Anda di halaman 1dari 58

BAB I

PERKEMBANG AN PESERTA DIDIK

A. Pengertian Perkembangan dan Pertumbuhan


Dalam proses kehidupan manusia ada 3 (tiga) hal/proses yang sangat perlu dicermati
yaitu mengenai konsep pertumbuhan yaitu : pertumbuhan perkembangan, dan
kematangan. Tiga hal ini diklarifikasikan agar pemahaman kita terhadap proses fisik
maupun perkembangan psikologis anak dapat dikembangkan dalam wawasan yang benar
sehingga mendukung peningkatan profesi kita sebagai guru, yang pada akhirnya
diharapkan berdampak positif pada perkembangan anak.

1. Pertumbuhan : Istilah asing disebut growth, merupakan istilah yang lazim dipakai
dalam biologi, sehingga pengertiannya menunjukkan sifat biologi.yaitu diartikan sebagai
akibat dari adanya perbanyakan (multiplication) sel-sel. OLeh karena itu dalam psikologi ;
pertumbuhan lebih tepat untuk menyebutkan perubahan -perubahan dalam aspek jasmaniah,
misalnya pertumbuhan badan, pertumbuhan kaki kepala, jantung, paru-paru dan sebagainya.
Pertumbuhan bila dideskripsikan mengandung beberapa indikator yaitu : Perubahan
kuantitatif yang menyangkut peningkatan struktur biologis, menyankut perubahan secara
fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik berlangsung secara normal
pada anak yang sehat dalam rentangan kehidupannya. Juga menyangkut proses transmisi dari
keadaan jasmaniah yang hereditas dalam bentuk proses aktif secara berkesinambungan.

2. Perkembangan : Perkembangan (Development), merupakan rangkaian perubahan


bersifat progresif secara teratur dari fungsijasmaniah, maupun fungsi rohaniah, sebagai akibat
kerjasama antara kematangan (maturation) dan pelajaran (learning). Menurut Wasty
Seomanto (1983), perkembangan merupakan perubahan yag bersifat kualitatif, ditekankan
pada segi fungsionaï. Menurut Monks F.J. (1984) perkembangan merupakan suatu proses
yang kekal dan tetap menuju ke arah yang lebih tinggi berdasarkan proses pertumbuhan,
kematangan dan belajar. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perkembangan
adalah perubahan fungsional dan kualitatif, misalnya: perubahan pada fungsi pikir dari yang
kurang berkualitas menjadi berkualitas tinggi, perubahan pada fungsi tangan yang
dipergunakan untuk memegang.
B. FAKTOR HEREDITAS
Menurut Wasty Soemanto (1983), hereditas adalah pewarisan atau pemindahan
biologis karakteristik individu dari pihak orang tuanya melalui proses genetis. Sedangkan
pendapat Buchor (1982), hereditas ialah proses penurunan sifat-sifat atau ciri-ciri dari satu
generasi ke generasi lain dengan perantaraan plasma benih.
Dari pendapat di atas mengenai hereditas terkandung prinsip-prinsip yang
memperjelas pengertian tentang hereditas sebagai berikut :
• Prinsip reproduksi: bahwa hereditas berlangsung dengan perantaraan sel-sel benih dan
tidak melalui sel-sel somatic atau sel-sel badan. Artinya ciri-ciri yang dipelajari atau
diperoleh oleh orang tuanya tidak dapat diturunkan kepada anaknya.
• Prinsip konformitas: prinsip ini berarti setiap anak adalah duplikat dair orang tuanya,
tetapi seseorang anak itu serupa (tetapi tidak persis sama) dengan golongan orang
tuanya. Seorang pétard tidak akan dapat berharap panen padi, jika yang ditanamnya
adalah jagung. Jadi sepasang manusia akan melahirkan anak manusia, dan tentu saja
memiliki persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan. Dalam batas-batas tertentu
ia memang dapat berbeda dari orang tuanya, dan batas-batas itu ditentukan oleh "gène"
dan "kromosom" yang merupakan pembawaan dari potensialitas si anak yang
ditentukan oleh keturunan.
Dalam kenyataannya, bahwa seorang anak memmjukkan tidak ada yang persis atau
menyerupai salah satu dari kedua orang tuanya. Prinsip konformitas pada umumnya
berlaku untuk ciri-ciri mengenai anatomi, susunan urat syaraf, besar badan, fungsi-
fungsi biologis, warna kulit, dan sifat biologis lainnya.
• Prinsip variansi: bahwa sel-sel mengandung determinan-determinan yang banyak
jumlahnya yang pada waktu penyerbukan ovum saling berkombinasi dalam cara yang
berbeda untuk menghasilkan anak-anak yang saling berbeda.
• Prinsip regresi: bahwa setiap sifat atau ciri-ciri manusia (anak) memperlihatkan
kecenderungan menuju ke keadaan rata-rata. Kecenderungan yang dimaksud
adalah: orang tuanya cerdas tidak selalu akan diikuti oleh anak yang cerdas pula,
atau orang tuanya yang berbadan tinggi belum tentu anaknya akan berbadan tinggi
pula. Begitu pula akan terjadi yang berprestasi tinggi, tidak dapat dihubungkan
dengan prestasi anaknya menjadi tinggi pula.

Mekanisme Hereditas
Secara biologis setiap manusia mulai ada kehidupannya pada saat pertemuan antara
sel benih perempuan yaitu "ovum" dengan sel laki-laku yaitu "sperma". Melalui studi
mikroskopis tentang sel, para ahli biologi berhasil mengisolasikan struktur-strutur
"ceiluladr" yang menentukan hereditas. Stoiktur-struktur cellulair inilah yang disebut
"kromosom" yaitu berupa benang-benang proto plasma yang terdapat berpasang-pasangan
dan setiap pasang itu mempunyai unsur-unsur yang tidak dapat dilihat dengan mata yang
disebut "gène". Menurut perhitungan para ahli bahwa setiap manusia mempunyai 48 buah
kromosom atau 24 pasang (24 pasang dari pihak ayah dan 24 pasang dari pihak ibu).
Hal ini pula yang menjadi dasar bagi sepasang manusia yang akan melangsungkan
perkawinan dapat berlangsung hanya pada orang-orang yang normal. Maksudnya, agar
kepada orang-orang yang mempunyai kelainan secara khusus misalnya: orang yang idiot,
tidak dinikahkan dengan yang idiot, orang yang buta tidak dinikahkan dengan orang yang
buta, orang yang bisu tidak dinikahkan dengan orang bisu. Hal ini sangat dikhawatirkan
oleh para ahli agar tidak melahirkan orang yang idiot, orang buta, maupun orang bisu.

Mengapa anak-anak berbeda-beda ?


Beberapa ahli mengemukakan perbedaan yang terjadi pada setiap anak dengan
kecenderungan penyebabnya adalah:
• Kapasitas intelek yang diwariskan melalui gane pada waktu penyerbukan
• Fungsi psikis anak bekerja berbeda-beda
• Dari warisan atau keturunan dari segi potensialitas intelektual bukan inteligensinya.
• Dapatjuga terjadi karena akibat faktor-faktor emosional.
• Dapat juga karena kesalahan pedagogis (bersifat mendidik)
• Dapat juga kesalahan cara guru mengajar, sehingga siswa tidak mampu menerimanya
secara baik
• Dapat juga karena pengaruh budaya yang masuk dari luar.
Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan mengapa anak-anak berbeda-beda, atau
mengapa manusia mempunyai penampilan/perilaku/ apasitas yang berbeda-beda? Secara
umum bahwa manusia persamaan dan perbedaan dalam masa perkembangannya. Dalam
pembahasan ini kita hanya membahas tentang perbedaan individu.
Individu menunjukkan kedudukan seseorang sebagai orang atau perseorangan. Sifat
individual adalah sifat yang berkaitan dengan orang perseorangan, berkaitan dengan
"perbedaan individual" dengan perseorangan. Ciri dan sifat orang satu berbeda dengan
yang lain. Lindgren (1980), perbedaan individual itu menyangkut variasi yang terjadi, baik
pada variasi fisik maupun psikologis.
Contoh :
Seorang ibu mempunyai bayi yang banyak menangis, banyak gerak, dan banyak
minum. Ibu lain mengatakan bahwa bayinya pendiam, banyak tidur, tetapi kuat minum.
Cerita kedua ibu menunjukkan bahwa kedua bayi itu memiliki ciri dan sifat yang berbeda
satu sama lainnya.
Pada permulaan tahun ajaran guru-guru menghadapi hal yang sama. Siswa yang
berbeda di keksnya juga berbeda dalam hal fîsik seperti tinggi badan, bentuk badan, warna
kulit, bentuk muka, dan lain-lain. Ciri lainnya adalah tingkah laku siswa: ada yang lincah,
pendiam, ada yang nada suaranya kecil, ada yang bicaranya cepat, dan sebagainya, yang
semuanya itu menunjukkan sif at psikis yang berbeda. Bidang-bidang Perbedaan :
(1) Umur kronologis; penetapan usia sekolah adalah 0,6 -12,0 tahun sehingga
mempunyai penguasaan materi yang berbeda pula.
(2) Tingkat kematangan : bahwa siswa yang berusia 0,7 tahun akan berbeda
kemampuannya dengan anak usia 12,0 tahun.
(3) Tingkat kecakapan mental: diukur dengan tes inteligensi akan mempengaruhi
kapabiBtas anak belajar
(4) Konstitusi fisik: secara fisik mempunyai bentuk yang khas, tingkat stabihtas dan
temperamennya, sikap terhadap pelajaran dan minatnya akan mempengaruhi
keberhasilan belajar.
(5) Faktor diluar individu: pengaruh keluarga, kesempatan pendidikan sebelumnya,
kurikulum yang ditwarkan, teknik mengajar yang jelek.

C. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN

1. Menurut John Locke (1632-1704) Faham Emperisme


John Locke adalah pakar dari aliran emperisme berpendapat bahwa anak yang lahir
ke dunia ini bagaikan kertas putih bersih (terkenal dengan teori Tabularasa).
Lingkunganlah yang mengukir/menulis kertas putih tersebut melalui pengalaman-
pengalaman empirik. Oleh sebab itu, faktor yang menentukan perkembangan anak
adalah lingkungan, dan lingkungan yang paling berpengaruh adalah pendidikan.

2. Menurut A. Schopenhouer (1788-1860) Faham Nativisme


Schopenhour adalah tokoh aliran Nativisme berpendapat: bahwa seorang anak
yang lahir ke dunia ini dilengkapi dengan pembawaan atau warisan baik dan buruk.
Hasil akhir pendidikan bagi anak ditentukan oleh pembawaan sejak lahir itu. jadi,
faktor yang menentukan perkembangan anak adalah faktor pembawaan yang ada
dalam diri anak, tidak dapat diubah oleh faktor luar.

3. Menurut William Stern: (1871-1938) Teori Konvergensi


William Stern adalah pakar dari aliran konvergensi berpendapat bahwa faktor
yang mempengaruhi perkembangan peserta didik adalah faktor pembawaan dan
lingkungan. Faktor pembawaan dan lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang
sangat penting. Baik buruknya perkembangan peserta didik sangat ditentukan oleh
kedua faktor ini.

D. TAHAP PERKEMBANGAN

Perkembangan Kognitif seseorang menurut Piaget (sarlito, 1991:81)


mengikuti tahap-tahap sebagai berikut :
(1) Tahap pertama : Masa sensori motor (0,0 - 2,5 tahun ) Masa ini
bayi
mempergunakan System penginderaan dan aktivitas motorik untuk
mengenal lingkungannya. Bayi memberikan reaksi motori atas
rangsangan yang diterimanya dalam bentuk refleks (misalnya refleks
menyebut puting susu ibu, refleks menangis dan lain-lain). Dengan
kata lain perkembangan perasaan terhadap stimuli lingkungan.
Refleks -refleks ini kemudian berkembang lagi menjadi gerakan-
gerakan yang lebih canggih, misalnya berjalan.
(2) Tahap kedua : Masa pra-operasional (2,0 - 7,0 tahun):
CM khas masa ini adalah kemampuan anak menggunakan symbol mewakili suatu
konsep. Misalnya kata pisau plastic. Kata pisau atau tulisan pisau sebenarnya
mewakili maknabenda yang sesungguhnya. Kemampuan simbolik ini memungkinkan
anak melakukan tindakan-tindakan yang berkaitan dengan hal-hal yang telah lewat,
misalnya seorang anak yang pernah melihat dokter berpraktek, akan (dapat) bermain
dokter-dokteran).
(3) Tahap keidga : Masa konkret operasional : (7,0 - 11,0 tahun ), pada tahap ini sudah
dapat melakukan berbagai macam yugas yang konkret. Anak mulai mengembangkan
tiga macam operasi berfikir, yaitu : a. Identifikasi : mengenal sesuatu, b. Negasi :
mengingkari sesuatu, c. Reprokasi : mencari hubungan timbal balik antara beberapa
hal.
(4) Tahap keempat : Masa opeasional (11,00 - 15 tahun) sudah mampu berpikir abstrak
dan hipotesis. Pada tahap ini seseorang bisa memperkirakan apa yang
mungkinterjadi. la dapat mengambil kesimpulan dari suatu pernyataan seperti kalau
mobil A lebih mahal dari pada mobil B. sedang C lebih murah dari B, maka ia dapat
menyimpulkan mobil mana yang paling mahal dan yang paling^murah.
(5) Tahap perkembangan masa adolesesn (15,0 - 20,0 tahun): berkembangnya kualitas
kehidupan manusia yang diwarnai oleh dorongan seksual, tertarik pada lawan
jenisnya.
(6) Tahap pematangan diri (21 tahun ke atas): berkembangnya kepribadian, pemuasan
dan tanggung jawab menuju hidup bermasyarakat.

E. PERTUMBUHAN PESERTA DIDIK

Menurut Sutan (1992/1993), pertumbuhan adalah perubahan tingkah laku (change in


behavior) dalam diri anak yang bersifat material dan komunikatif misalnya: pembesaran
dan perpanjangan tulang-tulang sebagai komponen material dalam tubuh anak. Sedangkan
Wasty Soemanto (1983), pertumbuhan adalah perubahan kuantitatif pada material sebagai
akibat pengaruh lingkungan, berupa pembesaran dan pertambahan.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan berkaitan dengan
pertumbuhan kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologi.
Pertumbuhan adalah perubahan fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-
fungsi fisik dari diri anak yang sehat dan berlangsung dalam waktu tertentu. Pertumbuhan
dapat juga diartikan sebagai proses transmisi dari kondisi fisik yang aktif. Hasil dari
pertumbuhan itu antara lain: bertambahnya ukuran-ukuran kuantitatif badan anak seperti
panjang, berat dan kekuatannya. Begitu juga perubahan yang makin sempuma tentang
sistem jaringan syarat dan perubahan-perubahan struktur jasmani lainnya. Oleh sebab itu,
pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses perubahan dan proses pematangan fisik.

a. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan


(1) Faktor sebelum lahir (pra-natal): kekurangan nutrisi pada ibu dan janin, janin terkena
virus, keracunan sewaktu janin dalam kandungan, terkena infeksi oleh bakteri
syphilis, terkena TBC, kolera, typus, gondok, sakit gula, asma, dan lainnya.
(2) Faktor saat kelahiran (natal): pendarahan pada kepala bayi akibat tekanan dinding
rahim sewaktu melahirkan, kurang berfungsinya susunan syaraf tertentu karena
kepala bayi ditarik dengan tang pada saat melahirkan.
(3) Faktor setelah bayi dilahirkan: semua akibat apa yang terjadi pada faktor pra-natal
dan faktor saat natal, dapat mengakibatkan pertumbuhan bayi terganggu.
Faktor psikologis: bayi yang ditinggal mati oleh kedua orang tuanya anak yang
dititipkan pada panti asuhan, di tempat penitipan anak, anak yang sepenuhnya diasuh oleh
pembantu. Akibat dari semuanya itu, anak tidak pernah/kurang mendapatkan kasih sayang
dari orang tuanya (khususnya kasih sayang seorang ibu) sehingga anak mengalami
kehampaan psikis, selalu muncul dalam perasaannya tentang apa yang dialami sehingga
menghambat pertumbuhannya dan fungsi fisiknya. Pertumbuhan fisik mempengaruhi
perkembangan psikologis, demikian juga sebaliknya faktor psikologi dapat mempengaruhi
pertumbuhan fisik anak.

b. Hukum-hukum pertumbuhan dan perkembangan


Bagi setiap makhluk hidup sejak kelahiran, kemudian menjalani kehldupannya
terdapat dasar-dasar dan pola-pola kehidupan yang berlaku umum sesuai dengan jenisnya.
Disamping itu, terdapat pula pola-pola yang berlaku khusus sehubungan dengan sifat-sifat
individualnya. Latar belakang dan lingkungan kebudayaan sangat mempengaruhi pola
pertumbuhan dan perkembangan bangsa sehingga timbul karakteristik dan kepribadian
yang berbeda-beda maupun persamaannya.
Berdasarkan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan itulah diperoleh
kecenderungan-kecenderungan umum dalam perkembangan dan pertumbuhan, yang
selanjutnya disebut hukum-hukum pertumbuhan dan perkembangan antara lain:
(1) Hukum Cephaloeoudal:
Hukum ini berlaku pada pertumbuhan fisik dimulai dari kepala ke arah kaki. Pada saat
masih janin dalam kandungan, maka bagian kepala tumbuh terlebih dahulu dari bagian
lainnya. Setelah lahir, maka otak dan semua sistem syaraf akan aktif sebagai pusat
penggerak.
(2) Hukum proximodistal:
Bahwa pertumbuhan fisik berpusat pada jantung, hati dan alat-alat pencernaan, dari
pada anggota tubuh lainnya. Bisa dibayangkan jika jantung, paru-para, hati,
pencernaan tidak berfungsi sebagaimana mestinya tentu pertumbuhan tidak akan
terjadi secara normal.
(3) Perkembangan terjadi dari umum ke khusus
Bahwa proses perkembangan dimulai dari hal-hal yang umum ke hal-hal yang khusus.
Misalnya perkembangan fungsi tangan, pertama hanya bisa digerak-gerakkan, bisa
dilipatkan, dan kemudian jari dipergunakan untuk memegang sesuatu.

(4) Perkembangan berlangsung sesuai dengan fase-fase perkembangan:


bahwa setiap peserta didik berkembang sesuai dengan fase
perkembangan yang dilaluinya, sebagaimana telah dijelaskan pada fase
perkembangan.
BAB II
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN REMAJA

A. Pertumbuhan Fisik dan Persepsual Anak

Dalam kehidupan anak ada dua proses yang beroperasi secara kontinu yaitu
pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif
yang menyangkut peningkatan ukuran dan sturukur biologis. Pertumbuhan adalah
perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematngan fungsi-fungsi fisik yang
berlangsung secara normal pada anak sehat, dalam perjalanan waktu tertentu.

1. Karakterîstik pertumbuhan dan Perkembangan Remaja


Ada banyak isrilah yang dipergunakan untuk kata remaja seperti: puberteit,
adolescentia, youth, pubertas (puber), semuanya mengarah kepada pengertian remaja.
Dalam ilmu kedokteran, masa remaja merupakan tahap perkembangan fisik dimana
alat-alat kelamin mencapai kematangannya.
Secara anatomis alat-alat kelamin maupun keadaan tubuh berfungsi secara
sempurna:
(1) Pada anak laki-laki: masa remaja berlangsung kurang lebih 2 tahun dihitung sejak
anak laki-laki mengalami mimpi basah (mengeluarkan air mani pada saat tidur).
Tanda-tandanya: berotot, berkumis, dan tumbuh bulu-bulu pada tempat tertentu
(ketiak dan pangkal kemaluan).
(2) Pada anak perempuan: masa remaja berlangsung kurang lebih 2 tahun dihitung sejak
anak menstruasi (haid) pertama. Tanda-tandanya: payudara dan panggul membesar,
tumbuh bulu-bulu pada tempat tertentu (ketiak dan pangkal kemaluan).

Perkembangan jiwa anak pada masa remaja ini masih dalam kondisi "entropy", yaitu
suatu keadaan dimana kesadarannya masîh belum tersusun rapi. Mungkin saja
pengetahuan, perasaan dan sebagainya telah terisi sedemikian banyaknya, namun isi
tersebut belum saling terkait dengan baik, sehingga belum bisa berfungsi secara
maksimal. Isi kesadaran masih bertentangan dengan pengalamannya. Oleh sebab itu, masa
remaja ini disebut pula sebagai "masa kritis" bagi orang tua maupun bagi guru.

Kondisi entropy terwujud dalam beberapa hal :


- Anak selalu menantang orang tua, malas (maunya tidur saja), cenderung coba-coba tanpa
konsultasi
- Dalam kelompok sosialnya mudah dipengaruhi misalnya: merokok, ngebut, minuman
keras, obat-obat terlarang, berpesta ria, tawuran, dan mengganggu lawanjenisnya.
- Secara perorangan: ia suka mengkhayal dan berfantasi

2. Penyebab perubahan :
Adapun penyebab perubahan pada masa remaja ini diduga dua kelenjar yang bekerja
aktif pada sistem endokrin yaitu kelenjar pituitary dan kelenjar gonad, yang terletak di
dasar otak yang erat hubungannya dengan perubahan pada masa remaja. Kedua hormon
ini adalah hormon pertumbuhan yang menyebabkan terjadinya perubahan ukuran tubuh
dan hormon gonadotropik yaitu hormon yang merangsang gonad (kelenjar kelamin)
supaya aktif bekerja.
Sebelum masa remaja (pra-remaja) kedua hormon ini telah mulai diproduksi dan
dikendalikan oleh kelenjar endokrin. Kelenjar ini diaktifkan oleh rangsangan yang
dilakukan oleh kelenjar hypothalamus, yaitu kelenjar yang dikenal sebagai kelenjar untuk
merangsang pertumbuhan pada saat remaja dan terletak di otak.
Kelenjar gonad ini akan aktif oleh hormon gonadotropik dari kelenjar pituitary pada
saat anak memasuki tahap remaja. Setelah tercapai kematangan alat kelamin, maka
hormon gonad akan menghentikan aktivitas hormon pertumbuhan. Selama masa remaja,
seluruh tubuh mengalami perubahan baik di luar maupun di bagian dalam tubuh, baik
perubahan struktur tubuh maupun fungsinya. Pada kenyataannya hampir semua bagian
tubuh perubahannya mengîkuti irama yang tetap, sehingga waktu terjadinya dapat
diperkirakan sebelumnya. Perubahan tersebut tampak jelas sekali pada bagian pertama
masa remaja.
Adapun perabahan-perubahan fisik yang penting dan yang terjadi pada masa
remaja, adalah:

a. Perubahan ukuran tubuh

Irama pertumbuhan terjadi 2 tahun sebelum anak mencapai taraf pematangan


kelaminnya. Setahun sebelum pematangan ini, anak akan bertambah tinggi 10 sampai
15 cm dan bertambah berat 5 sampai 10 kg setelah terjadi pematangan kelamin ini.
Selama 4 tahun pertumbuhan tinggi badan anak bertambah 25% dan berat badannya
hampir mencapai dua kali lipat. Anak laki-laki tumbuh lebih cepat dari anak
perempuan. Pertumbuhan anak laki-laki akan mencapai bentuk tubuh dewasa pada
usia 19 tahun sampai 20 tahun, sedangkan bagi anak perempuan pada usia 18 tahun.

b. Perubahan proporsi tubuh

Ciri tubuh yang proporsional (sebanding, seimbang) pada masa remaja ini tidak
semua untuk seluruh tubuh, ada bagian tubuh yang semakin tidak proporsional.
Proporsi yang tidak seimbang ini akan berlangsung terus sampai seluruh masa puber
selesai dilalui sepenuhnya, sehingga akhirnya proporsi tubuhnya mulai tampak
seimbang menjadi proporsi yang dewasa. Perubahan ini terjadi baik di dalam maupun
di bagian luar tubuh anak.

• Ciri kelamin yang utama

Pada masa kanak-kanak, alat kelamin utama belum berkembang dengan


sempurna. Ketika memasuki masa remaja, alat kelamin mulai berfungsi pada saat
berusia 14 tahun, yaitu pada saat pertama kali anak laki-laki mengalami "mimpi
basah". Sedangkan pada anak perempuan, indung telurnya mulai berfungsi pada usia
13 tahun, yaitu pada saat pertama kali mengalami menstruasi atau haid. Mulai dari
lahir sampai anak perempuan bisa mengandung disebut "masa steril".

• Ciri kelamin yang utama

Yang dimaksud dengan ciri kelamin kedua pada anak perempuan adalah
membesarnya buah dada dan mencuatnya puting susu, panggul melebar lebih lebar
dari bahunya, tumbuh rambut di sekitar alat kemaluan, tumbuh rambut di ketiak,
suara bertambah nyaring. Sedangkan pada anak laki-laki tumbuh kumis dan
jenggot, otot mulai tampak, bahu melebar lebih lebar dari panggul, nada suara agak
parau, tumbuh jakun, tumbuh bulu di ketiak, bulu dada, dan bulu di sekitar
kemaluan, perubahan jaringan kulit menjadi lebih kasar dan pori-pori membesar.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan fisik

a. Pengaruh keluarga:
Ditinjau dari pengaruh faktor keluarga, maka keturunan dan lingkungan sangat
memegang peranan penting. Faktor keturunan seperti tinggi rendahnya anak, akan
tidak jauh berbeda dari tinggi rendah kedua orang tuanya. Sedangkan faktor
lingkungan akan terwujud pada berat badan anak sesuai dengan tinggi rendahnya anak
tersebut.

b. Pengaruh gizi
Anak-anak yang memperoleh gizi yang cukup, tubuhnya akan lebih tinggi dan lebih
cepat mencapai taraf remajanya dibandingkan dengan anak yang kurang memperoleh
gizi.

c. Gangguan emosional
Anak yang sering mengalami gangguan emosional menyebabkan terbentuknya
steoroid adrenal (kelenjar buntu yang menghasilkan hormon pada bagian ginjal) yang
menghambat pembentukan hormon sehingga tidak tercapainya berat badan yang
seharusnya.

d. Jenis kelamin
Anak laki-laki lebih tinggi dan lebih berat dari pada anak perempuan, yang disebabkan
oleh pembentukan tulang dan otot.

e. Status sosial ekonomi


Anak-anak yang berasal dari keluarga yang berstatus sosial ekonomi daerah,
cenderung mempunyai bentuk badan lebih kecil dan pertumbuhannya lambat
dibandingkan dengan anak berlatar belakang status sosial ekonominya tinggi.

f. Kesehatan
Artak-anak yang sehat dan jarang saMt akan memiliki tubuh yang lebih berat dari
anak yang sakit-sakitan.
g. Persepsi Anak
Kita menerima berbagai rangsang dari Iuar diri Jata melalui lima indera. Proses
penerimaan rangsang ini disebut "penginderaan" (sensation).

B. REMAJA; PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGANNYA


Untuk menghindari kesimpangsiuran dan kesalah pahaman dalam penggunaan
istilah. Istilah asing sering dipakai untuk menunjukkan remaja antara lain Puberteit,
Adolencia dan youth. Dalam bahasa Indonesia disebut Pubertas remaja. Istilah Puberty
(Inggris) atau puberteit, (Belanda) berasal dari Latin. Pubertas berarti usia kedewasaan
(the âge of man hood)
Adolence menunjukkan masa yang tercepat antara 12-22 tahun dan mencakup seluruh
perkembangan psikis yang terjadi pada masa tersebut.

1. Remaja menurut hukum


Konsep tentang "remaja", bukanlah berasal dari bidang hukum melainkan berasal
dari bidang ilmu-ilmu sosial lainnya seperti antropologi, sosiologi, psikologi dan
paedagogi. Kecuali itu konsep remaja juga merupakan konsep yang relatif baru, muncul
kira-kira setelah era industrialisasi merata di negara Eropa, Amerika Serikat dan negara-
negara lainnya. Masalah remaja baru menjadi pusat perhatian ilmu-ilmu sosial dalam 100
tahun terahir.
Usia minimal untuk suatu perkawinan menurut undang-undang perkawinan saja
mengenal konsep "remaja" walaupun tidak terbuka. Usia minimal untuk suatu perkawinan
menurut undang-undang disebutkan 16 tahun untuk wanita dan 19-22 tahun untuk pria
(Pasal 7 undang-undang No 1/1974 tentang perkawinan).Waktu antara 16 dan 19-22
tahun ini disejajarkan dengan pengertian remaja dalam ilmu-ilmu sosial lainnya.

2. Remaja ditinjau dari sudut perkembangan fisik


Dalam dunia kedokteran dan ilmu-ilmu lain yang terkait remaja dikenal sebagai
suatu tahap perkembangan fisik dimana alat-alat kelamin manusia mencapai
kematangannya. Secara anatomis berarti alat-alat khusus dan keadaan tubuh pada
umumnya memperoleh bentuknya yang sempuma dan secara faal alat-alat kelamin
tersebut sudah dapat berfungsi secara sempuma pula. Pada akhir perkembangan fisi ini
akan menjadi seorang pria yang berotot dan berkumis yang menghasilkan beberapa ratus
juta sel mani (spermatozoa setiap kali berejakulasi (memancarkan air mani) atau
seseorang wanita yang berpayudara dan berpinggul besar yang setiap bulannya
mengeluarkan sel telur dari indung telur yang disebut menstruasi atau haid.
Masa pematangan fisik ini berjalan kurang Iebih 2 tahun dan biasanya dîhitung
mulai menstruasi pertama pada anak wanita atau sejak anak wanita atau sejak anak pria
mengalami mimpi basah. Khususnya berkaitan dengan kematangan seksual merangsang
remaja untuk memperoleh kepuasan seksual. Haï ini dapat mertimbulkan gejala onani
atau masturbasi.
Kartini Kartono (1990 : 217) memandang gejala onani atau masturbasi ini sebagai
tindakan remaja yang négatif, karena gejala ini merupakan usaha untuk mendapat
kepuasan seksual yang semu (penodaan diri). Hal ini terjadi karena remaja telah
menyadari bahwa tindakan sosial dan hukum itu dilarang. Oleh karena itu, pencegahan
tindakan onani perlu dilakukan secara paedogogis.
Masa-masa tahun ini dinamakan masa pubertas. Pada usia beberapa persis masa
puber ini dimulai sulit ditetapkan, oleh karena cepat lambatnya menstruasi pada anak
perempuan atau mimpi basah pada anak laki-laki sangat tergantung pada kondisi tubuh
masing-masing individu. Jadi sangat bervariasi, ada wanita yang sudah menstruasi pada
umur 9 atau 10 tahun dan ada juga yang baru menstruasi baru berumur 17 tahun.
Jika menentukan titik aawal dari masa remaja sudah cukup sulit, menentukan titik
akhirnya lebih sulit lagi, karena remaja dalam arti luas jauh lebih besar jangkauannya dari
masa puber itu sendiri. Remaja yang berarti tumbuh kearah kematangan baik secara fisik
maupun kematangan sosial psikologis.

3. Batasan Remaja menurut WHO


Remaja adalah suatu masa pertumbuhan dan perkembangan dimana :
a. Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda
seksual sekunder sampai saat ia menunjukkan tanda-tanda.
b. Individu mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari
kanak-kanak menjadi dewasa.
c. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada
keadaan yang relatif lebih mandiri.

4. Remaja ditinjau dari faktor Sosial Psikologis


Salah satu ciri remaja disamping tanda-tanda seksualnya adalah : Perkembangan
psikologis dan pada identyifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa. Puncak
perkembangan jiwa itu ditandai dengan adanya proses perubahan dari kondisi "entropy"
ke kondisi " Negen-tropy".
• Entropy adalah : Keadaan dimana kesadaran manusia masih belum tersusun rapi.
Walaupun isinya sudah banyak (pengetahuan, perasaan dan sebagainya) namun isi-isi
tersebut belum saling terkait dengan baik sehingga belum bisa berfungsi secara
maksimal. Isi kesadaran masih saling bertentangan, saling tidak berhubungan sehingga
mengurangi kerjanya dan menimbulkan pengahaman yang kurang menyenangkan buat
orang bersangkutan.
• Kondisi Negen-tropy adalah : Dimana isi kesadaran tersusun dengan baik,
pengetahuan yang satu terkait dengan perasaan atau sikap. Orang dalam keadaan
negentropy ini merasa dirinya sebagai kesatuan yang utuh dan bisa bertindak dengan
tujuan yang jelas, ia tidak perlu dibimbing lagi untuk bisa mempunyai tanggung jawab
dan semangat kerja yang tinggi.

5. Defenisi Remaja untuk masyarakat Indonesia


Menurut Sarlito (1991) tidak ada profil remaja Indonesia yang seragam dan
berlaku secara Nasional. Masalahnya adalah karena Indonesia terdiri dari berbagai suku,
adat dan tingkatan sosial ekonomi maupun pendidikan. Di Indonesia kita menjumpai
masyarakat golongan atas yang sangat terdidik dan menyerupai masyarakat di negara
barat dan kita menjumpai masyarakat semacam masyarakat di Samoa.
Sebagai pedoman umum untuk remaja Indonesia dapat digunakan bâtas usia 11 -
24 tahun dan belum menikah. Pertimbangan adalah sebagai berikut :
1. Usia 22 tahun adalah usia dimana pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai
nampak (kriteria fsik)
2. Dibanyak masyarakat Indonsia, usia 11 tahun sudah dianggap akil balik, baik menurut
adat maupun agama, sehingga masyarakat tidak lagi memperlakukan mereka sebagai
anak-anak (kriteria sosial)
3. Pada usia tersebut mulai ada tanda-tanda penyempumaan perkembangan jiwa seperti
tercapainya identitas diri (ego identity) tercapainya fase génital dari perkembangan
kognitif (Piaget) maupun moral (Khohlberg)
4. Batas usia 24 tahun merupakan bâtas maksimal yaitu memberi peluang bagi mereka
yang sampai bâtas usia tersebut masih menggantungkan diri pada orang Iain, belum
mempunyai hak-hak penuh sebagai orang dewasa. Status perkawinan sangat
menentukan karena arti perkawinan masih sangat penting di masyarakat Indonesia
secara menyeluruh. Seorang yang sudah menikah pada usia berapa pun dianggap dan
diperlakukan sebagai orang dewasa penuh, baik secara hukum maupun dalam
kehidupan masyarakat dan keluarga. Rentangan usia dalam masa remaja tampak ada
berbagai pendapat, walaupun tidak terjadi pertentangan.
• Bigot, Kohnstam dan Pallland mengemukakan bahwa masa pubertas berada pada
usia 15 -18 tahun.
• Hurlocck (1964) remaja antara 13-21.
• WHO menetapkan remaja umur 19 - 20 tahun (10 -14,15-20 tahun).
• Perserikatan bangsa-bangsa menetapkan remaja usia 15 - 21 tafhun.

C. Kebutuhan Dasar Manusia


Kebutuhan dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu : kebutuhan primer dan
kebutuhan sekunder. Kebutuhan primer pada hakekatnya merupakan kebutuhan biologis
atau organik dan umumnya merupakan kebutuhan yang didorong oleh motif asli. Contoh
kebutuhan primer itu antara lain : makan, minum, bernafas dan kehangatan tubuh. Pada
tingkat remaja dan dewasa kebutuhan primer ini dapat bertambah yaitu kebutuhan
seksuaL Sedangkan kebutuhan sekunder umumnya merupakan kebutuhan yang didorong
oleh motif yang dipelajari, seperti misalnya kebutuhan untuk mengejar pengetahuan,
kebutuhan akan hiburan, kebutuhan mengikuti pola hidup bermasyarakat, kebutuhan akan
hiburan, alat transportasi dan semacamnya.
Klasifikasi kebutuhan menjadi kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder sering
digunakan, namun pengklasifikasian semacam itu sering membingungkan. Oleh karena itu
Cole dan Bruce (1959) (Oxendine, 1984 : 227) membedakan kebutuhan menjadi dua
kelompok yaitu kebutuhan fisiologis dan kebutuhan psikologis. Pengelompokan ini
sejalan dengan yang dikemukakan oleh Murray (1938) (Oxendine, 1984 : 227) yang
dianjurkan dengan istilah yang berbeda, yaitu kebutuhan Viscerogenic dan kebutuhan
psycogenic.
Beberapa contoh kebutuhan-kebutuhan fisiologis adalah makan minum, istirahat,
seksual, perlindungan diri. Sedangkan kelompok kebutuhan psikologis, seperti yang
dikemukakan Maslow (1984) mencakup : 1). Kebutuhan untuk memiïïki sesuatu, 2)
Kebutuhan akan cinta dan kasih sayang, 3) kebutuhan akan keyakinan diri dan 4 )
kebutuhan aktualisasi diri.
Remaja sebagai individu atau manusia pada umumnya juga mempunyai kebutuhan
dasar tersebut. Secara Iengkap kebutuhan dasar secara individu dapat digambarkan :

Deskripsi Karakteristik

1. Kebutuhan jasmaniah, Kebutuhan yang terkait dengan


2. Kebutuhan keamanan Kebutuhan pertahanan diri, khususnya
akan pengakuan pemeliharaan dan pertahanan diri,
3. Kebutuhan Harga DM bersifat individual
4. Kebutuhan akan aktualisasi diri Kebutuhan yang terkait langsung dengan
pengembangan diri yang relatif kompleks,
abstrak dan bersifat sosial

Keempat macam kebutuhan tersebut bersifat l^hirarki, dari kebutuhan yang bertingkat
rendah yaitu : kebutuhan jasmaniah, sampai dengan kebutuhan yang bertingkat tinggi yaitu
kebutuhan aktualisasi diri
Hirarki kebutuhan diatas sejalan dengan teori kebutuhan yang dikemukakan Dr. Abraham
Maslow yaitu :

Gambar
piramid

Kebutuhan sebelumnya adalah kebutuhan untuk memiliki, baik pemilikan itu


berkaitan dengan lingkungan manusia maupun yang berkaitan dengan kebendaan. Dalam
tingkat perkembanagan tertentu, seorang individu berupaya untuk memiliki benda-benda
yang disenangi. Dengan munculnya kebutuhan tersebut berarti dalam dirinya telah terjadi
kontak dengan dunia luar dirinya, dengan "yang lain atau n'Aff. Sebagaimana dikatakan
didepan kebutuhan yang paling mendasar adalah kebutuhan yang berkaitan dengan
kepentingan jasmaniah atau organisme, baik yang berkaitan dengan usaha mengembangkan
diri, memperoleh keamanan, maupun mempertahankan diri.

Kebutuhan Remaja, masalah dan konsekuensinya

Masa remaja merupkan masa peralihan dari kanak-kanak menuju masa dewasa. Hall
(Dalam Liekerd, dkk 1974 : 478) memandang bahwa masa remaja ini sebagai masa "Strom
and stress". la menyatakan bahwa selama masa remaja banyak masalah yang dihadapi karena
remaja itu berupaya menemukan jati diri remaja dilakukan dengan berbagai pendekatan, agar
ia dapat mengaktualisasikan diri secara baik. Aktualisasi diri merupakan bentuk kebutuhan
untuk mewujudkan jati dirinya. Beberapa jenis kebutuhan remaja dapat diklasifikasikan
menjadi kelompok kebutuhan yaitu :
• Kebutuhan organik seperti makan, minum, bernafas, seks.
• Kebutuhan emosional yaitu kebutuhan untuk mendapatkan simpati dan pengakuan
dari pihak lain dikenal dengan n'aff.
• Kebutuhan berprestasi atau need achievment yang dikenal dengan n'Ach, yang
berkembang karena didorong untuk mengembangkan potensi yang dimiliki dan sekahgus
menunjukkan kemampuan psiko- fisis.
• Kebutuhan untuk mempertahankan diri dan mengembangkan jenis
pertumbuhan fisik dan perkembangan sosio-psikologis dimasa remaja.
Pada dasarnya merupakan kelanjutan, yang dapat diartikan penyempurnaan, proses
pertumbuhan dan perkembangan sebelumnya. Seperti hal nya pertumbuhan
fisik yang ditandai dengan munculnya tanda-tanda kelamin sekunder
merupakan awal masa remaja sebagai indikator menuju ketingkat kematangan
fungsi seksual seseorang. Sekalipun diakui bahwa kebutuhan dalam
pertumbuhan dan perkembangan remaja masih mencakup kebutuhan fisik dan
kebutuhan psikologis lebih menonjol. Bahwa antara kebutuhan keduanya (fisik
dan psikologis) saling terkait. Oleh karena itu pembagian yang memisahkan
kebutuhan atas dasar kebutuhan fisik dan psikologis pada dasarnya sulit
dilakukan secara tegas. Sebagai contoh "makan" adalah upaya untuk
memenuhi kebutuhan fisik, akan tetapi pada jenjang masa remaja "makan bersama dengan
orang tertentu orang lain", makan dengan mengikuti aturan atau norma yang berlaku
didalam budaya kehidupan masyarakat merupakan kebutuhan yang tidak hanya
dikelompokkan sebagai kebutuhan flsik semata. Kebutuhan tersebut dapat dikelompokkan
kedalam kebutuhan sosial emosional.
Disamping itu remnaja membutuhkan pengakuan akan kemampuannya yang
menurut maslow kebutuhan ini disebut kebutuhan penghargaan . Remaja membutuhkan
penghargaan dan pengakuan bahwa ia atau mereka telah mampu berdiri sendiri, mampu
melaksanakan rugas-tugas seperti yang dilakukan oleh orang dewasa, dan dapat
bertanggung jawab atas sikap dan perbuatan yang dikerjakannya. Faktor non fisik yang
secara integratif tergabung didalam faktor-faktor sosial atau psikologi dijiwai oleh tiga
potensi dasar yang dimilkiki manusia yaitu pikir, rasa dan kehendak keriganya secara
potensial mendorong munculnya berbagai kebutuhan. Remaja telah memahami berbagai
aturan di dalam kehidupan masyarakat dan tentu saja ia atau mereka berupaya untuk
mengikuti aturan-aturan itu.
Dalam kehidupan dunia modem manusia tidak saja hanya berpikir tentang
kebutuhan pokok mereka telah lebih maju pemikirannya telah bercakrawala luas. Oleh
karena itu kebutuhan pokoknya juga sudah berkembang. Pendidikan dan hiburan misalnya
didalam masyarakat modem telah menjadi kebutuhan hidup yang mendesak bahkan telah
masuk dalam daftar kebutuhan pokok. Kini anda dapat mengamati kingkungannnya,
bahwa perilaku kehidupan manusia telah begitu kompleks. Perubahan ini tentu saja ada
faktor yang mendorong dan mempengaruhinya. Dalam menghadapi masalah dan
perkembangan sosial psikologis, menjadi manusia berprestasi telah merupakan kebutuhan
sosial yang membimbingnya untuk berhasil dan lebih lanjut untuk menjadi orang
berprestasi yang berhasil.
Beberapa masalah yang dighadapi remaja yang sehubungan dengan kebutuhan/
kebutuhannya dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Upaya untuk dapat mengubah sikap dan perilaku kekanak-
kanankan menjadi sikap dan perilaku dewasa tidak semuanya dapat dengan mudah
untuk dicapai baîk oleh remaja laki-laki maupun perempuan. Pada masa ini remaja
mengahadapi tugas-tugas dalam perubahan sikap dan perilaku yang besar, sedang
dilain pihak harapan di tumpukan pada remaja muda untuk dapat meletakkan dasar-
dasar bagi pembentukan sikap-sikap dan pola perilaku-perilaku. Kegagalan dalam
mengatasi ketidak kuasaan ini dapat mengakibatkan menurunnya harga diri, dan akibat
Iebih Ianjut dapat menjadikan remaja bersikap keras dan agresif atau sebaliknya.
Bersikap tidak percaya diri, pendiam atau harga diri kurang.
2. Seringkali remaja mengalami kesulitan untuk menerima perubahan-
perubahan fisiknya. Hanya sedikit remaja yang merasa puas dengan tubuhnya. Hal ini
disebabkan pertumbuhan tubuhnya dirasa kurang serasi. Ketidak serasian proporsi
tubuh ini sering menimbulkan kejengkelan, karena karena ia (mereka) sulit untuk
mendapatkan pakaian yang pantas juga hal itu trampak pada gerakan atau perilaku
yang kelihatannya ragu dan tidak pantas.
3. Perkembangan fungsi seks pada masa ini dapat menimbulkan
kebingungan remaja untuk memahaminya, sehingga sering terjadi salah tingkah dan
perilaku yang menentang norma. Pandangannya terhadap sebaya lain jenis kelamin
dapat menimbulkan kesulitan dalam pergaulan bagi remaja laki-laki dapat berperilaku
yang "menentang norma" dan bagi remaja perempuan akan berperilaku "mengurung
diri" atau menjauhi pergaulan dengan sebaya lain jenisnya. Apabila kematangan
seksual itu tidak mendapatkan arahan atau penyaluran yang tepat dapat berakibat
negatip. Konsekuensi yang diderita sering berbentuk pelarian yang bertentangan
dengan norma susila dan sosial, seperti homoseksual, lari kekehidupan"hitam" atau
melacur dan semacamnya. Bagi remaja pria secara berkelompok kadang-kadang
mencoba pergi bersama-sama kelokasi "berlampu merah" atau lokasi WTS. Dalam
memasuki kehidupan bermasyarakat, remaja yang terlalu mendambakan kemandirian,
dalam arti menilai dirinya cukup mampu untuk mengatasi problema kehidupan,
kebanyakan akan menghadapi berbagai masalah, terutama masalah penyesuaian
emosional, seperti perilaku yang over akting atau lancang, dan semacamnya .
Kehidupan bermasyarakat banyak menuntut remaja imtuk banyak menyesuaikan diri ,
namun yang terjadi tidak semuanya selaras. Dalam hal terjadi ketidak selarasan antar
pola kehidupan masyarakat dan perilaku yang menurut remaja baik, haï ini dapat
berakibat kejengkelan remaja selalu disalahkan dan akibat mereka prustasi dengan
tingkah lakunya sendiri.
5. Harapan-harapan untuk dapat berdiri sendiri dan untuk hidup mandiri secara sosial
ekonomis, akan berkaitan dengan berbagai masalah untuk menetapkan pilihan jenis
pekerjaan dan jenis pendidikan. Penyesuaian sosial merupakan salah satu yang sangat
sulit dihadapi oleh remaja. Mereka bukan saja harus menghadapi satu arah kehidupan,
yaitu keragaman norma dalam kehidupan bersama dalam masyarakat, tetapi juga
norma baru dalam kehidupan sebaya remaja dan kuatnya pengaruh kelompok sebaya
6. Berbagai norma dan nilai yang berlaku didalam hidup bermasyarakat merupakan
masalah sendiri bagi remaja sedang dipihak remaja merasa memiliki nilai dan norma
kehidupannya yang dirasa lebih sesuai dalam haï ini para remaja menghadapi
perbedaan nilai dan norma kehidupan. Menghadapi perbedaan norma ini merupakan
kesulitan sendiri bagi kehidupan remaja sering kali perbedaan norma yang berlaku dan
norma yang dianutnya memmbulkan perilaku yang menyebabkan dirinya dikatakan
"nakal".

D. Usaha-usaha pemenuhan kebutuhan remaja dan implikasinya dalam


penyelenggaraan pendidikan

Pemenuhan kebutuhan fisik atau organik merupakan tugas pokok. Kebutuhan ini
harus dipenuhi karena hal ini merupakan kebutuhan untuk mempertahankan kehidupannya
agar tetap tegar (survival). Tidak berbeda dengan pemenuhan kebutuhan serupa di masa
perkembangan sebelumnya, kebutuhan ini sangat dipengaruhi oleh faktor ekonomi,
terutama ekonomi keluarga. Akibat tidak terpenuhinya kebutuhan fisik ini akan sangat
berpengaruh terhadap pembentukan pribadi dan perkembangan psiko-sosial seorang
individu. Menghadapi kebutuhan ini latihan kebersihan, hidup teratur dan sehat sangat
perlu ditanamkan oleh orang tua sekolah dan Iingkungan masyarakat kepada anak-anak
dan para remaja. Realisasi hal ini disekolah adalah pendidikan kesehatan, pendidikan
jasmani dan pentingnya usaha kesehatan sekolah (UKS).
Khusus kebutuhan seksual, yang ini juga merupakan kebutuhan fisik remaja, usaha
pemenuhannya harus mendapatkan perhatian khusus dari orang tua, terutama ibu.
Sekalipun kebutuhan seksual merupakan bagian dari kebutuhan fisik, namun hal ini
menyangkut faktor lain untuk diperhatikan dalam pemenuhannya. Orang tua harus cukup
tanggap dan waspada serta secara dini menjelaskan dan memberikan pengertian arti dan
fungsi kehidupan seksual bagi remaja (terutama wanita) dan arti seksual dalam kehidupan
secara luas. Pemenuhan kebutuhan dan dorongan seksual pada remaja, dimana pada saat
itu mereka telah menyadari akan adanya norma agama, sosial dan hukum maka banyak
dilakukan secara diam-diam aktivitas onani atau masturbasi.
Pendidikan seksual di sekolah dan terutama didalam keluarga harus mendapatkan
perhatian. Program bimbingan keluarga bimbingan perkawinan dapat dilakukan secara
periodik oleh setiap organisasi ibu-ibu dan organisasi wanita pada umumnya . Sekolah
sekali-kali perlu mendatangkan ahli atau dokter untuk memberikan ceramah-ceramah
tentang masalah-masalah remaja khususnya masalah seksual.
BAB III
PROSES BELAJAR DAN IMPLIKASINYA

A. PENGERTIAN BELAJAR

Belajar merupakan salah satu bentuk perilaku yang sangat penting bagi
kelangsungan hidup manusia. Belajar membantu manusia menyesuaikan diri (adaptasi)
dengan Iingkungannya, dan dengan adanya proses belajar inilah manusia dapat
mempertahankan hidupnya (survival). Belajar secara sederhana dikatakan sebagai proses
perubahan dari belum mampu menjadi sudah mampu yang terjadi dalam jangka waktu
tertentu. Perubahan yang terjadi itu harus secara relatif bersifat permanen (menetap) dan
tidak hanya terjadi pada perilaku yang saat ini nampak (immédiate behavior), tetapi juga
pada perilaku yang mungkin terjadi di masa mendatang.
Hal lain yang perlu diperhatikan bahwa perubahan-perubahan tersebut terjadi
karena pengalaman.
Berikut ini akan diketengahkan pengertian belajar dari beberapa pakar aliran
psikologi :
1. Belajar menurut B. F. Skinner (dalam Margaret 1991) Dari aliran Behaviorisme:
belajar adalah suatu perilaku. Pada saat belajar responnya menjadi lebih baik,
sebaliknya bila tidak belajar maka responnya menurun.
2. Belajar menurut Robert Gagne (1985) - Aliran Kognitif: belajar merupakan kegiatan
yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabiîitas sehingga setelah belajar seseorang
memperoleh keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai.
3. Belajar menurut Jean Piaget (dalam Margaret 1991) - aliran kognitif: belajar adalah
membentuk pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungan sehingga intelek
berkembang.
4. Belajar menurut Rogers (dalam Margaret 1991) - Aliran huministik; belajar adalah
mempelajari hal-hal yang bermakna dengan keterlibatan siswa itu sendiri secara penuh
dan sungguh-sungguh.
5. Belajar menurut Wolfgang Kohler (dalam Margaret 1991) - Aliran Gestalt: belajar
adalah perubahan dalam proses persepsi merupakan landasan bagi belajar.
6. Belajar menurut Ivan Pavlov (dalam Margaret 1991) Aliran Behavioristik: bahwa hasil
belajar itu merupakan suatu respons yang dikondisikan.
7. Belajar menurut Albert Bandura (dalam Margaret 1991) - Aliran Sosial: belajar terjadi
karena adanya hubungan segitiga antara Iingkungan, faktor pribadi, dan tingkah Iaku.
Jadi, pengertian tentang belajar adalah: perubahan tingkah Iaku manusia berupa
keterampilan, pengetahuan, sikap, nilai, melalui respon dan lingkungannya.

B. PRINSIP-PRINSIP BELAJAR

Salah satu tugas guru adalah mengajar dan dalam kegiatan mengajar ini tentu saja
tidak dapat dilakukan sembarangan, tetapi harus menggunakan teori-teori dan prinsip
belajar tertentu agar bertindak secara tepat. Dalam melaksanakan pembelajaran,
pengetahuan tentang teori dan prinsip-prinsip belajar dapat membantu guru dalam
memilih tindakan yang tepat. Guru dapat terhindar dari tindakan-tindakan yang
kelihatannya baik tetapi nyatanya tidak berhasil meningkatkan proses belajar siswa. Selain
itu dengan teori dan prinsip-prinsip belajar, guru memiliki dan mengembangkan sikap
yang diperlukan untuk menunjang peningkatan belajar siswa.
Dari berbagai prinsip belajar yang dikemukakan berikut ini merupakan upaya untuk
meningkatkan pembelajaran. Prinsip-prinsip itu berkaitan dengan: perhatian dan
motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan, tantangan,
balikan dan penguatan, serta perbedaan individual.

a. Perhatian dan Motivasi

Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar karena pengolahan
informasi tidak akan terungkap tanpa perhatian. Perhatian terhadap pelajaran sesuai
dengan kebutuhannya. Apabila bahan pelajaran itu dirasakan sebagai sesuatu kebutuhan,
diperlukan untuk belajar lebih lanjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan
membangkitkan motivasi
untuk mempelajarinya. Apabila perhatian alami ini tidak ada, maka siswa perlu
dibangkitkan perhatiannya.
Disamping perhatian, motivasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar.
Moiivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang.
Motivasi dapat merupakan tujuan dan alat dalam pembelajaran. Sebagai tujuan, motivasi
merupakan salah satu tujuan dalam mengajar. Sebagai alat, motivasi merupakan salah
satu faktor seperti halnya inteiigensi dan hasil belajar sebelumnya yang dapat
menentukan keberhasilan belajar siswa belajar siswa dalam bidang pengetahuan, nilai-
nilai dan keterampilan.
Motivasi mempunyai kaitan yang erat dengan minât. Siswa yang memiliki minât
terhadap sesuatu bidang studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya dan dengan
demikian timbul motivasinya untuk mempelajari bidang studi tersebut.
Motivasi mempunyai kaitan yang erat dengan minât. Siswa yang memiliki minât
terhadap sesuatu bidang studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya dengan demikian
timbul motivasinya untuk mempelajari bidang studi tersebut. Motivasi juga dipengaruhi
oleh nilai-nilai yang dianggap penting dalam kehidupannya. Perubahan nilai-nilai yang
dianut akan mengubah tingkah laku manusia dan motivasinya. Karenanya bahan-bahan
pelajaran yang disajikan hendaknya disesuaikan dengan minât siswa dan tidak
bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Sikap siswa, seperti halnya motif menimbulkan dan mengarahkan aktivitasnya. Siswa
yang menyukai matematika akan merasa senang belajar matematika dan terdorong untuk
belajar lebih giat, demikian pula sebaliknya. Karena guru berkewajiban menanamkan
sikap positif pada diri siswa terhadap mata-mata pelajaran yang menjadi tanggung
jawabnya. Insentif, suatu hadiah yang diharapkan diperoleh sesudah melakukan kegiatan,
dapat menimbulkan motif. Hal ini merupakan dasar teori belajar B. F Skinner dengan
operant conditioning-nya.
Motivasi dapat bersifat internai, artinya datang dari dalam diri sendiri, dan dapat pula
bersifat eksternal, artinya datang dari Iuar atau dari orang lain seperti: guru, orang tua,
teman dan sebagainya.
Motivasi dibedakan atas motif intrinsik dan motif ektrinsik Motif intrinsik adalah
tenaga pendorong yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan. contohnya: seorang
siswa yang dengan sungguh-sungguh mempelajari mata pel ajaran di sekolah karena
ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya.
Sedangkan ekstrinsik, adalah tenaga pendorong yang ada di luar perbuatan yang
dilakukannya tetapi menjadi penyertanya. Contohnya: siswa belajar dengan sungguh-
sungguh bukan disebabkan ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya tetapi
didorong oleh keinginan naik kelas atau mendapat ijazah. Naik kelas atau mendapat
ijazah adalah "penyerta" dari keberhasilan belajar.
Motif intrinsik dapat bersifat internat datang dari dalam diri sendiri; dan dapat juga
bersifat eksternal; datang dari luar. Motif entrinsik dapat juga bersifat internai maupun
eksternal.
Motif ektrinsik dapat berubah menjadi motif intrinsik yang disebut "transformasi
motif'. Contohnya: seorang siswa belajar di lembaga pendidikan tenaga kependidikan
(LFTK), karena menuruti keinginan orang tuanya supaya jadi guru. Mula-mula motifnya
adalah ekstrinsik (karena ia hanya ingin menyenangkan hati orang tuanya), tetapi setelah
belajar beberapa lama di LFTK, ia menyenangi mata-mata pelajaran yang dipelajarinya
dan senang menjadi guru. Jadi, motif pada siswa itu yang semula ekstrinsik menjadi
intrinsik.

a. Keaktifan

Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai aspirasinya sendiri.


Belajar tidak dapat dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada
orang lain. Belajar hanya mungkin apabila anak akrif mengalami sendiri. John Dewey
(dalam Davies, 987) mengemukakan, bahwa belajar adalah menyangkut apa yang
harus dikerjakannya untuk dirinya sendiri, maka inisiatif haras datang dari diri siswa, guru
sekedar menjadi pembimbing dan pengarah.
Menurut teori Kognitif, belajar mennnjukkan jiwa yang sangat aktif, jiwa yang
mengolah informasi yang kita terima, tidak sekedar menyimpannya saja tanpa
mengadakan transformasi. Menurut teori ini anak memiliki sifat aktif, konstruktif dan
mampu merencanakan sesuatu. Anak mampu untuk mencari sendiri, menemukan dan
menggunakan pengetahuan yang telah diperolehnya. Dalam proses belajar mengajar, anak
mampu mengidentifikasi, merumuskan masalah, mencari dan menemukan fakta,
menganalisi, menafsirkan dan menarik kesimpulan.

b. Keterlibatan langsung/pengalaman

Pentingnya keterlibatan langsung dalam belajar sebagaimana yang dikemukakan


oleh John Dewey dengan "Learning by Doing" bahwa belajar sebaiknya dialami melalui
perbuatan langsung. Belajar harus dilakukan oleh siswa secara aktif, baik secara individu
maupun kelompok, dengan cara memecahkan masalah (problem solving), guru bertindak
sebagai pembimbing dan fasilitator (guru hanya menyediakan fasilitas).
Keterlibatan siswa di dalam belajar jangan diartikan keterlibatan fisik saja, namun
lebih dari itu terutama adalah keterlibatan mental emosional, keterlibatan dalam kegiatan
kognitif dalam pencapaian dan perolehan pengetahuan, dalam penghayatan dan
internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap dan nilai, juga pada saat mengadakan
latihan-latihan dalam pembentukan keterampilan.
Belajar melalui pengalaman langsung, siswa tidak sekedar mengamati secara
langsung tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan dan bertanggung
jawab terhadap hasilnya. Contohnya: seseorang yang belajar membuat tempe, yang paling
baik apabila ia terlibat langsung dalam cara pembuatan (direct performance), bukan
sekedar melihat orang bagaimana membuat tempe (demonstrating), apalagi sekedar
mendengar orang bercerita bagaimana cara pembuatan tempe (telling).

c. Pengulangan

Prinsip belajar yang menekankan perlunya pengulangan, barangkali yang paling tua
adalah dikemukakan oleh "Teori Dmu Jawa Daya". Menurut teori ini, belajar adalah
melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas: daya pengamatan, tanggapan,
mengingat, mengkhayal, merasakan, berpikir. Dengan mengadakan pengulangan, maka
daya-daya tersebut akan berkembang. Seperti halnya pisau yang diasah akan menjadi
tajam, maka daya-daya yang dilatih dengan pengadaan pengulangan-pengulangan akan
menjadi sempurna.
Demikian pula "teori psikologi asosiasi" menekankan pengulangan terhadap
pengalaman-pengalaman itu memperbesar peluang timbulnya respons yang besar. Teori
lain adalah "teori conditioning classic" dimana belajar adalah pembentukan hubungan
stimulus dan respons, maka pada psikologi conditioning, respons timbul bukan saja oleh
stimulus, tetapi juga oleh stimulus yang dikondisikan. Banyak tingkah laku manusia yang
terjadi karena kondisi, contohnya: siswa berbaris sebelum masuk ke kelas karena
mendengar lonceng berbunyi, kendaraan harus berhenti karena lampu merah. Menurut
teori ini, perilaku individu dapat dikondisikan dan belajar merupakan upaya untuk
mengkondisikan suatu perilaku atau respons terhadap sesuatu.
Mengajar adalah membentuk kebiasaan mengulang-ulang sesuatu perbuatan
sehingga menjadi kebiasaan. Ketiga teori di atas menekankan pentingnya prinsip
pengulangan dalam belajar walaupun dengan tujuan yang berbeda. Yang pertama,
pengulangan itu untuk melatih daya-daya jiwa, sedangkan yang kedua dan ketiga
pengulangan untuk membentuk respons yang benar dan membentuk kebiasaan.
d. Tantangan

Dalam situasi belajar, siswa menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu
terdapat hambatan yaitu mempelajari bahan belajar,
sehingga timbul motif untuk mengatasi hambatan itu dapat diatas, artinya tujuan belajar
telah tercapai, maka ia akan masuk dalam medan baru dan tujuan baru.
Agar pada anak timbul motif yang kuat untuk mengatasi hambatan dengan baik,
maka bahan belajar membuat siswa bergairah untuk mengatasinya. Bahan belajar yang
baru, yang banyak mengandung masalah yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang
untuk mempelajarinya. Pelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk
menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi, akan menyebabkan siswa
berusaha mencari dan menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip dan generalisasi
tersebut. bahan belajar yang telah diolah secara tuntas oleh guru sehingga siswa menyalin
dan menghafalnya, merupakan haï yang kurang baik.

e. Balikan dan Penguatan

Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan, terutama ditekankan
oleh "teori belajar Opérant Conditioning" dari B. F. Skinner. Kalau pada teori
Conditioning yang diberi kondisi adalah stimulusnya, maka pada Opérant Conditioning
yang diperkuat adalah responsnya. Kunci dari teori ini adalah "Iaw of effec-nya
Thorndike". Siswa akan belajar Iebih bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan
hasil yang lebih baik. Hasil yang baik merupakan balikan yang menyenangkan dan
berpengaruh bagi usaha belajar selanjutnya.
Siswa yang belajar sungguh-sungguh dan mendapatkan nilai yang baik akan
mendorong anak untuk belajar lebih giat. Nilai yang baik itu merupakan "Opérant
Conditioning" atau penguatan positif. Sebaliknya siswa yang mendapat nilai jelek, akan
merasa takut naik kelas, sehingga giat, dan hal ini disebut "penguatan négatif'. Balikan
yang segera diperoleh siswa setelah belajar melalui penggunaan metode-metode di atas
akan membuat siswa terdorong untuk belajar lebih giat dan bersemangat.

f. Perbedaan Individual
Siswa merupakan individual yang unik, artinya tidak ada dua orang yang persis sama,
tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lain. Perbedaan itu terdapat pada:
karakteristik psikis, kepribadian dan sifat-sifatnya.
Perbedaan individual ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Karenanya,
perbedaan individual perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran. Dalam
sistem klasikal, perbedaan individual ini kurang mendapat perhatian, pembelajaran lebih
ditekahkan pada kemampuan rata-rata. Agar perbedaan individual ini terlayani
sebagaimana mestinya, seorang guru dapat menggunakan strategi atau metode belajar
mengajar yang bervariasi, penggunaan média pembelajaran, tugas-tugas disesuaikan
dengan minât dan kemampuan siswa, bagi siswa yang relatif pandai diberi pelajaran
tambahan bersifat pengayaan, sedangkan bagi siswa yang kemampuannya cenderung
lemah diberikan brmbingan belajar.

C. PROSES PSIKOLOGI BELAJAR SISWA


Belajar merupakan proses dasar dari perkembangan hidup manusia. Dengan belajar,
manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif sehingga tingkah Iakunya
berkembang. Semua aktivitas dan prestasi hidup manusia tidak lain adalah hasil belajar.
Oleh karena itu, belajar berlangsung secara aktif dan integrative dengan menggunakan
berbagai bentuk perbuatan untuk mencapai suatu tujuan, itulah sebabnya belajar disebut
"suatu proses".
Secara khusus untuk pendidikan dasar (dalam hal ini sekolah dasar yang usianya
sekitar 6,0 - 12,0 tahun) harus mendapat perhatian serius para pendidik dikaitkan dengan
masa pra remaja. Baik dari segi pertumbuhan maupun perkembangan siswa usia SD ini
merupakan titik tolak penanaman cara belajar yang tepat dan membantu mereka dengan
strategi yang "memudahkan mereka belajar".
Ada beberapa hal yang berkaitan dengan proses psikologi belajar siswa khususnya usia
sekolah dasar antara lain :
1. Faktor-faktor stimuli belajar
Yang dimaksud dengan stimuli belajar disini adalah: segala hal di luar individu yang
merangsang mereka untuk melakukan perbuatan belajar, mencakup hal-hal seperti
berikut :
a. Panjangnya bahan pelajaran: oleh panjangnya bahan pelajaran dan
panjangnya waktu belajar dapat menimbulkan "interferensi = gangguan
kesan ingatan) yang menyebabkan kelelahan dan kejemuan siswa.
b. Kesulitan bahan pelajaran: tingkat kesulitan bahan pelajaran akan
mempengaruhi kecepatan belajar, oleh sebab itu tingkatan kesuhtan bahan
pelajaran haras pula sesuai dengan kemampuan siswa.
c. Mengenal bahan pelajaran: artinya bahan pelajaran dapat dikenal, bahan
yang memungkinkan individu belajar karena individu mengenalnya.
Bahan pelajaran yang tidak dikenal oleh siswa akan sangat "tidak berarti"
bagi siswa (verbal) sehingga tidak ada pengertian individu terhadap bahan
tersebut.
d. Berat ringannya tugas : hal ini ada kecenderungan dengan usia siswa,
namun demikian tugas yang ringan mengurangi tantangan belajar,
sebaliknya tugas yang berat membuat siswa menjadi jera.
e. Suasana lingkungan eksternal: pengertian lingkungan eksternal
menyangkut banyak hal antara lain: cuaca (suhu, mendung, hujan,
lembab); waktu (pagi, siang, sore, malam); kondisi tempat (kebersihan,
letak sekolah, pengaturan kelas, ketenangan, kegaduhan); penerangan
(berlampu, bersinar matahari, gelap, remang-remang). Faktor-faktor ini
mempengaruhi sikap dan reaksi individu dalam akrivitas belajarnya, sebab
individu yang belajar adalah interaksi dengan lingkungannya.

2. Faktor-faktor Metode Belajar

a. Kegiatan berlatih/praktek
Berlatih yang dilakukan secara marathon dapat melelahkan dan membosankan,
sehingga latihan yang terdistribusi menjamin terpeliharanya stamina dan kegairahan
belajar.
b. Resitasi selama belajar
Untuk meningkatkan kemampuan membaca dengan jalan menghafal bahan bacaan.
Apabila bahan tersebut telah hafal, akan dilanjutkan pada bahan berikutnya.
c. Pengenalan hasil belajar
Siswa perlu mengetahui kemajuan belajarnya, agar ia dapat meningkatkan upaya
belajarnya.
d. Penggunaan media pembelajaran yang Iengkap:
Baik alat pembantu pembelajaran elektronik maupun non elektronik.
e. Bimbingan belajar :
Kegiatan yang dilakukan di luar jam sekolah
f. Pemberian insentif
Hal-hal berupa pujian maupun hadiah-hadiah.

3. Faktor-faktor Individual

a. Kematangan
Perubahan kuantitatif di dalam struktur jasmani dibarengi dengan perubahan kualitatif
terhadap struktur tersebut. kematangan memberikan kondisi dimana fungsi-fungsi
fisiologis termasuk sistem syaraf dan fungsi otak menjadi berkembang dan
menumbuhkan kapasitas mental dan hal ini mempengaruhi belajar.
b. Usia Kronologis
Semakin tua usia siswa semakin meningkat pula kematangan berbagai fungsi
fisiologisnya. Anak yang lebih tua lebih kuat, lebih sabar, lebih sanggup
melaksanakan tugas-tugasnya, lebih mampu mengarahkan energi dan perhatiannya.
c. Perbedaan jenis klamin
Adanya perbedaan pada pola tingkah laku dan peranan serta perhatian terhadap suatu
pekerjaan.
d. Pengalaman siswa sebelumnya
Pengalaman yang diperoleh anak sebelumnya mempengaruhi belajar terutama pada
transfer belajarnya, terbukti pada anak yang berasal dari kelas sosial ekonomi
menengah dan tinggi, mempunyai pengertian verbal yang lebih baik.
e. Kondisi kesehatan jasmani dan rohani
Kecacadap jasmani maupun rohani akan mengganggu perbuatan belajar seseorang.

D. TEORI-TEORI BELAJAR DAN IMPLIKASINYA

Ada beberapa teori belajar yang saat ini dipergunakan dalam kegiatan belajar dan
pembelajaran antara lain :
1. Teori koneksionisme oleh Edward Thorndike -
Behaviorisme
Landasan teori Thorndike mula-mula dilakukan dalam eksperimen-eksperimen pada
hewan, dengan maksud untuk mengetahui apakah hewan dapat memecahkan masalah
dengan jalan berpikir ataukah melalui proses yang lebih mendasar sifatnya (seperti dilatih
dalam jangka waktu yang lama).
Dari beberapa eksperimen yang dilakukan oleh Thorndike pada beberapa hewan
kurungan, dimana hewan kurungan tersebut mempunyai kelakuan yang bermacam macam
seperti: menggaruk-nggaruk sangkarnya, menggigit maupun mencakar sangkarnya,
sebagai upaya agar bisa lepas dari sangkar menuju ke tempat penyimpanan makanan di
sangkar sebelahnya.
Dalam satu penelitian Thorndike, dimana seekor kera dimasukkan ke dalam sebuah
kurungan, di sebelahnya terdapat sebuah kotak berisi pisang, dan dikunci memakai palang
pembatas. Pada hari pertama: kera memerlukan 36 menit untuk dapat membuka palang
kunci agar dapat memperoleh pisang di dalam kotak. Pada hari kedua: kera tersebut hanya
memerlukan 2 menit 30 detik saja, kera telah berhasil membuka palang kurungan untuk
memperoleh pisang di dalam kotak.
Dari hasil penelitian Thorndike, dapat disimpulkan bahwa respons lepas dari
kurungan, diasosiasikan sebagai stimulus dalam belajar coba-coba atau "trial and error".
Ditinjau hubungannya dengan dunia pendidikan, maka hasil penelitian Thorndike
memberi sumbangan melalui hukum latihannya dan law effectnya, dimana Iatihan yang
dilakukan secara berulang-ulang memberi peluang timbulnya respons yang berarti.

Dasar penelitian Thorndike, kemudian diteruskan oleh B. F. Skinner yang terkenal


dengan "Teori Opérant Conditioning". Kalau pada penelitian Thorndike yang diberi
kondisi adalah stimulusnya (melalui Iatihan), sedangkan pada Opérant Conditioning yang
diperkuat adalah respons-nya. Siswa yang belajar sungguh-sungguh dan mendapat nilai
yang baik Nilai yang baik itu mendorong anak untuk belajar lebih giat lagi. Nilai yang
lebih baik itu merupakan Opérant Conditioning.

2. Teori Kondisioning Klasik - Ivan Petrovich


Pavlov

Penelitian ini menggunakan seekor anjing yang diikat menghadap cermin dan salah
satu bagian pipinya dilobangi Ialu ditanamkan pipa dan sebuah mangkok untuk mengukur
keluarnya air liur (saliva) sang anjing.
Sebelum eksperimen dimulai, Pavlov menaruh daging di mulut anjing, ternyata air
liur anjing itu keluar. Menurut Pavlov air liur (saliva) anjing yang keluar itu adalah suatu
respons "yang tidak dipelajari" yang diberinya istilah "Unconditioned Response = UR",
sedangkan daging yang diberikan disebutnya dengan istilah "Unconditioned Stimulus =
US".
Berikutnya setiap kali anjing diberi daging (makan), bel dibunyikan. Bunyi bel ini
disebut "Conditioning Stimulus = CS". Setiap kali memberi makan dan membunyikan bel
disebut "satu trial". Jadi, satu trial adalah terdiri dari datangnya CS disertai US yang
diikuti UR.
Setelah dilakukan kurang lebih 12 trial, maka terjadi sesuatu hal yang menarik. Pada
saat bel dibunyikan (CS), makanan (daging) tidak diberikan, namun yang menarik anjing
tersebut mengeluarkan aii liurnya (Saliva). Air liur (saliva) yang keluar tersebut disebut
"Conditioned Responses". Keluarnya air liur tersebut disebabkan oleh bel yang berbunyi,
sebab biasanya apabila bel berbunyi, maka makanan ada di tempatnya. Conditioned
Response adalah hasil belajar, sedangkan pemberian makanan disebut sebagai penguatan,
sedangkan makanan disebut penguat. Teori ini memberikan petunjuk praktis dalam
merancang kegiatan belajar mengajar, menghindari perasaan-perasaan negatif, tindakan
guru yang menimbulkan rasa takut pada siswa.

3. Teori Gestalt - Wolfgang Kohler

Konsep yang dikembangkan oleh teori ini terhadap belajar adalah "insight =
pemahaman", yaitu pengamatan/pemahaman terhadap hubungan-hubungan antar bagian-
bagian dalam suatu permasalahan.
Wolfgang Kohlar telah mengadakan eksperimen pada seekor simpanse yang
dimasukkan ke dalam sebuah kandang. Di atas kandang tergantung beberapa sisir pisang,
dan terletak pula beberapa buah kota kayu secara sembarangan. Mula-mula simpanse itu
berupaya dengan bermacam-macam perilaku untuk mendapatkan pisang itu, tetapi selalu
gagal. Beberapa lama, rupanya simpanse itu tiba-tiba mengerti hubungan antara kotak-
kotak kayu dengan pisang yang tergantung. Simpanse dapat menyusun kotak-kotak kayu
tersebut sehingga ia dengan mudah dapat mengambil pisang.
Hubungan eksperimen ini dengan belajar adalah adanya 'pemahaman" atau
"insight" yang terjadi sangat tergantung kepada kompleksitasnya situasi
permasalahannya. Apabila permasalahan itu mirip dengan situasi terdahulu, maka insight
akan lebih cepat terjadi. Dengan adanya insight, belajar dapat diulang-ulang. Selain itu,
dengan adanya insight, dapat diterapkan pada situasi yang lain.
BAB IV
PERKEMBANGAN KECERDASAN PESERTA DIDIK

A. PENGERTIAN INTELEK PESERTA DIDIK

Pengertian mengenai intelek adalah kecakapan untuk berpikir, mengamati atau


mengerti. Membicarakan mengenai intelek, tidak bisa terlepas dari inteligensi sehubungan
dengan kemampuan berpikir. Inteligensi merupakan kumpulan kemampuan seseorang
yang memungkinkan untuk memperoleh pengetahuan dan mengamalkan pengetahuan
tersebut dalam hubungannya dengan lingkungannya. Inteligensi meliputi pengalaman-
pengalaman, pengertian, tingkah laku dan pola-pola baru yang dipergunakan secara
efektif.
William Stern mengemukakan bahwa inteligensi merupakan suatu kemampuan
untuk menyesuaikan diri pada tuntutan baru dibantu dengan penguasaan fungsi berpikir.
Binet berpendapat bahwa inteligensi merupakan kemampuan yang diperoleh melalui
keturunan, kemampuan diwarisi dan dimiliki sejak lahir dan tidak terlalu banyak
dipengaruhi oleh lingkungan. Dalam batasan-batasan tertentu lingkungan tutur berperan
dalam pembentukan kemampuan inteligensi.
Dari beberapa pendapat di atas, kita dapat menarik kesimpulan yang akan
menjelaskan ciri-ciri inteligensi:
a. Inteligensi merupakan suatu kemampuan mental yang melibatkan proses
berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara
langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan
manifestasi dari proses berpikir.
b. Inteligensi tercermin dari tindakan yang terarah pada penyesuaian diri
terhadap lingkungan dan pemecahan lingkungan masalah yang timbul dari
padanya.

B. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INTELIGENSI

a. Pengaruh faktor bawaan


Individu-individu yang berasal dari IQ yang berkorelasi tinggi akan sangat
mempengaruhi inteligensi individu tersebut.
b. Pengaruh faktor lingkungan
Selain faktor bawaan, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-
perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak terlepas dari otak. Dengan kata lain,
perkembangan organik otak akan sangat mempengaruhi tingkat inteligensi seseorang.
Di pihak lain, perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Oleh
karena itu, ada hubungan antara pemberian makanan yang bergizi dengan inteligensi
seseorang. Pengaruh rangsangan intelektual yang memberi pengalaman (eksperiential
resources) seperti pendidikan, latihan berbagai keterampilan, dan lain-lain.

STABILITAS INTELIGENSI DAN IQ


a. Inteligensi merupakan konsep umum tentang kemampuan berpikir individu.
b. IQ adalah hasil tes inteligensi
Perkembangan inteligensi sangat dipengaruhi oleh perkembangan organik otak
seseorang. Oleh karena itu, sesuai dengan tahap-tahap perkembangan otak, maka pada masa-
masa pertumbuhan (kurang lebih usia sampai 20 tahun) masih terjadi peningkatan inteligensi.
Setelah itu terjadi masa stabil, kemudian sejalan dengan kemunduran itu terjadi masa stabil,
kemudian sejalan dengan kemunduran organis otak, akan terdapat kecenderungan menurun.
Berdasarkan perhatian David Wechsler (dalam Irwanto, 1994) stabilitas IQ puncaknya
pada usia sekitar tahun, dan pada usia 25 - 30 tahun mulai menurun dan terus menurun.

PENGUKURAN INTELIGENSI
Usaha-usaha untuk mengukur inteligensi sudah lama dilakukan. Salah satu usaha yang
terkenal adalah dilakukan oleh Francis Galton (1822-1911). Pada tahun 1884 ia membuka
stand pada sebuah pameran yang disebutnya Antroplogytrice Labroatory, yaitu tempat orang
bisa minta diukur tinggi badannya, berat badannya, kekuatan otot, kejelian penglihatan, lebar
rentang lengan dan sebagainya. Namun dalam kenyataannya Galton menjadi kecewa, sebab
kegiatan di laboratoriumnya itu tidak mempunyai korelasi dengan kecerdasan.
Pada tahun 1904 Alfred Binet dan Theodor Simon, dua orang psikolog Perancis telah
mempelajari kecerdasan di salah satu lembaga pendidikan di Paris untuk merancang alat
evaluasi yang dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas khusus
(siswa-siswa yang kurang pandai). Tes ira disebut test Binet-Simon.
Mula-mula IQ diperhitungkan dengan membandingkan "umur mental (Mental Age =
MA) dengan umur kronologis (Chronological AGE = CA)". Apabila kemampuan individu
dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental)
tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya pada individu seumur dia saat itu (umur
kronologis), maka akan diperoleh skor 1 (satu). Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai
sebagai dasar perhitungan IQ. Bila MA lebih tinggi dari CA, akan diperoleh skor lebih tinggi
dari 100 (yang mengindikasi kemajuan intelektual). Sebaliknya bila MA lebih rendah dari
CA, akan diperoleh skor kurang dari 100 (yang mengindikasikan keterbelakangan mental).

Rumus:

Hasil Inteligensi dinyatakan dalam angka, yang menggambarkan perbandingan antar


umur kemampuan mental atau kecerdasan (Mental Age) dan umur Kalender (Chonological
Age (C A)).
Apabila tes tersebut diberikan kepada anak umur tertentu dan ia dapat menjawab
dengan betul seluruhnya, berarti umur kecerdasannya (MA) sama dengan umur kalender
(CA), maka nilai IQ yang didapat anak itu sama dengan = 100. Nilai ini menggambarkan
kemampuan seseorang anak yang normal.
Anak yang berumur, misalnya = 6 tahun hanya dapat menjawab tes untuk anak 5 tahun,
akan didapat nilai IQ dibawah = 100 dan dinyatakan sebagai anak kemampuan dibawah
normal; sebaliknya bila umur = 5 tahun dapat menjawab dengan benar untuk umur = 6 tahun ,
maka nilai IQ anak itu di atas 100 , dan dikatakan sebagai anak yang cerdas.
Jalannya percobaan :
Mula-mula kita ajukan pertanyaan 5 pertanyaan yang sesuai dengan umur anak;
misalnya umur anak 6 tahun. Kita ajukan pertanyaan yang untuk 6 tahun, kalau pertanyaan itu
dapat dijawab semua, maka ajukan pertanyaan untuk umur diatasnya untuk umur 7 tahun dan
seterusnya sampai pertanyaan itu tidak dapat dijawab, dan ajukan pertanyaan umur
dibawahnya (untuk 5 tahun dan seterusnya) sampai pertanyaan itu dapat dijawab.
Kemudian kita hitung umur kecerdasan dengan cara sebagai berikut :
 Pertanyaan dijawab semua di nilai sama dengan umur pertanyaan itu.
 Sedangkan jawaban-jawaban yang betul lainnya masing-masing di nilai = 1/5
kemudian semuanya dijumlahkan.
 Jika jumlah semua tersebut kita bagi dengan umur kalender anak dikali 100 dapatlah IQ
seseorang itu.
Contoh : Tanda X = betul, sedangkan tanda ( - ) adalah salah.
Pada tahun 1916 Lewis Terman seorang ahli psikolog Universitas Standord Amerika
Serikat melakukan perbaikan tes Binet-Simon. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa
kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara Mental Age (MA) dan Chronological Age
(CA) yang banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak sampai pada usia 13 tahun.
Tes ini disebut test Stanford-Binet.
Dari hasil-hasil yang sudah ada, berkembanglah teori-teori yang berbeda mengenai
kecerdasan. Salah satu reaksi atas test Binet-Simon ataupun Stanford-Binet adalah bahwa tes
itu terlalu umum, dilakukan oleh Charles Sperman. Tokoh ini mengatakan inteligensi tidak
hanya terdiri dari satu faktor saja yang umum (G faktor) tetapi terdiri dari faktor-faktor yang
lebih spesifik (S faktor)/ teori ini disebut "Teori faktor (faktor Theory of ïnteligence)".
Alat tes inteligensi yang dikembangkan oleh teori faktor ini adalah "WAIS" (Wechsler
Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa dan "WISC" (Wechsler Intelligence Scale for
Children) untuk anak-anak. Bila dalam tes Binet-Simon maupun Stanford-Binet hanya
memperoleh satu skor IQ, maka dengan WAIS dan WISC terdapat tiga macam skor yaitu:
satu nilai total score dan dua subscale scores (verbal dan performance).

Penggolongan IQ
Interval IQ Penggolongannya
Diatas 180 • Genius/Luar biasa
140-179 • Gifted, tidak Genius tetapi menonjol dan populer
130 -139 • Cerdas Sekali/Sangat superior (genius)
120 -129 • Cerdas/Superior
110 -119 • Pandai
90-109 • Rata-rata (average) atau sedang *

80-89 • Bodoh (dull = lambat belajar)


70-79 • Batas bisa diajar (Inferior)
50-69 • Moron/ Dibil -
20-49 • Embisil
0-19 • Idiot

Jenjang Pendidikan tertinggi yang dapat dicapai dengan tingkat kecerdasan tertentu
adalah sebagai berikut :
1. 110 keatas - Perguruan Tinggi
2. 90(sedang) - SMU
3. 80-89 (bodoh) - SLTP(kelas I kadang kelas H)
4. 70-79 (Inferior) - SD (kelas IV, kadang Kelas V)
5. 60-69 (Moron)-SD Kelas III
6. 50 - 59 (moron) - SD (kelas I, kadang Kelas H)
7. Dibawah 50 (Imbisil dan Idiot) - SD (tidak dapat ditempuh)

C. KECERDASAN INTELIGENSI DAN BAKAT


Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam
menyesuaikan diri dengan lingkungan. Dalam kemampuan-kemampuan yang amat spesifik.
Kemampuan-kemampuan spesifik ini memberikan suatu kondisi yang memungkinkan
individu untuk mencapai pengetahuan, kecakapan, keterampilan yang dicapai melalui suatu
latihan. Inilah yang disebut bakat (aptitude). Bakat tidak dapat terlihat melalui tes inteligensi,
tetapi melalui tes bakat secara tersendiri.
Alat yang dipergunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut "tes bakat
= aptitude test". Karena sifatnya khusus, maka tes ini dirancang khusus untuk
mengungkapkan kemampuan yang amat spesifik. Tes bakat yang dirancang untuk
menggunakan prestasi dan yang dipakai di dalam bidang pekerjaan disebut vocational test dan
interest inventory.
Contoh :
Scholastic Aptitude Test seperti Test Potensi Akademik (TPA) atau Graduate Record
Examination (GRE). Sedangkan untuk Vocational Aptitude test atau interest inventory adalah
Differential Aptitude Test (DAT)

D. HUBUNGAN INTELEKTUAL DENGAN TINGKAH LAKU


Kemampuan berpikir abstrak menunjukkan perhatian seseorang kepada kejadian dan
peristiwa yang tidak konkret, misalnya pilihan pekerjaan, pilihan pasangan hidupnya, dan
lainnya, yang sebenarnya masih jauh di depannya. Kemampuan abstraksi para remaja
akan berperan dalam perkembangan pribadinya, tentu saja corak perilaku pribadi di hari
depan dan corak tingkah lakunya sekarang pasti berbeda.
Pemikiran (intelek) itu terwujud dalam refleksi diri (bentuk tingkah laku) yang sering
mengarah ke penilaian dan kritik diri. Hasil penilaian tentang dirinya tidak selalu
diketahui orang lain, bahkan sangat dirahasiakan.
Pemikiran (intelek) remaja sering dipengaruhi oleh ide-ide dan teori-teori yang
menyebabkan sikap kritis (tingkah laku) terhadap situasi dan orang tua. Setiap pendapat
orang tua dibandingkan teori yang diikuti atau diharapkannya. Sikap kritis ini juga
ditunjukkan dalam hal-hal yang sudah umum baginya pada masa sebelumnya, sehingga
tata cara, adat istiadat, yang berlaku di kalangan keluarga sering terjadi/ada pertentangan
dengan sikap kritis yang tampak pada perilakunya.
Disamping itu pengaruh egosentris masih terlihat pada pikiran anak seperti berikut
ini :
• Cita-cita dan idéalisme yang baik, selalu menitikberatkan pada pikiran sendiri tanpa
memikirkan akibatnya, dan tanpa memikirkan jalan keluar untuk menyelesaikan
permasalahan.
• Kurang menghargai pendapat orang lain, karena pandangan dan penilaian terhadap
dirinya sendiri dianggap sama dengan orang lain.
Egosentrisme inilah yang menyebabkannya "kekakuan" pada masa remaja dalam cara
berpikir maupun bertingkah laku. Persoalan yang timbul pada masa remaja banyak bertalian
dengan perkembangan fisik yang dirasakan menekan dirinya, karena disangka orang lain
sepikiran dan ikut tidak puas mengenai penampilan dirinya. Hal ini menimbulkan perasaan
"seperti" selalu diamati orang, perasaan malu dan membatasi gerak-geriknya. Akibatnya, akan
terlihat pada tingkah laku yang kaku.
Egosentris dapat menimbulkan reaksi lain, dimana remaja justru melebih-lebihkan diri
dalam penilaian dirinya. Mereka merasa dirinya "hebat" atau "ampuh" sehingga berani
menantang malapetaka dan menceburkan diri dalam aktivitas berbahaya. Misalnya: seorang
remaja yang menghajar seorang pencopet di tempat yang ramai tanpa memperhitungkan
resiko bahwa pada suatu saat pencopet itu mengadakan perlawanan.
Melalui banyak pengalaman dan menghargai pendapat orang lain, lambat laun
egosentris semakin berkurang, dan semakin kecil sehingga remaja dapat berpikir abstrak
dengan mengikutsertakan pendapat dan pandangan orang lain.

E. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN INTELEK

Sejauh manakah perkembangan inteligensi dipengaruhi oleh faktor-faktor dasar,


sejauh mana dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan? Bagaimana sifat inteligensi itu ?
apakah inteligensi merupakan faktor bakat ? Adalah pandangan yang sangat keliru jika IQ
bisa ditingkatkan. Menurut Andi Mapiare (1982), mengetengahkan hal-hal yang
mempengaruhi perkembangan intelek antara lain:
• Bertambahnya informasi yang disimpan (dalam otak) seseorang sehingga ia mampu
berpikir reflektif.
• Banyaknya pengalaman-pengalaman dan Iatihan-Iatihan memecahkan masalah
sehingga seseorang dapat berpikir proporsional (sebanding atau seimbang).
• Adanya kebebasan berpikir, menimbulkan keberanian seseorang dalam menyusun
hipotesis-hipotesis yang radikal, kebebasan menjajaki masalah secara keseluruhan, dan
menarik kesimpulan yang benar.
Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan intelek adalah seperti
berikut ini :
1. Pengaruh pengalaman :
Bahwa anak-anak yang pernah mengikuti pra-sekolah (misalnya Taman Kanak-Kanak)
menunjukkan perbedaan kemajuan belajar atau "gained" yang lebih baik dari pada anak-
anak yang tidak pernah mengalaminya.
2. Pengaruh lingkungan :
Beberapa pendataan yang telah dilakukan terbukti bahwa: semakin tinggi kualitas
lingkungan rumah, mendorong semakin tinggi pula IQ anak.
Penelitian ini menemukan 3 unsur penting dalam keluarga yang amat berpengaruh, yaitu :
• Jumlah buku, majalah, dan materi belajar lainnya yang terdapat dalam lingkungan
keluarga.
• Jumlah ganjaran dan pengakuan yang diterima oleh anak dari orang tua atau
prestasi akademiknya.
• Harapan orang tua akan prestasi akademik anaknya

F. BAKAT KHUSUS

Dalam bidang tertentu manusia mungkin menunjukkan keunggulannya dîbandingkan


dengan orang lain. Oleh sebab itu, program pendidikan yang dirancang tidak hanya
memperhatikan kemampuan untuk belajar saja, tetapi perlu pula diperhitungkan kecakapan
khusus atau bakat yang dimiliki peserta didik.
Jadi, apakah sebetulnya yang disebut dengan istilah ''bakat" atau aptitude"? bagaimana
dengan kemampuan (ability)?. Bagaimana dengan kapasitas (capacity), serta "insting"? Bakat
dapat diartikan sebagai kemampuan bawaan yang merupakan potensi (potential ability) yang
masih perlu dikembangkan atau dilatih. Kemampuan adalah daya untuk melakukan suatu
tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan. Kemampuan menunjukkan bahwa suatu
tindakan dapat dilaksanakan sekarang, sedangkan bakat memerlukan latihan dan pendidikan
agar suatu tindakan dapat dilakukan dimana yang akan datang.
Kapasitas sering digunakan sebagai minomim untuk kemampuan dan biasanya diartikan
sebagai kemampuan yang dapat dikembangkan sepenuhnya di masa mendatang apabila
latihan dilakukan secara optimal. Dalam praktik, kapasitas seseorang jarang tercapai. Insting,
umumnya terdapat pada hewan, dimana dengan insting itu hewan dapat melakukan sesuatu
tanpa latihan sebelumnya.
Jadi, pengertian bakat adalah kemampuan alamiah untuk memperoleh pengetahuan atau
keterampilan yang relatif bisa bersifat umum (misalnya bakat intelektuai umum) maupun
bakat khusus (bakat akademis). Bakat khusus atau talent disini dimaksudkan seseorang yang
mempunyai kemampuan bawaan untuk bidang tertentu, misalnya bakat menggambar,
menyanyi dan sebagainya (Conny Semiawan, 1997).

a. Jenis Bakat Khusus

Setiap orang mempunyai bakat tertentu, masing-masing dalam bidang dan jenjang yang
berbeda-beda. Usaha pengenalan bakat, mula-mula terjadi pada bidang pekerjaan, tetapi juga
sekarang dalam bidang pendidikan. Pemberian nama terhadap jenis-jenis bakat biasanya
dilakukan berdasarkan atas bidang apa bakat tersebut berfungsi seperti bakat matematika,
bakat menyanyi, bakat bahasa, bakat guru, bakat dokter dan sebagainya. Dengan demikian,
maka macam bakat akan sangat tergantung pada konteks kebudayaan dimana seseorang
individu hidup dan dibesarkan.

b. Kaitan Bakat dengan Prestasi

Bakat memungkinkan seseorang untuk mencapai prestasi dalam bidang tertentu, akan
tetapi diperlukan latihan. Pengetahuan, pengalaman, dan dorongan atau motivasi agar bakat
itu dapat terwujud. Misalnya seseorang yang mempunyai bakat menggambar, jika ia tidak
pernah diberi kesempatan untuk mengembangkannya, maka bakat tersebut tidak akan
terwujud. Jika orang tuanya menyadari bahwa anaknya mempunyai bakat menggambar dan
mengusahakan dengan sebaik-baiknya untuk menggambarkan èakatnya, dan anak itu juga
menunjukkan bakat/minat untuk mengikuti pendidikan menggambar, maka akan dapat
mencapai prestasi bahkan menjadi pelukis terkenal.
Sebaliknya seorang anak yang mendapat pendidikan menggambar dengan baik, namun
tidak memiliki bakat menggambar, maka tidak akan pernah anak tersebut untuk mencapai
prestasi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bakat khusus :


Adapun sebab atau faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bakat khusus, atau
mengapa seseorang tidak dapat mewujudkan bakat-bakatnya secara optimal ?
• Anak itu sendiri: artinya anak kurang berminat untuk mengembangkan bakatnya atau
kurang termotivasi untuk mencapai prestasi yang tinggi dan mungkin mempunyai kesulitan
pribadi terhadap pengembangan dirinya.
• Lingkungan anak: orang tua kurang mampu untuk menyediakan kesempatan dan sarana
pendidikan yang ia butuhkan, atau bisa juga ekonomi tinggi tetapi bakat khusus anak tidak
diperhatikan oleh orang tuanya.

G. UPAYA PENGEMBANGAN BAKAT KHUSUS DAN IMPLIKASINYA

Bagaimana kita dapat mengenal, mengidentifikasi para remaja yang mempunyai bakat
khusus? Bagaimana karakteristik atau ciri-ciri mereka? Alat-alat apa yang dapat digunakan
untuk mengetahui bakat-bakat khusus mereka? Semua informasi ini diperlukan sebelum
dilakukan upaya pengembangan bakat-bakat khusus peserta didik tersebut.
Sampai sekarang boleh dikatakan belum ada tes bakat yang cukup luas daerah
pemakaiannya (Seperti tes inteligensi); berbagai tes bakat yang sudah ada seperti FACT
(Flanagan Aptitude Classification Test yang disusun oleh Flanagan); DAT (Differential
Aptitude Test yang disusun oleh Binet); M - T Tes (Mathematical dan Technical Test yaitu tes yang
disusun oleh Luning-prak), yang kesemuanya ini masih sangat terbatas daerah berlakimya. Hal ini
disebabkan tes bakat sangat terikat kepada konteks kebudayaan dimana tes itu disusun,
sedangkan macam-macam bakat juga terikat kepada konteks kebudayaan dimana klasifikasi bakat
itu dibuat.
Yang harus diukur oleh alat identifikasi adalah, baik potensi (bakat pembawaan) maupun
bakat yang sudah terwujud dalam prestasi yang tinggi. Alat ukur atau tes apa yang dipakai
tentu saja tergantung pada macam bakat yang dicari.
Bagaimana orang tua dapat mengenal bakat khusus anak ? Bakat anak dapat dikenali
dengan observasi terhadap apa yang selalu dikerjakan oleh anak, yang disukai anak, hal-hal
yang dikerjakan anak dengan baik, kesungguhan bakat anak bermanfaat bagi orang tua
mereka dapat memahami dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak.
Dengan mengenal ciri-ciri anak berbakat, orang tua dapat menyediakan lingkungan
pendidikan yang sesuai dengan bakat anak. Mereka dapat membantu anak memahami dirinya
agar tidak melihat bakat sebagai suatu beban, tetapi sebagai suatu anugerah yang harus
dihargai dan dikembangkan. Manfaat lain dari kemampuan orang tua untuk mengenal bakat
anak ialah agar orang tua dapat membantu sekolah dalam prosedur pemanduan anak berbakat,
dengan memberikan informasi yang dibutuhkan tentang ciri-ciri dan keadaan anak mereka.
Sekolah mengirim daftar/ciri-ciri perilaku kepada orang tua dengan penjelasan bahwa sekolah
perlu mengetahui sifat-sifat siswa agar dapat merencanakan pengalaman pendidikan yang
sesuai baginya. Sebagai contoh: orang tua diminta memberi keterangan tentang butir-butir
berikut ini :
• hobi dan minat-minat yang khusus
• jenis buku yang disenangi
• masalah dan kebutuhan khusus
• prestasi unggul yang pernah dicapai
• pengalaman-pengalaman khusus
• kegiatan kelompok yang disenangi
• kegiatan mandiri yang disenangi
• sikap anak kepada sekolah/ guru
• cita-cita untuk masa depan
Adapun kondisi-kondisi lingkungan yang bersifat mempupuk bakat anak adalah
keamanan psikologis dan kebebasan psikologis apabila :
• Pendidik dapat menerima sebagaimana adanya, tanpa syarat dengan segala
kekuatan dan kelemahannya, serta memberi kepercayaan padanya bahwa pada dasarnya ia
baik dan mampu.
• Pendidik mengusahakan suasana dimana anak tidak merasa "dinilai" oleh orang lain.
Memberi penilaian terhadap seseorang dapat dirasakan sebagai ancaman, sehingga
menimbulkan kebutuhan akan pertahanan diri.
• Pendidikan memberikan pengertian dalam arti dapat memahami perrrikiran,
perasaan, dan perilaku anak, dapat menempatkan diri dalam situasi anak dan melfliat dari
sudut pandang anak serta dalam suasana seperti ini anak merasa aman untuk
mengungkapkan bakatnya.

Anak akan merasa kebebasan psikologis apabila orang tua dan guru memberi kesempatan
padanya untuk mengungkapkan pikiran-pikiran dan atas perasaan-perasaannya. Kecuali
pendidikan hendaknya berfungsi mengembang bakat anak, jangan semata-mata menyajikan
kumpulan pengetahuan yang bersifat skolastik (yang mengenai pelajaran). Dengan pengenalan
bakat yang dimilikinya dan upaya pengembangannya dapat membentuk remaja untuk dapat
menentukan pilihannya yang tepat dan menyiapkan dirinya untuk dapat mencapai tujuan-
tujuannya.
BAB V
PERKEMBANGAN SOSIAL, PRIBADI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KBM

A. PERKEMBANGAN SOSIAL PESERTA DIDIK

Kehidupan manusia dalam menelusuri perkembangannya itu pada dasarnya merupakan


kemampuan mereka berinteraksi dengan lingkungan. Pada proses integrasi dan interaksi ini
faktor intelektual dan emosional mengambil peranan yang sangat penting. Proses tersebut
merupakan proses sosialisasi yang mendudukkan anak-anak sebagai insan yang secara aktif
melakukan proses sosialisasi.
Manusia tumbuh dan berkembang di dalam lingkungan fisik dan sosial. Lingkungan sosial
memberikan banyak pengaruh terhadap pembentukan berbagai aspek kehidupan terutama
kehidupan sosio-psikologis. Manusia sebagai makhluk sosial, senantiasa berhubungan dengan
sesama manusia. Bersosialisasi pad dasarnya merupakan proses penyesuaian diri terhadap
lingkungan kehidupan sosial, bagaimana seseorang seharusnya hidup di dalam kelompoknya,
baik dalam kelompok kecil maupun dalam kelompok masyarakat yang luas.
Interaksi seseorang dengan manusia lain diawali sejak saat bayi lahir, dengan cara yang
amat sederhana. Sepanjang kehidupannya pola aktivitas sosial anak mulai terbentuk. Menurut
Piaget, interaksi sosial anak pada tahun pertama sangat terbatas, terutama hanya dengan
ibunya. Perilaku sosial anak tersebut berpusat pada "akunya" atau 'egocentris" dan hampir
keseluruhan perilakunya berpusat pada dirinya. Bayi belum banyak memperhatikan
lingkungannya, apabila kebutuhan dirinya terpenuhi ia tidak perduli dengan lingkungannya
dan dihabiskannya untuk tidur. Pada tahun kedua, anak sudah mulai belajar "kata" maupun
belajar "menolak' seperti "tidak mau ini, tidak mau itu". Anak telah mereaksi lingkungan
secara aktif, ia telah membedakan dirinya dengan orang lain, perilaku emosionalnya telah
berkembang dan mulai berperan. Perkenalan dan pergaulan dengan manusia lain segera
menjadi semakin luas; ia mengenal kedua orang tuanya, anggota keluarganya, teman bennain
sebaya, dan teman-teman sekolahnya. Pada usia sekolah mereka mulai belajar
mengembangkan interaksi sosial dengan belajar menerima pandangan kelompok
(masyarakat), memahami tanggung jawab, dan berbagai pengertian dengan orang lain.
Menginjak masa remaja, interaksi dan pengenal atau pergaulan dengan teman sebaya terutama
lawan jenis, dan pada akhirnya pergaulan sesama manusia menjadi suatu kebutuhan.
Kebutuhan bergaul dan berhubungan dengan orang lain telah mulai dirasakan sejak anak
berusia 6 bulan, di saat anak itu telah mampu mengenal manusia lain terutama ibu dan
anggota keluarganya. Anak mulai mengenal dan mampu membedakan arti senyum dan
perilaku sosial lainnya seperti: marah, dan kasih sayang. Akhirnya setiap orang menyadari
bahwa manusia itu saling membutuhkan.
Semakin dewasa dan bertambah usia, kebutuhan manusia menjadi bertambah kompleks dan
dengan demikian tingkat hubungan sosial dan juga berkembang menjadi amat kompleks. Pada
jenjang perkembangan remaja, seorang remaja bukan saja memerlukan orang lain untuk
keperluan pribadinya, tetapi mengandung maksud untuk memenuhi kebutuhan bersama atau
kebutuhan orang lain.
Akhirnya dapat disimpulkan bahwa pengertian perkembangan sosial adalah berkembangnya
tingkat hubungan antar manusia sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan hidup
manusia.

• Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial


Perkembangan sosial manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti: faktor keluarga,
kematangan anak, status sosial ekonomi keluarga, tingkat pendidikan, dan kemampuan mental
terutama emosi dan inteligensi.

a. Keluarga

Keluarga merapakan lingkungan pertama dan ntama yang memberikan pengaruh terhadap
berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata
cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosial anak. Di dalam
keluarga berlaku norma-norma kehidupan keluarga, dan dengan demikian pada dasarnya
keluarga merekayasa perilaku kehidupan budaya anak. Proses pendidikan bertujuan
mengembangkan kepribadian anak lebih banyak ditentukan oleh keluarga. Pola pergaulan
dan bagaimana norma ditempatkan dalam lingkungan keluarga yang lebih luas, ditetapkan
dan diarahkan oleh keluarga.

b. Kematangan

Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu


mempertimbangkan dalam proses memberi dan menerima pendapat orang Iain,
memerlukan kematangan intelektual dan emosional. Disamping itu, kematangan
berbahasa ikut pula menentukan. Dengan demikian, untuk mampu bersosialisasi dengan
baik diperlukan kematangan fisik sehingga setiap orang fisiknya telah mampu
menjalankan fungsinya dengan baik.

c. Status Sosial Ekonomi

Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi atau status kehidupan sosial keluarga
dalam lingkungan masyarakat. Masyarakat akan memandang anak bukan sebagai anak
yang independent, akan tetapi dipandang dalam konteks yang utuh dalam keluarga anak
itu, "ia anak siapa". Secara tidak langsung dalam pergaulan sosial anak, masyarakat dan
kelompoknya akan memperhitungkan norma yang berlaku di dalam keluarganya.
Dari pihak anak itu sendiri, perilakunya akan banyak memperhatikan kondisi normatif
yang telah ditanamkan oleh keluarganya. Sehubungan dengan itu, dalam kehidupan sosial
anak akan senantiasa "menjagà status sosial dan ekonomi keluarganya. Dalam hal tertentu,
maksud "menjaga status sosial ekonomi keluarga" itu mengakibatkan
menempatkan dirinya dalam pergaulan sosial Sosial tidak tepat. Hal ini dapat berakibat
lebih jauh, yaitu anak menjadi "terisolasi" dari kelompoknya. Akibat lain mereka akan
membentuk kelompok élit dengan normanya sendiri.

d. Pendidikan:

Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai
proses pengoperasian ilmu yang normatif, akan memberi warna sosial anak di dalam
masyarakat dan kehidupan mereka di masa yang akan datang.
Pendidikan dalam arti yang Iuas harus diartikan bahwa perkembangan anak dipengaruhi
oleh kehidupan keluarga, masyarakat, dan kelembagaan. Penanaman norma perilaku yang
benar secara sengaja diberikan kepada peserta didik yang belajar di kelembagaan
pendidikan (sekolah).
Kepada peserta didik bukan saja dikenalkan kepada norma-norma Iingkungan dekat, tetapi
dikenalkan pula pada norma kehidupan bangsa (nasional) dan norma kehidupan antara
bangsa. Etika dan pendidikan moral diajarkan secara terprogram dengan tujuan untuk
membentuk perilaku kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
e. Kapasitas mental (emosi dan inteligensi) :

kemampuan berpikir mempengaruhi banyak hal seperti kemampuan belajar, memecahkan,


dan berbahasa. Perkembangan emosi sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak.
Anak yang berkemampuan intelektual tinggi akan bahasa yang baik. Oleh karena itu,
kemampuan intelektual tinggi, kemampuan bahasa yang baik, dan pengendalian
emosional secara seimbang, sangat menentukan keberhasilan dalam perkembangan sosial
anak. Sikap saling pengertian dan kemampuan memahami orang lain merupakan modal
utama dalam kehidupan sosial dan hal ini akan dengan mudah dicapai oleh remaja yang
berkemampuan intelektual tinggi.

B. PERKEMBANGAN BAHASA PESERTA DIDIK

Sesuai dengan fungsinya, bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh
seseorang dalam pergaulan atau hubungannya dengan orang lain. Bahasa merupakan alat
bergaul. Oleh karena itu, penggunaan bahasa menjadi efektif sejak seorang individu
memerlukan berkomunikasi dengan orang lain.
Perkembangan bahasa terkait dengan perkembangan kognitif, yang berarti faktor
intelek/ kognisi sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbahasa.
Perkembangan bahasa sangat dipengaruhi oleh lingkungan., karena bahasa pada dasarnya
merupakan hasil belajar dari lingkungan. Jadi perkembangan bahasa adalah meningkatnya
kemampuan penguasaan alat komunikasi, baik secara lisan, tertulis, maupun dengan
tanda-tanda dan isyarat. Mampu dan menguasai alat komunikasi di sini diartikan sebagai
upaya seseorang untuk dapat memahami dan dipahami orang lain. 1. Faktor-faktor yang
mempengaruhi perkembangan bahasa
Berbahasa terkait erat dengan kondisi pergaulan. Oleh sebab itu
perkembangannya dipengaruhi oleh faktor :
a. Umur anak :
Bertambahnya usia manusia akan semakin matang pertumbuhan fisiknya, bertambah
pengalaman, dan meningkat kebutuhannya. Bahasa seseorang akan berkembang
sejalan dengan pertambahan pengalaman dan kebutuhannya. Faktor fisik akan ikut
mempengaruhi, sehubungan semakin sempurnanya pertumbuhan organ bicara, kerja
otot untuk melakukan gerakan-gerakan dan isyarat.
b. Kondisi Lingkungan :
Lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang memberi andil yang besar dalam
berbahasa. Perkembangan bahasa di lingkungan perkotaan akan berbeda dengan
lingkungan di pedesaan. Begitu pula perkembangan bahasa di daerah pantai,
pegunungan, dan di daerah-daerah terpencil.
c. Kecerdasan:
Untuk meniru lingkungan tentang bunyi atau suara, gerakan, dan mengenal tanda-
tanda, memerlukan kemampuan motorik yang baik. Kemampuan motorik seseorang
berkorelasi positif dengan kemampuan intelek atau tingkat berpikir. Ketepatan meniru,
memproduksi perbendaharaan kata-kata yang diingat, kemampuan menyusun kalimat
dengan baik dan memahami atau menangkap maksud suatu pernyataan pihak lain,
amat dipengaruhi oleh kerja pikir atau kecerdasan seseorang anak.
d. Status sosial ekonomi keluarga :
Keluarga yang berstatus sosial ekonomi baik, akan mampu menyediakan situasi yang
baik bagi perkembangan bahasa anak-anak, dan anggota keluarganya. Rangsangan
untuk dapat ditiru oleh anak-anak anggota keluarga yang berstatus sosial tinggi
berbeda dengan keluarga yang berstatus sosial rendah. Hal ini akan Iebih tampak
berbeda perkembangan bahasa bagi anak yang hidup di dalam keluarga terdidik.
Dengan kata lain, pendidikan keluarga berpengaruh pula terhadap perkembangan
bahasa.
e. Kondisi fisik :
Kondisi fisik di sini dimaksudkan kondisi sehat anak. Seseorang yang cacat, yang
terganggu kemampuannya untuk berkomunikasi seperti : bisu, tuli, gagap, organ
suaranya tidak sempurna akan mengganggu perkembangan anak berkomunikasi dan
tentu saja akan mengganggu perkembangannya dalam berbahasa.

2. Pengaruh kemampuan berbahasa terhadap kemampuan berpikir

Kemampuan berbahasa dan kemampuan berpikir saling berpengaruh satu sama lain.
Bahwa kemampuan berpikir berpengaruh terhadap kemampuan berbahasa dan sebaliknya
kemampuan berbahasa berpengaruh terhadap kemampuan berpikir. Seseorang yang
rendah kemampuan berpikirnya, akan mengalami kesulitan dalam menyusun kalimat yang
baik, logis, dan sistematis. Hal ini pula yang mengakibatkan sulirnya berkomunikasi.
Seseorang menyampaikan ide dan gagasannya dengan berbahasa dan menangkap ide dan
gagasannya orang Iain melalui bahasa. Menyampaikan dan mengambil ide dan
gagasannya itu merupakan proses berpikir yang abstrak. Ketidaktepatan menangkap arti
bahasa akan berakibat kekaburan persepsi yang di perolehannya. Akibat lebih lanjut
adalah bahwa hasil proses berpikir menjadi tidak tepat benar. Ketidaktepatan hasil
pemprosesan pikir ini diakibatkan kekurang mampuan dalam berbahasa.

3. Upaya pengembangan kemampuan berbahasa dan implikasinya dalam


penyelenggaraan pendidikan.

Kelas terdiri dari siswa-siswa yang bervariasi bahasanya, baik kemampuan maupun
polanya. Menghadapi hal ini, guru harus mengembangkan strategi belajar mengajar
bidang bahasa dengan memfokuskan pada potensi dan kemampuan anak.
Pertama, anak perlu melakukan pengulangan (menceritakan kembali) pelajaran yang telah
diberikan dengan kata dan bahasa disusun oleh siswa-siswa sendiri. Dengan ini senantiasa
guru dapat melakukan identifïkasi tentang pola dan tingkat kemampuan bahasa siswanya.
Kedua, berdasarkan hasil identirîkasi itu guru melakukan pengembangan bahasa siswa
dengan menambahkan perbendaharaan bahasa lingkungan yang telah dipilih secara tepat
dan benar oleh guru. cerita siswa tentang isi pelajaran yang telah diperkaya itu diperluas
untuk langkah-langkah selanjutnya, sehingga para siswa mampu menyusun cerita lebih
komprehensif tentang isi bacaan yang telah dipelajari dengan menggunakan pola bahasa
mereka sendiri.
Perkembangan bahasa yang menggunakan model pengekspresian secara mandiri, baik
lisan maupun tertulis, dengan mendasarkan pada bahan bacaan, akan lebih
mengembangkan kemampuan bahasa anak dan membentuk pola bahasa masing-masing.
Dalam penggunaan model ini guru harus banyak memberikan rangsangan dan koreksi
dalam bentuk diskusi atau komunikasi bebas. Dalam pola itu sarana perkembangan bahasa
seperti buku-buku surat kabar, majalah dan lain-lain hendaknya disediakan di sekolah
maupun di rumah.

D. PERKEMBANGAN EMOSI

Kehidupan seseorang pada umumnya penuh dorongan dan minât untuk mencapai atau
memiliki sesuatu. Sebagaimana telah dikatakan terlebih dahulu, bahwa perilaku seseorang dan
munculnya sebagai kebutuhan dan disebabkan oleh berbagai dorongan dan minât Seberapa
dorongan-dorongan dan minat-minat seseorang itu terpenuhi, merupakan dasar dari
pengalaman emosionainya. Perjalanan kehidupan tiap-tiap orang tidak selalu sama kehidupan
seseorang berjalan menurut polanya sendiri-sendiri.
Seseorang individu dalam merespon sesuatu lebih banyak diarahkan oleh penalaran dan
pertimbangan-pertimbangan objektif. Akan tetapi pada saat-saat tertentu di dalam
kehidupannya, dorongan emosional banyak campur tangan dan mempengaruhi pemikiran-
pernikiran dan tingkah lakunya. Oleh karena itu, untuk memahami remaja memang perlu
mengetahui apa yang mereka lakukan, yang mereka pikirkan, bahkan yang mereka rasakan .
makin banyak kita memahami dunia remaja seperti apa yang mereka alami, makin perlu kita
melihat kedalam kehidupan emosionainya dan memahami perasaan-perasaannya, baik
perasaan tentang dirinya sendiri maupun tentang orang lain.
Gejala-gejala emosional seperti: marah, takut, bangga dan rasa malu, cita dan benci,
harapan dan rasa putus asa, perlu dicermati dan dipahami dengan baik.

1. Pengertian emosi :
Perbuatan atau perilaku kita sehari-hari pada umumnya disertai oleh perasaan-perasaan
tertentu seperti :perasaan senang dan tidak senang. Perasaan senang dan tidak senang yang
selalu menyertai perbuatan-perbuatan kita sehari-hari disebut "warna efektif ". Warna efektif
itu kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah, atau kadang-kadang tidak jelas (samar-
samar). Dalam hal warna efektif yang kuat, maka perasaan-perasaan menjadi lebih mendalam,
lebih luas, dan lebih terarah sehingga perasaan seperti ini disebut "emosi".
Emosi dan perasaan adalah dua haï yang berbeda. Dari pengertian di atas dapat
disimpulkan bahwa : emosi adalah perasaan yang tidak dapat dikendalikan. Sedangkan
perasaan adalah suasana psikis yang mengambil bagian pribadi dalam situasi, dengan jalan
membuka diri terhadap suatu hal yang berbeda dengan keadaan atau nilai dalam dirinya.
Bagaimana dri-dri khas emosi ? pada saat emosi terjadi, sering kali terjadi perubahan-
perubahan pada fïsik, antara Iain berupa :
• Reaksi elektris pada kulit meningkat, sehingga kelihatan marah.
• Peredaran darah bertambah cepat bila marah.
• Denyut jantung bertambah cepat bila terkejut.
• Pernapasan bernapas panjang bila kecewa.
• Pupil mata membesar bila marah.
• Liur mengering kalau takut/tegang.
• Bulu roma berdiri kalau takut
• Pencernaan mencret-mencret kalau tegang.
• Otot terjadi tegang dan bergetar.

2. Karakteristik perkembangan emosi :


Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai période "badai dan tekanan", suatu masa
di masa ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik maupun kelenjar-
kelenjar tubuh. Meningginya emosi terutama anak (laki-Iaki maupun perempuan) berada
dibawah tekanan sosial dan mereka menghadapi kondisi, sedangkan semasa masa kanak-
kanak ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu. Tidak semua
remaja mengalami masa badai dan tekanan. Jenis emosi yang secara normal adalah : cinta,
kasih. Sayang, gembira, amarah, takut dan cernas, cemburu, dan sedih.
a. Cinta, kasih dan sayang :
Cinta, adalah suatu perasaan suka sekali, perasaan terpikat antara laki-laki dan perempuan
yang kadang-kadang didasari oleh nafsu. Kasih, adalah suatu perasaan yang ada pada diri
seseorang untuk menyayangi sesamanya seperti menyayangi diri sendiri. Sayang, adalah
suatu perasaan penyelesaian yang disertai oleh rasa rindu sebagai aktualisasi rasa kasih.
b. Marah dan permusuhan :
Rasa marah merupakan realitas yang mempertajam tuntutan dan pemilikan minât, yang
mengakibatkan peredaran darah bertambah cepat, otot menjadi tegang dan bergetar.
Kondisi- kondisi dasar yang menyebabkan timbulnya rasa marah kurang lebih sama, tetapi
ada beberapa perubahan sehubungan dengan pertambahan usia nya dan kondisi-kondisi
tertentu yang menimbulkan rasa marah atau meningkatnya penguasaan kendali emosional.
Ada 4 macam yang perlu diperhatikan dalam hal marah dan permusuhan seperti berikut
ini :
1. Marah merupakan upaya individu untuk melindungi haknya agar bisa bebas
dari ketergantungan nya dan menjamin hubungannya dengan pihak lain.
2. Perlu pula disadari sisa-sisa kemarahan itu dapat terjadi menjadi permusuhan
dalam bentuk : dendam, kesedihan, prasangka atau kecenderungan untuk merasa
tersiksa. Sikap-sikap permusuhan itu tumbuh karena saling curiga dan tidak
bersahabat.

3. Kemarahan dan permusuhan, dapat timbul oleh rasa cemburu, baik cemburu
karena cinta maupun kecemburuan sosial.
4. marah dapat terjadi karena diri sendiri tidak dapat merealisasi apa yang ingin
dicapai.
E. PERKEMBANGÀN NILAL MORAL DAN SIKAP

a. Pengertian nilai, moral dan peserta didik :


Nilai-nilai kehidupan adalah norma-norma yang berlaku di masyarakat, misalnya adat
kebiasaan, sopan santun dan sebagainya. Jadi, sopan santun, adat dan kebiasaan serta
nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila adalah nilai-nilai yang hidup menjadi
pegangan seseorang dalam kedudukannya sebagai warga negara Indonesia dalam
hubungannya hidup dengan negara dan dengan sesama warga negara.
Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila seperti yang tercantum di dalam sila
"kemanusiaan yang adil beradap" sebagai berikut :
1. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan persamaan kewajiban
antara sesama manusia.
2. Mengembangkan sikap tenggang rasa.
3. Tidak semena-mena terhadap orang lain, berani membela kebenaran dan
keadilan, dan sebagainya.
Moral adalah ajaran tentang baik buruk, perbuatan dan kelakuan, akhlak,
kewajiban dan sebagainya. Di dalam moral diatur segala perbuatan yang dinilai baik
dan perlu dilakukan, serta suatu perbuatan yang dinilai tidak baik dan perlu dihindari.
Moral berkaitan dengan kemampuan yang membedakan perbuatan yang benar dan
yang salah. Dengan demikian, moral merupakan kendah dalam bertingkah laku.
Bagaimana hubungan nilai-nilai kehidupan dengan moral ? kaitan nilai-nilai hidup,
moral merupakan kontrol dalam bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai
hidup yang dimaksud. Misalnya dalam pengalaman nilai-nilai hidup, tenggang rasa,
dalam perilakunya, seseorang selalu memperhatikan perasaan orang lain, "tidak semua
gue". Dia dapat membedakan tindakan yang benar dan yang salah.
Nilai-nilai kehidupan sebagai norma dalam masyarakat senantiasa menyangkut
persoalan antara baik dan buruk, jadi berkaitan dengan moral. Sikap adalah kesediaan
bereaksi individu terhadap suatu hal. Sikap berkaitan dengan motif dan mendasari
tingkah laku seseorang. Dapat diramalkan tingkah laku apa yang dapat terjadi dan
akan diperbuat jika telah diketahui sikapnya. Sikap belum menjadi suatu tindakan atau
aktifitas, akan tetapi berupa kecendeningan tingkah laku. Jadi, sikap merupakan
kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu
penghayatan terhadap objek tersebut. Dengan demikian, keterkaitan antara nilai,
moral, sikap dan tingkah laku akan tampak dalam pengalaman nilai-nilai. Dengan kata
lain, nilai-nilai perlu dikenal terlebih dahulu kemudian dihayati dan didorong oleh
moral, baru akan terbentuk sikap tertentu terhadap nilai-nilai tersebut dan pada
akhirnya terwujud tingkah laku sesuai dengan nilai-nilai yang dimaksud.

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan nilai, moral dan sikap:

Perkembangan enternalisasi nilai-nilai terjadi melalui identifikasi dengan orang-orang


yang dianggap nya sebagai model.
Perkembangan moral dipandang sebagai proses internasionalisasi norma-norma
masyarakat dan di pandang sebagai kematangan dari sudut organik biologik. Menurut
psikonalisis, moral dan nilai menyatu dalam konsep "super ego". Super ego dibentuk
melalui jalan internalisasi larangan-Iarangan atau perintah-perintah yang datang dari
Iuar (terutama dari orang tua).
Didalam usaha membentuk tingkah laku sebagai pencerminan nilai-nilai hidup tertentu
ternyata bahwa faktor lingkungan memang peranan penting dalam pembentukan
moral. Maka jelas sifat dan sifat lingkungan terhadap nilai hidup tertentu dan moral
makin kuat pula pengaruhnya untuk membentuk (atau meniadakan) tingkah laku yang
sesuai.

c. Upaya pengembangan nilai, moral dan sikap, serta implikasi nya dalam
penyelenggaraan pendidikan :

Adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengembangkan nilai, moral dan
sikap adalah :
(1) Menciptakan komunikasi :didahului dengan pemberian
informasi tentang nilai-nilai dan moral. Anak akan mengetahuinya dari orang
tuanya bagai mana seseorang harus bertingkah laku sesuai dengan norma dan
nilai-nilai moral. Di sekolah anak diberi kesempatan berpartisipasi untuk
mengembangkan aspek moral, misalnya melalui kerja kelompok.
(2) Menciptakan lingkungan yang serasi : seseorang yang
mempelajari nilai hidup, moral tertentu, kemudian berhasil memiliki sikap dan
tingkah Iaku sebagai pencerminan nilai hidup itu. Ini berarti bahwa
pengembangan tingkah laku, nilai hidup, hendaknya tidak hanya mengutamakan
intelek saja, tetapi mempergunakan lingkungan yang kondusif, di mana faktor-
faktor lingkungan itu merupakan penjelmaan konkrit dari nilai-nilai hidup
tersebut.
Akhirnya perlu juga diperhatikan nilai-nilai keagamaan, lingkungan yang
banyak bersifat mengajak, mengundang atau memberi kesempatan, akan Iebih
selektif dari pada lingkungan yang ditandai dengan Iarangan-larangan,
peraturan-peraturan yang serba membatasi.

E. PERKEMBANGAN PRIBADIPESERTA DIDIK

Kehidupan pribadi seseorang individu merupakan kehidupan yang utuh, lengkap,


memiliki ciri-ciri yang khusus dan unik. Kehidupan seseorang menyangkut berbagai
aspek, antara lain aspek emosional, sosial psikologis dan sosial budaya , kemampuan
intelektual yang terpadu secara integratif dengan faktor lingkungan kehidupan.
Pada awal kehidupannya dalam rangka menuju pola kehidupan pribadi yang lebih
mantap, seseorang individu berupaya untuk mampu mandiri, dalam arti mampu mengurus
diri sendiri sampai dengan mengatur dan memenuhi kebutuhan serta tugasnya sehari-hari.
Untuk itu diperlukan penguasaan situasi untuk menghadapi berbagai rangsangan yang
dapat mengganggu kestabilan pribadinya.Di samping itu, dalam kehidupan ini diperlukan
keserasian antara kebutuhan hidup fisik dan non-fisik. Kebutuhan fisik tiap orang perlu
pemenuhan, misalnya: seseorang perlu bernafas dengan lega, perlu makan enak dan
cukup, perlu keamanan.
Berkaitan dengan aspek sosio-psikologis, setiap pribadi membutuhkan kemampuan
untuk menguasai sikap dan emosi nya serta sarana komunikasi untuk bersosialisasi. Hal
itu semua akan nampak secara utuh dan lengkap dalam bentuk perilaku dan perbuatan
yang mantap. Dengan demikian, masalah kehidupan pribadi merupakan bentuk integrasi
antara faktor fisik, sosial budaya, dan faktor psikologis. i samping itu, individu juga
membutuhkan pengakuan dari pihak lain tentang harga dirinya, baik dari keluarganya
sendiri maupun di luar keluarganya, tiap orang mempunyai harga diri dan berkeinginan
untuk selalu mempertahankan harga diri tersebut.
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan
pribadi :
a. Pengaruh status sosial ekonomi : menyangkut perkembangan psiko-fisis,
dipengaruhi oleh status sosial ekonomi, filsafat hidup keluarga, dan poïa
hidup keluarga seperti disiplin, kepedulian kepada kesehatan dan
ketertiban menjalankan ajaran agama.
b. Pengaruh faktor keturunan : sangat ditentukan oleh pembawa sejak lahir.
c. Pengaruh faktor lingkungan : manusia yang lahir akan sangat tergantung
pada lingkungan yang membentuk kepribadiannya.
d. Pengaruh faktor pembawaan dan lingkungan : Indonesia mengikuti
paham ini, bahwa pembawaan dan lingkungan merupakan faktor yang
membentuk kepribadian peserta didik.

2. Perbedaan individu dalam perkembangan pribadi :


Lingkungan kehidupan sosial budaya yang mempengaruhi perkembangan kepribadian
manusia amatlah kompleks dan heterogen. Baik lingkungan alami maupun lingkungan
yang diciptakan untuk maksud pembentukan pribadi anak, masing-masing memiliki
ciri-ciri yang berbeda-beda. Oleh sebab itu perkembangan kepribadian setiap individu
berbeda-beda pula sesuai dengan lingkungan dimana mereka di besarkan.

3. Pengaruh perkembangan kehidupan pribadi terhadap


tingkah laku :
Kehidupan merupakan rangkaian yang berkesinambungan dalam proses
pertumbuhan dan perkembangan. Keadaan kehidupan sekarang dipengaruhi
oleh kehidupan sebelumnya, dan keadaan yang akan datang banyak di
tentukan oleh keadaan kehidupan saat ini.
Dengan demiMan, tingkah laku seseorang di pengaruh oleh hasil proses
perkembangan kehidupan sebelumnya dan dalam perjalanannya berintegrasi dengan
kejadian-kejadian saat sekarang. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa jika sejak awal
perkembangan kehidupan kepribadian terbentuk secara terpadu dan harmonis. Maka
dapat diharapkan tingkah laku yang merupakan pengejewantaan berbagai aspek
kepribadian itu akan baik. Kehidupan pribadi yang mantap memungkinkan seseorang
anak akan berperilaku yang mantap pula yaitu :mampu menghadapi dan memecahkan
berbagai masalah dan pengendalian emosi secara matang, tertib, disiplin dan penuh
tanggung jawab.

4. Upaya pengembangan kehidupan pribadi :


Kehidupan kepribadian merupakan rangkaian proses pertumbuhan dan perkembangan,
perlu dipersiapkan dengan baik. Untuk itu perlu dilakukan pembiasaan dalam hal :
a. Hidup sehat dan teratur, serta pemanfaatan waktu secara baik.
Pengenalan dan pemahaman nilai dan moral yang berlaku di dalam
kehidupan perlu ditanamkan secara benar.
b. Mengerjakan tugas dan pekerjaan praktis sehari-hari secara mandiri
dengan penuh tanggung jawab.
c. Hidup masyarakat dengan memerlukan pergaulan dengan sesama,
terutama teman saya. Menunjukkan gaya dan pola kehidupan yang
baik sesuai dengan kultur yang baik dan dianut oleh masyarakat.
d. Cara-cara pemecahan masalah yang dihadapi dapat dilakukan dengan
cara terlatih dan cara meresponnya.
e. Mengikuti aturan kehidupan keluarga dengan penuh tanggung jawab
dan disiplin.
f. Di dalam keluarga dikembangkan saling menghargai orang lain dan
keteladanannya.

F. IMPLIKASINYA PERKEMBANGAN SOSIAL, KEPRIBADIAN


TERHADAP KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR

1. Perhatian guru perlu di arahkan kepada


kemampuan siswa didalam penyelenggaraan pendidikan sehingga terdapat pangkuan
terhadap kemampuan, terhadap kepercayaan, kebebasan dan semacamnya.
2. Guru perlu memberi pengarahan akademis yang
sesuai dengan kemampuan, minât dan bakat siswa, maupun terhadap jenis pekerjaan
sesuai dengan keterampilan peserta didik. Di samping itu, perlu pula diberi bimbingan
praktis sesuai dengan lapangan kerja yang dibutuhkan di dalam masyarakat, serta
bimbingan perkawinan.
3. Perlu juga diperhatikan penyusunan kurikulum
yang sesuai dengan kebutuhan kerja di masyarakat atau yang menjamin pekerjaan
setelah siswa tamat $ulus).
4. Perlu pula diperhatikan pendidikan tentang nilai
kehidupan untuk lebih mengenal norma kehidupan sosial masyarakat, melalui
organisasi pemuda, pertemuan secara periodik dengan orang tua siswa, serta
pemantapan pendidikan agama.
5. Perlu pula diperhatikan tentang muatan lokal yang
harus ditampilkan (khususnya SD). Isi muatan lokal haruslah secara selektif, yang
benar-benar dapat memberi bekal apabila siswa tidak melanjutkan lagi. Keterampilan
yang diperoleh melalui muatan lokal dapat memberi jaminan kelangsungan hidup di
masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, H.Abu. 1993. Cara Belajar Yang Mandiri dan Sukses. Solo: Toko
Buku Agency.
Conny Semiawan. 1987. Memupuk Bakat dan Kreativitas Siswa Sekolah
(Petunjuk bagi Guru dan Orang Tua). Jakarta: Gramedia.
Degeng, I.Nyoman Sudana. 1989. Umu Pengajaran Taksonomi variabel.
Jakarta: P2LPTK.
Depdikbud,UT. 1984/1985. Pokok-pokok kesehatan Mental dan Penyesuaîan
diri. Program Akta mengajar V-B komponen Proses Belajar BKS. Buku
II Modul 1 . Jakarta
Gunarsa, Singgih 1998. Dasar dan Teori Perkembangan Anak. Jakarta: BPK
Gunung Mulia
Gunarsa, J.Singgih dan Singgih Gunarsa 1999. Psikologi Remaja. Jakarta: PT
Gunung Mulia
Hurlock E.B.1990. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan (Alih Bahasa Istiwidayantidan kawan-kawan),
Jakarta : PT Gelora Aksara Pratama
Imam Bawani 1985. Pengantar Itmu Jiwa Perkembangan. Surabaya : PT.
Bina Ilmu
Kartini Kartono,1990. Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan), Bandung :
CV.Mandar
Mapiare, Andi. 1982. Psikologi Remaja. Surabaya: Usaha Nasional. Mar'at.1998. Sikap
Manusia Perubahan serta Pengukurannya. Jakarta :
Ghalis Indonesia
Melly,Sri Sulastri Rifai.1987. Psikologi Perkembangan Remaja. Jakarta :
PT.Bina Aksara Monks, F.J. 1984. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Gama Press.
Sarlito, W.S. 1991. Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Press. Sunarto, H dan Ny. B.A.
Hartono. 1994. Perkembangan Peserta Didik.
Jakarta: P3MT, Dirjen Dikti, Depdikbud. Surakhmad, Winarno,1990. Mewujudkan Nilai-
nilai Hidup dalam Tingkah
laku : Sebuah Ikhtisar Pedoman Pendekatan Metodologik.Bandung :
Tarsito. Sutan, Z.A. & Syahniar, S. 1992/1993. Dasar-Dasar Kependidikan. Jakarta:
Depdikbud, Dirjen Dikti P2TK. Wahab, H.Rochmat dan Solehuddin. 1998/1999.
Perkembangan dan Belajar
Peserta didik Depdikbud Dirjen DIKTI P2GSD Westy, Soemanto. 1983. Psikologi
Pendidikan. Malang: Bina Aksara. Winarno, Surakhmad. 1982. Cara Belajar Terbaik di
Universitas. Bandung:
Penerbit Tarsito.