Anda di halaman 1dari 22

HAKIKAT MEMBACA DAN MENULIS

A. Deskripsi Teoretis
1. Hakikat Membaca

Membaca merupakan keterampilan yang sangat penting untuk


dikuasai oleh
setiap individu. Tarigan (2008: 7), membaca adalah proses yang dilakukan
serta
digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak
disampaikan oleh
penulis melalui bahasa tulis. Somadyo (2011: 1), membaca merupakan
kegiatan
interaktif untuk memetik dan memahami makna yang terkandung dalam
bahan
tertulis. Lebih lanjut, dikatakan bahwa membaca merupakan proses yang
dilakukan
dan digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan
oleh
penulis.
Nuriadi (2008: 29), membaca adalah proses yang melibatkan aktivitas
fisik
dan mental. Salah satu aktivitas fisik dalam membaca adalah saat pembaca
menggerakkan mata sepanjang baris-baris tulisan dalam sebuah teks
bacaan.
Membaca melibatkan aktivitas mental yang dapat menjamin pemerolehan
pemahaman menjadi maksimal. Membaca bukan hanya sekadar
menggerakkan bola
mata dari margin kiri ke kanan tetapi jauh dari itu, yakni aktivitas berpikir
untuk
memahami tulisan demi tulisan.
Menurut Harjasujana (1996: 5), membaca adalah kemampuan yang
kompleks. Pembaca tidak hanya memandangi lambang-lambang tertulis
semata,
melainkan berupaya memahami makna lambang-lambang tertulis tersebut.
Rahim (2008: 2), membaca adalah aktivitas rumit yang melibatkan aktivitas
visual, berpikir,
psikolinguistik, dan metakognitif. Subyantoro (2011: 9), membaca
merupakan
keterampilan yang lambat laun akan menjadi perilaku keseharian seseorang.
Pembaca memiliki sikap tertentu, pada awal sebelum keterampilan
membaca ini
terbentuk.

Berdasarkan pengertian membaca yang dipaparkan di atas, penulis


sependapat dengan Tarigan, bahwa membaca merupakan proses yang
dilakukan serta
digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak
disampaikan penulis
melalui bahasa tulis. Dengan membaca, pembaca memperoleh banyak
manfaat.
Manfaat tersebut, yaitu dapat memperluas pengetahuannya dan menggali
pesanpesan
tertulis yang terdapat dalam bahan bacaan.
2. Tujuan Membaca
Kegiatan membaca bukan merupakan kegiatan yang tidak bertujuan.
Menurut Ahuja (2010: 15), merumuskan sembilan alasan seseorang
membaca.
Alasan tersebut adalah sebagai berikut.
a. Untuk tertawa.
b. Untuk menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman sehari-hari.
c. Untuk menikmati kehidupan emosional dengan orang lain.
d. Untuk memuaskan kepenasaran, khususnya kenapa orang berbuat
sesuatu
dengan cara mereka.
e. Untuk menikmati situasi dramatik seolah-olah mengalami sendiri.
f. Untuk memperoleh informasi tentang dunia yang kita tempati.
g. Untuk merasakan kehadiran orang dan menikmati tempat-tempat yang
belum
pernah kita lihat.
h. Untuk mengetahui seberapa cerdas kita menebak dan memecahkan
masalah dari
pengarang.
Menurut Anderson (via Tarigan, 2008: 9-11), terdapat 7 tujuan
membaca.
Ketujuh tujuan tersebut adalah sebagai berikut.
a. Memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for details or
facts).
b. Memperoleh ide-ide utama (reading for main ideas).
c. Mengetahui urutan atau susunan, organisasi cerita (reading for sequence
or
organization).
d. Membaca bertujuan untuk menyimpulkan isi yang terkandung dalam
bacaan
(reading for inference).
e. Mengelompokkan atau mengklasifikasikan jenis bacaan (reading to
classify).
f. Menilai atau mengevaluasi isi wacana atau bacaan (reading to evaluate).

g. Membandingkan atau mempertentangkan isi bacaan dengan kehidupan

nyata
(reading to compare or contrast).
Berbagai tujuan membaca yang dikemukakan di atas, merupakan
tujuantujuan
yang bersifat khusus. Tujuan membaca secara umum adalah memperoleh
informasi, mencakup isi, dan memahami makna yang terkandung dalam
bahan
bacaan. Dengan membaca, seseorang dapat memperluas wawasan dan
pengetahuan.
3. Jenis-Jenis Membaca
Ada beberapa jenis membaca yang dapat dilakukan oleh seseorang.
Ditinjau
dari segi terdengar atau tidaknya suara pembaca, proses membaca terbagi
atas
membaca nyaring dan membaca dalam hati. Tarigan (2008: 23), membaca
nyaring
adalah suatu aktivitas yang merupakan alat bagi guru, murid, atau pun
pembaca
bersama-sama dengan orang lain atau pendengar untuk menangkap serta
memahami informasi, pikiran, dan perasaan pengarang. Membaca dalam
hati adalah membaca dengan tidak bersuara. Lebih lanjut, dikatakan bahwa
membaca dalam hati dapat dibagi menjadi dua, yaitu (1) membaca ekstensif
dan (2) membaca intensif. Kedua jenis membaca ini, memiliki bagian-bagian
tersendiri. Pembagian tersebut adalah sebagai berikut.
a. Membaca ekstensif adalah membaca sebanyak mungkin teks bacaan

dalam
waktu sesingkat mungkin (Tarigan, 2008: 32). Tujuan membaca ekstensif
untuk
memahami isi yang penting dengan cepat secara efisien. Membaca ekstensif
meliputi, (1) membaca survai (survey reading), (2) membaca sekilas
(skimming), dan (3) membaca dangkal (superficial reading).
b. Membaca intensif (intensive reading) meliputi, membaca telaah isi dan

telaah
bahasa. Membaca telaah isi terbagi atas, (1) membaca teliti, (2) membaca
pemahaman, (3) membaca kritis, dan (4) membaca ide (Tarigan, 2008: 40).
Membaca telaah bahasa mencakup, membaca bahasa dan membaca sastra.
4. Kemampuan Membaca Pemahaman
a. Pengertian Membaca Pemahaman
Dalam membaca suatu teks bacaan, pembaca memerlukan
pemahaman

untuk dapat memperoleh informasi secara tepat. Yoakam via Ahuja (2010:
50),
membaca pemahaman merupakan membaca dengan cara memahami
materi bacaan
yang melibatkan asosiasi (kaitan) yang benar antara makna dan lambang
(simbol)
kata, penilaian konteks makna yang diduga ada, pemilihan makna yang
benar, organisasi gagasan ketika materi bacaan dibaca, penyimpanan
gagasan, dan
pemakaiannya dalam berbagai aktivitas sekarang atau mendatang.
Somadyo (2011: 10), membaca pemahaman merupakan proses
pemerolehan makna secara aktif dengan melibatkan pengetahuan dan
pengalaman
yang dimiliki oleh pembaca serta dihubungkan dengan isi bacaan. Terdapat
tiga hal
pokok dalam membaca pemahaman, yaitu:
1) pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki,
2) menghubungkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki dengan teks
yang
akan dibaca,
3) proses pemerolehan makna secara aktif sesuai dengan pandangan yang
dimiliki.
Berdasarkan definisi yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan
bahwa membaca pemahaman merupakan kegiatan membaca yang
dilakukan oleh seseorang
untuk memahami isi bacaan secara menyeluruh. Membaca pemahaman
dilakukan
dengan menghubungkan skemata atau pengetahuan awal yang dimiliki
pembaca dan
pengetahuan baru yang diperoleh saat membaca, sehingga proses
pemahaman
terbangun secara maksimal.
b. Proses Membaca Pemahaman
Kehidupan dan pertumbuhan manusia senantiasa dipengaruhi oleh kegiatan
belajar, karenanya hal tersebut perlu dikuasai melalui proses belajar. Begitu
pula
dengan kemampuan membaca. Menurut Harjasujana dan Mulyati (1996: 5),
mengemukakan beberapa hal yang berkaitan dengan proses membaca,
adalah sebagai
berikut.
1) Membaca sebagai suatu proses psikologis.
Psikologis berkaitan dengan mental dan kejiwaan seseorang. Menurut

Harjasujana dan Mulyati (1996: 6) hal-hal yang berkaitan dengan proses


membaca,
meliputi (1) intelegensi, (2) usia mental, (3) jenis kelamin, (4) tingkat sosial
ekonomi, (5) bahasa, (6) ras, (7) kepribadian, (8) sikap, (9) pertumbuhan
fisik, (10)
kemampuan persepsi, dan (11) tingkat kemampuan membaca.
2) Membaca sebagai proses sensoris.
Sensoris berkaitan dengan indera yang dimiliki oleh seseorang. Membaca
tidak dapat dipisahkan dari kenyataan bahwa awalnya, membaca merupakan
proses
sensoris. Isyarat dan rangsangan kegiatan membaca, pertama-tama masuk
melalui
telinga dan mata, sedangkan rangsangan huruf Braille masuk melalui syarafsyaraf
jari (Harjasujana dan Mulyati, 1996: 13).
3) Membaca sebagai proses perseptual.
Harjasujana dan Mulyati (1996: 15) secara umum, persepsi dimulai dengan
melihat, mendengar, mencium, mengecap, dan meraba. Dalam kegiatan
membaca,
pembaca cukup memperhatikan aspek penglihatan dan pendengaran.
Persepsi
umumnya mengandung stimulus, asosiasi makna, dan interpretasinya
berdasarkan
1) Membaca sebagai suatu proses psikologis.
Psikologis berkaitan dengan mental dan kejiwaan seseorang. Menurut
Harjasujana dan Mulyati (1996: 6) hal-hal yang berkaitan dengan proses
membaca,
meliputi (1) intelegensi, (2) usia mental, (3) jenis kelamin, (4) tingkat sosial
ekonomi, (5) bahasa, (6) ras, (7) kepribadian, (8) sikap, (9) pertumbuhan
fisik, (10)
kemampuan persepsi, dan (11) tingkat kemampuan membaca.
2) Membaca sebagai proses sensoris.
Sensoris berkaitan dengan indera yang dimiliki oleh seseorang. Membaca
tidak dapat dipisahkan dari kenyataan bahwa awalnya, membaca merupakan
proses
sensoris. Isyarat dan rangsangan kegiatan membaca, pertama-tama masuk
melalui
telinga dan mata, sedangkan rangsangan huruf Braille masuk melalui syarafsyaraf
jari (Harjasujana dan Mulyati, 1996: 13).
3) Membaca sebagai proses perseptual.
Harjasujana dan Mulyati (1996: 15) secara umum, persepsi dimulai dengan

melihat, mendengar, mencium, mengecap, dan meraba. Dalam kegiatan


membaca,
pembaca cukup memperhatikan aspek penglihatan dan pendengaran.
Persepsi
umumnya mengandung stimulus, asosiasi makna, dan interpretasinya
berdasarkan
14
pengalaman tentang stimulus itu, serta respon yang menghubungkan makna
dengan
stimulus atau lambang.
4) Membaca sebagai proses perkembangan.
Membaca merupakan proses perkembangan sepanjang hayat.
Perkembangan tersebut tidak akan diketahui kapan dimulai dan diakhiri. Dua
hal
yang perlu diperhatikan guru dalam mencamkan bahwa membaca sebagai
proses
perkembangan, yaitu (a) guru harus sadar bahwa membaca merupakan
sesuatu yang
diajarkan dan bukan terjadi secara insidental dan (b) meyakinkan bahwa
membaca
bukanlah suatu subjek melainkan suatu proses.
5) Membaca sebagai proses perkembangan keterampilan.
Dalam perkembangan keterampilan membaca, seorang pembaca harus
mengenal tahapan-tahapan atau tingkatan-tingkatan membaca. Menurut
Harjasujana
dan Mulyati (1996: 23), tahap-tahap keterampilan yang dapat dikembangkan
anak
dalam membaca, yaitu (a) perkembangan konsep, (b) pengenalan dan
identifikasi,
dan (c) interpretasi mengenai informasi.
5. Jenis Membaca Pemahaman
Membaca pemahaman pada dasarnya adalah suatu proses membaca untuk
membangun pemahaman. Dalam proses membaca ini, pembaca
menggunakan
beberapa jenis pemahaman. Pemahaman tersebut adalah pemahaman
literal,
interpretasi, kritis, dan kreatif (Somadyo, 2011: 19). Berikut ini, penjelasan
mengenai keempat jenis pemahaman tersebut.
15
a. Pemahaman Literal
Tingkatan membaca pemahaman yang pertama adalah pemahaman literal.
Nurhadi (2010: 57), membaca literal adalah kemampuan mengenal dan
menangkap

bahan bacaan yang tertera secara tersurat (eksplisit). Artinya, pembaca


hanya
menangkap informasi yang tersurat atau tampak jelas dalam bahan bacaan.
Pembaca
tidak menangkap informasi yang tersirat dalam bahan bacaan. Unsur-unsur
dalam
keterampilan membaca literal menurut Nurhadi (2010: 58), antara lain
sebagai
berikut.
1) Keterampilan mengenal kata.
2) Keterampilan mengenal kalimat.
3) Keterampilan mengenal paragraf.
4) Keterampilan mengenal unsur detail.
5) Keterampilan mengenal unsur perbandingan.
6) Keterampilan mengenal unsur urutan.
7) Keterampilan mengenal unsur hubungan sebab akibat.
8) Keterampilan menjawab pertanyaan: apa, siapa, kapan, dan di mana.
9) Keterampilan menyatakan kembali unsur perbandingan.
10) Keterampilan menyatakan kembali unsur urutan.
11) Keterampilan menyatakan kembali unsur sebab akibat.
b. Pemahaman Interpretasi
Tingkatan membaca pemahaman setelah pemahaman literal adalah
pemahaman interpretasi. Menurut Smith (via Ahuja, 2010: 55), pemahaman
16
interpretasi berkaitan dengan proses memperoleh makna implisit (tak
langsung)
terhadap sebuah teks.. Nuttall (via Somadyo, 2011: 22), membaca
interpretatif adalah
membaca antarbaris untuk membuat inferensi. Membaca interpretatif
merupakan
proses pelacakan gagasan yang disampaikan secara tidak langsung.
Membaca ini
meliputi pembuatan simpulan, misalnya tentang gagasan utama bacaan,
hubungan
sebab akibat, serta analisis bacaan seperti menemukan tujuan pengarang
menulis
bacaan, ringkasan isi bacaan, dan penginterpretasian bahasa figuratif.
Kedua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa membaca interpretasi
adalah membaca untuk mengetahui gagasan, ide, atau informasi yang
tersirat dalam
bacaan. Informasi yang tersirat dalam bacaan, dapat berupa simpulan,
menemukan
gagasan utama, menemukan hubungan sebab-akibat, dan menganalisis
bacaan.
c. Pemahaman Kritis
Tingkatan membaca pemahaman yang ketiga adalah kemampuan membaca

kritis. Pembacanya disebut pembaca kritis. Menurut Nurhadi (2010: 59),


kemampuan
membaca kritis merupakan kemampuan pembaca mengolah bahan bacaan
secara
kritis yang berupaya untuk menemukan keseluruhan makna bahan bacaan,
baik
makna tersurat maupun makna tersirat, melalui tahap mengenal,
memahami,
menganalisis, mensintesis, dan menilai. Seseorang dikatakan sebagai
pembaca kritis
apabila memiliki memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1) Kegiatan membaca sepenuhnya melibatkan kemampuan berpikir kritis.
2) Tidak begitu saja menerima, apa yang dikatakan pengarang.
3) Membaca kritis adalah usaha mencari kebenaran yang hakiki.
17
4) Membaca kritis selalu terlibat dengan permasalahan mengenai gagasan
dalam
bacaan.
5) Membaca kritis adalah mengolah bahan bacaan, bukan mengingat
(menghafal).
6) Hasil membaca untuk diingat dan diterapkan, bukan untuk dilupakan.
d. Pemahaman Kreatif
Tingkatan pemahaman membaca yang terakhir adalah pemahaman kreatif.
Kemampuan membaca kreatif merupakan tingkatan tertinggi dari
kemampuan
membaca seseorang. Menurut Nurhadi (2008: 60-61), dalam membaca
kreatif,
pembaca tidak hanya sekadar menangkap makna tersurat, makna
antarbaris, dan
makna di balik baris. Seseorang dikatakan memiliki pemahaman membaca
kreatif
jika dapat memenuhi kriteria sebagai berikut.
1) Kegiatan membaca tidak berhenti sampai pada saat menutup buku.
2) Mampu menerapkan hasil untuk kepentingan hidup sehari-hari.
3) Munculnya perubahan sikap dan tingkah laku setelah proses membaca
selesai.
4) Hasil membaca berlaku sepanjang masa.
5) Mampu menilai secara kritis dan kreatif bahan-bahan bacaan, dan mampu
memecahkan masalah kehidupan sehari-hari berdasarkan hasil bacaan yang
telah dibaca.
6. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Membaca Pemahaman
Banyak faktor yang mempengaruhi proses membaca pemahaman. Berikut
adalah beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi proses membaca
pemahaman

yang dikemukakan oleh para ahli. Syafiie (via Somadyo, 2011: 27), faktor
yang
18
mempengaruhi proses pemahaman siswa terhadap bahan bacaan adalah
penguasaan
struktur wacana atau teks bacaan.
Ahuja (2010: 70-71), faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi membaca
mencakup dua hal, yaitu faktor internal dan lingkungan. Faktor internal
adalah faktor
yang berasal dari dalam diri pembaca. Faktor internal meliputi, kemampuan
mendengar bunyi, cacat wicara, kebiasaan dalam membaca, dan tujuan
membaca.
Faktor lingkungan adalah faktor yang berasal dari luar diri pembaca. Faktor
ini
meliputi, penerangan atau pencahayaan, keterbacaan bahan bacaan, dan
motivasi
pembaca.
Dari pendapat di atas mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi
kemampuan membaca, penulis sependapat dengan pandangan Ahuja,
bahwa faktorfaktor
yang dapat mempengaruhi membaca pemahaman seseorang terbagi
menjadi
dua yaitu, faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor yang
berasal
dari dalam pembaca. Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar
pembaca.
Faktor internal meliputi kesehatan fisik, kebiasaan dalam membaca, dan
tujuan
dalam membaca, sedangkan faktor eksternal, meliputi keterbacaan teks, dan
motivasi
pembaca.
7. Tahap-Tahap Pelaksanaan Pembelajaran Membaca Pemahaman
Dalam pembelajaran membaca, guru hendaknya mendorong siswa untuk
dapat memahami berbagai bahan bacaan. Menurut Rahim (2008: 99), ada
tiga
tahapan dalam pelaksanaan pembelajaran membaca pemahaman. Ketiga
tahapan
membaca pemahaman tersebut adalah tahap prabaca, saat baca, dan
pascabaca.
19
a. Tahap Prabaca
Rahim (2008: 99), kegiatan prabaca adalah kegiatan pengajaran yang
dilaksanakan sebelum siswa melakukan kegiatan membaca. Fokus kegiatan
pembelajaran pada tahap prabaca adalah untuk membangkitkan skemata
siswa

tentang topik atau materi sehingga siswa dapat menggunakan pengetahuan


dan
pengalaman yang dimiliki. Skemata adalah latar belakang pengetahuan dan
pengalaman yang telah dimiliki siswa tentang suatu informasi atau konsep
tentang
sesuatu. Skemata menggambarkan sekelompok konsep yang tersusun dalam
diri
seseorang yang dihubungkan dengan objek, tempat-tempat, tindakan, atau
peristiwa.
Nuriadi (2008: 47), prabaca merupakan sebuah teknik membaca yang
memiliki tujuan menjadikan pembaca mengenal materi yang akan dibaca
secara
mendalam. Aktivitas membaca akan lebih mudah dilakukan dengan adanya
gambaran awal sehingga sangat membantu pembaca. Dengan melakukan
kegiatan
prabaca, seseorang akan lebih cepat dalam memahami materi yang dibaca.
b. Tahap Saat Baca
Setelah melakukan kegiatan prabaca, tahap selanjutnya adalah tahap saat
baca (during reading). Strategi yang dapat digunakan dalam tahap ini adalah
menggunakan strategi metakognitif. Menurut Burns (via Rahim, 2008: 102),
penggunaan strategi metakognitif secara efektif berpengaruh positif
terhadap
pemahaman. Lebih lanjut, dikatakan bahwa bagian dari proses metakognitif
adalah
memilih tipe tugas yang dibutuhkan untuk mencapai pemahaman. Pembaca
dapat
menanyakan pada dirinya sendiri, pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.
20
1) Apakah jawaban yang dibutuhkan terdapat dalam bahan bacaan? Jika ya,
pembaca dapat mencari kata kunci untuk menemukan jawaban tersebut.
2) Apakah teks tersebut mengimplikasikan jawaban dengan memberikan
petunjuk
yang jelas atau jawaban berdasarkan fakta-fakta yang terdapat dalam
bacaan,
sehingga pembaca dapat menentukan jawaban yang sesuai.
3) Apakah jawaban berasal dari pengetahuan dan gagasan pembaca, yang
berkaitan
dengan cerita? Apabila ya, pembaca harus menghubungkan isi bacaan
dengan
pengetahuan yang dimiliki, sehingga mendapatkan jawaban yang sesuai.
c. Tahap Pascabaca
Setelah melakukan kegiatan prabaca dan saat baca, tahap selanjutnya yang
harus dilakukan adalah tahap pascabaca. Burns (via Rahim, 2008: 105),
kegiatan

pascabaca digunakan untuk membantu siswa memadukan informasi baru


yang
dibacanya ke dalam skemata yang telah dimilikinya sehingga diperoleh
tingkat
pemahaman yang lebih tinggi. Kegiatan pascabaca dapat dikembangkan
dengan cara
(1) siswa diberikan kesempatan menemukan informasi lanjutan tentang
topik, (2)
siswa diberikan sejumlah pertanyaan tentang isi bacaan, (3) siswa diberikan
kesempatan mengorganisasikan materi yang akan dipresentasikan, dan (4)
siswa
diberikan kesempatan mengerjakan tugas-tugas untuk meningkatkan
pemahaman isi
bacaan.
21

HAKIKAT MENULIS
A. Konsep Menulis
Sebelum menulis, seorang penulis harus memahami konsep dasar menulis dengan
baik. Konsep dasar menulis terkait definisi menulis, tujuan menulis, ragam tulisan,
tahapan menulis, dan problem menulis harus dikuasai. Selanjutnya, penulis dapat
menuangkan gagasan dan perasaaannya melalui tulisan.
Definisi Menulis
Berikut ini definisi menulis dari DePorter dan Nurgiyantoro.
1. Menulis adalah aktivitas seluruh otak yang menggunakan belahan otak kanan
(emosional) dan belahan otak kiri (logika). Aktivitas otak kanan untuk keterampilan
menulis meliputi perencanaan, outline, tata bahasa, penyuntingan, penulisan
kembali, penelitian dan tanda baca, sedangkan aktivitas otak kiri yaitu semangat,
spontanitas, emosi, warna, imajinasi, gairah, ada unsur baru, dan kegembiraan.
Aktivitas dalam penulisan otak kiri dan otak kanan harus bekerjasama, berikut
gambar pemanfaatan kedua belahan otak kiri dan otak kanan dalam menulis
(DePorter, 2000:179).
2. Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang aktif, produktif,
kompleks, dan terpadu yang berupa pengungkapan dan yang diwujudkan secara
tertulis. Menulis juga merupakan keterampilan yang menuntut penulis untuk
menguasai berbagai unsur di luar kebahasaan itu sendiri yang akan menjadi isi
dalam suatu tulisan (Nurgiyantoro, 2001:271).
Untuk memantapkan pemahaman Anda tentang definisi menulis, carilah referensi
lain baik dari media cetak maupun elektronik! Dengan referensi lain, Anda
diharapkan dapat semakin memahami definisi menulis dari berbagai sudut
pandang.
Manfaat Menulis

Menulis memang memiliki kelebihan khusus. Widodo & Chasanah (1993)


menyatakan bahwa permasalahan yang rumit dapat dipaparkan secara jelas dan
sistematis melalui tulisan. Angka, tabel, grafik, dan skema dapat dipaparkan dengan
mudah melalui tulisan. Tulisan juga lebih mudah digandakan melalui bantuan
teknologi produksi. Karya-karya tulis memiliki daya bukti yang lebih kuat. Selain itu,
tulisan memiliki sifat permanen karena dapat disimpan dan lebih mudah diteliti
karena dapat diamati secara perlahan dan berulang-ulang.
Berikut ini manfaat menulis menurut Percy dan Komaidi.
1. Percy (dalam Nuruddin, 2011:2027) menyatakan enam manfaat menulis, yaitu
(a) sarana untuk mengungkapkan diri, (b) sarana untuk pemahaman,
(c) membantu mengembangkan kepuasan pribadi, kebanggaan, perasaan harga
diri, (d) meningkatkan kesadaran dan penyerapan terhadap lingkungan, (e)
keterlibatan secara bersemangat dan bukannya penerimaan yang pasrah, dan (f)
mengembangkan suatu pemahaman tentang sesuatu dan kemampuan
menggunakan bahasa.
2. Komaidi (2011, 910) memberikan enam manfaat menulis. Keenam manfaat
tersebut adalah (a) menimbulkan rasa ingin tahu dan melatih kepekaan dalam
melihat realitas kehidupan, (b) mendorong kita untuk mencari referensi lain,
misalnya buku, majalah, koran, jurnal, dan sejenisnya, (c) terlatih untuk menyusun
pemikiran dan argumen secara runtut, sistematis, dan logis, (d) mengurangi tingkat
ketegangan dan stres, (e) mendapatkan kepuasan batin terlebih jika tulisan
bermanfaat bagi orang lain melalui media massa, dan (e) mendapatkan popularitas
di kalangan publik.
Lebih lanjut, dijelaskan Nuruddin (2011:11) bahwa menulis dapat membuat
perasaan dan kesehatan yang lebih baik. Mengacu pada pendapat Dr. Pennebaker
bahwa menulis tentang pikiran dan perasaan terdalam tentang trauma yang dialami
menghasilkan suasana hati yang lebih baik, pandangan positif, dan kesehatan yang
lebih baik. Sementara itu, mengacu pada pendapat Fatimah Merisi bahwa menulis
dapat mengencangkan kulit di wajah dan membuat awet muda.
Tujuan Menulis
Setiap penulis memiliki tujuan dalam menuangkan pikiran/gagasan dan
perasaannya melalui bahasa tulis, baik untuk diri sendiri dan orang lain. Contoh
tujuan menulis untuk diri sendiri antara lain agar tidak lupa, agar rapi, untuk
menyusun rencana, dan untuk menata gagasan/pikiran. Bentuk tulisan tersebut
dapat dituangkan dalam buku harian, catatan perkuliahan, catatan rapat, catatan
khusus, dan sebagainya. Contoh tujuan menulis untuk orang lain antara lain untuk
menyampaikan pesan, berita, informasi kepada pembaca, untuk memengaruhi
pandangan pembaca, sebagai dokumen autentik, dan sebagainya.
Umumnya, terdapat dua kondisi penulis terkait tujuan menulis. Ada penulis yang
dengan sangat sadar terhadap dampak positif dan negatif terhadap apa yang
ditulis. Namun, ada juga penulis yang tidak menyadarinya kedua dampak tersebut.
Seorang penulis profesional memiliki kesadaran tinggi terhadap tujuan kegiatan
penulis. Seorang penulis amatir terkadang hanya sekadar menuangkan gagasannya
ke dalam wujud tulisan hanya untuk kepuasan dan tidak menyadari dampak pisitif
dan negatif dari apa yang sudah ditulisnya.
Bentuk Tulisan

Bentuk-bentuk tulisan, dapat juga disebut sebagai ragam, dapat diklasifikasi


berdasarkan sudut pandang kenyataan. Berikut ini bagan klasifikasi tulisan.

Gambar 1. Klasifikasi Tulisan

Proses Menulis
Menulis merupakan kegiatan yang membutuhkan proses untuk menghasilkan
tulisan. Dalam proses tersebut, menulis terdiri atas tahapan-tahapan kegiatan yang
harus dilalui hingga menghasilkan tulisan. Berikut ini pendapat para ahli tentang
proses menulis.
1. Graves 1975 (dalam Tompkins, 1994:8) menggambarkan proses menulis dalam
tahapan (a) pra-menulis, (b) saat menulis, dan (c) pasca menulis.
2. Tompkins (1994:7) menguraikan tahap-tahap proses menulis terdiri atas (a)
pramenulis, (b) pengonsepan, (c) revisi, (d) penyuntingan, dan (e) pemajangan.
3. DePorter (2000:195) mengemukakan proses menulis terdiri (a) persiapan, (b) draf
kasar, (c) berbagi, (d) memperbaiki, (e) penyuntingan, (f) penulisan kembali, dan (g)
evaluasi.
Dapat pula ditambahkan, bahwa kegiatan menulis terdiri atas tahapan-tahapan
yang sangat bergantung pada jenis tulisan. Secara umum, tahapan menulis terdiri
atas
(a) perencanaan, (b) pembuatan draf kasar, dan (c) penyuntingan. Secara
khusus, tahapan menulis sangat bergantung pada apa yang ditulis, misal
tahapan menulis opini terdiri atas (a) penggalian ide, (b) pendaftaran ide, (c)
pengurutan ide, (d) penyusunan draf tulisan, (e) perbaikan tulisan, (f)
pengkajian tulisan kembali, (g) pengulangan proses butir (e) dan (f) jika
diperlukan, dan (h) publikasi tulisan. Tahapan dalam proses kegiatan menulis
ini dijelaskan lanjut pada bagian berikutnya.
Ciri Kemampuan Menulis
Sebagai salah satu keterampilan/ kemahiran berbahasa selain membaca,
menyimak, dan berbicara, menulis harus dikuasai oleh pengguna bahasa. Kapan
seseorang dapat dikatakan terampil/mahir dalam menulis? Mosley (dalam Widodo &
Chasanah, 1993) menyatakan seseorang dapat dikatakan memiliki kemampuan
tulis tampak empat ciri berikut ini.
1. Dapat mengungkapkan informasi sarana bahasa melalui bentuk karangan
sebagai proses kognisi (reproduksi, organisasi/reorganisasi, cipta/kreasi).
2. Dapat mengungkapkan informasi bahasa melalui bentuk karangan yang
mengandung maksud/tujuan (latihan, emosional, informasi/referensial, persuasi,
hiburan, dsb.).
3. Dapat mengunggapkan informasi dengan menggunakan bahasa dalam bentuk
karangan sesuai pembaca atau untuk diri sendiri
4. Dapat mengungkapkan informasi dengan menggunakan bahasa dalam bentuk
karangan berupa wacana: dokumentatif, konstatif (naratif, deskriptif, keterangan),
dan eksploratif (interpretatif, eksposisi, argumentasi).
B. Jenis dan Komponen Tulisan
Jenis dan komponen tulisan pada materi ini difokuskan pada tulisan nonfiksi.
Sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya, klasifikasi tulisan nonfiksi terdiri
atas ilmiah dan populer. Bentuk tulisan ilmiah dapat berupa resume, makalah,
artikel, laporan penelitian [tugas akhir, skripsi, tesis, dan disertasi]), sedangkan
bentuk tulisan populer dapat berupa esai, kisah, petunjuk, biografi, resensi, dan
berita.

Berbagai bentuk-bentuk tulisan di atas, disusun atas komponen-komponen


pembentuknya. Komponen-komponen ini memiliki komposisi tertentu hingga
membentuk sebuah kesatuan tulisan. Misalnya makalah yang disusun atas halaman
sampul, daftar tabel dan gambar, daftar isi, pendahuluan, pembahasan, penutup,
daftar rujukan, dan lampiran.

Surat
Surat merupakan tulisan yang dimaksud untuk menyampaikan keinginan penulis
kepada pembaca. Jenis-jenis surat cukup beragam, misalnya surat permintaan,
surat penawaran, surat pribadi (surat izin, surat cinta, surat keluarga/sahabat),
surat peringatan, surat pesanan, surat lamaran kerja, surat perjanjian, surat jual
beli, surat jalan, surat sewa, surat ucapan belasungkawa, surat ucapan terima
kasih, dan surat ucapan selamat. Komponen surat bergantung pada maksud
ditulisnya surat, misalnya surat belasungkawa. Berikut ini komponen surat
belasungkawa dari sebuah instansi resmi.
1. Kepala surat/Kop surat
2. Tanggal surat
3. Alamat
4. Salam pembuka
5. Pembuka surat
6. Isi surat
7. Penutup surat
8. Salam penutup
9. Tanda tangan pengirim
10. Nama jabatan penandatangan surat
Resensi
Resensi adalah sebuah ulasan yang berisi pembicaraan tentang buku/film yang baru
terbit/dikeluarkan. Resensi buku dapat dijadikan sebagai pertimbangan bagi calon
pembeli buku. Resensi film dapat dijadikan sebagai pertimbangan bagi calon
penonton film. Resensi memiliki komponen tulisan berikut ini.
1. Judul resensi
2. Judul buku
3. Nama penulis
4. Penerbit
5. Cetakan
6. Tebal buku
7. Nilai keunggulan
8. Nilai kekurangan
9. Sasaran pembaca/penonton film
10. Saran kepada calon pembeli buku/penonton film
Opini
Opini adalah pendapat/pikiran/pendirian yang dapat ditulis melalui media teks
untuk disampaikan kepada orang lain melalui media cetak (khususnya majalah,
surat kabar) dan media elektronik. Opini ini bersifat persuasif, artinya dapat
memengaruhi, mengajak orang lain agar sejalan dengan pendapat/pikiran/pendirian
penulis melalui fakta, bukti yang disusun secara logis dan sistematis. Komponen
opini terdiri atas judul, nama penulis, uraian pendapat/pikiran/pendirian, dan profesi
penulis.
Selain jenis dan komponen tulisan di atas, kalian dapat menganalisis jenis dan
komponen dari tulisan ilmiah, missal resume, makalah, artikel, tugas akhir, skripsi,
tesis, dan disertasi, laporan penelitian) dan tulisan populer lain, missal biografi,
petunjuk, berita, editorial, feature, dan opini.

C. Asas Menulis dan Ciri Tulisan yang Baik


Asas-asas menulis dijelaskan oleh Nuruddin (2011:3946) dalam buku yang
berjudul Dasar-Dasar Penulisan. Dalam presentasinya, ia memberikan contoh
kalimat yang berbunyi Ayah orang ini adalah ayah anak saya yang ayahnya
sedang sakit diobati anak tetangga saya. Pada kalimat tersebut, siapakah orang
yang dimaksud? Berdasarkan contoh tersebut, kegiatan menulis memerlukan asasasas menulis yang dijelaskan berikut ini.
1. Kejelasan (clarity)
Asas kejelasan memberikan kemudahan bagi pembaca. Tulisan penulis dapat dibaca
dan dimengerti oleh pembaca. Tulisan tidak menimbulkan salah tafsir. Ide tidak
samar-samar atau kabur. Mengutip pendapat HW Fowler, asas kejelasan tampak
pada tulisan yang menggunakan kata umum, bukan kata khusus. Tulisan juga
bersifat konkret (bukan abstrak), tunggal (bukan panjang lebar), pendek (bukan
panjang), menggunakan bahasa sendiri (bukan bahasa asing).
2. Keringkasan (consiseness)
Asas keringkasan harus diperhatikan penulis agar tidak membuang-buang waktu
pembaca. Meskipun demikian, bukan berarti tulisan harus pendek, melainkan tidak
menggunakan bahasa yang berlebihan. TTidak menghamburkan kata secara
semena-mena, tidak mengulang, tak berputar-putar dalam menyampaikan gagasan.
3. Ketepatan (correctness)
Asas ketepatan dapat menyebabkan asumsi penulis mengalami titik kesamaan
dengan pembaca. Suatu penulisan harus dapat menyampaikan butir gagasan
kepada pembaca dengan kecocokan seperti yang dimaksud penulisnya. Artinya,
tidak terjadi kesalahan berasumsi hingga menimbulkan kesalahartian oleh
pembaca. Akibatnya, pesan penulis tidak dapat dipahami dengan baik oleh
pembaca.
4. Kesatupaduan (unity)
Kesatupaduan gagasan pokok dalam tiap paragraf harus diperhatikan menulis
dalam menguraikan gagasan/pikiran. Pembaca dimudahkan dalam menangkap ideide penulis. Ide-ide utama dapat dengan mudah ditangkap oleh pembaca dengan
bantuan ide-ide penjelas.
5. Pertautan (coherence)
Antarbagian tulisan harus bertautan satu sama lain (antar-alenia atau kalimat).
Tautan-tautan ini mempermudah pembaca untuk menangkap gagasan yang
disampaikan penulis.
6. Penegasan (emphasis)
Adanya penonjolan atau memiliki derajat perbedaan antarbagian dalam tulisan
memberikan kemudahan kepada pembaca dalam menangkap tekanan ide-ide
tertentu. Dengan demikian, ide-ide besar yang dimiliki penulis dapat dipahami
dengan baik oleh pembaca.

Asas-asas menulis di atas diharapkan membawa penulis menghasilkan tulisan yang


baik. Berikut ini ciri-ciri tulisan yang baik.
1. Memiliki kejujuran penulis
Kepribadian penulis sebenarnya tampak dari hasil menulis. Sikap jujur penulis
tampak dalam tulisan-tulisan yang dihasilkan. Sikap adil dalam merujuk pendapat
orang lain dengan mencatumkan rujukan tampak pada tulisan. Tidak ada unsur
kesengajaan dalam menjiplak tulisan-tulisan orang lain, kecuali faktor lupa yang
dapat dianggap sebagai suatu kewajaran.
2. Dihasilkan dari kerangka karangan
Karangan tulisan yang baik dihasilkan dari perencanaan yang baik pula.
Perencanaan karangan tulisan memberikan keleluasaan penulis dalam mendaftar,
mengurutkan, dan menuangkan gagasan yang dimiliki ke dalam bentuk tulisan.
Tidak ada gagasan yang tertinggal. Tidak ada pula lompatan-lompatan gagasan.
Tulisan menjadi sistematis dan gagasan mudah dipahami pembaca.
3. Kemenarikan tulisan
Kemenarikan tulisan dapat muncul dari kemasan judul dan isi bacaan. Prinsipprinsip penulisan judul harus dipatuhi penulis. Misalnya judul harus memcerminkan
isi karangan, jumlah kata yang proporsional, dan menumbuhkan rasa penasaran.
Ketertarikan pembaca akan memunculkan minat untuk membaca tulisan.
4. Kemurnian gagasan
Kemanarikan tulisan juga ditentukan oleh kemurnian gagasan/pikiran. Jika
gagasan/pikiran sudah banyak disampaikan oleh orang lain, akan muncul
kejenuhan, kebosanan, dan rasa basi bagi pembaca. Tulisan ini tidak memberikan
daya tarik yang cukup untuk dibaca.
Penulis dapat menuangkan gagasannya dari kejadian/peristiwa yang terjadi dalam
kehidupan nyata, berimajinasi, dan bersumber dari kajian pustaka dan
pengembangannya. Namun, perlu diingat bahwa pengangkatan gagasan/pikiran
yang bersumber dari tulisan orang lain memiliki konsekuensi. Penulis yang merujuk
pendapat penulis utama harus mencatumkan nama dan tahun dalam kegiatan
merujuk dan mencantumkan daftar rujukan (di saat lain, digunakan daftar pustaka)
di akhir tulisan. Penghargaan kepada penulis utama layak diberikan.
5. Memiliki gagasan/ide utama dan penjelas
Tulisan yang baik memiliki gagasan utama. Gagasan utama dikemas secara
deduktif, induktif, atau campuran. Gagasan utama ini diwujudkan melalui kalimat
utama. Gagasan utama ini dijelaskan oleh gagasan penjelas. Gagasan penjelas ini
diwujudkan melalui kalimat penjelas.
6. Kesatuan gagasan
Tulisan terdiri atas berbagai gagasan/pikiran, baik bersifat utama maupun penjelas.
Penulis bukan hanya menyebar dan menjabarkan gagasan, melainkan

harus menyatukan dengan baik. Kesatuan gagasan dapat memberikan pemahaman


yang baik kepada pembaca.
7. Keruntutan gagasan
Tulisan yang baik seharusnya memiliki keruntutun gagasan/pikiran yang baik.
Penulis bukan hanya menjabarkan gagasan dalam tulisan, melainkan harus menata
dan mengurutkan gagasan. Hal ini bertujuan untuk menyusun dan menentukan
urutan pemahaman pembaca sehingga menerima pesan penulis dengan baik.
8. Kohesi dan koheren
Hubungan keterikatan dalam tulisan mutlak diperlukan. Hubungan keterikatan ini
disebut koherensi dan kohesi. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, koherens adalah
hubungan logis antarkalimat sebuah paragraf. Hubungan logis ini dibangun untuk
menciptakan kesatuan makna. Kalimat-kalimat yang dirangkai dan dipisahkan
dengan tanda titik (.) ini memiliki hubungan yang dapat diterima dengan akal.
Hubungan ini erat kaitannya dengan makna sebagai bentuk kalimat penjelas dari
kalimat utama. Semakin erat dan logis hubungan kalimat akan semakin
mempermudah pemahaman pembaca atas rangkaian makna yang tersaji.
Kohesi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah keterikatan antarunsur
dalam struktur sintaksis atau struktur wacana dengan penanda konjugasi,
pengulangan, penyulihan, dan pelesapan. Selain memiliki hubungan logis
antarkalimat, paragraf memiliki keterikatan unsur-unsur pembangun sebagai
penanda. Unsur-unsur ini memiliki keterikatan erat karena merujuk pada acuan
kalimat sebelumnya. Jika koherensi mengacu pada rujukan makna, acuan kohesi
adalah unsur-unsur penanda struktur kalimat, misalkan Dia tetap berangkat sekolah
meskipun hujan.
9. Kelogisan
Kelogisan tulisan merupakan faktor mudah tidaknya tulisann diterima pembaca. Jika
tulisan dapat diterima akal, pembaca akan menuntaskan bacaan. Namun, jika
banyak ditemukan tulisan yang tidak dapat diterima akal, pembaca belum tentu
akan menuntaskan bacaan. Dengan demikian, sia-sia saja usaha penulis dalam
menyajikan gagasannya.
10. Penekanan
Dalam sebuah tulisan terdapat berbagai sebaran gagasan. Jika penulis hendak
memberikan perhatian khusus sebuah gagasan, dapat digunakan sebuah
penekanan. Penekanan pada bagian tertentu sebuah tulisan memberikan
kemudahan pembaca dalam menangkap gagasan yang dikhususkan oleh penulis.
11. Bahasa yang sesuai dengan kelompok pembaca
Kemampuan bahasa kelompok pembaca seharusnya menjadi perhatian bagi
penulis. Gagasan penulis jika disampaikan dengan bahasa yang tidak dipahami oleh
pembaca akan sia-sia. Setidaknya, penulis dapat memperkirakan kemampuan

sasaran pembaca tulisannya, misalnya (a) ditujukan untuk anak-anak, remaja, atau
dewasa atau (b) ditujukan untuk orang awam/di luar bidang yang digeluti.
12. Dipahami oleh kelompok pembaca
Ciri terakhir tulisan yang baik tentu harus dipahami oleh pembaca. Harapannya,
tiap gagasan yang dituangkan penulis dapat dipahami dengan baik oleh pembaca.
Jika tidak dapat dipahami, kerugian ditanggung penulis dan pembaca. Gagasan
penulis tidak dapat diterima pembaca dan pembaca mengalami kerugian materi
dan waktu.
D. Pengolahan Bahan Tulisan
Teknik Menulis Kutipan
Pengolahan bahan tulisan pada materi ini diperlukan dalam penulisan yang
menggunakan referensi lain. Pendapat, tabel, gambar, dan bagan milik orang lain
dapat diolah dengan benar sebagai rujukan untuk meningkatkan kualitas tulisan.
Hal ini dapat memperdalam kajian tulisan dengan menggunakan referensi dari
sumber lain, baik cetak maupun elektronik.
Praktik pengembangan kepribadian yang jujur, terbuka, dan lebih menghargai
karya/pikiran orang lain dapat dilihat pada hasil tulisan. Penulis secara adil merujuk
pendapat penulis lain dengan menambahkan sumber dan daftar rujukan/pustaka.
Sikap terbuka dan objektif dapat tumbuh melalui subjektivitas berbagai pendapat
hingga menumbuhkan pemikiran yang objektif. Sikap saling menghargai
antarpenulis pun tumbuh dengan baik.
Pengolahan bahan tulisan yang benar dapat menghindarkan penulis dari tindakan
plagiat. Tindakan copy-paste teks bukan perbuatan terlarang dalam menulis asal
dilakukan melalui teknik penulisan kutipan langsung. Tindakan copy-paste ide juga
bukan perbuatan terlarang dalam menulis asal dilakukan melalui penulisan kutipan
tidak langsung.
Pada bagian ini, dijelaskan dua hal dalam pengolahan bahan tulisan. Kedua hal ini
adalah (a) teknik menulis kutipan dan (b) teknis menulis daftar rujukan. Berikut
penjelasan keduanya.
Teknik menulis kutipan terdiri atas dua model, yaitu kutipan langsung dan tidak
langsung. Kutipan langsung berarti merujuk pada pendapat penulis lain melalui teks
aslinya (salin-tempel teks). Kutipan tidak langsung berarti merujuk pendapat penulis
lain melalui ide/gagasannya (salin-tempel ide). Berikut ini penjelasan keduanya.
1. Kutipan Langsung
Kegiatan kutipan langsung merupakan kegiatan copy-paste. Kewajiban atas
kegiatan copy-paste ini adalah mencatumkan sumber rujukan. Hal ini dilakukan
untuk memberi penghargaan kepada penulis aslinya. Kegiatan copy-paste memiliki
rasa bangga yang rendah bagi penulis.
Kutipan langsung ini memiliki tiga model, yaitu (a) kutipan ringkas kurang dari 40
kata, (b) kutipan 40 kata atau lebih, dan (c) kutipan yang sebagian dihilangkan.
Berikut ini penjelasan ketiga model kutipan tersebut dengan contoh teks di bawah
ini.

Sumber: Mangkunegara, A. P. 2007. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung: Rosda

Gambar 2 Kutipan Teks

a. Kutipan ringkas kurang dari 40 kata


Kutipan ini ditulis dengan menggunakan tanda kutip. Kutipan langsung ditulis persis
aslinya alias copy-paste teks. Kewajiban yang muncul karena tindakan ini adalah
mencantumkan nama belakang penulis, tahun terbit, dan halaman. Untuk
menghitung jumlah kata, dapat dituliskan dalam program Microsoft Word kalimatkalimat yang akan dikutip, lalu sortir kalimat tersebut. Perhatikan baris kiri bawah di
samping keterangan halaman, misal terdapat keterangan words: 13/499, artinya
jumlah kata yang disortir adalah 13, jumlah keseluruhan kata adalah 499. Contoh:
Mangkunegara (2007:86) menyatakan bahwa benefit adalah nilai keuangan
(moneter) langsung untuk pegawai yang secara cepat dapat ditentukan.
Model di atas ditulis dengan mencantumkan nama belakang penulis dengan huruf
kapital di awal, diikuti tahun dan halaman yang diberi tanda kurung dengan
pemisah tanda titik dua (:) tanpa spasi. Selain model di atas, dapat juga
menggunakan model berikut.
Benefit adalah nilai keuangan (moneter) langsung untuk pegawai yang secara
cepat dapat ditentukan (Mangkunegara, 2007:86).
Model di atas mencantumkan nama belakang penulis, tahun, dan halaman di dalam
tanda kurung. Nama belakang penulis ditulis huruf kapital diakhiri tanda koma (,)
diikuti spasi, lalu ditulis tahun, diikuti tanda titik dua (:) tanpa spasi dengan halaman
buku.
Catatan:
Tanda kutipan tunggal () digunakan di dalam tanda kutip (... "), misalkan
Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah "Ada hubungan yang erat antara rasa
'PD' seseorang dengan totalitas pembacaan puisi."
b. Kutipan Ringkas 40250 Kata
Kutipan ini ditulis dengan menggunakan spasi satu, menjorok ke dalam 1,27 cm
(satu kali tab), ditulis rata kanan-kiri. Contoh:

Mangkunegara (2009:86) memberikan penjelasan benefit yang lugas pada uraian


berikut ini.
Program benefit bertujuan untuk memperkecil turnover, meningkatkan modal kerja,
dan meningkatkan keamanan. Adapun kriteria program benefit adalah biaya,
kemampuan membayar, kebutuhan, kekuatan kerja, tanggung jawab, sosial, reaksi
kekuatan kerja, dan relasi umum. Sedangkan program pelayanan adalah laporan
tahunan untuk pegawai, adanya tim olah raga, kamar tamu pegawai, kafetaria
pegawai, surat kabar perusahaan, toko perusahaan, discount (potongan harga)
produk perusahaan, bantuan hukum, fasilitas ruang baca dan perpustakaan,
pemberian makan siang, adanya fasilitas medis, dokter perusahaan, tempat parkir,
ada program rekreasi atau darmawisata.
c. Kutipan Panjang dengan Sebagian Kalimat Dihilangkan
Kutipan ini ditulis dengan menggunakan tanda elipsis (...). Tanda ini digunakan
untuk menghilangkan bagian kalimat yang kurang diperlukan. Contoh:
Program benefit bertujuan untuk memperkecil turnover, meningkatkan modal
kerja, dan meningkatkan keamanan. ... . Sedangkan program pelayanan adalah
laporan tahunan untuk pegawai, adanya tim olah raga, kamar tamu pegawai,
kafetaria pegawai, surat kabar perusahaan, toko perusahaan, discount (potongan
harga) produk perusahaan, bantuan hukum, fasilitas ruing baca dan perpustakaan,
pemberian makan siang, adanya fasilitas medis, dokter perusahaan, tempat parkir,
ada program rekreasi atau darmawisata (Mangkunegara, 2009:86).
Perhatikan penggunanaan tanda elipsis di atas! Untuk menghilangkan sebagian
kalimat, tanda elipsis ditulis dengan menggunakan tanda titik (.) sebanyak tiga.
Untuk titik ke empat, merupakan penanda akhir kalimat.
2. Kutipan Tidak Langsung
Kutipan tidak langsung merupakan tindakan copy-paste ide. Kutipan ini ditulis
dengan kalimat yang berbeda dengan kalimat aslinya tanpa mengubah ide. Artinya
penulis dapat merangkai kalimat sendiri yang berbeda dengan kalimat yang ditulis
penulis aslinya. Contoh:
Mangkunegara (2007:86) menyatakan bahwa benefit adalah nilai keuangan untuk
pegawai dapat ditentukan dengan cepat.
Benefit adalah nilai keuangan untuk pegawai dapat ditentukan dengan cepat
(Mangkunegara, 2007:86).