Anda di halaman 1dari 7

KASUS UTILITARIANISME

Oleh :
Kelompok 7
Nama

NIM

No. Absen

Ida Ayu Made Chandra Dewi

1306305047

12

Ni Wayan Putri Adnyani

1306305053

13

Happy Apsari Kusumayani

13063050

14

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
2015

KATA PENGANTAR

Om Swastyastu,
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan
rahmat-Nya makalah yang berjudul Kasus Utilitarianisme ini dapat penulis selesaikan tepat
pada waktunya.
Berkat bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak, hambatan-hambatan dapat penulis
atasi sedikit demi sedikit dalam penyelesaian makalah ini. Untuk itu, penulis mengucapkan
terima kasih kepada orang tua serta semua pihak yang turut serta memotivasi yang tidak dapat
penulis sebutkan namanya satu persatu.
Di samping itu, penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sebuah
kesempurnaan. Hal ini karna hanya Beliaulah yang memiliki kesempurnaan tersebut. Seperti
pepatah yang mengatakan bahwa tidak ada gading yang tidak retak. Oleh sebab itu, penulis
mohon maaf apabila ada kesalahan-kesalahan dalam penulisan makalah ini. Demikian pula
halnya, penulis juga mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif terhadap makalah
ini agar selanjutnya dapat menjadi lebih baik dan lebih baik lagi serta bermanfaat bagi pembaca.

Denpasar, 27 Maret 2015


Penulis

POKOK BAHASAN
1. Etika Utilitarianisme
2. Kasus Utilitarianisme
a. Kasus Produk Oreo oleh PT Nabisco
b. Analisis Kasus
c. Kasus
d. Kasus

1. Etika Utilitarianisme
Etika Utilitarianisme merupakan salah satu aliran (teori) etika yang digunakan untuk menilai
etis tidaknya suatu tindakan dengan memperhatikan manfaat dan biaya (benefit and cost
analysis). Prinsip pokok aliran ini adalah mengedepankan asas manfaat atau keuntungan. Dengan
demikian, utilitarianisme merupakan suatu pandangan yang menyatakan bahwa tindakan dan
kebijakan perlu dievaluasi berdasarkan keuntungan dan biaya yang dibebankan kepada
masyarakat.
2. Kasus Utilitarianisme
a. Kasus Produk Oreo oleh PT Nabisco

Dijilat, Diputer, lalu Dicelupin merupakan sepenggalan kata dari suatu produk biscuit
ternama, Kraft Indonesia, Oreo. Dalam meluncurkan produk Oreo yang merupakan biscuit
coklat dengan dilapisi susu didalamnya berhasil mencuri hati anak-anak sehingga biscuit ini
menjadi favorit di kalangan anak-anak. Akan tetapi, kekhawatiran para orang tua semakin
membludak karena biscuit yang menjadi favorit anak-anak mengandung bahan melamin.
Berdasarkan hasil penelitian BPOM pada September 2008 ditemukan bahwa semua produk
yang mengandung susu dan berasal dari Cina positif mengandung melamin sebesar 8.51
mg/kg sampai dengan 945.86 mg/kg, dan salah satu produk yang mengandung melamin
adalah produk Oreo Wafer Sticks produksi PT. Nabisco Food (Suzhou) Co.Ltd, China dengan
kandungan melamin sebesar 366.08 mg/kg dan sebesar 361.69 mg/kg.
Melamin adalah senyawa basa organik dengan rumus kimia C3H6N6 yang hanya sedikit
larut dalam air. Melamin merupakan metabolit dari siromazina yaitu sejenis pestisida.
Melamin berguna dalam pembuatan plastik, bahan perekat, countertops, dishware,
whiteboards, dan fertilizers. Bahaya yang dapat ditimbulkan apabila mengkonsumsi produk
makanan ataupun minuman yang mengandung melamin adalah :
1. Mengakibatkan gangguan metabolisme, terutama terhadap bayi dan anakanak. Organ
tubuh yang paling cepat terganggu adalah fungsi ginjal yang bekerja untuk
membuang racun-racun dalam tubuh.
2. Serangan akut pada saluran pencernaan, di antaranya muntah dan mencret
3. Kerusakan berbagai organ tubuh, antara lain kerusakan, mulai dari fungsi otak, hati,
ginjal, mata dan telinga, dan bisa menyebabkan kematian.
4. Mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, yaitu mudah terserang flu dan infeksi karena
virus dan bakteri.
b. Analisis Kasus
Kasus Oreo oleh PT Nabisco ini melanggar etika utilitarianisme karena di dalam
memproduksi produk Oreo ini perusahaan menggunakan bahan baku mengandung melamin
agar mampu menekan biaya produksi yang harus dikeluarkan. Hal ini disebabkan karena

semakin meningkatnya biaya bahan baku yang harus dikeluarkan oleh perusahaan dalam
memproduksi Oreo sehingga profit yang diperoleh menjadi menurun. Dengan keadaan yang
seperti ini, pihak manajaemen meminimalisir biaya produksi dengan menekan biaya bahan
baku guna meningkatkan profit perusahaan. Dalam hal meningkatkan profitabilitas
perusahaan, perusahaan dapat menggunakan berbagai cara asalkan tidak merugikan
masyarakat secara luas.
Sesuai dengan teori utilitarianisme yang menyatakan bahwa suatu perbuatan adalah baik
jika memberikan manfaat yang menyangkut masyarakat kesesulurhan bukan hanya beberapa
pihak.
Dilihat menurut UUD, PT Nabisco telah melanggar beberapa pasal, yaitu :
Pasal 4, hak konsumen adalah :
Ayat (1) : hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang
dan/atau jasa.
Ayat (3) : hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan
barang dan/atau jasa.
Di sini, PT Nabisco tidak secara benar,jujur, dan jelas menyampaikan kandungan zat-zat
di dalam produk Oreo.
Pasal 7, kewajiban pelaku usaha adalah :
Ayat (2) : memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan
barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan
pemeliharaan.
Pasal 8
Ayat (1) : Pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau
jasa yang tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan
ketentuan peraturan perundang-undangan
Ayat (4) : Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran pada ayat (1) dan ayat (2) dilarang
memperdagangkan barang dan/atau jasa tersebut serta wajib menariknya dari
peredaran
PT Nabisco tetap meluncurkan produk mereka walaupun produk Oreo tersebut tidak
memenuhi standar dan ketentuan yang berlaku bagi produk tersebut. Seharusnya, produk
Oreo tersebut sudah ditarik dari peredaran agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Pasal 19 :
Ayat (1) : Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan,
pencemaran, dan/atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan/atau
jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan

Ayat (2) : Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa pengembalian uang
atau penggantian barang dan/atau jasa yang sejenis atau setara nilainya, atau
perawatan kesehatan dan/atau pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku
Ayat (3) : Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari setelah
tanggal transaksi
Menurut pasal tersebut, PT Nabisco harus memberikan ganti rugi kepada konsumen
karena telah merugikan para konsumen.

Berdasarkan Kasus Oreo tersebut, akibat yang ditimbulkan adalah :


1. Krisis Kepercayaan Terhadap Produk Oreo
Dengan adanya kasus tersebut maka oreo benar-benar dalam posisi yang sangat sulit.
Oreo mengalami krisis kepercayaan yaitu, kondisi dimana masyarakat sebagai
konsumen sudah tidak percaya terhadap suatu produk secara otomatis masyarakat
tidak mengkonsumsi produk oreo tersebut sehingga penjualan akan semakin menurun
dan lambat laun akan mengalami kebangkrutan apabila tidak segera ditangani.
2. Kerugian yang Disebabkan oleh Krisis Kepercayaan
Kerugian yang diterima bukan hanya berupa kerugian materiil tetapi juga kerugian
immateriil. Kerugian materiil berupa kerugian yang diterima karena tidak ada produk
yang laku di pasaran yang menyebabkan pemasukan berkurang, omset menipis dan
laba pun sedikit. Inilah yang dinamakan kerugian materiil yaitu kerugian yang
berhubungan dengan uang. Kerugian immateriil yang diterima yaitu hilangnya
kepercayaan konsumen terhadap produk yang di pasarkan, yang dapat berupa nama
baik. Antara kerugian materiil dan immateriil sangat berhubungan karena keduanya
mempengaruhi kelangsungan perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA
Dewi, Sutrisna. 2011. Etika Bisnis. Denpasar : Udayana Univrsity Pers.
Www.academia.edu. KASUS OREO. Diakses pada 15 Maret 2015 dalam
(https://www.academia.edu/10090394/KASUS_OREO )
Efawahyuni.blogspot.com. 2013. Etika Bisnis dan Pelanggarannya. Diakses pada 15 Maret 2015
dalam ( http://efawahyuni.blogspot.com/2013/11/etika-bisnis-dan-pelanggarannya.html )