Anda di halaman 1dari 110

Pelatihan Perpajakan

(Grand Zury Hotel, 15-17 Agustus 2015)

Rahmat Kurniawan, SE, MA, Ak, CA

Materi Pelatihan
Overview Konsep dan Teori Perpajakan
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
Pengantar PPh: Subjek, Objek, Pengurang
Penghasilan Bruto, Perhitungan PPh Terutang
PPh Pasal 21/26
PPh Pemotongan dan Pemungutan: PPh Pasal 4 ayat
(2), 22, 23 dan 26
PPh Pasal 24 dan 25
PPh Badan

Overview Konsep dan


Teori Perpajakan

Defenisi Pajak
kontribusi wajib kepada negara yang terutang
oleh orang pribadi atau badan yang bersifat
memaksa berdasarkan undang-undang, dengan
tidak mendapat imbalan secara langsung dan
digunakan untuk keperluan negara bagi
sebesar-besar kemakmuran rakyat

Unsur-unsur Pokok Pajak


1. Pungutan
2. Dipungut berdasarkan UU
3. Dapat dipaksakan
4. Tegen prestasi
5. Untuk membiayai pengeluaran umum
pemerintah melalui mekanisme APBN/APBD

Unsur-unsur Pokok Pajak


1. Pungutan
2. Dipungut berdasarkan UU
3. Dapat dipaksakan
4. Tegen prestasi
5. Untuk membiayai pengeluaran umum
pemerintah melalui mekanisme APBN/APBD

Hukum Pajak
Hukum Pajak Material
merupakan hukum pajak yg memuat ketentuan mengenai siapa yg
dikenakan pajak, dan siapa-siapa yg dikecualikan dari pengenaan
pajak, apa saja yg dikenakan pajak dan berapa yg harus dibayar
(SIAPA, APA, BERAPA)

Hukum Pajak Formal


merupakan hukum pajak yg memuat ketentuan bagaimana
mewujudkan hukum pajak material menjadi kenyataan
(BAGAIMANA)

Undang-undang Pajak di
Indonesia

UU PPh
UU PPN dan PPnBM
UU PBB
UU BPHTB
UU PDRD
UU Bea Materai
UU KUP
UU PPSP
Pengadilan Pajak

HUKUM PAJAK
MATERIAL

HUKUM PAJAK
FORMAL

Hirarki Perundang-undangan di
Indonesia

Undang-undang Dasar 1945

Undang-undang

Peraturan Pemerintah

Peraturan Presiden

Peraturan menteri (dalam hal ini Peraturan


Menteri Keuangan)

Peraturan Direktur Jenderal (dalam hal ini


Peraturan Direktur Jenderal Pajak)

Sanksi Perpajakan
1. Sanksi administrasi
Sanksi denda
Sanksi bunga
Sanksi kenaikan pajak

2. Sanksi pidana
Sanksi denda
Sanksi kurungan/penjara

Fungsi Pajak
FUNGSI BUDGETAIR (FUNGSI FISKAL)
Pajak digunakan sebagai alat untuk memasukkan dana secara
optimal ke kas negara berdasarkan UU yg berlaku
merupakan fungsi utama, karena secara historis, fungsi inilah yg
pertama kali muncul dalam pemungutan pajak

FUNGSI REGULEREND
Pajak dipergunakan pemerintah sbg alat untuk mencapai tujuan
tertentu
merupakan fungsi tambahan, yg dijadikan sbg fungsi pelengkap dari
fungsi utama pajak

Klasifikasi Pajak
Pajak Langsung dan Pajak Tidak
Langsung
Pajak Subjektif dan Pajak Objektif
Pajak Pusat dan Pajak Daerah

Pajak Langsung dan Pajak Tidak


Langsung
Pajak Langsung

Pajak Tidak Langsung

Dibebankan berdasarkan kemampuan


membayar (ability to pay) WP, dengan
memperhatikan kondisi WP

Dibebankan tanpa memperhatikan


kondisi WP

Beban pajak tidak dapat dialihkan

Beban pajak dapat dialihkan


seluruhya/sebagian kepada pihak lain
(forward/backward shifting)

Pada umumnya yg menghitung,


menyetorkan dan melaporkan pajak yg
terutang adalah WP itu sendiri

Yg memungut, menyetorkan dan


melaporkan pajak yg terutang adalah
pihak lain (ex: PKP dalam PPN)

Secara administratif, ada periodisasi


pemungutan pajak

Pajak bisa terutang setiap saat

Pajak Pusat dan Pajak Daerah


Pajak Subjektif
pajak yg pada waktu pengenaannya yg pertama-tama
dilihat adalah subjeknya, kemudian baru objeknya (ex:
PPh)

Pajak Objektif
pajak yg pada waktu pengenaannya yg pertama-tama
diperhatikan adalah objeknya, kemudian baru subjeknya
(ex: PPN, PBB)

Pajak Pusat dan Pajak Daerah


Pajak Pusat
Pajak Penghasilan (PPh)
Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah (PPN dan PPnBM)
Pajak Bumi dan Bangunan Perkebunan, Pertambangan
dan Kehutanan
Bea Materai

Pajak Daerah
Pajak Propinsi
Pajak kabupaten/Kota

Pajak Propinsi
Pajak Kendaraan Bermotor;
Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor;
Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor;
Pajak Air Permukaan; dan
Pajak Rokok

Pajak Kabupaten/Kota

Pajak Hotel;
Pajak Restoran;
Pajak Hiburan;
Pajak Reklame;
Pajak Penerangan Jalan;
Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan;
Pajak Parkir;
Pajak Air Tanah;
Pajak Sarang Burung Walet;
Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan; dan
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan

Tarif Pajak
Tarif Tetap
tarif yang jumlahnya pajaknya dalam rupiah (dolar) bersifat
tetap walaupun objek pajaknya jumlahnya berbeda-beda

Proporsional Tax
presentase tarif yg dikenakan bersifat tetap walaupun jumlah
objek pajaknya berubah-ubah

Progressive Tax
persentase tarif yang digunakan makin lama makin tinggi
apabila objek pajaknya makin lama makin tinggi pula

Degressive Tax
persentase tarif yg digunakan makin lama makin rendah
apabila objek pajaknya makin lama makin tinggi

Yurisdiksi Pemajakan
Status Principle
negara berhak mengenakan pajak kepada orang
pribadi/badan yg berdomisili di negara tsb (domicile
principle) atau karena status kewarganegaraan (citizen
principle)

Source Principle
negara berhak mengenakan pajak kepada orang
pribadi/badan yang memperoleh penghasilan dari
negara tsb

Teknik Pemungutan Pajak


Self Assessment System
Official Assessment System
Withholding Sistem

Timbulnya Utang Pajak


Menurut Paham Formal
utang pajak timbul karena perbuatan fiskus menerbitkan
SKP

Menurut Paham Material


utang pajak timbul karena terpenuhinya tatbestand, artinya
jika ketentuan dalam UU terpenuhi, tanpa harus menunggu
fiskus menerbitkan SKP, WP harus membayar pajak yg
terutang
Jika self assessment & withholding, cocok digunakan paham
material
Jika official assessment, cocok digunakan paham formal

Stelsel Pemungutan Pajak


Stelsel Nyata
Stelsel Fiktif
Stelsel Campuran

Asas Pemungutan Pajak


1. Revenue Productivity
2. Equity/Equality
3. Ease of Administration
Certainty
Convenience
Efficiency
Simplicity

Ketentuan Umum dan Tata Cara


Perpajakan

Mendaftar untuk Memperoleh


NPWP dan Melaporkan Usaha
untuk Dikukuhkan sebagai PKP

Defenisi NPWP
Nomor yang diberikan kepada WP sbg sarana
dalam administrasi perpajakan yg dipergunakan
sbg tanda pengenal diri atau identitas WP dalam
melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya
(Pasal 1 Angka 6 UU KUP)
NPWP terdiri dari 15 digit (9 digit pertama merupakan kode
wajib pajak, dan 6 digit terakhir merupakan kode administrasi
perpajakan)

Kewajiban Mendaftarkan Diri

Persyaratan
Subjektif:
Memenuhi ketentuan
mengenai subjek
pajak dalam UU PPh

Persyaratan
Objektif:
Menerima/memperoleh
penghasilan atau
Diwajibkan untuk
melakukan
pemotongan/pemungutan
sesuai dengan UU PPh

Defenisi Badan
Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yg
merupakan kesatuan, baik yang melakukan usaha
maupun tidak melakukan usaha
PT, CV, PT Tbk, BUMN, BUMD, Firma, Koperasi,
Kongsi, Dana Pensiun, Persekutuan, Perkumpulan
(asosiasi, persatuan, perhimpunan, ikatan dari pihakpihak yg mempunyai kepentingan yg sama), Yayasan,
Ormas, Orsospol, lembaga, Kontrak Investasi Kolektif,
dan BUT

OP - SPDN
Bertempat tinggal di Indonesia,
Berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka
waktu 12 bulan, atau
Dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan
mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia

Badan - SPDN
Badan yang didirikan (incorporated) atau bertempat
kedudukan (domiciled) di Indonesia, kecuali unit
tertentu dari badan pemerintah dengan kriteria:
Pembentukannya berdasarkan peraturan perundangundangan
Pembiayaannya bersumber dari APBN atau APBD
Penerimaannya dimasukkan dalam anggaran pemerintah
pusat atau pemerintah daerah
Pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan
fungsional negara

OP dan Badan sebagai SPLN


OP yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, OP yang berada
di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12
bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat
kedudukan di Indonesia, yang menjalankan usaha atau
melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia; dan
OP yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, OP yang berada
di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12
bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat
kedudukan di Indonesia, yang dapat menerima atau
memperoleh penghasilan dari Indonesia tidak dari menjalankan
usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia

Defenisi BUT
Bentuk usaha yang dipergunakan oleh OP yang tidak bertempat
tinggal di Indonesia, OP yang berada di Indonesia tidak lebih dari
183 hari dalam 12 bulan, dan Badan yang tidak didirikan dan tidak
bertempat kedudukan di Indonesia untuk menjalankan usaha atau
melakukan kegiatan di Indonesia, dapat berupa:
Tempat kedudukan manajemen
Cabang perusahaan
Kantor perwakilan
Gedung kantor
Pabrik
Bengkel

Defenisi BUT (Lanjutan..)


Gudang
Ruang utk promosi dan penjualan
Pertambangan dan penggalian sumber alam,
Wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi
Perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan, atau
kehutanan
Proyek konstruksi, instalasi atau perakitan
Pemberian jasa dalam bentuk apapun oleh pegawai atau
orang lain, sepanjang dilakukan lebih dari 60 hari dalam
jangka waktu 12 bulan

Perlakuan Pajak atas SPDN


SPDN dikenakan PPh atas Penghasilan yang diterima
atau diperoleh baik dari Indonesia maupun dari luar
negeri
(Worldwide income / asas domisili)

Perlakuan Pajak atas SPLN


SPLN hanya dikenakan PPh atas Ph yang diterima
atau diperoleh dari Indonesia baik melalui BUT maupun
tanpa BUT di Indonesia
(asas sumber)

Perlakuan Pajak atas BUT


Merupakan
SPLN
yang
perlakuan
administrasi
perpajakannya dipersamakan dengan Badan sebagai
SPDN
Bagi negara yang mempunyai tax treaty (Persetujuan
Penghindaran Pajak Berganda P3B) dengan
Indonesia, pengertian BUT (Permanent
Establishment) tunduk pada masing-masing P3B
tersebut)

Perbedaan Perlakuan antara SPDN


dengan SPLN
WPDN

WPLN

Dikenakan pajak berdasarkan asas


domisili

Dikenakan pajak berdasarkan asas


sumber

Dikenakan pajak berdasarkan


penghasilan neto dengan tarif umum

Pada umumnya dikenakan pajak


berdasarkan penghasilan bruto
dengan tarif sepadan, kecuali WPLN
tsb menjalankan usaha melalui BUT
di Indonesia, maka BUT tsb dikenakan
pajak atas penghasilan yang
diperoleh di Indonesia yang perlakuan
pajaknya sama seperti WPDN (selain
BUT).

Wajib menyampaikan SPT sebagai


sarana untuk menetapkan pajak yang
terutang dalam suatu tahun pajak

Tidak wajib menyampaikan SPT,


karena kewajiban pajaknya dipenuhi
melalui pemotongan pajak yang
bersifat final, keculai BUT

Perbedaan Subjek Pajak dengan


Wajib Pajak
Subjek Pajak masih bersifat potensi, sementara wajib pajak
merupakan subjek pajak yang telah memenuhi kriteria sebagai
wajib pajak
Misalnya:
OP sebagai WNI menjadi subjek pajak sejak lahir, baru akan
menjadi wajib pajak apabila telah memiliki penghasilan yang
memenuhi kriteria sebagai objek pajak yang dipajaki
OP sebagai WNA menjadi subjek pajak sejak berada
pertama kali di Indonesia , baru akan menjadi wajib pajak
apabila telah memiliki penghasilan yang memenuhi kriteria
sebagai objek pajak yang dipajaki

Defenisi Wajib Pajak


Wajib Pajak adalah Orang Pribadi atau Badan yang
meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan
pemungut pajak yang mempunyai hak dan
kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan
(Pasal 1 angka 2 UU KUP)
Terdapat WP yang hanya sebagai pemotong/pemungut
pajak yaitu Bendaharawan Pemerintah baik pusat
maupun daerah yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan

Kapan Subjek Pajak menjadi Wajib


Pajak?
1.

OP sebagai SPDN apabila:


Melaksanakan usaha atau pekerjaan bebas menjadi wajib
pajak pada saat usahanya mulai dijalankan atau pekerjaan
bebas nyata-nyata mulai dilakukan
Tidak melaksanakan usaha atau pekerjaan bebas menjadi
wajib pajak pada saat pengasilannya disetahunkan telah
melebihi PTKP (untuk yang belum melebihi PTKP boleh
mendaftarkan diri)
2. Badan sebagai SPDN menjadi wajib pajak pada saat berdiri
3. SPLN yang memenuhi kriteria BUT menjadi wajib pajak pada saat
BUT tersebut berada di Indonesia
4. SPLN yang tidak memenuhi kriteria BUT menjadi wajib pajak pada
saat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia

Kapan Subjek Pajak menjadi Wajib


Pajak?
Apabila OP dan Badan sebagai SPDN, dan SPLN BUT
memenuhi kriteria sebagai wajib pajak, maka mereka
wajib mendaftarkan diri ke Direktorat Jenderal Pajak
untuk memperoleh NPWP

Kapan mendaftar...?
1.

OP sebagai SPDN apabila:


Melaksanakan usaha atau pekerjaan bebas: Paling lambat 1
bulan sejak usahanya berjalan
Tidak melaksanakan usaha atau pekerjaan bebas: Paling
lambat akhir masa pajak berikutnya

2. Badan sebagai SPDN: Paling lambat 1 bulan sejak berdiri

Dimana mendaftar...?
KPP yg wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal (orang
pribadi), tempat kedudukan (badan) dan tempat kegiatan
usaha WP ybs menurut keadaan sebenarnya (tdak harus
sesuai dengan dokumen formal)
Contoh:
Wajib Pajak Orang Pribadi memiliki KTP di Surabaya, tetapi pada
saat ini berdomisili di Bekasi. Dalam hal ini Wajib Pajak
mendaftarkan NPWP di KPP Pratama di mana Wajib Pajak tersebut
berdomisili (KPP Pratama Bekasi), dan alamat yang diisi pada
formulir adalah alamat Bekasi. SKT, NPWP dan/atau SPPKP dicetak
oleh KPP Bekasi

PTKP (2012)
Rp 15.840.000 utk WP yang bersangkutan
Rp 1.320.000 tambahan utk WP yang kawin
Rp 15.840.000 tambahan untuk seorang istri yang
penghasilannya digabung dengan penghasilan suami
Rp 1.320.000 tambahan untuk setiap anggota keluarga
sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan
lurus (orang tua, mertua, anak kandung), serta anak
angkat yg menjadi tanggungan sepenuhnya (tidak punya
penghasilan dan biaya hidupnya ditanggung WP),
maksimal 3 orang

PTKP (2013 dan 2014)


Rp 24.300.000 utk WP yang bersangkutan
Rp 2.025.000 tambahan utk WP yang kawin
Rp 24.300.000 tambahan untuk seorang istri yang
penghasilannya digabung dengan penghasilan suami
Rp 2.025.000 tambahan untuk setiap anggota keluarga
sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan
lurus (orang tua, mertua, anak kandung), serta anak
angkat yg menjadi tanggungan sepenuhnya (tidak punya
penghasilan dan biaya hidupnya ditanggung WP),
maksimal 3 orang

PTKP (2015)
Rp 36.000.000 utk WP yang bersangkutan
Rp 3.000.000 tambahan utk WP yang kawin
Rp 36.000.000 tambahan untuk seorang istri yang
penghasilannya digabung dengan penghasilan suami
Rp 3.000.000 tambahan untuk setiap anggota keluarga
sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan
lurus (orang tua, mertua, anak kandung), serta anak
angkat yg menjadi tanggungan sepenuhnya (tidak punya
penghasilan dan biaya hidupnya ditanggung WP),
maksimal 3 orang

Ketentuan Penerapan PTKP


PTKP berlaku berdasarkan status awal tahun

Status OP sebagai SPDN


Status
WPOP DN
TK/.
K/.
K/I/.
PH
HB/.

Keterangan
Tidak kawin ditambah banyaknya tanggungan
Kawin ditambah banyaknya tanggungan
kawin, tambahan untuk isteri (hanya seorang) yang Ph nya
digabung dgn Ph suami, ditambah banyaknya tanggungan
WP kawin yg secara tertulis melakukan perjanjian pemisahan
harta dan Ph
WP kawin yg telah hidup berpisah ditambah banyaknya
tanggungan

Wanita Kawin
a) Wanita kawin yang hidup terpisah (putusan pengadilan atau
dikehendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan
penghasilan dan harta) wajib ber NPWP sendiri
b) Wanita kawin yang tidak hidup terpisah mempunyai pilihan
sebagai berikut:
Dapat mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP atas
nama sendiri
Dapat mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP melalui
mekanisme NPWP anggota keluarga (NPWP isteri
dianggap cabang dari NPWP suami)
Tidak perlu mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP
sendiri dan ikut NPWP suami

Contoh Penerapan PTKP


Budi (bekerja pada PT Sentosa) menikah dengan Dini
(bekerja pada PT Sahabat) pada tanggal 1 Agustus 2013.
mereka tidak mempunyai perjanjian pisah harta, sehingga
penghasilan Dini digabung dengan penghasilan Budi.
pertengahan Juli 2014 lahir sepasang anak kembar.
Hitung berapa PTKP Budi dan Dini masing-masing pada
tahun 2013, 2014 dan 2015 untuk tujuan pemotongan PPh
Pasal 21 oleh perusahaan masing-masing? Dan tujuan
perhitungan PPh terutang di akhir tahun?

Pengusaha Kena Pajak


Pengusaha adalah:
orang pribadi/badan dalam bentuk apapun yang dalam kegiatan
usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor barang,
mengekspor barang, melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan
barang tidak berwujud dari luar daerah pabean, melakukan usaha
jasa, memanfaatkan jasa dari luar daerah pabean
Pengusaha Kena Pajak (PKP)
setiap WP sebagai pengusaha yang melakukan penyerahan BKP
dan/atau JKP dan dikenai pajak berdasarkan UU PPN 1984 dan
perubahannya harus melaporkan kegiatan usahanya untuk
dikukuhkan sebagai PKP, kecuali pengusaha kecil yang
peredaran brutonya dalam suatu bulan dalam suatu tahun pajak
belum melebihi Rp 4,8 Milyar

Barang yang tidak Dikenai PPN


(non BKP)
barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang
diambil langsung dari sumbernya;
barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh
rakyat banyak;
makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran,
rumah makan, warung, dan sejenisnya, meliputi makanan
dan minuman baik yang dikonsumsi di tempat maupun
tidak, termasuk makanan dan minuman yang diserahkan
oleh usaha jasa boga atau katering; dan
uang, emas batangan, dan surat berharga.

Jasa yang tidak Dikenai PPN


(non JKP)
jasa pelayanan kesehatan medik;
jasa pelayanan sosial;
jasa pengiriman surat dengan perangko;
jasa keuangan;
jasa asuransi;
jasa keagamaan;
jasa pendidikan;
jasa kesenian dan hiburan;
jasa penyiaran yang tidak bersifat iklan;

Jasa yang tidak Dikenai PPN


(non JKP) Lanjutan...
jasa penyiaran yang tidak bersifat iklan;
jasa angkutan umum di darat dan di air serta jasa angkutan udara
dalam negeri yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari
jasa angkutan udara luar negeri;
jasa tenaga kerja;
jasa perhotelan;
jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan
pemerintahan secara umum;
Jasa penyediaan tempat parkir;
Jasa telepon umum dengan menggunakan uang logam;
Jasa pengiriman uang dengan wesel pos; dan
Jasa boga atau katering

Kapan wajib melaporkan usaha


untuk dikukuhkan sebagai PKP..?
WP OP yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dan WP
badan wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP
sebelum melakukan penyerahan BKP dan atau JKP bagi yang
memenuhi ketentuan sebagai PKP
WP sebagai Pengusaha kecil sebagaimana dimaksud UU PPN dan
PPnBM, yang:
Memilih sebagai PKP, wajib mengajukan pernyataan tertulis untuk
dikukuhkan sebagai PKP.
Tidak memilih sebagai PKP tetapi sampai dengan suatu masa
pajak dalam suatu tahun buku seluruh nilai peredaran bruto telah
melampaui batasan yang ditentukan sebagai Pengusaha Kecil
(4,8 Milyar), wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan
sebagai PKP paling lambat akhir masa pajak berikutnya.

Pendaftaran NPWP dan Pengukuhan


PKP secara Jabatan
Terhadap WP atau PKP yang telah memenuhi syarat, tapi
tidak memenuhi kewajiban untuk mendaftarkan diri dan/atau
melaporkan usahanya dapat diterbitkan NPWP dan/atau
pengukuhan PKP secara Jabatan oleh DJP
Kewajiban perpajakan bagi WP/PKP ini dimulai saat WP
memenuhi persyaratan subjektif dan objektif dihitung
mundur ke belakang paling lama 5 tahun

Penghapusan NPWP dan


Pencabutan Pengukuhan PKP
Dapat diajukan karena sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan
objektif:
Meninggal dunia
Badan bubar/likuidasi
Wanita yg sebelumnya memiliki NPWP lalu menikah tanpa membuat
perjanjian pemisahan harta
BUT keluar dari Indonesia
PKP pindah ke wilayah kerja KPP lain
PKP yg tidak memenuhi syarat lagi sbg PKP (peredaran bruto
setahun 600 juta)
Penghapusan NPWP tidak menghilangkan kewajiban perpajakan yang
harus dilakukan oleh WP

Pembukuan dan Pencatatan

Kewajiban pembukuan atau Pencatatan


(Pasal 28 UU KUP dan Pasal 14 UU PPh)
1. Semua WP Badan dan BUT wajib menyelenggarakan
pembukuan
2. WP OP yang melaksanakan kegiatan usaha atau pekerjaan
bebas yang peredaran brutonya dalam satu tahun minimal
Rp 4,8 Miliar wajib menyelenggarakan pembukuan
3. WP OP yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan
bebas yang peredaran brutonya dalam satu tahun kurang
dari Rp 4,8 Miliar wajib menyelenggarakan pencatatan
4. WP OP yang tidak melakukan kegiatan usaha atau
pekerjaan bebas wajib menyelenggarakan pencatatan

Pengertian Pembukuan
(Pasal 1 Angka 29 UU KUP)

Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yg


dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data
dan informasi keuangan yg meliputi harta,
kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta
jumlah harga perolehan dan penyerahan barang
atau jasa, yg ditutup dengan menyusun laporan
keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi
untuk periode tahun pajak tsb

Pengertian Pencatatan
(Pasal 28 ayat 9 UU KUP)

Pencatatan, terdiri atas data yang dikumpulkan


secara teratur (ledgerless-bookkeeping) tentang
peredaran atau penerimaan bruto dan/atau
penghasilan
bruto
sebagai
dasar
untuk
menghitung jumlah pajak yang terutang, termasuk
penghasilan yang bukan objek pajak dan/atau
yang dikenakan pajak final

Konsekuensi Pencatatan:
Tidak memperhatikan realitas bisnis, selalu
memberikan hasil usaha positif (laba)
Tidak mungkin mendapatkan fasilitas kompensasi
kerugian
Dari segi finansial, mengganggu arus kas WP
Keunggulan Pencatatan:
Mudah secara administrasi

Kompensasi Kerugian
Kerugian tahun-tahun yang lalu dapat dikompensasikan
maksimal selama 5 tahun yang akan datang (Pasal 6 ayat
2 UU PPh), Contoh:
PT Sahabat pada tahun 2009 menderita kerugian fiskal sebesar Rp
1,2 Milyar. Dalam 5 (lima) tahun berikutnya, Laba/rugi fiskal PT
Sahabat adalah sebagai berikut:
2010: laba Rp 200 Juta
2011: rugi Rp 300 Juta
2012: nihil
2013: laba Rp 100 Juta
2014: laba Rp 800 Juta
Kompensasikan kerugian th 2009 tsb

Konsep Dasar Penyelenggaraan


Pembukuan (Lanjutan...)
Pembukuan
atau
pencatatan
harus
diselenggarakan
dengan
itikad
baik
dan
mencerminkan keadaan atau kegiatan usaha yang
sebenarnya
Prinsip Itikad Baik: tuntutan moral spiritual
Sejalan dengan self assessment system (3M)

Konsep Dasar Penyelenggaraan


Pembukuan (Lanjutan...)
Pembukuan atau pencatatan harus diselenggarakan di
Indonesia dengan menggunakan huruf Latin, angka
Arab, satuan mata uang Rupiah, dan disusun dalam
bahasa Indonesia atau dalam bahasa asing (Inggris)
dan mata uang asing (US $) dengan izin Menkeu
Pembukuan diselenggarakan dengan prinsip taat asas
dan dengan stelsel akrual atau stelsel kas

Konsep Dasar Penyelenggaraan


Pembukuan (Lanjutan...)
Perubahan terhadap metode pembukuan dan/atau
tahun buku harus mendapat persetujuan dari Dirjen
Pajak
Pembukuan atau pencatatan dan dokumen yang
menjadi dasarnya serta dokumen lain termasuk hasil
pengolahan data dari pembukuan yang dikelola
secara elektronik atau secara program aplikasi online
wajib disimpan selama 10 tahun di Indonesia

Konsep Dasar Penyelenggaraan


Pembukuan (Lanjutan...)
pembukuan harus diselenggarakan dengan cara atau
sistem yang lazim dipakai di Indonesia (Standar
Akuntansi Keuangan), kecuali peraturan perundangundangan perpajakan menentukan lain

Konsep Dasar Penyelenggaraan


Pembukuan (Lanjutan...)
Untuk menghindari kompleksitas penyelenggaraan
pembukuan, ketentuan pajak tidak mengatur secara
rinci tentang teknik dan proses penyelenggaraan
pembukuan
Ketentuan perpajakan hanya meminta
penyelenggaraan pembukuan dengan perangkat yang
minimal (de minimus rules), sedangkan maksimalnya
diserahkan sepenuhnya kepada Asosiasi Profesi
Akuntan (IAI)

Penyetoran dan Pelaporan


Pajak

Tempat Pembayaran
Pembayaran dan penyetoran pajak dilakukan di
Kantor Pos atau bank BUMN/BUMD yang ditunjuk
oleh Menteri Keuangan
Dirjen Pajak tidak dibenarkan menerima setoran
Pajak dari WP

Sarana Pembayaran
Wajib pajak mengisi Surat Setoran Pajak (SSP)
sebanyak 4 (empat) rangkap dengan distribusi:
Lembar 1: untuk arsip WP
Lembar 2: untuk KPPN
Lembar 3: untuk dilaporkan oleh WP ke KPP
Lembar 4: untuk arsip kantor penerima pembayaran

Prinsip Pengisian SSP


Satu formulir SSP hanya dapat digunakan untuk
pembayaran satu jenis pajak dan untuk satu Masa Pajak
atau satu Tahun Pajak/SKP/STP dengan menggunakan
satu Kode Akun Pajak dan satu Kode Jenis Setoran
SSP dinyatakan sah apabila telah divalidasi dengan
NTPN
Kode Akun Pajak (enam digit angka) dan Kodes Jenis
Setoran (tiga digit angka) jangan sampai salah
Apabila
terjadi
kesalahan
pemindahbukuan (Pbk)

dapat

melakukan

KAP dan KJS


Kode Akun Pajak: 411124 (PPh Pasal 23)
Kode Jenis Setoran

Jenis Setoran

100

Masa PPh Pasal 23

101

PPh Pasal 23 atas Deviden

102

PPh Pasal 23 atas Bunga

103

PPh Pasal 23 atas Royalti

104

PPh Pasal 23 atas Jasa

*) selain deviden, bunga, royalti dan jasa

KAP dan KJS


Kode Akun Pajak: 411127 (PPh Pasal 26)
Kode Jenis Setoran

Jenis Setoran

100

Masa PPh Pasal 26

101

PPh Pasal 26 atas Deviden

102

PPh Pasal 26 atas Bunga

103

PPh Pasal 26 atas Royalti

104

PPh Pasal 26 atas Jasa

105

PPh Pasal 26 atas Laba setelah Pajak


BUT

*) selain deviden, bunga, royalti, jasa dan laba setelah pajak BUT

KAP dan KJS


Kode Akun Pajak: 411128 (PPh Final)
Kode Jenis Setoran

Jenis Setoran

401

PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas Diskonto/Bunga obligasi dan Surat
Utang Negara

402

PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau
Bangunan

403

PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas Persewaan Tanah dan/atau Bangunan

404

PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas Bunga Deposito/Tabungan, Jasa Giro
dan Diskonto SBI

405

PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas Hadiah Undian

406

PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas Transaksi Saham, Obligasi dan Sekuritas
Lainnya di Bursa

407

PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas Penjualan Saham Pendiri

408

PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas Penjualan Saham Milik Perusahaan
Modal Ventura

409

PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas Jasa Konstruksi

KAP dan KJS


Kode Akun Pajak: 411128 (PPh Final)
Kode Jenis Setoran

Jenis Setoran

410

PPh Final Pasal 15 atas Jasa Pelayaran Dalam Negeri

411

PPh Final Pasal 15 atas Jasa Pelayaran dan/atau Penerbangan Luar


Negeri

413

PPh Final Pasal 15 atas Penghasilan Perwakilan Dagang Luar Negeri

414

PPh Final Pasal 15 atas Pola Bagi Hasil

415

PPh Final Pasal 15 atas Kerjasama Bentuk BOT

416

PPh Final 19 atas Revaluasi Aktiva Tetap

417

PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas Bunga Simpanan Anggota Koperasi yang
Dibayarkan kepada Orang Pribadi

418

PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas Penghasilan dari Transaksi Derivatif
yang Diperdagangkan di Bursa

419

PPh Final Pasal 17 ayat (2c) atas Penghasilan Berupa Deviden

420

PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas Penghasilan yang Diterima dari Usaha
yang Diterima atau Diperoleh WP yang Memiliki

499

PPh Final Lainnya

KAP dan KJS


Kode Akun Pajak: 411121 (PPh Pasal 21)
Kode Jenis Setoran

Jenis Setoran

100

Masa PPh Pasal 21

Kode Akun Pajak: 411125 (PPh Orang Pribadi)


Kode Jenis Setoran

Jenis Setoran

100

Masa PPh Pasal 25 Orang Pribadi

200

Tahunan PPh Orang Pribadi

Kode Akun Pajak: 411126 (PPh Badan)


Kode Jenis Setoran

Jenis Setoran

100

Masa PPh Pasal 25 Badan

200

Tahunan PPh Badan

Mengangsur/Menunda Pembayaran
WP dapat mengajukan pengangsuran/penundaan
pembayaran apabila mengalami kesulitan likuiditas
diluar kekuasaannya sehingga WP tidak mampu
memenuhi kewajiban pada waktunya
Permohonan diajukan secara tertulis paling lama 9 hari
kerja sebelum jatuh tempo pembayaran, disertai dengan
alasan dan bukti yang mendukung permohonan dengan
mencantumkan
jumlah
utang
pajak
yang
permohonannya dimohonkan untuk diangsur/ditunda,
masa angsuran/jangka waktu penundaan dan besarnya
angsuran

Mengangsur/Menunda Pembayaran
(Lanj...)

WP harus memberikan jaminan yang dapat berupa garansi bank,


surat/dokumen
bukti
kepemilikan
barang
bergerak,
penanggungan utang oleh pihak ketiga, sertifikat tanah atau
sertifikat deposito
Wajib Pajak yang mengajukan permohonan pengangsuran
pembayaran pajak setelah melampaui batas waktu (telah
melebihi 9 hari kerja sebelum jatu tempo) harus memberikan
jaminan berupa garansi bank sebesar utang pajak yang dapat
dicairkan sesuai dengan jangka waktu pengangsuran
Direktur Jenderal Pajak menerbitkan keputusan dalam jangka
waktu 7 (tujuh) hari kerja
Pengangsuran/penundaan dapat diberikan untuk jangka paling
lama 12 bulan

Mekanisme Penyetoran PPh


1. Penyetoran sendiri oleh WP yang bersangkutan
a) Angsuran Pajak dalam tahun berjalan (PPh Pasal 25)
b) Pelunasan Pajak setelah tahun pajak berakhir (PPh Pasal 29)
2. Penyetoran melalui pemotongan/pemungutan oleh pihak ketiga
a) Penghasilan yang bersifat final
Untuk Orang Pribadi: PPh Pasal 21, 22, 23,
Untuk Badan: PPh Pasal 22, 23
a) Penghasilan yang bersifat tidak final (PPh Pasal 4 ayat (2))
3. Penyetoran di luar negeri untuk SPDN yang memperoleh
penghasilan dari luar negeri, yang nanti dapat dikreditkan di dalam
negeri (PPh Pasal 24)

Mekanisme Penyetoran PPh (Lanj...)


Contoh perhitungan PPh setelah tahun pajak berakhir untuk WP
Badan:
Penghasilan Kena Pajak / Laba Kena Pajak
/ Penghasilan Neto

1.000.000.000

Tarif

PPh Terutang

250.000.000

Kredit Pajak:
- PPh Pasal 22

40.000.000

- PPh Pasal 23

20.000.000

- PPh Pasal 24

10.000.000

- PPh Pasal 25

160.000.000

Jumlah Kredit Pajak

230.000.000

PPh KB (PPh Pasal 29)

20.000.000

Mekanisme Penyetoran PPN


PPN Keluaran:
untuk setiap PPN yang dipungut oleh pihak lain sehubungan
dengan pembelian BKP/JKP

xxx

PPN Masukan:
Untuk setiap PPN yang kita pungut dari konsumen untuk setiap
penyerahan BKP/JKP

xxx

KB / LB / Nihil

Xxx

Defenisi
Surat Pemberitahuan (SPT)
Merupakan sarana bagi WP untuk melaporkan halhal yg berkaitan dgn kewajiban perpajakan
Prinsip Pengisian SPT:
SPT harus diisi dengan benar, lengkap dan jelas dalam
bahasa Indonesia, menggunakan huruf latin dan angka
arab, satuan mata uang rupiah dan menandatangani
serta menyampaikannya ke KPP atau tempat lain yg
ditetapkan oleh DJP

Prinsip Pengisian SPT


Benar
perhitungan, penerapan ketentuan perpajakan,
penulisan, sesuai keadaan sebenarnya
Lengkap
memuat semua unsur-unsur yg berkaitan dgn objek
pajak dan unsur lain yg harus dilaporkan (SPT Induk
beserta lampirannya merupakan satu kesatuan)
Jelas
melaporkan asal-usul atau sumber objek pajak dan
unsur lain

Jenis SPT
1. SPT Masa (Bulanan)
a. SPT Masa PPh

SPT Masa PPh Pasal 21/26 (Formulir 1721)

SPT Masa PPh Pasal 22

SPT Masa PPh Pasal 23

SPT Masa PPh Pasal 25

b. SPT Masa PPN (Formulir 1111)


2. SPT Tahunan
a. SPT Tahunan Orang Pribadi (Formulir 1770, 1770 S, 1770 SS)
b. SPT Tahunan Badan (Formulir 1771)

Bentuk SPT
1. Hard Copy
formulir dapat diambil di KPP, KP4, KP2KP, Kanwil dan Kantor
Pusat DJP, Pojok Pajak, Mobil Pajak atau bisa didownload di
website DJP
2. Soft Copy (e-SPT)
software dapat didownload di website DJP
jenis pajak yang sudah menggunakan e-SPT:

PPN, untuk PKP yang menerbitkan atau menerima lebih dari 25


Faktur Pajak dalam 1 Masa Pajak

PPh Pasal 21, untuk pemberi kerja yang melakukan pemotongan


PPh Pasal 21 lebih dari 20 pegawai tetap dalam 1 Masa Pajak

Tempat Penyampaian SPT


1. Disampaikan secara langsung ke KPP, Pojok Pajak
atau Mobil Pajak terdekat
2. Kantor Pos dengan bukti pengiriman
3. E-filling melalui website DJP

Jangka Waktu Penyetoran dan


Penyampaian SPT Tahunan
1. SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Badan

Batas waktu penyetoran:


sebelum penyampaian SPT Tahunan

Batas waktu penyampaian SPT:


akhir bulan ke 4 Tahun Pajak berikutnya (akhir April)

2. SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi

Batas waktu penyetoran:


sebelum penyampaian SPT Tahunan

Batas waktu penyampaian SPT:


akhir bulan ke 3 Tahun Pajak berikutnya (akhir Maret)

Jangka Waktu Penyetoran dan Penyampaian


SPT Masa
N
o

Jenis Pajak

Batas Pembayaran
(Selambat-lambatnya)

Batas Waktu Penyampaian SPT


(Selambat-lambatnya)

PPh Pasal 4 ayat (2) yang


dipotong oleh Pemotong
Pajak

tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya


setelah Masa Pajak berakhir

tanggal 20 (sepuluh) bulan berikutnya


setelah Masa Pajak berakhir

PPh Pasal 4 ayat (2) yang


harus dibayar sendiri

tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya


setelah Masa Pajak berakhir

Tanggal 20 (sepuluh) bulan berikutnya


setelah Masa Pajak berakhir

PPh
Pasal 21 yang
dipotong oleh Pemotong
PPh

tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya


setelah Masa Pajak berakhir

Tanggal 20 (sepuluh) bulan berikutnya


setelah Masa Pajak berakhir.

PPh Pasal 23 dan PPh


Pasal 26

tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya


setelah Masa Pajak berakhir.

Tanggal 20 (sepuluh) bulan berikutnya


setelah Masa Pajak berakhir.

PPh Pasal 25

tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya


setelah Masa Pajak berakhir.

Tanggal 20 (sepuluh) bulan berikutnya


setelah Masa Pajak berakhir.

PPN atau PPn dan PPnBM yng


terutang dalam satu Masa
Pajak,

Akhir Masa Pajak


penyampaian SPT Masa

Akhir Masa Pajak berikutnya

STP, SKPKB dan SKPKBT, SK


pebetulan,
SK
keberatan,
Putusan
banding
yang
mengakibatkan pajak yang
harus dibayar bertambah

Dibayar lunas paling lambat 1 (satu) bulan sejak


tanggal diterbitkan

berikutnya

sebelum

Penelitian SPT Tahunan


Dalam jangka waktu 2 bulan sejak diterima (kecuali SPT
LB paling lama 14 hari) fiskus melakukan penelitian
kelengkapan SPT dan apabila SPT dinyatakan tidak
lengkap maka diterbitkan Surat Permintaan Kelengkapan
SPT Tahunan kepada WP
WP wajib memenuhi permintaan di atas, dalam jk waktu 30
hari , apabila tidak terpenuhi maka SPT dianggap tidak
disampaikan
KPP akan mengirim Surat Pemberitahuan jika SPT
dianggap tidak disampaikan

Perpanjangan Jangka Waktu


Penyampaian SPT Tahunan
Karena luasnya kegiatan usaha, masalah teknis
penyusunan laporan keuangan atau sebab lainnya, WP
dapat memperpanjang penyampaian SPT Tahunan PPh
WP harus menyampaikan pemberitahuan tertulis/elektronik
kepada Dirjen Pajak sebelum batas waktu penyampaian
SPT Tahunan berakhir dengan melampiri perhitungan
sementara pajak terutang, laporan keuangan sementara
dan SSP jika terdapat pajak kurang bayar
Perpanjangan penyampaian SPT Tahunan dapat diajukan
untuk jangka waktu paling lama 2 bulan sejak batas waktu
penyampaian SPT berakhir

Pembetulan SPT
Sebelum DJP menyampaikan Surat Pemberitahuan Hasil Verifikasi,
penyampaian Surat Pemberitahuan Pemeriksaan, atau
penyampaian Pemeriksaan Bukti Permulaan, WP dapat
menyampaikan pembetulan SPT
Untuk SPT yang menyatakan rugi atau lebih bayar, pembetulan
harus disampaikan paling lama 2 tahun sebelum daluarsa
penetapan
Untuk WP yang menerima SKP, SK Keberatan, SK Pembetulan,
Putusan Banding atau Putusan PK, yang menyatakan rugi fiskal
yang berbeda dengan rugi fiskal yang telah dikompensasikan dalam
SPT Tahunan yang akan dibetulkan tersebut, WP dapat
menyampaikan pembetulan dalam jangka waktu 3 bulan setelah
menerima SKP, SK Keberatan, SK Pembetulan, Putusan Banding
atau Putusan PK

Sanksi Denda
Tidak/terlambat menyampaikan SPT tahunan PPh Badan:
Rp 1.000.000
Tidak/terlambat menyampaikan SPT tahunan PPh Orang
Pribadi: Rp 100.000
Tidak/terlambat menyampaikan SPT Masa PPN: Rp
500.000
Tidak/terlambat menyampaikan SPT Masa PPh: Rp
100.000

Sanksi Bunga

Terlambat melakukan penyetoran atas pajak kurang bayar


pada SPT Tahunan PPh:
Dikenakan bunga 2% per bulan atas jumlah pajak yg kurang
dibayar, dihitung sejak saat penyampaian SPT berakhir
sampai tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung
1 bulan penuh
Terlambat melakukan penyetoran atas pajak kurang bayar
pada SPT Masa PPh dan PPN:
Dikenakan bunga 2% per bulan atas jumlah pajak yg kurang
dibayar, dihitung sejak saat jatuh tempo pembayaran sd
tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung 1 bulan
penuh

Sanksi Bunga (Lanj...)


Atas penundaan penyampaian SPT dikenai bunga 2% per
bulan yg dihitung dari saat berakhirnya batas waktu
penyampaian SPT tahunan sampai dgn tgl dibayarkannya
kekurangan pembayaran tsb. Bagian bulan dihitung satu
bulan
Atas mengangsur/menunda pembayaran, dikenai bunga 2%
per bulan dari jumlah pajak yang masih harus dibayar,yg
dihitung dari tgl jatuh tempo sampai dgn tgl diterbitkannya
STP
Atas pembetulan SPT dalam 2 tahun, dikenai bunga 2% per
bulan dari jumlah pajak yg kurang dibayar, dihitung sejak
jatuh tempo pembayaran s.d tanggal pembayaran

Sanksi Kenaikan Pajak


SPT Tahunan terlambat dimasukkan berdasarkan
surat teguran, dikeluarkan SKP, sanksi berupa
kenaikan sebesar 50% dari jumlah pajak yg
kurang/tidak bayar, untuk PPh 21 dan PPN sanksi
kenaikan sebesar 100%
Pengungkapan ketidakbenaran pengisian SPT setelah
lewat 2 tahun sebelum diterbitkannya SKP, dikenai
sanksi kenaikan 50% dari pajak yang kurang dibayar

Contoh Perhitungan Sanksi (Lanj...)

PT Sejahtrera menyampaikan SPT Tahunan PPh Badan Tahun


Pajak 2011 pada tanggal 20 Juni 2012. berdasarkan perhitungan
yang dilakukan, terdapat kekurangbayaran pajak tahun pajak 2011
tersebut sebesar Rp 100 juta. Kurang bayar tersebut telah disetor
pada hari yang sama sebelum penyampaian SPT Tahunan.
Apakah yang dilakukan PT Sejahtera ini tepat? Jika tidak apa
konsekuensinya?

Tuan Danu adalah seorang pengusaha. Dia menyampaikan SPT


Tahunan PPh Tahun Pajak 2010 pada tanggal 5 September 2011.
adapun perhitungan pajak tahun 2010 tersebut menghasilkan
Kurang Bayar Rp 20.000.000, dan telah disetorkan pada tanggal
29 Agustus 2011. apakah yang dilakukan oleh Tuan Danu ini
tepat? Jika tidak apa dan berapa sanksinya?

Contoh Perhitungan Sanksi (Lanj...)


Sutan Pamenan, seorang pengusaha restoran, menyampaikan
SPT Tahunan PPh Orang Pribadi untuk tahun pajak 2013 pada
tanggal 1 Juni 2014. Informasi Penghasilan Kena Pajak yang
disampaikan pada SPT Tahunan adalah Rp 600.000.000. Pajakpajak yang telah dibayar selama tahun berjalan yang disampaikan
yaitu: PPh Pasal 21 sebesar Rp 20.000.000, PPh Pasal 22 sebesar
Rp 10.000.000, PPh Pasal 23 Rp 5.000.000, PPh Pasal 4 ayat (2)
RP 10.000.000 dan PPh Pasal 25 Rp 85.000.000.
kekurangbayaran pajak setelah perhitungan akhir tahun telah
disetor 2 (dua) hari sebelum penyampaian SPT Tahunan

Contoh Perhitungan Sanksi (Lanj...)


PT Andalas menyampaikan SPT Tahunan PPh Badan Tahun pajak 2013
pada tanggal 1 Juli 2014 dengan informasi sebagai berikut:
Laba Kena Pajak Rp 12.000.000.000
PPh yang telah dibayar selama tahun berjalan:
PPh Pasal 22: 150.000.000
PPh Pasal 23: Rp 250.000.000
PPh Pasal 4 ayat (2) : 200.000.000
PPh Pasal 25: Rp 2.300.000.000
Kekurangbayaran telah disetorkan satu hari sebelum penyampaian SPT
Tahunan PPh Badan
Analisis apakah yang dilakukan oleh PT Andalas tepat atau tidak? Jika
tidak apa konsekuensinya?

Contoh Perhitungan Sanksi (Lanj...)

PT Sinar menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 25 untuk Masa


April, Mei dan Juni 2012 Sekaligus pada Tanggal 18 Juli 2012.
cicilan pajak yang harus dibayar untuk masing-masing Masa
adalah Rp 10 Juta, dan telah disetorkan ke kas negara pada
tanggal 18 juli itu juga. Apakah yang dilakukan oleh PT Sinar ini
tepat? Jika tidak apa dan berapa sanksinya?

PT Minang Indah menyampaikan SPT Masa PPN untuk masa


April 2014 pada tanggal 20 Juni 2014. Pada bulan tersebut,
perusahaan melakukan penjualan barang kena pajak sebesar
Rp 200.000.000, sementara pembelian barang kena pajak Rp
180.000.000. kekurangbayaran telah disetorkan pada hari yang
sama.

Tindakan Pengawasan Fiskus


Penelitian pajak
2. Pemeriksaan pajak
3. Pemeriksaan bukti permulaan
4. Penyidikan pajak
1.

Defenisi Penelitian Pajak


Penelitian pajak merupakan serangkaian kegiatan
yang dilakukan untuk menilai kelengkapan pengisian
surat pemberitahuan dan lampiran-lampirannya,
termasuk penilaian tentang kebenaran penulisan
dan perhitungannya

Defenisi Pemeriksaan Pajak


Pemeriksaan pajak merupakan serangkaian kegiatan
menghimpun dan mengolah data, keterangan dan/atau
bukti yang dilaksanakan secara objektif dan profesional
berdasarkan suatu standar pemeriksaan untuk menguji
kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan/atau
untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan
perundang-undangan perpajakan

Defenisi Pemeriksaan Bukti


Permulaan
Pemeriksaan Bukti Permulaan adalah pemeriksaan yang
dilakukan untuk mendapatkan bukti permulaan tentang
adanya dugaan telah terjadi tindak pidana di bidang
perpajakan
Bukti Permulaan adalah
keadaan, perbuatan, dan/atau bukti berupa keterangan,
tulisan, atau benda yang dapat memberikan petunjuk
adanya dugaan kuat bahwa sedang atau telah terjadi
suatu tindak pidana di bidang perpajakan yang dilakukan
oleh siapa saja yang dapat menimbulkan kerugian pada
pendapatan negara

Defenisi Penyidikan Pajak


Merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan oleh
penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang
dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang
perpajakan yang terjadi serta menemukan tersangkanya
Penyidikan tindak pidana perpajakan dilaksanakan
menurut ketentuan yang diatur dalam UU Hukum Acara
Pidana yang berlaku dan dilakukan berdasarkan hasil
pemeriksaan bukti permulaan

Output dari Tindakan Pengawasan


Fiskus
Dilihat dari sudut pandang administrasi pajak, output dari
tindakan pengawasan fiskus adalah berupa Ketetapan
Pajak:
1.

2.

Surat Ketetapan Pajak

Surat Ketetapan pajak Kurang Bayar (SKPKB)

Surat Ketetapan pajak Lebih Bayar (SKPLB)

Surat Ketetapan pajak Nihil (SKPN)

Surat Tagihan Pajak (STP)

Sengketa Pajak

Keberatan ke Direktorat Jenderal Pajak


SKP diterbitkan oleh KPP, maka Keberatan akan
diproses oleh Kanwil yang menaungi KPP ybs atau
Direktorat Keberatan dan Banding di Kantor Pusat
DJP

Banding ke Pengadilan Pajak

Gugatan ke Pengadilan Pajak

Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung

Terima Kasih