Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

Kemajuan

dalam

bidang

ilmu

pengetahuan

dan

teknologi

dapat

mempermudah segala kegiatan di bidang industri. Penerapan teknologi dapat


mempermudah segala kegiatan kerja dalam proses produksi dan meningkatkan
produktivitas perusahaan. Selain memberikan dampak positif berupa keuntungan
ekonomik, maka kemajuan teknologi juga menimbulkan dampak negatif yaitu dapat
meningkatkan potensi bahaya (hazard) yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan
dan keselamatan kerja, hazard tesebut dapat berupa fisik, kimia, ergonomik, dan
psikologik.
Salah satu hazard berupa fisik di tempat kerja adalah kebisingan. Secara
umum kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan. Data survei Multi Center
Study di Asia Tenggara, Indonesia termausk 4 negara dengan prevalensi ketulian
yang cukup tinggi yaitu 4.6%, sedangkan 3 negara lainnya yakni Sri Lanka (8,8%),
Myanmar (8,4%) dan India 6,3%). Angka prevalensi sebesar 4,6% tergolong cukup
tinggi, sehingga dapat menimbulkan masalah sosial di tengah masyarakat. Menurut
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) diperkirakan pada tahun 2000 terdapat 250 juta
penduduk dunia menderita gangguan pendengaran dan 75 juta - 140 juta diantaranya
terdapat di Asia Tenggara. Berdasarkan Survei Kesehatan Indera Tahun 1993 - 1996
yang dilaksanakan di 8 Provinsi Indonesia menunjukkan prevalensi morbiditas
telinga, hidung dan tenggorokan (THT). Angka prevalensi tersebut sebesar 38,6%,
morbiditas telinga 18,5%, gangguan pendengaran 16,8% dan ketulian 0,4%.(1)
Menurut KepMenNaker No.51 tahun 1999 dan KepMenKes No.1405 tahun
2002, kebisingan yang dapat diterima oleh tenaga kerja tanpa mengakibatkan
penyakit atau gangguan kesehatan dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak

melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu yaitu 85 dB (A). (1) Gangguan
pendengaran akibat bising atau Noise Induced Hearing Loss (NIHL) adalah tuli saraf
yang terjadi akibat terpapar oleh bising yang cukup keras dan dalam jangka waktu
yang cukup lama. (2)
Banyak hal yang mempermudah seseorang menjadi tuli akibat terpajan bising,
antara lain intensitas bising yang lebih tinggi, berfrekuensi tinggi, lebih lama terpapar
bising, mendapat pengobatan yang bersifat racun (ototoksik) seperti streptomisin,
kanamisin, garamisin (golongan aminoglikosida), kina, asetosal, dan lain-lain.(3)
Mengingat besarnya masalah tersebut dan pentingnya kesehatan indera
pendengaran sebagai salah satu faktor penting dalam meningkatkan mutu sumber
daya manusia, maka diperlukan adanya perhatian yang lebih terhadap masalah
kesehatan indera pendengaran khususnya tuli akibat pemajanan bising (TAB/NIHL).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Telinga


2.1.1. Telinga Luar
Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran timpani.
Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf
S, dengan rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga
bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2,5 3 cm. Pada
sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen (modifikasi
kelenjar keringat) dan rambut. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang
telinga. Pada duapertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen.(4)

Gambar 2.1 Anatomi Telinga (4)


3

Sendi temporomandibularis dan kelenjar parotis terletak di depan terhadap liang


telinga sementara prosesus mastoideus terletak dibelakangnya. Saraf fasialis
meninggalkan foramen stilomastoideus dan berjalam ke lateral menuju prosesus
stilodeus di posteroinferior liang telinga, dan berjalan dibawah liang telinga untuk
memasuki kelenjar parotis.(5)
2.1.2. Telinga Tengah
Telinga tengah adalah rongga berisi udara di dalam tulang temporalis yang
terbuka melalui tuba auditorius (eustachius) ke nasofaring dan melalui nasofaring
keluar. Tuba biasanya tertutup, tetapi selama mengunyah, menelan, dan menguap
saluran ini terbuka, sehingga tekanan di kedua sisi gendang telinga seimbang.(5)

Gambar 2.2. Membran timpani (5)


Telinga tengah berbentuk kubus dengan batas luar yaitu membran timpani, batas
depan yaitu tuba eustachius, batas bawah yaitu vena jugularis (bulbus jugularis),

batas belakang yaitu aditus ad antrum, kanalis facialis pars vertikalis. Batas atas yaitu
tegmen timpani (meningen/ otak), dan batas dalam berturut-turut dari atas kebawah
yaitu kanalis semisirkularis horizontal, kanalis facialis, tingkap lonjong (oval
window), tingkap bundar (round window) dan promontorium.(4)
Di dalam telinga tengah terdapat tulang-tulang pendengaran yang tersusun dari
luar ke dalam, yaitu maleus, inkus dan stapes. Tulang pendengaran di dalam telinga
saling berhubungan. Prosesus longus maleus melekat pada inkus, dan inkus melekat
pada stapes. Stapes terletak pada tingkap lonjong yang berhubungan dengan koklea.
Hubungan antar tulang-tulang pendengaran merupakan persendian. Pada pars flaksida
terdapat daerah yang disebut atik. Di tempat ini terdapat aditus ad antrum, yaitu
lubang yang menghubungkan telinga tengah dengan antrum mastoid. (4) Tuba
eustachius termasuk dalam telinga tengah yang menghubungkan daerah nasofaring
dengan telinga tengah.(5)
2.1.3. Telinga Dalam
Labirin (telinga dalam) mengandung organ pendengaran dan keseimbangan,
terletak pada pars petrosa os temporal. Labirin terdiri dari labirin bagian tulang dan
labirin bagian membran. Labirin bagian tulang terdiri dari kanalis semisirkularis,
vestibulum dan koklea. Labirin bagian membran terletak didalam labirin bagian
tulang, dan terdiri dari kanalis semisirkularis, utrikulus, sakulus, sakus dan duktus
endolimfatikus serta koklea.(6)
Bagian vestibulum telinga dalam dibentuk oleh sakulus, utrikulus dan kanalis
semisirkularis. Utrikulus dan sakulus mengandung makula yang diliputi oleh sel-sel
rambut. Lapisan ini adalah suatu lapisan gelatinosa yang ditembus oleh silia, dan
pada lapisan ini terdapat pula otolit yang mengandung kalsium dan dengan berat jenis
yang lebih besar daripada endolimfe. Karena pengaruh gravitasi, maka gaya dari

otolit akan membengkokkan silia sel-sel rambut dan menimbulkan rangsangan pada
reseptor.(6)

Gambar 2.3 Vestibulum(6)


Sakulus berhubungan dengan utrikulus melalui suatu duktus sempit yang juga
merupakan saluran menuju sakus endolimfatikus. Makula utrikulus terletak pada
bidang yang tegak lurus terhadap makula sakulus. Ketiga kanalis semisirkularis
bermuara pada utrikulus. Masing-masing kanalis mempunyai suatu ujung yang
melebar membentuk ampula dan mengandung sel-sel rambut krista. Sel-sel rambut
menonjol pada suatu kupula gelatinosa. Gerakan endolimfe dalam kanalis
semisirkularis akan menggerakkan kupula yang selanjutnya akan membengkokkan
silia sel-sel rambut krista dan merangsang sel rambut reseptor.(6)

Gambar 2.4 Anatomi Telinga Dalam(6)


Koklea melingkar seperti rumah siput dengan dua dan satu-setengah putaran.
Aksis dari spiral tersebut dikenal sebagai modiolus, berisi berkas saraf dan suplai
arteri dari arteri vertebralis. Serabut saraf kemudian berjalan menerobos suatu lamina
tulang yaitu lamina spiralis oseus untuk mencapai sel-sel sensorik organ corti.
Rongga koklea bertulang dibagi menjadi tiga bagian oleh duktus koklearis yang
panjangnya 35 mm dan berisi endolimfe. Bagian atas adalah skala vestibuli, berisi
perilimfe dan dipisahkan dari duktus koklearis oleh membrana Reissner yang tipis.
Bagian bawah adalah skala timpani juga mengandung perilimfe dan dipisahkan dari
duktus koklearis oleh lamina spiralis oseus dan membrana basilaris. Perilimfe pada
kedua skala berhubungan pada apeks koklea spiralis tepat setelah ujung buntu duktus
koklearis melalui suatu celah yang dkenal sebagai helikotrema. Membrana basilaris
sempit pada basisnya (nada tinggi) dan melebar pada apeks (nada rendah).(5)
Organ corti adalah organ reseptor yang membangkitkan impuls saraf sebagai
respon terhadap getaran membrana basiler. Organ corti terletak pada permukaan serat
basilar dan membrana basilar. Terdapat dua tipe sel rambut yang merupakan reseptor
sensorik yang sebenarnya dalam organ corti yaitu baris tunggal sel rambut interna,
7

berjumlah sekitar 3500 dan dengan diameter berukuran sekitar 12 mikrometer, dan
tiga sampai empat baris rambut eksterna, berjumlah 12.000 dan mempunyai diameter
hanya sekitar 8 mikrometer. Basis dan samping sel rambut bersinaps dengan jaringan
akhir saraf koklearis. Sekitar 90 sampai 95 persen ujung-ujung ini berakhir di sel-sel
rambut bagian dalam, yang memperkuat peran khusus sel ini untuk mendeteksi suara.
Serat-serat saraf dari ujung-ujung ini mengarah ke ganglion spiralis corti yang
terletak didalam modiolus (pusat) koklea.(5)

2.2. Fisiologi Pendengaran


Gelombang suara yang memasuki telinga melalui kanalis auditorius eksterna
menggetarkan membran timpani. Getaran ini akan diteruskan oleh tulang-tulang
pendengaran (maleus, incus, dan stapes) di rongga telinga tengah. Selanjutnya,
getaran ini akan diterima oleh "oval window" dan diteruskan ke rongga koklea serta
dikeluarkan lagi melalui "round window". Rongga koklea terbagi menjadi tiga
ruangan, yaitu skala vestibuli, skala tympani dan skala perilimfe dan endolimfe.
Antara skala tympani dan skala medial terdapat membran basilaris, sel-sel rambut dan
serabut afferen dan efferen nervus cochlearis. Getaran suara tadi akan menggerakkan
membrana basilaris, dimana nada tinggi diterima di bagian basal dan nada rendah
diterima di bagian apeks. Akibat gerakan membrana basilaris maka akan
menggerakkan sel-sel rambut sensitif di dalam organ corti.(7)
Organ corti kemudian merubah getaran mekanis di dalam telinga dalam
menjadi impuls saraf. Impuls ini kemudian dihantar melalui akson atau cabang saraf
sel-sel ganglion pada ganglion spiralis telinga dalam. Akson dari ganglion spiralis
menyatu, membentuk nervus auditorius atau koklearis yang membawa impuls dari
sel-sel di dalam organ corti telinga dalam ke otak untuk diinterpretasi.(6)

2.2.1. Pola Getaran Membran Basiler Untuk Frekuensi Suara Yang Berbeda

Gambar 2.5 Pola getaran membran basiler untuk frekuensi suara yang berbeda (7)
Terdapat perbedaan pola tranmisi untuk gelombang suara dengan frekuensi
suara yang berbeda. Setiap gelombang relatif lemah pada permulaan tetapi menjadi
kuat ketika mencapai bagian membran basilar yang mempunyai keseimbangan
resonansi frekuensi alami terhadap masing-masing frekuensi suara. Pada titik ini,
membran basilar dapat bergetar ke belakang dan ke depan dengan mudahnya
sehingga energi dalam gelombang dihamburkan. Akibatnya, gelombang berhenti pada
titik ini dan gagal berjalan sepanjang membran basilar yang tersisa. Jadi gelombang
suara frekuensi tinggi hanya berjalan singkat sepanjang membran basilar sebelum
gelombang mencapai titik resonansinya dan menghilang. Gelombang suara frekuensi
sedang berjalan sekitar setengah perjalanan dan kemudian menghilang. Dan akhirnya,
gelombang suara frekuensi sangat rendah menjalani seluruh jarak sepanjang
membran basilar.(8)

2.3. Mekanisme Pendengaran Sentral


2.3.1. Jaras Pendengaran
Gambar 2.6 menggambarkan jaras pendengaran utama. Jaras ini menunjukkan
bahwa serabut dari ganglion spiralis corti memasuki nukleus koklearis dorsalis dan
ventralis yang terletak pada bagian atas medula. Pada titik ini, semua sinaps serabut
dan neuron berjalan terutama ke sisi yang berlawanan dari batang otak dan berakhir
di nukleus olivarius superior. Beberapa serat juga berjalan secara ipsilateral ke
nukleus olivarius superior, jaras pendengaran kemudian berjalan ke atas melalui
lemniskus lateral. Beberapa serat berakhir di nukleus lemniskus lateralis. Banyak
yang memintas nukleus ini dan berjalan ke kolikulus inferior, tempat semua atau
hampir semua serat ini berakhir. Dari sini, jaras berjalan ke nukleus medial thalamus,
tempat semua serabut bersinaps. Dan akhirnya, jaras berlanjut melalui radiasio
auditorius ke korteks auditorius, yang terutama terletak pada girus superior lobus
temporalis.(8)
2.3.2 Aspek Klinis Jalur Pendengaran
Kerusakan pada duktus koklearis atau nervus koklearis dapat mengakibatkan
menurunnya kemampuan atau hilangnya pendengaran pada telinga pada sisi yang
sama. Suatu lesi yang mengenai satu lemniskus lateralis dapat menimbulkan
penurunan kemampuan pendengaran (tuli parsial) secara bilateral, yang lebih berat
akibatnya pada telinga kontralateral.(8)

10

Gambar 2.6 Jaras Pendengaran (8)

11

2.4. Bising
2.4.1. Definisi
Kebisingan diartikan sebagai suara yang tidak dikehendaki, misalnya yang
merintangi terdengarnya suara-suara, musik dan sebagainya atau yang menyebabkan
rasa sakit atau yang menghalangi gaya hidup.(9) Kebisingan yaitu bunyi yang tidak
diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat
menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan (10) atau
semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi
dan atau alat-alat kerja pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan
pendengaran.(11)
2.4.2. Baku Tingkat Kebisingan
Baku tingkat kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang
diperbolehkan dibuang ke lingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak
menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Baku
tingkat kebisingan (Nilai Ambang Batas, NAB) peruntukan kawasan/lingkungan
dapat dilihat pada tabel dibawah ini (9) :
Tabel 2.1 Baku tingkat kebisingan (Nilai Ambang Batas, NAB) peruntukan
kawasan/lingkungan (9)
No
1

Peruntukan kawasan / lingkungan kegiatan

Tingkat
kebisingan (dB)

Peruntukan Kawasan
Perumahan dan pemukiman

55

Perdagangan dan jasa

70

Perkantoran dan perdagangan

65

12

2
3

Ruang terbuka hijau

50

Industri

70

Pemerintahan dan fasilitas umum

60

Rekreasi

70

Khusus :- Bandar udara- Stasiun Kereta Api Pelabuhan Laut- Cagar Budaya

70

Lingkungan Kegiatan
Rumah Sakit atau sejenisnya

55

Sekolah dan sejenisnya

55

Tempat ibadah dan sejenisnya

55

2.5. Tuli Akibat Bising


2.5.1. Definisi
Tuli akibat bising (TAB) adalah tuli gangguan pendengaran yang disebabkan
oleh terpajan bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama, dan
biasnya diakibatkan oleh bising lingkungan kerja. (3) Sifat ketuliannya adalah tuli
sensorineural koklea dan umumnya terjadi pada kedua telinga.(3,11)
2.5.2. Faktor yang Mempengaruhi
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemaparan kebisingan yaitu intensitas
kebisingan, frekuensi kebisingan, lamanya waktu pemaparan bising, kerentanan
individu, jenis kelamin, usia dan kelainan di telinga tengah.(11,12) Tuli sensorineural

13

dapat disebabkan oleh toksin (seperti arsen dan quinine) dan antibiotika seperti
streptomisin yang dapat merusak koklea.(8)

2.5.3. Patogenesis
Tuli akibat bising mempengaruhi organ Corti di koklea terutama sel-sel rambut.
Daerah yang pertama terkena adalah sel-sel rambut luar yang menunjukkan adanya
degenerasi yang meningkat sesuai dengan intensitas dan lama paparan. Stereosilia
pada sel-sel rambut luar menjadi kurang kaku sehingga mengurangi respon terhadap
stimulasi. Dengan bertambahnya intensitas dan durasi paparan akan dijumpai lebih
banyak kerusakan seperti hilangnya stereosilia. Daerah yang pertama kali terkena
adalah daerah basal. Dengan hilangnya stereosilia, sel-sel rambut mati dan digantikan
oleh jaringan parut. Semakin tinggi intensitas paparan bunyi, sel-sel rambut dalam
dan sel-sel penunjang juga rusak. Dengan semakin luasnya kerusakan pada sel-sel
rambut, dapat timbul degenerasi pada saraf yang juga dapat dijumpai di nukleus
pendengaran pada batang otak.(12)
2.5.4. Gambaran Klinis
Tuli akibat bising dapat mempengaruhi diskriminasi dalam berbicara (speech
discrimination) dan fungsi sosial. Gangguan pada frekuensi tinggi dapat
menyebabkan kesulitan dalam menerima dan membedakan bunyi konsonan. Bunyi
dengan nada tinggi, seperti suara bayi menangis atau deringan telepon dapat tidak
didengar sama sekali. Ketulian biasanya bilateral. Selain itu tinitus merupakan gejala
yang sering dikeluhkan dan akhirnya dapat mengganggu ketajaman pendengaran dan
konsentrasi.(12)

14

Secara umum gambaran ketulian pada tuli akibat bising (noise induced hearing
loss) adalah bersifat sensorineural, hampir selalu bilateral, jarang menyebabkan tuli
derajat sangat berat (profound hearing loss).(12,13) Secara klinis pajanan bising pada
organ pendengaran dapat menimbulkan reaksi adaptasi, peningkatan ambang dengar
sementara (temporary threshold shift) dan peningkatan ambang dengar menetap
(permanent threshold shift). Reaksi adaptasi merupakan respons kelelahan akibat
rangsangan oleh bunyi dengan intensitas 70 dB atau kurang, keadaan ini merupakan
fenomena fisiologis pada saraf telinga yang terpajan bising.(3)
Peningkatan ambang dengar sementara, merupakan keadaan terdapatnya
peningkatan ambang dengar akibat pajanan bising dengan intensitas yang cukup
tinggi. Pemulihan dapat terjadi dalam beberapa menit atau jam. Jarang terjadi
pemulihan dalam satuan hari. Peningkatan ambang dengar menetap, merupakan
keadaan dimana terjadi peningkatan ambang dengar menetap akibat pajanan bising
dengan intensitas sangat tinggi (explosif) atau berlangsung lama yang menyebabkan
kerusakan pada berbagai struktur koklea, antara lain kerusakan organ Corti, sel-sel
rambut, stria vaskularis, dan lainnya.(3)
Derajat ketulian berkisar antara 40 sampai 75 dB. Apabila paparan bising
dihentikan, tidak dijumpai lagi penurunan pendengaran yang signifikan, kerusakan
telinga dalam mula-mula terjadi pada frekuensi 3000, 4000 dan 6000 Hz, dimana
kerusakan yang paling berat terjadi pada frekuensi 4000 Hz, dengan paparan bising
yang konstan, ketulian pada frekuensi 3000, 4000 dan 6000 Hz akan mencapai
tingkat yang maksimal dalam 10 15 tahun.(12)
Selain pengaruh terhadap pendengaran (auditory), bising yang berlebihan juga
mempunyai pengaruh non auditory seperti pengaruh terhadap komunikasi wicara,
gangguan konsentrasi, gangguan tidur sampai memicu stress akibat gangguan
pendengaran yang terjadi.(12)

15

2.5.5. Penegakan Diagnosis


Gangguan pendengaran yang terjadi akibat bising ini dapat ditegakkan dengan
anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan audiometri, dan lain-lain.

2.5.5.1 Anamnesis
Pada anamnesis biasanya mula-mula pekerja mengalami kesulitan berbicara di
lingkungan yang bising, jika berbicara biasanya mendekatkan telinga ke orang yang
berbicara, berbicara dengan suara menggumam, biasanya marah atau merasa
keberatan jika orang berbicara tidak jelas, dan sering timbul tinitus. Biasanya pada
proses yang berlangsung perlahan-lahan ini, kesulitan komunikasi kurang dirasakan
oleh pekerja bersangkutan; untuk itu informasi mengenai kendala komunikasi perlu
juga ditanyakan pada pekerja lain atau pada pihak keluarga.(2,12)
2.5.5.2 Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik, tidak tampak kelainan anatomis telinga luar sampai
gendang telinga. Pemeriksaan telinga, hidung, dan tenggorokan perlu dilakukan
secara lengkap dan seksama untuk menyingkirkan penyebab kelainan organik yang
menimbulkan gangguan pendengaran seperti infeksi telinga, trauma telinga karena
agen fisik lainnya, gangguan telinga karena agen toksik dan alergi. Selain itu
pemeriksaan saraf pusat perlu dilakukan untuk menyingkirkan adanya masalah di
susunan saraf pusat yang (dapat) menggangggu pendengaran.(14)
2.5.5.3 Tes Penala
Pada tes penala didapatkan hasil Rinne positif, terdapat lateralisasike telinga
yang pendengarannya lebih baik pada tes Weber, dan didapatkan tes Swabach
memendek dengan kesan tuli sensorineural.(12)

16

2.5.5.4 Pemeriksaan Audiometri Nada Murni


Pada pemeriksaan ini sering didapatkan tuli sensorineural pada frekuensi antara
3000-6000 Hz dan pada frekuensi 4000 Hz sering terdapat takik (notch) yang
patognomonik untuk jenis ketulian ini.(12)

2.5.5.5 Pemeriksaan Audiometri Tutur


Peningkatan sensitivitas telinga yang tuli terhadap kenaikan kecil intensitas
bunyi pada frekuensi tertentu setelah ambang dengar yang ada terlewati sehingga
telinga terasa nyeri jika suara ditinggikan.(13)
2.5.5.6 Evoked Otoacoustic Emission
Pemeriksaan ini dapat mendeteksi dini tuli akibat bising melalui deteksi
kerusakan sel rambut luar.(13)
2.5.6

Penatalaksanaan
Sesuai dengan penyebab ketulian, penderita sebaiknya dipindahkan kerjanya

dari lingkungan bising. Bila tidak mungkin dipindahkan dapat dipergunakan alat
pelindung telinga terhadap bising, seperti sumbat telinga (ear plug), tutup telinga
(ear muff) dan pelindung kepala (helmet).(3)
Oleh karena itu tuli akibat bising adalah tuli sensorineural yang bersifat
menetap, bila gangguan pendengaran sudah mengakibatkan kesulitan berkomunikasi
dengan volume percakapan biasa, dapat dicoba pemsangan alat bantu dengar/ ABD
(hearing aid). Apabila pendengaran sudah sedemikian buruk, sehingga dengan
memakai ABD pun tidak dapat berkomunikasi dengan adekuat perlu dilakukan
psikoterapi agar dapat menerima keadaannya. Latihan pendengaran (auditory
training) agar dapat menggunakan sisa pendengara dengan ABD secara efisien
dibantu dengan membaca ucapan bibir (lip reading), mimik dan gerakan anggota
17

badan, serta bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi. Di samping itu, oleh karena
pasien mendengar suaranya sendiri sangat lemah, rehabilitasi suara juga diperlukan
agar dapat mengendalikan volume, tinggi rendah dan irama percakapan. Pada pasien
yang telah mengalami tuli total bilateral dapat dipertimbangkan untuk pemasangan
implan koklea (cochlear implant).(3)
2.5.7

Prognosis
Tuli akibat terpapar bising adalah tuli sensorineural koklea yang sifatnya

menetap, dan tidak dapat diobati dengan obat maupun pembedahan. Penggunaan alat
bantu dengar hanya sedikit manfaatnya bagi pasien, bahkan alat tersebut hanya
memberikan rangsangan vibrotaktil dan bukannya perbaikan diskriminasi bicara pada
pasien tersebut. Untuk sebagian pasien dianjurkan pemakaian implan koklearis.
Implan koklearis dirancang untuk pasien-pasien dengan tuli sensorineural.(14)

18

BAB III
PENUTUP

Kebisingan diartikan sebagai suara yang tidak dikehendaki, misalnya yang


merintangi terdengarnya suara-suara, musik dan sebagainya atau yang menyebabkan
rasa sakit atau yang menghalangi gaya hidup. Kebisingan ini dapat menyebabkan
gangguan pendengaran berupa tuli. Tuli akibat bising (TAB) adalah tuli sensorineural
yang terjadi akibat terpapar oleh bising yang cukup keras dan dalam jangka waktu
yang cukup lama. Ketulian ini berupa tuli saraf dan sifatnya permanen.
Banyak hal yang mempermudah seseorang menjadi tuli akibat terpajan bising,
antara lain intensitas bising yang lebih tinggi, berfrekuensi tinggi, lebih lama terpapar
bising, mendapat pengobatan yang bersifat racun (ototoksik) seperti streptomisin,
kanamisin, garamisin (golongan aminoglikosida), kina, asetosal, dan lain-lain.
Tuli akibat bising mempengaruhi organ Corti di koklea terutama sel-sel
rambut. Daerah yang pertama terkena adalah sel-sel rambut luar yang menunjukkan
adanya degenerasi yang meningkat sesuai dengan intensitas dan lama paparan.
Stereosilia pada sel-sel rambut luar menjadi kurang kaku sehingga mengurangi
respon terhadap stimulasi. Dengan hilangnya stereosilia, sel-sel rambut mati dan
digantikan oleh jaringan parut. Dengan semakin luasnya kerusakan pada sel-sel
rambut, dapat timbul degenerasi pada saraf yang juga dapat dijumpai di nukleus
pendengaran pada batang otak.

19

Selain pengaruh terhadap pendengaran (auditory), bising yang berlebihan juga


mempunyai pengaruh non auditorik seperti pengaruh terhadap komunikasi wicara,
gangguan konsentrasi, gangguan tidur sampai memicu stress akibat gangguan
pendengaran yang terjadi.
Oleh karena jenis ketulian akibat terpapar bising adalah tuli saraf koklea yang
sifatnya menetap dan tidak dapat diobati secara medikamentosa ataupun pembedahan,
maka yang terpenting dilakukan adalah pencegahan terjadinya ketulian, seperti
penggunaan sumbat telinga (ear plug), tutup telinga (ear muff), dan pelindung kepala
(helmet). Dalam penatalaksanaan tuli akibat bising biasanya diberikan alat bantu
dengar, meskipun tidak memiliki manfaat yang besar.
.

20

DAFTAR PUSTAKA
1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Indonesia termasuk 4 negara di asia
tenggara dengan prevalensi ketulian 4,6%. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta. 2004.
2. Baiduc, R.R, et al. Clinical measures of auditory function. The Cochlea and
Beyond Vol.4. 2013. pp. 147-156
3. Bashiruddin, J., Soetirto, I., Gangguan Pendengaran Akibat Bising (Noise
Induced Hearing Loss). Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung
Tenggorokan Edisi VI. Balai Penerbit FKUI, Jakarta. 2007. hal 49-52
4. Soetirto, I.,Hendarmin, H., Bashiruddin, J., Gangguan Pendengaran dan
Kelainan Telinga. Dalam: Buku Ajar Ilmu penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok,
Kepala dan Leher Edisi VI. Balai Penerbit FKUI, Jakarta. 2007. hal 10-16
5. Ganong WF. Hearing and equilibrium. In: Ganongs Review of Medical
Physiology 22nd ed. Mc.Graw Hill. 2005. pp. 171-179
6. Mills, J.H, Khariwala, S.S, Weber, P.C. Anatomy and physiology of hearing. In:
Bailey, B.J, Head and Neck Surgery Otolaryngology 4 th ed, vol 2. JB Lippincot,
Philadelphia. 2006. pp.2189-2198
7. Stephen L, Liston, Duvall, Arndt. Embriologi, anatomi, dan fisiologi telinga.
Dalam: Boies Buku Ajar Penyakit THT. Penerbit EGC, Jakarta. 1997. hal 27-45
8. Despopoulos, A. Silbernagl, S. Central nervous system and senses. In: Color Atlas
of Physiology 6th ed. Thieme, New York. pp.180-183
9. Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia. Keputusan menteri lingkungan hidup
no. 48 tahun 1996. Kementerian Lingkungan Hidup, Jakarta. 1996
10. Kementerian Tenaga Kerja Indonesia. Keputusan menteri tenaga kerja no.51
tahun 1999. Kementerian Tenaga Kerja Jakarta, 1999.
11. Metidieri, et.al. Noise induced hearing loss: literature review with a focus on
occupational medicineI. In: Arch. Otorhinolaryngology Vol.2. 2013. pp.208-212
12. Yunita Andrina. Gangguan pendengaran akibat bising. USU Digital Library
Bagian Ilmu Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorokan Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara.. 2003. hal 1-9

21

13. Marcelena R, Bramantyo B. Gangguan pendengaran akibat bising. Dalam: Kapita


Selekta Kedokteran Edisi 4. Media Aesculapius, Jakarta. 2014. hal 1028-1029
14. Sari. Halinda. Program Perlindungan Pendengaran Pekerja Terhadap
Kebisingan. USU Digital Library. Fakultas Kesehatan Masyarakat Program Studi
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Universitas Sumatera Utara, Sumatera Utara.
2002. hal. 1-7

22