Anda di halaman 1dari 61

Pleno Pemicu 1

Modul Etnomedik et Farmaka 2015

DK 7

Farah

Muthia I11111035
Syarif I11111072
Dodi Novriadi I11112014
Karolus Sangapta K. I11112026
Irene Olivia Salim
I11112030
Ardi
I11112040
Putri Umagia Drilna I11112067
Kevin Leonardo I11112073
Dea Erica I11112081

PEMICU
Pontensi Penggunaan Obat Herbal di
Indonesia Semakin Besar
Yogya, Banyaknya kasus penyakit dan kelainan
metabolik di Masyarakat seperti jantung
koroner, stroke, dan diabetes menunjukkan
adanya kecendrungan perubahan pola
penyakit, sehingga peluag pemanfaatan obat
bahan alam atau herbal semakin besar.
Menurut dr Dewa Putu Pramantara selaku
penanggung jawab klinik Herbal Rumah Sakit
Sarjito, saat ini minat masyarakat terhadap
pengobatan herbal semakin meningkat.

Tetap

diperlukan kajian lebih lanjut tentang standarisasi,


manfaat dan keamanan bahan obat alam, seiring dengan
meningkatnya taraf pendidikan masyarakat, ujarnya di sela
workshop Terapi Medis Berbasis Herbal untuk Dokter dan
Praktisi Kesehatan di RS Sardjito Yogyakarta, sabtu
(17/07/2010).
Diungkapkan dr Dewa, Indonesia memiliki potensi sumber
alam besar dan bisa digali sebagai bahan baku obat alam.
Bahkan saat ini telah dilakukan penelitian tentang obat
bahan alam dan ada beberapa bahan yang dimiliki level of
evidence A (uji klinik) dan level of evidence B (uji pra klinik).
Saat ini baru tersedia 5 jenis sediaan obat herbal
fitofarmaka yang telah melalui uji praklinik dan uji klinik,
serta 22 jenis sedian obat herbal terstandar yang baru
melalui uji pra klinik dan telah tersedia di pasaran,
terangnya.

Selama

ini masyarakat telah mengenal jamu sebagai obat


herbal turun-temurun, hanya saja manfaatnya belum terdata
secara jelas. Maka kementerian kesehatan memberi ruang
kepada RS Sardjito untuk mengadakan penelitian dalam
rangka penyelenggaraan pengobatan komplementer-alternatif
berdasarkan SK Menkes no 1109/MENKES/PER/IX/2007
RS Sardjito unggul di herbal, sehingga ditunjuk oleh
kementerian kesehatan RI untuk pengembangan pelayanan
kesehatan berbasis sinergi antara pengobatan tradisional dan
konvensional terangnya.
Walaupun saat ini masih dirasa sulit mensinergikan antara
pengobatan tradisional dan modern karena membutuhkan
pengetahuan dan keterampilan khusus, maka pengetahuan
obat herbal masih sebagai komplemen dan bukan obat
alternatif. Jika ternyata nanti kita bisa melihat itu bisa
mengganti, itu lain masalahnya pungkas dr Dewa.

Klarifikasi & Definisi


sediaan obat bahan alam yang
telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara
ilmiah dengan uji pra klinik dan klinik bahan baku.
Tanaman herbal tanaman yang memiliki
kegunaan lebih dalam pengobatan.
Obat bahan alam obat yang menggunakan
bahan baku berasal dari alam (tanaman dan
hewan). Obat bahan alam dikelompokkan menjadi
jamu, jamu herbal terstandar dan fitofarmaka.
Obat herbal terstandar obat tradisional yang
disajikan dari ektraksi atau penyaringan bahan
alam, baik tanaman obat, binatang maupun
mineral.
Fitofarmaka

Kata Kunci
Obat

herbal
Level of evidence
Fitofarmaka
Obat herbal terstandar
Pengobatan tradisional

Rumusan Masalah
Penggunaan

obat bahan alam


sebagai pengobatan tradisional
mulai dikembangkan dan
semakin diminati.

Analisis Masalah

Hipotesis
Penggunaan

obat herbal sebagai


pengobatan tradisional
memerlukan penelitian lebih
lanjut yang berbasis sinergi untuk
menyelenggarakan pengobatan
komplementer alternatif.

Pertanyaan Diskusi

Apa Definisi pengobatan tradisional?


Apa saja Jenis-jenis pengobatan tradisional?
Apa saja Jenis-jenis obat herbal?
Jelaskan tentang jamu di indonesia (indikasi, kontraindikasi,
kandungan)
Jelaskan mengenai obat herbal terstandar (definisi, kriteria)
Bagaimana tahapan penelitian suatu obat sampai menjadi
fitofarmaka?
Jelaskan mengenai fitofarmaka (definisi. Kriteria)
Apa saja obat-obat herbal yang sudah terstandar di kalbar?
Apa saja tanaman yang berpotensi sebagai pengobatan pada
penyakit degeratif di Indonesia dan di kalbar?
Apa yang dimaksud dengan pengobatan komplementer-alternative?
Apa saja tanaman obat yang berpotensi sebagai obat di kalbar?
Bagaimana aspek etik dan medikolegal dari pengobatan
tradisional?
Apa saja program pemerintah dalam pengembangan fitofarmaka?

Definisi Pengobatan
Tradisional
Bahan

atau ramuan bahan yang


berupa bahan tumbuhan, bahan
hewan, bahan mineral, sediaan
sarian (galenik), atau campuran
dari bahan tersebut yang secara
turun-temurun telah digunakan
untuk pengobatan, dan dapat
diterapkan sesuai dengan norma
yang berlaku di masyarakat.

Jenis-jenis Pengobatan
Tradisional
Pengobat

tradisional mempunyai keterampilan yang


terdiri dari : Pijat urut, patah tulang, sunat, dukun
bayi, refleksi, akupresuris, akupunturis dan
chiroprator.
Pengobat tradisional ramuan yaitu pengobat
tradisional dengan ramuan indonesia : jamu, gurah,
tabib shinse, homeopathy dan aromatherapist.
Pengobat tradisional dengan pendekatan agama :
Agama Islam, Kristen, Katolik dan Budha.
Pengobatan tradisional supranatural terdiri dari
pengobat tradisional : tenaga dalam (Prana),
paranormal, reiky master, qigong dan dukun
kebatinan.

Definisi Obat Herbal


Bahan

baku atau sediaan yang


berasal dari tumbuhan yang
memiliki efek terapi atau efek
lain yang bermanfaat bagi
kesehatan manusia;
komposisinya dapat berupa
bahan mentah atau bahan yang
telah mengalami proses lebih
lanjut yang berasal dari satu jenis
tumbuhan atau lebih.

Jenis Obat Herbal


Jamu

(Empirical based herbal


medicine)
Obat Herbal Terstandar (Scientific
based herbal medicine)
Fitofarmaka(Clinical based herbal
medicine)

Definisi Jamu
Produk

ramuan bahan alam asli Indonesia


yang digunakan untuk pemeliharaan
kesehatan, pencegahan penyakit,
pengobatan penyakit, pemulihan
kesehatan, kebugaran, dan kecantikan.
Jamu dibuat dari bahan-bahan alami,
berupa bagian dari tumbuhan seperti
rimpang (akar-akaran), daun-daunan dan
kulit batang, buah.
Ada juga menggunakan bahan dari tubuh
hewan, seperti empedu kambing atau
tangkur buaya

Klasifikasi Jamu yang beredar di


pasar Indonesia
Jamu

kuat/sehat lelaki
Jamu untuk kewanitaan
Jamu perawatan
tubuh/kecantikan
Jamu tolak angin
Jamu pegel linu
Jamu lainnya.

Definisi Obat Herbal


Terstandar
Sediaan

obat bahan alam yang telah


dibuktikan keamanan dankhasiatnya
secara ilmiah dengan uji praklinik dan
bahan bakunya sudah di standarisasi.
OHT memiliki grade setingkat dibawah
fitofarmaka
Belum mengalami uji klinis, namun bahan
bakunya telah distandarisasi untuk
menjaga konsistensi kualitas produknya.
Uji praklinik dengan hewan uji meliputi uji
khasiat dan uji manfaat

Kriteria Obat Herbal


Terstandar
Aman
Klaim

khasiat dibuktikan secara


ilmiah atau praklinik
Bahan baku yang digunakan
telah mengalami standarisasi
Memenuhi persyaratan mutu

Fitofarmaka
Sediaan

obat yang telah


dibuktikan keamanan dan
khasiatnya, bahan bakunya
terdiri dari simplisia atau sediaan
galenik yang telah memenuhi
persyaratan yang berlaku

Prioritas Pemilihan
Bahan

bakunya relatif mudah


diperoleh.
Didasarkan pada pola penyakit di
Indonesia.
Perkiraan manfaatnya terhadap
penyakit tertentu cukup besar.
Memiliki rasio resiko dan
kegunaan yang menguntungkan
penderita.
Merupakan satu-satunya

Ramuan
Ramuan(komposisi)

hendaknya terdiri
dari 1 (satu) simplisia/ sediaan galenik.
Bila hal tersebut tidak mungkin, ramuan
dapat terdiri dari beberapa
simplisia,/sediaan galenik dengan syarat
tidak melebihi 5 (lima) simplisia/sediaan
galenik.
Simplisia tersebut masing-masing
sekurang-kurangnya telah diketahui
khasiat dan keamanannya berdasar
pengalaman

Standar Bahan Baku


Bahan

baku harus memenuhi


persyaratan yang tertera dalam
Farmakope Indonesia, Ekstra
Farmakope Indonesia atau
Materia Medika Indonesia
Bila pada ketiga buku
persyaratan tersebut tidak
tertera paparannya, boleh
menggunakan ketentuan dalam
buku persyaratan mutu negara
lain atau pedoman lain

Penggunaan

ketentuan atau
persyaratan lain diluar Farmakope
Indonesia, Ekstra Farmakope Indonesia
dan Material Indonesia harus mendapat
persetuiuan pada waktu pendaftaran
fitofarmaka.
untuk menjamin keseragaman khasiat
dan keamanan fitofarmaka harus
diusahakan pengadaan bahan baku
yang terjamin keseragaman komponen
aktifnya

Untuk

keperluan tersebut, bahan


baku sebelum digunakan harus
dilakukan pengujian melalui
analisis kualitatif dan kuantitatif.
11

Secara

bertahap industri harus


meningkatkan persyaratan
tentang rentang kadar alkaloid
total, kadar minyak atsiri dan lain
sebagainya

Zat Kimia Berkhasiat


Penggunaan

zat kimia berkhasiat


(tunggal murni) dalam
fitofarmaka dilarang

Bentuk Sediaan
Untuk

mendapatkan formulasi
yang tepat, diperlukan suatu
percobaan. Dari beberapa
percobaan tersebut dipilih
formula yang memberikan
keamanan, khasiat, mutu dan
stabilitas yang paling tinggi

Standar Fitofarmaka
Setiap

fitofarmaka harus dapat dijamin


kebenaran komposisi, keseragaman
komponen aktif dan keamanannya baik
secara kualitatif maupun secara
kuantitatif.
Pada analisis terhadap ramuan, sebagai
baku pembanding digunakan zat utama
atau zat identitas lainnya.
Secara bertahap industri harus
mempertajam perhatian terhadap galur
fitokimia simplisia yang digunakan.

Khasiat
Pernyataan

khasiat harus
menggunakan istilah medik
seperti :

Diuretik
Spasmolitik
Analgetik
Antipiretik

Dukungan Penelitian
Fitofarmaka

harus didukung oleh


hasil pengujian, dengan protocol
pengujian yang jelas dan dapat
dipertanggung jawabkan.
Pengujian meliputi toksisitas, uji
efek, farmakologik, uji klinik, uji
kualitas dan pengujian lain yang
dipersyararkan.

Uji Klinik Fitofarmaka


Tujuan

pokok uji klinik


fitofarmaka adalah:
Memastikan keamanan dan manfaat
klinik fitofarmaka pada manusia
dalam pencegahan atau pengobatan
penyakit maupun gejala penyakit.
Untuk mendapatkan fitofarmaka
yang dapat dipertanggung jawabkan
keamanan dan manfaatnya.

Tahap-tahap Pelaksanaan
Merencanakan

tahap-tahap pelaksanaan uji


klinik Fitofarmaka termasuk formulasi, uji
farmakologik eksperimental dan uji kimia.
Melaksanakan uji klinik fitofarmaka.
Melakukan evaluasi hasil uji klinik fitofarmaka.
Menyebar luaskan informasi tentang hasil uji
klinik litofarmaka kepada masyarakat (peneliti
diperbolehkan mempublikasikan pengujian
yang dilakukan dengan memperhatikan kode
etik publikasi ilmiah).
Memantau penggunaan dan kemungkinan
timbulnya efek samping fitofarmaka.

Pemilihan.
Pengujian

Farmakologik

Penapisan aktivis farmakologik diperlukan bila


belum terdapat petunjuk mengenai khasiat.
Bila telah ada petunjuk mengenai khasiat maka
langsung dilakukan pemastian khasiat.
Pengujian

Toksisitas

Uji toksisitas akut.


Uji toksisitas sub akut.
Uji toksisitas kronik.
Uji toksisitass pesifik: Toksisitas pada janin,
Mutagenisitas,

Pengujian

Farmakodinamik
Pengembangan Sediaan (formulasi).
Penapisan Fitokimia dan Standarisasi
Sediaan.
Pengujian klinik.
Sesudah

fitofarmaka terbukti mempunyai


khasiat yang bermakna dan memenuhi
syarat keamanan pemakaian pada
manusia, maka pengembangan dan
penelitian lebih lanjut perlu dilakukan

Kriteria Fitofarmaka
Aman

sesuai dengan persyaratan yang


ditetapkan;
Klaim khasiat harus dibuktikan berdasarkan uji
klinik;
Telah dilakukan standarisasi terhadap bahan
baku yang digunakan dalam produk jadi;
Memenuhi persyaratan mutu yang berlaku.
Jenis klaim penggunaan sesuai dengan tingkat
pembuktian medium dan tinggi.
Kelompok Fitofarmaka sebagaimana dimaksud
dalam pasal 1 butir
harus mencantumkan logo dan tulisan
FITOFARMAKA sebagaimana contoh terlampir;

Logo

sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) berupa


Jari-Jari Daun (Yang Kemudian Membentuk Bintang)
Terletak Dalam Lingkaran, dan ditempatkan pada
bagian atas sebelah kiri dari wadah /pembungkus /
brosur;
Logo (jari-jari daun dalam lingkaran) sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dicetak dengan warna hijau
di atas dasar putih atau warna lain yang menyolok
kontras dengan warna logo;
Tulisan FITOFARMAKA yang dimaksud pada Ayat
(1) harus jelas dan mudah dibaca, dicetak dengan
warna hitam di atas dasar warna putih atau warna
lain yang menyolok kontras dengan tulisan
FITOFARMAKA.

Contoh Obat Fitofarmaka di


Indonesia
Diabmeneer

Nyonya Meneer Fitofarmaka


Diabetes (Kencing Manis) mengandung
ekstrak momordica fructis yang membantu
mengurangi konsentrasi gula darah.
Stimuno Dexa Medica Fitofarmaka
Modulator Imun (Imunomodulator); ekstrak
Phylanthus niruri atau meniran di
dalamnya berkhasiat merangsang tubuh
lebih banyak memproduksi lebih banyak
antibodi dan mengaktifkan sistem
kekebalan tubuh agar bekerja optimal.

Tensigard

Phapros Fitofarmaka Hipertensi


(Darah Tinggi); ekstrak apii herba dan
ekstrak orthosiphonis berkhasiat untuk
menurunkan tekanan darah sistolik dan
diastolik.
Rheumaneer Nyonya Meneer Fitofarmaka
Rematik; mengandung ekstrak Curcumae
Rhizoma yang berkhasiat melancarkan
peredaran darah, menghilangkan nyeri
dan kaku sendi, menghangatkan, dan
menyegarkan badan.

X-Gra

Phapros Fitofarmaka Lemah Syahwat


(Impoten Aphrodisiaka); terbuat dari ekstrak
ginseng, royal jelly, ekstrak ganoderma, dan
lainnya. Obat ini berkhasiat meningkatkan
stamina pria dan membantu mengatasi
disfungsi ereksi serta ejakulasi dini.
Nodiar Kimia Farma Fitofarmaka Diare
(Mencret); yang terbuat dari ekstrak apel
dan rimpang kurkuma. Kandungan
attapulgite dan pectin di dalamnya diklaim
dapat mengabsorpsi virus, bakteri, gas, dan
toksin yang terdapat dalam usus.

Tahapan Penelitian Suatu Obat


sampai menjadi Obat Fitofarmaka
Seleksi

Diharapkan berkhasiat untuk penyakit yang


menduduki urutan atas dalam angka kejadiannya
(berdasarkan pola penyakit)
Berdasarkan pengalaman berkhasiat untuk
penyakit tertentu
Merupakan alternatif jarang untuk penyakit
tertentu, seperti AIDS dan kanker.

preklinik in vitro dan in vivo pada hewan


coba

Uji

Uji toksisitas
Uji farmakodinamik
Uji

klinik pada manusia

Obat-obat herbal terstandar di


KalBar
Lidah

buaya (Aloe Vera) merupakan


komoditas unggulan di Indonesia, dan
merupakan salah satu dari 10 jenis
tanaman yang popular sebagai bahan
baku industry kosmetik, farmasi,
makanan dan minuman kesehatan.
BPPT bekerjasama dengan Pemerintah
Daerah Kota Pontianak, Kalimantan
Barat dalam mewujudkan Pusat
Pengkajian dan Pengembangan Lidah
Buaya Nasional (Aloe Vera Center).

Tanaman yang berpotensi


sebagai pengobatan pada
penyakit degeneratif di
Indonesia
dan di KalBar
Bawang dayak
Secara empiris bawang dayak sudah
dipergunakan masyarakat local sebagai obat
berbagai jenis penyakit seperti kanker
payudara, obat penurun darah tinggi
(Hipertensi), penyakit kencing manis
(diabetes melitus), menurunkan kolesterol,
obat bisul, kanker usus dan mencegah
stroke.
Penggunaan bawang dayak dapat
dipergunakan dalam bentuk segar, simplisia,
manisan dan dalam bentuk bubuk (powder).

Selain

bawang dayak juga bisa


menggunakan Akar kuning
(Archanglisis flava L) untuk kencing
manis, barinang (Averhoa Bilimbi)
untuk darah tinggi, Jahe (Zingiber
officinale) untuk rematik, lalang untuk
rematik, lengkuas untuk ngilu sendi,
keladi tikus untuk tumor dan kanker,
nangka belanda untuk darah tinggi dan
sakit kencing, patah kemudi untuk
nyilu sendi

Pengobatan Komplementer
Alternatif
Pengobatan

komplementer adalah
pengobatan tradisional yang sudah
diakui dan dapat dipakai sebagai
pendamping terapi konvesional/medis.
Pengobatan alternatif adalah jenis
pengobatan yang tidak dilakukan oleh
paramedis/dokter pada umumnya,
tetapi oleh seorang ahli atau praktisi
yang menguasai keahliannya tersebut
melalui pendidikan yang lain/non
medis.

Perbedaan Obat Tradisional dan


Modern

Tanaman yang berpotensi


sebagai obat di kalimantan barat

Aspek etik dan legal

Pengobatan

tradisional merupakan pengobatan


upaya pengobatan dan atau perawatan cara
lain diluar ilmu kedokteran dan keperawatan.
Pengobatan tradisional aat (1) perlu dibina dan
diawasi untuk diarahkan agar dapat menjadi
pengobatan atau perawatan cara caa lain
yang didapat di-tanggungjawabkan manfaat
dan keamanannya.
Pengobatan tradisional yang telah dapat di
pertanggungjawabkan manfaat dan
keamanannya perlu terus ditingkatkan dan di
kembangkan.

Sanksi
Pasal

80/ ayat (4b)


Memprodoksi atau mengerdarkan sediaan farmasi
berupa obat/ramuan dll yang tidak memenuhisyarat
kefarmasian, pidana 15th penjara/ denda Rp.300jt.
Pasal 82 / Ayat (1a)
Barang siapa yang tanpa keahlian dan kewemangan
dengn sengaja melakukan pengobatan atau
perawatan, Pidana 5th penjara / denda 100jt / + 1/3
luka berat dan bila menimbulkan kematian.
Pasal 84 / Ayat (5)
Barang siapa menyelenggarakan sarana kesehatan
yang tidak memenuhi syarat, Pidana 1th penjara /
denda Rp.15jt

Program Pemerintah Dalam


Pengembangan Fitofarmaka
Pemerintah

mengeluarkan kebijakan
untuk mengembangkan jamu melalui
kerbijakan obat tradisional atau
KONTRANAS. Kebijakan ini meliputi
pengembangan jamu dari hulu hingga
ke hilir dengan melibatkan berbagai
instansi seperti lembaga penelitian,
kementerian pertanian, perguruan
tinggi, industri jamu, BPOM,
kementerian kesehatan dan
kementerian perdagangan.

Kebijakan

ini mencakup beberapa


aspek seperti penelitian dan
pengembangan, budidaya
tanaman obat, standarisasi,
pembinaan industri jamu,
jaminan mutu dan keamanan,
pemgembangan pasar kosmetik,
dan ekspor serta perintisan
penggunaan produk upgrading
jamu pada sistem pelayanan
kesehatan.

Kebijakan

ini mencakup beberapa


aspek seperti penelitian dan
pengembangan, budidaya
tanaman obat, standarisasi,
pembinaan industri jamu,
jaminan mutu dan keamanan,
pemgembangan pasar kosmetik,
dan ekspor serta perintisan
penggunaan produk upgrading
jamu pada sistem pelayanan
kesehatan.

Selain

Kontranas untuk
meningkatkan bahan baku obat
tradisional pemerintah juga telah
mengeluarkan Peraturan menteri
kesehatan republik indonesia
nomor 88 tahun 2013 tentang
rencana induk pengembangan
bahan baku obat tradisional.

Kesimpulan
Pengobatan

tradisional di
Indonesia masih memerlukan
standarisasi dan penelitian lebih
lanjut sehingga pengobatan
tradisional hanya digunakan
sebagai pengobatan
komplementer alternatif