Anda di halaman 1dari 25

Borang Portofolio Kasus Neuro

Topik :
Ischialgia
Tanggal (kasus) :
11 Januari 2016
Presenter :
dr. Hanina Yuthi Mauliani
Tanggal Presentasi :
Februari 2016
Pendamping : dr. Pretty Sepsinola
Tempat Presentasi :
Ruang Komite Medik RSUD Lubuk Sikaping
Objektif Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Wanita, usia 77 tahun, keluhan nyeri pinggang kanan menjalar ke paha belakang
Deskripsi :
Tujuan :
Bahan
Bahasan :
Cara
Membahas :
Data Pasien :

sampai ke telapak kaki sejak 2 bulan SMRS. Pasien didiagnosis dengan ischialgia
dextra ec. Spondilolistesis
Mengenali, melakukan penegakan diagnosis dan pengobatan awal pada ischialgia
Tinjauan Pustaka
Diskusi

Riset

Presentasi dan Diskusi

Nama : Ny. Tisam, perempuan, 77 tahun,

BB : 60 kg, TB : 165cm
Nama RS : RSUD Lubuk Sikaping
Telp : Data Utama untuk Bahan Diskusi :
1. Diagnosis : Ischialgia Dextra ec. Spondilolistesis L5
2.

Kasus

Audit

E-mail

Pos

No. Registrasi : 09.25.37


Terdaftar sejak : 11 januari 2016

Gambaran Klinis :
Nyeri pinggang kanan menjalar ke paha belakang sampai ke telapak kaki sejak 2 bulan
SMRS
Nyeri dirasakan perlahan, hilang timbul, makin memberat
BAK dan BAB normal
Riwayat trauma dan kebiasaan mengangkat benda berat disangkal

3.

Riwayat Pengobatan : OS rutin berobat jalan di poli saraf RSUD Lubuk Sikaping untuk nyeri

pinggangnya sejak 1 bulan SMRS


4. Riwayat Kesehatan / penyakit
Pasien tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya
Riwayat TBC paru, stroke, maag, penyakit hati, ginjal, hipertensi, DM, alergi obat (-)
Riwayat jatuh terduduk, keganasan paru, payudara, GIT, saluran kemih (-)
1
Riwayat sakit yang sama pada anggota keluarga lain (-)
5.

Riwayat Keluarga : Tidak ada anggota keluarga yang diketahui menderita penyakit hipertensi,

diabetes mellitus, penyakit paru atau penyakit yang serupa


6.
7.

Riwayat Pekerjaan : Pasien seorang ibu rumah tangga


Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik :
OS tinggal bersama suami dan anaknya
OS tidak pernah merokok, minum alkohol atau mengkonsumsi narkoba, jarang berolahraga

Lain lain : Rontgen lumbosacral : spondilolistesis L5-S1

Daftar Pustaka :
1. Sidharta, Priguna., 2004. Neurologi Klinis Dalam Praktik Umum edisi III.Jakarta : PT Dian
Rakyat. 203-5.
2. Wagiu, Samuel A.. 2005. Pendekatan Diagnostik Low Back Pain. Available at
http://neurology.multiply.com/journal/item/24.
3. Kurniawati. 2010. Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kondisi Ischialgia Dextra Di Rumah
Sakit Dr. Soedjono Magelang. Surkarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
4. Sarnad, N.I, dkk. 2010. Prevalence of Low Back Pain and Its Risk Factors Among
School Teachers. American Journal of Applien Sciensce.
5. Fernandez, C; et al. 2009. Prevalence of Neck and Low Back Pain in CommunityDwelling

Adults

in

Spain:

Population-

Based

National

Study.

http://journals.lww.com/spinejournal/Fulltext/2011/02010/Prevalence_of_Neck_and_Low_B
ack_Pain_in.21.aspx. Diakses pada 9 April 2011.
6. Mardjono, Mahar. Sidharta, Priguna. Neurologi Klinis Dasar. 2008. Dian Rakyat: Jakarta.
Hal 76-9, 94.
2

7. Sinaki, M. 2007. Low Back Pain and Disorders of the lumbar spine. In : Braddon RL, editor.
Physical medicine and rehabilitation. 2nd edition. Philadelphia: W.B Saunders Company.

8. Susan

Spinasanta.

Neurology

Basics:

Neurological

Exams.

(online

http://www.spineuniverse.com/displayarticle.php/article305.html tgl 19 juni 2007).


9. Bratton, Robert L. Assessment And Management Of Acute Low Back Pain. The American
academy of family physician. November 15, 1999 (online www.aafp.org 22 September
2008).
10. Dewanto G., Wita J.S., Budi R., Yuda T., 2009. Diagnosis dan Tata Laksana Penyakit Saraf.
Jakarta : EGC
Hasil Pembelajaran :
1. Mampu mengenali kasus ischialgia
2. Penegakkan diagnosis ischialgia
3. Mengenal faktor resiko ischialgia
4. Tatalaksana ischialgia
5. Edukasi untuk mencegah ischialgia
6. Edukasi penatalaksanaan non farmakoterapi ischialgia

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio


1. Subjektif :

Keluhan Utama: Nyeri pinggang bawah kiri menjalar ke telapak kaki kiri yang
memberat 2 hari SMRS.

Nyeri pinggang kiri menjalar ke paha belakang, betis hingga telapak kaki kiri sejak 2
bulan SMRS yang memberat 2 HSMRS

Nyeri dirasakan saat rukuk, mengangkat benda berat, membungkuk

Nyeri seperti ditarik dan hilang timbul 3

Nyeri muncul jika batuk, bersin, mengejan, perubahan posisi (tidur ke duduk atau
duduk ke berdiri) diperingan jika istirahat dalam posisi berbaring, nyeri sangat

menggangu aktivitas

kesemutan menjalar ke betis kiri sejak 2 hari SMRS, hilang timbul setelah nyeri.

Riwayat jatuh terduduk, trauma, kebiasaan mengangkat benda berat (-)

keluhan yang sama pada tungkai kanan, kelemahan / baal pada anggota gerak lain (-)

demam, mual, muntah, penurunan berat badan, gangguan BAK dan BAB (-)

2. Objektif :
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : sakit sedang
Kesadaran
Kooperasi

: Compos mentis, GCS E4M6V5 = 15


: Kooperatif

Keadaan gizi : Gizi cukup


Tekanan darah : 150/100 mmHg
Nadi

: 88 kali / menit

Suhu

: 37,20C

Pernapasan

: 22 kali / menit

VAS numerik : 9
ANTROPOMETRI
BB

: 55 kg

TB

: 160 cm

BMI

:21, 48 = BMI Ideal

Status Internus
Kepala : Tidak ada kelainan

Mata

: Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor, RC +/+

Kulit

: Turgor kulit baik, tidak ikterik / sianosis / pucat

Mulut : mukosa mulut dan bibir basah


Leher

: JVP 5-2 cmH2O, trachea di tengah, tiroid TTM

KGB

: TTM di leher, axilla dan inguinal

Thoraks
a. Paru
Inspeksi : Gerakan nafas simetris kiri dan kanan
Palpasi

: Fremitus kiri sama dengan kanan

Perkusi

: Sonor di kedua lapangan paru

Auskultasi : Vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/b. Jantung


Inspeksi : Iktus jantung tidak terlihat
Palpasi

: Iktus jantung teraba di linea midclavicula sinistra RIC V

Perkusi

: Batas jantung normal

Auskultasi : Bising tidak ada, bunyi jantung tambahan tidak ada


c. Abdomen
Inspeksi

: simetris

Auskultasi : Bising usus (+) normal


5

Palpasi

: supel, hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan (-)

Perkusi

: Timpani

d. Ekstremitas : Refilling capiller baik, udema (-), sianosis (-), tremor (-)
Pemeriksaan neurologis
Saraf-saraf kranialis : N.1 (Olfaktorius) s/d N.12 (Hypoglossus) : dalam batas normal
Sistem motorik
Pemeriksaan
Ekstremitas atas proksimal-distal
Ekstremitas bawah proksimal-distal

Kanan
5555
5555

Kiri
5555
5555

Gerakan involunter : dalam batas normal


Trofik : normotrofik
Tonus : normotonus
System sensorik : dalam batas normal
Fungsi cerebellar dan koordinasi : dalam batas normal
Fungsi otonom : dalam batas normal
Fungsi luhur : tidak diperiksa
Reflex fisiologis : dalam batas normal
Reflex patologis : dalam batas normal
Keadaan psikis : baik
Pemeriksaan khusus
Pemeriksaan

Kanan

Kiri

Laseque

>70

300

Pattrick
Kontra Pattrick
Gaenslen

Valsava
Naffziger
Bragard

+
+
+

Sincard

Cross laseq

+
+

Nyeri tekan di lumbal 5 dan paravertebra kiri


Nyeri bokong kiri, spasme (+)
Columna vertebralis: Lurus di tengah, luka (-), massa atau benjolan (-), kemerahan (-), nyeri
tekan (+) pada area lamina L5 - S1, nyeri ketok prosesus (+)

3. Assesment
Diagnosa kerja
Diagnosis klinis
Diagnosis etiologi
Diagnosis topik

: ischialgia sinistra
: suspek HNP
: suspek radix L5-S1

Diagnosa banding
Low Back pain
Hernia nukleus pulposus
radiculitis
Spondilolistesis
Spondilolisis
Sternosis spinalis
Osteoarthritis
Ischialgia rheumatoid
Metastasis carcinoma di corpus vertebrae lumbosacral
Trauma tulang belakang
Pemeriksaan anjuran
Darah : Hb, Ht, Trombosit, Leukosit, asam urat, faktor rheumatoid
Rontgen lumbosacral AP - Lateral atau
MRI lumbosacral atau EMG (jika fasilitas
8 memadai)
4. plan

Medikamentosa
a

IVFD RL 500cc 8 jam/kolf

Relaxan otot : Eperison HCL 50 mg 2x1 tab

Analgetik :

tramadol 50 mg 2x1 tab

drip ketorolac 30 mg/1ml 8 jam/kolf

Roboransia : Mecobalamin (B12) 500 mcg : lanabal 2x1 tab

Antihistamin generasi II : Ranitidin 2 x 50 mg injeksi


Pendidikan

Menjelaskan kepada pasien tentang penyakitnya dan penyebabnya


Edukasi rawat inap karena nyeri hebat dan agar dilakukan pemeriksaan penunjang
untuk mengetahui diagnosisnya
Edukasi bahwa nyeri dapat berulang bila tidak ditangani dengan tepat
Edukasi perubahan sikap tubuh dan pemakaian korset.
Konsultasi
Konsultasi telah dilakukan dengan spesialis saraf.
Prognosis
Ad vitam

: ad bonam

Ad fungtionam

: dubia

Ad sanationam

: dubia

Follow up
12/01/2016
S

(hari rawatan ke-1)


Nyeri pinggang menjalar <,

13/01/ 2016
(hari rawatan ke-2)
Nyeri pinggang <<<, kesemutan <<<

kesemutan <
O

14/01/2016
(hari rawatan ke-3)
Nyeri
pinggang
(-)

kesemutan (-)

KU : sakit sedang

KU : sakit sedang

KU : sakit ringan

Kesadaran : GCS E4V5M6 =

Kesadaran : GCS E4V5M6 = 15 ; VAS : 3

Kesadaran : GCS E4V5M6 =

15 VAS : 4

TD 130/80 mmHg ; Nadi

15 ;VAS : 1

78 x/m, Suhu

36,50C ; P 18 x/m

TD 130/80 mmHg ; Nadi 80

x/m, Suhu 36,8 C ; P 20 x/m

Status Generalis : dalam batas normal

x/m, Suhu 36,80C ; P 18 x/m

Status Generalis : dalam

Pemeriksaan neurologis : Laseq test -/-

Status Generalis : DBN

batas normal

Laboratorium darah rutin

P. neuro : Laseq test -/-

Pem. neurologis : Laseq test

Hemoglobin

: 9,2 g/dl

Hematokrit

: 25,6 %

Leukosit

: 5.100/mm

Trombosit

: 187 ribu/mm

TD 140/80 mmHg ; Nadi 84


0

-/-

Rontgen Lumbosacral AP - Lateral


A

Ischialgia sinistra perbaikan

Rencana pem rontgen

Kesan : Spondilolistesis L5 lumbal


Radiculopati sinistra ec. Spondilolistesis L5

Radiculopati

perbaikan
Medikamentosa

Spondilolistesis L5 perbaikan
pasien boleh pulang

IVFD RL 500cc + drip ketorolac 30

lumbosacral AP - Lat
dan darah rutin

mg/1ml 12 jam/kolf 14 tpm

Medikamentosa

jam/kolf 14 tpm
Ranitidin 2x50 mg injeksi

Na Diclofenac 2x25 mg

Ranitidin 2 x 50 mg injeksi

Ranitidin 2x150 mg tab

Eperison HCL 2x1 tab

Tramadol 1x50 mg tab

Tramadol 50 mg 1x1 tab

Lanabal 2x1 tab

Lanabal 2x1 tab

Non Medikamentosa
edukasi perubahan kebiasaan

Eperison HCL 2x1 tab

Non-medikamentosa

Tramadol 50 mg 1x1 tab

Mecobalamin 500 mcg :

hidup, ADL secara ergonomis

Anjuran pemakaian korset lumbosacral


Fisioterapi per hari selama dirawat

lanabal 2x1 tab

Tirah baring pada alas yang


datar dan keras
Kontrol poli saraf 1 mgg lagi

Non-medikamentosa
rehabilitasi

ec.

Medikamentosa

IVFD RL 500cc + drip


ketorolac 30 mg/1ml 12

sinistra

medik

pemakaian korset lumbal

fisioterapi/hari selama di RS

Istirahat

cukup,

hangat otot pinggang

10

kompres

DISKUSI

Pasien perempuan berumur 77 tahun datang ke poli saraf RSUD Lubuk Sikaping pada 11
Januari 2016 dengan diagnosa awal Ischialgia sinistra ec. Suspek HNP lumbal.
Diagnosa ischialgia sinistra ec. Suspek HNP lumbal berdasarkan anamnesis yaitu nyeri
pinggang kiri yang menjalar ke paha belakang sampai ke telapak kaki kiri sejak 2 bulan dan
memberat 2 hari SMRS yang menggangggu aktivitas disertai kesemutan, diperberat dengan
posisi rukuk, mengedan, batuk, bersin, mengangkat benda berat sambil membungkuk dan
perubahan posisi, diperingan bila istirahat. Pada pemeriksaan generalis didapatkan VAS 9, TD
150/100 mmHg, nadi 88 x/m, suhu 37,20C, RR 22 x/m, nyeri tekan (+) pada area L5 - S1,
spasme (+) pada columna vertebralis. Pada pemeriksaan neurologis didapatkan Laseq sinistra
300, Valsava + dan naffziger +, bragard +, sincard +, cross laseque +.
Tensi tinggi disertai napas cepat dapat disebabkan karena pasien menahan rasa nyerinya.
Tidak didapatkan riwayat hipertensi pada pasien, tidak perlu diberikan obat hipertensi
dikarenakan tensi akan turun dengan sendirinya ketika nyerinya teratasi.
Pemeriksa menegakkan diagnosis banding LBP, HNP dan spondilolistesis. LBP dapat
disingkirkan karena nyeri pada LBP tidak menjalar, HNP dapat disingkirkan berdasarkan hasil
rontgen lumbosacral didapatkan spondilolistesis L5, sehingga diagnosis akhir pasien menjadi
radiculopati sinistra ec. spondilolistesis L5.
hari rawatan ke-1 dilakukan pemeriksaan lab darah rutin dan rontgen lumbosacral AP Lateral, keluhan nyeri pinggang dan kesemutan <<, VAS = 4. Hari rawatan kedua keluhan nyeri
11
dan kesemutan <<<, VAS = 3, rontgen lumbosacral
didapatkan hasil spondilolistesis L5. Hari

rawatan ketiga keluhan nyeri dan kesemutan (-), keadaan stabil, VAS = 1, pasien diperbolehkan
pulang dengan obat oral dan anjuran untuk rutin kontrol serta menggunakan korset.

TINJAUAN PUSTAKA
I. Definisi Ischialgia
Ischialgia adalah nyeri yang timbul akibat perangsangan serabut sensorik dimana
nervus ischiadicus berasal yaitu dari radiks posterior L4 S3.

Pada keadaan ini timbul rasa

nyeri dan kesemutan sepanjang cabang saraf yang tertekan. Secara harafiah ischias artinya
serangan pangkal paha atau nyeri di daerah pangkal paha. 2 Jadi ischialgia merupakan nyeri
yang berpangkal pada daerah lumbosakralis atau paravertebralis lumbosacralis yang menjalar
sesuai dengan salah satu radiks yang ikut menyusun nervus ischiadicus yaitu ke pantat,
bagian posterolateral tungkai atas, lateral tungkai bawah dan lateral kaki.3

Gambar 1.1 Penjalaran nyeri ischialgia7

II.

Epidemiologi dan Faktor Risiko 2


Diperkirakan 5%-10% pasien dengan NPB mengalami ischialgia. Prevalensi tahunan

ischialgia diskogenik dalam populasi umum berkisar 2,2%. 4


Ada beberapa faktor risiko penyebab ischialgia yaitu kontraksi/ radang otot daerah
bokong, perkapuran tulang belakang, HNP, pekerjaan, usia, berat badan, tinggi badan, stres
mental, merokok dan paparan getaran kendaraan. Untuk mengetahui penyebab pasti perlu
12tambahan rontgen pada tulang belakang. 5
dilakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan

II.

Klasifikasi Nyeri Pinggang

a. Nyeri daerah pinggang pada dasarnya dapat berupa: 1, 3


1. NPB akibat trauma miofasial atau komponen keras neuro musculoskeletal
2. NPB akibat proses degenerative seperti spondilosus, HNP, stenosis spinalis, dan
osteoarthritis
3. NPB akibat penyakit inflamasi yaitu astritis rheumatoid dan spondilitis
angkilopoetika
4. NPB akibat gangguan metabolic atau low back pain osteoporosis
5. NPB akibat neoplasma
6. NPB sebagai reffered pain
7. NPB akibat gangguan sirkulatorik
8. Nyeri radikuler
9. Nyeri tidak menjalar
a. Klasifikasi secara etiologi
Lesi iritatif dapat mengakibatkan ischialgia pada tingkat tertentu.3
Pada tingkat diskus intervertebral L4 S1 dapat terjadi HNP
Pada perjalanan permukaan dalam dari pelvis, n. Ischiadicus dapat terjadi
artritis sakroiliaca atau bursitis m. Piriformis
Sekitar sendi panggul n. Ischiadicus dapat terjadi peradangan entrapment
1. Ischialgia sebagai perwujudan neuritis ischiadicus primer
Gejala berupa nyeri di daerah antara sacrum dan sendi panggul, tepatnya pada
foramen infrapiriforme atau incisura ishiadika dan menjalar sepanjang n. Ischiadikus dan
lanjutannya pada n. peroneus communis dan n. tibialis. Ischialgia ini mudah disembuhkan
dengan NSAID, yang disebut ischialgia beninge. Tetapi tanpa pengobatan pun ischialgia
ini dapat sembuh secara spontan, yang disebut ischialgia rematoid.3
Neuritis ischiadikus primer timbul akut, sub akut dan tidak berhubungan dengan
NPB kronik. Ischialgia ini sering berhubungan dengan diabetes meilitus, masuk angina,
flu, sakit kerongkongan dan nyeri persendian. Diagnosis berasal dari nyeri tekan pada n.
Ischiadikus, m. tibialis anterior dan m. peroneus
longus. Pengobatannya dengan NSAID.
13
2. Ischialgia sebagai perwujudan entrapment radiculatis

Terjadi karena nucleus pulposus yang jebol ke dalam kanalis vertebralis (HNP),
osteofit, herpes zoster (peradangan) atau adanya tumor pada kanalis vertebralis. Pasien
akan merasakan nyeri hebat, mulai dari daerah lumbosakral menjalar menurut perjalanan
n. Ischiadikus dan lanjutannya pada n. peroneus communis dan n. tibialis. 3
Data-data yang dapat diperoleh untuk mengetahui adanya Ischialgia radikulopati,
antara lain NPB, adanya peningkatan tekanan ruang arachnoidal, seperti batuk, bersin
dan mengejan, trauma, lordosis Nlumbosacral mendatar, keterbatasan lingkup gerak
sendi (LGS) lumbosacral. Nyeri tekan lamina L4, L5 dan S1, Tes laseque positif. 3
3. Ischialgia sebagai perwujudan entrapment neuritis
Terjadi karena dalam perjalanan menuju tepi n. Ischiadikus terperangkap dalam
proses patologik di berbagai jaringan dan bangunan yang dilewatinya. Jaringan dan
bangunan yang membuat n. Ischiadikus terperangkap, antara lain : 3, 5

Pleksus lumbosakralis yang diinfiltrasi sel sarcoma reproperitonial, karsinoma

uteri dan ovarii


Garis persendian sakroilliaka dimana bagian dari pleksus lumbosakralis sedang

membentuk n. Ischiadikus mengalami proses radang (sakrolitis)


Bursitis di sekitar trochanter mayor femoris
Bursitis m. piriformis
Adanya metatasis karsinoma prostat di tuber ischii

Tempat dari proses patologi primer ischialgia diketahui dari nyeri tekan yang
dilakukan dengan penekanan langsung pada sendi panggul, trochantor mayor, tuber ischii dan
spina ischiadika. Sedangkan nyeri gerak dapat diprovokasi dengan cara melakukan tes
Patrick dan tes Gaenslen
Penyebaran rasa sakit dimulai dari daerah lumbal, hip joint, menyebar ke bawah. Cara
berjalan penderita dengan ujung jari kaki plantar flexi ankle, hip dan knee dalam keadaan
flexi sehingga nampak pincang. Pasien tidak bisa berdiri lama sehingga terjadi kelainan sikap
berdiri pada penderita (pelvic tilting) yang mengakibatkan kompensasi lumbal.
14

b. Klasifikasi secara Anatomi 6


1. Ischialgia diskogenik, terjadi pada penderita hernia nukleus pulposus (HNP)

Merupakan ischialgia sebagai perwujudan lesi iritatif terhadap serabut radiks


yaitu berupa nukleus pulposus yang menjebol ke dalam kanalis vertebralis (HNP)
atau

serpihannya,

osteofit

pada

spondilosis

servikal

atau

spondilitis

angkilopoetika, herpes zoster ganglion spinale L4 S1, tumor di dalam kanalis


vertebralis dan sebagainya.

Gambar : Herniasi Nukleus Pulposus


2. Ischialgia mekanik terbagi atas :
Spondiloarthrosis defermans.
Spondilolistetik
spondilolisis
Tumor caud.
Metastasis carsinoma di corpus vertebrae lumbosakral.
Fraktur corpus lumbosakral.
Fraktur pelvis, radang atau neoplasma pada alat- alat dalam rongga panggul
sehingga menimbulkan tekanan pada pleksus lumbosakralis.
3. Ischailgia non mekanik (medik) terbagi atas:
Radikulitis tuberkulosa
Radikulitas luetika
15
Adhesi dalam ruang subarachnoidal

Penyuntikan obat-obatan dalam nervus ischiadicus


Neuropati rematik, diabetik dan neuropati lainnya.

4. Entrapment Radiculitis/ Radiculitis


5. Entrapment Neuritis :
Neuritis primer
Terjebak disekitar bursa m. Piriformis
terjebak di sekitar tuber Ischi
terjebak di sekitar artikulatio koksae

Anatomi Fisiologi tulang belakang 5, 7


Tulang vertebrae merupakan struktur komplek yang terbagi atas 2 bagian, yaitu :
Bagian anterior tersusun atas korpus vertebra, diskus intervertebralis (sebagai

artikulasi), dan ditopang oleh ligamnetum longitudinale anterior dan posterior.


Bagian posterior tersusun atas pedikel, lamina, kanalis vertebralis, prosesus

IV.

tranversus dan spinosus yang menjadi tempat otot penyokong dan pelindung kolumna
vertebrale. Bagian posterior vertebra antara satu dan lain dihubungkan dengan sendi
apofisial (faset).
Stabilitas vertebrae tergantung pada integritas korpus vertebra, diskus intervertebralis
serta dua jenis jaringan penyokong yaitu ligamentum Untuk menahan beban yang besar,
stabilitas daerah pinggang bergantung pada gerak kontraksi volunter dan reflek otot
sakrospinalis, abdominal, gluteus maksimus, dan hamstring.
Diskus intervertebralis, baik anulus fibrosus maupun nucleus pulposus adalah (pasif)
dan otot (aktif).
bangunan yang tidak peka nyeri. Bagian peka nyeri adalah:
Lig. Longitudinale anterior
Lig. Longitudinale posterior
Corpus vertebra dan periosteumnya
Articulatio zygoapophyseal
Lig. Supraspinosum.
Fasia dan otot

16

Lumbal merupakan bagian tulang punggung yang mempunyai kebebasan gerak


terbesar. Tarikan tekanan dan torsi yang dialami pada gerakan antara bagian toraks dan
panggul menyebabkan daerah ini mengalami kemungkinan cedera lebih besar. Sebagian
besar lesi pada diskus lumbal mengenai jaringan lunak dan menghasilkan protrusi inti yang
menekan akar saraf.
Gambar 1.4 Nervus Iskiadikus 7

N. ischiadicus keluar dari gluteus maximus pada pertengahan tuberositas ischia dan
trochanter dan berjalan melalui collum femoris, sepanjang paha belakang sampai fossa
popliteal.
Cabang Nervus Ischidicus antara lain : 6

N. lateral popliteal yang terdapat pada caput fibula


N. Medial popliteal yang terdapat pada fossa polpliteal
N. Tibialis Posterior yang terdapat pada sebelah bawah
N. Suralis/Saphenus yang terdapat pada tendon ascilles
N. Plantaris Yang berada pada telapak kaki
.

17

Gambar : Pola Dermatomal 6

V.

Patofisiologi
Bangunan peka nyeri mengandung reseptor nosiseptif (nyeri) yang terangsang

oleh berbagai stimulus local (mekanis, termal, kimiawi). Stimulus ini direspon dengan
pengeluaran berbagai mediator inflamasi yang menimbulkan persepsi nyeri. Mekanisme
nyeri merupakan proteksi yang bertujuan untuk mencegah pergerakan sehingga proses
penyembuhan dimungkinkan. Salah satu bentuk proteksi adalah spasme otot, yang dapat
menimbulkan iskemia. 8
Nyeri yang timbul berupa nyeri inflamasi pada jaringan karena berbagai mediator
inflamasi atau nyeri neuropatik yang diakibatkan lesi primer pada system saraf.
Iritasi neuropatik pada serabut saraf menyebabkan penekanan yang hanya terjadi
pada selaput pembungkus saraf yang kaya nosiseptor dari nervi nevorum dan
menimbulkan nyeri inflamasi. Nyeri dirasakan sepanjang serabut saraf dan bertambah
dengan peregangan serabut saraf misalnya karena pergerakan. Atau penekanan mengenai
serabut saraf yang menyebabkan perubahan
18 biomolekuler di mana terjadi akumulasi
saluran ion Na dan ion lainnya. Penumpukan ini menyebabkan timbulnya mechano-hot
spot yang sangat peka terhadap rangsang mekanikal dan termal. Hal ini merupakan dasar
pemeriksaan Laseque. 8

Kesalahan postur dan sikap menyebabkan cedera pada vertebrae yang dapat
menyebabkan kalsifikasi, karena adanya degenerasi yang terus menerus maka nucleus
pulposus akan terhimpit sehingga anolus fibrosus mengalami penekanan dan menonjol ke
bagian lateral. Penonjolan ini mengakibatkan penekanan pada medulla spinalis. Jika
keadaan ini tidak segera ditangani akan mengakibatkan nyeri menjalar pada sepanjang
tungkai karena adanya penekanan pada nervus ischiadicus (Ischialgia). Ischialgia yang
disebakan oleh beberapa faktor etiologi dan sindroma yang biasanya dikenal sebagai
sindroma stenois lumbal dan entropment neuritis, nyeri yang bertolak dari vertebra
lumbosakralis sesisi dan menjalar sepanjang tungkai sampai ujung kaki harus dicurigai
sebagai nyeri saraf akibat perangsangan di dalam vertebra lumbosakralis. 6, 8
VI.

Patologi
Vertebrae manusia terdiri dari cervikal, thorakal, lumbal, sakral, dan koksigis.

Bagian vertebra yang membentuk punggung bagian bawah adalah L1 L5 dengan discus
intervertebralis dan pleksus lumbalis serta pleksus sakralis. Pleksus lumbalis keluar dari
L1-L4 yang terdiri dari n. Iliohipogastrika, n. Ilioinguinalis, n. Femoralis, n.
Genitofemoralis, dan n. Obturatorius. Selanjutnya pleksus sakralis keluar dari L4 S4
yang terdiri dari n. Gluteus superior, n. Gluteus inferior, n. Ischiadicus, n. Kutaneus
femoris superior, n. Pudendus, dan ramus muskularis. 8
Nervus ischiadicus meninggalkan pleksus lumbosakralis menuju foramen
infrapiriformis keluar pada permukaan tungkai di pertengahan lipatan pantat. Pada apeks
spasium poplitea akan bercabang menjadi dua yaitu n. Perineus komunis dan n. Tibialis.8
VII.

Diagnosis
c. Gejala 2, 7
1. Sciatica atau ischialgia biasanya hanya mengenai salah satu sisi
2. nyeri hebat seperti kesetrum, ditusuk jarum, sakit nagging, atau seperti
ditembak dari tulang belakang sekitar daerah lumbosakral dan menjalar
menurut perjalanan n. Iskiadikus dan lanjutannya pada n. Peroneus komunis
dan n.tibialis
3. Semakin distal nyeri tidak begitu hebat, namun parestesia atau hipestesia
dirasakan
4. Kekakuan atau rasa terik pada kaki dan punggung bawah
5. Yang memperburuk : berjalan, berlari, menaiki tangga, meluruskan kaki,
19

aktivitas berlebih, membungkuk, mengangkat barang berat, bersin, batuk,


mengejan
6. Faktor yang memperingan : menekuk punggung atau duduk.
7. Jangka panjang mengakibatkan kelemahan tungkai bawah disertai atrofi otot

8. Bila mengenai konus atau kauda ekuina dapat terjadi gangguan defekasi, miksi
dan fungsi seksual. Keadaan ini merupakan kegawatan neurologis yang
memerlukan tindakan pembedahan untuk mencegah kerusakan fungsi
permanen.
9. Faktor trauma selalu ditemukan kecuali pada proses neoplasma atau infeksi
d. Pemeriksaan Fisik dan Neurologis 1, 2, 3
1. Inspeksi
Perhatikan keadan vertebrae : adakah skoliosis, hiperlordosis atau
lordosis lumbal yang mendatar. Vertebrae

lumbosakral memperlihatkan

pembatasan lingkup gerak


2. Palpasi
Nyeri tekan pada tulang belakang dapat dibangkitkan pada penekanan
lamina L4 atau L5 ataupun S1 sesuai dengan lokasi lesi iritatif
3. Perkusi
Rasa nyeri bila prosesus diketok
4. Refleks
Hilang atau berkurang reflex tendon patella (KPR) dan Achilles (APR).
5. Pemeriksaan Ischialgia 2, 10
a. Tes Lasegue / Straight Leg Rising test :
Dilakukan dengan mengangkat tungkai pasien dalam keadaan lurus,
untuk menjamin lurusnya tungkai makan tangan si pemeriksa yang satu
mengangkat tungkai dengan memegang pada tumit pasien sedangkan tangan
lain si pemeriksa memegang serta menekan pada lutut pasien. Fleksi pasif
tungkai dalam keadaan lurus di sendi panggul menimbulkan peregangan
nervus iskiadikus.
Bila salah satu radiks yang menyusun n. iskiadikus mengalami
penekanan, test lasegue membangkitkan nyeri yang berpangkal di radiks yang
terkena dan menjalar sepanjang perjalanan perifer n. iskhiadikus.
Tanda lasegue yang positif pada sudut yang dibentuk oleh tungkai yang
lurus dengan permukaan tempat pemeriksa sebelum mencapai 70 o adalah
tanda bahwa terdapat protusio diskus intervertebralis yang merangsang salah
satu akar nervus iskiadikus.
Gambar : Tes Lasegue

20

b. Tanda Kontra Lasegue


Bangkitnya ischialgia pada tungkai yang terkena dapat diprovokasi
dengan mengangkat tungkai yang sehat dalam posisi lurus.
c. Tanda Patrick
Pemeriksaan dilakukan dengan cara menempatkan tumit atau maleolus
eksterna tungkai yang sakit pada lutut tungkai lainnya dapat menyebabkan
bangkitnya nyeri di sendi panggul jika diadakan penekanan pada lutut yang
difleksikan. Pada ischialgia diskogenik test ini negatif.

Gambar : Tes Patrick

d. Tanda Kontra Patrick


Dilakukan untuk menentukan lokasi patologik di sendi sakroiliaka jika
terasa nyeri di daerah bokong, baik yang menjalar sepanjang tungkai maupun
yang terbatas pada daerah gluteal dan sakral saja. Tes ini dilakukan dengan
melipat tungkai yang sakit dan endorotasikan serta aduksikan. Kemudian
adakan penekanan sejenak pada lutut tungkai.
e. Tanda Naffziger
Tekanan intratekal ditinggikan dengan menyuruh pasien mengejan
pada waktu kedua vena jugulare ditekan oleh kedua tangan pemeriksa, tekanan
intrakranial akan diteruskan sepanjang rongga arakhnoidal medula spinalis.
Jika terdapat proses desak ruang di kanalis vertebralis (tumor atau HNP),
radiks yang teregang mendapat perangsangan pada waktu tes dilakukan, maka
timbul nyeri radikular yang melintasi kawasan dermatomalnya. Tes ini dapat
dilakukan pada waktu pasien berdiri atau berbaring.
f. Tes Valsava
Tes ini menyebabkan peninggian tekanan intratekal. Jika terdapat
21 vertebralis bagian servikal, maka dengan
proses desak ruang di kanalis

ditingkatkannya tekanan intratekal akan bangkit nyeri radikular. Nyeri saraf ini
sesuai tingkat proses patologik di kanalis vertebralis bagian servikal. Caranya

dengan menyuruh pasien mengejan sewaktu pasien menahan nafasnya. Tes ini
positif bila timbul nyeri radikular yang berpangkal di tingkat leher dan
menjalar ke lengan.
g. Tanda Bragard dan Sincard
Tes ini dilakukan dengan mengangkat tungkai dalam sikap lurus
kemudian mendorsofleksikan kaki (Bragard) dan mendorsofleksikan ibu jari
VIII.

kaki (Sincard).
Pemeriksaan penunjang
Untuk penatalaksanaan NPB diperlukan pemeriksaan penunjang antara lain : 1, 3, 10

1. Laboratorium
Pemeriksaan darah perifer lengkap, laju endap darah, faktor reumatoid,
fosfatase alkali, kalsium, urin analisis berguna untuk penyakit nonspesifik seperti
infeksi.
2. Foto rontgen lumbosakral
Tujuan utama foto rontgen lumbosakral untuk mendeteksi kelainan struktural.
3. MRI / CT-scan
Merupakan pemeriksaan penunjang utama untuk mendeteksi kelainan diskus
intervertebralis. MRI dapat mengidentifikasi kompresi medula spinalis dan radiks
saraf serta beratnya perubahan degeneratif pada diskus intervertebralis. MRI
memberikan potongan sagital dan gambaran hubungan diskus intervertebra dan
radiks saraf yang jelas. MRI merupakan prosedur skrining yang ideal untuk
menyingkirkan diagnosa banding gangguan struktular pada medula spinalis dan
radiks saraf.
CT-scan memberikan gambaran struktur anatomi vertebra dengan baik dan b
bagus untuk herniasi diskus intervertebra. Namun sensitivitas CT-scan tanpa
myelografi masih kurang bila dibandingkan dengan MRI
4. Myelografi
Pemeriksaan ini memberikan gambaran anatomi yang detail, terutama elemen
osseus vertebra. Myelografi merupakan proses yang invasif karena melibatkan
penetrasi pada ruang subarakhnoid.22
IX.

Penatalaksanaan

1, 9, 10

Penatalaksanaan penyakit ischialgia yaitu sebagai berikut :

Medikamentosa
1. Analgetik: paracetamol, tramadol, morphin
2. NSAID
3. muscle relaxant
4. Obat antireumatika pada medical siatika
5. roboransia
Non Medikamentosa
1.
2.
a.
b.

Istirahat lebih kurang 2-3 minggu


Konservatif
Kompres panas / dingin pinggang yang nyeri
Edukasi perubahan gaya hidup dan aktivitas secara ergonomis, berupa :
Hindari banyak membungkukkan badan.
Hindari sering mengangkat barang-barang berat.
Segera istirahat jika telah merasakan nyeri saat berdiri atau berjalan
Saat duduk lama diusahakan kaki disila bergantian kanan dan kiri atau

menggunakan kursi kecil untuk menumpu kedua kaki.


Saat menyapu atau mengepel, pergunakan gagang yang panjang,

sehingga saat menyapu atau mengepel punggung tidak membungkuk


Jika hendak mengambil barang dilantai, usahakan punggung tetap

lurus, tapi tekuk kedua lutut untuk menggapai barang tersebut


Back Exercise secara rutin untuk memperkuat otot-otot punggung

sehingga mampu menyangga vertebrae secara baik dan maksimal


3. Program Rehabilitasi Medik 3
Fisioterapi berguna untuk mencegah atrofi otot dan dekalsifikasi. Sebaiknya
dilakukan setelah nyeri hilang, contohnya adalah :
a. Terapi Fisik: Short Wave Diathermi (SWD), Elektroterapi, Traksi
lumbal, terapi manipulasi, exercise, TENS untuk memblokir nyeri, dsb.
b. Terapi Okupasi: Mengajarkan proper body mechanic, dsb.
c. Ortotik Prostetik: Pemberian korset lumbal, alat bantu jalan, dsb.
Operatif
1. Operasi Disektomi
di lakukan pada kasus sering kambuh, kasus berat, kasus nyeri tak tertahankan
atau sangat mengganggu aktifitas, defisit motoric jelas dan mengganggu dimana
dengan obat dan program rehabilitasi
23 medik tidak membantu.
Khusus
X.

: Dilakukan sesuai etiologic ischialgia

Prognosis 8

Berhubungan dengan waktu kembali bekerja pada pasien. Faktor tersebut berupa
umur, keadaan umum, riwayat ischialgia, durasi ischialgia, derajat gangguan ischialgia,
kecemasan untuk kembali kerja, nyeri pinggang dan hasil straight leg raising test.
Faktor yang mempercepat masa untuk kembali bekerja berupa usia muda, keadaan
umum baik, batas gangguan ischialgia rendah, ketakutan bekerja sedikit, dan hasil
straight leg raising test negatif. Sementara riwayat ischialgia dengan episode serangan
lebih dari 3 bulan, batas gangguan ischialgia besar, ketakutan untuk kembali bekerja,
disertai nyeri pinggang akan memperlama waktu untuk kembali bekerja.

24

KESIMPULAN

Ischialgia merupakan suatu penyakit yang ditandai nyeri menjalar di sepanjang


radiks ischiadikus. Ischialgia biasanya terkait faktor usia dan riwayat trauma. Kondisi ini
akan mengakibatkan penurunan kekuatan otot, nyeri, keterbatasan LGS, spasme otot dan
permasalahan aktivitas sehari-hari.
Nyeri daerah pinggang pada dasarnya dapat berupa:
1. Nyeri radikuler
2. Nyeri alih (referet pain)
3. Nyeri tidak menjalar
Selain anamnesis keluhan ischialgia yang khas, diagnosis ischialgia juga didukung
dengan pemeriksaan fisik khusus seperti lasegue, kontra lasegue, patrick, kontra patrick,
valsava, naffziger, bragard dan sincard.

3,4

Penatalaksanaan pasien ischialgia dapat secara

konservatif dan simtomatik, pada keadaan khusus dapat diperlukan tindakan operatif. 4, 5
Nyeri sering hilang sendiri. Istirahat, tidur diatas kasur yang keras, tidur dengan lutut
ditekuk atau bantal yang diganjal di bawah lutut dapat mengurangi nyeri, menggunakan obat
anti peradangan nonsteroidal (NSAID), dan mengompres panas dan dingin dapat dilakukan.
Peran fisioterapi pada kasus ini dapat membantu meringankan nyeri yang dirasakan.
Jika dibiarkan maka lama kelamaan akan mengakibatkan kelemahan anggota badan
bawah/ tungkai bawah yang disertai dengan mengecilnya otot-otot tungkai bawah tersebut.

25