Anda di halaman 1dari 27

TOPIK :

GLOBALISASI SOSIAL BUDAYA TERHADAP


AKSELERASI PARTNERSHIP BUILDING
JUDUL :
OPTIMALISASI PENCEGAHAN BAHAYA NARKOBA GUNA MEMBANGUN
KEMITRAAN DENGAN UNSUR TERKAIT DAN MASYARAKAT
DALAM RANGKA TERWUJUDNYA HARKAMTIBMAS
BAB I
PE N DAH U LUAN
1.

Latar Belakang
Perkembangan sosial budaya yang berkembang di tengah msyarakat saat ini
adalah merupakan tantangan tugas Polri, dimana Polri harus dapat mengantisipasi
setiap perkembangan tersebut, dan menjadi mitra masyarakat sehingga terbentuk figur
yang dipercaya sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat. Polri harus
berada dekat dengan masyarakat dan membaur dengan masyarakat sebagai wujud
kemitraan untuk bersama-sama menyelesaikan permasalahan-permasalahan sosial
dikarenakan perkembangan sosial akibat pengaruh budaya global dalam rangka
terwujudnya suatu keamanan dan ketertiban masyarakat yang kondusif.
Seiring dengan perkembangan sosial akibat pengaruh budaya global tersebut,
seperti kita ketahui bahwa kehidupan sosial para pelajar zaman sekarang semakin
mengkhawatirkan. Ditambah dengan masuk dan berkembangnya globalisasi, memberi
dampak yang cukup negatif pula bagi mereka para pelajar yang tidak bisa menahan
diri mereka. Walhasil bertambah banyak penyimpangan-penyimpangan sosial yang
diakibatkan oleh oleh ulah kenakalan pelajar sekarang ini, seperti contohnya
penyalahgunaan Narkoba. Para pelajar menyalahgunakan Narkoba dilatar belakangi
oleh perilaku sekedar ingin tahu, terbujuk, karena barangnya ada, gaya hidup dan
banyak lagi faktor yang dapat dituding sebagai penyebabnya, padahal pengaruh
Narkoba cukup dominan sebagai pemicu berbagai tindakan negatif berupa kenakalan
remaja seperti halnya tawuran antar pelajar.
Dalam upaya untuk membangun kemitraan dengan instansi terkait dan
masyarakat dalam mencegah bahaya Narkoba di kalangan pelajar yang merupakan
dampak negatif dari adanya perkembangan sosial dan budaya di tengah masyarakat,
maka telah dibentuk Bhabinkamtibmas yang mempunyai tugas dan peran dalam
melaksanakan pembinaan / bimbingan terhadap pelajar dan pemuda tentang ekses

yang ditimbulkan dari penyalahgunaan Narkoba yang memicu terjadinya tawuran


pelajar melalui kegiatan Karang Taruna atau Organisasi Kepemudaan dengan
berpartisipasi secara aktif juga melaksanakan pembinaan pada pelajar SMP dan SMU
dengan cara sebagai pembina upacara di sekolah-sekolah guna memberikan
pemahaman mengenai bahaya Narkoba. Namun pada kenyataannya dilapangan, peran
Bhabinkamtibmas ini belum sepenuhnya dapat dilaksanakan sehingga belum dapat
menemukan jalan keluar terbaik bagi upayanya dalam mencegah bahaya Narkoba
sebagai pemicu maraknya tawuran pelajar.
2.

Permasalahan
Memperhatikan pada latar belakang tersebut di atas, pokok permasalahan
dalam naskah ini adalah Bagaimana mengoptimalisasikan pencegahan bahaya
narkoba di kalangan pelajar guna membangun kemitraan dengan unsur terkait
dan masyarakat sehingga harkamtibmas terwujud ?

3.

Pokok Pokok Persoalan


Bertolak dari pokok permasalahan di atas, berikut ini adalah pokok-pokok
persoalan yang akan dibahas dalam penulisan ini, yaitu :
a. Bagaimana pelaksanaan pembinaan yang dilakukan oleh Bhabinkamtibmas
Polres XPolres Deli Serdang dalam mencegah bahaya Narkoba di kalangan
pelajar ?
b. Bagaimana kemitraan Bhabinkamtibmas Polres XPolres Deli Serdang
dengan unsur terkait dan masyarakat dalam pencegahan bahaya narkoba di
kalangan pelajar ?

4.

Ruang Lingkup
Dalam penulisan naskah ini penulis membatasi pada optimalisasi pencegahan
bahaya narkoba terhadap pelajar sebagai dampak negatif pengaruh globalisasi sosial
budaya oleh Bhabinkamtibmas di Polres XPolres Deli Serdang guna membangun
kemitraan dengan unsur terkait dan masyarakat dalam rangka terwujudnya
harkamtibmas.

5.

Maksud Dan Tujuan


a.

Maksud

Maksud dari pembuatan Naskah Karya Perorangan (NKP) ini adalah


untuk memahami bagaimana mengoptimalisasikan pencegahan bahaya
narkoba sebagai dampak negatif pengaruh globalisasi sosial budaya, untuk
kemudian menjadi bahan perbandingan dengan materi mata pelajaran yang
diperoleh, dan selanjutnya dapat diaplikasikan di satuan kerja.
b.

Tujuan
Tujuan dari pembuatan Naskah Karya Perorangan (NKP) ini adalah
untuk dapat menganalisa dan mengevaluasi kemampuan Polri dalam
pencegahan bahaya narkoba sebagai dampak negatif globalisasi sosial budaya
melalui pembangunan kemitraan dengan unsur terkait dan masyarakat, dan
diharapkan dapat memberikan masukan dan rekomendasi bagi perbaikan
kualitas dan kinerja organisasi Polri.

6.

Metode Dan Pendekatan


a.

Metode
Dalam penulisan Naskah Karya Perorangan (NKP) ini metode yang
digunakan

adalah

metode

deskriptif

analisis,

yaitu

mendeskripsikan

perkembangan lingkungan strategis yang mempengaruhi adanya tuntutan


dalam melaksanakan tugas pokok Polri. Namun mengingat terbatasnya waktu
yang dimiliki dalam pengamatan dan pengumpulan data, maka penulis
melakukan eksplorasi, studi kepustakaan dan peninjauan lingkungan kerja
untuk mendukung penyusunan naskah ini yang selanjutnya dilakukan kajian
terhadap pencegahan bahaya narkoba melalui pembangunan kemitraan dengan
unsur terkait dan masyarakat.
b.

Pendekatan
Sedangkan

pendekatan

yang

digunakan

dalam

memahami

permasalahan dan persoalan terkait dengan upaya pencegahan bahaya narkoba


guna pembangunan kemitraan dengan unsur terkait dan masyarakat melalui
pendekatan kualitatif serta pendekatan deskriptif analisis dalam membedah
yang disesuaikan dengan kondisi faktual pelaksanaan tugas di lapangan.
7.

Tata Urut (Sistematika Penulisan)


BAB I

Pendahuluan

Pada bab ini diuraikan mengenai latar belakang, permasalahan, persoalan yang
melandasi penulisan NKP ini serta ruang lingkup, maksud dan tujuan, maupun metode
dan pendekatan penulisan. Dalam bab ini diuraikan pula sistematika penulisan dan
pengertian-pengertian terkait permasalahan yang diangkat.
BAB II

Landasan Teori

Landasan teori yang diuraikan dalam bab ini meliputi teori-teori yang relevan dan
terkait dengan permasalahan penulisan.
BAB III

Kondisi Faktual

Bab ini menguraikan kondisi pencegahan bahaya narkoba guna membangun


kemitraan dengan unsur terkait dan masyarakat saat ini.
BAB IV

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi

Dalam bab ini diuraikan faktor-faktor lingkungan eksternal dan lingkungan internal
menggunakan pendekatan analisis SWOT.
BAB V

Kondisi Ideal

Dalam bab ini diuraikan kondisi pencegahan bahaya narkoba guna membangun
kemitraan dengan unsur terkait dan masyarakat yang diharapkan.
BAB VI

Pemecahan Masalah

Bab ini menguraikan visi, misi, tujuan, sasaran, kebijakan, strategi, dan action plan
untuk mengoptimalisasikan pencegahan bahaya narkoba guna kemitraan dengan unsur
terkait dan masyarakat dalam rangka terwujudnya harkamtibmas.
BAB VII

Penutup

Bab ini berisikan rumusan kesimpulan dan rekomendasi atas pembahasan dalam NKP.
8.

Pengertian Pengertian
a.

Optimalisasi
Optimalisasi memiliki kata dasar optimal yang memiliki arti terbaik,
tertinggi, paling menguntungkan1.

b.

Pencegahan
Pencegahan dapat diartikan sebagai suatu proses, cara, perbuatan
mencegah; penegahan; penolakan: sedapat mungkin dilakukan ~ terhadap
faktor yang dapat menimbulkan komplikasi2.

c.

Bahaya

1 Nur Azman, dkk., Kamus Standar Bahasa Indonesia, Fokusmedia, Bandung,


2013, Hal. 295.

Bahaya dapat diartikan sebagai yang (mungkin) mendatangkan


kecelakaan (bencana, kesengsaraan, kerugian, dsb)3.
d.

Narkoba
Menurut Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkoba,
Narkoba adalah singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Bahan Adiktif
lainnya yang merupakan zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan
tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan
penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai
menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang
dibedakan ke dalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam
Undang-Undang ini.

e.

Membangun Kemitraan
Secara konseptual, kemitraan adalah suatu kerja sama formal antara
individu-individu, kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi untuk
mencapai suatu tugas atau tujuan tertentu (Notoatmodjo, 2003). Kemitraan
secara umum akan terjalin bilamana terdapat pihak yang merasakan adanya
kelemahan implementasi bila sebuah pembangunan hanya menjadi focus of
interest satu pihak saja4.

f.

Masyarakat
Masyarakat adalah sejumlah manusia dl arti seluas-luasnya dan terikat
oleh suatu kebudayaan yg mereka anggap sama5.

g.

Harkamtibmas
Pemeliharaan kemamanan dan ketertiban masyarakat

adalah suatu

kondisi dinamis masyarakat sebagai salah satu prasyarat terselenggaranya


2 Arti Kata.Com., Pengertian Pencegahan, diunduh http://artikata.com/arti361240-pencegahan.html, pada hari Rabu, 10 September 2014, Pukul 10.59 Wib.
3 Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pengertian Bahaya, diunduh
http://kbbi.web.id/bahaya, pada hari Rabu, 10 September 2014, Pukul 11.05 Wib.
4 Bambang Sigit S. dan Nizar, Membangun Jejaring Kerja dan Kemitraan,
Badan Penyuluhan dan Pengambangan Sumber Daya Manusia, Pusat
Penyuluhan Nasional, Jakarta, 2012, Hal. 1.
5 Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pengertian Masyarakat, diunduh
http://kbbi.web.id/masyarakat, pada hari Rabu, 10 September 2014, Pukul 11.25
Wib.

proses pembangunan nasional dalam rangka tercapainnya tujuan nasional yang


ditandai oleh terjaminnya keamanan, ketertiban, dan tegaknya hukum, serta
terbinanya ketentraman yang mengandung kemampuan membina serta
mengembangkan potensi dan kekuatan masyarakat dalam menangkal,
mencegah, dan menanggulangi segala bentuk pelanggaran hukum dan bentukbentuk gangguan lainnya yang dapat meresahkan masyarakat6.

BAB II
LANDASAN TEORI

Pada bab landasan teori ini, membahas mengenai teori atau konsep yang digunakan
sebagai pisau analisis dalam membahas permasalahan dalam penulisan naskah ini,
diantaranya :
9.

Teori Manajemen Strategik


Manajemen strategik adalah seperangkat keputusan dan tindakan manajerial
yang menentukan kinerja organisasi dalam jangka panjang. Manajemen strategik
didefinisikan sebagai kumpulan keputusan dan tindakan yang merupakan hasil
rumusan dan implementasi pada rencana yang dibuat untuk mencapai tujuan
organisasi serta bagaimana mengevaluasi dan melaksanakan tindakan tersebut demi
tercapainya tujuan organisasi. Proses manajemen strategik terdiri atas tiga tahapan
utama, yaitu perumusan strategi, implementasi strategi serta evaluasi dan
pengendalian strategi, yang diawali dengan pengamatan lingkungan. Perumusan
strategi terdiri dari enam langkah, yaitu melakukan analisis lingkungan internal,
melakukan analisis lingkungan eksternal, mengembangkan visi dan misi yang jelas,
menyusun sasaran dan tujuan organisasi, merumuskan pilihan-pilihan strategik dan
memilih strategi yang tepat dan menentukan pengendalian. Dalam implementasi
strategi dilakukan penetapan tujuan tahunan, perumusan kebijakan, memotivasi
pekerja dan alokasi sumber daya. Terakhir evaluasi strategi untuk memastikan apakah

6 Undang-Undang Republik Indonesia No. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian


Negara Republik Indonesia, BAB I Ketentuan Umum, Pasal 1.

tindakan-tindakan strategik yang dilakukan sudah sesuai dengan perumusan strategi


yang sudah dibuat atau diterapkan7.
10.

Teori Analisis SWOT


Menurut Rangkuti (2006), analisa SWOT adalah identifikasi berbagai faktor
secara sistematis untuk merumuskan strategi. Analisa SWOT didasarkan pada logika
yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), namun
secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman
(threats).8 Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan
pengembangan misi, tujuan, strategi dan kebijakan. Proses penyusunan perencanaan
strategis dapat dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: tahap pengumpulan data; tahap
analisa; dan tahap pengambilan keputusan. Analisa SWOT membandingkan faktor
eksternal peluang (opportunities) dan ancaman (threats) dengan faktor internal
kekuatan (strengths) dan kelemahan (weakness).
11. Konsep Kerjasama dan Kemitraan Dalam Tugas Polri
Dalam pasal 14 Undang-Undang No. 2 tahun 2002 tentang kepolisian
menyebutkan (1) : Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud dalam
pasal 13, Kepolisian Negara Republik Indonesia bertugas ; antara lain, huruf c.
Membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, kesadaran hukum
masyarakat serta ketaatan warga masyarakat terhadap hukum dan peraturan
perundang-undangan ; huruf f. Melakukan koordinasi, pengawasan, dan pembinaan
teknis terhadap kepolisian khusus, penyidik pegawai negeri sipil dan bentuk-bentuk
pengamanan swakarsa ; huruf i. Melindungi keselamatan jiwa raga, harta benda,
masyarakat, dan lingkungan hidup dari gangguan ketertiban dan / atau bencana
termasuk memberikan bantuan dan pertolongan dengan menjunjung tinggi hak azasi
manusia ; huruf j. Melayani kepentingan warga masyarakat untuk sementara sebelum
ditangani oleh instansi dan / atau pihak yang berwenang ; dalam pasal 15 huruf f.
Memberikan izin operasional dan melakukan pengawasan terhadap badan usaha

7 Musa Hubeis dan Mukhamad Najib, Manajemen Strategik Dalam


Pengembangan Daya Saing Organisasi, PT. Elex Media Komputindo, Kompas
Gramedia, Jakarta, 2014, Hal. 23-26.
8Freddy Rangkuty. Analisis SWOT, Teknik Membedah Kasus Bisnis : Reorientasi
Konsep Perencanaan Strategis Untuk Menghadapi Abad 21, PT. Gramedia Utama,
Jakarta, 2009. Hal. 1-5.

dibidang jasa pengamanan ; huruf h. Melakukan kerjasama dengan Kepolisian negara


lain dalam menyidik dan memberantas kejahatan internasional; huruf i. Melakukan
pengawasan fungsional kepolisian terhadap orang asing yang berada diwilayah
Indonesia dengan koordinasi instansi terkait ; huruf j. Mewakili pemerintah RI dalam
Organisasi Kepolisian Internasional.

BAB III
KONDISI FAKTUAL PENCEGAHAN BAHAYA NARKOBA GUNA MEMBANGUN
KEMITRAAN DENGAN UNSUR TERKAIT DAN MASYARAKAT

Era globalisasi yang terus berkembang menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan


sosial yang serba cepat dalam lingkungan masyarakat sebagai akibat dari proses modernisasi,
industrialisasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdampak pada tatanan
kehidupan keluarga dan masyarakat. Gejala-gejala yang muncul antara lain Pola hidup
masyarakat yang berubah dari yang semula sosial religius cenderung ke individualis
matrealistis dan sekuler; Pola hidup sederhana dan produktif cenderung ke pola hidup
mewah dan konsumtif; Hubungan keluarga yang semula erat menjadi longgar dan rapuh, dan
Nilai agama dan tradisional dalam masyarakat berubah menjadi masyarakat modern bercorak
sekuler dan serba boleh. Pengaruh lainnya yang paling menonjol adalah penyalahgunaan
narkoba yang makin marak terjadi di kalangan pelajar yang merupakan dampak ikutan
terhadap perubahan-perubahan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
Data trend kasus tindak pidana Narkoba Tahun 2012 2013 yang terjadi di wilayah
hukum Polres X, dapat dilihat dari tabel berikut ini :
Tabel 3.1
Data Tingkat Kerawanan Gangguan Kamtibmas Dari Aspek Kriminalitas
Di Wilayah Hukum Polres XPolres Deli Serdang

NO.

JENIS KEJADIAN

TH 2012
CT

CC

TH 2013
CR

CT

CC

CR

1.

CURAT

104

74

71.1 %

85

55

64.7 %

2.

CURAS

28

17

60.7 %

23

15

65.2 %

3.

CURANMOR R2

60

5%

71

20

28.5 %

4.

CURANMOR R4

18

5.5 %

15

5.

ANIAYA

29

18

62 %

24

14

58.3 %

6.

PENIPUAN

33

16

48.4 %

35

19

54.2 %

7.

PENGGELAPAN

10

80 %

11

54.5 %

8.

NARKOBA

15

27

180 %

31

28

90.3 %

297

164

55 %

295

157

54 %

JUMLAH

Sumber : Laporan Satreskrim Polres XPolres Deli Serdang

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa kejahatan penyalahgunaan dan peredaran gelap
Narkoba mengalami peningkatan yang cukup signifikan, tahun 2012 dilihat dari crime total
sebanyak 15 kasus, sedangkan tahun 2013 sebanyak 31 kasus. Dari 31 kasus yang terjadi
pada tahun 2013 tersebut, trens kasus penyalahgunaan Narkoba di kalangan pelajar adalah
yang paling tinggi yaitu sebanyak 14 orang. Namun dipastikan jumlah pelajar yang terlibat
narkoba diperkirakan lebih besar dari jumlah yang diungkap ini. Ibaratnya, narkoba yang
diungkap Polres XPolres Deli Serdang hanya bagian permukaan saja atau biasa disebut
fenomena Gunung Es. Mereka rata-rata sembunyi-sembunyi saat mengkonsumsi barang
haram tersebut. Hal ini dapat dilihat dari tabel berikut :
Tabel 3.1
Trend Kasus Narkoba Berdasarkan Pekerjaan
Di Wilayah Hukum Polres XPolres Deli Serdang
NO.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

PEKERJAAN TERSANGKA
PNS
Polri/TNI
Swasta
Wiraswata
Petani
Buruh
Mahasiswa
Pelajar
Pengangguran
JUMLAH

Sumber : Laporan Satreskrim Polres XPolres Deli Serdang

JUMLAH TERSANGKA
TAHUN 2013
3
1
2
2
1
3
14
5
31

10

12. Kondisi Faktual Pelaksanaan Pembinaan Oleh Bhabinkamtibmas Polres


XPolres Deli Serdang Dalam Mencegah Bahaya Narkoba Di Kalangan Pelajar
Untuk pencegahan bahaya narkoba sebagai pemicu maraknya tawuran pelajar
yang, Polri melalui Polres XPolres Deli Serdang memberdayakan peran
Bhabinkamtibmas agar dapat hadir di tengah masyarakat melaksanakan pembinaan
dan menjalin kemitraan dengan unsur terkait. Namun pelaksanaan pembinaan yang
dilakukan oleh Bhabinkamtibmas terhadap para pelajar ini sesuai fakta yang
ditemukan di lapangan belum optimal, ini disebabkan :
a. Dari pelaksanaan razia yang dilakukan di sekolah SMP, SMU, SMK, yang
dilakukan oleh Polres XPolres Deli Serdang sebagai tindak lanjut koordinasi
dengan Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) dapat dilihat bahwa
masih banyak pelajar tingkat SMP dan SMU yang terbukti mengkonsumsi
Narkoba.
b. Masih minimnya pelaksanaan pengawasan dan pembinaan terhadap para
pelajar mengenai bahaya Narkoba sebagai pemicu tindakan kekerasan dan
tawuran pelajar yang dilakukan oleh pihak sekolah maupun Bhabinkamtibmas
Polsek di jajaran Polres XPolres Deli Serdang yang disebabkan belum
terbangunnya kerjasama dengan pihak sekolah.
c. Telah adanya nota kesepahaman dengan para Kepala Sekolah SMU, SMK,
SMP dalam mencegah peredaran dan penyalahgunaan Narkoba di kalangan
pelajar, namun kesepahaman tersebut belum dapat terlaksana sepenuhnya.
d. Belum dilaksanakannya secara rutin pelaksanaan pembinaan pada pelajar SMP
dan SMU oleh Bhabinkamtibmas dengan cara menjadi pembina upacara di
sekolah-sekolah.
e. Kegiatan pembinaan yang dilaksanakan oleh Bhabinkamtibmas masih bersifat
ceremonial yang dilakukan hanya setahun sekali pada saat hari Narkoba
sehingga kurang efektif.
13.

Kondisi Faktual Kemitraan Bhabinkamtibmas Polres XPolres Deli Serdang


Dengan Unsur Terkait Dan Masyarakat Dalam Pencegahan Bahaya Narkoba Di
Kalangan Pelajar
Keikutsertaan masyarakat dalam pengamanan swakarsa sebagaimana yang
diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 perlu diwadahi secara
proporsional sehingga tidak menjadi kontra produktif dengan upaya pembinaan

11

keamanan. Begitu juga dengan peran serta atau partisipasi masyarakat dalam
penyelenggaraan perpolisian masyarakat (Polmas) melalui peran Bhabinkamtibmas
harus diselenggarakan dengan memberdayakan masyarakat secara maksimal dalam
penyelesaian permasalahan-permasalahan kamtibmas dilingkungannya masingmasing dengan melibatkan seluruh elemen dalam masyarakat itu sendiri. Namun
upaya pembangunan kemitraan yang dilakukan oleh Bhabinkamtibmas Polres
XPolres Deli Serdang dengan unsur terkait dan masyarakat dalam upaya
pencegahan bahaya Narkoba terutama di kalangan pelajar belum sepenuhnya dapat
dilaksanakan, hal ini dapat dilihat dari :
a. Sistem Pengamanan Terpadu (Sispamdu) di wilayah hukum Polres X sudah
ada, namun Polres belum bersinergi untuk menjalankan fungsi-fungsi
kepolisian dengan unsur-unsur yang ada dalam Sispamdu dalam hal mencegah
peredaran Narkoba di kalangan pelajar.
b. Polres dalam hal ini Sat Narkoba lebih cenderung kepada operasi
pengungkapan kasus-kasus Narkoba bekerja sendiri dengan mengandalkan
informan mereka sendiri, Polres belum memanfaatkan Sistem Pengamanan
Terpadu (Sispamdu) untuk menyuplai informasi maupun melakukan upaya
pencegahan bahaya narkoba di kalangan pelajar.
c. Kerjasama dan koordinasi antara Polres XPolres Deli Serdang dengan
instansi samping seperti Pemerintah Daerah, BNNP dan Pusat Rehabilitasi
dalam mengimplementasikan pelayanan rehabilitasi bagi pecandu Narkotika
belum terbangun, sehingga terkesan berjalan sendiri-sendiri.
d. Adanya perbedaaan pemahaman baik visi maupun misi dari Kebijakan dan
Strategi Nasional (Jakstranas) P4GN Tahun 2011-2015, bahwa Narkotika
harus diberantas bersama-sama.
e. Adanya perbedaan pendapat para aparat penegak hukum dalam menghadapi
permasalahan Narkotika, yang harus selalu menggunakan mekanisme
penegakan hukum, padahal penyalahguna dan dan pecandu Narkotika
mendapatkan jaminan pengaturan upaya rehabilitasi medis dan sosial yang
tercantum dalam UU Narkotika.
14. Implikasi Dari Belum Optimalnya Pencegahan Bahaya Narkoba Di Kalangan
Pelajar Guna Membangun Kemitraan Dengan Unsur Terkait Dan Masyarakat
Terhadap Perwujudan Harkamtibmas

12

Implikasi dari belum optimalnya pencegahan bahaya Narkoba di kalangan


pelajar melalui pembangunan kemitraan dengan unsur terkait dan masyarakat,
diantaranya adalah :
a.

Munculnya berbagai ekses dari dampak negatif


penggunaan narkoba di kalangan pelajar, seperti dorongan untuk mencuri,
pemarah, melakukan tindak kekerasan, manipulatif, dll, hal ini disebabkan
karena pengaruh Narkoba dapat menimbulkan perubahan perilaku, perasaan,
persepsi,dan kesadaran bagi yang menggunakannya.

b.

Makin meningkatnya tindak pidana Narkoba yang


dilakukan oleh para pelajar yang tentu saja akan berpengaruh terhadap masa
depan bangsa, karena pelajar adalah penerus cita-cita bangsa.

BAB IV
FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap upaya pencegahan bahaya narkoba, dapat
diuraikan dengan menggunakan analisis melalui strategi SWOT (Strenght, Weakness,
Opportunity, Threat) sebagai berikut:
15.

Faktor Internal

a.

Kekuatan (strenghts)
1)

Komitmen kuat Polri untuk selalu memperhatikan usaha-usaha


penanggulangan bahaya narkoba secara berkesinambungan melalui
pembangunan kemitraan dalam Grand Strategi Polri 2005 2025.

2)

Komitmen dan konsistensi pimpinan Polri melalui program revitalisasi


Polri untuk selalu menjadikan upaya pemberantasan narkoba sebagai
prioritas penegakan hukum.

13

3)

Kebijakan pimpinan Polri untuk memberikan reward bagi anggota


yang berprestasi dalam pengungkapan kasus narkoba dan sebaliknya
zero tolerance terhadap setiap personel Polri (tanpa memandang
tingkat kepangkatan) yang melakukan pelanggaran atau tindak pidana
narkoba dengan memberikan punishment yang teringan sampai
hukuman terberat dipecat dan atau dipidana.

4)

Adanya komitmen dari anggota Polres untuk selalu mengedepankan


kepentingan pelayanan, perlindungan, pengayoman dan mewujudkan
kamtibmas yang kondusif melalui pelaksanaan kerjasama dan
koordinasi dalam upaya mencegah peredaran Narkoba.

b.

Kelemahan (weakness)
1)

Pembinaan kamtibmas melalui pemberdayaan strategi Community


Policing belum optimal hasilnya dan implementasinya masih belum
sesuai harapan.

2)

Lemahnya pengetahuan anggota tentang jaringan pelaku Narkoba,


karakteristik dan modus operandi Narkoba yang diakibatkan belum
semua anggota Polres mendapatkan pendidikan dan pelatihan
mengenai tindak pidana Narkoba.

3)

Lemahnya pemahaman dan pengetahuan anggota tentang pelaksanaan


kerjasama dan koordinasi dalam sinergi polisional terutama dalam
mencegah penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar.

4)

Belum adanya anggaran khusus untuk pelaksanaan sistem pengamanan


terpadu yang dalam pelaksanaan banyak melibatkan setiap unsur
sehingga membutuhkan anggaran yang tidak sedikit.

16.

Faktor Eksternal

a.

Peluang (opportunities)

14

1) Adanya kesamaan tujuan dari stakeholders (Pemda dan TNI) serta


seluruh komponen masyarakat untuk mencegah peredaran Narkoba di
kalangan pelajar secara dini.
2) Dukungan dan peran serta aktif dari dinas pendidikan (sekolahsekolah) dalam mendukung tugas pokok Polres untuk mencegah makin
meluasnya peredaran Narkoba di kalangan pelajar.
3) Dukungan dari tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda,
sampai

dengan

struktur

masyarakat

terkecil

(RT/RW)

untuk

menjadikan Narkoba sebagai musuh bersama (common enemy).


4) Dukungan dari masyarakat dalam wadah Sistem Pengamanan Terpadu
(Sispamdu) untuk membantu Polri dalam melaksanakan pencegahan
pernyalahgunaan Narkoba di kalangan pelajar.

b.

Kendala (threats)
1)

Pengaruh globalisasi terkait perkembangan teknologi komunikasi dan


informasi yang mudah diakses oleh pelajar mempengaruhi gaya hidup.

2)

Sikap sebagian masyarakat yang apatis dan individualistis, yang


menyebabkan lemahnya daya cegah dan daya tangkal, serta deteksi
dini masyarakat terhadap peredaran Narkoba.

3)

Makin terbukanya arus informasi dan komunikasi dikarenakan


perkembangan teknologi yang semakin memudahkan para pelaku
tindak pidana Narkoba melakukan aksinya.

4)

Masih adanya ego sektoral organisasi berkaitan dengan kewenangan


dan peran dari fungsi masing-masing instansi sehingga menyulitkan
dalam melaksanakan kerjasama dan koordinasi.
BAB V

KONDISI IDEAL PENCEGAHAN BAHAYA NARKOBA GUNA MEMBANGUN


KEMITRAAN DENGAN UNSUR TERKAIT DAN MASYARAKAT

15

17.

Kondisi Ideal Pelaksanaan Pembinaan Oleh Bhabinkamtibmas Polres


XPolres Deli Serdang Dalam Mencegah Bahaya Narkoba Di Kalangan
Pelajar
Untuk pencegahan bahaya narkoba sebagai pemicu maraknya tawuran pelajar

yang, Polri melalui Polres XPolres Deli Serdang memberdayakan peran


Bhabinkamtibmas agar dapat hadir di tengah masyarakat melaksanakan pembinaan
dan menjalin kemitraan dengan unsur terkait. Diharapkan pelaksanaan pembinaan
yang dilakukan oleh Bhabinkamtibmas terhadap para pelajar ini dapat dilaksanakan
dengan optimal, yang ditunjukkan dengan :
a. Pelaksanaan razia yang dilakukan di sekolah SMP, SMU, SMK, yang
dilakukan oleh Polres XPolres Deli Serdang sebagai tindak lanjut koordinasi
dengan Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) dapat dilakukan
secara rutin dan berkesinambungan sehingga.
b. Meningkatnya pelaksanaan pengawasan dan pembinaan terhadap para pelajar
mengenai bahaya Narkoba yang dilakukan oleh pihak sekolah maupun
Bhabinkamtibmas melalui terbangunnya kerjasama dengan pihak sekolah.
c. Nota kesepahaman dengan para Kepala Sekolah SMU, SMK, SMP dalam
mencegah peredaran dan penyalahgunaan Narkoba di kalangan pelajar,
diharapkan sudah dapat terlaksana sepenuhnya.
d. Sudah dilaksanakannya secara rutin pelaksanaan pembinaan pada pelajar SMP
dan SMU oleh Bhabinkamtibmas dengan cara menjadi pembina upacara di
sekolah-sekolah.
e. Kegiatan pembinaan yang dilaksanakan oleh Bhabinkamtibmas diharapkan
tidak hanya bersifat ceremonial tetapi dapat dilakukan dengan jadwal yang
rutin setiap bulannya sehingga efektif dalam meminimalisir penyalahgunaan
narkoba di kalangan pelajar.
18.

Kondisi Ideal Kemitraan Bhabinkamtibmas Polres XPolres Deli


Serdang Dengan Unsur Terkait Dan Masyarakat Dalam Pencegahan
Bahaya Narkoba Di Kalangan Pelajar
Upaya pembangunan kemitraan yang dilakukan oleh Bhabinkamtibmas Polres

XPolres Deli Serdang dengan unsur terkait dan masyarakat dalam upaya

16

pencegahan bahaya Narkoba terutama di kalangan pelajar diharapkan sudah dapat


dilaksanakan, hal ini dapat dilihat dari :
a. Diharapkan Polres XPolres Deli Serdang sudah dapat bersinergi dengan
Sistem Pengamanan Terpadu (Sispamdu) untuk menjalankan fungsi-fungsi
kepolisian dengan unsur-unsur yang ada dalam Sispamdu dalam hal mencegah
peredaran Narkoba di kalangan pelajar.
b. Polres dalam hal ini Sat Narkoba diharapkan dalam mengungkap kasus-kasus
Narkoba tidak lagi bekerja sendiri dengan mengandalkan informan mereka
sendiri, namun sudah memanfaatkan Sistem Pengamanan Terpadu (Sispamdu)
untuk menyuplai informasi maupun melakukan upaya pencegahan bahaya
narkoba di kalangan pelajar.
c. Kerjasama dan koordinasi antara Polres XPolres Deli Serdang dengan
instansi samping seperti Pemerintah Daerah, BNNP dan Pusat Rehabilitasi
dalam mengimplementasikan pelayanan rehabilitasi bagi pecandu Narkotika
sudah dapat terbangun, sehingga tidak berjalan sendiri-sendiri.
d. Meningkatnya pemahaman baik visi maupun misi dari Jakstranas P4GN Tahun
2011-2015, bahwa Narkotika harus diberantas bersama-sama.
e. Dapat diminimalisirnya perbedaan pendapat dalam menghadapi permasalahan
Narkotika, yang harus selalu menggunakan mekanisme penegakan hukum,
sehingga diharapkan penyalahguna dan dan pecandu Narkotika mendapatkan
jaminan pengaturan upaya rehabilitasi medis dan sosial.

19.

Kontribusi Dari Sudah Optimalnya Pencegahan Bahaya Narkoba Di


Kalangan Pelajar Guna Membangun Kemitraan Dengan Unsur Terkait
Dan Masyarakat Terhadap Perwujudan Harkamtibmas
Kontribusi dari sudah optimalnya pencegahan bahaya Narkoba di kalangan

pelajar melalui pembangunan kemitraan dengan unsur terkait dan masyarakat :


a. Dapat diminimalisirnya berbagai ekses dari dampak negatif penggunaan
narkoba di kalangan pelajar, seperti dorongan untuk mencuri, pemarah,
melakukan tindak kekerasan, manipulatif, dll.
b. Menurunnya tindak pidana Narkoba yang dilakukan oleh para pelajar sehingga
menjamin kehidupan masa depan bangsa.

17

BAB VI
UPAYA PEMECAHAN MASALAH
20.

Visi
Terwujudnya pencegahan bahaya narkoba di kalangan pelajar oleh
Bhabinkamtibmas Polres XPolres Deli Serdang melalui pembangunan kemitraan
dengan unsur terkait dan masyarakat dalam rangka harkamtibmas.

21.

Misi
a. Menfasilitasi keikutsertaan masyarakat dalam memelihara kamtibmas di
lingkungan masing-masing terutama dari bahaya Narkoba.
b. Membangun kerjasama dan koordinasi yang berkesinambungan antara
Bhabinkamtibmas Polres XPolres Deli Serdang dengan unsur terkait dan
masyarakat.
c. Meningkatkan kemampuan Bhabinkamtibmas dalam melaksanakan upaya
pencegahan bahaya Narkoba di kalangan remaja.

22.

Tujuan
a. Meningkatkan pencegahan bahaya narkoba di kalangan pelajar oleh
Bhabinkamtibmas Polres XPolres Deli Serdang agar tidak menimbulkan
berbagai ekses negatif yang akan merugikan.
b. Meningkatkan kemitraan dengan unsur terkait dan masyarakat dalam
pencegahan bahaya Narkoba di kalangan remaja.
c. Menjaga dan memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat dari pengaruh
negatif penyalahgunaan Narkoba di kalangan pelajar.

23.

Sasaran
a. Mengoptimalkan pelaksanaan pembinaan oleh Bhabinkamtibmas Polres
XPolres Deli Serdang dalam mencegah bahaya Narkoba di kalangan pelajar.
b. Mengoptimalkan kemitraan Bhabinkamtibmas Polres XPolres Deli Serdang
dengan unsur terkait dan masyarakat dalam pencegahan bahaya narkoba di
kalangan pelajar.

24.

Kebijakan

18

Pengembangan kemampuan Bhabinkamtibmas Polres XPolres Deli Serdang


dalam melaksanakan pembinaan pencegahan bahaya Narkoba di kalangan pelajar
melalui peningkatan kerjasama dengan unsur terkai dan masyarakat melalui
komunikasi, koordinasi dan kolaborasi.
25.

Strategi
Strategi menggunakan analisis matriks TOWS yaitu dengan memaksimalkan
kekuatan

dan

peluang

(Strategi

S-O),

meminimalkan

kelemahan

dengan

memaksimalkan peluang (Strategi (W-O), memaksimalkan kekuatan dengan


meminimalkan ancaman (Strategi S-T), serta meminimalkan kelemahan dan ancaman
(Strategi W-T), seperti pada matrik analisis TOWS Tabel 6.1 dan Tabel 6.2.
Tabel 6.1
Matrik Strategi S-O dan W-O Analisis TOWS

Tabel 6.2
Matrik Strategi S-T dan W-T Analisis TOWS

19

a.

Strategi Jangka Pendek (0-6 bulan)


1) Meningkatkan pembinaan kamtibmas terkait dengan pencegahan
penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar melalui pemberdayaan
strategi community policing.
2) Meningkatkan

pemahaman

dan

pengetahuan

anggota

tentang

pelaksanaan kerjasama dan koordinasi dalam sinergi polisional guna


pencegahan penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar.
b.

Strategi Jangka Sedang (7-12 bulan), yang ditekankan kepada


meningkatkan komitmen pimpinan Polri untuk selalu memperhatikan usahausaha penanggulangan bahaya narkoba melalui Grand Strategi Polri 2005
2025.

c.

Strategi Jangka Panjang (13-18 bulan), yang ditekankan kepada


meningkatkan

peran

serta

masyarakat

dalam

upaya

pencegahan

penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar.


26.

Implementasi Strategi (Action Plan)


a.

Strategi Jangka Pendek (0-6 bulan)


1) Meningkatkan

pembinaan

kamtibmas

terutama

terkait

dengan

pencegahan penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar lalui


pemberdayaan strategi community policing, melalui :
a) Kapolres

memerintahkan

Kasat

Binmas

agar

para

Bhabinkamtibmas dapat mengidentifikasi, memetakan dan

20

menjalin

hubungan

antar

kelompok-kelompok/organisasi-

organisasi sosial yang ada di masyarakat yang telah


menunjukkan kemampuannya dan atau potensinya untuk
meminimalisir penggunaan Narkoba oleh para pelajar.
b) Bhabinkamtibmas dapat melaksanakan Model Kepemimpinan
Teman Sebaya (Peer Leadership), pemberian informasi tentang
masalah narkoba, penggunaan dan akibat-akibatnya melalui
kegiatan rekreatif, yang dikemas dalam permainan-permainan
inovatif dan disesuaikan dengan kebutuhan kelompok sasaran,
program pengembangan kegitan-kegiatan alternatif.
c) Bhabinkamtibmas dapat memberikan fasilitas bagi para
pengguna narkoba yang membutuhkan pertolongan untuk
mengatasi

masalah-masalahnya

penggunaan

narkoba,

baik

penggunaan

substansi,

untuk

yang
untuk

berkaitan

dengan

menurunkan

resiko

mengatasi

permasalahan

psikososial yang mereka hadapi, atau untuk mengurangi


ketergantungan dan meningalkan perilaku penyalahgunaan obat
tersebut. Teknik-teknik terapi kelompok dapat diterapkan sesuai
dengan kebutuhan klien dan dilakukan secara bertahap.
2) Meningkatkan

pemahaman

dan

pengetahuan

anggota

tentang

pelaksanaan kerjasama dan koordinasi dalam sinergi polisional guna


pencegahan penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar, melalui :
a) Kapolres memerintahkan Kabag Sumda dan Subbaglat untuk
menyelenggarakan

pelatihan

peningkatan

kemampuan

Bhabinkamtibmas setiap minggunya dengan metode ceramah


terkait dengan Sosialisasi SKEP Kapolri tentang Bujuklap
Bhabinkamtibmas.
b) Kapolres memerintahkan Kabag Sumda dan Subbaglat untuk
menyelenggarakan

pelatihan

peningkatan

kemampuan

Bhabinkamtibmas setiap minggunya terkait dengan Sosialisai


Peraturan Kapolri No. 7 Tahun 2008 Tentang Pedoman Dasar
Strategi Dan Implementasi Pemolisian Masyarakat Dalam
Penyelenggaraan Tugas Polri.

21

c) Kapolres memerintahkan Kabag Sumda dan Subbaglat untuk


menyelenggarakan seminar dan workshop singkat selama
sebulan dengan mengundang pakar-pakar komunikasi dan ilmu
sosial untuk memberikan pencerahan dan pelatihan kepada para
Bhabinkamtibmas tentang keterampilan komunikasi, problem
solving, manajemen konflik, kepemimpinan, ketrampilan
mediasi dan negosiasi.
d) Kapolres memerintahkan Kabag Sumda dan Subbaglat untuk
memberikan

pencerahan

dan

pelatihan

kepada

para

Bhabinkamtibmas tentang hukum dan perundang-undangan


yang berlaku, mekanisme pengurusan SSB, mekanisme
pengurusan SKCK, dan mekanisme pelaporan tindak pidana
sehingga mereka akan mengerti apabila ada pertanyaan dari
masyarakat.
e) Kapolres memerintahkan Kabag Sumda dan Subbaglat untuk
menyelenggarakan pelatihan kepribadian berkeunggulan dan
self development kepada para Bhabinkamtibmas melalui ESQ
atau

NAC

Polri

agar

memiliki

sikap

percaya

diri,

profesionalisme, jujur, disiplin, tegas, sopan santun, sikap adil,


humanis, simpatik dan peduli.
b.

Strategi Jangka Sedang (7-12 bulan) :


Meningkatkan komitmen pimpinan Polri untuk selalu memperhatikan
usaha-usaha penanggulangan bahaya narkoba melalui Grand Strategi Polri
2005 2025, melalui :
1) Kapolres bersama dengan Kabag Ren dan Kasat Resnarkoba untuk
membuat kerjasama dengan instansi samping seperti Pemerintah
Daerah, BNNK dan Pusat Rehabilitasi setempat untuk melaksanakan
pelayanan rehabilitasi bagi pecandu Narkotika. Yang kemudian
dibuatkan juga Hubungan Tata Cara Kerja (HTCK) pelaksanaan
kerjasama sesuai dengan tugas dan kewenangannya masing-masing
instansi yang terlibat.
2) Kapolres memerintahkan Kabag Sumda bersama dengan Kasat
Resnarkoba untuk melaksanakan sosialisasi terkait Kebijakan dan

22

Strategi Nasional (Jakstranas) P4GN Tahun 2011-2015, melalui


berbagai pertemuan, workshop, seminar, serta menggunakan peran
media massa baik cetak maupun elektronik.
3) Kapolres memerintahkan Kabag Sumda dan Kasat Resnarkoba untuk
meningkatkan pemahaman dan pengetahuan para aparat penegak
hukum terkait dengan membuat peraturan atau ketentuan yang
mengatur bahwa penyalahguna dan pecandu Narkotika tidak bisa
dituntut pidana karena hanya sebagai korban, sehingga perlu dibangun
atau dibentuk suatu pelayanan rehabilitasi bagi pecandu Narkotika.
c.

Strategi Jangka Panjang (13-18 bulan) :


Meningkatkan peran serta masyarakat dalam upaya pencegahan
penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar, melalui :
1) Kapolres memerintahkan Kasat Binmas untuk melakukan pola
pembinaan yang tersusun dalam standar operasional prosedur (SOP)
untuk tingkat pemuda pelajar dan bekerjasama dengan pihak
bimbingan konseling (BK) sekolah serta Komisi Nasional Perlindungan
Anak dan apabila masih ditemukan pelajar yang menyimpan, memiliki
dan menggunakan Narkoba maka dilakukan tindakan tegas sesuai
dengan hukum yang berlaku.
2) Kapolres memerintahkan Kasat Binmas untuk memberdayakan potensi
masyarakat untuk melakukan pengawasan dalam upaya pencegahan
bahaya Narkoba melalui comunity policing serta memberikan
pemahaman terhadap masyarakat tentang dampak Narkoba sebagai
pemicu maraknya tawuran antar para pelajar agar masyarakat memiliki
kemampuan dalam melakukan self sensor.
3) Kapolres memerintahkan Kasat Binmas untuk mengefektifkan Police
Goes to Campus/School (Polisi mitra sekolah) melalui peran
Bhabinkamtibmas Polsek, sehingga melalui media ini diharapkan akan
terjalin kemitraan baik antara Polisi dengan lembaga/sekolah (guru)
maupun Polisi dengan siswa. Bila hubungan kemitraan ini sudah
terjalin dengan baik, maka pembinaan dan penyuluhan tentang bahaya
Narkoba sebagai pemicu maraknya tawuran antar para pelajar dapat
dilaksanakan secara optimal.

23

4) Kapolres memerintahkan Kasat Binmas untuk melakukan pembinaan


pencegahan berupa komunikasi, edukasi dan penyebarluasan informasi
serta melaksanakan pembinaan pada pelajar SMP dan SMU oleh
Bhabinkamtibmas secara rutin dengan cara menjadi pembina upacara
di sekolah-sekolah yang dilakukan setiap hari Senin pada saat
pelaksanaan upacara dengan pemberian bimbingan dan arahan
mengenai konsekuensi apabila melakukan tawuran juga pelaksanaan
razia apabila diperlukan.
5) Kapolres memerintahkan Kasat Binmas untuk meningkatkan kegiatan
pembinaan yang dilaksanakan secara terintegrasi dan terprogram secara
khusus mengenai bahaya Narkoba sebagai pemicu tawuran di kalangan
pelajar dengan Para Kepala Sekolah SMU, SMK, SMP, dengan
melakukan penyuluhan, pembinaan yang meliputi materi etika
pergaulan/ bermasyarakat, disiplin peraturan sekolah maupun sosialiasi
peraturan perundang-undangan yang dipandang perlu, melalui kegiatan
:
a) Ceramah
b) Simulasi
c) Pemasangan spanduk dan penyebaran pamflet
d) Pemanfaatan media massa baik cetak maupun elektonik.

24

BAB VII
PENUTUP
27.

Kesimpulan
a. Pelaksanaan pembinaan yang dilakukan oleh Bhabinkamtibmas Polres
XPolres Deli Serdang dalam mencegah bahaya Narkoba di kalangan pelajar,
sampai saat ini dirasakan belum optimal, hal ini ditunjukkan dengan
pelaksanaan razia belum rutin dan konsisten, minimnya pelaksanaan
pengawasan dan pembinaan terhadap para pelajar, nota kesepahaman dengan
para Kepala Sekolah SMU, SMK, SMP belum dapat terlaksana sepenuhnya,
belum

dilaksanakannya

secara

rutin

pelaksanaan

pembinaan

oleh

Bhabinkamtibmas dengan cara menjadi pembina upacara di sekolah-sekolah,


serta pembinaan masih bersifat ceremonial sehingga kurang efektif.
b. Kemitraan Bhabinkamtibmas Polres XPolres Deli Serdang dengan unsur
terkait dan masyarakat dalam pencegahan bahaya narkoba di kalangan pelajar,
sampai saat ini belum terbangun secara optimal, hal ini dapat dilihat dari
Polres belum bersinergi dengan sispamdu, lebih cenderung kepada operasi
pengungkapan kasus-kasus Narkoba bekerja sendiri dengan mengandalkan
informan mereka sendiri, kerjasama dan koordinasi antara Polres XPolres
Deli Serdang dengan instansi samping dalam mengimplementasikan pelayanan

25

rehabilitasi bagi pecandu Narkotika belum terbangun, adanya perbedaaan


pemahaman, serta pperbedaan pendapat dalam menghadapi permasalahan UU
Narkotika.
Oleh

sebab

itu

maka

diperlukan

langkah-langkah

upaya

dalam

mengoptimalisasikan pencegahan bahaya narkoba terhadap pelajar sebagai dampak


negatif pengaruh globalisasi sosial budaya oleh Bhabinkamtibmas di Polres XPolres
Deli Serdang guna membangun kemitraan dengan unsur terkait dan masyarakat dalam
rangka terwujudnya harkamtibmas, diantaranya melalui Strategi Jangka Pendek (0-6
bulan), dengan cara meningkatkan pembinaan kamtibmas melalui pemberdayaan
strategi community policing dan meningkatkan pemahaman dan pengetahuan anggota
tentang pelaksanaan kerjasama dan koordinasi. Strategi Jangka Sedang (7-12 bulan),
yang ditekankan kepada meningkatkan komitmen untuk selalu memperhatikan usahausaha penanggulangan bahaya narkoba melalui Grand Strategi Polri 2005 2025.
Strategi Jangka Panjang (13-18 bulan), yang ditekankan kepada meningkatkan peran
serta masyarakat dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba di kalangan
pelajar.
28.

Rekomendasi
a. Mengajukan usulan kepada Kapolda Up. Karo SDM untuk memberikan
pendidikan dan pelatihan kepada personil Bhabinkamtibmas Polri agar dapat
menerapkan teknik-teknik assemen partisipatif yang berbasis masyarakat.
Teknik-Teknik seperti Community Involvement (CI), Participatory Learning
Action (PLA), Methods of Participatory Assessment (MPA) dan lain-lain
memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan
upaya yang dilakukan dalam mencegah bahaya Narkoba di kalangan pelajar.
b. Mengajukan usulan kepada Kapolda Up. Karo Rena untuk membuat MOU
dengan instansi terkait dan stake holder dalam mencegah bahaya Narkoba
dengan melaksanakan program penyuluhan dan pendidikan afektif bagi anak
dan pelajar bekerja sama dengan sekolah-sekolah mulai dari tingkat SD, SLTP,
SLTA dan Perguruan Tinggi, serta pada kelompok-kelompok pertemanan di
lingkungan ketetanggaan. Penyuluhan dan pendidikan afektif ini berupa
penyampaian informasi yang tepat terpercaya, objektif, jelas dan mudah
dimengerti tentang narkoba dan pengaruhnya bagi tubuh dan perilaku manusia,
dan mengkaitkannya dengan pendidikan kesehatan secara luas dan pendidikan

26

tentang menghadapi masalah hidup. Aspek pendidikan afektif bertujuan


mengembangkan. Kepribadian, pendewasaan diri, peningkatan kemampuan,
membuat keputusan, mengetahui cara mengatasi tekanan mental secara efektif,
peningkatan kepercayaan diri, dan meningkatkan kemampuan komunikasi.

DAFTAR PUSTAKA

Azman, Nur, dkk., 2013, Kamus Standar Bahasa Indonesia, Fokusmedia, Bandung.
Bambang Sigit S. dan Nizar, Membangun Jejaring Kerja dan Kemitraan, Badan
Penyuluhan dan Pengambangan Sumber Daya Manusia, Pusat Penyuluhan
Nasional, Jakarta, 2012, Hal. 1.
Hubeis, Musa dan Najib, Mukhamad, 2014, Manajemen Strategik Dalam Pengembangan
Daya Saing Organisasi, PT. Elex Media Komputindo, Kompas Gramedia,
Jakarta.
Rangkuty, Freddy, 2009, Analisis SWOT, Teknik Membedah Kasus Bisnis : Reorientasi
Konsep Perencanaan Strategis Untuk Menghadapi Abad 21, PT. Gramedia
Utama, Jakarta.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik
Indonesia.
Peraturan Kapolri No. 23 Tahun 2010 Tentang Susunan Organisasi Dan Tata Kerja Pada
Tingkat Kepolisian Resor Dan Kepolisian Sektor.
Arti

Kata.Com., Pengertian Pencegahan, diunduh http://artikata.com/arti-361240pencegahan.html, pada hari Rabu, 10 September 2014, Pukul 10.59 Wib.

27

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pengertian Bahaya, diunduh http://kbbi.web.id/bahaya, pada


hari Rabu, 10 September 2014, Pukul 11.05 Wib.
Kamus

Besar
Bahasa
Indonesia,
Pengertian
Masyarakat,
diunduh
http://kbbi.web.id/masyarakat, pada hari Rabu, 10 September 2014, Pukul
11.25 Wib.