Anda di halaman 1dari 35

Naskah Karya Perorangan Brimob

TEMA

:
DENGAN SEMANGAT REFORMASI BIROKRASI POLRI,
SETUKPA LEMDIKPOL MEMBENTUK FIRST LINE SUPERVISOR
YANG BERMORAL, PROFESIONAL, MODERN DAN UNGGUL
SERTA MEMILIKI KARAKTER KEBHAYANGKARAAN DALAM
PELAKSANAAN TUGAS KEPOLISIAN GUNA MENSUKSESKAN
PEMILU TAHUN 2014.

JUDUL

:
DENGAN SEMANGAT REFORMASI BIROKRASI POLRI,
SETUKPA LEMDIKPOL MEMBENTUK FIRST LINE SUPERVISOR
YANG BERMORAL, PROFESIONAL, MODERN DAN UNGGUL
SERTA MEMILIKI KARAKTER KEBHAYANGKARAAN DENGAN
DIDUKUNG SARANA DAN PRASARANA YANG KUAT GUNA
MENSUKSESKAN PEMILU TAHUN 2014.
OPTIMALISASI
PENGELOLAAN
DUKUNGAN
SARANA
PRASARANA GUNA MENUNJANG KEBERHASILAN TUGAS
OPERASIONAL DI LAPANGAN DALAM RANGKA MEMELIHARA
KAMTIBMAS
BAB I
PENDAHULUAN

1.

Latar Belakang
Dalam kurun waktu beberapa tahun ini gangguan kamtibmas yang
memanfaatkan penggunaan unsur bahan peledak (handak) mengemuka
di Indonesia. Walaupun rata-rata bom di Indonesia dikonstruksi secara
sederhana namun efektifitasnya dalam menimbulkan rasa takut tidak
diragukan lagi. Wilayah Polda X tidak luput dari permasalahan berkaitan
dengan handak. Kerawanan masalah handak di X berkaitan tidak hanya
dengan kondisi aktual dimana terdapat kelompok-kelompok yang berniat
mengganggu kamtibmas, tetapi khususnya juga terkait dengan historis
wilayah X sendiri. Letak Strategis X yang berada pada titik tengah pulau

Jawa menjadikan wilayah ini berada pada jalur perantara antara Jawa
Timur dan Jawa Barat.
Polri sebagai institusi yang diamanatkan untuk menjaga dan memelihara
stabilitas kamtibmas, sebagaimana yang tertuang dalam Undangundang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik
Indonesia, berkewajiban dan berperan dalam memelihara stabilitas
kamtibmas agar tetap kondusif. Brimob sebagai bagian dari Polri turut
serta dalam melaksanakan tugas pokok Polri tersebut. Tugas Pokok
Brimob Polri adalah melaksanakan dan mengerahkan kekuatan Brimob
Polri guna menanggulangi gangguan keamanan dan ketertiban
masyarakat berkadar tinggi, utamanya kerusuhan massa, kejahatan
berorganisir bersenjata api, bom, bahan kimia, biologi dan radio aktif
bersama dengan unsur pelaksana operasional kepolisian lainnya.
Salah satu fungsi yang menjadi bagian dari tugas Brimob dilaksanakan
oleh Detasemen Gegana khususnya Sub Detasmen Jibom yang
berkedudukan di bawah Detasemen Satuan Brimob Polri baik di tingkat
Pusat maupun daerah. Salah satu dukungan sarana yang penting bagi
unit Jibom adalah adanya gudang bahan peledak (storage) atau tempat
penyimpanan handak (magazine). Magazine mempunyai fungsi utama
untuk menyimpan secara aman handak baik yang berupa temuan di
lapangan maupun handak yang sengaja disimpan untuk keperluan
training bagi para anggota Unit Penjinak Bom.
Meskipun nampaknya sederhana, keberadaan fasilitas ini harus
dipikirkan secara cermat agar dapat menjalankan fungsinya secara
maksimal dan yang paling utama adalah tidak membahayakan bagi
lingkungan di sekitarnya. Hal ini harus disadari, mengingat handak
mempunyai susunan kimia tersendiri dimana perubahan kondisi
lingkungan dapat mengakibatkan perubahan susunan kimia yang dapat
memicu terjadinya ledakan.
2.

Permasalahan

Mengingat pentingnya keberadaan fasilitas penyimpanan bahan peledak


yang aman dan memberikan lingkungan sekitarnya perlindungan
terhadap efek ledakan yang mungkin timbul, maka permasalahan dalam
makalah ini dirumuskan Belum optimalnya pengelolaan fasilitas
penyimpanan handak guna mendukung tugas Unit Jibom Sat Brimobda
X dalam rangka memelihara kamtibmas.
3.

Pokok - Pokok Persoalan


Berdasarkan permasalahan tersebut diatas penulis merumuskan pokokpokok persoalan yang akan dibahas dalam makalah ini sebagai berikut :

a.

Bagaimana kondisi pengelolaan fasilitas penyimpanan handak di Sat


Brimobda X?

b.

Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi optimalisasi pengelolaan


fasilitas penyimpanan handak di Sat Brimobda X?

c.

Bagaimana kondisi pengelolaan fasilitas penyimpanan handak di Sat


Brimobda X yang diharapkan dapat mendukung tugas operasional Unit
Jibom Sat Brimobda X?

4.

Maksud dan Tujuan


Makalah ini bertujuan untuk memaparkan kondisi di lapangan mengenai
pengelolaan fasilitas penyimpanan handak di Sat Brimobda X.
Berdasarkan tinjauan yang disusun tersebut akan dirumuskan
kesimpulan dan rekomendasi dengan harapan dapat dijadikan bahan
pertimbangan dalam upaya optimalisasi pengelolaan fasilitas
penyimpanan handak di Sat Brimobda X.

5.

Ruang Lingkup
Dalam membatasi ruang lingkup penulisan, ada beberapa hal yang perlu
dijelaskan sebagai berikut :

a.

Dukungan sarana prasarana yang dimaksudkan dalam penulisan ini


adalah fasilitas penyimpanan handak yang berada di Sat Brimobda X.

b.

Pengelolaan fasilitas handak yang dimaksud meliputi aspek keamanan


(secure) maupun aspek keselamatan (safety).

c.

Tugas operasional yang dimaksud adalah tugas operasional Unit Jibom


Sat Brimob Polda X.

d.

Memelihara Kamtibmas yang dimaksud adalah menjaga adanya rasa


aman dari masyarakat keseluruhan, maupun masyarakat di sekitar
lingkungan Mako Sat Brimobda X dari adanya kerawanan yang
ditimbulkan oleh penyalahgunaan maupun penyimpanan handak.

6.

Sistematika
Makalah ini terbagai dalam 6 Bab untuk memudahkan pemahaman dari
mulai pendahuluan hingga kesimpulan dan rekomendasi. Lebih jelasnya
mengenai sistematika penulisan dapat dijelaskan sebagai berikut :

Bab I

Pendahuluan.

Bab II

Kajian Kepustakaan.

Bab III

Kondisi Pengelolaan Fasilitas Penyimpanan Handak di Sat Brimobda X.

Bab IV

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Optimalisasi Pengelolaan Fasilitas


Penyimpanan Handak di Sat Brimobda X.

Bab V

Kondisi Pengelolaan Fasilitas Penyimpanan Handak di Sat Brimobda X


yang Diharapkan.

Bab VI

Penutup dan kesimpulan.

BAB II

KAJIAN KEPUSTAKAAN
1.

Pengertian-pengertian :

a.

Optimalisasi
Istilah optimalisasi berasal dari kata optimal yang artinya adalah terbaik
atau tertinggi, sehingga optimalisasi berarti membentuk sesuatu menjadi
lebih baik atau lebih tinggi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(2003) yang dimaksud dengan optimalisasi adalah suatu cara atau
perbuatan untuk mencapai sesuatu sehingga menghasilkan yang
terbaik.

b.

Pengelolaan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003) yang dimaksud dengan
pengelolaan dapat terdiri dari 4 pengertian sebagai
berikut :

1)

Proses, cara, perbuatan mengelola.

2)

Proses melakukan kegiatan tertentu dengan menggerakkan tenaga


orang lain.

3)

Proses yang membantu merumuskan kebijaksanaan dan tujuan


organisasi.

4)

Proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat


dalam pelaksanaan kebijaksanaan dan pencapaian tujuan.

c.

Unit Jibom
Berdasarkan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia
Nomor 22 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja pada
Tingkat Polda tipe A, Detasemen Gegana terdiri dari 4 subden, salah
satunya adalah Subden Jibom. Jumlah anggota Subden Jibom sesuai
Perkap tersebut adalah 40 orang, dipimpin oleh Kasubden berpangkat

Kompol. Subden Jibom harus terdiri dari 3 Unit Jibom, masing-masing


unit terdiri dari 10 personel, tidak termasuk staf pendukung dan
kelompok komando.
Dalam Perkap Nomor 11 tahun 2010 tentang Penanganan Penjinakan
Bom pasal 4 huruf (2) diatur ketentuan tugas operasional Unit Jibom.
Unit Jibom sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas sebagai
berikut :
1)

melaksanakan sterilisasi TKP ancaman, temuan, ledakan bom serta


objek vital / VVIP;

2)

melaksanakan penjinakan/penanganan bom;

3)

menyatakan TKP bom steril dan aman;

4)

mengamankan barang bukti bom;

5)

melaksanakan disposal.

2.

Fasilitas Penyimpanan Handak


Pengelolaan fasilitas penyimpanan handak yang dimaksud dalam
penulisan ini meliputi unsur keamanan (secure) dan keselamatan
(safety). Kajian kepustakaan yang penulis gunakan terdiri atas 2 (dua)
sumber yaitu :

a.

Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia nomor 02 tahun


2008 tentang pengawasan, pengendalian dan pengamanan bahan
peledak komersial;

b.

Ammunition and Explosive Safety Standard, United States Departement


of
Defence,
2008
(Incorporating
Change
2,
2009)
Adapun pertimbangan penulis menggunakan sumber kedua adalah
bahwa dalam Perkap 02/2008 tersebut masih terdapat beberapa
kekurangan. Pertimbangan kedua, dalam pengembangan kemampuan
personel Gegana sering bekerjasama dengan Amerika sehingga

mendapat gambaran kondisi yang kurang lebih bisa diterapkan untuk


situasi di Indonesia.
3.

Kajian Aspek Keamanan Fasilitas Penyimpanan Handak


Keamanan (secure) dalam hal ini penulis maksudkan sebagai upayaupaya pengelolaan yang ditujukan untuk menjamin keamanan handak
dari kemungkinan penyalahgunaan. Ketentuan mengenai pengamanan
handak diatur dalam pasal 71 (1) Tata cara pengamanan bahan peledak
oleh petugas Satpam Pengguna Akhir atau Produsen dan Distributor :

a.

pengamanan di tempat penyimpanan bahan peledak dilakukan oleh


minimal 2(dua) petugas Satpam Pengguna Akhir atau Produsen dan
Distributor dan dijaga selama 24 jam secara terus menerus;

b.

pada pos penjagaan disediakan buku mutasi sebagai catatan dalam


rangka kegiatan pengamanan, bila ada hal-hal lainnya yang berkait
dengan masalah kasus bahan peledak harus dicatat dalam buku mutasi;

c.

pelaksanaan tugas jaga oleh Satpam Pengguna Akhir dalam


pengamanan gudang tempat penyimpanan bahan peledak, diatur
dengan sistem ploeg yang anggotanya disesuaikan dengan jumlah
kekuatan Satpam yang ada;

d.

petugas Satpam yang melaksanakan tugas pengamanan gudang bahan


peledak,dilengkapi dengan surat perintah dan Kartu Tanda Anggota
Satpam serta peralatan yang diperlukan antara lain berupa pluit, senter,
pisau atau pentungan dan borgol;

e.

dalam pelaksanaan tugas jaga gudang tempat penyimpanan bahan


peledak, petugas Satpam berkewajiban:
menyaksikan dan mengawasi serah terima baik dalam pemasukan
maupun pengeluaran bahan peledak di gudang;

1)
2)

menjaga keamanan dan keselamatan penyimpanan bahan peledak di


gudang;

3)

mengambil tindakan preventif untuk mencegah terjadinya gangguan


keamanan dan kelesamatan bahan peledak yang disimpan di dalam
gudang;

4)

melarang orang-orang yang tidak berkepentingan untuk mendekati


gudang bahan peledak;

5)

mengawasi dan mencatat setiap petugas yang memasuki gudang baik


dalam rangka pemasukan, pengeluaran bahan peledak maupun dalam
rangka tugas kunjungan kerja atau pemeriksaan gudang;

6)

mengambil tindakan pertama ditempat kejadian bila terjadi gangguan


keamanan dan keselamatan bahan peledak yang disimpan di gudang,
dan selanjutnya melaporkan kepada pimpinan perusahaan dan pada
Polri setempat;

7)

mencatat dalam buku mutasi pada pos penjagaan tentang kegiatan


pengamanan dalam penyimpanan bahan peledak.

4.

Kajian Aspek Keselamatan Fasilitas Penyimpanan Handak

a.

Dalam Perkap 02/2008, mengenai lokasi fasilitas penyimpanan handak


diatur pada pasal 67, untuk pengamanan penyimpanan bahan peledak
wajib memenuhi persyaratan dengan ketentuan sebagai berikut :

1)

lokasi gudang bahan peledak harus jauh dari pemukiman penduduk,


jalan umum, dan lokasi peledakan;

2)

jarak aman gudang bahan peledak ditentukan :

a)

setiap 1.000 meter, detonator nomor 8 setara dengan 1 (satu) kilogram


bahan peledak peka detonator bilamana kekuatannya melebihi detonator
nomor 8 harus disesuaikan dengan ketentuan pabrik pembuatnya dan;

b)

setiap 330 meter, sumbu ledak dengan spesifikasi 50 sampai dengan 60


grain setara dengan 4 kilogram bahan peledak peka Detonator (1 grain =
0.06479891 grams).

b.

Sedangkan mengenai konstruksi fasilitas penyimpanan handak diatur


dalam pasal 69, sebagai berikut :

1)

Gudang bahan peledak harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

a)

konstruksi harus terbuat dari material yang tidak mudah terbakar, cukup
kuat seperti beton, bata, hollow brick, dan batu yang dilengkapi lobanglobang ventilasi pada dinding bagian atas, dan bawah atau alur
lobangnya serong dan dilengkapi dengan jeruji besi;

b)

atap gudang dipasang dengan bahan yang ringan (asbes atau seng) dan
langit-langitnya dipasang kawat karmunik;

c)

pintu gudang harus kuat, dilapisi dengan plat baja dan kunci pintu
dilindungi dengan kotak pelindung dibuat dari plat baja;

d)

gudang terdiri dari dua ruangan :

(1)

ruangan depan disebut ruangan pengeluaran, yang digunakan untuk


ruang administrasi dan pengecekan ke luar atau masuk bahan peledak;

(2)

ruangan belakang digunakan untuk menimbun atau menyimpan bahan


peledak;

e)

pintu depan atau pintu luar dan pintu dalam tidak boleh berhadapan
langsung;

f)

tanah disekitar gudang harus dibuat tanggul setinggi 2 (dua) meter


dengan lebar atas 1 (satu) meter dan dikelilingi dengan pagar kawat,
dan pintu masuk tidak boleh berhadapan langsung dengan pintu
gudang;

g)

harus ada lampu penerangan yang ditempatkan pada pos penjagaan


atau pagar disekitar gudang;

h)

gudang harus dilengkapi dengan penangkal petir (tahanan pentanahan


maksimal 5 Ohm);

i)

dalam gudang harus ada thermometer dan suhu dalam gudang tidak
boleh lebih dari 35 derajat Celcius untuk yang peka detonator;

j)

harus ada pos penjagaan yang letaknya di bagian luar pagar yang dapat
mengawasi gudang dan sekitarnya;

k)

harus ada alat pemadam kebakaran yang ditempatkan di luar sekitar


gudang dan pos penjagaan serta gudang Ammonium Nitrate dengan
kapasitas di atas 5000 kilogram harus dilengkapi dengan air bertekanan
(hydrant);

l)

harus dilengkapi dengan alat-alat tanda bahaya dan alat komunikasi


antara lain berupa telepon, radio komunikasi, sirene.

2)

Jenis gudang bahan peledak terdiri dari :

a)

gudang untuk penyimpanan dinamit dan sejenisnya (peka detonator);

b)

gudang untuk tempat penyimpanan Detonator;

c)

gudang untuk tempat penyimpanan Anfo (Peka Primer) atau Ammonium


Nitrate (ramuan) dan sejenisnya.

c.

Sedangkan mengenai tata cara penyimpanan dalam masing-masing


fasilitas penyimpanan handak diatur dalam pasal 70 sebagai berikut :

1)

Tata cara penyimpanan bahan peledak di dalam gudang Detonator


sebagai berikut :

a)

hanya disimpan detonator, sumbu api (safety fuse) dan sejenisnya;

b)

disimpan di atas rak yang terbagi 5 susun dengan tinggi maksimal 180
cm dan jarak dari lantai ke dasar rak minimal 30 cm serta wajib
dikelompokkan sesuai macam dan jenis serta pengaturan kemasan
harus dipisahkan, peti-peti yang belum pernah dibuka dengan yang
sudah dibuka dan telah diambil isinya;

c)

selalu mengeluarkan persediaan atau stock yang sudah lama terlebih


dahulu dengan sistem First In First Out (FIFO);

d)

dilarang membuka kemasan detonator atau mengepak atau mengepak


ulang didalam gudang;

e)

untuk membuka atau menutup kembali kemasan harus dilakukan secara


hati-hati dan jangan menjatuhkan, melemparkan atau membanting atau
menggeser di atas lantai;

f)

dilarang menggunakan alat-alat dari logam yang dapat memercikan api


untuk membuka atau menutup kemasan detonator;

g)

didalam gudang tidak boleh ada detonator yang tercecer atau tersimpan
lepas dari kemasannya dan juga tidak boleh ada kemasan detonator
yang terbuka;

h)

gudang dan sekitarnya harus bersih dari sampah, rumput atau semak
dan bahan-bahan lainnya yang mudah terbakar;

i)

dilarang merokok dan membawa geretan atau korek api, senjata api,
peluru,sepatu berduri atau alat-alat lain yang dapat menghasilkan nyala
api;

j)

pintu gudang harus selalu dalam keadaan tertutup dan terkunci, kecuali
apabila dibuka untuk pengeluaran yang sah dan pemeriksaan;

k)

gudang harus dipasang 3 (tiga) buah gembok yang kuncinya dipegang


secara terpisah oleh Kepala Teknik, Kepala Gudang dan Polri;

l)

apabila terjadi kebocoran pada atap gudang atau kerusakan-kerusakan


lainnya harus segera diperbaiki;

m)

detonator yang dikeluarkan dari gudang yang sedang diperbaiki, wajib


disimpan pada gudang Detonator lainnya atau ditempatkan pada jarak
yang aman disekitarnya dan harus dijaga.

2)

Tatacara penyimpanan bahan peledak dalam gudang Dinamit pada


prinsipnya sama dengan gudang Detonator hanya perbedaannya adalah
pada pengaturan rak, dimana di gudang dinamit disimpan di atas rak
(rak terbagi 4 susun) dan tingginya maksimal 180 cm dari lantai serta
jarak dari lantai ke dasar rak minimal 30 cm;

3)

Dalam perkap tersebut disebutkan bahwa bangunan penyimpanan


handak dapat bersifat permanen maupun sementara, namun tidak
disebutkan kemungkinan bahwa bangunan tersebut dapat juga bersifat
portable (dapat dipindahkan);

4)

Sebagai alternatif, dapat digunakan Portable Field Storage atau Fasilitas


Penyimpanan yang dapat dipindahkan. Fasilitas ini dapat berbentuk box,
trailer atau semi trailer, yang tahan peluru, tahan api, tahan cuaca,
memiliki sistem pengamanan anti pencurian dengan disertai pengaturan
ventilasi yang baik. Fasilitas ini harus diletakkan tidak bersentuhan
langsung dengan tanah dan harus dihindarkan dari kemungkinan
terendam air dengan memiringkan tanah di sekitar lokasi perletakan
fasilitas tersebut.

5)

Kebutuhan konstruksi fasilitas penyimpanan portabel :

a)

Eksterior, pintu, dan bukaan atas terbuat dari besi baja dengan tebal
minimal inchi (6,5 mm) dan dilapisi bagian dalamnya dengan kayu
lapis keras dengan ketebalan minimum 3 inchi (7,5cm). Bila memiliki
bukaan atas harus dipastikan bahwa tutup bukaan atas anti air dan tidak
memungkinkan air masuk melalui celahnya;

b)

Engsel dan selot


Engsel dan selot harus dipasang sedemikian rupa sehingga tidak dapat
dirusak atau dibongkar. Engsel dipasang pada bagian dalam pintu
sehingga tidak mudah dirusak dari luar;

c)

Kunci ditempatkan minimal pada 3 titik selot yang terpisah;

d)

Ventilasi diatur dengan membuat lubang-lubang udara berukuran 4 inchi


x 6 inchi (10cm x 15 cm) pada bagian dasar dan bagian atap. Ventilasi
diamankan dengan jeruji besi.

5.

Teori SWOT
Analisis SWOT (Strength, Weaknesses, Opportunities dan Threat)
adalah salah satu Model Dalam Analisis SWOT Kearns ditampilkan
matrik 6 (enam) kotak, dua yang paling atas adalah kotak faktor
eksternal yaitu PELUANG dan ANCAMAN / HAMBATAN, dua kotak
sebelah kiri adalah faktor internal, yaitu KEKUATAN dan KELEMAHAN.
Empat kotak lainnya (A, B, C, D) merupakan isu strategi yang timbul
sebagai hasil kontak antara faktor-faktor internal dan eksternal, yaitu :

a.

Strategi SO
Dipakai orang untuk menarik keuntungan dari peluang yang ada dalam
lingkungan eksternal;

b.

Strategi WO
Strategi ini bertujuan untuk memperbaiki kelemahan internal dengan
memanfaatkan peluang dari lingkungan luar. Sering dijumpai dilemma
ada peluang terlihat, tetapi orang tidak mampu mengerjakannya;

c.

Strategi ST
Strategi ini dipergunakan organisasi untuk menghindari, paling tidak
memperkecil dampak dari ancaman yang datang dari luar;

d.

Strategi WT
Strategi ini merupakan taktik pertahanan yang diarahkan pada usaha
memperkecil kelemahan internal dan menghindari ancaman eksternal.

1)

Gambar 2.1 Matriks TOWS;

2)

STRENGTH WEAKNESS
Susun Daftar Kekuatan Susun Daftar Kelemahan;

3)

OPPORTUNITIES STRATEGI SO STRATEGI WO


Susun Daftar Peluang Pakai kekuatan untuk memanfaatkan peluang
Tanggulangi kelemahan dengan memanfaatkan peluang;

4)

THREATS STRATEGI ST STRATEGI WT


Susun Daftar Ancaman Pakai kekuatan untuk hindari ancaman Perkecil
kelemahan
dan
hindari
ancaman
Sumber : Karyoso (2004).
BAB III
KONDISI PENGELOLAAN FASILITAS PENYIMPANAN HANDAK
DI SATBRIMOBDA X

1.

Tata Letak Fasilitas Penyimpanan Handak dan Lingkungan di Sekitarnya


Gambaran tata letak bangunan yang dipergunakan sebagai fasilitas
penyimpanan handak dapat dilihat sebagai berikut :

a.

Gambar 3.1. Denah Fasilitas Penyimpanan Handak


Fasilitas penyimpanan handak di Sat Brimobda X memanfaatkan
ruangan berukuran 4.4 meter X 1.7 meter untuk menyimpan cartridge,
detonator, sample bahan peledak, casing bom pipa, isian bom pipa
berupa TNT dan ANFO. Sedangkan mortir dan granat temuan sisa-sisa
PD II diletakkan dalam bom trailer.
Sebagai gambaran mengenai lingkungan dan aktivitas yang ada di
sekitar gudang dapat dijelaskan sebagai berikut :

1)

Jarak 100 meter : jalan raya umum yang menghubungkan antar kota
dengan lalulintas padat;

2)

Jarak 40 meter : aktivitas perkantoran, yaitu kantor Mako Detasemen A;

3)

Jarak 25 meter : Garasi truk dan garasi Baracuda;

4)

Jarak kurang dari 15 meter : Gudang Solar dan perumahan anggota, ada
2 fasilitas yang dipakai yaitu ruangan gudang dan bomb trailer. Isi dalam
fasilitas penyimpanan handak adalah sebagai berikut :

a)

Dalam gudang :

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)

Cartridge disruptor sebanyak 400 butir;


Seismic/handak high explosive 8 x 200 gram;
Detonator listrik 24 buah;
Sumbu Ledak;
Bom Rakitan temuan yang sudah dipisahkan dari isiannya.

b)

Dalam bomb trailer :

(1)

1 buah Japanese Bomb, 12 kg Incendiary,Type 97;

(2)

3 buah U.S. Hand Grenade, Frag., M2A1, M2A2, U.S. ARMY;

(3)

1 buah U.S. Projectile, 5-inch, High Explosive, HC, MK 41;

(4)

1 buah Japanese Projectile, 75-mm, Anti Aircraft, Type 90, Long Pointed.

2.

Pengelolaan Keamanan Fasilitas Penyimpanan Handak


Subden Jibom Satbrimobda X terdiri atas 26 personel, dimana 20
personel diantaranya menjalankan tugas operasi di wilayah. Dari 26
personel tersebut sejumlah 18 orang berkualifikasi jibom dan pernah
mengikuti kursus penjinakan bom. Pada saat ini yang menjalankan tugas
unit jibom di Mako Satbrimobda X hanya 6 personel, 4 diantaranya
sudah
berkualifikasi
penjinak
bom
atau
operator.
Dari hasil observasi di lapangan maupun interview dengan sejumlah
perwira maupun anggota Detasemen Gegana, khususnya Unit Jibom,

maka dapat diketahui pengelolaan keamanan yang dilaksanakan


sebagai berikut :

1)

Tidak ada piket personel khusus untuk bertugas menjaga fasilitas


penyimpanan handak. Pada saat ini setiap harinya dari 6 orang anggota
unit jibom yang bertugas di Mako Sat Brimobda X, disiagakan 2 orang
mulai piket 24 jam dari jam 08.00 pagi sampai dengan 08.00 pagi,
dengan tugas sebagai berikut :
merawat kebersiihan alut dan alsus jibom;

2)

merawat kebersihan kendaraan / rantis jibom;

3)

merawat kebersihan ruangan-ruangan unit jibom;

a.

Pada awalnya maksud di adakan piket alsus tersebut adalah untuk


melakukan pemeliharaan baterai alat-alat khusus yang harus senantiasa
siaga dan siap digunakan, namun kemudian diberikan tugas tambahan
seperti tercantum di atas.
Dalam pelaksanaan tugasnya tidak ada tanggung jawab yang diberikan
kepada personel piket atau jaga untuk memastikan kondisi kebersihan
gudang handak dan mengontrol kuantitas maupun kualitas handak atau
bom temuan yang tersimpan di dalam gudang. Semua kegiatan yang
dilaksanakan selama waktu piket di tuliskan di dalam buku mutasi piket.

b.

Tidak ada pos penjagaan khusus yang ditempatkan di lokasi fasilitas


penyimpanan handak. Personel tidak selalu berada di ruangan jaga,
personel yang melaksanakan piket terkadang melaksanakan tugas jaga
di rumah masing-masing sambil menunggu panggilan jika ada
emergency calling atau perintah terkait informasi adanya ancaman bom
atau informasi temuan bahan peledak;

c.

Tidak di dukung dengan sistem penerangan yang memadai guna


pendukung pelaksanaan tugas jaga. Hal ini menyebabkan kondisi di
dalam dan di sekitar gudang bahan peledak menjadi gelap sehingga

tidak mendukung pelaksanaan pengawasan anggota jaga terhadap


lingkungan jaga;
d.

Personel piket juga tidak melaksanakan perawatan kebersihan ruangan


yang di peruntukkan untuk menyimpan handak temuan atau handak
latihan. Hal ini nampak dari kotornya ruangan gudang handak berdebu,
tidak bersih dan lembab. Kondis ini akan menyebabkan bahan-bahan
yang tersimpan di dalam nya akan mudah berkarat dan hal ini beresiko;

e.

Untuk mencegah penyalahgunaan handak, fasilitas penyimpanan dikunci


dengan gembok tunggal. Kondisi sistem pengamanan dengan kunci
tunggal tanpa kunci gembok pelapis akan memudahkan pihak-pihak
yang berniat jahat untuk mengambil bahan-bahan peledak yang
tersimpan di dalam gudang handak. Pencuri tidak akan membutuhkan
waktu lama untuk membongkar dan masuk kedalam ruangan gudang;

f.

Petugas Jaga tidak berada di sekitar gudang dan tidak dapat mengawasi
gudang secara langsung dan penuh dalam 24 jam. Personel yang
melaksanakan tugas piket tidak di tuntut tanggung jawabnya untuk
selalu berada di ruangan jaga atau sekitar gudang secara penuh 24 jam.
Hal ini menyebabkan minimnya pengawasan terhadap gudang dan
orang yang keluar masuk dari dan ke gudang handak secara bebas.
Kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak di inginkan sangat besar
karena longgarnya pengawasan terhadap lalu lintas keluar masuk
anggota atau non anggota baik pada jam dinas atau di luar jam dinas;

g.

Dalam pelaksanaan jaga tidak melaksanakan giat patroli di sekitar


gudang secara periodik. Tugas dan tanggung jawab yang di emban oleh
piket adalah pengecekan kebersihan kendaraan, alut/alsus serta
merawat ruangan, tidak ada tugas atau piket untuk
melaksanakan patroli sambil melaksanakan pengecekan atau
pengontrolan kondisi sekitar bangunan , hal ini sangat beresiko karena
adanya bahan peledak yang tersimpan di dalam gudang, dimana salah
satu karakter bahan peledak adalah peka terhadap rangsangan dari luar
seperti panas, gesekan ataupun sistem aliran listrik;

h.

Pengelolaan Keselamatan Fasilitas Penyimpanan Handak


Fasilitas penyimpanan handak di Satbrimobda X terletak di dalam
kompleks asrama, berdekatan dengan bangunan kantor lainnya maupun
pemukiman. Karena keterbatasan ruangan fasilitas penyimpanan
handak, bomb trailer dimanfaatkan pula sebagai tempat penyimpanan
mortir
dan
granat
temuan.
Konstruksi bangunan terbuat dari beton dengan perkuatan baja serta
lantainya dilapisi ubin keramik. Pada bagian langit-langitnya dilapisi oleh
tripleks untuk mencegah debu kotoran atau air hujan merembes melalui
celah genting. Pintu gudang berupa pintu kayu biasa dan diamankan
dengan
menggunakan
kunci
tunggal.
Pada bagian dalam dari ruangan tersebut diletakkan cartridge disruptor,
ANFO, fuse, dan seismic langsung pada lantai ubin. Tampak disekitar
ruangan kotor dan kurang terawat kebersihannya. Tidak didapati adanya
ventilasi untuk mengatur suhu di dalam ruangan dan tidak didapati
adanya alat pemadam kebakaran portable.
Penerangan di dalam gudang memanfaatkan tenaga listrik, namun diluar
pintu gudang sama sekali tidak ada penerangan. Pada bagian atap
gudang
tidak
dilengkapi
dengan
penangkal
petir.
Dari depan pintu gudang berhadapan langsung pada jarak 10 meter
adalah perumahan warga. Tidak ada tanggul tanah ataupun pagar yang
menghalangi antara area perumahan warga asrama dengan pintu
ruangan tempat penyimpanan handak tersebut. Akses ke pintu gudang
sangat mudah dicapai. Pada pintu ruangan penyimpanan bahan peledak
tidak terpasang simbol tanda bahan berbahaya atau hazardous material
yang dimaksudkan agar semua personel atau warga yang berkaktifitas
di sekitar gudang tersebut mengetahui dan memahami akan adanya
bahan berbahaya yang di simpan di dalam ruangan tersebut.
Area di sekitar gudang merupakan kawasan dengan aktivitas cukup
tinggi yaitu pemukiman warga asrama dan perkantoran. Di dalam

sekitarnya juga terdapat garasi mobil dan gudang solar.Kesemua


aktivitas ini berada dalam radius kurang dari 50
meter terhadap fasilitas penyimpanan handak. Dalam satu bangunan itu
sendiri terdapat aktivitas perkantoran dan juga garasi mobil subden
jibom. Menurut data dari Sie Yanma Satuan Brimob Polda X jumlah
penghuni asrama yang tinggal didalam asrama Karel Sasuit Tubun
Kotaraja sekitar 926 jiwa. Jumlah warga dan personel yang beraktivitas
pada siang hari (jam dinas) sekitar 813 jiwa termasuk diantaranya
bhayangkari dan anak-anak sekolah serta sisanya aktivitas lain. Jumlah
penghuni tersebut masih di tambah dengan adanya sanak saudara yang
tinggal di asrama. Padatnya jumlah penghuni asrama dan rapatnya jarak
baik antara pemukiman dan perkantoran merupakan resiko tersendiri
bagi keselamatan jiwa personel dan warga penghuni asrama maupun
sekitarnya .

BAB IV
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
Pengelolaan fasilitas magazine yang aman dan memenuhi syarat
sehingga dapat menunjang tugas operasional Unit Jibom di Mako
Satbrimobda X merupakan salah satu prioritas yang harus dipikirkan
saat ini. Optimalisasi pengelolaan fasilitas penyimpanan handak ini di
pengaruhi oleh beberapa faktor. Berdasarkan observasi di lapangan,
maka dapat diidentifikasikan faktor-faktor internal maupun eksternal
yang berpengaruh.
1.

Faktor Internal

a.

Belum adanya peraturan yang mengatur mengenai fasilitas penyimpanan


handak bagi Detasemen Gegana
Sampai saat ini belum ada perangkat lunak yang mengatur aspek
keamanan maupun keselamatan dari fasilitas penyimpanan handak.

Oleh karena itu yang digunakan untuk mengkaji bagaimana pengelolaan


fasilitas tersebut adalah Perkap 02/2008 tentang Pengawasan,
Pengendalian dan Pengamanan Bahan Peledak Komersial. Keberadaan
peraturan khusus bagi fasilitas penyimpanan handak bagi Den Gegana
tentunya sangat dibutuhkan agar ada pedoman atau standard
pelaksanaan pengelolaan fasilitas handak yang memenuhi aspek
keamanan dan keselamatan.
b.

Kualitas dan kuantitas personel


Dalam Daftar Susunan Personel Polri (DSPP), minimal jumlah personel
dalam Subden Jibom adalah 30 orang dalam unit taktis dengan
kualifikasi jibom ditambah 10 orang dalam kelompok komando dan staf
pendukung yang dipimpin oleh Kasubden berpangkat Komisaris Polisi.
Namun pada kondisi sebenarnya hanya terdapat 26 personel, 6 orang
diantaranya belum berkualifikasi jibom. Dari 26 personel pun hanya 6
personel yang bertugas di Mako, sedangkan sisanya menjalankan tugas
operasi di wilayah. Kurangnya personel ini secara langsung akan sangat
mempengaruhi pelaksanaan tugas operasional di lapangan.

c.

Keterbatasan area Mako Sat Brimobda


Area Mako Sat Brimobda X berada di area yang cukup padat penduduk
dan aktivitas tinggi di tepi jalan utama penghubung antar Kota
Semarang dengan Kota disekitarnya. Dalam lingkungan asrama sendiri
tidak terdapat tanah kosong yang cukup luas ataupun bangunan kosong
yang dapat dimanfaatkan sebagai fasilitas penyimpanan handak.

d.

Penyesuaian Struktur Organisasi


Sesuai dengan Perkap Nomor 22/2010 dalam pasal 222 dijelaskan
bahwa Satbrimob pada Polda Tipe A terdiri dari 1 Sub Bag, 7 Seksi, 3
Detasemen dan 1 Detasemen Gegana.
Penyesuaian ini merupakan perubahan yang signifikan karena
sebelumnya Gegana pada Sat Brimobda adalah sebuah Sub

Detasemen yang dipimpin oleh Kasubden dengan pangkat Komisaris


Polisi. Penyesuaian dari Subden Gegana menjadi Detasemen Gegana
ini membawa implikasi pertambahan kualitas maupun kuantitas personil
yang disyaratkan. Meskipun saat ini belum sesuai dengan DSPP, secara
bertahap kualitas maupun kuantitas personel akan mengalami
peningkatan sehingga mendekati jumlah yang disyaratkan.
Diharapkan dengan perubahan dari Sub detasemen menjadi detasemen
ini juga terjadi perubahan signifikan dalam aspek lain seperti perubahan
anggaran maupun pemenuhan kebutuhan akan sarana dan prasarana
sehingga Detasemen Gegana dan khususnya Subden Jibom dapat
menjalankan tugas operasionalnya untuk mengatasi gangguan
keamanan dan ketertiban masyarakat yang diakibatkan oleh ancaman
bahan peledak.
2.
a.

Faktor Eksternal
Kerawanan
wilayah
Polda
X
dari
masalah
handak
Berdasarkan data dari Tahun 2011 hingga Februari 2014 telah
ditemukan 25 unit bahan peledak berbagai jenis, baik low explosive
maupun high explosive. Secara lengkap dapat dilihat dari rangkuman
dibawah ini :
No Jenis Handak Jumlah Bahan Aktif Daya Ledak dan Jangkauan

1)
2)
3)
4)

Hand Grenade 3 unit;


Bom Pipa 7 unit TNT dan ANFO;
Projectile 12 unit;
Bomb 3 unit.
Keterangan :
Hand Grenade, Projectile dan Bomb buatan Belanda, Amerika, dan
Jepang, merupakan peninggalan Perang Dunia II. Beberapa proyektil
dan bom temuan telah dibuang ke tengah laut sehingga pada saat ini

hanya terdapat 2 proyektil dan 1 bom temuan yang disimpan dalam


bomb trailer.
Disposal proyektil dan bom ke tengah laut sebelumnya dipandang
sebagai solusi dengan pertimbangan kemungkinan korban jiwa kecil,
namun cara seperti ini tentunya tidak tepat karena seharusnya handak
yang tidak digunakan dinetralisir atau diledakkan sehingga tidak
membahayakan;
b.

Hubungan harmonis dan koordinasi dengan Pemerintah Daerah


Keberadaan Sat Brimobda X di tengah masyarakat berperan serta
dalam menciptakan suasana aman dan tertib. Dalam hal ini Unit Jibom
Satuan Brimob Polda X telah banyak melakukan penanganan bom
temuan baik militer maupun rakitan di wilayah X dan sekitar yang berasal
dari laporan dari masyarakat atau permintaan satuan kewilayahan
setempat. Komunikasi lintas sektoral baik secara formal maupun
informal antara Satuan Brimob Daerah Polda X dengan Pemerintah
Daerah setempat, baik pada tingkat provinsi maupun daerah tingkat II
Kabupaten sudah lama terjalin. Hal ini merupakan modal awal bagi
kedua belah pihak yang bertujuan sama guna mewujudkan keamanan
dan ketertiban masyarakat. Persamaan tujuan dan persepsi terhadap
upaya memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat merupakan
suatu bentuk peluang bagi Satuan Brimob Polda X terkait masalah
penyediaan lahan gudang handak;

c.

Dampak terhadap warga asrama maupun di sekitarnya


Keberadaan fasilitas penyimpanan handak yang berdekatan dengan
pemukiman warga asrama menimbulkan keresahan sendiri diantara
para warga dan hal tersebut juga telah beberapa kali diungkapkan
kepada petugas Unit Jibom. Temuan bahan peledak atau bom militer
yang diserahkan kepada Unit Jibom oleh kesatuan wilayah atau
masyarakat yang menemukan di amankan di gudang handak milik
Satuan Brimob Polda X karena jika tidak diamankan akan menimbulkan
keresahan dan kegelisahan di tengah masyarakat. Secara kuantitas
terjadi peningkatan jumlah bom atau bahan peledak temuan yang

tersimpan di gudang Unit Jibom karena satuan kewilayahan tidak


bersedia menyimpan bahan peledak atau bom tersebut di gudang Polres
atau
Polda.
Hal tersebut di atas menyebabkan kondisi warga asrama makin merasa
tidak aman dan tenang. Ketidaknyamanan tersebut karena bahan
peledak atau bom temuan tidak segera didisposal atau di musnahkan
melainkan harus disimpan di dalam gudang handak untuk batas waktu
yang tidak dapat ditentukan.
BAB V
KONDISI PENGELOLAAN FASILITAS PENYIMPANAN HANDAK
YANG DIHARAPKAN
Berdasarkan observasi maupun data - data serta wawancara singkat
dengan pihak - pihak yang terkait, dapat dianalisis bagaimana peran
pengelolaan fasilitas penyimpanan handak dalam menunjang tugas
operasional Subden Jibom Satbrimoda X.
1.

Kajian Aspek Keamanan


Berdasarkan keterangan yang dikumpulkan, maka dapat disusun kajian
aspek keamanan fasilitas penyimpanan handak di Mako Sat Brimobda X
:

a.

Pengamanan personel terhadap fasilitas rendah


Pengamanan personel dalam hal
dilaksanakan oleh petugas piket jaga
yang tidak berkepentingan berada
Idealnya fasilitas penyimpanan diatur
berikut :

1)

ini adalah pengamanan yang


dan untuk mencegah orang-orang
di sekitar area fasilitas handak.
pelaksanaan personelnya sebagai

Memiliki ruang penjagaan sendiri yang dijaga oleh setidaknya 2 orang


selama 24 jam penuh. Atau setidaknya dilaksanakan patroli setiap 2 jam

di sekitar fasilitas
keamanannya;

penyimpanan

handak

untuk

memastikan

2)

Memastikan hanya petugas yang berwenang saja yang berada disekitar


fasilitas tersebut dan setiap personel yang keluar masuk dicatat
kepentingannya untuk apa;

3)

Mengambil tindakan preventif keamanan maupun keselamatan terhadap


personel yang berada di sekitar fasilitas misalkan melarang jika ada
yang merokok atau membawa benda yang rawan menimbulkan percikan
api;

4)

Mencatat hal-hal menyangkut pengamanan yang dilakukan dalam buku


mutasi sebelum diserahkan kepada petugas jaga berikutnya;

5)

Secara periodik memastikan jumlah handak tersimpan disesuaikan


dengan jumlah yang masuk dan jumlah yang dikeluarkan.

b.

Pengamanan fisik terhadap bangunan rendah


Pengamanan fisik yang penulis maksudkan dalam hal ini adalah
pengamanan terhadap bangunan itu sendiri. Pengamanan fisik terhadap
fasilitas penyimpanan handak minim sekali, yakni hanya mengandalkan
pintu yang dikunci. Pengamanan seperti ini tentunya sangat mudah
untuk dibobol, apalagi tanpa disertai patroli, penjagaan selama 24 jam,
ataupun penerangan yang mencukupi.
Idealnya dipasang perimeter - perimeter pengamanan di sekitar fasilitas
untuk mencegah orang yang tidak berkepentingan memasuki area
tersebut. Pada perimeter terluar tentunya adalah tembok keliling
berbentuk melandai yang dibuat dari tanah dipadatkan atau lazim
disebut fire breaker. Selain berfungsi sebagai pagar juga berfungsi
meredam efek berantai jika salah satu gudang meledak dan menahan
fragmen terlempar secara horisontal sehingga efek fatal terhadap
lingkungan sekitar dapat dihindari. Perimeter kedua adalah pos jaga
yang ditempatkan di bagian depan dari gudang tersebut dengan fungsi
menunjang pengamanan personel. Perimeter ketiga adalah bangunan

gudang sendiri yang pintunya dikunci dengan gembok baja dan jika ada
bukaan ventilasi ataupun jendela dikonstruksi sedemikian rupa sehingga
tidak dapat diterobos.
2.

Kajian Aspek Keselamatan


Berdasarkan fakta-fakta di lapangan yang telah dirangkum sebelumnya
dalam Bab III maka dapat dikaji bagaimana aspek keselamatan fasilitas
penyimpanan handak di Mako Sat Brimobda X.

a.

Penyimpanan fuse dan high explosive masih bercampur


Dalam gudang handak terdapat fuse dan seismic yang diletakkan dalam
satu ruangan, sedangkan di bomb trailer yang terletak dalam bangunan
yang sama namun berbeda ruangan diletakkan TNT. Idealnya
penyimpanan fuse dan penyimpanan high explosive dipisahkan dalam
dua bangunan berbeda. Tidak hanya ditempatkan dalam bangunan
berbeda, diantara kedua bangunan juga harus dibatasi firebreaker untuk
meredam efek berantai jika terjadi ledakan.

b.

Konstruksi bangunan tidak memenuhi syarat


Idealnya gudang handak merupakan fasilitas yang berdiri sendiri tidak
bercampur dengan aktivitas lain. Namun karena keterbatasan yang ada
gudang handak berada dalam satu bangunan bersama-sama dengan
garasi dan area administrasi. Dalam gudang tidak tersedia ventilasi yang
cukup sebagai syarat dipertahankannya suhu dibawah 35 derajat
celcius. Dinding dan lantai gudang merupakan bahan yang tidak mudah
terbakar ataupun memantulkan percikan sehingga aman. Pintu gudang
terbuat dari kayu dan hanya dilindungi oleh kunci tunggal sehingga faktor
keamanannya sangat rendah. Bagian langit-langit dilapisi bahan tripleks
yang
rentan
terhadap
bahaya
kebakaran.
Seperti umum diketahui bahan peledak sangat peka terhadap
perubahan suhu sehingga penting menjaga suhu ruangan agar susunan
kimia handak tetap stabil. Seluruh elemen bangunan yang ada di bagian
dalam gudang harus bersifat tahan api, termasuk langit-langit dan pintu

gudang. Pada bagian langit-langit dapat digunakan asbes yang bersifat


tahan api dibandingkan tripleks atau gipsum, sedangkan pada pintu
lebih bagus menggunakan besi/baja karena selain tahan api juga relatif
lebih sulit dirusak.
c.

Perletakan handak
Handak diletakkan di lantai, tidak ditempatkan dalam rak-rak yang
seharusnya berjarak dari lantai. Hal ini mengakibatkan kerawanan
terendam air yang dapat merusak handak apabila posisi muka air di luar
gudang meningkat. Perletakan ini juga menyulitkan petugas jika harus
menjaga kebersihan gudang. Tanpa diatur pada rak-rak terpisah dan
letaknya yang menempel pada ubin dapat menyebabkan timbulnya
kelembaban yang merusak fungsi handak tersebut. Sesuai dengan
Perkap 02/2008 barang-barang dalam gudang diatur sesuai dengan
jenisnya dalam rak-rak dari bahan yang tidak mudah terbakar (misalkan
besi atau alumunium) sehingga memudahkan penghitungan kembali.

d.

Instalasi listrik
Dalam gudang seharusnya tidak ada instalasi listrik karena rawan
menimbulkan arus pendek yang dapat memicu terjadinya kebakaran.
Terlebih didukung dengan adanya bahan-bahan yang mudah terbakar
seperti tripleks yang melapisi langit-langit, dan keberadaan bahan-bahan
peledak yang rawan terbakar.

e.

Lingkungan sekitar
Keberadaan gudang solar, garasi, perkantoran dan perumahan warga
asrama pada radius 50 meter dari gudang handak merupakan ancaman
resiko keselamatan yang tinggi. Aktivitas di garasi seperti memanaskan
kendaraan berpotensi menimbulkan percikan api, demikian pula
keberadaaan bahan bakar di dekatnya. Sedangkan keberadaan aktivitas
manusia baik berupa perkantoran maupun pemukiman merupakan
resiko tinggi seandainya terjadi ledakan pada fasilitas penyimpanan
handak bisa berupa kerusakan pada bangunan ataupun luka tubuh yang

diakibatkan pecahan, bisa juga rusaknya gendang telinga dan paru-paru


yang diakibatkan oleh getaran akibat ledakan tersebut.
3.

Analisis SWOT berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi


Pada bab IV telah dibahas beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi
optimalisasi pengelolaan fasilitas handak. Dari faktor-faktor tersebut
dapat dikelompokkan menjadi 4 faktor sebagai berikut :

a.

Strength

1)

80% anggota Subden Jibom telah berkualifikasi atau mengikuti pelatihan


sebagai penjinak bom;

2)

Penyesuaian struktur organisasi dari Sub Den Gegana menjadi Den


Gegana sehingga mendorong peningkatan dari segi kualitas dan
kuantitas anggota.

b.

Weakness

1)

Belum adanya peraturan khusus mengenai aspek keamanan dan


keselamatan fasilitas penyimpanan handak;

2)

Dari segi kuntitas personel baru sekitar 70% DSPP, dan itupun masih
ditugaskan dalam tugas operasi kewilayahan;

3)

Keterbatasan area kosong dalam Mako Satbrimobda X.

c.

Opportunity

1)

Hubungan harmonis dengan Pemerintah Daerah setempat;

2)

Hubungan koordinasi dan pembinaan dengan Mako Korp Brimob Polri.

d.

Threat
Kondisi wilayah X dengan kerawanan masalah handak yang ditimbulkan
karena historis X maupun situasi sosial politik, keresahan dari warga di
sekitar fasilitas penyimpanan handak yang mengkhawatirkan dampak

bila terjadi kebakaran atau ledakan. Dari keempat faktor tersebut maka
dapat disusun beberapa isu strategi untuk optimalisasi pengelolaan
fasilitas penyimpanan handak di Mako Satbrimobda X sebagai berikut :
1)

Strategi SO
Melanjutkan upaya-upaya pembinaan personel bekerjasama dengan Sat
I Gegana Mako Korps Brimob Polri dalam rangka peningkatan kualitas
personel. Pembinaan dapat dilakukan dengan sistem Training or
Trainers, sehingga dapat menghemat dari sisi anggaran. Pembinaan
meliputi prosedur pengamanan fasilitas penyimpanan handak, tindakan
preventif maupun langkah-langkah yang harus dilakukan seandainya
terjadi resiko seperti kebakaran, banjir, dan lain-lain.

2)

Strategi WO

(a)

Melaksanakan koordinasi dan kerjasama dengan Pemerintah Daerah


untuk penyediaan lahan jika dimungkinkan untuk membuat fasilitas
penyimpanan handak (magazine) yang bersifat permanen. Fasilitas
penyimpanan handak permanen membutuhkan lahan yang cukup luas
karena harus ada lahan kosong disekeliling fasilitas yang cukup lebar
untuk menghindarkan pengaruh ledakan terhadap bangunan maupun
orang. Walaupun dalam jangka panjang merupakan keuntungan
tersendiri, masih harus mempertimbangkan masalah anggaran dan
urgensi bangunan tersebut untuk saat ini;

(b)

Berkoordinasi dengan Mako Korps Brimob Polri, khususnya Sat I/Gegana


untuk
memutakhirkan
SOP
penanganan
handak,
termasuk
penyimpanan maupun netralisasi dan disposal, dan optimalisasi sarana
prasarana pendukung. Keberadaan fasilitas penyimpanan handak
permanen di Sat I/Gegana dapat menjadi acuan jika diputuskan untuk
mengadakan pembangunan fasilitas serupa di Satbrimobda X.

3)

Strategi ST

(a)

Memberikan pembinaan kepada warga sekitar asrama untuk


menjelaskan usaha-usaha pengamanan yang ditempuh untuk
meminimalisir kemungkinan terjadinya ledakan, hal ini mengasumsikan

bahwa langkah-langkah dan tindakan tertentu telah ditempuh untuk


meningkatkan aspek keselamatan fasilitas;
(b)

4)

Meningkatkan kemampuan anggota dalam penanganan handak dan


mengoptimalkan sarana prasarana yang ada sehingga mampu
menghadapi tantangan kerawanan handak di wilayah X, baik handak
temuan yang disita dari kelompok pengacau keamanan maupun handak
temuan sisa-sisa Perang Dunia II.
Strategi WT
Melaksanakan pembinaan dan pelatihan Standart Operating Procedure
tentang penanganan handak secara periodik dan terpadu terhadap
personel yang bertanggung jawab di fasilitas magazine diharapkan
mampu memperkecil resiko terjadinya kerugian terutama untuk
menghindari munculnya korban jiwa.

4.

Alternatif Pengelolaan Aspek Keselamatan Fasilitas Penyimpanan


Handak

a.

Membangun fasilitas penyimpanan handak berupa gudang handak


(magazine)
Pada saat ini dimungkinkan untuk membangun gudang handak di area
Mako Satbrimobda X. Hal ini dikarenakan masih terdapat area yang
cukup luas untuk bisa dimanfaatkan sebagai area fasilitas penyimpanan
handak.

b.

Mengadakan fasilitas penyimpanan handak portable.


Penyimpanan handak portable berupa kontainer atau semi trailer
merupakan salah satu solusi jangka pendek yang dapat dimanfaatkan
bila pembangunan fasilitas berupa bangunan permanen masih
membutuhkan waktu yang cukup lama. Pada saat ini sudah tersedia

produk-produk portable field storage yang tersedia dalam berbagai


ukuran dan model sesuai dengan kebutuhan. Faktor keselamatan
merupakan pertimbangan utama pemanfaatan fasilitas ini. Karena
sifatnya yang mudah dipindahkan penempatan fasilitas ini menjadi
fleksible sehingga bisa diatur sedemikian rupa untuk penerangan dan
dalam jangkauan pandangan petugas jaga.

BAB VI
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
1.

Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada Bab-Bab sebelumnya ada beberapa
kesimpulan yang dapat ditarik untuk menjawab pokok-pokok persoalan
yang dikemukaan pada Bab I, sebagai berikut :

a.

Kondisi pengelolaan fasilitas penyimpanan handak di Mako Satbrimobda


X
Bahwa kondisi pengelolaan fasilitas penyimpanan bahan peledak di
Satuan Brimob Polda X tidak optimal. Indikator dari tidak optimalnya
pengelolaan adalah rendahnya aspek keamanan dan aspek
keselamatan pengelolaan;

b.

c.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengelolaan fasilitas tempat


penyimpanan bahan peledak disebabkan karena faktor internal dan
faktor eksternal;
Kondisi pengelolaan fasilitas penyimpanan handak yang diharapkan.
Kondisi pengelolaan yang diharapkan memenuhi 2 aspek yaitu :

1)

Aspek Keamanan, kegiatan yang perlu di tempuh guna mengoptimalkan


pengelolaan antara lain :

(a)

Meningkatkan kerjasama dan koordinasi dengan Mako Korp Brimob Polri


terkait penyusunan prosedur pengamanan gudang bahan peledak;

(b)

Renovasi dan perbaikan fisik bangunan yang ada, yang terutama adalah
penambahan fasilitas penerangan dan pembuatann rak peletakan
handak;

(c)

Penyusunan regulasi atau SOP cara penjinakkan bom militer dan rakitan.

2)

Aspek Keselamatan

(a)

Penyusunan regulasi atau SOP tindakan pertama jika terjadi kecelakaan


atau bencana;

(b)

Penataan kembali bahan peledak yang ada di dalam gudang handak;

(c)

Sosialisai SOP aspek-aspek keselamatan yg telah ditempuh kepada


warga asrama;

(d)

Renovasi bagian atap gudang bahan peledak dan memutus instalasi


listrik yang ada;

(e)

Pengadaan fasilitas penyimpanan yang bersifat portable dalam jangkan


menengah;

(f)

Kerja sama dengan Pemerintah Daerah setempat terkait rencana


pembangunan gudang handak permanen.

2.

Rekomendasi
Berdasarkan penjelasan pada Bab V maka dapat direkomendasikan
beberapa hal untuk optimalisasi pengelolaan fasilitas handak di Mako
Satbrimobda X sebagai berikut :

a.

Pengelolaan Keamanan

1)

Berkoordinasi dengan Sat I Gegana Mako Korps Brimob Polri untuk


menyusun SOP pengamanan personel fasilitas penyimpanan handak.
Pengamanan menyangkut patroli maupun pengamanan terhadap
personel yang keluar masuk gudang;

2)

Memperbaiki sarana pengamanan fisik bangunan di ruangan


penyimpanan handak yaitu penerangan, mengganti pintu dan kunci
dengan yang lebih kuat. Jika tidak dimungkinkan pengawasan dalam 24
jam dengan penerangan yang cukup akan mendukung aspek
pengamanan fasilitas;

3)

Menyusun prosedur pengelolaan handak temuan agar sesegera mungkin


dinetralisir atau diuraikan. Dengan demikian dalam fasilitas
penyimpanan tidak terdapat banyak handak yang tidak terpakai.

b.

Pengelolaan Keselamatan

4)

Menyusun SOP tindakan preventif ( evacuation planning ) maupun


tindakan pertama yang harus dilakukan seandainya terjadi bahaya
seperti kebakaran sehingga tidak meluas dan menyebabkan ledakan;

5)

Mengorganisir peletakan barang-barang yang tersimpan di gudang dalam


rak sehingga memudahkan menjaga kebersihan maupun melakukan
pengecekan;

6)

Memberikan pembinaan kepada warga di sekitar asrama menyangkut


sosialisasi pengelolaan aspek keselamatan yang telah dilaksanakan
sehingga tidak menimbulkan keresahan lebih lanjut;

7)

Mengganti bagian konstruksi yang mudah terbakar seperti langit-langit


tripleks dan memutus aliran listrik ke dalam fasilitas penyimpanan
handak. Untuk penerangan dapat digunakan lampu yang diaktifkan
dengan tenaga baterai;

8)

Dalam jangka menengah mengusahakan pengadaan fasilitas


penyimpanan yang portabel sehingga dapat lebih meningkatkan faktor
keselamatan;

9)

Dalam jangka panjang bekerjasama dengan Pemerintah Daerah


setempat mengusahakan pengadaan fasilitas penyimpanan permanen
dengan mempertimbangkan pemenuhan aspek keamanan dan
keselamatan.

DAFTAR ISTILAH :
1.

Bom, adalah suatu benda yang terangkai dari 4 (empat) komponen


utama yaitu sumber daya (power), pencetus (initiator), bahan peledak
(explosive) dan saklar (switch);

2.

Blasting machine adalah alat / mesin yang digunakan untuk meledakan


bahan peledak. Blasting machine disebut juga Dynamo explorer , tetapi
pengunaannya sekarang sudah diganti dengan baterai / accu ( aki )
yang lebih praktis dan aman;

3.

Initial Explosive adalah handak penghancur yang digunakan sebagai


pengumpan terhadap handak pokok atau utama, sifatnya peka terhadap
panas, mendetonir handak yang kurang peka, daya tahan kurang , dan
beracun;

4.

Bahan peledak adalah bahan atau zat yang berbentuk padat, cair , gas
ataupun campurannya apabila dikenai suatu aksi berupa panas,
benturan atau gesekan akan berubah secara kimiawi menjadi zat-zat
lain yang sebagian besar atau seluruhnya bernbentuk gas dan
perubahan tersebut berlangsung dalam waktu singkat disertai efek
panas dan tekanan yang sangat tinggi;

5.

Switching adalah suatu alat / pesawat yang dapat memindahkan satu


posisi ke posisi yang lain dan dapat digunakan untuk menghasilkan arus
listrik , pembakaran maupun ledakan;

6.

Detonator adalah suatu handak yang digunakan sebagai alat pengumpan


/ penghantar ledakan terhadap sejumlah handak lainnya;

7.

Sumbu ( fuze ) adalah sejenis handak / bahan penyala sebagai alat


pengumpan / pengantar dan penguat ledakan terhadap sejumlah
handak lainnya;

8.

ANFO adalah singkatan dari ammoniun nitrat (AN) sebagai zat


pengoksida dan fuel oil (FO) sebagai bahan bakar. Setiap bahan bakar
berunsur karbon, baik berbentuk serbuk maupun cair, dapat digunakan
sebagai pencampur dengan segala keuntungan dan kerugiannya. Pada
tahun 1950-an di Amerika masih menggunakan serbuk batubara
sebagai bahan bakar dan sekarang sudah diganti dengan bahan bakar
minyak, khususnya solar;

9.

Bom ( militer ) adalah suatu alat peledak pada umumnya buatan pabrik
yang terbuat dari isian handak yang dikemas dalam suatu pembungkus
dan dilengkapi dengan suatu alat ( mekanis ) sebagai penyala / peledak
penghantar yang akan menimbulkan ledakan yang besar;

10.

Temuan Bom, adalah suatu benda yang ditemukan dengan atau tanpa
alat deteksi khusus, yang memiliki cirri dan tanda tertentu, sehingga
patut diduga sebagi Bom;

11.

Ledakan Bom, adalah peristiwa pelepasan energy kimiawi secara tibatiba dari sebuah Bom;

12.

Disposal, adalah suatu rangkaian kegiatan untuk menjadikan bahan


peledak dan/atau bom menjadi musnah atau tidak dapat dipergunakan
kembali dan aman;

13.

Penjinakan Bom, adalah suatu rangkaian tindakan yang dilakukan Unit


Penjinak Bom untuk menjadikan Bom tidak berfungsi dan aman.

DAFTAR PUSTAKA
1.

DEPDIKNAS, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga Balai


Pustaka Jakarta. 2003;

2.

KARYOSO, Diktat Manajemen Perencanaan dan Penganggaran,


Jakarta, Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, 2004;

3.

REPUBLIK INDONESIA, Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik


Indonesia No. 22 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata
Kerja, Jakarta 2010;

4.

REPUBLIK INDONESIA, Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik


Indonesia No. 2 tahun 2008 tentang Pengawasan, Pengendalian dan
Pengamanan Bahan Peledak Komersial, Jakarta, 2008;

5.

REPUBLIK INDONESIA, Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik


Indonesia No. 11 Tahun 2010 Penanganan Penjinakan Bom, Jakarta,
2010;

6.

REPUBLIK INDONESIA, Undang-undang No. 2 Tahun 2002 Tentang


Kepolisian Negara Republik Indonesia, Jakarta, 2002;

7.

UNITED STATES DEPARTEMENT OF DEFENCE, Ammunition and


Explosive Safety Standard, , 2008 (Incorporating Change 2, 2009).