Anda di halaman 1dari 11

PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP LAJU TRANSPIRASI

Tujuan Praktikum :
Mempelajari pengaruh faktor-faktor lingkungan : (1) jumlah daun, (2)
sirkulasi udara, (3) cahaya dan (4) jumlah stomata terhadap laju
transpirasi.
PENDAHULUAN
Tumbuhan jauh lebih cepat bertranspirasi bilamana terbuka terhadap
cahaya dibandingkan dengan di dalam gelap. Hal ini terjadi karena cahaya
mendorong / merangsang tumbuhnya stomata. Tumbuhan bertranspirasi
lebih cepat pada suhu yang tinggi. Pada suhu 30oC daun dapat
bertranspirasi tiga kali lebih cepat dibandingkan suhu 20C. Laju
transpirasi juga dipengaruhi oleh kelembaban nibsi udara sekitar
tumbuhan. Laju difusi setiap substansi dalam kedua daerah menurun.
Adanya angin juga mengakibatkan meningkatnya laju transpirasi.
Tumbuhan tidak dapat bertranspirasi dengan cepat jika kelembaban
hilang, tidak digantikan oleh air segar (Kimbal, 1983). Traspirasi adalah
proses hilangnya air dalam bentuk penguapan air dari daun dan cabang
tanaman (jaringan hidup tanaman) melalui pori pori daun yakni melalui
stomata, lubang kutikula, dan lentisel oleh proses fisiologi
tanaman(id.wikipedia.org).
Transpirasi berlangsung melalui bagian tumbuhan yang berhubungan
dengan udara luar, yaitu luka dan jaringan epidermis pada daun, batang,
cabang, ranting, bunga, buah, dan bahkan akar. Cepat lambatnya proses
transpirasi ditentukan oleh faktor-faktor yang mampu merubah wujud air
sebagai cairan ke wujud air sebagai uap atau gas dan faktor-faktor yang
mampu menyebabkan pergerakan uap atau gas. Adapun faktor faktor
yang mempengaruhi transpirasi ada 2,yaitu faktor dalam dan luar. Faktorfaktor dalam adalah besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapiskan
lilin atau tidaknya permukaan daun, banyak sedikitnya bulu di permukaan
daun, banyak sedikitnya stomata, serta bentuk dan lokasi stomata.
Sedangkan factor luar yang mempengaruhi adalah sinar matahari,
temperatur, kelembaban udara, angin, dan keadaan air dalam tanah
(vansaka.blogspot.com).
HASIL PENGAMATAAN
No. Perlakuan Laju Transpirasi (mm/s)
5 menit pertama 5 menit kedua Rata-rata
1 Laboratorium 2,6 x 10-3 1,3 x 10-3 1,95 x 10-3
2 Kipas 0 1 x 10-3 5 x 10-4

3 Lampu 0 1,6 x 10-3 0,8 x 10-3


4 Kipas dan lampu 3,3 x 10-4 1 x 10-3 6,65 x 10-4
5 jumlah daun (kipas + lampu) 0 3,3 x 10-4 1,6 x 10-4
6 jumlah daun, permukaan atas daun dilapisi vaselin (kipas + lampu) 1
x 10-3 0 5 x 10-4
7 jumlah daun, permukaan atas dan bawah daun dilapisi vaselin (kipas
+ lampu) 0 0 0

Laju Transpirasi = Jarak


Waktu

Contoh perhitungan

Laju Transpirasi Laboratorium 5 menit I= 0,78 = 2,6 x 10-3 mm/s


300

Laju Transpirasi Laboratorium 5 menit II = 0,39 = 1,3 x 10-3 mm/s


300
Laju Transpirasi Laboratorium Rata-rata = 2,6 x 10-3 + 1,3 x 10-3 = 1,95 x
10-3 mm/s
2

PEMBAHASAN
Pada pratikum kali ini yaitu pengaruh lingkungan terhadap laju transpirasi
dilakukan menggunakan alat photometer dengan beberapa
perlakuan,antara lain mengetahui laju transpirasi tanpa ada pengganggu,
mengetahui laju transpirasi dengan adanya angin, cahaya, angin dan
cahaya, dan juga pemberian vaselin pada tanaman tersebut.
Adapun data dari percobaan menyatakan bahwa perlakuan laboratorium
(kontrol) memiliki laju transpirasi paling besar yaitu 1,95 x 10-3 mm/s hal
in terjadi karena transpirasi tanaman berjalan normal tanpa gangguan
faktor lingkungan. Sedangkan jika tamanam diberi berbagai faktor

lingkungan, maka faktor cahaya (lampu) memiliki laju transpirasi paling


besar yaitu 0,8 x 10-3 mm/s, hal ini sesuai dengan literature yang
menyatakan tumbuhan akan melakukan transpirasi lebih cepat jika ada
cahaya. Pada perlakuan angin transpirasi menurun menjadi 5 x 10-4
mm/s. Pada perlakuan angin dan cahaya laju transpirasi berada antara
laju transpirasi cahaya dan angin yaitu 6,65 x 10-4 mm/s
Pada perlakuan cahaya dan angin dengan jumlah daun setengah dari
jumlah daun seluruhnya nilai laju transpirasi menurun menjadi 1,6 x 10-4
mm/s, ini disebabkan oleh berkurangnya jumlah stomata. Perlakuan
pemberian vaselin (pengganti lilin) menyebabkan laju transpirasi menurun
jika vaselin diberikan pada bagian atas daun saja yaitu 5 x 10-4 mm/s,
oleh karena stomata bagian bawah masih bisa melakukan transpirasi.
Sedangkan jika vaselin diberikan pada bagian atas dan bawah daun maka
laju transpirasi bernilai 0 atau transpirasi tidak berjalan karena seluruh
stomata baik yang berada di atas daun maupun bawah daun tertutup oleh
vaselin.

KESIMPULAN
Dari pratikum ini dapat disimpulkan bahwa laju transpirasi pada tumbuhan
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain jumlah stomata, jumlah
daun, sirkulasi udara, dan cahaya. Pada hasil percobaan diperoleh yang
sangat berpengaruh oleh laju transpirasi adalah adanya cahaya yaitu
sebesar 0,8 x 10-3 mm/s dan rata rata laju transpirasi adalah 1,95 x 103 mm/s sedangkan yang terendah adalah dengan perlakuan pemberian
vaselin pada seluruh bagian daun.
DAFTAR PUSTAKA
Kimball, J. W., 1983. Biologi. PT Erlangga, Jakarta.
[Anonim].2009. Transpirasi.[terhubung berkala].
http://www.id.wikipedia.org/wiki/transpirasi. (31 Maret 2010)
JAWABAN PERTANYAAN
1. Jika batang berakar digunakan dalam percobaan ini, maka laju
transpirasi akan mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan proses
masuknya air menjadi lebih sulit. Air akan diserap secara osmosis melalui
rambut akar. Kemudian bergerak melalui somplas dari epidermis akar ke
xylem. Pada saat endodermis, suberin pada pita kaspari memutus lintasan
apoplas dan membentuk lintasan simplas. Kompleksitas penyerapan air di
bagian akar ini, menyebabkan air masuk lebih lama.
2. Daya kohesi-adhesi air terhadap pipa kapiler yang menyebabkan air
dalam photometer bergerak. Air yang diserap oleh tumbuhan bergerak

melalui xylem menurut gradient potensial air. Air yang bergerak ini
mengalami tekanan besar, karena molekul air polar menyatu dalam kolpm
akibat dari penguapan pada bagian atas, yaitu pada daun. Kemampuan
hidrasi dinding sel ini membuat system adhesi berfungsi. Daya kohesi
akan tinggi pada kondisi lingkungan tertentu. Sehingga bila terjadi
penguapan, akan berlangsung di titik tertentu dinding sel, dan air akan
tertarik dengan proses osmosis.
3. Angin : Transpirasi terjadi apabila air berdifusi melalui stomata. Bila
angin menghembus udara lembab dipermukaan daun, perbedaan
potensial air di dalam dan tepat di luar lubang stomata akan meningkat
dan difusi bersih air dari daun juga meningkat.
Cahaya/radiasi : Radiasi sebesar 75%-85% dari radiasi matahari total,
digunakan untuk memanaskan daun dan untuk melakukan transpirasi.
Penyinaran membuat stomata terbuka dan karbon dioksida dalam ruang
antar sel menjadi lebih tinggi.
Jumlah daun : Semakin banyak jumlah daun, maka semakin luas
permukaan daun. Hal tersebut menyebabkan laju transpirasi meningkat.
Jumlah stomata : Jumlah stomata dipengaruhi oleh genotype. Semakin
banyak jumlah stomata, maka akan semakin banyak air yang
ditranspirasikan. 2015

1. Tujuan
Mempelajari pengaruh faktor-faktor lingkungan: (1) Jumlah daun, (2)
Sirkulasi udara, (3) Cahaya dan (4) Jumlah stomata terhadap laju
transpirasi.
1. Pendahuluan
Air merupakan salah satu faktor esensial yang berperan dalam
menentukan kehidupan tumbuhan. Banyaknya air ayng terdapat di
dalam tumbuhan tergantung selalu berfluktuasi, hal tersebut
tergantung dari kecepatan penggunaan air oleh tumbuhan dan
kecepatan proses hilangnya air dari tubuh tumbuhan. Transpirasi
adalah proses keluarnya atau hilangnya air dari tubuh tumbuhan

dalam bentuk uap air atau gas ke dalam udara disekitar tubuh
tumbuhan (http://naynienay.wordpress.com).
Sebagian besar transpirasi berlangsung melalui stomata, sedangkan
melalui kutikula daun dalam jumlah yang lebih sedikit. Lebih dari 20%
air yang diabsorbsi oleh akar dikeluarkan ke udara sebagai uap air
dalam bentuk transpirasi. Transpirasi tersebut menimbulkan arus
transpirasi yaitu translokasi air dan ion organik terlarut dari akar ke
daun melalui xilem (http://id.wikipedia.org.wiki). Jumlah difusi
keluarnya uap air dari stomata tergantung pada tingkat kecuraman
gradien konsentrasi uap air. Lapisan pembatas yang tebal memiliki
gradien yang lebih rendah, dan lapisan pembatas yang tipis memiliki
gradien yang lebih curam. Oleh karena itu, transpirasi melalui lapisan
pembatas yang tebal akan lebih lambat daripada yang tipis. Tebal
lapisan pembatas ini dipengaruhi oleh struktur anatomi daun, seperti
rapatnya jumlah trikoma, stomata yang tersembunyi, dll. Air yang
menguap pada transpirasi tumbuhan melalui stomata memiliki
kekuatan kapiler yang menarik air dari daerah yang berdekatan di
dalam daun (http://bima.ipb.ac.id).
III. Hasil Pengamatan
Perlakuan
Air yang ditranspirasikan (mm/s)
I
II
Rata-rata
-3
-3
Laboratorium 2,610
1,310
1,9510-3
Kipas Angin
0
10-3
510-4
Cahaya
0
1,610-3
0,810-3
daun
3,310-4
510-3
6,6510-4
Kipas +
0
3,310-4
1,610-4
Cahaya
Kipas +
110-3
0
510-4
Cahaya
(permukaan
atas dilapisi
vaselin)
Kipas +
0
0
0
Cahaya
(permukaan
bawah dilapisi
vaselin)
IV. Pembahasan
Transpirasi merupakan proses evaporasi air melalui tumbuhan. Proses
ini berlangsung selama fotosintesis terjadi, yaitu sewaktu stomata
daun membuka untuk pertukaran gas antara karbon dioksida dan
oksigen. Transpirasi merupakan proses yang penting, serta merupakan
tenaga penggerak yang mendorong naiknya air dan bahan mineral
lainnya dari akar menuju daun. Naiknya material-material tersebut
berkorelasi untuk melaksanakan biosintesis dalam rangka menyuplai
fotosintesis, dan mendinginkan daun.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi laju transpirasi, antara


lain : cahaya, temperatur, kelembaban nisbi, pergerakan air dan
angin, ketersediaan air tanah dan kelembaban tanah, serta tipe
tanaman tersebut. Ketika tanaman berada di dalam kondisi gelap
ataupun malam hari, maka laju transpirasi akan berkurang
dibandingkan apabila tanaman terpapar cahaya. Hal tersebut dapat
terjadi karena pembukaan stomata distimulasi oleh cahaya, dan
kemudian cahaya menghangatkan daun yang dapat memicu proses
transpirasi untuk meningkat. Begitupun dengan perubahan
temperature, semakin tinggi temperature maka transpirasi akan
semakin besar. Ketika temperatur naik sebesar 10C, transpirasi akan
meningkat sebesar tiga kali transpirasi semula. Konsentrasi uap air di
udara juga memicu terjadinya transpirasi. Apabila terdapat perbedaan
konsentrasi uap air yang cukup signifikan dalam hal ini udara luar
lebih kering, maka uap air tersebut akan berdifusi dari stomata daun
menuju ke udara sekitar yang memiliki konsentrasi uap air relatif
rendah. Hal sebaliknya dapat berlangsung apabila konsentrasi uap air
lebih tinggi pada udara bebas.
Udara yang berada disekitar daun akan meningkat kelembapannya
apabila tidak ada angin yang berhembus, hal tersebut menyebabkan
penurunan laju transpirasi. Ketika angin berhembus, udara lembap
akan bergeser dan digantikan oleh udara yang lebih kering. Kelima,
jika kehilangan air melalui transpirasi tidak dapat segera digantikan
oleh ketersediaan air di dalam tanah, maka dapat dipastikan
tumbuhan akan mengurangi laju transpirasinya. Sewaktu akar
tumbuhan menyerap air dari tanah dan gagal untuk memenuhi
kebutuhan transpirasi yang cenderung cepat, stomata kemudian akan
menutup karena sel penjaga kehilangan tekanan turgor. Tanaman
dapat mengalami kelayuan apabila tekanan turgor yang berkurang
tersebut terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama. Perbedaan tipe
taanaman memegang peranan penting dalam cepatnya laju
transpirasi. Setiap jenis tanaman memiliki tipe maupun jumlah
stomata yang berbeda untuk setiap luasan daun. Selain itu,
lingkungan hidup juga berpengaruh. Tanaman xerofit akan lebih
memiliki laju transpirasi yang lebih kecil, dibandingkan dengan
tumbuhan dengan habitat air (http://www.brighthub.com).
Berdasarkan hasil pengamatan, jumlah air yang ditranspirasikan per
detiknya pada kondisi laboratorium menempati urutan teratas. Hasil
ini kurang sesuai dengan teori maupun literatur yang ada, karena
kondisi yang lain seperti adanya cahaya maupun kipas angin
seharusnya memiliki laju transpirasi yang lebih besar. Hal tersebut
mungkin dikarenakan oleh praktikan yang kurang teliti dalam
melakukan pengukuran, serta tanaman yang mungkin saja telah layu.
Layunya tanaman menyebabkan data hasil pengamatan menjadi
kurang akurat dan mungkin saja menjadi lebih kecil dari yang
seharusnya. Sedangkan untuk hasil yang diperoleh pada setengah
jumlah daun, telah cukup sesuai dengan yang seharusnya. Hasil yang
diperoleh akan lebih kecil daripada laju transpirasi pada kondisi daun
utuh untuk perlakuan laboratorium. Pada data penggunaan vaselin di

daun, dapat teramati bahwa laju transpirasi yang lebih tinggi dimiliki
oleh bagian atas daun yang ditutup oleh vaselin. Hal ini dapat
dimaklumi, karena stomata pada daun terdapat paling di bagian
bawahnya. Terbukti dari nilai transpirasi yang nol sewaktu bagian
bawah daun ditutup oleh vaselin. Selain itu, penggunaan vaselin yang
tidak larut dalam air mungkin menjadi salah satu kendala, yaitu
tertutupnya ujung xylem tumbuhan oleh vaselin ketika akan dipasang
pada fotometer. Tertutupnya xylem ini berpengaruh pada laju
transpirasi yang akan menjadi lebih kecil karena air terhalang dan
tidak dapat naik menuju daun (http://plantandsoil.unl.edu).
1. Kesimpulan
Transpirasi merupakan evaporasi yang berlangsung pada jaringan
hidup tumbuhan. Laju transpirasi dipengaruhi oleh cahaya,
temperatur, kelembaban nisbi, pergerakan air dan angin, ketersediaan
air tanah dan kelembaban tanah, serta tipe tanaman. Setiap faktor ini
saling terkair antara yang satu dengan yang lain. Hasil percobaan
yang diperoleh kali ini cenderung kurang sesuai dengan literature,
karena transpirasi terbesar justru dialami pada perlakuan laboratorium
yang tidak melibatkab faktor angin, cahaya, maupun temperatur.
1. Daftar Pustaka
[Anonim]. 2010. Transpirasi Tumbuhan [Terhubung
berkala]. http://bima.ipb.ac.id/-tpbipb/materi/bio100/Materi/trnaspirasi_tumb.html (20 April 2010)
[Anonim]. 2010. Plant Transpiration [Terhubung
berkala]. http://www.brighthub.com/environment/scienceenvironmental/articles/64374.aspx (20 April 2010)
[Anonim]. 2010. Transpirasi [Terhubung
berkala]. http://id.wikipedia.org.wiki/Transpirasi (16 April 2010)
[Anonim]. 2007. Transpirasi Tumbuhan [Terhubung
berkala]. http://naynienay.wordpress.com/2007/12/16/transpirasi
(16 April 2010)
[Anonim]. 2010. Transpiration-Water Movement Through
Plants [Terhubung
berkala].http://plantandsoil.unl.edu/croptechnology/2005/soil_sci/?
what=topicsD&informationModuleld=1092853841&topicOrder=6&ma
x=8&min=0 (16 April 2010)
Jawaban Pertanyaan
1. Jika batang berakar digunakan dalam percobaan ini, maka laju
transpirasi akan mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan proses
masuknya air menjadi lebih sulit. Air akan diserap secara osmosis
melalui rambut akar. Kemudian bergerak melalui somplas dari
epidermis akar ke xilem. Pada saat endodermis, suberin pada pita
kaspari memutus lintasan apoplas dan membentuk lintasan simplas.

Kompleksitas penyerapan air di bagian akar ini, menyebabkan air


masuk lebih lama.
2. Daya kohesi-adhesi air terhadap pipa kapiler yang menyebabkan air
dalam photometer bergerak. Air yang diserap oleh tumbuhan
bergerak melalui xilem menurut gradient potensial air. Air yang
bergerak ini mengalami tekanan besar, karena molekul air polar
menyatu dalam kolpm akibat dari penguapan pada bagian atas,
yaitu pada daun. Kemampuan hidrasi dinding sel ini membuat
system adhesi berfungsi. Daya kohesi akan tinggi pada kondisi
lingkungan tertentu. Sehingga bila terjadi penguapan, akan
berlangsung di titik tertentu dinding sel, dan air akan tertarik
dengan proses osmosis.
3. - Angin : Transpirasi terjadi apabila air berdifusi melalui stomata. Bila
angin menghembus udara lembab dipermukaan daun, perbedaan
potensial air di dalam dan tepat di luar lubang stomata akan
meningkat dan difusi bersih air dari daun juga meningkat.

Cahaya/radiasi : Radiasi sebesar 75%-85% dari radiasi


metaqhari total, digunakan untuk memanaskan daun dan untuk
melakukan transpirasi. Penyinaran membuat stomata terbuka dan
karbon dioksida dalam ruang antar sel menjadi lebih tinggi.

Jumlah daun : Semakin banyak jumlah daun, maka semakin


luas permukaan daun. Hal tersebut menyebabkan laju transpirasi
meningkat.

Jumlah stomata : Jumlah stomata dipengaruhi oleh genotype.


Semakin banyak jumlah stomata, maka akan semakin banyak air yang
ditranspirasikan.

Fotosintesis adalah pembuatan gula dari dua bahan mentah sederhana, yaitu
karbondioksida dan air, yang dibantu dengan adanya klorofil, dan dengan cahaya
matahari sebagai sumber energi. Persamaan kimia fotosintesis biasanya dituliskan:
6 CO2 + 6 H2O + 672 kcal
C6H12O6 + 6 O2
Energi cahaya
glukosa
Sebenarnya persamaan tersebut merupakan bentuk persamaan yang sangat
sederhana. Hasil-hasil penyelidikan modern menunjukkan bahwa fotosintesis dapat
dipisahkan ke dalam tiga kelompok reaksi-reaksi utama. Dalam kelompok pertama,
energi cahaya dipergunakan untuk memecahkan air menjadi hidrogen dan oksigen.
Dalam kelompok kedua, energi cahaya dipergunakan untuk memberi suplai energi
kimia yang dapat dipergunakan di dalam kloroplast. Dalam kelompok tiga, hidrogen

dan energi kimia dipergunakan untuk mengubah karbondioksida menjadi gula


(Mimbar, 1991).
Berdasarkan tipe fotosintesis, tumbuhan dibagi ke dalam tiga kelompok besar,
yaitu C3, C4, dan CAM (crassulacean acid metabolism). Tumbuhan C4 dan CAM
lebih adaptif di daerah panas dan kering dibandingkan dengan tumbuhan C3.
Namun tanaman C3 lebih adaptif pada kondisi kandungan CO2 atmosfer tinggi.
Sebagian besar tanaman pertanian, seperti padi, gandum, kentang, kedelai, kacangkacangan, dan kapas merupakan tanaman dari kelompok C3. Tanaman pangan
yang tumbuh di daerah tropis, terutama gandum, akan mengalami penurunan hasil
yang nyata dengan adanya kenaikan sedikit suhu karena saat ini gandum
dibudidayakan pada kondisi suhu toleransi maksimum (Mulya, 2007).
Cahaya matahari merupakan sumber utama energi bagi kehidupan, tanpa
adanya cahaya matahari kehidupan tidak akan ada. Bagi pertumbuhan tanaman
ternyata pengaruh cahaya selain ditentukan oleh kualitasnya ternyata ditentukan
intensitasnya. Intensitas cahaya berpengaruh nyata terhadap sifat morfologi
tanaman. Tanaman yang mendapatkan cahaya matahari dengan intensitas yang
tinggi menyebabkan lilit batang tumbuh lebih cepat, susunan pembuluh kayu lebih
sempurna, internodianya lebih pendek, daun lebih tebal, tetapi ukurannya lebih kecil
dibanding dengan tanaman yang terlindung. Beberapa efek dari cahaya matahari
yang penuh (yang melebihi) kebutuhan optimum dapat menyebabkan layu,
fotosistesi lambat, laju respirasi meningkat tetapi cenderung mempertinggi daya
tahan tanaman. Intensitas cahaya yang tinggi di daerah tropis tidak seluruhnya
dapat digunakan oleh tanaman. Energi cahaya matahari yang digunakan oleh
tanaman dalam proses fotosintesis berkisar antar 0,52,0 % dari jumlah total energi
yang tersedia. Sehingga hasil fotosintesis berkurang. Apabila intensitas cahaya
kurang dari batas optimum yang dibutuhkan oleh tanaman, yang tergantung pada
jenis tanaman hal ini juga berlaku terhadap jenis-jenis anggrek (Harwati, 2007).
Dari semua radiasi matahari yang dipancarkan, hanya panjang gelombang
tertentu yang dimanfaatkan tumbuhan untuk proses fotosintesis, yaitu panjang
gelombang yang berada pada kisaran cahaya tampak (380-700 nm). Cahaya
tampak terbagi atas cahaya merah (610-700 nm), hijau kuning (510-600 nm), biru
(410-500 nm) dan violet (<400 nm). Masing-masing jenis cahaya berbeda
pengaruhnya terhadap fotosintesis. Hal ini terkait pada sifat pigmen penangkap
cahaya yang bekerja dalam fotosintesis. Pigmen yang terdapat pada membran
grana menyerap cahaya yang memiliki panjang gelombang tertentu. Pigmen yang
berbeda menyerap cahaya pada panjang gelombang yang berbeda. Kloroplast
mengandung beberapa pigmen. Sebagai contoh, klorofil a terutama menyerap
cahaya biru-violet dan merah. Klorofil b menyerap cahaya biru dan oranye dan
memantulkan cahaya kuning-hijau. Klorofil a berperan langsung dalam reaksi terang,

sedangkan klorofil b tidak secara langsung berperan dalam reaksi terang


(Syamsuri et. al., 2004).
Hydrilla merupakan tumbuhan air makrofit yang mempunyai akar, monoecious
atau dioecious, termasuk tanaman tahunan serta musimam yang hidup pada kondisi
tidak menguntungkan sebagai rumput, turion, atau tuber. Ukuran batang hydrilla
bervariasi mulai dari yang hanya beberapa centimeter hingga yang berukuran
beberapa meter. Daun tumbuhan ini berpasangan dan berseberangan. Pada
umumnya berwarna hijau, tetapi terkadang terdapat sedikit bintik atau garis coklat
kemerahan. Tulang daunnya nyata dan terkadang terdapat ruang uniseluler pada
permukaan abaxialnya ( Hofstra and Champion, 2006).
Hydrilla bereproduksi secara vegetatif dan terkadang dengan menggunakan
biji. Tumbuhan ini dapat bertahan hidup sebagai pleustophyta atau tumbuhan yang
mengapung bebas jika akarnya terlepas atau rusah dari bagian bawah. Hydrilla juga
dapat menyimpan propagul vegetatif di dasar air untuk meregenerasi dirinya, tak
lama setelah tanaman induknya mati. Oleh karena itu, hydrilla terlihat menyebar
lebih luas dibandingkan dengan tumbuhan lainnya, hal inilah yang menyebabkan
dikenalnya efek payung. Biomassa terbesar dari tumbuhan ini berada pada
permukaan air, dan sangat berbeda dengan tumbuhan lain, dan hanya hydrilla lah
yang dapat memberikan bukti nyata terjadinya fotosintesis daripada tumbuhan
aquatik lainnya (Martin and Reid, 1976).
sumber:
Harwati, C.T. 2007. Pengaruh intensitas cahaya matahari terhadap pertumbuhan anggrek.
Jurnal Inovasi Pertanian 6(1): 58-67.
Hofstra, D.E. dan P.D. Champion. 2006. Organism consequence assessment: Hydrilla
verticillata. National Institute of Water and Atmospheric (NIWA) Research Ltd: 2
Martin, D.F. dan G.A. Reid. 1976. Uptake of manganese in Hydrilla verticillata Royle.
Journal of Agricultural and Food Chemistry 24(6): 1161-1165.
Mimbar, S.M. 1991. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Lembaga Penelitian Fakultas
Pertanian Universitas Brawijaya, Malang.
Mulya, K. 2007. Bila Bumi Semakin Panas. < http://biogen.litbang.deptan.go.id/>. Diakses
tanggal 07 Maret 2009.
Syamsuri, I., H. Suwono, Ibrohim, Sulisetijono, I. W. Sumberartha, S. E. Rahayu. 2004.
Biologi Jilid 3A. Erlangga, Jakarta.
Filter A. H. dan R. M. K. Hay. 1991. Fisiologi Lingkungan Tanaman. UGM
Press.YogyakartaAlisbury, Frank. 1995.
Fisiologi Tumbuhan Jilid 1.
Bandung: ITB Bandung.Budidaya, Universitas Indonesia Press.Cutis, O.F., and D.G. Clark.
1950. An introduction to plant physiology Mc. GrawHill Book djoseputro. 1986. Pengantar
Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Grafindo PersadaGardner, F. P. , R. Brent pearce dan Goger L.
Mitchell, 1991, FisiologiTanamananJayamiharja, Joni B. Ahmad. 1977. Diktat Fisiologi
Tumbuhan Jilid I.Purwokerto: Unsoed University PressLeopold, A.C. and P.E. Kriedemann,
1975. Plant growth and development TheDynamic of growth Sec. ed. pp. 75

105.Lubis, Khairunnisa. 2000. Tanggap Tanaman Terhadap Kekurangan Air.


FakultasPertanian Universitas Sumatera Utara.Salisbury, F. B. & Ross, C. W. 1992. Plant
Physiology. Wadsworth Publishing co,California.Tjitrosomo.1987. Botani Umum 2.
Penerbit Angkasa, Bandung.Loveles, A.R., 1987.
Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik
.Penerjemah Kuswata Kartawinata Ph.D, Sarkat Danimiharja M.Sc danUsep Soetisna Ph.D.
PT Gramedia Pustaka Utama: JakartaRahayu, Yuni Sri. 2012.
Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan
. Surabaya:Jurusan Biologi FMIPA UNESALakitan, B., 2000. Dasar-Dasar Fisiologi
Tumbuhan. PT Raja Grafindo: JakartaHttp://indonesiaindonesia.com/f/35100-manfaat-sehattanaman-pacar-air/. Diakses pada tanggal 8 Maret 2014.