Anda di halaman 1dari 4

Racun adalah zat atau senyawa yang masuk ke dalam tubuh dengan

berbagai cara yang menghambat respons pada sistem biologis menyebabkan


gangguan kesehatan, penyakit, bahkan kematian. Pada umumnya kita
mengetahui bahwa banyak bahan kimia mempunyai sifat berbahaya atau racun.
Tetapi sebenarnya di sekeliling kita terdapat beberapa jenis hewan dan
tumbuhan, termasuk beberapa jenis tanaman pangan yang mengandung racun
alami dengan kadar yang sangat rendah.
Tanaman pangan, yaitu sayuran dan buah-buahan memiliki kandungan
nutrien, vitamin, dan mineral yang berguna bagi pertumbuhan dan kesehatan
serta merupakan komponen penting untuk diet sehat. Meskipun demikian
beberapa jenis sayuran dan buah-buahan dapat mengandung racun alami yang
berpotensi membahayakan kesehatan manusia. Racun alami adalah zat yang
secara alami terdapat pada tumbuhan, dan merupakan salah satu mekanisme
dari tumbuhan tersebut untuk melawan serangan jamur, serangga, serta
predator. Tanaman pangan merupakan kelompok tanaman yang biasa kita
konsumsi sehari-hari, dan pada kesempatan ini hanya akan dibahas mengenai
racun alami yang terkandung pada tanaman pangan dan cara mengolahnya agar
kita terhindar dari bahaya keracunan sehingga kita dapat mengkonsumsi
tanaman pangan yang sangat kita butuhkan kandungan nutrien, vitamin, dan
mineralnya tapi kita bisa menghindari kandungan racunnya.
Banyak spesies tumbuhan di dunia tidak dapat dimakan karena
kandungan racun yang dihasilkannya. Proses domestikasi atau pembudidayaan
secara berangsur-angsur dapat menurunkan kadar zat racun yang dikandung
oleh suatu tanaman sehingga tanaman pangan yang kita konsumsi mengandung
racun dengan kadar yang jauh lebih rendah daripada kerabatnya yang bertipe
liar (wild type). Penurunan kadar senyawa racun pada tanaman yang telah
dibudidaya antara lain dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tempat tumbuhnya.
Karena racun yang dihasilkan oleh tanaman merupakan salah satu cara untuk
melawan predator, maka tidak mengherankan bila tanaman pangan modern jauh
lebih rentan terhadap penyakit.
Beberapa kelompok racun ditemukan pada tanaman yang biasa kita
konsumsi. Beberapa racun tanaman yang larut lemak dapat bersifat
bioakumulatif. Ini berarti bila tanaman tersebut dikonsumsi, maka racun tersebut
akan tersimpan pada jaringan tubuh, misalnya solanin pada kentang. Kadar
racun pada tanaman dapat sangat bervariasi. Hal itu dipengaruhi antara lain
oleh keadaan lingkungan tempat tanaman itu tumbuh (kekeringan, suhu, kadar
mineral, dll) serta penyakit. Varietas yang berbeda dari spesies tanaman yang
sama juga mempengaruhi kadar racun dan nutrien yang dikandungnya. Salah
satu tanaman yang mengandung racun yaitu tomat hijau. Tomat mengandung
racun alami yang termasuk golongan glikoalkaloid. Racun ini menyebabkan
tomat hijau berasa pahit saat dikonsumsi. Untuk mencegah terjadinya
keracunan, sebaiknya tidak mengkonsumsi tomat hijau dan jangan pernah
mengkonsumsi daun dan batang tanamam tomat.

Tanaman tomat termasuk tanaman dari suku Solanaceae. Di Indonesia


sekitar 654.510 ton buah tomat dihasilkan setiap tahunnya (Badan Pusat
Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura, 2012). Batang dan daun tomat ini
merupakan sumber daya yang melimpah dan hanya sebagian di manfaatkan
sebagai kompos, dan sebagian besarnya dibuang. Daun tomat dikenal memiliki
kandungan glikoalkaloid yang beracun yang apabila dikonsumsi dalam jumlah
banyak akan menyebabkan sulit bernafas, mual, muntah, dan bahkan terjadi
pada hewan ternak ketika diberikan sebagai pakan ternak, sehingga orang
enggan memanfaatkanya (Dinnarwika, 2012: v).
Daun tomat secara empiris kerap digunakan sebagai pestisida untuk tanamantanaman di ladang, namun penggunaanya hanya sebatas dengan merebusnya
dengan air kemudian air rebusan disaring dan disemprotkan pada tanaman.
Karena penggunaannya hanya sebatas pengalaman maka perlu dilakukan kajian
ilmiah untuk membuktikan aktivitas tersebut. Penelitian sebelumnya
menyatakan bahwa senyawa volatil daun tomat memiliki aktivitas anti jamur
yang kuat terhadap tiga jenis patogen tanaman jamur Botryotinis fuckeliana,
Glomerella cingulata, dan Fusarium oxysporum f. sp. Melonis (Kobayashi et al.,
2012: 231).
Ekstrak etanol daun tomat memiliki efek sebaga insektisida terhadap nyamuk
Culex sp. (Dinnarwika, 2012: v). Penelitian mengenai uji anti bakteri dari daun
tomat dan isolasi alkaloid belum didapatkan. Untuk itu perlu dilakukan penelitian

mengingat masih melimpahnya daun tomat yang belum termanfaatkan dan


sebagai alternatif bahan pembasmi penyakit tanaman alami.
Tomat merupakan salah satu buah yang digemari oleh masyarakat
Indonesia khususnya, namun petani tomat kerap mengalami gagal panen karena
tanaman tomat yang rentan oleh penyakit. Salah satu penyakit yang sulit
ditangani adalah penyakit layu tanaman bakteri. Ralstonia solanacearum
merupakan salah satu bakteri penyebab layu pada tanaman tomat. Antibiotik
dipasaran saat ini sudah tidak mampu menghambat pertumbuhan bakteri ini,
disamping itu residu antibiotik kimia yang sangat membahayakan membuat
penggunaan antibiotik pembasmi penyakit sangat beresiko.

Untuk itu, penelitian ini dilakukan bertujuan untuk melihat aktivitas anti
bakteri dalam daun tomat sebelum dan setelah panen dan mengetahui senyawa
alkaloid yang terkandung dalam daun tomat (Lycopersicon esculentum) tersebut.

Efek Keracunan

Biasanya bila keracunan gikoalkoloid penderita akan mengalami keletihan,


pendarahan pada sistem cerna, menggigil, sakit kepala atau migran,
kelumpuhan, dan yang paling parah adalah kematian. Racun ini bisa dimatikan
dengan cara tomat di masak hingga benar benar matang dan siap untuk di
santap.
Tomat mengandung vitamin untuk daya tahan tubuh yang sangat
melimpah dan buah yang mengandung vitamin A paling tinggi. Konsumsi buah

tomat matang sangat dianjurkan sebagai cara menjaga kesehatan mata dan
kulit.