Anda di halaman 1dari 19

MICROWAVE SEBAGAI GELOMBANG POLARISATOR 1. Tujuan Percobaan Adapun tujuan dari percobaan ini adalah 1.

Mengamati gelombang mikro yang dipancarkan oleh mikrowave trasmiter (pemancar) ke mikrowave receiver (penerima). 2. Mengetahui nilai frekuensi dari gelombang mikro yang dihalangi oleh penghalang Plat Aluminium Besar (PAB), Plat Aluminium Kecil (PAK), Plat Plastik (PP) dan kondisi polarisasi. 3. Mencari panjangn gelombang dari pancaran gelombang mikro. 4. Mencari frekuensi yang dipancarkan melalui cepat rambat bunyi di udara. 2. Dasar Teori Para ilmuwan yang pertama kali menemukan gejala polarisasi adalah Thomas Young, Dominique Francois Arago, dan A Juan Fresnel. Thomas Young berhasil meletakkan dasar eksperimen untuk menunjukkan bahwa cahaya adalah tarnsversal. Sedangkan Dominique Francois Arago dan Juan Fresnel berhasil menunjukkan adanya seberkas sinar/cahaya yang jatuh pada sebuah kristal kalsit, menghasilkan dua buah sinar yang terpisah. Ini merupakan fenomena awal ilmu pengetahuan tentang polarisasi. Suatu fenomena polarisasi adalah hanya terjadi pada gelombang transversal. Cahaya merupakan elektromegnetik yang dapat mengalami gejala polarisasi. Jadi, fenomena polarisasidapat diamati pada sinar atau cahaya. Filter polarisasi dikenal dengan nama palsoid. Contohnya antara lain cahaya matahari. Gelombang adalah merupakan suatu gangguan yang menjalar. Gelombang mikro merupakan suatu gelombang elektromegnetik yang mempunyai panjang gelombang pendek energiyang tinggi. Gelombang mikro ini dikenal juga dengan sebutan mikrowave yang mempunyai frekuensi 1x10 9 Hz sampai 3x10 11 Hz dan panjang gelombangnya dari 30cm samapai 1mm. Semua gelombang harus menunjukan peristiwa refleksi, refraksi, interferensi, difraksi dan polarisasi. Difraksi dan polarisasi di dalam cahaya sudah dibuktikan.

Gelombang bunyi merupakan gelombang transversal, dimana peristiwa refleksi, refraksidan polarisasi dapat diamati melalui medium yang dilewati( Sutrisno, 1979). Pada gelombang transversal, getarannya tegak lurus terhadap arah perambatan gelombangnya. Salah satu contohnya adalah pada gelombang yang bergerak pada bidang sinar, dimana komponen-komponen sinar tersebut bergerak pada sebuah bidang yang tegak lurus sinarnya. Hal ini juga sama dengan sebuah gelombang cahaya yang berjalan pada arah sumbu z (medan magnet gelombang cahaya tegak lurus arah z). jika getaran gelombang transversl tersebut tetap paralel terhadap garis tertentu di udara, gelombang tersebut mengalami polarisasi secara linier/garis lurus. Baik gelombang transversal maupun gelombang longitudinal, menunjukkan adanya gejala intrferensi dan difraksi. Polarisasi dapat divisualisasikan dengan membayangkan gelombang transversal pada seutas tali. Sebagian besar gelombang yang dihasilkan sumber tunggal akan terpolarisasi. Gelombang tali yang dihasilkan oleh getaran beraturan/reguler dari satu ujung tali atau gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh sebuah atom atau oleh sebuah antena terpolarisasi. Gelombang gelombang yang dihasilkan oleh banyak sumber, biasanya tidak terpolarisasi. Adanya banyak gelombang dengan arah getar yang berbeda, yang disebut dengangelombang tak terpolarisasi yaitu yang mempunyai berbagai arah getar. Gelombang yang hanya mempunyai satu arah getar disebut gelombang terpolarisasi. Sebagai contoh, suatu benda memiliki banyak arah getar yang melewati celah vertikal, dimana celah tersebut melewati gelombang yang arah getarnya vertikal. Pada suatu gelombang tali dibuat suatu lingkaran. Maka suatu tali dalam bidang tegak lurus arah jalar gelombang akan bergerak dalam suatu lingkaran. Gelombang yang terjadi dikatakan memilliki polarisasi lingkaran( Poster,1997). Untuk mencari panjang gelombang mikro yang terpolarisasi, digunakan rumus: Sin =

.(1) x

Dengan : = sudut yang dibentuk ntara garis normal dan R x

= Panjang gelombang
X = Lebar celah Sedangkan untuk mencari frekuensinya menggunakan rumus:

C = . F....(2) Dengan : C = Cepat rambat bunyi di udara (340 m/s)

= Panjang gelombang
F = frekuensi Panjang gelombang dapat diketahui degan menggunakan persamaan, dengan syarat adanya penghalang : Sin = Dengan : y = Lebar plat penghalang

..(3) y + 1,5

= Sudut yang dibentuk


= Panjang gelombang
Cara yang umum untuk menghasilkan gelombang terpolarisasi adalah menggunakan polaroid, yang akan meneruskan gelombang-gelombang yang arah getarnya sejajar dengan sumbu polarisasi dan menyerap gelombang-gelombangnya pada arah getar lain. Suatu polaroid yang ideal akan meneruskan semua komponen medan listrik E yang sejajar dengan sumbu polarisasi dan menyerap semua komponen medan listrik E yang tegak lurus polarisasinya. Untuk gelombang mikro, yaitu membuat absorpsi/penyerap selektif dengan menggunakan kiri kawat logam yang dipasang sejajar.

Gambar : kiri penghalang Medan listrik pada arah y 1 menggerakan elektron-elektron bebas dalam kawat. Elektron-elektron ini mengalami hambatan/gesekan, sehingga sebagian energi dalam komponen polarisasi linier dalam arah kawat akan hilang. Elektron-elektron yang

digerakkan pada medan listrik bergerak selaras panjang kawat akan memancarkan gelombang elektromagnetik karena dalam gerak ini elektron bergerak dipercepat. Pancaran arah ke depan bersuperposisi degan gelombang datang dari dan saling meniadakan. Sedangkan pancaran elektron arah kebelakang menjadi elektromagnetik yang dipantulkan oleh kawat-kawat sejajar. Akibatnya kawat sejajar menghilangkan komponen polarisasi arah y(Frank, 1988) Pada komponen polarisasi arah x, elektron-elektron tidak bebas bergerak, sehingga tidak ada energi yang diserap dan tidak ada gelombang elektromagnetik baru yang terpancar. Akibatnya komponen polarisasi pada gelombang datang pada arah x tidak mengalami perubahan. Gelombang elektromagnetik adalah gelombang yang merambat tanpa memerlukan medium. Menurut Hertz, bahwa gelombang elektromagnetik dapat menunjukkan gejala terpolarisasi sehingga gelombang elektromagnetik merupakan gelombang transversal. Kelajuan akan menurun jika memasukki suatu medium atau zat. Difraksi adalah peristiwa pelenturan gelombang elektromagnetik ketika gelombang dirintangi/dihalangi celah sempit(Sutrisno, 1979). 3. Metodologi 3.1. Alat dan Bahan Adapun alat dan bahan yang digunakan, diantaranya 1. Satu buah kisi penghalang Berfungsi sebagai peghalang gelombang mikro yang dipancarkan oleh transmitter (pemancar). 2. Satu buah mikrowave transmitter (pemancar) Berfungsi sebagai pemancar gelombang mikro. 3. Satu buah mikrowave receiver (penerima) Berfungsi sebagai penerima gelombang micro. 4. Satu buah plat palstik Berfungsi sebagai penghalang gelombang micro. 5. Satu buah plat aluminium kecil dan dua buah plat aluminium besar

Berfungsi sebagai penghalang gelombang micro. 6. Dua buah kedudukan plat penghalang Berfungsi untuk kedudukan penghalang agar tidak jatuh. 7. Satu buah penggaris Berfungsi untuk mengukur jarak antar microwave transmitter dan microwave receiver. 3.2. Prosedur Kerja 1. Pengamatan satu (mencari nilai frekuensi dari gelombang mikro Langkah-langkah yang akan dilakukan : a. microwave transmitter diletakkan berhadapan dengan microwave receiver dengan jarak 80 cm. b. plat aluminium besar (PBA) diletakkan sebagai penghalang diantara R x dan T x . c. Nilai frekuensi dilihat pada R x dilihat. d. Nilai yang dilihat dicatat pada tabel. e. Plat aluminium besar (PBA) diganti dengan plat plastik (PP). f. Ulangi seperti pada percobaan c dan amati serta catat nilai yang diperoleh. 2. Pengamatan dua (mencari nilai frekuensi dan gelombang micro dengan penghalang plastik). Langkah-langkah yang dilakukan : a. Garis-garis normal dibuat b. Dengan jarak 50 cm plat plastik diletakan sebagai penghalang dari T x . c. Sudut 1 dibentuk dari garis normal. d. Receiver (penerima) diletakkan seperti gambar 2 pada kedudukkan satu

Gambar 2. gelombang micro dengan penghalang Plastik (PP) e. Penerima (R x ) digerakkan ke kiri dan ke kanan sampai jarum PD angka yang besar. f. Jarak R x diatur terhadap titik normal sejauh 50 cm g. Pada sudut 2 diukur h. Hasil yang didapat dicatat pada tabel i. Nilai sudut 1 dan sudut 2 dibandingkan j. Dibuat kesimpulan k. R x diletakkan pada tempat kedudukkan dua l. Jarum meter penerima R x dilihat m. Dari hasil yang didapat dibuat kesimpulan dan hasil dari pengamatan diatas n. Langkah diatas diulangi dengan mengubah nilai 1 sebanyak 4 kali. 3. Pengamatan tiga (difraksi celah) Langkah-langkah yang dilakukan a. Dua buah plat aluminium besar (PBA) diletakkan dengan membentuk celah x selebar 3 cm b. Pemancar T x diletakkan sejauh 50 cm dari tengah-tengah c. Pemancar T x diletakkan sejauh 50 cm dari tengah-tengah celah dengan AR x berhadapan dengan AT x dari T x d. Penunjukan jarum PD diamati dan dicatat hasilnya. e. Penerima R x digerakkan kearah 1 pada gambar 3 f. Sudut yang terbentuk dicatat untuk R x mula-mula g. Penerima R x digerakkan kearah dua h. Sudut yang dibentuk dicatat untuk kedudukan R mula-mula i. Jarak R x diatur agar tetap 50cm

j. Nilai pada sudut 1 dan 2 dibedakan k. Panjang gelombangnya dihitung l. Diulangi langkah diatas dengan mengubah lebar celah x menjadi 1,5 cm, 6cm, dan 12 cm m. Dapat dibuat kesimpulan dari percobaan ini

Gambar 3. difraksi celah 4. pengamatan percobaan Young Langkah-langkah yang dilakukan a. PAB dan PAK diletakkan sepeti gambar 4 dengan membentuk celah b. Pemancar T x dan penerima R x diletakkan dengan jarak seperti gambar 4 c.Penunjukkan PD dicatat pada tabel d.R x digerakkan kearah satu seperti pada gambar 4 sampai jarum PD menunjukan nilai minimum petama

e.Sudut yang dibentuk dicatat dengan kedudukkan R x mula-mula f. R x digerakkan kearah dua seperti gambar 4 sampai jarum PD menunjukkan nilai minimum pertama g.Sudut yang dibentuk dicatat dengan kedudukkan R x mula-mula h.Diusahakan jarak antara R x dengan tengah-tengah PAK tidak berubah i. perbedaan antara sudut 1 dan sudut 2 diamati j. Panjang gelombang micro diambil kesimpulan dan dihitung k.Pengamatan diatas dibuat suatu kesimpulan

Gambar 4. Percobaan young 4. Pengamatan menggunakan polarisasi Langkah-langkah yang akan dilakukan a.Pemancar T x diletakkan berhadapan dengan menerima R x dengan jarak 60 cm b.Jarum pada R x diamati c. Kisi-kisi tegak lurus diletakkan pada bidang meja seprti gambar 5.1 d. Jarum penunjuk PD diamati e. KL dan kisi-kisinya diletakkan sejajar dengan bidang meja seperti gambar 5.2 f. Penunjukkan jarum PD dibuat g. Dibuat kesimpulan

Gambar 5.1. tegak lurus bidang meja

Gambar 5.2. Sejajar bidang meja 4. Hasil dan Pembahasan 4.1. Data hasil percobaan 4.1.1. Percobaan 1 dengan menggunakan penghalang PAB dan PP Tabel 1. menggunakan penghalang Penghalang Aluminium Besar dan Penghalang Plastik. Pengamatan Tanpa penghalanh Plat Palstik Plat aluminium Besar Frekuensi 3,8 GHz 2,5 GHz 0 GHz

4.1.2. Percobaan 2 dengan transmisi dan pemantulan gelombang Tabel 2. Transmisi dan pemantulan gelombang Jarak T x dengan titik normal 10 20 30 40 0 10 20 25

Kedudukan 1 jarumPD

Kedudukan 2 jarumPD 2,2 GHz 2 GHz 1,8 GHz 1,8 GHz

10 15 20 25

0,2 GHz 0,1 GHz 0.1 GHz 0 GHz

4.1.3. Percobaan 3 dengan difraksi 4.1.3.1. Jarak celah 1,5 cm R x tidak menerima frekuensi T x 4.1.3.2. Jarak celah 3 cm

Tabel 3. Difraksi celah dengan jarak celah 3 cm Jarak T


x

Kedudukan Kedudukan 1 II

Panjang gelombang ( )

Frekuens i (F)

dengan titik normal 50 cm 50 cm 50 cm 50 cm 50 cm 0 10 20 30 40 0 10 20 30 40 0 0,2 GHz 0,1 GHz 0.1 GHz 0 GHz 0 2,2 GHz 2 GHz 1,8 GHz 1,8 GHz 0m 5,2 .10 3 m 10,3 .10 3 m 15 .10 3 m 19,3 .10 3 m 0 5,8 .10 10 2,9 .10 10 2 .10 10 1,6 .10 10

4.1.3.3. Jarak celah 6 cm Tabel 4. Difraksi celah dengan jarak celah 6 cm Jarak T
x

Kedudukan Kedudukan Panjang gelombang ( 1 II )

Frekuens i (F)

dengan titik normal 50 cm 50 cm 50 cm 50 cm 50 cm 0 10 15 20 25 0 10 15 20 25 1,8 GHz 1,8 GHz 1,5 GHz 1,2 GHz 0,8 GHz 1,8 GHz 1,8 GHz 1,5 GHz 1,2 GHz 0,8 GHz 0m 10,4 .10 3 m 20,5 .10 3 m 30.10 3 m 38,6 .10 3 m 0 2,9 .10 10 1,5 .10 10 1 .10 10 0,78.10
10

4.1.3.4. Lebar celah 12 cm Tabel 5. Difraksi celah dengan jarak celah 12 cm Jarak T
x

Kedudukan Kedudukan Panjang gelombang ( 1 II )

Frekuens i (F)

dengan titik

normal 50 cm 50 cm 50 cm 50 cm 50 cm

0 10 15 20 25

0 10 15 20 25

5,5 GHz 5,4 GHz 5,2 GHz 5 GHz 4,2 GHz

5,5 GHz 5,4 GHz 5,2 GHz 5 GHz 4,2 GHz

0m 20,8 .10 3 m 41,0 .10 3 m 60.10 3 m 77,1 .10 3 m

0 1,4.10 10 0,73.10
10

0,5.10 10 0,3.10 10

4.1.4. Percobaan Young Tabel 6. Percobaan Young Jarak Tx 75 cm 75 cm 75 cm 75 cm 75 cm 4.1.5 Tx 60 cm Jarak Rx 40 cm 40 cm 40 cm 40 cm 40 cm

1
0 10 15 20 25

1
0 10 15 20 25

Rx 1 0,4 GHz 0,2 GHz 0 GHz 0 GHz 0 GHz

Rx 2 0,4 GHz 0,2 GHz 0 GHz 0 GHz 0 GHz

Panjang gelombang ( ) 0 0,27 m 0,53 m 0,78 m 1,003 m

Percobaan Menggunakan Polarisasi Rx 60 cm Tegak Lurus 0 Sejajar 2,5 GHz

Tabel 7. Menggunakan Polarisasi

4.2. Pengolahan Data 5.2.1. Pengolahan Data untuk Percobaan 3 Pada percobaan 3, yang dihitung adalah panjang gelombang micro yang dipancarakan oleh transmitter (pemancar). Adapun persamaan yang digunakan adalah persamaan 1, dimana sin =

. x

5.2.1.1. Contoh perhitungan panjang gelombang dengan menggunakan persamaan 1, dengan sin =

. x

1. diketahui : = 30 ditanya = jawab x = 3 cm = 3x10 2 m

= sin . x
= 30 . 3.10 2 = 0,5 .3.10 2 = 15 x 10 4 m Setelah mendapatkan nilai dari panjang gelombang, maka akan dihitung frekuensi yang menggunakan persamaan 2, yaitu c = . f Salah satu Contoh perhitungan untuk mencari frekuensi. diketahui : c = 340

= 126 x 10 4
ditanya = f jawab f= = c 340 15 x10 4

= 2 .10 4 Hz 5.2.1.2 Pengolahan data untuk percobaan Young Pada percobaan Young yang dicari adalah panjang gelombang micro yang dipancarkan oleh transmitter. Persamaan yang digunakan adalah persamaan 3 yaitu Sin =

. Dengan y adalah lebar plat kecil. y + 1,5

diketahui : y = 6 cm = 6x10 2

= 30
ditanya = jawab

= sin . (y + 1,5)
= sin 30 . 1,56

= 0,5 . 1,56 = 0,78 m 1. Perhitungan Ralat nilai frekuensi untuk data tunggal pada percobaan dengan difraksi celah dengan lebar celah 3 cm. Pada sudut 10 . Dik : C = 3.10 8 m/s X = 3 cm = 0.03 m F = 5,8 .10 10 NST Busur =1 NST penggaris = 0,001 m (NST 2)

= 10
Jawab : f = ((-cos

c 2 c 1 1 ) +( ((- 2 )) 2 ( NST 2) 2 ) 1 / 2 x sin 2 x

3.10 8 2 1 3.10 8 = (-cos 10 . ) ( .1 ) 2 +( ( 0,03 2 sin 10

1 1 2 0,001) 1 / 2 2 ) ( (0,03) 2

= (-(0,98 .10 10 ) 2 (0,5) 2 + (17,6 .10 8 (-0,1 .10 4 ) 2 (5.10 4 ) 2 )1 / 2 = (0,96 .10 20 )(0,25)+(-1,76.10 4 ) 2 (25.10 8 ) 1 / 2 = (0,96. 10 20 )(0,25)+(3,1.10 8 )(25.10 8 )1 / 2 = (0,24 . 10 20 + 77,5) 1 / 2 =(77,74.10 20 ) 1 / 2 f = 77,74.10 20 f = 8,82.10 10 Nz Ralat mutlak = ( f f ) = (5,8 .10 10 8,82.1010 ) f x100% f

Ralat Risbi

8,82.1010 x10% 5,8.1010

= 1,5 % 2. Perhitungan Ralat nilai frekuensi untuk data tunggal pada percobaan dengan difraksi celah dengan lebar celah 3 cm. Pada sudut 20 . Dik : C = 3.10 8 m/s X = 3 cm = 0.03 m F = 2,9 .10 10 NST Busur =1 NST penggaris = 0,001 m (NST 2)

= 20
Jawab : f = ((-cos

c 2 c 1 1 ) +( ((- 2 )) 2 ( NST 2) 2 ) 1 / 2 x sin 2 x

= (-cos 20 .

3.10 8 2 1 3.10 8 .1 ) 2 +( ) ( ( 0,03 2 sin 20

1 1 ) 2 ( 0,001) 1 / 2 (0,03) 2 2

= (-(0,93 .10 10 ) 2 (0,5) 2 + (8,82 .10 8 (-0,1 .10 4 ) 2 (5.10 4 ) 2 )1 / 2 = (0,86 .10 20 )(0,25)+(-882.10 4 ) 2 (25.10 8 ) 1 / 2 = (0,86. 10 20 )(0,25)+(7,77.10 8 )(25.10 8 )1 / 2 = (0,21 . 10 20 + 194) 1 / 2 = (194,21.10 20 )1 / 2 f = 194,21.10 20 f = 13,93.10 10 Nz Ralat mutlak = ( f f ) = (2,9 .10 10 13,93.1010 )

Ralat Risbi

f x100% f 13,93.1010 x10% 2,9.1010

= 480 % 3. Perhitungan Ralat nilai frekuensi untuk data tunggal pada percobaan dengan difraksi celah dengan lebar celah 3 cm. Pada sudut 30 . Dik : C = 3.10 8 m/s X = 3 cm = 0.03 m F = 2.10 10 NST Busur =1 NST penggaris = 0,001 m (NST 2)

= 30
Jawab : f = ((-cos

c 2 c 1 1 ) +( ((- 2 )) 2 ( NST 2) 2 ) 1 / 2 x sin 2 x

= (-cos 30 .

3.10 8 2 1 3.10 8 .1 ) 2 +( ) ( ( 0,03 2 sin 30

1 1 ) 2 ( 0,001) 1 / 2 (0,03) 2 2

= (-(0,86 .10 10 ) 2 (0,5) 2 + (6 .10 8 (-0,1 .10 4 ) 2 (5.10 4 ) 2 )1 / 2 = (0,73 .10 20 )(0,25)+(-6.10 4 ) 2 (25.10 8 ) 1 / 2 = (0,73. 10 20 )(0,25)+(3,6.10 8 )(25.10 8 )1 / 2 = (1,82 . 10 20 + 90) 1 / 2 = (91,82 .10 20 ) 1 / 2 f = 91,82.10 20 f = 9,58.10 10 Nz Ralat mutlak = ( f f ) = (2 .10 10 9,58.1010 )

Ralat Risbi

f x100% f 9,58.1010 x10% 2.1010

= 47 % 4. Perhitungan Ralat nilai frekuensi untuk data tunggal pada percobaan dengan difraksi celah dengan lebar celah 3 cm. Pada sudut 40 . Dik : C = 3.10 8 m/s X = 3 cm = 0.03 m F = 1,6.10 10 NST Busur =1 NST penggaris = 0,001 m (NST 2)

= 40
Jawab : f = ((-cos

c 2 c 1 1 ) +( ((- 2 )) 2 ( NST 2) 2 ) 1 / 2 x sin 2 x 3.10 8 2 1 3.10 8 ) ( .1 ) 2 +( ( 0,03 2 sin 40 1 1 2 0,001) 1 / 2 2 ) ( (0,03) 2

= (-cos 40 .

= (-(0,75 .10 10 ) 2 (0,5) 2 + (4,68 .10 8 (-0,1 .10 4 ) 2 (5.10 4 ) 2 )1 / 2 = (0,56 .10 20 )(0,25)+(-4,68.10 4 ) 2 (25.10 8 ) 1 / 2 = (0,56. 10 20 )(0,25)+(219.10 8 )(25.10 8 )1 / 2 = (0,14 . 10 20 + 547) 1 / 2 = (547 .10 20 ) 1 / 2 f = 547.10 20 f = 2,33.10 10 Nz Ralat mutlak = ( f f ) = (1,6 .10 10 2,33.1010 )

Ralat Risbi

f x100% f 2,33.1010 x10% 1,6.1010

= 145 % 4.3. Pembahasan Dari data yang diperoleh, frekuensi yang diterima oleh receiver tanpa penghalang adalah 4 GHz. Menggunakan plat plastik, frekuensi yang diterima receiver 3 GHz. Pada saat plat plastik dipasang sebagai penghalang gelombang yang diserap dari sebagian lagi diteruskan kebagian receiver. Dan begitu juga degan penghalang Plat Aluminium Besar (PBA), sebagian besar gelombang yasng dipancarkan oleh transmitter diserap dan sedikit diteruskan kebagian receiver, sehingga mendekati nol. Hal ini dikarenakan Plat Aluminium Besar memiliki kepadatan yang tinggi dan mempunyai kerapatan yang besar, sehingga gelombang micro tidak bisa menembus. Pada percobaan transmisi dan pemantulan gelombang, besarnya sudut 1 dan 2 terhadap garis normal akan berpengaruh terhadap nilai dan frekuensi yang diterima oleh receiver. Pada percobaan ini terlihat bahwa semakin besar sudut yang dibentukmaka kecil frekuensi yang diterima. Berlaku pada kedudukan yang 1, pada kedudukan yang keII penerimaan frekuensinya kecil. Hal ini terjadi karena gelombang micro yang dipancarkan oleh transmitter ini lebih banyak ditransmisikan dari pada yang dipantulkan. dengan begitu, besarnya gelombang yang ditransmisikandan dipantulkan juga bergantung dengan sudut yang dibentuk. Pada percobaan 3 ini menggunakan difraksi celah. Yang menggunakan lebar celah 1,5 Rx tidak menerima frekuensi Tx. Karena tidak bisanya frekuensi dibaca pada receiver. Pada celah 12 cm yang digunakan jarak atau lebar celah, sangat berpengaruholeh frekuensi gelombang micro yang diterima oleh reciver, semakin besar nilai lebar jarak celah, maka semakin besar frekuensi yang diterima.

Pada percobaan Young yang menggunakan celah ganda hanya pada sudut 0

dan 10 , kareana pada sudut 0 dan 10 y6ang mempunyai frekuensi pada Rx 1 .

Untuk sudut 15 ,20 dan 25 gelombang terhalang plat aluminium yang berbeda diantara 2 celah. Pada percobaan yang menggunakan polarisasi, digunakan kisi yang dipasang tengak lurus, gelombang yang diterima sebesar 0 GHz. Sedangkan dengan menggunkan kisi dipasang sejajar, gelombang yang diterima receiver sebasar 2,5 GHz. Pada gelombang yang diterima oleh receiver dengan kisi yang tegak lurus terhadap bidang datar lebih kecil dari pada kisi yang sejajar 5. Kesimpulan dan Saran 5.1. Kesimpulan Adapun yang dapat diambil kesimpulan adalah 1. Bila gelombang mikro dipancarkan oleh transmitter dan dihalangi oleh penghalang aluminium besar, frekuensi yang dihasilkan sebesar 0 GHz., dan digunakannya penghalang plat plastik, frekuensinnya sebesar 2,5 GHz dan tanpa penghalang sebesar 3,8 GHz. Pada plat aluminium besar mempunyai kepadatan yang tinggi dan kerapatan yang besar. 2. Panjang gelombang dari pancaran gelombang dapat dicari dengan menggunakan rumus sin =

. Dengan adalah sudut dan x adalah lebar celah antar plat. x

3. Dengan panjang gelombang sudah diketahui, maka mencari nilai frekuensi dipancarkan melalui cepat rambat bunyi diudara menggunakan rumus c = . f 4. Percobaan Young, menentukan panjang gelombang mikro dengan menggunakan rumus sin =

. y + 1,5

5. Difraksi celah yang menggunakan lebar 1,5 cm, Rx tidak menerima TX 6. pada transmisi dan pemantulan gelombang, penunjukkan jurum PD Rx dikedudukan I dan kedudukan II berbeda

7. Pada lebar celah mempengaruhi frekuensi gelombang mikro yang diterima pada receiver. 8. Pada besarnya 1 dan 2 terhadap garis norma berpengaruh terhadap besarnya frekuensi yang diterima oleh receiver

5. 2. Saran Adapun saran yang diberikan 1. Dalam mengukur jarak antara tansmitter dan reveiver harus tepat. 2. Dalam menentukan sudut harus tepat 3. Harus teliti dalam membaca skala pada transmitter.

DAFTAR PUSTAKA Frank, Crowford.. Waves. Volume 3 Poster. 1997. Terpadu Fisika. Jilid 3. Erlangga : Jakarta. Sutrisno. 1979. Gelombang dan Optik. ITB : Bandung