Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK PENANGANAN HASIL PERTANIAN PENGECILAN UKURAN

Oleh : Nama NPM Waktu Co. Ass. : Wendi Irawan Dediarta : 150310080137 : 15.00 16.00 : - Citra Pratiwi - Wince Widaningsih

Hari, Tanggal Praktikum : Rabu, 30 Maret 2011

LABORATORIUM TEKNIK PASCA PANEN PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2011

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Pengecilan ukuran dapat didefinisikan sebagai penghancuran dan pemotongan mengurangi ukuran bahan padat dengan kerja mekanis, yaitu membaginya menjadi partikel-partikel yang lebih kecil. Dalam pengecilan ukuran ada usaha penggunaan alat mekanis tanpa merubah stuktur kimia dari bahan, dan keseragaman ukuran dan bentuk dari satuan bijian yang diinginkan pada akhir proses, tetapi jarang tercapai. Bahan mentah sering berukuran lebih besar daripada kebutuhan, sehingga ukuran bahan ini harus diperkecil. Operasi pengecilan ukuran ini dapat dibagi menjadi dua kategori utama, tergantung kepada apakah bahan tersebut bahan cair atau bahan padat. Apabila bahan padat, operasi pengecilan disebut penghancuran dan pemotongan, dan apabila bahan cair disebut emulsifikasi atau atomisasi. Penghancuran dan pemotongan mengurangi ukuran bahan padat dengan kerja mekanis, yaitu membaginya menjadi partikel-partikel lebih kecil. Penggunaan proses penghancuran yang paling luas di dalam industri pangan barangkali adalah dalam penggilingan butir-butir gandum menjadi tepung, akan tetapi penghancuran ini digunakan juga untuk berbagai tujuan, seperti penggilingan jagung untuk menghasilkan tepung jagung, penggilingan gula dan penggilingan bahan pangan kering seperti sayuran. Pemotongan dipergunakan untuk memecahkan potongan besar bahan pangan menjadi potongan-potongan kecil yang sesuai untuk pengolahan lebih lanjut, seperti dalam penyiapan daging olahan.
1.2 Tujuan Praktikum

Mengukur dan mengamati pengecilan ukuran bahan hasil pertanian

dengan mengkaji performansi mesin, kapasitas throughout, kapasitas output dan rendemen hasil pengecilan ukuran.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengecilan ukuran dapat didefinisikan sebagai penghancuran dan pemotongan mengurangi ukuran bahan padat dengan kerja mekanis, yaitu membaginya menjadi partikel-partikel yang lebih kecil. Penggunaan proses penghancuran yang paling luas di dalam industri pangan barangkali adalah dalam penggilingan butir-butir gandum menjadi tepung, akan tetapi penghancuran ini dipergunakan juga untuk beberapa tujuan, seperti penggilingan jagung menghasilkan tepung jagung, penggilingan gula, penggilingan bahan pangan kering seperti sayuran (Earle, 1983). Dalam pengecilan ukuran ada usaha penggunaan alat mekanis tanpa merubah stuktur kimia dari bahan, dan keseragaman ukuran dan bentuk dari satuan bijian yang diinginkan pada akhir proses, tetapi jarang tercapai (Henderson dan Perry, 1976). Pemisahan partikel dan bahan cair secara mekanis biasanya menggunakan tenaga yang dikenakan terhadap partikelnya. Tenaga tersebut dapat secara langsung dikenakan pada partikelnya seperti pada pengayakan dan penyaringan, atau secara tidak lengsung seperti pada pengendapan. Gaya atau tenaga ini dapat berasal dari gaya gravitasi atau kerja sentrifugasi, yang dapat dikatakan sebagai kekuatan penahanan negatif gerakan relatif partikel terhadap bahan cairnya. Dengan demikian proses pemisahan tergantung pada karakter partikel yang sedang dipisahkan dan tenaga yang bekerja pada partikel yang menyebabkan terjadinya pemisahan (Sutardi, 2001). Kriteria pengecilan ukuran antara lain (Zhang, 1998) :
1. Memiliki kapasitas yang besar. 2. Menggunakan tenaga input yang kecil per satuan produk.

3. Tujuannya adalah mengecilkan ukuran suatu produk sesuai dengan yang diinginkan. Karakteristik partikel yang penting adalah: ukuran, bentuk, dan densitas. Sedangkan karakter bahan cair yang penting adalah: viskositas dan densitas. Rekasi komponen yang berbeda atau gaya yang diberikan akan menimbulkan

gerakan relatif bahan cair dan petikel yang berada di dalamnya, serta antara partikel-partikel yang berbeda karakternya (Earle, 1983). Separasi dalam suatu operasi filtrasi dilakukan dengan memberikan gaya pada fluida untuk dapat melewati suatu membran berpori (Foust dkk, 1980). Pemisahan padatan dari fluida menyebabkan pembentukan ampas yang melapisi medium filter sehingga tahanan terhadap aliran fluida yang disaring makin besar. Faktor tersebut menggambarkan kecepatan filtrasi. Selanjutnya dapat dikatakan bahwa kecepatan filtrasi ini tergantung dari beberapa faktor, antara lain :
1. Tekanan yang diberikan diatas medium filter. 2. Luas permukaan penyaringan. 3. Viskositas dari cairan . 4. Tahanan dari bahan ampas filter cake yang tersusun oleh padatan yang

dipisahkan dari cairannya. 5. Tahanan dari medium.(Heldman dan Singh, 1981) Pengecilan ukuran secara umum digunakan untuk menunjukkan pada suatu operasi, pembagian atau pemecahan bahan secara mekanis menjadi bagian yang berukuran kecil (lebih kecil) tanpa diikuti perubahan sifat kimia. Pengecilan ukuran dilakukan untuk menambah permukaan padatan sehingga pada saat penambahan bahan lain pencampuran dapat dilakukan secara merata (Rifai,2009).
Tujuan Pengecilan Ukuran 1. 2.

Mempermudah ekstraksi unsur tertentu dan struktur komposisi. Penyesuayan dengan kebutuhan spesifikasi produk atau

mendapatkan bentuk tertentu.


3. 4.

Untuk menambah luas permukaan padatan Mempermudah pencampuran bahan secara merata Pemotongan/Perajangan

Beberapa Cara Pengecilan Ukuran 1.

Merupakan cara pengecilan ukuran dengan menghantamkan ujung suatu benda tajam pada bahan yang dipotong. Struktur permukaan yang terbentuk oleh proses pemotongan relatif halus, pemotongan lebih cocok dilakukan untuk sayuran dan bahan lain yang berserat (Rifai, 2009).

Perajangan biasanya hanya dilakukan pada bahan yang ukurannya agak besar dan tidak lunak seperti akar, rimpang, batang, buah dan lain-lain. Ukuran perajangan tergantung dari bahan yang digunakan dan berpengaruh terhadap kualitas simplisia yang dihasilkan. Perajangan bahan dapat dilakukan secara manual dengan pisau yang tajam dan terbuat dari stainlees ataupun dengan mesin pemotong/ perajang. Bentuk irisan split atau slice tergantung tujuan pemakaian. Untuk tujuan mendapatkan minyak atsiri yang tinggi, bentuk irisan sebaiknya adalah membujur (split) dan jika ingin bahan lebih cepat kering bentuk irisan sebaiknya melintang (slice). Perajangan terlalu tipis dapat mengurangi zat aktif yang terkandung dalam bahan. Sedangkan jika terlalu tebal, maka pengurangan kadar air dalam bahan agak sulit dan memerlukan waktu yang lama dalam penjemuran dan kemungkinan besar bahan mudah ditumbuhi oleh jamur (Sembiring, 2007).
2.

Kompresi/Pemukulan/Penggerusan/Penumbukan

Prinsip kerja dari kompresi adalah dengan tekanan yang kuat terhadap buah, Biasannya, penghancuran ini untuk menghancurkan buah yang keras. Alat dari kompresi ini dinamankan chrushing rolls. Proses ini dilakukan dengan memberikan gaya tekan yang besar sambil dilakukan penggesekan pada suatu permukan padat, sehingga bahan terpecah dengan bentuk yang tidak tertentu. Umumnya, permukaan alat dibuat dengan kekerasan tertentu, sehingga dapat membentuk pencabikan bahan (Dewi, 2008). Pemukulan adalah operasi pengecilan ukuran dengan memanfaatkan gaya impact, yaitu pemberian gaya yang besar dalam waktu yang singkat. Prinsip kerja dari impact adalah dengan memukul buah. Alat yang biasa digunakan yaitu hammer mill. Alat ini untuk menghasilkan bahan dengan ukuran kasar, sedang, dan halus (Dewi, 2008). Bahan yang berserat atau kenyal tidak dapat dikecilkan ukurannya dengan cara pemukulan, karena gaya impact tidak dapat menyebabkan pecahnya bahan menjadi bagian yang lebih kecil. Demikian pula bahan yang besar, tidak dapat dikecilkan ukuranya dengan cara pemukulan karena akan merusak bentuk asal (Rifai, 2009).

Jika pemukulan dilakukan dengan penahan, maka dikatakan terjadi peristiwa atau proses penggerusan atau penumbukan. Sebaliknya, jika tanpa penahan dikatakan proses pemukulan saja. Pemukulan cocok dilakukan pada bahan yang keras tetapi rapuh dalam kondisi kering. Sedangkan untuk bahan yang rapuh dan sedikit berserat seperti biji-bijian dilakukan dengan cara penggerusan. Selain itu, penggerusan dapat dilakukan pada bahan kering ataupun basah. Umumnya, pada bahan yang basah dilakukan dengan penambahan air sebagai media pendingin alat penggerus (Rifai,2009).
3.

Menggiling/Shearing

Cara ini menggunakan prinsip impact, yaitu dengan mengikis buah atau menggiling buah. Alat yang biasa digunakan dalam metode ini adalah Disc Atrition Mill. Alat ini untuk menghasilkan bahan dengan ukuran yang halus (Maharani, 2008). Bahan mentah sering berukuran lebih besar daripada kebutuhan, sehingga ukuran bahan ini harus diperkecil. Operasi pengecilan ukuran ini dapat dibagi menjadi dua kategori utama, tergantung kepada apakah bahan tersebut bahan cair attau bahan padat. Apabila bahan padat, operasi pengecilan disebut penghancuran dan pemotongan, dan apabila bahan cair disebut emulsifikasi atau atomisasi (Stumbo, 1949). Penghancuran dan pemotongan mengurangi ukuran bahan padat dengan kerja mekanis, yaitu membaginya menjadi partikel-partikel lebih kecil. Penggunaan proses penghancuran yang paling luas di dalam bidang industri pangan barabgkali adalah penggilingan butir-butir gandum menjadi tepung, akan tetapi penghancuran ini dipergunakan juga untuk berbagai tujuan, seperti penggilingan jagung untuk menghasilkan tepung jagung, penggilingan gula dan penggilingan bahan kering seperti sayuran. Pemotongan dipergunakan untuk memecahkan potongan besar bahan pangan menjadi potongan-potongan kecil yang sesuai untuk pengolahan lebih lanjut, seperti dalam penyiapan daging olahan (Earle, 1969).

Apabila suatu partikel yang seragam dihancurkan, setelah penghancuran pertama, ukuran partikel yang dihasilkan akan sangat bervariasi dari yang relatif sangat kasar sampai yang paling halus bahkan sampai abu Ketika penghancuran dilanjutkan, partikel yang besar akan dihancurkan lebih lanjut akan tetapi partikel yang kecil akan mengalami perubahan relatif sedikit. Pengawasan yang teliti memperlihatkan bahwa ada kecenderungan bahwa beberapa ukuran tertentu akan meningkat dalam proporsinya pada campuran yang kelak akan menjadi ukuran fraksi yang dominan (Suharto, 1991). Operasi pengecilan ukuran dibagi menjadi 2 kategori, yaitu pengecilan ukuran untuk bahan padat dan pengecilan ukuran untuk bahan cair. Pengecilan ukuran untuk bahan padat dapat dilakukan dengan pemotongan (cutting), penghancuran/pengilasan (crushing), pencacahan/pencincangan (chopping), pengikisan/penyosohan (grinding), penggilingan (milling), pengkubusan (dicing), pengirisan (slicing). Sedangkan pada bahan cair dilakukan dengan cara emulsifikasi (emulsification) dan atomosasi (atomizing). Metoda-metoda pengecilan usuran berbeda-beda dikelompokan berdasarkan ukuran partikel yang dihasilkan, diantaranya : 1. Penyincangan, pemotongan, pengirisan, dan pemotongan bentuk kubus. a. Besar ke sedang (potongan daging, irisan buah kalengan) b. Sedang ke kecil (irisan wortel, irisan bawang) c. Kecil ke bentuk butiran (daging giling kering, potongan sayur kering) 2. Penepungan bertujuan untuk meningkatkan kehalusan, misal biji gandum menjadi tepung terigu. 3. Emulsifikasi dan homogenisasi, contohnya mayonaise, susu, mentega, dan margarin. Pada pengecilan ukuran dan emulsifikasi memiliki sedikit atau tidak memiliki pengaruh terhadap pengawetan. Tetapi pengecilan ukuran dari emulsifikasi diterapkan untuk meningkatkan kualitas pangan untuk tahap proses lebih lanjut. Dalam beberapa produk pangan, pengecilan ukuran dan emulsifikasi memungkinkan meningkatkan tingkat kerusakan dengan terjadinya pelepasan enzim-enzim secara alami dari jaringan yang rusak, atau akibat aktivitas

mikrobiologi dan oksidasi yang terjadi pada setiap luas permukaan yang terkena proses pengecilan, kecuali jira perlakuan pengawetan diterapkan. Kinerja atau performansi suatu mesin pengecilan ukuran dapat ditentukan oleh kapasitasnya, besarnya daya yang diperlukan per satuan bahan, ukuran dan bentuk hasil proses pengecilan ukuran. Pengecilan ukuran merupakan salah satu dari satuan operasi dimana bahan hasil pertanian dikecilkan dengan mengaplikasikan gaya tumbuk, gaya gesek, dan gaya tekan. Energi yang terserap oleh suatu bahan hasil pertanian sebelum patah ditentukan oleh kekerasan bahan dan kecenderungan untuk retak (kerapuhan) yang tergantung pada struktur bahan hasil pertanian tersebut. Bahan hasil pertanian yang keras akan menyerap energi lebih besar dan memerlukan energi input lebih besar untuk menghasilkan retakan. Tingkat pengecilan ukuran, energi yang diperlukan dan jumlah energi panas yang dihasilkan dalam bahan hasil pertanian tergantung pada gaya dan waktu yang digunakan (Sudaryanto, 2005). Faktor lain yang mempengaruhi energi input adalah kadar air dan sensitivitas bahan terhadap energi panas. Kadar air bahan mempengaruhi tingkat pengecilan ukuran dan mekanisme kerusakan pada beberapa bahan hasil pertanian. Menurut Kent (1983) kandungan air dalam bahan kering dapat mempengaruhi bahan tersebut untuk menggumpal, dan hal ini dapat menggangu proses penepungan. Besarnya energi yang dibutuhkan untuk mengecilkan ukuran bahan padat dihitung menggunakan salah satu dari tiga persamaan di bawah ini : 1. Hukum Kick, menyatakan bahwa energi yang dibutuhkan untuk mengecilkan ukuran tergantung pada perbandingn antara ukuran awal bahan terhadap ukuran akhir bahan, dan dapat dinyatakan : E = Kk ln Dimana : E = energi yang diperlukan persatuan massa bahan (J) Kk = Konstanta kick D1 = ukuran awal rata-rata bahan
d1 d2

D2 = Ukuran akhir setelah dikecilkan 2. Hukum Rittinger, menyatakan bahwa energi yang diperlukan untuk mengecilkan ukuran bahan bergantung pada perubahan luas permukaan bahan. Dalam bentuk persamaan dapat dinyatakan : E = Kr Dimana: Kr = konstanta Rittinger 3. Hukum Bond digunakan untuk menghitung energi yang dibutuhkan untuk pengecilan ukuran bahan, yaitu : E/W = (100/d2)0,5 (100/d1)0,5 Dimana : W = indeks kerja Bond (40000-80000J/kg untuk bahan hasil pertanian bersifat keras seperti gula pasir dan biji-bijian (Loncin dan Merson, 1979) D1 = diameter lubang saringan yang memungkinkan meloloskan 80% massa bahan wal D2 = Diameter lubang saringan yang memungkinkan meloloskan 80% massa bahan akhir Pada umumnya, daging, buah, umbi dan sayur tergolong bahan berserat. Daging dibekukan dan dikondisikan di bawah titik beku, hal ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pemotongan. Buah-buahan dan sayuran memiliki matriks serat lebih padat dan dipotong pada suhu lingkungan atau suhu dingin. Secara umum, terdapat lima peralatan yang digunakan untuk bahan berserat, yaitu:
a. Peralatan pengiris (slicing). Terdiri dari mata pisau yang berputar yang
1 1 d 2 d1

berfungsi untuk mengiris bahan yang lewat di bawahnya.


b. Peralatan pengkubus/ pendadu (dicing). Prinsip kerja alat ini adalah

pertama-tama bahan diiris kemudian dipotong sehingga berbentuk kubus atau

dadu dengan mata pisau yang berputar. Potongan yang telah dihasilkan diumpankan kembali pada pisau berputar bagian kedua yang beroperasi pada bagian sebelah kanan sudut dari pisau yang pertama sehingga memotong bahan menjadi berbentuk kubus.
c. Peralatan penyerpih (flaking). Peralatan ini cocok untuk ikan, kacang-

kacangan, dan daging. Potongan dapat berbentuk pipih, diatur berdasarkan penyesuaian bentuk mata pisau dan jarak potong.
d. Peralatan pencabik (shredding). Diawali dengan alat penumbuk berbentuk

palu, lalu terdapat disintegrator yang di dalamnya ada dua piringan yang masing-masing memiliki mata pisau. Dua piringan ini saling berputar berlawanan arah dan bahan hasil pertanian yang diumpankan akan terpotong berdasarkan gaya geser dan gaya potong.
e. Peralatan pengekstrak (pulping). Peralatan ini digunakan untuk mengekstrak

buah dan sayur serta melumatkan daging, buah, dan sayur. Cara kerjanya merupakan kombinasi antara gaya kompresi dan gaya geser.

BAB III METODOLOGI PENGAMATAN DAN PENGUKURAN 3.1 Alat dan Bahan 3.1.1. Alat a. Pisau b. Tampah c. Stopwatch d. Wadah Plastik e. Timbangan f. Penyerut Manual g. Mesin Pengiris dan Penyerut 3.1.2. Bahan Ketela Poho (Singkong) 3.2 Prosedur Percobaan 3.2.1 Menggunakan Mesin Penyerut a. Timbang bahan yang akan diproses dengan mesin pengecil ukuran (a kg) b. Kupas bahan dan timbang (b kg) c. Jalankan mesin dan masukan bahan kedalam mesin d. Hitung waktu yang dibutuhkan selama proses penyerutan (x menit) e. Timbang bahan sesudah diserut (c kg) f. Amati performansi mesin dan mekanisme kerja proses mesin g. Hitung kapasitas througout (a kg / xmenit) h. Hitung kapasitas output (c kg / x menit) i. Hitung rendemen pengupasan dan penyerutan
j. k.
b kg

Rendemen pengupasan = a kg x100 % Rendemen pengupasan = b kg x100 %


c kg

l. Hitung efisiensi pengecilan ukuran


i. efisiensi = Kapasitas teoritis x100 %
Kapasitas aktual

m. Hitung luas permukaan bahan meliputi luas permukaan awal (utuh) dan luas permukaan akhir (setelah diiris) n. Keringkan bahan dalam oven untuk praktikum selanjutnya 3.2.2. Penyerutan Secara Manual a. Timbang bahan yang akan diproses dengan mesin pengecil ukuran (a kg) b. Kupas bahan dan timbang (b kg) c. Serutlah singkong secara manual pada parutan yang telah disediakan d. Hitung waktu yang dibutuhkan selama proses penyerutan (x menit) e. Timbang bahan sesudah diserut (c kg) f. Amati parutan dan hitung lebar dan panjang parutan g. Hitung kapasitas througout (a kg / xmenit) h. Hitung kapasitas output (c kg / x menit) i. Hitung rendemen pengupasan dan penyerutan
j. k.
b kg

Rendemen pengupasan = a kg x100 % Rendemen pengupasan = b kg x100 %


c kg

l. Hitung efisiensi pengecilan ukuran


a. efisiensi = Kapasitas teoritis x100 %
Kapasitas aktual

m. Hitung luas permukaan bahan meliputi luas permukaan awal (utuh) dan luas permukaan akhir (setelah diiris) Keringkan bahan dalam oven untuk praktikum selanjutnya

BAB IV

HASIL PERCOBAAN HASIL PENGUKURAN DAN PERHITUNGAN SHIFT 1 Hasil Kelompok No Keterangan 1 Massa awal bahan (a) Massa awal bahan 2 3 4 5 6 7 setelah di kupas (b) Massa bahan setelah diiris (c) Waktu pengirisan Jumlah potongan (N) Panjang pisau (P) Lebar pisau (L) 1 0,13446 kg 0,10848 kg 0,10787 kg 4,7 menit 35 0,09 m 0,025 m Kelompok 2 0,14775 kg 0,12636 kg 0,11697 kg 2,28 menit 46 0,195 m 0,034 m Kelompok 3 0,11701 kg 0,09731 kg 0,13061 kg 4,86 menit 78 0,15 m 0,035 m Kelompok 4 0,108 kg 0,09812 kg 0,09641 kg 1,68 menit 37 0,12 m 0,03 m

Perhitungan Kelompok 1 1 Kapasitas throughout 2 Kapasitas output 3 Rendemen pengupasan 4 Rendemen pengirisan 5 Kapasitas aktual = a kg/ x menit = c kg/ x menit = (b kg/ a kg) x 100% = (c kg/ b kg) x 100% = Kapasitas output x 60 menit/jam = 0.029 kg/menit = 0.023 kg/menit = 80.68% = 99.44% = 1,38 kg/jam 6 Kapasitas teoritis (manual) Rumus : (K.N/60) x P x L x bahan Dik :K N P L bahan = 2P = Jumlah potongan = Panjang pisau = Lebar pisau = 1044 kg/m3 = 2 x 3,14 x 0,09 = 0,57 = 35 = 0,09 m = 0,025 m

Jawab

= (K.N/60) x P x L x bahan = (0,57.35/60) x 0,09 x 0,025 x 1044 = 0,33 x 2,35 = 0,78 kg/menit x 60menit/jam= 46,8 kg/jam

7 Efisiensi pengecilan ukuran

Perhitungan Kelompok 2 1 Kapasitas throughout 2 Kapasitas output 3 Rendemen pengupasan 4 Rendemen pengirisan 5 Kapasitas aktual = a kg/ x menit = c kg/ x menit = (b kg/ a kg) x 100% = (c kg/ b kg) x 100% = Kapasitas output x 60 menit/jam = 0.065 kg/menit = 0.051 kg/menit = 85.52% = 92.57% = 3,06 kg/jam 6 Kapasitas teoritis (manual) Rumus : (K.N/60) x P x L x bahan Dik :K N P L bahan Jawab : = 2P = Jumlah potongan = Panjang pisau = Lebar pisau = 1044 kg/m3 = (K.N/60) x P x L x bahan = (1,22.46/60) x 0,195 x 0,034 x 1044 = 0,94 x 6,92 = 6,51 kg/menit x 60menit/jam = 390,6 kg/jam 7 Efisiensi pengecilan ukuran = 2 x 3,14 x 0,195 = 1,22 = 46 = 0,195 m = 0,034 m

Perhitungan Kelompok 3 1 Kapasitas throughout 2 Kapasitas output 3 Rendemen pengupasan 4 Rendemen penyerutan 5 Kapasitas aktual = a kg/ x menit = c kg/ x menit = (b kg/ a kg) x 100% = (c kg/ b kg) x 100% = Kapasitas output x 60 menit/jam = 0.024 kg/menit = 0.027 kg/menit = 83.16% = 134.22% = 1,62 kg/jam 6 Kapasitas teoritis (manual) Rumus : (K.N/60) x P x L x bahan Dik :K N P L bahan Jawab : = 2P = Jumlah potongan = Panjang pisau = Lebar pisau = 1044 kg/m3 = (K.N/60) x P x L x bahan = (0,94.78/60) x 0,15 x 0,035 x 1044 = 1,22 x 5,48 = 6,69 kg/menit x 60menit/jam = 401,4 kg/jam 7 Efisiensi pengecilan ukuran = 2 x 3,14 x 0,15 = 0,94 = 78 = 0,15 m = 0,035 m

Perhitungan Kelompok 4

1 Kapasitas throughout

= a kg/ x menit

= 0.064 kg/menit

2 Kapasitas output 3 Rendemen pengupasan 4 Rendemen pengirisan 5 Kapasitas aktual

= c kg/ x menit = (b kg/ a kg) x 100% = (c kg/ b kg) x 100% = Kapasitas output x 60 menit/jam

= 0.057 kg/menit = 90.85% = 98.26% = 3,42 kg/jam

6 Kapasitas teoritis (manual) Rumus : (K.N/60) x P x L x bahan Dik :K N P L bahan Jawab : = 2P = Jumlah potongan = Panjang pisau = Lebar pisau = 1044 kg/m3 = (K.N/60) x P x L x bahan = (0,75.37/60) x 0,12 x 0,03 x 1044 = 0,46 x 3,76 = 1,73 kg/menit x 60menit/jam = 103,8 kg/jam 7 Efisiensi pengecilan ukuran = 2 x 3,14 x 0,12 = 0,75 = 37 = 0,12 m = 0,03 m

HASIL PENGUKURAN DAN PERHITUNGAN SHIFT 2 Penyerutan (Mesin Penyerut) No Parameter yang diukur Hasil

1 2 3 4

Massa awal bahan (a) Massa awal bahan setelah dikupas (b) Massa setelah diserut (c) Waktu penyerutan (x) Perhitungan Mesin Penyerutan

263,63 g 218,77 g 189,54 g 3,37 menit

0,26363 kg 0,21877 kg 0,18954 kg 3,37 menit

1 Kapasitas throughout 2 Kapasitas output 3 Rendemen pengupasan 4 Rendemen penyerutan 5 Kapasitas aktual 6 Kapasitas teoritis (mesin) Mesin Penyerut Rumus : Dik :D Np R P bahan Jawab :

= a kg/ x menit = c kg/ x menit = (b kg/ a kg) x 100% = (c kg/ b kg) x 100% = Kapasitas output x 60 menit/jam

= 0,078 kg/menit = 0,056 kg/menit = 82,98 % = 86,64% = 3,36 kg/jam

= 11,2 cm 0,112 m = = = = 1584,82 Rpm 5,6 cm 0,056 m 25 cm 0,25 m 1044 kg/m3

7 Efisiensi pengecilan ukuran

Pengirisan (Mesin Pengiris) No 1 2 3 4 Parameter yang diukur Massa awal bahan (a) Massa awal bahan setelah dikupas (b) Massa setelah diserut (c) Waktu penyerutan (x) 385,24 g 323,39 g 228,99 g 0,48 menit Hasil 0,38524 kg 0,32339 kg 0,22899 kg 0,48 menit

Perhitungan Mesin Pengirisan 1 Kapasitas throughout 2 Kapasitas output 3 Rendemen pengupasan 4 Rendemen pengirisan 5 Kapasitas aktual 6 Kapasitas teoritis (mesin) Mesin Pengiris Rumus : Dik :D Np P L N bahan Jawab : = a kg/ x menit = c kg/ x menit = (b kg/ a kg) x 100% = (c kg/ b kg) x 100% = Kapasitas output x 60 menit/jam = 0,803 kg/menit = 0,478 kg/menit = 83,95 % = 70,81 % = 28,68 kg/jam

= 30 cm 0,3 m = = = = = 591,667 Rpm 9 cm 0,09 m 5 cm 0,05 m 2 1044 kg/m3

7 Efisiensi pengecilan ukuran

BAB V PEMBAHASAN Praktikum yang dilakukan di shift 1 adalah mengiris singkong dengan menggunakan alat yang sederhana yakni pisau. Sebelum mulai memotong singkong, singkong awalnya di timbang dulu dengan menggunakan timbangan analitik, singkong yang di timbang itu masih utuh dan belum dikupas. Lalu selesai ditimbang singkong tersebut dikupas dan ditimbang kembali. Proses ini membandingkan massa singkong yang masih utuh dengan yang sudah dikupas akan menghasilkan perbandingan berapa. Kemudian singkong yang telah dikupas itu mulai dipotong-potong, sewaktu memotong singkong waktu yang diperlukan dihitung samapai singkong tersebut habis terpotong. Dan dari hasil memotong tersebut kemudian di timbang lagi massanya dari situ kita bisa melihat berapa perbandingan dari massa singkong sebelum di potong dengan sesudah dipotong. Dari perbandingan tersebut kita akan mengetahui berapa nilai rendemennya. Dari kegiatan praktikum memotong tersebut di shift satu didapatkan hasil rendemen dan efisiensi yang berbeda-beda tiap kelompok hal itu dapat disebabkan karena berbagai faktor seperti dari mahasiswa yang

melaksanakan praktikumnya memiliki kriteria yang beragam mengenai ketebalan dari potongan singkong, ketajaman pisau yang digunakan dan juga lebar pisau Pada kegiatan praktikum shift dua, praktikum memototong dan menyerut dilakukan dengan menggunakan mesin tahapan awal proses praktikumnya sama dengan tahap awal praktikum di shift satu, massa awal singkong ditimbang, lalu dikupas dan ditimbang lagi massanya lalu dilakukanlah proses pemotongan dan penyerutan. Proses pemotongan atau pengirisan singkong dilakukan oleh kelompok lima dan enam. Dan proses penyerutan dikerjakan oleh kelompok tujuh dan delapan. Proses pengirisan dan penyerutan dilakukan pada satu mesin saja, sehingga dalam praktikum kita harus bergantian dalam mengopersaikan mesin itu.

Pada proses pengirisan, nilai persentase rendemen bahan (singkong) untuk masing-masing pengirisan dengan menggunakan pisau dan menggunakan mesin adalah berbeda. Dimana pada pengirisan dengan menggunakan pisau di dapat persentase rendemen dari kelompok 1 sampai 4 sebesar 99,44%, 92,57%, 134,22%, 98,26%. Sedangkan pada pengirisan dengan menggunakan mesin penyerut didapat nilai persentase rendemen sebesar 86,64% dan mesin pengiris sebesar 70,81 %. Nilai persentase rendemen dipengaruhi oleh waktu, dimana semakin lama proses (waktu) maka nilai persentase rendemen bahan akan semakin kecil. Hasil dari proses pengirisan menggunakan mesin didapatkan hasil potongan atau irisan yang baik dalam arti hasil potongannya lebih rapih dan terpotong seluruhnya, sedangkan dalam proses penyerutan singkong tidak semuanya terserut oleh mesin, masih ditemukanya gumpalan-gumpalan singkong yang tidak terserut sempurna, dan hasil serutan umumnya banyak yang menempel pada bagian dalam mesin. Dalam penyerutan diperlukan adanya daya dorong untuk mendorong singkong agar singkong dapat terparut, besar kecilnya daya dorong pada singkong mempengaruhi kecepatan waktu penyerutan (semakin besar daya semkin cepat proses penyerutan).

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Dari hasil analisa data dan pembahasan, maka dalam praktikum ini dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Pengecilan ukuran merupakan bagian dari proses penanganan hasil pertanian yang bertujuan untuk penyeragaman bentuk dan memperluas permukaan bahan hasil pertanian sehingga proses penanganan selanjutnya akan lebih mudah.
2. Proses pengecilan ukuran dapat dilakukan secara manual maupun

mekanis. 3. Proses pengirisan dengan metode berbeda akan menghasilkan rendemen bahan yang berbeda dan bentuk irisan bahan yang berbeda. 4. Semakin lama proses (waktu) maka nilai persentase rendemen bahan akan semakin kecil.

6.2 Saran 1. Diharapkan alat-alat dan bahan praktikum yang bersangkutan dapat lebih lengkap lagi untuk memaksimalkan kegiatan praktikm seperti yang tercantum di dalam penuntun praktikum.
2. Diharapkan agar tata letak alat-alat di laboratorium lebih rapi dan telah

terkelompokkan sesuai modul praktikum untuk kemudahan dan kenyamanan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA Sudaryanto, dkk. 2011. Penuntun Praktikum Mata Kuliah Teknologi Hasil Pertanian. Padjadjaran. Apriyantono, Anton, dkk, 1989. Analisis Pangan. Pusbangtepa IPB : Bogor. Earle, R.L., 1969. Satuan Operasi Dalam Pengolahan Pangan. P.T. Sastra Hudaya: Jakarta. Stumbo, G.R., 1949. Teknologi Pangan. P.T. Sastra Hudaya: Jakarta. Suharto, 1991. Teknologi Pengawetan Pangan. PT. Rineka Cipta: Jakarta. Anonim, 1985, Cara Pembuatan Simplisia, Departemen Kesehatan RI, Jakarta Anonim, 1998, Peraturan Perundang-undangan di Bidang Obat Tradisional. Departemen Kesehatan RI, Jakarta Anonim, 2003, WHO Guidelines on Good Agricultural and Collection Practice (GACP) 5 April 2011. for Madicinal Plants, tersedia [online] http://whqlibdoc.who.int/publications/2003/9241546271.pdf/ diakses Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas

Bagem Sembiring, Warta Puslitbangbun Vol.13 No. 2, Agustus 2007 Dewi, M.K.Kemala, 2008, Proses Cleaning, Sortasi, Grading Dan Size Reduction Pada Buah Apel, tersedia [online] http://maharni.wordpress.com/2009/01/09/teknik-pengolahan-hasilpetanian/ diakses 5 April 2011. Rifai, Hakim, 2009, Pengecilan Ukuran Kedelai Dan Jagung, tersedia [online] http://wwwloanocoid.blogspot.com/ diakses 5 April 2011. Sutrisno, dkk, Pengembangan teknologi pasca panen, tersedia [online] http://74.125.153.132/search? q=cache:7LEelPKVZ0YJ:lemlit.ugm.ac.id/Agro/download/PENGEM BANGAN_ %2520TEKNOLOGI.doc+pascapanen&cd=2&hl=id&ct=clnk&gl=id/ diakses 5 April 2011. Widyastuti, Yuli, 1997, Penanganan Hasil Panen Tanman Obat Komersial, Trubus Agriwidya, Semarang.

LAMPIRAN

Gambar 1. Pisau dan Singkong

Gambar 2. Timbangan dan wadah

Gambar 3. Pengukuran panjang pisau

Gambar 4. Pengupasan singkong

Gambar 5. Penimbangan berat singkong

Gambar 6. Pemotongan singkong menggunakan pisau

Gambar 7. Hasil pemotongan singkong yang disimpan dalam wadah

Gambar 8. Rendemen pengupasan singkong