Anda di halaman 1dari 10

1

TANAMAN BERPOTENSI SEBAGAI PESTISIDA


TANAMAN TOMAT (Solanum lycopersicum L.)
Irma Nurhayati 4411414015
ABSTRAK
Tomat (Solanum lycopersicum L.) merupakan jenis tanaman sayur yang bernilai
ekonomi tinggi.Tanaman ini tumbuh baik hampir di seluruh provinsi di Indonesia.
Tanaman tomat banyak dimanfaatkan sebagai pestisida dan insektisida alami oleh
petani.Daun dan batang tomat telah digunakan secara tradisional untuk menolak
serangga karena memiliki bau yang khas.Daun dan batang tomat mengandung
senyawa alkaloid,saponin,triterpenoid-steroid,flavonoid,tannin dan glikosida.Daun
dan batang tomat sering kali terabaikan karena mengandung glikoalkaloid yang
beracun jika dikonsumsi dalam jumlah banyak.Glikoalkaloid memiliki aktifitas
sebagai anti jamur,anti bakteri,anti serangga dan secara empiris kerap digunakan
sebagaii pestisida oleh petani.Dalam suatu penelitian untuk mengetahui daun dan
batang tomat digunakan sebagai repelan terhadap insekta atau serangga, dilakukan
uji terhadap serangga nyamuk, penelitian ini diawali dengan ekstraksi serbuk kering
daun dan batang tomat dengan menserasi menggunakan pelarut etanol 70%.
Berdasarkan data yang didapatkan menunjukkan semakin tinggi konsentrasi ekstrak
daun dan batang tomat pada bahan yang diujikan semakin tinggi daya repelan
terhadap insekta atau serangga (nyamuk). Insekta atau serangga yang memakan
tanaman yang disemprot dengan ekstrak dari daun dan batang tomat akan
mengalami keracunan kemudian akan mati. Tanaman tomat juga dapat digunakan
sebagai obat anti nyamuk, obat anti serangga atau insekta, dan mencegah hamahama lain pada tanaman pertanian.
Kata Kunci : Tomat,Daun dan batang tomat,Glikoalkaloid,Repelan, Ekstrak daun
dan batang tomat

PENDAHULUAN

Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum L.)


Tanaman tomat termasuk dalam suku Solanaceae, merupakan tumbuhan asli
dari Amerika Tengah dan Selatan .Tomat merupakan tumbuhan siklus hidup singkat,
dapat tumbuh setinggi 1-3 meter. Tanaman ini memiliki buah berwarna hijau,kuning
dan merah yang biasa dipakai dalam masakan atau dimakan secara langsung. Batang
dan daun pada tanaman tidak dapat dikonsumsi karena mengandung senyawa
alkaloid, lebih tepatnya senyawa glikoalkaloid. Senyawa glikoalkaloid merupakan
senyawa beracun yang berbahaya jika dikonsumsi, tetapi senyawa ini dapat
dimanfaatkan sebagai pestisida dan insektisida alami (Wikipedia.ac.id 2016)
Di Indonesia sekitar 654.510 ton buah tomat dihasilkan setiap tahunnya
(Badan Pusat Statistik Dan Direktorat Jendral Holtikultura,2012). Batang dan daun
tomat merupakan sumber daya yang melimpah dan hanya sebagian yang
dimanfaatkan sebagai kompos, dan sebagian besar dibuang. Daun tomat kerap
digunakan sebagai pestisida alami untuk tanaman-tanaman ladang,namun
penggunaannya masih dengan cara tradisional hanya dengan merebus daunnya lalu
air rebusan akan disemprotkan ke tanaman (Purwanti 2014). Hal ini perlu kajian
ilmiah lebih lanjut untuk membuktikan perlakuan tersebut.
Kandungan Senyawa Daun, Batang dan Buah Tomat (Solanum lycopersicum L.)
Tanaman tomat merupakan tanamn holtikultura yang banyak mengandung
vitamin.Tanaman tomat terdiri dari akar, batang , daun, bunga , buah dan biji.Buah
tomat mengandung alkaloid, solanin, saponin, tomatin, mineral, bioflavonoid dan
vitamin. daun tomat mengandung pectin amiglandin, dan alkaloid (glikoalkaloid).
Batang tomat mengandung alkaloid dan licopersicin. Secara tradisional daun dan
batang tomat digunakan oleh masyarakat untuk menolak berbagai jenis serangga
misalnya lalat buah dan nyamuk. Daun dan batang tomat dapat digunakan sebagai
insektisida alami karena mempunyai bau yang tidak disukai serangga selain itu
daundan batang tomat dapat dijadikan sebagai fungisida normal (Wahyudi 2011).
Daun tomat sendiri dikenal memiliki senyawa glikoalkaloid yang tinggi,
senyawa glikoalkaloid merupakan senyawa beracun yang apabila dikonsumsi dalam
jumlah banyak akan menyebabkan gejala mual, muntah, sulit bernafas, jika diberikan
sebagai bahan ternak. Dalam sebuah penelitian menyatakan bahwa senyawa volatil
daun tomat memiliki aktivitas anti jamur yang kuat terhadap tiga jenis patogen
tanaman jamur insektisida. Penelitian mengenai uji anti bakteri dari daun tomat

dan isolasi alkaloid belum didapatkan. Untuk itu perlu dilakukan penelitian
mengingat masih melimpahnya daun tomat yang belum termanfaatkan dan
sebagai alternatif bahan pembasmi penyakit tanaman alami (Purwanti 2014). Daun
tanaman tomat liar mengandung senyawa glukos, fruktosa, sukrosa, dan inositol, serta
asam amino. Daun tomat spesies Solanum lycopersicum mengandung senyawa
aspartat, glutamin, glutamat, oksoprolin, prolin, threonin, dan serin dengan kadar
yang cukup tinggi (Schauer 2005).
Buah tomat kaya akan asam askorbat atau vitamin C yang digunakan sebagai
anti oksidan. Dalam sebuah studi penelitian tanaman tomat yang memiliki kandungan
Boron (B) yang tinggi pada medium akarnya menyebabkan kerusakan senyawa
oksidatif pada daun tomat, tetapi mengalami peningkatan kandungan asam askorbat
pada buahnya (Cervilla 2007). Tomat memiliki kandungan asam sitrat, magnesium,
kalsium, klor, belerang ,kalium ,zat besi natrium, iodium,vitamin A B C,lycopene
sodium dan kalium.Selain itu mengandung solanin, saponin, asam folat , asam malat ,
asam sitrat, bioflavonoid , protein, lemak ,vitamin, mineral dan histamine (Cahyani
2015).
Buah tomat (Solanum lycopersicum L.) mengandung zat aktif yaitu
tomatin dan bioflavonoid yang menghambat pembentukan asam arakidonat
dalam proses pembentukan mediator inflamasi dan kaya dengan likopen dan
karotenoid lainnya (seperti -, -, -karoten, lutein), kalium, folat, vitamin C dan
vitamin E (YUNUS 2010).Buah tomat memiliki kandungan vitamin A dan C serta
senyawa likopean salah satu kandungan kimia paling banyak dalam tomat.Likopen
pada tomat mampu untuk menangkal radikal bebas (Humam 2013).
Kandungan dalam buah tomat:

GAMBARAN KHUSUS
Kondisi Kekinian (Permasalahan) Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum L.)
Pestisida merupakan substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus
yang digunakan untuk memberantas atau mencegah hama-hama dan penyakit yang
merusak tanaman. Saat ini masih banyak digunakan pestisida sintesis atau buatan
pabrik untuk pencegahan hama pada tanaman pertanian tanpa memperdulikan residu
dari pestisida tesebut. Residu pestisida adalah zat tertentu yang terkandung dalam
hasil pertanian, bahan pangan atau pakan hewan, baik sebagai akibat langsung
maupun dari penggunaan pestida (Alegantina 2005).
Residu pestisida sintesis sangat sulit terurai secara alami. Bahkan beberapa
jenis pestisida memiliki residu yang dapat bertahan hingga puluhan tahun, residu

pestisida sintesis yang sulit terurai hampir ditemukan di setiap lingkungan sekitar
kita. Kondisi ini sangat buruk bagi individu lain syang bukan sasaran. Sifat yang
beracun serta relative resisten terhadap lingkungan , residu yang tertinggal di
lingkungan akan menjadi masalah (Barus 2007).
PHT atau Pengendalian Hama Terpadu pada prinsipnya ditekankan pada
upaya untuk memadukan semua teknik pengendalian hama yanag cocok serta
berfungsi sebagai proses pengendalian secara alami yang mampu mempertahankan
populasi hama pada taraf yang tidak merugikan tanaman. Dengan adanya konsep
PHT diharapkan dalam pemakain pestisida sintesis diupayakan pelaksanaannya
secara lebih bijak dengan memperhatikan factor-faktor ekologi dan biologi dari hama
sasaran (Sumartono 1994).Residu pestisida menimbulkan dampak negatif bagi
lingkungan sekitar serta dapat memicu keracunan bagi makhluk hidup lain. Dalam
upaya menghindari residu pestisida buatan maka dilakukan sebuah uji untuk
pembasmi hama khususnya serangga (insektisida ) dari bahan alami atau disebut
pestisida nabati.
Penggunaan pestisida nabatiyang berasal dari tumbuhan merupakan salah satu
pestisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama penyakit. Pestisida alami
berbahan aktif tunggal atu majemuk yang dapat berfungsi sebagi penolak, anti fertil
dan pembunuh. Di alam terdapat sekitar kira-kira 1000 spesies tanaman yang dapat
dijadikan sebai pestisida alami (Susetyo dkk, 2008).
Tomat (Solanum lycopersicum) termasuk family Solanaceae yang dapat hidup
disegala dataran, tanaman ini hampir dapat ditemukan di seluruh daerah di Indonesia.
Dalam tanaman tomat terkandung berbagai macam zat yang berpotensi sebagai
insektisida alami, misalnya senyawa alkaloid. Senyawa alkaloid merupakan racun
bagi serangga atau insect. Tomat mulai dari daun, batang hingga buah semuanya
mengandung senyawa alkaloid. Buah tomat mengandung alkaloid solanin, batangnya
mengandung alkaloid dan licopersicin, sedangkan pada daunnya mengandung
glikoalkaloid. Batang dan daun tomat memiliki bau yang khas dan tidak disukai oleh
bangsa serangga, sehingga batang dan daun tomat dapat dijadikan insektisida alami,
selain itu daun dan batang tomat juga dapat digunakan sebagai fungisida ringan
(Wahyudi 2011).
Selain sebagi pestisida alami tanaman tomat juga bias dimanfaatkan sebagi
obat anti serangga atau anti insektisida, anti fungisida ringan, sebagai penangkal
hama yang merugikan tanaman pertanian. Dalam bidang kesehatan tanaman tomat
,buahnya digunakan sebagai antioksidan untuk mencegah radiasi bebas, anti
inflamasi, mencegah stroke serta mengobati penyakit atherosklerosis (Wahyudi 2011;
Humam 2015 ; Yunus 2010 ; Selamet 2013 ; Cervilla 2007).

Metode Uji Tanaman Solanum lycopersicum L. sebagai Pestisida Pembasmi


Serangga Alami (Insektida Alami)
Pembuatan ekstrak menggunakan bagian tanaman tomat yaitu pada baian
daun dan batang tomat. Pertama daun dan batang tomat sebanyak 2,45 kg dikeringkan
kemudian dikeringkan dan dihaluskan hingga menjadi serbuk . Selanjutnya serbuk
daun dan batang tomat diserasi dengan pelarut etanol 70% dilakukan tiga kali
ulangan. Maserat dikumpulkan dan diuapkan dengan vakum rotary evaporator hingga
diperoleh ekstrak kental sebanyak 136,5 gram atau setara dengan rendaman 5,59%.
Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah nyamuk A.aegypti betina yang
berumur 2-3 hari hasil koloni.Alat-alat yang digunakan dalam penelitian antara lain
Rotary Evaporator, lemari asam, pipet volume, aspirator dan kurungan nyamuk yang
dindingnya terbuat dari kin kasa nilon.
Uji pendahuluan daya repelan (zat penolak) : dilakukan dengan konsentrasi
1,5% b/v, 3% b/v, 6% b/v dan control (0% b/v)dibuat dengan mencampurkan 1ml
tween 20 dengan aquades hingga volume 10 ml. Konsentrasi 1,5 % b/v dibuat dengan
cara mencampurkan 0,15 gram ekstrak dengan 1 ml tween 20 kemudian diencerkan
dengan aquadest hingga volume menjadi 10 ml. Setiap konsentrasi dibuat dengan
cara yang sama.Setiap lengan yang akan dijadikan umpan untuk repelan diisolasi
dengan konsentrasi larutan uji sesuai dengan luas permukaan lengan.Lengan
dimasukkan ke dalam kurungan nyamuk yang berisi 25 ekor nyamuk A.aegypti betina
yang berumur 2-3 hari dalam kondisi lapar.Pengamatn uji dilakukan 5 menit
pertama,kemudian diulangi periode jam berikutnya hingga jam ke 6 selam 5 menit
dan dihitung jumlah nyamuk yang hinggap atau menghisap darah lengan.Selama
pengujian lengan tidak dicuci dan perlakuan tidak ditambah,hal ini untuk melihat
daya perlakuaan. Dari hasil penelitian dapat diamati semakin besar konsentrasi
semakin tinggi daya repelan dan semakin lama waktu pernaparan semakin rendah
daya repelan, Ekstrak etanol 70% daun dan batang tomat pada konsentrasi tertinggi
mempunyai daya repelan tertinggi.
Uji daya repelan, konsentrasi yang akan digunakan dimulai dari ambang
bawah hingga konsentrasi optimum. Konsentrasi yang akan digunakan ditambahkan
dengan 1ml tween 20lalu diencerkan dengan aquades hingga olumenya menjadi 10
ml. Dari hasil uji lanjut menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi yang
diberikan daya repelan semakin besar.Hal ini menunjukkan semakin tinggi
konsentrasi ekstrak daun dan batang tomat ,semakin sedikit jumlah nyamuk yang
hinggap dan menghisap drah pada lengan. Semakin lama waktu pemaparan semakin
mengurangi daya repelan ekstrak.
Daya repelan dari ekstrak daun dan batang tomat, disebabkan mempunyai bau
yang khas yang secara tradisional telah digunakan manusia untuk menolak

serangga.Namun, pemanfaatan sebagai penolak seranggadan insektisida alami belum


diiringi penelitian secara ilmiah , sehingga hasil penelitian daya repelan dari ekstrak
daun dan batang tomat terhadap nyamuk memberikan konstribusi yang signifikan.
Kemampuan ekstrak daun dan batang tomat dalam meolak nyamuk
disebabkan oleh adanya kandungan triterpenoid-steroid dan alkaloid yang terkandung
di dalam ekstrak.Senyawa triterpenoid terdapat dalam lapisan malam daun yang
berfungsi untuk menolak adanya serangga (Harborne 1987 dalam Wahyudi
2011).Sedangkan alkaloid merupakan racun saraf bagi serangga dan mempunyai bau
yang khas yang tidak disukai oleh serangga (Wiryodagdo 2008 dalam Wahyudi
2011).

Upaya Promotif Pestisida Nabati dari Tanaman Solanum lycopersicum L.


Kandungan senyawa dalam buah tomat di antaranya solanin (0,007 %),
saponin, asam folat, asam malat, asam sitrat, bioflavonoid (termasuk likopen, dan
-karoten), protein, lemak, vitamin, mineral dan histamine.(Febriansah 2015).
Selain itu tomat (Solanum lycopersicum) dapat digunakan sebagai salah satu
alternatif dalam pengendalian vektor nyamuk Aedes aegypti. Tomat mengandung
zat aktif saponin dan alkaloid. Senyawa saponin dapat menghemolisa darah,
mengikat kolesterol dan toksin pada hewan berdarah dingin. Saponin mengandung
hormon steroid yang berpengaruh dalam penanaman larva nyamuk Aedes
AegyptiSaponin dapat menurunkan tegangan permukaan selaput mukosa traktus
digestivus larva nyamuk sehingga dinding traktus digestivus menjadi korosif
akhirnya pecah dan larva nyamuk menjadi mati. Alkaloid dapat merangsang
kelenjar endoktrin untuk menghasilkan hormone (Ariani 2011)
Menurut Baroji (2003) bahwa insektisida nabati bersifat mudah terurai
di alam, karena terbuat dari bahan alami atau nabati sehingga tidak mencemari
lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak piliharaan. Akan tetapi,
insektisida nabati belum digunakan oleh masyarakat dalam penanggulangan
masalah demam berdarah. Pengendalian vektor larva Aedes aegypti yang sering
digunakan oleh masyarakat melalui berbagai penyuluhan dari Dinas Kesehatan
adalah dengan menggunakan bubuk abate. Bubuk abate merupakan pengendalian
vektor dengan cara kimia. Pengendalian vektor dengan cara kimia memerlukan
dana yang yang tidak sedikit serta mempunyai dampak negatif terhadap
lingkungan. Oleh karena itu, perlu dilakukan cara lain dengan menggunakan
insektisida nabati dari ekstrak tomat (Solanum lycopersicum L.).

Upaya Preventif Pestisida Nabati Dari Tanaman Solanum lyopersicum L.


Tomat buah sayur yang sangat penting bagi kesehatan tubuh. Tomat
mengandung mineral dan anti oksidan yang meliputi vitamin C dan E, likopen, beta
karoten, lutein dan flavonoid (Dorais 2008). Tanaman tomat dimanfaatkan sebagai
pestisida dan insektisida nabati.
Pestisida nabati dapat mengendalikan serangga hama dan penyakit melalui
cara kerja yang unik, yaitu dapat melalui perpaduan berbagai cara atau secara
tunggal. Daun tomat secara empiris kerap digunakan sebagai pestisida untuk
tanamantanaman di ladang, namun penggunaanya hanya sebatas dengan merebusnya
dengan air kemudian air rebusan disaring dan disemprotkan pada tanaman. Karena
penggunaannya hanya sebatas pengalaman maka perlu dilakukan kajian ilmiah
untuk membuktikan aktivitas tersebut. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa
senyawa volatil daun tomat memiliki aktivitas anti jamur yang kuat terhadap tiga
jenis patogen tanaman jamur Botryotinis fuckeliana, Glomerella cingulata,
danFusarium oxysporum f. sp. Melonis (Purwanti 2014 ).
Senyawa yang terdapat pada batang dan daun tomat dapat dijadikan pestisida
nabati, senyawa alkaloid merupakan senyawa racun yang apabila sengaja termakan
oleh hewan atau hama tanaman ,hewan atau tanaman tersebut akan mengalami
keracunan atau bahkan kematian. Alkaloid beracun pada hewan maupun manusia
yang mengkonsumsinya secara berlebih, gejala keracunannya seperti mual, muntah,
sesak napas dan lain-lain.
Selain itu terdapat senyawa glikoalkaloid yang tinggi, senyawa glikoalkaloid
merupakan senyawa beracun yang apabila dikonsumsi dalam jumlah banyak akan
menyebabkan gejala mual, muntah, sulit bernafas, jika diberikan sebagai bahan
ternak. Dalam sebuah penelitian menyatakan bahwa senyawa volatil daun tomat
memiliki aktivitas anti jamur yang kuat terhadap tiga jenis patogen tanaman
jamur insektisida. Penelitian mengenai uji anti bakteri dari daun tomat dan isolasi
alkaloid belum didapatkan. Untuk itu perlu dilakukan penelitian mengingat
masih melimpahnya daun tomat yang belum termanfaatkan dan sebagai alternatif
bahan pembasmi penyakit tanaman alami (Purwanti 2014).
Pestisida secara umum diartikan sebagai bahan kimia beracun yang digunakan
untuk mengendalikan jasad pengganggu yang merugikan kepentingan manusia.
Pestisida sudah lama digunakan dalam biadang pertanian.Biasanya para petani
menggunakan pestisida sintesis tanpa yang dalam penggunaannya biasanya
mengabaikan dosis pemakainnya. Pestisida buatan apabila tidak terurai dapat
mencemari lingkungan bahkan merusak ekosistem.
Kecelakaan terhadap penggunaan pestisida biasanya terjadi pada petani saat
melakukan penyemprotan secara langsung.Kadang kala para petani buah maupun

sayur tidak menyadari daya racun pestisida yang dipakai.Pestisida dalam bentuk gas
merupakan pestisida yang paling berbahaya apabila terhirup.Untuk menghindari
keracunan saat melakukan pengaplikasian pestisida harus menggunakan sarung
tangan, masker,dan sepatu, setelah melakukan penyemprotan langsung harus bcuci
tangan dengan bersih, harus benar-benar bersih dari sisa pestisida.
Selain dapat menyebabkan keracunan pestisida sintesis dapat mencemari
bahkan merusak lingkungan apabila tertimbun dan tidak terurai,untuk itu dilakukan
sebuah penelitian untuk mengembangkan pestisida alami dengan memanfaatkan
senyawa metabolit atau senyawa racun yang ada pada tanaman.Misalnya kita dapat
memanfaatkan senyawa alkaloid yang terdapat pada tanaman tomat.Senyawa alkaloid
merupak senyawa racun yang dapat mematikan individu lain.Berdasarkan penelitian
yang telah dilakukan senyawa alkaloid (glikoalkaloid) sangat berfanmaat sebagai
pembasmi insekta,senyawa alkaloid merupakan senyawa insektisida alami,telah
dilakukan penelitian yang membuktikan senyawa alkaloid pada tanaman tomat sangat
efektif untuk mematikan serangga,serangga itu ialah nyamuk.
Bagian tanaman tomat yang terdapt senyawa ini ialah bagian daun dan batang
tomat.Daun dan batang tomat memiliki kandungan senyawa glikoalkaloid yang tinggi
dibandingkan pada buahnya.Glikoalkaloid merupakn senyawa yang apabila
dikonsumsi secara berlebihan akan menyebabkan keracunan pada suatu individu yang
memakannya.oleh karena kandungan glikoalkaloid di dalam daun dan batang tomat
sering kali orang tidak memanfaatkannya padahal kalau kita tahu daun dan batang
tomat sangat berguna untuk membasmi serangga.Daun dan batang tomat memiliki
bau yang khas yang tidak disukai oleh serangga sehingga apabila tanaman pertanian
yang telah disemprot ekstrak daun dan batang tomat maka tidak akan dada hama
serangga yang akan mendekat karena bau daun dan batang tomat sangat tidak disukai
serangga.
Untuk melakukan pencegahan dalam penggunaan pestisida buatan secara
berlebihan, maka terus dikembangkan suatu penelitian untuk meneliti bagian
daun,batang,bahkan buahnya untuk dijadikan pestisida alami.Sudah terbukti dalam
penelitian ekstrak daun dan batang tomat untuk mematikan nyamuk dengan
menyemprotkan ekstrak daun dan batang tomat pada lengan, setelah lengan di
semprot menggunakan ekstrak daun dan tanaman tomat nyamuk yang hinggap dan
menghisap darah pada lengan hanya sedikit.Pestisida nabati ini harus segera
dipublikasikan ke para petani bahkan ke masyarakat awam, hal ini agar para petani
tidak terus bergantung terhadap obat-obatan pabrik.Penggunaan pestisida alami harus
terus ditingkatkan dan terus dilakukan pengkajian secara lanjut terhadap pestisida
alami. Pestisida yang dibuat dari tumbuhan dapat memengaruhi reproduksi dan
perilaku, dapat berperan sebagai penolak, penarik, antifeedant, dan menghambat

perkembangan serangga, baik sebagai racun perut maupun racun kontak. .(Astuti et
al., 2013).

DAFTAR PUSTAKA
Alegantina, Sukmayati, dkk.2005. PENELITIAN KANDUNGAN
ORGANOFOSFAT DALAM TOMAT DAN SLADA YANG BEREDAR DI
BEBERAPA JENIS PASAR DI DKI JAKARTA. 15 ( 1 ),2005 : 44-49.
Ariani, Diah. 2011. PERBEDAAN UJI EFIKASI INSEKTISIDA EKSTRAK
TOMAT (SOLANUM LYCOPERSICUM) DAN BUBUK ABATE TERHADAP
KEMATIAN LARVA AEDES AEGYPTI. 1( 1 ) September 2011 : 49-56.
Barus, A. 2007. Uji Efektifitas Beberapa Pertisida Nabati Untuk Mengendalikan
Penyakit Pada Tanaman Kacang Kedelain. Skripsi. Medan: Universitas
Negeri Medan.
Cahyani ,Dewi Nurul,dkk. 2015. Uji Aktifitas Antihiperglikemia Kombinasi Jus
Kacang Pnajang (Vigna unguiculata) dan Jus Tomat (Solanum lycopersicum)
Pada
Mencit
Webster
Jantan
dengan
Metode
Induksi
Alason.Bandung:UNISBA.
Cervilla, Luis M,et.al. 2007. Oxidative Stress and Antioxidants in Tomato (Solanum
lycopersicum) Plants Subjected to Boron Toxicity. 100;2007 : 747-756.
Dorais , Martine,et.al.2008. Tomato (Solanum lycopersicum) health components:
from the seed to the consumer. 7(2008):231250
Febriansah,Rifki,dkk.2015. TOMAT (Solanum lycopersicumL.) SEBAGAI
AGEN KEMOPREVENTIF POTENSIALI. Yogyakarta : Fakultas Farmasi
UGM.
Humam,Hambali. 2015 . Pengaruh Tomat (Solanum lycopersicum) Terhadap Stroke
.Lampung:Universitas Lampung.
Purwanti,Leni,dkk. 2014. UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN ISOLASI
ALKALOID DALAM DAUN TOMAT (LYCOPERSICON ESCULENTUM
MILL.)
.
Schauer, Nicolas,et.al. 2005. Metabolic profiling of leaves and fruit of wild species
tomato: a survey of the Solanum lycopersicum complex.56 ( 410 ),2004: 297308
Selamet, R N. 2013. THE EFFECT OF TOMATO EXTRACT (Lycopersicon
esculentum) ON THE FORMATION OF ATHEROSCLEROSIS IN WHITE
RATS (Rattus norvegicus) MALE.13(2) : 2013.

10

Susetyo, T. Ruswandi dan Etty Purwanti, 2008. Teknologi Pengendalian


Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Ramah Lingkungan, Direktorat
Perlindungan Tanaman Pangan Jakarta, 83 halaman..
Wahyudi,Priyo,dkk. 2011.Uji Repelan Ekstrak Etanol 70% Daun dn Batang Tomat
(Lycopersicon esculentum Mill) Terhadap Nyamuk Aedes aegypti.Jakarta
:UHAMKA.
Yunus, Nurain Binti. 2010. UJI EFEK ANTI INFLAMASI EKSTRAK BUAH TOMAT
(Solanum lycopersicum L.) PADA TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus
norvegicus).Surakarta : UNS.