Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

Manusia dan hewan multiseluler mempunyai daya faal untuk mengenal bahan atau zat kimia yang dianggap diri sendiri (self) dan membedakannya dengan yang asing (nonself). Kemampuan ini menjadi dasar dari kekebalan, karena tubuh akan berusaha untuk mengeluarkan atau memusnahkan bahan asing yang masuk ke dalam jaringan tubuh. Imunitas/ kekebalan adalah mekanisme /kemampuan tubuh menahan atau mengeliminasi benda asing /sel abnormal yang potensial berbahaya bagi tubuh.. Sistem ini mendeteksi berbagai macam pengaruh biologis luar yang luas, organisme akan melindungi tubuh dari infeksi, bakteri, virus sampai cacing parasit, serta menghancurkan zat-zat asing lain dan memusnahkan mereka dari sel organisme yang sehat dan jaringan agar tetap dapat berfungsi seperti biasa. Kekebalan dapat digolongkan menjadi: 1. Kekebalan alam (natural immunity), sudah ada sejak lahir 2. Kekebalan didapat (acquired immunity), didapat selama hidup Kekebalan alam ditemukan pada mahluk hidup dengan tingkat yang berbeda-beda, faktor konstitusi yang tidakdiketahui dapat menimbulkan kekebalan alam berupa kekebalan ras (racial immunity), kekebalan spesies (species immunity) dan kekebalan perorangan (personal immunity). Diketahui juga faktor antimikroba yang bekerja tidak khas yang membantu kekebalan alam yaitu kulit, selaput lendir, fagositosis yang melibatkan sel lekosit dan makrofag, reaksi radang dan interferon. Daya pertahanan tubuh yang berdasarkan faktor2 tidak khas tersebut merupakan daya pertahanan yang amat penting, akan tetapidaya pertahanan tubuh yang berdasarkan kekebalan didapat ternyata lebih penting dan merupakan daya vital untuk kelangsungan hidup manusia. Kekebalan didapat, pencegahan penyakit ditujukan pada bahan asing yang masuk ke dalam jaringan tubuh, mungkin berupa kuman, virus atau toksin. Bahan yang masuk disebut antigen, dan terhadap antigen ini dalam tubuh dibentuk zat yang disebut antibodi. Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya untuk melindungi tubuh juga berkurang, membuat patogen, termasuk virus yang menyebabkan penyakit. Penyakit defisiensi imun muncul ketika sistem imun kurang aktif daripada biasanya, menyebabkan munculnya infeksi. Defisiensi imun merupakan penyebab dari penyakit genetika, seperti severe combined immunodeficiency, atau diproduksi oleh farmaseutikal atau infeksi, seperti sindrom defisiensi imun dapatan (AIDS) yang disebabkan oleh retrovirus HIV. Penyakit
1

autoimun menyebabkan sistem imun yang hiperaktif menyerang jaringan normal seperti jaringan tersebut merupakan benda asing. Penyakit autoimun yang umum termasuk rheumatoid arthritis, diabetes melitus tipe 1 dan lupus erythematosus. Peran penting imunologi tersebut pada kesehatan dan penyakit adalah bagian dari penelitian.

Komponen imunitas Sistem imun bawaan/ natural Sistem imun adaptif/ acquired Respon tidak spesifik Respon spesifik patogen dan antigen Eksposur menyebabkan respon maksimal Perlambatan waktu antara eksposur dan segara respon maksimal Komponen imunitas selular dan respon imun Komponen imunitas selular dan respon imun humoral Tidak ada memori imunologikal Ditemukan hampir pada semua bentuk kehidupan humoral Eksposur menyebabkan adanya memori

imunologikal Hanya ditemukan pada Gnathostomata

Baik imunitas bawaan dan adaptif bergantung pada kemampuan sistem imun untuk memusnahkan baik molekul sendiri dan non-sendiri. Pada imunologi, molekul sendiri adalah komponen tubuh organisme yang dapat dimusnahkan dari bahan asing oleh sistem imun. Sebaliknya, molekul non-sendiri adalah yang dianggap sebagai molekul asing. Satu kelas dari molekul non-sendiri disebut antigen (kependean dari generator antibodi) dan dianggap sebagai bahan yang menempel pada reseptor imun spesifik dan mendapatkan respon imun.

Perisai Selular Sistem Imun Bawaan Leukosit (sel darah putih) bergerak sebagai organisme selular bebas dan merupakan "lengan" kedua sistem imun bawaan. Leukosit bawaan termasuk fagosit (makrofag, neutrofil, dan sel dendritik), sel mast, eosinofil, basofil dan sel pembunuh alami. Sel tersebut mengidentifikasikan dan membunuh patogen dengan menyerang patogen
2 Gambar darah manusia dari mikroskop elektron.
Dapat terlihat sel darah merah, dan juga terlihat sel darah putih termasuk limfosit, monosit, neutrofil dan banyak platelet kecil lainnya.

yang lebih besar melalui kontak atau dengan menelan dan lalu membunuh mikroorganisme. Sel bawaan juga merupakan mediator penting pada aktivasi sistem imun adaptif.

Fagositosis adalah fitur imunitas bawaan penting yang dilakukan oleh sel yang disebut fagosit. Fagosit menelan, atau memakan patogen atau partikel. Fagosit biasanya berpatroli mencari patogen, tetapi dapat dipanggil ke lokasi spesifik oleh sitokin. Ketika patogen ditelan oleh fagosit, patogen terperangkap di vesikel intraselular yang disebut fagosom, yang sesudah itu menyatu dengan vesikel lainnya yang disebut lisosom untuk membentuk fagolisosom. Patogen dibunuh oleh aktivitas enzim pencernaan atau respiratory burst yang mengeluarkan radikal bebas ke fagolisosom. Neutrofil dan makrofag adalah fagosit yang berkeliling di tubuh untuk mengejar dan menyerang patogen. Neutrofil dapat ditemukan di sistem kardiovaskular dan merupakan tipe fagosit yang paling berlebih, normalnya sebanyak 50% sampai 60% jumlah peredaran leukosit. Selama fase akut radang, terutama sebagai akibat dari infeksi bakteri, neutrofil bermigrasi ke tempat radang pada proses yang disebut chemotaksis, dan biasanya sel pertama yang tiba pada saat infeksi. Sel dendritik adalah fagosit pada jaringan yang berhubungan dengan lingkungan luar; oleh karena itu, mereka terutama berada di kulit, hidung, paru-paru, perut, dan usus. Sel dendritik merupakan hubungan antara sistem imun adaptif dan bawaan, dengan kehadiran antigen pada sel T, salah satu kunci tipe sel sistem imun adaptif. Sel Mast terletak di jaringan konektif dan membran mukosa dan mengatur respon peradangan. Mereka berhubungan dengan alergi dan anafilaksis. Basofil dan eosinofil berhubungan dengan neutrofil. Mereka mengsekresikan perantara bahan kimia yang ikut serta melindungi tubuh terhadap parasit dan memainkan peran pada reaksi alergi, seperti asma. Sel pembunuh alami adalah leukosit yang menyerang dan menghancurkan sel tumor, atau sel yang telah terinfeksi oleh virus. Imunitas adaptif Imunitas adaptif berevolusi pada vertebrata awal dan membuat adanya respon imun yang lebih kuat dan juga memori imunologikal, yang tiap patogen diingat oleh tanda antigen. Respon imun adaptif spesifik-antigen dan membutuhkan pengenalan antigen "bukan sendiri" spesifik selama proses disebut presentasi antigen. Spesifisitas antigen menyebabkan generasi respon yang disesuaikan pada patogen atau sel yang terinfeksi patogen. Kemampuan tersebut

ditegakan di tubuh oleh "sel memori". Patogen akan menginfeksi tubuh lebih dari sekali, sehingga sel memori tersebut digunakan untuk segera memusnahkannya.

Limfosit

Sel sistem imun adaptif adalah tipe spesial leukosit yang disebut limfosit. Sel B dan sel T adalah tipe utama limfosit dan berasal dari sel batang hematopoietik pada sumsum tulang. Sel B ikut serta pada imunitas humoral, sedangkan sel T ikut serta pada respon imun selular. Hubungan sel T dengan Major histocompatibility complex kelas I atau Major histocompatibility complex kelas II, dan antigen (merah).

Baik sel B dan sel T membawa molekul reseptor yang mengenali target spesifil. Sel T mengenali target bukan diri sendiri, seperti patogen, hanya setelah antigen (fragmen kecil patogen) telah diproses dan disampaikan pada kombinasi dengan reseptor "sendiri" yang disebut molekul major histocompatibility complex (MHC). Terdapat dua subtipe utama sel T: sel T pembunuh dan sel T pembantu. Sel T pemnbunuh hanya mengenali antigen dirangkaikan pada molekul kelas I MHC, sementara sel T pembantu hanya mengenali antigen dirangkaikan pada molekul kelas II MHC. Dua mekanisme penyampaian antigen tersebut memunculkan peran berbeda dua tipe sel T. Yang ketiga, subtipe minor adalah sel T yang mengenali antigen yang tidak melekat pada reseptor MHC. Reseptor antigel sel B adalah molekul antibodi pada permukaan sel B dan mengenali semua patogen tanpa perlu adanya proses antigen. Tiap keturunan sel B memiliki antibodi yang berbeda, sehingga kumpulan resptor antigen sel B yang lengkap melambangkan semua antibodi yang dapat diproduksi oleh tubuh. Sel T pembunuh Sel T pembunuh secara langsung menyerang sel lainnya yang membawa antigen asing atau abnormal di permukaan mereka. Sel T pembunuh adalah sub-grup dari sel T yang membunuh sel yang terinfeksi dengan virus (dan patogen lainnya), atau merusak dan mematikan patogen. Seperti sel B, tiap tipe sel T mengenali antigen yang berbeda.. Sel T pembunuh
4

penting untuk mencegah replikasi virus. Aktivasi sel T dikontrol dan membutuhkan sinyal aktivasi antigen/MHC yang sangat kuat, atau penambahan aktivasi sinyak yang disediakan oleh sel T pembantu. Sel T pembantu Sel T pembantu mengatur baik respon imun bawaan dan adaptif dan membantu menentukan tipe respon imun mana yang tubuh akan buat pada patogen khusus. Sel tersebut tidak memiliki aktivitas sitotoksik dan tidak membunuh sel yang terinfeksi atau membersihkan patogen secara langsung, namun mereka mengontrol respon imun dengan mengarahkan sel lain untuk melakukan tugas tersebut. Aktivasi sel T pembantu yang beristirahat menyebabkan dikeluarkanya sitokin yang memperluas aktivitas banyak tipe sel. Sinyak sitokin yang diproduksi oleh sel T pembantu memperbesar fungsi mikrobisidal makrofag dan aktivitas sel T pembunuh. Aktivasi sel T pembantu menyebabkan molekul diekspresikan pada permukaan sel T, seperti CD154), yang menyediakan sinyal stimulasi ekstra yang dibutuhkan untuk mengaktifkan sel B yang memproduksi antibodi.

Sel T Sel T adalah komponen dari imunitas adaptif karena mereka menyusun kembali gen reseptor sel T untuk memproduksi perbedaan reseptor dan dapat mengembangkan memori fenotipe. Antibodi dan limfosit B Sel B mengidentifikasi patogen ketika antibodi pada permukaan melekat pada antigen asing. Antigen/antibodi kompleks ini diambil oleh sel B dan diprosesi oleh proteolisis ke peptid. Antibodi tersebut diedarkan pada plasma darah dan limfa, melilit pada patogen menunjukan antigen dan menandai mereka untuk dihancurkan oleh aktivasi komplemen atau untuk penghancuran oleh fagosit. Antibodi juga dapat menetralisir tantangan secara langsung dengan melilit toksin bakteri atau dengan mengganggu dengan reseptor yang digunakan virus dan bakteri untuk menginfeksi sel.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Defesiensi imunitas merupakan penurunan atau gagalnya fungsi dari salah satu atau lebih komponen sistem imun. Penyakit defisiensi imun adalah sekumpulan aneka penyakit yang karena memiliki satu atau lebih ketidaknormalan sistem imun, dimana kerentanan terhadap infeksi meningkat. Klasifikasi : Defisiensi imun primer tidak berhubungan dengan penyakit lain yang mengganggu sistem imun, dan banyak yang merupakan akibat kelainan genetik dengan pola bawaan khusus. Diakibatkan oleh adanya defek (cacat) respon imun bawaan , yaitu kelainan dalam sistem fagosit dan atau komplemen, atau maturasi(pematangan) dan fungsi (aktivasi) limfosit. Defisiensi imun sekunder terjadi sebagai akibat dari penyakit lain, umur, trauma, atau pengobatan. Meskipun kemungkinan defisiensi imun harus dipikirkan pada seseorang yang sering mengalami infeksi, tetapi sejatinya penyakit imunodefiensi angka kejadiannya tidak tinggi. Karena itu selalu pertimbangkan kondisi lain yang membuat seseorang lebih rentan terhadap
6

defek dalam proses

infeksi, seperti penyakit sickle cell, diabetes, kelainan jantung bawaan, malnutrisi, splenektomi, enteropati, terapi imunosupresif dan keganansan. Penyebab defisiensi imun sangat beragam dan penelitian berbasis genetik berhasil mengidentifikasi lebih dari 100 jenis defisiensi imun primer dan pola menurunnya terkait pada X-linked recessive, resesif autosomal, atau dominan autosomal 1. Defek genetik Defek gen-tunggal yang diekspresikan di banyak jaringan (misal ataksiateleangiektasia, defisiensi deaminase adenosin). Defek gen tunggal khusus pada sistem imun ( misal defek tirosin kinase pada X-linked agammaglobulinemia; abnormalitas rantai epsilon pada reseptor sel T) Kelainan multifaktorial dengan kerentanan genetik (misal common variable immunodeficiency) 2. Obat atau toksin Imunosupresan (kortikosteroid, siklosporin), Antikonvulsan (fenitoin)

3. Penyakit nutrisi dan metabolik Malnutrisi ( misal kwashiorkor), Protein losing enteropathy (misal limfangiektasia intestinal), Defisiensi vitamin (misal biotin, atau transkobalamin II), Defisiensi mineral (misal Seng pada Enteropati Akrodermatitis) 4. Kelainan kromosom Anomali DiGeorge (delesi 22q11)Defisiensi IgA selektif (trisomi 18) 5. Infeksi Imunodefisiensi transien (pada campak dan varicella ), Imunodefisiensi permanen (infeksi HIV, infeksi rubella kongenital) Faktor Predisposisi Obat2an sinar X yang imun osupresif, allograft recipients (ginjal, sumsum tulang, hati) dan terapi kanker. Virus (rubella, herpes, EB virus, hepatitis virus, HIV) Replikasi virus pada sel limphoid menyebabkan gangguan fisiologis Infeksi bakterial; sekunder(fungal dan protozoa) pada AIDS. Dampak pada Sistem imun Tipe Infeksi

Penurunan imunitas seluler Infeksi pulmonal, dan humoral bacteremia, fungal infection, ISK

Malnutrisi

Hipoplasi limfoid, penurunan Campak, TBC, ISPA, limfosit dalam sirkulasi, penurunan kemampuan fagositosis infeksi gastrointestinal.

Tumor

Perubahan pada sistem imun Bacteremia, pneumonia, sel ISK ISPA, respon alergi

Asap rokok,partikel inhalasi (silika, spora jamur) Penyakit endokrin kronis (diabetes)

Inflamasi pulmonal, pengendapan imun komplek Penurunan kemampuan fagositosis

Infeksi Staphylococcus, TBC, ISPA, Bacterremia Infeksi Staphylococcus, TBC, ISPA,Bacterremia

Defisiensi imun primer

Penurunan imun seller dan humoral

Contoh Berbagai Penyakit yang Berkaitan Dengan Defisiensi Imun : Penyakit Acquired ImmunoDeficiency Syndrome (AIDS) Selective IgA immunodeficiency Common variable hypogammaglobulinemia Reticular dysgenesis Severe combined immunodeficiency Thymic aplasia (DiGeorge syndrome) Wiskott-Aldrich syndrome X-linked infantile (Brutons) agammaglobulinemia Sel yang berkaitan sel T sel B dan sel T sel B dan sel T sel B, sel T, dan sel batang (stem cell) sel B, sel T, dan sel batang (stem cell) sel T sel B dan sel T sel B

Klasifikasi defisiensi imun primer Defisiensi imun humoral (sel B)

Hipogamaglobulinemia x-linked (hipogamaglobulinemia kongenital), Hipogamaglobulinemia transien (pada bayi), Defisiensi imun tak terklasifikasi, umum, bervariasi (hipogamaglobulinemia didapat) Defisiensi imun dengan hiperIgM Defisiensi IgA selektif Defisiensi imun IgM selektif Defisiensi sub kelas IgG selektif Defisiensi sel B sekunder berhubungan dengan obat, kehilangan protein Penyakit limfoproliferatif x-linked Defisiensi imun selular (sel T) Aplasia timus kongenital (sindrom DiGeorge)Kandidiasis mukokutaneus kronik (dengan atau tanpa endokrinopati)Defisiensi sel T berhubungan dengan defisiensi purin nukleosid fosforilase Defisiensi sel T berhubungan dengan defek glikoprotein membran Defisiensi sel T berhubungan dengan absen MHC kelas I dan atau kelas II (sindrom limfosit telanjang) Defisiensi imun gabungan humoral (sel B) dan selular (sel T) Defisiensi imun berat gabungan (autosom resesif, x-linked, sporadik), Defisiensi imun selular dengan gangguan sintesis imunoglobulin (sindrom Nezelof), Defisiensi imun dengan ataksia teleangiektasis Defisiensi imun dengan eksim dengan trombositopenia (sindrom Wiskott-Aldrich) Defisiensi imun dengan timoma Defisiensi imun dengan short-limbed dwarfism Defisiensi imun dengan defisiensi adenosin deaminase Defisiensi imun dengan defisiensi nukleosid fosforilase Defisiensi karboksilase multipel yang tergantung biotin Penyakit graft-versus-host Sindrom defisiensi imun didapat (AIDS) Disfungsi fagosit Penyakit granulomatosis kronikDefisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase, Defisiensi mieloperoksidase Sindrom Chediak-Higashi Sindrom Job Defisiensi tuftsin
9

Sindrom leukosit malas Peninggian IgE, defek kemotaksis dan infeksi rekuren Defisiensi komplemen Aktivitas komplemen yang rusak biasanya terjadi sekunder terhadap penyakit yang menggunakan komplemen melalui jalur klasik atau alternatif. Contohnya adalah penyakit lupus eritematosus sistemik yang mengkonsumsi jalur klasik kompenen komplemen C1, C4 dan C2 dan mengakibatkan rusaknya kemampuan komplemen untuk melarutkan kompleks imun. Pada manusia, defisiensi komponen komplemen yang diturunkan dikaitkan dengan sindrom klinik. Banyak pasien dengan defisiensi C1, C4 atau C2 mempunyai lupus-like syndrome, seperti ruam malar, artralgia, glomerulonefritis, demam atau vaskulitis kronik dan infeksi piogenik rekuren. Antinuklear dan antibodi anti-dsDNA dapat tidak ditemukan. Adanya defisiensi komponen komplenen jalur klasik ini menurunkan kemampuan individu untuk eliminasi kompleks imun. Pasien dengan defisiensi C3 dapat terjadi secara primer atau sekunder, contohnya defisiensi inhibitor C3b, seperti faktor I atau H akan meningkatkan risiko untuk terkena infeksi bakteri rekuren. Individu biasanya terkena infeksi yang mengancam nyawa, seperti pneumonia, septikemia dan meningitis. Terdapat hubungan kuat antara defisiensi C5, C6, C7, C8 atau properdin dengan infeksi neiseria rekuren. Biasanya pasien mempunyai infeksi gonokokus rekuren, terutama septikemia dan artritis, atau meningitis meningokukos rekuren. Defisiensi inhibitor C1 merupakan defisiensi sistem komplemen diturunkan yang paling sering dan penyebab angioedema herediter. Defisiensi imun sekunder Penyebab sekunder defisiensi imun lebih umum dibandingkan penyebab primer. Kadar komponen imun yang rendah menunjukkan produksi yang menurun atau katabolisme (hilangnya komponen imun) yang dipercepat. Hilangnya protein yang sampai menyebabkan hipogamaglobulinemia dan hipoproteinemia terjadi terutama melalui ginjal (sindrom nefrotik) atau melalui saluran cerna (protein-losing enteropathy). Hilangnya imunoglobulin melalui renal setidaknya bersifat selektif parsial, sehingga kadar IgM masih dapat normal meskipun kadar IgG serum dan albumin menurun. Protein juga dapat hilang dari saluran cerna melalui penyakit inflamatorius aktif seperti penyakit Crohn, kolitis ulseratif dan penyakit seliak.
10

Kerusakan sintesis paling nampak pada malnutrisi. Defisiensi protein menyebabkan perubahan yang mendalam pada banyak organ, termasuk sistem imun. Kerusakan produksi antibodi spesifik setelah imunisasi, dan defek pada imunitas seluler, fungsi fagosit dan aktivitas komplemen dihubungkan dengan nutrisi yang buruk, dan membaik setelah suplementasi diet protein dan kalori yang cukup. Pasien dengan penyakit limfoproliferatif sangat rentan terhadap infeksi. Leukemia limfositik kronik yang tidak diobati umumnya berhubungan dengan hipogamaglobulinemia dan infeksi rekuren yang cenderung bertambah berat dengan progresifitas penyakit. Limfoma Non-Hodgkin mungkin berhubungan dengan defek pada imunitas humoral dan seluler. Penyakit Hodgkin biasanya berhubungan dengan kerusakan yang nyata dari imunitas seluler, namun imunoglobulin serum masih normal sampai fase akhir penyakit. Risiko infeksi pasien dengan mieloma multipel 5-10 kali lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Frekuensi infeksi oportunistik pada pasien dengan keganasan diseminata menandakan adanya defek imun, meskipun sulit membedakan efek imunosupresif dari penyakit ataupun efek pengobatan. Obat imunosupresif mempengaruhi beberapa aspek fungsi sel, terutama limfosit dan polimorf, namun hipogamaglobulinemia berat jarang terjadi. Pasien dengan obat untuk mencegah penolakan organ transplan juga dapat timbul infeksi oportunsistik meskipun tidak biasa. Bentuk iatrogenik lain dari defisiensi imun sekunder adalah yang berhubungan dengan splenektomi.
ACQUIRED IMMUNODEFICIENCY SYNDROME (AIDS)

AIDS

merupakan

penyakit

yang

disebabkan

oleh

infeksi

dari

Human

Immunodeficiency Virus-1 (HIV). Penyakit ini dengan cepat telah menyebar ke seluruh dunia. Dalam tulisan ini, pembicaraan dibatasi pada manifestasi kelainan sendi. Artritis pada AIDS makin wring dilaporkan sehingga telah menarik perhatian para reumatologist untuk menelitinya(6). Ternyata insidens manifestasi artikuler pada AIDS sangat bervariasi. Solinger dan Hess (1990) hanya menemukan 23 penderita dari 1100 pasien dengan HIV positif, sedangkan pusat penelitian lain menemukan jumlah yang lebih besar, Calabrese dkk (1990) menemukan angka sebesar 14,5% dari 117 pasien dengan HIV positif. Perbedaan ini mungkin disebabkan beberapa hal, para ahli berpendapat mungkin oleh karena perbedaan demografi, tetapi Calabrese dkk. berpendapat perbedaan itu terletak pada lamanya melakukan observasi, main lama pasien tersebut masih hidup dan dapat diikuti perjalanan penyakitnya makin besar kemungkinan menderita arthritis. Yang menarik ialah gambaran artritis yang ditemukan, umumnya para peneliti menemukan gejala berupa penyakit Reiter, artritis psoriatik, poliatritis, oligoartritis dan
11

monoartritis. Penyakit Reiter merupakan penyakit yang ditandai dengan frias uretritis, uveitis dan artritis. Winchester dkk (1987) menemukan 13 kasus Reiter pada penderita AIDS, dimana HLA-B27 positif pada 9 kasus(9). Arttis psoriatik merupakan artritis yang khas pada penderita penyakit kulit psoriasis. Pada penderita AIDS ditemukan tidak sebanyak penyakit Reiter. Arttis lainnya memberikan penampilan yang tidak spesifik, yang tidak dapat dimasukkan ke dalam salah satu diagnosis artritis yang telah dikenal. Calabrese dkk menemukan, bila pasien dengan HIV positif timbul gejala artritis maka prognosisnya menjadi lebih buruk, terlebih lagi bila menderita penyakit Reiter atau artritis psoriatik; perjalanan penyakit penderita akan menjadi progresif sehingga menjadi AIDS yang lengkap dan berakhir dengan kematian. Dalton dkk (1990) melakukan pemeriksaan histologik pada jaringan sinovia yang diambil dari sendi lutut kanan 25 penderita AIDS yang telah meninggal dan membandingkannya dengan kontrol. Sewaktu masih hidup penderita tidak mempunyai keluhan nyeri sendi. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan perubahan abnormal pada dinding arteri kecil berupa pembengkakan endotel, proliferasi fibromuskuler intima dan fragmentasi atau/dan reduplikasi elastik lamina interna. Selain itu juga ditemukan fibrosis sinovitis sedang sampai berat dan penebalan atau hilangnya permukaan sinovia. Pemeriksaan untuk bakteri, jamur, inklusi bodi dan neoplasma memberi hasil negatif. Peneliti menyimpulkan bahwa belum adanya keluhan sendi pada pasien tersebut mungkin disebabkan penderita terlalu cepat meninggal sebelum perubahan tersebut memberikan keluhan

12

BAB III PEMBAHASAN


Defisiensi antibodi primer yang didapat lebih sering terjadi dibandingkan dengan yang diturunkan, dan 90% muncul setelah usia 10 tahun. Pada bentuk defisiensi antibodi kongenital, infeksi rekuren biasanya terjadi mulai usia 4 bulan sampai 2 tahun, karena IgG ibu yang ditransfer mempunyai proteksi pasif selama 3-4 bulan pertama. Beberapa defisiensi antibodi primer bersifat diturunkan melalui autosom resesif atau X-linked. Defisiensi imunoglobulin sekunder lebih sering terjadi dibandingkan dengan defek primer. Pemeriksaan fisik defisiensi antibodi jarang menunjukkan tanda fisik diagnostik, meskipun dapat menunjukkan infeksi berat sebelumnya, seperti ruptur membran timpani dan bronkiektasis. Tampilan klinis yang umum adalah gagal tumbuh. Pemeriksaan laboratorium penting untuk diagnosis. Pengukuran imunoglobulin serum dapat menunjukkan abnormalitas kuantitatif secara kasar. Imunoglobulin yang sama sekali tidak ada (agamaglobulinemia) jarang terjadi, bahkan pasien yang sakit berat pun masih mempunyai IgM dan IgG yang dapat dideteksi. Defek sintesis antibodi dapat melibatkan satu isotop imunoglobulin, seperti IgA atau grup isotop, seperti IgA dan IgG. Beberapa individu gagal memproduksi antibodi spesifik setelah imunisasi meskipun kadar imunoglobulin serum normal. Sel B yang bersirkulasi diidentifikasi dengan antibodi monoklonal terhadap antigen sel B. Pada darah normal, sel-sel tersebut sebanyak 5-15% dari populasi limfosit total. Sel B matur yang tidak ada pada individu dengan defisiensi antibodi membedakan infantile Xlinked agammaglobulinaemia dari penyebab lain defisiensi antibodi primer dengan kadar sel B normal atau rendah. Gejala klinis penyakit defisiensi imun Infeksi saluran napas atas berulang, infeksi bakteri yang berat, penyembuhan inkomplit antar episode infeksi, atau respons pengobatan inkomplit Gagal tumbuh atau retardasi tumbuh Jarang ditemukan kelenjar atau tonsil yang membesar
13

Infeksi oleh mikroorganisma yang tidak lazim Lesi kulit (rash, ketombe, pioderma, abses nekrotik/noma, alopesia, eksim, teleangiektasi, warts yang hebat) Oral thrush yang tidak menyembuh dengan pengobatan Jari tabuh Diare dan malabsorpsi Mastoiditis dan otitis persisten Pneumonia atau bronkitis berulang Penyakit autoimun Kelainan hematologis (anemia aplastik, anemia hemolitik, neutropenia, trombositopenia) Berat badan turun DemamPeriodontitis Limfadenopati Hepatosplenomegali Penyakit virus yang berat Artritis atau artralgia Ensefalitis kronik Meningitis berulang Pioderma gangrenosa Kolangitis sklerosis Hepatitis kronik (virus atau autoimun) Reaksi simpang terhadap vaksinasi Bronkiektasis Infeksi saluran kemih Lepas/puput tali pusat terlambat (> 30 hari) Stomatitis kronik Granuloma Keganasan limfoid Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang merupakan sarana yang sangat penting untuk mengetahui penyakit defisiensi imun. Karena banyaknya pemeriksaan yang harus dilakukan (sesuai dengan kelainan klinis dan mekanisme dasarnya) maka pada tahap pertama dapat dilakukan pemeriksaan penyaring dahulu, yaitu:
14

a) Pemeriksaan darah tepi Hemoglobin Leukosit total Hitung jenis leukosit (persentasi) Morfologi limfosit Hitung trombosit

a) Pemeriksaan imunoglobulin kuantitatif (IgG, IgA, IgM, IgE) b) Kadar antibodi terhadap imunisasi sebelumnya (fungsi IgG) Titer antibodi Tetatus, Difteri Titer antibodi H.influenzae

a) Penilaian komplemen (komplemen hemolisis total = CH50) b) Evaluasi infeksi (Laju endap darah atau CRP, kultur dan pencitraan yang sesuai) Pengobatan Sesuai dengan keragaman penyebab, mekanisme dasar, dan kelainan klinisnya maka pengobatan penyakit defisiensi imun sangat bervariasi. Pada dasarnya pengobatan tersebut bersifat suportif, substitusi, imunomodulasi, atau kausal. Pengobatan suportif meliputi perbaikan keadaan umum dengan memenuhi kebutuhan gizi dan kalori, menjaga keseimbangan cairan, elektrolit, dan asam-basa, kebutuhan oksigen, serta melakukan usaha pencegahan infeksi. Substitusi dilakukan terhadap defisiensi komponen imun, misalnya dengan memberikan eritrosit, leukosit, plasma beku, enzim, serum hipergamaglobulin, gamaglobulin, imunoglobulin spesifik. Kebutuhan tersebut diberikan untuk kurun waktu tertentu atau selamanya, sesuai dengan kondisi klinis. Pengobatan imunomodulasi masih diperdebatkan manfaatnya, beberapa memang bermanfaat dan ada yang hasilnya kontroversial. Obat yang diberikan antara lain adalah faktor tertentu (interferon), antibodi monoklonal, produk mikroba (BCG), produk biologik (timosin), komponen darah atau produk darah, serta bahan sintetik seperti inosipleks dan levamisol. Terapi kausal adalah upaya mengatasi dan mengobati penyebab defisiensi imun, terutama pada defisiensi imun sekunder (pengobatan infeksi, suplemen gizi, pengobatan keganasan, dan lain-lain). Defisiensi imun primer hanya dapat diobati dengan transplantasi (timus, hati, sumsum tulang) atau rekayasa genetik. Terapi AIDS a) Pengendalian Infeksi Opurtunistik Bertujuan menghilangkan, mengendalikan, dan pemulihan infeksi opurtunistik, nasokomial, atau sepsis. Tidakan pengendalian infeksi yang aman untuk mencegah
15

kontaminasi bakteri dan komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan bagi pasien dilingkungan perawatan kritis. b) Terapi AZT (Azidotimidin) Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif terhadap AIDS, obat ini menghambat replikasi antiviral Human Immunodeficiency Virus (HIV) dengan menghambat enzim pembalik traskriptase. c) Terapi Antiviral Baru Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas sistem imun dengan obat-obat ini adalah: Didanosine, Ribavirin, Diedoxycytidine, Recombinant CD 4 dapat larut. d) Vaksin dan Rekonstruksi Virus. e) Pendidikan untuk menghindari alkohol dan obat terlarang, makan-makanan sehat, hindari stress, gizi yang kurang, alkohol dan obat-obatan yang mengganggu fungsi imun. f) Menghindari infeksi lain, karena infeksi itu dapat mengaktifkan sel T dan mempercepat replikasi Human Immunodeficiency Virus (HIV).

BAB IV
16

KESIMPULAN
Defisiensi imunitas adalah keadaan dimana terjadinya penurunan atau gagalnya fungsi dari salah satu atau lebih komponen sistem imun. dapat diklasifikasikan ke dalam dua bagian besar : Defisiensi imun primer Diakibatkan oleh adanya defek (cacat) respon imun bawaan , yaitu kelainan dalam sistem fagosit dan atau komplemen, atau defek dalam proses maturasi (pematangan) dan fungsi (aktivasi) limfosit. Defisiensi imun sekunder terjadi sebagai akibat dari penyakit lain, umur, trauma, atau pengobatan. Penyebab defisiensi sangat beragam dan penelitian berbasis genetik berhasil mengidentifikasi lebih dari 100 jenis defisiensi imun primer dan pola menurunnya terkait pada X-linked recessive, resesif autosomal, atau dominan autosomal. Penyebab defisiensi imun diantaranya : defek genetik, obat atau toksin, penyakit nutrisi dan metabolik, kelainan kromosom serta infeksi. Pemeriksaan penunjang merupakan sarana yang sangat penting untuk mengetahui penyakit defisiensi imun diantaranya pemeriksaan darah tepi, pemeriksaan imunoglobulin kuantitatif (IgG, IgA, IgM, IgE), pemeriksaan kadar antibodi terhadap imunisasi sebelumnya (fungsi IgG), penilaian komplemen (komplemen hemolisis total = CH50), evaluasi infeksi (Laju endap darah atau CRP, kultur dan pencitraan yang sesuai) Pengobatan penyakit defisiensi imun sangat bervariasi, pada dasarnya pengobatan tersebut bersifat suportif, substitusi, imunomodulasi, atau kausal.

17