Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Dewasa ini, hortikultura banyak diberi perhatian pemerintah untuk digalakkan dan dikembangkan secara luas. Hal ini mengingat tingginya impor buah-buahan. Produk buah buahan dan sayuran tropis di negara di Indonesia sebenarnya memiliki pangsa pasar yang cukup besar di dalam negeri dan peluang ekspor yang baik yang memungkinkan sebagai devisa negara non-migas (Siswadi, 2007 dalam http:// zainurihanif. com/ 2010/ 06/ 01/ keamanan-buah-buahan-impor/. Diunduh pada tanggal 22 Oktober 2011). Dalam kenyataannya, pangsa pasar buah Indonesia masih dikuasai oleh buah-buah impor dari luar. Menurut data BPS (2008) yang telah diolah oleh Dirjen Hortikultura dalam (http:// zainurihanif. com/ 2010/ 06/ 01/ keamanan-buah-buahan-impor/. Diunduh pada tanggal 22 Oktober 2011), terlihat bahwa hampir pada semua komoditi terjadi peningkatan impor buah. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa, untuk komoditi jeruk, apel, lengkeng, anggur dan stroberi yang merupakan komoditi mandat penelitian Balitjestro mengalami peningkatan impor dari luar yang cukup tajam/signifikan. Meluasnya pasar buah impor di Indonesia, karena kualitas produk buah lokal Indonesia belum bisa menunjukkan keunggulannya dibandingkan dengan buah impor dari luar. Berlakunya sistem perdagangan bebas membuat pemerintah tidak bisa berbuat banyak untuk menanggulangi terjadinya peningkatan impor buah. Hal tersebut tidak perlu terjadi jika kita bisa membuktikan bahwa produk buah Indonesia pada dasarnya sanggup bersaing dengan buah impor baik dalam kualitas maupun harga. Dari kualitas, banyak media cetak maupun elektronik yang menyebutkan bahwa mutu buah impor tidak lebih baik dari mutu buah lokal. Selanjutnya beberapa penelitian juga menyatakan bahwa buah impor memiliki kondisi yang tidak segar lagi ketika di konsumsi. Proses pengangkutan yang lama dan penanganan yang panjang telah memberi peluang kemungkinan kemungkinan tersebut terjadi. Menurut Gumbara (1999) dalam (http:// zainurihanif. com/ 2010/ 06/ 01/ keamanan-buah-buahan-impor/. Diunduh pada tanggal 22 Oktober 2011), produk hortikultura memiliki sifat dasar yaitu bersifat musiman, cepat rusak, memiliki mutu yang tidak seragam, dan memerlukan penanganan khusus tergantung produknya.

Permasalahan inilah kemudian membuka pemikiran logis, bahwa Negara Indonesia yang notabennya merupakan negara agraris ternyata mempunyai kondisi lain yaitu pengimpor no 1 untuk komoditas pertanian. Kondisi seperti inilah maka dapat dijadikan sebuah refrensi dalam pembentukan makalah yang berbasis Permasalahan Impor Buah di Indonesia. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat disusun beberapa rumusan masalah sebagai berikut: 1. Apa saja permasalahan yang muncul berkaitan dengan buah-buah impor yang menjamur di Indonesia ? 2. Bagaimanakah sebenarnya kondisi riil potensi beberapa wilayah di Indonesia ? 3. Solusi apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi tingginya impor buah di Indonesia ? 4. Program-program apa saja yang dapat diterapkan untuk menunjang pemasaran buah local dan meminimalkan buah impor ? 5. Kegiatan apa yang akan dilakukan sebagai implementasi dari program-program yang telah disusun ? 1.3 Tujuan 1. Untuk mengetahui permasalahan yang berkaitan dengan produk buah impor yang telah menjamur di Indonesia. 2. Untuk mengetahui kondisi riil potensi beberapa wilayah di Indonesia. 3. Untuk mencari dan mengetahuin solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi tingginya impor buah di Indonesia. 4. Untuk mengetahui program-program yang dapat diterapkan untuk menunjang pemasaran buah local dan meminimalkan impor buah. 5. Untuk mengetahui kegiatan yang dapat dilakukan sebagai implementasi dari programprogram yang telah disusun.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Permasalahan Impor di Indonesia 2.1.1 Buah Impor, Buah Buangan dari Negara Maju Berdasarkan sifatnya yang musiman, beberapa artikel di media elektronik menyatakan bahwa konsumen harus berhati-hati mengkonsumsi produk buah-buahan yang berasal dari negara-negara tertentu. Perhatikan musim yang sedang berlangsung di negara tersebut, jika di negara tersebut sedang musim buah tersebut berarti kondisi buah yang sampai ke Indonesia bisa diperkirakan masih segar, sebaliknya jika di negara tersebut sedang tidak musim buah tersebut diperkirakan bahwa buah tersebut sudah tidak segar lagi. Berdasarkan sifatnya yang mudah rusak, kita bisa memperkirakan berapa lama waktu dan berapa panjang rantai penanganan yang dilalui oleh buah tersebut hingga sampai ke Indonesia. Hal tersebut sangat membuka peluang buah buahan tersebut bisa rusak. Namun dalam realitanya sampai di Indoensia masih terlihat segar dan mengkilat dan bisa dijual dengan harga yang terjangkau. Hal ini bisa menguatkan tentang kebenaran keluhan beberapa konsumen bahwa mutu buah impor tidak baik lagi untuk dikonsumsi. Dari segi harga yang tetap bisa bersaing, dengan penanganan yang panjang dan lama, ada dugaan bahwa buah yang diimpor ke Indonesia adalah buah sisa atau buah yang tidak laku dipasaran buah negera maju. Akibatnya ketika dipasarkan ke Indonesia, pedagang atau eksportir dari negara tersebut tidak memperhitungkan harga komoditi, cukup memperhitungkan biaya penanganan sehingga buah-buahan tersebut bisa dijual di Indonesia dengan harga yang terjangkau. Setyabudi, dkk (2008) dalam (http:// zainurihanif. com/ 2010/ 06/ 01/ keamananbuah-buahan-impor/. Diunduh pada tanggal 22 Oktober 2011), menyebutkan bahwa buahbuahan impor terindentifikasi mengandung formalin dan pestisida yang dilarang dalam penggunaannya. Penggunaan formalin dan pestisida pada buah-buahan impor dapat terjadi di negara produsennya maupun setelah sampai di Indonesia. Perlu stndar mutu yang lebih luas terhadap buah impor guna melindungi konsumen terhadap dampak negatif dari penggunan bahan kimia terlarang. 3

Di lain sisi, berlakunya sistem perdagangan bebas tidak membuat pemerintah leluasa untuk membuat kebijakan untuk membatasi meningkatnya buah impor di Indonesia. Dengan adanya penelitian ini yang mampu membuktkan bahwa mutu buah impor memang tidak layak atau tidak lebih baik dari buah-buahan lokal, diharapkan membuat pemerintah lebih mudah mengeluarkan kebijakan yang lebih berpihak pada petani. Selanjutnya juga bisa meluruskan niat konsumen bahwa mengkonsumsi buah adalah karena ingin sehat. Produk Buah-buahan memiliki sifat dasar yaitu bersifat musiman, cepat rusak, memiliki mutu yang tidak seragam, dan memerlukan penanganan tergantung produknya (Gumbara, 1999 dalam http:// zainurihanif. com/ 2010/ 06/ 01/ keamanan-buah-buahanimpor/. Diunduh pada tanggal 22 Oktober 2011). Hal tersebut sangat memungkinkan buahbuahan impor yang telah mengalami pengangkutan yang lama, penanganan yang panjang, dan berasal dari negera-negera yang musimnya berbeda dengan negara kita mengalami penurunan mutu (fisik, kimia) dan residu kimia . Berbeda dengan buah-buahan lokal yang langsung dipasarkan pada musimnya, tidak perlu pengangkutan yang lama, dan penanganan yang tidak terlalu panjang yang memungkinkan mutunya bisa lebih baik dari buah-buahan impor. 2.1.2 Buah Indonesia belum Mampu Imbangi Produk Impor Kementerian Pertanian mengakui hingga saat ini buah-buahan Indonesia belum mampu mengimbangi produk buah impor yang harganya lebih murah. Direktur Budidaya dan Pascapanen Buah Ditjen Hortikultura, Kementerian Pertanian Sri Kuntarsih mengatakan, kondisi tersebut terlihat dari kecenderungan impor yang meningkat selama lima tahun terakhir (http:// www. mediaindonesia. com/ read/ 2011/ 05/ 08/ 224422/21/2/BuahIndonesia-belum-Mampu-Imbangi-Produk-Impor. Diunduh Pada tanggal 22 Oktober 2011). Pada 2005, lanjut Sri Kuntarsih , impor buah-buahan Indonesia sebanyak 413.410,6 ton senilai US$234,07 juta sedangkan pada 2010 diperkirakan mencapai 601.965,0 ton dengan nilai US$591,68 juta. Rata-rata, impor buah-buah tersebut sekitar 467.342,0 ton per tahun atau US$381,85 juta per tahun. "Ini merupakan PR (pekerjaan rumah) bagi kita untuk dapat mengembangkan produk (buah-buahan) yang murah dan efisien," katanya (http:// www. mediaindonesia. com/ read/ 2011/ 05/ 08/ 224422/21/2/Buah-Indonesia-belumMampu-Imbangi-Produk-Impor. Diunduh Pada tanggal 22 Oktober 2011). Sementara itu menyinggung ekspor buah-buahan selama 2005-2010, Sri Kuntarsih menyatakan, secara volume terjadi penurunan namun dari segi nilai justru meningkat. Ekspor buah-buahan pada 2005, tambahnya, sebanyak 272.292,6 ton senilai US$150,06 juta 4

sedangkan 2010 hanya 214.742,0 ton dengan nilai US$171,97 juta. Rata-rata ekspor buah Indonesia mencapai 207.232,4 ton atau US$ 129,93 juta per tahun (http:// www. mediaindonesia. com/ read/ 2011/ 05/ 08/ 224422/21/2/Buah-Indonesia-belum-MampuImbangi-Produk-Impor. Diunduh Pada tanggal 22 Oktober 2011). 2.1.3 Buah Cina Menguasai Pasar Buah di Indonesia Pada tahunh 2011 ini, impor buah-buahan, terutama untuk jenis jeruk mandarin dan pir dari China, semakin merajalela. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor jeruk mandarin pada Januari-Maret 2011 senilai 85.352.866 dollar AS. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, nilai impor jeruk mandarin masih sebesar 68.103.952 dollar AS. Itu berarti impor jeruk mandarin Tahun 2011 melonjak sekitar 25,32 persen dibandingkan dengan Tahun 2010 (http:// bisniskeuangan. kompas.com/ read/ 2011/ 05/ 05/ 10315781/ Impor. Buah.dari.China.Makin.Menggila. Diunduh pada tanggal 22 Oktober 2011). Kondisi yang sama terjadi pada impor buah pir. Bahkan, kenaikan nilai impor pir jauh lebih tinggi ketimbang jeruk mandarin. Masih merujuk data BPS, impor pir pada JanuariMaret 2011 senilai 30.392.987 dollar AS. Nilai ini melonjak 168,56 persen dibandingkan dengan Januari-Maret 2010 yang senilai 11.317.116 dollar AS(http:// bisniskeuangan. kompas.com/ read/ 2011/ 05/ 05/ 10315781/ Impor. Buah.dari.China.Makin.Menggila. Diunduh pada tanggal 22 Oktober 2011). Ketua Asosiasi Eksportir Sayuran dan Buah Indonesia (AESBI) Hasan Widjaja mengaku tidak terlalu kaget dengan kenaikan nilai impor buah dari China. Menurut dia, buah-buahan China memang memiliki banyak keunggulan, seperti harga yang lebih rendah dan ketersediaan pasokan yang melimpah. Jeruk mandarin dari China, misalnya, bisa dijual ke konsumen dengan harga Rp 17.000 per kilogram. Bandingkan dengan jeruk medan atau jeruk pontianak yang dijual lebih mahal, yaitu Rp 20.000 per kilogram. "Para pedagang otomatis memilih jeruk impor," ungkapnya kepada KONTAN, Rabu (4/5/2011) dalam (http:// bisniskeuangan. kompas. com/ read/ 2011/05/05/10315781/Impor. Buah.dari. China. Makin. Menggila. Diunduh pada tanggal 22 Oktober 2011). Ketersediaan pasokan buah impor dari China juga menjadi penyebab lainnya. China sudah memiliki kawasan produksi buah-buahan dan sayuran yang memadai, baik dari sisi luas maupun teknologi penanamannya. Efeknya, mereka bisa memproduksi buah-buahan dan sayuran terus-menerus sepanjang tahun tanpa harus terhambat masalah cuaca (http:// bisniskeuangan. kompas.com/ read/ 2011/ 05/ 05/ 10315781/ Impor. Buah.dari.China.Makin.Menggila. Diunduh pada tanggal 22 Oktober 2011). 5

Kondisi sebaliknya menimpa buah-buahan Indonesia. Produksi buah-buahan di beberapa daerah sering mentok akibat cuaca buruk. Indonesia juga tidak memiliki kawasan khusus yang dijadikan lumbung produksi buah. Akibatnya, setiap tahun produksi buahbuahan lokal terus berfluktuasi sepanjang tahun (http:// bisniskeuangan. kompas.com/ read/ 2011/ 05/ 05/ 10315781/ Impor. Buah.dari.China.Makin.Menggila. Diunduh pada tanggal 22 Oktober 2011). 2.1.4 Penampilan Buah Impor Menarik namun Tidak Berkualitas Buah Impor, Buah Tidak Ada Gizi hal ini karena buah impor sudah disimpan berbulan-bulan sebelum sampai ke Indonesia. Kandungan nutrisinya pun sudah sangat rendah. Melimpahnya buah dari luar negeri menyebabkan rendahnya konsumsi buah lokal. Buah lokal jauh lebih segar dan padat gizi dibandingkan buah impor. Namun, pasar buah Indonesia dibanjiri oleh buah-buahan luar negeri. Pemerintah perlu mengubah kebijakan untuk menggalakkan produksi dan konsumsi buah lokal (http:// finunu. wordpress. com/ 2011/09/27/buah-impor-buah-tidak-ada-gizi/. Diunduh pada tanggal 22 Oktober 2011). Dari segi potensi, tidak diragukan lagi Indonesia memiliki potensi yang sangat besar, misalnya salak, durian, jambu air dan pisang pun berbagai macam. Produksi buah di Indonesia menghadapai berbagai masalah. Yang pertama, kurangnya perhatian pemerintah terhadap pertanian buah sehingga menyebabkan rendahnya tingkat produksi. Kedua, kualitas buah-buah lokal juga kurang memadai. Ini salah satunya disebabkan rendahnya kualitas penelitian untuk mengembangkan buah-buah lokal. Rendahnya tingkat produksi dan kualitas menyebabkan buah lokas tidak bisa bersaing dengan buah-buah impor ketika perdagangan bebas diterapkan di Indonesia (http://finunu.wordpress.com/2011/09/27/buah-impor-buahtidak-ada-gizi/. Diunduh pada tanggal 22 Oktober 2011). Buah-buah impor terlihat lebih cantik dan kemasannya lebih menarik, misalnya apel dari Jepang atau Amerika , tetapi kandungan gizi apel impor itu jauh lebih rendah dibandingkan dengan apel lokal, misalnya Apel Malang. Apel Malang memang lebih keras dan asam. Tapi, itu justru menunjukkan Apel Malang masih segar. Sedangkan apelapel yang berasal dari luar negeri biasanya sudah disimpan dulu selama beberapa bulan sebelum akhirnya di ekspor. Ini karena di negara-negara itu apel hanya diproduksi pada satu musim saja. Jadi, untuk bisa dikonsumsi sepanjang tahun buah-buah itu harus disimpan dan saat diekspor kualitasnya 6

sudah sangat rendah (http://finunu.wordpress.com/2011/09/27/buah-impor-buah-tidak-adagizi/. Diunduh pada tanggal 22 Oktober 2011). Oleh karena itu perlunya dilakukan kampanye terhadap para konsumen tentang keuntungan memakan buah lokal yang jauh lebih sehat dibandingkan dengan buah impor. Tidak semua buah impor yang kelihatan cantik dan dikemas manis secara otomatis gizinya juga bagus. 2.1.5 Buah Lokal Terbatas, Buah Impor Merebut Pasar Buah impor seperti Apel Puji, Kiwi, Pear, Sunkist, Jeruk Honey Murcot, Anggur, Longan dan beberapa buah impor lainnya, hadir berbagai sentra pasar buah di Kota Medan. Tidak tanggung-tanggung, jumlah item buah impor yang dijual di berbagai sentra pasar buah di Kota Medan, jumlahnya cukup banyak, mengalahkan buah lokal yang ditanam petani di Sumatera Utara yang dikenal penghasil buah-buahan. Semangat para pedagang menjual buah impor tidak terlepas banyaknya permintaan (http:// www. analisadaily. com/ news/ read/ 2011/10/23/18369/buah_lokal_terbatas_buah_impor_merebut_pasar/. Diunduh pada tanggal 23 Oktober 2011. Indonesia, salah satunya Kota Medan menjadi Surga para petani buah, dari berbagai negara penghasil buah. Diperkirakan ratusan ton buah impor dari berbagai negara masuk untuk menenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia. Apalagi, harga buah impor sedikit lebih murah bila dibandingkan buah lokal. Kelebihan lain buah impor tampak lebih segar dan manis dari buah lokal. Begitu juga ketersediaan buah impor setiap saat dapat dibeli, sedangkan buah lokal hanya ada pada musim-musim tertentu. Kelebihan yang dimiliki, wajar saja bila buah impor cepat mendapat sambutan dari masyarakat Indonesia sebagai konsumen pembeli buah.(http: //www.analisadaily. com/news/read/2011/10/23/18369/ buah_lokal _terbatas_buah impor_merebut_pasar/. Diunduh pada tanggal 23 Oktober 2011). Keistimewaan buah impor, diakui konsumen buah Agus Susanto. Banyak keistimewaan buah impor dari buah lokal seperti rasa dan juga harga. Agus penikmat buah Apel dan Jeruk Mandarin, buah-buah lokal tidak selalu dapat dibeli setiap saat. Bila buah impor selalu tersedia. Diakuinya, ada beberapa buah lokal yang banyak diminati, seperti jeruk dan mangga. Hanya saja, buah lokal yang banyak diminati hanya ada pada waktu-waktu tertentu. (http://www.analisadaily.com/news/read/2011/10/23/18369/buah_lokal_terbatas_buah_impor _merebut_pasar/. Diunduh pada tanggal 23 Oktober 2011).

Setiap bulan, ratusan ton buah impor masuk ke Indonesia untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sebagai gambaran berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor Jeruk Mandarin pada Januari-Maret 2011 senilai 85.352.866 dollar AS. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, nilai impor Jeruk Mandarin masih sebesar 68.103.952 dollar AS. Itu berarti impor jeruk mandarin triwulan I-2011 melonjak sekitar 25,32 persen dibandingkan dengan triwulan I-2010. Kondisi yang sama terjadi pada impor buah Pear. Bahkan, kenaikan nilai impor pear jauh lebih tinggi ketimbang Jeruk Mandarin. Masih merujuk data BPS, impor Pear pada Januari-Maret 2011 senilai 30.392.987 dollar AS. Nilai ini melonjak 168,56 persen dibandingkan dengan Januari-Maret 2010 yang senilai 11.317.116 dollar AS.(http://www. analisadaily.com/ news/read/2011/10/23/18369/buah_ lokal_terbatas_buah_impor_merebut_pasar/. Diunduh pada tanggal 23 Oktober 2011). Peningkatan buah impor yang masuk ke Indonesia dan juga ke Medan dari tahun ke tahun membuktikan negara ini merupakan pangsa pasar yang cukup potensian para petani buah di berbagai negara. Selama tiga bulan, puluhan juta dollar AS dari Indonesia mengalir ke dari berbagai negara. Hasilnya. Para petani buah dari berbagai negara menikmati hasil penjualan buah di Indonesia. Para petani buah lokal yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia termasuk petani di Sumatera Utara belum menikmati potensi besar pangsa pasar buah di dalam negeri (http://www.analisadaily.com/news/read/2011/10/23/18369/buah_lokal_terbatas_buah_impor _merebut_pasar/. Diunduh pada tanggal 23 Oktober 2011). Ketertinggalan buah lokal merebut pasar di dalam negeri, tidak terlepas dari kelemahan pemerintahan dalam meningkatkan hasil produksi buah untuk memenuhi kebutuhan pasar di dalam negeri. Keterbatasan buah lokal yang tersedia, membuka peluang buah impor untuk merebut pasar di Indonesia. Bila pemerintah mampu menyediakan buah lokal dengan meningkatkan hasil produksi buah dari petani, dapat mempersempit ruang gerak buah impor merebut pasar di Indonesia (http://www.analisadaily.com/news/read/2011/10/23/18369/buah_lokal_terbatas_buah_impor merebut_pasar/. Diunduh pada tanggal 23 Oktober 2011). Sementara itu, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan harus lebih bijak dalam melihat impor buah dari China. Menurut dia, Indonesia belum memasuki skala ketergantungan pada buah-buahan impor dari China. Namun, impor itu kebanyakan untuk jenis-jenis tertentu yang tidak ada di Indonesia. "Kalau permintaan ada, sementara pasokan tidak ada, impor bukan sesuatu yang salah," ungkap Mari dalam keterangan pers. 8

2.2 Kondisi Riil Potensi Wilayah Indonesia merupakan salah satu produsen buah-buahan tropis dengan keragaman yang cukup tinggi. Produk buah Indonesia yang potensi di pasar internasional antara lain : Nanas olahan, Indonesia merupakan eksportir tiga besar di dunia Manggis, Indonesia sebagai produsen terbesar di dunia Mangga, dua varietas unggulan yaitu gedung gincu dan harumanis. Melon, berdasarkan permintaan, berpotensi dipasarkan di Malaysia dan Singapura Salak, varietas unggul, namun ekspor masih kecil, terkendala belum memiliki kode HS Alpukat dan Sirsak, perlu dikembangkan lebih lanjut melalui kajian Berdasarkan akses pasar, buah-buahan Indonesia masih sangat prospektif untuk pasar Asia Pasifik antara lain ke Australia, Singapura, China dan Korea Selatan serta pasar Timur Tengah. Namun, umumnya negara tujuan ekspor saat ini mengenakan hambatan melalui Sanitary and Phitosanitary (SPS) dalam (http://www.nafed.go.id/news/read/in/574. diunduh pada tanggal 24 Oktober 2011). Indonesia merupakan salah satu negara penghasil buah tropis yang memiliki keanekaragaman dan keunggulan cita rasa yang cukup baik bila dibandingkan dengan buahbuahan dari negara-negara penghasil buah tropis lainnya. Produksi buah tropika nusantara terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, pada tahun 2007 produksi buah Indonesia sebesar 17.116.622 ton atau naik sekitar 4,18 % bila dibandingkan dengan produksi tahun 2008 sebesar 17.831.252 ton (http:// www. agromaret. com/ artikel/ 259/ upaya pengembangan_kawasan_buah_unggulan_tropika_untuk_ekspor. Diunduh pada tanggal 25 Oktober 2011). Berikut merupakan data mengenai sentra buah dan daerah potensial untuk produksi buahbuahan: Sentra Produksi Buah dan Daerah Potensial untuk Produksi Buah-buahan Jenis Buah Nenas Sentra Produksi Sumatera Utara, Riau, Lampung, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Daerah Potensial Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah,

Jawa Timur (Surabaya), NTB, Sulawesi Selatan, 9

NTB, Kalimantan Timur, Sulawesi Rambutan Selatan. Sumatera Utara (Deli Serdang), Riau (Kampar), Jambi (Batanghari), Sumatera Selatan (Pematang Hilir), Jawa Barat (Bogor, Bekasi, Pandeglang, Cianjur, Ciamis), Jawa Tengah (Banyumas, Cilacap), Bali (Buleleng), NTB (Lombok Utara), Kalimantan Barat (Sambas, Pontianak), Kalimantan Selatan Mangga Jawa Barat (Indramayu, Cirebon, Kuningan, Subang), Jawa Tengah (Blora, Boyolali, Srangen, Klaten), Jawa Timur (Probolinggo, Pasuruan, Gresik), NTB (Lombok Barat), Pepaya Sulawesi Selatan Sumatera Utara (Medan, Deli Serdang), Jawa Barat (Bogor), Apel Jawa Timur (Kediri) Sumatera Utara (Simalungun), Riau (Kampar), Sumatera Sumatera Utara Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Selatan Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi Lampung

Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, 10

Selatan, Jambi (Bungotebo), Jawa barat (Subang, Bogor), Jawa Tengah (Cilacap), Jawa Timur (Malang), Pisang Kalimantan Timur Aceh, Sumatera Utara (Langkat, Deli Serdang, Tapanuli Selatan), Jawa Barat (Sukabumi), Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB (Lombok Barat), Sulawesi Tengah Sumber: Pusat Buah Tropika, IPB (2001 Sumber Link : http://binaukm.com/2010/05/sentra-produksi-buah-dan-daerah-potensialuntuk-produksi-buah-buahan/. Diunduh pada tangal 26 Oktober 2011 2.3 Solusi Peluang pasar buah-buahan internasional yang terbuka luas sampai saat ini masih belum dimanfaatkan secara baik oleh pelaku buah-buahan nasional. Berbagai upaya peningkatan produksi dan mutu yang dilaksanakan seperti penerapan GAP/SOP, penataan rantai pasokan, pengembangan kelembagaan usaha dan peningkatan investasi di bidang buahbuahan pada akhirnya diharapkan juga untuk dapat mengisi peluang pasar di tingkat internasional. Perdagangan buah tropika di tingkat dunia terus mengalami peningkatan berdasarkan data FAO mengenai perdagangan (Morey, 2007). Pada tahun 2004, jenis buah tropika utama yang diimpor pada tingkat dunia adalah pisang (12,4 juta ton), nenas (1,6 juta ton), mangga (732 ribu ton) dan pepaya (208 ribu ton). Negara terbesar yang mengimpor buah tropika dalam bentuk segar adalah Amerika Serikat diikuti oleh negara-negara Eropa (http:// www. agromaret. com/ artikel/ 259/ upaya pengembangan kawasan_ buah_ unggulan_ tropika_ untuk_ ekspor. Diunduh pada tanggal 25 Oktober 2011). Volume ekspor total untuk mangga, manggis dan jambu biji dipasar dunia mencapai 1.178.810 ton dalam tahun 2005. Indonesia berkontribusi sebesar 1.760 ton atau 0,15 persen 11 Aceh, Sumatera Utara, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB Kalimantan Barat

dari ekspor total dunia. Impor total dunia untuk ketiga komoditas tersebut mencapai 857.530 ton dan untuk Indonesia hanya sebesar 540 ton atau sekitar 0,06 persen (FAO, 2007). Dalam tahun 2006, ekspor total dari komoditas tersebut menjadi 901.520 ton senilai US $ 684,6 juta (NAFED, 2007) dalam (http:// www. agromaret. com/ artikel/ 259/ upaya pengembangan kawasan_ buah_ unggulan_ tropika_untuk_ekspor. Diunduh pada tanggal 25 Oktober 2011). Indonesia memiliki beragam jenis buah-buahan bermutu yang berpotensi untuk mendatangkan devisa bagi negara. Untuk total ekspor buah Indonesia pada tahun 2006 sebesar 26.236 ton atau senilai US $ 144.492.469, angka tersebut mengalami penurunan sebesar 39,92 % bila dibandingkan dengan volume ekspor pada tahun 2007 sebesar 15.761 ton atau senilai US $ 93.652.526. Sedangkan untuk tahun 2008 volume ekspor buah meningkat sebesar 105,50% dibanding tahun sebelumnya yaitu 32.389 ton dengan nilai US $ 234.867.444 (http:// www. agromaret. com/ artikel/ 259/ upaya pengembangan kawasan_ buah_ unggulan_ tropika_untuk_ekspor. Diunduh pada tanggal 25 Oktober 2011). Khusus untuk pasar ekspor, beberapa komoditas buah-buahan Indonesia sejak beberapa tahun terakhir ini telah banyak diminati pasar dunia seperti Manggis, Salak, Mangga dan lain sebagainya. Adapun produk buah-buahan ekspor Indonesia dan negara tujuan ekspor yang telah berjalan saat ini diantaranya: Manggis: Jepang, Hongkong, Korea, Taiwan, Cina, Singapura, Malaysia, Vietnam, India, Arab Saudi, Belanda, Swiss, Perancis, Jerman, Belgia Alpukat: Singapura, Malaysia, Brunei Nenas: Jepang, Korea, Singapura, Arab Saudi, Iran Pisang: Jepang, Hongkong, Korea, Malaysia, Iran, Arab Saudi, USA, Belanda Mangga: Jepang, Hongkong, Singapura, Brunei, Arab Saudi, USA, Perancis, Austria Melon: Jepang, Singapura, Malaysia Salak: China, Malaysia, Hongkong, Makau Apel: Malaysia Dilihat dari sebesar itu peluang ekspor negara Indonesia maka perlu diadakannya peningkatan dan ditingkatkannya akselerasi ekspor buah. 2.4 Program Berkaitan dengan solusi yang telah diajukan maka perlunya program yang berkesinambungan dengan kondisi riil yang menjadi potensi wilayah bagian negara indonesia. Maka upaya peningkatan dan akselerasi ekspor buah dilakukan dengan berbagai tahap sebagai berikut: 12

1. Pengembangan Kawasan Buah 2. Promosi Dalam Negeri 3. Promosi Luar Negeri 4. Akselerasi ekspor 5. Membangun Pencitraan Produk Buah Tropika Nusantara 6. Pest List Untuk Akses Pasar Ekspor Produk Hortikultura Penyusunan 7. Penanganan OPT melalui kerjasama institusi untuk akses pasar 2. 5 Kegiatan Kegiatan yang akan dilakukan merupakan implementasi dari program yang merujuk pada sebuah anggaran berupa sebuah kegiatan, dimana kegiatan tersebut diantaranya sebagai berikut: 1. Dalam Program Pengembangan Kawasan Buah dapat dilakukan kegiatan berupa: Pengembangan kawasan akan menjadi suatu bentuk implementasi yang prima dari fungsi pemerintahan pusat, provinsi dan kabupaten/kota dalam kerangka desentralisasi pemerintahan. Direktorat Jenderal Hortikultura telah menetapkan 5 kawasan buah tropika dengan pendampingan intensif, antara lain yaitu : a) Nenas di Kabupaten Pontianak dan Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat b) Mangga di Kabupaten Indramayu, Cirebon dan Majalengka, provinsi Jawa Barat serta Probolinggo, Situbondo, Pasuruan, Bondowoso provinsi Jawa Timur c) Manggis di Purwakarta, Bogor, Tasikmalaya dan Subang Provinsi Jawa Barat d) Salak di kabupaten Sleman provinsi DIY dan kabupaten Magelang, Banjarnegara di provinsi Jawa Tengah e) Melon di kabupaten Sragen, Pekalongan, Karanganyar, provinsi Jawa Tengah 2. Dalam program Promosi Dalam Negeri dapat dilakukan kegiatan berupa: a) Gelar buah di Istana Negara hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI. b) Promosi pada acara Produk Pameran Ekspor (PPE) kerjasama dengan Departemen Perdagangan. c) Indonesia Tropical Fruit Festival (ITF2) dirancang untuk memperkenalkan buah tropika nusantara kepada masyarakat luas. d) Pemasyarakatan buah tropika nusantara dilaksanakan kerjasama dengan Taman Buah Mekarsari.

13

e) Kegiatan pemasyarakatan konsumsi buah dalam kesehatan keluarga yang dibuka oleh Menteri Pertanian. f) Lomba Kebun Buah GAP. 3. dalam program Promosi Luar Negeri dapat dilakukan kegiatan berupa: a) Pada tahun 2007 Promosi Buah di Tokyo. b) Pada tahun 2008 mengikuti pameran di China Asean Expo. 4. Dalam program Akselerasi Ekspor dilakukan kegiatan berupa: a) Salak - Koordinasi dengan instansi terkait seperti Badan Karantina, Ditjen Pemasaran dan Pengolahan Hasil Pertanian, Ditjen Perluasan Lahan dan Pengelolaan Air, Puslitbang Hortikultura, Dinas Pertanian Provinsi/ Kabupaten/Kota, BPTP, BPTPH, BPSB, Asosiasi Salak dan eksportir. - Telah tersusun Pest List, Sanitary and Phytosanitary (SPS) sebagai persyaratan perkaratinaan. - Penandatanganan nota kesepakatan protokol ekspor salak (MOU) antara Negara Republik Indonesia dengan Republik Rakyat China. - Kebun salak GAP yang diregistrasi sebanyak 506 kebun salak seluas 86,4 ha di Kabupaten Sleman - DIY, dan di Kabupaten Magelang-Provinsi Jawa Tengah sebanyak 299 kebun salak seluas 41,59 ha. - Produk Salak yang sudah diekspor ke Republik Rakyat China sejak bulan 19 September 2008 sampai 2 April 2009 ( 6 bulan) adalah 214 ton. b) Nenas - Koordinasi dengan instansi terkait telah dilaksanakan meliputi Badan Karantina Pertanian, Ditjen. Pemasaran dan Pengolahan Hasil Pertanian, Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Ekonomi Keluarga Kantor Menko Kesra, Balai Besar Pascapanen, PKBT IPB, Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Subang, Asosiasi Petani Nenas Subang, dan eksportir. - Kebun nenas yang telah diregistrasi sebanyak 3 kebun dengan luas 28 Ha.

14

- Nenas yang diekspor telah memenuhi standar mutu dalam perdagangan internasional, sejak 3 tahun terakhir telah di ekspor ke beberapa negara seperti : Korea Selatan, Iran, Arab Saudi dan Mesir 5. Dalam program Membangun Pencitraan Produk Buah Tropika Nusantara maka dilakukan kegiatan berupa: Membangun pencitraan Salak Pondoh Indonesia di Forum Internasional seperti mempublikasikan salak pondoh dalam tulisan/buletin Internasional 6. Dalam program Penyusunan Pest List Untuk Akses Pasar Ekspor Produk Buah-buahan, maka dilakukan kegiatan berupa: Ke depan, mulai tahun 2009 dirancang untuk kegiatan pemenuhan persyaratan SPSWTO terintegrasi dengan sistem perlindungan tanaman hortikultura yang ada. Dengan demikian pemenuhan persyaratan SPS akan terkait dengan tugas pokok dan fungsi unit-unit kelembagaan perlindungan tanaman hortikultura yang ada sesuai dengan komoditas dan lokasi produksinya. 7. Dalam program penanganan OPT melalui kerjasama institusi untuk akses pasar, maka dilakukan kegiatan berupa: a. Kerjasama dengan lembaga internasional b. Kerjasama institusi di dalam negeri 1) Dengan Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (Ditjen PPHP) 2) Dengan Badan Karantina Pertanian 3) Dengan Badan Pengkajian dan Penerapat Teknologi (BPPT) Indonesia, tambahnya, mememiliki potensi produksi buah yang besar yakni mencapai 18,65 juta ton, di sisi lain potensi pasar internasional buah tropika juga sangat menjanjikan. "Saat ini konsumen sudah bosan dengan buah-buahan subtropis sepertiapel, anggur ataupun pir, dan mencari buah-buahan tropis," katanya. Indonesia, lanjutnya, sangat kaya dengan buah tropis dan eksotis namun selama ini mengembangnya masih terkendala tidak adanya kawasan yang luas. Beberapa upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan daya saing buah-buahan nasional antara lain pengembangan kawasan buah, penataan kebun buah campuran yakni penyeragaman varietas, penyediaan teknologi sarana dan prasarana pascapanen. 15

No.

Masalah

Kondisi Riil Potensi Wilayah

Solusi

Program

Kegiatan Pengembangan kawasan buah ex:

Indonesia merupakan Negara Buah Impor, Buah 1. Buangan dari Negara Maju tropis yang mampu menghasilkan beranekaragam buah tropis dengan kondisi baik. Sebesar 17.831.252 ton 2 Buah Indonesia belum Mampu Imbangi Produk Impor (2008) 1. 2. 3. gun pencitraan produk buah tropika Nusantara Promosi Promosi Memban dalam negeri. luar negeri Upaya peningkatan dan akselerasi ekspor buah Pengembangan kawasan buah

mangga di kab Indramayu, Cirebon dan Majalengka Prov Jawa Barat serta Probolinggo, Situbondo, Pasuruan, Bondowoso Jawa Timur. 1. Pameran buah di Istana Negara saat hari kemerdekaan Indonesia. 2. Mengikuti pameran Asian Expodi China 3. Membangun pencitraan salak pondoh Indonesia di forum Internasional (tulisan atau bulletin Internasional)

16

Salak di Kab Sleman Prov DIY Buah Cina 3 Menguasai Pasar Buah di Indonesia Pengembangan kawasan buah dan Kab Magelang, Banjarnegara di Prov Jawa Tengah 1. Penangan an OPT bekerjasama dengan 1. Penanga lembaga internasional dan kerjasama institusi dalam negeri 2. Merancan g kegiatan untuk pemenuhan persyaratan SPS-WTO (terintegrasi dengan system perlindungan tanaman buahbuahan) Pengembangan Pengembangan kawasan buah klawasan buah papaya di Medan Prov Sumut.

nan OPT melalui Penampilan Buah Impor Menarik 4 namun Tidak Berkualitas kerjasama instuisi untuk akses pasar 2. Penyusu nan pest list untuk akses pasar ekspor buah-buahan

Buah Lokal Terbatas, 5 Buah Impor Merebut Pasar

17

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Dari penjelasan diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa dalam kenyataannya, pangsa pasar buah Indonesia masih dikuasai oleh buah-buah impor dari luar dimana terdapat berbagai permasalahan yang ada seperti realitas produk impor buah-buahan, buah Indonesia belum mampu imbangi produk impor, buah Cina menguasai pasar buah di Indonesia, penampilan buah impor menarik namun tidak berkualitas dan buah lokal terbatas, buah impor merebut pasar, dimana dalam kondisi riil potensi wilayah, di Indonesia merupakan Negara tropis yang mampu menghasilkan beranekaragam buah tropis dengan kondisi baik. Dengan adanya permasalahan-permasalahan tersebut dapat ditangani dengan solusi berupa upaya peningkatan dan akselerasi ekspor buah dengan berbagai tahap sebagai berikut: 1. Pengembangan Kawasan Buah 2. Promosi Dalam Negeri 3. Promosi Luar Negeri 4. Akselerasi ekspor 5. Membangun Pencitraan Produk Buah Tropika Nusantara 6. Pest List Untuk Akses Pasar Ekspor Produk Hortikultura Penyusunan 7. Penanganan OPT melalui kerjasama institusi untuk akses pasar

18

DAFTAR PUSTAKA Anonim.2010.Keamanan Buah-Buahan Impor http:// zainurihanif. com/ 2010/ 06/ 01/ keamanan-buah-buahan-impor/. Diunduh pada tanggal 22 Oktober 2011 Anonim.2011.Buah Indonesia belum Mampu Imbangi Produk Impor http://www.mediaindonesia.com/read/2011/05/08/224422/21/2/Buah-Indonesia-belum Mampu-Imbangi-Produk-Impor. Diunduh Pada tanggal 22 Oktober 2011 Anonim.2011.Impor Buah dari Cina Makin Menggila http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/05/05/10315781/Impor.Buah.dari.China.Maki .Menggila. Diunduh pada tanggal 22 Oktober 2011 Anonim.2011.Buah Impor Buah Tidak Ada Gizi http://finunu.wordpress.com/2011/09/27/buah-impor-buah-tidak-ada-gizi/. Diunduh pada tanggal 22 Oktober 2011 Anonim.2011.Buah Lokal Terbatas Buah Impor Merebut Pasar. http://www.analisadaily.com/news/read/2011/10/23/18369/buah_lokal_terbatas_buah_impo merebut_pasar/. Diunduh pada tanggal 23 Oktober 2011 http://www.nafed.go.id/news/read/in/574. diunduh pada tanggal 24 Oktober 2011

19

http:// www. agromaret. com/ artikel/ 259/ upaya pengembangan kawasan_ buah_ unggulan_ tropika_untuk_ekspor. Diunduh pada tanggal 25 Oktober 2011 http://binaukm.com/2010/05/sentra-produksi-buah-dan-daerah-potensial-untuk-produksibuah-buahan/. Diunduh pada tangal 26 Oktober 2011 Sumber: deptan.go.id

20