Anda di halaman 1dari 13

Soalan 2 Jelaskan maksud Halawatul Iman serta cara mendapatkannya dalam kehidupan. Halawatul iman bermaksud kemanisan iman.

Selain itu, ia adalah satu rasa tenang, bahagia, dan aman di dalam jiwa seseorang hasil keyakinannya yang tinggi kepada Allah, kitab, rasul dan lain-lain rukun iman. Ia adalah kemanisan yang bersifat maknawi yakni tidak dapat dirasa dengan pancaindera tetapi hanya dapat dirasai oleh hati. Orang yang telah merasai kemanisan iman akan rasa indah dalam melakukan ketaatan dan bahagia ketika meninggalkan kejahatan. Antara contohnya ialah apabila musibah datang melanda, seseorang itu mampu bersabar dan redha dengan segala ketentuanNya. Bahkan sanggup mati demi menemui kecintaanNya (Allah). Seseorang akan merasakan manisnya iman bermula di dalam hatinya terdapat rasa cinta yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya, manisnya akan semakin dirasakan bila seseorang berusaha untuk senantiasa menyempurnakan cintanya kepada Allah, memperbanyak cabang-cabangnya (amalan yang dicintai Allah swt.) dan menangkis hal-hal yang bertentangan dengan kecintaan Allah swt. Seseorang yang telah merasai kemanisan iman tidak akan berasa sukar, penat, bosan, dan rugi. Ini adalah kerana perasaan tersebut sesungguhnya mengatasi segala kemanisan dunia. Mereka akan yakin apa jua yang ditakdirkan Allah adalah baik belaka dan hasil keyakinan itu, mereka mampu menukar segala yang buruk menjadi kebaikan, segala kekurangan menjadi kelebihan, segala yang pahit menjadi penawar, segala yang kotor menjadi bersih dan jernih. Dalam jiwa mereka seolah-olah ada penapis yang mampu menapis segala yang negatif menjadi positif. Jika iman (kalimah syahadah) itu diumpamakan oleh Allah sebagai pohon yang baik, maka kemanisan iman adalah rasa pada buah yang telah masak ranum, terhasil oleh kesuburan pohon yang telah berbatang, berdahan, berdaun dan berbuah itu.

Firman Allah:

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik. (Ibrahim: 24). Kalimat yang baik adalah kalimat ikhlas, kalimat tauhid, sedangkan pohon adalah pokok daripada keimanan, cabangnya adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan, daun-daunnya adalah segala amal kebaikan yang harus diperhatikan seorang mukmin, dan buahnya adalah segala macam bentuk ketaatan. Manisnya buah ketika buah sudah matang, dan puncak daripada rasa manis itu adalah apabila buah telah benar-benar masak. Maka ketika itulah akan terasa manisnya buah itu.

Dari Anas ra, dari Nabi saw. bersabda, Tiga perkara jika kalian memilikinya, maka akan didapati manisnya iman. (Pertama) orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya. (Kedua) agar mencintai seseorang semata-mata karena Allah swt. (Ketiga), tidak senang kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Allah swt, sebagaimana ketidak-senangannya dilempar ke dalam api neraka. (HR Bukhar Muslim dengan redaksi Muslim)

Dari Al-Abbas bin Abdil Muttalib, bahwasanya ia mendengar Rasulallah saw. bersabda, Telah merasakan lezatnya iman seseorang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai dinnya dan Muhammad sebagai Rasulnya. (HR. Muslim) Hadits ini sangat agung maknanya, termasuk dasar-dasar Islam, berkata para ulama, Arti dari manisnya iman adalah mersakan lezatnya ketaatan dan memiliki daya tahan menghadapi rintangan dalam menggapai ridha Allah dan Rasul-Nya, lebih mengutamakan ridha-Nya dari pada kesenangan dunia, dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangan-Nya. Dalam hadits tersebut Rasulullah saw. menjelaskan bahwa tiga perkara bila kalian berada di dalamnya maka akan didapati manisnya iman, karena sarat mendapatkan manisnya sesuatu adalah dengan mencintainya, maka barang siapa yang mencintai sesuatu dan bergelora cintanya, maka ketika berhasil mendapatkannya, ia akan merasakan manis, lezat dan kegembiraannya. Karena itu seorang mukmin yang telah mendapatkan manisnya iman yang mangandung unsur kelezatan dan kesenangan akan diiringi dengan kesempurnaan cinta seorang hamba kepada Allah swt. Dan kesempurnan itu dapat diwujudkan dengan tiga hal. Pertama : menyempurnakan cinta kepada Allah yaitu dengan menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari yang lainnya, karena cinta kepada Allah tidak cukup hanya sekedarnya, tetapi harus melebihi dari yang lain-Nya. Kedua : menjadikan cinta kepada Allah menjadi pangkal dari cabang cinta kepada yang lain, yaitu mencintai orang lain semata-mata karena dan untuk Allah swt., sehingga dalam mencintai ia tetap mengikuti prosedur dan mekanisme cinta yang telah ditetapkan oleh Allah dalam AlQuran dan Sunnah, misalnya tidak berkhalwat, menyegerakan akad nikah dan menghindari perbuatan yang mendekati pada perzinahan. (tidak pacaran) (QS. 24 : 3031, 33 : 59). Ketiga: Menolak segala hal yang bertentangan dengan cinta-Nya, iaitu
3

tidak

menyukai

hal-hal

yang

bertentangan

dengan

keimanan

melebihi

ketidaksukaannya bila dirinya dilemparkan ke dalam api neraka.

Amar bin Yasir berkata, Ada tiga hal yang barangsiapa berada di dalamnya ia merasakan manisnya keimanan, berinfak dari kekikiran, bersikap adil terhadap manusia dari dirinya, dan mengupayakan keselamatan (salam) bagi alam. (Diriwayatkan Abdurazzaq, Bukhari mencantumkannya di kitab Al-Iman). Hadits yang dibawakan oleh Amar bin Yasir ra. tersebut di atas, juga menjelaskan tentang tiga hal yang dapat mendatangkan manisnya iman. Pertama : berinfak secukupnya, tidak berlebihan sehingga menzalimi hak-hak yang lainnya, tapi juga tidak kikir dengan hartanya. Kedua : bersikap objektif, tidak menghalanginya untuk berbuat baik dan adil kepada manusia, walaupun ada kaitannya dengan kepentingan diri sendiri, misalnya walaupun disakiti dan dizalimi oleh seseorang, tetapi tidak menghalanginya untuk memaafkannya dan tetap berbuat baik kepadanya. Ketiga : Menebarkan kesejahteraan kepada seluruh alam semesta, memperjuangkan sesuatu demi kebaikan manusia dan seluruh makhluk lainnya, seperti dengan melakukan kegiatan amal siasi maupun amal khidam ijtimai (kegiatan sosial)

Ibnu Masud juga berkata, Ada tiga hal yang barangsiapa berada di dalamnya akan merasakan manisnya iman, menghindari perdebatan dalam hal kebenaran, tidak berdusta dalam bercanda, dan menyadari bahwa apa yang akan menimpanya bukan
4

karena kesalahannya dan apa kesalahannya tidak menyebabkan ia tertimpa (musibah). (Diriwayatkan Abdurrazzaq). Dari Anas secara marfu mengatakan, Tidaklah seorang hamba merasakan manisnya

keimanan sehingga dia menyadari bahwa apa yang akan menimpanya bukan karena kesalahannya dan apa kesalahannya tidak menyebabkan ia tertimpa (musibah). Hadits tersebut dikeluarkan Ibnu Abi Ashim, hadits sahih dengan sanad yang baik, termaktub dalam silisilah hadits sahih karya Imam Albani.

Katakanlah kepada mukmin laki-laki agar menahan pandangan mereka (An-Nur: 30). Yaitu menahan dari apa yang diharamkan Allah swt. pasti akan mendatangkan manisnya iman, dan barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik darinya, dan barangsiapa yang membebaskannya walau hanya sekejap maka akan abadi penyesalannya.

Dari Muadz bin Jabal berkata : Rasulullah SAW bersabda : Seandainya aku memerintahkan seseorang bersujud kepada yang lainnya, maka akan aku perintahkan
5

isteri sujud kepada suaminya, karena hak-hak suami atasnya, dan tidaklah seorang wanita mendapatkan manisnya iman sehingga Ia menunaikan hak suaminya, walaupun suaminya memintanya, sedang Ia sedang berada di atas sekedupnya.

Ibnu Rajab berkata dalam kitab Fathul Bari 1/27 : Maka apabila sebilah hati telah mendapatkan manisnya iman, maka ia akan sensitif merasakan pahitnya kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan, karena itulah Nabi Yusuf AS berkata : Ya Rabb! Penjari lebih aku sukai daripada apa yang mereka serukan kepadaku (QS. Yusuf : 33) Diriwayatkan daripada Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda bermaksud: Ada tiga hal, yang jika tiga hal itu ada pada seseorang, maka dia akan berasakan manisnya iman. (Iaitu) Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya; mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali kerana Allah; benci untuk kembali kepada kekufuran selepas Allah menyelamatkan darinya, seperti bencinya jika dicampakkan ke dalam api. (Muttafaq alaih). Anas berkata, Aku melayani Rasulullah SAW selama sepuluh tahun, Baginda tidak pernah memukulku, tidak pernah mencelaku dan tidak pernah bermuka masam di hadapanku. Rasulullah SAW mendoakan Anas dikurnia harta dan anak yang ramai dan doa Baginda dikabulkan Allah. Makna hadis ini, ada tiga sifat yang jika ada pada seseorang maka orang itu akan berasakan manisnya iman. Manisnya iman adalah rasa nikmat ketika melakukan ketaatan kepada Allah, ketenangan jiwa, kesenangan hati dan lapangnya dada. Mengikut Imam Ibnul Qayyim, antara perbuatan untuk memperoleh kecintaan Allah dan kemanisan iman, selepas melakukan ibadat wajib:
6

Membaca Al-Quran dengan merenungkan dan memahami maknanya. Mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan amalan sunat. Terus menerus berzikir kepada Allah dalam setiap tindak tanduk kehidupan Mendahulukan apa yang dicintai Allah daripada apa yang dicintai diri sendiri. Berkawan dengan orang yang jujur mencintai Allah dan orang salih. Menjauhi segala perkara yang dapat menghalangi pautan hati dengan Allah. Mencintai Rasulullah SAW yang menyusul selepas mencintai Allah adalah ciri

dengan hati, lisan atau perbuatan.

terpenting yang harus dimiliki siapa saja yang ingin berasakan kelazatan iman. Cinta Allah dan Rasul-Nya adalah kayu ukur bagi kecintaan terhadap diri sendiri, orang tua, anak dan seluruh manusia. Suatu ketika Saidina Umar berkata kepada Nabi SAW: Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu apa pun, kecuali diriku. Maka Nabi SAW menjawab, Bukan begitu, demi zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sehingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri. Maka Umar menjawab, Demi Allah, sesungguhnya engkau sekarang lebih aku cintai daripada diriku sendiri. Maka Nabi SAW menjawab, Sekarang Umar, (telah sempurna imanmu). Anas juga meriwayatkan daripada Rasulullah SAW, beliau bersabda yang bermaksud: Tidak beriman salah seorang di antara kalian, sehingga aku lebih dia cintai daripada orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia. Antara cara mencintai Nabi SAW: 1. Beriman bahawa Muhammad SAW adalah utusan Allah, yang diutus kepada seluruh umat manusia, sebagai pemberi peringatan dan khabar gembira, sebagai penyeru ke jalan Allah dengan pembawa cahaya kebenaran. 2. Bercita-cita untuk bertemu dengan Baginda dan khuatir jika tidak dapat bertemunya. 3. Menjalankan perintah Baginda dan menjauhi larangannya. Orang yang mencintai seseorang, maka akan mentaatinya walaupun nyawa jadi galang gantinya.
7

4. Menolong

sunnahnya,

mengamalkan,

menyebarkan,

membela

dan

memperjuangkannya. 5. Banyak berselawat dan bersalam kepada Rasulullah SAW. 6. Berakhlak dengan akhlak Baginda dan beradab dengan adabnya. 7. Mencintai sahabat dan kaum kerabat Baginda dan membela mereka. 8. Mengkaji perjalanan hidup dan sirah Baginda serta mengetahui keadaan dan berita berkaitan Baginda. Mencintai seseorang kerana Allah maksudnya menjaga hubungan kasih sayang antara seorang Muslim dengan saudaranya atas landasan iman kepada Allah SWT dan amal soleh. Kita mencintai saudara kita bukan kerana keuntungan kebendaan atau harta, kita membencinya atau menjauhinya bukan kerana kemiskinan atau tidak memperoleh manfaat dunia darinya. Ukuran cinta kita kepadanya adalah atas dasar iman dan amal salih. Saling mencintai kerana Allah mempunyai hak yang harus ditunaikan antaranya membantu memenuhi keperluan saudaranya dan menolong pada saat dia memerlukan bantuan, tidak membuka aib, tidak membenci, tidak iri dan dengki terhadap nikmat yang diberikan Allah kepada saudara kita. Sentiasa mendoakan saudara kita tanpa pengetahuannya dan mengucapkan salam jika bertemu, bertanya khabar keadaannya, tidak sombong dan tinggi diri. Jalinan seorang Muslim dengan Muslim lain dibangun atas landasan cinta kepada Allah. Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan sabda Baginda mengenai tujuh golongan yang akan dinaungi Allah antaranya: Dua orang yang saling menyintai kerana Allah, berkumpul kerana-Nya dan berpisah kerana-Nya.

Oleh yang demikian, mencintai Allah mestilah melebihi cintanya kepada orang lain seperti orang tua, anak, diri sendiri dan sesiapa sahaja yang dekat dengan kita supaya kemanisan iman betul-betul dapat dirasai. Dan tidak semua orang yang
8

mengatakan dirinya Muslim atau mukmin secara automatik dapat berasakan manisnya iman. Iman bukan cukup hanya dengan angan-angan, tetapi wajib dimantapkan dalam hati, dikuatkan dengan perkataan dan perbuatan yang dijiwai sepenuh hati. Kata kunci segala permasalahan ini adalah ikhlas. Kemanisan iman tidak boleh dirasai jika kita tidak memulakan langkah untuk memahami hikmat di sebalik setiap apa yang kita lakukan, mengapa dan bagaimana kita lakukannya. Kesedaran diri adalah kata awalan terhadap setiap amalan yang kita buat. Kemanisan iman berkadar terus dengan kesempurnaan iman di dalam hati sanubari seseorang. Semakin sempurna, teguh, dan kukuh iman seseorang, maka semakin manislah iman itu dirasai olehnya. Oleh itu, bukan semua orang yang mengaku beriman dapat merasai kemanisannya. Ini kerana iman itu bukan dengan kata-kata ataupun angan-angan tetapi ia diperkukuhkan dengan perbuatan dan pengorbanan. Justeru, sudah menjadi kewajipan setiap orang Islam memburu kemanisan iman. Ia perlu dijadikan agenda utama dalam hidup mengatasi segalagalanya. Bahkan, jika disedari, pemburuan untuk merasai kemanisan iman ini adalah agenda seumur hidup. Kita hidup dengan iman, kita mati dengan iman dan kita meminta masuk ke dalam syurga dengan iman. Namun, mana mungkin kita boleh melakukan segala-galanya itu jika iman terasa pahit, pedih dan perit. Hanya orang yang rasa manis dengan iman sahaja yang mampu hidup dan mati bersamanya. Apabila seseorang mencintai Allah, maka Allah akan mencintainya dan apabila seseorang dicintai Allah, maka hidup dan matinya akan dipermudahkan oleh Allah. Seluruh energi alam akan menyebelahinya. Di dalam hadis qudsi, Allah swt berfirman: Jika Allah mencintai seorang hamba maka Allah akan berkata, Wahai Jibrail, Aku mencintai seorang hamba maka cintailah dia. Kemudian Jibrail memanggil penduduk langit dan berkata, sesungguhnya Allah mencintai sifulan maka cintailah dia. (musnad Imam Ahmad dari Abu Hurairah). Oleh itu, kita perlu berusaha sedaya upaya untuk meraih cinta itu. Walaupun amat sukar tetapi itulah satu-satunya jalan ke arah
9

keselamatan, ketenangan dan kebahagiaan. Sekalipun tidak sampai, tidak mengapa, asalkan kita telah menempuh jalanNya. Allah sesungguhnya menilai apakah kita sudah berjalan bukan pada apakah kita sudah sampai. Ukuran iman di hati dapat dikesan melalui ketenangan yang kita rasai.

REFLEKSI
NAMA: AISHAH DORA BINTI YACOB
10

Semasa melaksanakan tugasan kerja kursus pendek Pendidikan Agama ini yang bertajuk Halawatul Iman, saya telah menerima banyak faedah yang berguna dan baik untuk diri saya sebagai bakal guru. Setelah membuat banyak rujukan dan perbincangan bersama rakan-rakan, saya mula lebih memahami serta menjiwai maksud Halawatul Iman atau Kemanisan Iman yang mana sebelum ini saya pemahaman saya tentang halawatul iman tidak sebanyak mana. Saya juga mula merasai kepentingan PKK ini terhadap diri saya kerana sebagai bakal guru, satu hari nanti semua ilmu ini pasti saya perlukan untuk melaksanakan tugas harian sebagai seorang guru yang begitu mencabar. Saya sebagai bakal guru yang akan mengajar dahulu di sekolah rendah pasti akan menghadapi pelbagai situasi yang mungkin saya tidak pernah fikirkan sebelum ini. Melalui tugasan ini, sedikit sebanyak telah membantu saya dalam membuat persediaan dalam menghadapi dunia perguruan ini. Melalui segala pengalaman dan ilmu-ilmu baru yang telah saya perolehi, dengan izin Allah s.w.t, saya akan praktikan sebaik mungkin nanti. Setelah saya banyak membuat pencarian maklumat, saya berharap ilmu ini akan terus bermanfaat kepada para pelajar. Saya juga mula sedar kepentingan subjek perkembangan kanak-kanak ini dimana dengan hanya betul-betul memahaminya barulah saya dapat melaksanakan tugas saya sebagai guru nanti dengan sebaik mungkin bagi melahirkan modal insan yang sempurna. Secara keseluruhannya, tugasan kerja kursus pendek PKK ini telah memberikan banyak faedah kepada saya dan menambahkan ilmu pengetahuan kepada saya. Mudah-mudahan dengan membuat tugasan ini dapat menjadikkan saya seorang yang beriman dan menjadi guru yang berkualiti bagi melahirkan modal insan yang seimbang dan sanggup berkorban demi agama bangsa dan negara. InsyaAllah. NAMA : SITI SYUHAIRI BINTI ZAWAWI

11

Setelah selesai menyiapkan kerja kursus pendek (KKP) ini, saya merasakan tajuk yang saya perolehi sangat bermakna dalam hidup saya. Halawatul Iman yang bermaksud kemanisan iman. Sebelum ini, saya tidak mengetahui secara terperinci tentang maksud tajuk ini. Setelah mencari maklumat di internet, saya membaca dan memahami sedikit demi sedikit tentang tajuk ini. Selepas mendapatkan beberapa maklumat yang berkaitan dengan tajuk, baharulah saya dapat membuat dan menjelaskan maklumat tentang tajuk ini. Saya juga mempunyai beberapa masalah ketika menyiapkan tugasan ini kerana saya telah mencari maklumat tentang tajuk ini melalui buku-buku tetapi tajuk ini tidak dijumpai. Selepas itu, baharulah saya mencari maklumat-maklumat di internet. Tetapi hanya beberapa laman web sahaja yang mempunyai maklumat ini. Maklumat tentang tajuk ini sangat terhad. Saya juga ada bertanya kepada kakak, saudara mara dan juga kawan-kawan tentang tajuk ini. Malangnya, mereka hanya mengetahui maksudnya sahaja. Oleh itu, saya berharap tugasan saya dan rakan saya ini memenuhi kriteria yang diperlukan. Akhir kata, tugasan ini mempunyai banyak kebaikan kepada saya dan rakan saya kerana ia menambahkan lagi ilmu pengetahuan kami yang sedia ada. Sekian, terima kasih.

RUJUKAN
12

DAKWAH:

Jalan

Kami!

(2009).

Halawatul

Iman.

Diambil

daripada

http://takwiniyyah.wordpress.com/2009/07/30/halawatul-iman/

Islam

untuk

semua

(2007).

Halawatul

Iman.

Diambil

daripada:

http://halaqah.net/v10/index.php?topic=519.0

Malaysia harmoni (2009). Jiwa Rabitah yang kian sirna... Diambil daripada: http://www.malaysiaharmoni.com/v2/index.php/pandangan/109

Portal Rasmi Masjid Negara (2010). GENTA RASA: Di Mana Ketenangan?. Diambil daripada: http://www.masjidnegara.gov.my/portal/index.php?option=com_content& view=article&id=271:genta-rasa-di-mana-ketenangan&catid=1:latest

13