Anda di halaman 1dari 18

Nama : lotus Respati.N.A NIM : 083204036 p.

biologi 2008

Resume mata kuliah Anatomi Dan Fisiologi manusia


Permasalahan permasalahan 1. Mengapa tulang dapat membesar? 2. Apakah obat peninggi tubuh efektif? 3. Mengapa otot dapat disebut 'otot polos'? 4. Apakah rangsangan menjalar atau dijalarkan? 5. Apakah yang disebut sumsum tulang belakang ? 6. Dapatkah operasi berjalan tanpa transfusi darah? Apakah transfusi darah menyebabkan perubahan kepribadian sso? 7. Bagaimanakah jantung yang berada di luar tubuh dapat bertahan hidup? 8. Apakah bernapas suatu proses otonomik ataukah terkontrol? 9. Mengapa wanita yang sedang postmenopause mudah sakit? 10. Mengapa perlu mempelajari Anfisman? 11. Tubuh manusia tidak sempurna, lead to illness, and how to recover 12. Basic of activity Osifikasi (pembentukan tulang) dibentuk sejak embrio, masih beruoa tulang rawan terdiri dari fibrus dan hialik, pada minggu ke enam jaringan fibrus akan dibedakan dan ada pembentukan pusat-pusat osifikasi (karena adanya layanan pembuluh darah maka pusat osifikasi akan melebar) Percabangan pembuluh darah yang sejenisn bisa memperluas pusat-pusat osifikasi Pembuluh darah yang membawa kerugian karena didalamnya ada makrofag (sel-sel yang menghancurkan sel lain). Apabila makrofag menempel ditulang maka makrofag akan cepat berubah manjadi Osteoklast (sel-sel yang mendegradasi tulang), sedangkan yang membentuk sel-sel tulang adalah Osteoblast.
Selama ada pembentukan tulang maka aka tetap ada penghancuiran tulang. Pada remaja

pembentukan Osteoblast lebih tinggi dari pada Osteoklast, hal ini dikarenakan pada

Osteoblast banyak pada permukaan tulang (tulang semakin besar dan bertambah) sedangkan Osteoklast banyak dijumpai pada bagian permukaan dalam tulang.
Pada usia dewasa (30 tahun) akan mencapai kepadatan tulang paling maksimal

Apabila osteoklast lebih aktif daripada osteoblast , amka akan mengakibatkan tulang menjadi kropos. Osteoblast membentuk matriks kemudian dikluarkan di sekitar sel sehingga mengakibatkan makin lama permukaan akan menjadi gepeng.
Kaki-kaki bagian dari membran sel yang masih melekat dengan bagian membran sel

sebelahnya dan akan di ikuti oleh bagian sel yang mengkerut. Osteocycle membentuk lamel ada 3 atau 4 lamel, karena masih pendistribusian makanan. Pada pembukluh darah yang sejenis bisa ada hubungan yang di sebut Anasstomocyte Antara jaringan tulang padat dan berongga lebih kuat yang berongga, karena konstruksi yang dimiliki oleh oleh tulang yang padat biasanya mudah retak.
Pada bagian yang berongga inin memiliki sumsum tulang (untuk sebagai pabrik sel-sel

darah) pada bayi susum tukang memiliki warna merah karena masih aktif membentuk sel darah yang notabena banyak disel darah merah dan pada dewasa memiliki warna kuning karena pembentukan sel darah merah tidak lagi terlalu aktif, kecuali pada orang yang mengeluarkan darah banyakdan bisa saja sumsum tulang berwarna merah menunjukkan bahwa produksi sel-sel darah aktif. Macam-macam gangguan tulang 1. Pada kulit yang terkena sinar matahari ini penting karena dibawah lapisdan kuluit terdapat pro vit D dan akan dijadikan vit D yang berguna untuk proses pembentukan tulang 2. Osteoporosis Wanita lebuh banyak menderita karena hormon pada wanita cepat habis. 3. Skoliosis Garis pinggang tidak lurus dan menjadi miirng (pada orang tua) 4. Lordosis Mengalami pembengkakan dan pada bagian dadanya menonjol 5. Rematisme Terjadi pembengkakan pada ujung-ujung sendi (adanya penurunan kekebalan tubuh)

OTOT
Nama otot berkaitan dengan: 1. Tulang yang dilekatinya, 2. Bentuk, 3. Jumlah kepala otot 4. Tempat perlekatan ORGANISASI OTOT

1. CATATAN PENTING:

Otot yang dibicarakan dalam konteks ini adalah apa yang terlihat sebagai 'daging', sedangkan otot yang dimaksud oleh orang awam adalah tendon. tingkat organisasI pada otot adalah (dari yang terluar sampai ke dalam): 1. Otot (dibungkus epimisium) 2. Gelendong serabut otot/fasikulus (dibungkus perimisium) 3. Serabut otot/sel otot (dibungkus endomisium) 4. Miofibril 5. Otot (dibungkus epimisium) 6. Gelendong serabut otot/fasikulus (dibungkus perimisium) 7. Serabut otot/sel otot (dibungkus endomisium) 8. Miofibril 9. Miofilamen (aktin+miosin)

Serabut otot disebut dengan FASIKULUS. Otot dibungkus oleh jaringan ikat. Kumpulan serabut otot dibungkus oleh EPIMISIUM, serabut otot/fasikulus dibungkus oleh PERIMISIUM. Tiap-tiap fasikulus terdiri atas BEBERAPA SEL OTOT, sedangkan sel otot dibungkus oleh ENDOMISIUM. Tiap sel otot dilayani oleh pembuluh darah dan syaraf. Tujuan adanya pembungkus adalah masing-masing berkas otot, sel-sel otot agar bisa memanjang dan memendek tanpa mempengaruhi vesikel atau berkas otot yang lain. Otot skeletal bisa membuat tubuh bergerak. Terdapat 3 jenis otot antara lain: 1 Otot lurik: terdapat garis melintang secara histologis 2 Otot polos: otot polos sel-selnya merenggang, kalaupun ada yang berjejer itu hanya sedikit saja, tidak terdapat garis gelap maupun terang sehingga seakanakan polos. 3 Otot jantung Intercalated Disk : garis-garis melintang tebal merupaakan pelekukan dari membran kedalam Serabut kontraktil (kontraktil fiber) : benang benang atau serabut pasa satu sel otot yang memiliki fungsi untuk kontraksi. Yang terdiri dari aktin dan miosin. Susuna aktin dan miosin yang begitu teratur menyebabkan adanya garis gelap dan garis terang. Warna gelap terjadi karena aktin dan miosin tumpang tindih, yang mana ketebalan tumpang tindih ini tidak dapat ditembus cahaya pada mikroskop (terlihat gelap). Warna terang terjadi karena cahaya dapat menembus tumpukan aktin (tanpa miosin).

Adapula komponen sel otot sebagai berikut: 1. Sarkolema = membran sel otot 2. Sarkoplasma = sitoplasma sel otot 3. Retikulum sarkoplasma = RE halus sel otot 4. Terminal cisterna=merupakan bagian RE yang mengembung untuk mengeluarkan ion Ca2+ 5. Tubulus L=merupakan RE, terletak di sitoplasma, terdapat cisternae [bagian yang menggembung untuk mengeluarkan Ca2+] 6. Miofibril dengan miofilamen (aktin dan miosin) AKTIN

Aktin Terdiri dari: 1. Sepasang rantai protein globular aktin yang berpilin 2. Dua deret tonjol ADP, pada bagian rantai aktin yang berlekuk 3. 2 filamen tropomiosin, yang menutup ADP pada keadaan istirahat 4. 2 tonjol troponin,terletak di atas filamen tropomiosin, tepat di atas tonjol ATP yang tertutupi MIOSIN

Terdiri dari: 1. Kumpulan [pasangan rantai globulin miosin yang berpilin], antar pasangan membentuk sudut 60

2. Lengan miosin = sepasang rantai globular miosin yang berpilin (tail) 3. Kepala miosin (heads) = rantai globulin miosin yang terurai dan bergelung di ujung (tidak lagi sepasang)/berpilin pada dirinya sendiri, sehingga 1 lengan miosin = 2 kepala miosin MEKANISME KONTRAKSI OTOT RANGKA

Proses kontraksi otot


1. Diawali dengan adanya impuls atau rangsangan (secara internal maupun eksternal) yang

sampai ke membran sel, impuls akan dijalarkan ke seluruh membran sel termasuk Tubulus T (yang merupakan infiltrasi membran sel kedalam sel). Adanya impuls merangsang perubahan muatan (potensial aksi terjadi ketika Na+ masuk [depolarisasi], repolarisasi terjadi saat K+ keluar, hiperpolarisasi terjadi ketika K+ keluar dari sel secara berlebihan)
2. Perubahan muatan yang terjadi disepanjang tubulus T akan merangsang pada bagian

cisternae dari tubulus L (endoplasmik retikulum) untuk melepaskan Ca2+. Cisternae adalah ujung-ujung tubulus L yang menggembung yang dikarenakan menabrak tubulus T untuk mengeluarkan ion kalsium. ion kalsium kemudian akan ditangkap oleh tonjol troponin sehingga tonjol troponmin bersama-sama dengan filamen tropomiosin akan bergeser tempat mengakibatkan tonjol-tonjol ADP yang semula tertutup oleh filamen tropomiosin akan menjadi terbuka. 3. Membran Z untuk mengikat filamen aktin
4. Tonjol-tonjol ADP akan ditangkap oleh kepala miosin yang memiliki ATP, maka tonjol

ADP ini akan dibawa menekuk oleh kepala miosin kearah medial dari batang miosin. Apabila ATP habis maka tonjol ADP akan dilepaskan oleh kepala miosin dan lengan miosin menekuk kembali. Apabila kepala miosin mendapatkan tambahan ATP, maka tonjol ADP yang semula diikat itu akan dilepaskan dan kepala miosin akan kembali tegak untuk menangkap tonjol ADP berikutnya yang akan dibawa menekuk kembali kearah medial batang miosin. Dan selanjutnya akan terjdi pergeseran filamen aktin terhadap filamen miosin sehingga jaran antara 2 set membran yang berurutan akan bertambah pendek

5. Didekat sekitar ujung-ujung batang miosin terdapat tubulus T. bergeser dari arah insersio ke arah origo (satu arah) pada saat kontraksi agar filamen aktin tidak slaing tarik menarik yang mengakibatkan robeknya membran Z, maka dari itu filamen miosin bergerak dari arah insersio ke arah origo. MEKANISME RELAKSASI OTOT 1. Diawali dengan adanya Impuls yang hilang 2. Ion Ca lepas dari tonjol Troponin 3. Tonjol troponin bersama filamen tropomiosin kembali ke tempat semula (kembali ke tubulus L lewat batang miosin tubulus L bukan dari Cisternae secara transport aktif maka dari itu membutuhkan energi. 4. Sehingga tonjol ADP tertutupi kmbali oleh fiamen tropomiosin,sehingga tidak ada lagi hubungan antara filamen aktin dan filamen miosin dan panjang sarkomer kembali ke panjang semula. Catatan: Yang mengalami pemanjangan atau pemendekan adalah Sarkomer, bukan aktin dan miosin. JENIS-JENIS PERGERARAKAN SENDI (ANGULAR MOVEMENTS) 1. Fleksi: memperkecil sudut sendi 2. Ekstensi: memperbesar sudut sendi 3. Hiperekstensi: memperbesar sudut sendi secara maksimal

4. 5. 6. 7. 8. 9.

Dorsifleksi: mengangkat telapak kaki ke atas Plantarfleksi: mengangkat telapak kaki ke bawah Rotasi dekstra: memutar ke kanan Rotasi sinistra: memutar ke kiri Abduksi: pergerakkan alat gerak tubuh (limb) menjauhi sumbu tubuh Adduksi: pergerakan alat gerak tubuh (limb) mendekati sumbu tubuh

10. Supinasi: pergerakan tangan dari telungkup ke telentang (radius ulna paralel) = turning backward 11. Pronasi: pergerakan tangan dari telentang ke telungkup (radius berotasi terhadap ulna) = turning forward

12. Inversi: telapak kaki dibelokkan hingga jempol saling berdekatan = bergerak ke arah medial tubuh 13. Eversi: telapak kaki dibelokkan hingga jempol saling berjauhan = bergerak ke arah lateral tubuh 14. Protraksi: mandibula maju 15. Retraksi: mandibula mundur/kembali ke awal

16.

Oposisi: ibu jari dan jari yang lain dapat saling bersentuhan (ciri Primata)

INTENSITAS RANGSANGAN Macam rangsangan impuls sebagai berikut :


1. IR minimal= bearnya IR terbesar yang menghasilkan kontraksi terkecil 2. IR subminimal = besarnya IR yang lebih kecil dari IR minimal yang tidak menghasilkan

kontraksi
3. IR maksimal = besarnya IR terkecil untuk menghasilkan kontraksi terbesar 4. IR submaksimal =besarnya IR yang besarnya terletak diantara IR minimal dan maksimal

dan menghasilkan IR yang sebanding dengan IR minimal 5. IR supramaksimal = besarnya IR yang lebih besar dari IR maksimal tetapi menghasilkan kontraksi yang sama besar dengan kontraksi yang dihasilkan IR maksimal Fase Kontraksi Otot Fase lag/laten: fase yang terjadi saat pemberian stimulus hingga timbulnya kontraksi Fase kontraksi Fase relaksasi

Jenis Sumasi Kontraksi Otot a. Incomplete tetani (a.k.a tetani bergerigi) Tetani bergerigi dapat dihasilkan dari intensitas rangsangan min/sub max dengan frekuensi lebih kecil dari frekuensi tetanu lurus. Terjadi saat serabut otot sempat berelaksasi diantara kontraksi

b. Tetani lurus Tetani lurus dapat dihasilkan dari intensitas rangsangan minimal ata sub max yang drekuensinya besar. Terjadi saat serabut otot benar-benar tidak sempat berelaksasi diantara kontraksi otot,

PENYAKIT DAN GANGGUAN PADA SISTEM OTOT Kelelahan Terjadi akibat tumpukan asam lakat. Asam laktat terbentuk karena suplai oksigen berkurang, sehingga metabolisme berlangsung secara anaerobik (glikolisis ke fermentasi asam laktat, tidak terus berlanjut ke siklus krebs) menghasilkan asam laktat Kram otot Terjadi karena adanya tumpukan asam laktat yang menyebabkan fermentasi asam laktat menghasilkan ATP yang sangat rendah. Akibatnya, kepala miosin tetap memegang tonjol ADP, terjadi ko ntraksi terus menerus yang terlihat "mengejang" Kecetit Terjadi karena rangsangan yang tidak mampu merangsang semua sel otot dalam serabut sel otot, sehingga salah satu sel otot seperti "terjepit".

Nervous System
1. Sumasi gelombang=grafik potensial muatan 2. Sumasi motor unit Keduanya menunjukkan adanya pertambahan kekuatan kontraksi apabila IR submaksimal diperbesar frekuensinya. Selama IR sama maka amplitudo juga akan sama. Kekuatan kontraksi akan meningkat (seiring dengan pertambahan peningkatan frekuensi) sampai pada batas terjadinya tetani (kejang otot).

Grafik perubahan muatan (ingat bahwa impuls adalah perubahan muatan yang dijalarkan) merekam perubahan muatan, yang mana bentuknya sama dengan grafik kontraksi otot (tetapi yang direkam adalah kekuatan kontraksi). Fase laten = fase lag = keadaan normal, belum terjadi potensial aksi (membran bagian dalam sel lebih negatif)

Fase depolarisasi = fase kontraksi = terjadi potensial aksi, yaitu stimulus yang diberikan mencukupi/melewati batas intensitas threshold jaringan (membran bagian dalam sel menjadi lebih positif karena Na+ masuk) Fase repolarisasi = fase relaksasi, sel kembali ke keadaan awal (membran bagian dalam sel kembali menjadi lebih negatif karena K+ keluar)

JENIS SEL SARAF Penggolongan Struktural Neuron multipolar: dari 1 badan sel keluar banyak cabang Neuron bipolar: dari 1 badan sel keluar 2 cabang Neuron unipolar: dari 1 badan sel keluar 1 cabang

SINAPS Sinaps adalah hubungan suatu sel syaraf dengan sel syaraf berikutnya. Perlu diketahui bahwa DNA sel syaraf (disebut neuron) mengkode 2 jenis protein, yaitu: a) neurotransmitter, yaitu agen yang menyebabkan perubahan impuls, selalu diangkut ke ujung akson, jumlah neurotransmitter ini bergantung pada kekuatan rangsangan. Kesan yang ditimbulkan adalah rangsangan yang ditimbulkan. Misalnya, dicubit maka kesan yang dirasakan adalah 'rasa sakit'. Neurotransmitter hanya akan dilepaskan jika impuls sesuai dengan nilai ambang batas (threshold), dan hanya sejumlah intensitas rangsangan awal. b) neuromodulator, yaitu agen yang memecah neurotransmitter, selalu diangkut ke ujung dendrit, timbul saat rangsangan semula ditiadakan (menghentikan neurotransmitter, menghentikan rangsangan awal).

TIPE HUBUNGAN SINAPS Hubungan sinaps terdapat 3 jenis, yaitu: Sinaps Linear, yaitu sinaps seperti garis lurus Sinaps Divergen, yaitu sinaps dari neuron yang jumlahnya sedikit menuju ke neuron yang jumlahnya banyak Sinaps Konvergen, yaitu sinaps dari neuron yang jumlahnya banyak menuju neuron yang jumlahnya sedikit Sinaps bipolar yaitu hanya 2 cabang adari badan selnya Neuron unipolar yaitu hanya keluar satu cabang saja.

Keadaan normal sel: intraseluler negatif, ekstraseluler positif. Na+ di luar tinggi, Na+ di dalam sel rendah. K+ di dalam tinggi, K+ di luar rendah. Keadaan ini disebut juga POTENSIAL REHAT. Terjadi rangsangan, Ca2+ dilepaskan. Channel Na terbuka, Na+ masuk ke dalam sel, sehingga terjadi perubahan muatan pada membran sel (perubahan muatan ini menjalar sepanjang membran sel, yaitu apa yang kita sebut sebagai IMPULS). Fase ini disebut DEPOLARISASI(penurunan polaritas) dimana membran bagian luar LEBIH NEGATIF. Terjadi POTENSIAL AKSI. Keadaan tidak normal saat depolarisasi dinetralkan dengan pengeluaran K+. Hal ini terjadi karena channel Na+ tertutup. Pengeluaran K+ menyebabkan membran bagia n luar kembali LEBIH POSITIF. Fase ini disebut REPOLARISASI(kembali polar). Jika K+ terlalu banyak keluar karena desakan Na+ dari dalam sel, maka keadaan ini disebut HIPERPOLARISASI (desakan Na+ yang sangat banyak di dalam sel, tetapi K+ belum dapat masuk ke dalam sel untuk melakukan penyeimbangan. Penetralan keadaan sel dilakukan dengan keluar masuknya K+ untuk menyeimbangkan muatan (undershoot). Dalam grafik, hal ini ditandai dengan terjadinya OSILASI. Mengapa harus K+ yang melakukan usaha penyeimbangan? Karena K+ memiliki penampang yang lebih kecil daripada Na+ sehingga lebih mudah keluar masuk membran sel.

Dengan kata lain, perubahan muatan terjadi apabila: Intensitas rangsang sebanding dengan luas daerah penerima rangsang Terjadi pemasukan dan pengeluaran ion Na-K (tetapi bukan pompa Na-K) Sistem Saraf Pusat (CNS) dan Sistem Saraf Tepi (PNS) Komponen sistem saraf 1. Sistem saraf pusat (Central Nervous System=CNS) Terdiri dari OTAK (otak besar, otak kecil/serebelum, batang otak) dan MEDULA SPINALIS (spinal cord). Beberapa buku menyebut medula spinalis dengan "sumsum tulang belakang" Yang disebut masyarakat awam dengan 'sumsum' adalah tulang sebagai pabrik sel darah. Dalam biologi, sumsum tulang belakang adalah medula spinalis. Untuk menghindari miskonsepsi, jelaskan bagian CNS ini dengan istilah "MEDULA SPINALIS" OTAK -Memiliki ventrikel yang berisi cairan serebrospinal -Otak terdiri atas tonjolan (disebut GIRUS) dan lekukan (disebut SULKUS). -Lobus Otak Besar Lobus frontalis=pusat pemikiran Lobus temporalis = pusat pendengaran dan bicara Lobus occipital = pusat penglihatan -Otak kecil berfungsi untuk koordinasi tubuh -Batang otak berfungsi dalam mengatur penerusan impuls dari PNS

MEDULA SPINALIS Sistem saraf perifer/tepi (Peripheral Nervous System=PNS) Sistem saraf tepi terdiri oleh saraf kranial (12 pasang, bercabang dari tengkorak) dan saraf spinalis (33 pasang, bercabang dari medula spinalis). SARAF SIMPATIS DAN PARASIMPATIS Saraf simpatis dan parasimpatis bekerja berlawanan. Saraf simpatis bekerja dengan efek negatif (penghambatan atau dilatasi), saraf parasimpatis bekerja dengan efek positif (stimulasi atau konstriksi). Satu organ dikendalikan oleh saraf simpatis dan parasimpatis sehingga memiliki dua mekanisme reaksi pengontrolan.

Cardiovasculatory System
KOMPONEN-KOMPONEN YANG TERDAPAT DI SISTEM KARDIOVASKULER 1. Darah 2. Jantung 3. Pembuluh darah Jantung manusia terdiri atas 4 katup: 1. 2 katup atrioventrikular (membolehkan darah dari atrium menuju ventrikel saat ventrikel relaksasi/diastol) 2. 2 katup semilunar (membolehkan darah dari ventrikel menuju arteri saat ventrikel berkontraksi/sistol) FISIOLOGI SISTEM KARDIOVASKULER

Jantung adalah motor penggerak sistem kardiovaskuler. Jantung selalu berdenyut dari arah apeks (daerah ventrikel) ke arah basis (daerah serambi) atau dari insersio ke origo Jantung berdenyut (kontraksi) karena memiliki dua pusat impuls: 1. SA Node SA (sinoauricular) node, terletak diantara 2 muara vena kava. Vena kava seringkali bersatu sebelum ke jantung, sehingga letak SA node tepatnya adalah diantara muara vena kava dan atrium kanan (RA). SA node menginisiasi denyut jantung dan menyebabkan atrium berkontraksi. Impuls SA Node berjalan ke segala arah, yaitu: 3. Ke arah RA

Jalur: AV nodesepanjang dasar atrium menuju septum intraventrikular membelok ke arah inferior bercabang ke 2 arah satu ke arah permukaan RV, satu ke arah LV cabang yang terhalus bersatu dengan otot ventrikel ke arah kranial

4. Ke arah AV node 5. AV node berkas His (seberkas saraf yang keluar dari AV node, disebut juga AV bundle, yang terletak di apeks AV node, berkas His mengalami perlambatan untuk memberikan kesempatan atrium selesai berkontraksi) serabut Purkinje menyebabkan RV dan LV berkontraksi bersamaan RV memompa darah ke arteri pulmonalis, LV memompa darah ke aorta 6. 7. Maka, secara detail, proses konduksi jantung adalah: 8. SA node mengeluarkan impuls yang akan diteruskan ke otot-otot yang membentuk atrium. 9. Sebagaimana otot pada umumnya, impuls ini akan menyebabkan atrium dekstra dan sinistra berkontraksi. Akan tetapi, atrium dekstra (RA) berdenyut lebih dahulu karena letak SA node adalah di atrium dekstra. 10. Selain ke otot atrium, impuls dari SA node juga diteruskan ke AV node (letak AV node adalah di dasar atrium). 11. Impuls di AV nodedijalarkan ke berkas His sekaligus mengalami perlambatan (sehinga atrium berelaksasi dulu, baru kemudian ventrikel berkontraksi). 12. Impuls dari berkas His merambat ke dua cabang yang merambat sepanjang septum intraventrikular, baik yang ke arah ventrikel dekstra maupun sinistra, lalu ke serabut Purkinje yang bersatu dengan otot ventrikel, sehingga ventrikel dekstra dan sinistra berdenyut bersamaan. 13. Darah dari ventrikel dekstra mengalir melalai arteri pulmonalis ke arah paru-paru (kaya CO2), sementara darah dari ventrikel sinistra mengalir melalui aorta ke seluruh tubuh (kaya O2). AV Node

Atrioventricular node, terletak di dasar atrium, menyampaikan stimulus dan menginisasi kontraksi ventrikel

PEMBULUH DARAH PERBEDAAN ANTARA ARTERI, KAPILER DAN VENA ARTERI VENA - mengalirkan darah dari jantung ke luar - kaya O2 kecuali arteri pulmonalis - lapisan otot tebal - jauh dari permukaan tubuh - reservoar tekanan tidak memiliki lapisan otot, tetapi hanya selapis OTOT (agar efisien dalam pertukaran gas yang terjadi melalui difusi) KAPILER -mengalirkan darah menuju jantung -kaya CO2, kecuali vena pulmonalis -lapisan otot tipis -dekat dengan permukaan tubuh (karena itu nampak berwarna biru, membawa darah 'kotor' yang kaya CO2 dengan warna kehitaman yang kelihatan 'biru'). -reservoar volume, terdapat katup sepanjang tubuh

Pasted from <file:///G:\HAP%20exams\Cardiovasculatory%20System.docx> Respiratory System Fungsi: pertukaran O2 dan CO2 antara organisme dengan lingkungaNn HIDUNG Mengapa sangat dianjurkan bernapas lewat hidung? +Karena pada sayap hidung terdapat rambut-rambut yang berfungsi: 1. Menyaring partikel besar 2. Mengendapkan partikel kecil melalui lendir/mukus 3. Mencegah kelemahan pertahanan Fungsi saluran hidung dan batang tenggorok: menghangatkan udara.

FARING Bagian faring: 1. Laringofaring 2. Osofaring 3. Nasofaring TRAKEA Trakea memang tidak bisa menutup (saluran napas yang selalu terbuka), tetapi ada diantara tulang rawan yang menyusunnya (TRACHEAL CARTILAGES) terdapat selaput otot tipis yang berlanjut hingga trakea bercabang-cabang. Cabang-cabang ini disebut BRONKUS. Bronkus ini bercabang menjadi cabang yang lebih kecil disebut bronkiolus, sehingga: BRONKUS Pada bronkus terdapat tulang rawan tipis yang membuat bronkus selalu terbuka. Otot ini tidak terlalu melakukan kontraksi-relaksasi, tetapi hanya menjaga saluran bisa membuka sampai cabang yang paling halus (ductus alveolus) DUCTUS ALVEOLUS Fungsi duktus alveolus adalah untuk pertukaran gas; selaput tipis akan memudahkan difusi gas-gas pernapasan. PARU-PARU Paru-paru terdiri dari kumpulang mangkuk kapiler yang dilayani pembuluh darah. Letak paru-paru: di dalam rongga dada, di tengah antara paru-paru dekstra dan sinistra terdapat jantung. Paru-paru sinistra lebih kecil daripada paru-paru dekstra, karena bagian kiri paru-paru terdesak oleh jantung (meskipun demikian, denyut jantung tidak menganggung kerja fisiologis paru-paru, besar jantung normal* juga tidak akan menganggu denyut jantung). Paru-paru dekstra = 3 lobus Paru-paru sinistra = 2 lobus Perlu dicatat bahwa jumlah lobus juga tidak berpengaruh terhadap kerja fisiologis paru-paru Bernapas sebenarnya melibatkan dua proses: 1. Respirasi eksternal: pemasukan udara dari lingkungan luar ke dalam paru-paru, disebut EXTERNAL RESPIRATION 2. Respirasi internal: pertukaran CO2 dan O2 dari paru-paru ke jaringan atau sebaliknya, disebut INTERNAL RESPIRATION EXTERNAL RESPIRATION PROCESS

*dapat dilihat pada grafik bahwa pusat napas yang dominan adalah PUSAT INSPIRASI. Impuls yang dikeluarkan oleh stretch receptor juga merangsang pusat ekspirasi untuk mengeluarkan impuls ke otot ekspirasi (musculus intercostalis interna, diafragma), tetapi tanpa pusat ekspirasipun, pusat insipirasi sudah merangsang tulang rusuk untuk turun (see diagram) INTERNAL RESPIRATION PROCESS Yaitu terjadinya pertukaran gas dalam darah (kapilerI dan jaringan karena adanya perbedaan tekanan parsial gas-gas pernapasan Proses: P O2 di udara 160, PCO2 udara 0,3 sementara P O2 paru-paru =105 P CO2 paruparu=40 (tekana atmoser oksigen di luar lebih tinggi daripada tekanan atmosfer oksigen di dalam tubuh, sebalinya tekanan CO2 di luar lebih rendah daripada tekanan atmoser CO2 di dalam tubuh). Sementara itu,di kapiler paru-paru, P O2 =40, PCO2 = 45. Hb eritrosit dalam kapiler pulmonalis cepat melepas CO2 untuk mengikat O2, maka pada venule paru-paru P O2 = 105, P CO2 = 40. Kedua gas, O2 dan CO2 dianggap bertekanan konstan sepanjang venuleparu-paru sampai kapiler jaringan. Di sel-sel jaringan tubuh, P O2 = 40, P CO2 = 45. Hb eritrosit dalam kapiler jaringan melepas O2 dengan cepat dan mengikat CO2 dari sel jaringan, sehinga pada venule jaringan P CO2=45, P O2= 40. Tekanan udara CO2 dan O2 ini (PCO2=45, PO2=40) dianggap konstan sampai kapiler paru-paru Pada respirasi internal, terjadi pertukaran O2 dan CO2 antara alveolus menuju eritrosit melalui cavum intrapleuralis. Dengan kata lain, gas pernapasan harus melewati alveolus yang dilapisi selapis epitel, membran basal, untuk masuk ke eritrosit dalam pembuluh darah kapiler yang juga dilapisi selapis epitel kapiler.