Anda di halaman 1dari 19

MATA KULIAH

AKUNTANSI MANAJERIAL

MATERI :
PENGANGGARAN MODAL
(Capital Budgeting)

FAKULTAS / JURUSAN :
EKONOMI DAN BISNIS / MANAJEMEN

PENYUSUN :

MUH. AKBAR AB (A21113021)


MUHAMMAD YUSUF ANWAR (A21113529)

UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015

1. Definisi
Capital Budgeting adalah keseluruhan proses dalam perencanaan dan pengambilan
keputusan mengenai pengeluaran dana, jangka waktu pengembalian dana tersebut melebihi satu
tahun (Suratiyah, 2006) dan menurut Pangestu (2001) Capital Budgeting adalah menilai rencana
investasi yang akan kembali dalam jangka panjang. Investasi adalah komitmen atas sejumlah
dana atau sumberdaya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah
keuntungan dimasa datang.
Investasi berkaitan dengan berbagai macam aktivitas dan terbagi menjadi dua, yaitu aset
riil dan aset finansial. Aset riil misalnya tanah, emas, mesin dan bangunan. Aset finansial
misalnya deposito, saham, dan obligasi.
Menurut Tandelilin (2001), tujuan investasi adalah untuk :
Menghasilkan sejumlah uang
Untuk mendapat kehidupan yang lebih layak / baik dimasa yang akan datang.
Menurut Soetrisno (1985) yang menjelaskan tentang kriteria usulan proyek, investasi
adalah pengeluaran yang pertama atau ongkos permulaan proyek, yaitu ongkos yang dikeluarkan
mulai studi kelayakan, pembangunan proyek sampai dengan pembukaan proyek .Ongkos / biaya
ini disebut dengan project cost (ongkos proyek) atau ongkos permulaan (initial cost). Dalam
analisis criteria usulan proyek tahun permulaan proyek ditandai dan disebut dengan tahun ke nol.
Dari berbagai kesempatan investasi, terbuka keuntungan yang berbeda, untuk itu perlu
adanya analisis terhadap usulan proyek. Salah satu tujuannya adalah mengadakan penilaian
terhadap investasi dan dapat memilih alternatif investasi yang paling menguntungkan (Gray,dkk.,
1985)
Menurut Husnan dan Muhamad (2000), dalam studi kelayakan, yang dipelajari salah
satunya adalah penilaian investasi dengan kriteria investasi. Sedangkan menurut Soetrisno P.H
(1985), salah satu tahapan dalam studi kelayakan adalah tahap evaluasi dengan criteria investasi
dan tahap ranking

2. Aspek Penting dalam Capital Budgeting


1. Gunakan Selalu Cash Flow
Dalam melakukan capital budgeting, yang selalu digunakan adalah cash flow, bukannya
accounting profit.Cash flow dan laba akuntansi mempunyai karakteristik yang sangat berbeda.
Laba akuntansi baru dapat direalisasikan ketika diterima di kemudian hari, sementara arus kas
benar-benar merupakan kas yang sudah diterima di tangan kita dan siap untuk diinvestasikan
kembali.
Misalnya, jika kita mempunyai tanah, perlengkapan dan aset tetap lainnya, tentunya
terdepresiasi selama beberapa tahun umur ekonomisnya. Dalam perhitungan laba akuntansi,
depresiasi dimasukkan dalam komponen beban yang mengurangi laba akuntansi, padahal
depresiasi tidak mengurangi arus kas. Sehingga, cash flow menjadi lebih relevan dalam
melakukan capital budgeting.
2. Think Incrementally
Berusaha untuk selalu think incrementally, yakni bagaimana tambahan yang dihasilkan
oleh suatu proyek terhadap kondisi yang ada sekarang? Apakah dengan mengambil proyek
yang satu ini akan menghasilkan tambahan yang menguntungkan, ataukah justru lebih
menguntungkan jika tidak melakukan apapun?
Misalnya, ketika perusahaan ingin memperbarui peralatan produksi yang sudah
dimilikinya selama beberapa tahun dengan yang baru, dan menjual yang lama. Tentunya
harus diperhitungkan incremental cash flow setelah pajak yang dihasilkan dari peralatan
Capital Budgeting

produksi yang baru tersebut. Mungkin saja ternyata incremental cash flow yang dihasilkan
justru negative karena biaya perawatan peralatan baru lebih mahal, misalnya sementara
penghematan tidak terlalu signifikan.
3. Perhitungkan Opportunity Cost
Opportunity cost adalah nilai ekonomis yang hilang ketika seseorang memilih suatu
alternative dibandingkan dengan alternative lainnya. Opportunity cost merupakan komponen
yang seringkali dilupakan maupun salah dihitung dalam evaluasi capital budgeting. Hal ini
seringkali disebabkan karena orang seringkali tidak menyadari adanya peluang lain yang
dapat dihasilkannya.
Contoh, misalnya kita mempunyai sebidang tanah pribadi yang kita beli dengan harga
Rp 1 miliar, dan ingin digunakan untuk suatu proyek.Harga pasar tanah ini sekarang sekitar 2
miliar. Kesalahan yang seringkali terjadi adalah sama sekali tidak menghitung penggunaan
tanah pribadi sebagai opportunity cost atau hanya menghitung Rp1 miliar saja sebagai
opportunity cost, padahal potensi penjualannya mencapai Rp2 miliar, yang seharusnya jadi
opportunity cost.
4. Sunk Cost Tidak Masuk Perhitungan
Sunk cost adalah biaya yang sudah terjadi di masa lalu dan tidak akan muncul lagi dari
suatu proyek atau investasi baru. Oleh karena itu, menjadi tidak relevan untuk
memperhitungkan sunk cost dalam suatu analisa capital budgeting, karena biayanya sudah
terjadi sementara keputusan investasi yang diambil baru akan terjadi di masa depan.
Misalnya, ketika suatu perusahaan melakukan riset pasar terhadap produknya, maka itu
adalah sunk cost. Sehingga, ketika melakukan evaluasi capital budgeting sebelum produksi
dijalankan, sunk cost tersebut tidak diikutsertakan, karena memang sudah terjadi dan tidak
akan terjadi lagi di masa depan.
5. Konsekuensi proyek
Dalam melakukan analisa capital budgeting, Anda harus punya pandangan jauh ke
depan. Arahkan fokus Anda juga kepada implikasi-implikasi yang dihasilkan dari keputusan
proyek yang Anda ambil. Apakah ada risiko atau kemungkinan buruk yang memunculkan
biaya tidak terduga? Jika ada biaya-biaya yang tersembunyi, perhitungkan juga dalam analisa.
Misalnya, proyek dari pengembangan produk baru, tentunya berpotensi untuk memakan pangsa
pasar dari produk yang lama. Sehingga ini juga penting untuk dipertimbangkan.
Langkah-langkah Capital Budgeting:
1. Biaya proyek harus ditentukan
2. Manajemen harus memperkirakan aliran kas yg diharapkan dari proyek, termasuk nilai akhir
aktiva
3. Risiko dari aliran kas proyek harus diestimasi. (memakai distribusi probabilitas aliran kas)
4. Dengan mengetahui risiko dari proyek, manajemen harus menentukan biaya modal (cost of
capital) yg tepat untuk mendiskon aliran kas proyek
5. Dengan menggunakan nilai waktu uang, aliran kas masuk yang diharapkan digunakan untuk
memperkirakan nilai aktiva.
6. Terakhir, nilai sekarang dari aliran kas yg diharapkan dibandingkan dengan biayanya.

3. Metode dalam Capital Budgeting


Syamsuddin (2007) menyatakan, ada beberapa metoda dalam Capital Budgeting untuk
penentuan rangking investasi dan pengambil keputusan,yaitu:
1. Average Rate of Return
Metode Average Rate of Return atau sering disebut juga dengan Accounting Rate of
Return, menunjukkan prosentase keuntungan netto sesudah pajak dihitung dari Average
Capital Budgeting

Investment atau Initial investment.Metode ini mendasarkan diri pada keuntungan yang
dilaporkan dalam buku (Reported Accounting Income), (Bambang Riyanto, 1995).
Metode accounting rate of return adalah metode penilaian investasi yang mengukur
seberapa besar tingkat keuntungan dari invetasi.Metode ini menggunakan dasar laba akuntansi
sehingga angka yang dipergunakan adalah laba setelah pajak (EAT) yang dibandingkan
dengan rata-rata investasi.

Untuk menghitung rata-rata EAT dengan cara menunjukkan EAT (laba setelah pajak)
selama umur investasi dibagi dengan umur investasi. Sedangkan untuk menghitung rata-rata
investasi adalah investasi ditambah dengan nilai residu dibagi 2.
Setelah angka accounting rate of return dihitung kemudian dibandingkan dengan tingkat
keuntungan yang diisyaratkan. Apabila angka accounting rate of return lebih besar
dibandingkan dengan keuntungan yang diisyaratkan, maka proyek investasi ini
menguntungkan, apabila lebih kecil daripada tingkat keuntungan yang diisyaratkan proyek ini
tidak layak.
Kebaikan metode ini adalah sederhana dan mudah, karena untuk menghitung ARR
cukup melihat laporan rugi-laba yang ada. Sedangkan kelemahan metode ini mengabaikan
nilai waktu nilai waktu uang (time value of money) dan tidak memperhitungkanaliran kas
(cashflow).
Contoh:
Perusahaan Sari Delima sedang menilai dua buah proyek A, dan B, yang masing-masing
membutuhkan initial investment sebesar Rp. 6.000.000,00 untuk proyek A, dan Rp
7.200.000,00 untuk proyek B. Perusahaan akan menggunakan metode garis lurus (strightline method) dalam mendepresiasi kedua proyek tersebut. Umur ekonomis masing-masing
proyek adalah 6 tahun dan tidak ada nilai residu pada akhir tahun ke-6.

Berdasarkan informasi di atas, maka diketahui bahwa:


Proyek A
Proyek B
Initial
Rp 6.000.000,00
Rp 7.200.000,00
Investment
Depresiasi
Rp 1.000.000,00
Rp 1.200.000,00
Jumlah cash inflow untuk masing-masing proyek dapat dicari dengan cara sebagai berikut:
CI = EAT + D
Di mana:
CI = Cash Inflow
EAT = Earning after taxes atau laba bersih sesudah pajak
D
= Depresiasi

Capital Budgeting

Tabel 1 menyajikan jumlah proyeksi laba bersih sesudah pajak dan cash inflow untuk masingmasing proyek.
Tabel 1
Initial Investment, Earning After Taxes dan Cash Flow untuk
Kedua Usulan Proyek Perusahan Sari Delima
Proyek A
Initial Investment Rp 6.000.000,00
Tahun EAT
CI
Rp.
Rp.
1
1.000.000,00
2.000.000,00
2
1.000.000,00
2.000.000,00
3
1.000.000,00
2.000.000,00
4
1.000.000,00
2.000.000,00
5
1.000.000,00
2.000.000,00
6
1.000.000,00
2.000.000,00
Ratarata
1.000.000,00
2.000.000,00

Proyek B
Initial Investment Rp 7.200.000,00
Tahun EAT
CI
Rp.
Rp.
1
3.300.000,00
4.500.000,00
2
1.000.000,00
2.200.000,00
3
800.000,00
2.000.000,00
4
100.000,00
1.300.000,00
5
100.000,00
1.300.000,00
6
100.000,00
1.300.000,00
900.000,00

2.100.000,00

Average rate of return


Perhitungan average rate of return didasarkan atas jumlah keuntungan bersih sesudah
pajak (EAT) yang tampak dalam laporan rugi-laba. Pengukuran dengan teknik rate of return
ini sering pula disebut dengan istilah accounting rate of return yang perhitungannya
dilakukan sebagai berikut:

Average earning after taxes (rata-rata bersih sesudah pajak):


Average earning after taxes atau rata-rata keuntungan bersih sesudah pajak dihitung
dengan jalan menambah keseluruhan keuntungan bersih sesudah pajak selama umur proyek,
kemudian dibagi dengan umur ekonomis proyek tersebut:

Di mana:
Average EAT
EAT
n

= rata-rata keuntungan
= total keuntungan
= umur ekonomis

Rata-rata keuntungan bersih sesudah pajak untuk kedua proyek adalah :


Average EAT proyek A

=
= Rp.1.000.000,00

Average EAT proyek B

=
= Rp 900.000.00

Average investment (Rata-rata investasi):


Rata-rata investasi dihitung dengan jalan membagi dua jumlah investasi. Rata-rata ini
mengasumsikan bahwa perusahaan menggunakan metode depresiasi garis lurus dan tidak ada
Capital Budgeting

nilai residu atau salvage value pada akhir umur ekonomis proyek. Dengan demikian, nilai
buku aktiva akan menurun pada tingkat yang konstan, mulai dari nilai investasi yang semula
sampai dengan Rp 0 pada akhir umur ekonomis proyek. Hal ini berarti bahwa rata-rata nilai
proyek adalah separuh dari nilai jumlah investasi yang semula. Latar belakang pemikiran
seperti ini sama dengan rata-rata persediaan yag digunakan dalam perhitungan EOQ yang
sudah disajikan didepan.
Rata-rata investasi untuk masng-masing proyek adalah:
Rata-rata investasi

Rata-rata investasi proyek A

=
= Rp 3.000.000.00

Rata-rata investasi proyek B

=
= Rp 3.600.000.00

Setelah mengetahui rata-rata laba bersih sesudah pajak dan rata-rata investasi, maka average
rate of return untuk masing-masing proyek adalah sebagai berikut:
Average rate of return:
Proyek A

=
= 0,333 atau 33,33%

Proyek B

=
= 0,25 atau 25%

Dari hasil perhitungan di atas maka tampak bahwa proyek A lebih baik daripada proyek
B karena average rate of returnnya lebih besar dibandingkan dengan average rate of return B.
Metode lain untuk menghitung average rate of return dari suatu proyek. Salah-satu dari
metode tersebut menggunakan rata-rata keuntungan bersih sesudah pajak. Dengan
menggunakan metode di atas, maka perlu terlebih dahulu dihitung rata-rata cash inflow
adalah:
Average cash inflow =
Di mana:
Average cash inflow

= rata-rata cash inflow

cash inflow

= total cash inflow

= umur ekonomis proyek


(jangka waktu proyek menghasilkan).

Average cash inflow untuk:

Proyek A =
= Rp 2.000.000.00

Capital Budgeting

Proyek B =
= Rp 2.100.000.00
Setelah mengetahui jumlah rata-rata inflow, maka perhitungan average rate of return
dengan cara yang kedua adalah sebagai berikut:
Average rate of return =
Average rate of return untuk masing-masing proyek adalah:
Proyek A

=
= 0,6667 atau 66,67%

Proyek B

=
=

Dari hasil perhitungan di atas, maka proyek A menunjukkan average rate of return yang
lebih besar daripada proyek B, dengan demikian. Keadaan proyek A lebih menguntungkan
dibandingkan dengan proyek B.
Ada lagi metode lain yang sering digunakan dalam menentukan besarnya average rate
of return yaitu dengan menggunakan initial investment sebagai penyebut dan bukannya
average atau rata-rata initial investment. Dengan demikian, average rate of return untuk
masing-masing proyek dapat dihitung sebagai berikut:
Average of return =
Proyek A

=
= 0,1667 atau 16,67%

Proyek B

=
= Rp 0,1250 atau 12,5%

Dengan mengggunakan metode average rate of return, maka keputusan-keputusan


sehubungan dengan usulan proyek mana yang akan diterima harus didasarkan pada
perbandingan antara average rate of return yang diperoleh oleh masing-masing proyek dengan
average rate of return minimal yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Kebaikan-kebaikan dan kelemahan metode average rate of return
Aspek yang paling menguntungkan dalam penggunaan teknik average rate of return
adalah kemudahan dalam penerapannya. Input utama yang harus diperoleh adalah jumlah
investasi atau initial investment dan proyeksi keuntungan bersih sesudah pajak, di mana hal
ini tidak terlalu sulit untuk diperoleh.
Adapun kelemahan-kelemahan dari average rate of return adalah sebagai berikut:
- Kelemahan pertama adalah karena penggunaan accounting income (keuntungan bersih
sesudah pajak). Akan tetapi hal ini bisa diatasi dengan menggunakan rata-rata cash inflow
seperti yang disajikan dalam cara kedua di atas.

Capital Budgeting

- Kelemahan yang kedua adalah pengabaian terhadap nilai waktu dari uang yang akan
diterima pada masa yang akan datang. Seperti sudah dikemukakan dalam pembahasan
mengenai present value, uang Rp 1.00 pada saat ini nilainya lebih besar dibandingkan
dengan Rp 1.00 pada masa yang akan datang, di mana hal ini disebabkan karena adanya
faktor bunga atau nilai waktu dari uang. Besarnya perbedaan antara uang Rp 1.00 saat ini
dengan Rp 1.00, setahun kemudian adalah sebesar tingkat bunga yang berlaku. Perbedaan
tersebut dapat diilustrasikan dengan menggunakan data dalam tabel 2.
Tabel 2
Perhitungan Average Rate of Return Untuk
Tiga Proyek Capital Expenditure
Proyek
Keterangan
1. Initial investment
2. Rata-rata investasi
Tahun
1
2
3
4
5
3. Rata-rata EAT
4. Average rate of return
5. (3) : (2)

X
Rp 2.000.000,00
Rp 1.000.000,00

Y
Rp 2.000.000,00
Rp 1.000.000,00

Z
Rp 2.000.000,00
Rp 1.000.000,00

Rp 200.000,00
Rp 300.000,00
Rp 400.000,00
Rp 500.000,00
Rp 600.000,00
Rp 400.000,00

Rp 4.00.000,00
Rp 400.000,00
Rp 400.000,00
Rp 400.000,00
Rp 400.000,00
Rp 400.000,00

Rp 600.000,00
Rp 500.000,00
Rp 400.000,00
Rp 300.000,00
Rp 200.000,00
Rp 400.000,00

40%

40%

40%

Sekalipun average rate of return dari ketiga proyek tersebut di atas adalah sama, yaitu
40%, tetapi apabila faktor bunga ikut dipertimbangkan maka keadaannya akan lain. Manajer
keuanagn perusahaan akan lebih menyukai proyek Z dibandingkan kedua proyek lainnya, dan
akan lebih menyukai proyek Y dibandingkan dengan proyek X. Hal tersebut disebabkan
karena uang yang lebih besar diterima pada saat ini akan dapat memberikan return yang lebih
besar apabila diinvestasikan kembali pada proyek-proyek lain, dan hal ini tidak
diperhitungkan dalam metode average rate of return.
2. Pay Back Period
Perhitungan payback period untuk suatu proyek ynag mempunyai pola cash inflow
yang sama dari tahun ke tahun dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

Perhitungan di atas yang menghasilkan payback period selama 3 tahun menunjukkan


bahwa modal yang diinvestasikan dalam proyek A akan dapat tertutup selama 3 tahun. Tahun
pertama akan tertutup sebanyak Rp 2.000.000,00 tahun kedua Rp 4.000.000,00 dan tahun
ketiga Rp 6.000.000,00.
Dalam hubungannya dengan proyek B maka cara di atas tidak dapat digunakan karena
cash inflow proyek tidak sama dari tahun ke tahun. Untuk menentukan payback period
proyek B maka perhitungan cash inflow yang diperoleh perlu dilakukan satu per satu, sebagai
berikut:
Initial
investment
Cash inflow:
tahun 1
Belum tertutup
Tahun 2

Rp 7.200.000.00
Rp 4.500.000.00

Rp 2.700.000.00
Rp 2.200.000.00
Capital Budgeting

Belum tertutup
Tahun 3
Kelebihan

Rp 500.000.00
Rp 2.000.000.00
Rp 1.500.000.00

Cash inflow yang dibutuhkana dalam tahun ketiga untuk dapat menutup sisa initial
investment adalah sebesar Rp 500.000,00 maka jumlah kebutuhan sebesar Rp 500.000,00
tersebut hanya menggambrkan 25% dari cash inflow tahun ketiga (Rp 500.000,00 : Rp
2.000.000,00) x 100%. Dengan perkataan lain cash inflow sebesar Rp 500.000,00 dalam
tahun ketiga akan terkumpul dalam waktu 3 bulan (25 x 12 bulan). Dengan demikian,
payback period untuk proyek B adalah 2,25 tahun atas 2 tahun 3 bulan. Perhitungan payback
di atas dapat disederhanakan apabila dibuat jumlah kumulatif cash inflow dari tahun ke tahun
seperti pada tabel 3 berikut:
Tabel 3
Initial Investment, EAT, Cash Inflow dan Kumulatif Cash Inflow
Untuk Kedua Usulan Proyek Perusahaan Sari Delima (dalam ribuan)
Tahun

1)
2)
3)
4)
5)
6)

Proyek A
Initial investment Rp 6.000,00
EAT
Cash
Cumulative
inflow
cash inflow
Rp.
Rp.
Rp.
1.000,00
2.000,00
2.000,00
1.000,00
2.000,00
2.000,00
1.000,00
2.000,00
6.000,00
1.000,00
2.000,00
8.000,00
1.000,00
2.000,00
10.000,00
1.000,00
2.000,00
12.000,00

Proyek B
Initial investment Rp 7.200,00
EAT
Cash
Cumulative
inflow
cash inflow
Rp.
Rp.
Rp.
3.300,00
4.500,00
4.500,00
1.000,00
2.200,00
6.700,00
800,00
2.000,00
8.700,00
100,00
1.300,00
10.000,00
100,00
1.300,00
11.300,00
100,00
1.300,00
12.600,00

Dengan adanya data tentang kumulatif cash inflow maka secara langsung dapat dilihat
bahwa initial investment untuk proyek A akan tertutup pada tahun ke-3, sedangkan payback
period untuk proyek B dapat dihitung sebagai berikut:
Payback period = t
Di mana: t
B
C
D

= tahun terakhir di mana umlah cash inflow belum menutup


initial investment.
= initial investment.
= kumulatif cash inflow pada tahun ke ,t,
= jumlah kumulatif cash inflow pada tahun t + 1

Dari contoh yang diberikan di atas, maka payback period untuk proyek B adalah:
Payback period B

=
= 2 + 0,25 = 2,25 tahun atau 2 tahun 3 bulan.

Dengan membandingkan payback period kedua proyek tersebut maka keadaan proyek
lebih menguntungkan dibandingkan dengan proyek A karena proyek B dapat menutup modal
yang diinvestasikan dalam waktu yang lebih cepat.
Kebaikan-kebaikan dan Kelemahan Payback Period
Pengukuran usulan proyek capital budgeting dengan menggunakan metode payback
period seringkali dikatakan lebih baik daripada metode average rate of return karena dalam
perhitungannya digunakan cash inflow dan bukannya accounting income. Di samping itu,
payback period juga mempertimbangkian (walaupun tidak sepenuhnya) secara implisit faktor
timing atau saat penerimaan cash inflow, dan dengan demikian faktor waktu dari uang yang
Capital Budgeting

akan diterima. Payback period merefleksikan tingkat likuiditas suatu proyek (kecepatan dalam
menutup kembali modal yang diinvestasikan), dan dengan demikian pertimbangan tentang
risiko untuk dapat segera menutup kembali investasi dengan cash inflow yang dihasilkan oleh
investasi tersebut.Semakin likuid suatu proyek, semakin kecil risiko yang dihadapi oleh
perusahaan, demikian pula sebaliknya.
Kelemahan utama dari payback period adalah tidak mempertimbangkan sepenuhnya
faktor atau nilai waktu dari uang.Pengukuran payback period menekankan pada beberapa
cepat modal yang diinvestasikan akan tertutup sebenarnya hanya mempertimbangkan secara
implisit saat atau timing penerimaan cash inflow.Kelemahan yang kedua timbul karena
adanya suatu kenyataan sehubungan dengan penggunaan metode payback period yang tidak
mempertimbangkan cash inflow sesudah investasi dalam suatu proyek tertutup.Kelemahan
tersebut dapat diilustrasikan pada tabel 4.
Tabel 4
Perhitungan Payback Period Untuk Dua Alternatif Investasi
Proyek X
Proyek Y
Initial investment Rp 100.000.00
Initial investment Rp 100.000.00
Tahun
Cash inflow
1
Rp 50.000,00
Rp 50.000,00
Rp 30.000,00
Rp 30.000,00
2
Rp 50.000,00
Rp 100.000,00
Rp 40.000,00
Rp 70.000,00
3
Rp 10.000,00
Rp 110.000,00
Rp 30.000,00
Rp 100.000,00
4
Rp 1.000,00
Rp 111.000,00
Rp 40.000,00
Rp 140.000,00
5
Rp 1.000,00
Rp 112.000,00
Rp 30.000,00
Rp 170.000,00
Payback period = 2 tahun
Payback period = 3 tahun

Payback period untuk proyek X adalah 2 tahun dan proyek B adalah 3 tahun. Dengan
mendasarkan keputusan pada pertimbangan payback period saja, maka proyek X akan lebih
disukai dibandingkan dengan proyek Y karena payback periodnya lebih cepat. Akan tetapi,
apabila kita memperhatikan cash inflow sesudah payback period tercapai, maka proyek X
hanya akan mampu menghasilkan sebesar Rp 12.000,00, sedangkan proyek Y hanya akan
mampu menghasilkan sebesar Rp 112.000,00, sedangkan proyek Y sebesar Rp 170.000,00.
Berdasarkan X. Dalam perhitungan payback period tidak dipertimbangkan junlah cash inflow
pada tahun ke-3, 4 dan 5 untuk proyek X, dan tahun ke-4 dan 5 untuk proyek Y. Sekalipun
demikian, penggunaan payback period ini mungkin lebih baik dibandingkan dengan metode
average rate of return karena di dalam metode payback period ini paling tidak secara implisit
masih mempertimbangkan faktor waktu dari penerimaan cash inflow.
3. Net Present Value (NPV)
Net present value adalah salah satu dari teknik capital budgeting yang
mempertimbngkan nilai waktu uang yang paling banyak digunakan. Definisi atau perhitungan
net present value (NPV) dilakukan sebagai berikut:
NPV = present cash inflow present value investasi.
Keputusan tentang apakah suatu proyek dapat diterima atau tidak, akan sangat
tergantung pada hasil perhitungan net present value dari proyek tersebut.
Untuk menghitung NPV, pertama menghitung present value dari penerimaan atau
cashflow dengan tingkat discount rate tertentu, kemudian dibandingkan dengan present value
dari investasi. Bila selisih antara PV dari cashflow lebih besar berarti terdapat NPV positif,
artinya proyek investasi layak, sebaliknya bila PV dari cashflow lebih kecil dibanding PV
investasi, maka NPV negatif dan investasi dipandang tidak layak.

Capital Budgeting

Contoh:
Misalnya proyek senilai Rp. 600.000.000,- menghasilkan cashflow selama 4
tahun masing-masing Rp. 150.000.000,-; Rp. 200.000.000,-; Rp. 250.000.000;
dan Rp. 300.000.000,-. Bila diinginkan keuntungan sebesar 15%, maka NPVnya
bisa dihitung sebagai berikut :

Tabel 5
Perhitungan Net Present Value (r= 18%)

TAHUN

CASHFLOW

DISCOUNT FACTOR
R= 15%
0,870
0,756
0,658
0,572

1
150.000.000,2
200.000.000,3
250.000.000,4
300.000.000,Total Present Value of Cashflow
Present Value of investment
NET PRESENT VALUE

PRESENT VALUE
CASHFLOW
130.500.000,151.200.000,164.500.000,171.600.000,617.800.000,600.000.000,17.800.000,-

OF

Dari perhitungan tersebut diperoleh hasil NPV positif Rp. 17.800.000,- artinya proyek ini
layak.
4. Profitability Index (PI)
Metode profitability index (PI) ini menghitung perbandingan antara present value dari
penerimaan dengan present value dari investasi. Bila profitability index ini lebih besar dari 1,
maka proyek investasi dianggap layak untuk dijalankan. Metode ini lebih sering digunakan
untuk merangking beberapa proyek yang akan dipilih dari beberapa alternatif proyek yang
ada. Untuk memilih proyek dari beberapa alternatif proyek, yang diutamakan adalah yang
mempunyai profitability index paling besar. Rumus yang digunakan untuk mencari PI adalah
sebagai berikut :

P of ashflow
n estasi

Bila kita menggunakan contoh pada metode NPV, maka bisa kita hitung profitability
indexnya:
PI

1 00 000
00 000 000

= 1,03
5. Internal Rate of Return
Internal rate of return (IRR) didefinisikan sebagai tingkat discount atau bunga yang
akan menyamakan present value cash inflow dengan jumlah initial investment dari proyek
yang sedang dinilai. Engan perkataan lain. IRR adalah tingkat discount yang akan
menyebabkan NPV sama degan nol, karena present value cash inflow pada tingkat discount
tersebut akan sama dengan initial inveestment.
Perusahaan mengunakan teknik IRR dalam mengevaluasi usulan proyek capital
budgeting, maka keputusan tentang diterima tidaknya proyek tersebut akan tergantung pada
beberapa rate of return yng diperoleh dibandingkan dengan cost of capital yang digunakan
sebagai discount factor dalam memnentukan present alue dari cash inflow yang diterima.
Kriteria penerimaan atau penolakan suatu usulan cash inflow ditentukan sebagai berikut:
Usulan proyek investasi akan diterima apabila:
Capital Budgeting

RR cost of capital
Dan akan ditolak apabila:
IRR < cost of capital
Perhitungan IRR
Perhitungan RR harus dilakukan secara trial and error (coba-coba) sampai pada
akhirnya diperoleh tingkat discount yang akan menyebabkan NPV sama dengan nol.
Penentuan besarnya IRR untuk suatu pola cash flow yang berbentuk anuiler jauh lebih mudah
dibandingkan dengan pola cash inflow yang tidak sama dari tahun ke tahun (mixed stream of
flow). Dengan menggunakan contoh yang sudah diberikan di depan tentang perusahaan Sari
Delima maka RR untuk proyek A dan B daoat ditentukan sebagai berikut:
Perhitungan IRR untuk cash inflow yang berbentuk anuitet (proyek A). Perhitungan
IRR untuk proyek A dan B dibahas secara terpisah mengingat pola cash inflow dari kedua
proyek terseut berbeda satu sama lain, dalam artian bahwa pola cash inflow proyek A
berbentuk anuitet, sedangkan pola cash inflow proyek B tidak sama dari tahun ke tahun.
IRR proyek A
Untuk menentukan IRR proyek A yang cash inflownya berbentuk anuited, maka diperlukan 3
langkah perhitungan:
1.

Hitungbesarnya payback period untuk proyek yang sedang dievaluasi.

2.

Gunakan Tabel !-4 (PVIFAi_n), dan pada baris umur prpoyek ,n, carilah angka yang
sama atau hampir sama dengan hasil payback period dalam langkah 1 di atas. IRR
tereltak pada persentase terdekat dari hasil yang diperoleh.

3.

Apabila masih diperlukan, maka dapat dilakukan langkah ketiga yaitu untuk menentukan
besar IRR yng sesungguhnya dari suatu proyek dengan jalan mengadakan interpolasi.

Contoh: untuk mencari IRR ari usulan proyek perusahaan sari Delima maka IRR untuk
proyek A dapat langsung dihitung dengan menggunakan langkah-langkah yang
sudah disebutkan di atas. Langkah pertama yaitu menentukan payback period dari
proyek A.
Payback period proyek A

Rp 000 000 00
Rp 2 000 000 00

= 3.000
Menurut tabel PVIFAi,n (langkah kedua) maka faktor yang terdekat dengan nilai
sebesar 3.000 untuk jangka waktu 6 tahun adalah 3.020 (24%) dan 2,951 (25%). Dengan
demikian, IRR proyek a terletak di antara tingkat discount 24-25%. Dengan membandingkan
jarak dari rate yang sesungguhnya (3.000) dengan PVIFA 24% 6 dan PVIFA 25%,6 maka
dapat disimpulkan bahwa IRR proyek A lebih mendekati 24%.
Untuk menetukan tingkat IRR yang sesunguhnya maka perlu dilaksanakan langkah
ketiga yaitu dengan jalan mengadakan interpolasi atas hasil yang sudah diperoleh terseut,
sebagai berikut:
Interpolasi
24%
Rate
susungguhnya
25%
IRR yang sebenarnya

PVIFAi,n
3.020
2, 51
0,069
= 24% +

x 1%

= 24.28%
Capital Budgeting

PVIFAi,n
3.020
3.000

0.020

Mengingat cost of capital perusahaan sari Delima adalah sebesar 10%, maka RR proyek A
sebesar 24.28% enunjukkan keadaan yang sangat baik.
IRR proyek B
Perhitungan IRR untuk cash inflow tidak sama dari tahun ke tahun. Untuk menghitung
IRR cash inflow yang tidak berbentuk anuitet (mixed stream of cash inflow) jauh lebih
kompleks dibandingkan dengan penghitungan IRR untuk cash inflow yang tidak berbentuk
anuitet. Salah satu cara untuk menyederhanakan perhitungan IRR untuk cash inflow yang
tidak berbentuk anuitet adalah dengan jalan menganggap cash inflow tersebut solah-olah
suatu anuitet dengan jalan mengambil rata-ratanya. Langkah-langkah yang perlu dilakukan
adalah sebagai berikut:
1.

Hitunglah rata-rata cash inflow per tahun.

2.

Bagilah initial investment dengan rata-rata tersebut untuk mengetahui perkiraan


payback period dari proyek yang sedang dievaluasi.

3.

Gunakanlah tabel a-4 untuk menghitung besarnya IRR seperti langkah ke-2 dalam
menghitung IRR untuk pola cash inflow yang berbentuk anuitet. Hasil yag diperoleh akan
merupakan perkiraan RR.

4.

Kemudian sesuaikanlah (adjust) IRR yang diperoleh dalam langkah ke-3 di atas
(diperbesar atau diperkecil) ke dalam pola cash inflow yang sesungguhnya. Apabila cash
inflow yang sesungguhnya dalam tahun-tahun pertama ternyata lebih besar dari rata-rata
yang dipeoleh dalam langkah 1 di atas, maka perbesarlah tingkat disvount yang
digunakan, dan apabila sebaliknya maka perkecillah discount tersebut.

5.

Denganmengunakan discount rate baru yang diperoleh dalam langkah ke-4, hitunglah net
present value dari proyek tersebut.

6.

Apabila hasil yang diperoleh lebih besar dari nol, maka naikkanlah discount rate yang
digunakan, dan apabila sebaliknya, maka turunkanlah discount rate tersebut.

7.

Hitunglah kembali NPV dengan menggunakan disrate yang baru, sampai akhirnya
diperoleh discount rate yang secara erurutan menghasilkan NPV yang positif dan negatif.
Dengan mengadakan interpolasi, maka IRR yang sebenarnya akan dapat ditentukan.

Contoh aplikasi dari ke-7 langkah tersebut di atas ke dalam data poyek B adalah sebagai
berikut:
1.

Rata-rata cash inflow = Rp 2.100.000.00 (Tabel 14.1)

2.

Perkiraan besarnya payback period:

Rp 200 000 00
Rp 2 100 000 00

=3.429
3.

Dalam tabel A-4 (PVIFAi,n) pada .6 tahun diketahui bahwa nilai yang terdekat dengan
3.429 adalah 3.410 pada discount rate sebesar 19%. Dengan demikian, discount rate
sebesar 19% ini akan dijadikan sebgai titik awal penentuan IRR yang sebenarnya.

4.

Karena itu cash inflow pada tahun-tahun pertama lebih besar dari rata-rata cash inflow
maka secara subyektif discount rate tersebut dinaikan sebesar 3% menjadi 22%.

5.

Dengan menggunakan discount rate sebasar 22%, maka selanjutnya dihitung berapa NPV
dari proyek tersebut (lihat tabel 6)

6.

Karena NPV yang diperoleh dalam langkah 5 di atas masih jauh lebih besar dari nol,
maka discount rate tersebut harus ditingkatkan lagi, misalnya 26%. Perhitungan NPV
pada tingkat discount 26% disajikan pada tabel 7. Perhitungan pada tabel 7 menunjukkan
bahwa dengan discount rate sebesar 26%, NPV sudah semakin kecil tetapi masih lebih
besar dari nol. Dengan demikian discount rate harus ditingkatkan lagi, dan sekarang kita
Capital Budgeting

mencoba untuk menghitung NPV yang positif dan negatif, maka proses trial and error
tersebut sudah dapat dihentikan karena IRR untuk proyek B.
Tabel 6
Perhitungan NPV Proyek B pada discount Rate sebesar 22%
Tahun
Cash inflow
PVIF 22%
Present value
(1)
(2)
(1) X (2)
1
Rp 4.500.000,00
0,820
Rp 3.690.000,00
2
Rp 2.200.000,00
0,672
Rp 1.478.400,00
3
Rp 2.000.000,00
0,551
Rp 1.102.000,00
4
Rp 1.300.000,00
0,451
Rp 586.300,00
5
Rp 1.300.000,00
0,370
Rp 481.000,00
6
Rp 1.300.000,00
0,303
Rp 393.300,00 +
Total PV cash inflow
Rp 7.731.600,00
PV initial investment
Rp .200.000,00
NPV
Rp 531.600,00
Tabel 7
Perhitungan NPV Proyek b pada Discount rate Sebesar 26%
Tahun
Cash inflow
PVIF 26 %
Present value
(1)
(2)
(1) x (2)
1
Rp 4.500.000,00
0,794
Rp 3.573.000,00
2
Rp 2.200.000,00
0,630
Rp 1.386.000,00
3
Rp 2.000.000,00
0,500
Rp 1.000.000,00
4
Rp 1.300.000,00
0,397
Rp 516.100,00
5
Rp 1.300.000,00
0,315
Rp 409.500,00
6
Rp 1.300.000,00
0,250
Rp 325.000,00 +
Total PV cash inflow
Rp 7.209.600,00
PV initial investment
Rp 7.200.000,00
NPV
Rp 9600,00
Perbandingan Antara Teknik NPV dan IRR
Perbedaan pokok di antara kedua pendekatan ini terletak pada asumsi tentang discount
rate yang digunakan sebagai dasar perhitungan bagi penginvestasian kembali cash inflow
yang diperoleh. NPV mengasumsikan bahwa cash inflow yang diterima diinvestasikan
kembali pada tingkat cost of capital atau discount rate minimum yang digunakan dalam
perhitungan sebelumnya, sedangkan IRR mengasumsikan bahwa cash inflow yang diterima
diinvestasikan kembali pada tingkat discount sebesar IRR.
Apabila benar cash inflow yang diterima tersebut dapat diinvestasikan lagi pada tingkat
discount sebesar IRR, maka teknik IRR akan memberikan hasil yang sebenarnya, dan apabila
tidak demikian halnya, maka sebaiknya digunakan teknik NPV.
Salah satu cara untuk memecahkan konflik tersebut adalah dengan jalan mencari IRR
dari kelebihan/incremental cash inflow. Istilah incremental di sini dimaksudkan sebagai
kelebihan jumlah investasi dan cash inflow dari suatu proyek terhadap proyek lainnya.
Contoh:
Untuk mempermudah perhitungan, maka dibawah ini akan diberikan sebuah contoh tentang 2
buah proyek yang mempunyai cash inflow untuk jangka waktu 1 tahun.
Perusahaan X sedang mempertimbangkan kemungkinan untuk membeli salah satu dari dua
mesin yang tersedia, mesin F dan mesin G. Mesin F membutuhkan initial investment sebesar
Rp 60.000,00, sedangkan mesin G sebesar Rp 100.000,00. Cash inflow yang dihasilkan oleh
masing-masing mesin tersebut adalah Rp 72.000,00 untuk mesin F dan Rp 118.000,00 untuk
mesin G. Cost of capital ditetapkan sebesar 10%.
Capital Budgeting

Keterangan
Mesin F
Mesin G
Mesin (F-G)

Tabel 8
Perbandingan Antara Mesin F dan G
Tahun 0
Tahun 1
Investasi
Cash inflow
(Rp 60.000,00)
Rp 72.000,00
(Rp 100.000,00)
Rp 118.000,00
(Rp 40.000,00)
Rp 46.000,00

20%
18%
15%

**Perhitungan IRR untuk masing-masing proyek dilakukan dengan cara yang sama seperti sebelumnya

Berdasarkan hasil perhitungan diatas maka secara sederhana pilihan akan jatuh pada
mesin F karena IRR-nya lebih besar dari pada mesin G. Tetapi apakah memang benar
demikian? Apabila NPV kedua mesin tersebut dihitung dengan menggunakan cost of capital
sebesar 10% maka ternyata mesin G lebih menguntungkan karena NPV-nya lebih besar
dibandingkan dengan mesin F. Perhitungan NPV untuk kedua mesin tersebut adalah :
Mesin F
Cash inflow
Rp 72.000,00

Mesin G
Rp 118.000,00

PVIF 10%
0,909
Initial investment

Present value cash inflow


Rp 65.448,00
(Rp 60.000,00)

NPV mesin F

Rp

0,909
Initial investment

Rp 107.000,00
Rp 100.000,00

NPV mesin G

Rp

5.448,00

7.262,00

Dari hasil perhitungan NPV tersebut ternyata bahwa mesin G mempunyai NPV yang
lebih besar Rp 7.262,00 dibandingkan dengan mesin F yang NPV-nya hanya sebesar Rp
5.448,00. Perbandingan di atas menunjukkan bahwa teknik IRR tidak mempertimbangkan
besarnya atau scale dari net present alue yang dihasilkan oleh suatu proyek. Selanjutnya
dari hasil perhitungan dalam tabel 14.13 di atas, ternyata IRR untuk incremental (G-F) adalah
sebesar 15% dimana hal ini masih lebih besar daripada cost of capital yang ditetapkan.
Grafik NPV dan IRR
Hubungan antara NPV dengan discount factor dapat ditunjukkan dalam sebuah grafik
yang disebut dengan istilah net present alue profile. Dalam grafik tersebut digambarkan
net present value untuk tingkat discount yang berbeda-beda dan tingkat discount di mana
tercapainya IRR maka net present value adalah nol. Net present value profile untuk proyek A
dan B (berdasarkan data yang disajikan dalam tabel 1) dapat dibuat sebagai berikut (lihat
gambar 1).
Dari gambar 1 dapat dilihat bahwa pada tingkat discount rate sebesar 0%, NPV untuk
masing-masing proyek adalah sebesar selisih antara cash inflow dengan initial invesment. Net
present value proyek A pada discount rate sebesar 0% adalah Rp 6.000.000,00 dan proyek B
sebesar Rp5.400.000,00. Dengan semakin besarnya discount rate, maka selisih NPV kedua
proyek tersebut akan semakin mengecil dan pada discount rate sekitar 12%, NPV untuk kedua
proyek tersebut relatif lama. Selanjutnya pada discount rate di atas 12% NPV untuk proyek B
akan lebih besar di bandingkan dengan NPV proyek a. NPV untuk kedua proyek masih tetap
positif sampai dengan tingkat IRR-nya masing-masing 24,29% untuk proyek A dan 26,08%
untuk proyek B.

Capital Budgeting

Gambar 1
Net Present Value Profile untuk Proyek A dan B

Teknik Mana yang Lebih Baik: NPV Ataukah IRR?


Teknik NPV dengan IRR. Kelebihan teknik NPV antara lain:
a. NPV mengasumsikan bahwa cash inflow yang sudah diterima sebelum berakhirnya umur
proyek, diinvestasikan lagi pada tingkat discount sebesar cost of capital perusahaan,
sementara teknik IRR mengasumsikanbahwa investasikembali tersebut dilakukan pada
tingkat IRR di mana hal ini seringkali tidak realistis.
b. Bukanlah suatu hal yang tidak biasa terjadi dalam pola cash flow yang non konvensional
di mana suatu proyek memiliki leih dari satu IRR. IRR yang lebih dari satu ini
disebabkan karena aspek matematik dalam perhitungan-perhitungan yang dilakukan,
(pembahasan mengenai proyek yang mempunyai lebih dari satu IRR tidak akan dibahas
dalam bku ini).
c. Dalam keadaan-keadaan tertentu, mungkin saja suatu proyek tidak mempunyai IRR.
Teknik NPV tidak mengandung kelemahan seperti yang disebutkan diatas, maka secara
teoritis teknik ini lebih baik dibandingkan dengan teknik IRR. Akan tetapi sekalipun
demikian, banyak perusahaan-perusahaan besar yang lebih menyukai teknik IRR daripada
teknik NPV. Hal ini disebabkan karena IRR lebih mudah dihubungkan dengan data finansial
perusahaan.
Untuk menjawab pertanyaan yang diajukan diatas teknik mana yang lebih baik, NPV atau
RR? Maka jawaban yang dapat diberikan adalah: secara teoritis NP yang lebih baik.
6. Capital Rationing
Tujuan daripada capital rationing adalah untuk memilih di antara proyek-proyek
tersebut yang akan memaksimumkan atau yang akan memberikan kontribusi yang paling
besar kepada pemilik perusahaan. Secara umum hal tersebut dilakukan dengan jalan memilih
proyek-proyek yang akan memberikan total net present value yang tertinggi.
Pendekatan Internal Rate of Return
Dengan menggunakan pendekatan internal rate of return dalam capital rationing, maka
IRR dari masing-masing proyek akan dibandingkan dengan modal yang sudah dibudgetkan
untuk melakukan investasi. Penilaian tersebut akan dimulai dari IRR yang tertinggi sampai ke
IRR yang terendah. Dengan menarik sebuah garis dari titik rate if return minimum yang
ditetapkan akan dapat diketahui proyek-proyek mana saja yang dapat diterima, dan langkah
selanjutnya adalah membandingkan proyek-proyek yang dapat diterima tersebut dengan
jumlah budget yang tersedia.
Contoh:
Perusahaan Bianglala Putih memiliki modal sejumlah Rp 20.000.000,00
untuk diinvestasikan, dan pada saat ini perusahaan sedanga
mempertimbangkan 6 buah proyek.Jumlah investasi dan IRR untuk
masing-masing proyek disajikan
pada tabel 9.
Capital Budgeting

Tabel 9
Jumlah Investasi dan IRR untuk Masing-Masing Proyek
Proyek
Initial Invesment
IRR
Ranking
A
Rp 8.000.000,00
12% 1
B
B
Rp 7.000.000,00
20% 2
C
C
Rp 10.000.000,00
16% 3
E
D
Rp 4.000.000,00
8% 4
A
E
Rp 6.000.000,00
15% 5
F
F
Rp 11.000.000,00
11% 6
D
Diketahui bahwa cost of capital perusahaan Bianglala Putih adalah sebesar 10%. Gambar 2
menyajikan susunan dari proyek yang sedang dievaluasi berdasarkan urutan besarnya IRR.
Menurut gambar 2 maka hanya proyek B, C dan E saja yang dapat diterima. Ketiga
proyek tersebut akan menyerap dana sebesar Rp 23.000.000,00 dari jumlah besar Rp
25.000.000,00 yang dibudgetkan. Proyek D tidak perlu dipertimbangkan karena rate of return
yang dihasilkan lebih dari cost of capital yang telah ditetapkan oleh perusahaan.
Gambar 2
Susunan IRR untuk Masing-Masing Proyek yang Sedang Dievaluasi
oleh Perusahaan Bianglala Putih

Pendekatan Net Present Value


Pendekatan ini didasarkan pada present value dan IRR untuk menetukan proyek-proyek yang
akan memaksimumkan return bagi perusahaan. Proses yang dilakukan meliputi penentuan
ranking dari masing-masing proyek atas dasar IRR-nya, dan kemudian menilai present value
dari masing-masing proyek untuk menentukan kombinasi proyek yang akan menghasilkan
present value yang terbesar. Hal ini sama dengan memaksimumkan net present value, karena
baik keseluruhan budget digunakan ataupun tidak, hal tersebut dipandang sebagai total
in estasi atas mana harus diperoleh net present value semaksimum mungkin.
Contoh:
Proyek-proyek yang sudah disajikan dalam contoh tentang pendekatan internal rate of return
di depan akan diranking kembali dalam tabel 10 atas dasar IRR-nya masing-masing, dan
disampng itu disajikan pula present value cash inflow untuk masing-masing proyek dengan
menggunakan discount rate sebesar 10%.

Capital Budgeting

Tabel 10
Ranking Proyek Atas Dasar tingkat IRR-nya Masina-Masing
Ranking Proyek
1
2
3
4
5
6

B
C
E
A
F
D

Initial invesment
Rp 7.000.000,00
Rp 10.000.000,00
Rp 6.000.000,00
Rp 8.000.000,00
Rp 11.000.000,00
Rp 4.000.000,00

IRR
20%
16%
15%
12%
11%
8%

PV cash inflow dengan


discount rate 10%
Rp 11.200.000,00
Rp 14.500.000,00
Rp 7.900.000,00
Rp 10.000.000,00
Rp 12.650.000,00
Rp 3.600.000,00

Dari tabel 10 dapat dilihat bahwa proyek B, C dan E menyerap dana-dana sebesar Rp
23.000.000,00 dan menghasilkan PV cash inflow sebesar Rp 33.600.000,00 (present value
cash inflow). Akan tetapi apabila proyek B, C dan A yang diterima, maka keseluruhan budget
akan habis digunakan dan return yang akan diperoleh adalah lebih besar dari return proyek B,
C dan E yaitu sebesar Rp 35.700.000,00.
Dengan menerima proyek B< C dan A maka perusahaan dapat memaksimumkan return
yang diperoleh, sekalipun IRR proyek A lebih kecil dibandingkan dengan proyek E. Sekali
lagi diingatkan disini bahwa bagian dari budget yang tidak digunakan sebesar Rp
2.000.000,00 (apabila proyek B, C dan E yang diterima) tidak akan memperbesar return yang
diterima oleh perusahaan karena bagian tersebut tidak digunakan, dan dengan demikian tidak
menghasilkan suatu apapun. Analisa ini sejalan dengan analisa tentang ncremental cash
inflow yang disajikan didepan, yang menyimpulkan bahwa sepanjang RR dari incremental
lebih besar dari cost of capital, maka proyek tersebut dapat diterima.
Metode 1 didasarkan pada data akutansi (laporan buku) dan metode2 sampai dengan 6
didasarkan pada aliran / arus kas (Cash Flow).
Aliran kas ada dua macam, yaitu(Suratiyah, 2006 dan Pangestu, 2001):

Aliran kas keluar neto


Aliran kas masuk neto (Proceeds)

Capital Budgeting

DAFTAR PUSTAKA
Gray, Clive ., Lien K. Sabur., Pasaman Simanjuntak dan P.F.L. Maspaitella.1985. Pengantar Evaluasi
Proyek. Gramedia. Jakarta.
Husnan, Suad dan Muhamad, Suwarno. 2000. Studi Kalayak Proyek. UPP AMP YKPN. Yogyakarta
Pangestu S.2001. Manajemen Keuangan (Bahan Ajar) Program Studi Manajemen Agribisnis.
UGM.Yogyakarta.
Simarmata, Dj. A. 1984. Pendekatan Sistem dalam Analisis Proyek Investasi dan Pasar Modal.
Gramedia. Jakarta
Suratiyah, Ken.2006. Manajemen Finansial Untuk Perusahaan Pertanian (Buku Ajar). Jurusan Sosial
Ekonomi Pertanian.UGM.Yokyakarta
Sutrisno, PH.1985. Dasar-dasar Evaluasi Proyek dan Manajemen Proyek.FE UGM. Yogyakarta
Syamsuddin, Lukman. 2007. Manajemen keuangan Perusahaan. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Tandelilin, Eduardus.2001.Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio.BPFE. Yogyakarta

Capital Budgeting