Anda di halaman 1dari 4

PEMBAHASAN

Obat-obat analgesik merupakan kelompok obat yang memiliki aktivitas menekan atau
mengurangi rasa nyeri terhadap rangsang nyeri mekanik, termik, listrik atau kimiawi di pusat
dan di perifer atau dengan cara menghambat pembentukkan prostaglandin sebagai mediator
sensasi nyeri. Analgetik adalah senyawa yang dalam dosis terapeutik meringankan atau
menekan rasa nyeri, tanpa memiliki kerja anestesi umum.
Pada praktikum ini, dilakukan pengujian efek analgetika. Tujuan dari percobaan ini adalah
mahasiswa mampu mengobservasi dan menyimpulkan perubahan respon akibat pemberian
dosis Metampiron dan Tramadol pada tikus yang diberi rangsang nyeri, mahasiswa mampu
membuat kurva dosis-respon dan mahasiswa mampu melakukan pengujian efek analgetik
narkotik dan non narkotik dengan metode Hot-plate dan Tail-flick. Pada percobaan ini
digunakan tiga kelompok mencit, dimana masing-masing kelompok terdiri dari 3 mencit yang
diberikan perlakuan yang berbeda. Yaitu kelompok kontrol, kelompok uji dengan metampiron
dan kelompok uji dengan tramadol. Kelompok kontrol hanya diberikan aquadest.
Tramadol dan metampiron akan diuji efek analgetiknya pada tikus yang diinduksi asam
asetat. Asam asetat merupakan asam lemah yang tidak terkonjugasi dalam tubuh, pemberian
sediaan asam asetat terhadap hewan percobaan akan merangsang prostaglandin untuk
menimbulkan rasa nyeri akibat adanya kerusakan jaringan atau inflamasi. Prostaglandin
meyebabkan sensitisasi reseptor nyeri terhadap stimulasi mekanik dan kimiawi sehingga
prostaglandin dapat menimbulkan keadaan hiperalgesia, kemudian mediator kimiawi seperti
bradikinin dan histamine merangsangnya dan menimbulkan nyeri yang nyata. Akibat dari
adanya rasa nyeri inilah hewan percobaan akan menggeliatkan kaki belakangnya saat efek
dari penginduksi ini bekerja. Pemberian sediaan asam asetat pada peritonial atau selaput
gastrointestinal hewan memungkinkan sediaan lebih mudah diabsorbsi oleh tubuh dan cepat
memberikan efek. Metampiron adalah suatu derivat Pirazolon yang mempunyai efek
analgetika-antipiretika yang kuat.
Asam asetat diberikan dengan tujuan untuk dapat menginduksi rasa nyeri pada hewan
percobaan. Sedangkan obat analgetik standar dan obat analgetik uji diberikan dengan tujuan
untuk menghilangkan rasa nyeri yang disebabkan oleh pemberian asam asetat tadi. Sehingga
yang akan dibandingkan disini ialah efektivitas dari obat analgetik uji dengan obat analgetik
standar dalam upayanya menghilangkan rasa nyeri. Selain itu, kita juga membandingkan daya
proteksi dari obat analgetik uji dengan obat analgetik standar terhadap rasa nyeri tersebut.
Segera setelah pemberian asam asetat, gerakan geliat pada hewan percobaan (mencit) diamati
dan jumlah geliat dicatat setiap 5 menit selama 60 menit jangka waktu pengamatan. Gerakan
geliat pada hewan percobaan (mencit) ini menandakan timbulnya rasa nyeri setelah
pemberian asam asetat. Asam asetat termasuk senyawa kimia yang dapat menstimulus rasa
nyeri, kemudian serabut syaraf menghantarkan impuls rasa nyeri ini ke koneks sensorik di
otak, maka timbul rasa nyeri yang bersifat linu. Hal ini terjadi karena asam asetat
menimbulkan luka pada jaringan yang menstimulus prostaglandin yang menyebabkan rasa

sakit. Selain itu, asam asetat bersifat asam, sedangkan darah bersifat netral atau sedikit basa
sehingga penyuntikan asam asetat ini menyebabkan asidosis.
Secara teoritis, dengan bertambahnya waktu maka jumlah geliat pada hewan percobaan
(mencit) akan semakin berkurang dikarenakan obat analgetik standar dan obat analgetik uji
sudah mulai bekerja. Dimana mekanisme obat-obat analgetik tersebut adalah menghambat
biosintesis prostaglandin, prostaglandin dilepaskan oleh sel yang mengalami kerusakan.
Obat-obat analgetik ini menghambat enzim siklooksigenase sehingga konvensi asam
araksidonat menjadi P662 terganggu. Prostaglandin hanya berperan pada nyeri yang berkaitan
dengan kerusakan jaringan atau inflamasi. Prostaglandin menyebabkan fertilisasi reseptor
nyeri terhadap stimulasi mekanik dan kimiawi, jadi prostaglandin dapat menyebabkan
keadaan hiperalgesia kemudian mediator kimiawi seperti bradikinin dan histamin
merangsangnya serta menimbulkan nyeri yang nyata. Jadi dapat dikatakan obat-obat
analgetik ini tidak dapat mempengaruhi hiperalgesia atau nyeri yang ditimbulkan oleh efek
langsung prostaglandin, obat-obat ini hanya bersifat menghambat sintesis prostaglandin dan
bukan blokade langsung.

Grafik jumlah geliat mencit terhadap waktu


90
80
70
60
50
kontrol
jumlah
geliat

40

metampiron 1

metampiron 2

tramadol 1

tramadol 2

30
20
10
0
5

10

15

20

25

30

waktu menit)

Terlihat dari grafik di atas terlihat bahwa pada mencit kontrol, geliatan mulai terlihat pada
menit ke 10 hingga menit ke 30 pengamatan dan menunjukkan geliat yang paling tinggi
dibandingkan kelompok uji, hal ini dikarena kelompok kontrol tidak diberi obat analgesik
sehingga tidak ada efek farmakologis aktif. Terlihat dari grafik bahwa grafik mengalami
penurunan dari menit ke 10 hingga menit ke 30 hal ini dikarenakan nyeri yang terjadi

berkurang seiring waktu karena tubuh mencit mentolerir rasa nyeri yang timbul (nilai ambang
nyeri meniggi).
Pada kelompok uji metampiron, metampiron 1 berisi dosis 500 mg dan metampiron 2 berisi
1000 mg dosis manusia sehingga setelah dikonversi untuk dosis mencit menjadi 1,73
mg/mencit dan 2,6 mg/mencit. Terlihat dari grafik bahwa kelompok uji metampiron 1
mengahasilkan jumlah geliat lebih banyak dibandingkan kelompok uji metampiron 2, hal ini
dikarenakan dosis memtapiron 1 lebih kecil dibandingkan metampiron 2. Pada menit awal
respon geliat yang diberikan oleh mencit uji metampiron 1 lebih besar dibandingkan mencit
uji metampiron 2 hal ini dikarenakan dosis metampiron 2 lebih besar sehingga efek
farmakologis yang dihasilkan akan lebih cepat dibandingkan metampiron 1. Menit
selanjutnya menunjukkan hasil yang mirip dengan jumlah geliat yang hampir sama artinya
kedua obat telah masuk dalam sistem plasma sehingga sudah bisa memberikan efek pada
tubuh mencit.
Pada kelompok uji tramadol, tramadol 1 berisi dosis 100 mg dan tramadol 2 berisi 200 mg
dosis manusia sehingga setelah dikonversi untuk dosis mencit menjadi 0,3315 mg/mencit dan
0,52 mg/mencit. Terlihat dari grafik bahwa pada menit awal pengamatan, kelompok tramadol
1 menghasilkan geliatan lebih kecil dibandingkan tramadol 2 padahal dosis tramadol 2 lebih
besar daripada tramadol 1 hal ini bisa terjadi karena perbedaan sensitivitas individu mencit.
Setelah menit ke 20 terlihat bahwa efek dari tramadol 2 mulai bekerja terlihat dari jumlah
geliat yang menurun artinya di tubuh mencit sudah mulai muncul efek farmakologis obat
analgetik tramadol.
Perbandingan efek analgetik yang diberikan oleh kelompok metampiron dan tramadol
menghasilkan jumlah geliatan lebih besar pad akelompok uji tramadol hal ini dikarenakan
mekanisme tramadol ...... dan termasuk golongan obat yang bekerja pada reseptor opiat ,
sedangkan metampiron termasuk golongan meamizol yang segolongan dengan antalgin yang
merupakan derivat aminofenazon .
Efek tramadol lebih poten dibandingkan metampiron sehingga penggunaan tramadol dalam
pengujian hanya sebesar 1/5. mekanisme tramadol dengan mengikat stereo spesifik pada
reseptor sistem syaraf pusat sehingga menghambat sensasi nyeri dan respon terhadap nyeri,
disamping itu tramadol menghambat pelepasan neurotrasmitter dari syaraf aferen yang
sensitif terhadap rangsang, akibatnya impuls nyeri terhambat. Tramadol peroral diabsorpsi
dengan baik dengan bioavaibilitas 75%

Mekanisme kerja metampiron dengan menghambat secara reversible COX 1 dan


COX2 yang mengakibatkan penurunan pembentukan prostaglandin . pemberian
oral

metampiron

akan

cepat dihidrolisis disalurang gastrointestinal menjadi metabolit aktif 4-metilamino-antipyrine,yang setelah penyerapan mengalami metabolisme menjadi 4-

formil
amino Antipyrine danmetabolit lainnya. Dipyrone (Metampiron / matamizole / ant
algin) juga cepat terdeteksi dalamplasma setelah dosis intravena. Tak satu pun d
ari metabolit dari dipyrone secara luas terikatuntuk proteinplasma. Sebagian bes
ar dosis diekskresikan dalam urin sebagai metabolit.