Anda di halaman 1dari 12

TEORI PSIKODINAMIS: (TEORI PSIKOANALISIS KEPRIBADIAN FREUD APLIKASI DAN EVALUASI TEORI FREUD) STRUKTUR Unit structural yang

digunakan teori psikoanalisis untuk menilai perilaku manusia, Freud bukan hanya memberikan satu model, tetapi dua model struktur pikiran. Kedua model itu berkaitan amat erat. Salah satunya berkaitan dengan pertanyaan level kesadaran: apakah isi dari pikiran adalah sesuatu yang kita sadari (sadar) atau tidak (yang tidak disadari)? Metode lainnya berkaitan dengan system fungsional dalam pikiran, yaitu model tiga bagian Freud yang terkenal: id, ego, dan super ego. Pertama kita akan mengulas tentang level kesadaran dan konsep bawah sadar kemudian kembali ke model fungsional kepribadian Freud. Level kesadaran. Menurut teori psikoanalisis, kehidupan fisik dapat dideskripsikan sebagai tingkat dimana kita sadar akan fenomena mental. Ada tiga level kesadaran: level sadar (conscious) mencakup fenomena yang kita sadari ketika terjadi; misalnya, isi dari informasi mengenai Freud yang sedang Anda baca merupakan bagian dari kesadaran Anda. Setengah sadar atau pra-kesadaran (preconsious) merujuk kepada konten mental yang dapat kita sadari jika berhubungan dengannya. Misalnya, sebelum membaca kalimat berikut Anda mungkin tidak memikirkan nomor telepon Anda; hal tersebut bukan merupakan bagian dari kesadaran Anda. Level kesadaran ketiga adalah bawah sadar (unconscious). Konten mental bawah sadar merupakan bagian dari pikiran yang tidak kita sadari dan tidak dapat kita sadari kecuali dalam kondisi khusus. Teori psikoanalisis memberikan perhatian khusus terhadap konten bawah sadar karena isinya bisa membangkitkan kecemasan. Ide dasar teori psikoanalisis adalah kita bertjuan melindungi diri kita dari kecemasan yang berkaitan dengan beberapa pikiran dan hasrat kita dan mencapai tujuan ini dengan menjaga ide ini diluar kesadaran, memendamnya dalam bawah sadar. Pada tahun 1933, Freud mengembangkan model structural lebih formal bagi psikoanalisis. model tersebut mengetengahkan tiga struktur kepribadian: id, ego dan superego. Tiap struktur tersebut merujuk kepada aspek yang berbeda dari kerja manusia. Id mempresentasikan sumber semua energy. Energy bagi seseorang untuk berfungsi asalnya terletak dalam kehidupan dan kematian atau insting seksual dan agresi, yang merupakan

bagian dari id. Id berfungsi melepaskan rangsangan, ketegangan dan energy. Dia beroperasi menurut prinsip kesenangan: Id mengejar kesenangan dan menghindari rasa sakit. Dia tidak disertai dengan alasan, logika, nilai, moral atau etika. Ringkasnya, id bersifat menuntut, impulsif, buta, irasional, asocial, egois dan menyukai kesenangan. Yang berlawanan dengan id adalah superego, yang mempresentasikan aspek moral kita. Superego, merupakan reprensentasi internal aturan moral dunia sosial dan eksternal. Dia berfungsi mengontrol perilaku sesuai dengan aturan-aturan ini, memberikan imbalan (rasa bangga, menyukai diri sendiri) bagi perilaku baik dan hukuman (rasa bersalah, merasa inferior) untuk perilaku yang buruk. Struktur psikoanalitis ketiga adalah ego. Jika id mencari kesenangan dan superego mencari kesempurnaan, ego mencari realitas. Fungsi ego adalah untuk mengekspresikan dan memuaskan hasrat id sesuai dengan dua hal: peluang dan hambatan yang ada di dunia nyata, dan tuntutan superego. Id bekerja sesuai dengan prinsip kesenangan, sedangkan ego beroperasi sesuai dengan prinsip realitas: gratifikasi insting ditunda sampai kenyataan memungkinkan seseorang untuk mendapatkan kesenangan maksimum dengan rasa sakit atau konsekuensi negative maksimum. Ego dapat memisahkan antara keinginan dari fantasi, dapat menoleransi keterangan dan kompromi dan perubahan dari waktu ke waktu. Berkaitan dengan hal tersebut, ego mengekspresikan perkembangan keterampilan perceptual dan kognitif, kemampuan untuk merasakan lebih dan berpikir dalam kerangka yang lebih

kompleks. Ringkasnya, ego Freud bersifat logis, rasional dan toleran terhadap tegangan. Dan dalam tindakannya, ego dikontrol oleh tiga tuan: id, superego dan dunia nyata. Konsep sadar, bawah sadar, id, ego dan superego amat abstrak dan tidak selalu didefinisikan dengan amat tepat. Menurut teori tersebut, ada kualitas perilaku manusia yang dikonseptualisasikan dalam terminology structural ini. Struktur mendapat definisi terbaiknya dalam hubungan dengan proses yang terjadi dalam diri mereka. PROSES Teori kepribadian mengandung dua bagian: analisis struktur kepribadian dan proses kepribadian. Id, ego dan superego merupakan struktur kepribadian yang dikonseptualisasikan system mental jangka panjang. Sekarang akan kita bahas aspek proses dari teori psikoanalisis, yaitu: konseptualisasi dinamis motivasionalnya.

Insting Hidup dan Mati Insting untuk hidup mengandung dorongan yang diasosiasikan dengan insting ego dan seksual; dengan kata lain, insting untuk hidup mendorong orang untuk menjaga aspek keberlangsungan hidup dan reproduksi organisme. Freud memberikan nama kepada energy insting untuk hidup dengan: libido. Insting kematian sangat berbeda dengan insting kehidupan. Perbedaan tersebut terletak pada tujuan organisme untuk mati atau kembali kepada kondisi organis. (Tidak ada nama yang dapat secara umum diasosiasikan dengan energy insting kematian). Pada level intuitif, akan segera terbesit dalam benak kita bahwa ide insting kematian adalah sesuatu yang aneh, jika tidak dapat dikatakan tidak rasional. Freud merasa bahwa insting kematian sering kali dihindari dan dialihkan ke orang lain dalam bentuk agresi. Ini sering terjadi sehingga beberapa analisis menganggap insting tersebut sebagai insting agresif. Model pemrosesan motivasi ini amat terintegrasi dengan model struktur psikoanalisis Freud. Dorongan seksual dan kematian/agresif merupakan bagian dari salah satu struktur psikoanalitis yang disebut: id. Id merupakan struktur kepribadian pertama yaitu yang menyertai kelahiran kita. Dengan demikian, sebagai implikasinya, dorongan seksual dan agresi merupakan bagian dari karakter alamiah manusia yang bersifat bawaan. Kita tidak harus belajar memiliki dorongan seksual dan kematian/agresi. Bagi Freud, kehidupan psikologi kita disokong secara esensial oleh dua dorongan dasar ini. Dinamika Fungsi Dalam dinamika fungsi ini, apa yang sebenarnya terjadi pada insting seseorang? Insting paling tidak untuk sementara waktu, dapat dicegah untuk berekspresi, dapat diekspresikan dengan modifikasi, atau diekspresikan tanpa modifikasi. Sebagai missal, afeksi mungkin merupakan ekspresi insting seksual yang telah dimodifikasi, dan sarkasme merupakan ekspresi insting agresi yang telah dimodifikasi. Penghambat pemuasan insting adalah rasa cemas, Freud membaginya dalam dua teori yaitu; pertama, rasa cemas dipandang sebagai hasil impuls seksual yang tidak tersalurkanlibido yang terbendung. Dalam teori berikutnya, rasa cemas adalah emosi menyakitkan yang bertindak sebagai sinyal adanya ancaman bahaya bagi ego. Disini rasa cemas, yang merupakan fungsi ego, memberi peringatan kepada ego agar ego dapat melakukan sesuatu.

Kecemasan, mekaniseme pertahanan Rasa cemas merupakan kondisi yang meneydihkan sehingga kita tidak dapat mentoleransinya untuk waktu yang lama. Bagaiaman kita mengatur untuk tidak merasa cemas sepanjang waktu? Jawaban Freud terhadap pertanyaan ini menjadi salah satu aspek paling kekal ari teori kepribadiannya. Dia menyatakan bahwa kita secara mental menahan diri kita terhadap pemikiran yang memprovokasi rasa cemas. Orang mengembangkan mekanisme pertahanan terhadap rasa cemas. Penyangkalan/ penolakan Mekanisme pertahanan yang amat sederhana adalah penyangkalan/penolakan (denial). Dalam pikiran sadar mereka, orang bisa saja menyangkal keberadaan fakta traumatis atau fakta yang tidak dapat diterima secara sosial; ada fakta yang begitu buruk sehingga menolak bahwa fakta tersebut benar adanya. Sebagai contoh; Pertahanan ini dapat disaksikan dalam diri orang Yahudi yang menjadi korban Nazi. Staeiner (1966), dalam bukunya yang berkaitan dengan kamp konsentrasi Nazi di Treblinka, mendeskripsikan bagaimana populasi yang ada didalamnya terbuat seolah kematian itu tidak ada, walaupun bukti yang ada menunjukkan kebalikannya. Dia mencatat bahwa aksi pembantaian Yahudi sulit untuk dibayangkan sehingga tidak dapat diterima oleh orang orang tersebut. Mereka memilih menerima kebohongan ketimbang menanggung trauma kebenaran yang menyayat. PROYEKSI. Mekanisme pertahanan yang relatif primitif adalah proyeksi. Dalam proyeksi apa yang bersifat internal dan tidak dapat diterima diproyeksikan keluar dan dipandang sebagai sesuatu yang eksternal. Orang menyangkal kualitas diri mereka yang negatif dengan cara memproyeksikan kualitas tersebut kepada orang lain. Contohnya, alih alih mengakui sifat bermusuhan diri sendiri, individu justru memandang orang lain yang bersikap bermusushan. Kembali kepada contoh kita, jika malas muncul dengan cepat dalam pikiran anda, dan anda melihat seseorang duduk di pantai pada hari kerja, anda mungkin menymimpulkan bahwa mereka adalah pemalas. Sebalinya orang lain mungkin hanya menyimpulkan orang tersebut sedang bersantai bukan malas.

ISOLASI, REAKSI, FORMASI, DAN SUBLIMASI. Dalam isolasi, impuls, pikiran atau tindakan tidak menolak akses kepada kesadaran, tetapi menolak emosi yang biasa menyertainya. Misalnya, seorang wanita bisa saja mengalami pemikiran atau fantaasi mempertahankan anaknya tanpa disertai perasaan marah. Dalam formasi reaksi, individu bertahan dari ekspresi impuls yang tidak dapat diterima dengan hanya mengakui dan mengekpresikan kebalikannya. Formasi reaksi sebagian besar dapat diobservasi secara jelas ketika pertahanan menurun, seperti kasus seorang tokoh agama yang saleh terlibat dalam perilaku seksual yang tidak pantas. Mekanisme pertahanan yang mungkin anda sadari dalam diri anda sendiri adalah rasionalisasi.melalui rasionalisasi, orang tidak begitu saja menyangkal pemikiran atau tindakan yang muncul. Yang menarik adalah dengan rasionalisasi, seorang individu dapat mengekspresikan impuls yang berbahaya, yang tampaknya tanpa persetujuan superego. Beberapa tindakan kejam manusia dilakukan atas nama cinta. Perangkat lain yang digunakan mengekspresikan impuls id dalam cara yanng bebas dari rasa cemas adalah sublimasi. Dan perrtahanan yang palaing utama pada teori psikoanalitis; repreasi. Dalam studi represi subjek diminta untuk mengingat kembali kenangan masa anak anaknya yang diasosiasikan dengan kelima emosi(gembira, sedih, marah, takut dan ragu). PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN Perkembangan Proses Pemikiran: dimana menitiberatkan pada dua perubahan yaitu dari pemikiran primer ke pemikiran sekunder. Pemikiran primer adalah bahasa bawah sadar dimana realitas dan fantasi tidak dapat dibedakan. Pemikiran sekunder adalah bahasa kesadaran dan uji realitas. Perkembangan Insting: sumber insting adalah kondisi ketegangan tubuh, yang cenderung fokus pada bagian tubuh tertentu yaitu erogenous zones. Erogenous zone pertama adalah mulut, kedua anus, dan ketiga genital. Pertumbuhan mental dan emosional anak tergantung pada interaksi sosial, kecemasan dan gratifikasi yang terjadi dalam hubungannya dengan berbagai zona ini. TAHAP TAHAP PERKEMBANGAN. a. Tahap oral; berupa gairah, sensitiviotas, dan energi adalah mulut. Dimana pertama terjadi pada bayi yang menyusui, menghisap jari, dan gerakan mulut yang lain.

b. Tahap anal; usia dua dan tiga tahun, dimana muncul ketertarikan kepada anus dan pada gerakan feces melalui saluran anal. c. Tahap phallic; usia empat dan lima tahun, seorang anak laki laki yang mulai menyadari perbedaannya dengan perempuan, dan merasa sang ayah sebagai musuh dalam mendapatkan kasih sayang ibunya. d. Tahap latensi; asumsi penurunan dorongan dan ketertarikan seksual sepanjang usia 6 sampai 13 tahun mungkin sesuai dengan observasi terhadap anak anak. e. Tahap genital; masa awal puber, denga kebangkitan kembali dorongan seksual perasaan oedipal. NILAI PENTING PENGALAMAN AWAL. Teori psikoanalitis memberikan perhatian besar pada peran peristiwa dalam kehidupan awal bagi perkembangan kepribadian di kemudian hari. Banyak kehidupan orang dewasa yang merupakan pengulangan dari tahap awal perkembangan. Sebagai contoh kasus; seorang bayi bernama jenny yang trauma karena perlakuan pelecehan dari ayahnya yang terjadi pada usia 3 bulan dimana dalam keadaan lengan patah dan tengkorak yang retak. Yang dimana awal pembentukan perkembangannya. Sehingga perlakuan itu membuat dia trauma. Dengan berbagai macam penyembuhan akhirnya jenny pun kembali menjadi gadis yang lucu dan sudah tidak takut dengan laki laki asing. Dan pada usia 20 bulan dia tumbuh normal walau terkadang masih terdapat masalah dengan kemarahan dan kesedihannya. TEORI PSIKODINAMIS: APLIKASI DAN EVALUASI TEORI FREUD A. APLIKASI KLINIS PSIKONALISIS adalah teori klinis tentang kepribadiaan yang fokus pada studi terhadap manusia secara intensif.teori ini menekankan pada proses bawah sadar dan hubungan antarmotif-motif.untuk mendapatkan teori yang bermanfaat,kitaharus

menghubungkan ide-ide abstarak denganprosedur konkret untuk menilai kepribadan dan perawatan psikopatologi. Kita mulai dengan penilaian problem, dan usulan solusi yang diberikan oleh tes proyektif PENILAIAN: TES PROYEKTIF. Fitur khusus tes proyektif adalah item tes ini diminta untuk menginterpretasikan stimuli tersebut,dengan kata lain,menyatakan apa makna item tersebut menurut pendapat

mereka.interpretasi siswa diharpkan akan menggungkap berbagai aspek kepribadian peserta tes.biasanya orang berusaha sejelas mungkin dalam menulis item kuesionar.bagi kuesionar biasa,item seperti,Apakah Anda menyukai sesuatu? akan menjadi item tes yang buruk karena amat ambigu,sehingga peserta tes akan bertanya Apa maksud anda?.akan tetapi dalam tes proyektif, ambiguitas inilah yang menjadi titik utama tes tersebut. Penggunaan tes yang akan memberikan wawasn terhadap dunia makna dan perasaan pribadi seseorang.tes semacam itu akan memungkinkan seseorang untuk menggunakan struktur dan organisasinya sendiri terhadap stimuli dan karena itu akan mengespresikan konsepsi kepribadian yang dinamis Kaitan teori proyektif dengan tes proyektif ini adalah sebagai berikut: 1. Teori psikonalitis menekankan perbedaan individual dan organisasi aktivitas kepribadian yang kompleks 2. Teori psikonalitis menekankan nilai penting bawah sadar dan mekanisme pertahanan 3. Teori psikonalitis menekankan pemahaman kepribadian menyeluruh dalam kerangka hubungan antara bagian-bagianya,bukan interpretasi perilaku sebagai ekspresi satu bagian atau karakteristik kepribadian. THE RORSCHACH INKBLOT TEST Walaupun noda tinta (inkblot) telah digunakan sebelumnya, adalah herman Rorschach, psikiatris swiss, yang pertama kali memanfaatkan secara penuh potensi penggunaan stimuli ini untuk penilaian kepribadian.Rorschach meneteskan tinta pada kertas dan kemudian melipatnya sehingga dihasilkan bentuk simetris tidak beraturan.nida tinta ini kemudian ditunjukan kepada pasien rumah sakit.melalui proses trial and error,noda tinta yang mendatangkan respons yang berbeda dari kelompok psikiatri yang berbeda disimpan,sedangkan yang tidak dibuang.dia bereksperimen dengan ribuan noda tinta dan pada akhirnya menetapkan 10,oleh karena itu tes trsebut terdiri dari 10 kartu yang berisi noda tinta ini. Rorshach menguasai karya freud,konsep bawah sadar dan pandangannya tentang kepribadian yang dinamis.Rorschach merasa data yang didapat dari tes noda tinta akan meningkatkan pemahaman akan bawah sadar dan memiliki relevansi dengan teori psikonalitis.dia mengunakan teori psikoanalitis dalam interpretasinya sendiri terhadap respons subyek.

THE THEMATIC APPERCEPTION TEST (TAT) TAT terdiri dari kartu-kartu dengan adegan didalamnya.sebagian besar melukiskan satu atau dua orang dalam situasi kehidupan yang penting.dan beberapa kartu isinya lebih abstrak.subyek diminta untuk membuat cerita berdasarkan adegan yang ad di kartu. Termasuk apa yang terjadi, pemikiran dan perasaan partisipan,apa yang mengakibatkan adegan tersebut dan hasilnya.karena adegan tersebut sering kali ambigu,maka ada ruang yang cukup banyak untuk menafsirkan sosok-sosok yang ada dalam konten cerita subyek.tes ini didasarkan kepad fakta yang sudah diketahui bersama bahwa ketika seseorang menginterpretasikan situasi sosial yang ambigu,maka ia cenderung mengespos kepribadianya sebanyak fenomena yang diperhatikannya. TAT biasanya digunakan untuk mengungkap kecenderungan bawah sadar dan kecenderungan-kecenderungan yang terhalang.asumsinya adalah subyek tersebut tidak sadar bahwa mereka membicarakan diri mereka sendiri dan dengan demikian pertahanan diri mereka dapat ditembus. PENGGUNAAN RISET ILUSTRATIF Mari kita bahas bukti ilusratif Rorschach untuk kedua motivasi ini. Pertama berkaitan dengan baik/buruk atau kebajikan/kejahatan. Sitem penilaian diatur untuk mempertimbangkan seberapa sering tema tersebut muncul dalam catatan Rorschach: respons ilustratif adalah yang merujuk langsung kepad baik dan buruk (misalnya:orang jahat,pandangan curiga), yang merujuk pada masalah religius (misalnya gereja, malikat, iblis, surga, penyucian dosa) dan yang erujuk kepada individu yang kerap dihubungkan dengan baik/buruk (misalnya: petugas kepolisian, kriminal, hakim, pendosa). B. PSIKOPATOLOGI TIPE KEPRIBADIAN Freud berpendapat bahwa lima tahun pertama, kehidupan amat penting bagi perkembangan individu.sepanjang tahun-tahun ini, ada kemungkinan sejumlah kegagalan terjadi dalam perkembangan insting.kegagalan dalam perkembangan tersebut disebut fixations (fiksasi).apabila individu mendapatkan amat sedikit gratifikasi sepanjang masa perkembangan sehingga mereka takut untuk bergerak ke tahap selanjutnya,atau apabila mereka menerima demikian banyak gratifikasi sehingga tidak memiliki motivasi untuk bergerak maju,fiksasi akan terjadi.jika terjadi fiksasi,maka individu tersebut akan mencoba mendapatkan tipe kepuasan yang sama,yang sesuai perkembangan lebih awal

sepanjang tahapan selanjutnya.misalnya individu yang terfiksasi pada tahap oral mungkin akan terus mencari gratifikasi oral dalam makan, merokok, atau minum.fenomena perkembangan yang berhubungan dengan fiksasi tersebut adalah regression (regresi).dalam regresi individu mencoba kembali kepada mode kepuasan terdahulu, pada titik fiksasi awal.regresi sering kali terjadi pada kondisi stres. Oleh karena itu, banyak orang makan, merokok, atau minum-minuman keras berlebihan hanya sepanjang periode frustasi dan cemas. KEPRIBADIAN ORAL Karakteristik kepribadian oral, misalnya berhubungan dengan proses yang terjadi pada tahap perkembangan oral yang terus dipertahankan pada masa kehidupan selanjutnya. kepribadian oral bersifat narsis, dalam artian mereka hanya tertarik pada diri mereka sendiri dan tidak begitu jelas dalam memahami orang lain sebagian entitas terpisah. Orang lain hanya di lihat dalam kerangka apa yang dapat mereka berikan (makanan). Kepribadian oral selalu meminta sesuatu,entah itu dalam bentuk permintaan sederhana atau tuntutan agresif. KEPRIBADIAN ANAL Kepribadian anal bersumber dari tahap perkembangan anal.berlawanan dengan gratifikasi yang diasosiasikan dengan mulut dan aktifitas oral,yang dapat diekspresikan pada masa dewasadalam bentuk yang relatif bebas,gratifikasi implus anal menjalani berbagai transformasi. Secara umum,sifat karakteristik anal berkaitan dengan proses yang terjadi pada tahap perkembangan anal yang belum terlepaskan dengan sempurna. Proses penting tersebut mencakup proses jasmaniah(akumulasi dan pelepasan material feces).dan hubungan interpersonal menggunakan toilet(toilet (pergulatan kemauan sepanjang latihan menggabungkan kedua hal

traineng)).dengan

tersebut,seseorang pada tahap anal memandang pengeluaran kotoran sebagai simbol kekuatan yang besar.pandangan tersebut tampak dalam banyak ekspresi sehari-hari seperti menyebutkan toilet sebagai singgasana KARAKTER PHALIC Karakter phalic merepresentasikan hasil fiksasi parsial pada tahap oedipus kompleks.fiksasi yang ada disini memiliki implikasi berbea bagi pria dan wanita dan perhatian secara khusus diberikan kepada hasil fiksasi parsial bagi pria.ketika kesuksesan bagi individu oral berarti,saya dapat, dan kesuksesan bagi individu anal berarti saya menguasai, maka kesuksesan bagi pria phalic berarti saya seorang pria.. seorang pria phalic harus menolak semua kemungkinan pernyataan bahwa dia

telahdikebiri.baginya,kesuksesan berarti dia dipandang besaroleh orang lain.setiap waktu dia harus selalu menilai kemaskulinan dan potensinya . Pada kasus wanita,karakter phalic dikenal dengan hysterical

personality(kepribadian histeris). Sebagai pertahanan terhadap hasrat oedipal,gadis kecilmengidentifikasikan dirinya kepada sang ibu dan kefeminimannya.dia

menggunakan perilaku merayu dan menipu untuk mempertahankan ketertarikan sang ayah tetapi menolak niat seksualnya. KONFLIK DAN PERTAHANAN Dalam psikopatologi seseorang masih mencari gratifikasi seksual dan agresi dalam bentuk kekanak-kanakan.walaupun demikian,karena asosiasinya dengan trauma masa lalu,ekspresi keinginan ini mungkinmemberikan sinyal bahaya kepada Ego dan menharah kepada pengalaman kecemasan.sebagai akibatnya, terdapat situasi konflik di mana perilaku yang sama diasosiasikan dengan kesenangan sekaligus rasa sakit. Misalnya: seseorang berusaha bergantung kepada seseorang tetapi pada saat yang sama takut apabila ini terjadi, maka dia akan rentan terhadap frustasi dan kehilangan (rasa sakit). Contohnya adalah konflik antara keinginan untuk membalas dendam kepada orang lain yang berkuasa, merepresentasikan orang tua dan ketakutan orangbtersebut akan membalas dengan kekuatan dan penghancuran.dalam tiap kasus tersebut terdapat konflik antara keinginan dan kecemasan. Sebagaimana yang dibahas sebelumnya, bagian penting dari sebuah konflik adalah perasaan cemas. Untuk mengurangi pengalaman kecemasan yang menyakitkan, mekanisme pertahanan. Misalnya seseorang biasa menyangkal perasaan agresifnya atau memproyeksikan perasaan tersebut kepada orang lain. Dalam kasus tersebut, seseorang tidak lagi harus takut kepada perasaan agresif. Kesimpulanya dalam psikopatologi ada konflik antara dorongan atau keinginan dan perasaan ego bahwa bahaya akan mewujud apabila keinginan diekspresikan (atau dibatalkan). Untuk menjaga dari hal itu seperti ini dan untuk menghilangkan kecemasan, digunakan mekanisme pertahanan. C. PERUBAHAN PERILAKU Seseorang telah membakukan pola perilaku cara berpikir tentang sesuatu dan merespons kepada situasi maka melalui prse apa peurbahan perilaku terjadi? Teori perubahan psikoanalitis menyatakan bahwa ada jalur normal perkembangan kepribadian, salah satunya terjadi karena tingkat frustasi optimum.ketika terlalu banyak atau terlalu sedikit frustasi pada tahap pertumbuhan tertentu,maka kepribadian tidak akan tumbuh normal dan terjadilah fiksasi.ketika hal ini terjadi tersebut akan mengulangi pola

perilaku,terlepas dari perubahan lain dalam situasi tersebut.dengan perkembangan pola neurotis semacam itu,bagaimana caranya memutuskan siklus tersebut PENGETAHUAN BAWAH SADAR: ASOSIASI BEBAS DAN INTERPRETASI MIMPI Disini Freud meletakkan tanganya di kepala pasien dan menyakinkan pasien tersebut bahwa dia dapat mengingat dan menghadapi pengalaman emosional masa lalu yang dikubur.dengan bertambahnya ketertarikan kepada interpretasi mimpi,Freud fokus pada metode asosiasi bebas sebagai dasar psikonalisis.dalam metode ini pasien diminta melaporkan kepada analis semua,pikiran yang terlintas,tidak menunda melakukan pelaporan, tidak menyembunyikan sesuatu untuk muncul kedalam kesadaran. Mimpi merupakan jalan tol ke alam bawah sadar.dengan metode asosiasi bebas,analis dan pasien dapat melampaui konten yang manifestasikan diri mimpi tersebut dan masuk ke konten laten,ke makna tersembunyi yang mengepresikan keinginan bawah sadar.seperti:simtom, mimpi, merupakan hasrat pemenuhan yang tersamarkan dan parsial.dalam mimpi seseorang dapat memuaskan keinginan bermusuhan atau seksual dengan cara tersamar dan karena itu aman.misalnya: ketimbang memimpikan membunuh,seseorang dapat memimpikan peperangan di mana figur tertentu

terbunuh.dalam kasus tersebut keinginan bawah sadar tersebut paling tidak masih jelas,tetapi dalam kasus yang lain keinginan tersebut bisa menjadi lebih

tersamarkan.asosiasi bebas menggungkapkan hal-hal yang tersembunyi.

D. PERKEMBANGAN TERBARU DALAM TRADISI PSIKODINAMIS Teori Relasi Obyek Perhatian klinis terhadap masalah definisi diri dan terhadap perasaan akan harga diri yang terlalu rapuh telah menjadikan para analis semakin tertarik dengan bagaimana cara seseorang pada amsa awal pengembangan pemahaman diri (sense of self) dan kemudian mencoba mempertahankan integritasnya. Pertanyaan tersebut dikenal sebagai teoritikus relasi obyek. Kata obyek disini mengacu kepada orang ketimbang kepada obyek fisik. Dengan demikian, minatnya adalah pada bagaimana pengalaman dengan orang-orang penting pada masa lalu direpresentasikan sebagai sebagian dari diri dan kemudian mempengaruhi hubungan seseorang dengan yang lain di masa kini. Narsisme dan Kepribadian Narsis Berkaitan dengan minat terhadap pemahaman eksistensi diri yang terganggu, perhatian psikoanalisis difokuskan pada konsep narsisme dan kepribadian narsis. Dalam

perkembangan pemahaman diri dan narsisme yang sehat, seseorang memiliki pemahaman yang jernih tentang dirinya sendiri, memiliki tingkat harga diri yang memuaskan dan stabil, menerima pujian dalam penyelesaian tugas, dan waspada serta responsif terhadap kebutuhan orang lain saat merespon kebutuhannya sendiri. Dalam kepribadian narsistis, terdapat gangguan dalam diri individu, harga diri yang rapuh, kebutuhan akan pujian orang lain dan kurang empati terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain. Walaupun cenderung merasa rendah diri dan tak berdaya (malu dan merasa tehina), seorang individu yang narsis memiliki pemahaman nilai penting diri yang berlebihan dan asyik dengan fantasi akan kesuksesan dan kekuasaan yang tidak terbatas. Teori Keterikatan dan Relasi Personal Orang Dewasa Teori ini berkaitan dengan efek pengalaman masa kanak-kanak terhadap perkembangan kepribadian, dan hubungannya dengan fungsi kepribadian di masa mendatang. Menurut teori ini, perkembangan bayi melalui serangkaian fase dalam perkemabngan utama (umumnya sang ibu) dan penggunaan keterikatan ini sebagai secure base (basis aman) untuk eksplorasi dan separasi. ABS dipandang sebagai sesuatu yang diprogramkan dalam tubuh bayi, bagian dari warisan evolusionaris kita yang memiliki nilai adaptif. ABS memberikan pemeliharaan kontak dekat dengan sang ibu dan eksplorasi lingkungan berdasarkan landasan kontak tersebut. Setelah semakin jauh dalam melewati perkembangan ABS, sang bayi menngembangkan internal working models (model mental) atau representasi mental (gambaran) diri sendiri dan pengasuh utamanya. Model mental ini diasosiasikan dengan emosi. Berdasarkan pengalaman interaksional sepanjang masa bayi, model ini memberikan dasar bagi pengembangan pekiraan tentang relasi dimasa depan.