Latar Belakang Lahirnya Angkatan 70-an

Posted on 18 Juni 2010 by kenkubela 0

1. Latar Belakang Lahirnya Angkatan 70-An Munculnya angkatan 70-an karena adanya pergeseran sikap berpikir dan bertindak dalam menghasilkan wawasan estetik dalam menghasilkan karya sastra bercorak baru, baik di bidang puisi, prosa maupun drama. Pergeseran ini mulai kelihatan setelah gagalnya kudeta G30 S/PKI. Dalam periode 70-an pengarang berusaha melakukan eksperimen untuk mencoba batas-batas berupa kemungkinan bentuk baik prosa, puisi drama semakin tidak jelas. 2. Siapa saja yang memberi nama dan berdasarkan peristiwa apa Yang memberi nama angkatan 70-an yaitu: a) Hadi W.M, dan b) Dami N. Toda Berdasarkan pergeseran sikap berfikir dan bertindak dalam menghasilkan wawasan estetik dalam menghasilkan karya. 3. Siapa saja sastrawan dan hasil karya sastra mereka? Sastrawan tahun 1970-an atau angkatan 70-an, berdasarkan karya-karya yang dihasilkannya, dapat dibagi menjadi 3 kelompok, antara lain: 1. Kelompok pertama yaitu mereka yang termasuk angkatan 66 atau yang telah berkarya pada tahun 1960-an, telah mulai makin matang pada tahun 1970-an. Yang termasuk sastrawan dari kelompok ini, antara lain: 1) Abdul Hadi W.M Karangannya: - Laut Belum Pasang (kumpulan sajak, 1971) - Cermin (kumpulan sajak, 1975) - Potret panjang seorang pengunjung pantai sanur (kumpulan sajak 197) - Meditasi (kumpulan sajak, 1975). 2) Supardi Djoko Damono Karangannya: - Dukamu Abadi (Kumpulan sajak, 1969) - Mata Pisau (Kumpulan sajak, 1974) - Akuarium (Kumpulan sajak, 1974) - Sosiologi, sastra (1978) - Novel Indonesia Sebelum Perang (1979) 3) Goenawan Muhamad Karangannya: - Lautan Bernyanyi (Drama, 1967) - Bila malam bertambah malam ( Novel, 1971) - Telegram (Novel, 1974) - Dadaku adalah perisaiku (kumpulan sajak, 1974)

- Anu (Drama, 1975) - Aduh (Drama, 1975) - Pabrik (Novel, 1976) - Dag Dig Dug (1977) - Stasiun (Novel, 1977) - MS (Novel, 1977) - Tak Cukup Sedih (Novel, 1977). 4) Umar Kagam Karangannya: - Seribu kunang dan kunang di mahatta (Kumpulan cerpen, 1972) - Sri Sumarak dan Buluk (Kumpulan cerpen, 1975) - Totok dan Toni (Cerita anak-anak, 1975) - Seni, tradisi, masyarakat (kumpulan esei, 1981) 5) Leon Agusta Karangannya: - Catatan putih (Kumpulan sajak, 1975) - Di bawah bayang-bayang sang kekasih (novel, 1978) - Hukla (Kumpulan sajak, 1979) 6) Gerson Poyk Karangannya: - Hari-Hari Pertama (Novel, 1968) - Sang Guru (Novel, 1971) - Jerat (Kumpulan Cerpen, 1975) - Mutiara di Tengah Sawah (Kumpulan Cerpen, 1984) - Nostalgia Nusa Tenggara (Kumpulan Cerpen, 1976) - Cumbuan Sabana (Novel, 1979) 2. Kelompok Kedua, yang karya-karyanya baru muncul tahun 1970-an. Yang termasuk sastrawan golongan ini antara lain: 1) Korrie Layun Rampan Karangannya: - Matahan pinsan & ubun-ubun (kumpulan sajak, 1974) - Upacara (Novel, 1978) - Kekasih (Kumpulan Cerpen, 1981) - Dst 2) Entha Ainun Nadjib Karangannya: - ³M´ Frustasi (kumpulan sajak, 1976) - Nyanyian Gelandangan (Kumpulan Sajak, 1981) 3) Hamid Jabbar Karangannya: - Paco-Paco (Kumpulan Sajak, 1974) - Dua Warna (Kumpulan Sajak Bersama Upita Agustina, 1975) 4) Toen Herarti Karangannya: - Sajak-Sajak 33 (Kumpulan Sajak, 1973) 5) Putu Arya Tirtawirya

Nama Saya Ari (Novel. 1977) 7) Arswendo Atmowiloto Karangannya: . 1976) c) dst 2) Putu Wijaya Karnyanya: a) Bila Malam Bertambah Malam (Novel. 1971) b) Dadaku Adalah Perisaiku (Kumpulan Sajak. 1980) 6) Adri Darmadji Woko Karyanya: a) Boneka Mainan (Kumpulan Sajak. 1972) 6) Linus Suryadi Karyanya: .Perang Troya (Cerita Anak-Anak. 1972) .Pasir Putih Pasir Laut (Kumpulan Cerpen. 1972) . 1977) 3) Kuntowijoyo Karyanya: a) Tidak Ada Waktu Untuk Nyonya Fatma. 1971) b) Selamat Pagi Jajang (Kumpulan Sajak. 1978) 3. 1973) . 1972) b) Isyarat (Kumpulan Sajak. 1974) . yang termasuk dalam golongan ini antara lain: 1) Aritin C. Kelompok ketiga. 1976) . 1980) b) Olenka (Novel. 1975) b) Ibrahim (Kumpulan Sajak. 1972) 4) Budi Darma Karyanya: a) Orang-Orang Bloongminton (Kumpulan Cerpen. 1983) 5) Ibrahim Sattah Karyanya: a) Daudandit (Kumpulan Sajak. mereka yang menghasilkan karya-karya dengan kecenderungan melakukan bentuk-bentuk ekspenmentasi. 1976) .Bayang-Bayang Baurl (Drama. 1985) 7) Darmanto Jatman Karyanya: a) Bangsal (Kumpulan Sajak. 1976) c) Pasar (Novel. 1974) c) Tak Cukup Sedih (Novel.Surat dengan sampul putih (Kumpulan Cerpen. Berada dan Cartas (Drama. Noer Karyanya: a) Sumur Tanpa Dasar (Drama.Pan Balang Tamak (Cerita Anak-Anak.Malam Pengantin (Kumpulan Cerpen.Karangannya: . 1975) .Langit Kelabu (Kumpulan Sajak.Penantang Tuhan (Drama.

adalah beberapa nama yang menonjol mengangkat tradisi kulturalnya. Artinya. Peristiwa-Peristiwa Penting Yang Terjadi Dalam Angkatan 70-an! Tahun 1970-an kembali dikejutkan kembali oleh pembaru yang lain yakni Sukardji Calzoum Bachri. Puisi tahun 1970-an cenderung lebih mementingkan ekspresi untuk mendukung tema yang hendak disampaikan. Akibatnya peristiwa itu seolah-olah tidak jelas lagi. pemerataan itu dapat dilangsungkan dimana saja. disajikan secara tumpang tindih. Sutardji Calzoum Bachri 2. dapat memajukan peran dua tokoh atau lebih. Peristiwa yang dihasilkan oleh lakuan dan pikiran. 5. Putu Wijaya dan Kuntowijoyo. Putu Wijaya. Karena sajak-sajak Sutardji ³lain´ dari sajak Indonesia sebelumnya. sama sekali diabaikan. Jenis Karya Sastra Yang Dominan Karya sastra yang paling dominan angkatan 70-an yaitu Puisi (sajak). Agar lebih jelas ³pembaruan´ seperti apa yang dibawakan Sutardji mengenai puisi. Kumpulan cerpen Godlob. panggung tidak lagi menjadi penting. hewan. maka dalam sebagian naskah drama yang muncul tahun 1970-an itu. Adji Darmadji Woko 4. yaitu drama yang sengaja lebih mementingkan lakuan darripada dialong. tanaman atau bendaZ dan binatang apapun. bisa saja menjadi tokoh dan berdialog dengan tokoh utama. Rendra dan Ikranegara. Kuntowijoyo. karena: Tokoh yang muncul bisa apa saja (air. dapat diwakili oleh karya-karya Arifin C Noer. b) Untuk cerpen. gencar pula kecenderungan untuk menggali akar tradisi kultural tempat penyair itu lahir dan dibesarkan. sebagaimana tertuang dalam ³Kredo Puisi´.Yudhistira Ardi Noegraha Karyanya: a) Arjuna Mencari Cinta (Novel. ikatan pada bait dan larik. Ciri-ciri yang menonjol dari ekspermentasi yang diperlihatkan dari karya-karya yang muncul tahun 1970-an dapat disebut beberapa diantaranya: a) Untuk Nove dapat diwakili oleh Karya Iwan Sumatupang. Ibrahim Sattah 3. Misalnya: 1. . batu. d) Untuk Puisi. bentuk eksperimentasi cerpen Indonesia tahun 1970-an. Bahkan. latar tempat dan materialnya yang serba jelas dan konkret. a. Selain itu. yang merupakan unsur-unsur intrinsik yaitu: 1) Tema. Putu Wijaya. juga memungkinkan bagi seseorang pemalu. Lebih khusus lagi cerpen-cerpen Danarto. Ciri khas yang lainnya lagi adalah lepasnya keterikatan pada panggung jika pada naskah-naskah drama sebelumnya. dapat diwakili oleh karya-karya Danarto. 1977) b) Penjarakan Aku Dalam Hatimu (Kumpulan Cerpen. Ciri yang menonjol Dalam hal ini. c) Untuk Drama. mengangkat masalah keterubingan manusia dan kehidupan yang absurd (tidak masuk akal) 2) Identitas tokoh menjadi tidak penting 3) Latar tempat dan latar waktu. Ciri khas yang menonjol dari karya mereka. dapat berlaku dimana saja 4) Alur. tampil dengan drama mini kata. Darmadji Woko. identitas tokoh yang tidak jelas. tidak lagi menekankan hubungan sebab akibat (kausalitas). dapatlah mewakili. 1979) 4.

maupun kemampuan penyair-penyair senior. munculnya ³Puisi Inbeling´ sebagai ³pemberontakan´ kalangan muda terhadap kemajuan. Majalah Horison tidak mampu menampung puisi yang dikirimkan kepadanya. Lelaki itu takut menerima telegram. bibinya si lelaki atau Ibu kosnya si lelaki. yang sering diganti-ganti si lelaki.Sosiologi karya sastra (menyangkut baik dan buruknya) 7. karena dia menganggap bahwa isi telegram selalu hal-hal yang menakutkan: sakit. antara lain : dari Telegram (Novel. Latar (Setting) Cerita ini berlatar belakang cerita masyarakat Bali dengan segala adat istiadatnya.Psikologis (Si lelaki mengalami krisis kejiwaan antara kenyataan dan khayalan yang menyatu dalam dirinya).Kebudayaan (adat-istiadat) .Aliran naturalisme Pelukis menggambarkan secara alami Itulah sebabnya. Unsur-unsur ekstrinsik. Karena disamping majalah budaya Jaya dan Basis. adalah seorang pemuda Bali yang merantau ke Kota Metropolitan Jakarta.Aliran Absurd abstrak / tidak jelas . seorang wanita jalanan yang miskin. kata-kata saya biarkan bebas´. 6. ³Pemberontakan´ itu pun terlihat kembali dalam pengadilan puisi pada tahun 1974.Kutipan beberapa bagian dan ³kredo puisi´ ³Dalam (penciptaan puisi. minat untuk menjadi penyair begitu besar. 3) Ibu kandung Sinta. Dipihak lain.Sosial . terutama yang malapetaka b. yakni Majalah Horison. anak gadis kecil.Perekonomian .. 1974) Karya Putu Wijaya. a. Munulnya ³Puisi mbeling´ ada kaitannya dengan majalah sastra Horison. Setting tempatnya adalah sebuah kota metropolitan. Aliran-Aliran Sastra yang terdapat pada angkatan 70-an: .Aliran Romantisme ungkapan perasaan yang berlebih-lebihan . para pendukung ³Puisi Inbeling´ adalah dari kaum muda dan mereka yang baru mulai menulis puisi namun ingin cepat tampil ke permukaan. c. dsb.Ekspresionisme luapan perasaan . latar Posted in: Tugas/Makalah . Dengan kata lain. Ditandai:70-an. d. malapetaka. dst ««. Tema Masalah ketakutan manusia modern tentang suatu telegram. antara lain: . anak angkat Si Lelaki.Aliran Realisme berdasarkan kenyataan . saya. Unsur-Unsur Intrinsik. lahirnya. kematian. Akibatnya. baik kemampuan Majalah Horison. 5) Rosa. belakang. karena sudah menjadi kebiasaan umum bahwa isi telegram selalu hal-hal yang luar biasa. tahun 70-an hanya ada satu majalah sastra. 2) Sinta. angkatan. . 4) Nurma. kekasih impian si lelaki 6) Sang bibi. seorang pelacur murahan. Tokoh-tokohnya: 1) Si Lelaki.

telah ikut mendorong lahirnya semangat berkreasi dan keberanian untuk melakukan eksperimentasi. Jassin dimasukkan ke dalam Angkatan 66.B. hanya ada tiga angkatan yang melandasi penamaannya atas dasar semangat atau gerakan estetik. Sejak tahun 1968. periodesasi atau angkatan. sastrawan tahun 1970-an. dan terutama paroh pertama tahun 1970-an. dapat dibagi ke dalam tiga kelompok. berdasarkan karya-karya yang dihasilkannya.(Konsep Estetik Abdul Hadi WM tentang Angkatan 70-an)* Maman S Mahayana* Dalam perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia. Selalu ada usaha untuk merumuskan semangat yang melatarbelakanginya atau gerakan estetik yang mendasari karya-karya yang muncul sejalan dengan semangat zamannya. Jadi. Semangat kebebasan berekspresi itu dimungkinkan oleh beberapa faktor berikut: (1) pudarnya pengaruh politik dalam kesenian. tetapi mulai makin matang pada tahun 1970-an. bahkan sudah sejak dasawarsa tahun 1950-an. justru makin memperlihatkan kematangannya.1 menurut hemat saya. telah menghilangkan tekanantekanan psikologis yang justru sangat penting bagi proses penciptaan karya seni. sekaligus memungkinkan lahirnya sastrawan-sastrawan baru. ikut menciptakan suasana bagi lahirnya karya-karya yang lebih berbobot. majalah Sastra ±yang kemudian menghentikan penerbitannya akibat kasus cerpen ³Langit Makin Mendung´² dan Budaya Jaya yang memberi tempat bagi karya-karya eksperimental.6 Pada masa itu. bermunculanlah karya sastra yang memperlihatkan semangat kebebasan berkreasi. Pertama. yaitu adanya semangat kebebasan berekspresi. Penolakan para seniman terhadap campur tangan politik dalam wilayah kesenian. Sementara itu. mereka yang termasuk Angkatan 66 atau yang telah berkarya pada dasawarsa tahun 1960-an. (5) terjadinya pergeseran orientasi sastrawan dalam memandang tradisi budaya tempatan memberi kemungkinan yang lebih luas bagi para sastrawan dalam melakukan eksplorasi estetiknya. dalam tahun 1970-an itu. Dari sejumlah penamaan tentang angkatan atau periodesasi itu. dan lebih khusus lagi. kelompok ini dapat disebut sebagai sastrawan senior mengingat kiprah mereka yang memang sudah dimulai tahun-tahun sebelumnya. berbagai karya eksperimental seperti memperoleh lahan yang subur dan momentum yang baik. yaitu Pujangga Baru. (2) penerbitan kembali sejumlah majalah dan suratkabar yang independen dan menyediakan rubrik sastra. Jika disederhanakan. memungkinkan sastrawan punya banyak pilihan untuk mengirimkan karya-karyanya ke berbagai media massa itu tanpa pretensi adanya faktor di luar sastra. nama-nama yang oleh H. Yang termasuk kelompok sastrawan dari .3 dan sastrawan yang muncul pasca-Angkatan 66.2 Angkatan 45. (4) berdirinya Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang didukung sepenuhnya oleh Pemerintah DKI Jakarta. Maka. Penyebutan itu tentu saja tidak serta-merta muncul begitu saja. 4 yaitu Angkatan 70-an.5 Sastrawan yang muncul pasca-Angkatan 66. Karya-karya eksperimental itu mencakupi semua ragam sastra (puisi. (3) terbitnya majalah Horison. kesusastraan. kita mengenal adanya sejumlah penyebutan tentang penggolongan. tidak sedikit pula yang memperlihatkan semangat kebebasan itu yang diejawantahkan dalam bentuk karya-karya eksperimental. novel dan cerpen. dan drama). di antara karyakarya yang konvensional yang terbit tahun 1970-an. seperti menghadapi kegelisahan yang sama tentang situasi kesusastraan²dan kebudayaan²pasca Tragedi 1965.

Dini. Nasyah Djamin. Dilihat dari kecenderungan karya-karya mereka. Ikranagara. Dalam seni tari dan teater tampak dalam karya Sardono W. Poppy Hutagalung. Putu Wijaya. Mereka tidak berpretensi kedaerahan walaupun sadar mengambil unsur tradisi daerah. Iwan Simatupang. Rayani Sriwidodo. Putu Arya Tirtawirya. Leon Agusta. mereka yang menghasilkan karya dengan kecenderungan melakukan eksperimentasi. Zawawi Imron. ada yang sudah berkarya sejak tahun 1960-an. Husni Djamaludin. Aspar Paturusi. Taufiq Ismail. Abrar Yusra. Akhudiat. yang menyikapi tradisi dengan begitu kreatif untuk keperluan inovasi. Di antaranya. Saini KM. Minangkabau. corak pendekatan dan sikap terhadap tradisi itu dapat dibagi ke dalam tiga kelompok kecenderungan: 1. Kuntowijoyo. Budiman S. Sri Rahayu Prihatmi. Rendra.golongan ini antara lain. Marianne Katoppo. Mahbub Djunaidi. N. dan Yudhistira ANM Massardi. Mereka yang mengambil unsur-unsur budaya tradisional untuk keperluan inovasi dalam pengucapan. Mereka melihat bahwa dalam tradisi terdapat unsur-unsur dan aspek-aspek yang relevan bagi pandangan hidup manusia mutakhir. Yang termasuk sastrawan golongan ini. Umar Kayam. Hartojo Andangdjaja. Adri Darmadji Woko. Linus Suryadi AG. mereka yang karya-karyanya baru muncul tahun 1970-an. Korrie Layun Rampan. Emha Ainun Nadjib. Buddha. Subagio Sastrowardojo. Sanento Yuliman. Abdul Hadi WM. M. Mereka yang mengklaim menumpukan perhatian hanya terhadap satu budaya daerah saja seperti Jawa. Ketiga. Diah Hadaning. Yang termasuk ke dalam golongan ini. Toeti Herati Noerhadi.H. Rachmat Djoko Pradopo. ada semangat yang sama yang menjadi landasan dan wawasan estetiknya. antara lain. antara lain. dan Wing Kardjo. Arifin C. Ibrahim Sattah. Darmanto Jatman. Arswendo Atmowiloto. Melayu Riau. Putu Wijaya. Sori Siregar. dan Sutardji Calzoum Bachri. M. dan Ikranagara. Ragil Suwarna Pragolapati. Kedua. Satyagraha Hoerip. ada pula yang kemunculannya pada tahun 1970-an itu. Arifin C Noer. . D.S. Hamid Jabbar. Abdul Hadi menyebutkan karya-karya dari sejumlah sastrawan sebagaimana yang terlihat dalam kutipan berikut ini: Kecenderungan pertama. Sapardi Djoko Damono. Danarto. Wildam Yatim.7 Berdasarkan ketiga kecenderungan itu. Noer. 3. Seno Gumira Ajidarma. Frans Nadjira. Para penulis kecenderungan ini berkarya dengan maksud memberi corak khas kedaerahan terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia. Arifin C. Sutardji Calzoum Bachri. Goenawan Mohamad. Sapardi Djoko Damono. Rendra. Mereka yang mengambil tradisi langsung dari bentuk-bentuk spiritualitas dan agama tertentu dengan kesadaran bahwa tradisi dan budaya masyarakat Indonesia terbentuk berkat masuknya beberapa agama besar. seperti Hindu. dan Islam. Titis Basino. 2. Darmanto Jatman. Fudoli Zaini. Ediruslan PE Amanriza. Iman Budhi Santosa. Menurut Abdul Hadi WM. Kusumo. khususnya irrasionalisme yang ternyata mendapat perhatian kaum eksistensialis dan penganut aliran sastra absurd. W. Noer. Mohammad Diponegoro. dan Wisran Hadi. Sides Sudyarto DS. Hartoyo. Slamet Sukirnanto. dapat dilihat pada karya-karya Goenawan Mohamad. Gerson Poyk. Sunda dan lain-lain. yaitu semacam kerinduan untuk menggali nilai-nilai tradisi masa lalu budaya leluhur. Th.

seperti dikatakan Dami N. Danarto. tak ada lagi slogan cinta tanah air. peristiwa itu seperti tidak jelas lagi . juga Sutardji Calzoum Bachri (dalam tahap akhir perkembangan kepenyairannya). Taufiq Ismail. intelektual. ada kecenderungan lain yang mencolok.Kecenderungan kedua dalam sastra dapat dilihat dalam karya-karya Nh. yang kemudian melahirkan kemungkinankemungkinan baru sebagai hasil dari proses interaksi dengan kehidupan sosial. dan mulai menerima improvisasi dan anti-rasionalisme. Akibatnya. Subagio Sastrowardojo. Kecenderungan ketiga. Latar tempat dan latar waktu juga tidak mengacu pada tempat dan waktu tertentu. Abdul Hadi WM. Kecenderungan yang lain tampak dari kesadaran sastrawan tahun 1970-an itu yang mulai menolak realisme formal.11 Alasan utama yang menjadi pemikiran Abdul Hadi menyebut sastrawan periode itu sebagai Angkatan 70 didasari oleh adanya semacam gerakan sastra yang membawa ciri baru dan perbedaan yang mencolok dengan ciri gerakan sastra sebelumnya. dapatlah disebutkan beberapa di antaranya. bahkan menambahkan. sikap hidup pengarang.12 memperlihatkan adanya kesamaan tema yang mengangkat masalah keterasingan manusia modern dan kehidupan yang absurd. Kuntowijoyo. pensiunan dan beberapa nama jabatan atau status sosial yang bisa berlaku untuk siapa saja. selain anti-intelektualisme dan anti-rasionalisme. Putu Wijaya. Ahmad Tohari. dan Budi Darma. Jadi. Atas dasar itulah. M. tak ada lagi semboyan seni untuk rakyat atau seni untuk seni. Ibrahim Sattah. humanisme universal atau pertentangan Timur²Barat. sehingga dapat berlaku di mana dan kapan saja..9 Bagi Abdul Hadi WM. Pada karya-karya sastrawan tahun 1970-an itu. Wisran Hadi. Umar Kayam. semangat dan orientasi kebudayaannya. « Kebanyakan dari mereka melihat tradisi sebagai produk sejarah yang bentuk-bentuknya sukar diubah dan merupakan ciri khas budaya masyarakat tertentu yang mungkin tak dimiliki suku bangsa lain. ada kesadaran dan semangat yang sama yang tampak dari karya-karya sastrawan tahun 1970-an itu berkenaan dengan wawasan estetik. dalam novel-novel tahun 1970-an itu tidak lagi berlaku.´ Ciri-ciri yang mencolok dari eksperimentasi yang diperlihatkan karya-karya yang muncul dasawarsa 1970-an itu.G. seolah-olah peristiwa itu datang saling menyergap. Identitas tokoh menjadi tidak penting yang ditandai dengan penamaan Tokoh Kita (dalam novel-novel Iwan Simatupang) atau cukup disebutkan lelaki setengah baya. buruh pabrik. Alur yang dalam novel konvensional selalu harus didasari pada rangkaian peristiwa yang mempunyai pertalian hubungan sebab-akibat (kausalitas). Fudoli Zaini.. Zawawi Imron.8 Darmanto Jt. Untuk novel yang dapat diwakili oleh karya Iwan Simatupang. ³Jadi. Dini. Peristiwa yang dihasilkan lakuan dan pikiran disajikan seketika secara serempak. Kuntowijoyo.10 munculnya ³kesadaran baru´ dan ³wawasan estetik baru´ itu menunjukkan adanya perbedaan yang tajam dengan semangat dan wawasan estetik seperti yang terdapat pada karya-karya periode sebelumnya. Segala peristiwa bisa tumpang-tindih tak ada hubungan sebab-akibatnya (kausalitas). Linus Suryadi A. Toda adalah antislogan. Abdul Hadi WM menamakan sastrawan periode itu sebagai Angkatan 70 dalam sastra Indonesia. pangkal-tolaknya adalah karya-karya yang merintis pembaharuan. D. Ciri lainnya. yaitu adanya penjelajahan terhadap mistisisme dan tasawuf. penjaga kuburan. walikota. dan spiritual lingkungan dan zamannya. moral. dan lain-lain. Emha Ainun Nadjib. yang menghubungkan diri dengan sumber-sumber agama dan bentukbentuk spiritualitas agama tampak dalam karya-karya Danarto. pandangan.

lazimnya sangat terikat pada panggung. Akibatnya. Yang sangat kuat mengungkapkan warna lokal budaya Jawa tampak pada cerpen-cerpen Umar Kayam. perasaan.14 Ciri khas yang menonjol dari karya mereka adalah terbukanya peluang bagi para pemain untuk melakukan improvisasi. Putu Wijaya. Jadi. Ada inovasi (pembaruan) dan pemberontakan terhadap wawasan estetik cerpen-cerpen periode sebelumnya. Model novel-novel yang seperti inilah yang kemudian disebut sebagai novel arus kesadaran (stream of conciousness). pemain juga dituntut kreatif memanfaatkan momen-momen tertentu untuk mengekspresikan potensi permainannya.juntrungannya. Rendra tampil pula dengan drama Bip-Bop. mengingat identitas tokoh sengaja dibuat tidak jelas. seperti ketoprak (Jawa Timur). naskah itu harus sangat mempertimbangkan tata letak panggung berikut properti lainnya. tokoh yang ditampilkan. Bahkan. dan ketika pemain mempunyai kesempatan untuk mengembangkan ekspresinya. panggung tidak lagi menjadi penting. karena di sana yang dipentingkan adalah lakuan. ada pula naskah drama yang penulisannya bersamaan dengan proses latihan. dapatlah kiranya diwakili oleh karya-karya Danarto. bisa saja menjadi tokoh yang juga dapat berdialog dengan tokoh lain. dapat diwakili oleh karya-karya Arifin C. Jelas bahwa dramawan Indonesia pada dasawarsa tahun 1970-an itu. tidak perlu sangat bergantung pada kostum tertentu. sementara karya-karya Putu Wijaya yang cenderung menampilkan serangkaian teror mengangkat tema-tema keterasingan manusia perkotaan. Rendra. tetapi juga menyerap unsur drama tradisional yang banyak terdapat di Nusantara ini. maupun cara penyajiannya. Begitulah. baik yang menyangkut tema cerita. Dalam hal ini. atau benda dan binatang apapun. Dalam hal ini. tidak hanya menyerap pengaruh drama kontemporer Barat. sedangkan kumpulan cerpen Kuntowijoyo dan Fudoli Zaini mengedepankan tema-tema sufistik. Dengan begitu. Naskah drama itu ditulis dengan kesadaran bahwa pementasan itu dapat dilangsungkan di mana saja. pemain boleh melakukan improvisasi. dan alam bawah sadar tokoh-tokohnya. Bahkan. Demikian juga kostum pemain. Untuk bidang drama. terutama drama-drama absurd. cerpen-cerpen Indonesia pada dasawarsa tahun 1970-an seperti sengaja melepaskan diri dari konvensi cerpen sebelumnya. dan Umar Kayam13 Lebih khusus lagi pada cerpen-cerpen Danarto. para pemain yang dalam konvensi drama sebelumnya harus tunduk dan setia pada teks naskah. Noer (10 Maret 1941²28 Mei 1995). tanaman. jika dalam konvensi naskah-naskah drama sebelumnya. Air. Godlob (1976) dan Adam Ma¶Rifat (1982) memperlihatkan adanya penggalian mistisisme Jawa dan tasawuf. di sembarang tempat. naskah diperlakukan hanya sebatas pegangan dasar. Selain itu. Ciri khas lainnya menyangkut lepasnya keterikatan pada panggung. batu. tanjidor dan lenong (Betawi). sehingga begitu proses latihan selama beberapa minggu itu selesai. Artinya. Kumpulan cerpen Danarto. maka seorang pemain dimungkinkan dapat menjalankan peran lebih dari satu tokoh. tokoh-tokoh yang muncul bisa apa saja. alur cerita. sebuah drama mini kata yang lebih mementingkan lakuan daripada dialog. Jadi. Fudoli Zaini. Putu Wijaya. sebuah aliran dalam sastra (terutama prosa) yang menekankan cerita melalui pikiran. Sri Sumarah dan Bawuk. Danarto. latar tempat dengan segala propertinya harus serba jelas dan konkret. dan Ikranagara. Itulah yang dimaksud dengan adanya kecenderungan baru. kini para pemain itu dibolehkan melakukan improvisasi atau menyampaikan sesuatu di luar teks drama. Kuntowijoyo. maka dalam sebagian naskah drama yang muncul tahun 1970-an itu. naskah-naskah drama yang konvensional. Untuk cerpen. drama itu miskin sekali dialog. selesai pula penulisan naskahnya. hewan.15 .

juga tidak terpisahkan. yang dikatakan Abdul Hadi sebagai kesadaran sufistik. kedudukan Sutardji Calzoum Bachri bagi Angkatan 70. Penyair boleh saja menuliskan puisinya seperti sebuah cerpen. Hamid Jabbar. pada tahun 70-an itu tidak lagi dipersoalkan. Artinya.Dalam bidang puisi. mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri. pencarian dan kerinduan pada Tuhan. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera. Ia menjadi ikon bagi gerakan sastra pada dekade itu. Dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan. Adji Darmadji Woko. kefanaan manusia. semakin tidak jelas batas tegas antara prosa dan puisi. Darmanto Jatman. Linus Suryadi AG (3 . ³Dalam (penciptaan) puisi saya. 12.´19 Jika Sutardji Calzoum Bachri memanfaatkan mantera dari kultur Melayu20 dan belakangan masuk pengaruh pemikiran tasawuf dalam karya-karyanya yang kemudian. Goenawan Mohamad. «. boleh dikatakan merupakan bentuk kesadaran itu dalam usahanya menawarkan pembaharuan. adalah beberapa nama yang menonjol mengangkat tradisi kulturalnya. Di samping itu. kata-kata meloncat-loncat dan menari-nari di atas kertas. renungannya yang mendalam tentang maut. ada puisi naratif yang panjang menyerupai bentuk prosa. Sebagai penyair saya hanya menjaga ±sepanjang tidak mengganggu kebebasannya± agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri. gencar pula kecenderungan untuk menggali akar tradisi kultural tempat penyair itu lahir dan dibesarkan. Desember 1974) merupakan wujud pernyataan sikap atas pendirian kepenyairannya. Sutardji Calzoum Bachri. jika si penyair hendak memanfaatkan narasi bagi kepentingan puisinya. Ibrahim Sattah. Linus Suryadi. Abdul Hadi menyebutnya sebagai penyair avant-garde dengan kredo puisinya yang kontroversial dan menghebohkan. kata-kata saya biarkan bebas. Ikatan pada bait dan larik yang dalam puisi-puisi sebelumnya ±terutama puisi zaman Pujangga Baru² sudah ditinggalkan Chairil Anwar. D. Pemberontakan yang dilakukan Sutardji Calzoum Bachri tidak hanya berhenti pada tataran bentuk ±yang tak lagi mempersoalkan bait dan larik atau rima persajakan²tetapi juga makna.17 Penyair kelahiran Riau ini berhasil memanfaatkan mantera dari tradisi leluhurnya (Melayu) untuk kepentingan persajakannya yang tampak liar dan memukau. Abdul Hadi WM. Kredo Sutardji Calzoum Bachri yang bertarikh 30 Maret 1973 dan kemudian dimuat dalam majalah Horison (No.18 Kredo atau pernyataan sikap penyair Sutardji Calzoum Bachri. Seperti posisi Chairil Anwar bagi Angkatan 45 dalam sastra Indonesia. Emha Ainun Nadjib. Karena itu. Berikut ini dikutip beberapa bagian dari Kredo Puisi tersebut. Puisi tahun 1970an cenderung lebih mementingkan ekspresi untuk mendukung tema yang hendak disampaikan. mondar-mandir berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama. memancarkan sebuah kesadaran transendental baru.16 ada pula yang sengaja disusun pendek-pendek. Th. Selain itu. bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal. para penyair tidak merasa perlu memikirkan bait dan larik dalam puisinya itu. terjadi juga pemberontakan terhadap konvensi yang berlaku sebelumnya. Dalam hal ini. Zawawi Imaron. 9. Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata yang berarti mengembalikan kata-kata pada awal-mulanya. Dan Kata Pertama adalah Mantera. Pada mulanya±adalah Kata.

Dari kultur lain. Dayak. 8 September 1974.27 Ketiga. meski Abdul Hadi banyak pula menyerap pengaruh karya-karya agung para sastrawan sufi. maka hal yang sama juga dilakukan dalam sebuah forum yang disebut ³Pengadilan Puisi´. Dinamika yang terjadi dalam sastra Indonesia tahun 1970-an sebenarnya jauh lebih semarak. seperti Ike Soepomo. karya-karya mereka itu dimuat dan kemudian diberi label ³Puisi Mbeling. juga muncul beberapa gerakan yang ikut menyemarakkan kehidupan kesusastraan Indonesia tahun 70-an itu. Bagaimana mungkin sebuah puisi diadili dengan menampilkan Sanento Yuliman sebagai Hakim Ketua. Iskandar. Mira W. nama pena Japie Tambayong) yang kebetulan menjadi pengasuh majalah Aktuil (1972²1978). Zawawi Imron (Madura). Flamboyan. munculnya gerakan para penulis muda yang hendak memberontak pada kemapanan para penyair senior dan gugatan terhadap majalah Horison yang tidak dapat menampung karya-karya mereka. Selecta. Taufiq Ismail sebagai Pembela dan sejumlah sastrawan . Melayu. kata-kata dipermainkan begitu rupa. jika majalah Aktuil dan majalah Top menggugat kemapanan majalah Horison dan para penyair senior melalui rubrik ³Puisi Mbeling´ atau ³Puisi Lugu´ yang isinya terkesan berkelakar. Darmanto Jatman sebagai Hakim Anggota. Slamet Kirnanto sebagai Jaksa. yang terbit tahun 1970-an itu adalah contoh novel populer. sebab ada novel populer yang baik. sedangkan Sapardi Djoko Damono ±terutama pada awal-awal kepenyairannya² cenderung berorientasi pada filsafat Jawa. sudah berkembang sejak zaman sebelum Balai Pustaka. Bukankah novel-novel sastra yang serius juga ada yang masuk kategori baik. ikut menyebarkan popularitas sastra hiburan. Marga T. Eddy D. Beberapa karya dari pengarang yang disebutkan itu. Jawa. Remy Sylado. Ashadi Siregar sampai ke novel yang ditulis para pengarang wanita. yaitu kritik sosial dan kritik atas dominasi etnis tertentu dalam perekonomian nasional. di satu sisi melahirklan penulis-penulis baru. Cirebon. ada juga yang jelek? Kedua.23 pada tahun 1970-an itu keberadaannya cukup banyak mengundang reaksi berbagai kalangan.26 Penganjur utama gerakan ini adalah Remy Sylado (= 23761. Varia. ada pula yang buruk. Bandung.21 dan keterasingan manusia modern. Meskipun yang disebut terakhir ±sastra hiburan²yang kemudian lebih sering disebut sastra populer. ada sesuatu yang hendak ditawarkan mereka.Maret 1951²30 Juli 1999) dan Darmanto Jatman menggunakan kultur Jawa sebagai unsur penting dalam mengungkapkan ekspresi puitiknya. Forum yang pada mulanya terkesan bermain-main itu diselenggarakan di Universitas Parahyangan. tema-tema sufisme (tasawuf). seyogianya kita menempatkan posisi novel populer itu secara proporsional. terbitnya sejumlah majalah hiburan. Violeta. Selain bermunculan karya-karya yang mengusung tema-tema yang berkaitan dengan tradisi budaya leluhur (Batak.25 Dalam hal ini. muncul pula Abdul Hadi WM dan D. Top.24 Beberapa novel Motinggo Boesje. seperti Vista. Madura.22 kemudian semarak kembali pada dasawarsa tahun 1950-an. menyusul Abdullah Harahap. dan bentuk tipografi dimanfaatkan untuk mencapai efek kelakar itu. yang kemudian disusul majalah-majalah wanita ±Kartini Grup. Aktuil. dan terutama para penulis wanita.´ Salah satu ciri utama puisi mbeling adalah kuatnya semangat berkelakar. Minangkabau). boleh dikatakan termasuk kategori novel populer yang baik. Pertama. Ada tiga hal yang menandai terjadinya kesemarakan itu dan terus berlanjut pada periode berikutnya. dan di sisi lain. Di balik kelakar itu. Teguh Esha. Goenawan Mohamad lebih khusus lagi mengangkat simbol-simbol dunia pewayangan. Dalam majalah itulah..

Hutagalung. Goenawan dan sebagainya (dll) dilarang menulis puisi dan para epigonnya harus dikenakan hukum pembuangan. Abdul Hadi WM. Adapun keputusan Majelis Hakim tersebut adalah berikut ini: 1. selama mereka tidak merasa malu. Meskipun demikian.N. boleh menulis terus dengan keharusan segera masuk ke dalam Panti Asuhan atau Rumah Perawatan Epigon. Bagaimana para penyair muda masa itu merasa perlu melakukan perlawanan terhadap dominasi dan pengaruh penyair sebelumnya. Rendra. yang akan segera didirikan. Dan dilarang dibaca oleh peminat sastra dan masyarakat umum. dan (4) majalah sastra: Horison. Para editor majalah sastra. Para kritikus yang tidak mampu lagi mengikuti perkembangan kehidupan puisi mutakhir. Jassin dan M. 4. Sides Sudyarto. sedangkan Saini KM. Rendra. Ada tiga instansi yang menjadi sasaran gugatannya. Masyarakat luas tetap mendapat izin membaca sastra dan membaca puisi.S. dan Pamusuk Eneste. Dengan merujuk pada usaha pembaharuan yang dilakukan Sutardji Calzoum Bachri. Adri Darmadji. (2) kritikus sastra: H. di dalamnya ada semangat pemberontakan terhadap perpuisian Indonesia. Sebab akan mengisruhkan perkembangan sastra puisi yang kita harapkan sehat dan wajar. Hutagalung harus ³dipensiunkan´ dari peranan yang pernah mereka miliki. Bagaimana pula mereka mengusung semangat perubahan. Para redaktur Horison tetap diizinkan terus memegang jabatan mereka.28 Majelis Hakim yang diketuai Sanento Yuliman menolak semua tuntutan Slamet Kirnanto.Indonesia sebagai saksi-saksi? Saksi yang memberatkan antara lain. Para penyair established (mapan): Subagio. 3. Begitu juga para penyair epigon dan inkarnatif. Para kritikus sastra tetap diizinkan untuk menulis dan mengembangkan kegiatan serta meneruskan eksistensinya.29 ³Pengadilan Puisi´ sebagai sebuah peristiwa budaya tidaklah berpengaruh besar bagi proses penciptaan. hanya di belakang nama lama harus diembel-embeli kata ³Baru´. bertindak sebagai saksi yang meringankan.S.B. yaitu (1) sistem penilaian terhadap puisi Indonesia mutakhir. mereka boleh mengundurkan diri. Majalah sastra Horison tidak perlu dicabut Surat Izin Cetak dan Surat Izin Terbit-nya. established. Slamet Kirnanto yang bertindak sebagai Jaksa mengajukan empat tuntutan: 1. sehingga menjadi Horison Baru. Dan bagi inkarnasinya dibuang ke pulau yang paling terpencil. Jassin dan M. masih diberi peluang untuk berkembang terus. para penyair muda itu hendak menegaskan kembali keberadaan dan kontribusi mereka dalam perkembangan kesusastraan Indonesia.B. 2. . peristiwa itu tetap dapat dianggap penting mengingat ia mewakili semangat zamannya. Horison dan Budaja Djaja harus dicabut ³SIT´-nya dan yang sudah terbit selama ini dinyatakan tidak berlaku. Sesungguhnya. Wing Kardjo. Bila dikehendaki sendiri. Sutardji Calzoum Bachri. (3) penyair mapan: Subagio Sastrowardojo. 2. 3. 4. di balik kesan main-main itu. khususnya H. dengan catatan harus segera mengikuti kursus penaikan mutu dalam Sekolah Kritikus Sastra. dan Goenawan Mohammad. khususnya Horison (Sapardi Djoko Damono) dicutibesarkan. dan Yudistira A. Para penyair mapan.

Goenawan Mohamad. 2 Semangat estetik Angkatan Pujangga Baru tampak jelas dalam esai-esai Sutan Takdir Alisjahbana tentang perbedaan pujangga lama dan pujangga baru yang termuat dalam majalah Pujangga Baru. Dalam kesusastraan Indonesia. (3) Angkatan 45. sebuah lembaran kebudayaan dalam suratkabar Berita Buana. Ajip Rosidi mengusulkan adanya Angkatan Terbaru untuk sastrawan yang berkiprah tahun 1950-an sampai awal 1960-an. Hal tersebut ditandai dengan lahirnya berbagai karya eksperimental. Sitor Situmorang. Dalam konteks itu.B. ³Angkatan 45 Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Essay. 1 Beberapa pengamat sastra Indonesia kerap menyebutkan beberapa angkatan yang dianggap sebagai tonggak perjalanan kesusastraan Indonesia. I. dan (7) Angkatan 2000. dan Sapardi Djoko Damono. nama Angkatan 66 mula pertama diangkat H. (6) Angkatan 80-an. (2) Angakatan Pujangga Baru. (4) Angkatan ¶66 ±sebelum angkatan ini.B. (Djakarta: Gunung Agung. di Jakarta diselenggarakan acara ³Jawaban atas Pengadilan Puisi´ dengan menampilkan para pembicara yang namanya disebut-sebut dalam Pengadilan Puisi. melainkan redaktur yang mempunyai kesadaran visioner yang coba menawarkan sebuah model estetik dalam kesusastraan dan kebudayaan Indonesia. melainkan diikuti dengan sejumlah karya yang dilandasi oleh kesadaran dan semangat membangun gerakan estetik.S. 4 Penamaan Angkatan 66 sebagai sebuah gerakan sosial politik. Jakarta. Jassin dalam artikelnya. Seperti juga penamaan Angkatan 45 yang .Selang dua minggu setelah peristiwa itu. Th. Demikianlah. Achdiat Karta Mihardja. Jassin. Hutagalung. dan H. tidak memberi pengaruh penting bagi perkembangan sastra Indonesia. hlm. M. 2. tepatnya 21 September 1974. No. muncul pertama kali dalam ³Simposium Kebangkitan Semangat ¶66: Mendjeladjah Tracee Baru´ yang berlangsung di Universitas Indonesia. Jassin. 6²9 Mei 1966. Aoh Karta Hadimadja. yaitu Angkatan Pra-Balai Pustaka. polemik dan perdebatan mengenai konsep-konsep kesastraan. kesusastraan Indonesia pada dasawarsa 1970-an itu memperlihatkan sebuah perkembangan penting yang tidak sekadar heboh sebagai sebuah wacana konseptual. yaitu (1) Angkatan Balai Pustaka ±meski ada pula yang mengusulkan adanya angkatan sebelumnya. Abdul Hadi tidak hanya bertindak sekadar sebagai pengasuh. 189. pemikiran Abdul Hadi WM laksana merepresentasikan gerakan estetik Angkatan 70-an itu. Rosihan Anwar.B. (5) Angkatan 70-an. * Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Jassin. 1954). ³Angkatan 66: Bangkitnya Satu Generasi´ yang dimuat majalah Horison. Dari sejumlah penyebutan angkatan itu. Agustus 1966. yaitu H. 9 Juni 2008. 3 Konsep estetik Angkatan 45 dapat ditelusuri pada esai Chairil Anwar. serta derasnya semangat melakukan perubahan.B. H. Dalam hal itulah. dosen luar biasa Universitas Paramadina Mulya. * Makalah Seminar Tapak Budaya Paramadina: ³Paradigma Abdul Hadi WM dalam Kebudayaan Indonesia´ diselenggarakan Universitas Paramadina Mulya di Jakarta. Jawaban yang lebih menyerupai semacam pembelaan ini. Gerakan estetik itu seperti memperoleh legitimasi manakala Abdul Hadi WM selama lebih dari satu dasawarsa (1979²1990) mengasuh rubrik Dialog.

tesis. Sutardji Calzoum Bachri. Karya pertamanya.memancing berbagai tanggapan dan kontroversi. terutama dalam penulisan prosa dan (mungkin juga) dalam penulisan naskah drama. makalah. Dengan demikian. antara lain. Iwan sama sekali tidak mau terlibat dalam organisasi apapun yang sedang berseteru. drama Bulan Bujur Sangkar terbit tahun 1960.B. Novel Baru Iwan Simatupang (Jakarta: Pustaka Jaya. buku ini berasal dari skripsi penulisnya tahun 1975 di Fakultas Sastra Universitas Indonesia).B. Sebuah rangkuman berbagai pendapat tentang Angkatan. skripsi. Kedua drama ini pun belum mendapat tanggapan yang cukup ramai. IV. justru setelah terbit novel Merahnya Merah (1968. tanggapan terhadap novel Iwan Simatupang begitu semarak. Sejak itulah kemudian berlahiran karya-karya sejenis dari sastrawan lainnya yang memperlihatkan semangat eksperimentasi. bahkan memunculkan polemik. meski sempat menikah lagi dengan Tanneke Burki. proklamasi Jassin tentang Angkatan 66 membuka peluang terjadinya kontroversi. (Jakarta: Intermasa. penamaan Angkatan 66 yang ditawarkan Jassin. 1989). Okke KS Zaimar. novel Iwan pertama yang selesai ditulis tahun 1960. ia seperti tenggelam. baik yang berupa resensi. 1991. Lukman Ali bertindak sebagai moderator membuat cacatan sejumlah pendapat tentang angkatan dalam sastra Indonesia. seorang balerina dari Bandung (1961) yang hanya bertahan sampai awal tahun 1964. dan disertasi. dan Ajip Rosidi. juga mengundang serangkaian tanggapan dan reaksi. nyaris tak mendapat tanggapan apa pun ketika itu. Ramainya perdebatan tentang Angkatan 66 ini mendorong Dewan Kesenian Jakarta menyelenggarakan Diskusi Besar tentang Angkatan 66 di Taman Ismail Marzuki. Toda. Jassin melandasi dasar pemikirannya tentang penamaan Angkatan 66 dengan bertumpu pada peristiwa tahun 1966 ketika gelombang aksi mahasiswa dan pelajar berhasil menumbangkan rezim yang telah banyak melakukan penyelewengan. yaitu RT Nol/RW Nol dan Petang di Taman. Antara 1964²1966. 1971. Abdul Hadi WM. Karya Iwan Simatupang mulai mendapat tanggapan luas. bersifat polemis. terbit. mulai Angkatan 45 sampai Angkatan 66. selesai ditulis tahun 1961) dan terutama novel Ziarah (1969. Dami N. S. dan penting dalam menyemarakkan kehidupan kritik sastra.´ (Skripsi Sarjana. Setelah itu. setelah kematian istrinya). Pada tahun 1966. terutama setelah kematian istrinya ±Cornelia Astrid van Geem². antara lain. Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Ia bolehlah dianggap sebagai salah seorang pemicu lahirnya karya-karya eksperimental. terbitnya novel Iwan selepas tragedi tahun 1965. 6 Contoh kasus semaraknya kebebasan berkreasi pascatragedi 1965 dapat kita lihat pada mencuatnya nama Iwan Simatupang (18 Januari 1928²4 Agustus 1970) sebagai tokoh penting dalam perkembangan sastra Indonesia zaman Orde Baru. H. 27 Agustus 1969. Studi mendalam tentang Iwan Simatupang dilakukan Dami N. Tampak di sini. 35. 1980. ³Resepsi Novel-Novel Iwan Simatupang di Indonesia 1968²1988. Sangat mungkin tanggapan masyarakat pembaca akan berbeda jika novel itu terbit tahun 1960-an ketika politik diusung sebagai panglima dan pengaruhnya memasuki hampir semua aspek kehidupan. esai. Toda. Jassin. 5 Beberapa nama yang secara serius coba merumuskan gerakan estetik Angkatan 70-an. Tampak di sana. Depok. Betapa ramainya tanggapan pembaca terhadap karya-karya Iwan Simatupang. ³Ikhtisar Pendapat tentang Masalah Angkatan dalam Kesusastraan Indonesia´ dimuat Budaja Djaya. Kurnia Jaya Raya. seperti memperoleh momentum yang tepat. yang mencapai lebih dari 300-an tulisan. buku ini berasal dari disertasi . Subagio Sastrowardojo. Effendi. H. sebagaimana yang telah dilakukan Iwan Simatupang. dapat disebutkan di sini. No. Terlibat dalam diskusi itu. sebuah drama yang selesai ditulisnya tahun 1957 di Eropa. Menelusuri Makna Ziarah Karya Iwan Simatupang. dapat dilihat dari semua tulisan tentang Iwan Simatupang. artikel. Th. dua drama Iwan Simatupang.

Korrie Layun Rampan. Lihat juga Surat-Surat Politik Iwan Simatupang. Prancis. 789²806. Boen S. Juni 1978. 12. penyebutan Angkatan 80 yang dilontarkan Korrie dalam artikelnya ³Angkatan 80 dalam Sastra Indonesia´ (Suara Karya. 4 September 1984. XI. September 1977. 1964²1966 (Jakarta: LP3ES. Th. 1999. Toda sejak pertengahan dasawarsa 1970-an. 11 Penamaan Angkatan 70 dalam sastra Indonesia ini tidak hanya diperkenalkan oleh Abdul Hadi WM. hlm. Ulrich Kratz (Peny. 9Abdul Hadi WM. Kurnia Jaya Raya. dan Italia. dimuat juga dalam E.penulisnya tahun 1990 di Fakultas Sastra Universitas Indonesia). Toda sebagaimana diungkapkan dalam beberapa artikelnya. Taman Ismail Marzuki. hlm. Jakarta. hampir tidak pernah menafikan tempat dan peranan Iwan Simatupang sebagai tokoh pembaharu. 7 Abdul Hadi WM. ia menyebut sastrawan pada periode itu sebagai ³Angkatan 80´. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. Penamaan yang dilakukan Korrie ini mungkin diilhami oleh penamaan Angkatan µ80 (De Tachtiger Beweging) Belanda yang menyerap pengaruh romantisisme Inggris. dan tidak Angkatan 70. ³Puisi Indonesia dalam Dekade Terakhir. Toda dalam bukunya. tetapi juga oleh Dami N. Pembicaraan mengenai perjalanan sastra Indonesia kontemporer. meskipun pandangan yang mendasarinya tidak terlalu jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan Abdul Hadi dan Dami N. XVI. Mengenai hal ini. surat-surat Iwan Simatupang yang dikumpulkan dan diberi Kata Pengantar Frans M. 1984. 121 Th. No. Padahal. Sapardi Djoko Damono.´ Makalah dibawakan dalam Diskusi Sastra di Teater Arena. Toda. Lihat juga esai-esai Dami N. ³Peta Perpuisian Indonesia 1970-an dalam Sketsa. . 6²7. Kembali «. Darmanto Jatman yang membawa kecenderungan baru. Jakarta: Sinar Harapan. 8. mengapa Abdul Hadi memasukkan nama Ahmad Tohari ke dalam sastrawan Angkatan 70-an. Sutardji Calzoum Bachri dan Danarto dalam wawancaranya dengan Abdul Hadi WM (Berita Buana. Hal yang senada juga dilontarkan oleh Goenawan Mohamad yang menyebutnya sebagai ³generasi sastrawan 1970-an´. No. X. Tidak begitu jelas. Kembali ke Akar Kembali ke Sumber: Esai-Esai Sastra Profetik dan Sufistik. No. Dalam artikel panjang ³Kepenyairan di Indonesia tahun 70-an´ yang dimuat bersambung di harian Berita Buana (14. Th. ³Angkatan 70 dalam Sastra Indonesia. 8 Ahmad Tohari baru muncul namanya dan mulai diperhitungkan keberadaannya dalam sastra Indonesia awal tahun 80-an.´ Budaya Jaya. Korrie sendiri tidak memberi alasan. Penamaan Angkatan 70 sebenarnya sudah banyak dilontarkan Abdul Hadi dan Dami N. menggeser wawasan estetik lama dan mewarnai dunia persajakan sepanjang tahun 70-an. Sementara itu. 6. Hamba-Hamba Kebudayaan.).´ Horison.´ Budaya Jaya. hlm. Agustus 1981. Goenawan Mohamad. ³Tahap-Tahap Perkembangan Wawasan Estetik Perpuisian Indonesia. Jerman. 2000. Parera. Inspirasi? Nonsens! (Magelang: Indonesia Tera. 10 Abdul Hadi WM. 1999). 1986). Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX. dan 28 Januari 1977). Jakarta: Pustaka Firdaus. 14 Februari 1978) juga mengusung nama Angkatan 70 ketika keduanya melihat adanya kecenderungan baru yang terdapat dalam karya-karya yang terbit pada periode itu. mengapa ia menyebutnya sebagai Angkatan 80. Abdul Hadi mengemukakan tokoh-tokoh persajakan utama 70-an seperti Sutardji Calzoum Bachri. 21. Oemarjati tidak secara tegas menyebut Angkatan 70. melainkan menyebutnya sebagai ³periode´.

Stasiun (1977). dan Sandek. Merahnya Merah (1968). Kuntowijoyo. Bip-Bop ±drama minikata atau ³Teater Puisi´ menurut Dami N. Mega-Mega (1967). juga dipentaskan di berbagai kota besar di Eropa. Jerman. Orkes Madun (1974). Khotbah di Atas Bukit (1976). selain sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing. Rendra. Kuntowijoyo. Ia banyak menulis puisi dan menerjemahkan drama klasik Yunani. antara lain: Iwan Simatupang. 13 Karya-karya mereka dapatlah disebutkan di sini. Seribu Kunang-Kunang di Manhattan (1972) dan Sri Sumarah dan Bawuk (1975). Sumur Tanpa Dasar (1971). Dami N. Godlob (1976) dan Adam Ma¶rifat (1982). Gerr (1986). dan ³Sisifus´ (1977/1978. Arifin sebenarnya sudah mulai berkarya sejak tahun 1963. Bom (1978) Es (1980). Amerika. jelas lebih kemudian dibandingkan dengan penamaan Angkatan 70 yang diangkat Abdul Hadi. Fudoli dua kali mendapat hadiah dari majalah Horison. dan Gres (1982). Mastodon yang dipentaskan di Taman Ismail Marzuki (13 Desember 1973) dianggap membawa kebaruan dalam perkembangan drama Indonesia kontemporer. yaitu untuk cerpennya ³Si Kakek dan Burung Dara´ (1966/1967). dan drama. Bila Malam Bertambah Malam (1971). Keok (1978). cerpen ³Dilarang Mencintai Bunga-Bunga´ memperoleh Hadiah Pertama Sayembara Majalah Sastra 1969. Potret Manusia (1983). Putu Wijaya. novel. Noer. Lho (1982). Umang-Umang (1976). Toda. Ia juga kerap berkeliling dunia mementaskan karya-karyanya. Ia juga banyak menulis puisi. Bel Geduwel Beh (1976). beberapa antaranya: Danarto. Dua naskah drama yang dihasilkannya adalah Orang-Orang di Tikungan Jalan (1954) terpilih sebagai pemenang pertama Sayembara Penulisan Drama Departemen P & K Yogyakarta tahun 1954. Sejak itu. Ikranagara. Anu (1974). Olenka (1983). Lagu dari Jalanan (1982). Kering (1972). Danarto. Noer. Tetapi dramanya. Telegram (1972). Pabrik (1976). ia banyak mementaskan drama . Rusia. Prancis. Putu Wijaya. Arafah (1985). Kota Kelahiran (1985). ia dianggap sebagai salah tonggak penting dalam perjalanan teater Indonesia modern yang kemudian banyak mempengaruhi dramawan generasi berikutnya.24 Agustus 1984). Danarto. Umar Kayam. lebih dari 40-an. kariernya dimulai dengan menjadi aktor di Teater Ketjil pimpinan Arifin C. Fudoli Zaini. Sepasang Pengantin (1968). Budi Darma. bernama Teater (Siapa) Saja. sebuah drma kolosal yang memerlukan waktu sekitar enam jam pementasannya. Pol (1987). 14 Karya-karya mereka yang muncul pada periode itu dapatlah disebutkan beberapa di antaranya: Arifin C. Putu Wijaya sebenarnya termasuk penulis produktif. terutama ketika Abdul Hadi mengasuh lembar kebudayaan ³Dialog´ di harian Berita Buana antara tahun 1979²1990. Dalam konteks itulah posisi Rendra ditempatkan sebagai salah seorang tokoh penting pembaharu drama di Indonesia. Putu Wijaya. Jepang. Noer. Obrok Owok-Owok. dianggap sebagai salah satu pembaharuan di bidang teater di Indonesia. Pemuda Pekerja (1979). Aduh (1975). dan Asia. Toda²yang dipentaskan tahun 1968 di Balai Budaya dan kemudian di Taman Ismail Marzuki. Dag-Dig-Dug (1976). Karya-karya Putu Wijaya juga sudah banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing. dan Panembahan Reso (1988). Kasir Kita (1972). dan Arab. Karyanya berupa kumpulan cerpen. Belanda. Ebrek Ewek-Ewek (1976). Ziarah (1969). Ia kemudian mendirikan teater sendiri. Drama-drama Arifin C. 12 Beberapa novel mereka dapat disebutkan di sini. Tengul (1973). seperti Inggris. dan Sutardji Calzoum Bachri sejak pertengahan dasawarsa 70-an. dan Koong (1975). Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (1993). meskipun tak begitu banyak menulis naskah drama. Kapai-Kapai (1970). dan beberapa novel lainnya yang mencapai lebih dari 10 novel. Demikian juga dramanya.

seperti Hujan Bulan Juni (1994). Ia pada dekade 70-an itu sebenarnya menulis beberapa naskah drama. 1980. pertama kali dilontarkan Abdul Hadi WM dalam serangkaian artikelnya yang dimuat di lembar ³Dialog´ harian Berita Buana. Akuarium (1974). ³Sebuah Pembelaan untuk Teater Indonesia Mutakhir´ Seks.´ Kembali ke Akar Kembali ke Sumber. misalnya. Ssst!!!. Kuntowijoyo (18 September 1943²22 Februari 2005). ³Sastra Transendental dan Kecenderungan Sufistik Kepengarangan di Indonesia. Tasawuf yang Tertindas: Kajian Hermeneutik terhadap Karya- . Jakarta: Pustaka Firdaus. di Manila. Gaya seperti ini banyak mempengaruhi para penyair yang kemudian. Raja Ali Haji. Sapardi Djoko Damono juga banyak memanfaatkan pola puisi naratif dalam hampir semua antologi puisinya. Byurrr! Tok Tok Tok. Banyak pula pembaca dan pengamat sastra Indonesia yang mempertanyakan tempat Pengakuan Pariyem dalam sastra Indonesia. Arifin C. Linus juga begitu banyak menggunakan kosa-kata Jawa. Zaman Kalong.dari naskah yang ditulisnya sendiri. hlm. Sejumlah nama yang disebutkan di sini sekadar menegaskan adanya kecenderungan baru dalam drama di Indonesia tahun 1970-an itu. sehingga diperlukan lampiran Daftar Kosa Kata Jawa²Indonesia setebal hampir 50 halaman (halaman 193²238). sebelumnya banyak dilakukan Ajip Rosidi (Jante Arkidam) dan Ramadhan KH (Priangan si Jelita). Jakarta: Sinar Harapan. Mata Pisau (1974). sejauh pengamatan masih tetap dalam bentuk manuskrip. 15 Pembicaraan yang cukup mendalam mengenai drama kontemporer yang muncul tahun 1970an dilakukan Goenawan Mohamad. apakah termasuk sastra Indonesia atau sastra Jawa. Noer. Agung. Sastra. 1999. Bip-Bop dan Mastodon karya Rendra. Naskahnaskah dramanya sekadar dipentaskan dan tidak dipublikasikan dalam bentuk terbitan buku. Dari 20-an naskah drama lainnya yang sudah dipentaskan tetapi belum diterbitkan. sampai ke antologi puisinya yang belakangan. Rang Gni. baik para penyair yang berasal dari Asia Barat. Saat-Saat Drum band Mengerang-ngerang (1973). Linus Suryadi sendiri menyebutnya sebagai prosa lirik. Taipe. Seperti Rendra. Itulah yang terjadi pada banyak penulis drama di Indonesia. Kuala Lumpur. seperti dalam antologi DukaMu Abadi (1969). Sebut misalnya. 16Pengakuan Pariyem (1981) karya Linus Suryadi AG. Antologi puisi Sastra Sufi (Jakarta: Pustaka Firdaus. Arloji (1999). naskah-naskah lainnya belum diterbitkan dan masih berupa manuskrip. dan Putu Wijaya. seperti Rumput-Rumput Danau Bento. 18 Istilah sastra sufi ±sering juga dipakai istilah sastra sufistik²yang kemudian menjadi wacana perdebatan pada dekade tahun 1970-an itu. Gusti. 91²148. Bukhari Al-Jauhari. seperti Hamzah Fansuri. 17 Abdul Hadi WM. merupakan contoh puisi naratif yang panjang (192 halaman). Yasadipuro I. Kita. Perahu Kertas (1983). antara lain. prosa yang dibangun seperti puisi yang mengingatkan kita pada bentuk syair atau hikayat dalam sastra lama. maupun para penyair dari wilayah Nusantara. Ayat-Ayat Api (2000) cenderung menggunakan bentuk narasi yang jernih dengan bahasa yang sederhana. Tidak Ada Cinta bagi Nyonya Fatma. Para Narator. Dalam karya ini. misalnya. Barda. dan beberapa kota di Amerika. Ronggowarsito sampai ke Amir Hamzah. 1985) merupakan salah satu usaha Abdul Hadi dalam mengangkat karya-karya penyair sufi. dan Topeng Kayu. Bukunya yang lain. hlm. Singapura. Kecuali Topeng Kayu (2001). Ikranagara juga telah mementaskan karya-karyanya di berbagai kota di luar negeri. Topeng (1972).36²46. Belakangan. Nama-nama lain tentu masih berderet panjang. antara lain. Sihir Hujan (1984). Penulisan puisi naratif. Yasadipura II. antara lain. Ia kemudian begitu gencar memperkenalkan ±dan menerjemahkan² khazanah sastra sufi berikut pemikiran dan estetika para penyairnya.

ia juga banyak memperkenalkan (dan menerjemahkan) khazanah sastra Timur. Sutardji Calzoum Bachri dalam kaitannya dengan pemikiran tasawuf dalam sastra. sastra dzikir (diperkenalkan Taufiq Ismail dalam Catatan Kebudayaan. Ibrahim Sattah. hlm. Slamet Sukirnanto. Roolvink. ia dipersamakan dengan nilai uang terkecil. Para penyair yang coba mengangkat tema-tema tasawuf. ³Roman Pitjisan. istilah sastra sufistik digunakan juga Danarto. bacaan-bacaan hiburan terutama terbitan Medan. No. pihak pemerintah kolonial Belanda menyebut bacaan yang diterbitkan di luar Balai Pustaka (swasta) sebagai ³bacaan liar. Tentu saja masih banyak nama yang tercecer yang sebenarnya pernah berkiprah pada periode itu. 19 Sutardji Calzoum Bachri. menjadikan buku-buku sejenis itu dijual dengan harga murah. 23 Pada dasawarsa 1950-an. Pembicaraan yang cukup luas mengenai buku-buku hiburan sejenis itu ditulis R. Budiman S. Estetika. Abdul Hadi WM. ³Sastra sebagai Amal Shaleh. dan sastra transendental. yaitu picis. 6 Juni 1984 ). 1953. bentuknya yang kecil seperti buku saku (pocketbook). dan sastra Islam yang makna dan cakupannya lebih luas. novel. dan Taufiq Ismail. Jakarta: Sinar Harapan. sastra profetik. sastra sufistik.´ Horison. 24 Kebanyakan masyarakat memandang novel-novel sejenis itu secara apriori yang dikaitkan dengan masalah pornografi. dan India. terutama Cina. 22 Salah satu faktor yang mendorong didirikannya Komisi untuk Bacaan Sekolah Pribumi dan Bacaan Rakyat (1908) justru lantaran munculnya bacaan-bacaan hiburan yang diterbitkan pihak swasta. Zawawi Imron. wacana tentang sastra sufi tidak hanya semarak dalam perdebatan konsep-konsep. tetapi juga muncul dalam banyak puisi. sastra transendental (diperkenalkan Kuntowijoyo dalam Temu Sastra 1982 di Taman Ismail Marzuki). Sutardji Calzoum Bachri. dan Hai Ti (1981). Satu bentuk penghinaan terhadap buku-buku sejenis itu. seperti sastra profetik. Kemasannya yang sederhana. Leon Agusta. sastra dzikir. Fudoli Zaini.Karya Hamzah Fansuri (2001) dan Hermeneutik. Hamid Jabbar. Ikranagara. dan kertasnya yang berkualitas rendah. 13²14. Karena harganya yang murah itu. Apip Mustopa. D. 21 Pada dekade tahun 1970-an itu dan kemudian berlanjut pada dasawarsa berikutnya. Jepang. dan drama.´ Pokok dan Tokoh. Hartoyo. novel-novel itu sesungguhnya tidak dapat . cukup banyak diminati masyarakat luas.´ Mereka yang menerbitkan dan menjual buku-buku terbitan pihak swasta itu disebut sebagai ³saudagar kitab yang kurang suci hatinya.´ Satu ungkapan yang jelas bermaksud memarginalkan karya-karya sastra terbitan pihak swasta. Belakangan. Amuk. Ali Audah. Dandandid (1975). cetakan yang agak buruk. Kapak. Oleh karena itulah. dapatlah disebutkan beberapa di antaranya. Sementara itu. Emha Ainun Nadjib. dan Religiusitas (2004) adalah usaha serius Abdul Hadi dalam memperkenalkan sastra sufi. 1981. Jika dicermati serius. Ibrahim (1980). Sides Sudyarto DS. O. Nurcholis Madjid. Kuntowijoyo. Djakarta: Jajasan Pembangunan. 20 Hal yang sama kemudian juga dilakukan Ibrahim Sattah (1943²19 januari 1988) sebagaimana tampak dalam tiga antologi puisinya. Setelah lembaga itu berganti nama menjadi Balai Pustaka (1917). buku-buku sejenis itu ± yang umumnya mengangkat tema-tema percintaan²disebut roman picisan. Dari sana lahir istilah-istilah sejenis. cerpen. seperti istilah sastra sufi.

dan Yudiono K.M. Th. Jakarta: Gramedia. pandangan masyarakat terhadap novel populer. Eddy D. 27 Dua artikel yang dimuat Budaya Jaya. Soedjarwo. Bahkan salah satu novelnya. 2001.. Bahkan novelnya. Itupun tak digambarkan secara vulgar. Ibid.S. Kategori: Makalah. Infinita Kembar (1985) ±menurut pandangan H. belakangan juga menulis novel-novel serius. Februari 1976. Remy Sylado. dalam kesusastraan Sunda. Sementara itu.begitu saja dimasukkan ke dalam karya pornografi. No. 1986.B. sejauh pengamatan. dan cerpen). Sejauh pengamatan. Jassin dan Abdul Hadi WM²termasuk sebagai novel sufistik.´ (hlm. 25 Motinggo Boesje pada awal kepengarangannya banyak menulis karya sastra serius (drama. terutama karya-karya Motinggo Boesje yang dikaitkan dengan pornografi dan menudingkan karya-karyanya sebagai novel porno. Puisi Mbeling: Kitsch dan Sastra Sepintas. Periksa juga. 1983. ia termasuk sastrawan Sunda yang menghasilkan novel-novel yang bagus dalam bahasa Sunda. 239 views.. 89²97. 28 Slamet Kirnanto. Sri Rahayu Prihatmi. Di dalam novel-novel itu. ³Beberapa Penyair di Depan Forum´ (hlm. 65²85) dan Saini K. Pengadilan Puisi. hlm. yang ditulis H. Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan. tidaklah seluruhnya benar. Jakarta: Gunung Agung.B. Magelang: Indonesia Tera. 93. 1 respon) HUBUNGAN BUDAYA MELAYU MELALUI TEATER (8 October 2010. masalah seks sekadar bumbu. MENATAP MASA DEPAN (8 October 2010. 26 Lihat Sapardi Djoko Damono.). Sekitar 200-an novel telah dihasilkannya. Jassin. 29 Pamusuk Eneste (Ed. ³Saya Mendakwa Kehidupan Puisi Indonesia Akhir-Akhir ini tidak sehat. 0 respon) . novel. Motinggo Boesje tercatat sebagai novelis Indonesia paling produktif. ³Penyair-Penyair Muda Jakarta. Terlepas dari persoalan populer atau tidaknya novelnovel yang ditulisannya tahun 1970-an. Jadi. Tetapi. 48 views. Sanu. Makalah 2008 | Tags: sejarah sastra Tulisan lain yang berkaitan: ANGKATAN SASTRA 2000: MENENGOK MASA LALU. Iskandar dalam sastra Indonesia memang dikenal sebagai penulis sastra populer. 86²98) memberi gambaran cukup baik mengenai puisi-puisi Mbeling atau puisi lugu yang dimuat majalah Aktuil dan majalah Top.). Memasuki tahun 1990-an. tidak jelas dan Brengsek!´ (Jawaban atas pengadilan puisi) dalam Pamusuk Eneste (Ed. belum ada sastrawan Indonesia yang menghasilkan novel sebanyak Motinggo Boesje. Kerudung Merah Tirmizy (2002) terpilih sebagai pemenang Khatulistiwa Award. ia kembali menulis karya-karya serius. IX.

11 September 2010 (14:32)) pada kategori Makalah.com/2010/09/11/angkatan-70-an-kembali-ketradisi/#ixzz176uIbiO4 Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial Share Alike .DUNIA MELAYU: TANTANGAN DAN PROSPEKNYA DI MASA DEPAN (11 September 2010. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2. 0 respon) Tulisan berjudul "ANGKATAN 70-AN: KEMBALI KE TRADISI" dipublikasikan oleh Maman S. Sumber: ANGKATAN 70-AN: KEMBALI KE TRADISI » MAHAYANAMAHADEWA. atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon. 0 respon) SASTRA ACEH: SEBUAH PERJALANAN PANJANG (11 September 2010. 42 views. Mahayana (Saturday.COM http://mahayana-mahadewa. 124 views. Makalah 2008.0.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful