Anda di halaman 1dari 6

1

Komunitas Burung
(Avifauna)
I.

Ramadhan, R. Hanifah, D. T. Rachmah, R.G. Abadhaniar, N. Wahyuningsih dan F.K


Muzaki
Jurusan PaBiologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi
Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
e-mail: faridmuzaki@gmail.com

Abstrak Burung merupakan salah satu keanekaragaman


hayati yang dapat digunakan sebagai indikator atau parameter
lingkungan. Komunitas burung yang hidup di suatu
kawasan/daerah disebut avifauna. Keanekaragaman jenis
burung
perlu
mendapat
perhatian
khusus,
karena
kehidupannya dipengaruhi oleh faktor fisik, kimia, dan hayati.
Tujuan dari praktikum ini adalah untukmengidentifikasi jenisjenis burung di suatu komunitas ataupun ekosistem serta
membandingkan dan memberikan argumentasi jenis-jenis
burung pada suatu komunitas ataupun ekosistem dikaitkan
dengan habitatnya (termasuk diantaranya jenis pohon tempat
bertengger). Metode yang digunakan dalam praktikum ini
adalah metode Point Count. Hasil yang didapat dalam
praktikum ini adalah spesies Lonchura punctulata mendominasi
daerah Wonorejo sedangkan Collocalia linchi pada kawasan ITS
dan PPLH Seloliman. Diantara ketiga tempat tersebut yang
memiliki keanekaragaman jenis paling rendah pada PPLH
Seloliman. Indeks kemerataan jenis burung pada lokasi
Wonorejo, ITS tergolong tinggi, sedangkan pada PPLH
Seloliman tergolong sedang.

Kata Kunci Avifauna,


Lingkungan, Transect.

Burung,

Keanekaragaman,

I. PENDAHULUAN
VIFAUNA adalah kumpulan komunitas burung yang
hidup di suatu kawasan/daerah [1]. Burung dapat
dijumpai hampir di setiap tempat dan mempunyai posisi
penting sebagai salah satu kekayaan satwa Indonesia [2].
Burung merupakan salah satu keanekaragaman hayati yang
dapat digunakan sebagai indikator atau parameter lingkungan
[3]. Keanekaragaman jenis burung yang dapat dijadikan
sebagai indikator kualitas lingkungan perlu mendapat
perhatian khusus, karena kehidupannya dipengaruhi oleh
faktor fisik, kimia, dan hayati. Faktor fisik dapat berupa suhu,
ketinggian tempat, tanah, kelembaban, cahaya, dan angin.
Faktor kimia antara lain berupa makanan, air, mineral dan
vitamin, baik secara kuantitas maupun kualitas. Faktor hayati
dimaksud di antaranya berupa tumbuhan, satwa liar, dan
manusia [1]. Peran fungsional burung dalam ekosistem

adalah penyebaran biji, penyerbukan, pengendalian hama dan


dekomposisi. Faktor yang mempengaruhi keberadaan burung
di lingkungan antara lain ukuran dan struktur vegetasi,
kompetisi dengan spesies, predator, serta residu pestisida [2].
Praktikum ini dilakukan pengamatan pada 3 lokasi yaitu
kawasan PPLH Seloliman, Mangrove Wonorejo, dan Kampus
ITS. Lokasi pertama yaitu Pusat Pendidikan Lingkungan
Hidup (PPLH) Seloliman, merupakan sebuah lembaga
swadaya masyarakat (LSM/NGO) yang begerak di bidang
lingkungan hidup berlokasi di lereng sebelah barat Gunung
Penanggungan tepatnya di perbukitan sejuk desa Seloliman,
kecamatan Trawas kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Sedangkan lokasi kedua, Kawasan Mangrove Wonorejo
Surabaya merupakan kawasan Pantai Timur Surabaya
(Pamurbaya). Secara ekologis, kehadiran hutan bakau di
kawasan ini berfungsi untuk melindungi pantai dari abrasi.
Di kawasan ini juga terdapat berbagai keanekaragaman
hayati pesisir seperti aneka jenis burung dan satwa yang sulit
ditemukan di wilayah lain. Tidak kurang 137 jenis burung
menghuni kawasanini. Beberapa di antaranya merupakan
burung khas hutan bakau. Ada 23 jenis burung migran yang
setiap tahun singgah di Pamurbaya. Selain itu, Pamurbaya
juga menjadi rumah beberapa burung endemik Pulau Jawa.
Misalnya Cerek jawa (Charadrius javanicus) [4]. Lokasi
terakhir yaitu di Danau Delapan Kampus ITS.
Tujuan dari praktikum ini adalah untukmengidentifikasi
jenis-jenis burung di suatu komunitas ataupun ekosistem serta
membandingkan dan memberikan argumentasi jenis-jenis
burung pada suatu komunitas ataupun ekosistem dikaitkan
dengan habitatnya (termasuk diantaranya jenis pohon tempat
bertengger).
II. METODOLOGI
A. Waktu dan Tempat
Praktikum Avifauna dilakukan sebanyak tiga kali di tiga
lokasi yang berbeda. Pengamatan pertama pada tanggal 2
April 2016 di kawasan ekowisata mangrove wonorejo.
Pengamatan kedua dilakukan pada tanggal 3 April 2016 di
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Pengamatan

2
ketiga dilakukan pada tanggal 24 April 2016 di PPLH
Seloliman yang merupakan hutan buatan tipe hutan tropis.

Tabel 1. Koordinat Lokasi Praktikum


Wonorejo
ITS
Elev
S
E

16 m
0718.644
11249.426

0717.11.7
11247.45.8

PPLH
Seloliman
374 m
0736.619
11235.224

C. Analisis Data
Praktikum ini menggunakan metode Point Count (titik
hitung). Pada metode titik hitung, pengamat berhenti di
suatu titik dan menghitung burung yang terdeteksi selama
selang waktu tertentu [3]. Lama waktu pengamatan sekitar
30 menit tiap titik dan terdapat tiga titik pada setiap
lokasi .Burung yang berhasil diamati dan diidentifikasi
menggunakan buku identifikasi dimasukkan ke dalam tabel
data. Selanjutnya, dari data jenis dan kelimpahan burung
dapat dicari nilai indeks-indeks ekologi sebagai berikut:

Indeks Dominansi Relatif


Di: (ni/N)x 100%
Keterangan:
Di: dominansi spesies i
ni: jumlah individu spesies i
N: jumlah total individu keseluruhan spesies

Gambar 1. Lokasi Pengamatan di Wonorejo

Dari nilai D yang didapatkan, dibuat pengklasifikasian


kategori mengacu pada criteria dominasni (Jorgensen)
berikut:
D > 5%, kategori dominan
D = 2-5%, kategori sub-dominan
D < 5%, kategori tidak dominan

Gambar 2. Lokasi Pengamatan di ITS

Keterangan:
ni: jumlah individu spesies i
N: jumlah total individu keseluruhan spesies
Nilai C berkisar antara 0-1; semakin tinggi nilai C
(mendekati 1) berarti tingkat keanekaragaman dalam
komunitas adalah semakin rendah.

Indeks Diversitas Shannon-Wiener

Keterangan:
H= indeks Diversitas Shannon-Wiener
Ni= jumlah individu spesies i
N= jumlah total individu semua spesies

Gambar 3. Lokasi Pengamatan di PPLH Seloliman


B. Alat dan Bahan
Objek yang digunakan dalam penelitian ini berupa burung
dan habitatnya. Sedangkan peralatan yang digunakan adalah
binokuler, buku panduan identifikasi burung, lembar data
pengamatan, kamera, Global Positioning System (GPS) dan
alat tulis-menulis.

Indeks Dominansi Simpson

Indeks Kemerataan Jenis (Eveness) Pielou

Keterangan:
J= indeks kemerataan
H= indeks keanekaragaman
S= jumlah spesies dalam sampel

Indeks Morisita- Horn

IMH : indeks Morisita-Horn


ani : total individu spesies a
bni : total individu spesies b
da :

db:
aN: Jumlah individu di komunitas a
bN: Jumlah individu di komunitas b

III.

HASIL PEMBAHASAN

3.1 Metode Pengamatan Avifauna


Dalam mengamati avifauna, digunakan beberapa metode
tertentu. Tujuannya adalah avifauna yang telah diamati dapat
diidentiikasi. Selain itu pengamtan tersebut juga bertujuan
untuk kontroling jumlah populasi suatu avifauna, apakah
kondisi dari hewan tersebut masih baik di alam atau justru
malah makin terancam di alam. Beberapa metode dalam
pengamatan avifauna adalah Line transek, point count
transect, transect walk, dan pengamatan langsung [5][6].
Line transek merupakan metode yang digunakan pada area
pengamatan yang luas yang dibagi menjadi beberapa wilayah
kecil (Sub-transek). Dalam melakukan metode ini
memerlukan skill pengetahuan tentang avifauna yang tinggi.
Selain itu juga dalam metode ini memerlukan waktu yang
konstan dalam pengamatan, seperti 0,5 3 jam setelah
matahari terbit dilakukan dalam rentang waktu tertentu.
Metode ini sangat efisien dalam mendapatkan data tiap
tempat atau transek. Panjang transek yang digunakan
biasanya adalah 400 m sampai dengan 1000 m. Pada tiap
transek diamati avifauna yang terlihat dengan binokular serta
merekam segala suara yang terdengar pada transek yang
diduga suara avifauna [6][7].
Point count merupakan suatu metode yang digunakan
dimana seseorang berdiri pada suatu tempat, berdiam diri
selama beberapa waktu tertentu, dan menghitung jumlah
avifauna yang ada selama waktu tertentu Misalnya waktu
yang digunakan adalah 10 menit tiap transek, serta transek
yang digunakan memiliki radius 20 meter. Metode ini
merupakan metode paling sederhana dalam melakukan
pengamatan avifauna. Dalam melakukan metode ini
digunakan beberapa alat bantu seperti camera dan Binokuler.
Metode ini paling sering digunakan dan dapat
dikombinasikan dengan metode lain. Seperti metode pont
transek count. Metode ini menggabungkan antara metode
point count dan transek count [3][6][7].
Transek walk merupakan metode dimana pengamat
melakukan pengamatan dengan berjalan kaki sepanjang
trnasek yang telah ditetapkan. Pengamat tidak berhenti pada

suatu tempat tertentu melainkan selama transek berjalan


tanpa berhenti namun tetap melakukan pengamatan.
Pengamatan langsung merupakan metode yang digunakan
untuk mengamati avifauna tanpa memperdulikan transek
mana yang menjadi tempat untuk mengamati. Metode
langsung tidak tergantung pada transek seperti pada point
count transek. Istilah lain pada metode langsung ini adalah
survey [5].
3.2 Analisis Data
3.2.1 Dominansi per lokasi
Indeks dominansi digunakan untuk memperoleh informasi
mengenai jenis spesies yang mendomnasi pada suau
komunitas pada tiap habitat [8]. Nilai indeks dominansi
mendekati satu menunujkka suatu komunitas didominansi
oleh satu jenis / spesies tertentu, dan jika indeks dominandi
mendekati nol, maka tidak ada satu jenis / spesies yang
mendominasi [9]. Bnyak seidkitnya suatu spesies yang
terdapat pada suatu ekosistemm akan mempengaruhi indeks
dominansi .
Pengam atan dilakukan pada 3 lokasi yaitu di daerah Institut
Teknologi Sepuluh Nopember, Wonorejo, dan PPLH
Seloliman.
Pada lokasi satu Wonorejo, ditemukan 63 jenis jenis
Burung,dengan rentang nilai indeks dominansi antara 0.009
hingga 5,9 . Indeks dominansi terbesar didapatkan pada
spesies Lonchura punctulata (Bondol peking) . Hal ini
menunjukkan bahwa pada lokasi tersebut ( Wonorejo )
Spesies yag paling mendominasi adaah Bondol peking.
Sedangkan spesies dengan indeks dominansi terkecil didapat
pada Annas giberifrons, Ixobrycus cinnamomeus, Prinia
inornata, dan Sterna nilotica, dengan nilai 0.015.
Pada Lokasi kedua, Institut Teknologi Sepuluh Nopember
ditemukan 46 jenis burung, dengan rentang indeks dominansi
antara 0.13% hingga 13,7 % . Indeks dominansi terbesar
didapatkan pada Spesies Collocalia linchi ( Walet linchi )
dengan nilai dominansi 13%. Hal ini menunjukkan bahwa
pada lokasi tersebut, spesies yang paling mendominasi adalah
spesies Walet lincji. Sedangkan nilai indeks terkecil
didapatkan pada spesies Acridotheres javanicus, Actitis
hypoleucos, Appus afinis, Ardea Purpurea, Bulbucus ibis,
Gerygone sulphurea, dan Nycticorac nycticorax dengan nilai
dominansi 0,13%.
Pada lokasi ketiga PPLH Seloliman, ditemukan 37 jenis
burung , dengan retang indeks dominansi antara 0,25%
hingga 51%. Spesies dengan indeks dominansi terbesar
didapatkan pada spesies Collocalia linchi dengan nilai 51 %.
Hal ini menunjukkan bahwa pada lokasi tersebut, spesies
yang mendominasi adalah wallet linchi. Sedangkan nilai
indeks dominansi terkecil didapatkan pada spesies
Acrocephalus orientalis, Apus nipalensis, Artamus
leuorinchus, Collocalia esculenta, Megalaima austrialis,
Motacilla flava, Pygnonotus simplex, Pycnonotus goiavier,
dan Zosterops palpebrous dengan nilai dominansi 0.25%.

Gambar 6. Diagram Dominansi Burung di PPLH Seloliman

Gambar 4. Diagram Dominansi Burung di ITS

Gambar 4. Diagram Dominansi Burung di Wonorejo

3.2.2 Keanekaragaman Jenis


Keanakaragaman jenis menunjukkan seluruh variasi yang
terdapat pada makhluk hidup antar jenis (interspesies) dalam
satu marga. Keanekaragaman jenis lebih mudah diamati
daripada keanekaragaman gen. Perbedaan antarspesies
makhluk hidup dalamsatu marga atau genus lebih mencolok
shingga lebih mudah diamati daripada perbedaan
antarindividu dalam satu spesies [10].
Suatu komunitas dapat mengkarakteristikakkan suatu unit
lingkungan yang mempunyai kondisi habitat utama yang
seragam [11]. Suatu komunitas dikatakan mempunyai
keanekaragaman yang tinggi jika komunitas tersebut disusun
oleh banyak spesies dengan kelimpahan spesies sama dan
hampir sama. Sebaliknya jika suatu komunitas disusun oleh
sedikit spesies dan jika hanya sedikit spesies yang dominan
maka keanekaragaman jenisnya rendah. Untuk mengukur
keanekaragaman jenis dalam suatu komunitas digunakan
indeks Simpson dan Indeks Shannon-Wielner. Indeks
Simpson menunjukkan tingkat dominansi dalam suatu
komunitas sedangkan Indeks Shannon-Wielner menunjukkan
tingkat keanekaragaman dalam suatu komunitas.
Keanekaragaman atau kekayaan jenis dapat diukur dengan
berbagai cara, misalnya dengan indeks keanekaragaman.
Suatu tempat dikatakan memiliki keanekaragaman jenis
tinggi bila memiliki kekayaan jenis yang merata, misalnya
saja pada praktikum avifauna yang telah dilakukan di daerah
Wonorejo memiliki indeks dominasi simpson 0,04888984,
karena nilai indeks ini jauh dari 1,00 maka mengindikasikan
keanekaragaman burung di Wonorejo cukup tinggi.
Begitupun dengan keanekaragaman yang ada di ITS memiliki
indeks 0,083813212 mengindikasikan keanekaragaman yang
cukup tinggi karena indeks cukup jauh dari angka 1,00.
Namun dari ketiga tempat dan terakhir di PPLH Seloliman
yang memiliki indeks dominansi simpson, 0,28360263,
menandakan
memiliki
kenaekaragaman
cukup.
Dibandingkan dari ketiga tempat tersebut indeks

5
keanekaragaman yang paling rendah yaitu pada PPLH
Seloliman.
Tabel 2. Keanekaragaman per Lokasi
Daerah
indeks simpson
Wonorejo

0,04888984

ITS
PPLH

0,083813212
0,28360263

3.2.3 Kemerataan Jenis


Nilai kemerataan jenis atau indeks kemerataan Evennes
(E) digunakan untuk mengetahui penyebaran individu
burung. Data hasil pengamatan menunjukan bahwa indeks
kemerataan jenis burung pada lokasi Wonorejo, ITS tergolong
tinggi, sedangkan pada PPLH Seloliman tergolong sedang.
Kriteria Indeks Kemerataan dikategorikan sebagai berikut
E = 0 < 0,3 : kemerataan spesies rendah
E = 0,3 < 0,6 : kemerataan spesies sedang
E = > 0,6
: kemerataan spesies tinggi
[12].
Tabel 3. Kemerataan Jenis per Lokasi
Lokasi
Jumlah Jenis
Wonorejo
63
ITS
46
PPLH
37
Seloliman

E
0.836377059
0.785189178
0.582627608

terjadi di alam, karena setiap spesies mempunyai kemampuan


untuk beradaptasi dan toleransi, serta pola sejarah hidup (life
history pattern) yang berbeda-beda. Di samping itu, kondisi
lingkungan di alam sangat kompleks dan bervariasi. Pada
tingkat mikro (mikrositus) lingkungan mungkin bersifat
homogen, namun pada tingkat makro (makrositus) terdiri atas
mikrositusmikrositus yang heterogen. Mikrositus yang relatif
sama akan dapat diadaptasi oleh individu yang sama.
Fenomena ini akan dapat diketahui dengan mendeteksi pola
distribusi dan asosiasi spesies pada suatu komunitas yang
biasanya menghasilkan sebagian besar spesies dengan pola
distribusi mengelompok dan asosiasi cenderung positif [14].
3.2.4 Kesamaan Komunitas
ITS
Wonorejo
0,4972571
ITS

0,4972571

Wonorejo

4
0,4443148

0,2592704

PPLH

ITS

PPLH
0,4443148
8
0,2592704
5

Wonorejo

PPLH

0,4972571
4

Hasil dari praktikum ini menunjukkan bahwa pada


Wonorejo dan ITS
indeks kemerataan jenis burung
mendekati angka 1 yang memiliki arti tidak terdapat
dominansi 1 spesies atau beberapa spesies. Sedangkan pada
PPLH Seloliman indeks kemerataan jenis burung lebih jauh
dari angka 1 jika dibandingkan dengan indeks kemerataan
jenis burung pada Wonorejo dan ITS .Menurut literatur dalam
satu komunitas apabila nilai kemerataannya rendah maka
terdapat jenis burung yang dominan pada habitat tersebut.
Indeks kemerataan jenis burung yang memiliki nilai kurang
dari satu menunjukan bawa terdapat dominasi satu atau
beberapa spesies, artinya satu atau beberapa spesies memiliki
jumlah individu yang lebih banyak dibandingkan dengan
spesies yang lain [13].
Wonorejo dan ITS memiliki nilai kemerataan tinggi salah
satunya karena dipengaruhi oleh ketersediaan makanan
masing-masing jenis burung yang merata. Makanan
merupakan kebutuhan utama bagi burung. Burung memiliki
tingkat kesukaan terhadap jenis makanan tertentu, sehingga
dalam memenuhi kebutuhan makanan, burung akan mencari
habitat yang mampu menyediakan jenis makanan yang sesuai
[13].
Kemerataan akan menjadi maksimum dan homogen jika
semua spesies mempunyai jumlah individu yang sama pada
setiap lokasi pengamatan. Fenomena demikian sangat jarang

0,6268923
7
Setiap jenis burung pada dasarnya memiliki potensi habitat
yang berbeda-beda, suatu habitat yang digemari oleh suatu
jenis burung belum tentu sesuai untuk jenis burung yang lain
[15]. Seperti pada pengamatan burung yang telah dilakukan
di 3 lokasi Wonorejo untuk pengamatan burung pantai, ITS
untuk pengamatan burung urban, dan PPLH Seloliman untuk
pengamatan burung pegunungan. Dari ketiga lokasi ini
didapatkan hasil adanya kesamaan komunitas yang
diindikasikan dengan adanya beberapa spesies burung yang
ditemukan sama pada lokasi yang berbeda. Berdasarkan data
dendogram diatass, kesamaan komunitas didaerah ITS dan
Wonorejo memiliki indeks 0,49725714 yang didukung
dengan banyaknya burung yang sama di dua lokasi ini.
Sedangkan pada lokasi PPLH Seloliman jika dibandingkan
dengan lokasi di ITS memiliki indeks 0,4443148. Pada kedua
komunitas ini ditemukan beberapa saja spesies burung yang
sama. Dan yang paling memiliki indeks rendah 0,25927045,
yaitu dari lokasi PPLH dan Wonorejo, hal tersebut karena
keduanya memiliki perbedaan lingkungan seperti di lokasi
PPLH yang cenderung memiliki banyak kanopi dan pohon
yang rimbun sedangkan pada lokasi mangrove wonorejo

6
sebaliknya. Hal ini mengindikasikan perbedaan jenis burung
sesuai dengan adaptasinya.
Tinggi atau rendahnya kesamaan spesies pada suatu areal
disebabkan oleh sebaran vegetasi yang mempengaruhi selera
makan burung yang berbeda, karena sebagian spesies burung
memakan tumbuhan seperti biji-bijian, nektar dan buahbuahan. Sedangkan sebagian spesies burung memakan hewan
seperti serangga dan ikan [16].

IV. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum ini dapat ditarik kesimpulan
bahwa jenis-jenis burung tiap komunitas memiliki
perbedaan. Spesies burung yang mendominasi pada
kawasan wonorejo adalah
Lonchura
punctulata,
Collocalia linchi pada kawasan ITS dan PPLH Seloliman.
Diantara ketiga tempat tersebut yang memiliki
keanekaragaman jenis paling rendah pada PPLH
Seloliman. Indeks kemerataan jenis burung pada lokasi
Wonorejo, ITS tergolong tinggi, sedangkan pada PPLH
Seloliman tergolong sedang. Perbedaan jenis burung sesuai
dengan adaptasi lingkungan karena pada praktikum
didapatkan bahwa ITS dan Wonorejo memiliki kesamaan
komunitas dibandingkan dengan PPLH Seloliman.
LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA
[1]
[2]
[3]
[4]
[5]

[6]
[7]

[8]
[9]
[10]
[11]
[12]
[13]

O. Hidayat. Keanekaragaman Spesies Avifauna di KHDTK Hambala Nusa


Tenggara Timur. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea. Volume 2 (1) :
12 25. (2013).
B.D. Linggarjati, Nurul, K.D., Umi, N.K., Yuliana. Diversitas Jenis dan
Kemelimpahan Avifauna di Sub Urban Kota Madiun Bagian Barat. Jurnal
Florea. Volume 1 (2) : 1-7(2014).
Chrystanto., Siti, A., Margareta, R. Keanekaragaman jenis Avifauna di
Cagar Alam Keling II/III Kabupaten Jepara Jawa Tengah. Indonesian
Journal of Conservation. Volume 3 (1). (2014).
P. Harly dan K. Eunike. Fasilitas Edu-wisata Pembudidayaan Mangrove
Wonorejo di Surabaya. Jurnal eDimensi Arsitektur. Vol 1 (1-2) : 70-76.
(2013).
G.E. Soka, P.K.T. Munishi and M.B. Thomas. Species Diversity and
Abundance of Avifauna in and Around Hombolo Wetland in Central
Tanzania. International Journal of Biodiversity and Conservation. Vol.
5(11): 782-790 (2013).
H. Karkar. Check List of Aquatic Bird Diversity at Pashan Lake, Pune,
India. Asian Journal of Multidisciplinary Studies. Vol. 4(3): 68-70
(2016).
S. Dapke, R. Didolkar and S. Koushik. Studies on Diversity and
Abundance of Avifauna in and Around Laxminarayan Insitute of
Technology Campus, Nagpur, Central India. Journal of Entomology and
Zoology Studies. Vol.3(5): 141-146 (2015).
E.P. Odum. Fundamental of Ecology. Philadelphia: Saunders Company
(1971)
E.P. Odum. Dasar-Dasar Ekologi. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press (1998).
S. Resosoedarmo. Pengantar Ekologi. Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya
(1990).
S. Heddy. Pengantar Ekologi. Jakarta: Rajawali (1986).
A.E. Magguran. Ecological Diversity and its measurement. London:
Chapman and hall (1988).
H. Watalee, N. Sri, R. Sitti. Keanekaragaman Jenis Burung Di Hutan
Rawa Saembawalati Desa Tomui Karya Kecamatan Mori Atas Kabupaten
Morowali. Warta Rimba. Vol. 1(1) (2013).

[14] D. Setiadi. Keanekaragaman Spesies Tingkat Pohon di Taman Wisata


Alam Ruteng, Nusa Tenggara Timur. Biodiversitas. Vol 6 (2) : 118-122
(2005).
[15] E.C. Paramita, S. Kuntjoro, R. Ambarwati. Keanekaragaman dan
Kelimpahan Jenis Burung di Kawasan Mangrove Center Tuban. Jurnal
LenteraBio. Vol. 4(3): 161-167 (2015).
[16] M.D. Lakiu, M.A Langi dan H.N. Pollo. Potensi Avifauna Untuk
Pengembangan Ekowisata Birdwatching di Desa Ekowisata Bahoi (2001).