Anda di halaman 1dari 38

Kuliah Farmasetika II

By Fitri Rahma Yenti, S.Farm, Apt

Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

INFUS
Infus adalah sediaan steril yang berupa larutan
yang diberikan melalui intravena tetes demi
tetes dengan bantuan peralatan yang cocok
Merupakan sediaan parenteral volume besar
(Large
Volume
Parenteral=LVP's)
yang
diberikan untuk menambah nutrisi, cairan tubuh
atau elektrolit, volume 250 ml atau lebih

Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

INFUS
Infus tidak boleh mengandung zat bakteriostatik

Dikemas dalam wadah besar dosis tunggal

Dapat juga ditambahkan antibiotik atau obat


lainnya ke dalam infus.

Penggunaan infus:
1)Untuk terapi pemeliharaan pada pasien yang
akan atau sudah dioperasi
2)Untuk pasien yang tidak sadar dan tidak dapat
menerima cairan, elektrolit atau nutrisi secara
oral
3)Untuk terapi pengganti pada pasien yang
mengalami banyak kehilangan cairan dan
elektrolit yg berat
Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

INFUS

Pada terapi pemeliharaan, pemilihan jenis bahan yg ada diinfus


yang akan diberikan pada pasien tergantung pada lamanya infus
diberikan, misalnya:

1) untuk pemberian kurang dari 3 hari, maka infus yg diberikan


cukup dengan larutan sederhana yg mengandung air dan
dektrosa secukupnya, dan sejumlah kecil Na dan K
2) Pada pemberian 3-6 hari dapat diberikan infus dengan nilai kalori
yang tinggi
3) pada pemberian lebih dari satu minggu, digunakan infus yang
mengandung nutrisi lengkap parenteral utk menyediakan semua
nutrisi esensial (untuk menjaga keadaan normal tubuh), dalam
infus ini mengandung: protein, karbohidrat, vitamin, mineral,
elektrolit, dan air yg cukup

Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

INFUS

Beberapa istilah:
Hipovolemia: kehilangan natrium
Dehidrasi: kekurangan air
Asidosis metabolik: kekurangan asam
karbonat
Hipokalemia: kekurangan kalium
Asidosis: berkaitan dengan proses
fisiologis yg menyebabkan penurunan pH
darah
Asidemia: keadaan pH arteri < 7,35
Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

INFUS
Infus karbohidrat adalah sediaan infus yang
berisi larutan glukosa atau dektrosa yang
cocok untuk donor kalori
Kegunaan :
- untuk diuretik (20%)

- untuk terapi oedema (30-50%)


- larutan manitol 15-20% untuk
menguji fungsi ginjal
Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

OBAT SUNTIK (Injeksi)


Definisi (Farmakope Indonesia Ed. III & IV) :
Sediaan steril berupa larutan, emulsi atau
suspensi, serbuk yang harus dilarutkan atau
disuspensikan terlebih dahulu sebelum
digunakan, yang disuntikkan dengan cara
merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui
kulit atau selaput lendir.
Injeksi dibuat dengan melarutkan, mengemulsikan
atau mensuspensikan
sejumlah obat ke
dalam sejumlah pelarut dan disiapkan dalam
wadah takaran tunggal atau ganda.
Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

Keuntungan Pemberian
Parenteral
1.
2.
3.
4.
5.

Obat memiliki onset (mulai kerja ) yang cepat


Efek obat dapat diramalkan dengan pasti
Bioavailabilitas
sempurna
atau
hampir
sempurna
Kerusakan obat dalam tractus gastro-intestinal
(per oral) dapat dihindarkan misalnya : insulin
Obat dapat diberikan kepada penderita yang
sakit keras atau yang sedang dalam keadaan
koma
Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

Kelemahan Pemberian
Parenteral

Rasa nyeri pada saat disuntik, apalagi kalau harus


diberikan berulang kali
Memberikan efek psikologis pada penderita yang
takut disuntik
Kekeliruan pemberian obat atau dosis, hampir tidak
mungkin diperbaiki. Bahaya ini lebih besar lagi jika
obat tsb. diberikan secara intra vena dimana obatobat tersebut mengikuti aliran darah.
Pemberian ini hanya dapat dilakukan oleh dokter
atau tenaga medis yang berkompeten
Harganya relatif mahal dibanding dengan sediaan
obat lainnya.
Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

Rute Pemberian Injeksi

Rute sub cutan (s.c., subktis)


Cara penyuntikan di bawah kulit atau lapisan lemak.
Cara ini digunakan untuk pemberian obat seperti
vaksin, insulin, skopolamin, epinefrin, dll.
Volume pemberian injeksi s.c. biasanya maksimal 2 ml
Jarum suntik yang digunakan panjangnya - 1 inch
Cara pemberian s.c. lebih lambat dibandingkan cara i.m.

atau i.v. tetapi cara ini dapat digunakan untuk pemberian


larutan elektrolit atau infus i.v. , cara ini disebut
hipodermoklisis . Cara tersebut dapat digunakan untuk
pemberian dengan volume 250 ml 1 liter.

Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

Rute Intra muskuler (i.m)


Intra muskuler yaitu cara penyuntikan di antara

jaringan otot atau di bawah lapisan sub kutis


Penyuntikan dapat di daerah pinggul atau lengan
bagian atas
Kecepatan absorpsinya adalah kedua sesudah intra
vena
Volume injeksi 1- 3 ml atau maksimal 10 ml
Jarum suntik yang digunakan 1 1 inch.
Bentuk sediaan yang dapat diberikan dengan i.m
adalah larutan, emulsi tipe m/a atau a/m, suspensi
dalam minyak atau suspensi baru dari pouder steril
Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

Rute Intra vena (i.v.)

Pemberian langsung ke dalam pembuluh darah vena


Larutan dalam volume kecil (< 5 ml) sebaiknya isotonis dan
isohidris, sedangkan volume besar (infus) harus isotonis dan
isohidris
Tidak ada fase absorpsi,obat langsung masuk ke dalam vena, onset
of action segera
Cara pemberian ini kerja obat cepat, sehingga pemberian antidotum
mungkin terlambat
Volume pemberian mulai 1 100 ml dan untuk infus > 100 ml. Pada
pemberian dengan volume 10 ml atau lebih harus bebas pirogen
Kecepatan penyuntikan untuk volume 5 ml diberikan 1 ml/10 detik,
sedang untuk volume > 5 ml kecepatannya 1 ml/20 detik
Obat yang diberikan harus berada dalam bentuk larutan dalam air,
bila bentuk emulsi maka partikel minyak tidak boleh lebih besar dari
ukuran partikel eritrosit. Sediaaan suspensi tidak dianjurkan
Sediaan yang diberikan diusahakan isotonis dan pH sesuai dengan
keadaan fisiologis
Zat aktif tidak boleh merangsang pembuluh darah sehingga
menyebabkan hemolisa seperti saponin, nitrit dan nitrobenzol
Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

Rute Parenteral Lainnya

Intraspinal dan intratekal: disuntikkan ke dalam sumsum tulang belakang

larutan harus isotonis dan isohidris


bila digunakan sebagai anestesi, larutan hipertonis / hiperbarik
contoh : Inj. Xylocain heavy 0,5% 2 ml

Intraperitoneal : disuntikkan ke dalam rongga perut dengan kateter


larutan harus hipertonis
zat aktif diabsorpsi dengan cepat
volume yang diberikan dalam jumlah besar (1 atau 2 lilter)

bisa sebagai cuci darah dengan cara CPAD (Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis),
contoh : Infus Dianeal 1,5 % , 2,5 % / 2 liter.

Intraartikular: disuntikkan ke dalam sendi

larutan harus isotonis dan isohidris


contoh : Inj, Kenacort A 10 mg/ml vial 5 ml. (IA)

Intradermal: disuntikkan ke dalam kulit


larutan sebaiknya isotonis dan isohidris
volume penyuntikan kecil, antara 0,1 hingga 0,2 ml
biasa sebagai diagnostik Mantoux tes atau tes alergi
contoh : tes alergi antibiotik 1 ml,
Inj. Kenacort A 10 mg/ml, vial 5 ml (ID)

Intrasisternal : disuntikkan ke dalam saluran sumsum tulang belakang pada dasar otak
Intracardial : disuntikkan langsung ke dalam jantung
Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

Rute Pemberian Injeksi

Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

OBAT MATA
PRODUK/SEDIAAN UNTUK PENGOBATAN MATA
LARUTAN STERIL
SUSPENSI STERIL
SALEP STERIL

CARA PENGGUNAAN OBAT MATA


o TETES MATA (oculoguttae)
o SALEP MATA (oculenta)
o CUCI MATA (collyria)
o LAMELA DAN PENYEMPROT MATA
o INSERTE , IRIGASI (depo untuk mata utuh atau luka)
Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

OBAT MATA
USP & FARMAKOPE INDONESIA
Larutan obat mata
larutan steril yang dicampur dan dikemas
untuk dimasukkan ke dalam mata
Salep mata
salep khusus steril untuk pemakaian mata
yang dibuat dari bahan steril dengan
kondisi aseptik yang ketat atau akhirnya
disterilkan
Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

OBAT MATA
Mata adalah organ untuk penglihatan terdiri dari
1. Kornea
lensa pertama dalam sistem optikal mata,
terdiri dari beberapa lapis yang penuh dengan
saraf sensoris, 75-80 % air
Fungsi : alat atau pintu masuk segala
sesuatu dari luar ke dalam rongga bagian
dalam mata, selama bahan tsb. dapat
diabsorpsi.
Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

OBAT MATA
2. Cairan mata
campuran kompleks terdiri dari
elektrolit, protein, karbohidrat, enzim
(lysozime) dan asam organik. Bahan padat
total 1,8 %.
Cairan mata (lakrimal) dikeluarkan oleh
kelenjar lakrimal dan sekresi kelenjar
konjuntiva
pH air mata 7,3 7,7
konsentrasi osmotik air mata = larutan
NaCl 0,9 %
Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

OBAT MATA

Permukaan mata ditutupi oleh lapisan air mata, yang terdiri


dari 3 lapisan film yang berbeda
Absorpsi obat secara normal yang dimasukkan ke dalam
bola mata akan didistribusikan ke dalam lapisan air mata
prekorneal dengan aksi kedipan mata
Bioavailabilitas obat mata umumnya sangat kurang baik
dengan cara topikal. Umumnya obat mata, kurang dari 1%
dari dosis pemberian dapat menembus kornea untuk
mencapai ruang bagian dalam
Obat yang dimaksud untuk pengobatan lokal masuk ke
dalam cairan yang bersifat air melalui kornea dengan difusi
pasif
Bahan yang bersifat lipoid dan yang larut baik dalam air
atau memiliki kelarutan 2 fase, diabsorpsi baik melalui
kornea.

Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

OBAT MATA

UNTUK
MEMBUAT
KEKENTALAN
OBAT
MATA
MENYERUPAI KEKENTALAN AIR MATA DIANJURKAN
AGAR OBAT TETES MATA DIBERI PENGENTAL

USP memganjurkan penambahan bahan pengental seperti


- Metil selulose (MC)
- Hidroksimetil selulose (HMC)
- Karboksimetil selulose (CMC)
- Polivinil alkohol (PVA)

Penambahan bahan ionik untuk membantu absorpsi obat

Benzalkonium klorida biasa ditambahkan dalam larutan mata


Karbakhol untuk respons miotik langsung begitu obat
terabsorpsi kornea
Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

OBAT MATA
Untuk pengontrolan produk obat mata, harus :

Steril
Jernih
pH
dapar
tonisitas
preservatif
aditiv
viskositas
kemasan dan stabilitas

Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

SYARAT TETES MATA


1.

Steril
Air mata tidak mengandung antibodi, pertahanan terhadap
infeksi yang dimiliki mata adalah dengan aksi pencucian
dengan air mata dan dengan enzim lisozime yang mampu
menghidrolisis polisakarida dari mikroorganisme.

Yang tidak dipengaruhi oleh enzim lisozime adalah


Pseudomonas aeroginosa yang dapat
menyebabkan
kerusakan mata.

Penyebab infeksi oleh mikroorganisme : transplantasi kornea

Pengertian steril bukan parsial artinya jika air yang digunakan


air untuk injeksi steril sedangkan bahan obatnya atau
tambahannya tidak steril, maka hal itu tidak ada gunanya.
Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

SYARAT TETES MATA


2. Preservatif (Pengawet)
Penggunaan pengawet pada sediaan obat mata hanya dibolehkan untuk dosis ganda

Senyawa amonium kwarterner seperti Benzalkonium klorida, efektif terhadap


m.o. gram positif maupun negatif.
Kombinasi dengan 0,01 0,1 % Disodium EDTA akan menambah kepekaan
mikroorganisme terhadap larutan benzalkonium klorida 1:10.000.
Juga kombinasi Benzalkonium klorida 0,02 % dan Neomysin sulfat 0,5 %

Klorbutanol
Konsentrasi yang digunakan adalah 0,5 %, tetapi larutan ini rusak oleh
pemanasan autoklav dan suasana .

Senyawa raksa (II) organik


Fenilmerkuri nitrat digunakan sebagai pengawet, tetapi senyawa ini tidak
tercampurkan dengan halida dan juga kerjanya lambat atau kurang dibanding
dengan pengawet lainnya.

Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

SYARAT TETES MATA


3. Tekanan osmotik
Pembuatan sediaan isoosmotik untuk larutan
obat mata berhubungan erat dengan masalah
iritasi seperti pada sediaan injeksi.
Karena kandungan elektrolit dan koloid di
dalamnya, cairan mata memiliki tekanan
osmotik yang sama dengan darah dan cairan
jaringan.
Larutan hipertonis relatif lebih dapat diterima
dari pada hipotonis.
Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

SYARAT TETES MATA


4. pH dan pendaparan

pH air mata sama dengan pH darah: 7,4 atau antara 7,3 -7,7 dengan
demikian jika obat tetes akan didapar hendaknya menggunakan
dapar
dengan kapasitas rendah
kapasitas dapar : kekuatan untuk mempertahankan perubahan pH dengan
penambahan asam atau alkali.
Semakin besar daya tahan dapar terhadap perubahan pH semakin kuat
kapasitas dapar
Rentang pH yang dapat diterima oleh mata antara 5,2 - 8,3 (Parrott ) atau
6,0-8,0 (Remingtons Science), toleransi tersebut disebabkan oleh beberapa
faktor:
- yang diteteskan jumlahnya sedikit
- pendaparan oleh mata
- peningkatan produksi air mata
Contoh : Larutan Pilokarpin 1 % dapat diterima oleh mata,
jika
konsentrasinya dinaikkan akan meningkat pula iritasinya
Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

SYARAT TETES MATA


5. Antioksidan dan Pengkelat
- Natrium bisulfit digunakan pada tetes
mata
Na. Sulfasetamid dan Epinefrin
bitartrat 2%.
- Na. bisulfit cocok untuk pH sedang,
seperti pada penggunaan garam Na EDTA.
Ikatan ligan pada logam berat dapat
mencegah reaksi katalis logam tersebut
pada oksidasi oleh udara.
Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

SALEP MATA (Oculenta)

Definisi :
Salep mata adalah salep steril untuk pengobatan
mata menggunakan dasar salep mata yang cocok.
Umumnya salep mata dibuat dengan dasar salep :
- petrolatum (vaselin),
- vaselin - minyak mineral, atau
- vaselin - lanolin
Dasar vaselin - lanolin digunakan jika larutan air
bahan aktif harus ditambahkan pada salep mata
Dasar salep mata tidak boleh mengiritasi pada mata
dan harus memberikan kesempatan bahan aktif
berdifusi dari dasar salep ke kelenjar air mata
Harus bebas partikel besar untuk mencegah iritasi
Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

Dasar Salep Mata


British Pharmacopeia :
- Lanolin anhidrat 10
- Vaselin kuning
90
Cara pembuatan:
Campuran tersebut dilebur bersama-sama, disaring
melalui corong panas menggunakan kertas saring kasar
atau kain kasa/flanel, kemudian disterilkan dengan
pemanasan kering pada suhu 170 0C minimal 30 menit.
Biarkan dingin dan dicampurkan dengan bahan aktif.
Untuk mendapatkan
dimodifikasi sbb :
- Vaselin kuning
- Parafin cair
- Lanolin anhidrat

konsistensi yang lebih lunak, formula


80
10
10
Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

Cara Pembuatan Salep


Mata
1.

Apabila bahan aktif mudah larut dalam air dan


larutannya stabil, dapat dilarutkan dalam sedikit
mungkin air, kemudian ditambahkan dasar salep
mata lebur yang mampu menyerap sejumlah air
pelarut tsb. Campuran diaduk sampai massa
membeku.

2.

Jika bahan aktif tidak mudah larut dalam air atau


larutannya mudah terurai, bahan dimikronisasi
(digerus sampai halus) lalu ditambahkan bahan
dasar salep sejumlah sama, diaduk sampai
homogen. Sisa dasar salep ditambahkan sedikit
demi sedikit.
Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

EVALUASI SALEP MATA


1.

Bebas Partikel
Partikel logam mungkin berasal dari tube berukuran tidak
lebih dari 50 mikron (RPS).
Caranya :
Ambil 20 tube salep mata, 10 tube dilebur dalam cawan petri.
Setelah dingin dan membeku kembali diamati di bawah
mikroskop yang dilengkapi okuler dengan mikrometer.
Persyaratan :
Tidak boleh lebih dari 50 partikel teramati yang berukuran 50
mikron atau lebih besar. Sedang pada pemeriksaan 10 tube
berikutnya tidak boleh didapatkan/mengandung lebih dari 8
partikel dalam satu tubepun.

Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

2. Uji Kebocoran tube


Modern Pharmaceutics :
Satu tube diletakkan dalam posisi horizontal (dalam
cawan petri yang dialasi dengan kertas saring).
Tube dan cawan dipanaskan dalam oven pada
suhu tetap 600 30C selama paling sedikit 8 jam.
Persyaratan :
Hanya boleh memperlihatkan tanda kebocoran
pada bekas lipatan tube (Noda pada kertas hanya
terlihat pada bagian lipatan tube).

Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

PENGOBATAN & SEDIAAN


HIDUNG
FUNGSI HIDUNG
- menyaring udara/debu yang masuk
melalui hidung
bagian depan hidung, menahan
butiran, partikel debu kasar, sedang
debu halus dan
bakteri menempel
pada mukosa hidung
dalam rongga hidung udara
dihangatkan sehingga terjadi derajad
kelembaban tertentu
Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

pH MUKOSA HIDUNG

Keasaman (pH) sekresi hidung, orang dewasa antara 5,5 - 6,5,


sedangkan anak antara 5,0 6,7
Tonsitas lendir hidung sama dengan cairah darah atau NaCl 0,9%

Pada pH < 6,5 biasanya tidak ditemukan bakteri, sedang pH > 6,5
mulai ada bakteri

Rhinitis akut akan menyebabkan pergeseran pH ke arah basa,


sedangkan peradangan akut menyebabkan pH ke arah asam.
Pada waktu pilek, pH lendir alkalis. Sebaiknya digunakan dapar
fosfat pH 6,5 ke arah asam untuk mengembalikan kondisi normal
hidung

Jika kedinginan pH lendir hidung cenderung meningkat, sebaliknya


jika kepanasan cenderung turun.

Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

CARA PEMBERIAN OBAT


HIDUNG
1. Dengan meneteskan pada tiap lubang hidung dengan pipet
tetes (Nasal drop, guttae nasales)
2. Dengan cara disemprotkan
- Atomizer : disemprotkan dalam bentuk tetesan kasar ke
dalam lubang hidung
- Nebulizer: disemprotkan dalam tetesan sangat halus
sehingga mampu berpenetrasi sampai ke paru-paru
3. Dengan cara mencucikan dengan alat nasal douche
4. Dengan cara inhaler. Dihisap-hisap atau dihirup

Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

RESPONS CILIA TERHADAP


OBAT

Larutan NaCl
dalam larutan Na Cl 0,9% pada suhu 25 - 300C, cilia tetap aktif
pada konsentrasi 4 4,5 % semua cilia berhenti, cilia aktif kembali jika
membran dicuci dengan air suling dan digenangi NaCl 0,9 %
jika konsentrasinya 0,2 0, 3% aktivitas cilia berkurang dan berhenti.

Pengurangan ion Calsium


Penggunaan senyawa tartrat, sitrat, oksalat dan bahan pengkhelat Ca
lainnya
akan menghentikan gerakan cilia

Minyak
Minyak akan lama melekat pada film mukus dan akan mempengaruhi aktivitas
normal cilia. Minyak tidak baik sebagai pembawa pada sediaan hidung karena
menimbulkan lipoid pneumonia

Protargol
Larutan koloid protargol akan mengurangi gerakan cilia

Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

PERSYARATAN TETES
HIDUNG

Isotonis
Tetes hidung harus isoosmotik dengan sekret hidung atau
cairan tubuh lainnya atau NaCl 0,9%. Iritasi mukosa
hidung tidak akan terjadi jika larutan isotonis atau sedikit
hipertonis. Namun larutan yang sangat encer dan sangat
pekat akan menyebabkan iritasi mukosa hidung. Untuk
bahan pengisotonis dapat digunakan NaCl atau dekstrose.

Steril
Tetes hidung harus steril dan untuk menjaga kontaminasi
dengan mikroorganisme maka dilakukan penambahan
preservatif misalnya : nipagin atau nipasol, atau kombinasi
keduanya. Konsentrasi Nipagin /nipasol 0,01 0,04%
sedang kombinasi nipagin (0,026%) + nipasol (0,014%).

Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

OBAT (TETES) HIDUNG :

Sebaiknya digunakan pelarut/pembawa air


Jangan menggunakan obat yang cenderung mengerem cilia hidung
pH larutan sebaiknya sekitar 5,5 6,5 dan untuk menstabilkan
sebaiknya ditambah buffer (dapar)
Sebaiknya isotonis
Untuk dapat tinggal lama dalam rongga hidung sebaiknya
ditambahkan bahan untuk menaikkan viskositas agar mendekati
sekret lendir hidung
Hendaknya dihindari larutan obat yang bereaksi alkali
Jangan sampai anak-anak (bayi) diberi tetes hidung yang
mengandung mentol karena dapat menyebabkan kejang (kram)
pada saluran pernafasan
Harus tetap stabil selama pemakaian oleh pasien
Harus mengandung antibakteri (preservatif) untuk mereduksi
pertumbuhan bakteri selama pemakaian
Beberapa obat simpatomimetik (atropin, hiosin, skopolamin) karena
mudah teroksidasi , perlu penambahan antioksidan dan juga kontrol
pH
Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014

Selesai

Farmasetika II - Fitri Rahma Yenti 2014