Anda di halaman 1dari 16

POLIMERISASI KONDENSASI

PEMBUATAN KARET SINTESIS


I.

TUJUAN PERCOBAAN

Mahasiswa mampu dapat membuat karet sintesis (TIOKOL) dalam skala


laboratorium.
II.

ALAT DAN BAHAN


a. Alat yang digunakan

Gelas kimia

Hot plate

Magnetic stirer

Pipet volume 25 ml

Bola karet

Spatula

Batang pengaduk

Termometer

Corong buchner

Kertas saring
b. Bahan yang digunakan

III.

Belerang

7,5 gr

NaOH

4,0 gr

1,2-dikloroetana

20 mL

Aquadest

100 mL

DASAR TEORI
Tiokol merupakan karet sintetis yang dihasilkan melalui proses polimerisasi

kondensasi, yaitu proses penggabungan molekul tunggal membentuk molekul besar


dan melepas molekul lain sebagai hasil samping. Tiokol dapat dihasilkan dari reaksi

antara campuran dikloro etana dengan natrium polisulfida (Na2Sx) dan membebaskan
natruim klorida sebagai hasil samping.
Reaksi:
Cl-CH2- CH2-Cl + n Na2Sx

(CH2-CH2-Sx) n + NaCl

Polimer kondensasi terjadi dari reaksi antara gugus fungsi pada monomer yang
sama atau monomer yang berbeda. Dalam polimerisasi kondensasi kadang-kadang
disertai dengan terbentuknya molekul kecil seperti H2O, NH3, atau HCl.
Di dalam jenis reaksi polimerisasi yang kedua ini, monomer-monomer
bereaksi secara adisi untuk membentuk rantai. Namun demikian, setiap ikatan baru
yang dibentuk akan bersamaan dengan dihasilkannya suatu molekul kecil biasanya
air dari atom-atom monomer. Pada reaksi semacam ini, tiap monomer harus
mempunyai dua gugus fungsional sehingga dapat menambahkan pada tiap ujung ke
unit lainnya dari rantai tersebut. Jenis reaksi polimerisasi ini disebut reaksi
kondensasi.
Dalam polimerisasi kondensasi, suatu atom hidrogen dari satu ujung monomer
bergabung dengan gugus-OH dari ujung monomer yang lainnya untuk membentuk air.
Reaksi kondensasi yang digunakan untuk membuat satu jenis nilon ditunjukkan pada
reaksi di bawah ini:

Perbedaan antara karet alam dan karet sintetis


Walaupun karet alam sekarang ini jumlah produksi dan konsumsinya jauh
dibawah karet sintetis atau karet buatan pabrik , tetapi sesungguhnya karet alam
belum dapat digantikan oleh karet sintetis. Bagaimanapun ,keunggulan yang dimiliki
oleh karet alam sulit ditandingi oleh karet sintetis .
Adapun kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh karet alam dibandingkan
dengan karet sintetis, yaitu :
Mempunyai daya elastic atau daya lenting yang sempurna .
Mempunyai plastisitas yang baik sehingga pengolahannya mudah .
Mempunyai daya arus yang tinggi .
Tidak mudah panas .

Mempunyai daya tahan yang tinggi terhadap keretakan .


Walaupun demikian , karet sintetis mempunyai kelebihan seperti tahan
terhadap berbagai zat kimia dan harganya cenderung bias dipertahankan supaya tetap
stabil . Bila ada pihak yang menginginkan karet sintetis dalam jumlah tertentu , maka
biasanay pengiriman atau suplay barang tersebut jarang mengalami kesulitan,
walaupun memiliki beberapa kelemahan dipandang dari sudut kimia dan bisnisnya ,
akan tetapi menurut beberapa ahli karet alam akan mempunyai pemanasan yang baik .
Polisulfida merupakan perekat termoplastik. Perekat ini dapat lebur , melunak
bila dipanaskan dan mengalami creep ( jalaran ) bila dikenai beban (stress) . Tidak
seperti termoset, perekat termoplastik tidak mengalami perubahan kimia saat
terbentuknya ikatan
Poli (alkilena polisulfida) kadang-kadang dinyatakan sebagai karet tiokol
merupakan elastomer yang bermanfaat. Sifat-sifatnya bisa diperbaiki dengan
memvariasikan jumlah atom karbon dalam unit ulang atau jumlah atom-atom
belerang. Naiknya jumlah salah satu atom akan meningkatkan kualitas elastomerik
dari polimer tersebut. ( Malcom PS 2001). Sedang persyaratan khusus bagi suatu
polimer untuk berfungsi sebagai elastomer. Elastomer adalah suatu bahan yang dapat
kembali dengan cepat kebentuk dan ukuran semula setelah mengalami formasi karena
stress bila stress tersebut ditiadakan .
Elastor kadang kadang diidentikkan dengan karet dari karet sintetik. Karet
adalah bahan alamiah sedangkan karet yang dimaksud elastomer, pada umumnya
karet sintetik dan yang banyak dikonsumsi di indonesia adalah stiren buta diene
rubber (SBR), butil rubber dan poli buta diene (PBD) dan ethilen propine diene.
Elastometer banyak digunakan untuk pembuatan kendaraan bermotor dan alat
industri, misalnya: ban, packing, batery boxes, sels kaca, untuk industri mobil, oil
resistancehoses dan belt conveyor. Bahan ini dapat pula dipakai untuk isolasi kabel
listrik, mainan anak anak. Dalam industri elastomer memegang peranan yang sangat
penting.
Polimer-polimer dapat ikat silang (crosslinkable) bias disintesis melalui
penambahan sejumlah kecil polihalida seperti trikloropropana atau dengan
mengintrodusir ke dalam kerangka polimer tersebut beberapa gugus fungsional lain
seperti hidroksil atau alkena. Monomer-monomer yang khas untuk tujuan ini
mencakup gliserol dikloro asetat dan 1,4 dikloro 2 butena. ( Malcom PS 2001)

Metode terpenting untuk pembuatan elastomer yang bisa dikeraskan pertama


melibatkan pembentukan polimer terikatt silang yang memakai suatu monomer
polihalida, kemudian menguraikan produk tersebut ke suatu polimer dapat lebur yang
terterminasi tiol. Hal ini diselesaikan lewat reduksi dengan natrium hidrosulfida
dalam hadirnya natrium sulfit. Berat molekul rata-ratadari polimer yang terurai
tersebut bergantung pada jumlah natrium hidrosulfida yang digunakan. ( Malcom PS
2001)
Tiokol merupakan karet polisulfida yang dibuat dengan reaksi kondensasi
antara polisulfida dengan dikloroetana. Karet polisulfida ini terdapat dalam bentuk R
dan X yang berbeda sehingga jumlah belerang akan tahan terhadap semua tipe
pelarutorganik tetapi baunya tidak enak dan juga sifat mekaniknya buruk. (Arizal
Ridha1990)
Keuntungan tiokol sangat tahan terhadap minyak dan pelarut organik, tahan
terhadap cuaca, tahan terhadap ozon, dan cahaya matahari bagus, kedap udara dan
uap. Kekurangan tiokol tahanan kikis sobek , cut growth dan retak lentur buruk,
pampatan tetap buruk, dan kepegasan pantul buruk serta baunya tidak enak. ((Arizal
Ridha1990)
Tiokol kebanyakan digunakan untuk barang yang tahan minyak dan pelarut.
Sifat fisika yang buruk dan baunya yang tidak disukai telah telah membatasi
penggunaan secara umum. (Arizal Ridha1990)
IV.

PROSEDUR PERCOBAAN
a. Pembuatan Natrium Polisulfida ( Na2Sx )
Menimbang 7,5 gr belerang dan memasukkan ke dalam labu bundar leher tiga
Menimbang 4,0 gr NaOH dan melarutkan dalam 100 ml aquadest dalam gelas
kimia 250 ml .
Memasukkan larutan NaOh ke dalam labu bundar , memasang pengaduk dan
condenser yang diisi aliran air .
Memanaskan perlahan sambil diaduk dengan penangas air . Mengamati reaksi
yang terjadi setiap 8 menit .
Menghentikan pemanasan setelah belerang larut atau larutan berwarna coklat
tua . Mendinginkan larutan hingga suhu ruang .
Menyaring larutan , mengambil filtrate untuk pembuatan tiokol.

b. Pembuatan Tiokol
Memasukkan filtrate ke dalam labu bundar leher tiga yang telah dicuci bersih
dan menambah 20 ml 1,2-dikloroetana .
Merangkai alat seperti sebelumnya .
Memanaskan pada suhu 70 - 80 0C hingga terbentuk gumpalan kuning dan
larutan jernih .
Mengamati dan mencatat reaksi yang terjadi .
Menghentikan pemanasan setelah gumpalan kuning muda terbentuk banyak
dan larutan menjadi kurang jernih .
Menyaring dan mencuci hasil , menyisihkan filtrate .
Menimbang hasil
V.

DATA PENGAMATAN

No
Perlakuan
1
Mencampurkan
7,5

Pengamatan
gram Campuran tampak bening (kuning jernih)

belerang 4 gram NaOH di dalam


2

gelas kimia
Memanaskan campuran dengan 8 menit pertama : belerang belum larut
penangas air

8 menit kedua

: belerang belum larut

8 menit ketiga

: belerang belum larut

8 menit keempat : belerang sedikit larut


8 menit kelima : campuran mulai berubah
warna cokelat tua
8 menit keenam : belerang larut dan
larutan

campuran berwarna cokelat tua


dan Filtrat berwarna kuning jernih

Menyaring

mengambil filtrat
Filtrat + 20 ml 1,2 dikloroetana

Campuran belum homogen dan berwarna


kuning jernih

Campuran dipanaskan pada suhu Terdapat endapan berwarna putih dan

70-800 C
Penyaringan
dengan

produk

menggunakan

larutannya jenuh
tiokol Didapatkan produk tiokol dalam bentuk
corong serbuk berwarna putih sebanyak 0,5 gr

buchner
VI.
a.

PERHITUNGAN

mol NaOH
massa = 4 gr
BM

= 40 gr/mol

= 4 gr / 40 gr/mol
= 0,1 mol

b.

mol belerang (S)

c.

mol C2H4Cl2

BM = 99 gr/mol

Perhitungan Secara Teori


Reaksi :
2NaOH
m:

0,1

4S

Na2S4

0,2344

+ H2O + 1/2O2

0,2

0,05

0,05

0,025

r:

0,1

s:

0,0344

0,05

0,05

0,025

BM :

40

32

174

18

32

Gr :

1,1008

8,7

0,9

0,8

C2H4Cl2

Na2S4

C2H4S4

+ 2 NaCl

m:

0,2537

0,05

r:

0,05

0,05

0,05

0,1

s:

0,2037

0,05

0,1

174

156

58,5

7,8

5,85

BM : 99
Gr : 20,1663
Neraca Massa
KOMPONEN

INPUT

OUTPUT

C2H4Cl2
Na2S4
C2H4S4
NaCl
NaOH
S
H2O
O2
Total

(GR)
25,1163
4
7,5
36,6163

(GR)
20,1663
7,8
5,85
1,1008
0,9
0,8
36,6163

x 100 %

=
= 85,32%
% yield =

=
= 21,47 %

Perhitungan secara praktik


Gr tiokol (C2H4S4) = 0,5 gr
Bm C2H4S4 = 156 gr/mol
Mol C2H4S4 =

=
= 0,003205

Reaksi :
C2H4Cl2

Na2S4

C2H4S4

+ 2 NaCl

m:

0,2537

0,003205

r:

0,003205

0,003205

0,003205

0,00641

s:

0,250495

0,003205

0,00641

BM : 99

174

Gr : 24,799005

2NaOH
m:

0,1

156

4S
0,2344

58,5

8,5

Na2S4
-

0,374985

+ H2O + 1/2O2
-

r:

0,00641

0,01282

0,003205

0,003205

0,0016025

s:

0,09359

0,22158

0,003205

0,003205

0,0016025

BM :

40

32

174

18

32

Gr :

3,7436

7,09056

0,55767 0,05769

Neraca Massa
KOMPONEN

INPUT

OUTPUT

C2H4Cl2
Na2S4
C2H4S4
NaCl
NaOH
S
H2O
O2
Total

(GR)
25,1163
4
7,5
36,6163

(GR)
24,79905
7,8
5,85
3,7436
7,09056
0,05769
0,05128
36,6171

=
= 5,46%
% yield =

=
= 1,36 %

% kesalahan =

=
= 94 %

0,05128

VII.

TUGAS

a. Tuliskan tahapan mekanisme reaksi yang terjadi!


Jawab :
Mekanisme reaksi yang terjadi adalah :
Reaksi 1 (Natrium Polisulfida)
2 NaOH + 4S

Na2S4 + H2O +

Reaksi 2 (Tiokol)
C2H4Cl2 + Na2S4

C2H4S4 + 2NaCl

b. Tuliskan kegunaan tiokol dalam industri !


Jawab :
Tiokol digunakan untuk Ban, Plastik pelapis, dan Pembuatan ember

VIII. ANALISA PERCOBAAN


Setelah melakukan percobaan TIOKOL dapat dianalisa bahwa bahan baku
pada pembuatan tiokol adalah sulfur, NaOH dan 1,2 dikloroetana. Saat penambahan
belerang dan NaOH. Larutan tidak dapat bercampur hingga diperlukan pengadukan.
Pengadukan ini dilakukan agar hasil produk tiokol yang dihasilkan maksimal.
Kemudian dilakukan pemanasan sampai semua belerang larut, tetapi waktu yang
dihasilkan untuk belerang larut sangatlah lama. Sehingga hanya menunggu sampai
belerang mengendap dibawah.
Kemudian dilakukan penyaringan dan proses selanjutnya filtrat dari proses
penyaringan dicampur dengan 1,2 dikloroetana. Dilanjutkan pemanasan sampai
terdapat gumpalan kuning berada diatas. Saat pemanasan terjadi perubahan warna dari
coklat menjadi kuning. Pemanasan dihentikan saat larutan kuning keruh berubah
menjadi warna kuning jernih. Tetapi kami menghentikan pemanasan saat larutan masi
bewarna kuning keruh.
Pembuatan tiokol lebih mendapatkan produk yang maksimal saat melakukan
pemanasan diatas hot plate daripada diatas water batch. Karena pembuatan tiokol
sangat memerlukan pengadukan secara terus menerus. Jika menggunakan water batch
susah untuk melakukan pengadukan sehingga produk yang dihasilkan lebih banyak
menggunakan hot plate.
Produk yang dihasilkan atau tiokol biasanya digunakan dalam pembuatan
barang mekanik dan house karena sifat kelenturannya.
Mekanisme reaksi yang terjadi :

C2H4Cl2

Na2S4

C2H4S4

2 NaCl

Pemanasan dihentikan jika sudah terlihat gumpalan berwarna kuning dan


larutan berwarna menjadi kurang jernih atau buram, kemudian hasil yang didapat
dicuci lalu ditimbang dengan berat yang didapat sebesar 0,5 gram.

IX.

KESIMPULAN

Setelah melakukan percobaan ini dapat disimpulkan bahwa:


Mekanisme reaksi yang terjadi:
2 NaOH

4S

C2H4Cl2 + Na2S4

Na2S4

H2O

C2H4S4 + 2NaCl

Didapat persen konversi dan yield :


% yield

: 1,36 %

% konversi

: 5,46 %

Berat karet sintetis yang didapat : 0,5 gram

X.

DAFTAR PUSTAKA

Tim Laboratorium Satuan Proses. 2014. Penuntun Praktikum Satuan Proses.


Palembang: Politeknik Negeri Sriwijaya.
2014. Laporan Tiokol. www.scribd.com/doc/120146918/laporan-tiokol. Diakses pada
tanggal 10 November 2014.

XI.

GAMBAR ALAT

BOLA KARET

HOT PLATE

LABU UKUR

CORONG BUCHNER

KACA ARLOJI

MAGNETIC STIRRER

GELAS KIMIA

KERTAS SARING

PENGADUK

PIPET VOLUME

XII.

SPATULA

GAMBAR PROSES

Belerang yang dimasukkan kedalam labu leher tiga

Proses Pemanasan Campuran

Proses pencampuran larutan NaOH dengan


Belerang

Campuran Hasil Pemanasan

Proses Refluks setelah campuran ditambahkan


dengan 1,2-dikloroetana

Tiokol yang dihasilkan berbentuk serbuk


sebanyak 0,5 gr

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM SATUAN PROSES I


POLIMERISASI KONDENSASI PEMBUATAN KARET
SINTETIS (TIOKOL)

KELOMPOK 1
KELAS 3KA
Anggik Pratama

(061330400289)

Astri Handayani

(061330400290)

Bella Anggraini

(063230400291)

Deka Pitaloka

(061330400293)

Diah Lestari

(061330400294)

Dorie Kartika

(061230400295)

INSTRUKTUR : Taufik Jauhari, S.T,M.T.

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
TAHUN AKADEMIK 2014-2015