Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KASUS

HIPOKALEMIA

Pembimbing :
Dr. A. Fachron, Sp.PD.

Oleh :
M. Hafidz Ramadhan (2306.834.2011)

STASE ILMU PENYAKIT DALAM


KEPANITERAAN KLINIK RS ISLAM JAKARTA CEMPAKA PUTIH
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2016

Laporan Kasus

Identitas Pasien
Nama

: Tn. Syarif Hidayatulloh

Tempat, tanggal lahir : Jakarta, 08 Januari 2000


Alamat

: Jalan Sukamulya II RT 13 RW 01, Harapan Mulya, Kemayoran.

Pekerjaan

: Pelajar

No. RM

: 93-30-94

Tanggal MRS

: 11 Juni 2016

Anamnesis
Keluhan Utama
Seluruh badan terasa lemas sejak dua hari sebelum masuk rumah sakit.
Keluhan Tambahan
Mual muntah, dan keram di bagian kaki.
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke IGD RSIJ CP dengan keluhan lemas-lemas memberat sejak dua hari
sebelum masuk rumah sakit. Lemas pertama kali dirasakan pasien sejak satu bulan sebelum
masuk rumah sakit, dirasakan sebagai kelemahan terutama pada kedua kaki, tidak ada
keluhan kelemahan sesisi, dan menyebabkan pasien tidak masuk sekolah selama satu bulan.
Pasien terkadang merasakan keram di kaki, timbul tiba-tiba tidak terkait olahraga,
menghilang dengan sendirinya. Pasien juga mengeluhkan mual muntah, timbul terkadang,
tidak setiap hari, setiap kali muntah sekitar satu gelas aqua (250cc) isi makanan dan cairan.
Mual muntah ini memberat satu hari sebelum masuk rumah sakit. Diare disangkal,
penggunaan obat- obatan yang membuat kencing banyak disangkal. Sebelumnya, pasien juga
terkadang merasakan adanya demam- demam, tidak tinggi, timbul tiba-tiba, menggigil
disangkal, sembuh dengan makan obat penurun panas.
Dua hari sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluhkan lemas memberat, sulit bangun dari
tempat tidur, terasa berkunang-kunang dan tidak ada tenaga. Pasien perlu dipapah oleh

anggota keluarga jika ingin ke kamar mandi. Nafsu makan baik, jumlah asupan makanan
seperti biasa. Pasien juga mengeluhkan kencing yang sering, sehari bisa 8 kali kencing,
terutama setelah minum air, terkadang terbangun saat tidur 1-2 kali permalam untuk bangun
kencing. Jumlah dan warna setiap kali kencing dilaporkan biasa. Buang air besar tidak ada
keluhan, penggunaan obat pencahar disangkal. Keluhan keram juga masih dirasakan, disertai
dengan nyeri otot, terutama pada betis dan lengan atas, memberat saat disentuh, sedikit
membaik dengan obat penurun panas.
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat kelainan ginjal sebelumnya disangkal, riwayat lemas dan lumpuh sebelumnya
disangkal, riwayat penggunaan obat-obatan sebelumnya selain penurun panas disangkal,
riwayat memuntahkan kembali makanan disangkal. Keterlambatan pertumbuhan dan belajar
disangkal. Riwayat tekanan darah tinggi, penyakit jantung, diabetes, asma dan kuning
disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat penyakit keluarga untuk penyakit ginjal, kelainan pertumbuhan, diabetes,
jantung, kuning dan asma disangkal. Riwayat keluarga untuk lumpuh dan kelemahan otot
sewaktu muda disangkal.
Riwayat Psikososial
Pasien adalah seorang pelajar SMA dan sejak sakit, pasien sangat jarang masuk ke sekolah.
Pasien tidak merokok, mauupun minum alkohol.
Riwayat Pengobatan
Pasien pernah dirawat pada Januari 2016 karena keluhan yang sama, dan didiagnosis dengan
hipokalemia oleh dokter yang merawat.
Riwayat Alergi
Pasien tidak memiliki riwayat alergi apapun.
Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Composmentis

Tekanan Darah

: 110 / 70 mmHg

Nadi

: 68 x/m

Suhu

: 36,5C

Pernapasan

: 16 x/m

Status Generalis
Kepala

: Normocephal

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-); Sklera ikterik (-/-)

Hidung

: Sekret (-)

Telinga: Serumen (-)


Mulut

: Mukosa bibir lembab, sianosis (-)

Leher

: Pembesaran KGB (-); Pembesaran tiroid (-), Peningkatan JVP (-)

Thoraks
Jantung
Inspeksi

: Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi

: Ictus cordis teraba di ICS V linea mid clavicula sinistra

Perkusi

: Batas jantung dalam batas normal

Auskultasi

: BJ I dan II murni reguler, murmur (-), gallop (-)

Inspeksi

: Simetris, retraksi dinding dada (-)

Palpasi

: Vocal fremitus sama di kedua lapang paru

Perkusi

: Sonor di kedua lapang paru

Auskultasi

: Vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

Paru

Abdomen
Inspeksi

: Tampak datar, massa (-)

Auskultasi

: Bising usus (+) normal

Palpasi

: Nyeri tekan epigastrium (+)

Perkusi

: Timpani di seluruh lapang abdomen

Ekstremitas

Atas

Bawah

Hangat : (+/+)

Hangat : (+/+)

CRT

CRT

: < 2 detik (+/+)

: < 2 detik (+/+)

Edema : (-/-)

Edema : (-/-)

Motorik: 4 / 4

Motorik: 3 / 3

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
Tanggal
11-06-2016

12-06-2016

Pemeriksaan
Hemoglobin
Leukosit
Hematokrit
Trombosit
Eritrosit
Na
K
Cl
GDS
Ureum
Kreatinin
SGOT
SGPT

Hasil
13,4
9,97
40
358
4,40
143
2,0
103
94
27
11
118
69

Satuan
g/dL
103/uL
%
103/uL
106/uL
mEq/L
mEq/L
mEq/L
mg/dL
mg/dL
mg/dL
U/L
U/L

Nilai Rujukan
13,2 17,3
4,5 12,5
40 52
140 392
4,4 5,9
135 147
3,5 5,0
94 111
70 200
10 50
<1,4
10 34
9 43

Radiologi
Foto Thoraks : Cor tidak tampak membesar. Paru tidak tampak kelainan,
Resume
Laki laki, 16 tahun, datang dengan keluhan lemas-lemas memberat sejak dua hari sebelum
masuk rumah sakit. Pasien sulit bangun dari tempat tidur, terasa berkunang-kunang dan
tidak ada tenaga. Lemas pertama kali dirasakan pasien sejak satu bulan sebelum masuk
rumah sakit, dirasakan sebagai kelemahan terutama pada kedua kaki, terkadang merasakan
keram disertai dengan nyeri otot, terutama pada betis dan lengan atas, memberat saat
disentuh. Keluhan juga disertai dengan mual muntah, timbul terkadang, tidak setiap hari,
setiap kali muntah sekitar satu gelas aqua (250cc) isi makanan dan cairan. Mual muntah ini
memberat satu hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien juga mengeluhkan kencing yang
sering, sehari bisa 8 kali kencing terutama setelah minum air, terkadang terbangun saat tidur
1-2 kali permalam untuk bangun kencing. Riwayat hipokalemia sebelumnya (+).

Pada pemeriksaan fisik umum didapatkan nyeri tekan epigastrium (+), dan kekuatan motorik
ekstremitas atas dan bawah 4 4 3 3.
Daftar Masalah
1.
2.
3.
4.

Paralisis
Malaise
Keram
Mual muntah

Asessment
S : Paralisis, Malaise, keram, tidak bertenaga sejak dua hari smrs, mual dan muntah
O : Pem. Fungsi motorik

K+ 2,0 mEq/L
A : Hipokalemia e.c. susp. RTA
P : IVFD NS 500 cc + KCl 25 mEq/L/ 6 jam
Aspar K tablet 3 x 1
Inj. Ranitidin 2 x 50 mg IV
Inj. Ondancentron 3 x 4 mg IV
R/ EKG
Follow up
13 06 2016
S : Paralisis, malaise, tidak bertenaga, mual <, muntah <
O : TD : 110/ 70 mmHg; K+ 2,0 mEq/L
A : Hipokalemia e.c. susp. RTA
P : IVFD NS 500 cc + KCl 25 mEq/L/ 6 jam
Aspar K tablet 3 x 1
Inj. Ranitidin 2 x 50 mg IV
Inj. Ondancentron 3 x 4 mg IV
14 06 2016
S : Malaise, tidak bertenaga, mual<<
O : TD : 100/ 70 mmHg; K+ 1,7 mEq/L
A : Hipokalemia e.c. susp. RTA
P : IVFD NS 500 cc + KCl 25 mEq/L/ 6 jam

Aspar K tablet 3 x 1
Inj. Ranitidin 2 x 50 mg IV
Inj. Ondancentron 3 x 4 mg IV
15 06 2016
S : Malaise, sudah dapat berdiri sebentar.
O : TD : 100/ 70 mmHg; K+ 1,8 mEq/L
A : Hipokalemia e.c. susp. RTA
P : IVFD NS 500 cc + KCl 25 mEq/L/ 6 jam
Aspar K tablet 3 x 1
Inj. Ranitidin 2 x 50 mg IV
Inj. Ondancentron 3 x 4 mg IV
16 06 2016
S : Malaise, sudah dapat ke kamar mandi sendiri.
O : TD : 110/ 70 mmHg; K+ 1,8 mEq/L
A : Hipokalemia e.c. susp. RTA
P : IVFD NS 500 cc + KCl 25 mEq/L/ 6 jam
Aspar K tablet 3 x 1
17 06 2016
S : Malaise <
O : TD : 110/ 70 mmHg; K+ 1,9 mEq/L
A : Hipokalemia e.c. susp. RTA
P : IVFD NS 500 cc + KCl 25 mEq/L/ 6 jam
Aspar K tablet 3 x 1
Rencana rujuk ke RSCM

BAB I
PENDAHULUAN

Kalium adalah penting untuk fungsi normal dari otot, jantung, dan saraf. Hal ini
memainkan peran penting dalam mengontrol aktivitas otot polos, otot rangka, serta otot
jantung. Hal ini juga penting untuk transmisi normal sinyal listrik seluruh sistem saraf dalam
tubuh. Kadar normal kalium sangat penting untuk menjaga irama jantung normal listrik.
Hipokalemia adalah ketidakseimbangan elektrolit dan diindikasikan oleh tingkat
rendah kalium dalam darah. Nilai dewasa normal untuk kalium 3,5-5,3 mEq / L.
Walaupun kadar kalium dalam serum hanya sebesar 2% dari kalium total tubuh dan
pada banyak kasus tidak mencerminkan status kalium tubuh; hipokalemia perlu dipahami
karena semua intervensi medis untuk mengatasi hipokalemia berpatokan pada kadar kalium
serum. (1)
Kalium biasanya dapat dengan mudah digantikan dengan mengkonsumsi makanan
yang banyak mengandung kalium atau dengan mengkonsumsi garam kalium per oral. Kalium
dapat mengiritasi saluran pencernaan, sehingga diberikan dalam dosis kecil, beberapa kali
sehari.
Studi lebih lanjut di Amerika Serikat angka kejadian hipokalemia pasien rawat inap
adalah 20%, walaupun hanya 4-5 % dari pasien hipokalemia tersebut yang gejala klinisnya
terlihat. Pada hipokalemia yang ringan ( Serum K + : 3,0 3,5) gejala klinisnya asimptomatik.
Namun, pada hipokalemia yang berat (serum kalium sangat rendah) bisa sangat berbahaya,
apalagi pada pasien jantung.(2)

BAB II
PEMBAHASAN HIPOKALEMIA
A. Definisi

Hipokalemia adalah suatu keadaan dimana konsentrasi kalium dalam darah


dibawah 3.5 mEq/L yang disebabkan oleh berkurangnya jumlah kalium total di
tubuh atau adanya gangguan perpindahan ion kalium ke sel-sel. Penyebab yang
umum adalah karena kehilangan kalium yang berlebihan dari ginjal atau jalur
gastrointestinal.
B. Etiologi
Penyebab Hipokalemia diantaranya ialah:
1. Deplesi Kalium
Hipokalemia juga bisa merupakan manifestasi dari deplesi cadangan kalium
tubuh. Dalam keadaan normal, kalium total tubuh diperkirakan 50 mEq/kgBB dan
kalium plasma 3,5--5 mEq/L. Asupan K+ yang sangat kurang dalam diet
menghasilkan deplesi cadangan kalium tubuh. Walaupun ginjal memberi
tanggapan yang sesuai dengan mengurangi ekskresi K+, melalui mekanisme
regulasi ini hanya cukup untuk mencegah terjadinya deplesi kalium berat. Pada
umumnya, jika asupan kalium yang berkurang, derajat deplesi kalium bersifat
moderat. Berkurangnya asupan sampai <10 mEq/hari menghasilkan defisit
kumulatif sebesar 250 s.d. 300 mEq (kira-kira 7-8% kalium total tubuh) dalam 7
10 hari4. Setelah periode tersebut, kehilangan lebih lanjut dari ginjal minimal.
Orang dewasa muda bisa mengkonsumsi sampai 85 mmol kalium per hari,
sedangkan lansia yang tinggal sendirian atau lemah mungkin tidak mendapat
cukup kalium dalam diet mereka(3).

2. Disfungsi Ginjal

Ginjal tidak dapat bekerja dengan baik karena suatu kondisi yang disebut Asidosis
Tubular Ginjal (RTA). Ginjal akan mengeluarkan terlalu banyak kalium. Obat
yang menyebabkan RTA termasuk Cisplatin dan Amfoterisin B.

3. Kehilangan K+ Melalui Jalur Ekstra-renal

Kehilangan melalui feses (diare) dan keringat bisa terjadi bermakna. Pencahar
dapat menyebabkan kehilangan kalium berlebihan dari tinja. Ini perlu dicurigai
pada pasien-pasien yang ingin menurunkan berat badan. Beberapa keadaan lain
yang bisa mengakibatkan deplesi kalium adalah drainase lambung (suction),
muntah-muntah, fistula, dan transfusi eritrosit.

4. Kehilangan K+ Melalui Ginjal


Diuretik boros kalium dan aldosteron merupakan dua faktor yang bisa menguras
cadangan kalium tubuh. Tiazid dan furosemid adalah dua diuretik yang terbanyak
dilaporkan menyebabkan hipokalemia.

Obat-obat lain yang bisa menyebabkan hipokalemia dirangkum dalam tabel:

5. Endokrin atau Hormonal


Aldosteron adalah hormon yang mengatur kadar potasium. Penyakit tertentu dari
sistem

endokrin,

seperti

aldosteronisme,

atau

sindrom

Cushing,

dapat

menyebabkan kehilangan kalium. (3)


C. Patofisiologi Keseimbangan Elektrolit
Perpindahan Trans Selular
Hipokalemia bisa terjadi tanpa perubahan cadangan kalium sel. Ini disebabkan
faktor-faktor yang merangsang berpindahnya kalium dari intravaskular ke

intraseluler, antara lain beban glukosa, insulin, obat adrenergik, bikarbonat, dsb.
Insulin dan obat katekolamin simpatomimetik diketahui merangsang influks
kalium ke dalam sel otot. Sedangkan aldosteron merangsang pompa Na+/K+ ATP
ase yang berfungsi sebagai antiport di tubulus ginjal. Efek perangsangan ini
adalah retensi natrium dan sekresi kalium (1).
Pasien asma yang dinebulisasi dengan albuterol akan mengalami penurunan kadar
K serum sebesar 0,20,4 mmol/L2,3, sedangkan dosis kedua yang diberikan
dalam waktu satu jam akan mengurangi sampai 1 mmol/L 3. Ritodrin dan
terbutalin, yakni obat penghambat kontraksi uterus bisa menurunkan kalium
serum sampai serendah 2,5 mmol per liter setelah pemberian intravena selama 6
jam.
Teofilin dan kafein bukan merupakan obat simpatomimetik, tetapi bisa
merangsang pelepasan amina simpatomimetik serta meningkatkan aktivitas
Na+/K+ ATP ase. Hipokalemia berat hampir selalu merupakan gambaran khas dari
keracunan akut teofilin. Kafein dalam beberapa cangkir kopi bisa menurunkan
kalium serum sebesar 0,4 mmol/L. Karena insulin mendorong kalium ke dalam
sel, pemberian hormon ini selalu menyebabkan penurunan sementara dari kalium
serum. Namun, ini jarang merupakan masalah klinik, kecuali pada kasus overdosis
insulin atau selama penatalaksanaan ketoasidosis diabetes.

D. Implikasi Klinik pada Pasien Penyakit Jantung (4)


Tidak mengherankan bahwa deplesi kalium sering terlihat pada pasien dengan
CHF. Ini membuat semakin bertambah bukti yang memberi kesan bahwa
peningkatan asupan kalium bisa menurunkan tekanan darah dan mengurangi
risiko stroke. Hipokalemia terjadi pada pasien hipertensi non-komplikasi yang
diberi diuretik, namun tidak sesering pada pasien gagal jantung bendungan,
sindrom nefrotik, atau sirosis hati. Efek proteksi kalium terhadap tekanan darah
juga dapat mengurangi risiko stroke.

Deplesi kalium telah dikaitkan dalam patogenesis dan menetapnya hipertensi


esensial. Sering terjadi salah tafsir tentang terapi ACE-inhibitor (misal Kaptopril).
Karena obat ini meningkatkan retensi kalium, dokter enggan menambah kalium
atau diuretik hemat kalium pada terapi ACE-inhibitor. Pada banyak kasus gagal
jantung bendungan yang diterapi dengan ACE-inhibitor, dosis obat tersebut tidak
cukup untuk memberi perlindungan terhadap kehilangan kalium.
Potensi digoksin untuk menyebabkan komplikasi aritmia jantung bertambah jika
ada hipokalemia pada pasien gagal jantung. Pada pasien ini dianjurkan untuk
mempertahankan kadar kalium dalam kisaran 4,5-5 mmol/L. Nolan dkk.
mendapatkan kadar kalium serum yang rendah berkaitan dengan kematian kardiak
mendadak di dalam uji klinik terhadap 433 pasien di UK.
Hipokalemia ringan bisa meningkatkan kecenderungan aritmia jantung pada
pasien iskemia jantung, gagal jantung, atau hipertrofi ventrikel kanan.
Implikasinya, seharusnya internist lebih "care" terhadap berbagai konsekuensi
hipokalemia. Asupan kalium harus dipikirkan untuk ditambah jika kadar serum
antara 3,5--4 mmol/L. Jadi, tidak menunggu sampai kadar < 3,5 mmol/L.

E. Derajat Hipokalemia
Hipokalemia moderat didefinisikan sebagai kadar serum antara 2,5--3 mEq/L,
sedangkan hipokalemia berat didefinisikan sebagai kadar serum < 2,5 mEq/L.
Hipokalemia yang < 2 mEq/L biasanya sudah disertai kelainan jantung dan
mengancam jiwa.

F. Gejala Klinis Hipokalemia(5)


a CNS dan neuromuskular
Lelah, tidak enak badan, reflek tendon dalam menghilang.
b Pernapasan
Otot-otot pernapasan lemah, napas dangkal (lanjut)
c Saluran cerna

Menurunnya motilitas usus besar, anoreksia, mual muntah.


d Kardiovaskuler
Hipotensi postural, disritmia, perubahan pada EKG.
e Ginjal
Poliuria,nokturia.
G. Penatalaksanaan Hipokalemia
Untuk bisa memperkirakan jumlah kalium pengganti yang bisa diberikan, perlu
disingkirkan dulu faktor-faktor selain deplesi kalium yang bisa menyebabkan
hipokalemia, misalnya insulin dan obat-obatan. Status asam-basa mempengaruhi
kadar kalium serum.

a. Jumlah Kalium
Walaupun perhitungan jumlah kalium yang dibutuhkan untuk mengganti
kehilangan tidak rumit, tidak ada rumus baku untuk menghitung jumlah kalium
yang dibutuhkan pasien. Namun, 40100 mmol K+ suplemen biasa diberikan
pada hipokalemia moderat dan berat.
Pada hipokalemia ringan (kalium 33,5 mEq/L) diberikan KCl oral 20 mmol per
hari dan pasien dianjurkan banyak makan makanan yang mengandung kalium.
KCL oral kurang ditoleransi pasien karena iritasi lambung. Makanan yang
mengandung kalium cukup banyak dan menyediakan 60 mmol kalium (6).

b. Kecepatan Pemberian Kalium Intravena


Kecepatan pemberian tidak boleh dikacaukan dengan dosis. Jika kadar serum > 2
mEq/L, maka kecepatan lazim pemberian kalium adalah 10 mEq/jam dan
maksimal 20 mEq/jam untuk mencegah terjadinya hiperkalemia. Pada anak, 0,5
1 mEq/kg/dosis dalam 1 jam. Dosis tidak boleh melebihi dosis maksimum
dewasa.

Pada kadar < 2 mEq/L, bisa diberikan kecepatan 40 mEq/jam melalui vena sentral
dan monitoring ketat di ICU. Untuk koreksi cepat ini, KCl tidak boleh dilarutkan
dalam larutan dekstrosa karena justru mencetuskan hipokalemia lebih berat.

c. Koreksi Hipokalemia Perioperatif

KCL biasa digunakan untuk menggantikan defisiensi K+, karena juga biasa
disertai defisiensi Cl-.

Jika penyebabnya diare kronik, KHCO3 atau kalium sitrat mungkin lebih
sesuai.

Terapi oral dengan garam kalium sesuai jika ada waktu untuk koreksi dan
tidak ada gejala klinik.

Penggantian 4060 mmol K+ menghasilkan kenaikan 11,5 mmol/L dalam


K+ serum, tetapi ini sifatnya sementara karena K + akan berpindah kembali ke
dalam sel. Pemantauan teratur dari K+ serum diperlukan untuk memastikan
bahwa defisit terkoreksi.

d. Kalium iv

KCl sebaiknya diberikan iv jika pasien tidak bisa makan dan mengalami
hipokalemia berat.

Secara umum, jangan tambahkan KCl ke dalam botol infus. Gunakan sediaan
siap-pakai dari pabrik. Pada koreksi hipokalemia berat (< 2 mmol/L),
sebaiknya gunakan NaCl, bukan dekstrosa. Pemberian dekstrosa bisa
menyebabkan penurunan sementara K+ serum sebesar 0,21,4 mmol/L
karena stimulasi pelepasan insulin oleh glukosa.

Infus yang mengandung KCl 0,3% dan NaCl 0,9% menyediakan 40 mmol
K+ /L. Ini harus menjadi standar dalam cairan pengganti K+.

Volume besar dari normal saline bisa menyebabkan kelebihan beban cairan.
Jika ada aritmia jantung, dibutuhkan larutan K + yang lebih pekat diberikan

melalui vena sentral dengan pemantauan EKG. Pemantauan teratur sangat


penting. Pikirkan masak-masak sebelum memberikan > 20 mmol K+/jam.

Konsentrasi K+ > 60 mmol/L sebaiknya dihindari melalui vena perifer, karena


cenderung menyebabkan nyeri dan sklerosis vena.

e. Diet Kalium
Diet yang mengandung cukup kalium pada orang dewasa rata-rata 50-100
mEq/hari (contoh makanan yang tinggi kalium termasuk kismis, pisang,
aprikot, jeruk, advokat, kacang-kacangan, dan kentang).
H. Prognosis
Dengan mengkonsumsi suplemen kalium biasanya dapat mengkoreksi
hipokalemia. Pada hipokalemia berat, tanpa penatalaksanaan yang tepat,
penurunan kadar kalium secara drastis dapat menyebabkan masalah jantung yang
serius yang dapat berakibat fatal. (7)

BAB III
KESIMPULAN

Hipokalemia merupakan kelainan elektrolit yang cukup sering dijumpai dalam


praktik klinik, dan bisa mengenai pasien dewasa dan anak. Berbagai faktor penyebab
perlu diidentifikasi sebagai awal dari manajemen. Pemberian kalium bukanlah
sesuatu yang perlu ditakuti oleh para klinisi, seandainya diketahui kecepatan
pemberian yang aman untuk setiap derajat hipokalemia. Pemberian kalium perlu
dipertimbangkan pada pasien-pasien penyakit jantung, hipertensi, stroke, atau pada
keadaan-keadaan yang cenderung menyebabkan deplesi kalium.

DAFTAR PUSTAKA

1. Zwanger

M.

Hypokalemia.

Available

at:

http://emedicine.com/emerg/topic273.html. Accessed on October 1st 2012.


2. Sriwaty A. Prevalensi dan Distribusi Gangguan Elektrolit Pada Lanjut Usia.
Available at: http://eprints.undip.ac.id/22684/1/Sriwaty.pdf. Accessed on
October 2nd 2012.
3. Daryadi.

Hiperkalemia

dan

Hipokalemia.

Available

at:

http://nsyadi.blogspot.com/2011/12/hiperkalemia-dan-hipokalemia.html.
Accessed on October 3rd 2012.
4. Cohn JN, Kowey PR, Whelton PK, Prisant LM. New Guidelines for potassium
Replacement in Clinical Practice. Arch Intern Med 2000;160:2429-2436.
5. Price & Wilson. Gangguan Cairan & Elektrolit. Patofisiologi Vol.1. 6 th ed.
Jakarta: EGC; 2006; p. 344.
6. Halperin ML, Goldstein MB. Fluid Electrolyte and Acid-Base Physiology. A
problem-based approach. WB Saunders Co. 2nd ed., p 358
7. David

C.

Hypokalemia.

Available

at:

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000479.htm. Accessed on
October 3rd 2012.