Anda di halaman 1dari 26

Serambi Indonesia

Minggu, 5 Oktober 1997

Arisan
Oleh Ameer Hamzah

Sekumpulan ibu-ibu yang suaminya bekerja di sebuah instansi berkumpul sebulan sekali dalam sebuah
wadah organisasi yang diberi nama sesuai dengan kesepakatan bersama. Kumpulan seperti itu ternyata
cukup bermanfaat dalam kehidupan berumahtangga. Selain untuk saling bersilaturrahmi antara keluarga
besar instansi tersebut, juga berguna untuk saling bantu membantu bila ada masalah-masalah sosial,
seperti walimah, musibah, melahirkan, sakit bahkan kematian.

Biasanya, dalam kumpulan ibu-ibu itu ada beberapa kegiatan yang berlangsung cukup baik dan
terkoordinir. Misalnya, mengadakan pengajian bersama, mendalami ajaran agama, mengundang ustaz
penceramah, phisikolog, perancang mode muslimah, ahli kesehatan, kebugaran dan juga presentasi
produk-produk kosmetika baik yang tradisional dan maupun yang modern.

Kegiataan ibu-ibu tersebut sering berakhir dengan makan bersama dan arisan. Karena itu pula kadang-
kadang rapat ibu-ibu itu lebih populer dengan kegiatan arisan, padahal arisan itu hanya semacam
instrumentalia dari hakikat pertemuan yang berguna itu. Bila yang instrumentalia ini dianggap paling
penting, pertemuan itu tentu akan kurang menarik dan berjalan lamban untuk sampai ketujuan.

Saya termasuk salah seorang ustaz muda yang sering mengisi ceramah- ceramah agama di beberapa
perkumpulan ibu-ibu yang mengadakan arisan dalam Kotamadya Banda Aceh dan sekitarnya. Saya
menilai kegitan itu sangat baik untuk mempersatukan persepsi ibu-ibu terhadap keibuannya, terhadap
suami dan anak-anaknya. Lewat arisan yang bermanfaat itu akan melahirkan berbagai pemikiran positif
yang sesuai dengan nilai-nilai keluarga modern.

Misalnya, ibu-ibu yang dituakan dalam arisan itu perlu memberi wejangan-wejangan yang berguna bagi
ibu-ibu muda tentang kiat-kiat sukses dalam melayani behtera rumahtangganya. Ibu-ibu muda juga wajib
mendengar apa yang disampaikan ibu-ibu senior yang bermanfaat dalam kehidupan berumah tangga,
sebab ibu-ibu senior itu telah banyak memakan "asam garam" berkeluarga.

Betapa naif bila dalam pertemuan yang singkat itu harus berakhir tanpa membawa seidikitpun pelajaran
yang berguna untuk memperkaya ruhani dan kiat kebahagian. Dan alangkah keliru bila dalam pertemuan
itu yang berkembang hanyalah gosip-gosipan tentang keluarga anggotanya yang mungkin sedang menjadi
buah bibir karena terlalu baik atau terlalu buruknya.

Merugi juga bila pertemuan seperti itu menjadi ajang pamer kekayaan, seperti mode busana, kalung,
anting-anting dan sebagainya. Ini sangat berbahaya karena ada sebagian ibu-ibu yang suaminya pegawai
atau karyawan kecil sehingga tak mungkin membeli busana-busana "wah" tersebut. Arisan yang baik dan
berguna apabila para anggotanya sepakat untuk meningkatkan kualitas pemahaman terhadap agama
sehingga tercipta keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.

ACEH LAM HABA

Molot Raya di Meuseujid Raya

Assalamualaikom wahe dum rakan


Saleuem lon tuan keu gata dumna
Aceh Lam Haba lon keuneuek karang
Ulon neuk peutrang keu molot raya

Bak uroe Rabu nyan tanggai lapan


Jak pajoh idang bak Meuseujid Raya
Meuseujid Raya Baiturrahman
Seubab uroe nyan na molot raya

Keunan meusaho inong ngon agam


Adoe ngon cutbang tuha ngon muda
Kajeuet keu adat tanyoe Iseulam
Tabri peuringatan lahe Mustafa

Ta meuseulaweuet bacaan nalam


Seulaweuet badar, barzanji beuna
Ta peutrang tareh Nabi Junjongan
Rasui pilehan saidel ambiya

Nabi Muhammad utosan Tuhan


Ban sigom alam sipnayang masa
Bandum makhlok tundok keu gobnyan
Jen ngon insan, binatang dumna

Latbatat ngon kayee batee nyan


SAaleuem keu junjongan hana tom reuda
Malaikat saleuem keu gobnyan
Peurintah Tuhan Allah Ta'ala

Geutanyoe Aceh agama Iseulam


Hidayah Tuhan ka jameuen kana
Beureukat Nabi nyang ba Iseulam
Aceh trang bandrang dalam agama

Seuramoe Mekkah nan panggilan


Seubab Iseulam sinoe phon mula
Phon di Peureulak tamong Iseulam
Dudoe meukeumang Pasee-Samudra

Ban saboh Aceh laju le rijang


Aceh Darussalam tempat duek Raja
Peutimang hukom dalam Quruan
Hukom Iseulam bak Tuhan Esa

Deungon beureukat Nabi Junjongan


Rakyat meuiman Aceh mulia
Kareuna nyan keueh wahe hai taulan
Tanyoe Iseulam bek jen peudaya

Beuna tatusoe nyan ba Iseulam


Rasui pilehan ateueh rueng donya
Ucap seulaweuet saleuem lon sajan
Hana jeuet sagai geutanyoe alpa

Meuseujid Raya kubah cet itam


Tameh di dalam meubanja-banja
Mumada sinoe lon suson kalam
Meu'ah hai rakan meunyoe na ceula

Jadilah Perempuan Cantik Alami


SEKARANG, makin banyak saja perempuan yang berkembang dengan inner kompleks --secara mental
dan fisik-- dalam dirinya sendiri. Mereka menjadi nyaman dengan diri sendiri dan menjadikannya sebagai
yang utama. Segala sesuatu di luar diri mereka ditanggapi dengan rasa curiga dan patut diwaspadai.

Sikap seperti ini, dalam wujudnya yang sederhana, bisa dilihat dari kebiasaan sang wanita
menata/merawat diri mereka sendiri seperti mereka menangani uangnya di bank. Apa yang dia tanam
adalah apa yang akan dia panen. Mereka ingin investasi mereka cepat kembali, bahkan dengan bunganya
sekalian!

Secara psikologis, para perempuan seperti ini sedang mendiktekan apa yang harus dikerjakan untuk
mereka, bukan mereka yang didikte untuk mengerjakan sesuatu. Dan, ini sudah dimulai dalam lingkup di
mana biasanya perempuan ditekan: dalam hal kecantikan dan mode.

Terhadap tekanan yang kurang disadari itu, apa sebaiknya yang perempuan lakukan? Sebagian di antara
mereka telah menemukan formula bagi kesuksesan sesungguhnya: Mereka menjadi sederhana. Tak lagi
dicekoki oleh mode yang berganti dalam hitungan hari.

Dari masalah pakaian dan pengaturan waktu, misalnya, para wanita telah belajar hal penting. Yakni,
menjawab pertanyaan, apa yang paling tepat untuk saya? Bukan tepat untuk para model majalah, saudara
perempuan saya, atau teman baik saya, tetapi (sekali lagi) untuk saya....

Kesadaran seperti ini, tentu saja belum menyeluruh muncul di kalangan wanita modern sekalipun.
Kesadaran yang demikian, mungkin hanya sebagai sebuah trend yang fenomenal. Dan, bisa saja, seperti
banyak trend, trend yang satu ini juga akan berlalu secepat berita basi. Benarkah?

Wanita sesungguhnya melakukan lebih banyak untuk mempertinggi daripada menyembunyikan atau
mengganti. Tapi, menurut Vanessa Jornan dari Woman Style, hal itu tidak boleh terjadi. Apalagi,
pengetahuan baru telah tertanam di benak perempuan bahwa kecantikan sejati bermula dari dalam, secara
alami. Mereka, kata Jordan, sangat sadar arti lirik lagu Aretha Franklin, "You make me feel like a natural
woman".

Menjadi perempuan seperti ini, tidak bisa dilakukan oleh semua perempuan. Untuk menjadi perempuan
cantik alami merupakan tugas sulit dan harus gigih. Perempuan seperti ini merasa tanpa riasan wajah pun
ia sudah cantik. Tapi, betapapun sulit, Anda harus tetap berupaya menjadi cantik alami.

Tips

Agar bisa tampil cantik alami, berikut ini dipaparkan sejumlah tips kecantikan dan mode untuk menolong
Anda menjadi perempuan alami sejati.

* Ciptakan untuk diri sendiri sebuah dasar riasan wajah rutin yang hanya membutuhkan waktu lima menit
untuk melaksanakannya. Jika Anda dapat melakukan hal itu, selanjutnya Anda dapat melakukan
tambahan-tambahan untuk beberapa penampilan berbeda. Ingat selalu bahwa kulit wajah yang bersih
tidak perlu terlalu banyak fondation (bedak dasar) atau concealer (penyamar). Kulit yang baik merupakan
keharusan sebelum Anda berhias.

* Pilih gaya rambut yang secara benar-benar bisa disebut sebagai "cuci dan pergi", tidak peduli apa
jenis/tekstur rambut Anda. Ini berarti memerlukan eksperimen (dan Anda mungkin harus sedikit
berpetualang), tetapi hal ini menjadi tidak sia-sia ketika Anda menemukan gaya rambut yang pas. Untuk
ini, mungkin saja Anda terpaksa melakukan perubahan gaya rambut. Pencarian perlu dilaksanakan karena
banyak perempuan yang menghabiskan banyak waktu dan uang disebankan rambutnya. Jika akhirnya
Anda menemukan gaya rambut yang baik dan cocok, tidak perlu lagi membuang-buang waktu di depan
cermin.

* Bersihkan sebersih-bersihnya kamar mandi Anda. Berdasarkan pendapat Neil Balater, pendiri sebuah
pabrik peralatan kamar mandi dan ahli interior, para perempuan adalah manusia terbesar yang melakukan
kejahatan ketika ruang kamar mandi tidak berfungsi. (Penyebab utamanya karena mereka memiliki
banyak barang dan aksesoris). Karena umumnya di rumah besar, kamar mandi ditata sekaligus dengan
ruang berhias. Nasihat Neil untuk menaklukkan kekacauan di kamar mandi:

Tinggalkan atau buang jauh-jauh:

1) Apa saja yang secara teoritis Anda sukai tetapi tidak pernah Anda pakai,
2) Barang apa saja yang bisa mengotori tapi tidak mudah atau bisa dibersihkan,
3) Baju atau celana yang kekecilan sejak tiga tahun lalu,
4) Mantel yang tidak akan pas dengan jaket Anda dan terlalu pendek untuk busana Anda, dan
5) Segala sesuatu yang benar-benar tidak meningkatkan kualitas apa-apa yang Anda pakai,

Untuk secara benar menaklukkan "kekacauan" di kamar mandi Neil menawarkan apa yang dinamainya
Pedoman Emas Neil Balter: "Setiap Anda membeli barang baru, buang yang lama". Tega tidak? (rps)

Tak Berkerut lantaran Kemelut

ADA terobosan sekaligus sejarah baru dalam pentas politik Indonesia bersamaan dengan disahkannya
komposisi DPR-RI periode 1997-2002 pada 3 Oktober lalu. Wanita yang sepanjang sejarah republik ini
belum pernah masuk dalam jajaran pimpinan definitif DPR, kali ini punya catatan lain. Adalah Fatimah
Achmad, banteng betina dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang memecah rekor sebagai wanita
Indonesia pertama yang mengisi komposisi pimpinan DPR-RI. Untuk prestasi yang satu ini namanya
akan melegenda dan dikenang.

Terlepas dari intrik politik suka tak suka terhadap PDI, masuknya nama muslimah yang taat itu sebagai
Wakil Ketua DPR-RI dari F-PDI dinilai banyak pihak sebagai suasana baru dalam sejarah kepemimpinan
DPR-RI sebagai lembaga tinggi negara. Mendampingi Ketua DPR H Harmoko (FKP), Fatimah Achmad
akan tegak sejajar dengan wakil ketua lainnya, H Ismail Hasan Metareum (FPP), dr Abdul Ghafur (FKP),
dan Syarwan Hamid (FABRI). Tak berlebihan bila Ketua F-PDI DPR-RI Budi Hardjono menyebut hal itu
sebagai terobosan baru dalam jajaran lembaga legislatif.

Uniknya lagi, melesatnya nama Fatimah adalah berkat dukungan penuh dari sebelas anggota F-PDI yang
terpilih untuk menduduki kursi di DPR-RI. Soerjadi sendiri yang semula menempati posisi yang kini
diduduki Fatimah, tersisih. Boleh jadi, menjelang milineum baru ini, di mana perberdayaan wanita
bagaikan mencapai klimaksnya, kedudukan politik seperti yang kini dinikmati Fatimah memang sudah
"jatah" wanita. Sebab, bukankah sedianya Mbak Megawati yang akan bertengger di sana, andaikan jalan
secara PDI tidak tiba-tiba zig- zag menjelang Pemilu lalu? Tapi tak apa. Dilihat dari sisi representasi
kaum wanita, yang duduk di posisi puncak itu toh dari kelompok mereka juga, kendati sosoknya beda.

Mengamati perjalanan organisasi politik yang digelutinya, jalan menuju gedung MPR/DPR RI ini seakan
telah terencana secara sistematis di alam kesadaran Fatimah. Buktinya, pada usia 18 tahun ia telah
menjadi anggota pleno DPC Pemuda Demokrasi Kabupaten Simalungun. Bakat politiknya cukup
menonjol.

Pernah memang ia tetap bertahan jadi guru di SMP Taman Siswa Pematang Siantar. Namun, itu hanya
bertahan lima tahun. Dengan bekal ilmu dan konspesi-konsepsi politik yang merasuk dalam dirinya,
alumnus Fakultas Hukum Universitas Islam Sumatera Utara akhirnya mengikuti naluri politiknya. Maka,
Fatimah pun kembali berkecimpung di panggung politik yang telah sempat dirintisnya selama masih
sekolah.

Ia kemudian menjadi Sekretaris DPC PDI Simalungun. Lalu, pada tahun 1964 hingga 1970 wanita enerjik
yang murah senyum ini dipercaya sebagai Wakil Bendahara DPD PDI Sumatera Utara. Tatkala terjadi
fusi partai tahun 1971 Fatimah duduk sebagai Wakil Sekretaris DPD PDI Sumatera Utara.

Sejak itulah karier politiknya terus melejit ke tingkat pusat, seiring dengan hijrah politiknya ke Jakarta. Ia
pun menjadi figur yang cukup diperhitungkan dalam "kisruh" PDI tahun 1996 sampai ia dipercaya
memotori Kongres PDI di Medan. Dan, akhirnya, hingga kini ia menjabat Ketua Dewan Pembina Pusat
PDI berdasarkan hasil kongres tersebut.

Dari kans politik yang ada, apalagi ditambah prestasinya, Fatimah Achmad termasuk sosok yang
beruntung dari sekian banyak wanita Indonesia yang bergerak dalam bidang organisasi sosial politik.
Fatimah Achmad boleh dikata cukup piawai dalam percaturan politik di tubuh partai berlambang kepala
banteng itu. Kemelut tak membuatnya berkerut, apalagi surut.

Di tengah kemelut di tubuh PDI, Fatimah Achmad kelihatnnya tetap mampu menempatkan diri dan
mengambil keputusan yang tepat. Kecerdikan mantan Bu Guru ini membaca situasi telah membawa
dampak positif baginya. Dengan itu pula ia berhasil tampil sebagai salah seorang dari 11 kader PDI yang
duduk di perwakilan rakyat masa bakti 1997-2002.

Pasca perhitungan hasil Pemilu 1997, sebetulnya adalah masa terpahit bagi PDI. Ditandai dengan
merosotnya secara tajam perolehan suara partai di bawah kendali Soerjadi. Tapi, terpilihnya "banteng
betina" dari partai metal itu menjadi wakil ketua DPR sungguh sebuah "si tawar si dingin" bagi warga
demokrat.

Fatimah sendiri berpendapat, penurunan suara yang otomatis berkurang pula jumlah anggota PDI di DPR,
tidak akan menyurutkan semangat juang mereka dalam menyuarakan aspirasi rakyat alias "wong cilik".
Dalam bahasa khas Fatimah, "Kecil dari segi jumlah tidak berarti kecil pula nyali."

Ia tak sependapat kalau greget partai ditumpukan pada besarnya jumlah orang. Yang lebih penting,
menurutnya saat diwawancarai kru TVRI, adalah komitmen sebuah partai dalam memperjuangkan
aspirasi rakyat. "Biarpun kecil, atau setengah kecil, atau paling kecil, kalau dia bersemangat menyuarakan
aspirasi rakyat, lama-lama tentu rakyat akan mendengarnya. Tapi, seberapa bermanfaat sih orang ramai di
partai tertentu kalau suaranya tidak bergaung atau tidak bermanfaat," tanyanya rada menggugat.

Akhirnya, di hari-hari Sidang Umum MPR ini hingga sesudahnya, masih kita tunggu "raungan" dan
"serudukan" banteng betina dari Sumatera ini. Lewat orang-orang seperti dia, bisa jadi seperti dimaui
Presiden Soeharto, tugas dewan secara kolektif akan mengacu pada terwujudnya pemerintah yang kuat
dan DPR yang kuat. Kuat dalam artian kualitas, bobot, dan wibawanya. (yarmen dinamika)

Jangan Hanya Nikmati Popularitas, tanpa Mau Menanggung Konsekuensi

KALIMAT itulah yang dilontarkan Ilham Bintang, wakil ketua Bidang Organisasi PWI Jakarta Raya
menanggapi komentar Menaker Abdul Latief, dalam konferensi pers Minggu lalu di Pasaraya Blok M,
Jakarta.

Menurut Ilham, baik Dessy Ratnasari maupun A Latief yang diisukan akan menikah --kemudian
menyangkal-- keduanya merupakan public figur. Hendaknya, mereka juga menyadari posisi seperti itu,
dengan risiko yang ditimbulkan. "Jangan hanya mau menikmati posisinya sebagai public figur, tanpa mau
menerima risiko dan konsekuensi sebagai orang yang menyandang nama besar," kata Ilham yang
kemudian menambahkan, menyandang nama besar ada taruhannya. Termasuk digosipkan.

Di mata mayoritas wartawan Ibukota, pernyataan Abdul Latief yang menjelaskan seputar hubungan dia
dengan artis Dessy Ratnasari itu, telah melecehkan profesionalisme wartawan. PWI Jaya bahkan telah
menerima sejumlah memo dari wartawan menanggapi pernyataan A Latief yang dibacakan Minggu lalu
itu. "Kami sedang mengkaji sejumlah memo yang masuk dari wartawan yang meliput seputar masalah
hubungan A Latief - Dessy," kata Tarman Azam, Jumat.

Dari memo yang diterima PWI Jaya, baik melalui surat, faks maupun telepon, banyak yang
menyayangkan sikap A Latief yang dinilai telah melecehkan profesi wartawan.

Lantas, apa sikap PWI menanggapi pernyataan A Latief? Menurut Tarman, yang dihubungi kemarin,
sikap pers sebenarnya sudah benar. Karena wartawan juga telah melakukan upaya cek dan recek. Kalau
selama ini sampai terjadi kesimpangsiuran pemberitaan, semua itu karena kedua public figur itu mencoba
menutup diri. "Dessy sendiri setiap dihubungi wartawan hanya menjawab 'tidak ada komentar'," kata
Ketua Umum PWI Jaya itu.

Di sisi lain, wartawan diundang Latief jumpa pers, yang kenyataannya hanya mendengarkan pernyataan,
tanpa diberi kesempatan bertanya jawab. A Latief kelihatannya khawatir, dengan adanya tanya jawab,
akan terjadi simpang-siur interpretasi. Ilham Bintang menyayangkan sikap semacam itu. "Berarti, yang
bersangkutan telah meremehkan profesionalisme wartawan," simpulnya.

Penjelasan sepihak dari A Latief, dinilai Ilham Bintang, tidak menjawab persoalan, tapi justru
menyimpulkan persoalan baru. Itu karena, Latief begitu emosional mengecam wajah pers kita, yang
dianggapnya telah melecehkan martabatnya. "Jangan karena kecewa terhadap satu media, lantas
menyalahkan semua media. Ini kan tidak fair," kata Ilham Bintang, yang juga wartawan senior Harian
Bersenjata.

Persoalan baru justru muncul, menurutnya, karena pernyataan A Latief yang mengecam profesionalisme
wartawan. "Makanya banyak wartawan yang menyampaikan nota protes ke PWI, karena telah
diremehkan oleh pernyataan searah yang disampaikan oleh A Latief," timpalnya.

Ia tegaskan bahwa informasi adalah milik masyarakat. Sementara wartawan hanya menyampaikan
informasi itu. Tapi, dalam kasus Dessy - A Latief, seolah mereka mencoba membenturkan informasi itu,
dengan sikap keduanya yang menutup diri dan mengundang rasa penasaran. Tapi, itulah bagian dari gaya
hidup selebritis. (agy)

Abdul Latief Minta Maaf kepada Wartawan

Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Abdul Latief menyatakan dengan ikhlas meminta maaf kepada
wartawan dan jajaran pers nasional berkaitan dengan sikapnya, yang dianggap melecehkan profesi
wartawan dan berharap masalah tersebut selesai. Dalam siaran pers PWI Jaya yang diterima Antara di
Jakarta, Sabtu, Menaker mengemukakan pernyataan resmi itu dari kediamannya di daerah Kali Malang,
Jakarta Timur, saat menerima pengurus PWI Jaya, yang menyampaikan sikap resmi pelecehan tersebut.

Permintaan maaf Abdul Latief terutama ditujukan kepada wartawan yang meliput jumpa pers tanggal 28
september 1997, ketika Menaker meluruskan pemberitaan yang menyebutkan dirinya akan menikahi artis
Dessy Ratnasari. Siaran pers yang diotentikasi Sekretariat PWI Jaya itu menyebutkan, Menaker
menegaskan tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk melecehkan wartawan. Namun, jika dianggap
demikian, ia dengan ikhlas meminta maaf kepada jajaran pers nasional.

Latief juga menghargai usaha pengurus PWI Jaya, yang ingin menyelesaikan kesalahpahaman antara
dirinya dengan jajaran pers melalui cara kekeluargaan. Sebelumnya, PWI Jaya dalam pernyataan
resminya sangat menyesalkan pernyataan pers Menaker, yang mengandung muatan pelecehan terhadap
fungsi pers dan pelecehan terhadap kemampuan profesional wartawan pada tanggal 28 September.

Dalam acara jumpa pers itu, Menaker tidak memberikan kesempatan kepada wartawan untuk bertanya
jawab soal pemberitaan antara dirinya dengan artis Dessy Ratnasari, dengan alasan khawatir terjadi salah
penafsiran. Pernyataan resmi PWI Jaya itu juga sudah disampaikan kepada Menpen Hartono, Dirjen PPG
Deppen, Pelaksana Harian Dewan Pers, Pengurus PWI Pusat, dan Dewan Kehormatan PWI melalui surat
tembusan.

Pengelola harian ekonomi Neraca serta pemilik majalah mingguan Tiras itu di hadapan pengurus PWI
Jaya, di antaranya Tarman Azzam (Ketua), Rosdy Agus (penasehat), dan Marah Sakti Siregar
(Sekretaris), mengatakan bahwa pers mempunyai andil membesarkan dirinya, sehingga ia tidak pernah
berkeinginan melecehkan wartawan.

Siap digugat
Meski sudah minta maaf, sejauh ini somasi Latief yang ditujukan pada tabloid Paron, melalui kuasa
hukumnya Hotman Paris Hutapea SH dari Kantor Pengacara Makarim dan Taira S, belum ditarik.

Wakil Pemimpin Redaksi Paron Agus Basri mengaku siap menghadapi rencana gugatan Abdul Latief.
Agus mengatakan berita yang ditulis oleh wartawannya telah melalui investigasi yang dipersiapkan
secara matang. "Jadi, buat apa kami harus takut menghadapi Menaker Abdul Latief? Kami punya bukti-
bukti kok," ungkap Agus.

Meski demikian, sesuai ketentuan Kode Etik Jurnalistik, Agus berkeberatan menyebutkan sumber-sumber
yang dimaksud. "Ya, pandai-pandai kamilah," katanya dengan maksud merahasiakan identitas
narasumber beritanya.

Sejak menerima somasi 26 September lalu, Agus mengaku belum ada follow up kasus ini. "Bukan berarti
kami menganggap remeh somasi itu. Hanya upaya hukum belum dibicarakan dalam intern redaksi kami.
Bisa saja berlanjut ke perkara perdata. Ini tergantung niat kedua belah pihak dalam mencari kata sepakat,"
jelas Agus.

Ketua Umum PWI Pusat Sofjan Lubis juga mengatakan PWI akan memantau terlebih dahulu somasi
Menaker tersebut. Namun, ia mengimbau agar masyarakat yang merasa dirugikan oleh pemberitaan pers
hendaknya menempuh jalur yang sudah digariskan UU Pokok Pers. Yakni menggunakan hak jawab
sebelum mengambil langkah hukum.

Sementara, pada acara Buletin Siang 1 Oktober lalu, pengacara Latief, Hotman Paris Hutapea SH,
mengaku baru mengajukan somasi. Untuk langkah selanjutnya pihaknya masih akan menyusun strategi.

Somasi tersebut dikeluarkan karena pemberitaan-pemberitaan tabloid Paron dinilai merugikan kliennya.
Di antaranya soal rumah, mobil, perceraian, dan hal-hal yang dianggap pribadi. Lagi-lagi, soal keberatan
seorang public figur terhadap privasinya yang terusik. (hag/ant)

Nakerwan Ilegal Asal Indonesia Hadapi Bom Waktu di Arab Saudi

TANGGAL 16 Oktober 1997 merupakan batas akhir yang ditentukan Pemerintah Arab Saudi untuk
menertibkan tenaga kerja asal Indonesia --sebagian besarnya wanita-- yang memanfaatkan visa umrah
untuk bekerja di Arab, walau batas waktu izin tinggalnya sudah habis.

Persoalan ini ibarat "bom waktu" bagi ribuan warga Indonesia yang berada di Jeddah, Mekkah, dan
Medinah, yang sudah overstay dan bekerja sebagai TKI gelap di Arab Saudi.

Akhir-akhir ini, pemerintah Saudi telah memulangkan warga negara asing yang sudah melampaui batas
waktu menetap mereka di Arab Saudi, dan banyak di antara mereka berasal dari Indonesia yang
umumnya tenaga kerja wanita. Namun, setelah tanggal 16 Oktober 1997, Pemerintah Saudi akan tegas
menindak mereka yang melanggar batas izin tinggal, atau bervisa umroh dan menerapkan hukuman
penjara selama tiga bulan atau denda sebanyak 10.000 real Saudi hingga 50.000 real.

Saat melakukan kunjungan kerja ke Arab Saudi beberapa waktu lalu, Menteri Negara UPW Ny Mien
Sugandhi sempat bertatap muka dengan sekitar 35 wanita asal Indonesia yang datang ke Konsulat
Jenderal RI di Jeddah untuk minta perlindungan. Mereka takut kepada aparat keamanan Arab Saudi yang
tengah melakukan penertiban overstayer. Mien Sugandhi mengaku sedih sekaligus prihatin melihat masih
banyak wanita asal Indonesia yang nekat mau menjadi nakerwan ilegal di Arab Saudi, dengan
memanfaatkan visa umrah, sehingga dikejar-kejar aparat keamanan.

"Visa umroh itu kan untuk ibadah, mengapa dijadikan tameng untuk bekerja di Arab Saudi? Kalau nanti
terjadi apa-apa siapa yang akan melindungi mereka?" ujar Mien.

Nakerwan ilegal yang berasal dari berbagai kota di Jawa Timur, Banjar, Jawa Barat, dan Sumatera,
meminta perlindungan Konsulat Jenderal RI di Jeddah dari kejaran pihak berwajib Arab Saudi yang
tengah melakukan aksi penertiban terhadap mereka yang telah melampaui batas waktu (over stay) dan
menjaring mereka yang tidak berpaspor. "Banyak dari wanita yang visanya umrah itu, akhirnya
kelabakan dan kebingungan. Apalagi nanti setelah tanggal 16 Oktober 1997, Pemerintah Saudi Arabia
akan menindak tegas para overstayer dan menerapkan denda atau penjara tiga bulan," ujar Konjen RI
Jeddah Anwar Yasin.

Masih lunak

Menurut Anwar, selama ini Pemerintah Saudi Arabia masih bersifat lunak terhadap para pelanggar
ketentuan lama tinggal sesuai penunjukkan visa, bahkan Arab Saudi memulangkan mereka secara gratis.
"Tapi, setelah tanggal 16 Oktober 1997, Pemerintah Arab Saudi akan menerapkan sanksi denda sebesar
10.000 real (800.000 rupiah) hingga 50.000 real atau penjara selama tiga bulan bagi mereka yang
melanggar ketentuan tersebut," ujarnya.

Diperkirakan, saat ini ada ribuan bahkan puluhan ribu warga Indonesia yang memanfaatkan visa umroh
untuk akhirnya bekerja secara ilegal, mereka terkadang menjual paspor dan tiket pulang dan
menggantungkan diri pada nasib dan keberuntungan.

Menurut salah satu TKI yang bekerja di Conference Palace Jeddah, Rofiq Lubis, diduga ada jaringan
tertentu di kalangan warga Indonesia di Jeddah yang bisa membeli atau menjual paspor seharga 1000 real
atau dua ribu real. "Kalau kita yang tadinya tak punya paspor mau beli juga bisa, nantinya akan diberi cap
dan identitas seolah-olah asli," ujar Lubis, salah satu TKI yang terbilang cukup berhasil dengan gaji
ribuan real.

Paspor dijual

Keterbatasan pendidikan kalangan wanita Indonesia di pedesaan, tampaknya menjadi penyebab dari
banyaknya wanita Indonesia yang tergoda pergi ke Arab Saudi untuk bekerja sambil melakukan ibadah
umrah. "Saya diajak oleh suami saya, yang katanya nanti di Arab saya bisa umrah, naik haji, dan bisa
kerja dengan gaji besar," ujar Rakhmini (30), asal Jember Jawa Timur.

Sebelum berangkat, Mini mengaku telah berhutang kepada tetangganya Rp 3 juta untuk membiayai
perjalanan ke Arab Saudi dan sedikit bekal selama di sana. Sayangnya, belum lama ini suaminya Juhri
tertangkap polisi, dan dia kemudian dipulangkan ke Indonesia. Wanita itu jadi bingung sebab paspornya
sudah dijual suaminya dan saat ini tak punya uang.

Di benak Rakhmini dan ke 34 temannya yang saat ini ditampung pihak Konjen RI Jeddah, berangkat ke
Arab Saudi merupakan impiannya karena selain bisa menunaikan ibadah umrah, dia bisa memberi
keluarganya uang beratus-ratus ribu rupiah.

"Mengapa kamu jual paspormu, nanti kamu pulang bagaimana?" tanya Mien Sugandhi kepada Rakhmini,
warga Jawa Timur itu. "Tidak tahu, Bu. Saya sebenarnya ingin kerja setelah umrah ini selesai, tapi suami
saya keburu ketangkap aparat keamanan dan sudah dipulangkan," ujarnya dengan mata sembab, sambil
menggendong anaknya yang masih balita.

Rakhmini, hanyalah satu dari ribuan wanita Indonesia yang berpaspor umrah tapi nekat ingin bekerja di
Arab, sehingga ketika masa berlaku izin tinggal habis, mereka dikejar-kejar aparat keamanan Arab Saudi.
Akhirnya, setelah tak mampu lagi berkelit, mereka kemudian minta perlindungan Konjen RI di Jeddah.

Menanggapi hal ini, Meneg UPW mengimbau agar semua pihak, khususnya Departemen Agama,
menyebar informasi ke segala penjuru dan pelosok hingga ke desa-desa, soal ketentuan umrah. "Hal ini
amat penting agar mereka tidak terjebak bujuk rayu calo atau pihak-pihak yang tak bertanggung jawab
yang memberi iming-iming bisa bekerja sambil umrah, tanpa mengetahui seluk-beluk peraturan
keimigrasian," ujar Mien Sugandhi.

Diberi perlindungan
Sementara itu, Konjen RI Jeddah Anwar Yasin menegaskan, pada prinsipnya perwakilan RI di luar negeri
adalah wakil dari pemerintah. "Bagi pemerintah, siapapun dan dari manapun, golongan manapun, tingkat
apapun, merupakan kewajiban untuk memberi perlindungan, tetapi itu bukan tidak terbatas selama masih
diwenangkan oleh ketentuan peraturan yang berlaku, baik perundang-undangan RI maupun UU Arab
Saudi," ujarnya.

Untuk itu bagi mereka yang overstay di wilayah Saudi, dan umumnya mereka yang tidak punya paspor
lagi, atau tidak punya kartu pengenal lagi, Konsulat Jenderal akan berusaha menolong. "Pertolongan itu
dimungkinkan bila mereka yang bersangkutan mempunyai ongkos untuk pulang, sebab perwakilan tidak
punya uang untuk memulangkan semua para overstay," ujar Anwar Yasin.

Setelah itu pihak perwakilan akan memberi surat perjalanan seperti paspor kepada mereka agar bisa
pulang ke rumah masing-masing.

Menurut Anwar Yasin untuk memulangkan mereka ke Tanah Air tentunya pihak Konsulat Jenderal RI di
Jeddah tidak akan sanggup. Apalagi jumlah mereka yang telah melampaui batas izin tinggal tersebut
ribuan atau bahkan puluhan ribu orang. Selama ini, pemulangan warga negara asing yang overstay
dilakukan pihak Pemerintah Arab Saudi secara gratis ke negaranya masing-masing, termasuk sejumlah
warga Indonesia. Tapi tampaknya, Pemerintah Arab Saudi tidak mampu lagi menampung mereka semua.
Maklum, di samping biayanya tinggi, tempat penampungan yang disediakan pun terbatas.

Nah, itulah dilemanya. Takut hidup kere di negeri sendiri, akhirnya terusir di negeri orang. (indiwan
seto/ans)

Penyakit Jantung Bisa Diprogram dari Kandungan

SAKIT jantung ternyata bisa "diprogramkan" sejak dari kandungan. Begitu menurut para ilmuwan yang
merasa telah menemukan penjelasan baru apa sebab penyakit tersebut menjadi salah satu pembunuh
utama di dunia Barat.

Sebuah studi yang dilakukan terhadap lebih dari 3.000 orang di Finlandia menemukan bahwa wanita-
wanita yang berbadan pendek dan melahirkan bayi laki-laki kurus, ternyata banyak yang meninggal dunia
karena penyakit jantung koroner.

Laporan hasil studi tersebut dimuat dalam British Medical Journal, Jumat. Separuh dari semua kasus
kematian di Finlandia adalah akibat sakit cardiovascular, dan menurut pendapat tim yang terdiri atas
David Barker dari Universitas Southampton asal Inggris dan rekan-rekan di Finlandia itu, penyakit tadi
adalah karena cara hidup kebaratan ataua minimal kebarat-baratan.

Mereka mempelajari contoh-contoh dari mereka yang dilahirkan di Rumah Sakit Pusat Universitas
Helsinki antara 1924 dan 1933, dan yang masih hidup di kota itu tahun 1971.

Mereka menemukan bahwa karena masyarakat Finlandia menjadi lebih makmur dan makanannya juga
lebih baik, maka efeknya yang segera dari makanan bergizi yang lebih baik itu tampak pada kaum
wanitanya yang menjadi gemuk, dan tampaknya telah menaikkan pula risiko terkena penyakit jantung
koroner di kalangan generasi berikutnya.

Dikarenakan berat badan ibu yang bertambah, maka janin itu membutuhkan makanan bergizi. Tapi,
bilamana ini tidak dipasok oleh ibu, maka si bayi akan lahir terlalu ringan, dan ini menambah risiko sakit
jantung.

Para peneliti itu mengambil kesimpulan bahwa pasokan makanan kepada janin tidak dapat diperbaiki
dalam satu generasi. Seorang wanita bisa diberi makanan untuk menambah berat badannya, tapi tidak
mungkin untuk mengambil wanita hamil untuk menambah makan pada bayinya.
Barker mengatakan bahwa penemuan ini mungkin khusus penting bagi negara-negara berkembang,
seperti India dan negara-negara lain di Asia di mana penyakit jantung koroner itu bertambah. (ant)

Konsultasi Psikologi

Kakak pengasuh konsultasi psikologi yth,


Saya laki-laki yang belum lama ini menikah. Bekerja di sebuah instansi. Sedangkan istri saya bekerja di
sebuah perusahaan swasta. Beda usia kami terpaut tiga tahun dan kami menikah atas dasar cinta, karena
sebelumnya kami telah berpacaran dua tahun.

Sebelum menikah saya memang telah mengenal keluarganya, meski tidak terlalu mendalam mengenali
watak ayah, ibu, dan saudara-saudara istri saya. Rupanya, prinsip saya bahwa yang akan saya nikahi
adalah V (istri saya) lalu peduli amat dengan sikap keluarganya, ternyata memang benar-benar salah.

Setelah menikah saya tinggal di "pondok mertua indah" dan tentu saja dengan harapan agar perkawinan
kami bahagia. Namun, pondok mertua ternyata tidak seindah penampilan luarnya. Rumah tersebut benar-
benar seperti neraka. Penghuninya manusia-manusia neurotik yang hobinya berteriak-teriak serta saling
menyalahkan satu sama lain.

Saya masih dapat memaklumi apabila sesekali saja hal itu terjadi. Namanya juga rumah tangga. Namun
celakanya Kak, hal itu berlangsung setiap hari. Saya pernah mengemukakan hal ini kepada istri, namun
dia hanya dapat mengeluarkan air matanya. Saya pernah menyampaikan keinginan untuk pindah saja,
namun istri tidak setuju apalagi usia perkawinan kami masih seumur jagung.

Yang amat saya khawatirkan bahwa saya bakal jadi terganggu dengan situasi semacam itu, memang
benar-benar terjadi. Kini memasuki ruang tidur pun rasanya seperti memasuki neraka saja. Apalagi
ditambah dengan tata ruang yang sumpek dan terlalu banyak meubel. Saya benar-benar amat tersiksa
dengan situasi dan kondisi seperti itu. Rumah indah tapi sumpek karena banyak meubel dan berdesak-
desak. Belum lagi semua penghuninya bertemperamen tinggi.

Kini yang dapat saya ajak berdialog hanya istri dan adiknya yang paling kecil. Akibat ketidakbetahan
dengan kondisi ini saya sering menghabiskan waktu di luar rumah bersama teman-teman. Padahal,
aslinya saya ini orang rumahan dan senang di rumah selepas kerja.

Menurut ibu haruskah saya pindah dan mungkinkah perilaku penghuni rumah dapat kami ubah? Terima
kasih atas perhatian dan jawaban ibu.

Wassalam SY di D

Jawaban

Dinda SY di D. Selamat menempuh hidup baru dan semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan
mawaddah dan rahmah untuk kalian berdua. Pengantin baru tentunya ingin berbulan madu dengan
tentram dan damai. Keinginan yang tak terjawab oleh realitas semakin membuat dinda terusik dalam
kebingungan, apa yang harus dilakukan?

Surat yang dinda layangkan mengingatkan kakak pada pernyataan dua pakar yaitu Krasner dan Ulman
(1973) bahwa: "Perilaku manusia tidak dapat dilepaskan dari tempat di mana perilaku tersebut
berlangsung."

Sebenarnya, seluruh kehidupan kita, baik pikiran, emosi maupun perilaku akan membentuk suatu
interaksi spesifik dengan lingkungan dan sama sekali tak dapat dipisahkan dari lingkungan. Pengaruh
lingkungan terhadap perilaku (beserta aspek pendukung lainnya) berlangsung melalui empat hal, yaitu:

1) Lingkungan menghalangi perilaku; dinding, jumlah orang, kegaduhan, ketinggian meja, dll yang dapat
menghalangi munculnya suatu perilaku.
2) Lingkungan mendatangkan/mengundang perilaku; ketika kita masuk masjid membuat kita khidmat,
kursi yang sandarannya mengundang kita untuk duduk dengan santai dan sebagainya.

3) Lingkungan membentuk diri; kelas yang tempat duduknya diatur menghadap ke depan dan guru berdiri
di depan ternyata akan membentuk kepribadian anak menjadi manusia yang patuh, tidak kreatif dan
beranggapan bahwa sekolah adalah proses menerima informasi dari seorang pakar (guru). Sedangkan
kalau tempat duduk diatur fleksibel dan guru mengajar dengan lebih banyak diskusi, diyakini akan
membentuk siswa lebih demokratis dan kreatif.

4) Lingkungan membentuk citra diri; seorang raja yang tinggal di istana yang indah dan dilayani oleh
dayang-dayangnya akan membentuk citra dirinya sebagai orang yang amat penting. Seorang anak yang
tinggal di tempat kumuh akan membentuk citra diri sebagai orang yang tidak berdaya.

Dinda Sy di rumah,

Apa yang dinda alami kini sebenarnya ketidaksiapan dinda berada di lingkungan yang baru sama sekali
dan berbeda dengan lingkungan dinda dulu. Sikap penghuni rumah yang bertemperamen tinggi dan sering
ribut menghadirkan sebuah kebisingan dan suasana yang tidak menyenangkan buat dinda. Glass dan
Singer (1972) menyatakan bahwa kebisingan yang tidak dapat diperkirakan akan merusak kemampuan
kerja seseorang dan membuat seseorang tidak berdaya dan mudah frus- trasi. Sedikit banyaknya ini juga
melanda diri dinda yang notabene adalah orang baru dalam rumah tersebut.

Keinginan dinda untuk mengubah sikap penghuni rumah tersebut adalah suatu niat yang mulia. Namun,
ketahuilah, untuk mengubah kepribadian orang dewasa membutuhkan waktu dan usaha yang panjang dan
intensif.

Menurut kakak, yang lebih aman kini adalah menyelamatkan perkawinan kalian berdua lebih dulu.
Cobalah bujuk istri dinda sekali lagi untuk pindah dari rumah tersebut dengan alasan mencari yang dekat
dengan kantor, ingin mandiri, dan sebagainya. Insya Allah setelah pindah maka dinda berdua pun akan
lebih tenang dan bahagia. Ketika itulah dinda bisa coba mengaktualisasikan niat baik untuk membantu
mengubah kepribadian beliau-beliau tersebut.

Baiklah dinda, salam kakak untuk Anda berdua dan selamat berusaha, semoga Allah SWT meridhai.
Amin.
Wassalam Nur Janah Bachtiar Nitura

Terapi Radiasi Turunkan Angka Kematian akibat Kanker Payudara

TERAPI radiasi yang kurang populer sebagai salah satu pengobatan bagi kanker payudara, belakangan
terbukti dapat menurunkan angka kematian bila dipadukan dengan terapi pola konvensional kemo- terapi.
Hasil riset para peneliti bidang kedokteran di Kanada memperli- hatkan jumlah kematian penderita
kanker dapat berkurang hingga sebesar 29 persen.

Penelitian lainnya yang dilakukan para ilmuwan di Denmark menunjukkan 54 persen wanita yang
menjalani terapi radiasi dapat bertahan hidup hingga 10 tahun dibandingkan dengan 45 persen dari
mereka yang tidak menjalaninya. "Ini faktor terpenting dalam soal kemampuan untuk bertahan hidup,"
kata Dr Samuel Hellman dari University of Chicago dalam artikelnya pada jurnal kesehatan New England
Journal of Medecine, terbitan pekan ini.

Hellman setelah mendapatkan temuan ilmiahnya, menyarankan kepada semua wanita yang telah diangkat
payudaranya karena kanker, agar menerima terapi radiasi, di samping terapi kemoterapi yang mereka
dapatkan setelah operasi pengangkatan payudara.
Kanker payudara adalah penyakit kanker yang paling banyak jumlah penderitanya di antara wanita
dewasa di Amerika Serikat. Diperkirakan, 182.000 wanita Amerika mengidap penyakit ini dan 46.000 di
antaranya meninggal setiap tahunnya.

Terapi radiasi bagi penderita kanker payudara di AS menjadi pilihan terakhir beberapa tahun lalu, setelah
penelitian waktu itu memperlihatkan adanya kontradiksi dari terapi radiasi.

Walaupun terapi tersebut telah membuktikan keberhasilannya untuk menutup kemungkinan timbulnya
kembali jaringan tumor di dekat bagian yang diangkat, namun radiasi waktu itu dianggap tak mampu
membuat pasien bertahan hidup lebih lama. Para dokter ketika itu cenderung memberikan obat-obat
antikanker.

Penelitian yang ingin menemukan hasil optimal kemoterapi yang digabung dengan terapi radiasi mulai
kembali dilakukan pada 1978 di Kanada dan pada 1982 di Denmark.

Penelitian memakan waktu cukup lama, hal ini terjadi karena para pakar dan peneliti kedokteran di
Denmark bersikeras untuk mendapatkan bukti dan hasil dengan segala dampaknya dari gabungan kedua
terapi tersebut.

Kelompok peneliti Denmark melakukan penelitian yang melibatkan kurang lebih 1.700 wanita yang telah
menjalani pengangkatan payudara (mastectomy).

Dr Marie Overgaard beserta rekan-rekannya dari Aarhus University of Hospital di Aarhus menemukan 48
persen wanita yang menerima terapi gabungan radiasi dan pemberian obat cyclophosphamide,
methotrexate, dan fluororacil (CMF), mampu bertahan hidup selama 10 tahun dan tak memperlihatkan
tanda-tanda akan kembalinya sel-sel kanker.

Angka rata-rata dari jumlah penderita yang bertahan hidup selama sepuluh tahun termasuk mereka yang
kemudian ditemukan kembali mengidap kanker, mencapai 54 persen.

Sedangkan persentase jumlah penderita serupa yang menjalani pengobatan tanpa radiasi tercatat 45
persen. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa radiasi adalah terapi yang efektif tanpa
mempermasalahkan besar tumor yang terbentuk pada saat semula.

Penelitian di Kanada, mengikutsertakan 318 orang wanita penderita yang dipantau kondisi kesehatannya
selama 15 tahun.

Joseph Ragaz beserta sejawatnya dari Lembaga Kanker British Colombia, juga melakukan cara
pengobatan bagi pasien kanker payudara berupa pemberian obat-obatan CMF plus radiasi,
memperlihatkan penurunan angka risiko akan mengidap kanker kembali sebesar 33 persen.
Ditemukan pula penurunan sebesar 29 persen akan risiko kematian dibanding kelompok yang hanya
meminum obat-obatan antikanker.

Ragaz dan tim penelitinya mengemukakan keuntungan dari terapi radiasi akan makin terbukti bersamaan
dengan bertambahnya waktu dan jumlah yang menemui ajal karena penyakit tersebut jauh berkurang.

Dari 28 penderita yang setelah melewati waktu 10 tahun dinyatakan kembali mengidap kanker. Sembilan
belas di antaranya menerima pengobatan dengan cara kemotherapi saja dibanding sembilan orang lainnya
mendapatkan perawatan gabungan kemotherapi, obat-obatan, dan radiasi.

Kelompok pertama dari ke-28 orang tersebut diperkirakan akan menemui kematian akibat kanker yang
dideritanya.

Menu seimbang
Sementara itu Lembaga Penelitian Kanker AS (AICR) mengemukakan hasil penelitian mereka bahwa
jumlah kasus kanker di dunia dapat diperkecil sebesar 30 sampai 40 persen, apabila pasien menerapkan
pola menu seimbang dan latihan fisik secara teratur dan berkala.

Penelitian atas kerja sama dengan Dana Internasional Bagi Pe- nelitian Kanker (WCRF) tersebut juga
menemukan tiga sampai empat juta kasus kanker dapat dikurangi setiap tahunnya jika program pola menu
seimbang dijalankan.

Dalam program pola menu seimbang yang berisi 15 butir anjuran antara lain dikatakan pola makan yang
baik adalah pola makan yang mengandung makanan yang terdiri atas buah-buahan, sayur, dan makanan
yang berasal dari keluarga gandum dan padi-padian.

Bahan tersebut terbukti memiliki zat antiterhadap kanker. Dengan catatan susunan bahan tersebut harus
mempunyai perbandingan 45 sampai 60 persen dari jumlah total kalori yang dikonsumsi.

Hidangan yang dimasak dari daging segar, lemak, garam, dan alkohol (diperkirakan dua gelas bagi pria
dan satu gelas bagi wanita) dalam ukuran proporsional adalah juga salah satu bentuk dari pola menu
seimbang, yang dianjurkan oleh para peneliti AS tersebut.

Peneliti dari AICR dan WCRF menambahkan pula pentingnya unsur berat badan. Mereka yang memiliki
berat badan lebih dan atau kurang sebanyak lima kilo dari berat normal setelah meninggalkan masa
remajanya, memiliki peluang lebih besar untuk mengidap kanker.

Hal yang terakhir adalah pentingnya melakukan latihan fisik secara berkala dan teratur karena hal
tersebut akan menutup sama sekali kemungkinan akan mengidap jenis kanker tertentu. (ans)

Imah Pulang Dari Luar Negeri

Oleh: Mustafa Ismail

Tiga tahun kepergian Imah sebagai TKW di luar negeri tidak satupun surat yang dikirimkannya kepada
ibu. Maka, ketika tadi pagi ibu menerima surat dari Imah, tentu saja ibu sangat gembira. Surat itu bukan
saja memberi kabar tentang gadis berumur 21 tahun itu, tapi yang lebih menggembirakan lagi adalah
Imah sebulan lagi akan pulang.

"Ya, Imah akan pulang," begitu ibu berkali-kali berkata kepada para siapa saja yang dijumpainya.
Terutama kepada para tetangga, yang setelah surat itu datang menjadi sering ke rumah. Ada saja alasan
mereka. Sekedar ingin tahu khabar Imah, ingin lihat foto Imah, atau bahkan sekedar ingin ngobrol-
ngobrol. Maka kesibukan ibu kini bertambah satu, yakni menerima para tetangga dan orang kampung
yang datang ke rumah.

Hati ibu berbunga-bunga. "Siapa tidak senang, anak semata wayang bakal pulang," kata ibu dalam hati.
Disamping itu ada hal lain yang juga membuat hati ibu begitu gembira. Yakni perhatian para tetangga dan
orang-orang sekampung terhadap kepulangan Imah. Mereka ikut gembira bersama ibu. Sehingga ibu
kembali mempunyai teman untuk ngobrol atau bercerita tentang Imah.

Dulu, ketika Imah mau berangkat ke luar negeri, sebagai TKW, banyak orang yang mencemooh. Kata
mereka, menjadi TKW itu sama halnya dengan "membuang anak". Sering perempuan yang menjadi
TKW itu dijual dan dijadikan pelacur. Atau kalau tidak, perempuan itu sendiri yang terjun ke dunia
maksiat tersebut. Alasannya tentu macam-macam. Ada yang terpengaruh dengan gaya hidup modern,
pingin cepat kaya, dan sebagainya.

Tidak heran kalau orang-orang kampungpun serentak mengecam sikap ibu yang memberi izin kepada
Imah untuk menjadi TKW. Sekaligus mencibir Imah, yang mau "menjual" dirinya kepada orang asing.
"Siapa berani jamin perempuan yang bekerja di luar negeri itu bersih. Kedoknya saja yang kerja", kata
salah seorang tetangga.
"Heran juga memang, kog dia itu tega-teganya menjual anak gadisnya. Cantik lagi. Mendingan dikawinin
sama si Rokan. Bukankah keluarga si Rokan sudah melamar. E, malah ditolak," ujar tetangga lainnya.

Ibu sangat terpojok. Tapi, ia tidak dapat berbuat banyak. Sebenarnya ibu tidak tega juga mengizinkan
anaknya itu pergi. Karena memang apa yang dikatakan tetangga-tetangga dan orang kampung itu,
memang ada benarnya. Ia sendiri kerap mendengar dari mulut ke mulut, tentang adanya peristiwa
peristiwa yang kurang senonoh terjadi terhadap perempuan tenaga kerja ke luar negeri yang disebut TKW
itu. Bukan saja jadi wantia penghibur, juga kerap menjadi bulan-bulan para majikan. ada yang diseterikan
badannya karena dianggap tidak patuh atau melawan majikan. Ada yang disiram air panas. Dan berbagai
penyiksaan lainnya.

Sebenarnya ibu sedih dan cemas dengan kepergian Imah. Tapi bagaimana lagi. Imah terus mendesak.
Bahkan ia rela meninggalkan dirinya yang telah tua sendiri. "Ibu jangan kuatir. Imah akan menjaga diri
baik-baik. Imah tahu mana yang baik dan mana yang tidak," begitu Imah meyakinkan ibunya.

"Tapi...."
"Ini demi memperbaiki kehidupan kita juga bu," potong Imah. "Kalau saja ayah masih ada, tentu Imah
tidak akan pergi. Sebab siapa yang akan membantu kita, kalau bukan kita sendiri."
"Mencari kerja di negeri kita sendiri kan bisa. Kenapa harusjauh- jauh?"
"Siapa yang mau menerima Imah yang hanya tamat SD."
"Kamu kan bisa mencari pekerjaan yang sesuai dengan ijazahmu. Menjadi pembantu misalnya."
"Apakah perempuan harus selalu ditakdirkan untuk menjadi pembantu. Apakah perempuan tidak bisa
berbuat lain selain menjadi pembantu?"

Kata-kata Imah meluncur begitu saja seperti ingin mematahkan omongan ibu. Matanya menatap tajam
menembus hati ibu. Pelan-pelan mata yang bulat itu meneteskan butir-butir air mata, bagai embun
melucur di atas daun.

Sejurus kemudian, ia pun menubruk ibu. Dipeluknya ibu erat-erat. Ia benamkan wajahnya di leher ibu.
"Maafkan Imah, bu. Imah ingin membantu ibu. Imah ingin membahagiakan ibu."
Ibu pun tidak dapat membendung rintik hujan yang tiba-tiba saja turun di pipinya yang keriput di makan
usia. Dibelainya rambut Imah dengan penuh kasih sayang. "Kalau kamu memang sudah bertekat untuk
pergi, pergilah. Ibu hanya mampu mengiringnya dengan doa."

Kepergian Imah, membuat ibu makin jauh dari tetangga, jauh dari orang-orang sekampung, bahkan jauh
dari sanak saudara. Saudara- saudara ibu tidak ada lagi yang datang ke tempat ibu. Kalau mereka
berkunjung, hanya pada waktu lebaran. Sekedar untuk bersalam- salaman, lalu pergi. Suasana benar-
benar berubah. Sehingga ibu merasakan bagai hidup sendiri. Tidak ada teman, tidak ada sahabat, tidak
ada sanak saudara.

Tapi ibu tidak perduli. Meski memang pada mulanya, ibu merasa kehilangan sekali. Kehilangan Imah
yang pergi jauh, juga kehilangan orang-orang yang mau berteman dengannya. Tapi lama-lama ibu jadi
terbiasa dengan keadaan itu. Kegiatannya mencari nafkah yang bekerja sebagai penjual sayur dipasar,
benar-benar telah membuatnya tenang dan tenteram. Pergi pagi, pulang menjelang malam. Lalu tidur.
Kemudian pagi-pagi pergi lagi. Begitu seterusnya hari-hari yang dilalui ibu.

Hidup ibu pun menjadi sangat bergairah. Ia menjelma sebagai sosok yang asing di kampung. Tidak
pernah ketemu dengan tetangga, apalagi orang-orang lain di kampung itu. Sehingga semuanya bagai tidak
punya arti lagi bagi ibu. Semua mereka telah dilupakan oleh ibu. Termasuk Imah, yang sejak
kepergiannya tidak satu suratpun diterima ibu. Sampai-sampai ibu menganggap Imah telah tiada. Apalagi
ketika setahun lalu ibu mendengar berita bahwa ada beberapa pekerja perempuan di luar negeri yang
hilang begitu saja, tidak tahu rimbanya. Dan ibu berpikir, Imah pun telah hilang. Ada yang katanya
melarikan diri dari pekerjaan, tidak tahan bekerja, tapi tidak jelas kemana mereka larinya. Tidak
ditemukan. Bisa saja mereka telah ditangkap atau bahkan dibunuh dengan dianggap melawan majikan.
Untuk itu, ibu pun telah melakukan "kenduri" kecil-kecilan untuk kehilangan Imah. Kenduri itu dilakukan
di pasar, dengan memberi makan kepada anak-anak jalanan. Ia tidak melakukan hal itu di rumah, karena
tidak seorangpun yang mau datang ke tempat ibu, walaupun ibu telah mengundangnya.

***
Seperti ada pesta besar, begitulah suasana di rumah ibu. Ada yang sedang memasak makanan di dapur,
ada yang membuat kue, menggoreng ikan, daging, dan sebagainya. Mereka secara sukarela datang dan
membawa barang-barang itu semua, dan kemudian mereka masak bersama- sama.

Sebenarnya, diam-diam ibu risih juga dengan sikap dan kebaikan- kebaikan yang mereka perlihatkan.
Apalagi hari ini, mereka begitu antusias menyediakan segala makanan. Karena memang, seperti
dikatakan Imah dalam suratnya sebulan lalu, bahwa ia akan tiba di rumah sekitar jam lima sore.

"Tidak usah repot-repot. Yang penting Imah pulang secara sehat- walafiat," kata ibu memberi pengertian
kepada mereka. Maksud ibu, mereka tidak usah terlalu bersusah payah, mengeluarkan banyak biaya,
sampai menyerupai pesta, hanya untuk menyambut seorang anaknya yang pulang. Bagi ibu, kepulangan
Imah saja sudah merupakan kebahagiaan, tak perlu ada pesta segala. Karena ibu meyakini bahwa
bersyukur itu bukan dengan cara bermewah-mewahan. Yang paling penting adalah niat suci untuk
bersyukur.

"Ini semata-mata ungkapan kegembiraan untuk menyambut kepulangan Imah. Kami ikut bahagia Imah
pulang," kata ibu Ubit, salah satu famili ibu yang sejak kepergian Imah, baru kali ini nongol ke tempat
ibu.

"Iya, bu. Kami hanya bersyukur. Imah selamat."


Akhirnya ibu memang tidak bisa berkata apa-apa. Meskipun diam-diam ibu pun mencium maksud lain
dibalik "maksud baik" mereka itu. Sudah menjadi kebiasana, bahwa orang yang pulang dari rantau
dimanapun selalu membawa banyak uang. Tidak terkecuali apakah laki-laki ataupun perempuan. Apalagi,
Imah merantau bukan sembarang merantau. Ia benar-benar merantau dalam arti yang sebenarnya: pergi
ke luar negeri.

Dan kebiasaan pula di kampung, bahwa orang yang pulang dari rantau itu akan memberi sejumlah oleh-
oleh untuk tetangga, kerabat dekat, ataupun orang-orang kampung yang kebetulan ada saat si perantau itu
pulang. Oleh-oleh itu bisa berupa barang, berbentuk pakaian, jam tangan, radio, dan sebagainya. Bisa
pula berbentuk uang. Bahkan kalau mujur, bsia pula dapat kedua-duanya, dapat oleh-oleh berupa barang
dan sekaligus dapat uang.

Dan ibu diam-diam pun bisa memastikan, bahwa niat orang-orang yang kini berkumpul di rumahnya itu
tidak jauh dari itu. Apalagi ibu telah berkali-kali menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri soal itu.
Dua tahun lalu ketika Beusah pulang dari kota menjadi pembantu, mereka pun hampir tiga-hari tiga
malam berkumpul di tempat Beusah. Mereka baru bubar setelah Beusah memberikan sejumlah oleh-oleh
untuk dibawa pulang. Begitu juga, ketika Maun pulang dari rantau sebagai kuli bangunan. Mereka juga
ikut meramaikan rumah Maun. Tahu kemudian Maun tidak banyak membawa oleh-oleh, merekapun
mencemooh Maun. Mereka mengatakan bahwa Maun tidak gesit, tidak pintar mencari rezeki, tidak
mampu mempergunakan waktu di rantau orang, dan sebagainya kata-kata yang keluar dari mereka.

Ibu paham betul akan watak orang-orang di kampung. Meskipun mulanya, ibu memang gembira dengan
kedatangan mereka. Karena siapa tidak senang, bertahun-tahun ia tidak pernah dijenguk, tidak pernah
disapa, tidak pernah ada silaturrahmi. Maka ketika suatu saat mereka datang, tentu saja ibu
menyambutnya dengan sangat hangat. Karena awalnya ibu berpikir, mereka telah menyadari kekeliruan
mereka. Tapi melihat gelagat lain, kini perasaan ibu malah sebaliknya. Mereka malah menjadi sangat
merepotkan ibu. Sehingga dalam sebulan ini, ibu tidak sempat lagi pergi pagi-pagi ke kota, membawa
dagangannya. Hal itu, membuat celengannya yang berjumlah sembilan puluh ribu itu, terpaksa diambil
sedikit demi sedikit. Untuk keperluan sehari-hari. Ibu tidak sempat menghitung berapa jumlah
celengannya itu terkuras selama sebulan ini. Yang jelas, sudah lebih dari setengahnya.
***
Orang-orang di rumah ibu tiba-tiba menjadi riuh, begitu melihat dua buah mobil berhenti di depan rumah
ibu. Satu sedan putih mengkilap, dan satunya lagi minibus. Dari dalam sedan keluar dua orang lelaki
tegap, pakai jas dan berdasi. Sementara dari dalam mobil minibus, turun pula dua orang lelaki dan satu
orang perempuan muda, cantik dan memakai pakaian kantoran.

Dari balai-balai ibu memandang orang itu tanpa berkedip. Sejuta tanda tanya berkecamuk dalam hati dan
pikirannya. Begitu juga dengan orang-orang yang meramaikan rumah ibu. Merekaseperti patung yang
tanpa suara dan bahasa.

Ibu melihat kelima orang itu menghampiri seseorang tetangga yang kebetulan berdiri di depan pagar.
Mereka seperti bertanya sesuatu. Tidak tahu apa yang mereka tanyakan. Yang jelas si tetangga itu
menunjuk ibu. Lalu, tamu-tamu itu pun masuk menghampiri ibu. Mereka memperkenalkan diri pada ibu,
sebagai petugas dari pihak pengerah tenaga kerja TKW. Kemudian, yang perempuan mendekati ibu,
duduk di samping ibu. Sejenak, ibu menatap perempuan cantik tersebut.

"Ada apa sebenarnya?" tanya ibu tidak sabar. Hati ibu menjadi sangat tidak enak. Mata ibu menetap
mereka satu persatu. Sementara mereka saling berpandangan. Seperti memberi isyarat kepada salah satu
diantaranya untuk mengatakan sesuatu.
"Begini, bu. Kami mengantar Imah."
"Lalu, mana Imahnya?"

Perempuan itu mengamit lengan ibu, dan menuntunnya berjalan menuju mobil minibus putih yang
diparkir di jalan depan rumah ibu. Seoang lelaki diantara mereka membuka pintu belakang mobil itu. Ibu
tersentak melihat ke dalamnya. Ada sosok mayat di atas tandu ditutup kain putih. Ibu membuka penutup
jenazah itu. Tiba-tiba matanya berkunang-kunang. Lalu tubuh ibu lunglai. Roboh.

"Imah kecelakaan," kata perempuan muda itu kepada orang-orang yang meramaikan rumah ibu. Tapi tak
seorangpun tahu kecelakaan apa yang dimaskudkan oleh perempuan itu. Karena tidak seorang pun yang
diperkenaankan membuka kain putih yang membungkus jasad Imah. Termasuk ibu. (Jakarta 2 September
1997)

Muslim Burmat Sastrawan Terkemuka dari Brunei

Oleh: L K Ara

alam pertemuan Sastrawan Nusantara 1995 yang berlangsung di Brunei berbagai kegiatan diadakan.
Selain seminar tentang sastra, diadakan juga pameran buku dan pagelaran pertunjukkan kesenian.

Pameran buku yang diadakan selama seminar berlangsung menampilkan sejumlah buku karya-karya
sastrawan Brunei. Buku sastrawan Brunei terkenal Muslim Brumat dengan mudah dapat dilihat diruang
pameran buku. Ada kumpulan cerita pendeknya berjudul, "Debu Beterbangan", "Puntung Dalam
Gerimis", "Gelas di Atas Meja", "Pelarian" dan novelnya berjudul "Lari Bersama Musim".

Sebuah buku berjudul "Bunga Rampai Sastra Melayu Brunei" terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala
Lumpur (1984) dapat pula ditemukan dalam pameran ini. Buku ini disusun Abdullah Hussain bersama
Muslim Brumat.

Bila ada pertanyaan siapa penulis cerpen Brunei terkemuka pada saat ini? Maka jawabnya, salah satu
adalah Muslim Burmat. Kumpulan cerpen "Pelarian" yang diterbitkan Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei
membuktikan hal itu. Dalam "Pelarian" terdapat lima buah cerpen yang sebagian telah pernah dimuat di
dalam majalah Dewan Bahasa dan Dewan Masyarakat di Kuala Lumpur.

Dalam tulisannya berjudul "Cerpen dan Masa Depannya di Brunei", Mahmud Haji Bakyr berkata:
"Bahwa Muslim Burmat ini dari sudut kualiti penulisan tidak kalah, malah mengatasi setengah penulis
yang sudah mapan di negeri-negeri jiran kita. Dia seorang penulis yang produktif dan cerpennya panjang-
panjang".

Untuk berkenalan lebih dekat dengan Muslim Burmat berikut ini dipetik bagian cerpennya berjudul Suai
Dari Jauh. Cerpen itu dibuka Muslim Burmat dengan:

Tiga hari yang lalu dia baharu turun dari hulu, dan hari ini dia bersiap-siap hendak ke Suai. Di
membayangkan Suai dari jauh, berbalam-balam dalam kekabutan asap meretas banjaran gunung dan Gua
Niah di hujung senja. Dia membayang-bayangkan Suai dari jauh lagi. Kanak-kanak berbogel, berkejaran
di halaman dikejar oleh orang tua dengan sebatang bilah. Dia duduk dan minum di pondok di Kuala
Baram ketika itu. Aku nampak dia terlalu lama menghayal. Dia melihat ombak berlari di Laut Lutong dan
kapal-kapal tangki raksasa berlabuh jauh dari pantai. (Suai Dari Jauh dalam buku 'Bunga Ramapi Sastra
Melayu Brunei', Dewan Bahasa dan Pustaka, KL, 194, hal.194).

Pada bagian lain dalam cerpen Suai Dari Jauh terjadi percakapan antara tokoh-tokoh cerita. Dengan
tangkas Muslim Burmat menciptakan dialog-dialog yang menarik. Mari kita ikuti:

"Tidak, aku menghormati kau sebagai tetamu".


"Kita sudah berkawan, tidak perlu dihormati lagi".
"Apakah jika sudah berkawan tidak perlu dihormati lagi?"
"Aku tidak bermaksud tidak ada sopan santun".
"Apa bahasa pun digunakan kau adalah tetamu kami serumah panjang".
"Aku tidak kesunyian, jika kau hendak pergi, pergilah".
"Tidak. Aku hendak bersamamu di sini. Kan esok kita hilir bersama...."
"Itu pendapatmu, kuhormati pendapatmu itu".
"Itulah kebebasan namanya. Menghormati orang adalah hak semua bangsa".
"Pendapatmu semakin dewasa sejak kita di sini".
"Tidakkah kau nampak yang aku ini dewasa?"
"Pendapatmu".
"Jika umur dewasa, fizikal dewasa dan pendapat pun juga dewasa".
"Betul".

Muslim Burmat yang mempunyai nama lengkap Haji Muslim bin Haji Burut lahir tgl 15 April 1943 di
Kampong Kiarong, Brunei. Ia berpendidikan Melayu dan Inggeris. Pada tahun 1968 mengikuti kursus
setahun dalam Pengajian Melayu di Universiti Malaya, Kuala Lumpur. Dan pada tahun 1971-1972
mengikuti Kursus Penulisan dan Pengeluaran Buku di Intitute Of Education in Tropical Areas di
Universiti London.

Muslim mulai menulis sejak ia masih belajar. Ia menekuni bidang cerita pendek dan novel. Karya cerita
pendeknya pernah disiarkan lewat Radio Brunei, majalah Bahana, Dewan Masyarakat, Dewan Sastra dan
lain-lain. Dari tangan pengarang Muslim telah lahir enam antologi cerpen.

Pengarang kelahiran Kampong Kiarong ini pernah memperoleh hadiah kedua dalam Sayembara Menulis
Novel Hijriah 1400 anjuran Dewan dan Pustaka Brunei dengan novelnya berjudul 'Hadiah Sebuah
Impian'. Ketika mengikuti Sayembara Menulis Cerpen anjuran Dewan bahasa dan Pustaka, Brunei tahun
1982, Muslim memperoleh juara dua. Novelnya berjudul 'Puncak Pertama' yang diikutikan dalam
Sayembara Menulis Novel pada Kemerdekaan Brunei Darussalam 1983/1985 telah memperoleh hadiah
ke dua juga.

Sebagai pengarang Muslim Burmat juga aktip mengikuti pertemuan sastra dan budaya di berbagai negara.
Misalnya ia mengikuti Pertemuan Sastrawan Nusantara ke 3 di Kuala Lumpur (1981). Dalam persidangan
ini Muslim Burmat bersama Dayang Fatimah Hj. Mohd. Hussain membawa makalah berjudul 'Peranan
Dewan Bahasa dan Pustaka dalam Bidang Bahasa dan Sastra Brunei'. Setahun kemudian ia juga
mengikuti 'Persidangan Penyunting Asia di Singapura' (1982).
Karya-karya Muslim Burmat selain dapat ditemukan di dalam buku-buku yang sudah disebutkan diatas
masih dapat dijumpai di dalam terbitan karya bersama yang telah diterbitkan dalam antologi 'Tali Kikik
Tali Terayu', 'Bahana Rasa', 'Puncak Bicara' dan 'Untaian Mekar'. Beberapa antologi yang disebut
dibagian akhir ini diterbitkan Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei.

Hal lain yang mungkin tidak banyak diketahui orang adalah bahwa pada tahun 1960-an Muslim Burmat
sering menggunakan nama samaran Kalam Musba.

Ketika Penyair "Kahwini" Penyair (Kado Kecil Buat Dianing- Mustafa)


Oleh: J. Kamal Farza
Kaget? Barangkali kata itulah yang paling tepat untuk melukiskan situasi orang-orang yang menerima
undangan "kahwin" Mustafa Ismail dengan Dianing Widya Yudhistira. Setidaknya, bagi orang-orang
yang selama ini akrab dengan kedua anak manusia itu.

Kekagetan kawan-kawan Mustafa dan atau Dianing sangatlah beralasan. þPertama, Mustafa dan Dianing
dilahirkan dari kondisi geografis dan kultural yang berbeda. þKedua, mereka berdua baru saja berkenalan
(via acara Forum Penyair Abad XXI-1996), sehingga sangat memungkinkan apabila perkawinan bahkan
perkenalan diantara mereka tanpa sedikit pun direncanakan lebih dahulu. þKetiga, saat menerima
udangan, sebagian besar teman kedua mempelai mengalami "penyakit kaget" yang terbilang "kronis".
Apalagi dengan menerima undangan "nyentrik" (Istilah Fikar W Ed- Pen), dengan label "Giliran Kami
Mustafa Ismail Dianing Widya Yudhistira" di kulit luar, yang didesain dengan dasar warna hitam. Disana
ditemukan pula puisi kedua penyair, plus nama sejumlah penyair kondang seperti LK Ara, Ahmadun Y
Herfanda, Arie MP Tamba, maka lengkaplah "kecurigaan" teman-teman penyair bahwa acara tersebut
hanyalah baca puisi di rumah Widya. "Persis seperti undangan baca puisi," kisah seorang aktivis LSM
mengomentari undangan itu.

Sejumlah penyair dan cerpenis Semarang wilayah kreatif dan domisili Dianing juga menyampaikan
kekagetan yang sama. Penyair Semarang Budi Tunggal Rahayu, misalnya, dengan nada tak percaya
mengatakan "Begitu mendadak," (Wawasan, 31/8). Pada media yang sama cerpenis muda Pipiet Isfianti
juga mengaku sangat kaget. "Widya mau menikah?" tanya Pipiet seolah kurang yakin kalau hajatan itu
akan dilangsungkan 7 September 1997.

Langkah, Rejeki, Jodoh

Menurut keyakinan agama dan pemahaman budaya, langkah, rejeki, pertemuan (jodoh) dan maut,
merupakan rahasia Sang Pencipta, yang konon tanpa satu pun manusia bisa mengetahuinya. Walaupun
misalnya manusia memiliki rencana-rencana, tapi keputusan dari perencanaan itu tetap Tuhan yang
menentukan.

Demikian pula dengan dua anak manusia yang sedang kita sorot ini. Mustafa Ismail, misalnya, ia sama
sekali tak pernah punya rencana untuk hijrah ke Jakarta, apalagi mengawini gadis Jawa. Sebelum putra
Tringgadeng, Pidie, kelahiran 25 Agustus 1971 ini dicalonkan sebagai salah satu penyair muda Forum
Abad XXI, ia lagi giat- giatnya ber LSM. Ia dipercaya sebagai direktur CDIS (Center for Development
and Independence Studies) di Lhokseumawe, setelah sebelumnya ia menjadi salah satu staf eksekutif
YAB Aceh.

Lalu Mustafa berangkat ke Jakarta untuk acara sastra, dan memperkuat jaringan kepenyairannya. Februari
1997 ia diterima bekerja sebagai reporter TEMPO Interaktif. Dari dua tahap ini, langkah dan rejeki,
Mustafa Ismail sudah membuktikan bahwa keyakinan agamanya benar.

Dianing Widya Yudhistira, konon juga begitu. Dara manis kelahiran Batang, Pekalongan, Jawa Tengah, 6
April 1974, bekerja sebagai penyair dan wartawati tidak tetap pada sebuah mingguan Semarang. Ia
berangkat ke Jakarta juga dalam rangka undangan Forum Penyair Abad XXI. Setelah acara ia juga
menetap di Jakarta.
Di forum "monumental" inilah keduanya bertemu dan berkenalan pertama kali. Mereka kelihatan sering
terlibat sama dalam kegiatan- kegiatan sastra, baik sebagai pelaku maupun sebagai partisipan.

Baik Dianing maupun Mustafa, mengaku bahwa diantara mereka tidak pernah merencanakan untuk
menjalin hubungan hingga sampai ke pelaminan. Dianing, sebelumnya diam-diam memiliki seorang
"arjuna", seorang penyair di kota kelahirannya Semarang. Demikian pula Mustafa, yang sebelum
berangkat, telah lebih dahulu terpikat dengan anak seorang Pak Guru di Lhokseumawe. Gadis yang saat
ini tercatat sebagai seorang mahasiswi Darussalam itu, mengaku juga menerima undangan kawin Dianing
Mustafa.
"Mengapa Widya mau kenalan dan kawin dengan Mustafa?" tanya saya berseloroh.
"Entahlah, aku ndak tahu juga, Mas. Jodoh kali," jawab Dianing sambil melirik sang suami.

Pesta & Kediaman Unik

Puluhan penyair baik dari Batang, Semarang, Cirebon, Bogor, Sumbawa, Solo, Aceh, Surabaya, Depok
dan Jakarta, hadir meramaikan pesta kawin Mustafa Dianing. Setelah menjalani sekian banyak kegiatan
adat, pesta tersebut dilanjutkan dengan pembacaan puisi. Maka berubahlah pesta kawin ke pesta puisi.
"Ini pesta kawin, atau acara sastra, sih," tanya seorang ibu muda dari Pekalongan yang ikut acara itu.
LK Ara yang ikut mengatar linto baro dan bertindak sebagai wali sang linto berujar: "Beginilah kalau
penyair kawin." Entah di semangati pesta Mustafa, entah karena memang sudah saatnya, rekannya Fikar
W Eda mengaku akan segera berkahwin. Kepada sebuah Mingguan di Jakarta Fikar mengaku, mungkin
Nopember tahun ini, juga akan menggelar perhelatan yang sama.

Ke "nyentrik"an Mustafa-Dianing, kelihatannya bukan hanya pada saat pesta. Saya yang sempat singgah
di kediaman mereka di Jakarta, dibuat terksima, kalau ternyata mereka memiliki dua rumah.
"Malam ini kau nginap di tempatku, besok kita ke tempat Widya," tawar Mustafa. Saya hanya ikut dan
mangut-mangut.

Saya yang belum tahu persis tempat kediaman keduanya, mengikuti saja ajakan pengantin baru itu.
Ternyata, baik Dianing maupun Mustafa, masing-masing miliki satu kamar sewa, dimana setengah
diantaranya telah dipenuhi oleh buku-buku, koran, majalah dan makalah.
"Maklumi saja, Mas, ya. Kami belum sempat cari rumah yang bisa kami tempati berdua. Mungkin bulan
depan."
"Oke, untuk menghormati pengantin baru, aku tidur di luar kamar saja," kata saya.
Mustafa hanya tersenyum dan mengalah, sembari berjanji bahwa ia secepatnya akan mencari rumah yang
representatif untuk dihuni dan dapat menampung tamu. "Sebelum sanggup beli, ya sewa dulu deh,"
tambah istrinya.
"Ya, betul. Terutama untuk siap-siap. Mana tahu, kalau teman di Aceh datangnya berombongan, kan
repot."

Dermaga Melbourne Miliki Menara Tertinggi di Dunia

KOTA terbesar kedua di Australia, Melbourne, bermaksud mengungguli saingannya, Sydney, dengan
rencana mempercantik kawasan pelabuhan. Di kawasan itu nantinya akan dibangun salah satu menara
tertinggi di dunia senilai 2,5 milyar dolar Australia atau sekitar 1,8 milyar dolar AS.

Di bagian selatan kota, kawasan industri yang memiliki pemandangan indah, telah menarik minat para
pengembang untuk memulai pembangunan kawasan pelabuhan yang dibiayai oleh swasta. "Melbourne
akan berubah menjadi kota pelabuhan," kata Chris Marks, konsultan properti dari perusahaan Jones Lang
Wooton.

Masyarakat Melbourne menganggap pelabuhan Sydney sebagai kota yang indah, tetapi tidak bernuansa
seni. Pembangunan proyek dermaga di kawasan atau area di perkotaan seluas 220 hektare itu menjanjikan
akan menampilkan Melbourne sebagai sosok kota pelabuhan yang sesungguhnya. Otorita kawasan
dermaga dibentuk oleh pemerintah negara bagian Victoria untuk mengawasi proyek dengan masa
pembangunan 12 tahun tersebut.
Proyek ambisius

Saat ini adalah masa pengajuan proposal, termasuk pembangunan menara setinggi 560 meter, studio film,
hotel, pangkalan perahu, galeri seni, dan stadion hoki es. Di kawasan dermaga itu juga akan dibangun
sekitar 5.000 apartemen, lebih dari setengah jumlah tersebut dipergunakan untuk hunian.

Begitu pula dengan perusahaan teknologi informasi dan kampus direncanakan didirikan di sana.
Pengerjaan tahap pertama proyek dilaksanakan September, berupa stadion sepakbola senilai 435 juta
dolar Australia, berkapasitas 52.00 tempat duduk, dan juga dapat digunakan sebagai tempat
terselenggaranya olahraga besar lain serta konser rakyat. "Hal itu merupakan gambaran yang fantastis
bagi satu kawasan dermaga," kata pejabat otorita proyek, John Tabart, mengomentari stadion di kawasan
dermaga tersebut.

Sesuatu yang paling menarik dari stadion itu adalah akan dapat memamerkan kawasan dermaga kepada
setiap pengunjung stadion.

Proyek tersebut akan dikerjakan oleh konsorsium yang didukung perusahaan pengembang Jerman,
Bilfinger + Berger AG dan kelompok media, Seven Network Ltd and News Corp. Pembukaan stadion
dijadwalkan pada tahun 2000, di mana akan diselenggarakan pertandingan sepakbola Olimpiade.

Para pengembang yang akan membangun sisa dari kawasan dermaga itu akan dipilih enam bulan
mendatang.
Beda dengan Sydney
Proposal yang dinilai paling kontroversial adalah rencana pembangunan gedung pencakar langit berlantai
133 oleh pengembang lokal, Bruno Grollo. Bangunan itu akan mengalahkan Menara Petronas Kuala
Lumpur dengan ketinggian 450 meter serta Menara Shanghai setinggi 460 meter. "Apa yang kami
usulkan bukan hanya gedung tinggi," kata Brollo. "Tetapi, sesuatu yang luar biasa dan membangun
sebuah tugu yang memiliki keindahan dan keabadian dari suatu karya cipta umat manusia, seperti piramid
atau candi Yunani."

Banyak penduduk Melbourne yang tidak terlalu yakin dengan proyek tersebut. "Barangkali belum ada
kecocokan antara kesan dan strategi yang diambil pertama kali untuk pembangunan kawasan dermaga
tersebut, maksudnya adalah bahwa gedung itu bukan pencakar langit, seperti layaknya lingkungan di
perkotaan," kata Marks dari konsultan properti Jones Lang Wooton.

Visi dari kota pantai atau kota pelabuhan Melbourne berbeda dengan pembangunan ulang Pelabuhan
Darling di Sydney, yang mengubah kawasan dermaga menjadi taman bermain para wisatawan, seperti
yang terdapat di Cape Town, Baltimore, dan London.
Kegagalan?

Beberapa konsorsium yang akan menggarap proyek adalah pengembang lokal Hudson Conway Ltd dan
Mirvac Ltd, investor Selandia Baru Brierley Investments Ltd, dan bank dagang Australia, Macquarie
Bank. Satu konsorsium, yaitu Entertainment City 2000, ingin membangun taman bertema petualangan,
studio film, dan sinema megaplex 20 layar. Pembangunan itu didukung oleh perusahaan hiburan AS,
Viacom Inc, yang juga pemilik Paramount Studios.
Konsorsium lainnya yang didanai oleh kelompok perusahaan dari Malaysia, IJM Corp Bhd, Austral
Amalgamated Bhd & Land, dan General Bhd.

Seluruh lokasi akan dibangun dalam beberapa tahap dan dibagi dalam lima daerah. Dua konsorsium telah
terdaftar untuk membangun tiap daerah. Kurangnya dukungan pemerintah dapat menyebabkan
kegundahan para pengembang bahwa proyek tersebut akan mengalami kegagalan.

Sementara pihak otorita telah menuntut agar proposal proyek itu mendapat dukungan sepenuhnya dengan
adil. "Kami memperhatikan permintaan para pengembang akan dipenuhi, namun bila pada akhirnya
seseorang melakukan kesalahan, dapat dipastikan bahwa kelangsungan proyek akan terhenti," kata
Tabart. (ans)

Ketika Tradisi Saling Memberi Dianggap Beban

SALING memberi adalah tradisi yang lekat dengan budaya Timur. Di Indonesia, ada kebiasaan untuk
memberi sejumlah uang atau barang kepada mereka yang sedang punya hajatan. Si empunya hajat
biasanya orang yang dikenal dalam lingkup kaum kerabat, hubungan pekerjaan, atau lingkungan tempat
tinggal. Maksud pemberiannya pun beraneka ragam. Ada yang sekadar membantu meringankan beban
mereka yang dilanda kesusahan, ada pula yang supaya dianggap loyal oleh atasannya.

Kebiasaan serupa juga terdapat di Korea. Dahulu kala, ketika negeri ginseng ini belum tersentuh arus
modernisasi, orang Korea biasa menjinjing keranjang berisi butiran telur atau sebotol minuman ginseng
untuk diberikan kepada mereka yang sedang merayakan perkawinan atau tertimpa musibah.

Modernisasi yang datang kemudian telah mengubah bentuk pemberian yang disebut kyongjo itu. Telur
dan minumam pilihan lalu diganti dengan amplop berisi uang. Tapi lambat-laun, ketika perekonomian
Korea diterpa angka inflasi yang tinggi, kebiasaan yang sudah mentradisi ini mulai dianggap sebagai
beban. Secara harfiah, istilah kyongjo dalam bahasa Korea berarti ungkapan tolong-menolong dalam
acara khusus, misalnya, perkawinan dan pemakaman. Tapi sekarang, banyak orang penting
menggunakannya sebagai ajang pamer kekayaan dan kekuasaan, di samping tentu saja untuk mencari
keberuntungan.

Kantor Berita Yonhap belum lama ini melaporkan hasil survei terhadap 1.016 responden berusia 20
hingga 26 tahun yang dimintai pendapatnya tentang tradisi kyongjo. Survei tersebut dilakukan Commitee
for the Promotion of Savings, yang dibentuk untuk meningkatkan kebiasaan berhemat masyarakat Korea.
Hasilnya, 60 persen dari mereka mengaku merasa terbebani oleh tradisi kyongjo, khususnya yang
diberikan dalam bentuk uang. Sebagian besar responden (66,7 persen) merasa bahwa besarnya uang
dalam kyongjo telah melampaui batas kewajaran jika dibanding dengan pendapatan mereka.

Berapa sebetulnya uang yang biasa diberikan dalam kyongjo?

Pada upacara kematian, setiap amplop yang diberikan rata-rata berisi 41.000 won (1 won = 3,5 rupiah),
untuk perayaan ulang tahun ke-60 dan ke-70 besarnya 39.000 won, resepsi perkawinan 36.000 won, dan
perayaan 100 hari atau satu tahun usia bayi nilainya sekitar 34.000 won. Jika dalam setahun secara rata-
rata orang Korea menghadiri tujuh resepsi perkawinan, dua upacara pemakaman, satu perayaan ulang
tahun pertama bayi, dan satu perayaan ulang tahun ke-60 dan ke-70, maka mereka harus menyisihkan
uang 373.000 won atau 1,3 juta rupiah per tahun.

Dekat-tidaknya si pemberi dengan si penerima juga menentukan besarnya uang kyongjo. Untuk sanak-
keluarga rata-rata besarnya 91.000 won, untuk sahabat 42.000 won, dan rekan sekerja 37.000 won.
Sedangkan untuk tetangga dan lainnya rata-rata 34.000 won.

Sekitar 64,8 persen responden mengatakan bahwa uang yang mereka berikan dalam kyongjo diambil dari
biaya hidup sehari-hari, dan hanya 30,1 persen yang mengatakan bahwa uang tersebut berasal dari dana
tak terpakai. Begitupun, dua pertiga dari jumlah responden menyatakan bahwa tradisi kyongjo perlu
dilestarikan. Sekitar 52,8 persen menginginkan agar nilainya diturunkan ke tingkat yang lebih terjangkau,
26 persen mengatakan besarnya harus benar-benar dikurangi, dan 5,2 persen mengharapkan tradisi
tersebut dihilangkan.

Kehilangan muka
Mereka yang pro dan kontra agaknya sepakat bahwa kyongjo bukanlah masalah uang semata, tapi juga
menyangkut harga diri si pemberi di mata si penerima. Terkadang timbul keraguan, apakah besarnya
uang yang dihadiahkan tidak membuat si pemberi kehilangan muka. Apalagi jika si penerima adalah
tokoh masyarakat atau pejabat penting yang punya kedudukan.
Mungkin untuk menghilangkan keragu-raguan tersebut, Kantor Perdana Menteri Korsel April lalu
mengeluarkan pedoman tentang jumlah uang yang pantas diberikan kepada pejabat pemerintah
berdasarkan kedudukannya. Kyongjo untuk menteri dan wakilnya ditetapkan sebesar 50.000 won, pejabat
eselon I hingga III 30.000 won, pejabat madya 20.000 won, dan pejabat muda 10.000 won.

Angka tersebut sebenarnya lebih rendah dari kebiasaan yang berlaku selama ini, yaitu 100.000 won untuk
para menteri dan wakilnya dan 40.000 won untuk para pejabat eselon dan madya.

Masalahnya, bisakah pedoman tersebut konsisten diterapkan? "Lihat saja nanti. Alangkah baiknya jika
pedoman tersebut benar-benar bisa diikuti," kata seorang pejabat madya.

Seorang pejabat setingkat Dirjen mengatakan, "Jika saya diundang ke pesta perkawinan bawahan atau
teman akrab saya, mana bisa saya memberikan uang kurang dari 30.000 won?"

Pejabat lainnya sependapat, "Jika kyongjo diberikan atas nama unit atau bagian tertentu (di mana kita
bekerja) mungkin tak ada masalah, tapi kelihatannya janggal jika diberikan atas nama pribadi. Okelah
jika si pengundang tidak begitu kita kenal, tapi jika sebaliknya, bagaimana mungkin kita hanya
memberinya 20.000 won?"
Seorang pekerja berpendapat, pemberian kyongjo secara urunan harus dibiasakan, "Jika tidak, kyongjo
akan semakin menjadi beban karena semata-mata diberikan untuk menghindari perasaan malu."

Alat suap

Profesor Han Tae-sun dari Universitas Hanyang mencibiri pedoman tersebut. "Pedoman itu mungkin bisa
diterapkan di jajaran birokrasi, tapi akan menimbulkan persoalan jika tidak sesuai dengan kebiasaan
masyarakat Korea yang terbiasa menghindari perasaan malu," katanya.

Dalam alur pemerintahan, kata Han, kyongjo sering digunakan sebagai cara terselubung untuk menyuap
seseorang. "Jadi, hanya ada satu cara mengatasi masalah tersebut: praktek kyongjo di antara para pejabat
pemerintah harus diberantas dengan cara apapun," tegasnya.

Sebagai gantinya, Han menyarankan agar dibentuk semacam dana penghargaan yang dikumpulkan
sebagai kyongjo untuk para pejabat. Dengan demikian, sisi baik dalam tradisi kyongjo bisa tetap
dilestarikan. (ans)

Kalsel Datangkan 5 Pasang Rusa Tutul Istana Bogor

PEMDA Kalimantan Selatan segera mendatangkan sedikitnya lima pasang rusa tutul yang biasa hidup di
lingkungan Istana Bogor untuk ditempatkan pada objek wisata Pulau Bakut, Kabupaten Barito Kuala
(Batola). "Kita sudah menjajaki untuk menempatkan hewan di lokasi wisata Pulau Bakut, dan sebelum ke
lokasi itu dicarikan dulu habitat yang sesuai dengan kehidupan satwa itu di daerah ini agar binatang itu
bisa beradaptasi," kata Kepala Biro Humas Pemda Kalsel, Drs Amanul Yakin di Banjarmasin, Rabu.

Menurutnya, penempatan satwa bertanduk dan berbelang tutul itu, untuk menambah jumlah satwa yang
akan ditempatkan pada areal suaka Margasatwa Pulau Bakut yang akan dikembangkan sebagai objek
wisata andalan Kalsel. "Kita sudah menawarkan kepada pihak swasta untuk mengelola secara profesional
objek wisata Pulau Bakut itu," katanya.

Ia menyebutkan Pulau Bakut mudah dijangkau setelah adanya jembatan Sungai Barito yang merupakan
jembatan terpanjang di Asia Tenggara yang belum lama diresmikan Presiden Soeharto. Objek wisata
Pulau Bakut dibenahi karena berada dekat Banjarmasin dan memiliki kekhasan karena berada di tengah
Sungai Barito yang dilintasi jembatan gantung Sungai Barito.

Untuk mengembangkan lokasi itu saat ini dipercayakan kepada pihak Perusahaan Daerah (PD) Bangun
Banua untuk mengelolanya terutama untuk menata bentuk bagaimana yang sesuai dengan kondisi di
daerah itu. Objek wisata Pulau Bakut juga akan dijadikan sebagai sentral bagi kepariwisataan air yang
merupakan jenis pariwisata khas Kalsel.

Melalui Pulau Bakut ini maka untuk menuju objek wisata lain mudah dijangkau seperti ke Pasar
Terapung, ke kawasan peternakan Kerbau rawa atau ke lokasi kehidupan Sungai Mantuil.

Untuk menambah daya tarik kepariwisataan air tersebut maka berdasarkan informasi Pemda Banjarmasin
bekerjasama dengan Deparpostel merencanakan membangun dermaga khusus angkutan wisata air dengan
dana ratusan juta rupiah. (ant)

Ditemukan, Bimasakti Gelap

SEBUAH hasil penemuan yang diumumkan di London Kamis lalu menyingkapkan bahwa alam semesta
juga memberi tempat sama banyak kepada bimasakti yang tidak kelihatan, alias "bimasakti gelap" dengan
bimasakti yang sudah bisa kita lihat sekarang ini.

Para ahli astronomi dari Skotlandia mengatakan, ada bimasakti-bimasakti di alam semesta yang tidak
mungkin dilihat karena formasi bintang itu akan berhenti manakala bermilyar tahun lebih muda daripada
bimasakti (yang kita huni) di mana bintang-bintang masih terbentuk di masa kini. Tetapi, tiap-tiap
bimasakti itu meninggalkan gumpal suram raksasa, yaitu bintang-bintang mati, kata para peneliti kepada
majalah New Scientist.

Raul Jimenez dari Royal Observatory di Edinburgh mengatakan, "bimasakti-bimasakti gelap" ini bisa
menjelaskan apa sebab bayang-bayang dari quasar-quasar (benda-benda angkasa) yang letaknya jauh itu
--yang ditemukan paling jauh dan paling cemerlang oleh para astronom-- terkadang tampak sebagai
berubah bentuk, meskipun tidak ada sesuatu yang kelihatan pada garis edar mereka.

Mereka juga bisa melepaskan cahaya pada apa yang terjadi dari sekian banyak "bimasakti biru" yang
mengisi alam semesta sewaktu usia muda, kata Jimenez.

Bayang-bayang dari quasar itu adakalanya berubah bentuk, karena cahayanya sering menekuk atau
"dilensakan" dalam perjalanan ke bumi, sebagai akibat dari daya tarik gravitasi dari bimasakti-bimasakti
yang dilewatinya. Tapi terkadang, bimasaksi itu tidak kelihatan, sekalipun distorsinya cukup besar dan
diduga telah terjadi pelensaan oleh benda sebesar bimasakti kita sendiri.

Ia juga menerangkan bahwa bimasakti-bimasakti hitam itu menjelaskan apa yang telah terjadi terhadap
bimasakti-bimasakti biru redup yang tampak hanya dari letak yang sangat jauh. "Itu mungkin adalah
bimasakti-bimasakti hitam bila bintang-bintang lingkaran cahayanya masih hangat dan biru," kata
Jimenez. Sedangkan bimasakti-bimasakti biru redup itu mungkin tidak kelihatan seiring dengan
meredupnya bintang-bintang tadi. (ant)

Berat, Beban Danau Laut Tawar Menjelang Abad 21

DANAU Laut Tawar di Aceh Tengah merupakan salah satu dari sekian banyak danau vulkanik yang
terdapat di Indonesia. Luas danau ini mencapai 5.973 hektare, berada di ketinggian 1.200 meter dari
permukaan laut.

Dalam perjalanan waktu, danau penghasil ikan depik --sejenis teri-- ini tercatat cukup banyak memberi
manfaat kepada umat manusia, khususnya masyarakat yang berdomisili di sekitar danau tersebut.
Manfaatnya, antara lain, tersedianya lapangan kerja bidang perikanan bagi penduduk. Selain itu, dalam
sejarah tercatat bahwa danau ini menjadi satu-satunya prasarana perhubungan antara Kota Takengon
dengan Kota Bintang dan sekitarnya. Itu berlangsung ketika jalan lingkar Danau Laut Tawar belum
terealisir seperti sekarang.
Sumber protein hewani yang dikandung danau ini cukup bersar, baik dalam bentuk kerang-kerangan
maupun aneka ikan air tawar. Penghuni danau ini, antara lain: ikan depik (Rosbora Leptosoma), ikan mas
(Cyprinus Carpri), ikan mujair/nila (Tilapia Mosambica), grasscarp, lele lokal, gabus, dan lain-lain.

Eksploitasi terhadap sumber protein hewani di danau ini berlangsung setiap hari. Selain ada nelayan yang
menggunakan kail atau jala/jaring, ada pula yang menggunakan harpoon, serta alat-alat modern lainnya
untuk "menguras" sumber protein itu.

Di samping kaya dengan kandungan sumber protein hewani, danau ini jug menjanjikan suasana romantis.
Ini karena, berdasarkan legenda, Danau Laut Tawar menjadi tempat bertemunya Tengku Malem Diwa
dengan Putroe Bungsu. Putri yang turun bersama enam saudarinya dari kahyangan itu, dikisahkan
terhambat ketika mengangkasa lantaran busananya yang berfungsi sebagai sayap disembunyikan Malem
Diwa.

Bukan hal luar biasa pula jika danau ini sering dijadikan sumber inspirasi oleh para seniman, terutama
penyair. Gemercik air yang mengalir di Sungai Peusangan serta semilir angin di antara dedaunan pinus
yang menggayut di sekeliling danau, di mata seniman akan berubah menjadi bait-bait puisi. Penyair
Mustafa Ismail, misalnya, dalam salah satu bait puisi yang berjudul "Laut Tawar, Suatu Ketika"
melukiskan: selanjutnya kita sama maklum/ menyambut simfoni pagi dengan senyum orang lain/ fajar
yang bergaris di timur cahaya mata kita/ mengabur dalam cermin/ masih terdengarkah nyanyian musim/
di kesunyian danau/ setelah segalanya tuntas tanpa sisa/ surat-surat kubaca berubah makna/....

Seniman yang terpesona akan keindahan Danau Laut Tawar ternyata bukan hanya seniman lokal. Ada
juga seniman mancanegara. Siti Zainon Ismail (Malaysia), misalnya, merefleksikan "keanggunan" danau
tersebut melalui sajaknya "Catatan Danau Laut Tawar".

Kecuali menjadi sumber mata pencaharian serta sumber inspirasi, nama Laut Tawar sering dijadikan
trademark dan slogan pemersatu di antara warga Aceh Tengah (Gayo) di rantau. Seperti adanya
organisasi Keluarga Laut Tawar di Banda Aceh, Asrama Laut Tawar, bahkan kelompok-kelompok
kesenian (grup didong) dan perorangan lazim mengaitkan namanya dengan Laut Tawar. Pendeknya, bagi
warga Aceh Tengah (Gayo), Danau Laut Tawar merupakan sebuah simbol yang mampu menggugah rasa
"rindu" kampung halaman sekaligus menjadi identitas diri.

Begitu pula halnya dalam pengembangan pariwisata di Aceh, Danau Laut Tawar menjadi salah satu
andalan dalam menyedot arus wisatawan mancanegara maupun Nusantara. Untuk itu, ditunjuklah Aceh
Tengah sebagai Sentral II Daerah Tujuan Wisata (DTW) Aceh.

Tampaknya, menjelang tiba di gerbang abad 21, Danau Laut Tawar bukan hanya menjadi "milik" warga
Aceh Tengah, melainkan sudah menjadi milik semua orang. Hal ini disebabkan oleh semakin pentingnya
peran danau ini di mata masyarakat. Baik sebagai objek wisata, sumber inspirasi, maupun pemanfaatan
air dan protein hewani yang ada di dalamnya.

Sekarang, air danau yang mengalir melalui Sungai Peusangan mulai dimanfaatkan oleh banyak pihak,
baik swasta maupun BUMN. Misalnya, proyek-proyek vital di zona industri Lhokseumawe Aceh Utara
yang "menggantungkan" sebagian besar sumber airnya dari aliran Sungai Peusangan.

PT Aceh Asean Fertilizer (AAF), misalnya, menyedot air dari aliran Sungai Peusangan sebanyak 0,35
m3/detik, PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) sebanyak 0,35 m3/detik, PT Arun NGL sebanyak 0,14
m3/detik, dan PT Kertas Kraft Aceh (KKA) sebanyak 0,55 m3/detik (Waspada, 2- 8-1995).

Selain empat BUMN di atas, produsen air minum kemasan mereka Mount Aqua --anak perusahaan PT
PIM-- dalam labelnya mencantumkan bahwa sumber air untuk produknya juga diambil dari hulu Sungai
Peusangan.

Selain itu, ada lagi calon pemakai air dari Danau Laut Tawar dalam kapasitas besar, yakni Proyek PLTA
Peusangan I dan II yang berpusat di Takengon. Proyek yang bernilai Rp 450 milyar lebih ini akan
memanfaatkan aliran Sungai Peusangan sebagai penggerak turbinnya. Peletakan batu pertama proyek ini
telah dilaksanakan Gubernur Aceh Syamsuddin Mahmud pada tanggal 24 Juli 1995.

Melihat begitu banyaknya pihak yang sudah dan akan memanfaatkan air yang berasal dari Danau Laut
Tawar, maka tak bisa tidak, posisi danau ini menjadi sangat srategis dan vital. Apabila selama ini
masyarakat hanya mengenal Danau Laut Tawar sebagai sumber mata pencaharian dan prasarana
transportasi, kini fungsinya mulai berubah dan sekaligus menjadi aset nasional yang kelestariannya harus
terjaga. Jika tidak, maka investasi yang jumlahnya ratusan milyar itu dalam bentuk pembiayaan Proyek
PLTA Peusangan I dan II akan hangus dan sia-sia.

Kondisi kesehatan

Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi "kesehatan" Danau Laut Tawar memang agak menurun dibanding
satu atau dua dasawarsa lalu. Hasil check up dan pengamatan sejumlah ahli dan wartawan lokal serta
nasional menyimpulkan bahwa kondisi danau itu agak mengkhawatirkan. Persoalan utama Danau Laut
Tawar saat ini adalah perihal eceng gondok yang menutupi sebagian permukaannya, ditambah dengan
meningkatnya sedimentasi (endapan) di hulu Sungai Peusangan. Diduga, daya tampung danau penghasil
depik ini semakin berkurang. Seperti dilaporkan Serambi Indonesia (23-8-1997) bahwa pada musim
kemarau 1997 permukaan air Danau Laut Tawar menurun sekitar dua meter dari keadaan biasa.

Untuk mengantisipasi gulma yang selalu membuat "gondok" pencinta lingkungan ini, pernah dilakukan
gebrakan melalui program kali bersih (Prokasih) oleh salah satu OKP di Aceh Tengah. Untuk sementara,
populasi eceng gondok dapat ditekan. Sebaliknya, media berupa lumpur sedimentsi yang terdapat di
Danau Laut Tawar malah mempercepat perkembang biakan eceng gondok. Lumpur sedimentasi itu
diduga berasal dari badan gunung sekeliling Danau Laut Tawar yang sudah banyak digarap penduduk.

Selain ulah si eceng gondok yang dapat mengganggu pasok air dari Danau Laut Tawar, kondisi hutan
lindung yang terdapat di hulu DAS Peusangan maupun di sekeliling danau sebagiannya sudah tergolong
kritis. Bupati Aceh Tengah Drs Buchari Isaq mengaku Pemda setempat menghadapi kesulitan mengatasi
kerusakan kawasan hutan lindung yang berlangsung amat cepat (Kompas, 5-10-1995). Padahal, kawasan
hutan di sekeliling danau itu jelas sebagai hutan lindung karena berfungsi mengatur tata air, apalagi
setelah dipertegas oleh Perda No 5 Tahun 1994 tentang RUTWR Kabupaten Daerah Tingakt II Aeh
Tengah.

Secara empiris, kondisi hutan sekeliling Danau Laut Tawar dan DAS Peusangan hulu yang menjadi
tumpuan proses penyerapan air di waktu hujan, tergolong memprihatinkan meski belum berbahaya.
Namun, di beberapa tempat cenderung menjadi lahan kritis. Lebih-lebih karena terjadinya kebakaran
setiap tahun yang menyebabkan tanaman hasil reboisasi kembali mati.

Di sisi lain, perambahan terus berlangsung diam-diam, terutama untuk membuka lahan baru.
Meningkatnya jumlah penduduk mendorong mereka semakin "lapar lahan". Oleh karena, di sekitar
mereka yang terlihat potensial untuk dirambah hanya hutan lindung, sehingga kawasan ini semakin
terdesak.

Menurut Emil Salim (1993) untuk penyelamatan hutan lindung perlu dibangun wilayah penyangga
(buffer zone) di sekitar kawasan hutan ini, untuk menampung kebutuhan penduduk yang kian
mendesakkan dirinya terhadap hutan dan sekaligus melibatkan penduduk secara langsung dalam ikhtiar
pelestarian hutan lindung.

Untuk mewujudkan solusi yang dianjurkan Emil Salim itu dan demi menjaga kelestarian kawasan hutan
lindung sekeliling Danau Laut Tawar, tentu saja semua pihak yang sudah dan akan memanfaatkan air
danau ini harus terlibat aktif dalam kegiatan pelestariannya.

Hal ini berarti kegiatan reboisasi maupun pembangunan buffer zone bukan hanya tanggung jawab Pemda
Aceh Tengah, melainkan juga tanggung jawab para pemakai air kendatipun tidak bermukin di negeri
dingin itu. Dengan kepedulian bersama pula, ketersediaan air di Danau Laut Tawar dapat terus
berkelanjutan. (drs muhammad syukri mpd, takengon)