Anda di halaman 1dari 40

LAPORAN STUDI KASUS STASE OBSTETRI

RUMAH SAKIT ISLAM UNISMA

UPAYA PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA TERHADAP Ny.T


DALAM MENANGANI PERMASALAHAN
Kista ovarium

Disusun untuk Memenuhi Tugas Clerkship

Oleh:
Ivan Choirul Wiza

(210.121.0030)

Pembimbing:
dr. Faishol taufiqi

KEPANITERAAN KLINIK MADYA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM MALANG

2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah, serta
inayah-Nya kepada penyusun sehingga Laporan Studi Kasus Stase obgin yang berjudul
Upaya Pendekatan Kedokteran Keluarga terhadap Ny.T dalam Menangani Permasalahan
kista ovarium ini dapat diselesaikan sesuai dengan rencana yang diharapkan.
Tujuan penyusunan laporan ini adalah sebagai ujian kasus guna memenuhi tugas
Clerkship serta melatih keterampilan klinis dan komunikasi dalam menangani kasus
kedokteran keluarga secara holistik dan komprehensif.
Penyusun menyadari bahwa laporan makalah ini belumlah sempurna. Untuk itu,
saran dan kritik dari para dosen dan pembaca sangat diharapkan demi perbaikan laporan ini.
Atas saran dan kritik dosen dan pembaca, penyusun ucapkan terima kasih.
Semoga Laporan Studi Kasus ini bermanfaat bagi dosen, penyusun, pembaca serta
rekan-rekan lain yang membutuhkan demi kemajuan ilmu pengetahuan khususnya di bidang
kedokteran.

Penyusun

DAFTAR ISI

1.
2.
3.
4.

5.

6.

7.
8.
9.

Judul
Kata Pengantar .................................................................................................1
Daftar Isi ..........................................................................................................2
BAB I : Pendahuluan
Latar Belakang...........................................................................................3
Tujuan........................................................................................................3
Manfaat......................................................................................................4
BAB II : Laporan Kasus
Identitas Penderita......................................................................................4
Anamnesa...................................................................................................4
Anamnesa Sistem.......................................................................................5
Pemeriksaan Fisik......................................................................................5
Pemeriksaan Penunjang.............................................................................7
Resume.......................................................................................................9
Diagnosis Holistik......................................................................................9
Penatalaksanaan Holistik...........................................................................9
Follow Up dan Flow Sheet.......................................................................13
BAB III : Pembahasan Aspek Kedokteran Keluarga
Identifikasi Keluarga................................................................................15
Identifikasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan....................20
Daftar Masalah.........................................................................................20
BAB IV : Tinjauan Pustaka
Anatomi dan Fisiologi Organ Reproduksi Wanita...................................38
Kista Ovarium..........................................................................................34
BAB V : Pembahasan
Dasar Penegakan Diagnosa......................................................................33
Dasar Rencana Penatalaksanaan..............................................................34
BAB VI : Penutup
Kesimpulan Holistik................................................................................40

10. Daftar Pustaka.................................................................................................38

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Secara normal sering terjadi kista (kantong yang berisi cairan) dengan ukuran yang kecil
pada kedua indung telur. Pada umumnya kista ini tidak mengganggu dan akan hilang dengan
sendirinya. Kista yang berada di dalam atau permukaan ovarium (indung telur) disebut kista
ovarium atau tumor ovarium.11
Kista merupakan kantung yang berisi cairan dan dapat berlokasi di bagian mana saja
dari tubuh. Pada ovarium, tipe kista yang berbeda dapat terbentuk. Tipe kista ovarium yang
paling umum dinamakan kista fungsional, yang biasanya terbentuk selama siklus menstruasi
normal. Setiap bulan, ovarium seorang wanita tumbuh kista kecil yang menahan sel

telur.Ketika sebuah sel telur matur, kantung membuka untuk mengeluarkan sel telur, sehingga
dapat berjalan melewati tuba falopii untuk melakukan fertilisasi. Kemudian kantung pecah.7, 9,
Kista bisa bervariasi ukurannya serta terdapat berbagai macam jenis kista ovarium.
Kebanyakan kista jinak (bukan kanker), sementara sebagian kecil lainnya bisa berupa kista
yang ganas (kanker).
Kista ovarium akan memicu timbulnya ganggaun lain, tidak menutup kemungkinan kanker
ovarium. Kista ovarium merupakan 6 kasus tumor terbanyak dan merupakan penyebab
kematian oleh karena keganasan ginekologi. Terdapat variasi yang luas insidensi kista
ovarium, rata-rata tertinggi terdapat di Negara Skandinavia (14,5-15,3 per 100.000 populasi)
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis mengangkat kasus ini sebagai
pembelajaran dalam upaya pendekatan kedokteran keluarga terhadap penanganan
permasalahan penyakit kista ovarium
1.2 TUJUAN
Tujuan penyusunan laporan ini adalah untuk melatih keterampilan klinis dan komunikasi
dalam menangani kasus kehamilan, khususnya kista ovarium yang terjadi pada Ny.T, dengan
upaya pendekatan kedokteran keluarga yang bersifat holistik dan komprehensif.
1.3 MANFAAT
Manfaat laporan ini adalah sebagai media pembelajaran dan evaluasi dalam penanganan
serta pencegahan kasus kista ovarium serta pencegahan terhadap terjadinya komplikasi yaitu
mengancam keselamatan pasien.

BAB II
LAPORAN KASUS
2.1 IDENTITAS PENDERITA
Identitas pribadi :
Nama penderita

: Ny. T

Umur penderita

: 38 tahun

Alamat

: Jln terusan Mergan

Jenis kelamin

; perempuan

Pekerjaan

: swasta

Pendidikan penderita : sarjana


Agama

: islam

Suku

: jawa

Status perkawaninan : menikah


Nama

: Tn. A

Umur

: 50 tahun

Pekerjaan

: Swasta

Pendidikan

: Sarjana

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

2.2 ANAMNESA
1 Keluhan utama

: Pendarahan dari semalam

Harapan

: pendarahan segera menghilang

Kekhawatiran

: tetap timbul pendarahan

Riwayat penyakit sekarang

Pasien mengatakan sekitar 2 bulan yang lalu

mengalami menstruasi yang tidak teratur. Kemudian Pasien memeriksakan keluhan


menstruasi tersebut ke dokter spesialis kandungan sekitar 2 minggu yang lalu dan setelah
dilakukan pemeriksaan USG didapatkan pembesaran kista dan disarankan untuk dioperasi.
Kemudian kemarin terjadi pendarahan dari jam 11 malam sampai pagi sehingga pasien
datang berobat ke Rumah sakit.
2

Riwayat menstruasi : pasien menstruasi pertama kali usia 14 tahun. Siklus menstruasi

3
4
5

normal 28 hari. Teratur setiap bulan. Sekitar 2 bulan ini menstruasi tidak teratur
Riwayat seksual dan kontrasepsi: sekitar 3 tahun yang lalu menggunakan steril
Riwayat Penyakit Dahulu: hipertensi (-), diabetes mellitus (-)
Riwayat Penyakit Keluarga : saudara perempuan menderita kista ovarium dan telah

6
7
8

operasi pengangkatan rahim.


Riwayat imunisasi: Riwayat pengobatan: pada saat periksa datang pertama diberi resep premolut
Riwayat Gizi : pasien makan secara rutin 3x sehari dengan lauk pauk yang bervariasi
setiap harinya yaitu telor, tahu atau tempe, ayam dan kadang daging.
Riwayat Kebiasaan dan gaya hidup :
Riwayat merokok (-)
Riwayat minum alkohol, berkarbonasi, dan kopi (-)
Riwayat olahraga: jarang berolahraga
Riwayat pengisian waktu luang: menonton televisi dan kadang-kadang jalan-jalan
10 Keadaan lingkungan: keadaan rumah dan lingkungan rumah Ny.T terkesan bagus dan
9

bersih, berjarak dekat dengan rumah tetangga


2.3 ANAMNESA SISTEM
1. Kulit

: kulit gatal (-), bintik merah di kulit (-)

2. Kepala

: sakit kepala (-), rombut rontok (-), luka (-), benjolan (-)

3. Mata

: merah (-/-)

4. Hidung

: tersumbat (-/-), mimisan (-/-), cairan (-/-)

5. Telinga

: cairan (-/-), nyeri(-/-)

6. Mulut

: sariawan (-), mulut kering (-)

7. Tenggorokan

: nyeri menelan (-), suara serak (-)

8. Pernafasan

: sesak nafas (-), batuk (-), mengi (-)

9. Kardiovaskuler

: nyeri dada (-), berdebar-debar (-)


10. Gastrointestinal

: mual (-), muntah (-), diare (-), nyeri perut

bawah dan pinggul (+),BAB lancar


11. Genitourinaria

: nyeri kencing (-)

12. Neurologik

: lumpuh (-),kaki kesemutan(-),kejang (-)

13. Psikiatrik

: emosi stabil (+), mudah marah (-)

14. Muskolokeletal

: kaku sendi (-), nyeri sendi pinggul (-), nyeri otot (-)

15. Ekstremitas atas : bengkak (-/-), sakit (-/-), telapak pucat (-/-), kebiruan (-/-), luka (-/-)
Ekstremitas bawah : bengkak(-/-), sakit(-/-), telapak pucat (-/-), kebiruan (-/-), luka (-/-)
2.4 PEMERIKSAAN FISIK
1 Keadaan umum
2

:, kesadaran compos mentis (GCS E4V5M6),

status gizi kesan baik.


Tanda vital
: BP = 120/80 mmHg
To = 36,0 oC
HR = 89x/mnt
RR = 19x/mnt
3 Kepala dan wajah
: bentuk kepala mesocephal, luka (-), keriput (-), warna
kulit kuning, papul (-), nodul (-), makula (-)
4 Mata : warna kelopak putih, radang (-/-), eksoftalmus (-), strabismus (-)
5 Hidung: nafas cuping hidung (-/-), rhinorrhea (-/-), epistaksis (-), deformitas
hidung(-)
6 Mulut : mukosa bibir pucat (-), sianosis bibir (-)
7 Telinga : otorrhea (-/-), kedua cuping teling normal
8 Leher : lesi kulit (-), pembesaran kelenjar tiroid (-), pembesaran KGB (-)
9 Thorax : bentuk normal, simetris
Cor :
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis kuat angkat
Perkusi : batas kiri atas
: SIC II LPSS
Batas kanan atas
: SIC II LPSD
Batas kiri bawah
: SIC V 1 cm lateral LMCS
Batas kanan bawah : SIC IV LPSD
Batas jantung kesan tidak melebar
Auskultasi : bunyi jantung I-II intensitas normal, regular
Pulmo :
Inspeksi : pengembangan dada kanan sama dengan dada kiri
Palpasi : fremitus taktil kiri sama dengan kanan

Perkusi : sonor di seluruh lapang paru


Auskultasi :
+ +
suara dasar vesikuler
+
wheezing + +
-

ronkhi basah & kering

10. Abdomen
Inspeksi : bentuk simetris, tidak terlihat cembung
Palpasi : supel, hepar dan lien tdk teraba, turgor baik, nyeri tekan suprapubic (-), nyeri
tekan mc burney (-)
Perkusi : timpani seluruh lapangan perut
Auskultasi : peristaltik (+) normal
11 System Collumna Vertebralis:
Inspeksi : skoliosis (-), kifosis (-), lordosis (-)
13. Ekstremitas : palmar eritem (-)
Akral dingin
-

Oedem

deformitas (-), luka (-)

F : nyeri tekan (-), krepitasi (-)


M: normal
12 Sistem genitalia : menstruasi (+), DBN
13 Pemeriksaan neurologis:
kesadaran : composmentis
fungsi

fungsi
5

sensorik

motorik

N
Kekuatan

N
N
14 Pemeriksaan
Inspeksi N :
N

tonus

Ref.Fisiologi Ref.Patologis

Gynekologi :
perut bawah tampak normal
N
-

Palpasi : teraba massa sebesar ( 8cm).


15 Pemeriksaan Obstetri
TFU
: tidak teraba
2.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG
USG :
Pada adneksa kanan nampak adanya massa kistik ukuran 14x5,34
- DL :
Hb

: 14,7 g/dl

Hematokrit

: 43,5 %

Leukosit

: 8.22 ribu/ul

Trombosit

: 249 ribu/ul

Eritrosit

: 5,01 juta/ul

Pdw

: 13,0

Rdw-cw

: 14,6 %

MPV

: mpv 7,74

Pct

: 0,2 %

MCV

: 86,8 FL

MCH

: 29,3 %

MCHC

: 33,7 %

Basofil

: 0,8 %

Eosinofil

: 3,1 %

Limfosit

: 36,3 %

Monosit

: 4,7 %

Netrofil

: 55,1 %

Large imm cell

:0,6 %

Atyp. Limfosit

: 0,1 %

Jumlah total sel


Lymfosit

:2,98 ribu/ul

Total basofil

: 0,07 ribu/ul

Total monosit

: 0,39 ribu/ul

Total eosinofil

: 0,25 ribu/ul

Total neutrofil

: 4,53 ribu/ul

Total large imm cell

: 0,05 ribu/ul

Total atyp limfosit

: 0,75 ribu/ul

UL :

Warna
: Kuning agak keruh
PH
: 6,1
Albumin
: negatif
Reduksi
: negatif
Bilirubin
: negatif
Urobilinogen
: negatif
Keton
: negatif
Erytrosit
: 73-80
Leukosit
: 5-7
Cristal
: negatif
Bakteri
:+
Homeostatis
Waktu perdarahan : 1 menit
Waktu pembekuan : 2 menit 30 detik
Darah byosintesi A5 spesimen darah
Darah sesaat
: 96 mg/dl

2.6. RESUME
a) Anamnesis :
Pasien mengatakan sekitar 2 bulan yang lalu mengalami menstruasi yang tidak teratur.
Kemudian Pasien memeriksakan keluhan menstruasi
kandungan sekitar 2 minggu yang

tersebut ke dokter spesialis

lalu dan setelah dilakukan pemeriksaan USG

didapatkan pembesaran kista dan disarankan untuk dioperasi. Kemudian kemarin terjadi
pendarahan dari jam 11 malam sampai pagi sehingga pasien datang berobat ke Rumah
sakit.
b) Pemeriksaan Fisik :
VT : teraba massa sebesar ( 8cm).
c) Pemeriksaan Penunjang :
USG :
Pada adneksa kanan tampak masa kistik ukuran 14x5,34
2.7 DIAGNOSA HOLISTIK
1. Diagnosis dari segi biologis :

Kista ovarium

2. Diagnosis dari segi psikologis :


Ny.T dan suami merasa sedih atas sakit yang sering dialami Ny.T. Namun setelah
dialkukan operasi pengangkatan kista, diharapkan kondisi Ny.T jauh lebih baik dari
keadaan sbelumnya.

3. Diagnosis dari segi sosial dan ekonomi :


Kondisi ekonomi termasuk dalam keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke
atas. Biaya hidup tanggung secara bersama. Penghasilan Ny.T dan suami cukup untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan dalam aspek sosial Ny.T dan keluarga
tidak

didapatkan masalah. Ny.T tinggal bersama suami dan kedua anaknya di

lingkungan yang bersih dan memiliki interaksi baik antar tetangga.


2.8 PENATALAKSANAAN HOLISTIK
Penatalaksanaan kista ovarium
Histrektomi merupakan pengangkatan rahim atau uterus adalah suatu prosedur operatif
dimana seluruh organ dari uterus diangkat.
a. Infus RL .
Cara Kerja: keunggulan terpenting dari larutan Ringer Laktat adalah komposisi
elektrolit dan konsentrasinya yang sangat serupa dengan yang dikandung cairan
ekstraseluler. Natrium merupakan kation utama dari plasma darah dan menentukan
tekanan osmotik. Klorida merupakan anion utama di plasma darah. Kalium
merupakan kation terpenting di intraseluler dan berfungsi untuk konduksi saraf dan
otot. Elektrolit-elektrolit ini dibutuhkan untuk menggantikan kehilangan cairan pada
dehidrasi dan syok hipovolemik termasuk syok perdarahan.
Indikasi : mengembalikan keseimbangan elektrolit pada keadaan dehidrasi dan syok
hipovolemik.

Ringer

laktat

menjadi

kurang

disukai

karena

menyebabkan

hiperkloremia dan asidosis metabolik, karena akan menyebabkan penumpukan asam


laktat yang tinggi akibat metabolisme anaerob.
Kontraindikasi : hipernatremia, kelainan ginjal, kerusakan sel hati, asidosis laktat.
Adverse Reaction : edema jaringan pada penggunaan volume yang besar, biasanya
paru-paru.
Peringatan dan Perhatian : Not for use in the treatment of lactic acidosis. Hatihati pemberian pada penderita edema perifer pulmoner, heart failure/impaired renal
function & pre-eklamsia.
b. Ceftriaxon
Indikasi: pengobatan infeksi saluran pernafasan bawah, kulit dan struktur kulit,
tulang dan sendi, saluran kemih; pengobatan penyakit radang panggul, infeksi intraabdomen, gonore, meningitis dan septicemia karena rentan mikroorganisme;
profilaksis sebelum operasi.
Kontraindikasi: hipersensitifitas terhadap golongan sefalosporin
Efek samping
Gastrointestinal: mual, muntah, diare, kolitis, termasuk pseudomembranosa kolitis.

10

Saluran kemih: ginjal disfungsi, piuria, disuria, reversibel nefritis interstisial,


hematuria, beracun nefropati, kencing gips.
Darah: eosinophilia, neutropenia, lymphocytosis, leukositosis, trombositopenia,
penurunan fungsi platelet, anemia, aplastic anemia, perdarahan.
Hepar: hepatic disfungsi, penyakit kuning, abnormal hasil tes fungsi hati.
Lain-lain: Hipersensitivitas, termasuk sindrom Stevens-Johnson, eritema multiforme,
toksik epidermal necrolysis; Candida berlebih; serum penyakit-seperti reaksi
(misalnya, ruam kulit, polyarthritis; arthralgia, demam); radang urat darah,
thrombophlebitis dan nyeri di tempat injeksi.
Mekanisme kerja:
Menghambat sintesis mukopeptide di dinding sel bakteri.
C. Asam mefenamat
Indikasi:Dapat menghilangkan nyeri akut dan kronik, ringan sampai sedang

sehubungan dengan sakit kepala, sakit gigi, dismenore primer, termasuk nyeri karena
trauma, nyeri sendi, nyeri otot, nyeri sehabis operasi, nyeri pada persalinan.
Efek samping: Dapat terjadi gangguan saluran cerna, antara lain iritasi lambung, kolik
usus, mual, muntah dan diare, rasa mengantuk, pusing, sakit kepala, penglihatan
kabur,vertigo,dispepsia.
Kontraindikas Pada penderita tukak lambung, radang usus, gangguan ginjal, asma dan
hipersensiti fterhadap asam mefenamat. Pemakaian secara hati-hati pada penderita
penyakit ginjal atau hati dan peradangan saluran cerna.
Menghambat sintesa prostaglandin dengan menghambat kerja isoenzim COX-1 &
COX-2. Kerja Asam mefenamat adalah seperti obat golongan AINS lain yaitu
menghambat

sintesa

Prostaglandin

dengan

menghambat

kerja

enzim

cyclooxygenase/PGHS (COX-1 & COX-2). Efek anti inflamasi, analgetik &


antipiretik merupakan dipercaya dari kerja menghambat COX-2. Efek anti inflamasi
mungkin juga dihasilkan dari kerja menghambat biosintesis dari mukopolisakarida.
Efek antipiretik diduga akibat hambatan sintesa prostaglandin di CNS.
2.9 FOLLOW UP
Nama
: Ny.T
Diagnosis
: kista ovarium

26 july 2015

11

S : pendarahan dari malam sebanyak 5 softex


O : T = 120/80 mmHg,N = 80 x/menit,S = 36,5C, RR = 18 x/menit
A = kista ovarium
P = 1. Observasi tanda vital
2. observasi pendarahan
26-july-2015
S : pendarahan dari semalam
O : T = 120/80 mmHg, Nyeri (+)
A = kista ovarium
P = 1. Injeksi RL
2. cefriaxone 2x1
26-july-2015
S : pasca laparotomi
O : T = 120/80 mmHg
A = post histerektomi supra vaginal dan salpingektomi
P=

1. Ceftriaxone 1 gr IV
2.Asam mefenamat 3 x 500
3. observasi tensi, nadi, RR

27-july-2015
S : nyeri luka operasi berkurang. Mual (-)
O : T = 110/80 mmHg, N=80, suhu=370c, terpasang infu RD 5, terpasang cateter
A = post histrektomi supra vaginal dan salpingektomi
P=

1.observasi keadaan umum, tanda tanda vital, skala nyeri


2.ajari ibu untuk mobilisasi bertahap
3. anjurkan untuk menghabiskan nutrisi yang dianjurkan oleh RS
4. berikan terapi sesuai jadwal

27-july-2015
S : nyeri luka operasi (+)
O : T = 110/70 mmhg nadi 89, suhu 36,5 0c,
A = post histerektomi supra vaginal dan salpingektomi
P=

1. Asam mefenamat 3x 500


2. Sulfous Ferous 1x1

12

28-july-2015
S : nyeri luka operasi (+) .buat duduk masih nyeri
O : T = 120/80 mmhg nadi 80, suhu 36,70c, mobilisasi setengah duduk
A = hysterectomy hari ke 1
P=

1. Bantu dengan motivasi ibu untuk mobilisasi


2. Observasi tanda tanda vital
3. berikan obat sesuai dengan terapi

28-juli-2015
S : nyeri luka operasi (+)
O : T= 110/70
A : post histerektomi supra vaginal dan salpingektomi
P : 1. Asam mefenamat 3x500
2. Sulfus ferous 1x1
3. Besok rawat luka
29-juli-2015
S : nyeri luka operasi masi ada
O : T=110/80 , N=80, Suhu 36,50c, mobilisasi (+) rawat luka (+)
A : Hysterectomy hari ke 2
P : 1. KIE cara minum obat

BAB III
PEMBAHASAN ASPEK KEDOKTERAN KELUARGA
3.1 IDENTIFIKASI KELUARGA
3.1.1 Profil Keluarga

13

A. Karakteristik Demografi Keluarga


Tanggal kunjungan MRS pertama

: 26-juli-2015

Nama kepala keluarga

: Tn.A

Alamat

: Jl.Terusan mergan

Bentuk Keluarga

: nuclear family

Struktur Komposisi Keluarga :


Tabel: Daftar anggota keluarga
N

Nam

Keduduka

L/

Umu

Pendidika

Tn.A

Kepala

50 th

S1

Karyawan

klinik
Tidak

Ny.T

keluarga
Ibu

S1

wiraswasta
Karyawan

Ya
Tidak
Tidak

44 h

Pekerjaan

Pasie

Ket.

An.B

Anak ke-1

24 th

Sarjana

swasta
swasta

An.H

Anak ke-2

18 th

Sma

Pelajar

Kista
ovarium

Sumber: data primer, 01-agustus-2015


Kesimpulan : Keluarga Tn.A adalah nuclear family yang terdiri atas 4 orang dan tinggal
dalam satu rumah. Terdapat satu orang yang sakit yaitu Ny.T usia 44 tahun yang mengalami
Kista Ovarium. Dalam hal ini, pembiayaan kesehatan Ny.T menggunakan BPJS.
B. Penilaian Status Sosial dan Kesejahteraan Hidup

Lingkungan tempat tinggal

Tabel: Lingkungan tempat tinggal


Status kepemilikan rumah : menumpang/kontrak/hibah/milik sendiri
Daerah perumahan
: kumuh/padat bersih/berjauhan/mewah
Karakteristik Rumah dan Lingkungan
Luas tanah : 10x12 m2, luas bangunan: 8 x 10 m2
Jumlah penghuni dalam satu rumah : 4 orang
Jarak antar rumah : 3m (depan), 0,5m (samping), 0,5m (belakang)
Rumah 1 lantai
Lantai rumah: bertekel
Dinding rumah: tembok bata, tinggi, dicat
Jamban keluarga : ada 2
Kamar mandi : ada 2
Dapur : ada 1, di bagian belakang

Kesimpulan
Keadaan rumah
Ny.T tergolong baik
dan sehat. Memiliki
halaman
cukup

yang
luas

dan

pencahayaan serta
ventilasi

yang

14
Tempat bermain : teras depan rumah
Penerangan listrik : lampu @ 25 watt x 10buah lampu = 250 watt

memadai.

Pencahayaan : cukup (terdapat minimal 2 jendela di setiap kamar, ruang tamu


ada 6 jendela)
Ketersediaan air bersih : PDAM
Kondisi umum rumah : kondisi rumah terkesan cukup bersih dengan halaman
yang cukup luas.
Tempat pembuangan sampah : di depan rumah dan setiap pagi dibuang ke
tempat pembuangan akhir (TPA) oleh petugas kebersihan

Denah rumah keluarga Ny.T :

3.1.2 Identifikasi Fungsi-Fungsi dalam Keluarga


A Fungsi Holistik
1 Fungsi biologis
Ny.T mengalami kista ovarium
2 Fungsi Psikologis
Ny.T dan suami merasa sedih atas sakit yang serig dialami Ny.T. Namun setelah
dilakukan operasi pengangkatan kista, diharapkan kondisi Ny.T jauh lebih baik dari
keadaan sbelumnya.
3

Fungsi Sosial dan Ekonomi

15

Kondisi ekonomi termasuk dalam keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke


atas. Biaya hidup di tanggung bersama. Penghasilan Ny.T dan suami cukup untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan dalam aspek sosial Ny.T dan keluarga
tidak

didapatkan masalah. Ny.T tinggal bersama suami dan kedua anaknya di

lingkungan yang bersih dan memiliki interaksi baik antar tetangga.


Fungsi Fisiologis dengan APGAR Score
Adaptation : kemampuan anggota keluarga beradaptasi dengan anggota keluarga

yang lain, serta penerimaan, dukungan, dan saran dari anggota keluarga yang lain.
Partnership : menggambarkan komunikasi, saling membagi, saling mengisi antara

anggota keluarga dalam segala masalah yang dialami oleh keluarga tersebut
Growth : menggambarkan dukungan keluarga terhadap hal-hal baru yang dilakukan

anggota keluarga tersebut


Affection : menggambarkan hubungan kasih sayang dan interaksi anggota keluarga
Resolve : menggambarkan kepuasan anggota keluarga tentang kebersamaan dan
waktu yang dihabiskan bersama anggota keluarga yang lain.

Penilaian :

o Hampir selalu

: 2 poin

o Kadang kadang

: 1 poin

o Hampir tak pernah

: 0 poin

Penyimpulan :
o Nilai rata-rata < 5

: kurang

o Nilai rata-rata 6-7

: cukup/sedang

o Nilai rata-rata 8-10

: baik

o
Tabel: APGAR score Tn. A (50tahun)
A
P
G

APGAR Tn.I terhadap keluarga


Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga bila menghadapi masalah
Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya
Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya

untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru


Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan

merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll


Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama

Tabel: APGAR score Ny.T (44 tahun)


A

APGAR Ny. S terhadap keluarga


Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga bila menghadapi masalah

16
P
G

Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya
Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya

untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru


Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan

merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll


Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama

Tabel: APGAR score An.B (24 tahun)


A
P
G

APGAR An.B terhadap keluarga


Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga bila menghadapi masalah
Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya
Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya

untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru


Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan

merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll


Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama

Tabel: APGAR score An.H (18 tahun)


A
P
G

APGAR Ny. S terhadap keluarga


Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga bila menghadapi masalah
Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya
Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya

untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru


Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan

merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll


Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama

Total APGAR score keluarga Ny.T = 40


Total APGAR score keluarga Ny.T = (40) : 2 = 10
Kesimpulan : Fungsi fisiologis keluarga Ny.T baik
C Fungsi Patologis dengan Alat SCREEM Score
Fungsi patologis keluarga Ny.T dinilai menggunakan alat S.C.R.E.E.M sebagai berikut:
Tabel: SCREEM keluarga Ny.T
Sumber

Patologi
s

Social

Fungsi sosial Ny.S dan keluarga tidak terdapat masalah. Ny.S tinggal
bersama suami di lingkungan perumahan yang padat dan bersih. Ny.S dan

keluarga sering berinteraksi denga baik dengan keluarga


Culture

Menggunakan adat-istiadat Jawa, bahasa Jawa, serta bahasa Indonesia


secara sopan dengan sesama anggota keluarga dan orang lain dikehidupan
sehari-hari. Anggota keluarga juga telah mengikuti perubahan zaman dan
tergolong modern.

17
Religious

Fungsi agama keluarga Ny.S tergolong bagus.

Economic

Penghasilan keluarga yang relatif cukup.

Educational

Ny.S dan suaminya juga mengaku kurang pengetahuan, pemahaman dan


pengalaman mengenai permasalahan yang saat ini dihadapi.

Medical

Dalam mencari pelayanan kesehatan, keluarga Ny.T pergi ke RSI dan


sering memeriksakan diri jika sakit.. Dalam membiayai pelayanan

kesehatan menggunakan BPJS.

Kesimpulan : Terdapat satu fungsi dalam keluarga Ny.T yang masih dalam keadaan kurang
baik yaitu fungsi edukasional.
D Genogram dalam Keluarga

E Informasi Pola Interaksi Keluarga


Tn.A

An.B

Ny. T

An.H

Keterangan:
: hubungan baik

: laki-laki

: pasien

18

: hubungan kurang baik

: perempuan

Kesimpulan : Hubungan antara Ny.T dengan keluarganya berjalan baik.

3.2 IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN


3.2.1 Diagram Faktor Perilaku dan Non Perilaku
Faktor

Faktor Perilaku
Pengetahuan: Ny. T
& suami mengaku kurang
pengetahuan, pemahaman & pengalaman mengenai
permasalahan yang saat ini dihadapi
Sikap: Sikap keluarga terhadap kondisi Ny.T cukup baik.
Keluarga sangat memperhatikan keluhan yg dirasakan Ny.T.
Keluarga pasien maupun keluarga suami bergiliran menjaga
pasien saat dirawat di RS.
Tindakan: Keluarga Ny.T termasuk cepat tanggap & siaga sat
terjadi pendarahan yang mulai memberat. Keluarga pasien
segera membawa Ny.T ke RSI untuk mendapatkan
penanganan segera.

Ny.T
dan
Keluarg
a

Lingkungan: Lingkungan tergolong bersih


dan sehat. Ny.S tinggal bersama suami dan
sering berinteraksi dengan baik dengan
tetangganya.
Pelayanan kesehatan: Ny.T dan keluarga
pergi ke RSI & sering memeriksakan diri
jika sakit.

Usia dan keturunan: Ny.T memiliki


keturunan untuk menderita penyakitpenyakit keganasan.

5.3 DAFTAR MASALAH


5.3.1

Diagram Permasalahan Keluarga


Pasien dan suami kurang memiliki
pengetahuan mengenai penyakit yang
diderita Ny.T

Ny. T (44 tahun) dengan diagnosis kista


ovarium

BAB IV

19

TINJAUAN PUSTAKA
4.1 Anatomi Ovarium
Wanita pada umumnya memiliki dua indung telur kanan dan kiri, yang dengan
mesovarium menggantung di bagian belakang ligamentum latum, kiri dan kanan. Ovarium
adalah kurang lebih sebesar ibu jari tangan dengan ukuran panjang kira-kira 4 cm, lebar dan
tebal kira-kira 1,5 cm.9

Gambar 1. Anatomi Ovarium

Pinggir atasnya atau hilusnya berhubungan dengan mesovarium tempat ditemukannya


pembuluh-pembuluh darah dan serabut-serabut saraf untuk ovarium. Pinggir bawahnya
bebas. Permukaan belakangnya pinggir keatas dan belakang , sedangkan permukaan
depannya ke bawah dan depan.Ujung yang dekat dengan tuba terletak lebih tinggi daripada
ujung yang dekat pada uterus, dan tidak jarang diselubungi oleh beberapa fimbria dari
infundibulum.9
Ujung ovarium yang lebih rendah berhubungan dengan uterus dengan ligamentum
ovarii proprium tempat ditemukannya jaringan otot yang menjadi satu dengan yang ada di
ligamentum rotundum. Embriologik kedua ligamentum berasal dari gubernakulum.9
Fisiologi Ovarium
Ovarium adalah sepasang organ berbentuk kelenjer dan tempat menghasilkan
ovum. Kelenjer itu berbentuk biji buah kenari, terletak di kanan dan kiri uterus, di bawah tuba
uterine dan terikat di sebelah belakang oleh ligamentum latum uteri.5

20

Ovarium terdiri atas korteks di sebelah luar dan diliputi oleh epitelium
germinativum yang berbentuk kubik dan di dalam terdiri dari stroma serta folikel primordiial
dan medula sebelah dalam korteks tempat terdapatnya stroma dengan pembuluh darah,
serabut sara dan sedikit otot polos.1
Fungsi ovarium adalah:

Memproduksi ovum
Hormon gonodotrofik dari kelenjar hipofisis bagian anterior mengendalikan (melalui aliran
darah) produksi hormon ovarium. Hormon perangsang folikel (FSH) penting untuk awal
pertumbuhan folikel de graaf, hipofisis mengendalikan pertumbuhan ini melalui Lutenizing
Hormon (LH) dan sekresi luteotrofin dari korpus lutenum.5

Memproduksi hormon estrogen


Hormon estrogen dikeluarkan oleh ovarium dari mulai anak-anak sampai sesudah menopause
(hormon folikuler) karena terus dihasilkan oleh sejumlah besar folikel ovarium dan seperti
hormon beredar dalam aliran darah. Estrogen penting untuk pengembangan organ kelamin
wanita dan menyebabkan perubahan anak gadis pada masa pubertas dan penting untuk tetap
adanya sifat fisik dan mental yang menandakan wanita normal.5

Memproduksi hormon progesterone


Hormon progesteron disekresi oleh luteum dan melanjutkan pekerjaan yang dimulai oleh
estrogen terhadap endometrium yaitu menyebabkan endometrium menjadi tebal, lembut dan
siap untuk penerimaan ovum yang telah dibuahi.1
4.2 KISTA OVARIUM
Definisi kista Ovarium
Ovarium mempunyai fungsi yang sangat krusial pada reproduksi dan menstruasi.
Gangguan pada ovarium dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan, perkembangan dan
kematangan sel telur. Gangguan yang paling sering terjadi adalah kista ovarium, sindrom
ovarium polikistik, dan kanker ovarium.3 Kista ovarium merupakan tumor jinak berupa
kantong abnormal berisi cairan atau setengah cair yang tumbuh dalam indung telur
(ovarium). Indung telur adalah rongga berbentuk kantong berisi cairan di dalam jaringan

21

ovarium. Kista ini disebabkan oleh karena kegagalan folikel untuk pecah atau regresi. 3Secara
umum kista ovarium fisiologis ukurannya kurang dari 6 cm, permukaan rata,dan konsistensi
kistik. Keluhan yang dapat terjadi selain adanya massa di daerah pelvik dapat juga terjadi
haid yang tidak teratur

Patomekanisme Kista ovarium


Bilamana lonjakan LH terjadi dan sel telur dilepaskan, rantai peristiwa lain
dimulai. Folikel kemudian beraksi terhadap LH dengan menghasilkan hormon estrogen
dan progesteron dalam jumlah besar sebagai persiapan untuk pembuahan. Perubahan
dalam folikel ini disebut sebagai korpus luteum. Tetapi kadang-kadang setelah sel telur
dilepaskan, lubang keluarnya tertutup dan jaringan-jaringan mengumpul di dalamnya,
menyebabkan korpus luteum membesar dan menjadi kista. Meski kista ini biasanya
hilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu, tetapi kista ini dapat tumbuh hingga
4-9 inci (10 cm) diameternya dan berpotensi untuk berdarah dengan sendirinya atau
mendesak ovarium yang menyebabkan nyeri panggul atau perut. Jika kista ini berisi
darah, kista ini dapat pecah dan menyebabkan perdarahan intestinal dan nyeri tajam yang
tiba-tiba.
Gambar. Patogenesis Kista Ovarium

Skema diatas menunjukkan pathogenesis kista ovarium dan kemungkinan jalur


yang terlibat. Lonjakan FSH menstimulasi munculnya folikel baru, dari salah satu
folikel dominan yang dipilih saat deviasi. Melalui umpan balik positif estradiol

22

menstimulasi pulsatilitas GnRH dan LH, yang akan mendukung pertumbuhan dan
perkembangan folikel yang dominan. Saat mencapai ukuran preovulasi, aktivitas
steroigenik folikel mencapai puncak dan memproduksi lonjakan estradiol preovulasi.
Lonjakan ini gagal terjadi pada GnRH dan LH atau lonjakan GnRH tertunda. Folikel
dominan tidak mengalami ovulasi berhubungan dengan pulsatilitas LH yang terusmenerus, berlanjut sampai tumbuh menjadi kista.
Gangguan axis hipotalamus-pituitari-gonad dapat disebabkan oleh:
(1) faktor yang mempengaruhi mekanisme umpan balik estradiol dan
release GnRH/LH pada hipotalamus-pituitari
(2) dan/atau oleh penyimpangan pertumbuhan dan perkembangan folikel
dengan perubahan pada ekspresi reseptor dan steroidogenesis
(3) yang mengarah ke perubahan lonjakan dan umpan balik estradiol.
Fungsi hipotalamus-pituitari dan pertumbuhan/perkembangan folikel mungkin juga
dipengaruhi

oleh

NEB

(Negative

Energy

Balance)

melalui

adaptasi

metabolik/hormonal. Pada situasi NEB, ekspresi faktor genetik yang berhubungan


dengan kista folikuler dapat mempengaruhi pertumbuhan folikel dan fungsi
hipotalamus-pituitari. 7

Gambar. Pembentukan Kista


Skema diatas menunjukkan kadar insulin dan/atau IGF-1 yang rendah dapat
menyebabkan pembentukan kista. Kadar insulin/IGF-1 yang rendah menstimulasi
proliferasi sel folikel dan produksi estradiol-17. Penurunan umpan balik estradiol-17
bersama dengan kadar insulin/IGF-1 yang rendah menyebabkan penurunan pelepasan
gonadotropin. Pertumbuhan folikel dominan menjadi lambat dan perubahan
pertumbuhan folikel serta produksi estradiol-17 mengganggu axis hipotalamus-

23

pituitari. Hasil akhirnya berupa penyimpangan lonjakan LH daN berkembangnya


kistik folikel.
Faktor resiko
Faktor risiko pembentukan kista ovarium meliputi :

Pengobatan infertilitas: Pasien dirawat karena infertilitas dengan induksi ovulasi


dengan gonadotropin atau agen lainnya, seperti clomiphene citrate atau letrozole,
dapat mengembangkan kista sebagai bagian dari sindrom hiperstimulasi ovarium.

Tamoxifen : Tamoxifen dapat menyebabkan kista ovarium fungsional jinak yang


biasanya menyelesaikan penghentian pengobatan ini.

Kehamilan: Pada wanita hamil, kista ovarium dapat terbentuk pada trimester kedua,
ketika kadar hCG puncak.

Hypothyroidism : Karena kesamaan antara subunit alpha thyroid-stimulating


hormone (TSH) dan hCG, hipotiroidisme dapat merangsang ovarium dan kista
pertumbuhan.

Gonadotropin ibu: Efek transplasental gonadotropin ibu dapat menyebabkan


perkembangan janin dan neonatal kista ovarium.

Rokok: Risiko kista ovarium fungsional meningkat dengan merokok, resiko dari
merokok mungkin meningkat lebih lanjut dengan indeks massa tubuh menurun
(BMI).

Ligasi tuba: Kista fungsional telah dikaitkan dengan sterilisasi tubal ligation.1,2

Jenis jenis kista


Klasifikasi Kista
Diantara tumor-tumor ovarium ada yang bersifat neoplastik dan non neoplastik. Tumor
neoplastik dibagi atas tumor jinak dan ganas, dan tumor jinak dibagi dalam tumor kistik dan
solid

24

A. Tumor Non Neoplastik


a. Tumor akibat radang
i. Abses ovarial
ii. Abses tubo ovarial
iii. Kista tubo ovarial
b. Tumor lain
i. Kista folikel
ii. Kista korpus lutein
iii. Kista teka-lutein
iv. Kista inklusi germinal
v. Kista endometrium
B. Tumor Neoplastik Jinak
a. Kistik
i.
Kistoma ovarii simpleks
ii.
Kistadenoma ovarii musinosum
iii.
Kistadenoma ovarii serosum
iv. Kista endometroid
v. Kista dermoid
b. Solid
i.
Fibroma, leiomioma, fibroadenoma, papiloma, angioma, limfangioma
ii.
Tumor Brenner
iii.
Tumor sisi aderenal (makulinovo-blastoma).9
Kista Ovarium Non-Neoplastik
a. Tumor Akibat Radang
Tumor ini biasanya disebabkan oleh proses infeksi yang terjadi pada adneksa.
Tumor ini cukup jarang. Proses pembentukan tumor ini didahului oleh masuknya bakteri
kedalam uterus yang berlanjut ke bagian salfing dan menuju ke adneksa. Kemudian
terjadilah infeksi dan terjadi proses imunologis sehingga terbentuk abses.9
b. Kista Folikel
Kista ini berasal dari folikel de graff yang tidak sampai berovulasi, namun tumbuh
terus menjadi kista folikel, atau dari beberapa folikel primer yang setelah bertumbuh di
bawah pengaruh estrogen tidak mengalami proses atresia yang lazim, melainkan
membesar menjadi kista.bisa di dapati satu kista atau beberapa dan besarnya biasanya
berdiameter 1-1 cm. Dalam menangani tumor ovarium timbul persoalan apakah tumor
yang dihadapi itu neoplasma atau kista folikel. Umumnya jika diameter tumor tidak
lebih dari 5 cm, dapat di tunggu dahulu karena kista folikel dalam 2 bulan akan hilang
sendiri.2,9
Kista folikuler secara tipikal kecil dan timbul dari folikel yang tidak sampai saat
menopause, sekresinya akan terlalu banyak mengandung estrogen sebagai respon
terhadap hipersekresi FSH (folikel stimulating hormon) dan LH (luteinizing hormone)

25

normalnya ditemui saat menopause berdiameter 1 -10 cm (folikel normal berukuran limit
2,5 cm); berasal dari folikel ovarium yang gagal mengalami involusi atau gagal
meresorpsi cairan. Dapat multipel dan bilateral. Biasanya asimtomatik.9

Gambar 2 : Kista Folikel


c. Kista Korpus Lutein
Dalam keadaan normal korpus luteum lambat laun mengecil dan menjadi korpus
albikans. Kadang-kadang korpus luteum akan mempertahankan diri (korpus luteum
persisten); perdarahan yang terjadi di dalamnya akan menyebabkan kista, berisi cairan
berwarna merah coklat karena darah tua. Pada pembelahan ovarium kista korpus
luteum memberi gambaran yang khas. Dinding kista terdiri atas lapisan berwarna
kuning, terdiri atas sel-sel luteum yang berasal dari sel-sel teka. Penanganan kista luteum
ini menunggu sampai kista hilang sendiri. Dalam hal ini dilakukan operasi atas dugaan
kehamilan ektopik terganggu,kista korpus luteum diangkat tanpa mengorbankan
ovarium.2,9

Gambar 3 : Kista Korpus Luteal


d. Kista Teka Lutein

26

Kista biasanya bilateral dan sebesar tinju. Pada pemeriksaan mikroskopik terlihat
luteinisasi sel-sel teka.Tumbuhnya kista ini ialah akibat pengaruh hormone
koriogonadrotropin yang berlebihan.2,9
Kista granulosa lutein yang terjadi di dalam korpus luteum indung telur yang
fungsional dan membesar bukan karena tumor, disebabkan oleh penimbunan darah yang
berlebihan saat fase pendarahan dari siklus menstruasi.
Kista teka-lutein biasanya berisi cairan bening, berwarna seperti jerami; biasanya
berhubungan dengan tipe lain dari growth indung telur, serta terapi hormon.

Gambar 4 : Kista Teka Lutein


e.

Kista Inklusi Germinal


Terjadi karena invaginasi dan isolasi bagian-bagian terkecil dari epitel
germinativum pada permukaan ovarium. Biasanya terjadi pada wanita usia lanjut dan
besarnya jarang melebihi 1 cm. Kista terletak di bawah permukaan ovarium, dindingnya
terdiri atas satu lapisan epitel kubik atau torak rendah, dan isinya cairan jernih dan
serous.2,9

27

Gambar 5 : Kista Inklusi Germinal


f. Kista Endometrium
Kista ini endometriosis yang berlokasi di ovarium. Akibat proliferasi dari sel
yang mirip dinding endometrium, umumnya berisi darah yang merupakan hasil
peluruhan dinding saat menstruasi 9
Neoplasti Jinak
1. Kistik:
a. Kistoma Ovari Simpleks
Kista ini mempunyai permukaan yang rata dan halus, biasanya bertangkai,
seringkali bilateral dan dapat menjadi besar. Dinding kista tipis dan cairan di
dalam

kista jernih, serous dan berwarna kuning. Pada dinding kista tampak

lapisan epitel kubik. Terapi terdiri atas pengangkatan kista dengan reseksi
ovarium, akan tetapi jarinngan yang dikeluarkan harus segera diperiksa secara
histologik untuk mengetahui apakah ada keganasan.2,9
b. Kistadenoma Ovarii Serosum
Kista ini ditemukan dalam frekwensi yang hampir sama dengan kistadenoma
musinosum dan dijumpai pada golongan umur yang sama. Kista ini sering ditemukan
bilateral (10-20%) daripada kistadenoma musinosum. Tumor serosa dapat membesar
sehingga memenuhi ruang abnomen, tetapi lebih kecil dibanding dengan ukuran
kistadenoma

musinosum.

Permukaan

tumor

biasanya

licin,

tetapi

dapat

juga lobulated karena kista serosum pun dapat berbentuk multikolur, meskipun
lazimnya berongga satu. Warna kista putih keabuan.
Ciri khas dari kista ini adalah potensi pertumbuhan papiler ke dalam rongga
kista sebesar 50% dan keluar pada permukaan kista sebesar 5%. Isi kista cair, kuning
dan kadang-kadang coklat karena bercampur darah. Tidak jarang, kistanya sendiri
kecil, tetapi permukaannya penuh dengan pertumbuhan papiler (solid papiloma)

28

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa sulit membedakan gambaran


makroskopis kistadenoma serosum papileferum yang ganas dari yang jinak, bahkan
pemeriksaan rnikroskopis pun tidak selalu mernberikan kepastian.
Pada pemeriksaan mikroskopis terdapat dinding kista yang dilapisi epitel
kubik atau torak yang rendah, dengan sitoplasma eosinofil dan inti sel yang besar dan
gelap warnanya. Karena tumor ini berasal dari epitel permukaan ovarium (germinal
epithelum), maka bentuk epitel pada papil dapat beraneka ragam, tetapi sebagian
besar terdiri atas epitel bulu getar seperti epitel tuba. Pada jaringan papiler dapat
ditemukan pengendapan kalsium dalam stromanya yang dinamakan psamoma.
Adanya psamoma menunjukkan bahwa kista adalah kistadenoma ovarium serosum
papiliferum, tetapi bukan ganas.
Tidak ada gejala klasik yang menyertai tumor serosa proliferatif. Kebanyakan
ditemukan pada pemeriksaan rutin dari pelvis. Kadang-kadang pasien mengeluh rasa
ketidaknyamanan daerah pelvis dan pada pemeriksaan ditemukan massa abdomen
atau pun ascites. Kelainan ekstra abdomen jarang ditemukan pada keganasan ovarium
kecuali pada stadium terminal. 2,7,9
Apabila ditemukan pertumbuhan papiler, proliterasi dan stratifikasi epitel,
serta anaplasia dan mitosis pada sel-sel, kistadenoma serosum secara makroskopik
digolongkan ke dalam kelompok tumor ganas. 30-35% dari kistadenoma serosum
mengalami perubahan keganasan. Bila terdapat implantasi pada peritoneum disertai
dengan ascites, prognosis penyakit adalah kurang baik. Meskipun diagnosis
histopatologis pertumbuhan tumor tersebut mungkin jinak (histopathologically
benign), tetapi secara klinis harus dianggap sebagai neoplasma ovarium ganas
(clinicaly malignant).
Terapi pada umumnya adalah pengangkatan tumor. Tetapi oleh karena
berhubung dengan besarnya kemungkinan keganasan perlu dilakukan pemeriksaan
yang teliti terhadap tumor yang dikeluarkan. Bahkan kadang-kadang perlu diperiksa
sediaan yang dibekukan (frozen section) pada saat operasi, untuk menentukan
tindakan selanjutnya pada waktu operasi.2,9

29

Gambar 6 : Kista Ovarium Serosum


c. Kistadenoma Ovarii Musinosum
Asal tumor ini belum diketahui dengan pasti. Tumor ini mungkin muncul
sebagai tumor unilateral kista teratoma atau sebagai metaplasia mucinosum dari
mesothelium. Tumor mucinous yang berasal dari teratoid ditemukan pada
penderia yang muda. Paling sering pada wanita berusia antara 20-50 tahun dan
jarang sekali pada masa prapubertas. Tumor evarium ini terbanyak ditemukan
bersama-sama dengan kistadenoma ovarii serosum. Kedua tumor ini merupakan
kira-kira 60% dari seluruh ovarium, sedang kistadenoma ovarii musinosum
nerupakan 40% dari seluruh kelompok neoplasma ovarium.
Kista ini biasanya mempunyai dinding yang licin, permukaan berbagala
(lobulated) dan umumnya multitokular dan odematosa; lokular yang mengandung
niukosa ini kelihatan biru dari peregangan kapsulnya. Kira-kira 10% dapat
mencapai ukuran yang amat besar dan pada tumor ini tidak dapat ditemukan
jaringan yang normal lagi. Tumor biasanya unilateral, akan tetapi dapat juga
dijumpai yang bilateral (8-10%).
Dinding kista agak tebal dan berwarna putih keabuan terutama apabila
terjadi perdarahan atau perubahan degeneratif di dalam kista. Pada permukaan
terdapat cairan lendir yang khas, kental seperti gelatin, melekat dan berwarna
kuning sampai coklat tergantung dari percampurannya dengan darah.
Pemeriksaan mikroskopik : tampak dinding kista dilapisi oleh epital torak
tinggi dan sel-sel goblet yang terisi lendir. Sel-sel epitel yang terdapat dalam satu
lapisan bersifat odernatus dan mempunyai potensi untuk tumbuh seperti struktur

30

kelenjar, kelenjar-kelenjar menjadi kista-kista baru, yang menyebabkan kista


menjadi multilokuler. Jika terjadi suatu sobekan pada dinding kista (spontan
ataupun pada saat operasi), maka sel-sel epitel dapat tersebar pada permukaan
peritoneum rongga perut, dan sekresinya menyebabkan pseudomiksoma peritonei.
Akibat pseudorniksoma peritonei timbul penyakit menahun dengan musin terus
bertambah dan menyebabkan banyak perlengketan. Akhirnya penderita meninggal
karena ileus. Pada kista kadang-kadang ditemukan daerah padat dan pertumbuhan
papiler.2,9
d. Kista Endometroid
Terjadi karena lapisan didalam rahim (yang biasanya terlepas sewaktu haid
dan terlihat keluar dari kemaluan seperti darah); tidak terletak dalam rahim tetapi
melekat pada dinding luar ovarium. Akibat peristiwa ini setiap kali haid, lapisan
tersebut menghasilkan darah haid yang akan terus menerus tertimbun dan
menjadi kista. Kista ini bisa 1 pada dua indung telur. Timbul gejala utama yaitu
rasa sakit terutama sewaktu haid/ sexual intercourse.2,9

Gambar 7 :Kista Endometroid


e. Kista Dermoid
Tumor ini merupakan 10% dan seluruh neoplasma ovarium yang kistik, dan
paling sering ditemukan pada wanita yang masih muda. 25% dari semua kista
dermoid bilateral, lazimnya dijumpai pada masa reproduksi walaupun dapat
ditemukan pada anak kecil. Tumor ini dapat mencapai ukuran sangat besar, sehingga
beratnya mencapai beberapa kilogram.
Kista ini tumbuh akibat proses yang kurang sempurna saat pembentukan
lapisan embrional. Lapisan ektoderm yang saat dewasa akan menjadi sel sel folikel
rambut, tulang, serta gigi secara tidak sempurna tumbuh di sekitar ovarium. Kista ini
tidak mempunyai ciri yang khas. Dinding kista kelihatan putih keabuan dan agak tipis.

31

Konsistensi tumor sebagian kistik kenyal, di bagian lain padat. Dapat ditemukan kulit,
rambut kelenjer sebasea, gigi (ektodermal), tulang rawan, serat otot jaringan ikat
(mesodemal) dan mukosa traktus gasttrointotinelis, epitel saluran kista terdapat
produk kelenjer sebasea berupa massa lembek seperti lemak, bercampur dengan
rambut
Pada kista dermoid dapat terjadi torsio tangkai dengan gejala nyeri mendadak
di perut bagian bawah. Ada kemungkinan terjadinya sobekan dinding kista dengan
akibat pengeluaran isi kista dalam rongga peritoneum. Perubahan keganasan dari
kista sangat jarang, hanya 1,5% dari semua kista dermoid dan biasanya pada wanita
lewat menopause.2,9

Gambar 10 : Kista Dermoid


2. Solid
Semua tumor ovarium yang padat adalah neoplasma. Akan tetapi, ini tidak berarti
bahwa termasuk suatu neoplasma yang ganas, meskipun semuanya berpotensi
maligna. Potensi menjadi ganas sangat berbeda pada berbagai jenis, umpamanya
sangat rendah pada fibroma ovarium dan sangat tinggi pada teratoma embrional yang
padat.7,9
Fibroma ovarii
Potensi menjadi ganas sangat rendah pada fibroma ovarium, kurang dari 1%.
Fibroma ovarii berasal dari elemen fibroblastik stroma ovarium atau sel mesenkim
yang multipoten. Tumor ini merupakan 5% dari semua neoplasma ovarium dan paling
sering ditemukan pada penderita menopause.
Tumor ini mencapai diameter 2 sampai 30 cm; dan beratnya 20 kg, dengan
90% uniteral. Permukaan tidak rata, konsistensi keras, warnanya merah jambu
keabuan. Apabila konsistensi sangat padat disebut fibroma durum, dan apabila lunak
disebut fibroma molle. Neoplasma ini terdiri atas jaringan ikat dengan sel-sel di

32

tengah jaringan kolagen. Apabila terdiri atas kelenjar-kelenjar kistik, maka disebut
kistadenofroma ovarii. Fibroma ovarii yang besar biasanya mempunyai tangkai dan
dapat terjadi torsi. Pada tumor ini sering ditemukan sindroma Meigs (tumor ovarii,
ascites, hidrotoraks). 2,7,9
a. Tumor Brenner
Merurupakan suatu neoplasma ovarium yang sangat jarang ditemukan,
biasanya pada wanita dekat atau sesudah menopause. Frekuensinya 0,5% dari semua
tumor ovarium. Besar tumor ini beraneka ragam, dari sangat kecil ke yang beratnya
beberapa kilogram. Lazimnya tumor ini unilateral. Pada pembelahan berwarna kuning
muda seperti fibroma, dengan kista-kista kecil. Kadang-kadang pada tumor ini
temukan sindroma Meigs. Gambar mikroskopis tumor ini sangat khas, terdiri dari 2
elemen, yakni sarang-sarang yang terdiri atas epitel epitel, yang dikelilingi jaringan
ikat yang luas dan padat.
Tumor Brenner tidak menimbulkan gejala-gejala klinik yang khas, dan jika masih
kecil, biasanya ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan histopatologik
ovarium. Meskipun biasanya jinak, dalam beberapa kasus tumor ini menunjukkan
keganasan pada histopatologi dan klinisnya.2,7,9
b. Maskulinovoblastoma (adrenal cell rest tumor)
Tumor ini sangat jarang terjadi. Biasanya unilateral dan besarnya bervariasi antara 0,5-16
cm. Beberapa dari tumor ini menyebabkan gejala maskulinasi, terdiri atas hirsutisme,
pembesaran klitoris, atrofi memmae, dan perubahan suara.
Gejala dan tanda
Sebagian besar kista ovarium tidak menimbulkan gejala, atau hanya sedikit nyeri
yang tidak berbahaya.11
Gejala-gejala berikut yang muncul bila anda mempunyai kista ovarium:

Perut terasa penuh, berat, kembung.


Tekanan pada dubur dan kandung kemih (sulit buang air kecil).
Haid tak teratur.
Nyeri panggul yang menetap atau kambuhan yang dapat menyebar kepanggul bawah

dan paha.
Nyeri senggama.
Mual, ingin muntah, atau pergeseran payudara mirip seperti pada saat hamil.

KOMPLIKASI
1.

Torsi

33

Torsi terjadi hanya jika pedikel sangat panjang dan tumor tidak terfiksasi pada struktur
yang lain. Tumor yang besar jarang terjadi pemutaran karena tidak memiliki ruang
untuk melakukan pergerakan secara bebas. Komplikasi ini biasanya khusus terjadi pada
kista dermoid dan fibroma, tetapi beberapa ukuran tumor yang moderate yang tidak
mengalami fiksasi dapat juga terjadi torsi. Ketika terjadi torsi, lilitan timbul pertama
kali pada vena , suplai darah pada arteri tetap berlanjut, dan tumor akan berisi darah
yang

kemudian

akan

menjadi

kemerahan

dan

kadang

terjadi

perdarahan

intraperitoneal.10
2. Ruptur
Ruptur spontan dari ovarium dapat timbul. Hal ini disebabkan suplai darah yang tidak
adekuat pada dinding tumor. Kalau ruptur tumor terjadi pada tumor yang kecil maka
nyeri yang ditimbulkan minimal atau tidak ada, tetapi pada tumor yang besar , maka
dapat ditemukan nyeri yang berat disertai dengan muntah dan lebih lanjut dapat terjadi
syok. Pada pemeriksaan abdominal dapat dirasakan nyeri tekan rigiditas, pada
pemeriksaan pelvis akan ditemukan adanya nyeri tekan, tetapi kista yang mengalami
kolaps tidak dapat dirasakan adanya nyeri tekan.10
3. Perdarahan
Perdarahan dapat menyebabkan pembesaran tumor (distensi) sehingga menyebabkan
nyeri perut, kadang perdarahan masif timbul pada tumor ovarium, terutama pada kasus
keganasan, ini menyebabkan nyeri yang serupa dengan torsi.10
4.

Penekanan
Penekanan pada bagian dalam pelvic akan menyebabkan retensio urin, tumor biasanya
akan selalu naik dari rongga pelvic ke rongga abdomen.10

Pemeriksaan penunjang
1. USG
Merupakan alat terpenting dalam menggambarkan kista ovarium.Dengan
pemeriksaan ini dapat ditentukan letak batas tumor, apakah tumor berasal dariuterus, atau
ovarium, apakah tumor kistik atau solid dan dapat dibedakan pula antara cairan dalam
rongga perut yang bebas dan tidak. Dapat membantu mengidentifikasi karakteristik kista
ovarium.
2. Foto Roentgen
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan adanya hidrotoraks. Pemeriksaan
pielogram inravena dan pemasukan bubur barium pada kolon dapat untuk menentukan

34

apakah tumor bearasal dari ovarium atau tidak, misalnya tumor bukan dari ovarium yang
terletak di daerah pelvis seperti tumor kolon sigmoid.
3.Pengukuran serum CA-125
Tes darah dilakukan dengan mendeteksi zat yang dinamakan CA-125, CA-125
diasosiasikan dengan kanker ovarium. Dengan ini diketahui apakah massa ini jinak atau
ganas.
4. Laparoskopi
Perut

diisi

dengan

gas

dan sedikit

insisi

yang

dibuat

untuk

memasukan

laparoskop.Melalui laparoskopi dapat diidentifikasi dan mengambil sedikit contoh kista


untuk pemeriksaan PA
Tata laksana
Pengobatan yang dilakukan bergantung pada umur, jenis dan ukuran kista dan gejalagejala yang diderita. Beberapa pilihan pengobatan yang mungkin disarankan:
1. Pendekatan wait and see
Jika wanita usia reproduksi yang masih ingin hamil, berovulasi teratur, tanpa
gejala, dan hasil USG menunjukkan kista berisi cairan, dokter tidak memberikan
pengobatan apapun dan menyarankan untuk pemeriksaan USG ulangan secara
periodik (selang 2-3 siklus haid) untuk melihat apakah ukuran kista membesar.
Pendekatan ini juga menjadi pilihan bagi wanita pascamenopause jika kista berisi
cairan dan diameternya kurang dari 5 cm.
2. Pil kontrasepsi
Jika terdapat kista fungsional, pil kontrasepsi yang digunakan untuk
mengecilkan ukuran kista. Pemakaian pil kontrasepsi juga mengurangi peluang
pertumbuhan kista.
3. Pembedahan
Jika kista besar (diameter > 5 cm), padat, tumbuh atau tetap selama 2-3 siklus
haid, atau kista yang berbentuk iregular, menyebabkan nyeri atau gejala-gejala berat,
maka kista dapat dihilangkan dengan pembedahan. Jika kista tersebut bukan kanker,
dapat dilakukan tindakan kistektomi kistektomi untuk menghilangkan kista dengan
ovarium masih pada tempatnya. Jika kista tersebut merupakan kanker, dokter akan
menyarankan tindakan histerektomi untuk pengangkatan rahim dan uterus .
Prognosis

35

Prognosis untuk kista jinak baik. Walaupun penanganan dan pengobatan kanker
ovarium telah dilakukan dengan prosedur yang benar namun hasil pengobatannya sampai
sekarang ini belum sangat menggembirakan termasuk pengobatan yang dilakukan di pusat
kanker terkemuka di dunia sekalipun. Angka kelangsungan hidup 5 tahun (5 Years survival
rate) penderita kanker ovarium stadium lanjut hanya kira-kira 20-30%, sedangkan sebagian
besar penderita 60-70% ditemukan dalam keadaan stadium lanjut sehingga penyakit ini
disebut juga dengan silent killer.11

BAB V
PEMBAHASAN
5.1 Diagnosis Kista Ovarium
Diagnosis
Diagnosis tentang adanya kista di ovarium umumnya ditemukan setelah melakukan
pemeriksaan fisik (pemeriksaan ginekologis) serta pemeriksaan ultrasonografi. Temuan
mengenai adanya kista ovarium baik kista fisiologis maupun patologis kadangkala
merupakan temuan yang tidak disengaja ketika melakukan pemeriksaan ginekologis atau
pemeriksaan ultrasonografi. Adanya kista di ovarium baik yang bersifat fisiologis maupun
patologis pada umumnya tidak disadari oleh seorang wanita, kecuali kista tersebut

36

membesar, menekan organ lain atau melintir (torsi), sehingga menimbulkan berbagai
keluhan.
a. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan luar: dengan melihat, meraba, mengetuk juga mendengar apakah ada
benjolan, nyeri dan ketidaknormalan disekitar organ reproduksi wanita.
Pemeriksaan dalam: pasien diposisikan dalam posisi litotomi. Jari dimasukkan ke dalam
vagina. Bila terdapat tumor, dapat teraba benjolan atau masa dari dalam.
Bila ukuran kista cukup besar (15 cm), benjolan dapat teraba dari luar maupun dari
dalam. Untuk itu, harus dipastikan apakah benjolan tersebut merupakan kista atau bukan
Pemeriksaan Penunjang
B.Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis kista
ovarium adalah pemeriksaan ultrasonografi (USG).
Pemeriksaan ultrasonografi dapat melihat pencitraan adanya kista pada ovarium. Dengan
pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor apakah tumor berasal dari uterus,
ovarium, atau kandung kencing, apakah tumor kistik atau solid, dan dapatkah dibedakan
pula antara cairan dalam rongga perut yang bebas dan yang tidak. Citra kista hasil USG
dapat berupa:

Kista sederhana (simple cyst): hanya berisi cairan tanpa masa yang solid, umumnya
merupakan kista yang jinak seperti kista fisiologis (kista folikel dan kista luteal).

Kista kompleks (compount cyst): kista berisi campuran cairan dan masa solid, perlu
observasi lebih lanjut akan kemungkinan menghilang atau tidak.

Kista solid (solid cyst): kista berisi masa solid tanpa cairan, perlu dievaluasi apakah
merupakan tumor ganas atau tumor jinak.

5.2 Diagnosis Banding

Diagnosis pasti tidak dapat dilihat dari gejala-gejala saja. Karena banyak penyakit
dengan gejala yang sama pada kista ovarium, adalah :
Mioma uteri dan kanker ovarium.

Mioma uteri adalah Tumor jinak yang tumbuh di uterus, terdiri terutama otot polos dengan
jaringan penunjang, berbatas tegas tapi tidak berkapsul . Pemeriksaan USG pembesaran
uterus. Gambaran sonografi mioma kebiasaanya adalah simetrikal, berbatas tegas,
hypoechoic dan degenerasi kistik menunjukkan anechoic

37

Kanker ovarium adalah tumor ganas pada ovarium (indung telur) Kanker ovarium sebagian
besar berbentuk kista berisi cairan maupun padat. Pada pemeriksaan transvaginal ultrasound
di dapatkan dinding tebal dan ireguler.
5.3 DASAR RENCANA PENATALAKSANAAN
Pendekatan wait and see
Jika wanita usia reproduksi yang masih ingin hamil, berovulasi teratur, tanpa gejala,
dan hasil USG menunjukkan kista berisi cairan, dokter tidak memberikan pengobatan apapun
dan menyarankan untuk pemeriksaan USG ulangan secara periodik (selang 2-3 siklus haid)
untuk melihat apakah ukuran kista membesar. Pendekatan ini juga menjadi pilihan bagi
wanita pascamenopause jika kista berisi cairan dan diameternya kurang dari 5 cm.
Pil kontrasepsi
Jika terdapat kista fungsional, pil kontrasepsi yang digunakan untuk mengecilkan
ukuran kista. Pemakaian pil kontrasepsi juga mengurangi peluang pertumbuhan kista.
Pembedahan
Jika kista besar (diameter > 5 cm), padat, tumbuh atau tetap selama 2-3 siklus haid,
atau kista yang berbentuk iregular, menyebabkan nyeri atau gejala-gejala berat, maka kista
dapat dihilangkan dengan pembedahan. Jika kista tersebut bukan kanker, dapat dilakukan
tindakan kistektomi untuk menghilangkan kista dengan ovarium masih pada tempatnya. Jika
kista tersebut merupakan kanker, dokter akan menyarankan tindakan histerektomi untuk
pengangkatan ovarium.

BAB VI
PENUTUP
A KESIMPULAN HOLISTIK
Diagnosis dari segi biologis :
Ny.T dengan diagnosa kista ovarium
Diagnosis dari segi psikologis :
Ny.T dan suami merasa sedih atas sakit yang sering dialami Ny.T. Namun setelah
dilakukan operasi pengangkatan kista, diharapkan kondisi Ny.T jauh lebih baik dari
keadaan sbelumnya.
Diagnosis dari segi sosial dan ekonomi :

38

Kondisi ekonomi termasuk dalam keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke


atas. Biaya hidup di tanggung secara bersama. Penghasilan Ny.T dan suami cukup untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan dalam aspek sosial Ny.T dan keluarga tidak
didapatkan masalah. Ny.T tinggal bersama suami dan kedua anaknya di lingkungan yang
bersih dan memiliki interaksi baik antar tetangga.

Daftar pustaka
1. Bobak, Lowdermilk. 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Edisi keempat.
Jakarta:EGC.
2. Mansjoer, Arif dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid 2. Jakarta: Media
Aesculapius.
3. Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, Wardhani WI, Setiowulan W. Tumor Ovarium
Neoplastik Jinak. Dalam : Kapita Selekta Kedokteran Jakarta.
4. Moeloek FA, Nuranna L, Wibowo N, Purbadi S.2006. Standar Pelayanan Medik
Obstetri dan Ginekologi. Jakarta : Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia;
5. Pearce, Evelyn C. 2000. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis Edisi Barui. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama

39

6. Sastrawinata,

Sulaiman.

dkk.

2004.

Ilmu

Kesehatan

Reproduksi:

Obstetri

Patologi.Edisi 2. Jakarta: EGC


7. Schorge et al. Williams Gynecology [Digital E-Book]. 2004. Gynecologic Oncology
Section. Ovarian Tumors and Cancer. McGraw-Hills.
8. Sjamsuhidayat. 1998. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC, l 1027; Jakarta, 1998
9. Wiknjosastro H. 1999. Buku Ilmu Kandungan Edisi 2., editor: Saifuddin A.B,dkk.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
10. Wiknjosastro H. 2005. Tumor Jinak Pada Alat Genital Dalam Buku Ilmu Kandungan
Edisi 2., editor: Saifuddin A.B,dkk. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
11. Wiknjosastro, Hanifa. dkk. 2007. Ilmu Kandungan. Edisi 2.Cetakan 5. Jakarta:

Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.