P. 1
Latar Belakang Lahirnya Angkatan 70-An

Latar Belakang Lahirnya Angkatan 70-An

|Views: 2,733|Likes:
Dipublikasikan oleh Ari Hidayati

More info:

Published by: Ari Hidayati on Dec 12, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/30/2013

pdf

text

original

Latar Belakang Lahirnya Angkatan 70-an

Posted on 18 Juni 2010 by kenkubela 0

1. Latar Belakang Lahirnya Angkatan 70-An Munculnya angkatan 70-an karena adanya pergeseran sikap berpikir dan bertindak dalam menghasilkan wawasan estetik dalam menghasilkan karya sastra bercorak baru, baik di bidang puisi, prosa maupun drama. Pergeseran ini mulai kelihatan setelah gagalnya kudeta G30 S/PKI. Dalam periode 70-an pengarang berusaha melakukan eksperimen untuk mencoba batas-batas berupa kemungkinan bentuk baik prosa, puisi drama semakin tidak jelas. 2. Siapa saja yang memberi nama dan berdasarkan peristiwa apa Yang memberi nama angkatan 70-an yaitu: a) Hadi W.M, dan b) Dami N. Toda Berdasarkan pergeseran sikap berfikir dan bertindak dalam menghasilkan wawasan estetik dalam menghasilkan karya. 3. Siapa saja sastrawan dan hasil karya sastra mereka? Sastrawan tahun 1970-an atau angkatan 70-an, berdasarkan karya-karya yang dihasilkannya, dapat dibagi menjadi 3 kelompok, antara lain: 1. Kelompok pertama yaitu mereka yang termasuk angkatan 66 atau yang telah berkarya pada tahun 1960-an, telah mulai makin matang pada tahun 1970-an. Yang termasuk sastrawan dari kelompok ini, antara lain: 1) Abdul Hadi W.M Karangannya: - Laut Belum Pasang (kumpulan sajak, 1971) - Cermin (kumpulan sajak, 1975) - Potret panjang seorang pengunjung pantai sanur (kumpulan sajak 197) - Meditasi (kumpulan sajak, 1975). 2) Supardi Djoko Damono Karangannya: - Dukamu Abadi (Kumpulan sajak, 1969) - Mata Pisau (Kumpulan sajak, 1974) - Akuarium (Kumpulan sajak, 1974) - Sosiologi, sastra (1978) - Novel Indonesia Sebelum Perang (1979) 3) Goenawan Muhamad Karangannya: - Lautan Bernyanyi (Drama, 1967) - Bila malam bertambah malam ( Novel, 1971) - Telegram (Novel, 1974) - Dadaku adalah perisaiku (kumpulan sajak, 1974)

- Anu (Drama, 1975) - Aduh (Drama, 1975) - Pabrik (Novel, 1976) - Dag Dig Dug (1977) - Stasiun (Novel, 1977) - MS (Novel, 1977) - Tak Cukup Sedih (Novel, 1977). 4) Umar Kagam Karangannya: - Seribu kunang dan kunang di mahatta (Kumpulan cerpen, 1972) - Sri Sumarak dan Buluk (Kumpulan cerpen, 1975) - Totok dan Toni (Cerita anak-anak, 1975) - Seni, tradisi, masyarakat (kumpulan esei, 1981) 5) Leon Agusta Karangannya: - Catatan putih (Kumpulan sajak, 1975) - Di bawah bayang-bayang sang kekasih (novel, 1978) - Hukla (Kumpulan sajak, 1979) 6) Gerson Poyk Karangannya: - Hari-Hari Pertama (Novel, 1968) - Sang Guru (Novel, 1971) - Jerat (Kumpulan Cerpen, 1975) - Mutiara di Tengah Sawah (Kumpulan Cerpen, 1984) - Nostalgia Nusa Tenggara (Kumpulan Cerpen, 1976) - Cumbuan Sabana (Novel, 1979) 2. Kelompok Kedua, yang karya-karyanya baru muncul tahun 1970-an. Yang termasuk sastrawan golongan ini antara lain: 1) Korrie Layun Rampan Karangannya: - Matahan pinsan & ubun-ubun (kumpulan sajak, 1974) - Upacara (Novel, 1978) - Kekasih (Kumpulan Cerpen, 1981) - Dst 2) Entha Ainun Nadjib Karangannya: - ³M´ Frustasi (kumpulan sajak, 1976) - Nyanyian Gelandangan (Kumpulan Sajak, 1981) 3) Hamid Jabbar Karangannya: - Paco-Paco (Kumpulan Sajak, 1974) - Dua Warna (Kumpulan Sajak Bersama Upita Agustina, 1975) 4) Toen Herarti Karangannya: - Sajak-Sajak 33 (Kumpulan Sajak, 1973) 5) Putu Arya Tirtawirya

1976) c) dst 2) Putu Wijaya Karnyanya: a) Bila Malam Bertambah Malam (Novel. mereka yang menghasilkan karya-karya dengan kecenderungan melakukan bentuk-bentuk ekspenmentasi.Malam Pengantin (Kumpulan Cerpen. 1975) b) Ibrahim (Kumpulan Sajak.Bayang-Bayang Baurl (Drama. Kelompok ketiga. 1978) 3.Penantang Tuhan (Drama.Surat dengan sampul putih (Kumpulan Cerpen. 1985) 7) Darmanto Jatman Karyanya: a) Bangsal (Kumpulan Sajak.Perang Troya (Cerita Anak-Anak. 1972) . 1980) b) Olenka (Novel. 1972) b) Isyarat (Kumpulan Sajak. 1974) . 1980) 6) Adri Darmadji Woko Karyanya: a) Boneka Mainan (Kumpulan Sajak.Pan Balang Tamak (Cerita Anak-Anak. Berada dan Cartas (Drama.Langit Kelabu (Kumpulan Sajak. 1976) . 1971) b) Selamat Pagi Jajang (Kumpulan Sajak.Pasir Putih Pasir Laut (Kumpulan Cerpen. 1975) .Karangannya: . 1973) . 1976) . 1977) 7) Arswendo Atmowiloto Karangannya: .Nama Saya Ari (Novel. 1972) . 1972) 4) Budi Darma Karyanya: a) Orang-Orang Bloongminton (Kumpulan Cerpen. 1977) 3) Kuntowijoyo Karyanya: a) Tidak Ada Waktu Untuk Nyonya Fatma. 1976) c) Pasar (Novel. yang termasuk dalam golongan ini antara lain: 1) Aritin C. 1983) 5) Ibrahim Sattah Karyanya: a) Daudandit (Kumpulan Sajak. 1971) b) Dadaku Adalah Perisaiku (Kumpulan Sajak. Noer Karyanya: a) Sumur Tanpa Dasar (Drama. 1972) 6) Linus Suryadi Karyanya: . 1974) c) Tak Cukup Sedih (Novel.

Putu Wijaya dan Kuntowijoyo. Selain itu. Lebih khusus lagi cerpen-cerpen Danarto. Sutardji Calzoum Bachri 2. disajikan secara tumpang tindih. identitas tokoh yang tidak jelas. sebagaimana tertuang dalam ³Kredo Puisi´. Putu Wijaya. karena: Tokoh yang muncul bisa apa saja (air. gencar pula kecenderungan untuk menggali akar tradisi kultural tempat penyair itu lahir dan dibesarkan. Ciri-ciri yang menonjol dari ekspermentasi yang diperlihatkan dari karya-karya yang muncul tahun 1970-an dapat disebut beberapa diantaranya: a) Untuk Nove dapat diwakili oleh Karya Iwan Sumatupang. hewan. Jenis Karya Sastra Yang Dominan Karya sastra yang paling dominan angkatan 70-an yaitu Puisi (sajak). bentuk eksperimentasi cerpen Indonesia tahun 1970-an. Kumpulan cerpen Godlob. d) Untuk Puisi. adalah beberapa nama yang menonjol mengangkat tradisi kulturalnya. dapat diwakili oleh karya-karya Arifin C Noer. a. Peristiwa yang dihasilkan oleh lakuan dan pikiran. bisa saja menjadi tokoh dan berdialog dengan tokoh utama. Karena sajak-sajak Sutardji ³lain´ dari sajak Indonesia sebelumnya. 1977) b) Penjarakan Aku Dalam Hatimu (Kumpulan Cerpen. pemerataan itu dapat dilangsungkan dimana saja. Peristiwa-Peristiwa Penting Yang Terjadi Dalam Angkatan 70-an! Tahun 1970-an kembali dikejutkan kembali oleh pembaru yang lain yakni Sukardji Calzoum Bachri. yaitu drama yang sengaja lebih mementingkan lakuan darripada dialong. dapat memajukan peran dua tokoh atau lebih. maka dalam sebagian naskah drama yang muncul tahun 1970-an itu. Putu Wijaya. c) Untuk Drama. Darmadji Woko. . tanaman atau bendaZ dan binatang apapun. Bahkan. Misalnya: 1. Ciri khas yang lainnya lagi adalah lepasnya keterikatan pada panggung jika pada naskah-naskah drama sebelumnya. Puisi tahun 1970-an cenderung lebih mementingkan ekspresi untuk mendukung tema yang hendak disampaikan. dapat berlaku dimana saja 4) Alur. Ciri yang menonjol Dalam hal ini. Ciri khas yang menonjol dari karya mereka. tidak lagi menekankan hubungan sebab akibat (kausalitas). Rendra dan Ikranegara. Artinya. sama sekali diabaikan. Akibatnya peristiwa itu seolah-olah tidak jelas lagi. 5. yang merupakan unsur-unsur intrinsik yaitu: 1) Tema. Ibrahim Sattah 3. tampil dengan drama mini kata. mengangkat masalah keterubingan manusia dan kehidupan yang absurd (tidak masuk akal) 2) Identitas tokoh menjadi tidak penting 3) Latar tempat dan latar waktu. Agar lebih jelas ³pembaruan´ seperti apa yang dibawakan Sutardji mengenai puisi.Yudhistira Ardi Noegraha Karyanya: a) Arjuna Mencari Cinta (Novel. b) Untuk cerpen. batu. latar tempat dan materialnya yang serba jelas dan konkret. 1979) 4. dapat diwakili oleh karya-karya Danarto. panggung tidak lagi menjadi penting. ikatan pada bait dan larik. Kuntowijoyo. dapatlah mewakili. juga memungkinkan bagi seseorang pemalu. Adji Darmadji Woko 4.

kematian. antara lain: . lahirnya..Aliran Absurd abstrak / tidak jelas . yang sering diganti-ganti si lelaki. minat untuk menjadi penyair begitu besar.Kebudayaan (adat-istiadat) . Dipihak lain. Unsur-Unsur Intrinsik. anak gadis kecil. Munulnya ³Puisi mbeling´ ada kaitannya dengan majalah sastra Horison. yakni Majalah Horison.Sosiologi karya sastra (menyangkut baik dan buruknya) 7. dsb. adalah seorang pemuda Bali yang merantau ke Kota Metropolitan Jakarta. karena dia menganggap bahwa isi telegram selalu hal-hal yang menakutkan: sakit. Majalah Horison tidak mampu menampung puisi yang dikirimkan kepadanya. Tokoh-tokohnya: 1) Si Lelaki. munculnya ³Puisi Inbeling´ sebagai ³pemberontakan´ kalangan muda terhadap kemajuan.Aliran Realisme berdasarkan kenyataan . seorang pelacur murahan. anak angkat Si Lelaki. malapetaka. Aliran-Aliran Sastra yang terdapat pada angkatan 70-an: . 6. Dengan kata lain. 1974) Karya Putu Wijaya. tahun 70-an hanya ada satu majalah sastra. maupun kemampuan penyair-penyair senior. bibinya si lelaki atau Ibu kosnya si lelaki. c.Ekspresionisme luapan perasaan . d. latar Posted in: Tugas/Makalah . belakang. baik kemampuan Majalah Horison. a.Sosial . Lelaki itu takut menerima telegram. 2) Sinta. ³Pemberontakan´ itu pun terlihat kembali dalam pengadilan puisi pada tahun 1974. Latar (Setting) Cerita ini berlatar belakang cerita masyarakat Bali dengan segala adat istiadatnya.Aliran Romantisme ungkapan perasaan yang berlebih-lebihan .Psikologis (Si lelaki mengalami krisis kejiwaan antara kenyataan dan khayalan yang menyatu dalam dirinya). saya.Kutipan beberapa bagian dan ³kredo puisi´ ³Dalam (penciptaan puisi. 4) Nurma.Aliran naturalisme Pelukis menggambarkan secara alami Itulah sebabnya. Unsur-unsur ekstrinsik. Setting tempatnya adalah sebuah kota metropolitan. . 3) Ibu kandung Sinta. angkatan. kekasih impian si lelaki 6) Sang bibi. 5) Rosa. Karena disamping majalah budaya Jaya dan Basis.Perekonomian . Akibatnya. karena sudah menjadi kebiasaan umum bahwa isi telegram selalu hal-hal yang luar biasa. terutama yang malapetaka b. seorang wanita jalanan yang miskin. kata-kata saya biarkan bebas´. dst ««. antara lain : dari Telegram (Novel. Ditandai:70-an. para pendukung ³Puisi Inbeling´ adalah dari kaum muda dan mereka yang baru mulai menulis puisi namun ingin cepat tampil ke permukaan. Tema Masalah ketakutan manusia modern tentang suatu telegram.

ikut menciptakan suasana bagi lahirnya karya-karya yang lebih berbobot. berdasarkan karya-karya yang dihasilkannya. Penolakan para seniman terhadap campur tangan politik dalam wilayah kesenian. Maka.2 Angkatan 45. di antara karyakarya yang konvensional yang terbit tahun 1970-an. Penyebutan itu tentu saja tidak serta-merta muncul begitu saja. sastrawan tahun 1970-an.5 Sastrawan yang muncul pasca-Angkatan 66. Pertama. Jassin dimasukkan ke dalam Angkatan 66. (5) terjadinya pergeseran orientasi sastrawan dalam memandang tradisi budaya tempatan memberi kemungkinan yang lebih luas bagi para sastrawan dalam melakukan eksplorasi estetiknya. Semangat kebebasan berekspresi itu dimungkinkan oleh beberapa faktor berikut: (1) pudarnya pengaruh politik dalam kesenian. seperti menghadapi kegelisahan yang sama tentang situasi kesusastraan²dan kebudayaan²pasca Tragedi 1965. kesusastraan.B. dan drama). sekaligus memungkinkan lahirnya sastrawan-sastrawan baru. telah menghilangkan tekanantekanan psikologis yang justru sangat penting bagi proses penciptaan karya seni.1 menurut hemat saya. dapat dibagi ke dalam tiga kelompok. dan terutama paroh pertama tahun 1970-an. dan lebih khusus lagi. Sementara itu. mereka yang termasuk Angkatan 66 atau yang telah berkarya pada dasawarsa tahun 1960-an. (2) penerbitan kembali sejumlah majalah dan suratkabar yang independen dan menyediakan rubrik sastra. bahkan sudah sejak dasawarsa tahun 1950-an.3 dan sastrawan yang muncul pasca-Angkatan 66.(Konsep Estetik Abdul Hadi WM tentang Angkatan 70-an)* Maman S Mahayana* Dalam perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia. dalam tahun 1970-an itu. Selalu ada usaha untuk merumuskan semangat yang melatarbelakanginya atau gerakan estetik yang mendasari karya-karya yang muncul sejalan dengan semangat zamannya. 4 yaitu Angkatan 70-an. justru makin memperlihatkan kematangannya. Jadi. kita mengenal adanya sejumlah penyebutan tentang penggolongan.6 Pada masa itu. nama-nama yang oleh H. (4) berdirinya Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang didukung sepenuhnya oleh Pemerintah DKI Jakarta. tidak sedikit pula yang memperlihatkan semangat kebebasan itu yang diejawantahkan dalam bentuk karya-karya eksperimental. novel dan cerpen. Karya-karya eksperimental itu mencakupi semua ragam sastra (puisi. bermunculanlah karya sastra yang memperlihatkan semangat kebebasan berkreasi. Sejak tahun 1968. Yang termasuk kelompok sastrawan dari . telah ikut mendorong lahirnya semangat berkreasi dan keberanian untuk melakukan eksperimentasi. tetapi mulai makin matang pada tahun 1970-an. Dari sejumlah penamaan tentang angkatan atau periodesasi itu. kelompok ini dapat disebut sebagai sastrawan senior mengingat kiprah mereka yang memang sudah dimulai tahun-tahun sebelumnya. (3) terbitnya majalah Horison. periodesasi atau angkatan. Jika disederhanakan. yaitu Pujangga Baru. majalah Sastra ±yang kemudian menghentikan penerbitannya akibat kasus cerpen ³Langit Makin Mendung´² dan Budaya Jaya yang memberi tempat bagi karya-karya eksperimental. hanya ada tiga angkatan yang melandasi penamaannya atas dasar semangat atau gerakan estetik. yaitu adanya semangat kebebasan berekspresi. berbagai karya eksperimental seperti memperoleh lahan yang subur dan momentum yang baik. memungkinkan sastrawan punya banyak pilihan untuk mengirimkan karya-karyanya ke berbagai media massa itu tanpa pretensi adanya faktor di luar sastra.

Rendra. Arswendo Atmowiloto. Diah Hadaning. Saini KM. khususnya irrasionalisme yang ternyata mendapat perhatian kaum eksistensialis dan penganut aliran sastra absurd. Sri Rahayu Prihatmi. Mereka yang mengklaim menumpukan perhatian hanya terhadap satu budaya daerah saja seperti Jawa. Seno Gumira Ajidarma. Korrie Layun Rampan. Abdul Hadi WM. Hamid Jabbar. yaitu semacam kerinduan untuk menggali nilai-nilai tradisi masa lalu budaya leluhur. Ketiga. Putu Wijaya. Hartojo Andangdjaja. Iwan Simatupang. Kuntowijoyo. Noer. Umar Kayam. Nasyah Djamin. dan Yudhistira ANM Massardi. Putu Wijaya. antara lain. Kusumo. Marianne Katoppo. ada semangat yang sama yang menjadi landasan dan wawasan estetiknya. Sapardi Djoko Damono. Akhudiat. Mahbub Djunaidi. Arifin C Noer. Kedua. ada yang sudah berkarya sejak tahun 1960-an. Fudoli Zaini. Minangkabau. W. Sapardi Djoko Damono. Rachmat Djoko Pradopo.7 Berdasarkan ketiga kecenderungan itu. Ibrahim Sattah. Th. Sanento Yuliman. Arifin C. Gerson Poyk. Arifin C. 3. Danarto. Slamet Sukirnanto. corak pendekatan dan sikap terhadap tradisi itu dapat dibagi ke dalam tiga kelompok kecenderungan: 1. Iman Budhi Santosa. Mereka melihat bahwa dalam tradisi terdapat unsur-unsur dan aspek-aspek yang relevan bagi pandangan hidup manusia mutakhir. N. Ikranagara. Titis Basino. mereka yang karya-karyanya baru muncul tahun 1970-an. Rendra. Toeti Herati Noerhadi. Subagio Sastrowardojo. dan Wing Kardjo. Frans Nadjira. Leon Agusta. dan Islam. Noer. Di antaranya. Buddha. M.S. Yang termasuk ke dalam golongan ini. M. Dilihat dari kecenderungan karya-karya mereka. Mereka yang mengambil tradisi langsung dari bentuk-bentuk spiritualitas dan agama tertentu dengan kesadaran bahwa tradisi dan budaya masyarakat Indonesia terbentuk berkat masuknya beberapa agama besar. Sutardji Calzoum Bachri. Darmanto Jatman. Sori Siregar. Yang termasuk sastrawan golongan ini. Poppy Hutagalung. Putu Arya Tirtawirya.H. Para penulis kecenderungan ini berkarya dengan maksud memberi corak khas kedaerahan terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia. Hartoyo. Abdul Hadi menyebutkan karya-karya dari sejumlah sastrawan sebagaimana yang terlihat dalam kutipan berikut ini: Kecenderungan pertama. Zawawi Imron. Aspar Paturusi. Mereka yang mengambil unsur-unsur budaya tradisional untuk keperluan inovasi dalam pengucapan. Ediruslan PE Amanriza. mereka yang menghasilkan karya dengan kecenderungan melakukan eksperimentasi. Budiman S. Emha Ainun Nadjib. Rayani Sriwidodo. 2. Taufiq Ismail. dan Sutardji Calzoum Bachri. Darmanto Jatman. dan Ikranagara. seperti Hindu. yang menyikapi tradisi dengan begitu kreatif untuk keperluan inovasi. Goenawan Mohamad. Adri Darmadji Woko. Menurut Abdul Hadi WM. dapat dilihat pada karya-karya Goenawan Mohamad. Sides Sudyarto DS. Abrar Yusra. ada pula yang kemunculannya pada tahun 1970-an itu. Satyagraha Hoerip. Wildam Yatim. dan Wisran Hadi. Husni Djamaludin. Mereka tidak berpretensi kedaerahan walaupun sadar mengambil unsur tradisi daerah. Ragil Suwarna Pragolapati. antara lain. Dini. Melayu Riau. Linus Suryadi AG. D. Sunda dan lain-lain.golongan ini antara lain. . Dalam seni tari dan teater tampak dalam karya Sardono W. Mohammad Diponegoro.

Latar tempat dan latar waktu juga tidak mengacu pada tempat dan waktu tertentu. sikap hidup pengarang. Taufiq Ismail.. moral. Kuntowijoyo. pandangan. Segala peristiwa bisa tumpang-tindih tak ada hubungan sebab-akibatnya (kausalitas). Ibrahim Sattah. Dini. semangat dan orientasi kebudayaannya.12 memperlihatkan adanya kesamaan tema yang mengangkat masalah keterasingan manusia modern dan kehidupan yang absurd. juga Sutardji Calzoum Bachri (dalam tahap akhir perkembangan kepenyairannya). Ahmad Tohari. Ciri lainnya. Wisran Hadi. intelektual. Untuk novel yang dapat diwakili oleh karya Iwan Simatupang. Emha Ainun Nadjib.Kecenderungan kedua dalam sastra dapat dilihat dalam karya-karya Nh. tak ada lagi semboyan seni untuk rakyat atau seni untuk seni. Kecenderungan ketiga. seperti dikatakan Dami N. Atas dasar itulah. dan mulai menerima improvisasi dan anti-rasionalisme. dan lain-lain.8 Darmanto Jt. Toda adalah antislogan. Linus Suryadi A. ada kesadaran dan semangat yang sama yang tampak dari karya-karya sastrawan tahun 1970-an itu berkenaan dengan wawasan estetik. Abdul Hadi WM. Pada karya-karya sastrawan tahun 1970-an itu. Umar Kayam. dapatlah disebutkan beberapa di antaranya. Alur yang dalam novel konvensional selalu harus didasari pada rangkaian peristiwa yang mempunyai pertalian hubungan sebab-akibat (kausalitas).. M. seolah-olah peristiwa itu datang saling menyergap. buruh pabrik.10 munculnya ³kesadaran baru´ dan ³wawasan estetik baru´ itu menunjukkan adanya perbedaan yang tajam dengan semangat dan wawasan estetik seperti yang terdapat pada karya-karya periode sebelumnya. humanisme universal atau pertentangan Timur²Barat. penjaga kuburan. yang menghubungkan diri dengan sumber-sumber agama dan bentukbentuk spiritualitas agama tampak dalam karya-karya Danarto. ³Jadi. Danarto. Fudoli Zaini. ada kecenderungan lain yang mencolok. peristiwa itu seperti tidak jelas lagi . Subagio Sastrowardojo. Kecenderungan yang lain tampak dari kesadaran sastrawan tahun 1970-an itu yang mulai menolak realisme formal. yaitu adanya penjelajahan terhadap mistisisme dan tasawuf. selain anti-intelektualisme dan anti-rasionalisme. tak ada lagi slogan cinta tanah air. Kuntowijoyo.11 Alasan utama yang menjadi pemikiran Abdul Hadi menyebut sastrawan periode itu sebagai Angkatan 70 didasari oleh adanya semacam gerakan sastra yang membawa ciri baru dan perbedaan yang mencolok dengan ciri gerakan sastra sebelumnya. Peristiwa yang dihasilkan lakuan dan pikiran disajikan seketika secara serempak. Identitas tokoh menjadi tidak penting yang ditandai dengan penamaan Tokoh Kita (dalam novel-novel Iwan Simatupang) atau cukup disebutkan lelaki setengah baya. pensiunan dan beberapa nama jabatan atau status sosial yang bisa berlaku untuk siapa saja. dan spiritual lingkungan dan zamannya. Abdul Hadi WM menamakan sastrawan periode itu sebagai Angkatan 70 dalam sastra Indonesia. « Kebanyakan dari mereka melihat tradisi sebagai produk sejarah yang bentuk-bentuknya sukar diubah dan merupakan ciri khas budaya masyarakat tertentu yang mungkin tak dimiliki suku bangsa lain. yang kemudian melahirkan kemungkinankemungkinan baru sebagai hasil dari proses interaksi dengan kehidupan sosial. dalam novel-novel tahun 1970-an itu tidak lagi berlaku. pangkal-tolaknya adalah karya-karya yang merintis pembaharuan. dan Budi Darma. Akibatnya.´ Ciri-ciri yang mencolok dari eksperimentasi yang diperlihatkan karya-karya yang muncul dasawarsa 1970-an itu.G. bahkan menambahkan. sehingga dapat berlaku di mana dan kapan saja. Zawawi Imron. Jadi. Putu Wijaya. D.9 Bagi Abdul Hadi WM. walikota.

naskah-naskah drama yang konvensional. sedangkan kumpulan cerpen Kuntowijoyo dan Fudoli Zaini mengedepankan tema-tema sufistik. perasaan. dapat diwakili oleh karya-karya Arifin C. Jelas bahwa dramawan Indonesia pada dasawarsa tahun 1970-an itu. maupun cara penyajiannya. karena di sana yang dipentingkan adalah lakuan. Bahkan. seperti ketoprak (Jawa Timur). di sembarang tempat. Rendra. Naskah drama itu ditulis dengan kesadaran bahwa pementasan itu dapat dilangsungkan di mana saja. dan alam bawah sadar tokoh-tokohnya. bisa saja menjadi tokoh yang juga dapat berdialog dengan tokoh lain. maka dalam sebagian naskah drama yang muncul tahun 1970-an itu. atau benda dan binatang apapun. mengingat identitas tokoh sengaja dibuat tidak jelas. Begitulah. tanaman. tetapi juga menyerap unsur drama tradisional yang banyak terdapat di Nusantara ini. Putu Wijaya. Yang sangat kuat mengungkapkan warna lokal budaya Jawa tampak pada cerpen-cerpen Umar Kayam. terutama drama-drama absurd. Air.juntrungannya. Putu Wijaya. selesai pula penulisan naskahnya. naskah itu harus sangat mempertimbangkan tata letak panggung berikut properti lainnya. Rendra tampil pula dengan drama Bip-Bop. Bahkan. Kuntowijoyo. tidak hanya menyerap pengaruh drama kontemporer Barat. pemain boleh melakukan improvisasi. jika dalam konvensi naskah-naskah drama sebelumnya. Noer (10 Maret 1941²28 Mei 1995). Untuk bidang drama. Dalam hal ini.15 . dan ketika pemain mempunyai kesempatan untuk mengembangkan ekspresinya. Akibatnya. drama itu miskin sekali dialog. maka seorang pemain dimungkinkan dapat menjalankan peran lebih dari satu tokoh. sementara karya-karya Putu Wijaya yang cenderung menampilkan serangkaian teror mengangkat tema-tema keterasingan manusia perkotaan. tokoh-tokoh yang muncul bisa apa saja. Dengan begitu. Ada inovasi (pembaruan) dan pemberontakan terhadap wawasan estetik cerpen-cerpen periode sebelumnya. Danarto. tokoh yang ditampilkan. Jadi. Sri Sumarah dan Bawuk. naskah diperlakukan hanya sebatas pegangan dasar. batu. para pemain yang dalam konvensi drama sebelumnya harus tunduk dan setia pada teks naskah. pemain juga dituntut kreatif memanfaatkan momen-momen tertentu untuk mengekspresikan potensi permainannya. Fudoli Zaini. Demikian juga kostum pemain. hewan. Artinya. Model novel-novel yang seperti inilah yang kemudian disebut sebagai novel arus kesadaran (stream of conciousness). ada pula naskah drama yang penulisannya bersamaan dengan proses latihan. Ciri khas lainnya menyangkut lepasnya keterikatan pada panggung. latar tempat dengan segala propertinya harus serba jelas dan konkret. Selain itu. sebuah drama mini kata yang lebih mementingkan lakuan daripada dialog. Jadi. tanjidor dan lenong (Betawi). Kumpulan cerpen Danarto. dan Umar Kayam13 Lebih khusus lagi pada cerpen-cerpen Danarto. dapatlah kiranya diwakili oleh karya-karya Danarto. Godlob (1976) dan Adam Ma¶Rifat (1982) memperlihatkan adanya penggalian mistisisme Jawa dan tasawuf. Itulah yang dimaksud dengan adanya kecenderungan baru. sebuah aliran dalam sastra (terutama prosa) yang menekankan cerita melalui pikiran. dan Ikranagara. Dalam hal ini. cerpen-cerpen Indonesia pada dasawarsa tahun 1970-an seperti sengaja melepaskan diri dari konvensi cerpen sebelumnya. Untuk cerpen.14 Ciri khas yang menonjol dari karya mereka adalah terbukanya peluang bagi para pemain untuk melakukan improvisasi. alur cerita. baik yang menyangkut tema cerita. kini para pemain itu dibolehkan melakukan improvisasi atau menyampaikan sesuatu di luar teks drama. sehingga begitu proses latihan selama beberapa minggu itu selesai. tidak perlu sangat bergantung pada kostum tertentu. panggung tidak lagi menjadi penting. lazimnya sangat terikat pada panggung.

Linus Suryadi. Berikut ini dikutip beberapa bagian dari Kredo Puisi tersebut. Goenawan Mohamad. Darmanto Jatman. Artinya. gencar pula kecenderungan untuk menggali akar tradisi kultural tempat penyair itu lahir dan dibesarkan. D. terjadi juga pemberontakan terhadap konvensi yang berlaku sebelumnya. «. Th. Adji Darmadji Woko. Hamid Jabbar. Puisi tahun 1970an cenderung lebih mementingkan ekspresi untuk mendukung tema yang hendak disampaikan. adalah beberapa nama yang menonjol mengangkat tradisi kulturalnya. Kredo Sutardji Calzoum Bachri yang bertarikh 30 Maret 1973 dan kemudian dimuat dalam majalah Horison (No. Linus Suryadi AG (3 . Sutardji Calzoum Bachri. kata-kata saya biarkan bebas. kedudukan Sutardji Calzoum Bachri bagi Angkatan 70. yang dikatakan Abdul Hadi sebagai kesadaran sufistik. Seperti posisi Chairil Anwar bagi Angkatan 45 dalam sastra Indonesia. Pemberontakan yang dilakukan Sutardji Calzoum Bachri tidak hanya berhenti pada tataran bentuk ±yang tak lagi mempersoalkan bait dan larik atau rima persajakan²tetapi juga makna. bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal. Penyair boleh saja menuliskan puisinya seperti sebuah cerpen. Dalam hal ini. jika si penyair hendak memanfaatkan narasi bagi kepentingan puisinya.Dalam bidang puisi. Pada mulanya±adalah Kata. semakin tidak jelas batas tegas antara prosa dan puisi. kata-kata meloncat-loncat dan menari-nari di atas kertas. ada puisi naratif yang panjang menyerupai bentuk prosa. Ia menjadi ikon bagi gerakan sastra pada dekade itu. 9. Emha Ainun Nadjib. ³Dalam (penciptaan) puisi saya. Abdul Hadi menyebutnya sebagai penyair avant-garde dengan kredo puisinya yang kontroversial dan menghebohkan. Abdul Hadi WM. pada tahun 70-an itu tidak lagi dipersoalkan. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera. 12.18 Kredo atau pernyataan sikap penyair Sutardji Calzoum Bachri. Sebagai penyair saya hanya menjaga ±sepanjang tidak mengganggu kebebasannya± agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri. Di samping itu. mondar-mandir berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama. Ikatan pada bait dan larik yang dalam puisi-puisi sebelumnya ±terutama puisi zaman Pujangga Baru² sudah ditinggalkan Chairil Anwar. Ibrahim Sattah. Dan Kata Pertama adalah Mantera. renungannya yang mendalam tentang maut. Desember 1974) merupakan wujud pernyataan sikap atas pendirian kepenyairannya. para penyair tidak merasa perlu memikirkan bait dan larik dalam puisinya itu. mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri. boleh dikatakan merupakan bentuk kesadaran itu dalam usahanya menawarkan pembaharuan. Zawawi Imaron. kefanaan manusia. memancarkan sebuah kesadaran transendental baru.16 ada pula yang sengaja disusun pendek-pendek. Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata yang berarti mengembalikan kata-kata pada awal-mulanya. juga tidak terpisahkan. Karena itu.17 Penyair kelahiran Riau ini berhasil memanfaatkan mantera dari tradisi leluhurnya (Melayu) untuk kepentingan persajakannya yang tampak liar dan memukau. pencarian dan kerinduan pada Tuhan. Selain itu. Dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan.´19 Jika Sutardji Calzoum Bachri memanfaatkan mantera dari kultur Melayu20 dan belakangan masuk pengaruh pemikiran tasawuf dalam karya-karyanya yang kemudian.

terbitnya sejumlah majalah hiburan. Aktuil.27 Ketiga. Cirebon. boleh dikatakan termasuk kategori novel populer yang baik. munculnya gerakan para penulis muda yang hendak memberontak pada kemapanan para penyair senior dan gugatan terhadap majalah Horison yang tidak dapat menampung karya-karya mereka. ada pula yang buruk. Dinamika yang terjadi dalam sastra Indonesia tahun 1970-an sebenarnya jauh lebih semarak. Bukankah novel-novel sastra yang serius juga ada yang masuk kategori baik. meski Abdul Hadi banyak pula menyerap pengaruh karya-karya agung para sastrawan sufi.´ Salah satu ciri utama puisi mbeling adalah kuatnya semangat berkelakar. juga muncul beberapa gerakan yang ikut menyemarakkan kehidupan kesusastraan Indonesia tahun 70-an itu. dan di sisi lain.21 dan keterasingan manusia modern. di satu sisi melahirklan penulis-penulis baru. Eddy D. menyusul Abdullah Harahap.26 Penganjur utama gerakan ini adalah Remy Sylado (= 23761. Dayak. Ashadi Siregar sampai ke novel yang ditulis para pengarang wanita.24 Beberapa novel Motinggo Boesje. Meskipun yang disebut terakhir ±sastra hiburan²yang kemudian lebih sering disebut sastra populer. seperti Ike Soepomo. kata-kata dipermainkan begitu rupa. seyogianya kita menempatkan posisi novel populer itu secara proporsional. Taufiq Ismail sebagai Pembela dan sejumlah sastrawan .22 kemudian semarak kembali pada dasawarsa tahun 1950-an. Bagaimana mungkin sebuah puisi diadili dengan menampilkan Sanento Yuliman sebagai Hakim Ketua. karya-karya mereka itu dimuat dan kemudian diberi label ³Puisi Mbeling. Remy Sylado. tema-tema sufisme (tasawuf).. yaitu kritik sosial dan kritik atas dominasi etnis tertentu dalam perekonomian nasional. jika majalah Aktuil dan majalah Top menggugat kemapanan majalah Horison dan para penyair senior melalui rubrik ³Puisi Mbeling´ atau ³Puisi Lugu´ yang isinya terkesan berkelakar. Darmanto Jatman sebagai Hakim Anggota. Beberapa karya dari pengarang yang disebutkan itu. Zawawi Imron (Madura). 8 September 1974. Violeta. dan terutama para penulis wanita. Selain bermunculan karya-karya yang mengusung tema-tema yang berkaitan dengan tradisi budaya leluhur (Batak. Ada tiga hal yang menandai terjadinya kesemarakan itu dan terus berlanjut pada periode berikutnya. Dalam majalah itulah. ikut menyebarkan popularitas sastra hiburan. nama pena Japie Tambayong) yang kebetulan menjadi pengasuh majalah Aktuil (1972²1978). Mira W. Minangkabau). maka hal yang sama juga dilakukan dalam sebuah forum yang disebut ³Pengadilan Puisi´. muncul pula Abdul Hadi WM dan D. sebab ada novel populer yang baik. Melayu. Selecta. Bandung. Pertama. Goenawan Mohamad lebih khusus lagi mengangkat simbol-simbol dunia pewayangan. Forum yang pada mulanya terkesan bermain-main itu diselenggarakan di Universitas Parahyangan. Top. Teguh Esha. Di balik kelakar itu. Dari kultur lain. dan bentuk tipografi dimanfaatkan untuk mencapai efek kelakar itu.Maret 1951²30 Juli 1999) dan Darmanto Jatman menggunakan kultur Jawa sebagai unsur penting dalam mengungkapkan ekspresi puitiknya. sudah berkembang sejak zaman sebelum Balai Pustaka. Marga T. Flamboyan. Iskandar. seperti Vista.23 pada tahun 1970-an itu keberadaannya cukup banyak mengundang reaksi berbagai kalangan. yang kemudian disusul majalah-majalah wanita ±Kartini Grup. yang terbit tahun 1970-an itu adalah contoh novel populer. Madura. sedangkan Sapardi Djoko Damono ±terutama pada awal-awal kepenyairannya² cenderung berorientasi pada filsafat Jawa.25 Dalam hal ini. ada sesuatu yang hendak ditawarkan mereka. Jawa. Slamet Kirnanto sebagai Jaksa. ada juga yang jelek? Kedua. Varia.

khususnya Horison (Sapardi Djoko Damono) dicutibesarkan. Ada tiga instansi yang menjadi sasaran gugatannya. yang akan segera didirikan. Dan bagi inkarnasinya dibuang ke pulau yang paling terpencil.Indonesia sebagai saksi-saksi? Saksi yang memberatkan antara lain. Masyarakat luas tetap mendapat izin membaca sastra dan membaca puisi. Wing Kardjo. sedangkan Saini KM. hanya di belakang nama lama harus diembel-embeli kata ³Baru´. para penyair muda itu hendak menegaskan kembali keberadaan dan kontribusi mereka dalam perkembangan kesusastraan Indonesia. Meskipun demikian. boleh menulis terus dengan keharusan segera masuk ke dalam Panti Asuhan atau Rumah Perawatan Epigon. Jassin dan M. masih diberi peluang untuk berkembang terus. Begitu juga para penyair epigon dan inkarnatif. established. Rendra. 3. (2) kritikus sastra: H. Bagaimana para penyair muda masa itu merasa perlu melakukan perlawanan terhadap dominasi dan pengaruh penyair sebelumnya. khususnya H. peristiwa itu tetap dapat dianggap penting mengingat ia mewakili semangat zamannya. Rendra. Adapun keputusan Majelis Hakim tersebut adalah berikut ini: 1.28 Majelis Hakim yang diketuai Sanento Yuliman menolak semua tuntutan Slamet Kirnanto. Hutagalung harus ³dipensiunkan´ dari peranan yang pernah mereka miliki. Sides Sudyarto. Dan dilarang dibaca oleh peminat sastra dan masyarakat umum. Para editor majalah sastra. dan (4) majalah sastra: Horison.B.S. Sebab akan mengisruhkan perkembangan sastra puisi yang kita harapkan sehat dan wajar. Bila dikehendaki sendiri. Goenawan dan sebagainya (dll) dilarang menulis puisi dan para epigonnya harus dikenakan hukum pembuangan.S. Sesungguhnya. Slamet Kirnanto yang bertindak sebagai Jaksa mengajukan empat tuntutan: 1.29 ³Pengadilan Puisi´ sebagai sebuah peristiwa budaya tidaklah berpengaruh besar bagi proses penciptaan. dan Pamusuk Eneste. Bagaimana pula mereka mengusung semangat perubahan. di dalamnya ada semangat pemberontakan terhadap perpuisian Indonesia. 2. dengan catatan harus segera mengikuti kursus penaikan mutu dalam Sekolah Kritikus Sastra. Horison dan Budaja Djaja harus dicabut ³SIT´-nya dan yang sudah terbit selama ini dinyatakan tidak berlaku. Jassin dan M. Para redaktur Horison tetap diizinkan terus memegang jabatan mereka. Sutardji Calzoum Bachri.B. 4. yaitu (1) sistem penilaian terhadap puisi Indonesia mutakhir. Adri Darmadji. Para kritikus yang tidak mampu lagi mengikuti perkembangan kehidupan puisi mutakhir. 3. mereka boleh mengundurkan diri. Para kritikus sastra tetap diizinkan untuk menulis dan mengembangkan kegiatan serta meneruskan eksistensinya. Para penyair established (mapan): Subagio. Para penyair mapan. 2. dan Yudistira A. Dengan merujuk pada usaha pembaharuan yang dilakukan Sutardji Calzoum Bachri. . 4. Hutagalung.N. selama mereka tidak merasa malu. sehingga menjadi Horison Baru. di balik kesan main-main itu. (3) penyair mapan: Subagio Sastrowardojo. Majalah sastra Horison tidak perlu dicabut Surat Izin Cetak dan Surat Izin Terbit-nya. bertindak sebagai saksi yang meringankan. Abdul Hadi WM. dan Goenawan Mohammad.

Aoh Karta Hadimadja. nama Angkatan 66 mula pertama diangkat H. 3 Konsep estetik Angkatan 45 dapat ditelusuri pada esai Chairil Anwar. * Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. dan Sapardi Djoko Damono.B. Jassin dalam artikelnya. Agustus 1966. Ajip Rosidi mengusulkan adanya Angkatan Terbaru untuk sastrawan yang berkiprah tahun 1950-an sampai awal 1960-an. dan H. 189. Achdiat Karta Mihardja. ³Angkatan 45 Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Essay. No. melainkan redaktur yang mempunyai kesadaran visioner yang coba menawarkan sebuah model estetik dalam kesusastraan dan kebudayaan Indonesia. 4 Penamaan Angkatan 66 sebagai sebuah gerakan sosial politik. Dari sejumlah penyebutan angkatan itu. Rosihan Anwar.Selang dua minggu setelah peristiwa itu. * Makalah Seminar Tapak Budaya Paramadina: ³Paradigma Abdul Hadi WM dalam Kebudayaan Indonesia´ diselenggarakan Universitas Paramadina Mulya di Jakarta. tidak memberi pengaruh penting bagi perkembangan sastra Indonesia. hlm. serta derasnya semangat melakukan perubahan. Jassin. Hutagalung. di Jakarta diselenggarakan acara ³Jawaban atas Pengadilan Puisi´ dengan menampilkan para pembicara yang namanya disebut-sebut dalam Pengadilan Puisi. Th. 2 Semangat estetik Angkatan Pujangga Baru tampak jelas dalam esai-esai Sutan Takdir Alisjahbana tentang perbedaan pujangga lama dan pujangga baru yang termuat dalam majalah Pujangga Baru. Jassin. yaitu Angkatan Pra-Balai Pustaka. (3) Angkatan 45. polemik dan perdebatan mengenai konsep-konsep kesastraan. M. kesusastraan Indonesia pada dasawarsa 1970-an itu memperlihatkan sebuah perkembangan penting yang tidak sekadar heboh sebagai sebuah wacana konseptual. 1954). yaitu (1) Angkatan Balai Pustaka ±meski ada pula yang mengusulkan adanya angkatan sebelumnya. Abdul Hadi tidak hanya bertindak sekadar sebagai pengasuh. muncul pertama kali dalam ³Simposium Kebangkitan Semangat ¶66: Mendjeladjah Tracee Baru´ yang berlangsung di Universitas Indonesia.S. sebuah lembaran kebudayaan dalam suratkabar Berita Buana. dosen luar biasa Universitas Paramadina Mulya. Jawaban yang lebih menyerupai semacam pembelaan ini. yaitu H. melainkan diikuti dengan sejumlah karya yang dilandasi oleh kesadaran dan semangat membangun gerakan estetik. 6²9 Mei 1966. pemikiran Abdul Hadi WM laksana merepresentasikan gerakan estetik Angkatan 70-an itu. Jassin. (2) Angakatan Pujangga Baru. H. (Djakarta: Gunung Agung. Dalam kesusastraan Indonesia. tepatnya 21 September 1974. 1 Beberapa pengamat sastra Indonesia kerap menyebutkan beberapa angkatan yang dianggap sebagai tonggak perjalanan kesusastraan Indonesia. (5) Angkatan 70-an.B. 2. Dalam konteks itu. (6) Angkatan 80-an. Jakarta. Demikianlah. Goenawan Mohamad. dan (7) Angkatan 2000. Hal tersebut ditandai dengan lahirnya berbagai karya eksperimental. ³Angkatan 66: Bangkitnya Satu Generasi´ yang dimuat majalah Horison. Seperti juga penamaan Angkatan 45 yang . 9 Juni 2008. I.B. (4) Angkatan ¶66 ±sebelum angkatan ini.B. Sitor Situmorang. Dalam hal itulah. Gerakan estetik itu seperti memperoleh legitimasi manakala Abdul Hadi WM selama lebih dari satu dasawarsa (1979²1990) mengasuh rubrik Dialog.

Sejak itulah kemudian berlahiran karya-karya sejenis dari sastrawan lainnya yang memperlihatkan semangat eksperimentasi. novel Iwan pertama yang selesai ditulis tahun 1960. Terlibat dalam diskusi itu. yaitu RT Nol/RW Nol dan Petang di Taman. terutama setelah kematian istrinya ±Cornelia Astrid van Geem². justru setelah terbit novel Merahnya Merah (1968. tesis. 35. nyaris tak mendapat tanggapan apa pun ketika itu. Iwan sama sekali tidak mau terlibat dalam organisasi apapun yang sedang berseteru. Pada tahun 1966. dua drama Iwan Simatupang. dan Ajip Rosidi. Toda. Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Kedua drama ini pun belum mendapat tanggapan yang cukup ramai. Tampak di sini. esai. terbitnya novel Iwan selepas tragedi tahun 1965. No. Setelah itu.B. Depok. 1971. bersifat polemis. Karya Iwan Simatupang mulai mendapat tanggapan luas. Effendi. H. juga mengundang serangkaian tanggapan dan reaksi. yang mencapai lebih dari 300-an tulisan. setelah kematian istrinya). drama Bulan Bujur Sangkar terbit tahun 1960. (Jakarta: Intermasa. 1991. Toda. Sangat mungkin tanggapan masyarakat pembaca akan berbeda jika novel itu terbit tahun 1960-an ketika politik diusung sebagai panglima dan pengaruhnya memasuki hampir semua aspek kehidupan. Th. 1980. Ia bolehlah dianggap sebagai salah seorang pemicu lahirnya karya-karya eksperimental. Jassin. ia seperti tenggelam. baik yang berupa resensi. terutama dalam penulisan prosa dan (mungkin juga) dalam penulisan naskah drama. selesai ditulis tahun 1961) dan terutama novel Ziarah (1969. proklamasi Jassin tentang Angkatan 66 membuka peluang terjadinya kontroversi. H. seperti memperoleh momentum yang tepat. IV. penamaan Angkatan 66 yang ditawarkan Jassin. sebagaimana yang telah dilakukan Iwan Simatupang. Subagio Sastrowardojo. mulai Angkatan 45 sampai Angkatan 66.B. dapat dilihat dari semua tulisan tentang Iwan Simatupang. Karya pertamanya. Studi mendalam tentang Iwan Simatupang dilakukan Dami N. Novel Baru Iwan Simatupang (Jakarta: Pustaka Jaya. Kurnia Jaya Raya. seorang balerina dari Bandung (1961) yang hanya bertahan sampai awal tahun 1964. makalah.memancing berbagai tanggapan dan kontroversi. Abdul Hadi WM. dapat disebutkan di sini. Sebuah rangkuman berbagai pendapat tentang Angkatan. ³Ikhtisar Pendapat tentang Masalah Angkatan dalam Kesusastraan Indonesia´ dimuat Budaja Djaya. sebuah drama yang selesai ditulisnya tahun 1957 di Eropa. Jassin melandasi dasar pemikirannya tentang penamaan Angkatan 66 dengan bertumpu pada peristiwa tahun 1966 ketika gelombang aksi mahasiswa dan pelajar berhasil menumbangkan rezim yang telah banyak melakukan penyelewengan. Menelusuri Makna Ziarah Karya Iwan Simatupang. S. Betapa ramainya tanggapan pembaca terhadap karya-karya Iwan Simatupang. Dami N. Sutardji Calzoum Bachri. meski sempat menikah lagi dengan Tanneke Burki. buku ini berasal dari skripsi penulisnya tahun 1975 di Fakultas Sastra Universitas Indonesia). artikel. Tampak di sana. terbit. tanggapan terhadap novel Iwan Simatupang begitu semarak. antara lain. Okke KS Zaimar. antara lain. 27 Agustus 1969. bahkan memunculkan polemik. dan disertasi. 6 Contoh kasus semaraknya kebebasan berkreasi pascatragedi 1965 dapat kita lihat pada mencuatnya nama Iwan Simatupang (18 Januari 1928²4 Agustus 1970) sebagai tokoh penting dalam perkembangan sastra Indonesia zaman Orde Baru. Dengan demikian. skripsi.´ (Skripsi Sarjana. Antara 1964²1966. 5 Beberapa nama yang secara serius coba merumuskan gerakan estetik Angkatan 70-an. buku ini berasal dari disertasi . Lukman Ali bertindak sebagai moderator membuat cacatan sejumlah pendapat tentang angkatan dalam sastra Indonesia. ³Resepsi Novel-Novel Iwan Simatupang di Indonesia 1968²1988. 1989). Ramainya perdebatan tentang Angkatan 66 ini mendorong Dewan Kesenian Jakarta menyelenggarakan Diskusi Besar tentang Angkatan 66 di Taman Ismail Marzuki. dan penting dalam menyemarakkan kehidupan kritik sastra.

dan Italia. 1984. mengapa ia menyebutnya sebagai Angkatan 80. menggeser wawasan estetik lama dan mewarnai dunia persajakan sepanjang tahun 70-an. Toda dalam bukunya. Tidak begitu jelas. Prancis. 8. No. . Goenawan Mohamad. Parera. Jakarta: Pustaka Firdaus. 1986). 1999. No. 8 Ahmad Tohari baru muncul namanya dan mulai diperhitungkan keberadaannya dalam sastra Indonesia awal tahun 80-an. ³Peta Perpuisian Indonesia 1970-an dalam Sketsa. Agustus 1981. melainkan menyebutnya sebagai ³periode´. dimuat juga dalam E. Boen S. 7 Abdul Hadi WM. 21. September 1977. hlm. 12. meskipun pandangan yang mendasarinya tidak terlalu jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan Abdul Hadi dan Dami N. Toda. tetapi juga oleh Dami N. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. Lihat juga Surat-Surat Politik Iwan Simatupang. XVI. Dalam artikel panjang ³Kepenyairan di Indonesia tahun 70-an´ yang dimuat bersambung di harian Berita Buana (14. Hal yang senada juga dilontarkan oleh Goenawan Mohamad yang menyebutnya sebagai ³generasi sastrawan 1970-an´. Inspirasi? Nonsens! (Magelang: Indonesia Tera. Mengenai hal ini. Pembicaraan mengenai perjalanan sastra Indonesia kontemporer. 1964²1966 (Jakarta: LP3ES. hampir tidak pernah menafikan tempat dan peranan Iwan Simatupang sebagai tokoh pembaharu. Oemarjati tidak secara tegas menyebut Angkatan 70. Ulrich Kratz (Peny. 11 Penamaan Angkatan 70 dalam sastra Indonesia ini tidak hanya diperkenalkan oleh Abdul Hadi WM.´ Horison. Abdul Hadi mengemukakan tokoh-tokoh persajakan utama 70-an seperti Sutardji Calzoum Bachri. surat-surat Iwan Simatupang yang dikumpulkan dan diberi Kata Pengantar Frans M. Taman Ismail Marzuki. Jerman. XI. Kembali «. Th. 10 Abdul Hadi WM. Jakarta. Hamba-Hamba Kebudayaan. Toda sebagaimana diungkapkan dalam beberapa artikelnya. Jakarta: Sinar Harapan. Th. Korrie sendiri tidak memberi alasan. ia menyebut sastrawan pada periode itu sebagai ³Angkatan 80´. Padahal.´ Budaya Jaya. 4 September 1984. hlm. X.´ Budaya Jaya. Penamaan yang dilakukan Korrie ini mungkin diilhami oleh penamaan Angkatan µ80 (De Tachtiger Beweging) Belanda yang menyerap pengaruh romantisisme Inggris. 789²806. 121 Th. ³Puisi Indonesia dalam Dekade Terakhir. dan 28 Januari 1977). No. Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX. hlm. penyebutan Angkatan 80 yang dilontarkan Korrie dalam artikelnya ³Angkatan 80 dalam Sastra Indonesia´ (Suara Karya. Kurnia Jaya Raya. Darmanto Jatman yang membawa kecenderungan baru.penulisnya tahun 1990 di Fakultas Sastra Universitas Indonesia). dan tidak Angkatan 70. Sapardi Djoko Damono. Sutardji Calzoum Bachri dan Danarto dalam wawancaranya dengan Abdul Hadi WM (Berita Buana. 1999). 6. Kembali ke Akar Kembali ke Sumber: Esai-Esai Sastra Profetik dan Sufistik. 9Abdul Hadi WM. mengapa Abdul Hadi memasukkan nama Ahmad Tohari ke dalam sastrawan Angkatan 70-an. 2000. Lihat juga esai-esai Dami N. Penamaan Angkatan 70 sebenarnya sudah banyak dilontarkan Abdul Hadi dan Dami N. 6²7. Korrie Layun Rampan. ³Angkatan 70 dalam Sastra Indonesia. Sementara itu. ³Tahap-Tahap Perkembangan Wawasan Estetik Perpuisian Indonesia.´ Makalah dibawakan dalam Diskusi Sastra di Teater Arena. 14 Februari 1978) juga mengusung nama Angkatan 70 ketika keduanya melihat adanya kecenderungan baru yang terdapat dalam karya-karya yang terbit pada periode itu. Toda sejak pertengahan dasawarsa 1970-an.). Juni 1978.

Budi Darma. Kuntowijoyo. 14 Karya-karya mereka yang muncul pada periode itu dapatlah disebutkan beberapa di antaranya: Arifin C. dan Asia. Fudoli Zaini. dan Panembahan Reso (1988). juga dipentaskan di berbagai kota besar di Eropa. Ia juga banyak menulis puisi. Mastodon yang dipentaskan di Taman Ismail Marzuki (13 Desember 1973) dianggap membawa kebaruan dalam perkembangan drama Indonesia kontemporer. Fudoli dua kali mendapat hadiah dari majalah Horison. dan drama. Olenka (1983). Dag-Dig-Dug (1976). antara lain: Iwan Simatupang. Umar Kayam. Tengul (1973). Ia banyak menulis puisi dan menerjemahkan drama klasik Yunani. Belanda. sebuah drma kolosal yang memerlukan waktu sekitar enam jam pementasannya. yaitu untuk cerpennya ³Si Kakek dan Burung Dara´ (1966/1967). Anu (1974). Gerr (1986). Ebrek Ewek-Ewek (1976). dan ³Sisifus´ (1977/1978. Sumur Tanpa Dasar (1971). Bel Geduwel Beh (1976). seperti Inggris. Umang-Umang (1976). Karyanya berupa kumpulan cerpen. dan beberapa novel lainnya yang mencapai lebih dari 10 novel. Putu Wijaya sebenarnya termasuk penulis produktif. Noer. Amerika. Demikian juga dramanya. Lho (1982). Kapai-Kapai (1970). Merahnya Merah (1968).24 Agustus 1984). jelas lebih kemudian dibandingkan dengan penamaan Angkatan 70 yang diangkat Abdul Hadi. Kota Kelahiran (1985). Kasir Kita (1972). Pol (1987). Pabrik (1976). Keok (1978). Pemuda Pekerja (1979). terutama ketika Abdul Hadi mengasuh lembar kebudayaan ³Dialog´ di harian Berita Buana antara tahun 1979²1990. Orkes Madun (1974). dan Sutardji Calzoum Bachri sejak pertengahan dasawarsa 70-an. Arifin sebenarnya sudah mulai berkarya sejak tahun 1963. Rendra. Bip-Bop ±drama minikata atau ³Teater Puisi´ menurut Dami N. Kuntowijoyo. meskipun tak begitu banyak menulis naskah drama. Danarto. 12 Beberapa novel mereka dapat disebutkan di sini. ia dianggap sebagai salah tonggak penting dalam perjalanan teater Indonesia modern yang kemudian banyak mempengaruhi dramawan generasi berikutnya. dan Sandek. Godlob (1976) dan Adam Ma¶rifat (1982). Obrok Owok-Owok. dianggap sebagai salah satu pembaharuan di bidang teater di Indonesia. Drama-drama Arifin C. Danarto. Noer. cerpen ³Dilarang Mencintai Bunga-Bunga´ memperoleh Hadiah Pertama Sayembara Majalah Sastra 1969. Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (1993). dan Gres (1982). Ziarah (1969). Sepasang Pengantin (1968). Kering (1972). Karya-karya Putu Wijaya juga sudah banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing. Toda²yang dipentaskan tahun 1968 di Balai Budaya dan kemudian di Taman Ismail Marzuki. Dami N. kariernya dimulai dengan menjadi aktor di Teater Ketjil pimpinan Arifin C. Aduh (1975). 13 Karya-karya mereka dapatlah disebutkan di sini. Potret Manusia (1983). Tetapi dramanya. Putu Wijaya. Dalam konteks itulah posisi Rendra ditempatkan sebagai salah seorang tokoh penting pembaharu drama di Indonesia. Prancis. Lagu dari Jalanan (1982). novel. beberapa antaranya: Danarto. Telegram (1972). Bom (1978) Es (1980). Jepang. Ia kemudian mendirikan teater sendiri. Mega-Mega (1967). Arafah (1985). Bila Malam Bertambah Malam (1971). Toda. Seribu Kunang-Kunang di Manhattan (1972) dan Sri Sumarah dan Bawuk (1975). bernama Teater (Siapa) Saja. Putu Wijaya. ia banyak mementaskan drama . Ikranagara. selain sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing. dan Koong (1975). lebih dari 40-an. Rusia. dan Arab. Dua naskah drama yang dihasilkannya adalah Orang-Orang di Tikungan Jalan (1954) terpilih sebagai pemenang pertama Sayembara Penulisan Drama Departemen P & K Yogyakarta tahun 1954. Ia juga kerap berkeliling dunia mementaskan karya-karyanya. Jerman. Khotbah di Atas Bukit (1976). Stasiun (1977). Noer. Putu Wijaya. Sejak itu.

naskah-naskah lainnya belum diterbitkan dan masih berupa manuskrip. dan Putu Wijaya. Yasadipura II. sejauh pengamatan masih tetap dalam bentuk manuskrip. Tidak Ada Cinta bagi Nyonya Fatma. Penulisan puisi naratif. Akuarium (1974). Ayat-Ayat Api (2000) cenderung menggunakan bentuk narasi yang jernih dengan bahasa yang sederhana. ³Sebuah Pembelaan untuk Teater Indonesia Mutakhir´ Seks. Sejumlah nama yang disebutkan di sini sekadar menegaskan adanya kecenderungan baru dalam drama di Indonesia tahun 1970-an itu. Bip-Bop dan Mastodon karya Rendra. misalnya. Topeng (1972). Gaya seperti ini banyak mempengaruhi para penyair yang kemudian. Rang Gni. antara lain. Sapardi Djoko Damono juga banyak memanfaatkan pola puisi naratif dalam hampir semua antologi puisinya. pertama kali dilontarkan Abdul Hadi WM dalam serangkaian artikelnya yang dimuat di lembar ³Dialog´ harian Berita Buana. Ia pada dekade 70-an itu sebenarnya menulis beberapa naskah drama. Taipe.dari naskah yang ditulisnya sendiri. Yasadipuro I. Raja Ali Haji. Naskahnaskah dramanya sekadar dipentaskan dan tidak dipublikasikan dalam bentuk terbitan buku. 15 Pembicaraan yang cukup mendalam mengenai drama kontemporer yang muncul tahun 1970an dilakukan Goenawan Mohamad. apakah termasuk sastra Indonesia atau sastra Jawa. antara lain. Zaman Kalong. maupun para penyair dari wilayah Nusantara. Linus juga begitu banyak menggunakan kosa-kata Jawa. Byurrr! Tok Tok Tok. merupakan contoh puisi naratif yang panjang (192 halaman). Belakangan. 1980. 91²148. sehingga diperlukan lampiran Daftar Kosa Kata Jawa²Indonesia setebal hampir 50 halaman (halaman 193²238). di Manila. Jakarta: Pustaka Firdaus. Kuala Lumpur. Sastra. Seperti Rendra. seperti Hamzah Fansuri. 1985) merupakan salah satu usaha Abdul Hadi dalam mengangkat karya-karya penyair sufi. Nama-nama lain tentu masih berderet panjang. Gusti. baik para penyair yang berasal dari Asia Barat. Arifin C. Dalam karya ini. Perahu Kertas (1983). dan Topeng Kayu. antara lain. Kuntowijoyo (18 September 1943²22 Februari 2005). Ssst!!!. Saat-Saat Drum band Mengerang-ngerang (1973). Dari 20-an naskah drama lainnya yang sudah dipentaskan tetapi belum diterbitkan. Tasawuf yang Tertindas: Kajian Hermeneutik terhadap Karya- . Agung. dan beberapa kota di Amerika. 17 Abdul Hadi WM. hlm. Ia kemudian begitu gencar memperkenalkan ±dan menerjemahkan² khazanah sastra sufi berikut pemikiran dan estetika para penyairnya. Itulah yang terjadi pada banyak penulis drama di Indonesia. prosa yang dibangun seperti puisi yang mengingatkan kita pada bentuk syair atau hikayat dalam sastra lama. seperti Hujan Bulan Juni (1994). 16Pengakuan Pariyem (1981) karya Linus Suryadi AG. hlm. seperti dalam antologi DukaMu Abadi (1969). Linus Suryadi sendiri menyebutnya sebagai prosa lirik. sampai ke antologi puisinya yang belakangan. Kecuali Topeng Kayu (2001). Antologi puisi Sastra Sufi (Jakarta: Pustaka Firdaus. Mata Pisau (1974).36²46. sebelumnya banyak dilakukan Ajip Rosidi (Jante Arkidam) dan Ramadhan KH (Priangan si Jelita).´ Kembali ke Akar Kembali ke Sumber. Bukhari Al-Jauhari. Sebut misalnya. Ikranagara juga telah mementaskan karya-karyanya di berbagai kota di luar negeri. Kita. Singapura. Arloji (1999). 1999. Para Narator. misalnya. Bukunya yang lain. Barda. 18 Istilah sastra sufi ±sering juga dipakai istilah sastra sufistik²yang kemudian menjadi wacana perdebatan pada dekade tahun 1970-an itu. seperti Rumput-Rumput Danau Bento. Banyak pula pembaca dan pengamat sastra Indonesia yang mempertanyakan tempat Pengakuan Pariyem dalam sastra Indonesia. Noer. ³Sastra Transendental dan Kecenderungan Sufistik Kepengarangan di Indonesia. Ronggowarsito sampai ke Amir Hamzah. Jakarta: Sinar Harapan. Sihir Hujan (1984).

Budiman S. cerpen. Zawawi Imron. novel-novel itu sesungguhnya tidak dapat . bentuknya yang kecil seperti buku saku (pocketbook). istilah sastra sufistik digunakan juga Danarto. dan Taufiq Ismail. hlm. Sutardji Calzoum Bachri. sastra transendental (diperkenalkan Kuntowijoyo dalam Temu Sastra 1982 di Taman Ismail Marzuki). Leon Agusta. Kuntowijoyo. Karena harganya yang murah itu. Slamet Sukirnanto. 23 Pada dasawarsa 1950-an. sastra dzikir. ia dipersamakan dengan nilai uang terkecil. Sides Sudyarto DS. Nurcholis Madjid. 22 Salah satu faktor yang mendorong didirikannya Komisi untuk Bacaan Sekolah Pribumi dan Bacaan Rakyat (1908) justru lantaran munculnya bacaan-bacaan hiburan yang diterbitkan pihak swasta. buku-buku sejenis itu ± yang umumnya mengangkat tema-tema percintaan²disebut roman picisan. Kapak. Apip Mustopa. pihak pemerintah kolonial Belanda menyebut bacaan yang diterbitkan di luar Balai Pustaka (swasta) sebagai ³bacaan liar. sastra profetik. novel. Satu bentuk penghinaan terhadap buku-buku sejenis itu. 1981. ³Sastra sebagai Amal Shaleh. Dari sana lahir istilah-istilah sejenis. O. Hartoyo. Ali Audah. 13²14. cetakan yang agak buruk. Pembicaraan yang cukup luas mengenai buku-buku hiburan sejenis itu ditulis R. menjadikan buku-buku sejenis itu dijual dengan harga murah. Kemasannya yang sederhana. yaitu picis. Jepang. cukup banyak diminati masyarakat luas. Hamid Jabbar. 21 Pada dekade tahun 1970-an itu dan kemudian berlanjut pada dasawarsa berikutnya. Ibrahim Sattah. Estetika. sastra dzikir (diperkenalkan Taufiq Ismail dalam Catatan Kebudayaan. Roolvink. dan Religiusitas (2004) adalah usaha serius Abdul Hadi dalam memperkenalkan sastra sufi. Sutardji Calzoum Bachri dalam kaitannya dengan pemikiran tasawuf dalam sastra. Amuk. 24 Kebanyakan masyarakat memandang novel-novel sejenis itu secara apriori yang dikaitkan dengan masalah pornografi. bacaan-bacaan hiburan terutama terbitan Medan. Jika dicermati serius.´ Mereka yang menerbitkan dan menjual buku-buku terbitan pihak swasta itu disebut sebagai ³saudagar kitab yang kurang suci hatinya. Belakangan. sastra sufistik. ia juga banyak memperkenalkan (dan menerjemahkan) khazanah sastra Timur.´ Pokok dan Tokoh. wacana tentang sastra sufi tidak hanya semarak dalam perdebatan konsep-konsep. Ikranagara. Para penyair yang coba mengangkat tema-tema tasawuf. Djakarta: Jajasan Pembangunan. ³Roman Pitjisan. dan sastra Islam yang makna dan cakupannya lebih luas. Setelah lembaga itu berganti nama menjadi Balai Pustaka (1917). Sementara itu. Jakarta: Sinar Harapan. No. 6 Juni 1984 ). D. 20 Hal yang sama kemudian juga dilakukan Ibrahim Sattah (1943²19 januari 1988) sebagaimana tampak dalam tiga antologi puisinya. dan sastra transendental. Tentu saja masih banyak nama yang tercecer yang sebenarnya pernah berkiprah pada periode itu. seperti sastra profetik. tetapi juga muncul dalam banyak puisi. dan India.Karya Hamzah Fansuri (2001) dan Hermeneutik. Dandandid (1975). Abdul Hadi WM. dan Hai Ti (1981).´ Horison. dapatlah disebutkan beberapa di antaranya. seperti istilah sastra sufi. Fudoli Zaini.´ Satu ungkapan yang jelas bermaksud memarginalkan karya-karya sastra terbitan pihak swasta. Oleh karena itulah. 19 Sutardji Calzoum Bachri. Ibrahim (1980). 1953. Emha Ainun Nadjib. dan kertasnya yang berkualitas rendah. dan drama. terutama Cina.

ia kembali menulis karya-karya serius. hlm. pandangan masyarakat terhadap novel populer.. Magelang: Indonesia Tera. Sri Rahayu Prihatmi. Jadi. 2001. 48 views. dan Yudiono K. Tetapi. Kategori: Makalah. Puisi Mbeling: Kitsch dan Sastra Sepintas. 93. Jassin. 239 views. Motinggo Boesje tercatat sebagai novelis Indonesia paling produktif. Itupun tak digambarkan secara vulgar. Sementara itu. MENATAP MASA DEPAN (8 October 2010. Sejauh pengamatan. ³Beberapa Penyair di Depan Forum´ (hlm. ia termasuk sastrawan Sunda yang menghasilkan novel-novel yang bagus dalam bahasa Sunda. Pengadilan Puisi. 27 Dua artikel yang dimuat Budaya Jaya. Terlepas dari persoalan populer atau tidaknya novelnovel yang ditulisannya tahun 1970-an. Ibid. 1 respon) HUBUNGAN BUDAYA MELAYU MELALUI TEATER (8 October 2010. Soedjarwo. 1986. Sanu. belum ada sastrawan Indonesia yang menghasilkan novel sebanyak Motinggo Boesje.S. Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan. Iskandar dalam sastra Indonesia memang dikenal sebagai penulis sastra populer.B. Jakarta: Gunung Agung. Eddy D.´ (hlm. terutama karya-karya Motinggo Boesje yang dikaitkan dengan pornografi dan menudingkan karya-karyanya sebagai novel porno. novel. tidak jelas dan Brengsek!´ (Jawaban atas pengadilan puisi) dalam Pamusuk Eneste (Ed..). Infinita Kembar (1985) ±menurut pandangan H. Memasuki tahun 1990-an. Makalah 2008 | Tags: sejarah sastra Tulisan lain yang berkaitan: ANGKATAN SASTRA 2000: MENENGOK MASA LALU. Di dalam novel-novel itu. belakangan juga menulis novel-novel serius. IX. Sekitar 200-an novel telah dihasilkannya. Kerudung Merah Tirmizy (2002) terpilih sebagai pemenang Khatulistiwa Award.B.begitu saja dimasukkan ke dalam karya pornografi. 65²85) dan Saini K. ³Penyair-Penyair Muda Jakarta. 0 respon) . dalam kesusastraan Sunda. Jassin dan Abdul Hadi WM²termasuk sebagai novel sufistik. Th. Bahkan salah satu novelnya. Bahkan novelnya. 29 Pamusuk Eneste (Ed. sejauh pengamatan. 26 Lihat Sapardi Djoko Damono. 86²98) memberi gambaran cukup baik mengenai puisi-puisi Mbeling atau puisi lugu yang dimuat majalah Aktuil dan majalah Top. Jakarta: Gramedia. masalah seks sekadar bumbu. Remy Sylado. No.). 1983. tidaklah seluruhnya benar. ³Saya Mendakwa Kehidupan Puisi Indonesia Akhir-Akhir ini tidak sehat. yang ditulis H. Februari 1976.M. 28 Slamet Kirnanto. 89²97. Periksa juga. 25 Motinggo Boesje pada awal kepengarangannya banyak menulis karya sastra serius (drama. dan cerpen).

COM http://mahayana-mahadewa. 0 respon) Tulisan berjudul "ANGKATAN 70-AN: KEMBALI KE TRADISI" dipublikasikan oleh Maman S. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2. 42 views. Mahayana (Saturday.com/2010/09/11/angkatan-70-an-kembali-ketradisi/#ixzz176uIbiO4 Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial Share Alike . 11 September 2010 (14:32)) pada kategori Makalah.0. Makalah 2008.DUNIA MELAYU: TANTANGAN DAN PROSPEKNYA DI MASA DEPAN (11 September 2010. 124 views. Sumber: ANGKATAN 70-AN: KEMBALI KE TRADISI » MAHAYANAMAHADEWA. atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. 0 respon) SASTRA ACEH: SEBUAH PERJALANAN PANJANG (11 September 2010. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->