Anda di halaman 1dari 14

II.

2 Definisi
Kanker prostat adalah penyakit kanker yang berkembang di prostat, sebuah kelenjar
dalam sistem reproduksi lelaki. Atau dapat juga dapat didefinisikan suatu tumor ganas yang
tumbuh di dalam kelenjar prostat Hal ini terjadi ketika sel prostat mengalami mutasi dan
mulai berkembang di luar kendali. Sel ini dapat menyebar secara metastasis dari prostat ke
bagian tubuh lainnya, terutama tulang dan lymph node. Kanker prostat dapat menimbulkan
rasa sakit, kesulitan buang air kecil, disfungsi erektil dan gejala lainnya. Kanker prostat
sangat sering terjadi. Pemeriksaan mikroskopis terhadap jaringan prostat pasca pembedahan
maupun pada otopsi menunjukkan adanya kanker pada 50% pria berusia diatas 70 tahun dan
pada semua pria yang berusia diatas 90 tahun. Kebanyakan kanker tersebut tidak
menimbulkan gejala karena penyebarannya sangat lambat.
Carsinoma prostat atau kanker prostat adalah pertumbuhan dan pembelahan
sel khususnya sel pada jaringan prostat yang tidak normal/abnormal yang
merupakan kelainan atau suatu keganasan pada saluran perkemihan khususnya
prostat pada bagian lobus perifer sehingga timbul nodul-nodul yang dapat diraba.

II.3 Insidensi
Berdasarkan data, rata-rata per tahun penderita kanker prostat yang berobat di RS
Dharmais dan RSCM Jakarta mencapai 30 hingga 60 orang. Ini baru data dari dua rumah
sakit, belum yang lainnya. Ancaman kanker prostat tak hanya mengintai kaum pria di
Indonesia. Kaum pria di Amerika Utara dan Eropa, terutama di kawasan Skandinavia bahkan
tercatat memiliki angka tertinggi untuk penderita kanker prostat. Bahkan di Amerika Utara,
penyakit kanker prostat menjadi penyakit kanker pembunuh tertinggi bagi para pria Afro
Amerika di sana. Berdasarkan hasil penelitian para pakar urologi, setiap pria di dunia
berpotensi terkena penyakit prostat. Mulai dari pembengkakan ringan pada kelenjar prostat
sampai dengan serangan kanker prostat. Setiap pria memang memiliki resiko terkena
penyakit prostat. Bagi pria, penyakit prostat dipicu oleh hormon testosteron yang diproduksi
testis pria. Makin tua usia pria, hormon ini berubah menjadi dihydrotestosteron yang
mempengaruhi perkembangan sel prostat hingga kelenjar prostat tumbuh menjadi besar.
Jumlah kanker prostat sangat bervariasi di dunia. Namun jarang terjadi di Asia Timur dan
Selatan; sering terjadi di Eropa dan Amerika Serikat. Menurut American Cancer Society,
1

kanker prostat paling jarang di pria Asia dan paling sering terjadi di orang hitam, dan orang
Eropa di tengahnya.

II.4 Etiologi
Beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab timbulnya adenokarsinoma prostat
adalah: (1) predisposisi genetik, (2) pengaruh hormonal, (3) diet tinggi lemak, (4) pengaruh
lingkungan, dan (5) infeksi. Kanker prostat ternyata lebih banyak diderita oleh bangsa AfroAmerika yang berkulit hitam daripada bangsa kulit putih. Pada penelitian yang lain
didapatkan bahwa bangsa Asia (China dan Jepang) lebih sedikit menderita penyakit ini.
Namun, mereka yang pindah ke Amerika mendapatkan kemungkinan menderita penyakit
lebih besar daripada mereka yang tetap tinggal di negara asalnya. Hal ini menunjukkan
bahwa pengaruh lingkungan dan kebiasaan hidup sehari-hari juga berperan dalam patogenesis
penyakit ini.
Kemungkinan untuk menderita kanker prostat menjadi dua kali jika saudara lakilakinya menderita penyakit ini. Kemungkinannya naik menjadi lima kali jika ayah dan
saudaranya juga menderita. Semuanya itu menunjukkan adanya faktor genetika yang
melandasi terjadinya kanker prostat.
Diet yang banyak mengandung lemak, susu yang berasal dari binatang, daging merah
(red meat), dan hati diduga meningkatkan kejadian kanker prostat. Beberapa nutrisi diduga
dapat menurunkan insiden kanker prostat, di antaranya adalah vitamin A, beta karoten,
isoflavon atau fitoestrogen yang banyak terdapat pada kedelai, likofen (antioksidan
karotenoid yang banyak terdapat pada tomat), selenium (terdapat pada ikan laut, daging, bijibijian), dan vitamin E. Kebiasaan merokok dan paparan bahan kimia Cadmium (Cd) yang
banyak terdapat pada alat listrik dan baterai berhubungan erat dengan timbulnya kanker
prostat.
Kebiasaan seksual memiliki hubungan dengan kanker prostat diakibatkan oleh
berhubungan seksual sebelum umur yang matang, jumlah partner seksual, dan partner seksual
yang terinfeksi human papiloma virus dan kanker serviks
Etiologi dan faktor resiko

Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya ca prostat ;
tetapi beberapa hipotesa menyebutkan bahwa hiperplasia prostat bisa terjadi karena:
1.

Adanya perubahan keseimbangan antara hormon testosteron dan estrogen pada usia
lanjut.

2.

Peranan dari growth factor ( faktor pertumbuhan ) sebagai pemacu pertumbuhan


stroma kelenjar prostat.

3.

Meningkatnya lama hidup sel-sel prostat karena berkurangnya sel yang mati

4.

Teori sel stem menerangkan bahwa terjadinya proliferasi abnormal sel stem sehingga
menyebabkan produksi sel stroma dan sel epitel kelenjar prostat menjadi berlebihan.

Faktor resiko
-

Usia, kebanyakan kasus terjadi pada pria usia lanjut. Laki-laki usia >55 tahun yang
mempunyai riwayat keluarga menderita kanker prostat.

Riwayat keluarga dan factor keturunan, bila ayah atau saudara laki-laki (di bawah 60),
risiko akan lebih tinggi. Juga bila saudara perempuan terkena kanker payudara.

Suku bangsa, pria Asia memiliki risiko lebih rendah dibandingkan pria kulit hitam
atau kulit putih. Misalnya ras Afrika yang tinggal di Amerika.

Terkena paparan atau kontak dengan logam berat seperti cadmium

Makanan terbiasa mengandung asam lemak jenuh.1


1. Etiologi dan Faktor Resiko Kanker Prostat
Dari berbagai penelitian dan survei, disimpulkan bahwa etiologi dan faktor resiko
kanker prostat adalah sebagai berikut:
a. Usia Resiko menderita kanker prostat dimulai saat usia 50 tahun pada pria kulit
putih, dengan tidak ada riwayat keluarga menderita kanker prostat. Sedangkan
pada pria kulit hitam pada usia 40 tahun dengan riwayat keluarga satu generasi
sebelumnya menderita kanker prostat. Data yang diperoleh melaui autopsi di
3

berbagai negara menunjukkan sekitar 15 30% pria berusia 50 tahun menderita


kanker prostat secara samar. Pada usia 80 tahun sebanyak 60 70% pria memiliki
gambaran histology kanker prostat. (K. OH, William et al, 2000).
b. Ras dan tempat tinggal Penderita prostat tertinggi ditemukan pada pria dengan ras
Afrika Amerika.Pria kulit hitam memiliki resiko 1,6 kali lebih besar untuk
menderita kanker prostat dibandingkan dengan pria kulit putih (Moul, J. W., et al,
2005).
c. Riwayat keluarga Carter dkk menunjukkan bahwa kanker prostat didiagnosa pada
15% pria yang memiliki ayah atau saudara lelaki yang menderita kanker prostat,
bila dibandingkan dengan 8% populasi kontrol yang tidak memiliki kerabat yang
terkena kanker prostat (Haas, G. P dan Wael A. S., 1997). Pria yang satu generasi
sebelumnya menderita kanker prostat memiliki resiko 2 - 3 kali lipat lebih besar
menderita kanker prostat dibandingkan dengan populasi umum. Sedangkan untuk
pria yang 2 generasi sebelumnya menderita kanker prostat memiliki resiko 9 - 10
kali lipat lebih besar menderita kanker prostat.
d. Faktor hormonal Testosteron adalah hormon pada pria yang dihasilkan oleh sel
Leydig pada testis yang akan ditukar menjadi bentuk metabolit, berupa
dihidrotestosteron (DHT) di organ prostat oleh enzim 5 - reduktase. Beberapa
teori menyimpulkan bahwa kanker prostat terjadi karena adanya peningkatan
kadar testosteron pada pria, tetapi hal ini belum dapat dibuktikan secara ilmiah.
Beberapa penelitian menemukan terjadinya penurunan kadar testosteron pada
penderita kanker prostat. Selain itu, juga ditemukan peningkatan kadar DHT pada
penderita prostat, tanpa diikuti dengan meningkatnya kadar testosteron. (Haas, G.
P dan Wael A. S., 1997).
e. Pola makan Pola makan diduga memiliki pengaruh dalam perkembangan berbagai
jenis kanker atau keganasan. Pengaruh makanan dalam terjadinya kanker prostat
belum dapat dijelaskan secara rinci karena adanya perbedaan konsumsi makanan
4

pada rasa atau suku yang berbeda, bangsa, tempat tinggal, status ekonomi dan lain
sebagainya.

II.5 Patologi
Kemungkinan tahapan patogenesis kanker adalah: kelenjar prostat normal PIN
(Prostat Intraepitelial Neoplasia) karsinoma prostat karsinoma prostat stadium lanjut
karsinoma prostat matastasis HRPC (Hormon Refractory Prostat Cancer). Jenis
histopatologis karsinoma prostat sebagian besar adalah adenokarsinoma. Kurang lebih 75%
terdapat pada zona sentral dan zona transisional. Biasanya karsinoma prostat berupa lesi
multisentrik. Derajat keganasan didasarkan pada diferensiasi kelenjar, atipi sel, dan kelainan
inti sel. Derajat Gleason 1, yaitu berdiferensiasi baik, derajat Gleason 2 yang berdiferensiasi
sedang, dan derajat Gleason 3 yang berdiferensiasi buruk. Pembagian derajat keganasan ini
merupakan indikator pertumbuhan dan progresifitas tumor.
Tumor yang berada pada kelenjar prostat tumbuh menembus kapsul prostat dan
mengadakan infiltrasi ke organ sekitarnya. Penyebaran secara limfogen melalui kelenjar limfe
retroperitoneal dan penyebaran secara hematogen melalui vena vertebralis menuju tulangtulang pelvis, femur sebelah proksimal, vertebra lumbalis, costae, paru, hepar, dan otak.
Metastasis ke tulang pada umumnya merupakan proses osteoblastik, meskipun
kadang-kadang bisa juga terjadi proses osteolitik.
PROSTATIC INTRAEPITHELIAL NEOPLASIA
Prostatic intraepithelial neoplasia (PIN) merupakan proliferasi epitel yang atipikal
pada duktus dan kelenjar prostat. Suatu kelenjar PIN memiliki arsitektur yang jinak, tetapi
dibatasi oleh sel-sel yang secara sitologi atipik. PIN dibagi atas low grade (LGPIN) dan high
grade (HGPIN) berdasarkan derajat atipia selnya. Tidak terbukti adanya hubungan antara
LGPIN dengan adenokarsinoma prostat, tetapi HGPIN memiliki hubungan erat dengan
adenokarsinoma prostat dan merupakan lesi precursornya.
Pada sekitar 80% kasus, jaringan prostat yang diambil karena karsinoma mungkin
menunjukkan lesi prekursor yang disebut dengan high grade prostatic intraepithelial
neoplasia (PIN). Lesi ini terdiri dari kelenjar-kelenjar jinak dengan proliferasi sel-sel yang
menunjukkan anaplasia inti. High grade PIN terdiri dari kelenjar-kelenjar yang terpisah lebih
5

jauh, kelenjar bercabang dengan struktur papillary. Ini berbeda jauh dengan kanker yang
invasif dimana karakteristiknya adalah kelenjar-kelenjar kecil, tersusun rapat, tepi lumen
yang datar (tidak bercabang). Pada PIN, kelenjar-kelenjarnya dikelilingi oleh lapisan
sel-sel basal dan membran basal yang utuh.
Kanker terjadi karena pertumbuhan abnormal sel-sel ganas. Sel ganas ini
yang membelah dan meningkatkan kecepatan tinggi kematian sel normal. Hal ini
menyebabkan ketidakseimbangan dalam jumlah sel-sel yang abnormal dalam organ.
Setelah tingkat abnormal menetap, mutasi gen juga akan terjadi lagi yang akan
mengakibatkan peningkatan jumlah sel abnormal. Sebagai hasil dari semua ini,
kanker berkembang sangat cepat dan jika pengobatan tidak dimulai pada tahap
awal, proses ini akan terus berlanjut.
Kanker dapat terjadi pada setiap bagian dari organ. Dalam kanker prostat,
sebagian besar berasal dari kanker di zona perifer, diikuti oleh pusat dan zona
peralihan. Ini umumnya terjadi, tetapi mungkin kanker multi-fokus jugamuncul di
berbagai daerah di prostat pada saat yang sama. Setelah proses kanker merasuk,
menyebar ke leher kandung kemih, saluran ejakulasi dan vesikula seminalis.
Penyebaran ke kandung kemih dan vesikula seminalis invasi local dari kanker.
Kanker yang masih terbatas pada prostat atau masih berada pada tahap
invasive memiliki prognosisyang lebih baik. Tapi setelah kanker berkembang ke
bagian lain dari tubuh, pengelolaan menjadi sulit. Proses penyebaran kanker dari
organ asal ke organ organ yang jauh seperti hati atau paru-paru atau tulangdisebut
metastasis. Dalam banyak kanker, akan melibatkan metastasis kanker prostat
limfadenopati tetapi mungkin juga tanpa limfadenopati.

Klien mungkin datang ke dokter bukan untuk pengelolaan kanker tetapi


dengan banyak gejala lain dan kanker prostat terdeteksi secara kebetulan saat
pasien menjalani penyelidikan untuk gejala. The common tanda dan gejala kanker
prostat termasuk nyeri ekstremitas bawah, retensi urin, hematuria, frekuensi,
penurunan aliran kemih dll. Ini adalah gejala umum dalam kondisi lain juga seperti
infeksi saluran kencing atau hyperplasia prostat jinak. PSA skrining harus dilakukan
untuk mengesampingkan kondisi lain dan jika tingkat PSA abnormal penyelidikan
lebih perlu dilakukan.
Dalam kasus metastasis, penurunan berat badan, kehilangan nafsu makan,
rasa sakit tak tertahankan, dan fraktur patologis dapat diidentifikasi. Dan individu,
menyadari fakta-fakta dan gejala akan mampu mengidentifikasi gejala-gejala jika
ada, dan akan dapat berkonsultasi dengan dokter di awal.

II.6 Gambaran Klinis


Biasanya kanker prostat berkembang secara perlahan dan tidak menimbulkan gejala
sampai kanker telah mencapai stadium lanjut. Kadang gejalanya menyerupai BPH, yaitu
berupa kesulitan dalam berkemih dan sering berkemih. Gejala tersebut timbul karena kanker
menyebabkan penyumbatan parsial pada aliran air kemih melalui uretra. Kanker prostat bisa
menyebabkan air kemih berwarna merah (karena mengandung darah) atau menyebabkan
terjadinya penahanan air kemih mendadak. Pada beberapa kasus, kanker prostat baru
terdiagnosis setelah menyebar ke tulang (terutama tulang panggul, iga dan tulang belakang)
atau ke ginjal (menyebabkan gagal ginjal). Kanker tulang menimbulkan nyeri dan tulang
menjadi rapuh sehingga mudah mengalami fraktur (patah tulang). Setelah kanker menyebar,
biasanya penderita akan mengalami anemia. Kanker prostat juga bisa menyebar ke otak dan
menyebabkan kejang serta gejala mental atau neurologis lainnya.
Gejala lainnya adalah:
Segera setelah berkemih, biasanya air kemih masih menetes
Nyeri ketika berkemih
Nyeri ketika ejakulasi
Nyeri punggung bagian bawah
Nyeri ketika buang air besar
Nokturia (berkemih pada malam hari)
Inkontinensia urin
Nyeri tulang atau tulang nyeri jika ditekan
Hematuria (darah dalam air kemih)
7

Nyeri perut
Penurunan berat badan.
Kanker prostat stadium dini biasanya ditemukan pada saat pemeriksaan colok dubur
berupa nodul keras pada prostat atau secara kebetulan ditemukan adanya peningkatan kadar
penanda tumor PSA (Prostate Specific Antigens) pada saat pemeriksaan laboratorium.
Kurang lebih 10% pasien yang datang berobat ke dokter mengeluh adanya gangguan saluran
kemih berupa kesulitan miksi, nyeri kencing, atau hematuria yang menandakan bahwa kanker
telah menekan uretra.
Pemeriksaan fisik yang penting adalah melakukan colok dubur. Pada stadium dini
seringkali sulit untuk mendeteksi kanker prostat melalui colok dubur sehingga harus dibantu
dengan pemeriksaan USG Transrektal (TRUS). Kemampuan TRUS dalam mendeteksi kanker
prostat dua kali lebih baik dibandingkan colok dubur. Jika dicurigai ada area hipoekoik
selanjutnya dilakukan biopsi transrektal pada area tersebut dengan bimbingan TRUS.
Secara medik, kanker prostat umumnya tidak menunjukkan gejala khas. Karena itu,
sering terjadi keterlambatan diagnosa. Gejala yang ada umumnya sama dengan gejala
pembesaran prostat jinak, yaitu buang air kecil tersendat atau tidak lancar. Keluhan
dapat juga berupa nyeri tulang dan gangguan saraf. Dua keluhan itu muncul bila
sudah ada penyebaran ke tulang belakang Tahap awal (early stage) yang mengalami
kanker prostat umumnya tidak menunjukkan gejala klinis atau asimptomatik. Pada
tahap berikutnya (locally advanced) didapati obstruksi sebagai gejala yang paling
sering ditemukan. Biasanya ditemukan juga hematuria yakni urin yang mengandung
darah, infeksi saluran kemih, serta rasa nyeri saat berkemih. Pada tahap lanjut
(advanced) penderita yang telah mengalami metastase di tulang sering mengeluh sakit
tulang dan sangat jarang menhgalami kelemahan tungkai maupun kelumpuhan
tungkai karena kompresi korda spinalis.

II.7 Deteksi dini


Pria berusia lebih dari 50 tahun dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan PSA total
(Prostate Specific Antigen) dan pemeriksaan colok dubur atau DRE (Digital Rectal
Examination) setiap tahun. Pemeriksaan DRE harus dilakukan oleh dokter, sedangkan
pemeriksaan PSA dapat dilakukan di laboratorium klinik. Apabila ada anggota keluarga yang
menderita kanker prostat, dianjurkan melakukan skrining sejak usia 40 tahun.
Pemeriksaan PSA
PSA merupakan suatu glikoprotein yang dihasilkan oleh sitoplasma sel epitel prostat
dan berperan dalam melakukan likuefaksi cairan semen. PSA adalah enzim yang dikeluarkan
oleh kelenjar prostat dan berfungsi mengencerkan cairan ejakulasi untuk memudahkan
pergerakan sperma. Pada keadaan normal, hanya sedikit PSA yang masuk ke dalam aliran
darah. Pada proses keganasan prostat, PSA akan menembus basal membran sel epitel dan
beredar melalui pembuluh vaskuler maka kadar PSA dalam darah meningkat.
PSA adalah enzim yang bertanggung jawab atas proteolitik sperma untuk mencair.
Hal ini terutama dihasilkan oleh kelenjar epitel, mungkin juga diproduksi di organ-organ
seperti kelenjar ludah, pankreas dan kelenjar mammae dan karsinoma sel jernih. Nilai normal
umum yang digunakan adalah 0-4 ng/ml. Konsentrasi PSA seperti ini ditemukan di antara
97% dari pria di atas 40. Tingkat lebih dari 12 ng/ml selalu berhubungan dengan kelainan
prostat. Kesulitan diagnosa ditemukan di antara para pasien yang memiliki tingkat antara
5-10 ng/ml karena mungkin keduanya berasal dari kanker prostat atau pertumbuhan
berlebihan dari prostat yang ringan, yang menyebabkan perlunya metode diagnostik
digunakan, seperti TRUS. Tes ini memungkinkan untuk menentukan densitas PSA (PSA
density), dimana konsentrasi PSA dikonversikan ke satuan volume prostat. Harus di bawah
0,15 ng/ml/g. Tingkat PSA tidak berkorelasi cukup baik dengan perkembangan kanker
prostat. Namun berguna sebagai faktor prognostik setelah perawatan diterapkan dan dalam
penentuan prognosis. Namun, tingkat akhir yang tinggi menunjukkan tingkat kelangsungan
hidup yang rendah.
Untuk membedakan apakah peningkatan kadar PSA disebabkan oleh BPH atau kanker
prostat, maka dianjurkan pemeriksaan rasio free-PSAPSA total atau rasio c-PSAPSA
total terutama bagi mereka yang memiliki kadar PSA totalnya antara 2,610 ng/ ml.

Metode AS (Active Surveillance)


9

Untuk menghindari over-diagnosa maupun over-treatment dari kanker prostat, maka


telah dilakukan riset yang bernama START (Surveillance Therapy Against Radical
Treatment), yang dipimpin oleh Dr. Laurence Klotz (Chief Urologist dari Sunnybrook Health
Sciences Center, Toronto, Kanada).
Hasil riset internasional tersebut menemukan bahwa ketika metode AS diterapkan
kepada pasien kanker prostat jinak (slow growing prostate cancer), maka kankernya tidak
menyebar dan secara keseluruhan tingkat kematiannya kurang dari 2%. Penelitian ini sangat
penting karena kebanyakan pria dengan kanker prostat sangat berat untuk melakukan operasi
pengangkatan prostat. Kebanyakan dari mereka stres memikirkan dampak dari disfungsi
ereksi maupun inkontinensia (tidak dapat menahan kencing) dalam jangka panjang.
Metode AS (active surveillance) adalah kondisi dimana pria dengan tanda-tanda pra
kanker prostat dan secara aktif melakukan pemantauan atas perkembangan kankernya. Pasien
ini tidak perlu menjalani pengobatan medis apa pun, seperti operasi atau radioterapi selama
parameter masih terkendali. Namun, apabila terjadi peningkatan PSA, baru kemudian
dilakukan tindakan medis.
Ciri-ciri pasien yang dapat melakukan metode AS antara lain sebagai berikut.
1. Nilai PSA kurang atau sama dengan 10.
2. Biopsi menunjukkan low-volume cancer dengan nilai tes Gleason 6 atau kurang
* Gleason score adalah pemeringkat kanker dari 2 sampai 10 yang menunjukkan
agresivitas kankernya. Semakin tinggi angka, maka semakin agresif kankernya.
3. Pasien

divonis

mengidap

kanker

prostat

grade

antara

T1c

dan

T2a.

* T1 dan T2 adalah stadium kanker paling rendah, yaitu ketika sel-sel kanker masih
terbatas hanya ada di dalam kelenjar prostat.
Pasien yang mengikuti metode AS ini baru mendapat tindakan medis seperti operasi
atau radioterapi apabila nilai PSA meningkat drastis, hasil biopsi menunjukkan peningkatkan
volume kanker, atau pun keberadaan sel-sel kanker yang lebih ganas.
Hasil uji statistik menunjukkan bahwa pasien kanker prostat yang melakukan metode
AS, sekitar 65%-nya akan tetap berada pada kondisi kanker yang tidak mengganas.

II.8 Stadium
10

a) Tumor grading dari kanker prostat merupakan penentu dasar dari biologi penyakit dan
prognosa. Prognosis ditentukan potensi agresif dari tumor untuk menyebar ke organ
lain. Gleason score merupakan metode grading yang digunakan secara luas sampai
saat ini yang merupakan suatu faktor prognosis yang penting untuk kanker prostat.
Sehingga sekali diagnosa kanker prostat ditetapkan pada biopsi, penentuan grading
dengan Gleason score menentukan pilihan-pilihan untuk terapi.
Derajat diferensiasi menurut Gleason didasarkan atas pola perubahan arsitektur dari
kelenjar prostat yang dilihat secara mikroskopik dengan pembesaran rendah (60-100
kali), yang dibedakan dalam 5 tingkat perubahan mulai dari tingkat very well
differentiated (tingkat 1) hingga undifferentiated (tingkat 5). Dari pengamatan
mikroskopik suatu preparat, kemudian ditentukan 2 jenis pola tumor, yaitu tumor
yang mempunyai pola/tingkat yang paling ekstensif disebut sebagai primary pattern
dan pola.tingkat yang paling tidak ekstensif atau disebut secondary pattern. Kedua
tingkat tersebut kemudian dijumlahkan sehingga menjadi grading dari Gleason.
Karena itu grading dari Gleason berkisar antara 2 sampai dengan 10.
Grade
2-4
5-7
8-10

Tingkat histopatologi
Well differentiated
Moderately differentiated
Poorly differentiated

a) Tingkat infiltrasi dan penyebaran tumor berdasarkan sistem TNM adalah:


TNM Staging System for Prostate Cancer.
TPrimary tumor
Tx

Cannot be assessed

T0

No evidence of primary tumor

Tis

Carcinoma in situ (PIN)

T1a 5% of tissue in resection for benign disease has cancer, normal DRE
T1b > 5% of tissue in resection for benign disease has cancer, normal DRE
T1c Detected from elevated PSA alone, normal DRE and TRUS
T2a Tumor palpable by DRE or visible by TRUS on one side only, confined to
prostate
11

T2b Tumor palpable by DRE or visible by TRUS on both sides, confined to


prostate
T3a Extracapsular extension on one or both sides
T3b Seminal vesicle involvement
T4

Tumor directly extends into bladder neck, sphincter, rectum, levator


muscles, or into pelvic sidewall

NRegional lymph nodes (obturator, internal iliac, external iliac, presacral


lymph nodes)
Nx

Cannot be assessed

N0

No regional lymph node metastasis

N1

Metastasis in a regional lymph node or nodes

MDistant metastasis
Mx

Cannot be assessed

M0

No distant metastasis

M1a Distant metastasis in nonregional lymph nodes


M1b Distant metastasis to bone
M1c Distant metastasis to other sites

b) Menurut Whitmore-Jewett Staging


Whitmore-Jewett Staging System for Prostate Cancer.
A1 3 foci of carcinoma and 5% of tissue in resection for benign disease has
cancer, Gleason sum < 7
A2 > 3 foci of carcinoma and > 5% of tissue in resection for benign disease has
cancer, Gleason sum 7
B1

Palpable nodule 1.5 cm, confined to prostate

B2

Palpable nodule > 1.5 cm, confined to prostate

C1 Palpable extracapsular extension


C2 Palpable seminal vesicle involvement
D0 Clinically localized disease, with negative bone scan but elevated serum
acid phosphatase
D1 Pelvic lymph node metastases
12

D2 Bone metastases
D3 Hormone-refractory prostate cancer

II.9 Pemeriksaan pencitraan


1. USG Transrektal (TRUS)
Pada pemeriksaan USG transrektal dapat diketahui adanya area hipoekoik (60%) yang
merupakan salah satu tanda adanya kanker prostat dan sekaligus mengetahui kemungkinan
adanya ekstensi tumor ke akstrakapsuler. Selain itu dengan tuntunan USG dapat diambil
contoh jaringan pada area yang dicurigai keganasan melalui biopsi aspirasi dengan jarum
halus (BAJAH)
2. CT scan dan MRI
CT scan diperiksa jika dicurigai adanya metastasis pada limfonudi (N), yaitu pada pasien
yang menunjukkan skor Gleason tinggi (> 7) atau kadar PSA tinggi. Dibandingkan dengan
USG transrektal, MRI lebih akurat dalam menentukan luas ekstensi tumor ke
ekstrakapsuler atau ke vesikula seminalis.
3. Bone scan
Pemeriksaan sintigrafi pada tulang dipergunakan untuk mencari metastasis hematogen
pada tulang. Meskipun pemeriksaan ini cukup sensitif, tetapi beberapa kelainan tulang
juga memberikan hasil positip palsu, antara lain artritis degeneratif padsa tulang belakang,
penyakit Paget, setelah sembuh dari cedera patah tulang, atau adanya penyakit tulang yang
lain. Karena itu dalam hal ini perlu dikonfirmasikan dengan foto polos pada daerah yang
dicurigai.
II.10 Terapi
Tindakan yang dilakukan terhadap pasien kanker prostat tergantung pada stadium,
umur harapan hidup, dan derajat diferensiasinya.
1. Observasi
Ditujukan untuk pasien dalam stadium T1 dengan umur harapan hidup kurang dari 10
tahun.
2. Prostatektomi radikal
13

Pasien yang berada dalam stadium T1-2 N0 M0 adalah cocok untuk dilakukan
prostatektomi radikal yaitu berupa pengangkatan kelenjar prostat bersama dengan
vesikula seminalis. Hanya saja operasi ini dapat menimbulkan penyulit antara lain
perdarahan, disfungsi ereksi, dan inkontinensia. Tetapi dengan teknik nerve sparring
yang baik terjadinya kerusakan pembuluh darah dan saraf yang memelihara penis
dapat dihindari sehingga timbulnya penyulit berupa disfungsi ereksi dapat diperkecil.
3. Radiasi
Ditujukan untuk pasien tua atau pasien dengan tumor loko invasif dan tumor yang
telah mengadakan metastasis. Pemberian radiasi eksterna biasanya didahului dengan
limfadenektomi. Diseksi kelenjar imfe saat ini dapat dikerjakan memlaui bedah
laparoskopi di samping operasi terbuka.
4. Terapi hormonal
Pemberian terapi hormonal berdasarkan atas konsep daro Hugins yaitu: sel epitel
prostat akan mengalami atrofi jika sumber androgen ditiadakan. Sumber androgen
ditiadakan dengan cara pembedahan atau dengan medikamentosa. Meniadakan
sumber atau pengaruh androgen pada sel target disebut sebagai Androgen Deprivation
Therapy (ADT). Menurut Labrie, menghilangkan sumber androgen yang hanya
berasal dari testis belum cukup, karena masih ada sumber androgen dari kelenjar
suprarenal yaitu sebesar 10% dari seluruh testosteron yang beredar di dalam tubuh.
Untuk itu Labrie menganjurkan untuk melakukan bokade androgen total.
Tulang adalah tempat yang paling sering terjadinya metastasis kanker prostat;
kejadian metastasis kanker ini pada tulang 80%. Metastasis tulang menyebabkan
berbagai morbiditas, di antaranya adalah nyeri, kompresi korda spinalis, dan fraktur
patologis. Terapi kanker prostat stadium lanjut (termasuk yang sudah metastasis ke
tulang) adalah ADT. Namun keberhasilan ADT hanya 70-80% dengan median durasi
hingga 12-24 bulan. Salah satu akibat jangka panjang ADT adalah pada sistem 1.)
metabolisme (sensitifitas insulin menurun yang menyebabkan peningkatan kadar LDL
dan kolesterol) dan 2.) skeletal (di antaranya adalah meningkatnya turn over tulang,
densitas tulang atau bone mineral density (BMD) menurun, dan meningkatnya resiko
terjadinya fraktur). Untuk itu pada terapi ADT dianjurkan untuk selalu memantau
BMD.

14