Anda di halaman 1dari 30

III.

TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Cadangan dan Klasifikasinya(2:372)
Cadangan (reserves) adalah perkiraan volume minyak, condensat, gas alam,
natural gas liquids dan substansi lain yang berkaitan yang secara komersial dapat
diambil dari jumlah yang terakumulasi di reservoir dengan metode operasi yang ada
dengan kondisi ekonomi dan atas dasar regulasi pemerintah saat itu. Perkiraan
cadangan didasarkan atas interpretasi data

geologi dan atau engineering yang

tersedia pada saat itu.


Cadangan biasanya direvisi begitu reservoir diproduksikan seiring bertambahnya
data geologi dan atau engineering yang diperoleh atau karena perubahan kondisi
ekonomi. Perhitungan cadangan melibatkan ketidakpastian yang tingkatnya sangat
tergantung pada tersedianya jumlah data geologi dan engineering yang dapat
dipercaya. Atas dasar ketersediaan data tersebut maka cadangan digolongkan menjadi
dua, yaitu Proved Reserves dan Unproved Reserves. Unproved Reserves memiliki
tingkat ketidakpastian yang lebih besar dari Proved Reserves dan digolongkan
menjadi Probable atau Possible.
Menurut WPC/SPE (1997) salah satu kriteria klasifikasi cadangan adalah
berdasarkan pembuktiannya, antara lain:
3.1.1
Cadangan Pasti (Proved)(2:373)
Pada umumnya reserves disebut proved jika kemampuan produksi reservoir secara
komersial didukung oleh uji produksi (Production Test) atau uji lapisan (Formation
Test). Terminologi proved merujuk pada volume reserves dan tidak pada produktifitas
sumur atau reservoir semata. Pada kasus-kasus tertentu, Proved Reserves mungkin
dapat dihitung berdasarkan analisis data log dan/atau data core yang menunjukkan
bahwa kandungan reservoir adalah hidrokarbon dan memiliki kesamaan dengan

reservoir di daerah yang sama yang sedang diproduksi, atau telah dibuktikan dapat
diproduksi saat dilakukan uji lapisan.
Luas reservoir yang dapat dikatakan proved meliputi
1. Daerah yang dibatasi oleh sumur delineasi dan dibatasi oleh garis kontak
fluida (Fluid Contacts), jika ada.
2. Daerah yang belum dibor yang diyakini produktif secara komersial atas dasar
data geologi dan engineering yang tersedia. Jika tidak ada Fluid Contacts,
batas dari Proved Reserves adalah struktur yang telah diketahui mengandung
hidrokarbon terkecuali jika ada data engineering dan kinerja reservoir yang
cukup definitif.
Dikatakan Proved Reserves jika memiliki fasilitas untuk melakukan proses dan
transportasi hidrokarbon pada saat perkiraan cadangan, atau ada komitmen untuk
memasang fasilitas tersebut nantinya.
3.1.2

Cadangan Mungkin (Probable)(2:374)


Probable Reserves meliputi :
1. Cadangan yang diperkirakan menjadi proved jika dilakukan pemboran
dimana data subsurface belum cukup untuk menyatakannya sebagai proved.
2. Cadangan dalam formasi yang produktif berdasarkan data log tetapi tidak
memiliki data core atau tes lain yang definitive (seperti uji produksi atau uji
lapisan) dan tidak serupa dengan reservoir yang proved atau berproduksi
dalam daerah tersebut.
3. Penambahan Cadangan (Incremental Reserves) karena adanya Infill Drilling
tetapi saat itu belum disetujui tentang Well Spacing yang lebih kecil.
4. Cadangan akibat metode Improved Recovery yang telah dibuktikan dengan
serangkaian tes yang berhasil selama perencanaan dan persiapan Pilot Project
atau program tersebut, tetapi belum beroperasi sementara sifat batuan, fluida

20

dan karakteristik reservoir mendukung keberhasilan aplikasi metode


Improved Recovery secara komersial.
5. Cadangan dalam daerah suatu formasi yang telah terbukti produktif di daerah
lain pada lapangan yang sama tetapi daerah tersebut dipisahkan oleh patahan
dan interpretasi geologi menunjukkan bahwa daerah itu lebih tinggi dari
daerah yang terbukti produktif.
6. Cadangan karena adanya workover, treatment, retreatment, perubahan
peralatan, atau prosedur mekanik lainnya dimana prosedur tersebut belum
terbukti berhasil pada sumur-sumur yang memiliki sifat dan kelakuan yang
sama di reservoir yang sama;
7. Penambahan cadangan di Proved Producing reservoir dimana alternatif
interpretasi tentang kinerja dan data volumetrik mengisyaratkan reserves yang
lebih besar dari reserves yang telah digolongkan sebagai proved.
3.1.3

Cadangan Harapan (Possible)(2:374)

Possible Reserves meliputi :


1. Cadangan yang dibuat dengan ekstrapolasi struktur atau stratigrafi di luar dari
daerah yang telah digolongkan sebagai probable, berdasarkan interpretasi
geologi dan geofisika.
2. Cadangan dalam formasi yang produktif berdasarkan pada data log atau core
tetapi produksinya dibawah produksi yang komersial.
3. Penambahan Cadangan (incremental Reserves) karena adanya Infill Drilling
berdasarkan data yang secara teknik memiliki tingkat ketidakpastian tinggi;
4. Cadangan akibat metode Improved Recovery yang telah dibuktikan dengan
serangkaian tes yang berhasil selama perencanaan dan persiapan Pilot Project
atau program tersebut, tetapi belum beroperasi sementara sifat batuan, fluida

21

dan karakteristik reservoir meragukan keberhasilan aplikasi metode Improved


Recovery secara komersial.
5. Cadangan dalam daerah suatu formasi yang telah terbukti produktif di daerah
lain pada lapangan yang sama tetapi daerah tersebut dipisahkan oleh patahan
dan interpretasi geologi menunjukkan bahwa daerah itu lebih rendah dari
daerah yang terbukti produktif.
3.2 Penentuan Jumlah Minyak Mula-mula ditempat (Original Oil in Place
OOIP)
Pada mulanya hidrokarbon terbentuk dari bahan organik pada batuan induk
(Source Rock). Karena proses penekanan maka hidrokarbon pada batuan induk
tersebut berpindah ke batuan induk (Reservoir Rock) yang selanjutnya akan
bermigrasi melalui jalur migrasi (Carrier Rock) ke suatu perangkap (Trap), Pada
lapisan atau perangkap reservoir ini terdapat batuan penyekat (Cap Rock), sehingga
dapat dikatakan dengan kondisi tersebut di atas maka hidrokarbon tersebut tidak
dapat lagi berpindah kecuali ada energi luar yang melakukannya
Original Oil in Place adalah jumlah total hidrokarbon mula-mula yang
terperangkap dalam reservoir, baik yang bisa diproduksikan maupun yang tidak dapat
diproduksikan.

22

Gambar 3.1 Akumulasi minyak pada perangkap Antiklin1)


Besarnya cadangan minyak mula-mula ditempat untuk suatu reservoir minyak
dapat ditentukan dengan persamaan Volumetrik dimana Vb dalam satuan acre-ft,
sebagai berikut :
STOOIP=7758

Vb avg ( 1Swiavg )
oi

............................................. (3-1)

Keterangan:
STOOIP

= Jumlah minyak mula-mula ditempat, STB.

7758

= Konversi satuan, dari Acre-feet ke Bbl.

Vb

= Volume bulk batuan, Acre-feet.

avg
Swi avg
oi
3.2.1

= Porositas rata-rata, fraksi.


= Saturasi air mula-mula rata-rata, fraksi.
=

Faktor Volume Formasi minyak mula-mula,

Bbl/STB.
Penentuan Recovery Factor pada saat Volumetrik(5:27)

23

Recovery Factor adalah perbandingan antara jumlah minyak yang dapat


diproduksikan dengan jumlah minyak mula-mula ditempat dalam suatu reservoir.
Recovery Factor pada saat volumetrik dapat dihitung dengan Metode J. J. Arps
berdasarkan tenaga pendorong reservoirnya.
a. Recovery Factor dengan Tenaga pendorong Water Drive
Reservoir jenis Water Drive, energi pendesak yang mendorong minyak untuk
mengalir berasal dari air yang terperangkap bersama-sama dengan minyak pada
batuan reservoirnya. Dilihat dari terbentuknya batuan reservoir Water Drive, air
merupakan fluida pertama yang menempati pori-pori reservoir. Tetapi dengan
adanya migrasi minyak maka air yang berada dalam pori batuan tersingkir dan
digantikan oleh minyak.

Gambar 3.2 Water Drive Reservoir2)


Karakteristik dari Water Drive Reservoir adalah sebagai berikut :

Penurunan tekanan sangat pelan atau relatif stabil. Penurunan tekanan yang
kecil pada reservoir disebabkan volume produksi yang ditinggalkan

digantikan oleh sejumlah air yang masuk ke zona minyak.


Perubahan Gas Oil Ratio (GOR) selama produksi kecil, sehingga dapat

dikatakan bahwa GOR reservoir mendekati konstan.


Harga Water Cut naik tajam karena mobilitas air yang besar.

24

Recovery Factor untuk reservoir dengan tenaga pendorong Water Drive dapat
dihitung menggunakan persamaan sebagai berikut :

RF=54,895

(1Sw)
oi

0,0422

k wi
oi

0,0422

) ( )

Sw 0,193

Pi
Pa

0,2159

( )

............. (3-2)

Keterangan :
RF

= Recovery Factor, fraksi.

= Porositas, fraksi.
Sw

= Saturasi air, fraksi.

oi

= Faktor volume minyak mula-mula, bbl/STB.

= Permeabilitas, mD.
wi

= Viskositas air formasi mula-mula, cp.

oi

= Viskositas minyak mula-mula, cp.

Pi

= Tekanan reservoir mula-mula, psi.

Pa

= Tekanan abandon, psi.

b. Recovery Factor dengan Tenaga Pendorong Solution Gas Drive


Reservoir Solution Gas Drive memiliki tenaga pendorong berasal dari gas
yang terbebaskan dari minyak karena adanya perubahan fasa pada hidrokarbon
yang semula merupakan fasa cair menjadi fasa gas selama penurunan tekanan
reservoir. Gas yang semula larut dalam zona minyak kemudian terbebaskan lalu
mengembang dan mendesak minyak kemudian gas dan minyak terproduksi secara
bersamaan.

25

Setelah sumur selesai dibor menembus reservoir dan produksi minyak dimulai,
maka akan terjadi suatu penurunan tekanan di sekitar lubang bor. Penurunan
tekanan ini akan menyebabkan fluida mengalir dari reservoir menuju lubang bor
melalui pori-pori batuan. Penurunan tekanan di sekitar sumur bor akan
menimbulkan terjadinya fasa gas. Pada saat awal, karena saturasi gas tersebut
masih kecil (belum membentuk fasa yang kontinu), maka gas tersebut
terperangkap pada ruang antar butiran batuan reservoirnya. Tetapi setelah tekanan
reservoir tersebut cukup kecil dan gas sudah terbentuk banyak, maka gas tersebut
turut serta terproduksi ke permukaan.

Gambar 3.3 Solution Gas Drive Reservoir2)


Pada awal produksi, gas yang dibebaskan dari minyak masih terperangkap
pada sela-sela pori batuan, maka Gas Oil Ratio (GOR) produksi akan lebih kecil
jika dibandingkan dengan GOR reservoir. GOR produksi akan bertambah besar
bila gas pada saluran pori-pori tersebut mulai bisa mengalir dan hal ini akan terusmenerus berlanjut hingga tekanan menjadi rendah. Bila tekanan telah cukup
rendah, maka GOR akan menjadi berkurang sebab volume gas di dalam reservoir

26

tinggal sedikit. GOR dan produksi gas pada reservoir memiliki harga yang hampir
sama.
Karakteristik dari Solution Gas Drive Reservoir adalah sebagai berikut :

Penurunan tekanan reservoir yang tajam.

Sedikit atau bahkan tidak ada air yang diproduksi bersama minyak selama
umur produksi.

Produksi minyak turun dengan cepat.

GOR

mula-mula

rendah

kemudian

naik

dengan

cepat

akibat

terbebaskannya sejumlah gas dari minyak sampai maksimum, kemudian


turun dengan tajam.
Recovery Factor untuk reservoir dengan tenaga pendorong Water Drive dapat
dihitung menggunakan persamaan sebagai berikut :
RF=41,815

(1Sw)
ob

0,611

k
ob

0,0979

) ( )

Sw0,3722

Pi
Pa

0,1744

( )

................... (3-3)

Keterangan :
RF

= Recovery Factor, fraksi.

= Porositas, fraksi.
Sw

= Saturasi air, fraksi.

ob

= Faktor volume minyak dibawah Pb, bbl/STB.

= Permeabilitas, mD.
ob

Pb

= Viskositas minyak dibawah Pb, cp.


= Tekanan gelembung, psi.

27

Pa
3.2.2

= Tekanan abandon, psi.

Estimated Ultimated Recovery (EUR)


Apabila harga Recovery Factor telah diketahui maka dapat diperkirakan jumlah
cadangan minyak yang mungkin dapat diproduksikan (Estimated Ultimated
Recovery). Estimated Ultimated Recovery (EUR) adalah estimasi jumlah cadangan
minyak yang bisa diproduksikan sesuai dengan teknologi, kondisi ekonomi dan
peraturan-peraturan yang ada pada saat itu dan diproduksikan sampai batas
ekonominya pada saat volumetrik, EUR dapat dihitung :
EUR= OOIP RF ................................................................................. (3-4)
Keterangan :

3.2.3

EUR

= Estimated Ultimated Recovery, STB

OOIP

= Jumlah minyak mula-mula di tempat, STB

RF

= Recovery Factor, fraksi

Estimated Remaining Reserve (ERR)


Estimated Remaining Reserve (ERR) adalah estimasi cadangan yang masih
tertinggal di reservoir yang dapat diproduksikan dengan teknologi yang ada. Ditinjau
dari konsep Decline Curve, ERR adalah equivalen dengan estimasi produksi
kumulatif sampai ekonomi limitnya tercapai (Npta).
Salah satu konsep dasar dari peramalan metode decline curve adalah tidak ada
perubahan metode produksi, jadi jumlah total estimasi produksi kumulatif sampai
ekonomi limitnya tercapai bukanlah nilai akhir yang bisa diproduksikan dari sumur
produksi karena jika metode produksinya diubah (misalnya dengan metode EOR),

28

maka akan ada cadangan sisa lagi yang akan bisa diproduksikan, di mana besarnya
tergantung dari OOIP yang ada di dalam reservoir dan teknologi yang digunakan.
3.2.4

Produksi Kumulatif Aktual (Np)


Produksi kumulatif aktual (Np) adalah jumlah minyak yang telah diproduksikan
sampai waktu (t).

3.2.5

Recovery Factor (RF)


Recovery Factor (RF) adalah perbandingan antara Estimated Ultimate Recovery
(EUR) dengan Original Oil in Place (OOIP)
RF=

EUR
100
OOIP

............................................................................. (3-5)

Keterangan :

3.2.6

RF

= Recovery Factor

EUR

= Estimated Ultimate Recovery

OOIP

= Original Oil in Place

Penentuan Economic Limit Rate (qlimit)

Economic Limit Rate

(q limit )

adalah laju produksi minimal di mana jumlah

penghasilan yang diterima dari hasil penjualan produksi akan sama dengan jumlah
biaya yang diperlukan untuk menghasilkan produksi tersebut. Sumur produksi akan
ditinggalkan pada saat biaya untuk memproduksikan lebih besar dari keuntungan
yang diperoleh. Kerugian secara ekonomi akan terjadi jika tetap melanjutkan
produksi di bawah Economic Limit. Dasar estimasi cadangan dengan Decline Curve

29

terletak pada besarnya Economic Limit karena menentukan umur produksi dan
jumlah cadangan minyak yang akan diproduksikan.
Secara matematis menurut Thompson. R. S.(1985), (q limit ) dapat dirumuskan :
qlimit (STB /day)=

( OPC ) (WI )
( 30,4 )( 1PTR ) ( SP )( NRI )

.................................... (3-6)

Keterangan :
qlimit

= Economic Limit Rate, STB/Ray

OPC

= Monthly Operating Cost, (Rp/bulan).

WI

= Working Interest, fraksi.

PTR

= Production Tax Rate, fraksi.

SP

= Sales Price, Rp/Bbl.

NRI

= Net Revenue Interest, fraksi.


= WI (1-RI)

30,4

= Konversi satuan waktu dari bulan ke hari.

Biaya operasional (Operating Cost) merupakan biaya yang dikeluarkan baik


sehubungan dengan adanya operasi produksi (Variable Cost) maupun biaya yang
pasti dikeluarkan oleh perusahaan berupa administrasi umum yang tidak berpengaruh
terhadap besar kecilnya produksi (Fixed Cost). Contoh biaya operasi yang termasuk
dalam variable cost adalah lifting cost, HSE, production tools dan equipment
maintenance, gaji pegawai non staf dan sebagainya. Contoh biaya operasi yang
termasuk dalam fixed cost adalah general administration, yaitu meliputi finance &
administration : audit, perpajakan, sewa kantor; technical services : pengadaan dan

30

servis alat telekomunikasi & komputer; transportation cost : pengadaan, servis dan
bahan bakar mobil kantor; salary & personal expenditure : gaji pegawai (staf), biaya
training dan menyekolahkan pegawai; community development : pembangunan
fasilitas umum.
Apabila kepemilikan perusahaan dimiliki oleh satu orang/pihak maka harga WI =
1 (100%), bila kepemilikan bersama maka harga WI tergantung dari kepemilikan
yang besarnya berdasarkan kesepakatan dari pemilik saham.
Production Tax Rate (PTR) adalah pajak yang diberikan kepada pemerintah. Pajak
adalah salah satu sumber pendapatan pemerintah. Pemerintah mengambil bagiannya dari
hasil produksi minyak dan gas bumi melalui pajak yang dikenakan terhadap semua
pemasukan kontraktor yang didapat dari usahanya tersebut. Sistem perpajakan yang
dibuat oleh pemerintah dimaksudkan untuk memaksimalkan pendapatan pemerintah.
Harga minyak mentah (Sales Price) Indonesia tergantung dari harga pasar minyak
mentah dunia. Harga tersebut merupakan harga penjualan dengan sistem FOB (Free on
Board), yang berarti harga minyak sesuai dengan harga minyak yang masuk ke Tanker.
Harga ini akan naik apabila menggunakan sistem penjualan CIF (Cost in Freight) yang
berarti minyak sampai di negara pembeli dan harganya menyesuaikan dengan regulasi
yang berlaku atau kesepakatan antara kedua belah pihak. Harga minyak mentah
dipengaruhi oleh API, semakin besar harga API suatu minyak maka minyak tersebut
semakin ringan dan harganya semakin mahal.
Net Revenue Interest (NRI) didefinisikan sebagai perkalian antara Working Interest
dengan (1-Royalty Interest). Royalty Interest diberikan kepada pemerintah berdasarkan
peraturan perundangan sebagai pemilik lahan atau area yang digunakan.

31

3.3 Jenis Jenis Metode Perhitungan Cadangan


Dalam memperkirakan cadangan migas, kita memiliki beberapa metode yang
dapat digunakan pada beberapa banyak data, waktu, serta dana yang dimiliki.
Metode-metode tersebut antara lain :
Metode Analogi
Metode Volumetric
Metode Decline Curve
Metode Material Balance
Metode Reservoir Simulation, dan metodemetode lain yang masih terus
dikembangkan.
Tabel 3.1 Perbandingan Metode Perhitungan Cadangan
No

Metode

Data yang
Dibutuhkan
Data sumur atau Lapangan
sekitarnya
Data log dan core Perkiraan luas
RF
Sifat fluida
Data produksi
Data tekanan
Fluida
Batuan
Data produksi
-

Kelebihan

Analogi

Volumetric Material Balance Decline


Cepat dan Murah
Curve
Reservoir - Data
Material - Lebih
mampu
Simulation
Balance untuk tipe
menjelaskan secara
sel
rinci
- Data sumur dan
geologi

4
5

Cepat dan Murah


Dapat
dilakukan
sebelum pengeboran
Informasi minimal
Cepat
Dapat dilakukan pada
awal produksi
Tidak perlu perkiraan
luas, RF dan
ketebalan

Kekurangan
Kurang teliti

Perkiraan
tepat

tidak

Dibutuhkan lebih
banyak informasi
Dibutuhkan
kondisi konstan
Mahal dan butuh
waktu lama

3.4 Metode Decline Curve(4:98)


Metode Decline Curve merupakan salah satu metode untuk memperkirakan
besarnya cadangan minyak sisa berdasarkan datadata produksi setelah selang waktu

32

tertentu. Perkiraan cadangan kumulatif dan cadangan sisa dengan menggunakan ini
didasarkan pada data produksi.
Penurunan laju produksi dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, diantaranya
mekanisme pendorong reservoir, tekanan, sifat fisik batuan dan fluida reservoir. Pada
dasarnya perkiraan jumlah cadangan minyak sisa menggunakan Metode Decline
Curve adalah memperkirakan hasil ekstrapolasi (penarikan garis lurus) yang
diperoleh dari suatu kurva yang dibuat berdasarkan plotting antara data produksi atau
produksi kumulatif terhadap waktu produksinya. Beberapa macam tipe grafik yang
dapat digunakan untuk peramalan cadangan dan produksi hidrokarbon adalah :
1. Laju produksi terhadap waktu (q vs t).
2. Laju produksi terhadap produksi kumulatif (q vs Np).
3. Persen minyak terhadap produksi kumulatif (% oil vs Np).
4. Produksi kumulatif gas terhadap produksi kumulatif minyak (Gp vs Np).
5. Tekanan reservoir terhadap waktu (P vs t).
6. P/Z vs produksi kumulatif (untuk reservoir gas).
Kurva penurunan (Decline Curve) terbentuk akibat adanya penurunan produksi
yang disebabkan adanya penurunan tekanan statis reservoir seiring dengan
diproduksikannya hidrokarbon. Para ahli reservoir mencoba menarik hubungan
antara laju produksi terhadap waktu dan terhadap produksi kumulatif dengan tujuan
memperkirakan produksi yang akan datang (future production) dan umur reservoir
(future life).
Tahun 1944, J. J. Arps mengembangkan Metode Loss Ratio berdasarkan harga
eksponen decline-nya atau lebih dikenal dengan b. Harga b berkisar 0 sampai

33

dengan 1. Jika harga b=0 maka disebut sebagai exponential decline, jika harga
(0<b<1) maka disebut hyperbolic decline, dan jika harga b=1 disebut dengan
harmonic decline.
Beberapa istilah yang perlu diketahui dalam penggunaan Metode Decline Curve
yaitu rate of decline (D) yang didefinisikan sebagai perubahan dalam laju relatif dari
produksi per-unit waktu, tanda (-) menunjukkan arah slope yang dihadirkan plot
antara laju produksi dan waktu dari kurva logaritma. Menentukan harga rate of
decline menggunakan persamaan dibawah ini :
(
D=

dq
)
dt
q

........................................................................................ (3-7)

Definisi dari loss ratio ( a ) adalah fungsi inverse dari rate of decline (D).
Penentuan harga loss ratio menggunakan persamaan dibawah ini :

a=

a=

Keterangan :
a
dq/dt

1
(dq /dt)
q
q
dq
dt

( )

................................................................................... (3-8)

........................................................................................... (3-9)

= Loss Ratio, waktu


= Perubahan laju produksi terhadap waktu, BOPD

Definisi dari eksponen decline (b) adalah fungsi turunan pertama dari loss ratio.
Penentuan harga eksponen decline menggunakan persamaan di bawah ini:

34

b=

da
dt

........................................................................................... (3-10)

Keterangan :
b

= Eksponen Decline

= Laju Produksi, BOPD

= Waktu, hari

35

3.4.1 Exponential Decline Curve(4:98)


Exponential Decline Curve disebut juga Geometric Decline atau Semilog Decline
atau Constant Percentage Decline mempunyai ciri khas yaitu penurunan produksi
pada suatu interval waktu tertentu sebanding dengan laju produksinya (konstan).
Atas dasar hubungan di atas, apabila variabel-variabelnya dipisahkan maka dapat
ditarik beberapa macam hubungan yaitu hubungan antara laju produksi terhadap
waktu dan hubungan laju produksi terhadap produksi kumulatif.
a. Hubungan Laju Produksi terhadap Waktu
Kurva penurunan yang konstan ini hanya diperoleh bila eksponen decline
adalah nol (b=0). Maka pada Exponential Decline ini digunakan penggunaan limit
sebagai rumusan matematis (differensiasi fungsi eksponensial), secara sistematis
bentuk kurva penurunan menjadi sebagai berikut :
q=q i eD t ......................................................................................... (3-11)
i

Keterangan:
q = Laju produksi pada waktu t, BOPD
qi = Laju produksi pada saat terjadi decline (initial), BOPD
Di

= Initial nominal decline rate , fraksi/waktu

t
= Waktu, bulan
e
= Base of natural logarithm (2,718)
Nominal decline rate (D) sendiri didefinisikan sebagai kemiringan negative
dari kurva antara log laju produksi (q) terhadap waktu (t). Persamaan (3-11)

digunakan untuk menentukan besarnya Initial Nominal Decline Rate (

Di

),

dengan cara :
ln
D i=

( qiq )
t

...................................................................................... (3-12)

36

Hubungan antara Di dan De ditunjukkan pada persamaan dibawah ini sebagai


contoh diambil waktu pada periode t (misal 1 tahun) dan besar q adalah sama
sehingga persamaan (3-11) dan (3-12) dapat disederhanakan menjadi :
q=q
qi eD t =q iq i De
i

............................................................................. (3-13)

qi eD =qi (1D e )
i

Initial Nominal decline rate merupakan fungsi dari effective decline rate,
sehingga:
D i=ln(1De ) .............................................................................. (3-14)
Effective decline rate sebagai fungsi dari initial nominal decline rate:
D e =1eD

..................................................................................... (3-15)

Persamaan (3-11) akan membentuk kurva linier apabila laju produksi diplot
terhadap waktu pada kertas semi log dengan kemiringan konstan sebesar Di.
Hubungan laju produksi terhadap waktu pada Exponential Decline dapat dilihat
pada Gambar 3.4.
b. Hubungan Laju Produksi terhadap Produksi Kumulatif
Berdasarkan grafik, kumulatif produksi merupakan integral dari rate terhadap
waktu. Penentuan besarnya kumulatif produksi minyak pada setiap waktu dapat
dilihat dalam persamaan berikut :
t

Np= q dt ........................................................................................ (3-16)


0

37

Dengan mensubstitusikan persamaan (3-11) untuk nilai q, dan


mengintegralkannya maka diperoleh persamaan :
qiqi eD t
Np=
Di
i

Dt
Dengan mengingat bahwa q=q i e

Np=

qiq
Di

maka akan didapat :

....................................................................................... (3-17)

Besarnya cadangan pada waktu limit (

t1

dapat dicari dengan

mengekstrapolasi garis lurus sampai batas economic limit rate

q
( limit ) atau

dihitung menggunakan persamaan :


Npt limit =

qi qlimit
Di

.......................................................................... (3-18)

Besarnya harga nominal decline rate dapat dihitung dari slope kemiringan
grafik, yaitu :
D i=

qiq
=tan
Npt limit

........................................................................ (3-19)

Lamanya waktu produksi sampai

qlimit

11) yaitu :
qlimit =q i eD t

i 1

38

dapat dihitung dengan Persamaan (3-

ln
t limit =

Nilai

Di

qi
q limit

( )
Di

................................................................................ (3-20)

disubstitusi dari persamaan (3-20) sehingga diperoleh persamaan :

t limit =

Npt limit

( qi qlimit )

ln

qi
q1

....................................................................... (3-21)

Persamaan (3-18) akan memberikan grafik garis lurus bila laju produksi (q)
diplot terhadap produksi kumulatif ( Np ) pada kertas skala kartesian sepeti
terlihat pada Gambar 3.4.

39

3.4.2 Hyperbolic Decline Curve(4:100)


Hyperbolic Decline Curve adalah suatu tipe kurva di mana harga loss ratio (a)
mengikuti deret hitung, sehingga turunan pertama loss ratio terhadap waktu yaitu
eksponen decline (b) mempunyai harga konstan atau relatif konstan berkisar dalam
rentang 0 sampai 1. Data yang apabila di plot pada kertas semilog terkadang akan
cenderung melengkung ke atas. Hal ini memungkinkan pemakaian dari metode ini.
a. Hubungan Laju Produksi terhadap Waktu
Tipe ini dikatakan sebagai hyperbolic decline karena mempunyai harga (b>0,
b1). Sehingga diperoleh persamaan umum dari Metode Decline Curve adalah :
1

q=q i( 1+ b D i t) b

............................................................................. (3-22)

Keterangan :
q
= Laju produksi pada waktu t , BOPD
qi = Rate produksi pada waktu t = 0 , BBL/bulan
b

= Exponent Decline (Turunan pertama dari loss ratio)


Di

= Initial Nominal Decline Rate , fraksi/waktu


= Waktu , hari

Penentuan Initial Nominal Decline Rate

D
( i)

untuk Hyperbolic Decline

Curve adalah dengan memangkatkan persamaan (3-22) dengan (-b), sehingga


didapat :
qi
1
q
D i=
bt

( )

..................................................................................... (3-23)

Plot laju produksi terhadap waktu pada kertas kartesian akan membentuk suatu
kurva hiperbola seperti terlihat pada Gambar 3.4.

40

Penentuan besarnya Effective Decline Rate (De) yaitu menggunakan persamaan :


De =

qiq
qi

........................................................................................ (3-24)

Hubungan antara Di dan De ditunjukkan pada persamaan dibawah ini sebagai


contoh diambil waktu pada periode t (misal 1 tahun) dan besar q adalah sama
sehingga persamaan (3-22) dan (3-23) dapat disederhanakan menjadi :
q=q
1
b

qi (1+b D i) =q iq i De

................................................................... (3-25)

Dimana t = 1, maka :
1

qi (1+ b D i) b =q i (1D e )
Initial Nominal Decline Rate merupakan fungsi dari Effective Decline Rate,
sehingga:
D i=

1
[ (1D e )b1 ] ....................................................................... (3-26)
b

Effective Decline Rate sebagai fungsi dari Initial Nominal Decline Rate :
D e =1(1+b Di)

1
b

.......................................................................... (3-27)

b. Hubungan Laju Produksi terhadap Produksi Kumulatif


Harga kumulatif produksi pada Hyperbolic Decline merupakan integral dari
rate terhadap waktu, yaitu :
t

Np= q dt
0

....................................................................................... (3-28)

41

Mensubstitusikan persamaan (3-22), untuk harga q :


t

1
b

Np= q i (1+ b Di) dt


0

.................................................................... (3-29)

Setelah memasukan persamaan laju alirnya, kemudian mengintegralkan


hasilnya dengan (b 0), dan penyederhanaan dari hasil persamaan menjadi :

Np=

1b
qi
(1+b Di t ) b 1
(b1)Di

dimana harga q=q i( 1+ b D i t)

1
b

qi
Np=
q1bqi1b ] .............................................................. (3-30)
[
( b1 ) D i
Mengalikan dan membagi persamaan (3-30) dengan (-1), sehingga hasil
persamaan kumulatif produksi untuk hyperbolic decline adalah :
b
qi
Np=
qi1bq 1b ] .............................................................. (3-31)
[
( 1b ) D i
Lamanya waktu produksi sampai batas economic limit rate (

ti

) dapat

diperoleh dari persamaan (3-24) yaitu :


q=q i ( 1+b D i t )
qi

t limit =

( )
q limit

1
b

b Di

.............................................................................. (3-32)

42

qi b
1
qlimit

( )
( )
( )

1b N pt limit qi
t limit =
b
qi
qlimit

3.4.3

1b

qi
q limit

.................................... (3-33)

1b

Harmonic Decline Curve(4:100)


Harmonic Decline Curve merupakan bentuk khusus dari Hyperbolic Decline

Curve dimana harga eksponen declinenya sudah ditetapkan yaitu (b=1). Seperti dua
tipe sebelumnya, hubungan laju produksi terhadap waktu dan hubungan laju produksi
terhadap produksi kumulatif juga dapat diperoleh dari tipe decline ini.

43

a. Hubungan Laju Produksi terhadap Waktu


Hubungan laju produksi terhadap waktu secara matematis adalah sama dengan
persamaan (3-24) untuk harga b=1 atau dapat dituliskan sebagai berikut :
q=q i ( 1+b D i t )

1
b

dimana harga b = 1, maka :


qi
q=
(1+ D i t) ..................................................................................... (3-34)
Persamaan (3-28) dapat digunakan untuk menentukan Initial Decline Rate
(Di) untuk jenis Harmonic Decline Curve , dengan memangkatkan persamaan
tersebut dengan (-1), sehingga persamaan menjadi :
q
ln
1
qi
................................................................................. (3-35)
D i=
t

( )

Hubungan antara Di dan De ditunjukkan pada persamaan dibawah ini sebagai


contoh diambil waktu pada periode t (misal 1 tahun) dan besar q adalah sama
sehingga persamaan (3-28) dan (3-29) dapat disederhanakan menjadi :
q=q
qi

( 1+ D i t )

=q iqi D e

.......................................................................... (3-36)

dimana t = 1, maka :
qi
=q (1De )
( 1+ D i) i
1
=(1D e )
( 1+ D i)
Initial Nominal Decline Rate merupakan fungsi dari Effective Decline Rate,
sehingga:
D i=

De
1De

....................................................................................... (3-37)

Effective decline rate sebagai fungsi dari initial nominal decline rate :

44

De=

Di
1Di ........................................................................................ (3-38)

Hubungan antara laju produksi terhadap waktu dari persamaan (3-36) jika
diplot pada kertas log-log maka akan diperoleh suatu kurva garis seperti terlihat
pada Gambar 3.4.
b. Hubungan Laju Produksi terhadap Produksi Kumulatif
Harga kumulatif produksi pada Harmonic Decline didapat dari
mengintegrasikan persamaan rate terhadap waktu, sehingga diperoleh :
t

Np= q dt
0

Np=

qi
ln(1+ Di t) .......................................................................... (3-40)
Di

dimana :

qi

( 1+Di t ) = q

Sehingga persamaan Harmonic Decline untuk kumulatif produksi adalah :


q
q
Np= i ln i .................................................................................. (3-41)
Di
q

( )

Plot antara laju produksi terhadap kumulatif produksi dari persamaan (3-41)
pada kertas semilog akan membentuk suatu kurva garis lurus seperti terlihat pada
Gambar 3..
Lamanya waktu produksi sampai batas Economic Limit Rate (
dihitung dari persamaan (3-34) yaitu :
qlimit q i ( 1+ D i t )1
qi

=( 1+ Di t limit )
qlimit

45

t limit

) dapat

[( ) ]
qi

t limit =

Nilai

Di

q limit

............................................................................. (3-42)

Di

dari persamaan (3-41) disubtitusikan ke persamaan (3-42),

diperoleh :
N pt limit
t limit =

[( ) ]

q i ln

qi

qlimit
qi

qlimit

................................................................ (3-43)

3.5 Estimasi Cadangan Minyak Sisa (ERR)


Estimated Remaining Reserve (ERR) adalah cadangan yang masih tertinggal di
reservoir yang dapat diproduksikan dengan teknologi yang ada, ERR dapat
dirumuskan sebagai berikut :
ERR

= EUR Npt ....................................................................... (3-44)

Keterangan :
ERR

= Estimated Remaining Reserve, STB

EUR

= Estimated Ultimate Recovery, STB

Npt

= Produksi kumulatif pada waktu t, STB

Dari hasil pembahasan-pembahasan di atas maka dapat diringkas sebagai berikut :

Gambar 3.4 merupakan grafik plot qo vs t dan qo vs Np pada berbagai tipe


skala yaitu skala Coordinate, skala Semilog dan skala Log-log dari ketiga tipe
Decline Curve.

46

Tabel 3.2 meringkas pengembangan hubungan untuk tiga tipe dari kurva
decline yang telah didiskusikan.

Gambar 3.4 Grafik Hubungan laju Produksi terhadap Produksi Kumulatif


pada ketiga jenis Decline Curve(2:238)
Tabel 3.2 Persamaan-persamaan Decline Curve

47

48