Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Konstipasi adalah terhambatnya defekasi (buang air besar) dari
kebiasaan normal. Dapat diartikan sebagai defekasi yang jarang, jumlah feses
kurang, atau fesesnya keras dan kering.

Konstipasi merupakan keluhan

saluran cerna terbanyak pada usia lanjut; terjadi peningkatan dengan


bertambahnya usia dan 30 40 % orang di atas usia 65 tahun mengeluh
konstipasi . Di Inggris ditemukan 30% penduduk di atas usia 60 tahun
merupakan konsumen yang teratur menggunakan obat pencahar . Di Australia
sekitar 20% populasi di atas 65 tahun mengeluh menderita konstipasi dan
lebih banyak pada wanita dibanding pria. Menurut National Health Interview
Survey pada tahun 1991, sekitar 4,5 juta penduduk Amerika mengeluh
menderita konstipasi terutama anak-anak, wanita dan orang usia 65 tahun ke
atas.
Beberapa faktor yang mempermudah terjadinya konstipasi pada lansia
seperti kurangnya gerakan fisik, makanan yang kurang sekali mengandung
serat, kurang minum, akibat pemberian obat-obat tertentu dan lain-lain.
Akibatnya, pengosongan isi usus menjadi sulit terjadi atau isi usus menjadi
tertahan. Pada konstipasi, kotoran di dalam usus menjadi keras dan kering, dan
pada keadaan yang berat dapat terjadi akibat yang lebih berat berupa
penyumbatan pada usus disertai rasa sakit pada daerah perut.
Anamnesis merupakan hal yang terpenting untuk mengungkapkan
etiologi dan factor-faktor risiko penyebab konstipasi, sedangkan pemeriksaan
fisik pada umumnya tidak mendapatkan kelainan yang jelas. Pemeriksaan
colok dubur dapat memberikan banyak informasi yang berguna. Pemeriksaanpemeriksaan lain yang intensif dikerjakan secara selektif setelah 3 sampai 6
bulan pengobatan konstipasi kurang berhasil dan dilakukan hanya pada pusatpusat pengelolaan konstipasi tertentu.
B. Rumusan Masalah

Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien lansia dengan masalah


konstipasi?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum :
Mahasiswa dapat memberikan asuhan keperawatan pada pasien lansia
dengan masalah konstipasi.
2. Tujuan Khusus :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Mengetahui definisi konstipasi.


Mengetahui epidemiologi lansia dengan konstipasi.
Mengetahui etiologi konstipasi.
Mengetahui patofisiologi konstipasi.
Mengetahui manifestasi klinis dari konstipasi.
Mengetahui penatalaksanaan lansia dengan konstipasi.
Mengetahui WOC dari lansia dengan konstipasi.

D. Manfaat
1. Mengetahui perjalanan penyakit yang terjadi sehingga dapat memberikan
asuhan keperawatan yang tepat.
2. Menambah pengetahuan khususnya di bidang keperawatan gerontik
sebagai referensi dalam memberikan asuhan keperawatan.
3. Meningkatkan ketrampilan dalam memberikan asuhan keperawatan pada
pasien lansia dengan konstipasi

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Konstipasi adalah suatu penurunan defekasi yang tidak normal pada
seseorang, disertai dengan kesulitan keluarkan feses yang tidak lengkap atau
keluarnya feses yang keras dan kering (Wilkinson, 2006).
Konstipasi adalah kesulitan atau kelambatan pasase feses yang
menyangkut konsistensi tinja dan frekuensi berhajat. Konstipasi dikatakan
akut jika lamanya 1 sampai 4 minggu, sedangkan dikatakan kronik jika
lamanya lebih dari 1 bulan (Mansjoer, 2000).
Konstipasi merupakan gejala, bukan penyakit. Konstipasi adalah
penurunan frekunsi defekasi, yang diikuti oleh pengeluaran feses yang lama
atau keras dan kering. Adanya upaya mengedan saat defekasi adalah suatu
tanda yang terkait dengan konstipasi. Apabila motilitas usus halus melambat,
masa feses lebih lama terpapar pada dinding usus dan sebagian besar
kandungan air dalam feses diabsorpsi. Sejumlah kecil air ditinggalkan untuk
melunakkan dan melumasi feses. Pengeluaran feses yang kering dan keras
dapat menimbulkan nyeri pada rektum. (Potter & Perry, 2005).
Para tenaga medis mendefinisikan konstipasi sebagai penurunan
frekuensi buang air besar, kesulitan dalam mengeluarkan feses, atau perasaan
tidak tuntas ketika buang air besar. Studi epidemiologik menunjukkan
kenaikan pesat konstipasi berkaitan dengan usia terutama berdasarkan keluhan
penderita dan bukan karena konstipasi klinik. Banyak orang mengira dirinya
konstipasi bila tidak buang air besar setiap hari. Sering ada perbedaan
pandangan antara dokter dan penderita tentang arti konstipasi (Cheskin dkk,
1990).
B. Epidemiologi
Menurut National Health Interview Survey pada tahun 1991, sekitar 4,5
juta penduduk Amerika mengeluh menderita konstipasi terutama anak-anak,
wanita dan orang usia 65 tahun ke atas. Hal ini menyebabkan kunjungan ke

dokter sebanyak 2.5 juta kali/tahun dan menghabiskan dana sekitar 725 juta
dolar untuk obat-obatan pencahar (NIDDK, 2000).
C. Etiologi
Banyak lansia mengalami konstipasi sebagai akibat dari penumpukan
sensasi saraf, tidak sempurnanya pengosongan usus, atau kegagalan dalam
menanggapi sinyal untuk defekasi. Konstipasi merupakan masalah umum
yang disebabkan oleh penurunan motilitas, kurang aktivitas, penurunan
kekuatan dan tonus otot.
Faktor-faktor risiko konstipasi pada usia lanjut:
1. Obat-obatan: golongan antikolinergik, golongan narkotik, golongan
analgetik, golongan diuretik, NSAID, kalsium antagonis, preparat
kalsium, preparat besi, antasida aluminium, penyalahgunaan pencahar.
2. Kondisi neurologik: stroke, penyakit parkinson, trauma medula spinalis,
neuropati diabetic.
3. Gangguan metabolik: hiperkalsemia, hipokalemia, hipotiroidisme.
4. Kausa psikologik: psikosis, depresi, demensia, kurang privasi untuk BAB,
mengabaikan dorongan BAB, konstipasi imajiner.
5. Penyakit-penyakit saluran cerna: kanker kolon, divertikel, ileus, hernia,
volvulus, iritable bowel syndrome, rektokel, wasir, fistula/fisura ani,
inersia kolon.
6. Lain-lain: defisiensi diet dalam asupan cairan dan serat, imobilitas/kurang
olahraga, bepergian jauh, paska tindakan bedah parut
D. Patofisiologi
Defekasi merupakan suatu proses fisiologi yang menyertakan kerja
otot-otot polos dan serat lintang, persarafan, sentral dan perifer, koordinasi
sisitem reflek, kesadran yang baik dan kemampuan fisik untuk mencari tempat
BAB.
Defekasi

dimulai

dari

gerakan

peristaltik

usus

besar

yang

menghantarkan feses ke rektum untuk dikeluarkan. Feses masuk dan


meregangkan ampula rektum yang diikuti relaksasi sfingter anus interna.
Untuk menghindarkan pengeluaran feses yang spontan, terjadi refleks
kontraksi refleks anus eksterna dan kontraksi otot dasar pelvis yang dilayani

oleh syaraf pudendus. Otak menerima rangsang keinginan untuk BAB dan
sfingter

anus

eksterna

diperintahkan

untuk

relaksasi,

dan

rektum

mengeluarkan isinya dengan bantuan kontraksi otot dinding perut. Kontraksi


ini akan menaikkan tekanan dalam perut, relaksasi sfingter dan otot elevator
ani.baik persyarafan simpatis dan para simpatis terlibat dalam proses ini.
Patogenesis konstipasi bervariasi macam-macam, penyebabnya multipel,
mencakup beberapa faktor yang tumpah tindih, motilitas kolon tidak
terpengaruh dengan bertambahnya usia. Proses menua yang normal tidak
mengakibatkan perlambatan perjalanan saluran cerna. Pengurangan respon
motorik sigmoid disebabkan karena berkurangnya inervasi instinsik akibat
degenerasi pleksus myenterikus, sedangkan pengurangan rangsang saraf pada
otot polos sirkuler menyebabkan memanjangnya waktu gerakan usus. Pada
lansia mempunyai kadar plasma beta- endorfin yang meningkat, disertai
peningkatan ikatan pada reseptor opiat endogen di usus. Ini dibuktikan
dengan efek konstipasif sediaan opiat karena dapat menyebabkan relaksasi
tonus otot kolon, motilitas berkurang dan menghambat refleks gaster-kolon.
Terdapat kecenderungan menurunnya tonus sfingter dan kekuatan otot-otot
polos berkaitan dengan usia khususnya pada wanita. Pada penderita
konstipasi mempunyai kesulitan lebih besar untuk mengeluarkan feses yang
kecil dan keras, menyebabkan upaya mengejan lebih keras dan lebih lama.
Hal ini berakibat penekanan pada saraf pudendus dengan kelemahan lebih
lanjut.
E. Manifestasi Klinis
Beberapa keluhan yang mungkin berhubungan dengan konstipasi adalah:
Kesulitan memulai dan menyelesaikan BAB
1. Mengejan keras saat BAB
2. Massa feses yang keras dan sulit keluar
3. Perasaan tidak tuntas saat BAB
4. Sakit pada daerah rectum saat BAB
5. Rasa sakit pada daerah perut saat BAB
6. Adanya perembesan feses cair pada pakaian dalam
7. Menggunakan bantuan jari-jari intuk mengeluarkan feses
8. Menggunakan obat-obat pencahar untuk bisa BAB

F. Penatalaksanaan
1. Tatalaksana non farmakologik
a. Cairan
Keadaan status hidrasi yang buruk dapat menyebabkan konstipasi.
Kecuali ada kontraindikasi, orang lanjut usia perlu diingatkan untuk
minum sekurang kurangnya 6-8 gelas sehari (1500 ml cairan perhari)
untuk mencegah dehidrasi. Asupan cairan dapat dicapai bila tersedia
cairan/minuman yang dibutuhkan di dekat pasien, demikian pula
cairan yang berasal dari sup,sirup, dan es. Asupan cairan perlu lebih
banyak bagi mereka yang mengkonsumsi diuretik tetapi kondisi
jantungnya stabil.
b. Serat
Pada orang usia lanjut yang lebih muda, serat berguna menurunkan
waktu transit (transit time). Pada orang lanjut usia disarankan agar
mengkonsumsi serat skitar 6-10 gram per hari. Ada juga yang
menyarankan agar mengkonsumsi serat sebanyak 15-20 per hari. Serat
berasal dari biji-bijian, sereal, beras merah, buah, sayur, kacangkacangan.

Serat

akan

memfasilitasi

gerakan

usus

dengan

meningkatkan masa tinja dan mengurangi waktu transit usus. Serat


juga menyediakan substrat untuk bakteri kolon, dengan produksi gas
dan asam lemak rantai pendek yang meningkatkan gumpalan tinja.
Perlu diingat serat tidaklah efektif tanpa cairan yang cukup, dan
dikontraindikasikan pada pasien dengan impaksi tinja (skibala) atau
dilatasi kolon. Peningkatan jumlah serat dapat menyebabkan gejala
kembung, banyak gas, dan buang besar tidak teratur terutama pada 2-3
minggu pertama, yang seringkali menimbulkan ketidakpatuhan obat.
c. Bowel training
Pada pasien yang mengalami penurunan sensasi akan mudah lupa
untuk buang air besar. Hal tersebut akan menyebabkan rektum lebih
mengembang karena adanya penumpukan feses. Membuat jadwal
untuk buang air besar merupakan langkah awal yang lebih baik untuk
dilakukan pada pasien tersebut, dan baik juga diterapkan pada pasien
usia lanjut yang mengalami gangguan kognitif. Pada pasien yang

sudah memiliki kebiasaan buang air besar pada waktu yang teratur,
dianjurkan meneruskan kebiasaan teresebut. Sedangkan pada pasien
yang tidak memiliki jadwal teratur untuk buang air besar, waktu yang
baik untuk buang air besar adalah setelah sarapan dan makan malam.
d. Latihan jasmani
Jalan kaki setiap pagi adalah bentuk latihan jasmani yang
sederhana tetapi bermanfat bagi orang usia lanjut yang masih mampu
berjalan. Jalan kaki satu setengah jam setelah makan cukup membantu.
Bagi mereka yang tidak mampu bangun dari tampat tidur, dapat
didudukkan atau didudukkan atau diberdirikan disekitar tempat tidur.
Positioning bagi pasien usia lanjut yang tidak dapat bergerak,
meninggalkan tempat tidurnya menuju ke kursi beberapa kali dengan
interval 15 menit, adalah salah satu cara untuk mencegah ulkus
dekubitus. Tentu saja pasien yang mengalami tirah baring dapat
dibantu dengan menyediakan toilet atau komod dengan tempat tidur,
jangan diberi bed pan. Mengurut perut dengan hati-hati mungkin dapat
pula dilakukan untuk merangsang gerakan usus.
e. Evaluasi penggunaan obat
Evaluasi yang seksama tentang penggunaan obat-obatan perlu
dilakukan untuk mengeliminasi, mengurangi dosis, atau mengganti
obat yang diperkirakan menimbulkan konstipasi. Obat antidepresan,
obat Parkinson merupakan obat yang potensial menimbulkan
konstipasi. Obat yang mengandung zat besi juga cenderung
menimbulkan konstipasi, demikian obat anti hipertensi (antagonis
kalsium). Antikolinergik lain dan juga narkotik merupakan obat-obatan
yang sering pula menyebabkan konstipasi.
2. Tatalaksana farmakologik
a. Pencahar pembentuk tinja (pencahar bulk/bulk laxative)
Pencahar bulk merupakan 25% pencahar yang beredar di pasaran.
Sediaan yang ada merupakan bentuk serat alamiah non-wheat seperti
pysilium dan isophagula husk, dan senyawa sintetik seperti
metilselulosa. Bulking agent sistetik dan serat natural sama-sama
efektif dalam meningkatkan frekuensi dan volume tinja. Obat ini tidak

menyebabkan malabsorbsi zat besi atau kalsium pada orang usia lanjut,
tidak seperti bran yang tidak diproses. Pencahar bulk terbukti
menurunkan konstipasi pada orang usia lanjut dan nyeri defekai pada
hemoroid. Sama halnya dengan serat, obat ini juga harus diimbangi
dengan asupan cairan.
b. Pelembut tinja
Docusate seringkali direkomendasikan dan digunakan oleh orang
lanjut usia sebagai pencahar dan sebagai pelembut tinja. Docusate
sodium bertindak sebagaisurfaktan, menurunkan tegangan permukaan
feses untuk membiarakan air masuk dam memperlunak feses.
Docusate sebenarnya tidak dapat menolong konstipasi yang kronik,
penggunaannya sebaiknya dibatasi pada situasi dimana mangedan
harus dicegah.
c. Pencahar stimulant
Senna merupakan obat yang aman digunakan oleh orang usia
lanjut.

Senna

meningkatkan

peristaltik

di

kolon

distal

dan

menstimulasi peristaltik diikuti dengan evakuasi feses yang lunak.


Pemberian 20 mg senna per hari selama 6 bulan oleh pasien berusia
lebih dari 80 tahun tidak menyebabkan kehilangan protein atau
elektrolit. Senna umumnya menginduksi evakuasi tinja 8-12 jam
setelah pemberian. Orang usia lanjut biasanya memerlukan waktu yang
lebih lama yakni sampai dengan 10 minggu sebelum mencapai
kebiasaan defekasi yang teratur. Pemberian sebelum tidur malam
mengurangi risiko inkontininsia fekal malam hari dan dosis juga harus
ditritasi berdasarkan respon individu. Terapi dengan Bisakodil
supositoria memiliki absorbsi sistemik minimal dan sangat menolong
untuk mengatasi diskezia rectal pada usia lanjut. Sebaiknya diberikan
segera setelah makan pagi secara supositoria untuk mendapatka efek
refleks gastrokolik. Penggunaan rutin setiap hari dapat menyebabkan
sensasi terbakar pada rectum, jadi sebaiknya digunakan secara rutin,
melainkan sekitar 3 kali seminggu.
d. Pencahar hiperosmolar

Pencahar hiperosmolar terdiri atas laktulosa disakarida dan


sorbitol. Di dalam kolon keduanya di metabolisme oleh bakteri kolon
menjadi bentuk laktat, aetat, dan asam dengan melepaskan
karbondioksida. Asam organik dengan berat molekul rendah ini secara
osmotic meningkatkan cairan intraluminal dan menurunkan pH feses.
Laktulosa sebagai pencahar hiperosmolar terbukti memperpendek
waktu transit pada sejumlah kecil penghni panti rawat jompo yang
mengalami konstipasi. Laktulosa dan sorbitol juga sama-sama
menunjukkan efektifitasnya dalam mengobati konstipasi pada orang
usia lanjut yang berobat jalan. Sorbitol sebaiknya diberikan 20-30
selama empat kali sehari. Glikol polietelin merupakan pencahar
hiperosmolar yang potensial yang mengalirkan cairan ke lumen dan
merupakan zat pembersih usus yang efektif. Gliserin adalah pencahar
hiperomolar yang dugunakan hanya dalam bentuk supositoria.
e. Enema
Enema merangsang evakuasi sebagai respon terhadap distensi
kolon; hasil yang kurang baik biasanya karena pemberian yang tidak
memadai. Enema harus digunakan secara hati-hati pada usia lanjut.
Pasien usia lanjut yang mengalami tirah baring mungkin membutuhkan
enema secara berkala untuk mencegah skibala. Namun, pemberian
enema tertentu terlalu sering dapat mengakibatkan efek samping.
Enema yang berasal dari kran (tap water) merupakan tipe paling aman
untuk penggunaan rutin, karena tidak menghasilkan iritasi mukosa
kolon. Enema yang berasal dari air sabun (soap-suds) sebaiknya tidak
diberikan pada orang usia lanjut.

10

BAB III
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
A. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Biodata Pasien
b. Keluhan Utama
c. Riwayat Kesehatan
d. Riwayat kesehatan
Riwayat kesehatan dibuat untuk mendapatkan informasi tentang
awitan dan durasi konstipasi, pola emliminasi saat ini dan masa lalu,
serta harapan pasien tentang elininasi defekasi. Informasi gaya hidup
harus dikaji, termasuk latihan dan tingkat aktifitas, pekerjaan, asupan
nutrisi dan cairan, serta stress. Riwayat medis dan bedah masa lalu,
terapi obat-obatan saat ini, dan penggunaan laksatif serta enema adalah
penting. Pasien harus ditanya tentang adanya tekanan rektal atau rasa
penuh, nyeri abdomen, mengejan berlebihan saat defekasi, flatulens,
atau diare encer.
e.
f.
g.
h.

Riwayat / Kondisi Psikososial


Pemeriksaan Fisik
Pola Kebiasaan Sehari-hari
Analisa data
Pengkajian objektif mencakup inspeksi feses terhadap warna, bau,
konsistensi, ukuran, bentuk, dan komponen. Abdomen diauskultasi
terhadap adanya bising usus dan karakternya. Distensi abdomen
diperhatikan. Area peritonial diinspeksi terhadap adanya hemoroid,
fisura, dan iritasi kulit.

2. Diagnosa
a. Konstipasi berhubungan dengan penurunan respon terhadap dorongan
defekasi
b. ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
c. Nyeri akut berhubungan dengan akumulasi feses keras pada abdomen.
3. Perencanaan NOC NIC
No

NOC

NIC

11

Dx
1

Setelah dilakukan tindakan


keperawatan selama 3x7 jam, pasien
dengan Konstipasi diharapkan dapat
teratasi dengan kriteria hasil :
Pola BAB dalam batas normal
Feses lunak
Cairan dan serat adekuat
Aktivitas adekuat
Hidrasi adekuat

Setelah dilakukan tindakan


keperawatan selama 3x7 jam, pasien
dengan ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh
diharapkan dapat teratasi dengan
kriteria hasil :
NOC - Nutritional Status (status
nutrisi) :
Intake nutrisi meningkat
sesuai dengan diit
Intake makanan dan cairan
meningkat sesuai dengan diet

NIC
Manajemen konstipasi
Identifikasi faktor-faktor yang
menyebabkan konstipasi
Monitor tanda-tanda ruptur
bowel/peritonitis
Jelaskan
penyebab
dan
rasionalisasi tindakan pada
pasien
Konsultasikan dengan dokter
tentang
peningkatan
dan
penurunan bising usus
Kolaburasi jika ada tanda dan
gejala konstipasi yang menetap
Jelaskan pada pasien manfaat
diet (cairan dan serat) terhadap
eliminasi
Jelaskan pada klien konsekuensi
menggunakan laxative dalam
waktu yang lama
Kolaburasi dengan ahli gizi diet
tinggi serat dan cairan
Dorong peningkatan aktivitas
yang optimal
Sediakan privacy dan keamanan
selama BAB
NIC - Nutrition Management
Catat status nutrisi pasien pada
penerimaan,catat turgor
kulit.BB,Intergritas mukosa
oral,kemampuan
menelan,riwayat
mual/muntah/diare
Pastikan pola diet biasa pasien
Awasi masukan dan pengeluaran
nutrisi dan BAB secara periodik
Selidiki adanya anoreksia

12

Menunjukkan perubahan
prilaku/pola hidup untuk
menigkatkan/mempertahankan
BB.

Setelah dilakukan tindakan


keperawatan selama 3x7 jam, pasien
Nyeri akut diharapkan dapat teratasi
dengan kriteria hasil :
Mampu mengontrol nyeri (tahu
penyebab nyeri, mampu
menggunakan tehnik
nonfarmakologi untuk mengurangi
nyeri, mencari bantuan)
Melaporkan bahwa nyeri
berkurang dengan menggunakan
manajemen nyeri
Mampu mengenali nyeri (skala,
intensitas, frekuensi dan tanda
nyeri
Menyatakan rasa nyaman setelah
nyeri berkurang
Tanda vital dalam rentang normal
Tidak mengalami gangguan tidur

Lakukan pengkajian nyeri secara


komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi,
kualitas dan faktor presipitasi
Observasi reaksi nonverbal dari
ketidaknyamanan
Bantu pasien dan keluarga untuk
mencari
dan
menemukan
dukungan
Kontrol lingkungan yang dapat
mempengaruhi nyeri seperti
suhu ruangan, pencahayaan dan
kebisingan
Kurangi faktor presipitasi nyeri
Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
menentukan intervensi
Ajarkan tentang teknik non
farmakologi:
napas
dala,
relaksasi, distraksi, kompres
hangat/ dingin
Berikan
analgetik
untuk
mengurangi nyeri: ...
Tingkatkan istirahat
Berikan informasi tentang nyeri
seperti penyebab nyeri, berapa
lama nyeri akan berkurang dan
antisipasi ketidaknyamanan dari
prosedur

DAFTAR PUSTAKA
Arif, Mansjoer, dkk., ( 2000 ), Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Medica
Aesculpalus, FKUI, Jakarta.

13

Doengus ME, Moorhouse MF, GE Isster AC, 1999. Rencana Asuhan


Keperawatan; Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian
Perawatan Pasien. Jakarta, EGC.
NIDDK (National Istitute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease). 2001,
Understanding Adult Obesity. \
Herdman, T Heatrher, PhD, RN, Diagnosa Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi
2009-2011. Jakarta : EGC
Moorhead, Sue PhD, RN dkk. 2004. Nursing Outcome Classification (NOC)
Fourth Edition. United State of America : Mosby Elsevier
Moorhead, Sue PhD, RN dkk. 2004. Nursing Intervention Classification (NIC)
United State of America : Mosby Elsevier
Perry, P. d. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan
Praktik, Edisi 4 Volume 2. Jakarta: EGC.
Wilkinson, Judith.M, 2006, Buku Saku Diagnosis Keperawatan (Edisi 7), Jakarta :
EGC

14