LAPORAN STUDI KASUS ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.

I DENGAN STROKE NON HEMORAGIK DI IRNA NON BEDAH NEUROLOGI RSUP. DR. M. DJAMIL PADANG
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Ujian Akhir Program D III Keperawatan

Oleh : Syamsul Putra 07111278

STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG PRODI D III KEPERAWATAN 2010

1

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Studi Kasus “ Asuhan Keperawatan Pada Tn. I Dengan Stroke Non Hemoragik Di Irna Non Bedah Neurologi RSUP. Dr. M. Djamil Padang” Ini telah dipertahankan di depan Penguji MERCUBAKTIJAYA Padang. Praktek Klinik prodi D-III Keperawatan STIKes

Padang, 12 Juli 2010

Penguji I

Penguji II

( Rini Usman, AMK )

( Ns. Rima Haryani V, S.kep )

Mengetahui Ketua Program Studi D III Keperawatan STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang.

( Mitayani , SST, M.biomed )

2

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia yang dilimpahkan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Laporan Studi Kasus “ Asuhan Keperawatan Pada Tn. I Dengan Stroke Nom Hemoragik Di Irna Non Bedah Neurologi RSUP. Dr. M. Djamil Padang” Dalam Penulisan Laporan Studi Kasus ini banyak hambatan yang penulis hadapi, namun berkat dorongan semua pihak, Laporan Studi Kasus Ini dapat penulis selesaikan. Maka pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada : 1. Ibu Mitayani , SST, M.biomed sebagai ketua Prodi DIII STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang. 2. Ibu Rini Usman. AMK Selaku Pembimbing Klinik yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam pembuatan Laporan Studi Kasus ini. 3. Bapak Ns. Rima Haryani V.S.kep Selaku Pembimbing Akademik yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam pembuatan Laporan Studi Kasus ini. 4. Tn. I Selaku Klien Beserta keluarga yang telah bersedia berkerja sama untuk mencapai kesembuhan dan penulisan Laporan Studi Kasus ini 5. Teristimewa buat kedua orang tua serta doa yang tidak henti-hentinya untuk penulis. 6. Kepada teman-teman yang telah memberikan bantuan dalam penulisan Laporan Studi Kasus ini. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Laporan Studi Kasus ini masih banyak kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan masukan berupa kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi kesempurnaan Laporan Studi Kasus ini. Akhir kata penulis ucapkan terima kasih. Padang, 12 Juli 2010

Penulis

3

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN..................................................................................... i KATA PENGANTAR.............................................................................................. ii DAFTAR ISI............................................................................................................. iii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang............................................................................................... 1 B. Tujuan Penelitian 1.Tujuan Umum....................................................................................... 2 2.Tujuan Khusus...................................................................................... 2 BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Konsep Dasar Stroke .................................................................................... 3 1. Defenisi............................................................................................... 3 2. Klasifikasi .......................................................................................... 3 3. Gejala Utama Stroke Non Hemoragik................................................ 4 4. Etiologi Stroke Hemoragik................................................................. 4 5. Patofisiologi........................................................................................ 4 6. Faktor Resiko Pada Stroke................................................................. 6 7. Tanda Dan Gejala............................................................................... 6 8. Komplikasi.......................................................................................... 6 9. Pencegahan......................................................................................... 7

4

10. Penatalaksanaan medic....................................................................... 7 B. Anatomi Fisiologi........................................................................................... 8 1. Pembagian Otak ................................................................................. 8 1. Fungsi Utama Otak............................................................................. 8 2. Sirkulasi Darah Otak.......................................................................... 8 C. Pemeriksaan Penunjang................................................................................. 8

Asuhan keperawatan teoritis I. Pengkajian..................................................................................................... 10 1. Identitas Klien..................................................................................... 10 2. Riwayat Kesehatan ............................................................................ 10 3. Pemeriksaan Fisik............................................................................... 10 4. Pemeriksaan Fisik Neurologi.............................................................. 11 5. Rangsangan Meningeal....................................................................... 15 6. Data Penunjang................................................................................... 16 II. III. INTERVENSI............................................................................................... 18 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI..........................................................18

BAB III TINJAUAN KASUS A. Pengkajian 1. Identitas klien..................................................................................... 19

5

2. Tanda-Tanda Vital.............................................................................. 19 3. Riwayat Kesehatan............................................................................. 20 4. Pemerisaan Fisik.................................................................................20 5. Pola Kebiasan Sehari-hari.................................................................. 21 6. Pemeriksaan fisik Sistem Persyarafan................................................ 22 7. Program Teraphy................................................................................ 24 8. Data Penunjang...................................................................................24 ANALISA DATA DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN INTERVENSI KEPERAWATAN IMPLEMENTASI BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan.................................................................................................... 32 B. Saran ............................................................................................................ 32 DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

6

Stroke merupakan penyebab cacat nomor satu dan penyebab kematian nomor dua di dunia. Penyakit ini telah menjadi masalah kesehatan yang mendunia dan semakin penting, dengan dua pertiga stroke terjadi di negara-negara yang sedang berkembang (Feigin, 2006). Di Indonesia, diperkirakan setiap tahun terjadi 500.000 penduduk terkena serangan stroke, sekitar 2,5 % atau 125.000 orang meninggal, dan sisanya cacat ringan maupun berat. Jumlah penderita stroke cenderung terus meningkat setiap tahun, bukan hanya menyerang penduduk usia tua, tetapi juga dialami oleh mereka yang berusia muda dan produktif hal ini akibat gaya dan pola hidup masyarakat yang tidak sehat, seperti malas bergerak, makanan berlemak dan kolesterol tinggi, sehingga banyak diantara mereka mengidap penyakit yang menjadi pemicu timbulnya serangan stroke. Saat ini serangan stroke lebih banyak dipicu oleh adanya hipertensi yang disebut sebagai silent killer, diabetes melittus, obesitas dan berbagai gangguan kesehatan yang terkait dengan penyakit degeneratif. Secara ekonomi, dampak dari insiden ini prevalensi dan akibat kecacatan karena stroke akan memberikan pengaruh terhadap menurunnya produktivitas dan kemampuan ekonomi masyarakat dan bangsa (Yastroki, 2009). Stroke biasanya ditandai dengan kelumpuhan anggota gerak atas maupun bawah pada salah satu sisi anggota tubuh. Untuk itu penderita stroke perlu mendapatkan penanganan yang sedini mungkin agar pengembalian fungsi dari anggota gerak serta gangguan lainnya dapat semaksimal mungkin atau dapat beraktifitas kembali mendekati normal serta mengurangi tingkat kecacatan. Stroke dapat menyebabkan problematika pada tingkat impairment berupa gangguan motorik, gangguan sensorik, gangguan memori dan kognitif, gangguan koordinasi dan keseimbangan. Pada tingkat functional limitation berupa gangguan dalam melakukan aktifitas fungsional sehari-hari seperti perawatan diri, transfer dan ambulasi. Serta pada tingkat participation restriction berupa keterbatasan dalam melakukan pekerjaan, hobi dan bermasyarakat di lingkungannya. Berdasarakan fenomena diatas seorang perawat hendaknya memberikan asuhan keperawatan yang konprehensip kepada klien stroke sehingga tidak timbul dampak yang tidak diainginkan dari stroke itu sendiri. B. Tujuan 1. Tujuan Umum 7

Mengetahui secara umum tentang penyakit Stroke dan mampu menerapkan asuhan keperawatan yang komprehensif kepada klien dengan Stroke Non Hemoragik. 2. Tujuan Khusus a. Mampu melakukan pengkajian dan menganalisa data pada klien dengan Stroke Non Hemoragik. b. Mampu menerapkan diagnosa keperawatan berdasarkan analisa data. c. Mampu membuat perencanaan pada klien dengan Stroke Non Hemoragik. d. Mampu memberikan implementasi berdasarkan rencana yang sudah disusun. e. Mampu mengevaluasi tindakan yang sudah dilakukan pada klien dengan Stroke Non Hemoragik.

BAB II TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Stroke 8

1. Defenisi Definisi stroke menurut World Health Organization (WHO) adalah disfungsi neurologi akut yang disebabkan oleh gangguan aliran darah yang timbul secara mendadak sesuai dengan tanda dan gejala daerah lokal pada otak yang terganggu. Sindrom neurologi akut yang disebabkan oleh gangguan aliran darah yang timbul secara hemiparesis sekunder semacam gangguan aliran darah. Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak sering ini adalah kulminasi penyakit serebrovaskuler selama beberapa tahun. (Smeltzer C. Suzanne, 2002, hal 2131) Penyakit ini merupakan peringkat ketiga penyebab kematian di United State. Akibat stroke pada setiap tingkat umur tapi yang paling sering pada usia antara 75 – 85 tahun. (Long. C, Barbara;1996, hal 176). 2. Klasifikasi stroke a. Stroke hemoragik Pecahnya pembuluh darah serebral diotak dan terjadinya pendarahan diotak disaat seseorang sedang melakukan aktifitas. Stoke hemoragik dapat dibagi 2 : 1) Perdarahan intra serebral (PIS) Pendarahan intra serebral mempunyai gejala prodromal,kecuali nyeri kepala pada hipertensi. Serangan sering kali pada siang hari.mual dan muntah sering terdapat pada serangan permulaan serangan hemiparesis/hemiplegi terjadi pada sejak kesadaran menurun dan cepat coma (65% terjadi kurang dari setengah jam dan 12% terjadi setelah 2 jam sampai 19 hari.

2) Perdarahan serebral anachroid (PSA) Gejala nyeri kepala hebat dan akut kesadaran sering terganggu dan sangat bervariasi.ada gejala /tanda rangsangan meningeal. edema pupil bila ada pendarahan subhilaloid karena pecahnya aneurisma.

9

b. Stroke non-hemoragik (stroke iskemik, infark otak, penyumbatan) 1) Stroke akibat trombosis serebri 2) Emboli serebri 3) Hipoperfusi sistemik Stroke non hemoragik adalah terjadi disaat seorang sedang beristirahat, bangun tidur atau di pagi hari, tidak ada pendarahan namun terjadi iskemia yang menimbulkan hipoksia dan selanjutnya dapat menimbulkan edema sekunder, kesadaran umumnya baik. 3. Gejala utama stroke non hemoragik a..Timbulnya defisit neurologis secara mendadak b.Terjadinya waktu sedang istirahat c.Kesadaran tak menurun kecuali embolisnya besar d.KondisI hiperkoogulasi 4. Etiologi a. pecahnya arteri serebral b. .hipertensi pencetus stroke c. Molfarmasi arterio venolis d. Penyalahan gunaan obat 5. Patofisiologi Hipertemsi kronik menyebakan pembuluh darah arteriole mengalmi perubahan perubahan patologik pada dinding pembuluh darah tersebut berupa hipohialinosis, nekrosis, fibrinoid, serta timbulnya Anuerisma tipe bouchard. Kenaikan darah yang atau dalam jumlah yang secara mencolok dapat menginduksi pecahnya pembuluh darah terutama pada sore dan pagi hari. Jika pembuluh darah tersebut pecah maka perdarahabn dapat berlanjut sampai dengan 6 jam dan jika volumenya berserakan merusak struktur anatomi otak dan menimbulkan gejala klinik. Jika perdarahan yang terjadi kecil ukuranya maka masa darah hanya dapat merusak dan menyela diatara selaput akson, masa putih tanpa merusaknya, pada keadaaan ini absorbsi darah kan diikuti dengan pulihnya fungsi neurologi. Sedangkan pada perdarahn yang luas terjadi destruksi masa otak, peningkatan tekanan intrakranial dan yang lebih berat menyebabkan herniasi otak. 10

Elemen-elemen vasoaktif darah yang kelauar serta iskemik akibat menurunnya tekanan perfusi, menyebabkan neuron di daerqah yang terkena darahdan disekitarnya tertekan lagi, jumlah darah yang keluar menetukan prognosis. Apabila volume darah lebih dari 60 cc maka resiko kematain sebasar 93 % , pada perdarahan lebar perdarahan serebral dengan volume antara 30-60 cc diperkirakan kemungkinan kematian sebesar 73 % tetapi volume 5 cc pada pons sudah berakibat vatal (Jusuf Misbah 1999)

WOC Faktor yang dapat dimodifikasi : ( Kolesterol, perokok,obesitas,Stress,life style) Faktor yang tidak dapat dimodifikasi : (usia, penyakit bawaan, jenis kelamin)

11

Arterisklerosis Td meningkat Pembuluh darah pecah volume intracranial Hipoksia/iskemia jaringan otak G. perfusi cerebral Vasodilatsi Cidera / kongesti pada daerah otak TIK meningkat Penekanan batang otak G. kardiovaskuler Kontraksi jantung tergangggu Bersihan jalan nafas tidak efektif G.pernafasan Perubahan kesadaran Perubahan pupil Perubahan TTV Pola nafas meningkat Bedres yang lama G. Rasa nyaman nyeri G. Mobilitas fisik G. Komunikasi verbal trombosis emboli Suplai darah tidak adekuat di otak spasme pembuluh darah nyeri kepala (vertigo)

G. pemenuhan nutrisi

Perubahan tekanan nadi Tekanan perfusi menurun G. Perfusi serebral PO2 PCO2 6. Faktor Resiko pada Stroke a. Yang Dapat Diubah o Hipertensi

Dekubitus kerusakan Integritas kulit

o Diabetes Melitus ( berkaitan dengan aterogenesis terakselerasi)

12

o Life Style ( Merokok, konsumsi alkohol, Penggunaan obat-obatan psikotropika o Obesitas o Kolesterol tinggi o Kontrasepasi oral( khususnya dengan disertai hipertensi, merkok, dan kadar estrogen tinggi) b. Yang Tidak Dapat Diubah o Penyakit kardiovaskuler: arteria koronaria, gagal jantung kongestif, fibrilasi atrium, penyakit jantung kongestif) o Usia o Jenis Kelamin o Ras, Riwaya Keluarga o Riwayat Stroke (Smeltzer C. Suzanne, 2002, hal 2131) 7 . Tanda dan gejala a.Disatria (bicara pelo) b.Nyeri kepala karna hipertensi c.Mual dan muntah d.Penurunan kesadaran c.Kelumpuhan anggota gerak d.Vertigo e.gangguan menelan f.Ataksia (berjalan tidak tegap) 8. Komplikasi a) Fisik Dan Biologis Bahu kaku, dekubitus, mengalmi gangguan bicara, gangguan mobilitas fisik b) Psikologi Biasanya mengalami gangguan jiawa diakibatkan karena ketegangan akibat kematian jaringan otak. c) Sosial Akan mengalmi gangguan komunikasi dengan orang lain, diatara pembicaraan susah dimengaerti.

13

9. Pencegahan a. Primer o Memasyaraktakan gaya hidup sehat bebas stroke dengan menghindari rokok, stress mental, alkohol, kegemukan/obesitas, obat-obatan o Mengurangi konsumsi maknanan tinggi kolesterol dan lemak o Mengendalikan hipertensi, Diabetes melitus, penyakit jantung b. Sekunder o Memodifikasi gaya hidup yang beresiko stroke o Melibatkan peran keluarga seoptimal mungkin o Melakukan perawatan sebaik mungkin 10. Penatalaksanaan Medik Menurut Listiono D (1998 : 113) penderita yang mengalami stroke dengan infark yang luas melibatkan sebagian besar hemisfer dan disertai adanya hemiplagia kontra lateral hemianopsia, selama stadium akut memerlukan penanganan medis dan perawatan yang didasari beberapa prinsip. Secara praktis penanganan terhadap ischemia serebri adalah : c. Penanganan suportif imun o Pemeliharaan jalan nafas dan ventilasi yang adekuat. o Pemeliharaan volume dan tekanan darah yang kuat. o Koreksi kelainan gangguan antara lain payah jantung atau aritmia. d. Meningkatkan darah cerebral o Elevasi tekanan darah o Intervensi bedah o Ekspansi volume intra vaskuler o Anti koagulan o Pengontrolan tekanan intracranial o Obat anti edema serebri steroid o Proteksi cerebral (barbitura) Sedangkan menurut Lumban Tobing (2002 : 2) macam-macam obat yang digunakan : o Obat anti agregrasi trombosit (aspirasi)

14

o Obat anti koagulasi : heparin o Obat trombolik (obat yang dapat menghancurkan trombus) o Obat untuk edema otak (larutan manitol 20%, obat dexametason) B. Anatomi fisiologi 1.berat otak manusia sekitar 1400 gram. Otak terdiri dari 4 bagian : a.serebral otak besar b.serebrum otak kecil c.batang otak d.medula spinalis 2.fungsi otak Sebagai pusat reflek yang mengkoordinasi dan mempertahankan gerakan otot, mengubah kekuatan kontraksi untuk mempertahankan keseimbangan. C. Pemeriksaan Penunjang a. CT Scan Memperlihatkan adanya edema , hematoma, iskemia dan adanya infark. b. Angiografi serebral membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan atau obstruksi arteri. c. Pungsi Lumbal o menunjukan adanya tekanan normal. Tekanan d. MRI Menunjukan daerah yang mengalami infark, hemoragik. e. EEG: Memperlihatkan daerah lesi yang spesifik f. Ultrasonografi Dopler Mengidentifikasi penyakit arteriovena g. Sinar X Tengkorak Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal (DoengesE, Marilynn,2000 hal 292) meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukan adanya perdarahan.

15

D. Asuhan Keperawatan Teoritis I. Pengkajaian 1. Identitas Klien Mengcakup nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, agama, No Mr, pendidikan, status pekawinan, diangnosa medis dll. 2. Riwayat Kesehatan a. Riwayat Kesehatan Dahulu Biasanya pada klien ini mempunyai riwayat hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, anemi, riwayat trauma kepala, kontrasepsi oral yang lama, b. pengunaan obat-obat antikoagulan, aspirin dan kegemukan/obesitas. Riwayat Kesehatan Sekarang Biasnya klien sakit kepala, mual muntah bahkan kejang sampai tak sadarkan diri, kleumpuhan separoh badan dan gangguan fungsi otak. c. Riwayat Kesehatan Keluarga Biasanya ada anggota keluarga yang menderita atau mengalami penyakit seperti : hipertensi, Diabetes Melitus, penyakit jantung. d. Riwayat Psikososial Biasanya masalah perawatan dan biaya pengobatan keluarga sering meerasakn sterss dan cemas. 3. Pemeriksaan Fisik a. Rambut dan hygiene kepala b. Mata:buta,kehilangan daya lihat c. Hidung,simetris ki-ka adanya gangguan d. Leher, e. Dada I :simetris ki-ka P :premitus P :sonor A :ronchi f. Abdomen I :perut acites dapat membuat emosi dan pikiran klein dan juga keluarga sehingga baik klien maupun

16

P :hepart dan lien tidak teraba P :Thympani A :Bising usus (+) H. Genito urinaria :dekontaminasi,anuria I.Ekstramitas :kelemahan,kelumpuhan. 4. Pemeriksaan Fisik Sistem Neurologis a. Tingkat Kesadaran 1. Kualitatif Adalah fungsi mental keseluruhan dan derajat kewasapadaan.       CMC → dasar akan diri dan punya orientasi penuh APATIS → tingkat kesadaran yang tampak lesu dan mengantuk LATARGIE → tingkat kesadaran yang tampak lesu dan mengantuk DELIRIUM → penurunan kesadaran disertai pe ↑ abnormal aktifitas psikomotor → gaduh gelisah SAMNOLEN → keadaan pasien yang selalu mw tidur → diransang bangun lalu tidur kembali KOMA → kesadaran yang hilang sama sekali 2. Kuantitatif Dengan Menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS) a.Respon membuka mata ( E = Eye )          Spontan Dengan perintah Dengan nyeri Tidak berespon Berorientasi Bicara membingungkan Kata-kata tidak tepat Suara tidak dapat dimengerti Tidak ada respons (4) (3) (2) (1) (5) (4) (3) (2) (1)

b.Respon Verbal ( V= Verbal )

c.Respon Motorik (M= Motorik )   Dengan perintah Melokalisasi nyeri 17 (6) (5)

    b.

Menarik area yang nyeri Fleksi abnormal/postur dekortikasi Ekstensi abnormal/postur deserebrasi Tidak berespon

(4) (3) (2) (1)

Pemeriksaaan Nervus Cranialis 1.Test nervus I (Olfactory) Fungsi penciuman Test pemeriksaan, klien tutup mata dan minta klien mencium benda yang baunya mudah dikenal seperti sabun, tembakau, kopi dan sebagainya. Bandingkan dengan hidung bagian kiri dan kanan. 2.Test nervus II ( Optikus) Fungsi aktifitas visual dan lapang pandang Test aktifitas visual, tutup satu mata klien kemudian suruh baca dua baris di koran, ulangi untuk satunya. Test lapang pandang, klien tutup mata kiri, pemeriksa di kanan, klien memandang hidung pemeriksa yang memegang pena warna cerah, gerakkan perlahan obyek tersebut, informasikan agar klien langsung memberitahu klien melihat benda tersebut. 3.Test nervus III, IV, VI (Oculomotorius, Trochlear dan Abducens) Fungsi koordinasi gerakan mata dan kontriksi pupil mata (N III). • Test N III Oculomotorius (respon pupil terhadap cahaya), menyorotkan senter kedalam tiap pupil mulai menyinari dari arah belakang dari sisi klien dan sinari satu mata (jangan keduanya), perhatikan kontriksi pupil kena sinar. • Test N IV Trochlear, kepala tegak lurus, letakkan obyek kurang lebih 60 cm sejajar mid line mata, gerakkan obyek kearah kanan. Observasi adanya deviasi bola mata, diplopia, nistagmus. • Test N VI Abducens, minta klien untuk melihat kearah kiri dan kanan tanpa menengok. 4.Test nervus V (Trigeminus) Fungsi sensasi, caranya : dengan mengusap pilihan kapas pada kelopak mata atas dan bawah. • Refleks kornea langsung maka gerakan mengedip ipsilateral.

18

Refleks kornea consensual maka gerakan mengedip kontralateral. Usap pula dengan pilihan kapas pada maxilla dan mandibula dengan mata klien tertutup. Perhatikan apakah klien merasakan adanya sentuhan

Fungsi motorik, caranya : klien disuruh mengunyah, pemeriksa melakukan palpasi pada otot temporal dan masseter. 5.Test nervus VII (Facialis) • Fungsi sensasi, kaji sensasi rasa bagian anterior lidah, terhadap asam, manis, asin pahit. Klien tutup mata, usapkan larutan berasa dengan kapas/teteskan, klien tidak boleh menarik masuk lidahnya karena akan merangsang pula sisi yang sehat. • • Otonom, lakrimasi dan salivasi Fungsi motorik, kontrol ekspresi muka dengancara meminta klien untuk : tersenyum, mengerutkan dahi, menutup mata sementara pemeriksa berusaha membukanya. 6. Test nervus VIII (Acustikus) Fungsi sensoris : • Cochlear (mengkaji pendengaran), tutup satu telinga klien, pemeriksa berbisik di satu telinga lain, atau menggesekkan jari bergantian kanan-kiri. • Vestibulator (mengkaji keseimbangan), klien diminta berjalan lurus, apakah dapat melakukan atau tidak. 7.Test nervus IX (Glossopharingeal) dan nervus X (Vagus) N IX, mempersarafi perasaan mengecap pada 1/3 posterior lidah, tapi bagian ini sulit di test demikian pula dengan M.Stylopharingeus. Bagian parasimpatik N IX mempersarafi M. Salivarius inferior. N X, mempersarafi organ viseral dan thoracal, pergerakan ovula, palatum lunak, sensasi pharynx, tonsil dan palatum lunak. 8.Test nervus XI (Accessorius) Klien disuruh menoleh kesamping melawan tahanan. Apakah Sternocledomastodeus dapat terlihat ? apakah atropi ? kemudian

19

palpasi kekuatannya. Minta klien mengangkat bahu dan pemeriksa berusaha menahan test otot trapezius. 9. Nervus XII (Hypoglosus) • • Mengkaji gerakan lidah saat bicara dan menelan Inspeksi posisi lidah (mormal, asimetris / deviasi)

Keluarkan lidah klien (oleh sendiri) dan memasukkan dengan cepat dan minta untuk menggerakkan ke kiri dan ke kanan. c. Menilai Kekuatan Otot Kaji cara berjalan dan keseimbangan Observasi cara berjalan, kemudahan berjalan dan koordinasi gerakan tangan, tubuh - kaki 1. Periksa tonus otot dan kekuatan Kekualan otot dinyatakan dengan menggunakan angka dari 0-5 0 = tidak didapatkan sedikitpun kontraksi otot ; Iumpuh total 1 = terlihat kontraksi tetap ; tidak ada gerakan pada sendi. 2 = ada gerakan pada sendi tetapi tidak dapat melawan gravitasi 3 = bisa melawan gravitasi tetapi tidak dapat menahan tahanan pemeriksa 4 = bisa bergerak melawan tahanan pemeriksa tetapi kekuatannya berkurang 5 d. = dapat melawan tahanan pemeriksa dengan kekuatan maksimal Pemeriksaan reflek Pemeriksaan refleks biasanya dilakukan paling akhir. Klien biasanya dalam posisi duduk atau tidur jika kondisi klien tidak memungkinkan. Evaluasi respon klien dengan menggunakan skala 0 – 4 0 = tidak ada respon 1 = Berkurang (+) 2 = Normal (++) 3 = Lebih dari normal (+++) 4 = Hiperaktif (++++)

20

a.Reflek Fisiologis o Reflek Tendon a. Reflek patella Pasien bebaring terlentang lutut diangkat keatas fleksi kurang lebih dari 300.tendon patela(ditengah-tengah patela dan Tuberositas tibiae)dipukul dengan reflek hamer.respon berupa kontraksi otot guardrisep femoris yaitu ekstensi dari lutut. b. Reflek Bisep Lengan difleksikan terhadap siku dengan sudut 900.supinasi dan lengan bawah ditopang ada atas (meja periksa)jari periksa ditempat kan pada tendon m.bisep(diatas lipatan siku)kemudian dipukul dengan reflek hamer.normal jika ada kontraksi otot biceps,sedikit meningkat bila ada fleksi sebagian ada pronasi,hiperaktif maka akan tejadi penyebaran gerakangerakan pada jari atau sendi. c. Reflek trisep Lengan bawah disemi fleksikan ,tendon bisep dipukul dengan dengan reflek hamer(tendon bisep berada pada jarak 1-2 cm diatas olekronon )respon yang normal adalah kontraksi otottrisep ,sedikit meningkat bila ada ekstensi ringan dan hiperaktif bila ekstensi bila ekstensi siku tersebut menyebar keatas sampai ke otot –otot bahu. d. Reflek Achiles Posisi kaki adalah dorsofleksi untuk memudah kan pmeriksaan reflek ini kaki yang di[eriksa diletakan/disilangkan diatas tungkai bawah kontral lateral.tendon achiles dipukul dengan reflek hamer,respon normal berupa gerakan plantar fleksi kaki.

21

o Reslek Superfisial a. Reflek Kulit Perut b. Reflek Kremeaster c. Reflek kornea d. Reflek Bulbokavernosus e. Reflek Plantar b.Reflek Patologis o Babinski Merupakan reflek yang paling penting.ia hanya dijumpai pada penyakit traktus kortikospital.untuk melakukan tes ini,goreslah kuat-kuatbagian lateral telapak kaki bagian lateraltelapak kaki dari tumit ke arah jari kelingking dan kemudian melintasi bagian jantung kaki. Respon babinski timbul jika ibu jari kaki melakukan dorsofleksi dan jari-jari lain menyebar,klau normalnya adalah fleksi plantar pada semua jari kaki. Cara lain untuk membangkitkan rangsangan babinski:  Cara chaddock Rangsang diberikan dengan jalan menggores bagian lateral maleolus hasil positif bila gerakan dorsoekstensi dari ibu jari dan gerakan abduksi dari jarijari lainnya.  Cara Gordon Memencet ( mencubit) otot betis  Cara oppenheim Mengurut dengan kuat tibia dan otot tibialis anterior arah mengurut kebawah (distal)  Cara Gonda Memencet (menekan) satu jari kaki dan kemudian melepaskannya sekonyong koyong.

22

5. Rangsangan Meningeal Untuk mengetahui rangsangan selaput otak (misalnya pada meningitis)dilakukan pemeriksaan : a. Kaku kuduk Bila leher di tekuk secara pasif terdapat tahanan, sehingga dagu tidak dapat menempel pada dada --- Kaku kuduk positif (+) b. Tanda Brudzunsky I Letakkan satu tangan pemeriksa di bawah kepala klien dan tangan lain di dada klien untuk mencegah badan tidak terangkat.Kemudian kepala klien di fleksikan kedada secara pasif.Brudzinsky I positif (+) c. Tanda Brudzinsky II Tanda brudzinsky II positif (+) bila fleksi klien pada sendi panggul secara pasif akan diikuti oleh fleksi tungkai lainnya pada sendi panggul dan lutut. d. Tanda kerniq Fleksi tungkai atas tegak lurus,lalu dicoba meluruskan tungkai bawah pada sendi lutut normal-,bila tungkai membentuk sudut 1350 terhadap tungkai atas. Kerniq + bila ekstensi lutut pasif akan menyebabkan rasa sakit tebila ekstensi lutut pasif akan menyebabkan rasa sakit terhadap hambatan. e. Test lasegue Fleksi sendi paha dengan sendi lutut yang lurus akan menimbulkan nyeri sepanjang Mischiadicus. 6. Data Penunjang a. Laboratorium o Hematologi o Kimia klinik b. Radiologi o CT Scan Memperlihatkan adanya edema , hematoma, iskemia dan adanya infark o MRI Menunjukan daerah yang mengalami infark, hemoragik. o Sinar X Tengkorak

23

Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal.

II. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul 1. Gangguan perfusi jarinagan otak b/d perdarahan intra cranial 2. Gangguan mobilitas fisik b/d hemiparese / hemiplagia 3. Gangguan komunikasi verbal b/d kerusakan neuromoskuler. 4. Kurang perawatan diri b.d kerusakan neuro muskuler, penurunan kekuatan dan ketahanan, kehilangan kontrol /koordinasi otot. III. Intervensi 1. Gangguan perfusi jarinagan otak b/d perdarahan intra cranial Independen a. Tentukan penyebab penurunan perfusi jaringan b. Pantau status neurologis secara teratur dan bandingkan dengan nila standar ( GCS ). c. Pantau TTV d. Kaji perubahan penglihatan dan keadan pupil e. Kaji adanya reflek ( menelan, batuk, babinski ) f. Pantau pemasukan dan pengeluaran cairan g. Auskultasi suara napas, perhatikan adananya hipoventilasi, dan suara tambahan yang abnormal Kolaborasi : a. Pantau analisa gas darah b. Berikan obat sesuai indikasi : deuretik, steroid, antikonvulsan c. Berikan oksigenasi 2. Gangguan mobilitas fisik b/d hemiparese / hemiplagia Independen a. Rubah posisi tiap dua jam ( prone, supine, miring ) b. Mulai latihan aktif / pasif rentang gerak sendi pada semua ekstremitas c. Topang ekstremitas pada posis fungsional , gunakan foot board pada saat selama periode paralysisi flaksid. Pertahankan kepala dalam keadaan netral d. Evaluasi penggunaan alat bantu pengatur posisi e. Bantu meningkatkan keseimbangan duduk

24

f. Bantu memanipulasi untuk mempengaruhi warna menormalkan sirkulasi g. Awasi bagian kulit diatas tonjolan tulang Kolaboratif a. konsul kebagian fisioterapi b. Bantu dalam meberikan stimulasi elektrik c. Gunakan bed air atau bed khusus sesuai indikasi 3. Gangguan komunikasi verbal b/d kerusakan neuromoskuler. Independen a. Bantu menentukan derajat disfungsi b. Bedakan antara afasia denga disartria c. Sediakan bel khusus jika diperlukan d. Sediakan metode komunikasi alternative e. Antisipasi dan sediakan kebutuhan paien

kulit edema atau

f. Bicara langsung kepada pasien dengan perlahan dan jelas 4. Kurang perawatan diri b.d kerusakan neuro muskuler, penurunan kekuatan dan ketahanan, kehilangan kontrol /koordinasi otot Intervensi: a. Kaji kemampuan dantingkat kekurangan (dengan menggunakan skala 1-4) untuk melakukan kebutuhan ssehari-hari b. Hindari melakukan sesuatu untuk pasien yang dapat dilakukan pasiensendiri, tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan c. Kaji kemampuan pasien untuk berkomunikasi tentang kebutuhannya untuk menghindari dan atau kemampuan untuk menggunakan urinal,bedpan. d. Identifikasi kebiasaan defekasi sebelumnya dan kembalikanpada kebiasaan pola nornal tersebut. Kadar makanan yang berserat,anjurkan untuk minum banyak dan tingkatkan aktivitas. e. Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan atau keberhasilannya. IV. Implementasi Merupakan aplikasi dari intervensi yang telah ditetapkan pada tahap intervensi. V. Evaluasi 25

Penilaian terhadap implementasi yang telah dilakukan sejauh mana masalah klien teratasi.

BAB III TINJAUAN KASUS A. PENGKAJIAN I. Identitas Klien Nama Umur Pendidikan Suku bangsa Pekerjaan Penanggung Jawab Agama Status perkawinan Alamat No. MR Ruang Rawat Tanggal Masuk Diagnosa medik Alasan masuk Sumber informasi II. Tanda-Tanda Vital 26 : Tn.I : 77 tahun : SMA : Indonesia : pensiunan guru : Keluarga : Islam : Kawin : parupuak tabing : 68 90 21 : Bangsal Syaraf : 5 juli 2010 : Stroke non Hemoragik :lemah anggota gerak sebelah kiri pada kaki dan tangan : Keluarga dan status

Tanggal pengkajian : 6 Juli 2010

Nadi Tekanan Darah Pernafasan Suhu III.Riwayat Kesehatan

: 95 ×/i : 130/80 MmHg : 22 ×/i : 36, °C

1. Riwayat Kesehatan Dahulu (RKD) Keluarga klien mengatakan pada tahun 2003,klien pernah mengalami kelemahan pada tangan kiri dan kaki kiri.tapi akhirnya sembuh,klien Cuma dibawa keluarga untuk pengobatan alternatif dan teraphy.klien tidak pernah dirawat di Rs.

2. Riwayat Kesehatan Sekarang (RKS) a. Klien masuk RSUP. Dr. M. Djamil Padang melalui IGD dibawa keluarga pada tanggal 05-07-2010 jam 14 wib.sebelumnya klien sedang duduk di teras depan secara tiba-tiba klien merasakan berat pada tangan kiri dan kaki kiri dan susah untuk digerakan.saat terkena klien merasakan mual dan muntah.setelah itu keluarga langsung membawa klien ke RSUP,Dr.Mdjamil. b. pada saat dilakukan pengkajian pada tanggal 07-07-2010 keluarga mengatakan klien tampak lemah,dan juga tidak berdaya.tangan kiri dan kaki kiri klien tidak bisa digerakan.semua kebutuhan klien di bantu keluarga.klien juga tidak mau makan,nafsu makan klien menurun.klien juga susah bicara,bicara klien kacau.dan susah untuk dimengerti. 3. Kesehatan keluarga (RKK) Klien mengatakan tidak ada anggota keluarga klien yang menderita penyakit seperti ini, tidak ada keluarga klien yang mempunyai penyakit keturunan seperti : DM, Hipertensi dll. IV. Pemeriksaan Fisik 1. Rambut dan hygiene kepala Rambut hitam, bersih, dan beruban. 2. Mata • • Simetris ki-ka, Konjungtiva tidak anemis,

27

• • •

sclera tidak ikterik palpebra tidak udem alis mata simetris. Mata sebelah kiri klien mengalami gangguan penglihatan

3. Hidung Simetris Kiri dan kanan tidak ada pernafasan cuping hidung.dan tidak terpasang alt bantu seperti : Sonde/NGT 4. Mulut dan Tenggorokan Tidak ada peradangan, tidak ada pembesaran tonsil. 5. Telinga Simetris ki-ka, telinga sebelah kiri tertanggu.dan tidak ada terpasang alat bantu pendengaran. 6. Leher Tidak ada pembesaran KGB 7. Dada/Paru o Inspeksi o Auskultasi o Palpasi o Perkusi 8. Jantung o Inspeksi o Palpasi o Perkusi o Auskultasi 9. Abdomen o Inpeksi o Palpasi o Perkusi o Auskultasi 10. Genito urinaria Klien terpasang pampers, dan kateter 11. Ektremitas 28 : Perut tidak membuncit : Tidak terjadi pembesaran hepar : Tympani : Bu (+) : Ictus cordis tidak terlihat : Ictus teraba 1 jari LMCS RIC V : batas jantung normal : Teratur : Sonor :Simetris kiri dan kanan, tidak menggunakan alat bantu pernafasan : Suara Nafas sonor : Fremitus Kiri dan kanan

o Ektremitas atas Terjadi kelemahan pada tangan bagian kiri dan terpasang infus RL 12 jam/kolf Ektremitas bawah Terjadi kelemahan pada kaki bagian kiri Dan tidak bisa digerakan V .Pola Kebiasaan Sehari-hari 1. Eliminasi o BAB Sehat : 1x sehari, warna kuning, konsistensi agak pada Sakit : 1x sehari, warna kuning, konsistensi agak padat

o BAK Sehat : 3-5 x sehari warna bening kekuningan dan tidak ada endapan. Sakit : Klien terpasang kateter warna urine bening kekunigan 2. Nutrisi o Makan Sehat : 3x sehari, nasi lunak + sayur + lauk. Sakit : Diit Klien MC 3x sehari.Habis ¼ porsi. o Minum Sehat : Air putih, ± 3 gelas sehari Sakit : air putih + susu ± 3 gelas sehari 3. Istirahat/ tidur o Malam : ± 5 jam o Siang o Mandi : Sehat : 2X sehari pakai sabun dan diguyur. Sakit : 1X sehari dibantu perawat. VI.Pemeriksaan Fisik Sistem Persyarafan a) Tingkat Kesadaran 29 : ± 2 jam

4. Personal higine

a. Kulalitatif Apatis b. Kuantitatif GCS : 9 E:4 V:4 M:1 b) Pemeriksaan Nervus Cranialis Klien mampu mengenali bau yang didekatkan pada hidungnya pada saat dilakukan pemeriksaan. 1. Nervus I (Alfaktorius)

2. Nervus II (Optikus) Klien tidak mampu melihat dan membaca 2 baris tulisan pada koran, lapang pandang klien baik. 3. Nervus III.IV.VI (Occulomotorius.Trochlearis.Abducen) Pupil tidak berespon terhadap cahaya, dan bola mata bisa digerakkan ke segala arah,atas ,bawah, dan nasal. 4. Nervus V (Trigeminus) Kliem mampu mengunyah,menutup mulut, menggerakkan rahang bawah ke samping. 5. Nervus VII (Fasialis) Wajah klien simetris,bisa menganggat alils dan menggerakkannya. 6. Nervus VIII (Akustikus) Klien tidak mampu mengenali suara gerakakn jari di yang di dekatkan ke telinga klien dan suara detak alroji. Keseimbangan klien terganggu klien tidak mampu berdiri sendiri 7. Nervus IX. X (Glasofharingeus. Vagus) Ovula jatuh kearah yang sehat yakni bagian kanan, reflek menelan klien bagus. 8. Nervus XI (Aksesorius)

30

Klien mampu mengangkat bahu sebelah kanan dan menggerakkannya.pada bahu sebelah kiri klien terganggu.klien tidak bisa mengangkat dan menggerakan bahu sebaelah kiri. 9. Nervus XII (Hipoglosus) Klien bisa menjulurkan lidah,serta mengubah bentuk lidah. c) Pemeriksaan Motorik Klein mengalami gangguan keseimbangan, dan klien tidak bisa berjalan,tonus otot mengalmi penurunan fungsi. Kekuatan Otot klien : 555 555 111 111

d)

Pemeriksaan Reflek a. Reflek Tendon o Reflek Trisep o Reflek Bisep o Reflek Patella o Reflek Achiles b. Reflek Superfisial o Reflek kulit Perut o Reflek Kremaster o Reflek Anus : ++ : ++ : ++ : + / ++ : + / ++ : + / ++ :+/+

1. Reflek Fisiologis

o Reflek Bulbokavernosus : ++ o Reflek Plantar 2. Reflek Patologis o Reflek Barbinski VII.Prorgram Therapi No Nama Obat Dosis Hari Ke :(-) : ++

31

1 2

IVFD RL Brain act

12 jam/kolf 2 x 500 mg

3 3

VIII.Data Penunjang 1. Data Laboratorium a. Hematologi o Hb o Leukosit o LED o Trombosit o Hematokrit : 14,3 g/dl : 4900 / mm : 140 : 504.000 / mm : 49%

b. Kimia Klinik o Total kolesterol o HDL kolesterol o LDL kolesterol o Tirigle sirida o Asam urat o Natrium o Ureum darah o Kreatinin 2. Pemeriksaan Radaiologi a. Ro Thorak Dalam batas normal. b. CT Scan Tidak dilakukan pemeriksaan. : 125 mg/dl : 175 mg/dl : 77 mg/dl : 106 mg/dl : 14 mg/dl : 42 mg/dl : 109 mg/dl : 2,8 mg/d

32

Analisa Data No Data Masalah 1 Do - Kebutuhan Klien dibantu Defisit perawatan diri perawat dan keluarga - Klien bedres - Klien terlihat lemah 555 111 555 111 Etiologi Kelemahan kerusakan neuromuskuler. Fisik,

Ds - Keluarga klien mengatakan kebutuhan klien dibantu keluarga dan perawat : Mandi Makan dan minum Eliminasi.

2

Do - klien tidak bisa bicara seperti Gangguan Komunikasi Kerusakan 33

biasanya Verbal. - klien bicara pelo kalau klien bicara kacau dan tidak jelas. Ds - Keluarga klien mengatakan klien susah bicara dan katakatanya susah dimengerti. 3 Do - nafsu makan klien menurun - Diit yang diberikan tidak habis - Diit klien MC

Neuromoskuler.

Gangguan pemenuhan Intake yang nutrisi kurang dari adekuat. kebutuhan tubuh

tidak

DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN No 1 2 3 Daiagnosa Defisit Perawatan Diri b/d Kelemahan Fisik, Kerusakan Neruromuskuler. Gangguan Komunikasi Verbal b/d Kerusakan Neuromuskuler. Gangguan Pemenuhan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan tubuh b/d Intake yang Tidak Adekuat.

34

INTERVENSI KEPERAWATAN No 1 DX. Kep Defisit perawatan Tujuan/Kriteria Intervensi Setelah dilakukan 1. Bina HAM dengan diri intervensi klien teratasi 2.Observasi kebersihan kriteri diri klien. bisa 3. Bantu latihan fisik ROM pada klien untuk otot,jari-jari pada ekstremitas yang terganggu. dan klien dan keluarga. Rasional -Agar dapat terbina hubungan saling percaya dan memudahkan untuk melakukan tindakan. - Menentukan tingkat kebersihan klien dan penentuan tindakan -Supaya otot-otot klien tidak terjadi kekakuan dan dapat berfungsi lagi.

b/d Kelemahan keperawatan Fisik, kerusakan masalah neruromuskuler. dapat dengan hasil : -klien memenuhi seperti : Mandi ,makan ,minum

kebutuhan sendiri menggerakkan otot-

35

eliminasi -Klien melakukan aktifitas biasanya. seperti

3.Dekatkan alat-alat dapat yang dibutuhkan klien.

-Alat - alat yang dekat meminimalkanm menghindari cidera. terjadinya

4.Ubah posisi klien minimal 2 jam sekali.

-.Menghindari terjadinya dekubitus.

2

Gangguan komunikasi verbal kerusakan neuromoskuler.

Setelah dilakukan - Gunakan pertanyaan -Mengidentifikasi intervensi b/d keperawatan masalah dapat dengan hasil : -klien bicara biasa lagi dimengerti tidak kacau terbuka dengan jawaban adanya ya,atau tidak selanjutnya dengan klien kembangkan teratasi pertanyaan komplek. kriteri -Gunakan jadi komponen bicara(seperti lidah,gerakan bibir). pertanyaan -Menurunkan slama disatria sesuai adanya motorik

dapat terbuka dengan jawaban kebingungan kembangkan dan -Hargai klien

seperti ya,atau tidak selanjutnya proses komunikasi dan jadi merespon informasi. kemampuan -Kempampuan untuk harga diri klien klien.dan

-Bicara klien bisa pertanyaan komplek. meningkatkan

membuat klien menjadi percaya diri. 3 Gangguan pemenuhan nutrisi Setelah dilakukan -Anjurkan klien makan -Supaya intervensi sedikit-sedikit tapi sering merasa klien -Hidangkan kriteri -Ciptakan kembali -Pantau makan bersih saat klien makan makanan setiap hari 36 klien bosan tidak dengan

kurang keperawatan teratasi dalam keadaan hangat

makanan yang diberikan. makanan -Makanan dalam keadan hangat akan menambah nafsu makan klien. lingkungan -Agar klien dapat makan dengan lahap dan tenang. defisiensi nutrusi. masukan -Mengidentifikasi

dari kebutuhan masalah tubuh b/d intake dapat yang adekuat tidak dengan hasil : -nafsu klien membaik.

-.porsi

yang -Kolaborasi dengan tim -Untuk pemberian dan gizi dalam pemenuhan pemenuhan nutrisi yang baik untuk klien.

diberikan habis hilang.

-mual dan muntah nutrisi klien.

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI No. Dx 1 Tanggal 8 – juli – 2010 1. Implementasi Membina HAM dengan klien S : dan keluarga. 2. Mengobservasi kebersihan diri klien. 3. . Membantu latihan fisik ROM pada klien untuk menggerakkan otot-otot,jari-jari ekstremitas yang terganggu. 4. Mendekatkan alat-alat yang dibutuhkan klien. 5. Mengubah posisi klien menimal O : 2 jam sekali.  Klien bedres  Klien tampak lemah A: 37 tampak pada Evaluasi mengatakan bisa KDM klien dibantu mandi,

 Klien belum

beraktifitas,  Keluarga mengatakan aktifitas seperti:

nya masih dibantu.

BAB, dan makan

 Masalah teratasi P:  Intervensi dilanjutkan S: 2 08-07-2010 1. Meminta mengucapkan 2. Menggunakan klien untuk kata-kata O: pertanyaan

belum

 Klien masih susah bicara  Bicara klien masih kacau dan susah dimengerti. A:  Setelah intervensi keperawatan masalah teratasi P:  Intervensi dilanjutkan. S: belum dilakukan

sederhana seperti’’PUS’’. terbuka dengan jawaban ya,atau tidak selanjutnya kembangkan jadi pertanyaan komplek. 3. Menghargai kemampuan klien.

3

08-07-2010

1. Menganjurkan

klien

makan

 Kelurga

klien

sedikit-sedikit tapi sering. 2. Menghidangkan makanan dalam keadaan hangat. 3. Menciptakan lingkungan bersih saat klien makan. 4. Memantau masukan makanan O : setiap hari. 5. Mengkolaborasi dengan tim gizi dalam pemenuhan nutrisi klien. 38

mengatakan klien tidak mau makan  Keluarga mengatakan klien lemah dan lesu.  Diit diberikan habis. yang tidak

A:  Maslah keperawatan belum teratasi. P:  Intervevsi dilanjutkan.

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Gangguan peredaran darah diotak (GPDO) atau dikenal dengan CVA ( Cerebro Vaskuar Accident) adalah gangguan fungsi syaraf yang disebabkan oleh gangguan aliran darah dalam otak yang dapat timbul secara mendadak ( dalam beberapa detik) atau secara cepat ( dalam beberapa jam ) dengan gejala atau tanda yang sesuai dengan daerah yang terganggu.(Harsono,1996, hal 67) Pecahnya pembuluh darah otak menyebabkan keluarnya darah ke jaringan parenkim otak, ruang cairan serebrospinalis disekitar otak atau kombinasi keduanya. Perdarahan tersebut menyebabkan gangguan serabut saraf otak melalui penekanan struktur otak dan juga oleh hematom yang menyebabkan iskemia pada jaringan sekitarnya. Peningkatan tekanan intrakranial pada gilirannya akan menimbulkan herniasi jaringan otak dan menekan batang otak Penyakit ini merupakan peringkat ketiga penyebab kematian di United State. Akibat stroke pada setiap tingkat umur tapi yang paling sering pada usia antara 75 – 85 tahun. (Long. C, Barbara;1996, hal 176). B. Saran

39

1. Diharapkan Mahasiswa/Perawat di rumah sakit mampu melakukan dan menerapkan proses keperawatan pada klien Stroke Non Hemoragik yang hampir seluruh kebutuhan dasarnya dibantu. 2. Diharapkan Mahasiswa/Perawat dirumah Sakit bisa menjalian komunikasi dan kerjasama yang baik dengan klien, keluarga dan tim medis lainnya demi tercapainya Asuhan Keperawatan yang berkualitas. DAFTAR PUSTAKA

Barbara C. Long, alih bahasa R.Karnaen dkk, 1996, Perawatan Medikal Bedah. EGC, Jakarta Barbara L. Bullock 1996, Patofisiology, Adaptasi and alterations infeksius function, Fourth edition, Lipincott, Philadelpia Brunner & Sudarth, 2003, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Ed 8 Vol 3 , EGC, jakarta Lynda Juall Carpenito, Alih bahasa Yasmin Asih, 1997, Diagnosa Keperawatan , ed 6, EGC, Jakarta Marilyn E. Doenges, et al, 1997, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, jakarta Sylvia A. Price, Alih bahasa Adji Dharma, 1995 Patofisiologi, konsep klinik proses- proses penyakit ed. 4, EGC, Jakarta

40

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful