Anda di halaman 1dari 10

UNIVERSITAS HASANUDDIN

Teori Dorongan Kuat


(Big Push Theory)
Ekonomi Pembangunan

OLEH :
Abdul Rasul Umar
Muh. Akbar AB (A21113021)
Muh. Kadafi B (A21113023)
Fiqri
Hasdirawin

TEORI DORONGAN KUAT Big Push Theory

A. Teori Big Push


Suatu usaha minimum yang diperlukan untuk mengatasi, saling-keterkaitan diantara proses
produksi pada kedua sisi pasar, yaitu perlu adanya sebuah dorongan besar (big push).
B. Latar Belakang Teori
Pada 1943, Rosenstein-Rodan menulis artikel tentang Problems of Industrialisation of
Eastern and South-Eastern Europe. Dalam teori yang belakangan dikenal dengan Big Push
Model, dia menekankan perlunya rencana dan program aksi dengan investasi skala besar
untuk mempercepat industrialisasi di negara-negara Eropa Timur dan Tenggara.
Saat itu memang negara-negara di kawasan tersebut sangat terbelakang yaitu perekonomian
yang tidak stabil sehingga penghasilan dengan pengeluaran masyarakat di kawasan tersebut
tidak seimbang dan masih mengandalkan surplus tenaga kerja yang terutama bekerja di sektor
pertanian. Dengan adanya masalah ini maka Rosenstein-Rodan berpendapat bahwa teori Big
Push, dorongan yang besar, yang harus dilakukan untuk mengatasi ketertinggalan dengan
daerah lain dengan memanfaatkan dampak jaringan kerja sama antardaerah melalui
economies of scale and scope dan keluar dari perangkap keseimbangan yang rendah.
C. Tesis Rosenstein-Rodan
Teori dorongan kuat dikaitkan dengan nama Prof. Paul N. Rosenstein-Roden.
Menurut tesis ini unttuk menanggulangi hambatan pembangunan ekonomi negara terbelakang
dan untuk mendorong ekonomi tersebut ke arah kemajuan di perlukan dorongan kuat atau
suatu program besar yang menyeluruh dalam bentuk suatu jumlah minimum investasi. Dalam
menekankan dalilnya ini ia menarik analogi dengan studi MITT. ada sejumlah minimum
uang harus di sediakan jika suatu program pembangunan diharapkan berhasi. Memacu satu
negara menuju suatu swasembada adalah sedikit mirip dengan kapal terbang yang tinggal
landas. Ada suatu titik kritis kecepaatan yang haruss dilewati sebelum kapal itu dapat
terbang. Teori itu menyatakan bahwa cara kerja sedikit demi sedikit tidak akan
mendorong ekonomi dengan berhasil pada lintasan pembangunan; tetapi suatu jumlah
minumum investasi merupakan syarat mutlak dalam hal ini. Ia memerlukan tercapinya
ekonomi eksternal, yang timbul dari pendirian secara serentak industri-industri yang secara
teknis saling berkaitan. Dengan demikian syarat-syarat mutlak seperti itu dan ekonomi
eksternal yang mengalir dari sejumlah investasi merupakan prasyarat untuk melancarkan
ekonomi dengan berhasil.
D. Asumsi Asumsi
Teori big push
Teori dorongan kuat (big push theory) yang dipelopori oleh Rosenstein-Rodan
memerlukan persyaratan sejumlah minimum investasi yang digunakan untuk memacu
program pembangunan. Adapun 3 syarat mutlak minimal dan ekonomi eksternal itu
adalah
1. syarat mutlak minimal dalam fungsi produksi,
Menurut Rosenstein-Rodan untuk meningkatkan penghasilan, jumlah
investasi minimal dalam input, output atau proses, sangatlah berperan di dalam
menurunkan rasio, Rodan menganggap modal overheand social sebagai
contoh paling penting dari syarat mutlak minimal dan dari ekonomi eksternal

pada sisi penawaran. Jasa dari modal overheand social yang terdiri dari
industry dasar seperti tenaga,angkutan dan perhubungan adalah secara tidak
langsung bersifat produktif dan mempunyai persiapan lama, dan tidak dapat di
impor.
Pembangunannya membutuhkan investasi dengan modal awal yang
cukup besar. Dengan demikian kelebihan kapasitas mungkin akan tetap ada
pada beberapa waktu. Investasi ini juga mencakup paket industry minimal
untuk berbagai pekerjaan umum sedemikian rupa sehingga suatu Negara
terbelakang harus melakukan investasi antara 30-40% dari total invertasinya
pada bidang-bidang ini. Oleh karena itu investasi ini harus mendahului
investasi-investasi produktif secara langsung cepat menghasilkan.
Jadi menurut Rodan, modal overhead social mengandung 4 syarat
mutlak minimal :
Modal overheand social di lihat dari segi waktu tak dapat di ubah lagi
dan oleh karena itu harus mendahului investasi lain yang bersifat
produktif secara langsung.
Modal overheand mempunyai masa pakai minimum.
Modal overheand social mempunyai masa persiapan yang lama.
Modal overheand social terdiri dari suatu paket industry minimal yang
tidak dapat dikurangi lagi untuk jenis pekerjaan umum yang berbeda.
Syarat mutlak minimal pada persediaan modal overhand social ini
merupakan salah satu dari hambatan pokok pebangunan di Negara terbelakang.
Oleh karena itu, di perlukan investasi awal yang tinggi pada overhand social agar
membuka jalan kearah investai-anvestasi produktif secara langsung cepat
menghasilkan.
2. syarat mutlak minimal permintaan
Syarat mutlak minimal permintaan atau saling melengkapinya
permintaan, membutuhkan pendirian secara serentak industri-industri yang
saling berkaitan di negara terbelakang. Karena jika proyek investasi secara
sendiri-sendiri mempunyai risiko tinggi sebagai akibat dari ketidak pastian
mengenai apakah produknya akan mendapatkan pasar, maka Rodan
memutuskan tentang investasi harus bersifat saling berkaitan. RosensteinRodan menggunakan contoh terkenal dari suatu pabrik sepatu untuk
menjelaskan pokok pandangannya.
Ambilah contoh suatu perekonomian tertutup Andaikan 100 orang
pekerja penganggur tersembunyi dipekerjakan dalam satu pabrik sepatu yang
gajinya merupakan penghasilan tambahan. Jika pekerja-pekerja ini
membelanjakan semua pendapatannya pada sepatu yang mereka buat, pasaran
sepatu akan memperoleh permintaan yang pasti dan dengan demikia berhasil.
Dalam kenyataanya, mereka tidak akan suka membelanjakan semua tambahan
pendapatan mereka hanya pada sepatu. Keinginan manusia bermacam-macam.
Orang di luar pabrik pun tidak akan membeli tabahan sepatu bila mereka
miskin dan tidak punya cukup uang untuk memenuhi kebutuhan hidup
minimal mereka. Dengan demikian pabrik baru itu akan di tinggalkan karena
pasar tidak memadai.
3. syarat mutlak minimal dalam persediaan tabungan.

Elastisitas pendapatan yang tinggi dari tabungan merupakan syarat


mutlak minimal yang ketiga teori Rosenstain. Suatu jumlah minimum
investasi membutuhkan suatu jumlah tertentu tabungan jumlah tabungan ini
tidak mudah di capai oleh negara terbelakang yang miskin karena sangat
rendahnya tingkat pendapatan. Untuk mengatasi hal ini, maka ketika
pendapatan meningkat sebagai akibat peningkatan investasi, tingkat tabungan
marginal diusahakan agar lebih tinggi daripada tingkat rata-rata tabungan. Tapi
tidak ada suatu negara pun yang pernah mempunyai tingkat tabungan marginal
yang lebih tinggi daripada tingkat rata-rata tabungan sebelumnya.
Berdasarkan 3 syarat mutlak minimal ini dan adanya ekonomi eksternal yang
dapat di kembangkannya, maka Dorongan kuat atau jumlah minimum investasi
merupakan tindakan satu-satunya untuk mengatasi hambatan-hambatan pembangunan di
negara terbelakang.
Model pembangunan seimbang
Model pembangunan seimbang (balanced growth model) diartikan sebagai
pembangunan di berbagai jenis industri secara bersamaan sehingga industri tersebut
saling menciptakan pasar bagi yang lainnya. Dalam pembangunan yang seimbang ini
diperlukan keseimbangan antara penawaran dan permintaan, dari sisi penawaran
memberikan tekanan pada pembangunan serentak dari semua sektor yang berkaitan
yang dapat meningkatkan penawaran barang. Dari sisi permintaan berhubungan
dengan penyediaan lapangan kerja yang lebih besar dan peningkatan pendapatan agar
permintaan barang dan jasa dapat tumbuh.
Model pembangunan seimbang menurut Rosenstein-Rodan adalah dengan
melakukan industrialisasi secara besar-besaran di daerah yang kurang berkembang
agar tercipta pembagian pendapatan yang lebih merata. Rodan beranggapan bahwa
Mengadakan industrialisasi di daerah yang kurang berkembang merupakan cara untuk
menciptakan pembagian pendapatan yang lebih merata di dunia dan untuk
meningkatkan pendapatan di daerah tersebut dengan lebih cepat daripada daerah yang
lebih kaya. Dalam program tersebut industry harus di bangun secara serentak. Tujuan
dari strategi ini adalah untuk menciptakan berbagai jenis industry yang mempunyai
hubunga erat satu sama lain, sehingga setiap industri akan memperoleh ekonomi
ekstren (Rodan,1957)
Menurut Rosenstein-Rodan, pembangunan industri secara besar-besaran akan
menciptakan tiga macam ekonomi ekstren, yaitu:
1. yang diakibatkan oleh perluasan pasar,
Proses terciptanya eksternalitas ekonomi sebagai akibat dari adanya perluasan
pasar bisa di jelaskan dengan contoh sebagai berikut. Misalnya sebanyak 10.000
pengangguran dari sektor pertanin di pekerjakan dari sebuah industri batik,
mereka akan menerima pendapatan yang lebih besar dari pekerjaan sebelumnya,
dan hal ini akan menaikan pengeluaran mereka. Namun demikian, kenaikan
pengeluaran para pekerja ini hanya sebagian kecil saja yang akan digunakan untuk
membeli batik yang dihasilkan itu. Sebagian besar pendapatan tersebut akan di
konsumsi untuk membeli makanan dan barang-barang lainnya.
Oleh karena itu sebagian besar pendapatan tersebut dikonsumsi untuk
membeli makanan dan barang-barang lainnya, maka industri batik yang akan
didirikan itu akan mengalami kekurangan permintaan. Keadaan tersebut akan
sangat berbeda jika yang di pekerjakan adalah 1 juta pengangguran dari sektor
pertanian. Mereka di pekerjakan dalam industri-industri yang menghasilkan

berbagai macam barang yang di butuhkan oleh para pekerja tersebut. Pendapatan
yang tercipta di berbagai industri itu akan menciptakan dan memperluas pasar
suatu industri, dan dengan demikian akan mengurangi kemungkinan tidak
terjualnya barang yang di produksikan oleh sesuatu industri yang didirikan. Oleh
karena itu resiko bisa di anggap sebagai bagian dari biaya produksi, maka
pembangunan industri secara besar-besaran dan yang saling berkaitan erat satu
sama lain akan mengurangi biaya produksi dan menciptakan eksternalitas
ekonomi.
Pendapat Nurkse tidak banyak berbeda dengan Rosenstein-Rodan. Dalam
inalisisnya, ia menekankan bahwa pembangunan ekonomi bukan saja mengalami
kesukaran dalam mendapatkan modal, tetapi juga dalam mendapatkan pasar bagi
barang- barang industri yang akan di kebangkan. Nurkse mengatakan bahwa
investasi sangat rendah karena kecilnya daya beli masyarakat, sedangkan
rendahnya daya beli itu disebabkan oleh rendahnya pendapat riil masyarakat ini
disebabkan oleh rendahnya produktivitas.
Nurkse mempunyai pendapat yang sama dengan Rosenstein-Rodan mengenai
peranan perluasan pasar dalam mempertinggi efisiensi suatu industri yakni pasar
merupakan eksternalitas ekonomi bagi berbagai industri. Ia juga menganggap
bahwa perluasan pasar tersebut merupakan eksternalitas ekonomi yang lebih
penting dari pada eksternalitas ekonomi yang dikemukakan Marshall, seperti :
1. memperbaiki jaringan transportasi dan komunikasi
2. perbaikan tingkat teknologi
3. perbaikan tingkat keterampilan serta keahlian tenaga kerja.
Eksternalitas ekonomi yang di sebabkan oleh perluasan pasar dan eksternalitas
ekonomi yang tradisional, menurut Nurkse dan Rosenstein-Rodan, yang
menyebabkan perbedaan yang besar sekali antara produktivitas modal marginal
dari suatu prusahaan (private marginal produktivity of capital).
Perbedaan yang sangat besar di atas mempunyai arti bahwa dorongan atau
rangsangan bagi suatu perusahaan untuk melakukan investasi seringkali tidak
cukup besar karena kecilnya pasar. Namau demikian, jika ditinjau industri secara
keseluruhan, maka rangsangan tersebut sangat besar. Oleh karena itu jika
sejumlah industri besar dikembangkan maka secara bersamaan setiap industri
mengalami perluasan pasar yang besar sekali bagi produk-produknya.
2. industri yang sama letaknya berdekatan.
Dengan adanya perluasan industri maka akan terjadi beberapa hambatan ,
karena begitu banyaknya industri yang sama maka akan saling berdekatan pula
tempat dimana industri tersebut didirikan. Dengan adanya masalah ini maka
terjadi ekonomi eksternal
3. adanya industri lain dalam perekonomian tersebut.
Di dalam perekonomian suatu Negara terdapat industri-industri yang
memproduksi kebutuhan penduduknya, sedangkan kebutuhan manusia sangatlah
bermacam-macam oleh karena itu akan berdiri industri lain yang memproduksi
barang yang berbeda maka terjadilah ekonomi eksternal.

D. Penilaian
Prof. Rosenstein-Rodan menganggap Teori pembangunannya lebih unggul daripada
teori keseimbangan statis tradisional karena ia tidak menggunakan motto dari teori yang
terakhir ini bahwa alam memang melompat-lompat. Teorinya berdasarkan atas asumsi yang
lebih realistas yaitu syarat mutlak minial dan ketidak tepatan dalam fungsi produksi. Teori ini
menjajagi jalan menuju keseimbangan dan tidak hanya menjajagi kondisi-kondisi pada saat
titik keseimbangan tertentu. Jadi teori ini terutama merupakan teori investasi yang
menyangkut pasar tidak sepurna di Negara terbelakang. Dalam pasar tidak sempurna seperti
itu, bukan mekanisme pasar tetapi sejumlah minimal investasi tertentu yang menempatkan
suatu perekonomian Negara terbelakang menuju suatu posisi optimum.
E. Kekurangan
Meskipun demikian teori dorongan kuat tidak luput dari beberapa kekurangan,
1. Mengabaikan investasi di bidang ekspor dan impor
Teori investasi di bidang overhand social dapat menciptakan ekonomi
eksternal yang luas. Namun seperti dinyatakan Prof. Jakop Viner, perekonomian
terbelakang ternyata menjadi lebih baik sebab perdagangan dunia yang tidak
tergantung pada investasi dalam negeri. Rodan menyadari ini, namun tidak mau
melihat kenyataan bahwa di negara yang sedang berkembang investasi di bidang
ekspor dan pengganti impor marginal memduduki peranan yang besar di dalam
keseluruhan investasi. Dalil ekonomi eksternal yang timbul dari dorongan kuat
tersebut di atas kehilangan alasan pembenarannya karena jenis investasi di bidang
ekspor dan pengganti impior seperti itu tidak memerlukan ekonomi eksternal.
2. Mengabaikan investasi yang bersifat pengurangan biaya.
Di dalam produksi lokal barang-barang konsumsi, dan sebagaian besar
pekerjaan umum, ekonomi eksternal yang potensial hanya sedikit saja dapat terwujud.
Investasi di bidang-bidang yang permintaannya cukup inelastis lebih bersifat
mengurangi biaya daripada memperluas output. Karena ekonomi eksternal tubuh dari
perluasan output industri sebelumnya, maka dalam hal investasi yang bersifat
pengurangan biaya ekonomi eksternal tersebut tidak diperlukan.
3. Mengabaikan investasi di sektor pertanian
Teori ini lebih menekankan pentingnya suatu jumlah minimal investasi pada
semua tipe industri barang modal, barang konsumsi dan modal overhand social,
kecuali pertanian dan industri primer lainnya. Bagi Negara terbelakang yang
berorientasi pada pertaniaan, aplikasi teori investasi dorongan kuat secara besarbesaran di bidang pengairan, fasilitas angkutan, landreform dan perbaikan pertanian
melalui peralatan yang lebih baik, pupuk dan lain-lain sama pentingnya. Mengabaikan
sector pertaniaan berarti meperhambat daripada mempercepat jalannya pembangunan.
4. Menyebabkan tekanan inflasioner.
Investasi di bidang overhand social dalam jumlah minimal pun ternyata
sangatlah mahal. Modal overhand juga mempunyai rasio modal output yang tinggi
dan masa persiapan yang sangat lama. Ini membuat tugas pembangunan di negara
terbelakang menjadi lebih sulit dan lebih lama, karena negara tidak mempunyai
sumber keuangan yang cukup untuk menyediakan modal overhand yang diperlukan

bagi dorongan kuat itu. Jangka waktu selama modal overhand itu dibentuk juga
akan menjadi masa yang mengandung tekanan inflasi karena barang-barang konsumsi
langka. Tekanan inflasi pada waktunya akan memperpanjang proses pembentukan
modal overhand sehingga tugas untuk membangun perekonomian dengan lebih cepat
menjadi semakin labih sulit lagi.
5. Investasi rendah membawa peningkatan besar di bidang output.
Analisa statistic pembangunan ekonomi di dunia Prof. Jonh Adler menunjukan
bahwa investasi yang relative rendah memberikan hasil yang baik dalam bentuk
penambahan output. Kesimpulan ini di dasarkan pada kajian tentang rasio odal output
yang rendah di India, Pakistan dan banyak negara lainnya di Asia dan Amerika latin.
Jadi tidak banyak bukti yang dapat menyakinkan bahwa dorongan kuat pada
investasi merupakan suatu persyaratan bagi pembangunan ekonomi negara
terbelakang.
6. Kesulitan administratif dan institusional
Teori dorongan kuat di dasarkan pada investasi yang dimotori oleh Negara.
Prof. Rosenstein mengemukakan bahwa karena pasar di Negara terbelakang bersifat
tidak sempurna, maka mekanisme pasar bukan merupakan system pemberi isyarat
yang baik. Tetapi ketergantungan kepada negara sendiri mengandung jumlah masalah.
Perlengkapan administrasi dan kelembagaan pada perekonomiaan seperti itu lemah
dan tidak efisien.
Kesulitan yang akan timbul tidak akan tidak saja menyangkut perencanaan
berbagai macam proyek tetapi juga dalam pelaksanaanya. Kekurangan informasi
statistic, keterampilan teknik, tenga terlatih dan koordinasi antara berbagai
departemen adalah sebagian dari masalah kompleks yang tidak mudah diatasi. Lebih
lanjut, sebagian beras Negara terbelakang merupakan ekonomi campuran, di mana
sector swasta dan Negara lebih danyak bersaing daripada saling melengkapi. Ini
membawa kepada saling curiga dan permusuhan yang rasanya bertentangan dengan
pertumbuhan ekonomi yang berimbang.
7. Bukan fakta sejarah paling akhir
Tesis Prof. Rodan jenis resep untuk mendorong maju Negara terbelakang
kejalur cepat, pada saat ini. Ia bukan suat uraian sejarah mengenai bagaimana
pembangunan pernah berlangsung, karena menurut sejarah keberadaan atau absennya
suatu dorongan kuat tidak merupakan ciri pertumbuhan yang istimewa, di mana pun
juga. Kata prof. Hagen.
F. Keritik Terhadap Pembangunan Seimbang
Banyak kritik yang di lontarkan terhadap teori pembangunan seimbang, yang
dikemukakan oleh:
1. Hirschman
Merupakan pengkritik yang paling baik karena selain menunjukan keleahankelemahan teori pembangunan seimbang juga mengemukakan teori pembangunan tak
seimbang. Hirschman berpendapat bahwa disatu pihak pembangunan seimbang sangat
meragukan kemampuan Negara-negara sedang berkembang, tetapi di lain pihak
mereka mebuat penghargaan-penghargaan yang samasekali tidak realitis mengenai
daya kreatif Negara-negara tersebut.

Menurut Hirschman, teori pembangunan seimbang melupakan kenyataan


historis yang menunjukan bahwa swcara gradual (perlahan) kegiatan industri modern
telah mulai berkembang pada masa lalu, dan telah sanggup menggantikan beberapa
industri ruah tangga maupun menghasilkan barang-barang yang pada mulanya
diinpor. Juga teori itu telah mengabaikan kenyataan sejarah yang menunjukan bahwa
hasil-hasil moderen telah mengabaikan kenaikan pengeluaran masyarakat sehingga
mengurangi tabungan mereka serta medorong untuk bekerja lebih giat.
Jadi menurut Hirschman, hambatan-hambatan terhadap pembangunan
terutama industrialisasi tidaklah seserius seperti yang dikemukakan orang, termasuk
orang yang memcetuskan pandangan tentang perlunya pebangunan seimbang.
Hirschman juga mengatakan bahwa ia tidak yakin Negara-negara sedang
berkembang sanggup melaksanakan program pembangunan yang demikian tanpa
adanya bantuan dari luar, karena pelaksanaan pemmbangunan eerlukan tenaga-tenaga
ahli yang besar sekali julahnya, yang notabene sangat terbatas sekali jumlahnya di
Negara-negara sedang berkemmbang, berkaitan dengan hal itu Hirschan mengatakan
bahwa jika suat Negara sudah mapu untuk melaksanakan doktrin pembangunan
seimbang, maka Negara itu sudah bukan Negara sedang berkembang lagi.
Selain itu, Hirschman (dan Fleming) mengemukakan bahwa pembangunan
seimbang itu selain menciptakan efisiensi dan keuntungan yang lebih tinggi kepada
masing-masing industri juga bias menimbulkan eksternalitas disekonomis. Misalnya,
pembangunan seimbang akan menghancurkan cara-cara tradisional dalam kehidupan
masyarakat, dalam kegiatn produksi, dan dalam cara-cara bekerja masyarakat. Hal ini
sering kali menimbulkan kerugian bagi masyarakat. Keahlian tradisional tidak
berguna lagi, corak kegiatan perdagangan yang lama hancur, dan pengangguran
tercipta. Kalau keadaan demikian terjadi maka akan menimbulkan berbagai jenis
biaya social (social cost) bagi masyarakat
2. Singer
mengeritik pandangan yang menekankan tentang perlunya manciptakan
pembangunan yang bersamaan pada berbagai industri (Rosenstein-Rodan dan
Nurkse). Menurut Lewis, melupakan sector pertanian. Sebagai akibatnya, sector
pertanian akan menghadapi kesukaran untuk memenuhi pertambahan permintaan
bahan pangan dan bahan baku pertanian yang akan digunakan sector industri. Oleh
karena itu, menurut Singer, teori pembangunan seimbang harus diperluas sehingga
meliputi pula usaha pembangunan secara besar-besaran di sector pertanian. Dengan
demikian kenaikan produktivitas dan produksi sector pertanian akan dapat memenuhi
kenaikan permintaan di sector industri.
Namun demikian, Singer meragukan kemampuan Negara-negara sedang
berkembang untuk menyediakan sumberdaya jika ingin melaksanakan program secara
besar-besaran seperti itu. Ia juga mengatakan bahwa teori pembangunan seimbang
tidak menyadari masalah utama yang dihadapi Negara-negara yang sedang berkebang
yaitu kekurangan sumberdaya, walau pun begitu tidak berarti bahwa Singer menolak
sama sekali pandangan-pandangan dari teori pembangunan seimbang. Pandangan
teori tersebut yang menunjukan pentingnya perluasan pasar dan hubungan erat antara
berbagai industri dalam menciptakan eksternalitas ekonomi untuk berbagai industri
dianggapnya sebagai suatu subangan penting dari teori ini bagi pemikiran
pembangunan.
Kritik utama Singer terhadap teori pembangunan seimbang adalah mengenai
corak program pembangunan yang harus di laksanakan di berbagai industri dan sector.
Menurut Singer, hal tersebut sangat sulit dilakukan oleh Negara-negara sedang
berkembang yang biasanya mempunyai sumberdaya yang terbatas.

G. Hipotesis atau Simpulan


Berdasarkan asumsi-asumsi serta teori yang telah dikemukakan oleh Rosenstein-Rodan,
maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Intervensi pemerintah dalam bentuk investasi yang terkoordinasi akan mampu
mengatasi masalah-masalah di atas dengan cara: mengkoordinasi industri yang saling
melengkapi, melihat eksternalitas sebagai keuntungan, dan mengumpulkan informasi
yang cukup agar biasa memperhitungkan risiko dengan benar.
2. Setelah titik-ambang industri tertentu dapat dicapai, insentif swasta yang normal
bagi investasi dapat diserahkan kembali ke pasar.
3. Sebuah dorongan besar memutus lingkaran setan dan memungkinkan terbentuknya
sebuah siklus pertumbuhan.

Daftar Pustaka

en.wikipedia.org/wiki/Paul_Rosenstein-Rodan
www.mudrajad.com//Big%20Push%20dan%20Daerah%20Tertinggal%20150109.pdf
kumoro.staff.ugm.ac.id/wp-content/uploads//teori-pertumbuhan.pdf
journal.uii.ac.id/index.php/JEP/article/view/667/592
pustaka.ut.ac.id/puslata/online.php?menu=bmpshort
Suryana, Dr.M.Si. Ekonomi pembangunan Probleatika dan pendekatan.
Jhingan, M.L. Ekonomi pembangunan dan perencanaan.-Ed.1.Cet4.-Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 1993.
Arsyad, Lincolin. Ekonomi pembangunan. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi-YKPN Jl. Oerip
Soemorhadjo, Yogyakarta 55222.
Sukirno, Sadono. Ekonomi Pembangunan. Fakultas Ekonomi UI Bima Grafik. Jakarta 1985.