Anda di halaman 1dari 6

1. BAB.

5 PENERIMAAN PERIKATAN DAN PERENCANAAN AUDIT

Sebelum audit atas laporan keuangan dilaksanakan, auditor perlu mempertimbangkan


apakah iaakan menerima atau menolak perikatan audit (audit engagement) dari calon
kliennya. Jika auditor memutuskan untuk menerima perikatan audit dari calon kliennya, ia
akan melaksanakan audit dalam beberapa tahap.

Tahap-tahap audit atas laporan keuangan.


Proses audit atas laporan keuangan dibagi menjadi empat tahap berikut ini
a. Penerimaan perikatan audit
b. Perencanaan audit
c. Pelaksanaan pengujian audit
d. Pelaporan audit

Tahap-tahap penerimaan perikatan audit.

Di dalam memutuskan apakah suatu perikatan audit dapat diterima atau tidak, auditor
menempuh suatu proses yang terdiri dari enam tahap berikut ini:
1. Mengevaluasi integritas manajemen
2. Mengidentifikasi keadaan khusus dan resiko luar biasa
3. Menentukan kompetensi untuk melaksanakan audit
4. Menilai independensi
5. Menentukan kemampuan untuk menggunakan kemahiran profesionalnya dangan
kecermatan dan keseksamaan
6. Membuat surat perikatan audit

Mengevaluasi integritas manajemen

Berbagai cara yang ditempuh oleh auditor dalam mengevaluasi integritas manajemen adalah:
1. Melakukan komunikasi dangan auditor pendahulu
2. Meminta keterangan pada pihak ketiga
3. Melakukan review terhadap pengalaman auditor di masa lalu dalam berhubungan dengan
klien yang bersangkutan

Mengidentifikasi keadaan khusus dan resiko luar biasa

Berbagai faktor yang perlu dipertimbangkan oleh auditor tentang kondisi khusus dan risiko
luar biasa yang mungkin berdampak terhadap penerimaan perikatan audit dari calon klien
dapat diketahui dengan cara:
a. Mengidentifikasi pemakai laporan audit
b. Mendapatkan informasi tentang stabilitas keuangan dan legal calon klien di masa depan
c. Mengevaluasi kemungkinan dapat atau tidaknya laporan keuangan calon klie yang diaudit
Menentukan kompetensi untuk melaksanakan audit
Sebelum auditor menerima perikatan audit, ia harus mempertimbangkan apakah ia dan
anggota tim auditornya memiliki kompetensi memadai untuk menyelesaikan perikatan
tersebut, sesuai dengan standar auditing yang ditetapkan oleh IAI. Beberapa tahap yang
dilakukan auditor untukpertimbangan tersebut adalah:
Mengidentifikasi tim audit:
a. Tim audi terdiri dari:
b. Seorang partner yang akan bertanggung jawab terhadap penyelesaian keseluruhan
perikatan audit
c. Satu atau lebih manajer yang akan mengkoordinasi dan mengawasi pelaksanaan program
audit
d. Staf assisten yang akan melaksanakan berbagai prosedur audit yang diperlukan dalam
pelaksanaan program audit.
Mempertimbangkan kebutuhan konsultasi dan penggunaan spesialis untuk masalah:
a. Penilaian
b. Penentuan karakteristik fisik yang berhubungan dengan kuantitas yang tersedia
c. Penentuan nilai yang diperoleh dengan menggunakan teknik atau metode khusus
d. Penafsiran persyaratan teknis, peraturan atau persetujuan.
Menilai independensi

3. Sebelum auditor menerima perikatan audit, ia harus memastikan bahwa setiap


profesional yangmenjadi anggota tim auditnya tidak terlibat atau memiliki kondisi yang
menjadikan

independensi

timauditornya

diragukan.Menentukan

kemampuan

untuk

menggunakan kemahiran profesionalnya dangan kecermatan dankeseksamaan. Dalam


mempertimbangkan

penerimaan

atau

penolakan

suatu

perikatan

audit,

auditor

harusmempertimbangkan apakah ia dapat melaksanakan audit dan menyusun laporan

auditnya secaracermat dan seksama. Kecermatan dan keseksamaan penggunaan kemahiran


profesional auditorditentukan oleh beberapa hal:

a. Penentuan waktu perikatan

b. Pertjmbangan jadwal pekerjaan lapangan

c. Pemanfaatan personel klien

Membuat surat perikatan auditSurat perikatan audit dibuat oleh auditor untuk kliennya
yang berfungsi untuk mendokumentasikandan menegaskan penerimaan auditor atas
penunjukan oleh klien, tujuan dan lingkup audit, lingkuptanggung jawab yang dipikul oleh
auditor bagi kliennya, kesepakatan tentang reproduksi laporankeuangan auditan, serta bentuk
laporan yang akan diterbitkan oleh auditor.

PERENCANAAN AUDIT

Setelah auditor memutuskan untuk menerima perikatan audit dari kliennya, langkah
berikutnya yangperlu ditempuh adalah merencanakan audit. Ada tujuh tahap yang harus
ditempuh oleh auditor dalam merencankan auditnya:
a. Memahami bisnis dari industri klien
b. Melaksanakan prosedur analitik
c. Mempertimbangkan tingkat materialitas awal
d. Mempertimbangkan risiko bawaan
e. Mempertimbangkan berbagai faktor yang berpengaruh terhadap saldo awal, jika perikatan
dengan klien berupa audit tahun pertama
f. Mengembangkan strategi audit awal terhadap asersi signifikan
g. Memahami pengendalian intern klien.

4. Memahami bisnis dari industri klienSebelum auditor melakukan verifikasi dan


analisis transaksi atas akun-akun tertentu, ia perlumengenal lebih baik industri tempat klien
berusaha serta kekhususan bisnis klien. Beberapa sumber informasi bagi auditor untuk
memahami bisnis dan industri klien:
a. Pengalaman sebelumnya tentang entitas dan industrinya
b. Diskusi dengan orang dalam tentang entitas
c. Diskusi dengan personel dari fungsi audit intern dan review terhadap laporan auditor
intern.

d. Diskusi dengan auditor lain dan dengan penasihat hukum atau penasihat lain yang telah
memberikan jasa kepada entitas atau dalam industri
e. Diskusi dengan orang yang berpengetahuan di luar entitas
f. Publikasi yang berkaitan dengan industri
g. Perundangan dan peraturan yang secara signifikan berdampak terhadap entitas
h. Kunjungan ke tempat atau fasilitas pabrik entitas
i. Dokumen yang dihasilkan entitas
Melaksanakan prosedur analitik
Prosedur analitik meliputi perbandingan jumlah-jumlah yang tercatat atau ratio yang dihitung
darijumlah-jumlah yang tercatat, dibandingkan dengan harapan yang dikembangkan oleh
auditor.Tujuan prosedur analitik dalam perencanaan audit adalah membantu perencanaan
sifat, saat, dan luas prosedur audit yang akan digunakan untuk memperoleh bukti tentang
saldo akun atau jenis transaksi tertentu.
a. Tahap-tahap prosedur analitik
b. Mengidentifikasi perhitungan/perbandingan yang harus dibuat
c. Mengembangkan harapan
d. Melaksanakan perhitungan/perbandingan
e. Menganalisis data dan mengidentifikasi perbedaan signifikan
f. Menyelidiki perbedaan signifikan yang tidak terduga dan mengevaluasi perbedaan tersebut.
g. Menentukan dampak hasil prosedur analitik terhadap perencanaan audit.

5. Mempertimbangkan tingkat materialitas awal

Auditor perlu mempertimbangkan materialitas awal pada dua tahap:

(1) tingkat laporan keuangan,dan

(2) tingkat saldo akun.Mempertimbangkan risiko bawaan

Dalam keseluruhan proses audit, auditor mempertimbangkan berbagai risiko, sesuai


dengan tahap-tahap proses auditnya.Risiko-risiko yang harus dipertimbangkan oleh auditor
dalam setiap tahap proses auditnya adalah:

Tahap perencanaan audit: penaksiran risiko bawaan


Tahap pemahaman dan pengujian pengendalian intern: penaksiran risiko
pengendalian

Tahap pelaksanaan pengujian substantif: penetapan risiko deteksi

Tahap penerbitan laporan audit: penilaian risiko audit

Mempertimbangkan berbagai faktor yang berpengaruh terhadap saldo awal, jika


perikatan denganklien berupa audit tahun pertamaAuditor harus memahami hal-hal bersyarat
(configencies) dan komitmen yang ada pada awal tahun.

Auditor harus memperoleh bukti audit kompeten yang cukup untuk meyakini bahwa:
a. Saldo awal tidak mengandung salah saji yang mempunyai dampak material terhadap
laporan keuangan berjalan.
b. Saldo penutup tahun sebelumnya telah ditransfer dengan benar ke tahun berjalan atau telah
dinyatakan kembali.
c. Kebijakan akuntansi yang semestinya telah diterapkan secara konsisten.
Sifat dan lingkup bukti audit yang harus diperoleh auditor berkenaan dengan saldo awal
tergantung pada:
a. Kebijakan akuntansi yang dipakai oleh entitas yang bersangkutan.
b. Apakah laporan keuangan entitas tahun sebelumnya telah diaudit, dan jika demikian,
apakah pendapat auditor atas laporan keuangan berupa pendapat selain pendapat wajar tanpa
pengecualian.
c. Sifat akun dan risiko salah saji dalam laporan keuangan tahun berjalan.

6. Mengembangkan strategi audit awal terhadap asersi signifikan.

Tujuan akhir perencanaan dan pelaksanaan audit adalah adalah untuk mengurangi
risiko audit ketingkat yang rendah, untuk mendukung pendapat apakah, dalam semua hal
yang material, laporankeuangan disajikan secara wajar. Tujuan ini diwujudkan melalui
pengumpulan dan evaluasi buktitentang asersi yang terkandung dalam laporan keuangan yang
disajikan oleh manajeman.Dalam perencanaan audit terhadap asersi individual atau golongan
transaksi, auditor dapat memilihstrategi audit awal: a. Primarily subtantive approach b. Lower
assessed level of control risk approach.Memahami pengendalian intern klien.Langkah
pertama dalam memahami pengendalian intern klien adalah dengan mempelajari unsur-unsur
pengendalian intern yang berlaku. Langkah berikutnya adalah melakukan penilaian
terhadapefektivitas pengendalian intern dengan menentukan kekuatan dan kelemahan
pengendalian interntersebut. Jika auditor telah mengetahui bahwa pengendalian intern klien
di bidang tertentu adalahkuat, maka ia akan mempercayai informasi keuangan yang
dihasilkan. Oleh karena itu ia akanmengurangi jumlah bukti yang dikumpulkan dalam audit
yang bersangkutan dengan bidang tersebut.Untuk mendukung keyakinannya atas efektivitas
pengendalian

intern

tersebut,

auditor

melakukanpengujian

pengendalian

(test

of

control).PENGUJIAN AUDITDalam audit, auditor melakukan berbagai macam pengujian


(test), yang secara garis besar dapatdibagi menjadi 3 golongan berikut ini: 1. Pengujian
analitik (analytical test) 2. Pengujian pengendalian (test of control) 3. Pengujian substantif
(substantif test)Pengujian analitik (analytical test)Pengujian ini dilakukan oleh auditor pada
tahap awal proses auditnya dan pada tahap reviewmenyeluruh terhadap hasil audit. Pengujian
ini dilakukan oleh auditor dengan cara mempelajariperbandingan dan hubungan antara data
yang satu dengan data yang lain. Pada tahap awal proses

7. audit, pengujian analitik dimaksudkan untuk membantu proses auditor dalam


memahami bisnisklien dan dalam menemukan bidang yang memerlukan audit lebih
intensif.Pengujian pengendalian (test of control)Pengujian pengendalian merupakan prosedur
audit yang dirancang untuk memverifikasi efektivitaspengendalian intern klien. Pengujian
pengendalian terutama ditujukan untuk mendapatkaninformasi mengenai: a. Frekuensi
pelaksanaan aktivitas pengendalian yang ditetapkan b. Mutu pelaksanaan aktivitas
pengendalian

tersebut

c.

Karyawan

yang

melaksanakan

aktivitas

pengendalian

tersebutPengujian Substantif (substantif test)Pengujian substantif merupakan prosedur audit


yang dirancang untuk menemukan kemungkinankesalahan moneter yang secara langsung
mempengaruhi kewajaran penyajian laporan keuangan.Kesalahan moneter yang terdapat
dalam informasi yang disajikan dalam laporan keuangankemungkinan terjadi kesalahan
dalam: a. Penerapan prinsip akuntansi berterima umum di indonesia b. Tidak diterapkannya
prinsip akuntansi berterima umum di indonesia c. Ketidakkonsistenan dalam penerapan
prinsip akuntansi berterima umum di indonesia d. Ketidak tepatan pisah batas (cutoff)
pencatatan transaksi e. Perhitungan (penambahan, pengurangan, pengalian, dan pembagian) f.
Pekerjaan

penyalinan,

penggolongan

dan

peringkasan

informasi

pengungkapan (disclosure) unsur tertentu dalam laporan keuangan.

g.

Pencantuman