi bila kunci lainnya kurang pasti.
5. Bayangan (shadow), untuk mengenali jenis suatu obyek dari foto
khususnya sekitar titik utama kadang perlu dibantuan bayangan spesifik
dari obyek tersebut.
6. Derajat kehalusan (texture), kadang diperlukan dalam membedakan
berbagai jenis kebun dengan melihat derajat kehalusan dari kenampakan
pohon-pohon dari kebun tersebut.
7. Pola (pattern), sebagai mana dengan derajat kehalusan, pengenalan
jenis kumpulan obyek dalam suatu area dapat pula dilihat dari polanya.
8. Tempat (site), kunci ini biasanya dikombinasikan dengan penggunaan
kinci lain. Obyek dapat dikenali dari tempat atau lokasinya.
9. Keterkaitan (association), pengenalan obyek dapat pula dikenali dari
keterkaitannya dengan unsur atau fenomena tertentu.

E.5.3 Fotogrametri
Fotogrametri dapat didefinisikan sebagai suatu seni, pengetahuan dan
teknologi untuk memperoleh informasi yang dapat dipercaya tentang suatu
obyek

fisik

dan

keadaan

disekitarnya

melalui

proses

perekaman,

pengamatan/ pengukuran dan interpretasi citra fotografis atau rekaman


gambar gelombang elektromagnetik. Pada bab sebelumya telah diuraikan
bahwa foto udara hasil pemotretan masih dihinggapi efek-efek geometri
maupun radiometri. Untuk mendapatkan informasi metrik yang teliti dari
foto udara seperti lokasi spasial (X,Y,Z), ukuran panjang, luas, elevasi/
ketinggian, dan volume diperoleh melalui proses restitusi fotogrametri.
Untuk ketelitian planimetrik dapat dicapai sampai dengan beberapa
sentimeter sedang untuk tinggi sampai dengan beberapa desimeter
tergantung dari skala foto udara yang digunakan.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 63

Apresiasi Inovasi
Produk-produk informasi yang dapat diperoleh dari foto udara melalui
proses fotogrametri antara lain :

E.5.3.1

Plotting garis 3D (Peta Garis)

Plotting garis 3D dimaksudkan untuk membuat peta garis (planimetris dan


kontur).

Ploting

dilakukan

dengan

menggunakan

sistem

softcopy

photogrammetry (SoCoPH). Data yang dihasilkan berupa vektor data 3D


(x,y,z) untuk selanjutnya dilakukan proses kartografi (pengahalusan,
simbol,Text, pembuatan muka peta), menghasilkan peta garis digital.

Gambar E. 46 Peta garis digital.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 64

Apresiasi Inovasi

E.5.3.2

Digital Terrain Model

Digital terrain model adalah suatu bentuk model permukaan bumi dalam
data digital berupa grid-grid (beraturan, tidak beraturan), diaman setiap
titik grid mempunyai data posisi dan ketinggian (x,y,z). Data DTM ini
diperlukan untuk proses pembuatan peta orthophoto. Data DTM diperoleh
dari hasil digitasi kontur dan sample DTM berupa titik-titik spot height
dengan kerapatan yang mencukupi sesuai dengan bentuk permukaan /
topografi. Data ini kemudian diolah dan dibentuk menjadi grid-grid dengan
ukuran grid yang cukup baik.

E.5.3.3

Orthopoto

Orthophoto

adalah

bentuk

penyajian

gambar

obyek

pada

posisi

orthographik yang benar. Secara geometrik ekuivalen terhadap peta garis


konvensional dan peta simbol planimetrik yang juga menyajikan posisi
ortografik yang benar. Beda utama antara ortophoto dengan peta yaitu
ortophoto terbentuk oleh gambar kenampakan foto, sedangkan peta
menggunakan garis dan simbol untuk menggambarkan sesuai dengan
skala untuk mencerminkan kenampakan. Orthophoto dibuat berdasarkan
foto perspektif melalui proses rektifikasi differensial, yang meniadakan
pergeseran letak gambar yang diakibatkan oleh kesedengan foto dan
pergeseran relief.
Orthophoto adalah suatu jenis foto yang telah diproses yang mempunyai
ciri-ciri yaitu skala foto sudah benar dan kemiringan foto sudah terkoreksi.
Dengan demikian orthophoto sudah mempunyai sifat sebagai peta. Proses
orthofoto dilakukan dengan cara memproyeksikan objek pada foto/model
yang sudah teroreintasi secara orthogonal dengan bantuan data DTM. Pada
proses ini dipilih daerah yang tidak mengalami dampak pergeseran relief
yang besar, umumnya pada daerah tengah foto.

E.5.3.4

Mozaiking

Proses mozaiking adalah suatu proses untuk menyambungkan satu foto


Orthofoto dengan lainnya, membentuk suatu gambar peta yang utuh.
Selain proses penyambungan, juga dilakukan proses penyeragaman warna
(color balance) agar diperoleh warna yang rata seluruh daerah.
Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 65

Apresiasi Inovasi

Gambar E. 47 Hasil Mozaiking.

E.5.3.5

Teknik Penyajian Data (Kartografi)

Adalah suatu proses untuk menyajikan peta dalam format yang baku,
sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan. Pada proses ini, data-data hasil
survey lapangan (toponimi) dimasukan pada peta dalam bentuk simbol
atau text. Pada setiap peta juga diberikan informasi-informasi peta berupa
legenda,informasi skala, arah utara, informasi tepi dan informasi yang
berkaitan dengan pemberi pekerjaan. Sebagai hasil akhir dari proses
kartografi adalah peta (baik peta garis maupun peta foto).

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 66

Apresiasi Inovasi

Gambar E. 48 Peta Foto.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 67

Apresiasi Inovasi

Gambar E. 49 Metodologi Pemetaan Metode Fotogrametris .


Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 68

Apresiasi Inovasi

E.6.

HIDROLOGI

Gambar E. 50 Siklus Hidrologi.

E.6.1 Limpasan (Runoff)


Sebagaimana telah diuraikan dalam siklus hidrologi, bahwa air hujan yang
turun

dari

atmosfir

jika

tidak

ditangkap

oleh

vegetasi

atau

oleh

permukaan-permukaan buatan seperti atap bangunan atau limpasan edap


air lainnya, maka akan jatuh ke permukaan bumi dan sebagian akan
menguap, berinfiltrasi, atau tersimpan dalam cekungan-cekungan. Bila
kehilangan seperti cara-cara tersebut telah terpenuhi, maka sisa air hujan
akan mengalir langsung di atas permukaan tanah menuju alur aliran
terdekat. Dalam perencanaan drainase, bagian air hujan yang menjadi
perhatian adalah aliran permukaan (surface runoff),
pengendalian

banjir

tidak

hanya aliran

sedangkan untuk

permukaan,

tetapi

limpasan

(runoff). Limpasan merupakan gabungan antara aliran permukaan, aliranaliran

yang

tertunda

pada

cekungan-cekungan,

dan

aliran

bahwa

permukaan (subsurface flow).

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 69

Apresiasi Inovasi

E.6.1.1

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Limpasan

E.6.1.1.1 Faktor Meteorologi


1) Intensitas Hujan
2) Durasi hujan
3) Distribusi curah hujan
E.6.1.1.2 Karakteristik DAS
1) Luas dan bentuk DAS

Gambar E. 51 Pengaruh bentuk DAS pada aliran permukaan.


2) Topografi

Gambar E. 52 Pengaruh kerapatan parit/saluran pada hidrograf aliran


permukaan.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 70

Apresiasi Inovasi
3) Tata guna lahan
Mulai

Pembacaan Data:
Daerah, JStasiun, JTahun,
Stasiun, Lintang, Bujur, Data
Hujan
Penulisan hasi:
data hujan yang
dilengkapi

Proses perhitungan
jumlah data kosong

Pembacaan Data:
Bobot wilayah
polygon Thiessen

Penulisan Hasil:
persentase data kosong
tiap stasiun

Proses perhitungan
hujan wilayah

Proses perhitungan
jarak antar stasiun

Penulisan hasil:
hujan wilayah

Penulisan hasil:
jarak antar stasiun

Untuk tiap stasiun dan tiap bulan

Yes

Hitung hujan
wilayah lagi?

Proses sortir:
jarak terdekat thd 3 stasiun yang
mempunyai data

No

Analisis Homogenitas

Proses pengisian data


kosong

Selesai

Gambar E. 53 Bagan alir proses pengolahan data hujan menjadi hujan


wilayah.

E.6.1.2

Memperkirakan Laju Aliran Puncak

E.6.1.2.1 Metode Rasional


Metode untuk memperkirakan laju aliran permukaan puncak yang umum
dipakai adalah metode Rasional USSCS (1973). Metode ini sangat simple
dan mudah penggunaannya, namun penggunaannya terbatas untuk DASUsulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 71

Apresiasi Inovasi
DAS dengan ukuran kecil, yaitu kurang dari 300 ha (Goldman et.al., 1986).
Karena model ini merupakan model kotak hitam, akan tidak dapat
menerangkan hubungan curah hujan dan aliran permukaan dalam bentuk
hidrograf. Persamaan matematik metode Rasional dinyatakan dalam bentuk
Qp = 0,002778 CIA

(1)

di mana Qp adalah laju aliran permukaan (debit) puncak dalam m3/detik, C


adalah koefisien aliran permukaan (0 C 1), I adalah intensitas hujan
dalam mm/jam, dan A adalah luas DAS dalam hektar.
Metode rasional dikembangkan berdasarkan asumsi bahwa hujan yang
terjadi mempunyai intensitas seragam dan merata di seluruh DAS selama
paling sedikit sama dengan waktu konsentrasi (t c) DAS. Jika asumsi ini
terpenuhi, maka curah hujan dan aliran permukaan DAS tersebut dapat
digambarkan dalam grafik pada gambar E.36. Gambar E.36 menunjukkan
bahwa hujan dengan intensitas seragam dan merata seluruh DAS berdurasi
sama dengan waktu konsentrasi (tc). Jika hujan yang terjadi lamanya
kurang dari tc maka debit puncak yang terjadi lebih kecil dai Q q karena
seluruh DAS tidak dapat memberian kontribusi aliran secara bersama pada
titik kontrol (oulet). Sebaliknya, jika hujan yang terjadi lebih lama dari t c,
maka debit puncak aliran permukaan akan tetap sama dengan Qp.

Gambar E. 54 Hubungan curah hujan dengan aliran permukaan untuk


durasi hujan yang berbeda.
Waktu konsentrasi (tc).
Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 72

Apresiasi Inovasi
Waktu konsentrasi suatu DAS adalah waktu yang diperlukan oleh air hujan
yang jatuh untuk mengalir dari titik terjauh sampai ke tempat keluaran
DAS (titik kontrol) setelah tanah menjadi jenuh dan depresi-depresi kecil
terpenuhi. Dalam hal ini diasumsikan bahwa jika durasi hujan sama dengan
waktu konsentrasi, maka setiap bagian DAS secara serentak telah
menyumbangkan aliran terhadap titik kontrol. Salah satu metode untuk
memperkirakan waktu konsentrasi adalah rumus yang dikembangkan oleh
Kirpich (1940), yang dapat ditulis sebagai berikut :
0,87xL2

tc
1000xS

0.385

(2)

Dimana tc adalah waktu konsentrasi dalam jam, L panjang saluran utama


dari hulu sampai penguras dalam km, dan S kemiringan rata-rata saluran
utama dalam m/m.
Waktu konsentrasi dapat juga dihitung dengan membedakannya menjadi
permukaan lahan sampai saluran terdekat t 0 dan (2) waktu perjalanan dari
pertama masuk saluran sampai titik keluaran td, sehingga
tc= t0 + td

(3)

dimana
2
n
x3,28xLx
menit
3
S

to =

(4)

dan

td =

Ls
menit
60V

(5)

dimana
n

= angka kekasaran Manning,

= kemiringan lahan,

= panjang lintasan aliran di atas permukaan lahan (m)

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 73

Ls

Apresiasi Inovasi
= panjang lintasan aliran di dalam saluran/sungai (m),

= kecepatan aliran di dalam saluran (m/detik).

Selain rumus Kirpich, ada beberapa rumus waktu konsentrasi yang lain
yang telah dikembangkan, sebagaimana tercantum dalam Tabel E.2.
Tabel E. 2 Rumus-rumus waktu konsentrasi.

Instensitas hujan (I). Intensitas hujan untuk tc tertentu dapat dihitung


dengan rumus Mononobe atau dari lengkung Intensitas Durasi-Frekuensi
Hujan.
Diagram langkah-langkah perhitungan laju aliran dengan menggunakan
rumus Regional diperlihatkan pada Gambar E.37.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 74

Apresiasi Inovasi

PROSEDUR PEMAKAIAN RUMUS METHODA RASIONAL

DAS dengan C non


homogen

Sub DAS dengan C


homogen

Koefisien C
gabungan

Ukur luas setiap


sub DAS

Luas DAS
A

Ukur Jarak limpas


Permukaan

Kemiringan muka
tanah

Ukur jarak limpas


saluran

waktu limpas
permukaan to

Kecepatan di
dalam saluran
diperkirakan

Debit
Q = Cs.Cf.C.A.I

waktu limpas
saluran td

waktu konsentrasi
tc = to + td

Kurva Intensitas
hujan

Intensitas hujan I

Koef. retensi
Cs

Koef. frekuensi Cf

Gambar E. 55 Langkah-langkah pemakaian rumus Rasional.

E.6.1.2.2 Metode Hidrograf Nakayasu

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 75

Apresiasi Inovasi
Analisis hidrograf yang digunakan menggunakan cara Nakayasu, dengan
rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :

Qp

C A Ro
Dimana :
3,6 ( 0,3Tp T0 ,3 )

Qp

= debit puncak banjir (m3 / detik)

Ro

= hujan satuan (mm)

Tp

= tenggang waktu dari permulaan hujan sampai puncak banjir (jam)

T0,3

1.

= waktu yang diperlukan oleh penurunan debit, dari debit puncak sampai
menjadi 30 % dari debit puncak (jam)
Bagian lengkung naik (rising limb ) hidrograf satuan mempunyai persamaan :
t

Qa Qp
T
p

2.

2, 4

Dimana :

Qa =

limpasan sebelum mencapai debit puncak (m3/detik)

Waktu (jam)

Bagian lengkung turun (decreasing limb)


a. Qd

>0,3 Qp

t Tp

Qd Qp* 0.3

b. 0,3 Qp > Qd >0,32 Qp :


c. 0,32 Qp > Qd :
3.

T0 , 3
t Tp 0 , 5 T0 , 3

Qd Qp * 0,3

1, 5 T0 , 3

t Tp 1, 5 T0 , 3

Qd Qp * 0.3

2 T0 , 3

Sedangkan waktu Tp = tg + 0,8 tr


dimana untuk
a. L < 15 km

tg = 0,21 L0,7

b. L > 15 km

tg = 0,4 + 0,058 L Dimana :

= panjang alur sungai (km)

tg

= waktu konsentrasi (jam)

tr
T 0,3

= 0,5 tg sampai tg (jam)


= tg (jam)

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 76

Apresiasi Inovasi
Dengan besarnya =

4.

untuk daerah pengaliran biasa = 2

untuk bagian naik hidrograf yang lambat dan bagian menurun yang cepat
= 15

untuk bagian naik hidrograf yang cepat dan bagian menurun yang lambat
=3

Asumsi yang dipergunakan dalam perhitungan ini adalah :

Panjang sungai

Luas catchment area

Koefisien pengaliran

Tabel E. 3 Contoh asumsi yang digunakan dalam perhitungan Hidrograf


Nakayasu.
No

Parameter

1 L (panjang sungai)

2 tr (satuan waktu hujan)

15

km

0.952
5

jam

3 Tg (time lag)

1.27

4 Tp (waktu awal hujan sampai puncak banjir)

2.03

5 a (parameter hidrograf)

jam

6 T0,3

2.54

7 F (luas DAS)

39.3

km2

mm

8 R0 (curah hujan satuan)


9 Qmax (debit puncak banjir)

3.47 m3/dt/mm

10 fDAS (koefisien pengaliran)

0.45

11 Qp

1.56 m3/dt/mm

I Tp

2.03

jam

II Tp + T0,3

4.57

jam

III Tp + T0,3 + 1.5T0,3

9.65

jam

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 77

Apresiasi Inovasi

E.7.

PERENCANAAN SISTEM DRAINASE

Suatu perencanaan merupakan penjabaran suatu masalah dalam menanggulangi


kebutuhan dalam waktu tertentu dengan diberikan suatu alternatif pemecahan.
Oleh karena itulah dalam pemecahan masalah perlu diberikan suatu bentuk dasardasar perhitungan atau landasan teori yang berkaitan dengan masalah yang
dipecahkan atau ditanggulangi.
Pekerjaan perencanaan teknik, untuk mendapatkan konsep perencanaan dan detail
design dalam gambar dan dokumen yang terpadu sehingga dapat menjadi
pegangan pada waktu pelaksanaan pembangunan dilapangan.
Hasil dari perencanaan teknik, adalah mencakup kumpulan dokumen teknik yang
dapat

memberikan

gambaran

produk

yang

ingin

diwujudkan,

dengan

memperhatikan :

Ketentuan teknis

Keadaan serta faktor pengaruh lingkungan dan menggambarkan hasil


optimal sesuai dengan kebutuhan pemakai serta penghematan biaya.

Tugas perencana mencakup pekerjaan pokok, yaitu untuk mendapatkan suatu


perencanaan yang baik diperlukan suatu pendekatan/ pemahaman terhadap
komponen perencanaan dan pemahaman terhadap karakteristik sungai tersebut.
Perencanaan perbaikan dan pengaturan sungai diadakan, agar disesuaikan dengan
tingkat pengembangan suatu sungai serta kebutuhan masyarakat. Sungai diperbaiki
dan diatur sedemikian rupa, sehingga dapat diadakan pencegahan terhadap bahaya
banjir dan sedimentasi serta mengusahakan agar alur sungai senantiasa dalam
keadaan stabil, sehingga memudahkan pemanfaatan air yang akan memberikan
kemudahan

dalam

penyadapannya,

pelestarian

lingkungan

dan

menjamin

kelancaran serta keamanan lalu-lintas sungai. Jadi tujuan utama dari perencanaan
persungaian ini adalah pengamanan terhadap banjir, pengendalian alur sungai,
dengan memperhatikan peranan sungai sebagai sumber air untuk berbagai
kebutuhan, pelestarian lingkungan dan kelancaran serta keamanan lalu-lintas
sungai.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 78

Apresiasi Inovasi
Perencanaan pengaman terhadap banjir disebut juga perencanaan pengendalian
banjir yang akan digunakan sebagai landasan yang penting dalam menetapkan
berbagai pekerjaan sipil yang harus dilaksanakan dalam rangka usaha pengamanan
banjir secara umum dapat dibagi menjadi :
3.

Pembangunan sistem pengamanan dan pengembalian banjir

4.

Pekerjaan non-sipil

Pekerjaan sipil adalah usaha pencegahan bahaya banjir dengan suatu sistem
pengamanan banjir yang terdiri dari tanggul, normalisasi alur sungai termasuk
sudetan dan lain-lain dan dengan suatu sistem pengendalian banjir yang terdiri dari
retarding basin, waduk pengendalian banjir dan lain-lain. Kadang-kadang kedua
sistem tersebut digabung menjadi satu kesatuan. Sebaliknya pekerjaan non-sipil
adalah usaha pencegahan banjir dengan pengaturan-pengaturan yang dilandasi
undang-undang, guna mengurangi tingkat kerugian yang mungkin terjadi, apabila
terjadi banjir, antara lain pengaturan penggunaan tanah di daerah bantaran sungai,
mendirikan bangunan yang tahan terhadap genangan air, asuransi banjir dan
kegiatan pengamanan terhadap kemungkinan adanya bencana banjir.
Pekerjaan sipil sepenuhnya akan mampu menjamin pencegahan bencana banjir
pada tingkat dibawah debit banjir rencananya, akan tetapi tidak akan mampu
mencegah banjir besar yang melampaui debit banjir rencana tersebut, yang
menyebabkan rusaknya sistem pengamanan dan pengendalian banjir dan terjadilah
banjir yang biasanya cukup besar.
Sebaliknya pekerjaan non-sipil adalah usaha-usaha guna mengurangi kerusakan
sampai pada tingkat yang minimum dengan mengarahkan genangan-genangan
pada daerah-daerah yang tidak penting, mengadakan usaha-usaha pemberitahuan
dini

dan

mencegah

terjadinya

tanah

longsor.

Yang

dimaksudkan

dengan

perencanaan pengamanan dan pengembalian banjir umumnya adalah perencanaan


yang hanya didasarkan atas pekerjaan sipil dan apabila termasuk pula usaha-usaha
non-sipil, maka usaha-usaha ini disebut, pengendalian banjir menyeluruh.
Dalam perencanaan perbaikan dan pengaturan sungai yang diutamakan adalah
konsep pengaliran banjir sungai secara aman, guna mencegah terjadinya luapanluapan yang dapat menyebabkan terjadinya bencana banjir. Dengan demikian yang
terpenting adalah mempertahankan penampang basah yang memadai sesuai
dengan kapasitas pengaliran rencananya, yakni dengan konsep pencegahan
sedimentasi di dasar sungai dan mengatur alur sungai agar senantiasa dalam
keadaan stabil.
Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 79

Rekayasa

pembangunan

pada

dasarnya

merupakan

suatu

Apresiasi Inovasi
kegiatan yang

berdasarkan analisis dari berbagai aspek untuk mencapai sasaran dan tujuan
tertentu dengan hasil seoptimal mungkin. Secara garis besar, aspek-aspek umum
yang berkaitan dengan rekayasa pembangunan dapat dikelompokkan menjadi
empat tahapan, yaitu:

Di

1.

Tahapan Studi

2.

Tahapan Perencanaan

3.

Tahapan Pelaksanaan

4.

Tahapan Operasi dan Pemeliharaan

dalam

keempat

tahapan

tersebut

ada

berbagai

macam

aktivitas

yang

dilaksanakan untuk mendukung kegiatan masing-masing tahapan. Secara makro


rekayasa, penjabaran dari kegiatan-kegiatan tersebut dapat dilihat pada Gambar E.
56.

Gambar E. 56 Tahapan pembangunan sistem drainase perkotaan.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 80

Apresiasi Inovasi
Ide atau Sasaran/Tujuan yang Akan Dicapai

Pra Studi Kelayakan


Analisa Teknis
Analisa Ekonomi
Analisa Sosial
Analisa Lingkungan (AMDAL)

Kaji Ulang
Layak

Tidak

Ya

Tahap Studi
Kelayakan

Berhenti

Studi Kelayakan
Analisa Teknis
Analisa Ekonomi
Analisa Sosial
Analisa Lingkungan (AMDAL)

Kaji Ulang

Layak
Ya

Tidak
Berhenti

Rekomendasi Beberapa Alternatif

Seleksi Perancangan

Tahap
Detail Desain

Detail Desain

Tahap
Konstruksi

Pelaksanaan Fisik

Tahap O & P

Operasi & Pemeliharaan

Gambar E. 57 Konsep umum tahapan kegiatan pekerjaan dari ide sampai


operasional.
Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 81

MANAJEMEN
PROYEK

DISKUSI LAPORAN
SEMENTARA

Analisis Keandalan Kinerja


bangunan air serta
pengoperasiannya

Penyusunan Layout Daerah


Situasi

TAHAP ANALISIS

Analisis Hidrometri & sistem


Drainase

- Dimensi hidrolis dan kapasitas


- Pola aliran
- Informasi saat banjir
- Inventarisasi bangunan air
dan permasalahannya
- Inventarisasi SOP bangunan
air

- Layout jaringan drainase


- Batas banjir
- Keadaan lahan saat ini

DISKUSI LAPORAN
FINAL

- Jaringan darinase makro


- Pola Aliran
- Penentuan Batas DAS
- Debit sungai

Survey Bangunan -Bangunan Air

Survey Topografi

LAPORAN SEMENTARA

TAHAP PENGUMPULAN
DATA

Survey Hidrometri & Sistem


Drainase

LAPORAN FINAL

Pengumpulan Data Primer


(Survey Lapangan)

Pengumpulan data sekunder

- Peta-peta topografi terdahulu


- Studi-Studi terdahulu
- Data curah hujan min 10 th
- Data iklim min 10 th
- Tata guna lahan
- RUTR DKI Jakarta
- Data kependudukan
- Data-data jaringan drainase

1. INVENTARISASI KEBUTUHAN PEMAKAI


2. KONSEP DESAIN

PERSIAPAN

DISKUSI LAPORAN
PENDAHULUAN

TAHAP
PERSIAPAN

MULAI

LAPORAN
PENDAHULUAN

Apresiasi Inovasi

Penyusunan Desain Rinci

- Perhitungan Hidraulik
- Perhitungan Struktur Saluran
- Penggambaran

`
Rekomendasi Beberapa Alternatif
dan Alternatif terpilih

TAHAP REKOMENDASI

Rekomendasi Alternatif Terpilih


(Final Desain)

Penyusunan Dokumen Lelang


- Spesifikasi Teknis
- Syarat-syarat umum dan
Administrasi kontrak
- Syarat-syarat Khusus Kontrak
Daftar Kuantitas Biaya

Gambar E. 58 Konsep pendekatan pelaksanaan pekerjaan perencanaan.

E.7.1 Aspek Teknis


Permasalahan yang dihadapi dalam implementasi pembangunan atau
perbaikan sistem drainase di perkotaan antara lain :
1. Tuntutan genangan yang terjadi harus lebih kecil dibandingkan dengan daerah
perdesaan.
2. Pembebasan lahan dan relokasi (pemindahan) penduduk lebih sulit dilaksanakan
dibandingkan dengan daerah pedesaan yang jarang penduduknya.
3. Diperlukan penyesuaian-penyesuaian berkaitan dengan adanya limbah domestik
dan limbah industri.
4. Diharapkan sistem drainase yang dibangun/diperbaiki harus sesuai dengan
lingkungan perkotaan.
Perbaikan sistem drainase di daerah perkotaan pada umumnya mengikuti
tahap-tahap sebagai berikut :
1. Mempelajari sistem drainase yang sudah ada saat ini.
2. Merumuskan rencana perbaikan sistem drainase.
3. Perencanaan fasilitas drainase, seperti saluran drainase, tanggul, goronggorong, kolam retensi, stasiun pompa, dan lain-lain.
4. Pelaksanaan pekerjaan.
5. Operasi dan pemeliharaan fasilitas drainase.
1) Survei dan Investigasi yang diperlukan.
Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 82

Apresiasi Inovasi
(1) Umum
(a) Topografi
(b) Iklim
(c) Hidrologi
(d) Daerah Genangan
(e) Tata guna lahan dan rencana pengembangan masa mendatang dan
(f) Sistem drainase yang ada
(2) Topografi
(a) Lokasi sistem drainase
(b) Elevasi permukaan tanah
(c) Batas-batas administrasi
(3) Iklim dan Hidrologi
(a) Data aliran
(b) Data hujan
(c) Data sedimen dan kualitas air
(d) Data pasang surut
(4) Genangan banjir
(a) Tinggi muka air maksimum dan kedalaman genangan
(b) Luas dan persebaran daerah genangan
(c) Lamanya genangan
(d) Sumber air dan arah aliran air
(e) Frekuensi terjadinya genangan
(f) Penyebab terjadinya genangan
Tabel E. 4 Jenis peta untuk perencanaan drainase.

Tabel E. 5 Jenis survei topografi untuk jaringan drainase.


Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 83

Apresiasi Inovasi

(5) Sistem drainase yang telah ada


(a) Batas daerah tangkapan air dan luas total
(b) Saluran drainase utama dan panjangnya
(c) Panjang saluran-saluran cabang dan daerah tangkapannya.
(d) Kapasitas masing-masing saluran dan pola alirannya.
(e) Permasalahan drainase di daerah tangkapan.
(f) Kondisi saluran utama sistem drainase yang ada.

2) Merumuskan Rencana Sistem Drainase


(1) Konsep dasar perencanaan drainase perkotaan
(a) Limpasan air banjir dari sungai utama biasa disebut banjir kiriman.
(b) Kapasitas saluran drainase tidak cukup biasa disebut banjir lokal.
(c) Pengaruh air balik dari sungai induk pada saat muka air tinggi akibat
banjir dan/atau air pasang.
(d) Banjir akibat air pasang yang masuk langsung ke daratan maupun lewat
saluran-saluran drainase yang ada.
Perencanaan

sistem drainase

perkotaan

perlu

memperhatikan

hal-hal

sebagai berikut :
(a) Target rencana perbaikan untuk saluran induk dan fasilitasnya, saluran
induk menggunakan debit rencana dengan kala ulang 5 sampai 25
tahunan, sedangkan saluran tersier dengan periode ulang 2 tahunan.
(b) Pekerjaan perbaikan harus memenuhi persyaratan teknis dan praktis.
(c) Operasi, pemeliharaan, dan pengolahan harus mudah.
(d) Fasilitas dan sistem drainase yang telah ada harus diusahakan sebanyak
mungkin dapat dimanfaatkan.
(e) Komponen infrastruktur lainnya yang sudah ada untuk menghindari
perusakan yang tidak disengaja.
(f) Pembebasan lahan dan relokasi sedapat mungkin dihindari.
(g) Di daerah-daerah yang tidak memungkinkan digunakan sistem gravitasi
penuh, perlu dilengkapi dengan pintu klep dan/atau stasiun pompa pada
keluaran (outlet)nya.

(2) Perencanaan sistem drainase

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 84

Apresiasi Inovasi
Langkah pertama yang perlu diperhatikan adalah mengetahui secara pasti
dan rinci penyebab terjadinya genangan. Berdasarkan data kondisi saat ini
dan data genangan, dapat disusun usaha-usaha perbaikan drainase yang
memungkinkan yang dapat dipilih dari beberapa alternatif berikut :
(a) Penurunan debit dengan pembuatan resapan air dan daerah simpanan
(retention area) di daerah hulu dan tengah.
(b) Pembuatan saluran tambahan untuk mengurangi daerah tangkapan.
(c) Perbaikan dan/atau normalisasi saluran drainase.
(d) Pembuatan pintu klep untuk mengatasi air tinggi di saluran induk.
(e) Pengurangan daerah-daerah rendah.
(f) Pembuatan stasiun pompa dan kolam penampungan.

(3) Perencanaan Saluran Drainase


(a) Menentukan debit rencana.
(b) Menentukan jalur (trase) saluran.
(c) Merencanakan profil memanjang saluran.
(d) Merencanakan penampang melintang saluran.
(e) Mengatur dan merencanakan bangunan-bangunan serta fasilitas sistem
drainase.
Tabel E. 6 Kriteria desain hidrologi sistem drainase perkotaan.

E.7.2 Aspek Ekonomi dan finansial


1) Tujuan Analisis Ekonomi
Tujuan utama analisis ekonomi adalah :
(1) Melakukan identifikasi tingkat kelayakan suatu proyek secara ekonomis,
atau dengan kata lain melakukan penilaian apakah investasi yang
ditanamkan akan memberikan manfaat ekonomi yang cukup.
(2) Melakukan penilaian seberapa besar keuntungan yang akan diperoleh
oleh penerima manfaat (dalam hal ini masyarakat) jika dibandingkan
dengan tanpa proyek.
(3) Melakukan justifikasi terhadap biaya yang dikeluarkan untuk
pembangunan proyek tersebut dan kemungkinan pengembalian investasi
(cost recovery) dalam kaitannya dengan pembayaran kembali pinjaman
dari pihak donor.
(4) Melakukan identifikasi terhadap resiko-resiko yang mungkin akan
menjadi kendala bagi proyek untuk mencapai tujuan yang diprogramkan.
2) Komponen Biaya (Cost)
Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 85

Apresiasi Inovasi
Komponen Biaya (cost) terdiri dari :
(1) Biaya konstruksi (C1), diperoleh berdasarkan hasil estimasi akhir.
(2) Biaya engineering (C2), meliputi biaya studi dan perencanaan
(3) Biaya pembebasan lahan dan pemindahan dan permukiman kembali
penduruk (land acquisition and resettlement cost, C3).
(4) Biaya yang diperlukan untuk pembayaran pajak-pajak (C4), sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
(5) Biaya yang telah lalu (sunk cost, C5)
(6) Biaya operasi dan pemeliharaan (operation and maintenance cost, O&P
atau O&M, C6)
(7) Biaya penggantian (replacement, C7)
(8) Biaya Administrasi Proyek (C8)

3) Komponen Manfaat atau Keuntungan (Benefit)


Manfaat proyek drainase perkotaan berupa :
(1) Peningkatan nilai lahan.
(2) Peningkatan kegiatan ekonomi masyarakat.
(3) Peningkatan kesehatan lingkungan dan masyarakat.
(4) Pengurangan gangguan lalu lintas.
(5) Penghematan pemeliharaan jalan.
(6) Pengurangan kerugian akibat banjir
Komponen yang biasanya dipakai sebagai dasar perhitungan benefit proyek
drainase meliputi :
(1) Genangan banjir, luas, kedalaman, dan durasi.
(2) Tata guna lahan.
(3) Tingkat kerusakan bangunan dan fasilitas lainnya.
Komponen-komponen tersebut dihitung untuk 3 keadaan, yaitu :
(1) Keadaan saat ini (present condition).
(2) Keadaan saat mendatang tanpa proyek (future without project).
(3) Keadaan saat mendatang dengan proyek (future with project).

4) Langkah-langkah Analisis Ekonomi


Langkah-langkah perhitungan analisis ekonomi proyek, khususnya proyek
drainase perkotaan adalah sebagai berikut :
(1) Perkiraan biaya keseluruhan, initial cost maupun annual cost.
(2) Konversi harga finansial ke harga ekonomi dengan memakai faktor
konveersi.
(3) Jadwal disbursement dari tahun ke tahun.
(4) Tata guna lahan pada saat ini (present), saat mendatang tanpa proyek
(future without project) dan saat mendatang dengan proyek (future with
project).

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 86

Apresiasi Inovasi
(5) Luas genangan banjir pada saat ini (present), saat mendatang tanpa
proyek (future without project) dan saat mendatang dengan proyek
(future with project).
(6) Perkiraan manfaat ekonomi (tangible dan intangible benefits), termasuk
kerugian akibat genangan banjir pada saat ini (present), saat mendatang
tanpa proyek (future without project) dan saat mendatang dengan
proyek (future with project).
(7) Susunan economic cashflow, kemudian hitung nilai EIRR.
(8) Analisis sensitivitas.

5) Kriteria Kelayakan Ekonomi


Untuk menilai kelayakan tersebut dapat digunakan parameter-parameter
berikut :
(1) Benefit-Cost Ratio (B/C Ratio)
(2) Net Benefit, B-C.
(3) Internal Rate of Return (IRR).

6) Analisis Sensitivitas
Beberapa kondisi yang dapat dilakukan dalam analisis sensitivitas proyek
drainase antara lain : Terjadi kenaikan biaya sebesar 10% dari yang
diperkirakan.
(1) Terjadi penurunan keuntungan sebesar 10% dari keuntungan yang
diperkirakan.
(2) Terjadi kenaikan biaya sebesar 10% dari yang diperkirakan.
(3) Tertundanya penyelesaian proyek, misalnya akibat berlarut-larutnya
pembebasan lahan.

E.7.3 Aspek Sosial Budaya


Pengalaman dalam pembangunan prasarana dan sarana (infrastruktur)
yang dikelola pemerintah sering terjadi setelah kegiatan konstruksi
dinyatakan selesai, terjadi penilaian yang lain oleh masyarakat. Manajemen
proyek menyatakan proyek telah diselesaiakan dengan cara dan dasardasar yang diberikan pemerintah. Penilaian dan evaluasi yang dilakukan
oleh manajemen proyek menyatakan bahwa pekerjaan telah diselesaikan
dengan baik oleh kontraktor dan dapat diterima oleh pemerintah. Hasil
yang dinyatakan baik ternyata oleh masyarakat dinyatakan jelek dan tidak
memenuhi keinginan masyarakat dan akhirnya ditolak oleh masyarakat.
(gambar E.41)

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 87

Apresiasi Inovasi

Gambar E. 59 Sistem pelaksanaan pembangunan yang telah dilakukan


saat ini.

Untuk itu sistem pelaksanaan pembangunan harus berpola seperti pada


gambar E.42.

Gambar E. 60 Sistem pelaksanaan pembangunan yang harus dilakukan


pada waktu kedepan..

E.7.4 Aspek Legalitas atau Perundang-undangan


Untuk dapat melaksanakan konsep penanganan banjir secara komprehensif
yang berdasarkan paradigma manajemen air diperlukan seperangkat
ordonansi atau peraturan. Dalam peraturan tersebut harus meliputi filosofi
manajemen air (khususnya air hujan) dan implementasinya ke dalam
pendekatan teknis, susunan institusi, finansial, perilaku masyarakat yang
diharapkan, dan sanksi terhadap pihak-pihak yang melanggar peraturan.
Peraturan harus disusun sedemikian rupa sehingga mudah dipahami oleh
pengelola dan masyarakat yang menjadi stakeholders.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 88

Apresiasi Inovasi

E.7.5 Aspek Kelembagaan


Secara umum organisasi pengelola prasarana dan sarana perkotaan terdiri
dari tiga angkatan, yaitu eksekutif atau direktur, manager menengah dan
operator. Disamping itu diperlukan tingkat keempat sebagai penentu
kebijakan, yaitu pemegang otoritas. Masing-masing tingkatan dari puncak
sampai bawah memerlukan perencana untuk bekerja. Rencana meliputi
visi,

misi,

tujuan,

didasarkan

pada

objektif
rencana

dan
ini

rencana

dan

kerja.

evaluasi

Fungsi

dilakukan

akuntabilitas
pada

tingkat

kesuksesan pelaksanaan rencana tersebut.


Organisasi atau lembaga pengelola prasarana dan sarana pengendalian
banjir di perkotaan harus dibentuk tidak hanya pada kawasan perkotaan
saja tetapi juga diseluruh daerah tangkapan air dan kawasan perairan
pantai dimana sumber permasalahan berasal. Institusi ini mempunyai
tanggung jawab mengendalikan peningkatan debit dari daerah hulu dengan
jalan menurunkan aliran permukaan dan meregulasi debit puncak melalui
berbagai macam cara dan bertanggung jawab untuk mengendalikan
pengambilan air tanah ayng berdampak pada amblesan (land subsidence).
Disamping

itu

lembaga

ini

juga

bertanggungjawab

terhadap

pengembangan rencana dan program, persiapan dan implementasi sistem


bangunan, melakukan operasi dan pemeliharaan, manajemen keuangan
dan menjaga sistem pendukung pengambilan keputusan (Decision Support
System = DSS).

Gambar E. 61 Struktur Decision Support System (DSS).


Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 89

Apresiasi Inovasi

E.7.6 Aspek Lingkungan


Dampak yang mungkin timbul dari pembangunan sistem drainase antara
lain :
1) Genangan permanen dalam saluran/waduk. Saluran drainase saat musim
kemarau pada umumnya hanya menampung air limbah (domestik dan
Industri), yang debitnya tiak bear. Secara teoritis seharusnya tidak terjadi
genangan, namun kenyatannya banyak saluran drainase di sekitar kita yang
menggenang dan menjadi sarang nyamuk. Ada dua kemungkinan
penyebabnya, yaitu :
(1) Timbunan sampah dan kotoran dalam saluran.
(2) Sedimentasi.
(3) Dasar saluran naik turun.
2) Pencemaran air tanah. Pada musim kemarau, air di dalam saluran berasal
dari limbah domestik dan industri, tidak ada pengenceran. Sehingga air yang
meresap ke dalam tanah adalah air limbah, dan mencemari air tanah dan
sumur penduduk. Untuk diperlukan desain yang benar, misalnya dengan
membuat saluran bertingkat, seperti pada Gambar E.44.

Gambar E. 62 Proses pencemaran air tanah melalui saluran drainase.


Untuk menghindari terjadinya pencemaran air tanah oleh limbah air buangan dapat
dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
-

Lining atau Geotextile


Drainase sistem terpisah

3) Intrusi air asin


Untuk mengatasi atau mencegah terjadinya intrusi air laut dilakukan dengan
beberapa cara yaitu :
-

Pintu Air pasang


Bendung karet
Lining atau Geotextile

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 90

Apresiasi Inovasi

Gambar E. 63 Intrusi air laut melalui saluran drainase.

Gambar E. 64 Bendung karet untuk mencegah intrusi air asin.

4) Pemindahan banjir

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 91

Apresiasi Inovasi

Gambar E. 65 Penanganan banjir yang tidak menyeluruh mengakibatkan


banjir berpindah ke lokasi lain.

E.8.

SURVEI HIDROMETRI DAN SISTEM DRAINASE

E.8.1 Survei Hidrometri


Maksud dan Tujuan
Maksud survei hidrometri adalah mencari data yang diperlukan dalam
analisa hidrologi dan selanjutnya bertujuan untuk penentuan jenis dimensi
dari jembatan, bangunan drainase disamping untuk penentuan bentuk
potongan melintang sungai.
Untuk

mengetahui

kondisi

hidrografi

lapangan.

Konsultan

akan

mengidentifikasi di lapangan daerah-daerah rendah dimana diperkirakan


perlu dibuat gorong-gorong. Sebelum melaksanakan survei hidrologi
lapangan perlu disiapkan terlebih dahulu peta daerah aliran sungai (DAS)
lokasi yang dimaksud dalam skala yang tepat, sehingga terlihat dengan
jelas air sungai, punggung bukit dan daerah cakupan setiap sub-DAS.
Informasi lapangan berupa elevasi bekas banjir yang terdapat di batuan
tepi sungai maupun informasi dari penduduk setempat akan sangat
membantu dalam mengecek hasil perhitungan banjir teoritas.
Ruang lingkup

Pola aliran dan jenis permukaan

Pengukuran kecepatan aliran

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 92

Apresiasi Inovasi
o

Pengukuran penampang melintang

Pengambilan contoh air (sedimen) : Suspended Load, Bed Load

Pengamatan Terrain daerah tangkapan, pengamatan Tata Guna


Lahan

Penulusuran sistem drainase

Metodologi Pelaksanaan

1.

Menentukan Lokasi Pengukuran Debit Sungai


Untuk meramalkan banjir yang lebih akurat, pengukuran debit sungai
harus dilakukan berkali-kali. Oleh karena itu, pilihlah lokasi yang strategis.
Yang paling ideal untuk mengukur debit adalah pada bangunan air yang
ada di sungai itu, seperti bendungan, pintu air, siphon, talang air, saluran,
gorong-gorong, waduk, dan lain-lain. Khususnya untuk bendungan besar,
anda tidak usah mengukur debit, karena ada operator bendung yang
mencatat tinggi air, dan sekaligus debitnya. Kalau anda beruntung, anda
bisa memperoleh data pengukuran debit sampai beberapa puluh tahun
yang lalu.
Kalau bangunan seperti itu tidak ada, maka sebaiknya adan menghubungi
Litbang air dari Departemen Kimpraswil, yang berlokasi di Bandung.
Banyak sungai ditanah air yang sudah diukur secara rutin, dan dibukukan
debitnya dengan baik.
Lokasi pengukuran debit harus bebas dari olakan air, arus yang tidak
teratur (tidak simetris), erosi pada sisi sungai, interupsi dari inlet atau outlet anak sungai, atau adanya pengendapan didasarnya. Gambar E.66
memberikan rambu-rambu lokasi pengukuran debit sungai.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 93

Apresiasi Inovasi

Gambar E. 66 Rambu-rambu lokasi pengukuran debit sungai.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 94

Apresiasi Inovasi
Pengukuran kecepatan aliran

2.

Sebelum mulai mengukur aliran sungai terlebih dahulu harus dipilih lokasi sekitar
pos duga yang memenuhi syarat sebagai berikut:
a.

Palung sungai harus sedapat mungkin lurus dengan arah arus kecepatan
sejajar satu dengan yang lain.

a.

Dasar sungai sedapat mungkin tidak berubah-ubah, bebas dari batu


besar, tumbuhan

air

dan

bangunan

air

yang

menyebabkan

jalur

kecepatan tidak sejajar satu dengan yang lainnya.


b.

Dasar penampang sungai sedapat mungkin rata supaya pada waktu


menghitung penampang basah hasilnya mendekati sebenarnya.

Tahap kegiatan pengukuran:

Mengukur pada kedalaman garis vertikal yang akan diukur kecepatannya


kemudian menentukan titik kedalaman pengukuran (0.2; 0.8 atau 0.2; 0.6;
0.8 atau 0.6 saja).

Mengukur jarak dari tepi permukaan sungai ke setiap garis pengukuran


vertikal.

Mencatat jumlah putaran yang terjadi pada setiap titik pengukuran.

Menghitung kecepatan daripada setiap titik pengukuran berdasarkan jumlah


putaran yang diperoleh dan selanjutnya merata-ratakan.

Menghitung luas bagian penampang melintang untuk setiap jalur.

Menghitung besar aliran untuk setiap bagian jalur penampang melintang


dengan menggunakan rumus Q = A . V.

Kegiatan ini terus berulang untuk setiap jalur garis vertikal pada seluruh
penampang melintang.

Besar aliran untuk seluruh penampang basah adalah jumlah kumulatif


seluruh besar aliran bagian dari seluruh vertikal. Kecepatan rata-rata aliran
penampang

basah

diperoleh

dengan

membagi

besar

aliran

seluruh

penampang dengan luas seluruh penampang melintang.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 95

Apresiasi Inovasi

3.

Pengukuran penampang melintang


Pengukuran melintang sungai dilakukan pada lokasi/tempat yang sama dengan titik
pengukuran kecepatan arus. Pengukuran penampang melintang akan dicocokkan
terhadap pengukuran topografi, dimana pengukuran melintang dilakukan dengan
interval 400 m pada saluran dan 2000 m pada sungai dengan echosounder atau
sesuai petunjuk direksi.

4.

Penelusuran sistem drainase


Penulusuran dilakukan dengan menelusuri saluran atau sungai yang ada dan
kemudian dilakukan pengukuran hidrometri. Penelusuran dihentikan pada cabang
saluran drainase sekunder.
Mengukur Kecepatan Arus dengan Pelampung
Pelampung adalah pengukuran arus yang paling sederhana. Bahan yang bisa adalah
stereofoam (semacam busa putih). Disarankan untuk membentuk seperti badan
kapal, supaya memiliki karakteristik hidrolis yang paling ideal. Yang diukur adalah
kecepatan permukaan pada sepertiga lebar sungai, mengikuti distribusi kecepatan
yang berbentuk parabola datar dan hiperbola tegak, seperti Gambar E.67.

Gambar E. 67 Distribusi kecepatan aliran pada suatu tampang sungai.


Contoh Penyelesaian

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 96

Diketahui

Apresiasi Inovasi
: Hasil pengukuran kecepatan arus permukaan suatu sungai pada

sepertiga lebar, masing-masing adalah 1,52 m/detik dan 1.63 m/detik.


Ditanya

: Kalau luas penampang sungai tersebut 247 m 2, berupa debit pada


penampang sungai tersebut?

Penyelesaian : Pengukuran sepertiga lebar sungai digambarkan pada Gambar E.68.


Sehingga kecepatan rata-rata adalah 0.5 x (1.52 + 1.63) = 1.575
m/detik.

Gambar E. 68 Distribusi kecepatan aliran sungai secara horisontal dan


vertikal.
Vrata-rata = 0.80 x VPermukaan = 1.575 =1,26 m3/detik
Debit sungai = 247 x 1,26 = 311,22 m3/detik
Mengukur Kecepatan Air dengan Current Meter
Bentuk alat ini seperti terlihat pada Gambar E.51. Semakin kuat putaran kincir,
maka semakin besar kecepatana aliran, yang biasanya dinyatakan dalam rumus :
V = kn +m
Dimana :

V = kecepatan Aliran (cm/detik)


n = jumlah putaran untuk suatu waktu tertentu.

K dan m

= koefisien yang besarnya tergantung jenis alat kincir.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 97

Apresiasi Inovasi

Gambar E. 69 Alat ukur current meter.


Contoh penyelesaian

Di ketahui

: Curent Meter dengan kincir no.2, memiliki rumus V = 0.73 n + 24,

dipakai untuk mengukur sungai dengan lebar 12 meter.


Ditanyakan

: Lakukan hitungan debit, dengan cara dua titik.

Penyelesaian

(1) Bagi lebar sungai 12 meter atas interval @ 2m

(2) Pada pusat luasan 2 meter ini, celupkan kincir Curent meter, pada dua titik,
berarti kincir ditempatkan pada kedalam, masing-masing 0,2 d dan 0.8 d dari
dasar sungai, dimana dalam airnya dinyatakan dengan d.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 98

Apresiasi Inovasi

Gambar E. 70 Format Hitungan debit dengan Current meter.


Mengukur debit dengan methode Direct Step.
Bertitik tolak pada kenyataan, bahwa setiap bangunan air yang berbentuk
prismatis, dapat dimanfaatkan sebagai bangunan ukur debit. Hanya muka air dan
kedalamnnya yang selalu berubah sesuai dengan debit yang mengalir. Oleh karena
itu, dengan mencatat data aliran hulu dan hilir, maka kita dapat menghitung debit.
Dalam hal ini, kita memanfaatkan Rumus Direct Step yang memberikan hubungan
jelas antara tampang muka air hulu dan hilir, seperti terlihat pada Gambar E.70.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 99

Apresiasi Inovasi

Gambar E. 71 Sketsa hidrolis rumus direct step.


Pada Gambar E.71, diukur jarak antar tampang, yaitu sebesar L. Selanjutnya
diperoleh hubungan hidrolis tampang hulu dan hilir, menurut Hukum Bernouli :
2

V
V
S0 L + yu + u = yd + d + Sf L
2g
2g
2

Dalam hal ini : yu +

Vu
= Eu = Spesifik enersi
2g

S0 L + Eu = Ed + Sf L L =

Dimana :

E d Eu
S0 S f

= Jarak antara tampang hulu hilir (m)

Eu

= Enersi Spesifik Tampang hulu (m)

S0

= Kemiringan dasar saluran hulu hilir

Sf

= Kemiringan garis tekan hulu hilir


Besarnya Sf dihitung dengan Rumus Manning

Sf =

n2 v 2
R4 /3

Dimana :

n = angka kekasaran Manning

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 100

Apresiasi Inovasi
V = kecepatan aliran (m/detik)
R = Radius Hidrolik = A/P (m)
A = Luas basah (m2)
P = Keliling basah (m)
Apabila besarnya Sf antara tampang hulu hilir tidaklah sama, maka dipakai harga
rata-ratanya.
Contoh
Diketahui

: Bagian sungai yang telah diberi pasangan batu kali, telah diukur
dengan Waterpas

dan hasilnya, seperti terlihat pada Gambar

E.72.
Ditanyakan

: Hitung Debit Aliran dengan Methode Direct Step.

Gambar E. 72 Hasil pengukuran dengan waterpass.


Penyelesaian

: Karena diperlukan perhitungan yang sifatnya coba-coba (trial &


Error), pakailah Komputer PC (yang sudah banyak dimiliki di
mana-mana), dan bukalah program Excel.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 101

Apresiasi Inovasi
Buatlah format yang bisa dipakai ulang dan di copy berkali-kali sebagai berikut :
Kolom 1

: Nomor urut

Kolom 2 dan 3

: Nomor stasiun Hulu dan Hilir (untuk menandai lokasinya pada


peta)

Kolom 4,5,dan 6 : Ukuran saluran, berupa lebar dasar sungai (kolom 4), lebar atas
sungai (kolom 5), kedalaman sungai (kolom 6)
Kolom 7 dan 8

: Elevasi Dasar sungai hulu dan hilir

Kolom 9 dan 10 : Elevasi muaka air hulu dan hilir


Kolom 11

: Tuliskan trial debit, lihat kolom 20, apakah jarak hulu hilir
sudah sama dengan jarak terukur, dan hentikan tiral.

Kolom 14,15, dan 16 : Menghitung besarnya Sf untuk tiap tampang dengan rumus :
Sf = (Q2 n2)/A2R4/3
Kolom 15 menyimpulkan rata-rata dari kolom 13 dan 14.
Kolom 17,18 dan 19 : Menghitung Enersi Spesifik
E = h + V2/2g
Kolom 15 menyimpulkan rata-rata dari kolom 13 dan 14
Kolom 20

: Jarak hulu hilir dihitung, dengan trial debit. Kalau sudah


sama dengan jarak terukur hentikan trial ini.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 102

Apresiasi Inovasi

Gambar E. 73 Perhitungan debit dengan metode direct step.


Pada

hitungan

trial

dengan

spread-sheet

pertama

sebesar

12.0

m3/detik,

menghasilkan jarak hulu hilir 48,56 m, padahal jarak terukur adalah 50,45 m. Maka
dilanjutkan dengan trial kedua, dan seterusnya. Hasil akhir adalah debit sebesar
13,07 m3/detik, yang menghasilkan jarak hulu-hilir 50,45 meter.
Kesimpulan : debit sungai pada saat pengukuran adalah 13,07 m3/detik

E.8.2 Survei Bangunan-bangunan Air


Maksud dan Tujuan
Survei ini dilakukan untuk mendapatkan data-data tentang :
-

dimensi hidrolis dan kapasitas bangunan air

pola aliran yang terjadi

informasi keadaan bangunan saat banjir

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 103

Apresiasi Inovasi
-

inventarisasi bangunan air beserta permasalahannya

inventarisasi operasi dan pemeliharaan


Ruang lingkup

Pola aliran, pengukuran dimensi bangunan-bangunan air

Pengukuran kecepatan aliran yang melewati bangunan-bangunan


air

Pengukuran penampang melintang

Pengukuran dimensi maupun elevasi-elevasi saat banjir

Pengumpulan data operasi dan pemeliharaan

Metodologi Pelaksanaan
Metode yang digunakan adalah :
-

wawancara dengan penduduk setempat

pencatatan langsung di lokasi bangunan air, pemotretan bangunan air

pengumpulan bahan-bahan tentang operasi dan pemeliharaan langsung di lokasi

pengukuran penampang dilakukan seperti pada pekerjaan hidrometri


Peralatan
Current meter, Nossel, Botol sampel, Tutup botol, Kamera, Pita ukur, Peta,
Formulir Data.
Output

Data debit, Data kecepatan aliran sekitar lokasi

Data ketinggian muka air berupa elevasi banjir, normal dan minimal

Data dimensi bangunan air

Inventarisasi bangunan air di wilayah DAS

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 104

Apresiasi Inovasi

E.9.

PERMODELAN DALAM PERENCANAAN

E.9.1 Pemodelan Fluktuasi Muka Air Sungai (Banjir)


Umum
Simulasi hidrodinamis arus menggunakan suatu program yang mempunyai
beberapa modul dengan fungsinya masing-masing. Inti program ini adalah
pemodelan hidraulik yang dapat mensimulasikan perilaku sungai maupun
laut

mendekati

keadaan

nyata

dilapangan.

Keluaran

(output)

yang

diharapkan adalah hasil simulasi kondisi nyata (existing) dan desain dalam
kala ulang tertentu. Elevasi muka air, kecepatan aliran dan kondisi pasang
surut dapat dimodelkan dalam hitungan pemodelan keadaan langgeng
(steady) dan tidak langgeng (dinamis-berubah terhadap waktu).
Modul yang akan digunakan dalam pekerjaan ini adalah HEC-RAS untuk
sungai. HEC-RAS 3.1.3 adalah modul yang dapat memodelkan kondisi
sungai dengan segala perubahan elevasi muka air, kecepatan dan beberapa
elemen hidraulis lainnya.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 105

Pemodelan
a. Kondisi Batas
Kondisi batas hulu debit masukan hasil analisa hidrologi sesuai dengan
catchment/ daerah tangkapan yang dimiliki sungai dalam proyek. Gambar
E.80 berikut ini merupakan contoh debit masukan yang akan menjadi
kondisi batas hulu.

Gambar E. 74 Contoh Hidrograf Banjir Rencana


Batas hilir merupakan pasang surut sesuai ditunjukkan pada Gambar E.81.

Gambar E. 75 Contoh Pasang Surut di Muara

Usulan Teknis
DED Pengendalian Banjir Kr. Tadu Kabupaten Nagan Raya

E - 106

Apresiasi Inovasi
Analisa banjir adalah analisa luapan air dibandingkan dengan kondisi elevasi
daratan dengan kala ulang tertentu. Luapan air ini bisa menggenangi
pemukiman atau fasilitas umum lainnya.
b. Skema Model
Pemodelan suatu sungai dengan menggunakan Hec-Ras mengikuti alur
existing sungai dengan data potongan melintang sebagai masukan dalam
model. Gambar.. contoh skema model

Tripa-1

Tripa-2

Gambar E. 76 Contoh Skema Model Sungai


c. Kalibrasi Model
Suatu model simulasi dari komputer dapat digunakan sebagai analisis jika
hasil simulasinya mendekati kenyataan yang ada dilapangan. Data-data
banjir di masa lampau dapat dijadikan acuan sebagai pembanding hasil
model dengan kenyataan yang ada dilapangan. Model yang sudah dikalibrasi
dapat digunakan untuk mendesain atau merencanakan banjir dari suatu
kawasan dengan periode kala ulang yang direncanakan.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 107

Apresiasi Inovasi

Gambar E.83 berikut ini contoh dari kalibrasi model menggunakan Hec-Ras.
Berdasar informasi yang diterima dari masyarakat dan hasil survey dapat
diketahui lokasi banjir dan kedalaman genangan banjir. Simulasi model
disesuaikan dengan kondisi yang ada dilapangan (existing). Lokasi yang
dilingkari merupakan daerah yang banjir hampir setiap tahun dengan
ketinggian genangan 0.3-0.5 m.

Tripa

a.

Plan: kalibrasi SCS

.08

12/29/2006

C57
.045

.08
Legend

WS Max WS

Bank Sta

-1

Tripa-2

-2
-3
-300

-200

-100

100

200

Station (m)

Tripa

Plan: kalibrasi SCS

12/29/2006

Tripa Tripa-2

10

Legend
WS Max WS

Ground

ROB

LOB

Elevation (m)

Elevation (m)

Ground

-2

-4

-6

-8

5000

10000

15000

20000

Main Channel Dis tance (m)

Gambar E. 77 Contoh hasil permodelan sungai dengan modul HEC-RAS.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 108

Apresiasi Inovasi
d. Hasil Keluaran Model
Output model Hec-Ras dapat ditampilkan dalam berbagai bentuk seperti
tabel,

potongan

merupakan

memanjang

salah

satu

maupun

contoh

melintang.

persperktif

Gambar

keluaran

berikut

model

ini

yang

menggambarkan luapan sungai pada kondisi puncak.


Tripa

Plan: ex-25yrs-r1

12/29/2006
Legend
WS Max WS
Ground
Bank Sta
Ground

Tripa-1

Tripa-2

Gambar E. 78 Contoh perspektif model sungai di Aceh

E.9.2 Stabilitas Struktur Bangunan


Struktur bangunan pengaman pantai perlu dilakukan perhitungan terhadap
stabilitas bangunan dan daya dukung tanah sehingga mampu memikul gaya
luar, seperti gelombang maupun gaya-gaya luar lainnya seperti adanya
tekanan tanah.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 109

Apresiasi Inovasi

Analisa Penurunan
Penurunan (settlement) dapat didefinisikan sebagai pergerakan vertikal
dasar suatu struktur yang dipengaruhi penambahan beban atau lainnya.
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan, biasanya akibat
penambahan beban pada tanah sekitarnya, penimbunan, penurunan muka
air tanah, getaran, berat konstruksi. Besarnya penurunan dapat dinyatakan
dengan persamaan sebagai berikut:
S

Si + Sc + SS

di mana:
Si
Sc

=
=

Sc

penurunan segera (immediate settlement)


penurunan akibat konsolidasi pertama (primary consolidation
settlement)
penurunan akibat konsolidasi (secondary consolidation
settlement)

Harga Si jauh lebih kecil daripada harga SC dan waktu yang diperlukan juga
lebih kecil daripada waktu SC. Sedangkan SS merupakan tahapan kedua
sesudah selesainya penurunan pertama, waktu yang diperlukan S S sangat
lama dan harga penurunannya juga kecil.

a.

Penurunan Segera (Immediate Settlement)


Penurunan langsung disebabkan karena pemampatan elastis tanah.
Berdasarkan teori elastis, besarnya penurunan (S i) dapat dihitung
dengan rumus:

Si

B. q o

1 2 . I S
ES

di mana
IS

qo

ES

=
=
=

L
B

=
=

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

faktor pengaruh bentuk pondasi yang harga


bergantung pada B dan L
gaya netto per unit luas (m)
angka poisson
modulus kompresi atau elastisitas (Youngs
Modulus)
panjang pondasi
lebar pondasi

E - 110

Apresiasi Inovasi
Besaran-besaran yang dapat digunakan untuk analisa penurunan
segera dapat dilihat pada tabel-tabel berikut ini.

Tabel E. 7 Harga IS Untuk Macam-macam Bentuk Pondasi.

Tabel E. 8 Parameter Elastis Berbagai Jenis Tanah.

Penurunan

Akibat

Konsolidasi

Pertama

(Primary

Consolidation

Settlement)
Penurunan konsolidasi pertama adalah penurunan yang disebabkan
pemampatan oleh daya mampat lapisan tanah yang di bawah.
Besarnya penurunan (SC) dalam cm, ditentukan dengan rumus:
SC = mV.P.H
di mana H = tebal tanah (m), atau

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 111

Apresiasi Inovasi

SC

P P
CC . H

xlog o
1 e o
Po

Nilai CC (indeks kompresi) diketahui dari pengujian laboratorium atau


ditentukan dari Liquid limit (batas cair) tanah jenis lempung umumnya
yang mempunyai batas kepekaan < 4. Rumus indeks kompresi
ditentukan sebagai:
CC = 0,009 (LL 10)

b.

Penurunan

Akibat

Konsolidasi

Kedua

(Secondary

Consolidation

Settlement)
Besarnya penurunan kedua dapat ditentukan dengan persamaan
sebagai berikut:

t
tp

SS C H ts log

di mana
Hts
Ht
SC
t
tp
C

=
=
=
=
=
=

tebal lapisan tanah pada saat mulai konsolidasi kedua.


Ht - Sc
tebal lapisan tanah.
penurunan pertama konsolidasi.
waktu yang dibutuhkan untuk pemampatan kedua.
=
waktu berakhirnya konsolidasi pertama.
koefisien konsolidasi kedua.

Analisa Stabilitas Lereng


Analisa stabilitas lereng dihitung dengan Slice Method (Metode Irisan).
Analisa stabilitas dengan menggunakan metoda irisan dapat dijelaskan pada
Gambar E.85 di mana AC adalah busur kelongsoran coba-coba. Tanah di
atas busur tersebut dibagi menjadi beberapa irisan vertikal dengan lebar
setiap irisan tidak harus sama.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 112

Apresiasi Inovasi
r sin n

r
bn

C
B
1

r
n

Wn

Gambar E. 79 Permukaan Bidang Irisan.


Ditinjau irisan ke n seperti terlihat pada Gambar E.86. Berat irisan adalah
Wn. Gaya Nr dan Tr adalah komponen normal dan tangensial dari reaksi R.
Pn dan Pn+1 adalah gaya normal yang bekerja pada kedua sisi irisan. Gaya
geser yang bekerja pada kedua sisi irisan adalah T n dan Tn+1.

Untuk

penyederhanaan tekanan air pori diasumsikan sama dengan nol.

Tn
Pn

Tn+1

Wn

Pn+1
n

Tr

Nr
R=W n
Ln

Gambar E. 80 Skema Gaya yang Bekerja Pada Analisa Stabilitas Metoda


Elemen Hingga.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 113

Apresiasi Inovasi
Tinjauan keseimbangan,

N r Wn . cos n
Gaya geser penahan dapat diekspresikan sebagai:

Tr d .(( n )

f . ( n ) c tan . L n

FS
FS

Tegangan normal pada persamaan di atas adalah sama dengan:

Nr
W . cos n
n
L n
L n
Untuk keseimbangan ABC, momen terhadap titik O harus sama dengan
momen penahan terhadap titik O.
n p

. sin n

n 1

n p

n 1

Wn . cos n
tan . L n . r , atau dapat dinyatakan
L n

dalam Fs
n p

FS

c . L
n 1

Wn . cos n . tan

n p

. sin n

n 1

Catatan : Ln adalah hampir sama dengan bn / cos n , di mana bn = lebar


irisan ke n.

Analisa Daya Dukung dan Stabilitas Geser


Analisa daya dukung dilakukan untuk mempelajari kemampuan tanah dalam
mendukung

beban

struktur

menyatakan

tahanan

geser

yang

terletak

tanah

untuk

di

atasnya.

melawan

Daya

penurunan

dukung
akibat

pembebanan, yaitu tahanan geser yang dapat dikerahkan oleh tanah di


sepanjang bidang-bidang gesernya. Analisa daya dukung tanah dilakukan
dengan menggunakan persamaan Terzaghi yang diberikan sebagai berikut:

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 114

Apresiasi Inovasi

1
q u c. NC q . Nq .B. N
2
di mana:
c

q
B

=
=
=
=

kohesi tanah
berat volume tanah
tekanan pada dasar pondasi
lebar pondasi

NC, Nq, N = faktor daya dukung Terzaghi yang dipengaruhi


Umumnya analisa daya dukung didasari pada analisa keruntuhan geser lokal
(local shear failure) dan keruntuhan geser umum (general shear failure)
sehingga nilai faktor daya dukung Terzaghi dapat dilihat pada tabel berikut
ini.
Tabel E. 9 Nilai-nilai Faktor Daya Dukung Terzaghi.

Penentuan daya dukung tanah yang diijinkan untuk desain didasari atas
besarnya angka keamanan (FS) yang nilainya sekitar 3 (FSijin = 3). Besarnya
daya dukung tanah untuk suatu struktur yang ada di atasnya dapat
diperoleh menurut persamaan berikut.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 115

Apresiasi Inovasi

FS

qu

FSijin 3

di mana:
qu
Pi

daya dukung batas tanah


total tekanan yang bekerja pada tanah

=
=

Sedangkan kemampuan tanah untuk menahan gaya geser yang terjadi


sebagai berikut:

Fr
F

FSgeser

FSijin 1,5

di mana:
Fri
Fi

total tegangan yang menahan geser tanah


total tegangan yang bekerja pada tanah

=
=

Analisa Stabilitas Guling


Analisa stabilitas guling
dalam

menahan

dilakukan untuk melihat kemampuan struktur

beban-beban

yang

bekerja

pada

struktur

tersebut.

Pengecekan stabilitas guling dilakukan dengan mengecek angka keamanan


struktur yang diberikan oleh persamaan berikut ini.

FSgeser

Mr
M

FSijin 2,0

di mana:
Mri
Mi

=
=

total momen yang menahan pengaruh guling


total momen yang bekerja pada tanah

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 116

Apresiasi Inovasi

E.10.
Karena

ESTETIKA DAN LINGKUNGAN


bangunan

pantai

merupakan

benda

asing

yang

akan

merubah

keseimbangan pantai, bagaimanapun juga pembuatan bangunan pengaman pantai


akan berdampak terhadap pantai di sekitarnya. Dalam perencanaan struktur
bangunan pengaman pantai ini harus diperhitungkan seminimal mungkin dampak
yang akan timbul, seperti terjadinya erosi dibagian hilir dari bangunan pantai.
Apabila memungkinkan, struktur pengaman pantai harus diusahakan di mana
dampak dari struktur sangat kecil seperti pada pantai tetangganya.

E.11.

RENCANA MUTU KEGIATAN

Sebagai landasan dalam pelaksanaan kegiatan pekerjaan SID Pantai dan Muara
Krueng Seumayam. diKabupaten Nagan Raya, maka metodologi pendekatan
pelaksanaan kegiatan tersebut diatas pada usulan teknis ini, kami terapkan Sistem
Jaminan Mutu ISO - 9000 dalam rangka

upaya pembenahan

manajemen yang

fundamental untuk memberikan landasan yang kokoh dalam memenuhi harapan


pelanggan terutama instansi pemerintah Badan / Lembaga atau Dinas sebagai
pengguna jasa dalam mengelola kegiatan - kegiatan pembangunan.
Sistem Jaminan Mutu standar ISO - 9000 selalu berorientasi pada perbaikan mutu
dan pencegahan tidak terjadinya kegagalan. Sehingga tujuan utama memberikan
jaminan kepuasan bagi pengguna jasa dengan prinsip biaya pencegahan dan
perbaikan jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya kegagalan.

Pengendalian

produk

jasa

merupakan

upaya

untuk

mencegah

terjadinya

kegagalan, maka untuk itu kami tempuh langkah - langkah antara lain :

Mengambil insiatif untuk mencegah munculnya ketidak sesuaian produk /


jasa;

Mengidentifikasi

dan

mencatat

masalah

yang

mempengaruhi

mutu

produk/jasa, proses dan sistem mutu ;

Membahas dan merekomendasikan usul perbaikan

melalui jalur yang

ditetapkan;

Memantau efektiftas perbaikan yang direkomendasikan;

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 117

Apresiasi Inovasi
Melakukan pengendalian tindak lanjut sampai ketidak sesuaian terkoreksi.

Penerapan

Sistem

Jaminan

Mutu

pada

kegiatan

pekerjaan

Detail

Design

Penanggulangan Banjir dan Abrasi Pantai, kami akan selalu memperhatikan hal-hal
sebgai berikut :

Menuntut komitmen yang tinggi dan tanggung jawab yang besar dari
manajemen mutu.

Menuntut keterlibatan dan kejelasan tanggung jawab semua tingkatan atau


komponen dalam pelaksanaan kegiatan Detai Design yang diuraikan pada
Kerangka Acuan Kerja.

Faktor manusia sangat memegang peranan penting. Motivasi dan disiplin


yang lemah akan berakibat pada kelambatan implementasi penerapan
Sistem Jaminan Mutu.

Cenderung untuk berpikir kritis dalam mempertanyakan kegunaan dan


efektivitas serta mencari kelemahan sistem standar dan ini juga akan
mengakibatkan lambatnya penerapan SJM ISO - 9000.

Sebagai kriteria keberhasilan penerapan Sistem Jaminan Mutu, kami konsisten


terhadap hal-hal sebagai berikut :

Produk / hasil kegiatan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan;

Ketersediaan dokumen mutu;

Pemahaman pelaksana / tim

yang akan terjun melaksanakan pekerjaan

terhadap prosedur / instruksi kerja;

Konsitensi penerapan.

Selanjutnya

penerapan Sistem Jaminan Mutu

pada pelaksanaan kegiatan

pekerjaan Detail Design merupakan Metodologi pelaksanaan kegiatan yang kami


usulkan, yaitu dengan dibuatnya RENCANA MUTU KEGIATAN.
Rencana Mutu Kegiatan (RMK) ini dimaksudkan sebagai suatu alat / instrumen
dokumen yang menjadi panduan untuk dapat melaksanakan kegiatan sesuai
dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dengan prosedur yang baku,
sekaligus sebagai alat pengendalian pelaksanaannya.
Sebagai jaminan pelaksanaan kegiatan tersebut, maka pada Dokumen Rencana
Mutu Kegiatan ini terdapat adanya suatu sistem mutu seperti tersedianya organisasi
Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 118

Apresiasi Inovasi
perusahaan yang mantap dan memahami terhadap Sistem Jaminan Mutu selain
pengalaman yang cukup handal dari Tim yang akan melaksanakan kegiatan.
Pemenuhan terhadap standar baku / prosedur yang ditetapkan dalam pengamatan,
penelitian dan analisa seperti analisa hidrologi, survey pengukuran dst. Selanjutnya
pada sistem mutu ini adanya pengendalian terhadap pelaksanaan kegiatan, serta
adanya rencana / program kegiatan sesuai dengan tahapan kegiatan yang rinci dan
jelas seperti yang tersusun pada bagan alir pekerjaan.
Pengendalian dokumen / rekaman mutu dari setiap kegiatan merupakan bagian dari
penerapan Sistem Jaminan Mutu, yang berguna sebagai dokumen pelaksanaan.

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 119

Apresiasi Inovasi

E.1.

PENDAHULUAN.........................................................................................................................1

E.2.

BANJIR............................................................................................................................................1

E.2.1

Permasalahan Drainase Perkotaan..........................................................................3

E.2.2

Penyebab Banjir dan Konsep Penanggulangannya............................................5

E.2.3

Prasarana dan Sarana(Infrastruktur)...................................................................18

E.2.4

Infrastruktur Air Perkotaan.......................................................................................20

E.3.

KONSEP DRAINASE.................................................................................................................21

E.3.1

Drainase Ramah Lingkungan...................................................................................23

E.3.2

Sistem Pembuangan Air Hujan di Rumah...........................................................24

E.3.3

Saluran Drainase Sebagai Long Storage.............................................................26

E.3.4

Kolam Tamandi Kompleks Perumahan.................................................................26

E.3.5

Peningkatan Luas Badan Air.....................................................................................30

E.3.6

Penataan Kawasan Sekitar Waduk........................................................................31

E.3.7

Pemeliharaan Kebersihan..........................................................................................31

E.3.8

Penataan Saluran Drainase di Kawasan Industri.............................................31

E.4.

KONSEP PEMBANGUNAN SUNGAI BERWAWASAN EKOLOGI-HIDRAULIK (EKO-

HIDRAULIK) SEBAGAI SOLUSI.........................................................................................................32


E.4.1

Pendekatan Integralistik Ekologi dan Hidraulik, Harmonis Antara

Perilaku Alamiah dan Pembangunan dan Kesatuan Antara Konservasi dan


Pembangunan.................................................................................................................................32
E.4.2

Drainasi Bebas Banjir dan Ramah Lingkungan.................................................36

E.4.3

Konsep Distribusi Banjir Eko-Hidraulik.................................................................40

E.4.4

Konsep Penanganan Sungai Kecil..........................................................................42

E.4.5

Implementasi Penentuan Batas Wilayah Sungai..............................................46

E.4.6

Implementasi Konsep ORPIM (One River One Plan One Integrated

Management).................................................................................................................................51
E.4.7

Konsep Eko-Hidraulik dalam Penanggulangan Banjir.....................................52

E.4.8

Restorasi Sungai di Indonesia.................................................................................57

E.5.

PEMANFAATAN FOTO UDARA, FOTOGRAMTERI DAN INTERPRETASI FOTO UDARA

DALAMSALURAN DRAINASE...........................................................................................................59
E.5.1

Foto Udara.......................................................................................................................60

E.5.2

Interpretasi Citra Foto/Satelit..................................................................................61

E.5.3

Fotogrametri...................................................................................................................62

E.6.

HIDROLOGI...............................................................................................................................68

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 120

E.6.1
E.7.

Apresiasi Inovasi
Limpasan (Runoff)........................................................................................................68

PERENCANAAN SISTEM DRAINASE...................................................................................77

E.7.1

Aspek Teknis...................................................................................................................81

E.7.2

Aspek Ekonomi dan finansial....................................................................................84

E.7.3

Aspek Sosial Budaya...................................................................................................86

E.7.4

Aspek Legalitas atau Perundang-undangan.......................................................87

E.7.5

Aspek Kelembagaan....................................................................................................88

E.7.6

Aspek Lingkungan........................................................................................................89

E.8.

SURVEI HIDROMETRI DAN SISTEM DRAINASE...............................................................91

E.8.1

Survei Hidrometri..........................................................................................................91

E.8.2

Survei Bangunan-bangunan Air............................................................................102

E.9.

PERMODELAN DALAM PERENCANAAN..........................................................................104

E.9.1

Pemodelan Fluktuasi Muka Air Sungai (Banjir)...............................................104

E.9.2

Stabilitas Struktur Bangunan.................................................................................108

E.10.

ESTETIKA DAN LINGKUNGAN.......................................................................................116

E.11.

RENCANA MUTU KEGIATAN...........................................................................................116

GAMBAR E. 1 PENANGANAN TERPADU BANJIR KAWASAN DAERAH.............................................................2


GAMBAR E. 2 KLASIFIKASI USAHA STRUKTURAL DAN NON STRUKTURAL DALAM MANAJEMEN DATARAN
BANJIR....................................................................................................................................................2

GAMBAR E. 3 PENGARUH URBANISASI PADA DAERAH TANGKAPAN AIR TERHADAP LAJU LIMPASAN............3
GAMBAR E. 4 PROSES PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR YANG KURANG MELIBATKAN MASYARAKAT..........4
GAMBAR E. 5 PROSES PEMBANGUNAN YANG MELIBATKAN MASYARAKAT SEJAK AWAL, SEHINGGA
HASILNYA DITERIMA OLEH MASYARAKAT..............................................................................................4

GAMBAR E. 6 SIKLUS DAN TAHAPAN PEMBANGUNAN YANG LENGKAP.........................................................4


GAMBAR E. 7 DENAH KOLAM TANDON DI MUARA SUNGAI.........................................................................6
GAMBAR E. 8 PINTU PASANG AIR LAUT BERALIRAN SUB-KRITIKAL...........................................................7
GAMBAR E. 9 PINTU PASANG AIR LAUT BERALIRAN SUPER-KRITIKAL.......................................................7
GAMBAR E. 10 ELEVASI DESAIN PINTU AIR PASANG....................................................................................8
GAMBAR E. 11 PADA SAAT BANJIR, ALIRAN DRAINASE KEDALAM TANGGUL TERHENTI...........................9
GAMBAR E. 12 PINTU KATUP SEDERHANA DAN PINTU KATUP APUNG.........................................................9
GAMBAR E. 13 BACK WATER DI HULU BENDUNGAN..................................................................................10
GAMBAR E. 14 BANGUNAN INLET ARUS MASUK KEDALAM SUNGAI YANG KURANG TEPAT. ....................11
GAMBAR E. 15 JENIS PENGALIRAN SUNGAI MENEROBOS GORONG-GORONG............................................12
Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 121

Apresiasi Inovasi
GAMBAR E. 16 ILUSTRASI SALURAN IRIGASI DAN DRAINASE......................................................................13
GAMBAR E. 17 SAWAH DIURUG UNTUK PERUMAHAN..................................................................................14
GAMBAR E. 18 PILIH MUARA SEJAUH MUNGKIN KE HILIR SUNGAI..............................................................15
GAMBAR E. 19 PILIH MUARA DIHILIR BENDUNG BENDUNG IRIGASI............................................................15
GAMBAR E. 20 PILIH MUARA DIHILIR BENDUNG BENDUNG IRIGASI............................................................16
GAMBAR E. 21 BERMUARA KESUNGAI YANG RENDAH PEIL BANJIRNYA......................................................17
GAMBAR E. 22 SISTEM INFRASTURKTUR PERKOTAAN (GRIGG, 1996).........................................................20
GAMBAR E. 23 SISTEM AIR BERSIH (GRIGG, 1996).....................................................................................21
GAMBAR E. 24 SISTEM MANAJEMEN AIR LIMBAH (GRIGG, 1996)...............................................................21
GAMBAR E. 25 KONSEP KONVENSIONAL DAN ECO-DRAINAGE...................................................................22
GAMBAR E. 26 ILUSTRASI IDEAL PENANGGULANGAN BANJIR DENGAN KONSEP EKOHIDROLIK.................22
GAMBAR E. 27 ILUSTRASI ALUR AIR HUJAN DI RUMAH...............................................................................25
GAMBAR E. 28 ILUSTRASI KOLAM TAMAN DI KOMPLEKS PERUMAHAN.......................................................27
GAMBAR E. 29 PENGURANGAN DEBIT PUNCAK DENGAN KOLAM TANDON (TAMPUNGAN SEMENTARA).....27
GAMBAR E. 30 URUTAN MENU DAN KENDALA PENANGAN BANJIR...........................................................28
GAMBAR E. 31

ILUSTRASI PENGGUNAAN TANDON...............................................................................30

GAMBAR E. 32 INTEGRALISTIK

KOMPONEN EKOLOGI-HIDRAULIK

GAMBAR E. 33 PERKUATAN TEBING;


KARAKTISTIK SUNGAI

(TALUD

(PROFIT

SUNGAI)...........................33

BAGIAN KANAN HARMONI ANTARA PEMBANGUNAN DAN

RAMAH LINGKUNGAN) SEDANG BAGIAN KIRI TIDAK HARMONI

ANTARA PEMBANGUNAN DAN KARAKTERISTIK SUNGAI

(ATAS)

(TALUD

TIDAK RAMAH LINGKUNGAN).. .35

GAMBAR E. 34 DRAINASI

KONVENSIONAL

GAMBAR E. 35 DRAINASI

PERUMAHAN RAMAH LINGKUNGAN DENGAN KOLAM DRAINASI

DAN DRAINASI RAMAH LINGKUNGAN

(BAWAH)...38
(KOLAM

KONSERVASI AIR HUJAN)...................................................................................................................39

GAMBAR E. 36 PENYEBARAN

PEMUKIMAN TIDAK RAMAH LINGKUNGAN

(A)

DAN RAMAH

LINGKUNGAN, PENYEBARAN SATELIT TERKONSENTRASI DAN VERTIKAL

GAMBAR E. 37 ILUSTRASI
GAMBAR E. 38 BANJIR

(B)................................40

BANJIR TERDISTRIBUSI SEPANJANG ALIRAN SUNGAI..................................41

BESAR TERKONSENTRASI DI SATU TEMPAT (BAGIAN HULU DITANGGUL,

DISUDET ATAUN DILURUSKAN)..........................................................................................................42

GAMBAR E. 39 WILAYAH SUNGAI (DAERAH

MEMANJANG JARI-JARI SUNGAI DARI HILIR HINGGA

HULU SELEBAR LEBAR SEMPADAN SUNGAI).....................................................................................46

GAMBAR E. 40 KECENDERUNGAN PEMBANGUNAN PERUMAHAN


GAMBAR E. 41 TIPE

DI BANTARAN

SUNGAI......................47

UMUM SUNGAI DAN PENENTUAN LEBAR DAERAH BANTARAN SUNGAI.................48

GAMBAR E. 42 LEBAR SEMPADAN SUNGAI DENGAN PENDEKATAN KONSEP EKOHIDRAULIK.......................50


GAMBAR E. 43 KESATUAN
PENGELOLAAN

SUNGAI DALAM MENEJEMEN

(ORPIM)

TERMASUK KESATUAN DALAM

DAS...........................................................................................................................51

GAMBAR E. 44 ILUSTRASI

IDEAL PENANGGULANGAN BANJIR DENGAN KONSEP EKOHIDRAULIK

(FAO

& PRINZ, 1999)................................................................................................................................53


Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 122

Apresiasi Inovasi
GAMBAR E. 45 ILUSTRASI RENATURALISASI SUNGAI YANG TELAH DIBANGUN...........................................58
GAMBAR E. 46 PETA GARIS DIGITAL............................................................................................................63
GAMBAR E. 47 HASIL MOZAIKING..............................................................................................................65
GAMBAR E. 48 PETA FOTO..........................................................................................................................66
GAMBAR E. 49 METODOLOGI PEMETAAN METODE FOTOGRAMETRIS ...................................................67
GAMBAR E. 50 SIKLUS HIDROLOGI.............................................................................................................68
GAMBAR E. 51 PENGARUH BENTUK DAS PADA ALIRAN PERMUKAAN........................................................69
GAMBAR E. 52 PENGARUH KERAPATAN PARIT/SALURAN PADA HIDROGRAF ALIRAN PERMUKAAN.............69
GAMBAR E. 53 BAGAN ALIR PROSES PENGOLAHAN DATA HUJAN MENJADI HUJAN WILAYAH......................70
GAMBAR E. 54 HUBUNGAN CURAH HUJAN DENGAN ALIRAN PERMUKAAN UNTUK DURASI HUJAN YANG
BERBEDA...............................................................................................................................................71

GAMBAR E. 55 LANGKAH-LANGKAH PEMAKAIAN RUMUS RASIONAL.........................................................74


GAMBAR E. 56 TAHAPAN PEMBANGUNAN SISTEM DRAINASE PERKOTAAN.................................................79
GAMBAR E. 57 KONSEP UMUM TAHAPAN KEGIATAN PEKERJAAN DARI IDE SAMPAI OPERASIONAL.............80
GAMBAR E. 58 KONSEP PENDEKATAN PELAKSANAAN PEKERJAAN PERENCANAAN.....................................81
GAMBAR E. 59 SISTEM PELAKSANAAN PEMBANGUNAN YANG TELAH DILAKUKAN SAAT INI......................87
GAMBAR E. 60 SISTEM PELAKSANAAN PEMBANGUNAN YANG HARUS DILAKUKAN PADA WAKTU KEDEPAN..
.............................................................................................................................................................87
GAMBAR E. 61 STRUKTUR DECISION SUPPORT SYSTEM (DSS)..................................................................88
GAMBAR E. 62 PROSES PENCEMARAN AIR TANAH MELALUI SALURAN DRAINASE......................................89
GAMBAR E. 63 INTRUSI AIR LAUT MELALUI SALURAN DRAINASE...............................................................90
GAMBAR E. 64 BENDUNG KARET UNTUK MENCEGAH INTRUSI AIR ASIN.....................................................90
GAMBAR E. 65 PENANGANAN BANJIR YANG TIDAK MENYELURUH MENGAKIBATKAN BANJIR BERPINDAH KE
LOKASI LAIN.........................................................................................................................................91

GAMBAR E. 66 RAMBU-RAMBU LOKASI PENGUKURAN DEBIT SUNGAI........................................................93


GAMBAR E. 67 DISTRIBUSI KECEPATAN ALIRAN PADA SUATU TAMPANG SUNGAI........................................95
GAMBAR E. 68 DISTRIBUSI KECEPATAN ALIRAN SUNGAI SECARA HORISONTAL DAN VERTIKAL.................96
GAMBAR E. 69 ALAT UKUR CURRENT METER..............................................................................................97
GAMBAR E. 70 FORMAT HITUNGAN DEBIT DENGAN CURRENT METER....................................................98
GAMBAR E. 71 SKETSA HIDROLIS RUMUS DIRECT STEP...............................................................................99
GAMBAR E. 72 HASIL PENGUKURAN DENGAN WATERPASS........................................................................100
GAMBAR E. 73 PERHITUNGAN DEBIT DENGAN METODE DIRECT STEP.......................................................102
GAMBAR E. 74 CONTOH HIDROGRAF BANJIR RENCANA...........................................................................105
GAMBAR E. 75 CONTOH PASANG SURUT DI MUARA...............................................................................105
GAMBAR E. 76 CONTOH SKEMA MODEL SUNGAI....................................................................................106
GAMBAR E. 77 CONTOH HASIL PERMODELAN SUNGAI DENGAN MODUL HEC-RAS...............................107
GAMBAR E. 78 CONTOH PERSPEKTIF MODEL SUNGAI DI ACEH................................................................108
GAMBAR E. 79 PERMUKAAN BIDANG IRISAN............................................................................................112
Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 123

Apresiasi Inovasi
GAMBAR E. 80 SKEMA GAYA YANG BEKERJA PADA ANALISA STABILITAS METODA ELEMEN HINGGA.. 112

TABEL E. 1 PERBEDAAN FUNGSI SALURAN IRIGASI DENGAN DRAINASE......................................................13


TABEL E. 2 RUMUS-RUMUS WAKTU KONSENTRASI......................................................................................73
TABEL E. 3 CONTOH ASUMSI YANG DIGUNAKAN DALAM PERHITUNGAN HIDROGRAF NAKAYASU.............76
TABEL E. 4 JENIS PETA UNTUK PERENCANAAN DRAINASE...........................................................................82
TABEL E. 5 JENIS SURVEI TOPOGRAFI UNTUK JARINGAN DRAINASE............................................................83
TABEL E. 6 KRITERIA DESAIN HIDROLOGI SISTEM DRAINASE PERKOTAAN..................................................84
TABEL E. 9 HARGA IS UNTUK MACAM-MACAM BENTUK PONDASI..........................................................110
TABEL E. 10 PARAMETER ELASTIS BERBAGAI JENIS TANAH....................................................................110
TABEL E. 11 NILAI-NILAI FAKTOR DAYA DUKUNG TERZAGHI..................................................................114

Usulan Teknis
Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase
di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

E - 124