Anda di halaman 1dari 18

Takehome Exam

(Disusun untuk Memenuhi Ujian Tengah Semester Mata Kuliah Teori Akuntansi)
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Sutrisno T., S.E, M.Si, Ak, CA

Oleh :
Anisa Ayu Kharismasari (2014240921)

Kelompok Diskusi :
1. Anisa Ayu K.
2. Annisa Sabrina D.
3. Irmayunita Dewi A.

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI

UJIAN TENGAH SEMESTER


Mata kuliah: Teori Akuntansi
perjanjian
Dosen: Prof. Dr. Sutrisno T., S.E, M.Si, Ak, CA

Dikumpulkan:

sesuai

Sifat: Takehome Exam

1. Jelaskan rerangka konseptual (conceptual framework) menurut saudara, dan


sebutkan pula publikasi apa saja yang termasuk rerangka konseptual
tersebut!
Jawaban :
Kerangka kerja konseptual adalah suatu sistem koheren yang terdiri dari tujuan
dan konsep fundamental yang saling berhubungan, yang menjadi landasan bagi
penetapan standar yang konsisten dan penentuan sifat, fungsi, serta batas- batas dari
akuntansi keuangan dan laporan keuangan akuntansi yang didasarkan pada penalaran
logis yang menjelaskan kenyataan yang terjadi dan menjelaskan apa yang harus
dilakukan apabila ada fakta atau fenomena baru.
Kerangka konseptual digambarkan
dalam bentuk
hirarki yang memiliki
beberapa tingkatan.Yang dimaksud tujuan adalah tujuan pelaporan keuangan.
Sedangkan fundamentals (kaidah-kaidah pokok) adalah konsep-konsep yang
mendasarai akuntansi keuangan, yakni yang menuntun kepada pemilihan transaksi,
kejadian, dan keadaan-keadaan yang harus dipertanggungjawabkan, pengakuan dan
pengukurannya, cara meringkas serta mengkomunikasikannya kepada pihak-pihak
yang berkepentingan.Konsep-konsep yang bersifat pokok atau fundamental, artinya
bahwa konsep-konsep lainnya mengalir dari konsep-konsep pokok tersebut yang
diperlukan sebagai referensi berulang-ulang dalam menetapkan, menafsirkan, dan
menetapkan standar akuntansi keuangan dan pelaporan.
Kebutuhan akan Kerangka Kerja Konseptual
1. Kerangka kerja konseptual akan meningkatkan pemahaman dan keyakinan
pemakai laporan keuangan atas pelaporan keuangan, dan akan menaikkan
komparabilitas antar laporan keuangan perusahaan.
2. Masalah-masalah yang baru akan dapat dipecahkan secara cepat jika mengacu
pada kerangka teori yang telah ada

Publikasi yang termasuk rerangka konseptual adalah :


a. Statement of Financial Accounting Concept (SFAC), yang dihasilkan Financial
Accounting Standard Board (FASB) :
1. SFAC No. 1, Objectives of Financial Reporting by Business
Enterprises, yang menyajikan tujuan dan sasaran akuntansi (1978).
2. SFAC No. 2, Qualitative Characteristics of Accounting Information,
yang menjelaskan karakteristik yang membuat informasi akuntansi
bermanfaat (1980).
3. SFAC No. 3, Element of Financial Statement of Business Enterprises,
yang memberikan definisi dari pos-pos yang terdapat dalam laporan
keuangan (1980)
4. SFAC No. 4, Objectives of Financial Reporting by Nonbusiness
Organizations (1980)
5. SFAC No. 5, Recognition and Measurement in Financial Statement of
Business Enterprises, yang menetapkan kriteria pengakuan dan
pengukuran fundamental serta pedoman tentang informasi apa yang
biasanya harus dimasukkan dalam laporan keuangan dan kapan
waktunya (1984).
6. SFAC No. 6, Element of Financial Statements, yang menggantikan
SFAC No.3 dan memperluas lingkup SFAC No. 3 dengan memasukkan
organisasi nirlaba (1985)
7. SFAC No. 7, Using Cash Flow Information and Present Value of
Accounting Measurements, yang memberikan kerangka kerja bagi
pemakaian arus kas masa depan yang diharapkan dan nilai sekarang
(present value) sebagai dasar pengukuran (2000)
8. SFAC
No.
8,
Conceptual
Framework
for
Financial
Reporting,menggantikan SFAC No. 1 dan No. 2 (2010).
b. A Statement of Basic Accounting Theory (ASOBAT) yang dihasilkan oleh
American Accounting Association (AAA) pada tahun 1966.
c. Accounting Principles Board Statement No. 4, dihasilkan oleh Accounting
Principles Board (APB) pada tahun 1970.
d. Objective of Financial Statements yang dihasilkan oleh Trueblood Committee
tahun 1973.
e. Statement of Accounting Theory and Theory Acceptance (SATTA), yang
dihasilkan oleh American Accounting Association (AAA) pada tahun 1977.
2. Jelaskan perkembangan teori akuntansi positif dan hubungannya dengan
kemajuan riset akuntansi keuangan dan pasar modal!
Jawaban :
Perkembangan teori positif tidak dapat dilepaskan dari ketidakpuasan terhadap
teori normatif (Watt & Zimmerman,1986). Selanjutnya dinyatakan bahwa dasar
pemikiran untuk menganalisa teori akuntansi dalam pendekatan normatifterlalu

sederhana dan tidak memberikan dasar teoritis yang kuat. Terdapat tiga alasan
mendasar terjadinya pergeseran pendekatan normatif ke positif yaitu (Watt &
Zimmerman,1986 ):
1. Ketidakmampuan pendekatan normatif dalam menguji teori secara empiris,
karena didasarkan pada premis atau asumsi yang salah sehingga tidak dapat
diuji keabsahannya secara empiris.
2. Pendekatan normatif lebih banyak berfokus pada kemakmuran investor secara
individual daripada kemakmuran masyarakat luas.
3. Pendekatan normatif tidak mendorong atau memungkinkan terjadinya alokasi
sumber daya ekonomi secara optimal di pasar modal. Hal ini mengingat bahwa
dalam system perekonomian yang mendasarkan pada mekanisme pasar,
informasi akuntansi dapat menjadi alat pengendali bagi masyarakat dalam
mengalokasi sumber daya ekonomi secara efisien.
Pada awal perkembangannya teori akuntansi menghasilkan teori normatif yang
didefinisikan sebagai teori yang mengharuskan dan menggunakan kebijakan nilai
(value judgement), (Wolk & Tearney, 1997). Teori normatif pada awalnya belum
menggunakan pendekatan investigasi formal, baru pada perkembangan berikutnya
mulai digunakannya pendekatan investigasi terstruktur formal, yaitu pendekatan
deduktif (dimulai dari proposisi akuntansi dasar sampai dengan dihasilkan prinsip
akuntansi yang rasional sebagai dasar untuk mengembangkan teknik-teknik akuntansi
(Anis dan Imam,2003). Selain itu perkembangan akuntansi juga mengarah pada teori
akuntansi positif atau deskriptif yang investigasinya sudah lebih terstruktur dengan
menggunakan pendekatan induktif (didasarkan pada konklusi yang digeneralisasikan
berdasarkan hasilobservasi dan pengukuran yang terinci (Anis dan Imam,2003).
Berbagai teori positif atau deskriptif berkembang dengan pesat dalam akuntansi.
Perkembangan teori mengarah pada teori positif (deskriptif) ini dibarengi dengan
perubahan fokus teori akuntansi yang digunakan oleh lembaga akuntansi, misalnya
FASB yang menekankan pada kegunaan dalam pengambilan keputusan dan tidak lagi
terfokus pada postulate seperti terlihat pada kerangka konseptual yang diterbitkan oleh
FASB mulai tahun 1979 yang dimulai dengan perumusan tujuan pelaporan keuangan
(SFAC 1).Teori akuntansi positif berupaya menjelaskan sebuah proses, yang
menggunakan kemampuan, pemahaman, dan pengetahuan akuntansi serta penggunaan
kebijakan akuntansi yang paling sesuai untuk menghadapi kondisi tertentu dimasa
mendatang. Teori akuntansi positif pada prinsipnya beranggapan bahwa tujuan dari
teori akuntansi adalah untuk menjelaskan dan memprediksi praktik-praktik akuntansi.
Ada dua jenis penelitian pasar modal yang penting dalam teori akuntansi positif yaitu :
1. Penelitian yang berusaha menentukan pengaruh dikeluarkannya informssi
keuangan terhadap share return, dan
2. Penelitian yang mempertimbangkan efek perubahan kebijakan akuntansi pada
harga saham. Kebanyakan riset pada wilayah ini telah dilakukan dengan
menguji bentuk semistrong dari hipotesis pasar efisien (EMH). EMH memiliki

implikasi yang signifikan untuk kedua aspek teori akuntansi positif dan
pengaturan standar akuntansi secara keseluruhan. Studi peristiwa, studi asosiasi,
dan pendekatan perilaku mekanistis adalah beberapa contoh penelitian yang
diuji hubungannya dalam pasar modal. Hipotesis pasar efisien mengacu pada
teori harga mikroekonomi, yang karateristiknya adalah menekankan pada
penawaran dan permintaan indformasi pada pasar. Pada pasar modal yang
kompetitif, marginal cost informasi sama dengan marginal revenuenya.
EMH mengacu pada teori harga ekonomi mikro, yang ditandai dengan emphasi
pada penawaran dan permintaan, analisis keseimbangan dan persaingan sempurna pasar
modal, dalam kesetimbangan biaya marjinal informasi sama dengan pendapatan
marjinal. Oleh karena itu, tidak mungkin, rata-rata, untuk mendapatkan keuntungan
ekonomi murni dengan perdagangan pada informasi ini. Ball menunjukkan bahwa
pekerjaan empiris awal, seperti karya fama, Fisher, Jensen dan Roll dalam kaitannya
dengan reaksi harga saham terhadap stock split.
Setelah periode ini, mulailah dikenal pengujian empiris dengan didukung oleh
penggunaan data base yang berasal dari CRSP (Center for Research in Security
Prices). Pengkombinasian data dengan menggunakan komputer banyak menghasilkan
penelitian mengenai perilaku harga saham dan pengaruh informasi terhadap harga
saham (misal: Fama, 1976). Hasil penelitian empiris ini membawa kepada
pengembangan tentang EMH (efficient markets hypothesis). Dalam teori akuntansi
positif, tidak dijelaskan tentang praktek akuntansi, tetapi dilakukan penelitian terhadap
hubungan pengumuman laba dengan reaksi harga saham. Untuk melakukan penelitian
dalam tahap ini digunakan Hipotesis Pasar Efisien (Efficiency Market Hyphothesis)
(Scott,2000). Pasar modal efisien adalah pasar modal dimana harga surat-surat berharga
yang diperdagangkn setiap waktu secara wajar dan merefleksikan semua informasi
yang diketahui publik berkaitan dengan surat berharga dan Capital Asset Pricing Model
(CAPM).
3. Saat ini sedang terjadi pergeseran pelaporan keuangan menuju ke arah
paradigma perspektif pengukuran. Perspektif pengukuran dan perspektif
informasi dibahas secara terpisah dalam literatur akuntansi. Setiap perspektif
tidak mempertimbangkan aspek yang ditawarkan oleh perspektif yang
lainnya. Setujukan saudara? Berikan komentar!
Jawaban :
Perspektif informasi lebih menekankan pengungkapan penuh (full disclosure),
apapun bentuknya, untuk meningkatkan kegunaan informasi akuntansi bagi investor.
Perspektif informasi didasari asumsi bahwa terdapat cukup banyak investor rasional
terinformasi, yang dapat secara cepat dan tepat memasukkan bentuk pengungkapan
apapun ke dalam harga pasar yang efisien. Sebaliknya, perspektif pengukuran lebih
menekankan peran fundamental dari informasi akuntansi keuangan untuk menentukan
nilai perusahaan Perspektif pengukuran lebih menekankan kualitas angka akuntansi
dalam laporan keuangan, termasuk di dalamnya adalah kualitas laba. Kedua perspektif
ini, perspektif informasi dan perspektif pengukuran, mendasari kebijakan-kebijakan
badan penyusun standar akuntansi.

Literatur-literatur akuntansi membahas kedua perspektif ini secara terpisah.


Entwistle dan Phillips (2003), Cornell dan Landsman (2003), dan Francis et al. (2002)
menggunakan perspektif informasi, dan menyatakan pentingnya luas pengungkapan
untuk meningkatkan kegunaan informasi akuntansi bagi investor. Riset dan argumen
Lev dan Zarowin (1999), Collins et al. (1997), Francis dan Schipper (1999), Ota
(2001), dan Bao dan Bao (2004) didasari perspektif pengukuran. Mereka menyatakan
bahwa kegunaan informasi akuntansi berhubungan positif dengan kualitas angka
akuntansi. Paparan di atas menunjukkan bahwa perspektif informasi dan perspektif
pengukuran dibahas secara terpisah dalam literatur-literatur akuntansi. Tiap-tiap
perspektif tidak mempertimbangkan aspek yang ditawarkan oleh perspektif lainnya.
Menurut hemat saya bagaimanapu juga kedua perspektif tersebut adalah hal yang
sangat penting dalam dunia akuntansi Perspektif pengukuran yang menekankan
kualitas angka akuntansi, tidak dapat mengabaikan peran pengungkapan informasi
secara luas.
Pemikir-pemikir akuntansi mengkritik ketidakmampuan angka akuntansi untuk
memenuhi kebutuhan investor dan pemakai laporan keuangan lainnya, sehingga
diperlukan pengungkapan informasi yang cukup luas. Perspektif informasi, yang
menekankan pengungkapan luas, perlu mempertimbangkan kualitas angka akuntansi
untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kelebihan informasi.
Interaksi perspektif informasi dan perspektif pengukuran menjadi penting,
karena kedua aspek dari kedua perspektif tersebut, yaitu kualitas angka akuntansi dan
pengungkapan informasi secara luas, tidak dapat diabaikan salah satu. Perspektif
informasi perlu mempertimbangkan kualitas angka akuntansi, dan perspektif
pengukuran perlu mempertimbangkan luas pengungkapan. Jadi sebaiknya kedua
persepektif tersebut haruslah dipertimbangkan karena adanya keterkaitan antara kedua
persfektif tersebut yang saling mendukung. Disamping itu ketika kedua perspektif
tersebut digunakan untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing informasi
yang disajikan akan lebih berkualitas.
4. Seperti dalam studi Ball dan Brown (1968) mengapa reaksi pasar terjadi
sebelum pengumuman (laba) itu sendiri dilakukan. Di dalam short window dan
long window dalam pengujian reaksi pasar, mana yang memberi bukti yang
lebih kuat atas usefulness informasi akuntansi.
Jawaban :
Penelitian mengenai pengaruh kandungan informasi terhadap harga saham
pertama kali dilakukan oleh Ball dan Brown (1968). Penelitian tersebut menguji apakah
pengumuman laba (earnings announcement) mempunyai hubungan positif dengan
harga saham. Hasilnya menunjukkan adanya abnormal return positif akibat
pengumuman. Sejalan dengan penelitian tersebut, Beaver (1968) menemukan bukti
bahwa pengumuman laba mempunyai kandungan informasi yang mempengaruhi reaksi
investor yang tercermin pada perubahan harga dan volume saham perusahaan
bersangkutan. Bamber (1986) yang meneliti pengaruh kandungan informasi
pengumuman laba tahunan juga menyimpulkan adanya reaksi pasar yang positif, yang
tercermin dari harga dan volume saham yang diperdagangkan meningkatkan setelah

pengumuman laba tersebut. Beza (1997) membuktikan bahwa perusahaan yang


mengumumkan laba tahunannya secara signifikan akan mengalami peningkatan
volume perdagangan dibanding sebelum pengumuman laba tersebut. Choi (2002) juga
menemukan pengaruh (implikasi) pengumuman earnings terhadap subsequent return
perusahaan yang melakukan publikasi tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar
merespon secara positif pengumuman tersebut.
Sampel yang diambil dalam penelitian Ball dan Brown (1968), adalah
perusahaan-perusahaan yang listing di NYSE dan berfokus pada informasi tentang
pendapatan. Pendapatan untuk perusahaan NYSE secara khusus dipublikasikan melalui
media sebelum dilakukannya penerbitan aktual atas laporan tahunan. jadi hal tersebut
relatif lebih mudah bagi investor untuk memutuskan ketika informasi tersebut pertama
kali dikeluarkan menjadi konsumsi public.Hal ini akan membuat pasar segera bereaksi
atas adanya informasi pendapatan yang dipublikasikan tersebut, walaupun informasi
tersebut bukan diterbitkan secara resmi oleh perusahaan yang bersangkutan. Bila
informasi tersebut good news, dapat dipastikan bahwa pasar akan bereaksi positif atas
saham perusahaan yang bersangkutan. Namun apabila yang terjadi adalah bad news,
maka yang akan terjadi adalah sebaliknya, yaiu reaksi pasar yang sifatnya negatif.
Usefullness dari informasi akuntansi akan jauh lebih kuat dalam short window
atau observasi yang dilakukan beberapa hari sebelum pengumuman earning. Alasannya
yaitu dalam short window faktor-faktor lain yang mempengaruhi laba relatif lebih
sedikit. Sehingga informasi akuntansi akan sangat berpengaruh bagi pengguna
informasi untuk kepentingan pembuatan keputusan. Hubungan dalam short window
memberikan dukungan yang kuat terhadap decision usefulness karena memberikan
usulan bahwa informasi akuntansi yang secara aktual mendorong revisi kepercayaan
investor dan juga return sekuritas.
Short window dapat memberi bukti lebih kuat atas usefulness informasi
akuntansi karena selama short window ada beberapa kejadian spesifik perusahaan yang
relative terjadi dari pada laba bersih yang mempengaruhi pengembalian saham. Selain
itu, jika kejadian lain terjadi, seperti stock splits atau pengumuman dividen, hal tersebut
dapat mempengaruhi perusahaan. Sebuah gabungan short window diantara
pengembalian sekuritas dan informasi akuntansi menyarankan bahwa pengungkapan
akuntansi merupakan sumber informasi baru untuk investor. Sedangkan evaluasi return
dalam long-window bagaimanapun membuka kemungkinan adanya return yang
diperoleh melalui faktor yang lain selain earnings.
5. Dalam EMH seharusnya tidak ada reaksi pasar atas perubahan prosedur
akuntansi, tetapi mengapa manajer masih melakukan manajemen laba.
Jawaban :
Manajer yang rasional akan mempertimbangkan terjadinya konsekuensi
ekonomi yang menyatakan bahwa pemilihan kebijakan akuntansi akan mempengaruhi
tidak hanya tehadap teori pasar sekuritas efisien, tetapi juga terhadap nilai perusahaan.
Jika kebijakan tersebut penting bagi manajemen, maka kebijakan akuntansi juga
penting bagi investor yang mempunyai kepemilikan atas perusahaan tersebut. Hal ini
dikarenakan manajer mungkin akan mengubah operasional perusahaan yang terjadi
karena perubahan kebijakan akuntansi. Dengan kata lain bahwa pelaporan akuntansi

dapat mempengaruhi keputusan sebenarnya yang dibuat oleh manajer dan pihak
lainnya daripada hanya mencerminkan hasil dari keputusan.
Pasar dapat menggunakan earnings management untuk menduga atau
mengambil kesimpulan mengenai informasi dari dalam. Dan juga, ketika tingkat dari
earnings management itu baik, maka penentuan standar yang merupakan keterbatasan
dari pilihan akuntansi akan menurunkan kemampuan pelaporan keuangan untuk
mengungkapkan informasi dari dalam.
Selain itu, Manajemen laba dapat meningkatkan kepercayaan pemegang saham
terhadap manajer. Manajemen laba berhubungan erat dengan tingkat perolehan laba
atau prestasi usaha suatu organisasi, hal ini karena tingkat keuntungan atau laba
dikaitkan dengan prestasi manajemen dan juga besar kecilnya bonus yang akan
diterima oleh manajer.
Manajemen laba juga dapat memperbaiki hubungan dengan pihak kreditor.
Perusahaan yang terancam default yaitu tidak dapat memenuhi kewajiban pembayaran
utang pada waktunya, perusahaan berusaha menghindarinya dengan membuat
kebijakan yang dapat meningkatkan pendapatan maupun laba. Dengan demikian akan
memberi posisi bargaining yang relatif baik dalam negoisasi atau penjadwalan ulang
utang antara pihak kreditor dengan perusahaan.
Manajemen laba dapat menarik investor untuk menanamkan modalnya terutama
pada perusahaan go publik pada saat IPO. Manajemen laba muncul dalam proses
pelaporan keuangan suatu organisasi karena manajer atau para pembuat laporan
mengharapkan suatu manfaat dari tindakan yang dilakukannya. Manajemen laba
merupakan dampak dari penggunaan dasar akrual dalam penyusunan laporan keuangan.
Pada dasarnya, basis akrual dipilih dengan tujuan untuk menjadikan laporan keuangan
lebih informatif yaitu laporan keuangan yang benar-benar mencerminkan kondisi yang
sebenarnya. Namun dalam kenyataannya, penggunaan dasar akrual membuka peluang
bagi manajemen untuk melakukan praktik manajemen laba. Karena itulah, walaupun
dalam EMH manajer tetap melakukan praktik manajemen laba.
Manajemen laba adalah cara yang digunakan oleh manajer untuk mempengaruhi
angka laba secara sistematis dan sengaja dengan cara memilih kebijakan akuntansi dan
prosedur akuntansi tertentu yang bertujuan untuk memaksimumkan utility manajer dan
harga saham. Dari definisi tersebut, jelas bahwa manajemen laba merupakan intervensi
langsung manajer dalam proses pelaporan keuangan dengan maksud untuk
mendapatkan keuntungan atau manfaat tertentu, baik bagi manajer maupun bagi
perusahaan.
Adapun teori-teori yang menjelaskan adanya manajemen laba pada suatu
perusahaan yaitu:
1. Teori Sinyal (Signaling Theory)
Teori sinyal (signaling theory) merupakan salah satu teori yang mendasari
penelitian tentang praktek perataan laba, salah satu bentuk manajemen laba. Teori ini
berkaitan dengan asimetri informasi yang dapat terjadi apabila salah satu pihak
mempunyai sinyal informasi yang lebih lengkap daripada pihak lain. Angka-angka
akuntansi yang dilaporkan oleh pihak manajemen dapat digunakan sebagai sinyal, bila
angka-angka tersebut dapat mencerminkan informasi mengenai atribut-atribut
keputusan perusahaan yang tidak terpantau.
2. Teori Keagenan (Agency Theory)

Dalam teori ini dijelaskan bahwa terdapat kontrak yang menjadi landasan satu
pihak (principal/pemilik) mempekerjakan pihak lain (agent) untuk mengelola
perusahaan atas nama perusahaan. Berdasarkan kontrak tersebut, principal
mendelegasikan wewenang pembuatan keputusan kepada agent. Pemisahan
kepemilikan dan operasional ini berarti bahwa para manajer, sebagai agent pemegang
saham, dapat bertindak untuk kepentingan mereka sendiri.
3. Teori Akuntansi Positif (Positive Accounting Theory)
Teori akuntansi positif atau positive accounting theory (PAT) berusaha
mengungkapkan pengaruh faktor-faktor ekonomi terhadap perilaku manajer untuk
memilih suatu metode akuntansi. Terdapat tiga hipotesis yang diungkapkan oleh
Zimmerman (1986) yang mendorong timbulnya fenomena manajemen laba, yaitu
hipotesis rencana bonus (bonus plan hypothesis), hipotesis kontrak utang (debt
covenant hypothesis) dan hipotesis biaya politis (political cost hypothesis). Hipotesis
rencana bonus menyatakan bahwa manajer pada perusahaan yang menggunakan
kebijakan rencana bonus cenderung untuk menggunakan metode akuntansi yang akan
meningkatkan income saat ini. Sedangkan hipotesis kontrak utang menyebutkan
manajer pada perusahaan yang mempunyai debt to equity ratio besar akan cenderung
menggunakan metode akuntansi yang akan meningkatkan pendapatan maupun laba.
Hipotesis biaya politis menyatakan bahwa pada perusahaan yang besar, yang kegiatan
operasinya menyentuh sebagian besar masyarakat akan cenderung untuk mengurangi
laba yang dilaporkan.

6. Konsep historical cost sering mendapat kritik tajam karena dianggap sudah
ketinggalan jaman dan tidak relevan dalam menyajikan informasi akuntansi.
Jelaskan pendapat saudara baik setuju maupun yang tisak setuju!
Jawaban :
Historical cost sering mendapat kritik tajam karena dianggap sudah ketinggalan
jaman dan tidak relevan dalam menyajikan informasi akuntansi karena Historical Cost
Principle adalah prinsip akuntansi yang mengakui harta atau utang dicatat pada nilai
historisnya atau harga perolehan, historical cost (HC) selama ini menggunakan
perspektif informasi lama kelamaan akan ditinggalkan oleh pemakainya. Memang
informasi yang disajikan oleh historical cost merupakan informasi yang reliable karena
didukung oleh transaksi yang benar-benar real dan akurat pencatatannya. Hanya saja,
investor ternyata membutuhkan informasi yang lebih relevan dalam pengambilan
keputusan. Karena data yang digunakan oleh historical cost adalah data lama yang
sudah tidak sesuai dengan kondisi saat ini dan tidak menggambarkan perusahaan yang
sebenarnya, maka HC tidak dapat memberikan informasi yang berdaya tambah kepada
pihak yang membutuhkan informasi. Jadi menurut saya konsep historical cost ini sudah
ketinggalan jaman, Dalam perkembangannya saya rasa historical cost akan beralih pada
fair value accounting (FVA) yang menggunakan perpektif pengukuran.
Historical cost (HC) yang selama ini menggunakan perspektif informasi lama
kelamaan akan ditinggalkan oleh pemakainya. Memang informasi yang disajikan oleh
historical cost merupakan informasi yang reliable karena didukung oleh transaksi yang
benar-benar real dan akurat pencatatannya. Hanya saja, investor ternyata membutuhkan

informasi yang lebih relevan dalam pengambilan keputusan. Karena data yang
digunakan oleh historical cost adalah data lama yang sudah tidak sesuai dengan kondisi
saat ini dan tidak menggambarkan perusahaan yang sebenarnya, maka HC tidak dapat
memberikan informasi yang berdaya tambah kepada pihak yang membutuhkan
informasi.
7. Isu tentang IFRS, IAS, harmonisasi dan konvergensi terkait erat dengan
faktor budaya (culture) antarnegara. Berikan penjelasan singkat tentang isuisu tersebut.
Jawaban :
Budaya merupakan faktor lingkungan yang paling kuat mempengaruhi sistem
akuntansi suatu negara dan juga bagaimana individu di negara tersebut menggunakan
informasi akuntansi. Praktek akuntansi sangat dipengaruhi oleh budaya, sehingga
ketidakseragaman praktek akuntansi internasional banyak disebabkan oleh budaya
(Violet, 1983; dan Hofstede, 1986). Mengacu pada model Hofstede's (1980) untuk
pembentukan dan stabilisasi pola budaya, Gray (1988) mengembangkan kerangka
untuk menjelaskan bagaimana budaya mempengaruhi sistem akuntansi nasional. Secara
singkat, Gray (1988) menjelaskan bahwa nilai-nilai budaya yang di amalkan secara
bersama sama di negara tertentu akan merubah budaya akuntansi yang seterusnya akan
mempengaruhi sistem akuntansi negara yang bersangkutan.
Budaya adalah nilai dan attitude yang digunakan dan di yakini oleh suatu
masyarakat atau negara. Variabel budaya tergambar dalam kelembagaan negara yang
bersangkutan. Hofstede (1980; 1983) meneliti dimensi budaya di 39 negara. Dia
mendefinisikan budaya sebagai The collective programming of the mind which
distinguishes the members of one human group from another' (Hofstede 1983) dan
membagi dimensi budaya menjadi 4 bagian
1. Individualism (lawan dari collectivism)
Individualism merefleksikan sejauh mana individu mengharapkan kebebasan pribadi.
Ini berlawan dengan collectivism (kelompok) yang didefinisikan menerima
tanggungjawab dari keluarga, kelompok masyarakat (suku, dan lain-lain).
2. Power distance
Didefinisikan sebagai jarak kekuasan antara Boss B dengan Bawahan S dalam hirarki
organisasi adalah berbeda antara sejauh mana B dapat menentukan prilaku S dan
sebaliknya (Hofstede 1983). Pada masyarakat yang power distance besar, adanya
pengakuan tingkatan didalam masyarakat dan tidak memerlukan persamaan tingkatan.
Sedangkan pada masyarakat yang power distance kecil, tidak mengakui adanya
perbedaan dan membutuhkan persamaan tingkatan didalam masyarakat.
3. Uncertainty avoidance
Ketidakpastian mengenai masa depan adalah sebagai dasar kehidupan masyarakat.
Masyarakat yang tingkat ketidakpastiannya tinggi akan mengurangi dampak

ketidakpastian dengan teknologi, peraturan dan ritual. Sedangkan masyarakat dengan


tingkat menghindari ketidak pastian yang rendah akan lebih santai sehingga praktik
lebih tergantung prinsip dan penyimpangan akan lebih bisa ditoleransi.
4. Masculinity Vs Femininity
Nilai Maskulin menekankan pada nilai kinerja dan pencapaian yang nampak,
sedangkan Feminine lebih pada preferensi pada kualitas hidup, hubungan persaudaraan,
modis dan peduli pada yang lemah.
Gray (1988) mengidentifikasi empat budaya akuntansi yang bisa digunakan untuk
mendefinisikan sub-budaya akuntansi: Professionalism, Uniformity, Conservatism, dan
secrecy. Penjelasan mengenai nilai-nilai sub-budaya tersebut sebagai berikut;

Professionalism vs. Statutory Control adalah preferensi untuk melaksanakan


pertimbangan profesional individu dan memelihara aturan-aturan yang dibuat
sendiri untuk mengatur profesionalitas dan menolak patuh dengan perundanganundangan dan kontrol dari pihak pemerintah.

Uniformity vs. Flexibility adalah suatu preferensi untuk memberlakukan


praktik akuntansi yang seragam antara perusahaan dan penggunaan praktik
tersebut secara konsisten dan menolak flexibelitas.

Conservatism vs. Optimism adalah suatu preferensi untuk suatu pendekatan


hati-hati dalam pengukuran dan juga sesuai dengan ketidakpastian masa yang
akan datang. Dimensi menolak untuk konsep lebih optimis dan pendekatan yang
penuh resiko.

Secrecy vs Transparency adalah suatu preferensi untuk bersikap konfidensial


dan membatasi disclosure informasi mengenai bisnis dan menolak untuk
bersikap transfaran, terbuka, dan pendekatan pertanggungjawaban pada publik.

Produk utama dari akuntansi adalah informasi keuangan yang dijabarkan dalam
bentuk laporan keuangan. Agar sebuah laporan keuangan dapat bernilai guna, laporan
tersebut harus mampu dibandingkan dengan laporan keuangan yang dihasilkan oleh
negara lain. Toleransi adanya budaya dalam pembahasan akuntansi yang tertuang
melalui perbedaan standar akuntansi di setiap negara memungkinkan adanya
ketidakseragaman konsep dalam pembuatan laporan keuangan. Kondisi seperti ini akan
berpengaruh terhadap keputusan investor untuk menggunakan laporan keuangan
sebagai salah satu alat analisis investasi. Apabila pihak-pihak yang seharusnya
membutuhkan laporan keuangan tidak lagi membutuhkan laporan keuangan, maka
fungsi dari akuntansi perlu dipertanyakan. Sehingga menurut saya budaya tidak harus
dijadikan salah satu pertimbangan dalam membuat standar akuntansi yang akan
berpengaruh terhadap laporan keuangan
Tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan jaman turut membawa perubahan
yang cukup besar dalam dunia akuntansi, dimana diantaranya adalah wacana mengenai
implementasi IFRS dalam proses akuntansi secara global. Menurut penulis, hal ini
mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Dan uraian dibawah ini adalah
pandangan penulis mengenai hal tersebut diatas. Pada dasarnya International Financial

Reporting Standards (IFRS) memang merupakan kesepakatan global standar akuntansi


yang didukung oleh banyak negara dan badan-badan internasional di dunia. Popularitas
IFRS di tingkat global semakin meningkat dari waktu ke waktu. Kesepakatan G-20 di
Pittsburg pada tanggal 24-25 September 2009, misalnya, menyatakan bahwa otoritas
yang mengawasi aturan akuntansi internasional harus meningkatkan standar global
pada Juni 2011 untuk mengurangi kesenjangan aturan di antara negara-negara anggota
G-20. Menurut penulis, hal ini cukup baik dimana dunia akuntansi secara global
mempunyai satu pedoman inti mengenai prinsip-prinsip akuntansi sehingga terdapat
keselarasan diantara satu negara dengan negara lainnya. Namun hal ini tidak mudah
diterapkan dalam waktu yang singkat. Menurut kami, terdapat 2 hal pokok yang
mendasari pernyataan tersebut. Faktor pertama yang menjadi hambatan dalam
penerapan standard ini (IFRS) di negara Indonesia adalah faktor budaya (culture),
karena kebiasaan menggunakan standard akuntasi domestik yang sudah menjadi
budaya akan sangat sulit mengubah cara/metode itu untuk menerapkan standard
international tersebut, kalaupun standard ini diterapkan maka akan membutuhkan
waktu yang lama untuk penyesuaian dan kemungkinan adanya sedikit perbedaan dalam
implementasinya. Faktor kedua adalah proses terjemahan bahasa akan menjadi faktor
kendala dalam proses penerapannya, karena proses penafsiran bahasa sedikitnya
membawa arti yang berbeda dalam konteks pemahaman inti/isi standard international
tersebut. Faktor budaya menjadi salah satu isu yang cukup rentang dari konvergensi
PSAK ke IFRS karena adanya karesteristik dan tingkat yang berbeda antara negra
merupakan hambatan yang dihadapai dalam proses harmonisasi standar akuntansi
keuangan., kebutuhan dan keinginan antara negara maju dan yang belum maju dan
antara Negara yang tingkat pertumbuhan ekonominya sangat tinggi dan Negara dengan
tingkat pertumbuhan ekonomi lebih rendah bahkan sangat rendah. Apa yang tepat
diterapkan di Amerika Serikat, belum tentu cocok diterapkan di Negara lain dengan
karakteristik lingkungan dan perkembangan ekonomi yang berbeda
8. Pengungkapan informasi akuntansi dapat dikelompokkan ke dalam
pengungkapan wajib (mandatory) dan sukarela (voluntary). Jelaskan menurut
pendapat saudara!
Jawaban :
Pengungkapan (disclosure) merupakan upaya transparansi perusahaan/entitas
dalam menyajikan informasi (baik itu keuangan ataupun non keuangan) kepada para
user. User dalam hal ini adalah para pengguna dari informasi tersebut dalam
pengambilan keputusan. Untuk entitas swasta (private) tentu saja yang menjadi user
adalah para kreditor, investor, manajer, karyawan, dan bahkan pemerintah. Sedangkan
user untukpublic entity yang saat ini juga sudah menerapkan upaya transparansi sebagai
bentuk akuntanbilitas dari laporan keuangannya adalah pemerintah bersangkutan,
masyarakat, dan investor. Dan concern di tulisan ini pengungkapan laporan keuangan
untuk entitas swasta. Adapun pengelompokan jenis pengungkapan informasi antara lain
adalah pengungkapan wajib (mandatory disclosure) dan pengungkapan sukarela
(voluntary disclosure),

Pengungkapan wajib (mandatory disclosure)

Pengungkapan wajib adalah pengungkapan minimum yang disyaratkan oleh


lembaga yang berwenang. Pengungkapan wajib di Indonesia telah diatur oleh
BAPEPAM, yaitu mengatur bentuk dan isi laporan tahunan yang wajib diungkapkan
melalui Keputusan Ketua BAPEPAM dan Lembaga Keuangan No. KEP 134/BL/2006
peraturan X.K.6 tanggal 07 Desember 2006 tentang kewajiban penyampaian laporan
tahunan bagi emiten atau perusahaan perusahaan publik.
Setiap emiten atau perusahaan publik yang terdaftar di bursa efek wajib
menyampaikan laporan tahunan secara berkala dan informasi material lainnya kepada
Bapepam dan publik. Ketentuan mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan
Bagi Emiten dan Perusahaan Publik diatur dalam peraturan nomor X.K.6. Laporan
tahunan wajib memuat ikhtisar data keuangan penting, laporan dewan komisaris,
laporan dewan direksi, profit perusahaan, analisis dan pembahasan manajemen, tata
kelola perusahaan, tanggung jawab direksi atas laporan keuangan, dan laporan
keuangan yang telah diaudit. Ikhtisar data keuangan penting meliputi sekurangkurangnya:
a.
b.
c.
d.

penjualan / pendapatan usaha;


laba (rugi) kotor
laba (rugi) usaha;
laba (rugi) bersih;

l.
m
n.
o.

e.
f.
g.

jumlah saham yang beredar


laba (rugi) bersih per saham;
proforma penjualan / pend
apatan usaha (jika ada)
proforma laba (rugi) bersih (jika
ada)
proforma laba (rugi) bersih per
saham (jika ada)

p.
q.
r.

j.

modal kerja bersih

u.

k.

jumlah aktiva

v.

h.
i.

s.
t.

jumlah investasi;
jumlah kewajiban;
jumlah ekuitas;
rasio laba (rugi) terhadap jumlah
aktiva;
rasio laba (rugi) terhadap ekuitas;
rasio lancar;
rasio kewajiban terhadap ekuitas;
rasio kewajiban terhadap jumlah
aktiva;
rasio kredit yang diberikan terhadap
jumlah simpanan (khusus untuk
perbankan);
rasio kecukupan modal (khusus
untuk perbankan); dan
informasi keuangan perbandingan
lainnya yang relevan dengan
perusahaan.

Pengungkapan wajib (mandatory disclosure)

Pengungkapan sukarela (voluntary disclosure), adalah pengungkapan yang


dilakukan secara sukarela oleh perusahaan tanpa diharuskan oleh lembaga yang
berwenang. Pengungkapan sukarela yang dilakukan perusahaan yang satu dengan yang
lain akan berbeda. Hal ini dikarenakan belum adanya peraturan mengenai luas
pengungkapan sukarela. Sehingga perusahaan bebas memilih jenis informasi yang akan
diungkapkan, yang dipandang manajemen relevan dalam membantu pengambilan
keputusan.\

Pertimbangan manajemen untuk mengungkapkan informasi secara sukarela


dipengaruhi oleh faktor biaya dan manfaat. Manajemen akan mengungkapkan
informasi secara sukarela jika manfaat yang diperoleh lebih besar daripada biayanya.
Manfaat utama yang diperoleh perusahaan dari pengungkapan sukarela adalah biaya
modal yang rendah (Elliot, Robert K. dan Jacobson, Peter D, 1994 dalam Sutomo,
1994). Pengungkapan informasi oleh perusahaan diharapkan akan membantu investor
dan kreditor memahami risiko investasi.
Manajer menyediakan item-item pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan
perusahaan karena mereka mempersepsikan bahwa item-item tersebut penting untuk
diungkap. Ada beberapa kelompok user yang masing-masing memiliki persepsi
berkenaan dengan item-item pengungkapan sukarela. Satu kelompok user mungkin
mempersepsikan item A lebih penting daripada item B. Sebaliknya mungkin kelompok
user lain mempersepsikan item B lebih penting daripada item A. Perbedaan persepsi ini
di antara group users mungkin disebabkan oleh perbedaan kebutuhan informasi untuk
memenuhi tujuan spesifik mereka. Situasi ini memunculkan penelitian yang bertujuan:
Mengidentifikasi item-item pengungkapan sukarela yang biasanya disajikan dalam
laporan tahunan perusahaan yang terdaftar di bursa efek.
Menentukan item-item pengungkapan sukarela yang penting dari persepsi users
dan prepares (penyedia laporan keuangan).
Menentukan tingkat konsensus antara users dan prepares atas pengungkapan
sukarela yang penting.
9. Saat ini topik CSR banyak dibahas dan banyak juga perusahaan yang
melaksanakan tanggungjawab sosialnya. Berikan penjelasan singkat tentang
isu CSR dan keterkaitannya dengan GCG (Good Corporate Government) yang
saudara fahami.
Jawaban :
Dalam implementasinya di lapangan, konsep GCG pada dasarnya mengandung
beberapa prinsip dasar dan sekaligus dapat dijadikan sebagai pedoman/acuan bagi para
pelaku bisnis. Beberapa prinsip tersebut adalah (Wibisono, 2007: 11-12):
1. Transparency (keterbukaan informasi)
Secara sederhana dapat diartikan sebagai keterbukaan informasi. Dalam
mewujudkan prinsip ini, perusahaan dituntut untuk menyediakan informasi yang
cukup, akurat, dan tepat waktu kepada segenap stakeholders-nya.
2. Accountability (Akuntabilitas)
Yang dimaksud akuntabilitas adalah adanya kejelasan fungsi, struktur, sistem dan
pertanggungjawaban elemen perusahaan. Apabila prinsip ini diterapkan secara

efektif, maka akan ada kejelasan akan fungsi, hak, kewajiban, dan wewenang serta
tanggungjawab antara pemegang saham, dewan komisaris dan dewan direksi.
3. Responsibility (Pertanggungjawaban)
Bentuk pertanggungjawaban perusahaan adaah kepatuhan perusahaan terhadap
peraturan yang berlaku, diantaranya termasuk masalah pajak, hubungan industrial,
kesehatan dan keselamatan kerja, perlindungan lingkungan hidup, memelihara
lingkungan bisnis yang kondusif bersama masyarakat dan sebagainya. Dengan
menerapkan prinsip ini, diharapkan akan menyadarkan perusahaan bahwa dalam
kegiatan operasionalnya, perusahaan juga mempunyai peran untuk
bertanggungjawab selain kepada shareholder juga kepada stakeholders-lainnya.
4. Independency (Kemandirian)
Prinsip ini mensyaratkan agar perusahaan dikelola secara professional tanpa ada
benturan kepentingan dan tanpa tekanan atau intervensi dari pihak manapun yang
tidak sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku.
5. Fairness (Kesetaraan dan Kewajaran)
Prinsip ini menuntut adanya perlakuan yang adil dalam memenuhi hak stakeholder
sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Diharapkan fairness dapat
menjadi faktor pendorong yang dapat memonitor dan memberikan jaminan
perlakuan yang adil di antara beragam kepentingan dalam perusahaan.
Dari sejumlah prinsip tersebut, dapat disimpulkan bahwa GCG dapat pula
dipahami sebagai suatu sistem dan seperangkat peraturan yang mengatur hubungan
antara berbagai pihak yang berkepentingan, yaitu seluruh kepentingan stakeholders
secara proporsional dan mencegah terjadinya kesalahan-kesalahan signifikan dalam
strategi perusahaan sekaligus juga memastikan bahwa kesalahan-kesalahan yang terjadi
dapat diperbaiki dengan segera.
Memahami prinsip-prinsip GCG diatas, sebenarnya akan dapat dilihat benang
merah atau keterkaitan dan adanya hubungan antara GCG dengan CSR sendiri. Prinsip
Responsibility merupakan prinsip yang mempunyai makna paling dekat dengan CSR.
Dalam prinsip ini, penekanan yang signifikan diberikan kepada stakeholder
perusahaan. Melalui penerapan prinsip ini juga, perusahaan diharapkan dapat
menyadari bahwa dalam kegiatan operasionalnya seringkali menghasilkan dampak
eksternal yang harus ditanggung oleh semua stakeholder, dan tidak hanya internal,
tetapi juga semua stakeholder eksternal. Karena itu merupakan suatu tuntutan yang
sangat wajar jika perusahaan juga harusnya memperhatikan kepentingan dan nilai
tambah bagi stakeholders-nya.
Penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG) di berbagai perusahaan di
Indonesia menunjukkan perkembangan menggembirakan. Timbulnya kesadaran untuk
menerapkan prinsip Good Corporate Governance (itu tidak terlepas dari tuntutan
perekonomian modern yang mengharuskan setiap perusahaan dikelola secara baik dan

bertanggung jawab dengan mengetahui hak dan kewajibannya masing-masing, meliputi


pemegang saham, direksi, dewan komisaris serta pihak-pihak lain. Aktivitas ekonomi
yang dijalankan perusahaan sebagaimana prinsip etika bisnis diharapkan bermanfaat
tidak hanya bagi perusahaan itu sendiri, tetapi juga bagi masyarakat. Penerapan etika
bisnis tersebut merupakan wujud kepedulian dan tanggung jawab sosial-moral suatu
institusi bisnis dan para pelaku dunia usaha terhadap masyarakat dan lingkungannya.
Menerapkan Penerapan tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan
(Corporate Social Responsibility CSR) secara benar berarti juga memenuhi prinsip
responsibilitas yang diusung GCG. Penerapan CSR secara konsisten merupakan bagian
dari upaya memaksimalkan nilai perusahaan. CSR merupakan komitmen perusahaan
berperilaku etis dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi berkelanjutan
dengan tetap mengedepankan peningkatan kualitas hidup karyawan beserta
keluarganya, komunitas lokal dan masyarakat luas. Jadi, salah satu implementasi GCG
di perusahaan adalah penerapan corporate social responsibility (CSR).
10. Standar akuntansi dimaksudkan untuk meregulasi praktik, jelaskan
perlu/tidaknya regulasi ini, dan siapa yang harus meregulasi. Uraikan jika
terlalu banyak standar akuntansi, dan dampaknya dalam praktik, serta
alternatif cara mengatasinya.
Jawaban :
Belkaoui (2006:175) menyatakan bahwa regulasi umumnya diasumsikan harus
diperoleh oleh suatu industri tertentu dan dirancang serta dioperasikan terutama untuk
keuntungannya sendiri. Scott (2009:484) menjelaskan bahwa terdapat dua teori regulasi
akuntansi dalam industri, yaitu: teori kepentingan publik (The Public Interest Theory)
dan (2) teori kelompok kepentingan (The Interest Group Theory).
Teori kepentingan publik berbicara tentang seberapa banyak informasi
akuntansi yang harus diregulasi untuk memaksimalkan kesejahteraan sosial sebagai
dasar permintaan publik untuk mengoreksi kegagalan pasar. Tujuan akhirnya ialah
melindungi kepentingan publik.
Deegan (2004:36) menjelaskan bahwa teori kepentingan publik mengasumsikan
badan regulator (biasanya pemerintah) bersifat netral memperjuangkan kepentingan
publik dan tidak memasukkan kepentingan pribadi ke dalam penyusunan aturan.
Singkat kata, badan regulator melakukan tindakan yang terbaik untuk memaksimalkan
kesejahteraan sosial.
Teori regulasi lainnya ialah capture theory. Menurut Deegan (2004:36) capture
theory berargumentasi bahwa walaupun regulasi awalnya bertujuan untuk melindungi
publik, mekanisme regulasi seringkali dikendalikan atau diambil alih untuk melindungi
kepentingan dari kelompok-kelompok kepentingan di dalam masyarakat, khususnya
pihak-pihak yang aktivitasnya paling banyak terpengaruh regulasi. Diyakini bahwa
pendirian DSAK IAI sebagai badan regulator akuntansi merupakan contoh dari capture
theory. Alasannya ialah profesi akuntansi dianggap paling mampu dalam
mengembangkan standar akuntansi dengan superioritas pengetahuan akuntansi mereka,
dan memiliki kemungkinan yang lebih besar diterima oleh komunitas bisnis.

Teori regulasi akuntansi lainnya ialah teori kelompok kepentingan. Teori


kelompok kepentingan menekankan adanya konflik dan negosiasi antar konstituen
akuntansi di dalam proses penyusunan standar akuntansi. The interest group theory of
regulation suggests that individuals form coalitions, or constituencies, to protect and
promote their interest by lobbying the government. These coalitions are viewed as
being in conflict with each other to obtain their share of benefits from regulation. We
shall conclude that the process of standard setting is most consistent with the interest
group theory. (Scott, 2009:484)
Pentingnya Regulasi dan Implementasinya Dalam Praktik
Scott (2009:486) menjelaskan bahwa penyusunan standar akuntansi selalu
berkaitan dengan due process yaitu melibatkan perwakilan konstituen penyusun
laporan keuangan dan memfasilitasi public hearing, exposure drafts, dan secara umum,
untuk keterbukaan, mensyaratkan voting terbanyak sebelum suatu standar diluncurkan.
Karakteristik due process ini konsisten dengan teori interaksi konstituen berdasarkan
konflik. Badan standar akuntansi adalah para pemain dalam permainan kompleks
dimana konstituen-konstituen yang berkaitan dengan standar akan memilih strategi lobi
untuk atau melawan suatu standar baru.
Oleh karena itu, teori regulasi kelompok kepentingan sangat sesuai untuk
menggambarkan konflik dari para konstituen daripada suatu proses hitungan. Kehendak
para pemain untuk menerima suatu standar baru meningkat jika mereka merasa bahwa
pandangan mereka diakomodasi. Hal ini menjelaskan perhatian pada due process
sebagai suatu langkah akomodasi konflik dalam penyusunan standar. Pertimbanganpertimbangan ini menjadikan teori regulasi kelompok kepentingan menjadi prediktor
yang lebih baik akan standar baru, karena teori kelompok kepentingan secara formal
mengakui eksistensi konflik konstituen.
Scott (2009:485) menyatakan bahwa teori kelompok kepentingan memiliki
pandangan bahwa suatu industri beroperasi karena terdapat sejumlah kelompok
kepentingan. Otoritas politik atau legistatif juga dapat digolongkan sebagai suatu
kelompok kepentingan yang memiliki kekuatan untuk memasok regulasi untuk
mempertahankan kekuasaannya. Oleh sebab itu, Deegan (2004:69) menyimpulkan
bahwa regulasi dapat dipandang sebagai suatu komoditas dimana terdapat penawaran
dan permintaan. Komoditas akan dialokasikan kepada para konstituen dengan efektif
secara politis dan dengan meyakinkan legislatif memberikan bantuan regulasi
kepadanya. Versi utama teori kelompok kepentingan adalah teori regulasi kaum elit
yang menguasai politik (The Political-Ruling Elite Theory of Regulation) yang
menekankan pada kekuatan politik untuk mendapatkan pengendalian regulator dan
teori regulasi ekonomi (The Economic Theory of Regulation) yang menekankan pada
kekuatan ekonomi (Ghozali dan Chariri, 2007:218).
Teori regulasi dalam praktik ada kaitannya dengan isu konvergensi standar
akuntansi. Menurut saya konvergensi tersebut memiliki banyak keuntungan yang
dapat diperoleh apabila sebuah negara melakukan adopsi terhadap IFRS. Meskipun
terdapat perbedaan penggunaan bahasa manfaat utama dari adopsi standar akuntansi
adalah laporan keuangan dapat dibandingkan. Kemampuan laporan keuangan untuk
dibandingkan merupakan salah satu indikator peningkatan kualitas informasi akuntansi.
Selain itu manfaat yang lain misalnya mengurangi masalah agensi, meningkatkan

kepercayaan investor, dan lain sebagainya juga secara gamblang menunjukkan bahwa
laporan keuangan akan lebih berkualitas.
Gordon (2008) memaparkan keuntungan yang diperoleh oleh sebuah negara di
seluruh dunia dalam mengadopsi IFRS, yaitu: 1) informasi keuangan menjadi lebih
baik dan berguna bagi pemegang saham, 2) informasi keuangan menjadi lebih baik dan
berguna bagi pemerintah, 3) laporan keungan lebih dapat dibandingkan, 4)
meningkatkan transparansi perusahaan, 5) managemen perusahaan lebih baik dalam
operasional global, 6) mengurangi biaya modal.
Penelitian di Bangladesh yang dilakukan oleh Bhattacharjee (2009) secara lebih rinci
memaparkan dampak Adopsi terhadap perekonomian negara, yaitu: 1) dampak sektor
korporasi yaitu IFRS mampu mengurangi masalah agensi. 2) Meningkatkan minat
invetor untuk berinvestasi di pasar modal. 3) Mengurangi asimetri informasi melalui
penggunaan Fair Value Accountin (FVA). 4) Meningkatkan keseragaman akuntansi
sehingga dapat memperbaiki iklim investasi. 5) Standar keuangan lokal yang digunakan
ambigu dan terdapat beberapa peraturann yang tumpang tindih satu dengan yang lain.
Sehingga bisa disimpulkan bahwa adopsi IFRS mampu mengurangi ketidakjelasan
interpretasi laporan keuangan. Kesimpulan ini sama dengan penelitian yang dilakukan
oleh Ding et al, (2007), Bae, Tan dan Welker (2008).