Anda di halaman 1dari 29

KELENJAR MAMMAE

A. PENDAHULUAN
Kelenjar mammae atau payudara merupakan derivatif sel epitel dan
lapisan ektoderm. Jaringan payudara ini sangat sensitif terhadap hormon.
Efek hormonal pada payudara paling jelas terlihat selama perkembangan
embrionik dan setelah pubertas. Setiap kelenjar mammae terdiri atas massa
jaringan yang berlobul. Jaringan kelenjar melekat di dalam jaringan adiposa
dan dipisahkan oleh jaringan fibrosa.
Lobus anterior hipofisis adalah kelenjar yang menghasilkan bermacammacam hormon yang bertugas meregulasi sekresi hormon-hormon kelenjar
lain. Kelenjar-kelenjar berikut ini bekerja di bawah pengaruh hipofisis: gonad,
adrenal, tiroid dan mammae. Sedemikian luasnya peran hipofisis membuat
kelenjar ini mendapat julukan Master of Gland. Meskipun demikian,
hipofisis anterior tetap di bawah kontrol hipotalamus yang diperankan oleh
parvocellular neurosecretory cells di zona paraventrikuler.
Berikut ini adalah hormon yang dihasilkan oleh hipofisis lobus anterior
dan efek yang ditimbulkannya:

Hormon

Target

Efek

Follicle-stimulating
hormone (FSH)

Gonad

Ovulasi,
spermatogenesis

Luteinizing hormone
(LH)

Gonad

Ovulasi, maturasi
sperma

Thyroid-stimulating
hormone (TSH) atau
thyrotropin

Tiroid

Sekresi tiroksin
(meningkatkan
metabolisme)

Adrenocoticotropic
hormone (ACTH) atau
corticotrophin

Korteks
adrenal

Sekresi kortisol

Growth hormone (GH)

Semua
sel

Stimulasi sintesa
protein

Prolaktin

Mamma
e

Produksi dan sekresi air


susu

Struktur tubuh mammalia sesuai dengan cara hidupnya. Mammalia


terdiri atas 26 ordo dengan 3 kelompok utama:
- Mammalia bertelur (Protheria) , bertelur atau ovipar.
Embrio berkembang di dalam telur dengan menggunakan kuning telur,
setelah menetas menghisap susu dari rambut induknya karena tidak
memiliki puting susu. Contoh ordo monotremata adalah platipus
(Ornithoryncus anatinus) dan echidna.
- Mammalia berkantong (Methatheria)
Melahirkan anaknya saat embrio pada tahap awal sehingga masa
kehamilan singkat. Anak yang berukuran sebesar lebah madu dilahirkan
setelah fertilisasi. Contoh ordo Marsutapialia adalah kangguru (Macropus
sp), koala (Phascolarctos cinereus).
- Mammalia berplasenta (Eutheria)
Melahirkan anaknya setelah menyelesaikan perkembangan embrioniknya
di dalam rahim (uterus). Embrio memperoleh nutrisi dari induknya melalui
plasenta disebut mammalia berplasenta.
Tergolong mammalia berplasenta antara lain: ordo insektivora, ordo
chiropter, ordo lagomorpha, ordo perissodactyla, ordo artiodatyola, ordo
primata contohnya beruk (Maca sp), lutung jawa (Trachypithecus sp),
manusia (Homo sapiens).

B. PEMBAHASAN
Mammalia berasal dari kata mammae (bahasa Latin) yang berarti
susu. Mammalia suatu kelas dari hewan bertulang belakang (vertebrata)
yang memiliki kelenjar susu untuk menyusui anak yang baru dilahirkan atau
anak yang masih kecil. Kelenjar susu (mammae) terdapat didaerah perut
atau dada. Ciri-ciri lain mamalia selain kelenjar susu memiliki 3 tulang
telinga tengah, yaitu landasan martil dan sanggurdi. Semua mamalia
berambut, pada paus dan lumba-lumba rambut ada pada tahap tertentu.
Fungsi rambut yaitu sebagai insulasi pertukaran panas dengan lingkungan,
sebagai indra peraba, sebagai pelindung dari gesekan atau pertahanan,
sebagai penciri kelamin. Ciri lain geligi dengan berbagai bentuk dan ukuran,
rahang bawah tersusun atas 1 tulang, bernafas dengan paru-paru, jantung
ruang empat, diafragma membantu pernafasan.
Mammalia terkecil seperti kelelawar kecil (Craseonycteris
thonglongyui) dengan berat 3 gram, sedangkan mammalia terbesar adalah
paus biru (Balaenoptera musculus) panjang 27 meter dengan berat 190 kg.
1. Struktur Kelenjar Mammae
Kelenjar mammae merupakan kelenjar kulit khusus, yang terletak di
bawah kulit. Prolaktin, estrogen, progesteron, hidrokortison dan insulin
meningkatkan komponen-komponen penyusun kelenjar mammae.
a. Anatomi
Struktur dasar kelenjar mammae atau payudara hampir sama pada
semua mamalia walaupun terdapat variasi yang luas dalam hal jumlah,
ukuran, lokasi dan bentuk kelenjar mammae. Struktur anatomi payudara
secara garis besar tersusun dari jaringan lemak, lobus dan lobulus (setiap
kelenjar terdiri dari 15-25 lobus) yang memproduksi cairan susu, serta
ductus lactiferous yang berhubungan dengan glandula lobus dan lobulus

yang berfungsi mengalirkan cairan susu, di samping itu juga terdapat


jaringan penghubung (konektif), pembuluh darah dan limphe node. Lobulus
dan duktus payudara sangat responsif terhadap estrogen karena sel epitel
lobulus dan duktus mengekspresikan reseptor estrogen (ER) yang
menstimulasi pertumbuhan, diferensiasi, perkembangan kelenjar payudara,
dan mammogenesis.
Sebuah saluran langsung melalui puting merupakan perjalanan aliran
susu yang telah diproduksi dan disimpan di kelenjar mammae. Walaupun
bersatu, namun setiap kelenjar adalah unit-unit yang terpisah. Jumlah
kelenjar mammae dan posisinya pada tubuh spesifik. Sebagai contoh,
manusia memiliki jumlah dan letak kelenjar mammae yang khas. Sapi
memiliki empat kelenjar (quarter), masing-masing mempunyai ambing atau
puting di bagian luar, sedang pada babi biasanya memiliki 10 atau lebih
kelenjar mammae.
b. Morfologi
Kelenjar mammae dapat dibagi menjadi jaringan yang mensupport dan
jaringan yang terlibat dalam sintesa dan transportasi susu. Struktur jaringan
yang menunjang/mensupport adalah kulit, ligamen dan jaringan konektif.
Support yang utama berasal dari ligamentum suspensory lateral yang tidak
elastis dan ligamentum suspensorymedian yang elastis. Jaringan konektif
terbagi dalam sintesa susu dan system transportnya ke beberapa bagian.
Bagian yang paling besar disebut lobus.
Lobus ini terbagi pula atas beberapa lobulus yang lebih kecil. Supplay
darah yang cukup kepada kelenjar mammae sangat diperlukan untuk
produksi susu. Nutrient yang dimanfaatkan dalam sintesa susu, berasal dari
darah. Kira-kira 400 volume darah harus mengalir ke dalam kelenjar
mammae untuk mensintesa 1 volume susu. Supplay darah yang utama
untuk kelenjar mammae pada sapi, kuda, domba dan kambing adalah dari

arteri pudic eksterna. Pada babi, kelenjar mammae disuplay oleh arteri pudic
eksterna dan arteri thoracisekstern. Arteri-arteri yang mempenetrasi cabangcabang kelenjar mammae dan mengikuti jaringan konektif inilah yang
membentuk lobus dan lobulus.
Alveoli dikelilingi oleh sebuah network dari kapiler- kapiler arteri yang
mentransfer nutrient yang digunakan dalam sintesa susu. Network sel-sel
myoepithelial meliputi seluruh permukaan alveoli dan pembuluhpembuluh
kecil yang mengaliri lobulus. Sel-sel tersebut lembut, berfungsi seperti otot
tetapi berasal dari ectodermal bukan mesodermal. Sel-sel tersebut berasal
sari sel-sel epithelial. Sel-sel myoepithelial adalah jaringan kontraktil yang
memegang peran penting dalam milk ejection/milk let down (pengeluaran
susu).
Gambar 1. Struktur Payudara Manusia yang Matang dan
Jaringan Penyusun

Gambar 2. Struktur Kelenjar Payudara Manusia Tampak Depan

Gambar 3. Struktur Kelenjar Payudara Manusia Tampak


Samping

c. Histologi Kelenjar Ambing


Struktur kelenjar ambing tersusun dari jaringan parenkim dan stroma
(connective tissue). Parenkim merupakan jaringan sekretori berbentuk
kelenjar tubulo-alveolar yang mensekresikan susu ke dalam lumen alveolus.
Lumen alveolus dibatasi oleh selapis sel epitel kuboid. Lapisan sel epitel ini
dikelilingi oleh sel-sel myoepitel yang bersifat kontraktil sebagai responnya
terhadap hormon oxytocin dan selanjutnya dikelilingi oleh stroma berupa
jaringan ikat membrana basalis.

Pembuluh darah dan kapiler terdapat pada jaringan ikat di antara


alveolus ini. Beberapa alveolus bersatu membentuk suatu struktur lobulus
dan beberapa lobulus bergabung dalam suatu lobus yang lebih besar.
Penyaluran susu dari alveolus sampai ke glandula sisterna melalui suatu
sistem duktus yang disebut ductus lactiferus (Hurley, 2000).
Sel yang melapisi alveolus bervariasi penampilannya, tergantung
aktivitas fungsionalnya. Pada keadaan kelenjar tidak laktasi, sel berbentuk
kuboid. Bila aktif menghasilkan sekret (susu), selnya berbentuk silindris. Jika
susu dicurahkan ke dalam lumen, meregang, sel-sel kembali berbentuk
kuboid dengan ukuran yang jauh lebih besar dan sel-sel penuh berisi sekret.
Sel-sel sekretoris alveolus kaya akan ribosom, kompleks golgi dan droplet
lemak serta banyak memiliki vakuola sekretoris. Glandula Mammae
merupakan derivatif sel epitel.
d. Susunan kelenjar mammae
Setiap glandula mammae memiliki satu puting dengan dua saluran
yang menerima aliran dari daerah sekretoris yang terpisah pada masingmasing glandula. Glandula mammae dapat dibagi menjadi:
1. Jaringan-jaringan penunjang
2. Jaringan-jaringan yang terlibat dalam sintesis dan pengangkutan air susu.
Struktur-struktur penunjang adalah: kulit, ligamenta dan jaringan ikat.
Penunjang utama berasal dari : ligamentum suspensorius lateralis. Berada
diluar ambing tepat di bawah kulit juga mengirimkan lamella ke dalam
ambing, lamella-lamella ini melanjutkan diri dengan kerangka interstitial
ambing sehingga penunjang menjadi bertambah. Ligamentum suspensorius
medialis membentang longitudinal diantara dua bagian ambing dan menyatu
pada abdomen karena elastisnya, ligamentum ini teregang ketika ambing
terisi dengan air susu.

Peranan kulit dalam menunjang glandula mammae kecil artinya jika


dibandingkan dengan ligamentum suspensorius lateralis dan ligamentum
suspensorius medialis. Jaringan ikat membagi sistem sintesis dan transport
air susu menjadi beberapa bagian-bagian yang lebih besar adalah lobi
(lobus). Lobi dibagi lagi menjadi bagian yang lebih kecil yang disebut lobuli
(lobulus). Tiap lobulus memiliki satu ductus. Lobus berisi 150-225 alveoli.
Alveoli (alveolus-alveolus) merupakan struktur-struktur serupa kantong
kecil yang berbentuk sferik atau bulat alveoli mempunyai suatu lumen dan
dibatasi dengan sel-sel epithel Sel-sel epithel ini merupakan unit-unit sekresi
air susu di dalam glandula mammae. Lebih dari setengah dari semua air
susu yang tersimpan di dalam glandula mammae akan disimpan di dalam
lumen alveoli. Sisanya akan disimpan di dalam ductus-ductus (ducti) yang
berasal dari lobuli dan lobi.
2. Pertumbuhan dan Perkembangan Mammae
Perkembangan glandula mammae dapat dibagi menjadi empat fase ;
(1) . perkembangan embrio, (2) perkembangan fetus, (3) perkembangan
selama kebuntingan, (4) perkembangan periode pertumbuhan postnatal.
Periode embrional dan foetal jaringan sekretoris kelenjar mammae
berkembang dari ektoderm dan satu tanda perkembangan kelenjar mammae
adalah dua garis sejajar pada permukaan ventral, di sebelah caudal
umbilicus. Garis mammae tersebut terdiri dari beberapa lapisan sel yang
berasal dari lapisan malpighi pada ektoderm. Melalui beberapa interval garis
mammae, berproliferasi lebih lanjut dan membentuk pucuk-pucuk mammae.
Periode postnatal pada umumnya, perkembangan mammae
dipengaruhi oleh pertumbuhan berat badan. Perkembangan tersebut terdiri
dari penyebaran sisitim saluran, deposisi lemak, dan peninggian jumlah
jaringan ikat. Jaringan ikat kelenjar mengalami perubahan-perubahan siklik

selama siklus birahi yang berhubungan dengan, tetapi ketinggalan,


perubahan pada corpus lutium. Selama siklus birahi yang berulang ini
terdapat pertumbuhan sistem saluran tetapi tidak ada perkembangan
alveoli.
Kelenjar mammae manusia merupakan struktur tubuloalveolar yang
letaknya radier menjauhi puting. Payudara menjadi rudimenter dan hampir
seluruhnya terdiri atas ductus lactiferus, saat lahir. Walaupun payudara
tersebut dapat mensekresikan beberapa tetes susu, yang disebut withces
milk, fungsi sekretorik ini hanya sebentar saja dan payudara cepat menjadi
tenang sampai pubertas.
Pada laki-laki setelah pubertas kelenjar ini tidak tumbuh lagi,
sedangkan pada wanita kelenjar ini tumbuh pesat saat pubertas.
Pertumbuhan dan perkembangan glandula mammae merupakan suatu seri
peristiwa yang melibatkan interaksi berbagai macam tipe sel yang berbeda
yang dimulai sejak kelahiran dan terus berlangsung di bawah pengaruh
siklus menstruasi dan proses gestasi. Rangkaian peristiwa tersebut diatur
oleh interaksi yang kompleks antara berbagai hormon steroid dan faktor
pertumbuhan, baik dari sel yang berdekatan dengannya maupun dari
komponen dalam lingkungan sel tersebut (faktor pertumbuhan). Stimulasi
tersebut akan mempengaruhi perubahan morfologi dan metabolismenya.
Perkembangan pertama pada embrio terlihat adanya mammary band
yaitu area sel-sel epithelial yang kecil dan tebal, yang pada sapi dapat
terlihat kira-kira pada umur 30 hari. Kelenjar mamme ini berasal dari
ektodermal. Pada tahap perkembangan selanjutnya adalah garis mammae
(mammary line), pusat mammae (mammary crest), tonjolan mammae (
mammary hillock) dan pucuk mammae (mammary bud). Pucuk atau kuncup
mammae ini dapat terlihat pada bagian awal periode fetus. Pada sapi, pucuk
mammae dapat ditemukan di bagian tengah garis ventral dari embrio dan
selanjutnya tumbuh ke bagian depan dan belakang quarter. Sedikit bukti

yang menunjukkan bahwa perkembangan mammae embrional ini dibawah


kontrol hormonal.
Pucuk/kuncup mammae ini terlihat pada kedua jenis embrio jantan dan
betina maka hal ini juga sebagai tanda awal dari pola perkembangan
kelenjar jantan dan betina. Pada individu betina, tahap pucuk mammae ini
diikuti dengan perkembangan puting. Kecambah primer (primary sprout)
akan membentuk jaringan mammae fetus pada tiga bulan kebuntingan.
Kecambah primer ini merupakan awal jaringan sekresi susu terbentuk.
Sebelum akhir masa kebuntingan kecambah sekunder dan tertier juga
terbentuk. Pengaturan pada fase ini belum sepenuhnya dimengerti, namun
ada bukti adanya pengaruh endokrin. Prolaktin yang bekerja sinergis dengan
insulin, hormone steroid dari cortex adrenal dan progesterone adalah
hormon-hormon yang mungkin menstimulasi perkembangan ini.
Konsentrasi progesteron tinggi sepanjang masa kebuntingan.
Walaupun lebih tinggi pada awal kebuntingan, sementara konsentrasi
estrogen lebih tinggi pada akhir masa kebuntingan yaitu pada periode
pertumbuhan terbesar dari kelenjar mammae. Kedua hormone tersebut
adalah sebagai regulator yang penting bagi perkembangan fungsi jaringan
mammae yang potensial untuk sekresi susu. Setelah kebuntingan,
perkembangan mammae akan berlanjut, dengan kecepatan perkembangan
yang tinggi pada akhir masa kebuntingan, yang pararel dengan kecepatan
pertumbuhan fetus.
Setelah lahir, mammae tumbuh terus dengan kecepatan tumbuh
seperti umumnya pertumbuhan badan sampai kira-kira umur 3 bulan. Dari
umur tiga bulan sampai sebelum pubertas, kecepatan tumbuh mammae
lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan badan. Growth hormone
terlibat sebagai regulator pada pertumbuhan ini. Setelah pubertas, kelenjar
mammae akan dihadapkan pada siklus yang membutuhkan peningkatan

estrogen dan progesterone. Efek dari estrogen adalah pada perkembangan


pembuluh, sedang progesterone menstimulus perkembangan lobulus.
3. Laktogenesis
Kelenjar susu secara normal digolongkan sebagai suatu kelenjar
pelengkap sistem reproduksi, karena hubungannya yang erat dan hormonhormon dan fungsi-fungsi reproduksi. Sekresi kelenjar susu menjamin
imunitas pasif dan menyediakan makanan untuk anak yang baru lahir.
Selama masa kebuntingan terjadi proliferasi saluran-saluran mammae dan
alveoli dibawah pengaruh hormon progesteron dan estrogen dari ovarium
dan plasenta. Pada bulan kelima pertumbuhan tenunan sekretoris hampir
sempurna. Selama pertengahan terakhir masa kebuntingan terjadi hipertropi
seluler dan sekresi yang terbatas.
Pertumbuhan kelenjar susu dan laktasi terutama berada di bawah
pengaruh hormon, syaraf-syaraf vasomotorik di dalam puting susu dan di
dalam kulit ambing memegang peranan tidak langsung pada sekresi air
susu. Dengan jalan menstimulir kelenjar hypofisa maka akan dilepaskan
hormon prolaktin. Hormon prolaktin ini penting untuk memulai dan
mempertahankan laktasi dan melepaskan oxytoxin yang perlu untuk LetDown atau penurunan air susu. Syaraf vasomotor mungkin memainkan
peranan tak langsung pada sekresi susu dengan mengatur suplai darah
kekelenjar susu. Estrogen dan progesteron yang dihasilkan oleh ovarium dan
plasenta bekerja sama untuk pengembangan kelenjar susu. Progesteron
menyebabkan pertumbuhan lebih lanjut sistem saluran dan perkembangan
alveolar.
Sel epitel alveolus yang memproduksi susu merupakan sel yang
terpolarisasi dan sangat berdeferensiasi yang berfungsi mengakumulasi,
mensintesis, mengemas, dan mengeluarkan komponen-komponen air susu.
Setidaknya empat jalur transeluler dibutuhkan untuk pembentukan air susu

yang sesuai di dalam alveolus payudara. Jalur yang pertama meliputi sekresi
kation monovalen dan air. Jalur yang kedua, transpor immunoglobulin yang
dimediasi reseptor. Jalur yang ketiga, sintesis dan transpor lemak susu. Jalur
yang keempat, eksositosis vesikel sekretorik yang mengandung protein susu
spesifik, kalsium, fosfat, sitrat dan laktosa. Jalur paraseluler imunoglobulin
seperti IgA, plasma protein, dan leukosit dapat bergerak di antara sel
alveolar yang telah kehilangan persambungan erat (tight junction).
Laktasi terjadi pada waktu kelahiran bersamaan dengan penurunan
kadar progesteron dan estrogen dalam darah dan meningkatkan kadar
prolaktin atau hormon laktogenik dari kelenjar hipofisa. Prolaktin perlu untuk
memulai sekresi air susu dan mempertahankan laktasi. Peningkatan kadar
prolaktin didukung oleh stimulasi mammae melalui penghisapan dan
penyingkiran kolestrum dan air susu dari alveoli kelenjar susu.
4. Fungsi Kelenjar Mammae
Laktasi merupakan karakteristik yang spesifik bagi mamalia. Susu adalah produk yang
dihasilkan oleh glandula mammae dan merupakan nutrisi bagi anaknya untuk mendapatkan
imunitas pasif. Susu mempunyai susunan kimia yang kompleks. Konstituen utamanya adalah air
yaitu sebesar 46 90 %. Komposisi susu juga bervariasi tergantung spesies Komponen utama
lainnya adalah protein, lemak dan laktosa. Susu juga merupakan sumber berbagai mineral seperti
Ca, Mg dan P serta berbagai vitamin. Air susu yang pertama keluar setelah proses kelahiran
mengandung maternal immunoglobulin atau antibody yang dapat bertindak sebagai imunitas
terhadap penyakit, disebut kolostrum.
Protein dan lemak merupakan komposisi penting pada susu. Protein dalam susu disebut
casein. Casein ini hadir dalam berbagai bentuk pada spesies yang berbeda. Molekul casein
beragregasi membentuk ikatan disebut micelles, dan distabilkan oleh komponen lain yaitu Ca,
Phosphate, Citrat dan lain-lain. Casein terdiri dari berbagai asam amino. Casein mengandung asam
amino yang dibutuhkan oleh manusia, oleh karena itu susu merupakan nutrisi yang tinggi kualitas
proteinnya. Sementara lemak hadir sebagai globul-globul kecil dekat dengan membrane yang berasal
dari sel-sel yang mengeluarkannya yaitu membrane globul lemak susu.

Tabel 1. Komposisi Susu Sapi dan Beberapa Spesies Lain


Kompone

Sapi

Kambin
g

Manusia

Domba

Kuda

Babi

Air

87,70

86,0

88,2

81,3

89,9

81,9

Lemak

3,61

46

3,3

3,3

1,2

6,8

Laktosa

4,65

4,2

6,8

6,8

6,9

5,5

Protein

3,29

4,4

1,5

1,5

1,8

5,1

0,75

0,8

0,2

0,2

0,3

0,7

N X 6,38
Abu

Sumber : Pearson, D.1971. Dalam Lestari. 2006.


Pada dasarnya air susu merupakan emulsi lemak dalam fase cairan yang isotonik dengan
plasma. Air susu manusia yang telah matang mengandung 3-5% lemak, 1% protein, 7% laktosa,
0,2% mineral, serta memberikan kalori sebesar 60-75 kkal/dL. Kelompok lemak utama pada air susu
manusia adalah trigliserida. Protein-protein yang utama pada air susu manusia adalah kasein,
laktoalbumin, laktoferin, imunoglobulin A, lisozim, dan albumin. Mineral yang dikandung meliputi
natrium, kalium, kalsium, magnesium, fosfor dan klorida dan beberapa hormon peptida ( Heffner,

L. J & D. J. Schust. 2006).


Susu diproduksi oleh glandula mammae dari kumpulan sel-sel epithelial sekretori yang
spesifik. Sel-sel ini membentuk struktur yang disebut alveoli. Sel-sel alveoli dikelilingi oleh sel-sel
kontraktil yang disebutt sel-sel myoepithelial. Sel-sel berkontraksi sebagai respon dari hormon yang
dikeluarkan oleh kelenjar pituitary yaitu oxytocin. Kelenjar mammae adalah kelenjar eksokrin
dimana sekresi eksternal dari alveoli dialirkan melalui system pembuluh ke puting yang dapat dihisap
oleh anaknya. Kelenjar mammae ini adalah perkembangan dari kelenjar keringat. Spesies yang
penting secara ekonomi sebagai penghasil susu adalah ruminansia seperti domba, sapi dan kambing.
Unta merupakan ternak perah yang penting di timur tengah, sedangkan susu kuda banyak digunakan
sebagai susu fermentasi atau yoghurt yang banyak dikonsumsi di Asia.

Tiga alasan mengapa ternak ruminansia diperuntukkan sebagai penghasil susu adalah : (1)
Mereka dapat merubah rumput dan hijauan yang tidak kita konsumsi sebagai sumber pakan ke dalam
susu, nutrisi yang dapat kita konsumsi. Hal ini dapat terjadi berkat adanya fermentasi mikroba dalam
rumennya. (2) Memiliki pembuluh puting yang dapat memfasilitasi pengeluaran susu. (3)
Memproduksi susu dalam jumlah besar secara efisien.
5. Kelainan Pada Kelenjar Mammae
Kanker payudara dapat tumbuh dimana saja pada kelenjar mammae. Tumor biasanya
dikelompokkan berdasarkan asal selnya. Kerentanan kelenjar payudara terhadap

tumorigenesis dipengaruhi oleh perkembangan normal dari kelenjar itu


sendiri yang dikarakterisasi dengan berbagai perubahan dalam proliferasi
dan diferensiasi sel payudara.
Penelitian menunjukkan bahwa sistem endokrin yang mengontrol
perkembangan payudara mempengaruhi risiko terjadinya kanker payudara.
Keseimbangan antara proliferasi, diferensiasi dan kematian sel-sel kelenjar
payudara berperan penting dalam proses perkembangan tersebut. Estrogen
merupakan suatu hormon steroid yang memberikan karakteristik seksual
pada wanita, mempengaruhi berbagai organ dan jaringan di antaranya
terlibat pada regulasi proliferasi sel dan diferensiasi baik pada wanita atau
pria. Estrogen menyebabkan perkembangan jaringan stroma payudara,
pertumbuhan sistem duktus yang luas, dan deposit lemak pada payudara.
Diduga paparan yang berlebihan dari estrogen endogen dalam fase
kehidupan perempuan berkontribusi dan mungkin merupakan faktor
penyebab terjadinya kanker payudara.
Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker yang mempunyai
prevalensi cukup tinggi. Kanker payudara dapat terjadi pada pria maupun
wanita, hanya saja prevalensi pada wanita jauh lebih tinggi. Di Indonesia,
kanker payudara menempati urutan ke dua setelah kanker leher rahim.

Kejadian kanker payudara di Indonesia sebesar 11% dari seluruh kejadian


kanker.
Pada umumnya tumor pada payudara bermula dari sel epitelial,
sehingga kebanyakan kanker payudara dikelompokkan sebagai karsinoma
(keganasan tumor epitelial). Sedangkan sarkoma, yaitu keganasan yang
berangkat dari jaringan penghubung, jarang dijumpai pada payudara.
Berdasarkan asal dan karakter histologinya kanker payudara dikelompokkan
menjadi dua kelompok besar yaitu in situ karsinoma dan invasive karsinoma.
Karsinoma in situ dikarakterisasi oleh lokalisasi sel tumor baik di duktus
maupun di lobular, tanpa adanya invasi melalui membran basal menuju
stroma di sekelilingnya. Sebaliknya pada invasive karsinoma, membran basal
akan rusak sebagian atau secara keseluruhan dan sel kanker akan mampu
menginvasi jaringan di sekitarnya menjadi sel metastatik .
Kanker payudara pada umumnya berupa ductal breast cancer yang
invasif dengan pertumbuhan tidak terlalu cepat. Kanker payudara sebagian
besar (sekitar 70%) ditandai dengan adanya gumpalan yang biasanya terasa
sakit pada payudara, juga adanya tanda lain yang lebih jarang yang berupa
sakit pada bagian payudara, erosi, retraksi, pembesaran dan rasa gatal pada
bagian puting, juga secara keseluruhan timbul kemerahan, pembesaran dan
kemungkinan penyusutan payudara. Sedangkan pada masa metastasis
dapat timbul gejala nyeri tulang, penyakit kuning atau bahkan pengurangan
berat badan.
Sel kanker payudara dapat tumbuh menjadi benjolan sebesar 1 cm2
dalam waktu 8-12 tahun. Pada tumor yang ganas, benjolan ini bersifat solid,
keras, tidak beraturan, dan non mobile. Pada kasus yang lebih berat dapat
terjadi edema kulit, kemerahan, dan rasa panas pada jaringan payudara.
Penyebab kanker payudara sangat beragam, tetapi ada sejumlah faktor
risiko yang dihubungkan dengan perkembangan penyakit ini yaitu asap
rokok, konsumsi alkohol, umur pada saat menstruasi pertama, umur saat

melahirkan pertama, lemak pada makanan, dan sejarah keluarga tentang


ada tidaknya anggota keluarga yang menderita penyakit ini.
Hormon tampaknya juga memegang peranan penting dalam terjadinya
kanker payudara. Estradiol dan atau progresteron dalam daur normal
menstruasi meningkatkan resiko kanker payudara. Hal ini terjadi pada kanker
payudara yang memiliki reseptor estrogen, dimana memang 50 % kasus
kanker payudara merupakan kanker yang tergantung estrogen.
Fibroadenoma merupakan tumor jinak payudara yang sering ditemukan pada
masa reproduksi yang disebabkan oleh beberapa kemungkinan yaitu akibat
sensitivitas jaringan setempat yang berlebihan terhadap estrogen sehingga
kelainan ini sering digolongkan dalam mamary displasia.
Fibroadenoma biasanya ditemukan pada kuadran luar atas, merupakan
lobus yang berbatas jelas, mudah digerakkan dari jaringan di sekitarnya.
Pada gambaran histologis menunjukkan stroma dengan proliferasi fibroblast
yang mengelilingi kelenjar dan rongga kistik yang dilapisi epitel dengan
bentuk dan ukuran yang berbeda.
C. KESIMPULAN
Struktur anatomi kelenjar mammae secara garis besar tersusun dari
jaringan lemak, lobus dan lobulus (setiap kelenjar terdiri dari 15-25 lobus)
yang memproduksi cairan susu, serta ductus lactiferous yang berhubungan
dengan glandula lobus dan lobulus yang berfungsi mengalirkan cairan susu,
di samping itu juga terdapat jaringan penghubung (konektif), pembuluh
darah dan limphe node. Sel-sel alveoli dikelilingi oleh sel-sel kontraktil yang disebut sel-sel
myoepithelial.

Susu adalah produk yang dihasilkan oleh glandula mammae dan merupakan nutrisi bagi
anaknya untuk mendapatkan imunitas pasif. Susu mempunyai susunan kimia yang kompleks.
Konstituen utamanya adalah air yaitu sebesar 46 90 %. Komposisi susu juga bervariasi

tergantung spesies. Komponen utama lainnya adalah protein, lemak dan laktosa. Susu juga
merupakan sumber berbagai mineral seperti Ca, Mg dan P serta berbagai vitamin.
Air susu yang pertama keluar setelah proses kelahiran mengandung maternal
immunoglobulin atau antibody yang dapat bertindak sebagai imunitas terhadap penyakit, disebut
kolostrum. Kerentanan kelenjar payudara terhadap tumorigenesis dipengaruhi
oleh perkembangan normal dari kelenjar itu sendiri yang dikarakterisasi
dengan berbagai perubahan dalam proliferasi dan diferensiasi sel payudara.
DAFTAR PUSTAKA
Chandra, A. et. a l. 1995. Pengaruh Akupuntur Terhadap Poduksi Air Susu
Ibu. Jurnal Cermin Dunia Kedokteran No. 105. FK UI. Diakses 14
Nopember 2009.
Duval, J. 1997. Treating Mastitis Without Antibiotics Ecological Agriculture
Projects . http; // www, eap mc gill. ca // Publications / EAP 69 htm.
Diakses 17 Nopember 2009.
Eni, F. 2009. Sistem Reproduksi Betina. http: /1 bp. Blogspot. Com/9 BICAF
jp Rb U/sha Y 4 mtepol / AAAAAAA jc/ K2q Rt4 / S 320 / E S 2.
Diakses 3 Desember 2009.
Hefner, L. J & D. J. Schust. 2006. At Glance Sistem Reproduksi . Jakarta :
Erlangga.
Hurley ,W.L & D.E .Morin. 2000. Mastitis Lesson A Lactation Biology. ANSCI
308. http: // classes aces uinc. Edu/ Anscei 308/ 17 Nopember 2009.
Hurley, WL . 2000. Mammary Tissue Organization Lactatition Biology. ANSCI
308. http: // classes aces uinc. Edu/ Anscei 308/ 17 Nopember 2009.
Lestari, T.D. 2006. Laktasi Sapi Perah Sebagai Lanjutan Proses Reproduksi.

Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran. Diakses 14 Nopember


2009.
Suroyo, et.al. 2003. Ensiklopedi Sains dan Kehidupan. Jakarta : Tarity
Samudra
Berlian.
Syarif, A. 2009. Fibroadenoma Mammae. Faculty of Medicine Gadjah
Mada University 5. Nida juwita. Noprep 681107/ Fibroadenoma
mammae : FK UKM. Diakses 14 Nopember 2009.
Tembayong , J & S. Wonodirekso. 1990. Buku Ajar Histologi ( Terjemahan)
Jakarta: EGC.
Diposkan oleh ernawaty abdullah di 07.20
Label: Media gambar/Foto
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar

Kelenjar susu adalah kelenjar tambahan sistama reproduksi.[1] Dalam kondisi yang normal
kelenjar susu akan berkembang setelah sistema reproduksi beroperasi atau berfungsi.[1] Pada
ternak yang berplasenta perkembangan kelenjar susu sebagian besar terjadi setelah ternak
mulai bunting.[1] Pertumbuhan jaringan kelenjar susu dibawah pengaruh hormon-hormon.[1]
Namun tidak diketahui kadar hormon dalam darah selama bunting mempengaruhi besarnya

perkembangan kelenjar susu atau hormon-hormon tersebut berfungsi hanya sebagai


perangsang atau kunci yang merangsang material genetik dalam asam deoksiribonucleat
(DNA) dalam sel kaitannya dengan pembelahan sel untuk pertumbuhan kelenjar susu.[1]
Kelenjar susu merupakan kelenjar kulit (ambing), pembuluh darah utama yang
menghubungkan kelenjar dengan tubuh terbatas dengan sedikit arteri dan vena.[1] Hal ini
memungkinkan untuk mengukur aliran yang terjadi pada komposisi darah yang masuk dan
yang meninggalkan kelenjar susu.[1] Ambing terbagi menjadi dua bagian, yaitu kiri dan
kanan, terpisahkan oleh satu lekukan yang memanjang, yang disebut intermammary groove.[1]
Diambing sering dijumpai adanya puting tambahan (extra teat) diluar empat yang normal
dari maisng-masing kuartir.[1] Puting tambahan biasanya berada dibelakang atau kadangkadang diantara puting depan dan belakang.[1] Ambing sapi terdiri dari dua tenunan atau
jaringan yaitu "tenunan kelenjar" yang menghasilkan susu dan "tenunan pengikat" berfungsi
sebagai kerangka.[2] Tenunan kelenjar susu dan tenunan pengikat disatukan dan terbungkus
oleh kulit yang berfungsi sebagai pelindung.[2]

Fisiologi Kelenjar Susu


10.43

Eki Maura

Jaringan kelenjar susu dapat memberikan peluang untuk mempelajari fungsi dasar fisiologi sel
dan system organellanya. Jaringan kelenjar susu tersebut berbeda dengan jaringan-jaringan yang
lain dalam hal pertumbuhannya sebagian besar terjadi pada saat ternak betina telah mencapai
pubertas (Prihadi,1997).
Kelenjar susu merupakan kelenjar tambahan sistama reproduksi. Dalam kondisi yang normal
kelenjar susu akan berkembang setelah sistema reproduksi beroperasi atau berfungsi. Pada ternak
yang berplasenta perkembangan kelenjar susu sebagian besar terjadi setelah ternak mulai
bunting. Pertumbuhan jaringan kelenjar susu dibawah pengaruh hormon-hormon. Namun tidak
diketahui apakah kadar hormon dalam darah selama bunting mempengaruhi besarnya
perkembangan kelenjar susu atau hormon-hormon tersebut berfungsi hanya sebagai perangsang
atau kunci yang merangsang material genetik dalam asam deoksiribonucleat (DNA) dalam sel
kaitannya dengan pembelahan sel untuk pertumbuhan kelenjar susu (Prihadi,1997).
Sekresi susu yang berkelanjutan diatur oleh beberapa faktor. Jumlah susu yang diproduksi dan
komposisi dapat ditingkatkan dengan mengadakan perubahan status hormon dan nutrisi ternak.
Hormon-hormon somatotrophin dan thyroxine meningkatkan produksi susu sapi perah. Untuk
mempertahankan kontinueitas sekresi susu, susu yang telah disekresikan harus dikeluarkan
secara periodik. Pengeluaran susu dari kelenjar susu pada sebagian besar mammalia memerlukan
ransangan pada sistema syaraf melalui sistema penyusunan oleh anaknya atau pemerahan.
Ransangan pada syaraf memacu pelepasan hormon oxitocin yang menyebabkan sel myoepithel
yang mengelilingi alveolus berkontraksi dan memeras susu keluar dari alveoli menuju ke saluran
susu (Prihadi,1997).
Karena kelenjar susu merupakan kelenjar kulit, pembuluh darah utama yang menghubungkan
kelenjar dengan tubuh terbatas dengan sedikit arteri dan vena. Hal ini memungkinkan untuk
mengukur aliran yang terjadi pada komposisi darah yang masuk dan yang meninggalkan kelenjar
susu (Prihadi,1997).
Ambing adalah suatu kelenjar kulit yang tertutup oleh bulu, kecuali pada putingnya. Ambing
tanpak sebagai kantung yang berbentuk persegi empat (Prihadi,1997). Ambing seekor sapi betina
terbagi menjadi empat kuartir yang terpisah. Dua kuartir bagian depan biasanya berukuran 20%
lebih kecil dari kuartir bagian belakang dan kuartir-kuartir itu bebas satu sama lain
(Blakely,1991).
Ambing terbagi menjadi dua bagian kiri dan kanan terpisahkan oleh satu lekukan yang
memanjang, yang disebut intermammary groove. Diambing sering dijumpai adanya puting
tambahan (extra teat) diluar empat yang normal dari maisng-masing kuartir. Puting tambahan
biasanya berada dibelakang puting belakang atau kadang-kadang diantara puting depan dan
belakang (Prihadi,1997).
Menurut Soetarno (1999) kuartir sebelah kanan dan sebelah kiri dipisahkan oleh membrane yang
tebal yang disebut tenunan penyakit septum media (median susupensory) yang menjulur keatas
bertautan pada dinding perut, sehingga merupakan alat penggantung bagi ambing. Bagian
ambing kanan dan kiri masing-masing dipisahkan menjadi dua bagian oleh suatu membrane yang
amat tipis (fine membrane)

Ambing sapi terdiri dari dua tenunan atau jaringan yaitu tenunan kelenjar yang menghasilkan
susu dan tenunan pengikat berfungsi sebagai kerangka. Tenunan kelenjar susu dan tenunan
pengikat disatukan dan terbungkus oleh kulit berfungsi sebagai pelindung (Soetarno,1999).
System tenunan kelenjar susu terdiri dari rongga putting, rongga ambing, saluran susu besar dan
alveoli. Sedang system tenunan pengikat terdiri dari sekelompok alveolus-alveolus atau alveoli
terbungkus oleh membran yang tipis berbentuk lobulus. Lobulus-lobulus atau lobuli, satu dengan
yang lainnya juga terbungkus oleh membran yang tipis. Dari banyak lobuli yang terbungkus oleh
membran tipis tersebut terbentuk lobus. Membran yang tipis membungkus alveoli atau lobuli dan
semua tenunan atau jaringan pengikat yang ada pada tenunan kelenjar susu merupakan sistema
tenunan pengikat yang berfungsi sebagai kerangka dari tenunan kelenjar susu (Soetarno,1999).
DAFTAR PUSTAKA
Blakely, J and D.H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan, edisi ke- 4. Gadjah Mada University Press.
Jogjakarta.
Prihadi, S. 1997. Dasar Ilmu Ternak Perah. Fakultas Peternakan UGM. Jogjakarta.
Sutarno, T. 1999. Manajemen Ternak Perah. Fakultas Peternakan UGM. Jogjakarta.

Minggu, 07 April 2013


Anatomi dan Fisiologi Kelenjar Susu VERSI 2
Anatomi dan Fisiologi Kelenjar Susu Aliran darah Produksi susu dipengaruhi oleh
faktor genetik dan lingkungan termasuk managemen dan pemberian pakan.
Metode yang umum ditempuh untuk meningkatkan produksi susu adalah melalui
perbaikan managemen dan pemberian pakan yang terutama bertujuan untuk
meningkatkan aliran substrat di dalam darah (prokursor susu) menuju kelenjar
ambing (sutardi, 1979). Pada kambing aliran darah mammae atau ambing
meningkat 100-250% dalam 6 hari setelah beranak (post partum) dan
peningkatan aliran darah tersebut berhubungan dengan penurunan aliran darah
ke uterus. peningkatan sel-sel sekretoris kelenjar ambing. hari sebelum beranak
(Sutardi, 1979). Susu sapi dibuat homogen dengan perlakuan mekanis. hal itu
menyebabkan ikatan lemak susu sapi dipecahkan dan enzim yang terikat di
dalamnya, oksida santin (xanthine oxidase) memasuki dinding pembuluh darah
dan ikut dalam aliran darah. Enzim itu dapat memengaruhi jantung dan saluran
arteri. Akibatnya, tubuh dirangsang melepaskan kolesterol ke dalam darah
sebagai bentuk pertahanan terhadap materi lemak. Kejadian itu dapat
menyebabkan arteriosklerosis (pengapuran pembuluh nadi) (Prihadi, 1997).
Kelenjar Susu Jaringan kelenjar susu dapat memberikan peluang untuk
mempelajari fungsi dasar fisiologi sel dan system organellanya. Jaringan kelenjar
susu tersebut berbeda dengan jaringan-jaringan yang lain dalam hal
pertumbuhannya sebagian besar terjadi pada saat ternak betina telah mencapai
pubertas (Prihadi,1997). Kelenjar susu merupakan kelenjar tambahan sistema
reproduksi. Dalam kondisi yang normal kelenjar susu akan berkembang setelah
sistema reproduksi beroperasi atau berfungsi. Pada ternak yang berplasenta
perkembangan kelenjar susu sebagian Produksi susu akan meningkat apabila
peningkatan aliran substrat tersebut akan diikuti dengan Terjadi kenaikan
produksi sel sekretoris secara gradual yang diikuti oleh peningkatan menyolok
sel sekretoris 20
besar terjadi setelah ternak mulai bunting. Pertumbuhan jaringan kelenjar susu
dibawah pengaruh hormon-hormon. Namun tidak diketahui apakah kadar
hormon dalam darah selama bunting mempengaruhi besarnya perkembangan

kelenjar susu atau hormonhormon tersebut berfungsi hanya sebagai perangsang


atau kunci yang merangsang material genetik dalam asam deoksiribonucleat
(DNA) dalam sel kaitannya dengan pembelahan sel untuk pertumbuhan kelenjar
susu (Prihadi,1997). Ambing adalah suatu kelenjar kulit yang tertutup oleh bulu,
kecuali pada putingnya. Ambing tanpak sebagai kantung yang berbentuk persegi
empat (Prihadi,1997).Ambing sapi terdiri dari dua tenunan atau jaringan yaitu
tenunan kelenjar yang menghasilkan susu dan tenunan pengikat berfungsi
sebagai kerangka. Tenunan kelenjar susu dan tenunan pengikat disatukan dan
terbungkus oleh kulit berfungsi sebagai pelindung (Soetarno,1999). System
tenunan kelenjar susu terdiri dari rongga puting, rongga ambing, saluran susu
besar dan alveoli. Sedang system tenunan pengikat terdiri dari sekelompok
alveolus-alveolus atau alveoli terbungkus oleh membran yang tipis berbentuk
lobulus. Lobulus-lobulus atau lobuli, satu dengan yang lainnya juga terbungkus
oleh membran yang tipis. Dari banyak lobuli yang terbungkus oleh membran
tipis tersebut terbentuk lobus. Membran yang tipis membungkus alveoli atau
lobuli dan semua tenunan atau jaringan pengikat yang ada pada tenunan
kelenjar susu merupakan sistema tenunan pengikat yang berfungsi sebagai
kerangka dari tenunan kelenjar susu (Soetarno,1999). Ambing sapi terdiri dari
empat bagian. Kulit ambing ditutupi rambut halus tetapi puting sama sekali tidak
tertutup rambut. Tiap bagian itu dilihat dari segi jaringan kelenjarnya,
merupakan kesatuan yang terpisah. Separo bagian kanan dan separo bagian kiri,
masing-masing satu kuarter (seperempat bagian) cranial ambing (depan) dan
satu kuarter caudal ambing (belakang), dan masing-masing bagian tersebut
lebih kurang merupakan kesatuan sendiri-sendiri. Separo bagian ambing yang
satu tidak tergantung pada separo bagian ambing yang lain, khususnya dalam
hal suplai darah, saraf dan aparatus suspensoris (Frandson, 1993). Ambing
terdiri dari bagian-bagian kecil dari jaringan sekretorik yang tersusun
dari alveoli. Sejumlah alveoli bergabung menjadi satu oleh satu saluran dan
terbungkus oleh jaringan ikat membentuk lobulus. Sejumlah lobulus bergabung
menjadi satu membentuk lobus. Susu terbentuk dalam alveolus dan jaringan
sekretorik akan dikeluarkan melalui saluran kapiler menuju kedalam lobulus dan
selanjutnya terkumpul dalam lobus. Dari lobus melalui saluran-saluran yang
akhirnya bergabung menjadi saluran induk dialirkan menuju sistem ambing yang

terdapat diatas puting. Ujung puting sapi hanya mempunyai satu lubang (Syarief
dan Sumoprastowo, 1984). Dua kuarter bagian depan biasanya berukuran
sekitar 20 % lebih kecil dari kuarter bagian belakang (Blakely et al., 1991).
Ambing bagian belakang menghasilkan susu 60 %, sedangkan bagian depan 40
% dari jumlah susu yang dihasilkan (Prihadi, 1997). Kapasitas sisterna ambing
bervariasi antara 100400 gram susu. Ujung puting sapi hanya mempunyai satu
lubang yang disebut streak canal, teat meatus atau ductus papillaris. Jaringan
penyangga ambing dibedakan menjadi 7 yaitu : kulit, fascia superfisial, cordlike
tissue, ligamentum suspensatorium lateralis, bagian dalam ligamentum
suspensatorium lateralis, tendeo subpelvis, dan ligamentum suspensorium
medialis (Frandson, 1992). Puting memiliki variasi bentuk, ada yang berbentuk
silinder, kerucut, pensil dan ada pula yang panjang maupun pendek. Puting yang
normal memiliki warna yang bersih (tanpa warna hitam) (Prihadi, 1997). Puting
susu kambing bersatu atau bergantung pada ambing bentuk simetris dan cukup
besar ukurannya. Ambing besar rasanya lembut bila dipegang dan mudah
dilipat-lipat. Bulu yang tumbuh yaitu lembut dan halus. Di bawah ambing ada
urat pembuluh darah dan kulit ambing mengisut (Sarwono, 1997). Keluarnya air
susu dipengaruhi oleh hormon oxytocin. Hormon ini mempengaruhi sel-sel
myoepithelium atau sel-sel epitel otot dan menyebabkan kontraksi pada sel-sel
tersebut. karena kontraksi tersebut maka ambing kencang dan menurunkan
susu. Hormon tersebut dikeluarkan kedalam peredaran darah apabila ada
rangsangan-rangsangan yang diterima oleh hewan dari petugas perah (Syarief
dan Sumoprastowo, 1984). Rate of milking seekor sapi sebagian tergantung
pada besar teat meatus. Sapi
yang mempunyai aliran cepat pada pemerahan biasanya mempunyai teat
meatus dengan diameter yang besar. Teats cistein, satu rongga dalam puting
susu dapat menampung susu kira-kira 10-30 cc susu tergantung besar kecilnya
puting. Pada teats cistein terdapat lipatan-lipatan yang kadang ada yang berupa
membran lengkap terbentang melintang dalam puting, sehingga puting menjadi
buntu dan susu tidak dapat keluar (Prihadi, 1997).
Perkandangan Kandang sapi perah adalah tempat sapi dapat beristirahat dengan
tenang memberi perlindungan bagi sapi maupun pekerjanya, terhindar dari air

hujan, angin kencang dan teriknya sinar matahari. Dengan perkataan lain,
kandang harus dapat mengeliminer segala faktor luar yang dapat menimbulkan
gangguan sapi perah yang ada di dalamnya. Di samping faktor luar tadi, hal-hal
lainnya yang menyangkut pembuatan kandang perlu pula diperhatikan (Siregar,
1995). Kandang berfungsi sebagai tempat tinggal sapi dan pekerja peternakpeternak yang mengurus sapi setiap hari. Sarana pokok yang langsung maupun
tidak langsung turut menentukan berhasil tidaknya usaha sapi perah, tempat
yang memberi kenyamanan dari alam misalnya hujan, angin dan udara dingin
sehingga merupakan tempat pengawasan kesehatan ternak sapi perah (Syarief
dan Sumoprastowo, 1984). Bangunan kandang didasarkan pada keperluan usaha
sapi perah, dan pembangunannya ditujukan untuk mengurangi penggunaan
waktu dalam pemeliharaan, efisiensi kerja dan tenaga kerja. Besar bangunan
harus disesuaikan dengan rencana jumlah ternak yang akan dipelihara dalam
keadaan iklim setempat. Hal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan
kandang adalah cahaya matahari, ventilasi, letak kandang, parit (Sudomo,1987).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan kandang yaitu kandang
harus dapat diterangi secara langsung maupun tidak langsung oleh sinar
matahari, konstruksi kandang diusahakan sedemikian rupa sehingga
kemungkinan pertukaran udara segar yang lancer, kandang yang dibangun
hendaknya terletak dibawah sumber air. Pembuatan parit dalam kandang
hendaknya sedemikian rupa sehingga
memudahkan penyaluran kotoran dari kandang, terutama feses, sehingga
kandang selalu dalam keadaan bersih. Kotoran hendaknya dikumpulkan dan
ditimbun ketempat penyimpanan pupuk kandang yang jaraknya minimal 10
meter dari kandang (Anonimus,1991). Hal lain yang perlu diperhatikan
diantaranya adalah lantai kandang. Lantai kandang hendaknya cukup keras,
kuat, tidak licin, tidak mudah pecah atau rusak, tidak boleh porus, tidak boleh
becek, dan mudah dibersihkan. Lantai kandang umumnya menggunakan semen
beton dibuata sedikit miring kearah selokan, kemiringannya 2% atau 1,5 (2 cm
tiap 1 m kemiringan). Lantai kandang dibuat lebih tinggi sekitar 35 cm dari
sekitarnya (Anonimus,1991). Macam-macam kandang sapi perah antara lain
kandang pedet dan kandang sapi induk. Kandang pedet dibedakan menjadi
kandang observasi (observasi pens), kandang individu (individual pans),

kandang kelompok (group pens), kandang pedet berpindah (portable calf pens)
(Sudomo,1987).
1.Kandang pedet Kandang obsevasi dibuat satu kandang tiap sapi pedet dan
dibuat sedemikian rupa sehingga pedet mudah diawasi. Kandang individu
digunakan untuk pedet yang masih diberi susu, yang diberi tempat rumput
dalam ukuran kecil. Kandang kelompok diperuntukkan untuk lebih dari satu
pedet dan untuk pedet yang lepas sapih. Kandang untuk pedet sebelum disapih
biasanya menggunakan kandang pedet individual dan tidak perlu diikat.
Kandang pedet ini dibuatberdampingan dengan kandang sapi perah induk,
dengan setiap ekor sapi perah induk harus ada satu kandang pedet (Siregar,
1989).
2.Kandang Induk
Kandang sapi induk atau sapi dara antara lain kandang tambat (stanchion bain),
pada kandang ini kebebasan sapi bergerak sangat terbatas, sehingga kondisi
sapi kurang baik. Kandang ini ada dua jenis yaitu kandang bertingkat dan
kandang tunggal atau satu lantai, dengan tujuan mengurangi resiko angin topan,
mengurangi resiko kebakaran, murah dan membuatnya, serta mudah
perawatannya (Sudomo, 1987). Sedangkan kandang tunggal atau satu lantai
dilihat dari penempatan sapi dibedakan menjadi satu baris atau lebih dari satu
baris. Jenis kandang yang lain yaitu kandang lepas ynag merupakan system
kandang yang memberi kesempatan sapi bebas karena tidak ditambat. Kandang
ini terdiri dari kandang lepas system loose housing merupakan kandang sapi
perah yang sapinya tidak ditambat, bagian kandang ini terdiri dari ruang tempat
istirahat, tempat peranginan dan tempat penyimpanan makanan, tempat
memerah dengan mesin dan tempat sapi kering. Kandang lepas system freestall
pada prinsipnya sama dengan system loose housing, yaitu sapi dipelihara
dikandang dengan tidak ditambat. Pada kandang freestall tempat istirahat atau
tidur sapi disekat-sekat, dan tiap sekatnya hanya cukup untuk satu ekor
(Sudomo, 1987). Jenis kandang yang lain yaitu kandang beranak, dan kandang
karantina. Kandang beranak berukuran sekitar 34 cm dengan alas dari jerami
atau rumput kering dan bebas dari benda tajam. Sedang kandang karantina

adalah kandang untuk perasingan sapi sakit, sehingga harus dibuat terpisah dari
bangunan lainnya, dan dipisahkan dengan tembok. Lantai kandang dibuat dari
papan diatas lantai semen yang miring, sehingga sapi tidurnya enak, dan juga
dibuatkan kandang paksa untuk sapisapiyang sukar dikendalikan (Sudomo,
1987).
Pembahasan Anatomi dan Fisiologi Aliran Darah Arteri yang mengalirkan darah
dari jantung ke kelenjar susu (ambing ) ada 2 yaitu artreri Pudenda Externa (kiri
dan kanan) merupakan kelenjar susu bagian depan dan arteri Perinealis
merupakan kelenjar susu bagian belakang. Peredaran darah dari ambing ke
jantung , di dalam sel- sel kelenjar terdapat Venulae, Venulae beranastomose
membentuk Vena Mammaria yang menampung darah dari jantung. Vena pada
dasar ambing membentuk lingkaran vena ( Venous circle ) yang merupakan
tempat di mana darah meninggalkan ambing. Aliran darah dari ambing ke
jantung, darah yang meninggalkan ambing melalui 3 vena diantaranya yaitu 1.
Pudenda Externa (kiri dan kanan), nena ini sejajar dengan arteri pudenda
externa, meninggalkan ambing melalui Canalis Inguinalis, ke Vena Cava
Posterior. 2. Abdominalis Subcutaneous (vena susu), aliran darah melalui vena
susu ini terletak langsung di bawah kulit, meninggalkan ambing pada sepanjang
permukaan ventral dari rongga perut, ke anterior, menembus dinding abdomen.
3. Vena Perinealis, aliran darah di dalam vena ini melalui Pelvic. Aliran darah dari
ambing menuju ke jantung dipengaruhi oleh posisi sapi, yaitu pda saat sapi
berdiri darah sebagian besar mengalir melalui vena susu, sedangkan apabila
pada saat sapi berbaring darah dari ambing menuju ke jantung melalui vena
perinealis, vena susu tertekan, jalur melalui vena susu terhenti, darah dari
ambing ke jantung melalui vena Perinealis. Vena menjadi lebih besar pada saat
kebuntingan dan laktasi. Setelah sapi beranak aliran darah ke ambing meningkat
180%, aliran nutrisi dan hormone laktogenik lebih banyak ke ambing, sekresi
susu lebih baik. Untuk darah yang mengalir, tiap 1 unit volume susu diperlukan
500 unit volume darah yang mengalir ke ambing. Kelenjar Susu Kelenjar susu
merupakan salah satu jaringan hewan mamalia yang mengalami
pertumbuhan, deferensiasi sesuai dengan fungsinya dan mengalami regresi,
kelenjar susu ini terjadi sejak fase fetus dan terus berlangsung sampai awal

laktasi. Perkembangan struktur kelenjar susu terdiri dari 5 periode yaitu yang
pertama periode fetus (embrio/ sebelum lahir), periode pre-pubertal, periode
post-pubertal, periode kebuntingan, dan laktasi. Sapi dan kambing mempunyai
konsistensi ambing yang sama yaitu kelenjar, karena pada saat dipegang tidak
padat tetapi lunak yang berarti dalam ambing tersebut tidak terlalu banyak
jaringan ikat (Syarif dan Somo Prastowo, 1984), sedangkan pertautan ambing
pada sapi kuat dan pada kambing kendor. Dengan kondisi demikian menurut
Syarif dan Somo Prastowo(1984) ambing kambing tersebut ambing yang jelek ,
karena bentuk puting meruncing, bentuk pencil dan pertautan ambing kendor.
Beberapa hormon yang bertanggung jawab pada pertumbuhan kelenjar susu
sama dengan yang berperan dalam reproduksi. Hormonhormon pituitari dan
ovarium juga bertanggung jawab terhadap perkembangan kelenjar susu.
Disamping itu estrogen terutama berperan pada perkembangan saluran susu
dan progesteron bertanggung jawab pada perkembangan lobula alveolar
(Sugeng P, 1997). Kelenjar susu ini terdiri dari jaringan skretorik dan jaringan
penunjang yang dibentuk oleh lapisan Ectoderm dan Mesoderm. Tahap
perkembangan kelenjar susu pada fetus yaitu 1. Ectoderm mengalami
pertumbuhan pada kedua sisi linea alba (garis tengah membujur sepanjang
dinding tubuh bagian ventral), ectoderm menyempit membentuk mammary
band (jalur susu). Mammary bund terbentuk pada hari ke 32 dengan panjang
lebih kurang 1 cm. Mammary band menyempit membentuk mammary line, pada
mammary line terbentuk mammary bud ( tunas susu).
Perkandangan
Dalam perkandangan hal yang perlu diperhatikan adalah kebersihan, dan
perlengkapan dari kandang. Kebersihan kandang dapat dijaga melalui sanitasi.
Selain itu hal-hal seperti ventilasi, cahaya, konstruksi bangunan, kekeringan
kandang. Kandang A yang terdapat di kandang ternak perah adalah kandang
tipe sejajar tunggal, dengan halaman yang cukup luas. Luas tiap sekat cukup
untuk 1 ekor sapi. Dalam tiap sekat dilengkapi dengan tempat pakan, tempat
minum, dinding pemisah, cincin yang terdapat pada bagian samping (pada
dinding pemisah) untuk menambatkan tali. Luas tempat pakan lebih luas
daripada tempat air, biasanya luas tempat air adalah 1/3 dari panjang tiap sekat.

Pada kandang persusuan sudah sesuai dengan ketentuan yang lebih kurang 1/3
nya. Begitu juga dengan kandang pedetnya. Sedang untuk kandang persusuan B
adalah bertipe sejajar ganda (2 baris) dengan kepala berlawanan. Kandang ini
dapat menampung jumlah yang lebih banyak. Sedangkan dinding yang dibuat
tidak begitu tinggi sehingga ventilasinya baik, serta mudah memperoleh cahaya
yang cukup. Lantai yang dibuat mempunyai kemiringan. Hal ini bertujuan agar
kotoran dan air buangan bisa mengalir sehingga tidak menggenang. Begitu juga
dengan parit atau selokan sehingga kotoran atau limbah bisa mengalir sampai
pembuangan akhir. Untuk kemiringan selokan, kedua ujung selokan lebih tinggi
daripada bagian tengah karena saluran ke pembuangan akhir berada di tengah.
Kemiringan ideal untuk selokan adalah 2 % (Soetarno, 1999). Apabila
kemiringam lantai maupun selokan tidak terpenuhi akan menyebabkan kotoran
dan air buangan tergenang, sehingga bisa menyebabkan kandang menjadi
lembab. Lantai dan selokan di kandang perah kurang memenuhi syarat karena
kemiringannya kurang ideal, padahal yang ideal 10 15 oC untuk lantai (Syarief
dan Soemoprastowo, 1984), dan untuk selokan 7,25% (Soetarno, 1999).
Konstruksi kandang sudah cukup memenuhi syarat, sehingga suasana dalam
kandang bisa memberi kenyamanan pada sapi, sementara lingkungan di sekitar
juga mendukung.
Jarak kandang dengan penampung kotoran, dirasakan masih terlalu dekat
dengan kandang. Hal ini dapat menyebabkan lemak susu terpengaruh oleh bau
kotoran, karena pemerahan dilakukan di dalam kandang yang dekat dengan
tempat penampung kotoran.